Anda di halaman 1dari 30

GIGITAN HEWAN

Pembimbing : dr. Winoto, SpB

Definisi

Luka gigitan cedera yang disebabkan oleh mulut dan gigi hewan atau manusia Hewan menggigit untuk mempertahankan dirinya, dan untuk mencari makanan Pada manusia yang menggigit dan menyebabkan luka dapat disebabkan faktor kejiwaan atau emosi

Gigitan dan cakaran hewan yang sampai merusak kulit kadang kala dapat mengakibatkan infeksi Beberapa luka gigitan perlu ditutup dengan jahitan, sedangkan beberapa lainnya dapat sembuh dengan sendirinya Dalam kasus tertentu gigitan hewan (terutama oleh hewan liar Kelelawar, musang, anjing) dapat menularkan penyakit rabies, penyakit yang berbahaya terhadap nyawa manusia

Luka gigitan penting untuk diperhatikan dalam dunia kedokteran. Luka ini dapat menyebabkan: > Kerusakan jaringan secara umum > Pendarahan serius bila pembuluh darah besar terluka > Infeksi oleh bakteri atau patogen lainnya, seperti rabies > Dapat mengandung racun seperti pada gigitan ular > Awal dari peradangan dan gatal-gatal.

Rabies

Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, (dapat ditularkan dari hewan ke manusia). Virus rabies ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan misalnya oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Rabies disebut juga penyakit anjing gila.

Sifat-sifat virus rabies

tidak dapat hidup di alam bebas, mudah sekali mati pada pemanasan 50C dalam waktu 15 menit mati oleh sinar matahari menyerang semua hewan berdarah panas dan manusia Karena kapsulnya terdiri dari lemak sehingga memudahkan kita untuk mematikan virus tersebut dengan zat-zat larut lemak seperti sabun atau detergen

Penularan virus rabies

Kontak gigitan melalui gigitan dari inang yang air liurnya sudah terinfeksi virus rabies kontak non gigitan goresan, luka terbuka ataupun selaput lendir (seperti pada mata, hidung & mulut) yang terkontaminasi dengan air liur yang mengandung virus atau zat lain dari hewan yang menderita rabies

Ciri-ciri anjing gila


Tampak tidak sehat, gelisah, dan agresif Keluar air liur berlebihan dan lidah terjulur Mata anjing merah Suka menyendiri dan berada di tempat gelap Ekor ditekuk diantara kedua kaki belakang Menggigit apa saja yang ada disekitanya, baik benda-benda maupun orang, bahkan pemilik anjing yang selama ini akrab dengannya Takut cahaya (fotofobi) Tidak mau makan dan minum tapi merasa sangat haus Takut air Takut suara

Patofisiologi
Virus masuk melalui luka gigitan Virus bergerak mencapai ujungujung serabut saraf posterior Masa inkubasi 2 minggu - 2 tahun

virus menyerang hampir tiap organ dan jaringan didalam tubuh, berkembang biak dalam kelenjar ludah, ginjal, dan sebagainya.

virus kemudian kearah perifer, serabut saraf eferen dan pada saraf volunter maupun saraf otonom

di otak virus memperbanyak diri dan menyebar luas pada sel-sel sistem limbik, hipotalamus dan batang otak

Gejala klinis
1. Stadium Prodromal Gejala-gejala awal berupa demam, malaise, mual dan rasa nyeri ditenggorokan selama beberapa hari. 2. Stadium Sensoris Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas, dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.

3. Stadium Eksitasi Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi. Bersamaan dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya, yang sangat khas pada stadium ini ialah adanya macammacam fobi, yang sangat terkenal diantaranya ialah hidrofobi

4. Stadium Paralis Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang, yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.

Anamnesis

Pemeriksaan fisik

Laboraturium (isolasi virus, Flourescent Antibodies Test (FAT))

Penatalaksanaan

Luka resiko rendah diberi VAR saja. Yang termasuk luka yang tidak berbahaya jilatan pada kulit luka, garukan atau lecet (erosi, eksoriasi), luka kecil disekitar tangan, badan dan kaki. Terhadap luka resiko tinggi, selain VAR juga diberi SAR. Yang termasuk luka berbahaya adalah jilatan/luka pada mukosa, luka diatas daerah bahu (muka, kepala, leher), luka pada jari tangan/kaki, genetalia, luka yang lebar/dalam dan luka yang banyak (multipel)

Dosisi dan Cara Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR)


1. Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV) Kemasan : Vaksin terdiri dari vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak 0,5 ml dalam syringe. a. Dosis dan cara pemberian sesudah digigit (Post Exposure Treatment) - Cara pemberian : disuntikkan secara intra muskuler (im) di daerah deltoideus (anak anak di daerah paha).

VAKSINASI

DOSIS
ANAK

DOSIS
DEWASA 0,5 ml

WAKTU
PEMBERIAN 4 x pemberian:

Dasar

0,5 ml

Hari ke-0, 2x

Pemberian sekaligus

(deltoideus kiri
dan kanan) - Hari ke 7 dan 21 Ulangan -

Dosis dan cara pemberian VAR bersamaan dengan SAR sesudah digigit (Post Exposure Treatment)
Dosis dan cara pemberian VAR bersamaan dengan SAR sesudah digigit (Post Exposure Treatment) - Cara pemberian : sama seperti pada butir 1.a.
VAKSINASI DOSIS ANAK DOSIS DEWASA WAKTU
PEMBERIAN Dasar 0,5 ml 0,5 ml 0,5 ml 4 x pemberian:

Hari

ke-0,

2x

pemberian

sekaligus

(deltoideus kiri dan kanan)

- Hari ke 7 dan 21
Ulangan 0,5ml 0,5 ml Hari ke 90

GIGITAN ULAR & SABU (Serum Anti Bisa Ular)

Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus Bisa ular merupakan campuran substansi kompleks, terutama protein, yang memiliki

Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh : ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus). Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae, contoh : ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah)

Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. contoh : ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).

Ciri-ciri ular berbisa: 1. Bentuk kepala segiempat panjang 2. Gigi taring kecil 3. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan Ciri-ciri ular tidak berbisa: 1. Bentuk kepala segitiga 2. Dua gigi taring besar di rahang atas 3. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taring

Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring, (B) Ular berbisa dengan bekas taring.

Sifat Bisa, Gejala, dan Tanda Gigitan Ular


Daya toksik bisa ular yang telah diketahui ada 2 macam : Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic) yaitu bisa ular yang menyerang dan merusak (menghancurkan) selsel darah merah dengan jalan menghancurkan stroma lecethine ( dinding sel darah merah), sehingga sel darah menjadi hancur dan larut (hemolysin) dan keluar menembus pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan timbulnya perdarahan pada selaput tipis (lender) pada mulut, hidung, tenggorokan, dan lain-lain. Bisa ular yang bersifat saraf (Neurotoxic) Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel saraf sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf tersebut mati dengan tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru-biruan dan hitam (nekrotis). Penyebaran dan peracunan selanjutnya mempengaruhi susunan saraf pusat dengan jalan melumpuhkan susunan saraf pusat, seperti saraf pernafasan dan jantung. Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh, ialah melalui pembuluh limphe.

Tanda dan gejala

Gejala-gejala awal : rasa terbakar, nyeri ringan, dan pembengkakan local yang progresif. Bila timbul parestesi, gatal, dan mati rasa perioral, atau fasikulasi otot fasial, berarti envenomasi yang bermakna sudah terjadi Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit). Gejala sistemik: hipotensi, otot melemah, berkeringat, menggigil, mual, hipersalivasi (ludah bertambah banyak), muntah, nyeri kepala, pandangan kabur.

Patogenesis

Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular

Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan ular Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening

Terapi yang dianjurkan meliputi:

Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril Lakukan imobilisasi Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan; penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock, shock perdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban, hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis lokal.

Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara intramuskular. Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepat mati/panik. Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atas protein, maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari serum kuda. Di Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. Serum antibisa ini hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan lokal yang luas.

Cara pemberian serumanti bisa ular

Teknik Pemberian: 2 vial @ 5 ml intravena dalam 500 ml NaCl 0,9 % atau Dextrose 5% dengan kecepatan 40-80 tetes per menit. Maksimal 100 ml (20 vial).

Terima kasih