Anda di halaman 1dari 3

TESTIMONI KELAS INSPIRASI BALI BERGANDENGAN TANGAN MENGINSPIRASI ANAK-ANAK INDONESIA OLEH : I NENGAH SUARMANAYASA, SE., M.

SI

LOKASI : SD NEGERI 3 PENGOTAN TANGGAL : 11 JUNI 2013

Sepenggal kisah seorang relawan kelas inspirasi Bali Berawal dari sebuah siaran televisi swasta nasional yang menyiarkan kegiatan gerakan Indonesia Mengajar, jiwa ini begitu kagum dan bangga dengan semangat anak muda yang mau berbagi ilmu untuk generasi penerus. Mungkin ini adalah sebuah skenario alam, sekitar 3 minggunya ada acara dialog khusus di salah satu televisi lokal Bali yang menyiarkan acara gerakan Kelas Inspirasi Bali (KIB). Acara tersebut seolah-olah mengetuk kepedulian saya untuk segera menjadi bagian dari gerakan mulia ini. Awalnya saya tidak banyak berharap untuk bisa diterima menjadi bagian dari gerakan KIB ini karena melihat umur dan minimnya pengalaman yang dimiliki. Umur saya baru 28 tahun dan saya merasa di umur yang sekarang ini belum banyak berkiprah dan jauh tertinggal dari orang kebanyakan. Saya adalah salah satu dosen muda yang mengajar di jurusan S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Ganesha, salah satu kampus yang berkiblat pendidikan. Mulai bulan September 2012 saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa program doktor (S3) di Universitas Udayana Bali. Setelah dilakukan seleksi oleh tim KIB yang dikomandoi oleh Prof Muninjaya seorang dosen yang sangat enerjik akhirnya saya dipercaya menjadi koordinator kelompok relawan di SD N 3 Pengotan. Tugas saya mengkoordinir teman-teman relawan dan melakukan koordinasi dengan pihak sekolah terutama dengan kepala sekolah. Sehari sebelum dilaksanakannya gerakan KIB saya berkunjung ke lokasi dan bertemu

dengan kepala sekolah serta guru-guru. Senang dan kagum melihat respon pihak sekolah yang begitu antusias menunggu kedatangan relawan, hal itu ditunjukkan dengan matangnya persiapan yang dilakukan seperti menyewa peralatan LCD. Adanya kerjasama yang baik berdampak pada lancarnya pelaksanaan gerakan KIB tanggal 11 Juni 2013. Awalnya saya bingung dan tidak percaya diri untuk mengajar dan berbagi dengan anak-anak SD. Saya belum pernah dan membayangkan pun tidak pernah untuk mengajar anak-anak SD. Saat pelaksanaan KIB saya mendapat jadwal mengajar dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Saya berbagi ilmu dan pengalaman dengan menggunakan bantuan beberapa video. Media tersebut sangat membantu, terlihat dari respon anak-anak saat menonton video tersebut. Mengajar anak-anak kelas 1 3 relatif lebih susah dibandingkan dengan anak-anak kelas 4 6. Saat mengajar, saya menekankan pentingnya arti pendidikan, sehingga saya sarankan agar anak-anak melanjutkan sekolah sampai sarjana. Memiliki cita-cita penting tapi berproses untuk menggapai itu jauh dan juah lebih penting. Diperlukan kerja keras, semangat dan usaha yang terus menerus dan tentunya perjuangan yang pantang menyerah untuk bisa mencapai impian. Sebagian besar anak-anak sudah memiliki cita-cita walaupaun ada beberapa anak yang masih bingung menentukan cita-citanya. Dokter dan guru adalah profesi yang selalu diidamkan di setiap kelas, mungkin karena profesi ini yang paling akrab ditelinga anak-anak. Melihat keluguan dan kepolosan anak-anak SD tentunya menyiratkan makna betapa pentingnya peran guru dalam mendidik dan mengarahkan mindset anakanak. Guru SD adalah garda terdepan dalam hal menanamkan nilai-nilai mulia kepada anak-anak, sehingga pemerintah harus memprioritaskan perhatiannya pada guru SD. Secara pribadi saya merasa senang dan berterima kasih kepada KIB karena dengan gerakan ini kenangan masa-masa SD bangkit kembali. KIB

menyadarkan akan pentingnya arti berbagi, KIB membukakan jalan agar berani bermimpi dan sebisa mungkin bertingkah laku yang layak dijadikan inspirasi bagi generasi penerus. Terima kasih KIB......