Anda di halaman 1dari 5

RAHASIA KEDOKTERAN Oktavia Mardiani Soba Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA Semester VII Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Email : diso.izecson@yahoo.com

PENDAHULUAN

Skenario Seorang pasien laki-laki datang ke prakterk dokter. Pasien ini dan keluarganya adalah pasien lama dokter tersebut, dan sangat akrab serta selalu mendiskusikan kesehatan keluarganya dengan dokter tersebut. Kali ini pasien laki-laki ini, datang sendirian dan mengaku telah melakukan hubungan dengan wanita lain seminggu yang lalu. Sesudah itu ia masih tetap berhubungan dengan istrinya. Dua hari terakhir ia mengeluh bahwa alat kemaluannya mengeluarkan nanah dan terasa nyeri. Setelah diperiksa ternyata ia menderita GO. Pasien tidak ingin istrinya tahu karena bisa terjadi pertengkaran antara keduanya. Dokter tahu bahwa mengobati penyakit tersebut pada pasien ini tidaklah sulit, tetapi oleh karena ia telah berhubungan juga dengan istrinya maka mungkin istrinya mungkin juga sudah tertular. Istrinya juga harus diobati.

PEMBAHASAN A. PRINSIP ETIKA KEDOKTERAN Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Beauchamp and childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai suatu keputusan etis diperlukan empat kaedah dasar moral dan beberapa rules dibawahnya, yaitu:1 a. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditunjukan kepada kebaikan pasien. Dokter harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya. Pengertian berbuat baik di sini adalah bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajibannya. Tindakan konkrit dari beneficience meliputi:1 Mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan orang lain) Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia Memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter Mengusahakan keburukannya Paternalisme bertanggung jawab/berkasih sayang Menjamin kehidupan baik Pembatasan goal based Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan / preferensi pasien Minimalisasi akibat buruk Kewajiban menolong pasien gawat darurat Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan Tidak menarik honorarium di luar kepantasan Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan Mengembangkan profesi secara terus-menerus Memberikan obat berkhasiat namun murah agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan

Menerapkan Golden Rule Principle, dimana kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain

b.

Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau do no harm. Tindakan konkrit dari non-maleficence meliputi:1 Menolong pasien emergensi Kondisi untuk menggambarkan criteria ini adalah: Mengobati pasien yang luka Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia) Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien Tidak memandang pasien hanya sebagai objek Mengobati secara tidak proporsional Mencegah pasien dari bahaya Menghindari misinterpretasi dari pasien Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian Memberiksan semangat hidup Melindungi pasien dari serangan Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/ kerumah-sakitan yang merugikan pihak pasien/ keluarganya

c.

Prinsip autonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien (the rights to self determinations). Maksudnya tiap individu harus diperlakukan sebagai makhluk hidup yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasibnya sendiri). Tindakan konkrit dari autonomi meliputi:1 Menghargai hak menentukan nasibnya sendiri Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif) Berterus terang Menghargai privasi Menjaga rahasi pasien

Menghargai rasionalitas pasien Melaksanakan informed consent Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien Mencegah pihak lain ,emgintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk keluarga pasien sendiri Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien Menjaga hubungan

d.

Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice). Maksudnya adalah memperlakukan semua pasien sama dalam kondisi yang sama. Tindakan konkrit yang termasuk justice meliputi:1 Memberlakukan segala sesuatu secara universal Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accessibility, availability, quality) Menghargai hak hukum pasien Menghargai hak orang lain Menjaga kelompok yang rentan (yang paling merugikan) Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dll Tidak melakukan penyalahgunaan Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi) secara adil Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/tepat Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan kesehatan Bijak dalam makroalokasi

Pembahasan Kasus

Etika profesionalisme dokter meliputi 4 prinsip moral, yaitu beneficence (prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien); non-maleficence (prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien); autonomi (prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien); justice (prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam mendistribusikan sumber daya). Pada kasus pasien penderita GO dan tidak ingin diketahui oleh istrinya, maka dokter harus menerapkan prinsip autonomi dimana dokter harus menghormati hak-hak pasien, dan menghargai privasi dari pasien tersebut apabila pasien tidak ingin penyakitnya tersebut diketahui oleh istrinya. Walaupun dalam penanganan penyakit ini istri seharusnya tahu supaya dapat juga mendapatkan penanganan terhadap penyakit itu, dokter tetap wajib menjaga rahasia pasien tersebut dan membiarkan pasien untuk menyampaikannya sendiri kepada istrinya. Selain itu dokter juga wajib menerapkan prinsip beneficent dimana dokter mengutamakan tindakan yang ditunjukan kepada kebaikan pasien dan istrinya, dokter harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya, mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan keburukan yang didapat pasien. Sedangkan prinsip non-maleficience dan justice tidak sepenuhnya diperlukan untuk kasus ini.