P. 1
LESI PRAKANKER SERVIKS

LESI PRAKANKER SERVIKS

|Views: 119|Likes:
Dipublikasikan oleh Alfi Wakhianto
obgyn
obgyn

More info:

Published by: Alfi Wakhianto on Jul 05, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

LESI PRAKANKER SERVIKS Disebut juga neoplasia intraepithelial serviks (NIS).

Terjadi perubahan atipik dari proses diferensiasi bertahap epitel kolumner dari skuamosa serviks. Patofaal: serviks punya dua jenis epitel: epitel kolumner (melapisi ekstoserviks/porsio) dan epitel skuamosa (melapisi endoserviks kanalis servikali) yang saling bertemu di SquamoColumnar Junction (SCJ). Pada wanita muda SCJ berada di luar OUE, sedang pada wanita >35 tahun SCJ berada di dalam kanalis serviks. Pada proses metaplasia epitel kolumner akan digantikan oleh epitel skuamosa yang baru. Proses metaplasia dibagi menjadi 2: masa dinamik (masa saat epitel kolumner digantikan oleh epitel skuamos) dan masa maturasi (pematangan sel yang sudah mengalami masa dinamis). Nah pada masa dinamik inilah dengan adanya faktor pencetus dapat terjadi perubahan atipik, yang secara klinis disebut NIS. Faktor pencetus antara lain: peradangan kronis (klamidia, mikoplasma, HSV tipe 2, virus papiloma, Trikomonas vaginalis), kawin pada usia muda, hubungan seksual pada usia muda, gonta ganti mitraseksual, perokok, sperma suami yang mengandung histone. Pembagian lesi prakanker: 1. NIS I (displasia ringan)gangguan polaritas sel dan atipia ringan inti sel terdapat pada 1/3 tebal epitel 2. NIS II (displasia sedang) gangguan polaritas sel dan atipia sedang inti sel terdapat pada 1/32/3 tebal epitel 3. NIS III (displasia berat)polaritas sel sudah terganggu pada seluruh tebal epitel dan ditemukan atipia berat pada inti sel. 4. Karsinoma In situ (KIS)gangguan polaritas sel dan inti yang atipik pada seluruh ketebalan epitel skuamosa, sel menyerupai sel carcinoma invasive, namun selaput basal tetap utuh, dengan atau tanpa lesi kelenjar. 60% displasia ringan dan sedangca invasive 75% displasia berat dan KIS ca invasive Displasia ringan Ca insitu (5 tahun) Displasia sedangCa insitu (3 tahun) Displasia beratCa insitu (1 tahun) Ca insituca invasive (perlu waktu 3-10 tahun) Gejala Klinis: Pada tahap pra kanker dapat tidak ditemukan gejala sama sekali., kadang hanya keputihan atau gejala peradangan lazimnya. Deteksi dini prakanker:

Visualisasi: IVA (inspeksi visualiasi dengan aplikasi asam asetat) Servikografi Spekuloskopi Kolposkopi 3. membrane kolaps sehingga DNA keluar)epitel akan terlihat berwarna putih (asetowhite). tidak perlu dicuci (douching). Non visualisasi: HPV DNA TruScan (The Polar Probe) Jadi alur diagnosisnya: lakukan tes PAP (skrining) kalo hasil abnormal. Penatalaksanaan untuk lesi prakanker serviks: 1. NIS II: terapi laser vaporasi/loop eksisi 3. NIS III : Terapi laser vaporasi/loop eksisi. asam asetat 3-5%. Sitologi: pap smear. speculum. ekstrasel menjadi hi[ertonik. Low risk type (HPV 6 dan 11)tidak menyebabkan kanker.2. tidak ada benda dalam vagina dalam 48 jam sebelumnya. Waktu optimal: pertengahan siklus. 120 tipe HPV telah diketahui.1. 2. ketika tidak terdapat darah haid. Bagaimana melakukan IVA: Persiapan alat: meja ginek. lakukan kolposkopi dan biopsy lesi nah biopsy ini bisa dengan bantuan asam asetat / IVA. dan 30-40 tipe HPV menyerang anogenital.16.11. tidak melakukan hubungan seksual dalam 24 jam sebelumnya. Pencegahan HPV Vaksin Gardasil (6. konisasi. Nah epitel ini kemudian diambil/biopsy untuk kemudian di PA kan. HPV dibagi 2: 1. High risk type (HPV 16 dan 18)menyebabkan kanker serviks Gejala klinis: . kapas lidi. namun menyebabkan kutil anogenital (kondiloma akuminata) 2. NIS I: observasi/ terapi seperti NIS II 2.6).18): diberikan 3 kali (bulan 0. Pap smear dilakukan kapan saja. Kanker serviks Penyebab: Menurut WHO ada hubungan yang erat antara kanker serviks dan HPV99%. lampu sorot. Cara melakukan: asam asetat 3-5%-->epitel serviks abnormal (terjadi perubahan osmotic.

rapuh). pada tingkat lanjut: fistel rektovaginal maupun visovaginal. Kalo dari PDT: eriplakia yg mudah berdarah. b. 4. c. kaku). Pemeriksaan ginekologi: VT: vagina(fluor. dll. Jika terjadi perdarahan maka terjadi kerusakan pada pembuluh darah dan gejala tersebut terjadi pada penyakit yang sudah lenjut. portio (massa yang berdungkul. gangguan BAK dan BAB. . 3. Stadium kanker: 0 : Karsinoma in situ.fluksus/perdarahan. Penyebaran secara limfogen: lig latum. Pemeriksaan fisik: Pembesaran kelenjar limfe supraklavikula. vagina. rektum. Terjadi hidronefrosis dan afungsi ginjal A : Penyebaran ke 1/3 distal vagina. teraba padat. Gejala klinis: umur ≥ 35 tahun dengan keluhan: keputihan. Post coital bleeding: perdarahan yg terjadi awalnya sedikit saja. adneksa parametrium (tanda penyebaran tumor. Penyebaran langsung (perkontinuitatum): corpus uteri. metastasis jauh 6. nyeri daerah pelvis-pinggang-tungkai. VU.infiltrasi tumor di vagina). daerah iliaka. 5. bahkan hanya bercak merah pada celana. prasakral. Jika terjadi nekrosis dan infeksi maka secret encer dari vagina akan berbau busuk. post coital bleeding. ulkus/perlukaan porsio. pembesaran organ hati. dinding pelvis (-) B : Meluas sampai ke dinding pelvis atau terjadi hidronefrosis dan afungsi ginjal IV : Tumor mencapai mukosa vesika urinaria dan rektum atau meluas ke pelvis A : Penyebaran ke organ sekitar B : Metastasis jauh Diagnosis kanker serviks: a. Keputihan 2. paraaortik 7. padat. obturator. diagnosis ditegakkan dengan mikroskop A1: Invasi ke stroma 3 mm dan lebar 7 mm A2: Invasi ke stroma antara 3 mm dan 5 mm dan lebar 7 mm B : Secara klinik lesi jelas terlihat pada serviks B1: Diameter lesi kurang dari 4 cm B2: Diameter lesi lebih dari 4 cm II : Proses keluar dari serviks dan menyebar ke vaginaatau parametrium tetapi belum mencapai1/3 distal vagina dan tidak sampai ke dinding pelvis A : Penyebaran belum mencapai parametrium B : Penyebaran sudah sampai ke parametrium III : Penyebaran mencapai 1/3 distal vagina dan dinding pelvis. NIS III I : Proses terbatas pada serviks A : Ka invasif preklinik.1.

CFS (cancer Free Space: daerah bebas antara serviks-dinding pelvis). histerektomi ekstrafasial. radiasi Stadium II B .sistoskopi) Penatalaksanaan: Ka insitu: konisasi. Biopsi dengan/tanpa tuntunan kolposkopi 3.RT: menilai penyebaran ke arah samping dinding pelvis. tapi belum mencapai dinding pelvis. Pemeriksaan penunjang: 1. d. dan bila diantaranya maka dikatakan ada penyebaran.USG ginjal/abdomen. kemoterapi . Bila CFS 100% belum ada tanda penyebaran. Konisasi 4. radiasi Stadium I B . Tes fungsi ginjal 5. Pemeriksaan lain sesuai keperluan (foto toraks. Pap smear 2.II A : Histerektomi radikal.IV : radiasi. rektoskopi. CFS 0% penyebaran mencapai dinding pelvis. histerektomi (bila anak cukup) Stadium I A : konisasi.IVP.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->