Anda di halaman 1dari 4

MASALAH BAYI SAAT LAKTASI

MASALAH BAYI SAAT LAKTASI Menyusui bayi secara eksklusif merupakan hak anak dan kewajiban Ibu untuk memberikan nutrisi yang terbaik untuk bayi , yaitu ASI . Bukan susu formula dengan harga yang selangit . Bukan tidak mudah memberikan hanya ASI saja dalam periode pertama kehidupan bayi , banyak permasalahan yang cenderung membuat Ibu putus asa untuk memberikan ASI eksklusif . Berikut akan diuraikan beberapa permasalahan yang sering terjadi serta solusinya , serta perawatan yang hendaknya dilakukan Ibu semasa hamil agar setelah melahirkan dapat memberikan hadiah terbaik untuk buah hati , yaitu ASI. Bayi Bingung Puting Hal ini terjadi karena bayi diberi susu formula dalam botol bergantian dengan menyusu pada ibu . Mekanisme menyusu dan minum dari botol sangat berlainan . Bayi yang minum susu botol tidak perlu berusaha keras karena susu dapat terus keluar tanpa diisap . Oleh sebab itu , bayi yang terbiasa minum susu botol sulit atau enggan menyusu dari ibunya . Tanda bingung puting adalah bayi mengisap puting seperti mengisap dot , terputusputus atau sebentar-sebentar . Bayi dapat pula menolak menyusu Ibu . Untuk mencegah bayi bingung puting usahakan bayi hanya menyusu ibu dengan cara menyusui yang benar , lebih sering dan lama , serta on demand. Ibu perlu lebih sabar dan telaten sewaktu menyusui serta melakukan perawatan payudara pasca kelahiran secara sistematis dan teratur . Di luar waktu menyusui jangan berikan dot atau empeng , berikan ASI dengan sendok bila ibu tidak dapat menyusui bayinya. Bayi Enggan Menyusu Berikut adalah beberapa sebab bayi enggan menyusu : 1. Hidung tertutup lendir atau ingus karena pilek sehingga sulit mengisap atau bernafas 2. Bayi menderita sariawan sehingga nyeri untuk mengisap 3. Terlambat dimulainya menyusu waktu di rumahsakit karena tidak dirawat gabung 4. Ditinggalkan lama karena ibu sakit atau bekerja 5. Bayi bingung puting karena disamping menyusui juga diberi minuman dalam botol 6. Bayi yang mendapatkan makanan tambahan terlalu dini 7. Teknik menyusui yang salah 8. ASI kurang lancar atau terlalu deras Penanggulangan kasus ini adalah dengan mengajarkan ibu cara yang baik untuk membersihkan lubang hidung bayi pilek . Berikan pengobatan bila mulut bayi sariawan

. Selain itu , berikan lebih banyak kesempatan pada ibu untuk merawat bayinya sendiri agar lebih mengenal sifat atau cirinya . Jangan memberikan makanan tambahan terlalu dini . Bila ASI terlalu deras keluarkan sedikit sebelum menyusui , kemudian bayi disusukan dengan posisi tegak atau berdiri . Sedangkan bila kurang lancar , hendaknya ibu menyusui bayi lebih sering dan lama . Waktu menyusui posisi kepala bayi lebih didekatkan pada payudara , tangan ibu menahan kepala bayi agar tetap pada posisinya sehingga ASI dapat keluar lebih sempurna. Jika bayi enggan menyusu dikarenakan panas , diare , atau kejang maka lebih baik Ibu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terdekat . Bayi Sering Menangis Menangis merupakan cara berkomunikasi sehingga bila seorang bayi menangis , pasti ada sebabnya dan perlu ditolong . Penyebabnya mungkin sekali adalah lapar , kesepian , bosan , popok basah atau kotor , dan sakit . Delapan puluh persen dari penyebab tersebut dapat ditanggulangi dengan menyusukan bayi dan teknik menyusu yang benar . Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan umur kehamilan . Pada BBLR sering ditemui reflex mengisap atau menelan lemah , bahkan kadang-kadang tiak ada , bayi cepat lelah , saat menyusu sering tersedak atau malas mengisap , dan lain-lain. Penanggulangannya adalah dengan member dukungan agar ibu mau dan mampu menyusui bayinya . Usahakan agar waktu menyusui singkat (2-3 menit) , tetapi sering (tiap 1-2 jam), dan bayi selalu dalam keadaan hangat. Ibu dianjurkan melaksanakan perawatan payudara pascakelahiran secara sistematis dan teratur . Kepala bayi ditahan supaya tetap menempel di payudara . Ambil posisi memegang bola yaitu memegang kepala bayi dengan salah satu tangan , seluruh badan berada di lengan ibu , kedua kaki menghadap punggung ibu . Waktu menyusui, menahan di bawah dagu akan merangsang bayi untuk mengisap . Sebelum bayi disusui , lakukan pengurutan payudara supaya ASI mengalir . Bayi Kembar Pertama , yakinkan ibu bahwa ia mampu memproduksi ASI bagi anak kembarnya . Produksi ASI akan lebih banyak karena rangsangan atau isapan oleh bayi kembar lebih sering . Bila salah seorang bayi terpaksa ditinggal di rumahsakit , ibu dapat menyusui yang satu dan memompa ASI untuk yang lain . Biasanya salah satu bayi lebih kuat mengisap daripada yang lain sehingga jangan ditentukan satu payudara untuk masingmasing. Agar rangsangan kedua payudara sama , susukan keduanya dari payudara secara bergantian . Bayi dapat disusui bersama atau bergantian. Bila bersama , Ibu dapat mengambil posisi memegang bola , kombinasi atau biasa. Yang dimaksud posisi kombinasi adalah satu bayi disusui dengan posisi biasa , sedangkan yang lainnya

dengan posisi memegang bola . Posisi biasa sebaiknya dengan memangku bayi , kepala atau tengkuk berada di siku ibu bagian dalam , lengan menopang punggung dan tangan memegang pantat. Perhatikan agar perut bayi berhadapan dengan perut ibu , kepala atau muka bayi menghadap payudara , areola tidak Nampak , dagu lebih mendekat payudara , dan bila diisap tidak sakit . Bila bayi terpaksa disusui bergantian , mulai dengan bayi yang lebih kecil . Ibu perlu mencukupi kebutuhan gizinya agar produksi cukup serta status gizi ibu terpelihara dengan baik . BAYI YANG LAHIR LEWAT SECTIO CAESARIA Ibu yang melahirkan lewat operasi SC ( Sectio Caesaria ) tidak mungkin segera dapat menyusui bayinya karena belum sadar akibat pembiusan . Bila keadaan ibu baik (sadar) , penyusuan dini dapat segera dimulai dengan bantuan perawat. Bila keadaan Ibu dan bayi sudah membaik , dapat dilakukan rawat gabung . Posisi menyusui yang dianjurkan adalah ibu dalam posisi berbaring miring dengan bahu dan kepala yang ditopang bantal. Bayi disusukan dengan kaki kea rah kepala Ibu . Bila Ibu sudah dapat duduk , bayi ditidurkan di bantal di atas pangkuan ibu dengan posisi kaki bayi mengarah ke belakang ibu di bawah lengan ibu . BAYI YANG DITINGGAL IBU BEKERJA Yang perlu diperhatikan adalah perlunya menjelaskan pada Ibu keuntungan pemberian ASI sebanyak-banyaknya bagi bayi . Ibu perlu memperhatikan agar selama masa cuti bayi memperoleh ASI sebanyak-banyaknya . Sewaktu Ibu mulai bekerja , luangkan waktu khusus di rumah untuk memberikan kesempatan bayi menyusu ibu saja . Pada saat jam kerja , bila ada fasilitas penitipan bayi di lingkungan kerja , maka Ibu dapat menyusui bayinya pada jam yang telah disepakati bersama . Bila terpaksa meninggalkan bayi dirumah , Ibu dianjurkan mengeluarkan ASI-nya selama di tempat kerja dengan tangan atau pompa untuk menghindari pembengkakan payudara. ASI disimpan di lemari pendingin dan diberikan pada bayi bila mungkin . Sebelum berangkat bekerja , Ibu harus menyusui bayi dengan kedua payudara . Sepulang bekerja , bayi segera disusui . Selain masalah-masalah bayi seperti yang disebutkan di atas , agar laktasi berjalan baik diperlukan manajemen yang baik dalam laktasi , meliputi perawatan payudara saat hamil , praktek menyusui yang benar serta memperhatikan gizi Ibu hamil dan menyusui . PERAWATAN SAAT KEHAMILAN Sejak kehamilan 6-8 minggu , terjadi perubahan pada payudara berupa pembesaran , terasa lebih padat, kencang , sakit dan tampak jelas gambaran pembuluh darah di permukaan kulit yang bertambah serta melebar . Kelenjar Montgomery daerah areola tampak lebih nyata dan menonjol . Perawatan payudara yang diperlukan adalah : 1. Mengganti BH sejak hamil usia 2 bulan dengan ukuran yang lebih sesuai dan dapat menopang perkembangan payudara . Biasanya diperlukan BH dengan ukuran 2 nomor lebih besar .

2. Latihan gerakan otot badan yang berfungsi menopang payudara untuk menunjang produksi ASI dan mempertahankan bentuk payudara setelah selesai masa laktasi. Bentuk latihan : duduk sila di lantai . tangan kanan memegang bagian lengan bawah kiri (dekat siku) , tangan kiri memegang lengan bawah kanan . Angkat kedua siku hingga sejajar pundak . Tekan pegangan tangan kuat-kuat kea rah siku sehingga terasa adanya tarikan pada otot dasar payudara. 3. Menjaga hygiene sehari-hari , termasuk payudara , khususnya daerah putting dan areola 4. Setiap mandi , putting susu dan areola tidak disabuni untuk menghindari keadaan kering dan kaku akibat hilangnya pelumas yang dihasilkan kelenjar Montgomery 5. Melakukan persiapan putting susu agar lentur , kuat , dan tidak ada sumbatan sejak usia kehamilan 7 bulan setiap hari sebanyak dua kali 6. Mengoreksi puting yang datar atau terbenam agar menyembul ke luar dengan bantuan pompa puting pada minggu terakhir kehamilan sehingga siap untuk disusukan pada bayi . Beberapa hal yang harus diperhatikan agar ibu hamil sehat dan mampu menyusui bayinya : a) Gizi ibu hamil .Kebutuhan tambahan kalori wanita hamil lebih kurang 285 kalori . Jumlah cairan yang perlu diminum tidak banyak berbeda dari biasa , yaitu sekitar 2 liter perhari. b) Istirahat. Wanita hamil sebaiknya tidur 8 jam sehari . Kegiatan dan gerakan sehari-hari harus memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi . Di antara waktu kegiatan diperlukan istirahat guna melemaskan otot-otot . Bagi wanita bekerja , perlu diatur agar cuti hamil dan bersalin diambil sebanyak mungkin setelah bersalin sehingga dapat menyusui bayinya selama mungkin selama bekerja . c) Tidak merokok dan menjauhi asap rokok orang lain . Tidak minum alcohol dan mengurangi kopi serta minuman mengandung soda karena dapat mengurangi kemampuan usus menyerap kalsium dan zat besi . d) Pemakaian obat selama hamil hanya atas petunjuk dokter atau bidan, terutama menjelang persalinan agar tidak berpengaruh terhadap proses laktasi . e) Memperhatikan dan memeriksakan diri bila ada keluhan pada daerah gigi dan mulut karena dapat menjalar ke organ tubuh lain dan mengganggu kehamilan . f) Memperhatikan kebersihan diri dan menggunakan pakaian nyaman , yaitu yang longgar , ringan , mudah dipakai dan menyerap keringat . g) Sebaiknya sejak kehamilan 3 bulan terakhir telah memilih dan mengenal dokter yang akan mengawasi kesehatan anaknya kelak . Kerjasama antara tenaga penolong persalinan dan dokter anak harus dibina .( dr. Meti Dewi Astuti)