Anda di halaman 1dari 6

TESTIMONI KELAS INSPIRASI BALI BERGANDENGAN TANGAN MENGINSPIRASI ANAK-ANAK INDONESIA OLEH : BAGUS SUDIBYA

LOKASI : SD NEGERI 2 LANDIH TANGGAL : 11 JUNI 2013 Saya adalah seorang anak tertua dari sebuah keluarga yang sederhana, lahir di Desa Manggis Kabupaten Karangasem. Sejak kecil saya terdidik dan terlatih untuk menjadi anak yang mandiri dikarenakan sulitnya situasi di saat itu sehingga saya juga harus membimbing semua adik-adik yang saat itu masih kecil. Karena hidup di sebuah desa yang notabene kehidupannya homogen secara tidak langsung tumbuhlah rasa kebersamaan dan peduli terhadap sesama pada diri saya. Sehari-harinya saya bermain bersama teman-teman yang pada saat itu hanya bercerita mengenai sapi, sawah dan hal sejenis lainnya. Akan tetapi di sisi lain, orang tua saya dan saudaranya membahas kehidupan dalam berbisnis transportasi, pabrik minyak kelapa dan jasa ekspedisi. Disinilah saya akhirnya menyadari bahwa inilah yang disebut sebagai bisnis di tengah kehidupan masyarakat yang saat itu masih sangat bergantung pada kekayaan agraris sehingga masih sedikit orang yang memiliki pemikiran untuk membangun bisnis dari potensi yang mereka miliki. Ini adalah dualisme yang sangat indah bila dipadukan. Bencana alam meletusnya Gunung Agung memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan sosial dan kejiwaan keluarga khususnya, dan masyarakat Karangasem pada umumnya, bahkan di seluruh Bali. Pada saat

itu, sekolah saya harus berubah menjadi rumah sakit, kantor-kantor pemerintah harus dipindahkan karena seluruh fasilitas yang ada rusak akibat bencana alam tersebut. Dengan kondisi yang demikian, akhirnya orang tua memutuskan untuk melakukan urbanisasi ke kota. Dengan melakukan urbanisasi membuat saya akhirnya menyadari dan mengerti bahwa hidup di kota itu penuh dengan tantangan. Keluarga kami harus memulai usaha dari awal, dan harus jeli dalam melihat peluang sekecil apapun untuk dapat bertahan hidup di kerasnya kehidupan perkotaan. Setelah menamatkan pendidikan di SMA Katholik Santo Joseph Denpasar, pada tahun 1971 saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di National Hotel Institute (NHI) Bandung. Dengan melanjutkan pendidikan di Bandung, secara tidak langsung sikap mandiri semakin tumbuh karena tinggal jauh dari orang tua dan saudara-saudara. Kemudian, di tahun 1975 saya melanjutkan sekolah di Hartnack Schule - Berlin, dilanjutkan pada tahun 1977 di The Oxford Academy of English Inggris, dan terakhir pada tahun 1978 saya menempuh pendidikan di Institute of Tourism & Hotel Management, Salzburg Austria. Dengan menempuh pendidikan di beberapa institusi pendidikan di Eropa , saya dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang drastis terutama di dalam kultur dan prinsip hidup masyarakat Eropa. Setelah menyelesaikan studi di Austria, saya memutuskan untuk kembali ke tanah air dan bekerja untuk membantu memajukan usaha yang sudah dijalankan oleh orang tua. Usaha tersebut memiliki suatu sistem yang telah dibentuk dari dulu. Seiring berjalannya waktu, keinginan saya semakin kuat untuk mengembangkan usaha. Dengan kreativitas, inovasi dan tentunya ditunjang dengan rasa tanggung jawab yang besar pada akhirnya mampu untuk mewujudkan mimpi tersebut. Setelah mimpi terwujud, keinginan yang besar untuk berbagi dengan orang lain menjadi mimpi saya selanjutnya, baik itu berbagi ilmu maupun

pengalaman. Dan Kelas Berbagi Inspirasi ini telah memberikan saya kesempatan untuk mewujudkan mimpi ini.

Pada tanggal 11 Juni 2013, diadakanlah Kelas Inspirasi Bali di Kabupaten Bangli ,di 7 (tujuh) Sekolah Dasar yakni, SD 1 Landih, SD 2 Landih, SD 2 Kayubihi, SD 3 Kayubihi, SD 1 Pengotan, SD 2 Pengotan, dan SD 3 Pengotan. Saya sendiri mendapatkan kesempatan untuk berbagi inspirasi di SD 2 Landih bersama 4 orang relawan lainnya yang berasal dari berbagai macam profesi. Saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar siswa kelas 1 6. Saya sangat gembira melihat antusiasme mereka yang sangat baik. Diawal pertemuan saya menceritakan mengenai latar belakang pendidikan sebelum akhirnya dapat menjadi seperti sekarang. Disela-sela pertemuan ini saya berbagi kisah mengenai masa kuliah, dan juga menyelipkan pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman kepada mereka sehingga mereka tidak merasa bosan. Mereka menyimak dengan baik apa yang diajarkan dan mereka dapat meniru apa yang saya ucapkan.

Dalam Kelas Inspirasi tersebut saya ingin menanamkan kepada anakanak bahwa dari imajinasi yang mereka miliki, mereka dapat mewujudkannya menjadi sesuatu hal yang nyata dan berguna bagi kehidupan mereka dan orang lain di lingkungan mereka. Saya juga menegaskan bahwa semua itu tidak akan terwujud apabila di dalam diri anak-anak tersebut tidak ditumbuhkan sikap rajin belajar, tekun, disiplin, mandiri, jujur dan tidak mudah putus asa. Saya sempat melontarkan 2 pertanyaan kepada anak-anak tersebut yang pertama mengenai siapa saja yang orang tuanya memiliki sapi dan ternyata hampir seluruh dari orang tua anak-anak tersebut memiliki sapi. Pertanyaan kedua adalah siapa yang orang tuanya memiliki sepeda motor dan sama seperti jawaban dari pertanyaan pertama, seluruh orang tua siswa memiliki sepeda motor. Dari dua jawaban tersebut, saya memberikan pesan kepada anak-anak tersebut bahwa jangan sampai suatu saat nanti anakanak tersebut meminta orang tuanya untuk menjual sapi hanya karena

mereka ingin memiliki sepeda motor sendiri. Akan lebih baik apabila anak tersebut dapat memberitahu orang tua mereka untuk menjual sepeda motor untuk membeli sapi. Karena dengan memiliki sapi mereka akan mendapatkan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan memiliki sepeda motor yang nilai asetnya menurun setiap tahunnya. Disini secara tidak langsung telah ditanamkan prinsip bagaimana berbisnis di usia dini. Dalam pertemuan tersebut, saya menyampaikan kepada anak-anak bahwa desa tempat dimana mereka tinggal sekarang memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi sebuah desa wisata yang asri dan terkenal. Mereka harus pintar dalam menggali dan mengolah potensi yang ada di desa mereka sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna dan bernilai jual tinggi. Bila hal ini dilakukan bersama-sama dengan pemerintah dan instansi-instansi lainnya niscaya desa mereka akan semakin berkembang.

Kehidupan di desa sebenarnya jauh lebih indah dibandingkan dengan kehidupan di kota. Anak-anak lebih banyak yang memiliki pikiran orangorang yang memilih untuk mengadu nasib di kota pasti akan berhasil dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja di desa. Pemikiran yang demikian tidak salah, mengingat bahwa orang-orang yang dulunya berasal dari desa dan memilih untuk mengadu nasib ke kota pasti akan kembali ke desa pada saat mereka sudah menjadi orang yang berhasil. Sedangkan pada saat mereka masih merintis segala sesuatunya dari awal mereka tidak

pernah pulang ke desa. Inilah yang akhirnya membuat anak-anak berpikiran bahwa bila mengadu nasib ke kota pasti akan menjadi orang yang berhasil. Kegiatan Berbagi Inspirasi ini sangat baik, dan diharapkan kegiatan ini dapat berlanjut dan diadakan di setiap kabupaten yang ada di Bali. Dan untuk materi yang diajarkan agar dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari setiap daerah. Semoga pesan moral yang saya sampaikan dapat disadari oleh para cendikiawan, pengusaha, dan orang-orang lainnya bahwa berbagi itu indah. Berbagi itu tidak hanya berupa materi saja akan tetapi juga berupa pengalaman, pemikiran dan waktu. Saran terakhir adalah perlunya juga diadakan Kelas Inspirasi bagi para pendidik, karena dari merekalah sebenarnya dasar-dasar pendidikan, budi pekerti, cita-cita, dan kebersamaan akan dibentuk. Sehingga oleh karenanya kami menyarankan

hendaknya Kelas Inspirasi juga dapat diperluas dengan memberikan Kelas Inspirasi kepada guru-guru sekolah terutama di tingkat Sekolah Dasar.