Anda di halaman 1dari 98

Oleh : Lutfi Jauhari Izharynur Yahman Risna Sari Oktariza Rizkillah Lusy Octavia Saputri Salyanti Puji Negeri

05.48832.00233.09 05.48847.00248.09 05.48848.00249.09 05.48851.00252.09 05.48861.00262.09 05.48863.00264.09

LAB/SMF KESEHATAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN RSKD ATMA HUSADA MAHAKAM SAMARINDA 2011

"Gangguan bipolar adalah bunglonnya gangguan kejiwaan, mengubah tampilan gejalanya dari satu pasien ke pasien lain, dan dari satu episode ke episode lain bahkan pada pasien yang sama." Dr.Francis Mark Mondimore

Lebih dari 2 juta orang AS (atau 1 % populasi) berusia 18 th ke atas menderita bipolar Umumnya berkembang pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa, namun mungkin ada juga yang memulai gejalanya sejak anak-anak Sering tidak dikenal sebagai penyakit, sehingga baru ketahuan setelah agak lama diderita Bagaimana di Indonesia ? Belum ada angka pasti

DEFINISI
Gangguan Bipolar (GP) gangguan jiwa, bersifat episodik (manik, hipomanik, depresi dan campuran) biasanya rekuren seumur hidup

Faktor Genetik memiliki resiko genetik lebih besar dibanding penyakit depresi mayor 80 90 % pasien bipolar memiliki keluarga (orang tua, anak, saudara kandung) yang memiliki gangguan mood Mekanisme bagaimana transmisi genetik bisa terjadi belum diketahui

Mania sekunder Terjadi akibat gangguan medis atau penggunaan obat/senyawa tertentu

Teori neurotransmiter Gangguan mood disebabkan karena ketidakseimbangan neurotransmiter di SSP Kelebihan senyawa amin (NE dan dopamin) mania; kekurangan NE, Dopamin, 5-HT depresi ketidakseimbangan antara aktivitas/rasio DA dan NE perubahan mood dari depresi ke mania Jika NE turun dopamin mendominasi switch kehipomania atau mania

Pada pemeriksaan MRI didapatkan pembesaran ventrikel ke-3. Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomographic) penurunan aktivitas metabolisme pada bagian otak depan (lobus frontalis). Hingga saat ini dikatakan bahwa abnormalitas yang terjadi pada bagian otak tersebut akan menyebabkan gangguan dalam pengaturan mood dan fungsi kognitif.

Episode depresi berat (major depressive episode) Episode manik Episode hipomanik Episode campuran Siklus cepat (rapid cycling)

Paling sedikit 1 minggu mood yg elasi, ekspansi atau iritabel. Pasien memiliki 3 gejala berikut: percaya diri berlebihan berkurangnya kebutuhan tidur cepat dan banyaknya pembicaraan lompatan gagasan atau pikiran berlomba perhatian mudah teralih peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotor meningkatnya aktivitas bertujuan (sosial, seksual, pekerjaan dan sekolah) tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, dll).

Paling sedikit dua minggu pasien mengalami > 4 simtom/tanda yaitu: sulit atau banyak tidur agitasi atau retardasi psikomotor fatig atau berkurangnya tenaga menurunnya harga diri Pesimis ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri (dengan atau tanpa renacana) atau tindakan bunuh diri.

Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi terjadi secara bersamaan. Misalnya: mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah, serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung.

Paling sedikit empat hari menetap, pasien mengalami peningkatan mood, ekspansif atau iritabel yang ringan, paling sedikit tiga gejala yaitu: meningkatnya kepercayaan diri berkurangnya kebutuhan tidur meningkatnya pembicaraan lompat gagasan atau pikiran berlomba perhatin mudah teralih meningkatnya aktivitas atau agitasi psikomotor pikiran menjadi lebih tajam daya nilai berkurang

Menurut American Psychiatric Association, bipolar dibagi menjadi 4 katagori:

bipolar I ditandai dengan terjadinya satu atau lebih episode manik atau episode campuran, dan biasanya diikuti dengan episode depresi mayor umumnya cukup parah dan perlu perawatan di rumah sakit bipolar II dikarakterisir oleh satu atau lebih episode depresi mayor dan diikuti sedikitnya satu episode hipomanik siklotimik (cyclothymic) ditandai dengan adanya sejumlah episode hipomanik atau gejala depresi, tapi gejala itu belum termasuk dlm kriteria manik atau depresi mayor masih ringan tapi mungkin bisa berkembang menjadi bipolar I atau II pada 15-50% pasien Bipolar non-spesifik ditandai dengan tanda-tanda bipolar tapi tidak memenuhi kriteria gangguan bipolar spesifik

Mengurangi gejala bipolar Mencegah episode berikutnya Meningkatkan kepatuhan pasien pada pengobatan Menghindari stressor yang dapat memicu kejadian episode mengembalikan fungsi-fungsi kehidupan menjadi normal

1.

Terapi non farmakologi Psychoeducation for the patient and family Psikoterapi Stress reduction (relaxation, yoga, massage, etc) Sleep, nutrition, exercise support outcomes ECT(electroconvulsive therapy)

2. Terapi farmakologis menggunakan obat-obat mood stabilizer Contoh: Lini pertama :Lithium, Valproat, dll. Lini kedua/alternatif: Carbamazepin, Gabapentin, lamotrigin, topiramat (antikonsvulsan), nimodipin, verapamil (Ca bloker), olanzapin, risperidon (antipsikotik atipikal)

Mild to moderate symptoms of mania or mixed episode 1. Mulai dg Litium atau valproat atau antipsikotik atipikal (olanzapin, quetiapin, risperidon) Alternatif antikonvulsan: karbamazepin, lamotrigin, atau oxcabarzepin 2. Jika respon tidak adekuat: tambah benzodiazepin (lorazepam atau klonazepam) jika perlu (utk agitasi atau insomnia) 3. Jika respon tdk adekuat, pertimbangkan - kombinasi Li + antikonvulsan or antipsikotik atipikal - kombinasi antikonvulsan + antikonvulsan or antipsikotik atipikal

Moderate to severe symptoms of mania or mixed episode 1. Mulai dg kombinasi 2 obat : Litium atau valproat plus antipsikotik atipikal (olanzapin, quetiapin, risperidon) Alternatif antikonvulsan : karbamazepin, lamotrigin, atau oxcabarzepin 2. Jika respon tidak adekuat: tambah benzodiazepin (lorazepam atau klonazepam) jika perlu (utk agitasi atau insomnia) 3. Jika respon tdk adekuat, pertimbangkan kombinasi 3 obat: - Li + antikonvulsan + antipsikotik atipikal - antikonvulsan + antikonvulsan + antipsikotik atipikal 4. Jika respon tdk adekuat, pertimbangkan ECT utk mania dg psikosis atau katatonia, atau tambahkan klozapin

Mild to moderate symptoms of depressive episode 1. Mulai dg atau optimasi penggunaan mood stabilzer : Litium atau lamotrigin Alternatif : karbamazepin, lamotrigin, atau oxcabarzepin

Moderate to severe symptoms of depressive episode 1. Mulai dg kombinasi 2 obat : Litium atau lamotrigin plus antidepresan; atau Li + lamotrigin Alternatif antikonvulsan : karbamazepin, lamotrigin, atau oxcabarzepin 2. Jika respon tidak adekuat, tambah antipsikotik atipikal jika ada tanda-tanda psikotik (halusinasi, delusi) 3. Jika respon tdk adekuat, pertimbangkan kombinasi 3 obat: - Li + antikonvulsan + antidepresan - Lamotrigin+ antikonvulsan + antidepresan 4. Jika respon tdk adekuat, pertimbangkan ECT

Pengobatan harus dilakukan secara individual karena gambaran klinis, keparahan, dan frekuensi kejadian yang sangat bervariasi antar pasien episode hipomanik mungkin tidak perlu pengobatan, kecuali jika pasien memiliki sejarah pernah mengalami episode manik episode manik pertamakali umumnya diobati dengan lithium (Li) dan suatu terapi tambahan seperti benzodiazepine untuk membantu tidur

episode manik kambuhan dapat diobati dengan Li, atau valproat (VPA), bersama dengan benzodiazepine untuk insomnia-nya Evidence baru (2003, FDA approved) : Lamotrigin cukup efikasius untuk terapi pemeliharaan jika episode mania diikuti dengan psikosis terapi yang sama dapat diperpanjang sampai mania berkurang jika pasien tdk berespon dalam 2-3 minggu bisa ditambah obat-obat stabilizer mood yang lain (kombinasi)

jika masih tidak ada respon perlu dilakukanECT sekali pasien sembuh, diperlukan terapi pemeliharaan untuk mencegah terjadinya kekambuhan terapi pemeliharaan yang skrg direkomendasikan (2005) : Litium atau lamotrigin jangka panjang monoterapi lebih disukai untuk terapi pemeliharaan jangka panjang, tetapi kombinasi mungkin dibutuhkan bagi pasien dengan episode campuran

Litium (Li) merupakan obat antimania yang pertama dikenal (sekitar 1970) bentuknya : garam litium yaitu Li-carbonat (exp: Teralithe, tablet 250 mg, dari Rhone Poulene) umumnya 70-80 % efektif untuk mengatasi mania akut atau hipomania dalam waktu 7-14 hari setelah terapi dimulai profilaksis dengan Li juga sekitar 70-80 % efektif dalam mencegah kekambuhan mania, hipomania, atau depresi indeks terapi Li sempit harus diresepkan dengan hatihati dan harus selalu dilakukan pemantauan kadar Li plasma

kadar terapi dalam plasma : 0,4 1,0 mmol/l, kadar toksis : > 1,5 mmol/liter gejala toksisitas: tremor, ataksia, nistagmus, gangguan fungsi ginjal, konvulsi, dll Litium merupakan satu-satunya obat bipolar yang disetujui untuk anak-anak usia 12 tahun ke atas Litium juga diketahui bersifat teratogenik tdk boleh diberikan pada wanita hamil menyusui Tetapi beberapa studi belakangan melaporkan bahwa efek teratogen tersebut tidak seberat yang diduga sebelumnya boleh digunakan jika betul-betul diperlukan (benefit > risk) dengan dosis serendah mungkin

Pemeriksaan dilakukan selama 2 minggu dalam masa Kepaniteraan Klinik bagian Ilmu Kedokteran Jiwa di RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda mulai tgl 25 Februari s.d 8 Maret 2011

Nama : Tn. RH Umur : 20 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Protestan Status Perkawinan : Belum Kawin Pendidikan : sampai dengan Kelas 2 SMA Pekerjaan : Tidak Bekerja Suku : Batak Alamat : Perum BTN NO. 20 Balikpapan Pasien saat ini dirawat di Ruang Adaptasi Elang RSKD Atma Husada Samarinda.

Pasien mengamuk dan membahayakan orang lain.

Pasien sering kali mengamuk di rumah apabila kemauannya tidak dituruti. Pasien masuk RSKD lagi setelah beberapa kali keluar masuk RSKD. Sebelum masuk RSKD untuk pertama kalinya, pasien ditahan di Rumah Tahanan Balikpapan karena menikam kakak perempuannya. Pasien merasa dirinya adalah orang yang temperamen dan cepat marah saat keinginannya tidak dapat dipenuhi.

Pasien akan mengamuk jika keinginannya tidak dapat terpenuhi, kemudian merusak barang-barang di rumah, bahkan menyakiti orang-orang di sekitarnya. Pasien tidak pernah mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk mengamuk. Pasien sering mengancam bunuh diri dan berusaha membenturkan kepalanya ke tembok. Pasien mengaku pemakai narkoba sejenis sabu-sabu dan double L, pecandu alkohol dan rokok.

Diperoleh dari: Nama Umur Alamat Balikpapan Pekerjaan Hubungan dengan pasien

: Ny. Ivone Korok : 55 tahun : Perum BTN No.20 : Wiraswasta (Salon) : Ibu Kandung

Saat masuk pasien datang ke IGD RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda pada tanggal 17 Februari 2011 diantar ibu kandungnya setelah mengamuk di rumah. Pada saat itu pasien baru saja lari dari rumah sakit dan dapat pulang sendiri dari RSKD Atma Husda Mahakam ke Balikpapan. Pasien adalah pasien ulangan yang saat pertama kali dibawa ke RSKD pasien baru saja keluar dari Rumah Tahanan Balikpapan karena menikam kakak kandung perempuannya.

Pasien ditahan di rumah tahanan selama 8 bulan lamanya. 4 hari kemudian pasien dibawa ke RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda. 3 hari sebelum MRS pasien tidak bisa tidur dan keluyuran, serta sudah 1 hari tidak mau makan. Pasien juga pernah mengancam bunuh diri jika keinginannya tidak terpenuhi. Pasien pernah masuk RSKD Atma Husada Mahakam 3 tahun yang lalu, dan putus obat selama 1 tahun.

Saat ibunya berjanji untuk menjenguk pasien namun tidak ditepati, pasien mengamuk sejadi-jadinya, memukul-mukul lantai, membenturkan kepalanya ke tembok, bahkan memukul temannya yang juga dirawat di ruangan yang sama hingga pasien harus diikat. Saat ibunya datang menjenguk, pasien memperlihatkan ekspresi senang, ceria, dan minta pulang. Namun saat ibunya tidak bisa menuruti keinginannya pasien mengancam untuk bunuh diri. Namun atas bujukan ibunya pasien kembali ceria,

Ayah pasien sudah meninggal karena penyakit jantung saat berusia 60 tahun. Ayah pasien adalah orang yang tegas terhadap keluarga, namun sangat menyayangi pasien karena pasien merupakan anak laki-laki pertama. Ibu pasien sempat diancam akan ditinggalkan jika tidak bisa memberikan anak laki-laki. Setelah pasien lahir, semua keinginan pasien selalu dipenuhi oleh ayah pasien. Setiap ada jatah makanan maka yang harus mendapatkan pertama kali adalah pasien, baru kemudian saudara-saudaranya. Sebelum meninggal, ayah pasien merupakan seorang pensiunan pegawai negeri, namun selalu berusaha memenuhi semua keinginan pasien.

Sebelum menikah dengan ayah pasien, ibu pasien pernah menikah kemudian bercerai karena kekerasan dalam rumah tangga. Ibu pasien bercerita bahwa ia sering kali dipukuli oleh suami pertamanya. Pada perkawinan sebelumnya ibu pasien sempat beberapa kali mengancam bunuh diri, pernah mencoba gantung diri namun gagal, pernah mencoba mengiris tangannya, namun juga gagal. Saat ini ibu pasien bekerja sebagai wiraswasta dengan mendirikan usaha salon.

Tempat /Tanggal lahir: Balikpapan, 11 Agustus 1990 Keadaan ibu sewaktu hamil: baik, tidak ada masalah ANC: dilakukan rutin setiap bulan setelah usia kandungan 5 bulan Di Bidan

Pasien merupakan anak yang sehat, jarang sakit, perkembangan baik, berhenti ngompol saat usia 3 tahun, tidak ada hambatan dalam bicara maupun berjalan, tidak ada riwayat kejang, tidak ada riwayat mimpi buruk sewaktu kecil.

Sewaktu di bangku SD pasien merupakan anak yang berprestasi. Selama SD pasien selalu masuk 3 besar. Namun sewaktu di kelas 5 SD pasien mulai bergaul dengan murid-murid yang nakal dan sering membuat onar di lingkungan rumah dan lingkungan sekolah.

Saat di bangku SMP pasien pernah ketahuan menggunakan NAPZA. Pasien mulai merokok saat duduk di kelas 1 SMP dan ketahuan menggunakan NAPZA saat duduk di kelas 3 SMP.

Saat duduk di bangku SMA pasien sempat menjadi pemain basket, namun tidak bisa menghentikan rokok dan NAPZAnya tapi tidak rutin dikonsumsi setiap hari. Selain itu, pasien juga memiliki kebiasaan memukul teman satu timnya apabila timnya kalah dan bermain jelek.

Saat duduk di bangku SMA pasien sempat menjadi pemain basket, namun tidak bisa menghentikan rokok dan NAPZAnya tapi tidak rutin dikonsumsi setiap hari. Selain itu, pasien juga memiliki kebiasaan memukul teman satu timnya apabila timnya kalah dan bermain jelek. Pada saat duduk di kelas 2 SMA, pasien sangat frustasi karena ayahnya meninggal, yakni saat pasien berusia 16 tahun.

Sepeninggal ayah pasien, pasien sangat terpukul dan putus sekolah. pasien melampiaskan kesedihannya dengan alkohol dan NAPZA serta keluyuran di malam hari dengan teman-temannya Selain itu juga pasien semakin sering memukul orang, judi, dan bergaul dengan anakanak nakal. Selain itu, apabila keinginannya tidak dipenuhi, pasien mengamuk, menghancurkan barangbarang di rumah, mengancam bunuh diri, bahkan menikam kakak perempuannya.

Pasien tidak pernah masuk rumah sakit, sebelumnya hanya sakit ringan seperti demam, flu, pilek.

Tanggal Tanggal NO MRS KRS


Baru keluar RUTAN setelah Observasi psikotik akut. Rizodal 2 x 1 Algamax 1 x 0,5 mg Promactil 1 x 100 mg L:D= 1:1

Alasan MRS

Diagnosis

Terapi

8/10/07 30/10/07 ditahan 8 bulan karena

menikam kakak perempuan, indikasi suicide, tingkah laku aneh, selalu curiga.

Pasien bingung, hipersalivasi, Gangguan jiwa Rizodal 2x1

NO

Tanggal
MRS

Tanggal
KRS

Alasan MRS

Diagnosis

Terapi

11/2/11

17/2/11

Gelisah, mengamuk di

Skizofren THD 2x1/2

rumah.

Residual Halloperidol 5
mg 2x1/2 CPZ 2 mg 2x1

17/2/11

Mengamuk di rumah

Skizofren THD 2 x 2 mg

setelah berhasil kabur


dari RSKD Atma Husada

Residual Halloperidol 1 x
5 mg CPZ 100 mg 0-0-1

Setelah dikonsulkan oleh dokter muda ke dokter konsulen pada tanggal 2 Maret 2011, pasien didiagnosa menderita Bipolar.

Kejahatan : Pasien sering melakukan kekerasan pada orang-orang di sekitarnya. Judi : Pasien mulai sering berjudi sejak ayahnya meninggal. Pelanggaran yang pernah dilakukan : Menikam kakak kandung perempuannya. Hukuman : Dipenjarakan selama 8 bulan

Saat ini pasien masih dirawat di RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda, namun selalu minta pulang karena merasa sudah sembuh. Pasien pernah sangat marah kepada ibunya karena tidak menepati janji untuk datang menjenguknya. Saat itu pasien mengamuk dan memukul temannya yang dirawat di Ruang adaptasi. Karena itu pasien sempat diikat selama beberapa hari. Pada saat ibu pasien datang menjenguk, ibunya mengatakan kepada pasien agar pasien menganggap bahwa ibunya sudah mati saja, sehingga pasien tidak lagi kangen kepada ibunya.

Sejak duduk di sekolah dasar pasien merupakan anak yang nakal dan sulit diatur. Namun apapun keinginan pasien selalu berusaha dipenuhi oleh ayahnya. Setiap kali membeli makanan, pasien harus mendapatkan jatah yang pertama kali. Jika jatahnya diambil lebih dulu oleh saudaranya yang lain, pasien akan sangat marah.

Pada saat duduk di bangku SMA pasien menjadi pemain basket. Namun selalu ingin jadi pemenang dan pemimpin. Apabila ada rekan di tim basket yang dianggap jelek permainannya, maka pasien akan memukulinya.

Emosi pasien labil, ekspresi pasien juga berubah-ubah dan appropriate. Pasien mengakui bahwa dirinya adalah seorang yang temperamen, dan mampu melakukan apapun, hingga menghancurkan kulkas dan akuarium di rumah jika keinginannya tidak dapat dipenuhi.

Saat dijenguk oleh ibunya pasien memberikan ekspresi yang sangat bahagia, namun setelah itu pasien mengancam untuk bunuh diri sambil menangis jika tidak dibawa pulang oleh ibunya.

Sensitif, pencuriga, tukang cekcok, mudah marah, impulsive, pencemburu, mementingkan diri sendiri, egosentris, menyadari dirinya, keras.

Terhadap moralitas pasien kurang peduli, terhadap agama, pasien memiliki pandangan masa depan ingin digembalakan oleh Pendeta ketika sudah keluar dari RSKD. Pendapat terhadap kesehatan pasien kurang mengetahui tentang kesehatan, bahaya NAPZA, dsb.

Hiperaktif, tidak mudah lelah, sulit tidur (tidur pkl.12.00 dan bangun pkl.04.30), serring terbangun di malam hari. Pasien mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan seperti mandi, makan, dsb, namun jika keinginannya tidak dapat dipenuhi (rokok, ingin pulang, dsb) pasien akan memukul-mukul lantai.

Keadaan umum : Sakit ringan Kesadaran : kompos mentis Tekanan darah : 110/70 mmHg Frekuensi nadi : 88x / menit Frekuensi napas : 24x / menit Suhu : afebris

Kepala : deformitas (-), rambut hitam, tidak mudah dicabut Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks pupil baik Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-) Mulut : oral higiene cukup, tampak gigi pasien yang caries Jantung : BJ I/II normal, murmur (-), gallop (-) Paru : vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-) Abdomen : datar lemas, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal Ekstremitas : simetris, akral hangat, edema -/-, perfusi perifer cukup

Gejala rangsang selaput otak (-) Pupil bulat, isokor, 3mm/3mm, RCL +/+ Refleks fisiologis normal Nervus kranialis: kesan paresis (-), nistagmus (-) Refleks patologis (-) Gejala ekstrapiramidal : gaya berjalan dan postur tubuh normal, stabilitas postur tubuh normal, rigiditas ekstremitas tidak ada, gangguan keseimbangan, tremor (+) Sensibilitas : parestesia di kaki-tangan kiri dan kanan (-)

Perilaku umum: penampilan sesuai, sikap terhadap tenaga kesehatan mudah diarahkan namun banyak permintaan. Berbicara : cepat dan keras Afek : Berubah- ubah, ketakutan suasana ruang adaptasi (+), merasa dikurung, anxietas (+), ekspresi appropriate.

Pola pikir : koheren, melompat-lompat, flight of idea. Isi pikir : waham (-) Persepsi : Halusinasi (-), ilusi (-) Obsesi kompulsi : (-) Orientasi : tempat (+), waktu (+), orang (+)

Daya ingat : pasien mampu mengingat pengalamannya di masa lalu, pasien mampu menuliskan nomor hp ibunya, pasien mampu mengingat dengan cepat nama orang yang baru dikenalnya.

Perhatian dan konsentrasi : atensi (+), sulit berkonsentrasi, mudah dialihkan. Intelegensi : cukup Insight : pikiran saat ini merasa ingin pulang, ingin cari kerja, atau digembalakan oleh pendeta.

Telah diperiksa seorang laki-laki, Tn RH usia 20 tahun, bertempat tinggal di Balikpapan, suku Batak, agama Kristen Protestan, status tidak menikah.

Pada pasien ditemukan sindrom atau pola perilaku atau psikologis yang bermakna secara klinis dan menimbulkan penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam fungsi pekerjaan dan aktivitas seharihari pasien. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami suatu gangguan jiwa sesuai dengan definisi yang tercantum dalam PPDGJ III

Riwayat gejala depresi yakni susah tidur (suka terbangun), riwayat frustasi karena kehilangan orang yang dicintai yang merupakan salah satu pencetus depresi. Riwayat gejala hipomania (perasaan senang yang amat, bersemangat, lebih banyak bicara, cenderung mengerjakan pekerjaan dengan lebih detail, mengerjakan hal-hal kecil, irritable, dan gelisah).

Adanya ide-ide paranoid tentang keadaan dirinya yang kurang edukatif. Gejala tersebut sudah muncul sangat lama namun dengan gejala yang tidak disadari. Setiap episode gangguan mood, terjadi lebih dari 6 minggu untuk depresi dan 3 minggu untuk hipomania.

Organobiologis: Tidak ditemukan kelainan Psikologis: Ide-ide paranoid Riwayat gejala depresi dan hipomanik Lingkungan dan sosial ekonomi: Masalah dengan lingkungan: pernah melakukan kekerasan di lingkungan rumahnya dan sebagai mantan narapidana. Masalah pernikahan: tidak pernah menikah ataupun menjalin hubungan dengan lawan jenis. Maslah pendidikan: pasien merupakan remaja yang putus sekolah di kelas 2 SMA.

Aksis I : Gangguan Bipolar dengan DD Skizofrenia paranoid Aksis II :Gangguan emosional tak stabil Aksis III : tidak ada diagnosis Aksis IV : masalah keluarga, sosial, pendidikan, lingkungan Aksis V : GAF 80-71

Dubia at Bonam (Pengobatan harus tepat, sehingga pasien dapat disembuhkan).

Terapi : Carbamazepin 2 x 100 mg Halloperidol 2x5 mg THD 2x1

Menurut PPDGJ III diagnosis Bipolar dapat ditegakkan apabila terdapat: tanda episode berulang sekurangnya dua episode, episode yang satu menunjukkan peningkatan mood, energi dan aktivitas yang jelas terganggu (mania dan hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan mood, energi dan aktivitas depresi dengan masa remisi sempurna diantaranya. Episode manik dimulai dengan tiba-tiba, berlangsung antara dua minggu sampai 4-5 bulan (rata-rata 4 bulan. Episode depresi berlangsung lebih lama, rata-rata 6 bulan. Kedua episode lebih dulu didahului stresor, tetapi hal ini tidak esensial, episode pertama bisa timbul diusia anak-anak sampai usia tua.

Kriteria DSM IV untuk episode depresif: Terdapat 5 atau lebih gejala dibawah ini dalam periode 2 minggu dan terdapat perubahan fungsi dengan gejala depresi mood, atau kehilangan minat dan kesenangan

Mood depresi Kehilangan minat dan kesenangan terhadap hampir keseluruhan aktivitas Kehilangan berat-badan yang signifikan Insomnia atau hipersomnia Agitasi psikomotor atau retardasi Fatigue dan kehilangan energi Perasaan bersalah yang berat a.Kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi b.Pemikiran untuk mati terjadi berulang.

Pada pasien ini terdapat kesalahan pola asuh setiap permintaan pasien harus dituruti dan itu terjadi di lingkungan rumah. Kemungkinan adanya faktor genetic dapat terlihat, dimana pada pasien ini ibu pasien sempat beberapa kali mencoba bunuh diriGB pada wanita akan menonjolkan episode depresinya. Diketahui bahwa pasien dengan gangguan bipolar tipe I, 80-90% di antaranya memiliki keluarga dengan gangguan depresi atau gangguan bipolar juga (yang mana 10-20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditemukan pada populasi umum).

Depresi kondisi suasana perasaan yang menetap sedih dalam jangka waktu panjang. manik atau hipomanik kondisi suasana perasaan yang berkebalikan dengan depresi di mana terdapat suatu suasana perasaan yang gembira secara berlebihlebihan, meluas, atau iritable (mudah menjadi marah). menyebabkan : peningkatan energi, gangguan tidur, gangguan makan, rasa percaya diri yang berlebihan, waham kebesaran, kontrol impuls yang buruk, hingga perilaku agresi dan tanpa perhitungan.

Hipomanik adalah kondisi mood yang menyerupai manik namun dalam derajat lebih ringan. Episode manik harus berlangsung sekurangnya 1 minggu, sedangkan episode hipomanik berlangsung sekurangnya 4 hari.

Pada pasien ini sangat jelas terlihat adanya sifat mudah marah, sulit tidur, kontrol impuls yang buruk, hingga perilaku agresi jika keinginannya tidak dapat dipenuhi. Pasien ini juga memperlihatkan episode depresi saat kehilangan ayahnya dengan pelampiasan kepada pergaulan yang salah, narkoba, alkohol, serta percobaan bunuh diri.

Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah, serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadangkadang bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan.

Penanganan pada pasien ini oleh dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dan dokter umum di RSKD Atma Husada. Penanganan pada pasien ini diberikan melalui psikofarmaka dan psikoterapi. Penanganan psikofarmaka: R/ CBZ 100 mg S 2 dd tab I

Penanganan psikoterapi : Pasien dirawat di dalam ruang edukasi Tidak adanya dukungan dari keluarga berupa kasih sayang, maupun perhatian kepada pasien Tidak ada dukungan semangat dari orang tua, dan sang ibu berkata padaa anaknya jika sebaiknya sang anak menganggap ibunya sudah mati sehingga si anak tidak mencari-cari sang ibu lagi.

Pada pasien dengan gangguan bipolar, dapat diberikan terapi berupa: Lithium Asam Valproat Karbamazepin

Obat-batan golongan benzodiazepine mempunyai kecenderungan mengakibatkan ketergantungan obat terlebih pada orang dengan kepribadian dependent dan tidak mantap Batas penggunaan golongan benzodiazepin hanya dianjurkan selama 2-4 minggu saja. Dan setelah itu pasien akan lebih mudah menerima bentuk terapi lain misalnya terapi prilaku dan terapi social. Gejala putus zat sering terjadi, diantaranya anxietas yang meningkat, insomnia, disforia, dan anorexiA

Ventilasi Persuasi atau bujukan Sugesti Penjaminan Kembali Bimbingan dan Penyuluhan Terapi Kerja Hypnoterapi Psikoterapi kelompok Terapi Perilaku Psikoterapi reedukatif

Hingga saat ini, tatalaksana untuk gangguan bipolar masih difokuskan dalam pemberian terapi farmakologi. Obat-obat golongan mood stabilizer diberikan baik untuk kondisi akut maupun untuk terapi maintenance yang bertujuan mencegah kekambuhan. Obat-obat anti depresan sangat dihindarkan karena dapat memicu munculnya gejala manik pada pasien.

Terapi farmakologis biasanya dikombinasi dengan terapi non farmakologis berupa psikoterapi. Intervensi psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive behavioral therapy (CBT), terapi keluarga, terapi interpersonal, terapi kelompok, psikoedukasi, dan berbagai bentuk terapi psikologi atau psikososial lainnya. Intervensi psiksosial sangat perlu untuk mempertahankan keadaan remisi.