Anda di halaman 1dari 7

Dinasti Umayyah 1 Sejarah Peradaban Islam

BAB II PEMBAHASAN A. ASAL USUL DINASTI UMAYYAH Nama Daulah Umawiyah itu berasal dari Umayyah Ibnu Abdi Syams Ibnu Abdi Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin-pemimpin kabilah Quraisy di zaman jahiliyah. Umaiyah ini senantiasa bersaingan dengan pamannya, Hasym ibnu Abdi Manaf, untuk merebut pimpinan dan kehormatan dalam masyarakat bangsanya. Dan ia memang memiliki cukup unsur-unsur yang diperlukan untuk berkuasa di zaman jahiliyah itu, karena ia berasal dari keluarga bangsawan, serta mempunyai cukup kekayaan dan 10 orang putra-putra yang terhormat dalam masyarakat. Orang-orang yang memiliki ketiga macam unsur-unsur ini di zaman jahiliyah, berarti telah mempunyai jaminan untuk memperoleh kehormatan dan kekuasaan. Sesudah datang Agama Islam berubalah hubungan antara Bani Umaiyyah dengan saudara-saudara sepupu mereka Bani Hasyms, oleh karena persainganpersaingan untuk merebut kehormatan dan kekuasaan tadi berubah sifatnya menjadi permusuhan yang lebih nyata, Bani Umaiyah dengan tegas menentang Rasulullah dan usaha-usaha beliau untuk mengembangkan Agama Islam. Sebaliknya Bani Hasyms menjadi penyokong dan pelindung Rasulullah, baik mereka yang telah masuk Islam ataupun yang belum. Dan dalam peperangan Badr, kekuatan Quraisy hampir semuanya berpusat pada Bani Abdi Syams. Abu Sufyan-lah pemilik iring-iringan unta yang membawa barang-barang dagangan dari negeri Syams ke Makkah. Dan setelah ia mengetahui bahwa kaum Muslimin di Madinah akan mencegat iring-iringan untanya itu dalam perjalanannya ke Makkah, maka ia meminta kepada orang-orang Quraisy untuk beramai-ramai menolongnya, sehingga bergeraklah penduduk kota Makkah di bawah pimpinan Abu Jahl dan Utbah ibnu Rabiah ibnu Abdi Syams, yaitu nenek Muawiyah dari fihak ibunya. Dengan demikian, baik khafilah yang datang dari negeri Syams itu, maupun pasukan penolong yang datang dari Makkah, semuanya berada di

Dinasti Umayyah 2 Sejarah Peradaban Islam

bawah pimpinan Bani Abdi Syams. Ketika itu tampaklah dengan jelas, kekuasaan dan keangkuhan berada dalam tangan keluarga ini, yaitu Bani Abdi Syams, yang sebagai suatu cabang dari cabang-cabang suku Quraisy itu. Inilah sebabnya maka kemudian timbul suatu peribahasa yang diucapkan terhadap orang yang tiada memegang peranan dalam sesuatu peristiwa, yaitu: Engkau tak ikut dalam kafllah, dan tidak pula dalam pasukan. Bani Umaiyah barulah masuk Agama Islam setelah mereka tidak menemukan jalan lain, selain memasukinya, yaitu ketika Nabi Muhammad bersama beribu-ribu pengikutnya yang benar-benar percaya kepada kerasulan dan pimpinannya, menyerbu masuk ke kota Makkah. Bani Umayyah itu adalah orang-orang yang terakhir masuk Agama Islam, dan juga merupakan musuh-musuh yang paling keras terhadap agama ini pada masa sebelum mereka memasukinya. Tetapi setelah masuk Islam, mereka dengan segera dapat memperlihatkan semangat kepahlawanan yang jarang tandingannya, seolah-olah mereka ingin mengimbangi keterlambatan mereka itu dengan berbuat jasa-jasa yang besar terhadap Agama Islam, dan agar orang-orang lupa kepada sikap dan perlawanan mereka terhadap Agama Islam sebelum mereka memasukinya.1 Muawiyah dipandang sebagai pembangun dinasti yang dalam memperoleh legalitas atas kekuasaannya dimulai dengan cara yang curang. Lebih dari itu, memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi

monarchiheridetis (kerajaan turun-temurun). Kekhalifahan Muawiyah diperoleh dengan cara kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan perolehan suara terbanyak. Ibu kota negara yang awalnya berada di Madinah dipindahkan ke Damaskus.2

Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta : PT Pustaka Al-Husna Baru, 2003) hlm. 21 2 Badri Yatim dan Hafiz Anshari, Sejarah Peradapan Islam (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2006) hlm. 42

Dinasti Umayyah 3 Sejarah Peradaban Islam

Perintisan dinasti umayyah yang dilakukan oleh Muawiyah dengan cara menolak membaiat Ali, berperang melawan Ali, melakukan perdamaian (Tahkim) dengan pihak Ali yang secara politik sangat menguntungkan Muawiyah. Keberuntungan Muawiyah berikutnya adalah keberhasilan pihak Khawarij membunuh khalifah Ali. Jabatan beliau setelah wafat digantikan oleh putranya, Hasan ibn Ali selama beberapa bulan. Akan tetapi karena tidak didukung oleh pasukan yang kuat, sedangkan pihak Muawiyyah semakin kuat, akhirnya Muawiyah melakukan perjanjian dengan Hasan ibn Ali. Isi perjanjian itu adalah bahwa pergantian pemimpin akan diserahkan pada ummat Islam setelah masa Muawiyah berakhir. Perjanjian ini dibuat pada tahun 661 M (41 H) dan tahun tersebut disebut am jamaah karena perjanjian ini mempersatukan ummat Islam kembali menjadi satu kepemimpinan politik, yaitu Muawiyah yang telah mengubah sisitem khilafah menjadi kerajaan.3 B. SISTEM PEMERINTAHAN Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Di samping sebagai pendiri daulah Bani Abbasiyah, Muawiyah juga sebagai khalifah pertama. Disamping itu, sesungguhnya Muawiyah adalah seorang pribadi yang sempurna dan pemimpin besar yang berbakat. Muawiyah berhasil mendirikan Dinasti Umayyah bukan hanya dikarenakan diplomasi di Siffin dan terbunuhnya Khalifah Ali. Melainkan sejak semula gubernur Suriah itu memiliki basis rasional yang solid bagi landasan pembangunan politiknya di masa depan. 4 Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi

monoarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah
3 4

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung : CV Pustaka Setia, 2008) hlm. 104 Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapn Islam (Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2010) hlm. 118

Dinasti Umayyah 4 Sejarah Peradaban Islam

khalifah, namun dia memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya Khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang di angkat oleh Allah. Kekuasaan Bani Uma yyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu Kota negara di pindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya.5 Pada masa Muawiyah di mulai di adakan perubahan-perubahan administrasi pemerintahan, di bentuk pasukan bertombak pengawal raja, dan di bangun bagian khusus di dalam masjid untuk pengamanan tatkala dia menjalankan shalat. Muawiyah juga memperkenalkan materi resmi untuk pengiriman memorandum yang bersal dari khalifah. Para sejarawan mengatakan bahwa di dalam sejarah islam, Muawiyahlah yang pertama-tama mendirikan balai-balai pendaftaran dan menaruh perhatian atas jawatan pos yang tidak lama kemudian berkembang menjadi suatu susunan teratur, yang menghubungkan berbagai bagian negara. Pada masa Bani Umayyah di bentuk semacam Dewan Sekretaris Negara (Diwan Al Kitabah) untuk mengurus berbagai urusan pemerintahan, yang terdiri dari lima orang skretaris yaitu : Katib Ar-Rasail, Katib Al-Kharajj, Katib Al-Jund, katib Asy- Syurtah dan Katib Al-Qadi. Untuk mengurusi administrasi pemeritahan di daerah, dia angkat seorang Amir Al-Umaroh (gubenur jenderal) yang membawahi beberapa Amir sebagai penguasa satu wilayah. Pada masa Abdul Malik ibn Marwan , jalanya pemerintahan di tentukan oleh empat departemen pokok ( Diwan ). Kekempat departemen ( kementrian ) itu ialah : 1. Kementria Pajak Tanah ( Diwan Al-Kharraj) yang tugasnya mengawasi departemen keuangan. 2. Kementerian Khatam ( Diwan Al-Khatam) yang bertugas merancang dan mengesahkan ordonansi pemerintahan. Sebagaimana masa Muawiyah telah diperkenalkan meterai resmi untuk memorandum dari
5

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001) hlm. 42-43

Dinasti Umayyah 5 Sejarah Peradaban Islam

khalifah, maka setiap tiruan dari memorandum itu dibuat, kemudian ditembus dengan benang, disegel dengan lilin, yang akhirnya dipres dengan segel kantor. 3. Kementrian surat menyurat ( Diwan Al-Rasail ), dipercayakan untuk mengontrol permasalahan di daerah-daerah dan semua komunikasi dari gubernur gubernur. 4. Kementerian urusan perpajakan ( Diwan Al-Mustagallat ) Bahasa administrasi yang berasal dari bahasa yunani dan persia di ubah ke dalam bahasa arab di mulai oleh Abdul Malik pada tahun 85 / 704.6 C. Kemajuan Peradaban dan Ekspansi pada masa Bani Umayyah Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali di lanjutkan kembali oleh dinasti ini. Di zaman Muawiyah, Tunisia dapat di taklukkan. Di sebelah timur Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan seranganserangan ke ibu kota Bizantium, Konstatinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan oleh Muawiyah kemudian di lanjutkan oleh khalifah Abd Al-Malik. Dia mengirim tentara menyebrangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, dan Samarkand. Ternyata bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan. Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid ibn Abdul Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu expedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711M. Setelah Al-Jazair dan Marokko dapat di tundukan, Tariq bin Ziyad, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyebrangi selat yang memisahkan antara Marokko dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang
6

Siti Maryam dkk, Sejarah Perdaban Islam (Yogyakarta : LESFI, 2002) hlm. 71

Dinasti Umayyah 6 Sejarah Peradaban Islam

dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat di kalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran Ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Kordova, dengan cepat dapat di kuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira, dan Toledo yang di jadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman para penguasa. Di zaman Umar ibn Abd al-Aziz, serangan dilakkan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini di pimpin oleh Abd al-Rahman ibn Abdullah al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Qhafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Di samping daerah-daerah tersebut di atas, pulaupulau yang terdapat di Laut Tengah juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini. Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah itu betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.7 D. Kemunduran dan Jatuhnya Bani Umayyah serta Faktor-faktornya Dari bebrapa khalifah Umayyah seterusnya hanya Marwan II (bin Muhammad), juga kemenakan Abdul Malik, yang memerintah agak lama. Periode sekitar dua tahun antara kematian Hisyam dan masuknya Marwan ke Damaskus terurtama di tandai oleh pertikaian-pertikaian di dalam keluatrga Bani Umayyah. Namun jika keluarga itu tetap bersatu, disangsikan apakah mereka akan sanggup memperbaiki situasinya. Terlalu banyak Fakor yang harus mereka hadapi.

Badri Yatim, loc. cit. hlm. 43-44

Dinasti Umayyah 7 Sejarah Peradaban Islam

Salah satu faktor yang terpenting mungkin adalah ketidak puasan sejumlah besar orang non-Arab yang memeluk Islam, terutama di Irak dan propinsipropinsi timur. Mereka mendapat sebutan mawali atau klien

Anda mungkin juga menyukai