Anda di halaman 1dari 170

Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

iv
Pengantar

Ragam Ekspresi Islam Nusantara


ISBN 978 -979- 98737- 6–7

Pengantar
Abdurrahman Wahid

Tim Editor:
Supervisor:
Yenny Zannuba Wahid

Penanggung jawab:
Ahmad Suaedy

Anggota:
Subhi Azhari
Rumadi
Nurul Huda Ma’arif
Nurun Nisa’
Gamal Ferdhi
Widhi Cahya

Rancang Sampul:
Jarot Wisnu Wardhana

Tata Letak:
M. Isnaini “Amax’s”

Urusan Percetakan :
A. Farid

Cetakan I :
Oktober 2008

Diterbitkan oleh:

Jl. Taman Amir Hamzah No. 8


Jakarta Selatan 10320
Telp. : +62-21-3928233, 3145671
Fax : +62-21-3928250
Email : info@wahidinstitute.org
Website : www.wahidinstitute.org

Buku ini merupakan kumpulan suplemen the WAHID Institute yang pernah diterbitkan di
Majalah GATRA (Oktober 2005 - September 2006) dan Majalah TEMPO (Oktober 2006 - Maret 2008).
Redaktur Ahli: Yenny Zannuba Wahid, Ahmad Suaedy, Lies Marcoes-Natsir, Budhy Munawar-Rachman.
Sidang Redaksi: Ahmad Suaedy, Rumadi, Abd. Moqsith Ghazali, Gamal Ferdhi, M. Subhi Azhari,
Nurul H. Maarif, Nurun Nisa.


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Pengantar Penerbit

L
ayaknya seorang gadis rupawan, Islam kini Alhamdulillah, ternyata selama dua tahun enam
sedang menjadi rebutan banyak pihak. Namun bulan menerbitkan suplemen itu banyak manfaat yang
masih belum ada yang memperhatikan dengan didapat bagi khalayak. Sejumlah pembaca menghubungi
seksama ragam eks­presi lokal, baik yang tradisional lembaga kami untuk mengetahui lebih detail dan
maupun dinamika per­kembangan mutakhirnya. Sema­ mendalam nara sumber, lokasi dan data-data yang
kin dalam ditelusuri dan diikuti jejaknya, ragam Islam kami tampilkan di sisipan itu. Bahkan mereka meminta
lokal makin menarik dan bervariasi. informasi-informasi yang pernah ditampilkan di dua
Di sini kami tampilkan Islam yang hidup dalam majalah tersebut di­pub­­likasi ulang.
masyarakat Indonesia yang merupakan kelanjutan his- Untuk memenuhi keinginan itu, kami me­ner­bitkan
toris dari Islam Nusantara, yaitu Islam yang multi wajah kembali tiga puluh edisi sisipan di dua majalah ming-
tapi saling memahami satu dengan yang lainnya. Inilah guan itu dalam bentuk buku. Tata letaknya kami percan-
Islam yang memberikan ruang bagi pertemuan, dengan tik. Beberapa foto hasil liputan yang tidak sempat hadir
negosiasi dan sintesa ke­hidupan. Islam yang menghujam di majalah, karena keterbatasan halaman, ditampilkan di
ke dalam relung kehidupan ma­sya­rakat. Ia berhadapan sini. Juga foto-foto terbaru yang berkait­an dengan tema
dengan dinamika ekspresi masyarakat. Dengan demi- yang dibahas.
kian Islam yang tampil di ruang publik tidak hanya Islam Buku ini hadir berkat dukungan dari ba­nyak pihak,
yang garang, fundamentalistik dan menebar ancam­an. The Asia Foundation (TAF), terutama Budhy Munawar-
Dari penelusuran, the WAHID Institute ba­nyak me­ Rachman dan Lies Marcoes-Natsir, juga kepada teman-
nemukan khazanah Islam Nusantara. Kemudian kami teman di Majalah TEMPO dan Majalah GATRA yang
tuangkan ke dalam Majalah GATRA dan Majalah TEMPO de­ngan penuh semangat dan konsisten bekerjasama
dalam bentuk artikel sisipan bulanan. Setiap bulan se- dengan kami. Kami juga mengucapkan terima kasih ke-
lama dua setengah tahun, kami mencoba secara konsis­ pada para nara sumber, partner dan koresponden yang
ten memuat itu di GATRA Oktober 2005 sampai Septem- telah bekerjasama dengan baik, namun tidak mungkin
ber 2006. Sedang di TEMPO pada Oktober 2006 hingga disebut satu per satu di sini. Hanya berkat mereka semua
Maret 2008. ini dapat terlaksana.
Dalam membahas suatu tema, kami meng­gunakan Akhirnya, selamat membaca.[]
gaya narasi. Informasi yang ditampilkan pun harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik. Maka untuk
mendapatkan data-data bagi penulisan sisipan ini selain
wawancara, juga riset pustaka maupun liputan langsung Matraman, Oktober 2008
ke lapangan. Informasi yang ditampilkan membuka mata
publik bahwa khazanah Islam Nusantara begitu kaya. The WAHID Institute
Kami menyuguhkan ragam ekspresi Islam itu.

vi
Pengantar

Pengantar GATRA

S
ajian warna-warni dinamika terkini ka­um santri. dalam kerja sama lintas agama. Dua kebajikan sekaligus
Diracik dan disuguhkan “orang dalam”. Dikelola bisa mereka sinergikan: lingkungan hidup terpelihara,
sekelompok analis muda berpikiran terbuka yang harmoni antar agama terawat.
menguasai pokok masalah dan memahami konteks Semua itu penting untuk mengimbangi ke­banyak­
persoalan dengan baik. Dikemas renyah dengan gaya an isi media cetak dan elektronik yang lebih sering di­
jur­nalistik. Ditelaah dari sudut yang tidak biasa. Bahkan sesaki wajah Islam dengan eks­presi keagamaan penuh
kadang mengejutkan. Begitulah kesan umum suplemen amarah dan reaksi­oner. Wajah demikian meski berteriak
the WAHID Institute yang dimuat tiap awal bulan selama paling lantang, tapi sejatinya hanya merepresentasikan
setahun di Majalah GATRA, mulai November 2005. kalangan terbatas, dengan pelaku itu lagi itu lagi. Bi­la
Di antara sumbangan penting suplemen ini adalah tidak didudukkan secara proporsional, tentu ketidak­
upayanya menampilkan wajah moderat kreatif kaum seimbangan isi media semacam itu bisa mendistorsi
santri arus utama yang selama ini cenderung menjadi rea­litas sebenarnya. Padahal masih banyak energi positif
“mayoritas diam” (silent majority). Mereka yang lebih sepi yang tumbuh dari pelbagai kearifan lokal yang terserak,
ing pamrih padahal rame ing gawe. Mereka yang banyak yang penting menjadi sumber edukasi bagi publik luas.
berkreasi, tapi tidak terlalu memikirkan publikasi. Padahal Sebagaimana tema-tema yang diangkat suplemen the
kinerja sosial mereka penting menjadi pembelajaran WAHID Institute tersebut.
bagi publik luas. Terjalinnya kerja sama antara the WAHID Institute
Keberadaan mereka tidak diketahui luas, kecuali dan GATRA dalam publikasi suplemen ini juga karena
oleh kalangan yang intensif menjalin ko­munikasi dan adanya kesamaan concern untuk mengangkat kebajikan
kerja sama dengan mereka, se­per­ti para pengelola lokal yang tersembunyi di berbagai daerah dan kelompok
suplemen ini. Bagi peneliti atau jurnalis pada umumnya sosial pinggir­an, yang selama ini cenderung diabaikan
yang jarang ber­­interaksi dengan dunia santri, diperlukan oleh publikasi media. Selain tersebar dalam bebera­pa
kemau­an kuat dan ketekunan tersendiri untuk bisa edisi reguler, setiap lebaran, majalah be­rita mingguan
menyelami dan menemukan dinamika subtil dan etos GATRA mengangkat edisi khusus dengan spirit demikian
sosial mereka. itu.
Misalnya sejumlah pesantren yang me­ngem­­­ Misalnya, tema “Beragam Jalan Islam Pinggiran” (Le­
bangkan spirit kewirausahaan dan kete­rampilan bisnis bar­an 2003), yang mengulas dengan empati kelompok
di kalangan santri. Secara tidak langsung, gerakan ini keagamaan yang secara ajar­an maupun jumlah pengikut
merupakan investasi jang­ka panjang untuk meredam selama ini terhi­tung “pinggiran”. Lalu, “Hajatan Demokrasi”
benih terorisme bernuansa agama, yang belakangan jadi (Le­baran 2004), yang memotret living democracy di basis
tantangan nyata di Indonesia. Karena faktanya, sebagian simpul-simpul Islam Indonesia, baik moderat maupun
pelaku bom bunuh diri dipicu oleh situasi kesulitan garis keras. Kemudian, “Spirit Ekonomi Santri” (Lebaran
ekonomi. Begitu pula kiprah para agamawan daerah 2006) yang terinspirasi dari salah satu suplemen the
yang peduli pelestari­an lingkungan hidup yang dikelola WAHID Institute.

vii
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Paling akhir, “Mozaik Muslim Nusantara” (Lebaran Disatukannya seluruh edisi suplemen yang semula
2008) yang melakukan reportase mendalam tentang terserak itu, dalam bentuk buku, dapat mempermudah
model toleransi agama berbasis budaya di komunitas pembaca menelaah ulang sajian tersebut secara lebih
muslim pada kawasan minoritas Muslim, seperti Papua, terpadu. Pembaca yang hanya menjumpai beberapa
Flores, Minahasa, Tana Toraja, Dayak, dan sebagainya. edisi, dan kehilangan edisi yang lain, kini dapat men­jum­
Publikasi suplemen the WAHID Institute merupakan pai keseluruhan. Sehingga benang merah pesan moral-
satu dari empat paket kerja sama, yang juga terdiri dari intelektual semua sajian itu bisa ditangkap lebih utuh.
penerbitan buku yang dikembangkan dari edisi khu­ Selamat membaca![]
sus Hajatan De­mokrasi (2004), penerjemahan buku
itu ke bahasa Inggris, dan diskusi buku di empat kota: Jakarta, Oktober 2008
Jakarta, Makassar, Mataram, dan Banjarmasin. Bahwa
rang­kaian suplemen the WAHID Institute itu kini juga
di­bukukan, tentu merupakan perkembangan yang Asrori S. Karni
menggembirakan. Redaktur Majalah GATRA

viii
Pengantar

Pengantar TEMPO

M
embaca serial suplemen the WAHID Institute Me­ngutip hanya yang kalimat terpenting dari pemikiran
di Majalah TEMPO seperti bertamasya me­ sang tokoh, juga membuat glosari pemikirannya dalam
ngunjungi aneka ru­pa pemikiran Islam. Di ruang lain, merupakan cara yang biasa dikerjakan untuk
awal perjalanan, “pemandu wisata” sudah menyiapkan mengu­rangi bejibunnya nama dan predikat dalam satu
paket ”tour”: hanya berkunjung ke tempat yang menye­ artikel.
barkan pemikiran Islam yang damai dan toleran. Jangan Dari sisi lain, banyaknya nama itu merupakan
berharap tiba-tiba kita diajak berbelok ke tempat yang sebuah pameran kekayaan yang luar bi­asa. Anak-anak
percaya agama perlu ditegakkan dengan pedang dan muda kalangan nahdliyin yang mengerjakan suplemen
golok, misalnya. ini berhasil mengabarkan bahwa dari balik pesantren
Semua “lokasi” sudah ditentukan dengan kesadaran yang suka dicap kumuh dan kolot itu ternyata tersimpan
penuh sejak awal. Dan di akhir paket “tour” itu, sang mutiara pemikiran yang berharga. Tidak hanya bagi
pemandu dengan bersema­ngat menginginkan peserta Islam, pemikiran itu berguna bagi alam semesta sesuai
membawa pulang kesan bahwa Islam agama yang rukun keyakinan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
dengan penganut keyakinan lain, membela pluralisme, Bukan hanya pemikiran. Suplemen berseri ini me­
dan yang terpenting: menolak kekerasan. Semangat itu nunjukkan betapa luas spektrum kepedulian dan se­
kelihatan jelas mulai dari mencari ide cerita, pemilihan kaligus keprihatinan kalang­an muda Nahdlatul Ulama.
sumber dan penulis kolom. Sebagian artikel yang disajikan cukup informatif dan
Kesan itu secara umum berhasil disampaikan. berguna menghindari salah pengertian dan kesalah­
Sebagian ditentukan oleh cara menu­lis yang popular, pahaman. Misalnya tentang tarekat dan tasawuf (edisi
riset yang serius, dan reportase yang sungguh-sungguh. 31 Desember 2006). Misi penyadaran disampaikan le­
Ini sebuah bacaan yang tidak ditulis satu arah untuk wat pengakuan kelompok yang pernah bergelimang
publik yang harus menelan bahan mentah-mentah se­ kekerasan, meski­pun rasa ”khotbah” terasa belum hilang
perti “khotbah” shalat Jumat. Atau seperti selebaran benar dari teks itu (edisi 4 Februari 2007). Kisah nove­lis
“penuh doktrin” di masjid-masjid, yang isinya membuat dan sastra pop yang tumbuh di kalangan kaum sarungan
bulu kuduk berdiri karena sarat ancaman dosa dan menunjukkan sisi lain yang baru bagi orang luar (edisi 4
neraka. Maret 2007). Hubungan erat dengan kelompok grass root
Kutipan kalimat para kiai atau pemikir di sini dipilih dipertontonkan melalui isu lingkungan, bahaya nuklir,
yang tenang, rileks, melegakan seperti meneguk air bencana lumpur Lapindo (edisi 1 Juli 2007). Toleransi juga
es di panas terik. Teknik mengutip cuplikan komentar ditunjukkan dengan memuat kolom Romo Sandyawan
tokoh ini dalam jurnalistik antara lain merupakan cara Sumardi tentang kemanusiaan (edi­si 2 Desember 2007).
menghindari bosan. Namun, terlalu banyak nama yang Yang juga diangkat ke permukaan adalah para kiai
dikutip juga bisa membawa pembaca bagai bercerita pesantren yang selama ini nyaris tak pernah disentuh
tentang hutan tropis: ada begitu banyak pohon yang media massa. Di tempat pendidikan Islam dengan
harus diingat agar cerita bisa mengendap lama di kepala. sejarah sangat panjang itu ternyata berdiam banyak kiai

ix
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

yang dalam ilmunya. Kedalaman itu terlihat dari cara nya merupakan buah pikiran yang jarang di masa ini,
mereka memilih pemeo, perumpamaan, idiom, yang sekaligus pernyataan sikap yang pantas dicatat dengan
membumi dengan masyarakat yang dilayani. Mereka cetak tebal.
yang sehari-hari berkutat mengajar dan membolak- Majalah TEMPO punya ”tradisi” untuk menampung
balik kitab kuning inilah yang diha­rapkan menjaga sikap pikiran-pikiran baru Islam, juga aga­ma lain, yang men­
khas kaum nahdliyin: lentur dalam menyikapi berbagai dorong kemajuan masyara­kat. Almarhum Nurcholish
persoal­an hidup, termasuk hidup bernegara. Sebuah Madjid dulu seperti ”berumah” di Tempo, begitu juga
sikap yang semakin rele­van saat ini. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pernah menjadi
Toleransi luas yang ditawarkan kaum nahdliyin penghuni tidak tetap perpustakaan TEMPO di Proyek
barangkali semacam ”pereda” rasa cemas atas munculnya Senen Jakarta. Jalaluddin Rakhmat, Ulil Abshar-Abdalla,
kelompok dengan rasa toleransi tipis. Sebuah paragraf di Din Syamsuddin, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra,
suplemen ini menuliskan: adalah sederet nama yang sering mengisi rubrik kolom
di Majalah TEMPO.
Menjelang pemakaman Ja­laluddin Rumi, Itu sebabnya suplemen the WAHID Institute ini bagi
seorang Kristen menangis ter­sedu. Dia mencurahkan kami menjadi semacam pelengkap untuk memperkaya
kesedihannya. “Kami menghormati Rumi seperti koleksi pemikiran Islam. Suplemen ini memang mengajak
Musa, Daud, dan Yesus zaman ini. Kami semua pembaca­nya hanya sampai ”beranda rumah” dan tidak
adalah para pengikut dan muridnya,” ungkapnya. ”masuk ke dalam”. Tapi sebagai satu gepok bacaan po­
puler yang ingin menjangkau segmen pembaca lebih
Indonesia hari ini merupakan sebuah komunitas luas, rasanya kedalam­an yang dibawakan sudah lebih
yang jauh dari saat Rumi wafat itu. Tapi sesungguhnya dari cukup.
masalah utama bukan soal hubungan antar agama, Serial ini walaupun tampil dalam jangka ha­nya se­
melainkan di dalam Islam sendiri. Problem yang tahun pasti sudah mempunyai pembaca setianya sen­diri.
mengganggu adalah hadirnya kelompok yang se­olah- Di antara kecemasan melihat sepak terjang kelompok
olah mengklaim diri sebagai “polisi Tuhan”. Seperti bertoleransi tipis, sup­lemen ini akan dikenang, akan
merasa didaulat menjadi otoritas “pengatur kehidupan”, ditunggu-tunggu.[]
kelompok ini tak pernah perduli dengan yang lain,
melabrak apa yang mereka anggap sebagai ”musuh”.
Memang menyedihkan. Tapi yang paling getir Jakarta, Oktober 2008
adalah menyadari betapa sedikit usaha mengatasi ke­
lompok itu. The WAHID Institute, yang didirikan mantan
presiden Abdurrah­man Wahid dan sekalian pendukung Toriq Hadad
anti-kekerasan, termasuk yang sedikit itu dan karenanya Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
menonjol. Suplemen yang dihasilkan institute itu karena­


Pengantar

Melindungi dan Menyantuni


Semua Paham
Oleh: Abdurrahman Wahid
Pendiri The WAHID Institute

K
etika berbicara di depan rapat akbar di se­ Front Pembela Islam (FPI) yang didirikan oleh dua
buah kabupaten di Kalimantan Tengah, penu­ Jenderal Angkatan Darat dan dua Jenderal Kepolisian,
lis ditanya; mengapa melindungi Gerakan sebenarnya sudah harus dibubarkan. Padahal sudah sejak
Ahmadiyah Indonesia? Penulis menjawab ia tidak me­ lama Undang-Undang menya­takan bahwa orang tidak
ma­hami secara mendalam ajaran Ahmadiyah, Muham­ boleh membawa senjata tajam dan menebar ancaman
madiyah, Syi’ah, Mu’tazilah dan lain-lain. Penulis me­ di muka umum. Tapi FPI bertambah berani bertindak,
lin­­dungi mereka karena hal itu menjadi ketentuan karena adanya sejumlah orang pejabat yang tidak
Undang-Undang Dasar 1945. Jika orang seperti penulis menginginkan ia dibubarkan, termasuk Kepala Kepolisian
saja tidak mau bertanggungjawab atas jaminan yang Republik Indonesia (Polri) di masa lalu. Bahkan sekarang
disebutkan oleh konstitusi kita itu, maka semua golongan, keadaan menjadi runyam, yaitu beberapa anggota
termasuk yang bukan Islam, tidak akan ada yang mau LSM yang dicederai FPI malah dituduh memprovokasi
peduli. Ini berarti Undang-Undang Dasar 1945, tidak lagi kelompok itu di lapangan Tugu Monas.
mempunyai gigi, dan negara kita tidak punya dasar sama Jika demikian, apa gunanya kita memiliki UUD 1945?
sekali. Ini benar-benar merisaukan hati pe­nulis. Padahal, kondisi
Selama jaminan-jaminan seperti itu tetap dijalan­ itu terjadi karena kita tidak setia kepada dasar negara
kan, selama itu pula orang masih merasa ada gunanya Pancasila, yang dibawakan Bung Karno pada 6 Juni 1945.
bernaung di bawah negara Republik Indonesia. Dari Karena ketololan kita jualah, bangsa ini meng­alami
sudut inilah pembelaan yang diberikan penulis mem­ persoalan-persoalan yang seharusnya tidak perlu. Kita
punyai arti. sekarang mengulang kembali perdebatan yang sudah
Pembelaan terhadap kaum minoritas di Indonesia kita lakukan sebagai bangsa di masa lampau. Ini berarti
juga bukan karena sebab-sebab lain. Umpamanya pelambatan perjalanan sejarah kita sebagai bangsa.
saja, kekhawatiran bahwa fundamentalis Islam akan Padahal, banyak masalah lain yang memer­lukan
me­nguasai kehidupan politik kita. Sebab penulis ber­ penyelesaian. Salah satunya adalah, bah­wa bangsa kita
pendapat bahwa fundamentalisme agama di negeri hidup dalam suasana perdagangan bebas, yang memiliki
kita sudah mencapai ujung perjalanan. Tiga sampai ketergantungan sangat besar pada penjualan produk
empat tahun lagi, justru pihak muslim moderat yang hutan, pertambangan dan pengolahan hasil lautan.
akan menguasai kehidupan politik. Dengan demikian Bagaimana kita dapat melepaskan dari ketergantungan
membuat agama Islam di negeri ini menjadi moderat. seperti itu, sedangkan kita terma­suk dalam sistem
Kegalakan kelompok-kelompok fundamentalis itu globalisasi ekonomi dunia?
layaknya tarikan nafas penghabisan. Senyampang belum Kenyataan lain yang tidak dapat dipungkiri oleh
tergusur dari kehidupan politik, mereka mengajukan siapapun yaitu sikap untuk bebas berpikir, bertindak
tuntutan yang ti­­dak-tidak. Kita justru harus menolak dan bersikap. Mayoritas bangsa kita adalah toleran dan
tuntut­an mereka itu. Hal inilah yang perlu dilakukan santun kepada semua ajaran. Namun mereka adalah
untuk menjaga keutuhan negara kita. Tuntutan ‘aneh- mayoritas membisu (silent majority), dan tidak mau me­
aneh’ itu berangkat dari kurangnya pengetahuan dan nunjukkan sikap apapun. Oleh sebab itu penulis kerap
keyakinan mereka akan dasar-dasar negara kita sendiri. mengemukakan sikap sangat jelas. Tujuannya agar silent

xi
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

majority itu mengikutinya meski tanpa mengatakan apa­ tanpa memaksa orang-orang Hindu itu beragama Budha.
pun. Karena itu, penulis sering dinilai sebagai seorang Di daerah Magelang, sekitar Muntilan sekarang, mereka
yang berpandangan pluralis, baik oleh sesama gerakan mendirikan Candi Borobudur.
Islam maupun orang-orang beragama lain. Mereka yang tidak turut mendirikan candi tersebut,
Kini tumbuh angkatan muda pemikir yang sekarang meneruskan perjalanan ke kawasan Yogyakarta. Di
sudah mulai ‘menggerakkan’ masya­rakat, melalui sikap- tempat itu mereka mendirikan Kerajaan Kalingga yang
sikap dan tindakan-tinda­k­an yang jelas untuk melindungi beragama Budha pada abad ke-8 Masehi. Pada abad
mereka yang lemah. Pada waktunya nanti kejelasan tersebut, berdirilah Candi Roro Jonggrang di Prambanan.
sikap seperti itu akan merupakan warisan bagi kehidup­ Baik Kalingga Hindu maupun Kalingga Budha sama-
an bangsa kita. sama marah atas berdirinya candi tersebut. Akibat
Keragaman ber-Islam bangsa ini sudah ter­lihat pe­nentangan itu Candi Roro Jonggrang di­tinggalkan
pada abad ke-12 sampai 13 Masehi. Awal­nya dari para oleh penduduknya yang beragama Hindu-Budha ke
ula­ma di Al-Azhar, Kairo. Sebagian mereka memutuskan Ke­diri di Jawa Timur di bawah kepemimpinan Prabu
larangan berziarah kubur. Dari mereka itulah nantinya Darmawangsa. Di Kediri mereka mendirikan kerajaan
akan muncul ge­rakan Muhammadiyah di negeri kita. Kediri, yang kemudian menjadi kerajaan Daha, dengan
Ulama yang membolehkan ziarah kubur nantinya akan raja sangat terkenal bernama Prabu Airlangga. Dua abad
mengkongkritkan pendapat mereka itu dalam bentuk kemudian, mereka berpindah ke kawasan Singasari,
kelahiran NU (Nahdlatul Ulama). Sebenarnya, bukan tetap dengan agama Hindu-Budha.
mereka itulah yang harus diamati sekarang. Tapi justru Di Singasari, kurang lebih 10 kilometer sebelah
orang Muhammadiyah yang sering berziarah kubur, utara kota Malang sekarang, pada abad ke-11 Masehi
dan angkatan muda NU yang tidak pernah ziarah kubur. mereka mendirikan kerajaan Hindu-Budha, dengan
Dari hal ini dapat kita ketahui bahwa perkem­­ba­ngan raja­nya yang terkenal Tunggulametung dan Ken
historis agama Islam di negeri kita sangat dipengaruhi Arok. Dia inilah yang memperistri Ken Dedes, yang
oleh pertemuan antara ajaran Islam dan perkembangan diang­gap memiliki kesaktian sendiri. Pada abad ke-13
ajaran-ajaran lain. Masehi, Prabu Kertanegara dari Singasari harus mere­
Dengan mengemukakan hal ini, penulis bermak­sud lakan menantunya mendirikan kerajaan baru di Terik,
menunjukkan bahwa dinamika ajaran Islam di negeri ini pinggiran sungai Brantas dekat Krian. Kerajaan inilah
juga mengalami pasang surut. Sejarah perkembangan yang kemudian menjadi Kerajaan Majapahit yang di­
agama Islam ini sejajar dengan sikap pluralis yang diri­kan oleh menantu Prabu Kertanegara, yaitu Raden
dimiliki bangsa Indonesia ketika kerajaan Sriwijaya Wijaya. Menurut dugaan penulis, Raden Wijaya adalah
di Sumatera Selatan menyerbu Pulau Jawa abad ke-8 seorang Tionghoa dari angkatan Laut Tiongkok, yang
Masehi melalui Pekalongan. Dari Peka­longan mereka waktu itu hampir seluruhnya adalah anggota tarekat.
kemudian melanjutkan perjalanan ke pedalaman Jawa Di bawah perlindungan orang-orang Muslim Tiongkok
Tengah. Mereka bertemu dengan Kerajaan Kalingga yang yang menjadi anggota tarekat itu, Majapahit lalu tumbuh
beragama Hindu di sekitar daerah Kabupaten Wo­nosobo sebagai negara multi agama dan etnis.
sekarang. Mereka melanjutkan per­­jalanan ke selatan, Walaupun beragama Islam, kaum santri yang

xii
Pengantar

menjadikan nama tempat berdirinya kera­jaan Majapahit masyarakat kaum muslimin yang bersifat non politis
di Terik, yang berarti tarikat, tetap menghargai multi menjadi tidak diperhatikan. Juga di Afrika sebelah Barat
agama itu. Hal inilah yang kemudian mendasari Mpu (seperti Nigeria, Tanzania, dan Zanzibar) dan Cape Town
Tantular di abad ke-15 Masehi, merumuskan kerajaan di Afrika Selatan, luput dari perhatian orang.
Majapahit memiliki prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yaitu Di tempat-tempat seperti itu, Islam berkembang
berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Inilah yang di tidak sebagai ideologi politik, melainkan sebagai
kemudian hari, dalam tahun 1945, mendasari Bung Karno perkembangan budaya. Penulis pernah menyampaikan
untuk merumuskan Pancasila sebagai sikap hidup bangsa kepada Rektor Universitas PBB di Tokyo pada 1985 yaitu
Indonesia. De­ngan demikian, sejarah modern Indonesia Soedjatmoko dari Indonesia, bahwa perlu dibangun di
juga diwarnai oleh gagasan pluralistik tersebut. Tokyo, dan di beberapa negara pusat lembaga kajian
Sikap menghargai keragaman itu ternyata juga Islam lokal seluruh dunia. Namun itu tidak terwujud
menjadi sejarah organisasi kemasyarakat­an yang ber­ hingga meninggalnya Doktor Soedjatmoko beberapa
nama Nahdlatul Ulama (NU). Seorang tokoh Syarikat tahun kemudian karena alasan-alasan birokratis. Hingga
Islam di Surabaya, bernama Umar Said Tjokroaminoto saat ini upaya mendirikan sebuah pusat kajian Islam tetap
melakukan pembahasan dengan dua orang sepupunya, saja tidak kunjung ada. Dengan demikian perkembangan
KH. M. Hasyim Asyari dari Pondok Pesantren Tebu Ireng, masyarakat-masyarakat Islam non politis di seluruh dunia
Jombang dan KH. A. Wahab Chasbullah dari Pondok menjadi tidak terwujud, sementara pikiran-pikiran DR.
Pesantren Tambak Beras (juga di Kabupaten Jombang). Ali Syariati dan Imam Ayatullah Khomeini yang sangat
Mereka melakukan diskusi tiap hari Kamis di Surabaya, bersifat ideologis dan politis berkembang sangat pesat.
sekitar 100 km jauhnya dari Jombang, tentang hubu-ngan Kajian-kajian non politis dan kultural itu, yang
antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan. ju­ga dapat dinamai kajian-kajian setempat (local stu­
Dalam pembahasan-pembahasan itu mereka di­ dies), tentang berbagai masyarakat Islam menjadi
ser­tai oleh menantu Umar Said Tjokroaminoto yang terabaikan sama sekali. Menurut penulis, kalau kita
bernama Soekarno, di kemudian hari dikenal dengan ingin mengetahui tentang berbagai aspek masyarakat
nama Bung Karno. Jadi, hubung­an antara agama Islam mo­dern, kajian-kajian lokal seperti itu juga harus diberi
dan semangat kebangsaan mereka utamakan, bukannya perhatian utama. Apalagi dalam kerangka kajian masya­
ma­sing-masing elemen itu dibahas secara tersen­diri. rakat muslim moderat.
Inilah yang membuat gagasan Islam di Indonesia menjadi Tujuan itulah yang ingin dicapai buku ini, dengan
sangat menarik. Karena watak kultural dari agama Islam menyajikan kekayaan lokal di hadap­an para pembaca.
yang berpadu de­ngan adat-istiadat bangsa ini menjadi Kalau para pembaca serius terhadap perkembangan
mengemuka dan kehilangan watak politisnya. Islam moderat, tentu haruslah diberi perhatian dan
Fenomena ini sebenarnya umum terdapat dalam apresiasi cukup besar terhadap kajian Islam setempat
perkembangan agama Islam di seluruh dunia. Tapi, atau yang bersifat lokal. Ia merupakan bagian dari
karena kini perkembangan agama Islam dan masyarakat pengetahuan tentang agama Islam itu sen­diri. Untuk
di kawasan anak benua India hingga pantai Atlantik di itulah buku ini merupakan rintisan yang baik, meskipun
sebelah barat, bersifat sangat politis, maka perkembangan masih dalam tahap yang sa­ngat awal.[]

Jakarta, Oktober 2008

xiii
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara Daftar Isi

Daftar Isi

PENGANTAR PENERBIT _ ______________________ iii DEPANCASILAISASI LEWAT PERDA SI_ _________ 35


PENGANTAR GATRA_ _________________________ iv  Reformasi Syariat Birokrasi__________________ 37
PENGANTAR TEMPO__________________________ vi  Perda SI Melecehkan al-Qur’an dan Hadits_____ 38
PENGANTAR ABDURRAHMAN WAHID____________ viii
Daftar Isi _________________________________ xi ASUPAN DEMOKRASI UNTUK KEBANGSAAN____ 40
 Baru Knowing, Belum Doing_________________ 42
 Pengalaman Pendidikan di Indonesia_________ 43
DUA SIMPUL SATU NASIB_ ___________________ 1  Merajut Islam dan Demokrasi_ ______________ 44
 Pledoi dari Buya dan Kiai ___________________ 3
 Liberalisasi Tak Perlu Label__________________ 4 MENGIKIS FUNDAMENTALIS DENGAN BERBISNIS 45
 Wakafkan Hidup untuk Umat________________ 47
JEJAK AGAMAWAN ORGANIK_________________ 5  Habib Ramah di Balik Jubah_________________ 48
 Ada untuk Berkhidmat_____________________ 8  Kita dan Pragmatisme Kyai Dul_ _____________ 50
 Jasad Tanpa Ruh__________________________ 9
 Untuk Umat dari Pinggir Pagar_ _____________ 10 BEREBUT MASSA LEWAT MEDIA_______________ 51
 Media Bisa Memprovokasi Kekerasan Fisik_____ 53
MENANAM GERAKAN MENUAI KESETARAAN_ __ 11  Egosentrisme Media Islam__________________ 54
 Masa Depan yang Menantang_______________ 13
 Gelombang Feminisme Islam Indonesia_______ 14 MENGGUGAH TOLERANSI LEWAT SENI_________ 55
 Kesetaraan dalam Pesan Ibu_ _______________ 15  Ibadah Ritual Tak Cukup Membangkitkan
 ’Memulung’ Kebenaran Terpinggirkan_ _______ 16 Kemanusiaan_ ___________________________ 57
 Kado Liberalisme bagi Seorang Tradisionalis_ __ 58
MEMECAH KEBEKUAN REGENERASI ULAMA____ 17  Sastra, Pesantren dan Radikalisme Islam_______ 59
 Semua Ma’had Aly Bisa Diakui Pemerintah_____ 20
 Candradimuka Kader Unggulan_ ____________ 21 MENJAGA PIJAR SEMANGAT NANGGROE_______ 61
 Generasi Damai dari Masa Konflik____________ 63
MENANTI NEGARA BERNYALI_________________ 23  Masa Darurat Bukan Alasan Menilap
 Ironi Beragama di Negeri Pancasila___________ 25 Uang Rakyat_ ____________________________ 64
 Penyerangan Terus Terjadi Karena Pemerintah  Hikayat dari Kedai Kopi_ ___________________ 65
Tidak Tegas ______________________________ 26
 Berguru Toleransi di Negeri Wahabi___________ 27 BERKAH MELIMPAH BISNIS TAUSIYAH_ ________ 67
 Tak Ingin Ada Anarki_______________________ 28  Sering Dibayar “2 M”_______________________ 69
 Kiat-kiat Pemasaran Dakwah________________ 70
RADIKALISME ISLAM MENGHADANG  Semua Tergantung Pemilik Modal____________ 71
KERAGAMAN INDONESIA____________________ 29
 Risau Moderatisme NU Luntur_______________ 31 TELADAN TOLERANSI KHAZANAH KLASIK______ 72
 Kerap Shalat di Katedral____________________ 32  Toleransi dalam Kitab Kuning_ ______________ 75
 Teladan dari Kampung Sawah_______________ 33  Guru Tasamuh Pengayom Semesta _ _________ 76

xiv
Pengantar

TASAWUF TENDA BESAR KEDAMAIAN_ ________ 77 METODE CEPAT MEMBACA KITAB_ ____________ 112
 Tauhid untuk Perdamaian Dunia _____________ 78  Kitab Gundul Bukan Lagi Hantu _ ____________ 114
 Mursyid Musisi Pengawal Tarekat ____________ 79  Kreasi Ulama ‘Ajam ________________________ 115
 Isi Lebih Toleran Ketimbang Kulit ____________ 80
FATWA UNTUK KEMASLAHATAN PUBLIK_ ______ 116
HIJRAH DARI JALUR KEKERASAN______________ 81  Sama Takutnya, Beda Sikapnya_ _____________ 118
 Tobat Berjamaah Merambah Jazirah __________ 83  Majalah Sudah Menggantikan Kitab__________ 119
 Mereka Bukan Mengikuti Islam ______________ 84
MENABUR DAMAI LEWAT UDARA_ ____________ 120
TEENLIT DARI BILIK PESANTREN_ _____________ 86  Dari Rakom untuk Islam Damai ______________ 122
 Menelusuri Lokalitas Pesantren _ ____________ 88  Radio untuk Memfasilitasi Semangat Nyantri
 Sastra Pop Kaum Sarungan_ ________________ 89 Masyarakat ______________________________ 123

NYAI PESANTREN MELAWAN KEKERASAN______ 90 TUNAS KETULUSAN DARI LAHAN BENCANA____ 124
 Pembebasan Itu Misi Rasulullah _____________ 92  Kemanusiaan, Refleksi Iman yang Sesungguhnya 126
 Polemik ‘Uqud al-Lujjayn: Kritik Dijawab Kritik __ 93  Wadah Khidmat untuk Kemanusiaan _________ 127

PENDIDIKAN ALTERNATIF YANG MEMBEBASKAN 94 GELIAT SANTRI DI FILM INDIE_________________ 128
 Pioner dari Kalibening_ ____________________ 97  Membuat Film Itu Mudah dan Murah_________ 130
 Karena Sekolah Kita Laksana Penjara _________ 98  Semua Orang Bisa Menjadi Filmmaker ________ 131

SENI ISLAM NUANSA LOKAL__________________ 99 PRAKARSA SI LEMAH BERTAHAN HIDUP_ ______ 132
 Wajah Islam Damai di Dinding Kanvas_ _______ 101  Sastrawan Cum Bankir Orang Kecil ___________ 134
 Mengawal Tradisi dengan Bedug ____________ 102  Kekuatan di Balik Kesederhanaan ____________ 135

PEWARIS NABI PELESTARI LINGKUNGAN_______ 104 RAMAI SANTRI TEKUNI EKSAKTA______________ 136
 Melawan Nuklir dengan Shalawat _ __________ 106  Merancang Islam Digital ___________________ 138
 Posko Kiai untuk Korban Lapindo ____________ 107  Mobilitas Sosial Kaum Santri ________________ 139

AJARAN UNIVERSAL, PENAFSIRAN LOKAL______ 108 MIMPI REGULASI TANPA DISKRIMINASI________ 140
 Tafsir Lokal Beraroma Orba _________________ 110  Inilah Pasal-pasal Diskriminatif Itu _ __________ 143
 Umat Diuntungkan Tafsir Lokal ______________ 111  Dari Bahtsul Masail Nasional Kiai Pesantren_ ___ 144

xv
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

xvi
Pengantar

Ragam Ekspresi Islam Nusantara


ISBN 978 -979- 98737- 6–7

Pengantar
Abdurrahman Wahid

Tim Editor:
Supervisor:
Yenny Zannuba Wahid

Penanggung jawab:
Ahmad Suaedy

Anggota:
Subhi Azhari
Rumadi
Nurul Huda Ma’arif
Nurun Nisa’
Gamal Ferdhi
Widhi Cahya

Rancang Sampul:
Jarot Wisnu Wardhana

Tata Letak:
M. Isnaini “Amax’s”

Urusan Percetakan :
A. Farid

Cetakan I :
Oktober 2008

Diterbitkan oleh:

Jl. Taman Amir Hamzah No. 8


Jakarta Selatan 10320
Telp. : +62-21-3928233, 3145671
Fax : +62-21-3928250
Email : info@wahidinstitute.org
Website : www.wahidinstitute.org

Buku ini merupakan kumpulan suplemen the WAHID Institute yang pernah diterbitkan di
Majalah GATRA (Oktober 2005 - September 2006) dan Majalah TEMPO (Oktober 2006 - Maret 2008).
Redaktur Ahli: Yenny Zannuba Wahid, Ahmad Suaedy, Lies Marcoes-Natsir, Budhy Munawar-Rachman.
Sidang Redaksi: Ahmad Suaedy, Rumadi, Abd. Moqsith Ghazali, Gamal Ferdhi, M. Subhi Azhari,
Nurul H. Maarif, Nurun Nisa.

xvii
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Pengantar Penerbit

L
ayaknya seorang gadis rupawan, Islam kini Alhamdulillah, ternyata selama dua tahun enam
sedang menjadi rebutan banyak pihak. Namun bulan menerbitkan suplemen itu banyak manfaat yang
masih belum ada yang memperhatikan dengan didapat bagi khalayak. Sejumlah pembaca menghubungi
seksama ragam eks­presi lokal, baik yang tradisional lembaga kami untuk mengetahui lebih detail dan
maupun dinamika per­kembangan mutakhirnya. Sema­ mendalam nara sumber, lokasi dan data-data yang
kin dalam ditelusuri dan diikuti jejaknya, ragam Islam kami tampilkan di sisipan itu. Bahkan mereka meminta
lokal makin menarik dan bervariasi. informasi-informasi yang pernah ditampilkan di dua
Di sini kami tampilkan Islam yang hidup dalam majalah tersebut di­pub­­likasi ulang.
masyarakat Indonesia yang merupakan kelanjutan his- Untuk memenuhi keinginan itu, kami me­ner­bitkan
toris dari Islam Nusantara, yaitu Islam yang multi wajah kembali tiga puluh edisi sisipan di dua majalah ming-
tapi saling memahami satu dengan yang lainnya. Inilah guan itu dalam bentuk buku. Tata letaknya kami percan-
Islam yang memberikan ruang bagi pertemuan, dengan tik. Beberapa foto hasil liputan yang tidak sempat hadir
negosiasi dan sintesa ke­hidupan. Islam yang menghujam di majalah, karena keterbatasan halaman, ditampilkan di
ke dalam relung kehidupan ma­sya­rakat. Ia berhadapan sini. Juga foto-foto terbaru yang berkait­an dengan tema
dengan dinamika ekspresi masyarakat. Dengan demi- yang dibahas.
kian Islam yang tampil di ruang publik tidak hanya Islam Buku ini hadir berkat dukungan dari ba­nyak pihak,
yang garang, fundamentalistik dan menebar ancam­an. The Asia Foundation (TAF), terutama Budhy Munawar-
Dari penelusuran, the WAHID Institute ba­nyak me­ Rachman dan Lies Marcoes-Natsir, juga kepada teman-
nemukan khazanah Islam Nusantara. Kemudian kami teman di Majalah TEMPO dan Majalah GATRA yang
tuangkan ke dalam Majalah GATRA dan Majalah TEMPO de­ngan penuh semangat dan konsisten bekerjasama
dalam bentuk artikel sisipan bulanan. Setiap bulan se- dengan kami. Kami juga mengucapkan terima kasih ke-
lama dua setengah tahun, kami mencoba secara konsis­ pada para nara sumber, partner dan koresponden yang
ten memuat itu di GATRA Oktober 2005 sampai Septem- telah bekerjasama dengan baik, namun tidak mungkin
ber 2006. Sedang di TEMPO pada Oktober 2006 hingga disebut satu per satu di sini. Hanya berkat mereka semua
Maret 2008. ini dapat terlaksana.
Dalam membahas suatu tema, kami meng­gunakan Akhirnya, selamat membaca.[]
gaya narasi. Informasi yang ditampilkan pun harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik. Maka untuk
mendapatkan data-data bagi penulisan sisipan ini selain
wawancara, juga riset pustaka maupun liputan langsung Matraman, Oktober 2008
ke lapangan. Informasi yang ditampilkan membuka mata
publik bahwa khazanah Islam Nusantara begitu kaya. The WAHID Institute
Kami menyuguhkan ragam ekspresi Islam itu.

xviii
Pengantar

Pengantar GATRA

S
ajian warna-warni dinamika terkini ka­um santri. dalam kerja sama lintas agama. Dua kebajikan sekaligus
Diracik dan disuguhkan “orang dalam”. Dikelola bisa mereka sinergikan: lingkungan hidup terpelihara,
sekelompok analis muda berpikiran terbuka yang harmoni antar agama terawat.
menguasai pokok masalah dan memahami konteks Semua itu penting untuk mengimbangi ke­banyak­
persoalan dengan baik. Dikemas renyah dengan gaya an isi media cetak dan elektronik yang lebih sering di­
jur­nalistik. Ditelaah dari sudut yang tidak biasa. Bahkan sesaki wajah Islam dengan eks­presi keagamaan penuh
kadang mengejutkan. Begitulah kesan umum suplemen amarah dan reaksi­oner. Wajah demikian meski berteriak
the WAHID Institute yang dimuat tiap awal bulan selama paling lantang, tapi sejatinya hanya merepresentasikan
setahun di Majalah GATRA, mulai November 2005. kalangan terbatas, dengan pelaku itu lagi itu lagi. Bi­la
Di antara sumbangan penting suplemen ini adalah tidak didudukkan secara proporsional, tentu ketidak­
upayanya menampilkan wajah moderat kreatif kaum seimbangan isi media semacam itu bisa mendistorsi
santri arus utama yang selama ini cenderung menjadi rea­litas sebenarnya. Padahal masih banyak energi positif
“mayoritas diam” (silent majority). Mereka yang lebih sepi yang tumbuh dari pelbagai kearifan lokal yang terserak,
ing pamrih padahal rame ing gawe. Mereka yang banyak yang penting menjadi sumber edukasi bagi publik luas.
berkreasi, tapi tidak terlalu memikirkan publikasi. Padahal Sebagaimana tema-tema yang diangkat suplemen the
kinerja sosial mereka penting menjadi pembelajaran WAHID Institute tersebut.
bagi publik luas. Terjalinnya kerja sama antara the WAHID Institute
Keberadaan mereka tidak diketahui luas, kecuali dan GATRA dalam publikasi suplemen ini juga karena
oleh kalangan yang intensif menjalin ko­munikasi dan adanya kesamaan concern untuk mengangkat kebajikan
kerja sama dengan mereka, se­per­ti para pengelola lokal yang tersembunyi di berbagai daerah dan kelompok
suplemen ini. Bagi peneliti atau jurnalis pada umumnya sosial pinggir­an, yang selama ini cenderung diabaikan
yang jarang ber­­interaksi dengan dunia santri, diperlukan oleh publikasi media. Selain tersebar dalam bebera­pa
kemau­an kuat dan ketekunan tersendiri untuk bisa edisi reguler, setiap lebaran, majalah be­rita mingguan
menyelami dan menemukan dinamika subtil dan etos GATRA mengangkat edisi khusus dengan spirit demikian
sosial mereka. itu.
Misalnya sejumlah pesantren yang me­ngem­­­ Misalnya, tema “Beragam Jalan Islam Pinggiran” (Le­
bangkan spirit kewirausahaan dan kete­rampilan bisnis bar­an 2003), yang mengulas dengan empati kelompok
di kalangan santri. Secara tidak langsung, gerakan ini keagamaan yang secara ajar­an maupun jumlah pengikut
merupakan investasi jang­ka panjang untuk meredam selama ini terhi­tung “pinggiran”. Lalu, “Hajatan Demokrasi”
benih terorisme bernuansa agama, yang belakangan jadi (Le­baran 2004), yang memotret living democracy di basis
tantangan nyata di Indonesia. Karena faktanya, sebagian simpul-simpul Islam Indonesia, baik moderat maupun
pelaku bom bunuh diri dipicu oleh situasi kesulitan garis keras. Kemudian, “Spirit Ekonomi Santri” (Lebaran
ekonomi. Begitu pula kiprah para agamawan daerah 2006) yang terinspirasi dari salah satu suplemen the
yang peduli pelestari­an lingkungan hidup yang dikelola WAHID Institute.

xix
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Paling akhir, “Mozaik Muslim Nusantara” (Lebaran Disatukannya seluruh edisi suplemen yang semula
2008) yang melakukan reportase mendalam tentang terserak itu, dalam bentuk buku, dapat mempermudah
model toleransi agama berbasis budaya di komunitas pembaca menelaah ulang sajian tersebut secara lebih
muslim pada kawasan minoritas Muslim, seperti Papua, terpadu. Pembaca yang hanya menjumpai beberapa
Flores, Minahasa, Tana Toraja, Dayak, dan sebagainya. edisi, dan kehilangan edisi yang lain, kini dapat men­jum­
Publikasi suplemen the WAHID Institute merupakan pai keseluruhan. Sehingga benang merah pesan moral-
satu dari empat paket kerja sama, yang juga terdiri dari intelektual semua sajian itu bisa ditangkap lebih utuh.
penerbitan buku yang dikembangkan dari edisi khu­ Selamat membaca![]
sus Hajatan De­mokrasi (2004), penerjemahan buku
itu ke bahasa Inggris, dan diskusi buku di empat kota: Jakarta, Oktober 2008
Jakarta, Makassar, Mataram, dan Banjarmasin. Bahwa
rang­kaian suplemen the WAHID Institute itu kini juga
di­bukukan, tentu merupakan perkembangan yang Asrori S. Karni
menggembirakan. Redaktur Majalah GATRA

xx
Pengantar

Pengantar TEMPO

M
embaca serial suplemen the WAHID Institute Me­ngutip hanya yang kalimat terpenting dari pemikiran
di Majalah TEMPO seperti bertamasya me­ sang tokoh, juga membuat glosari pemikirannya dalam
ngunjungi aneka ru­pa pemikiran Islam. Di ruang lain, merupakan cara yang biasa dikerjakan untuk
awal perjalanan, “pemandu wisata” sudah menyiapkan mengu­rangi bejibunnya nama dan predikat dalam satu
paket ”tour”: hanya berkunjung ke tempat yang menye­ artikel.
barkan pemikiran Islam yang damai dan toleran. Jangan Dari sisi lain, banyaknya nama itu merupakan
berharap tiba-tiba kita diajak berbelok ke tempat yang sebuah pameran kekayaan yang luar bi­asa. Anak-anak
percaya agama perlu ditegakkan dengan pedang dan muda kalangan nahdliyin yang mengerjakan suplemen
golok, misalnya. ini berhasil mengabarkan bahwa dari balik pesantren
Semua “lokasi” sudah ditentukan dengan kesadaran yang suka dicap kumuh dan kolot itu ternyata tersimpan
penuh sejak awal. Dan di akhir paket “tour” itu, sang mutiara pemikiran yang berharga. Tidak hanya bagi
pemandu dengan bersema­ngat menginginkan peserta Islam, pemikiran itu berguna bagi alam semesta sesuai
membawa pulang kesan bahwa Islam agama yang rukun keyakinan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
dengan penganut keyakinan lain, membela pluralisme, Bukan hanya pemikiran. Suplemen berseri ini me­
dan yang terpenting: menolak kekerasan. Semangat itu nunjukkan betapa luas spektrum kepedulian dan se­
kelihatan jelas mulai dari mencari ide cerita, pemilihan kaligus keprihatinan kalang­an muda Nahdlatul Ulama.
sumber dan penulis kolom. Sebagian artikel yang disajikan cukup informatif dan
Kesan itu secara umum berhasil disampaikan. berguna menghindari salah pengertian dan kesalah­
Sebagian ditentukan oleh cara menu­lis yang popular, pahaman. Misalnya tentang tarekat dan tasawuf (edisi
riset yang serius, dan reportase yang sungguh-sungguh. 31 Desember 2006). Misi penyadaran disampaikan le­
Ini sebuah bacaan yang tidak ditulis satu arah untuk wat pengakuan kelompok yang pernah bergelimang
publik yang harus menelan bahan mentah-mentah se­ kekerasan, meski­pun rasa ”khotbah” terasa belum hilang
perti “khotbah” shalat Jumat. Atau seperti selebaran benar dari teks itu (edisi 4 Februari 2007). Kisah nove­lis
“penuh doktrin” di masjid-masjid, yang isinya membuat dan sastra pop yang tumbuh di kalangan kaum sarungan
bulu kuduk berdiri karena sarat ancaman dosa dan menunjukkan sisi lain yang baru bagi orang luar (edisi 4
neraka. Maret 2007). Hubungan erat dengan kelompok grass root
Kutipan kalimat para kiai atau pemikir di sini dipilih dipertontonkan melalui isu lingkungan, bahaya nuklir,
yang tenang, rileks, melegakan seperti meneguk air bencana lumpur Lapindo (edisi 1 Juli 2007). Toleransi juga
es di panas terik. Teknik mengutip cuplikan komentar ditunjukkan dengan memuat kolom Romo Sandyawan
tokoh ini dalam jurnalistik antara lain merupakan cara Sumardi tentang kemanusiaan (edi­si 2 Desember 2007).
menghindari bosan. Namun, terlalu banyak nama yang Yang juga diangkat ke permukaan adalah para kiai
dikutip juga bisa membawa pembaca bagai bercerita pesantren yang selama ini nyaris tak pernah disentuh
tentang hutan tropis: ada begitu banyak pohon yang media massa. Di tempat pendidikan Islam dengan
harus diingat agar cerita bisa mengendap lama di kepala. sejarah sangat panjang itu ternyata berdiam banyak kiai

xxi
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

yang dalam ilmunya. Kedalaman itu terlihat dari cara nya merupakan buah pikiran yang jarang di masa ini,
mereka memilih pemeo, perumpamaan, idiom, yang sekaligus pernyataan sikap yang pantas dicatat dengan
membumi dengan masyarakat yang dilayani. Mereka cetak tebal.
yang sehari-hari berkutat mengajar dan membolak- Majalah TEMPO punya ”tradisi” untuk menampung
balik kitab kuning inilah yang diha­rapkan menjaga sikap pikiran-pikiran baru Islam, juga aga­ma lain, yang men­
khas kaum nahdliyin: lentur dalam menyikapi berbagai dorong kemajuan masyara­kat. Almarhum Nurcholish
persoal­an hidup, termasuk hidup bernegara. Sebuah Madjid dulu seperti ”berumah” di Tempo, begitu juga
sikap yang semakin rele­van saat ini. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pernah menjadi
Toleransi luas yang ditawarkan kaum nahdliyin penghuni tidak tetap perpustakaan TEMPO di Proyek
barangkali semacam ”pereda” rasa cemas atas munculnya Senen Jakarta. Jalaluddin Rakhmat, Ulil Abshar-Abdalla,
kelompok dengan rasa toleransi tipis. Sebuah paragraf di Din Syamsuddin, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra,
suplemen ini menuliskan: adalah sederet nama yang sering mengisi rubrik kolom
di Majalah TEMPO.
Menjelang pemakaman Ja­laluddin Rumi, Itu sebabnya suplemen the WAHID Institute ini bagi
seorang Kristen menangis ter­sedu. Dia mencurahkan kami menjadi semacam pelengkap untuk memperkaya
kesedihannya. “Kami menghormati Rumi seperti koleksi pemikiran Islam. Suplemen ini memang mengajak
Musa, Daud, dan Yesus zaman ini. Kami semua pembaca­nya hanya sampai ”beranda rumah” dan tidak
adalah para pengikut dan muridnya,” ungkapnya. ”masuk ke dalam”. Tapi sebagai satu gepok bacaan po­
puler yang ingin menjangkau segmen pembaca lebih
Indonesia hari ini merupakan sebuah komunitas luas, rasanya kedalam­an yang dibawakan sudah lebih
yang jauh dari saat Rumi wafat itu. Tapi sesungguhnya dari cukup.
masalah utama bukan soal hubungan antar agama, Serial ini walaupun tampil dalam jangka ha­nya se­
melainkan di dalam Islam sendiri. Problem yang tahun pasti sudah mempunyai pembaca setianya sen­diri.
mengganggu adalah hadirnya kelompok yang se­olah- Di antara kecemasan melihat sepak terjang kelompok
olah mengklaim diri sebagai “polisi Tuhan”. Seperti bertoleransi tipis, sup­lemen ini akan dikenang, akan
merasa didaulat menjadi otoritas “pengatur kehidupan”, ditunggu-tunggu.[]
kelompok ini tak pernah perduli dengan yang lain,
melabrak apa yang mereka anggap sebagai ”musuh”.
Memang menyedihkan. Tapi yang paling getir Jakarta, Oktober 2008
adalah menyadari betapa sedikit usaha mengatasi ke­
lompok itu. The WAHID Institute, yang didirikan mantan
presiden Abdurrah­man Wahid dan sekalian pendukung Toriq Hadad
anti-kekerasan, termasuk yang sedikit itu dan karenanya Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
menonjol. Suplemen yang dihasilkan institute itu karena­

xxii
Pengantar

Melindungi dan Menyantuni


Semua Paham
Oleh: Abdurrahman Wahid
Pendiri The WAHID Institute

K
etika berbicara di depan rapat akbar di se­ Front Pembela Islam (FPI) yang didirikan oleh dua
buah kabupaten di Kalimantan Tengah, penu­ Jenderal Angkatan Darat dan dua Jenderal Kepolisian,
lis ditanya; mengapa melindungi Gerakan sebenarnya sudah harus dibubarkan. Padahal sudah sejak
Ahmadiyah Indonesia? Penulis menjawab ia tidak me­ lama Undang-Undang menya­takan bahwa orang tidak
ma­hami secara mendalam ajaran Ahmadiyah, Muham­ boleh membawa senjata tajam dan menebar ancaman
madiyah, Syi’ah, Mu’tazilah dan lain-lain. Penulis me­ di muka umum. Tapi FPI bertambah berani bertindak,
lin­­dungi mereka karena hal itu menjadi ketentuan karena adanya sejumlah orang pejabat yang tidak
Undang-Undang Dasar 1945. Jika orang seperti penulis menginginkan ia dibubarkan, termasuk Kepala Kepolisian
saja tidak mau bertanggungjawab atas jaminan yang Republik Indonesia (Polri) di masa lalu. Bahkan sekarang
disebutkan oleh konstitusi kita itu, maka semua golongan, keadaan menjadi runyam, yaitu beberapa anggota
termasuk yang bukan Islam, tidak akan ada yang mau LSM yang dicederai FPI malah dituduh memprovokasi
peduli. Ini berarti Undang-Undang Dasar 1945, tidak lagi kelompok itu di lapangan Tugu Monas.
mempunyai gigi, dan negara kita tidak punya dasar sama Jika demikian, apa gunanya kita memiliki UUD 1945?
sekali. Ini benar-benar merisaukan hati pe­nulis. Padahal, kondisi
Selama jaminan-jaminan seperti itu tetap dijalan­ itu terjadi karena kita tidak setia kepada dasar negara
kan, selama itu pula orang masih merasa ada gunanya Pancasila, yang dibawakan Bung Karno pada 6 Juni 1945.
bernaung di bawah negara Republik Indonesia. Dari Karena ketololan kita jualah, bangsa ini meng­alami
sudut inilah pembelaan yang diberikan penulis mem­ persoalan-persoalan yang seharusnya tidak perlu. Kita
punyai arti. sekarang mengulang kembali perdebatan yang sudah
Pembelaan terhadap kaum minoritas di Indonesia kita lakukan sebagai bangsa di masa lampau. Ini berarti
juga bukan karena sebab-sebab lain. Umpamanya pelambatan perjalanan sejarah kita sebagai bangsa.
saja, kekhawatiran bahwa fundamentalis Islam akan Padahal, banyak masalah lain yang memer­lukan
me­nguasai kehidupan politik kita. Sebab penulis ber­ penyelesaian. Salah satunya adalah, bah­wa bangsa kita
pendapat bahwa fundamentalisme agama di negeri hidup dalam suasana perdagangan bebas, yang memiliki
kita sudah mencapai ujung perjalanan. Tiga sampai ketergantungan sangat besar pada penjualan produk
empat tahun lagi, justru pihak muslim moderat yang hutan, pertambangan dan pengolahan hasil lautan.
akan menguasai kehidupan politik. Dengan demikian Bagaimana kita dapat melepaskan dari ketergantungan
membuat agama Islam di negeri ini menjadi moderat. seperti itu, sedangkan kita terma­suk dalam sistem
Kegalakan kelompok-kelompok fundamentalis itu globalisasi ekonomi dunia?
layaknya tarikan nafas penghabisan. Senyampang belum Kenyataan lain yang tidak dapat dipungkiri oleh
tergusur dari kehidupan politik, mereka mengajukan siapapun yaitu sikap untuk bebas berpikir, bertindak
tuntutan yang ti­­dak-tidak. Kita justru harus menolak dan bersikap. Mayoritas bangsa kita adalah toleran dan
tuntut­an mereka itu. Hal inilah yang perlu dilakukan santun kepada semua ajaran. Namun mereka adalah
untuk menjaga keutuhan negara kita. Tuntutan ‘aneh- mayoritas membisu (silent majority), dan tidak mau me­
aneh’ itu berangkat dari kurangnya pengetahuan dan nunjukkan sikap apapun. Oleh sebab itu penulis kerap
keyakinan mereka akan dasar-dasar negara kita sendiri. mengemukakan sikap sangat jelas. Tujuannya agar silent

xxiii
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

majority itu mengikutinya meski tanpa mengatakan apa­ tanpa memaksa orang-orang Hindu itu beragama Budha.
pun. Karena itu, penulis sering dinilai sebagai seorang Di daerah Magelang, sekitar Muntilan sekarang, mereka
yang berpandangan pluralis, baik oleh sesama gerakan mendirikan Candi Borobudur.
Islam maupun orang-orang beragama lain. Mereka yang tidak turut mendirikan candi tersebut,
Kini tumbuh angkatan muda pemikir yang sekarang meneruskan perjalanan ke kawasan Yogyakarta. Di
sudah mulai ‘menggerakkan’ masya­rakat, melalui sikap- tempat itu mereka mendirikan Kerajaan Kalingga yang
sikap dan tindakan-tinda­k­an yang jelas untuk melindungi beragama Budha pada abad ke-8 Masehi. Pada abad
mereka yang lemah. Pada waktunya nanti kejelasan tersebut, berdirilah Candi Roro Jonggrang di Prambanan.
sikap seperti itu akan merupakan warisan bagi kehidup­ Baik Kalingga Hindu maupun Kalingga Budha sama-
an bangsa kita. sama marah atas berdirinya candi tersebut. Akibat
Keragaman ber-Islam bangsa ini sudah ter­lihat pe­nentangan itu Candi Roro Jonggrang di­tinggalkan
pada abad ke-12 sampai 13 Masehi. Awal­nya dari para oleh penduduknya yang beragama Hindu-Budha ke
ula­ma di Al-Azhar, Kairo. Sebagian mereka memutuskan Ke­diri di Jawa Timur di bawah kepemimpinan Prabu
larangan berziarah kubur. Dari mereka itulah nantinya Darmawangsa. Di Kediri mereka mendirikan kerajaan
akan muncul ge­rakan Muhammadiyah di negeri kita. Kediri, yang kemudian menjadi kerajaan Daha, dengan
Ulama yang membolehkan ziarah kubur nantinya akan raja sangat terkenal bernama Prabu Airlangga. Dua abad
mengkongkritkan pendapat mereka itu dalam bentuk kemudian, mereka berpindah ke kawasan Singasari,
kelahiran NU (Nahdlatul Ulama). Sebenarnya, bukan tetap dengan agama Hindu-Budha.
mereka itulah yang harus diamati sekarang. Tapi justru Di Singasari, kurang lebih 10 kilometer sebelah
orang Muhammadiyah yang sering berziarah kubur, utara kota Malang sekarang, pada abad ke-11 Masehi
dan angkatan muda NU yang tidak pernah ziarah kubur. mereka mendirikan kerajaan Hindu-Budha, dengan
Dari hal ini dapat kita ketahui bahwa perkem­­ba­ngan raja­nya yang terkenal Tunggulametung dan Ken
historis agama Islam di negeri kita sangat dipengaruhi Arok. Dia inilah yang memperistri Ken Dedes, yang
oleh pertemuan antara ajaran Islam dan perkembangan diang­gap memiliki kesaktian sendiri. Pada abad ke-13
ajaran-ajaran lain. Masehi, Prabu Kertanegara dari Singasari harus mere­
Dengan mengemukakan hal ini, penulis bermak­sud lakan menantunya mendirikan kerajaan baru di Terik,
menunjukkan bahwa dinamika ajaran Islam di negeri ini pinggiran sungai Brantas dekat Krian. Kerajaan inilah
juga mengalami pasang surut. Sejarah perkembangan yang kemudian menjadi Kerajaan Majapahit yang di­
agama Islam ini sejajar dengan sikap pluralis yang diri­kan oleh menantu Prabu Kertanegara, yaitu Raden
dimiliki bangsa Indonesia ketika kerajaan Sriwijaya Wijaya. Menurut dugaan penulis, Raden Wijaya adalah
di Sumatera Selatan menyerbu Pulau Jawa abad ke-8 seorang Tionghoa dari angkatan Laut Tiongkok, yang
Masehi melalui Pekalongan. Dari Peka­longan mereka waktu itu hampir seluruhnya adalah anggota tarekat.
kemudian melanjutkan perjalanan ke pedalaman Jawa Di bawah perlindungan orang-orang Muslim Tiongkok
Tengah. Mereka bertemu dengan Kerajaan Kalingga yang yang menjadi anggota tarekat itu, Majapahit lalu tumbuh
beragama Hindu di sekitar daerah Kabupaten Wo­nosobo sebagai negara multi agama dan etnis.
sekarang. Mereka melanjutkan per­­jalanan ke selatan, Walaupun beragama Islam, kaum santri yang

xxiv
Pengantar

menjadikan nama tempat berdirinya kera­jaan Majapahit masyarakat kaum muslimin yang bersifat non politis
di Terik, yang berarti tarikat, tetap menghargai multi menjadi tidak diperhatikan. Juga di Afrika sebelah Barat
agama itu. Hal inilah yang kemudian mendasari Mpu (seperti Nigeria, Tanzania, dan Zanzibar) dan Cape Town
Tantular di abad ke-15 Masehi, merumuskan kerajaan di Afrika Selatan, luput dari perhatian orang.
Majapahit memiliki prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yaitu Di tempat-tempat seperti itu, Islam berkembang
berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Inilah yang di tidak sebagai ideologi politik, melainkan sebagai
kemudian hari, dalam tahun 1945, mendasari Bung Karno perkembangan budaya. Penulis pernah menyampaikan
untuk merumuskan Pancasila sebagai sikap hidup bangsa kepada Rektor Universitas PBB di Tokyo pada 1985 yaitu
Indonesia. De­ngan demikian, sejarah modern Indonesia Soedjatmoko dari Indonesia, bahwa perlu dibangun di
juga diwarnai oleh gagasan pluralistik tersebut. Tokyo, dan di beberapa negara pusat lembaga kajian
Sikap menghargai keragaman itu ternyata juga Islam lokal seluruh dunia. Namun itu tidak terwujud
menjadi sejarah organisasi kemasyarakat­an yang ber­ hingga meninggalnya Doktor Soedjatmoko beberapa
nama Nahdlatul Ulama (NU). Seorang tokoh Syarikat tahun kemudian karena alasan-alasan birokratis. Hingga
Islam di Surabaya, bernama Umar Said Tjokroaminoto saat ini upaya mendirikan sebuah pusat kajian Islam tetap
melakukan pembahasan dengan dua orang sepupunya, saja tidak kunjung ada. Dengan demikian perkembangan
KH. M. Hasyim Asyari dari Pondok Pesantren Tebu Ireng, masyarakat-masyarakat Islam non politis di seluruh dunia
Jombang dan KH. A. Wahab Chasbullah dari Pondok menjadi tidak terwujud, sementara pikiran-pikiran DR.
Pesantren Tambak Beras (juga di Kabupaten Jombang). Ali Syariati dan Imam Ayatullah Khomeini yang sangat
Mereka melakukan diskusi tiap hari Kamis di Surabaya, bersifat ideologis dan politis berkembang sangat pesat.
sekitar 100 km jauhnya dari Jombang, tentang hubu-ngan Kajian-kajian non politis dan kultural itu, yang
antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan. ju­ga dapat dinamai kajian-kajian setempat (local stu­
Dalam pembahasan-pembahasan itu mereka di­ dies), tentang berbagai masyarakat Islam menjadi
ser­tai oleh menantu Umar Said Tjokroaminoto yang terabaikan sama sekali. Menurut penulis, kalau kita
bernama Soekarno, di kemudian hari dikenal dengan ingin mengetahui tentang berbagai aspek masyarakat
nama Bung Karno. Jadi, hubung­an antara agama Islam mo­dern, kajian-kajian lokal seperti itu juga harus diberi
dan semangat kebangsaan mereka utamakan, bukannya perhatian utama. Apalagi dalam kerangka kajian masya­
ma­sing-masing elemen itu dibahas secara tersen­diri. rakat muslim moderat.
Inilah yang membuat gagasan Islam di Indonesia menjadi Tujuan itulah yang ingin dicapai buku ini, dengan
sangat menarik. Karena watak kultural dari agama Islam menyajikan kekayaan lokal di hadap­an para pembaca.
yang berpadu de­ngan adat-istiadat bangsa ini menjadi Kalau para pembaca serius terhadap perkembangan
mengemuka dan kehilangan watak politisnya. Islam moderat, tentu haruslah diberi perhatian dan
Fenomena ini sebenarnya umum terdapat dalam apresiasi cukup besar terhadap kajian Islam setempat
perkembangan agama Islam di seluruh dunia. Tapi, atau yang bersifat lokal. Ia merupakan bagian dari
karena kini perkembangan agama Islam dan masyarakat pengetahuan tentang agama Islam itu sen­diri. Untuk
di kawasan anak benua India hingga pantai Atlantik di itulah buku ini merupakan rintisan yang baik, meskipun
sebelah barat, bersifat sangat politis, maka perkembangan masih dalam tahap yang sa­ngat awal.[]

Jakarta, Oktober 2008

xxv
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara Daftar Isi

Daftar Isi

PENGANTAR PENERBIT _ ______________________ iii DEPANCASILAISASI LEWAT PERDA SI_ _________ 35


PENGANTAR GATRA_ _________________________ iv  Reformasi Syariat Birokrasi__________________ 37
PENGANTAR TEMPO__________________________ vi  Perda SI Melecehkan al-Qur’an dan Hadits_____ 38
PENGANTAR ABDURRAHMAN WAHID____________ viii
Daftar Isi _________________________________ xi ASUPAN DEMOKRASI UNTUK KEBANGSAAN____ 40
 Baru Knowing, Belum Doing_________________ 42
 Pengalaman Pendidikan di Indonesia_________ 43
DUA SIMPUL SATU NASIB_ ___________________ 1  Merajut Islam dan Demokrasi_ ______________ 44
 Pledoi dari Buya dan Kiai ___________________ 3
 Liberalisasi Tak Perlu Label__________________ 4 MENGIKIS FUNDAMENTALIS DENGAN BERBISNIS 45
 Wakafkan Hidup untuk Umat________________ 47
JEJAK AGAMAWAN ORGANIK_________________ 5  Habib Ramah di Balik Jubah_________________ 48
 Ada untuk Berkhidmat_____________________ 8  Kita dan Pragmatisme Kyai Dul_ _____________ 50
 Jasad Tanpa Ruh__________________________ 9
 Untuk Umat dari Pinggir Pagar_ _____________ 10 BEREBUT MASSA LEWAT MEDIA_______________ 51
 Media Bisa Memprovokasi Kekerasan Fisik_____ 53
MENANAM GERAKAN MENUAI KESETARAAN_ __ 11  Egosentrisme Media Islam__________________ 54
 Masa Depan yang Menantang_______________ 13
 Gelombang Feminisme Islam Indonesia_______ 14 MENGGUGAH TOLERANSI LEWAT SENI_________ 55
 Kesetaraan dalam Pesan Ibu_ _______________ 15  Ibadah Ritual Tak Cukup Membangkitkan
 ’Memulung’ Kebenaran Terpinggirkan_ _______ 16 Kemanusiaan_ ___________________________ 57
 Kado Liberalisme bagi Seorang Tradisionalis_ __ 58
MEMECAH KEBEKUAN REGENERASI ULAMA____ 17  Sastra, Pesantren dan Radikalisme Islam_______ 59
 Semua Ma’had Aly Bisa Diakui Pemerintah_____ 20
 Candradimuka Kader Unggulan_ ____________ 21 MENJAGA PIJAR SEMANGAT NANGGROE_______ 61
 Generasi Damai dari Masa Konflik____________ 63
MENANTI NEGARA BERNYALI_________________ 23  Masa Darurat Bukan Alasan Menilap
 Ironi Beragama di Negeri Pancasila___________ 25 Uang Rakyat_ ____________________________ 64
 Penyerangan Terus Terjadi Karena Pemerintah  Hikayat dari Kedai Kopi_ ___________________ 65
Tidak Tegas ______________________________ 26
 Berguru Toleransi di Negeri Wahabi___________ 27 BERKAH MELIMPAH BISNIS TAUSIYAH_ ________ 67
 Tak Ingin Ada Anarki_______________________ 28  Sering Dibayar “2 M”_______________________ 69
 Kiat-kiat Pemasaran Dakwah________________ 70
RADIKALISME ISLAM MENGHADANG  Semua Tergantung Pemilik Modal____________ 71
KERAGAMAN INDONESIA____________________ 29
 Risau Moderatisme NU Luntur_______________ 31 TELADAN TOLERANSI KHAZANAH KLASIK______ 72
 Kerap Shalat di Katedral____________________ 32  Toleransi dalam Kitab Kuning_ ______________ 75
 Teladan dari Kampung Sawah_______________ 33  Guru Tasamuh Pengayom Semesta _ _________ 76

xxvi
Pengantar

TASAWUF TENDA BESAR KEDAMAIAN_ ________ 77 METODE CEPAT MEMBACA KITAB_ ____________ 112
 Tauhid untuk Perdamaian Dunia _____________ 78  Kitab Gundul Bukan Lagi Hantu _ ____________ 114
 Mursyid Musisi Pengawal Tarekat ____________ 79  Kreasi Ulama ‘Ajam ________________________ 115
 Isi Lebih Toleran Ketimbang Kulit ____________ 80
FATWA UNTUK KEMASLAHATAN PUBLIK_ ______ 116
HIJRAH DARI JALUR KEKERASAN______________ 81  Sama Takutnya, Beda Sikapnya_ _____________ 118
 Tobat Berjamaah Merambah Jazirah __________ 83  Majalah Sudah Menggantikan Kitab__________ 119
 Mereka Bukan Mengikuti Islam ______________ 84
MENABUR DAMAI LEWAT UDARA_ ____________ 120
TEENLIT DARI BILIK PESANTREN_ _____________ 86  Dari Rakom untuk Islam Damai ______________ 122
 Menelusuri Lokalitas Pesantren _ ____________ 88  Radio untuk Memfasilitasi Semangat Nyantri
 Sastra Pop Kaum Sarungan_ ________________ 89 Masyarakat ______________________________ 123

NYAI PESANTREN MELAWAN KEKERASAN______ 90 TUNAS KETULUSAN DARI LAHAN BENCANA____ 124
 Pembebasan Itu Misi Rasulullah _____________ 92  Kemanusiaan, Refleksi Iman yang Sesungguhnya 126
 Polemik ‘Uqud al-Lujjayn: Kritik Dijawab Kritik __ 93  Wadah Khidmat untuk Kemanusiaan _________ 127

PENDIDIKAN ALTERNATIF YANG MEMBEBASKAN 94 GELIAT SANTRI DI FILM INDIE_________________ 128
 Pioner dari Kalibening_ ____________________ 97  Membuat Film Itu Mudah dan Murah_________ 130
 Karena Sekolah Kita Laksana Penjara _________ 98  Semua Orang Bisa Menjadi Filmmaker ________ 131

SENI ISLAM NUANSA LOKAL__________________ 99 PRAKARSA SI LEMAH BERTAHAN HIDUP_ ______ 132
 Wajah Islam Damai di Dinding Kanvas_ _______ 101  Sastrawan Cum Bankir Orang Kecil ___________ 134
 Mengawal Tradisi dengan Bedug ____________ 102  Kekuatan di Balik Kesederhanaan ____________ 135

PEWARIS NABI PELESTARI LINGKUNGAN_______ 104 RAMAI SANTRI TEKUNI EKSAKTA______________ 136
 Melawan Nuklir dengan Shalawat _ __________ 106  Merancang Islam Digital ___________________ 138
 Posko Kiai untuk Korban Lapindo ____________ 107  Mobilitas Sosial Kaum Santri ________________ 139

AJARAN UNIVERSAL, PENAFSIRAN LOKAL______ 108 MIMPI REGULASI TANPA DISKRIMINASI________ 140
 Tafsir Lokal Beraroma Orba _________________ 110  Inilah Pasal-pasal Diskriminatif Itu _ __________ 143
 Umat Diuntungkan Tafsir Lokal ______________ 111  Dari Bahtsul Masail Nasional Kiai Pesantren_ ___ 144

xxvii
Dua Simpul Satu Nasib

Generasi Hibrida NU kerap membahas problem mutakhir keumatan dok. WI/ Subhi Azhari

Dua Simpul Satu Nasib:


Kisah Generasi Hibrida NU dan Muhammadiyah
Ayunan pendulum NU dan Muhammadiyah tergantung pengendalinya. Ketika pengendaliannya
cenderung ke kanan, kaum muda progresif di dua organisasi itu kian tersingkirkan.

P
erhatian muktamirin Nahdlatul Ulama (NU) ke-31, kata pengasuh Ponpes al-Hikam Malang itu ketika memberi
Boyolali tersedot kepada selebaran yang berisi sambutan dalam Muktamar Pemikiran Islam NU awal Oktober
penolakan terhadap Islam liberal. Isinya adalah pesan 2003 lalu, di Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah, Situbondo.
dari beberapa kiai senior agar orang-orang yang distigma Pernyataan senada diulang Hasyim ketika memberi pidato
sebagai ‘Islam liberal’ tidak masuk dalam kepengurusan NU. pengantar Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) di Muktamar
Istilah Islam liberal, dalam arti generik, dilekatkan kepada NU ke-31 itu.
siapa saja yang berpikiran progresif. “Orang-orang liberal itu Tuduhan yang beredar di kalangan nahdliyin, adalah
harus tetap dihargai sebagai warga NU. Tapi untuk dijadikan gerakan pemikiran anak-anak muda NU yang progresif telah
pengurus perlu pertimbangan,” kata KH. Ali Maschan Moesa, melabrak batas-batas doktrin Islam.
Ketua PWNU Jatim pada waktu itu. Padahal, menurut Abdul Moqsith Ghazali, banyak sekali
Bahkan Komisi Taushiyah Muktamar NU yang digelar akar progresifisme pemikiran Islam yang dapat ditemukan dari
di Asrama Haji Donohudan itu memperkuatnya. Komisi itu tradisi pesantren. Moqsith mengungkap beberapa indikator.
menyatakan, agar pengurus NU dari berbagai tingkatan “Berhilah (menyelaraskan hukum, red.) di dalam fikih banyak
dibersihkan dari orang-orang yang berpaham liberal. Komisi dilakukan para kiai NU. Penerimaan para kiai NU terhadap
Bahts al-Masail al-Maudhu’iyyah juga menolak metode Pancasila sebagai satu-satunya asas merupakan cerminan dari
hermeneutika yang dinilai sebagai agenda Islam liberal untuk progresifisme itu,” ujar peneliti the WAHID Institute ini.
menghancurkan Islam. Al-Qur‘an sendiri, tambah ustadz yang hafal beberapa
Paham ini menjadi momok bagi para petinggi NU. kitab kuning ini, memiliki watak dan karakteristik yang
Sampai-sampai Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi pun progresif. “Dulu poligami dipraktekkan tanpa batas, maka
musti turun tangan. “Saya minta nama NU tidak dibawa-bawa al-Qur‘an datang dengan membatasi jumlah perempuan yang
dalam gerakan pemikiran ini, karena bisa berakibat buruk boleh dinikahi, empat orang perempuan,” jelas Moqsith.
bagi jam’iyyah NU yang komunitasnya sangat beragam,” Karena itu dia berani menyimpulkan, para Nabi dan

Suplemen the Wahid Institute Edisi I / Majalah Gatra - Edisi Khusus November 2005 
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Rasul sesungguhnya orang-orang yang progresif. “Mereka Muhammadiyah untuk masuk dalam jajaran pimpinan
menentang monotoni dan status quo. Di tengah masyarakat, Muhammadiyah terhadang. Karena menurut sebagian besar
mereka mendapatkan banyak caci-maki karena pandangan- muktamirin, ide ini merupakan bagian dari gerakan feminisme
pandangannya melawan arus dan mendobrak kemapanan.” yang mereka kategorikan sebagai cabang liberalisme.
Tapi, kecurigaan dan hujatan terhadap orang dan Kendati beda tempat dan waktu, dua muktamar
organisasi Islam terbesar di Indonesia itu seolah bersepakat
kelompok yang dianggap ‘liberal’ tetap terjadi, bahkan datang dalam agenda pembahasan. Selain memilih pucuk pimpinan,
dari sesama anak muda NU sendiri. perhelatan akbar rutin itu juga menyorot fenomena
‘Bersih-bersih’ di NU diikuti Muhammadiyah. Bahkan munculnya generasi hibrida dalam tubuh organisasi Islam
beberapa petinggi ormas yang lahir di Yogyakarta itu secara itu, yaitu nahdliyin dan warga muhammadiyah muda yang
gamblang menyoal keabsahan Jaringan Intelektual Muda menguasai jurus-jurus ‘liberal’.
Muhammadiyah (JIMM). Mereka menduga, lembaga tempat Tak ayal, istilah Islam liberal menjadi ‘musuh bersama’ dua
berhimpunnya anak muda progresif di Muhammadiyah, itu organisasi itu. Siapapun yang disifati istilah itu, sama artinya
membawa agenda Islam liberal. dengan sesat dan harus disingkirkan. Padahal kata tersebut
Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP memiliki beragam makna.
Muhammadiyah, Yunahar Ilyas mengatakan, organisasi dalam Di Belanda, partai liberal adalah yang paling konservatif
dan rasis. Di Amerika, liberal kadang berarti progresif
Muhammadiyah harus ditanwirkan atau dimuktamarkan. yang membela hak asasi dan sebagainya. Oleh sebab itu,
“Kalau jaringan itu berlawanan dengan Muhammadiyah, Indonesianis dan Islamis Martin van Bruinessen mengatakan
bagaimana?” katanya seperti dikutip situs Majlis Tabligh tak ada definisi mutlak Islam Liberal.
Muhammadiyah (25/8/2004) . “Orang di Amerika juga tidak
Bahkan dalam Sidang senang dengan cap Islam liberal
Komisi D Muktamar ke- yang dibangun oleh Charles
45 yang berlangsung di Kurzman. Muslim di Amerika sendiri
Universitas Muhammadiyah merasa ada problem makna antara
Malang, Pimpinan Wilayah Islam yang mereka kehendaki
Muhammadiyah Lampung dengan liberalisme”, ungkap
pengajar dari Universitas Utrecht
mempertanyakan keberadaan Belanda ini dalam diskusi di Kantor
JIMM yang mereka sejajarkan the Wahid Institute (12/7/05).
dengan Jaringan Islam Liberal Sayangnya, keragaman
(JIL). Selain itu, JIMM dinilai makna itu tak pernah dipahami,
membingungkan masyarakat baik oleh peserta Muktamar NU
bawah. ke-31 maupun peserta Muktamar
doc.WI/ Subhi

Walau mengusung Muhammadiyah ke-45. Pokoknya,


hermeneutik, teori sosial, dan yang ‘berbau’ Islam liberal harus
wacana new social movement, dienyahkan.
JIMM menolak stempel itu.
Forum JIMM Tekanan kepada ‘generasi
hibrida’ dua organsasi Islam kian
Gerakan JIMM, jelas Ahmad menguat setelah MUI mengeluarkan 11 fatwa dalam Munas
Fuad Fanani, tetap pada ciri utama Muhammadiyah yang kuat ke-7. Salah satu isinya yaitu mengharamkan liberalisme,
dalam gerakan sosial (amal usaha). Hanya saja, JIMM berupaya sekularisme, dan pluralisme yang tokoh-tokoh kuncinya
memberi muatan baru. berasal dari NU dan Muhammadiyah.
“Tak cukup dengan kepedulian sosial, tapi pemihakan Moderatisme mereka itu wajar saja karena organisasi yang
sosial untuk mengubah kondisi sosial,” kata Program Officer dibesut KH. Hasyim Asy’ari pada 1926 dan KH. Ahmad Dahlan
Kajian dan Pelatihan JIMM itu. pada 1912 itu adalah ikon moderatisme Islam Indonesia.
Lahirnya organisasi itu, diawali dari keprihatinan kawula Tapi layaknya sebuah pendulum, sikap itu tidaklah statis.
muda Muhammadiyah atas stagnasi tradisi berfikir di Kadangkala condong ke ‘kanan’ dan pada saat yang lain ke ‘kiri’,
lingkungan Muhammadiyah. “Tradisi berfikir Muhammadiyah tergantung siapa aktor pengendalinya.
memang tertinggal jauh dari Nahdlatul Ulama (NU) yang Sikap petinggi NU dan Muhammadiyah pada beberapa
selama ini justru dicap sebagai organisasi tradisional,” aku kasus, seperti dukungan ‘pemberangusan’ Jamaah Ahmadiyah,
Moeslim Abdurrahman, salah seorang mentor JIMM. penutupan beberapa tempat ibadah di Jawa Barat, dan
“Kebekuan itu akibat gelombang konservatisme yang fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan
semakin kuat di Muhammadiyah,” jelas mantan Direktur pluralisme, liberalisme, dan sekularisme, menunjukkan
Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas kecenderungan ke ‘kanan’. Sikap itu tidak bisa digeneralisasi,
Muhammadiyah Surakarta, Yayah Khisbiyah kepada Ahmad namun dominannya pengurus MUI, yang juga sibuk di NU dan
Suaedy dari the WAHID Institute di Melbourne, Australia. Muhammadiyah, secara tidak langsung telah mewarnai benak
Resiko memang akan selalu dihadapi para pendobrak dua ormas itu.
kemapanan. Apalagi, jika yang ditabrak adalah kemapanan Sampai di sini kita patut bertanya, apakah NU dan
doktrin agama, utamanya teologi. Wacana teologi, kata Muhammadiyah masih berada dalam jalur ‘moderatisme’?
Yayah, sangat sensitif bagi umat Muhammadiyah. Sehingga Bagaimana masa depan Islam moderat pasca Muktamar NU
JIMM mudah dituduh macam-macam, karena berani ke-31 dan Muhammadiyah ke-45?
mempersoalkan teologi yang mapan di Muhammadiyah,” kata Martin van Bruinessen pernah mengatakan, masa depan
perempuan yang enggan aktif di JIMM karena merasa ilmu pemikiran Islam moderat di Indonesia kian suram pasca
agamanya tak mumpuni ini. kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Buya
Meski sempat gencar diserang, namun hasil akhir Ahmad Syafi’i Ma’arif dari pucuk NU dan Muhammadiyah.
Muktamar Muhammadiyah tidak lagi menyinggung Mudah-mudahan tengara Martin ini tidak terbukti.
persoalan JIMM. Hanya saja agenda perjuangan perempuan
Gamal Ferdhi, Rumadi, Nurul H Maarif

 Suplemen the Wahid Institute Edisi I / Majalah Gatra - Edisi Khusus November 2005
Dua Simpul Satu Nasib

Pledoi dari
Buya dan Kiai
KETIKA mainstream petinggi Islam bahu-membahu
menghalau laju pemikir muda progresif yang mereka cap
liberal, dua tokoh kunci Islam Indonesia Ahmad Syafi’i Ma’arif
dan Abdurrahman Wahid memiliki pandangan berbeda
terhadap aksi anak-anak muda yang sebagian besar dari NU
dan Muhammadiyah ini.
Buya demikian Ahmad Syafi’i Ma’arif biasa disapa,

dok.WI/ Gamal Ferdhi


meminta penyikapan terhadap kontroversi Jaringan Intelektual
Muda Muhammadiyah (JIMM) harus dilakukan dengan sopan
dan dialog. “Ini cara yang beradab menurut Islam”, papar Ketua
Umum PP Muhammadiyah 2000-2005 ini saat menyampaikan
pidato iftitah Sidang Tanwir Muhammadiyah di Basement UMM
Dome, Malang, Jumat (1/7/2005). A. Syafi’i Maarif
Menurutnya, banyak organisasi intelektual muda
Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur yang diprakarsai
JIMM.
“Saya sujud syukur membaca tulisan-tulisan Anda
(anggota-anggota JIMM.red),” imbuhnya.
Sedang Gus Dur, panggilan akrab KH. Abdurrahman
Wahid, menyesalkan reaksi negatif kaum nahdliyin terhadap
aktifitas anak muda progresif di NU. Menurut Gus Dur,
munculnya arus progresifisme itu terkait persoalan-persoalan
di kalangan kaum muslim.
“Karena ia khawatir pendapat ‘keras’ akan mewarnai jalan
pikiran kaum muslim pada umumnya. Mungkin juga, ia ingin
membuat para ‘muslim pinggiran’ merasa di rumah mereka
sendiri (at home) dengan pemahaman mereka,” tulis Gus Dur
dalam kolom berjudul Ulil dengan Liberalismenya.
Ketakutan kaum muslim terhadap kebebasan berfikir,
diperkirakan Gus Dur, akan memunculkan dua sikap. Pertama,
dok.WI/ Gamal Ferdhi

‘larangan terbatas’ untuk berpikir bebas. Kedua, sama sekali


menutup diri terhadap kontaminasi (penularan) dari proses
modernisasi.
Sikap-sikap tersebut, tentu saja, memiliki konsekuensi
Gus Dur di depan massa masing-masing. “Konsekuensi dari sikap pertama akan
melambatkan lahirnya pemikiran moderat dalam dunia
Islam. Padahal pemikiran-pemikiran ini harus dimengerti oleh
Muhammadiyah seperti Ikatan Remaja Muhammadiyah mereka yang dianggap sebagai orang luar’,” tulis Gus Dur.
(IRM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Sedang konsekuensi sikap kedua, jelas pendiri the Wahid
Muhammadiyah (PM), maupun Nasyiatul Aisyiyah (NA). Jadi Institute ini, puncaknya dapat berwujud radikalisme yang
kenapa JIMM, yang memproklamirkan diri sebagai jaringan bersandar pada tindak kekerasan. “Dari pandangan inilah lahir
intelektual, harus dibenci? terorisme yang sekarang ‘menghantui’ dunia Islam,” tegas cucu
“Kalau tidak difasilitasi, persyarikatan (Muhammadiyah, pendiri NU ini.
red.) juga yang akan rugi,” tegasnya. Karena itu, Gus Dur mengajak umat Islam untuk terus
Selain itu, Buya menyambut gembira kemunculan JIMM. mengembangkan pemikiran Islam. “Hanya dengan cara
“Hiburan tersendiri mendengar JIMM. Ternyata potensi kita me­nemukan’ pemikiran seperti itu, barulah Islam dapat ber­
luar biasa. Hanya saja selama ini belum manifes,” katanya kala hadapan dengan tantangan sekularisme,” tandas Gus Dur.
membuka acara Tadarus Pemikiran Islam: Kembali ke al-Qur’an,
Gamal Ferdhi
Menafsir Makna Zaman, 18-20 November 2003 di Universitas

Suplemen the Wahid Institute Edisi I / Majalah Gatra - Edisi Khusus November 2005 
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Gus Dur :

Liberalisasi
Tak Perlu Label
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) termasuk tokoh yang
merespon positif munculnya trend pemikiran progresif di
kalangan anak-anak muda NU. Ketua Umum PBNU tiga
periode ini mengakui, NU berperan liberalisasi, tapi pelabelan
akan membuat peran itu gagal. Berikut wawancara Subhi
Azhari dari the WAHID Institute dengan mantan Presiden RI
itu, di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (10/10/05). Abdurrahman Wahid

Bagaimana Gus Dur melihat trend Bagaimana Gus Dur melihat liberalisme saya juga ada sisi kuno, ada sisi modern.
pemikiran progresif di kalangan anak di NU? Dari dulu anak muda itu saya dorong
muda NU saat ini? Nahdlatul Ulama itu gerakan yang terus. Orang yang tradisional tetap
Itu tidak bisa dicegah. Sekarang tidak mempunyai pengertian liberalisasi. saja menganggap saya tradisional dan
kan pikiran anak muda NU lain dengan Itu kan muncul belakangan. Padahal NU memang iya. Karena, bagi saya hal-hal
pikiran NU. Di NU sendiri mereka tidak itu gerakan yang dari waktu ke waktu yang baik harus kita terusin. Yang tidak
kerasan dan kalau dibiarin terus begini melakukan peremajaan. Umpamanya baik kita ubah atau buang. Umpamanya
bisa rontok. Kita tidak usah jauh-jauh. Di sistem sekolah yang tadinya kuno sekali, menghormati yang tua, pergaulan yang
pesantren sendiri sudah mulai rontok. lalu datang ayah saya (KH. Abdul Wahid bagus, itu tempatnya NU di masyarakat.
Orang tidak mau lagi ngomong dengan Hasyim, red.) dan KH. Abdullah Ubaid
NU, tapi malah ke parpol. Ini akibat memulai gerakan untuk memodernisir
pengaburan sisi-sisi politik dan bisa pendidikan. Jadi, liberalisasi itu inheren dalam NU?
menimbulkan bahaya baru. Jadi suatu Iya. Walaupun selalu ada ruang untuk
ketika harus ada revolusi di NU. Jika tidak, Apakah upaya para kiai itu termasuk hal-hal yang ‘tidak masuk akal’, seperti
NU menjadi tidak relevan atau mungkin liberalisasi? orang ke kuburan dan mencari berkah
NU jadi sendirian. Ya jelas, tapi mereka tidak berfikir dari orang yang sudah meninggal.
begitu. Makanya saya selalu bilang,
Mungkinkah kelak generasi muda yang liberalisasi di NU itu gagal kalau pakai Fenomena itu tidak pernah bisa hilang?
progresif memimpin NU? label. Tapi pada dasarnya, NU itu Betul. Malah NU makin lama makin
Bisa saja, tergantung keberaniannya fungsinya liberalisasi. besar. Padahal secara teoritik, meskinya
merebut. Yang bagus-bagus kayak tam­bah kecil, karena yang liberal tambah
Nasaruddin Umar dan lain-lain, sekarang Apakah warga NU sudah siap menerima banyak.Tapi ini malah terbalik. Ha ha ha…
sedang ‘berantem’ dengan yang tua- pemikiran-pemikiran seperti itu?
tua. Kalau mereka (sayap progresif, Itulah, labelling itu tidak berguna, NU
red.) menang, berarti NU masih bisa liberal, NU apa, nggak perlu itu. Saya ini
diperbaharui dan bisa ditolong. Tapi kalau diapa-apain ya NU liberal. Tapi saya tidak
tidak bisa, ya sudah. mau formalitas itu. Sebab saya merasa diri

 Suplemen the Wahid Institute Edisi I / Majalah I Gatra - Edisi Khusus November 2005
Jejak Agamawan Organik

dok.WI/ Gamal Ferdhi


Perhelatan Islam

Jejak Agamawan Organik


Belakangan ini, wilayah politik praktis lebih menggiurkan minat agamawan. Makin sedikit tokoh
agama yang peduli pada problem empirik masyarakatnya. Berikut kiprah mereka yang masih menapaki
peran sedikit itu.

S
emilir angin melambaikan deretan Mutawalli Sya’rawi berjudul al-Fatawa al-Kubra (Fatwa-fatwa
nyiur di Pesantren al-Urwatul Agung, red.).
Wutsqaa, Sidenreng Rappang Gurutta Imran, demikian ia biasa dipanggil, memang
(Sidrap). Tampak di beranda salah satu mumpuni dalam memahami kitab-kitab Islam klasik. Ia juga
rumah dalam komplek pesantren itu, tergolong ‘darah biru’ ulama Sidrap, karena masih cucu ulama
H. Anwar Imran Mu’in Yusuf (33 tahun) besar Anre Gurutta H. Abdul Mu’in Yusuf. Beliau adalah Ketua
tengah melepas lelah. Imran baru MUI Sulawesi Selatan periode 1987-1997 yang digelari Kali
pulang menghadiri workshop Sidenreng (hakim agama di Sidenreng, red.). Meski memiliki
nasional the WAHID Institute, di dua modal besar itu, namun Gurutta Imran tak segan
Kota Padang. Tiga hari acara mengkritisi MUI, jika tak lagi berjalan sesuai prinsipnya.
ditambah dua hari perjalanan Ketegasan sikap Imran diperlihatkan ketika Munas MUI
pergi pulang, membuatnya 2005 mengeluarkan 11 fatwa menghebohkan. Pengasuh
lelah. Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqaa ini menyatakan keluar
Ulama muda itu dari keanggotaan MUI Sidrap. “Fatwa-fatwa itu tidak lagi
memanfaatkan waktu menunjukkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin,”
bersantainya sembari tegasnya.
menambah ilmu. Bukan hanya itu, Gurutta Imran turut membela hak-
Di tangannya, hak komunitas agama Tolottang yang diberi label oleh
tampak kitab karya pemerintah sebagai pemeluk Hindu. “Mereka adalah bagian
mantan pemimpin
dok.WI/ Witjak

dari masyarakat Sidrap yang hak-hak publiknya harus dijamin,”


tertinggi ujarnya.
Universitas al- Alumnus Universitas al-Azhar Mesir ini memang tidak
Azhar Mesir, Syaikh punya banyak waktu untuk sekedar bersantai. Selain menjadi
Muhammad
H. Anwar Imran Mu’in Yusuf

Suplemen the Wahid Institute Edisi II / Majalah Gatra / 26 November 2005 


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

pengasuh pesantren dengan 400 orang santri, ia juga aktif Mancoro, Gedangan, Salatiga pimpinan KH. Mahfud Ridwan.
dalam berbagai kegiatan di luar pesantren, seperti diskusi, Mahfud juga dikenal sebagai tokoh yang sangat dekat dengan
seminar, advokasi kebijakan publik, hingga pendampingan masyarakat akar rumput.
masyarakat lokal. Dari pergumulannya dengan masyarakat setempat,
Seabreg kegiatan sosial yang datang, ditunaikannya tanpa Bahruddin turut membidani kelahiran kelompok tani al-
pandang bulu. “Tidak ada persoalan. Karena kita ini khadimul Barakah yang ia artikan berkah dari alam. Program kelompok
ummah (abdi masyarakat, red.),” kata suami Hj. Kasmawati R. itu beragam. Bukan hanya cara mengatasi hama dan irigasi,
Mahmud ini. pentingnya pertanian organik sebagai sistem pertanian
Menurutnya, seorang agamawan harus mampu mengarti- terpadu juga menjadi perhatian mereka.
kulasikan realita. “Juga menjadikan spirit ketuhanan sebagai “Saya mendirikan lembaga pendidikan dan berbagai
alat kritik sosial serta respon terhadap berbagai bentuk lembaga itu bersama masyarakat dengan hasil yang luar biasa.
ketidak-adilan di masyarakat,” tegas Imran Itu menunjukkan, bahwa mereka punya kemandirian dan
Gurutta Imran adalah satu figur agamawan muda muslim kearifan,” jelas ayah tiga anak ini.
yang dibutuhkan publik. Memiliki karakter keberagamaan Pengalaman ini membuatnya kritis terhadap para aktivis
kuat, kemampuan intelektual mumpuni, namun tak abai yang menganggap masyarakat hanya sebagai obyek proses
membaca situasi sosial politik yang ada di sekelilingnya. perubahan. “Masyarakat memiliki potensi yang tidak pernah
Meminjam istilah Antonio Gramsci, sosiolog Italia, figur jenis terekspos. Kita sering melupakan hal tersebut,” imbuhnya.
ini disebut sebagai intelektual organik, yakni intelektual yang Saat ini Bahruddin dipercaya menjadi Direktur SLTP
melakukan perubahan bersama masyarakat. Alternatif Qaryah Thayyibah. Lembaga ini dikenal sebagai salah
Peran sebagai aktor perubahan juga dimainkan sebagian satu sekolah alternatif yang berbasis pada komunitas dengan
agamawan, yang oleh Moeslim Abdurrahman disebut prinsip pendidikan murah. Sekolah ini begitu dekat dengan
sebagai agamawan organik. Mereka tak sebatas membimbing masyarakat sekitar, karena didirikan bersama mereka.
ritualitas dan spiritualitas umat, tapi menumbuhkan kesadaran Walau Qaryah Thayyibah cukup kesohor dan menjadi
kolektif masyarakat tentang asal penindasan dan bagaimana tujuan orang tua murid menyekolahkan anaknya, namun
menyikapinya. Bahruddin enggan mendirikan asrama. “Kalau ada siswa dari
Karena itu, isu-isu ketidakadilan, HAM, konflik luar wilayah Salatiga, meski berasal dari keluarga kaya, dia
perburuhan, petani, persoalan jender, pemberantasan korupsi, harus mau mukim bersama masyarakat di sini,” kata lulusan
permberdayaan ekonomi, penyelamatan lingkungan dan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, kampus Salatiga
masalah pendidikan, menjadi bidang kerja para agamawan ini. Tujuannya agar masyarakat sekitar turut mendapat ‘berkah’
organik ini. dari hadirnya sekolah ini.
Tak jauh beda dengan Imran, Tuan Guru Haji Syamsul Seperti halnya Bahruddin, keyakinan bahwa setiap anak
Hadi Muhsin, 40 tahun, mengambil peran membangun berhak memperoleh pendidikan juga mengilhami Ahmad
perekonomian masyarakat. Pengasuh Pondok Pesantren Najib Wiyadi, 31 tahun.
Nurussabah, Batunyala Praya, Lombok Tengah yang Menurutnya, beribadah bukan hanya membaca al-Qur’an,
mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman klasik ini tergugah shalat, haji atau puasa. Misi utama seorang muslim adalah
melihat ketertinggalan ekonomi dan pendidikan masyarakat membebaskan seseorang atau sekelompok orang dari derita
sekitarnya. kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, perlakuan tidak adil,
Syamsul memang hobi bertani. Dengan memadukan ilmu diskriminasi struktural, dan penggusuran. “Itu misi Islam
keagamaan dan teknik bertani dari khazanah pengetahuan sebagai agama rahmat,” tegas Ketua Umum Ikatan Mahasiswa
modern, lulusan Universitas al-Azhar Mesir 1994 ini pun Muhammadiyah (IMM) Cabang Sleman tahun 1998-1999 ini.
mengajak masyarakat menyulap lahan tidur menjadi Dari pemahaman itu, Wiyadi bersama beberapa aktivis
produktif. Dipilihlah tanaman jahe. Di samping mudah IMM mendirikan Rumah Singgah Ahmad Dahlan pada 1999.
pembudidayaannya, prospek pasar tanaman itu di dalam dan Selanjutnya, berkembang menjadi Pondok Pesantren Anak
luar Lombok memang menjanjikan. Dengan modal jejaring Jalanan Ahmad Dahlan.
LSM kenalannya, ia mencari bibit jahe. “Anak-anak itu tidak mempunyai apa-apa. Namun mereka
Syamsul pun membentuk dua kelompok tani. Masing- tetap harus hidup dan menapak hari depan, seperti anak-
masing beranggotakan 30 petani yang mengelola lahan tidur anak yang lain. Itu bukan salah mereka,” ujar alumnus Fakultas
seluas 10 hektare di Desa Cempaka, Kecamatan Mantang, Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga ini.
Lombok Tengah. Sedang 15 petani lainnya mengelola 5 Di pesantren anak jalanan ini, Wiyadi mendidik para
hektare lahan tidur di Pulau Gili Air, Lombok Barat. santrinya agar mandiri dan belajar hidup layaknya anak-anak
Ketika panen jahe kelompok binaan Syamsul memuaskan, pada umumnya. “Dua tahun lalu, rutin mandi, gosok gigi, serta
puluhan kelompok petani lain berbondong-bondong memakai sandal saja, sudah prestasi besar,” kenang suami Yuke
mengikuti jejaknya. “Karena upaya ini konkrit mereka antusias,” Nurdiana Andiani ini.
katanya. Kini, 56 santrinya ditempatkan dalam tiga kelompok.
Kemudian bersama the WAHID Institute, Wakil Ketua Santri yang masih sulit dibina, sebanyak 31 anak, ditempatkan
Aliansi Pondok Pesantren Antikorupsi (AP-PAK) se-NTB ini, di rumah singgah. Sedang 17 anak yang sudah agak tertib,
berniat mendirikan Koperasi Sejahtera untuk mewadahi animo dimukimkan di pesantren anak jalanan, yang berlokasi
para petani di daerahnya pada April 2005. di Selokraman, Kota Gede, Yogyakarta. Sisanya, 8 anak,
Jejak keberpihakan kepada masyarakat juga dapat ditempatkan di pusat pelatihan.
ditemui dalam diri Bahruddin, 40 tahun. Pria yang lahir di Wiyadi juga membimbing santrinya berwirausaha. Mulai
Desa Kalibening, sebuah desa sejuk di Kecamatan Tingkir, dari pengumpul kertas bekas, jualan ballpoint, maupun
Salatiga ini alumni dan pengajar di Pondok Pesantren Edi memelihara ikan hias. Meski sudah menunjukkan kemajuan,

 Suplemen the Wahid Institute Edisi II / Majalah Gatra / 26 November 2005


Jejak Agamawan Organik

Wiyadi tetap bercita-cita agar santri binaannya mampu lebih


mandiri.
“Intinya menjadikan mereka bisa mendidik, memimpin
dan mengorganisir diri sendiri untuk melawan kebodohan,
melawan kemiskinan, melawan penggusuran dan melawan
apa saja yang membuat mereka tidak berdaya, sekaligus
tidak tergantung kepada siapapun, termasuk negara,” ujar
mahasiswa pascasarjana Jurusan Pengembangan Hukum
Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta ini.
Spirit pembebasan itu, tegas Wiyadi, berasal dari al-Qur’an
yang memerintahkan agar berpihak kepada kaum mustadl’afin
(yang dilemahkan, red.) atau kaum proletar.
Pembelaan serupa juga dilakukan KH. Muhammad Yusuf
Chudlori, 32 tahun, yang akrab disapa Gus Yusuf. Pengasuh
Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam, Tegalrejo,
Magelang ini dekat dengan masyarakat, utamanya masyarakat
lereng gunung Merapi dan Sumbing.
Bersama Sutanto Mendut, seniman Magelang, Gus Yusuf
menggagas berdirinya Komunitas Merapi. Melalui komunitas
ini digelar berbagai kegiatan, seperti kesenian gunung,
pemberdayaan masyarakat gunung, juga festival gunung.
“Di sela-sela festival misalnya, kita mengadakan dialog
dengan masyarakat seputar persoalan yang mereka hadapi

dok. Wiyadi
sehari-hari. Dengan cara itu komunikasi kita bisa terbuka dan
cair,” jelas alumni Ponpes Lirboyo 1994 ini.
Kiat itu diadaptasi Gus Yusuf dari mendiang ayahandanya,
Anak asuh Rumah Singgah Ahmad Dahlan
KH. Chudlori. Kiai Chudlori lebih menganjurkan membeli
gamelan ketimbang membangun masjid di komunitas
masyarakat gunung. “Pertimbangannya sederhana. Gamelan
adalah sarana bagi masyarakat untuk berkumpul, sehingga ada Karena itu, ia menuntut kalangan elite pesantren untuk
ruang persemaian nilai bersama yang dibangun,” ujarnya. kembali bersama-sama menemani rakyat kalangan bawah,
Pengelola radio FM yang dinamakannya Fast, kependekan mulai dari petani, buruh dan komunitas marginal lainnya.
dari fastabiqulkhairat, ini juga mendampingi korban narkoba Tuntutan Gus Yusuf penting didengar, terutama setelah
melalui Komunitas Gerakan Antinarkoba dan Zat Adiktif banyak kiai dan agamawan yang terlalu larut dalam pusaran
(Komganaz). Selaku salah satu presidium gerakan itu, ia banyak politik praktis. Akibatnya, tak tersedia cukup waktu untuk
menggelar dialog-dialog di kampus, sekolah, juga masjid. “Kita mengurus problem nyata jamaah sekitarnya.
mengadakan pendekatan preventif,” katanya. Kita semakin kehilangan agamawan yang menurut
Kesadaran untuk terus memikirkan nasib masyarakat Hiroko Horikoshi (1976), selain mampu berperan sebagai alat
pinggiran, menurut ayah dua putra ini, antara lain bersumber penyaring informasi yang masuk ke lingkungan santri, juga
dari doktrin Islam. “Di Islam kita dituntut untuk ta’awanu (saling berperan kreatif dalam perubahan sosial.
tolong-menolong, red.) dan rahmatan (sayang, red.) kepada Forum agamawan kerap bersuara lantang menjelang
seluruh makhluk,” tegas Gus Yusuf. muktamar, pemilu, suksesi gubernur/bupati atau reshuffle
“Selain itu, karena saya hidup di kaki gunung, maka saya kabinet. Tapi ketika kenaikan BBM mencekik, penggusuran
mendirikan Akademi Gunung,” imbuhnya lagi. maupun diskriminasi merajalela, suara mereka nyaris tak
Melalui Akademi Gunung ini, Gus Yusuf memfasilitasi terdengar.
pemasaran hasil pertanian masyarakat kaki Merapi dan Memang, tak semua agamawan melupakan khittah-
Sumbing, seperti kubis, kentang, sayur-sayuran, tembakau, dan nya sebagai pembela kaum miskin dan tertindas. Lahirnya
lain sebagainya. agamawan muda yang kritis merupakan bukti masih adanya
Ia memang bangga dengan kehidupan masyarakat kesadaran itu. Jika di lingkungan Muhammadiyah perjuangan
gunung. “Di gunung, masih banyak hal yang genuine. itu lebih banyak melalui jalur institusi, di NU justru lebih
Masyarakat perkotaan resah soal lonjakan ekonomi dan bergerak di level individu (baca: Untuk Umat dari Pinggir Pagar).
BBM, masyarakat gunung justru lebih survive,” terangnya. Tampilnya agamawan organik itu, seolah menjadi oase
Kemandirian masyarakat gunung ini pun disampaikannya di tengah kemarau figur agamawan seperti KH. Hasyim
dengan seloroh, “Sampai soal Fatwa MUI, masyarakat gunung Asy’ari dari Nahdlatul Ulama dan KH. Ahmad Dahlan dari
juga tidak terpengaruh.” Muhammadiyah, yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk
Gus Yusuf juga tak segan mengkritik sikap banyak kiai kepentingan masyarakat. Kita rindu kiai seperti itu.
yang hanyut dalam arus politik. “Akibatnya, ruang kultural yang M. Subhi Azhari, Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi
dulunya menjadi basis kiai semakin tergeser oleh fenomena
munculnya dai-dai instan yang cenderung melepaskan
pandangan agama terhadap realitas sosial yang ada,” tegasnya.

Suplemen the Wahid Institute Edisi II / Majalah Gatra / 26 November 2005 


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Nyai Hj. Siti RuqAyyah Ma’shum

Ada Untuk Berkhidmat


BERBAGAI poster dalam Bahasa Tidak terbatas di forum pengajian,
Indonesia dan Bahasa Arab ia juga melayani konseling gratis
memenuhi dinding Musholla al- kepada masyarakat sekitar, kapan saja.
Ma’shumiy di Prajekan, Bondowoso. “Karena saya di kampung, problem apa
Semua mengekspresikan kesetaraan saja, siapa saja, selalu dibawa ke sini,”
perempuan dan laki-laki. Baik jelas Nyai yang kerap mendampingi
kesetaraan dalam rumah tangga, perempuan korban perkosaan di Jember
masyarakat maupun pemerintahan. dan Bondowoso ini.
“Ma akramahunna illa karim wa ma ’Nasib’ seperti telah
ahanahunna illa la’im (Hanya orang menggariskannya sebagai pejuang
mulia yang memuliakan perempuan bagi perempuan. “Allah berkehendak
dan hanya orang hina yang terhadap membuminya keadilan. Saya
menghinakan perempuan).” Begitu melakukan semua itu karena misi ini,”
bunyi salah satu poster pembelaan ujarnya.
atas perempuan yang dinukil dari Ruqayyah yang secara kultural
petuah Sahabat Ali bin Abi Thalib, adalah warga NU, memilih berjuang
yang anggun terpampang di sana. di luar garis organisasinya. Ini berbeda
Mushalla berkeramik putih itu dengan kiprah sekelompok perempuan
disesaki tak kurang 250 ibu-ibu Majlis urban di Jakarta yang tergabung dalam
Ta’lim al-Ma’shumiy. Mereka yang Aisyiyah. Atas dukungan Kedutaan
berumur antara 25 sampai 70 tahun Besar Australia, organisasi perempuan
itu rela berhimpitan untuk nyare elmu Hj. Siti Ruqayyah Ma’shum onderbouw Muhammadiyah ini
(mencari ilmu, red.) pada Nyai yang membantu korban bom yang meledak di
sore itu terlihat membaca baris-baris kitab kuning. al-Qur’an depan Kedutaan Besar Australia 9 September 2004.
dan beberapa kitab klasik lainnya tampak tertumpuk di atas Mereka dipilih bukan saja karena sifat kerelawanan yang
dampar kecil di sampingnya. Sejurus kemudian, Nyai Hj. Siti telah tumbuh dan mengakar pada banyak anggotanya, juga
Ruqayyah Ma’shum, 35 tahun, menerjemahkan sekaligus karena mereka memiliki jaringan sekolah, rumah sakit dan
menguraikannya dalam Bahasa Madura. balai kesehatan. Bantuan Pemerintah Australia sebesar 1 juta
Dengan cara inilah, perintis sekaligus pengasuh Ponpes dollar Australia itu disampaikan langsung oleh Dubes Australia
Putri al-Ma’shumiy, Jl. Raya Prajekan, Bondowoso, Jawa Timur David Ritchie. “Bantuan itu untuk mendorong keluarga korban
itu, menanamkan nilai-nilai kesetaraan perempuan dan laki- mencapai kemandirian, termasuk menuntaskan pendididkan
laki. “Saya menggunakan cara yang dipahami masyarakat anak-anaknya,” kata Ketua Bagian Pembina Kesejahteran Sosial
untuk memberi pemahaman tentang kesetaraan ini,” ujarnya Aisyiyah Hj. Nurni Akma.
kepada Ahmad Suaedy dari the WAHID Institute yang Dengan struktur organisasi yang mapan, Aisyiyah mudah
bertandang ke padepokannya. menggerakkan anggotanya untuk membantu korban bencana
Aktivitas itu hanyalah salah satu rutinitas Nyai Ruqayyah, di daerah manapun. Lembaga ini dinilai sebagai satu-satunya
di samping mengasuh sedikitnya 30 santri putri berusia antara organisasi Islam yang paling siap menangani korban, tidak
9-15 tahun. Perempuan berputera satu kelahiran Bondowoso, hanya dalam tahap emergency (gawat darurat) juga tahap reco-
ini terkenal gigih memperjuangkan keadilan bagi perempuan very (pemulihan).
dari aneka tindak kekerasan, diskriminasi dan pelecehan.
Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi

 Suplemen the Wahid Institute Edisi II / Majalah Gatra / 26 November 2005


Jejak Agamawan Organik

Jasad Tanpa Ruh


Oleh: dr. Rumadi
Peneliti The WAHID Institute
dok.WI/ Witjak

KANG Sobari merasa gelisah dan malu setelah bertemu agama dan segala bentuk ekspresinya. Namun, rethinking
seorang teman lamanya. Pasalnya, si kawan yang tidak itu harus diorientasikan untuk mengembalikan fungsi
berpendidikan tinggi itu mampu mendirikan dan transformasi agama. Hal ini penting, karena jika agama
mengelola sebuah lembaga pendidikan yang manfaatnya sudah kehilangan fungsi, ini sama artinya ia kehilangan
dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Sementara ruh. Sebab itu, meski jasad agama masih tampak segar
saya, kata penulis buku Kang Sejo Melihat Tuhan ini, dan tegar, pada dasarnya ia tidak mempunyai ruh.
dengan pendidikan tinggi, hidup di Jakarta, menjadi Ibaratnya jasad tanpa ruh.
‘selebriti’, tapi belum menyumbangkan suatu apapun Agama seperti ini lebih menunjukkan kebesaran
untuk masyarakat. “Masih lebih bermakna kawan di fisik daripada kebesaran jiwa. Isu-isu yang dimunculkan
kampung itu daripada saya,” lanjutnya. pun isu-isu fisik agama, seperti rebutan jumlah pemeluk,
Ungkapan jujur Kang Sobari itu merupakan tempat ibadah, aliran sesat dan seterusnya. Akibatnya,
kegelisahan banyak orang, terutama para ‘santri urban’ ummat beragama menjadi sangat sensitif dengan isu-isu
yang semakin kehilangan akar. Agamawan menjadi fisik kuantitatif daripada isu-isu kualitatif.
‘selebriti’ yang berkhotbah dari satu stasiun TV ke stasiun Sampai di sini, saya tiba-tiba terpikir, apa
TV lain. Selalu menjanjikan surga melalui layar kaca. Tak yang sebenarnya didapatkan ketika banyak orang
dituntut kedalaman ilmu, hanya dengan retorika yang mengencangkan ‘urat leher’nya memperdebatkan Islam
baik plus suara merdu, sudah lebih dari cukup. Di layar TV liberal dan Islam fundamentalis. MUI mengeluarkan fatwa
itu, agamawan kita bagaikan ‘penjual obat’ yang kesepian. ini dan itu untuk paham dan pendapat yang dianggap
Padahal kalau diperhatikan, para agamawan pada berbahaya. Bahkan ada yang berencana membunuh
awalnya sangat dekat dengan masyarakat. Mereka kawan seagama, karena pikirannya dianggap berbahaya,
hidup bersama masyarakat dan melakukan aktifitas menyerang aliran agama yang dianggap sesat, dan
yang manfaatnya secara langsung dirasakan masyarakat melakukan pengeboman di mana-mana.
sekitar. Lihat misalnya, KH. Hasyim Asy’ari, KH. As’ad Apa yang sebenarnya mereka perjuangkan?
Syamsul Arifin dan kiai-kiai sepuh lainnya. Mereka bukan Agamakah? Rasanya terlalu ceroboh kalau hal itu
sekedar ulama pandai berceramah, tapi juga social worker dilakukan untuk melindungi agama, membesarkan
yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar. Tuhan. Jangan-jangan kita sedang memperebutkan
Zaman telah berubah. Peran-peran pastoral agama ‘pepesan kosong’ yang tidak mempunyai dampak apapun
semakin tidak populer. Jalan pintas menuju popularitas, terhadap kehidupan masyarakat. Imajinasi keberagamaan
baik secara politik maupun ekonomi, lebih menjadi kita terlanjur dibangun untuk membela hal-hal ‘atas’ yang
pilihan. Kalau toh misalnya, ada tokoh agama yang abstrak. Bukan untuk membela hal-hal yang konkrit.
mempunyai banyak pengikut, ‘dirubung’ banyak orang, Agama menjadi identik dengan masalah abstrak. Sedang
dikunjungi tokoh-tokoh politik, hal itu lebih karena yang konkrit dianggap sebagai masalah sekuler yang
wibawa spiritualitasnya atau karena keturunan orang tidak ada kaitannya dengan agama.
yang disegani. Ujung-ujungnya, hal itu modal politik. Sebab itu, agama tidak bisa berlama-lama berada
Dalam situasi demikian, kritik dan kontrol terhadap dalam kondisi ini. Jasad dan ruhnya harus segera
‘seleb­riti agama’ sangat penting diberikan. Agama harus disatukan untuk mengembalikan fungsi pembebasan
menjadi spirit untuk melakukan perubahan, bukan untuk agama. Singkatnya, agamawan organik merupakan
mencari popularitas. Popularitas memang bukan barang prototipe manusia beragama yang mampu menyatukan
haram, tapi bukan di situ esensi agama. jasad dan ruh itu.
Di sinilah pentingnya kita berfikir ulang tentang

Suplemen the Wahid Institute Edisi II / Majalah Gatra / 26 November 2005 


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

NURLAILA DIRYAT, adalah Direktur Salma Fareeha, lembaga KH. DIAN NAFI’, mengasuh Pondok Pesantren al-Muayyad,
yang beranggotakan ibu-ibu pedagang sayur, tahu, bawang, Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pria
cabe dan hasil bumi lainnya. Dengan 500 orang anggota, kelahiran Windan Sukaharjo ini menyatakan spirit agama
kelompok itu melahirkan program modal swadaya dalam merupakan pendorong paling kuat untuk melahirkan
bentuk kredit bergulir kepada setiap anggota. perdamaian, persaudaraan dan rekonsiliasi antar umat
“Melalui program ini, bisa sedikit meringankan beban manusia. Prinsip itu ia tanamkan pada santri-santrinya.
mereka yang sebagian besar adalah tumpuan keluarga,” Bahkan suami Murtafiah Mubarokah ini
ujar perempuan yang tengah merampungkan program mempraktekkannya dengan terjun langsung membantu
doktoralnya di Universitas Islam Negeri (UIN) rekonsiliasi di Maluku yang dilanda konflik sejak tahun
Syarif Hidayatullah Jakarta ini. 1999. “Jika kita berhasil memfasilitasi rekonsilliasi, maka
Untuk memonitor program itu, kita tidak berhak atas pujian, karena mereka lah yang telah
perempuan kelahiran Banyumas, bersedia melakukan rekonsiliasi. Itu hak mereka,” ujar Dian
ini harus rela bolak-balik Jakarta- mengenang pengalamannya di Maluku.
Purwokerto. Lewat Salma Subhi Azhari, Nurul H. Maarif
Fareeha, Nurlaila juga melakukan
pendampingan para pekerja seks
komersil (PSK) dan anak-anak
jalanan.
dok.WI/ Witjak

Nurlaila Diryat

Untuk Umat
dari Pinggir Pagar

dok.WI/ Subhi
KH. Dian Nafi’

ACEP ZAMZAM NOOR, adalah Karena kecintaannya kepada


Mualim (panggilan anak ulama dunia seni, Acep lebih memilih aktif
di Jawa Barat, red.) kelahiran di luar pesantren dengan mendirikan
Tasikmalaya yang sempat nyantri Sanggar Sastra Tasik dan Partai Nurul
di Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Sembako. “Pesantren sudah banyak yang
Namun putera mantan Rais menggarap. Saya justru keluar bertemu
‘Aam PBNU KH. Ilyas Ruchyat teman-teman luar pesantren,” ujarnya.
ini lebih menyenangi Diakuinya pesantren tidak
profesi sebagai penyair menyediakan sarana apa pun untuk
dan pelukis. Hingga menjadi seniman, tapi ada nuansa
pada 1991-1993 ia pesantren yang bisa membuat orang
belajar di Universita menjadi apa saja. Menurut Acep, dengan
Italiana per Stranieri, berpuisi kita menjadi peka terhadap
Italia, atas beasiswa lingkungan, peka terhadap ketidakadilan,
dok.WI/ Witjak

dari Pemerintah dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan


Italia. yang merugikan orang banyak.

Acep Zamzam Noor

10 Suplemen the Wahid Institute Edisi II / Majalah Gatra / 26 November 2005


Menanam Gerakan Menuai Kesetaraan

Menanam
Gerakan
Menuai
Kesetaraan Santriwati di sebuah forum dok.WI/ Gamal Ferdhi

Gerakan perempuan Islam di Indonesia lebih matang ketimbang negeri muslim lain. Fase rintisan
telah dilewati dengan kerja keras nan panjang

M
arkas Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) tanpa hijab. “Aku iri,” ujar Ziba berulang kali.
Yogyakarta terlihat riuh. Siang itu digelar diskusi Alasannya, pemisahan ruang bagi lelaki dan perempuan
peran agama dalam mengonstruksi relasi lelaki dan adalah persoalan besar bagi kaum feminis Muslim di negeri-
perempuan. Panas akhir Juli 2003 itu semakin terasa di sudut negeri Muslim. Namun di Indonesia, isu pemisahan ruang
ruang kantor tak berpendingin itu. dianggap telah usai dan nyaris tak pernah menjadi isu teologis,
Di sana terlihat Ziba Mir-Hosseini, feminis Muslim asal Iran walau bukan berarti tak pernah berhadapan dengan persoalan
bersimpuh penuh peluh. Ia tak mengeluh, bahkan sumringah itu.
begitu forum tersebut menyaksikan film dokumenter Syahdan, H. Agus Salim pernah jengkel saat hendak
arahannya, Divorce Iranian Style. Film ini menggambarkan ceramah di depan anggota Jong Islamiten Bond pada 1930-
potret buram perempuan Iran di dunia perkawinan. an, karena melihat tabir yang menghalangi pandangan
Di negerinya, film yang menampar wajah peradilan peserta perempuan. Ulama masa pergerakan ini menarik kain
agama Iran itu tak boleh tayang. Justru di Indonesia diputar pembatas forum itu. “Pembatasan ruang adalah kebiasaan
di hadapan santri lelaki dan perempuan dalam satu ruangan, bangsa Arab, bukan perintah Islam,” katanya beralasan.

Suplemen the Wahid Institute Edisi III / Majalah Gatra - Edisi Khusus Januari 2006 11
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Siti Ruhaini Dzuhayatin yang melakukan studi ceramah berhasil memperjuangkan haknya hingga ke tataran regulasi
Agus Salim berpendapat, tindakan ulama besar itu negara, seperti pembatasan praktik poligami. Padahal di
menunjukkan Islam menghormati kaum perempuan. “Islam masa pergerakan, isu poligami memicu perseteruan antara
memberi hak yang sama bagi lelaki dan perempuan untuk kelompok perempuan Islam dan kelompok sekuler. Antropolog
memperoleh pengetahuan,” katanya. dan feminis Muslim Lies Marcoes-Natsir mengatakan,
Perjuangan perempuan memperoleh haknya berawal dari perseteruan itu antara lain dipicu oleh kenyataan lemahnya
keberanian R.A Kartini menggugat tradisi dan agama yang kelompok feminis sekuler dalam menjawab persoalan teologis
berkelindan dengan politik jajahan. Kartini menuntut hak seputar isu jender. Maka hadirnya aktivis perempuan yang
pendidikan kaumnya. Upaya ini diikuti Nyai Ahmad Dahlan punya basis agama dapat mencairkan hubungan keduanya.
yang selalu menganjurkan kaum perempuan berkiprah di Inilah momentum awal kebangkitan gerakan feminis
masyarakat. Suaminya, KH. Ahmad Dahlan, yang memberi Indonesia pasca pergerakan. Kerja bersama dua kelompok
inspirasi. Pendiri tersebut antara lain
Muhammadiyah mengundang dan
itu pernah berkata, menerjemahkan
“Pekerjaan dapur karya narasumber
jangan dijadikan internasional, seperti
penghalang untuk Asghar Ali Engineer
menjalankan tugas dan Riffat Hassan.
dalam masyarakat.” Menurut Lies, kemesraan
Anjuran itu dua kelompok itu
membangkitkan menghasilkan gerakan
minat perempuan perempuan dalam tiga
melakukan aktivitas lapisan.
sosial. Pada 1914, Nyai Di lapisan
Dahlan mendirikan atas, sekelompok
perkumpulan Sopo feminis melakukan
Tresno. Perkumpulan perjuangan politik
itu melahirkan dengan mendesakkan
dok.WI/ Gamal Ferdhi

Aisyiyah pada 1915. pengarusutamaan


Organisasi perempuan jender dalam regulasi.
yang bergabung Pada lapisan tengah,
dalam Persyarikatan ormas perempuan
Muhammadiyah pada Islam dan sekuler
1922 itu, memilih Sinta Nuriyah Wahid (tengah) dalam peluncuran sebuah buku menggelar banyak
pendidikan sebagai loka karya Islam dan
alat perjuangan bagi kemajuan perempuan. jender. Sedang di lapisan akar rumput, para muballighat
Strategi Aisyiyah juga ditempuh Rahmah el-Yunusiyyah di mengaktualisasikan gagasannya lewat jaringan pesantren
Padang Panjang. Dia mendirikan Madrasah Diniyah li al-Banat dan majelis taklim. Pesantren menjadi dapur gerakan itu. Dari
(sekolah agama untuk perempuan, red.) pada 1923. “Pendirian sana lahir agamawan yang membela hak-hak perempuan
madrasah itu untuk mengoreksi sistem pendidikan Barat yang seperti KH. Husein Muhammad (lihat: ’Memulung’ Kebenaran
dikembangkan Pemerintah Belanda,” jelas Sinta Nuriyah Wahid Terpinggirkan).
saat berkunjung ke sekolah tersebut awal Februari 2001. Selain itu, kalangan LSM perempuan di berbagai level
Kesadaran membebaskan perempuan juga datang dari terus bekerja. Yayasan Rahima Jakarta, misalnya, tekun
pesantren tradisional. KH. Bisri Syansuri membuka madrasah menyorot Perda ‘bertopeng’ agama yang diskriminatif
khusus santri putri di Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Jombang terhadap perempuan. PUAN Amal Hayati Jakarta, menangani
pada 1930. Kerabatnya yaitu Menteri Agama Wahid Hasyim isu kekerasan dalam rumah tangga dan membuka Woman
pada awal 1950-an mulai mengizinkan perempuan kuliah di Crisis Center PUSPITA di beberapa pesantren. Fahmina Cirebon
Sekolah Guru Hakim Agama Islam, embrio Fakultas Syariah melakukan sosialisasi ide lewat media, seperti rekaman
jurusan Qadha’ di IAIN. qasidah dan shalawat. Mereka juga bekerja keras membaca
Jauh sebelum itu, Syeikh Arsyad al Banjari, seorang ulama ulang teks-teks keagamaan serta merumuskan metodologi
abad 19 dari Banjarmasin, pernah memfatwakan pembagian yang memungkinkan untuk pembacaan ulang relasi lelaki dan
waris berdasarkan ‘Adat Perpantangan’. Harta waris dibagi perempuan (lihat: Gelombang Feminisme Islam di Indonesia).
dua dahulu antara suami dan istri, kemudian baru dibagikan Fase rintisan telah dilalui dalam pengalaman
kepada ahli waris. Keputusan fiqh ini dilatarbelakangi konteks keindonesiaan. “Setiap gerakan perempuan lahir dari
sosial-ekonomi masyarakat Banjar, di mana sumber ekonomi pengalaman dan rahimnya sendiri”, ujar Fathia Nadia dari
keluarga diperoleh dari hasil kerja bersama antara suami dan Komnas Perempuan. Melihat itu Ziba menilai, “Seharusnya
istri. Hukum ini amat menghargai peran perempuan dalam sinar gerakan perempuan Islam di dunia berpusat dan
rumah tangga. Gus Dur menilai, langkah Syeikh Arsyad itu berpancar dari Indonesia”. Sebuah pujian sebagai hasil kerja
adalah kontekstualisasi Islam Indonesia di bidang hukum keras yang panjang. Hasil itu kini bisa dituai.
agama yang tidak pernah dicapai oleh negara-negara Islam
Gamal Ferdhi, Rumadi
lain pada zamannya.
Dalam perkembangannya, perempuan Muslim Indonesia

12 Suplemen the Wahid Institute Edisi III / Majalah Gatra - Edisi Khusus Januari 2006
Menanam Gerakan Menuai Kesetaraan

Masa Depan
yang Menantang
dok. pribadi

Oleh: Budhy Munawar-Rachman


Pengamat Islam dan Kesetaraan Jender

PERKEMBANGAN pemikiran dan advokasi jender di


kalangan masyarakat Islam menunjukkan tanda-tanda yang
menggembirakan, sekaligus mencemaskan. Menggembirakan,
karena advokasi yang memikirkan ulang dan membela hak-
hak perempuan telah mengalami kemajuan yang sangat
signifikan selama 15 tahun belakangan ini. Banyak hal yang
tak terpikirkan tentang isu jender dalam Islam, sekarang

dok.WI/ Gamal Ferdhi


terpikirkan secara lebih jernih, terutama hal yang menyangkut
keterlibatan perempuan Muslim dalam publik, baik dalam
kehidupan sosial maupun politik.
Advokasi yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga
Islam, seperti NU, Muhammadiyah, LSM, maupun Pusat Studi Pemisahan ruang saat kampanye di Aceh
Wanita (PSW) di berbagai UIN/ IAIN/ STAIN menunjukkan
kemajuan yang sangat menggembirakan. Bukan hanya
karena tersedianya berbagai model analisis jender, tetapi juga analisis fiqh klasik mendapatkan tantangan yang cukup keras
telah tumbuh subur gerakan-gerakan yang menyemai ide di lingkungan Islam. Ambil contoh mengenai penolakan
kesetaraan jender ini dalam masyarakat Muslim di Indonesia. Counter Legal Draft (CLD) atas Kompilasi Hukum Islam yang
Sehingga boleh dikatakan, dari berbagai pemikiran Islam, telah ditolak oleh Departemen Agama.
pemikiran dan advokasi jender menempati perkembangan Dari segi eksternal NU dan Muhammadiyah, dan institusi-
terdepan. Bandingkan dengan perkembangan isu pluralisme, institusi Islam, isu jender mendapat tantangan yang sangat
yang sekarang semakin kontroversial. Isu pluralisme sampai keras khususnya setelah ditetapkannya otonomi daerah dan
sekarang belum mempunyai suatu kerangka yang mapan dan penerapan syari‘ah Islam di beberapa kabupaten. Isu syari‘ah
lengkap tentang apa itu “Pluralisme dalam Islam?” Apalagi ini perlu diperhatikan sungguh-sungguh, terutama berkaitan
sebagai modul pelatihan. dengan dampaknya terhadap perempuan. Misalnya penerapan
Berbeda dengan isu jender. Isu ini telah berkembang syari’ah sangat potensial menguatkan budaya patriarki dan
ke arah kemajuan penafsiran Islam yang sangat egaliter. kontrol terhadap perempuan dengan dasar legitimasi agama
Para aktivis telah menulis karya-karya yang sangat bermutu yang mapan. Ini sangat mungkin terjadi karena sedikitnya
menyangkut penafsiran Islam atas kesetaraan jender representasi perempuan dalam DPRD, atau Majelis Ulama
ini. Dan yang sangat mengesankan, sebagian dari karya di Daerah. Apalagi kalau ada fatwa dari ulama-ulama di
mereka mempunyai reputasi internasional, ketika misalnya daerah, yang biasanya didasarkan pada kitab kuning, tidak
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Arab. menyertakan usaha memahaminya secara kontekstual.
Meski perkembangan isu jender sangat menggembirakan, Akhirnya, perjuangan kesetaran jender adalah perjuangan
bukan berarti tidak ada tantangan. Tantangan pertama yang demokrasi. Keberhasilan dalam penguatan isu jender akan
bisa dicatat adalah dinamika internal dalam dua organisasi menjadi keberhasilan dalam penguatan demokrasi di
massa Islam terbesar. Banyak analis yang mengemukakan Indonesia. Sejauh ini kita sudah melihat perkembangan yang
bahwa wajah Islam di Indonesia sangat ditentukan oleh wajah sangat menggembirakan dalam pengembangan pemikiran
Islam dari kedua organisasi ini. Islam di Indonesia akan tampak Islam mengenai jender, dan mainstreaming jender di pesantren
konservatif, kalau wajah Islam di NU dan Muhammadiyah maupun masyarakat. Tetapi tantangan-tantangan ke depan
konservatif. Begitu juga sebaliknya. juga mengkhawatirkan. Diperlukan suatu pemecahan kreatif
Bersamaan dengan perkembangan yang sehingga gagasan dasar tujuan pengembangan pemikiran
menggembirakan, kita juga melihat arus konservativisme dan advokasi jender dalam Islam bisa mencapai cita-cita besar
dari kalangan NU dan Muhammadiyah yang menolak isu- mengenai kesetaraan, harkat, dan kebebasan perempuan
isu kesetaraan jender. Isu seperti hak-hak reproduksi dan dalam memilih dan mengelola kehidupannya baik di dalam
kepemimpinan perempuan, masih menjadi kontroversi. Itu maupun di luar rumah tangga, sejalan dengan cita-cita
sebabnya perkembangan fiqh perempuan yang menggunakan penguatan civil society.

Suplemen the Wahid Institute Edisi III / Majalah Gatra - Edisi Khusus Januari 2006 13
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Gelombang Feminisme Islam di Indonesia


PERJUANGAN kesetaraan dan keadilan gender (sebut saja feminisme) telah berlangsung cukup lama. Terbentang cukup jauh, sebelum
Indonesia menyatakan kemerdekaannya, hingga era reformasi ini. Tokoh-tokohnya pun cukup beragam. Begitu juga menyangkut isu
yang diusung. Jika kita kategorisasikan, gerakan feminisme di Indonesia setidaknya mempunyai empat gelombang .

Akhir abad 19-Awal Abad 20

Tahap rintisan yang diinisiasi oleh individu-individu. Belum terlembagakan dan terorganisasikan secara sinergik. Periode ini kira-kira
berlangsung semenjak akhir abad 19 dan awal abad 20. Tokoh-tokohnya yang banyak tercover dalam sejarah, antara lain, adalah RA
Kartini, Rohana Kudus dan Rahmah el-Yunusiyah. Mereka bukan hanya menuntut adanya perbaikan bagi pendidikan perempuan,
tapi juga secara spesifik menggugat praktek poligami, pernikahan dini, dan perceraian yang diselenggarakan secara sewenang-
wenang. Gerakan individual seperti ini tentu saja tidak bisa diharapkan akan memiliki pengaruh yang cukup signifikan dan massif.
Mereka seperti berteriak di tengah belantara dunia patriarki.

Tahun 1920-1950

Institusionalisasi gagasan yang ditandai dengan bermunculannya organisasi-organisasi perempuan seperti Persaudaraan Isteri,
Wanita Sejati, Persatuan Ibu, Puteri Indonesia, dan lain-lain. Periode ini berlangsung antara tahun 1920-an hingga akhir tahun 1950-
an. Isu yang berkembang dalam periode ini masih sama dengan periode sebelumnya, yaitu emansipasi perempuan di pelbagai
bidang, termasuk juga resistensi mereka terhadap poligami, pembenahan bagi pendidikan perempuan. Hasil dari gerakan periode
kedua ini, antara lain adalah lahirnya UU No. 22 Tahun 1946 yang salah satu pasalnya menyebutkan bahwa perkawinan, perceraian,
dan rujuk harus dicatatkan. Tahun 1957, melalui Konferensi Besar, Nahdlatul Ulama (NU) memperbolehkan perempuan masuk dalam
lembaga legislatif.

Tahun 1960-1980

Emansipasi perempuan dalam pembangunan nasional. Periode ini berlangsung semenjak tahun 1960-an hingga 1980-an. Bersamaan
dengan semakin membaiknya pendidikan kaum perempuan, tanpa canggung sejumlah perempuan terlibat di dalam proses pemba-
ngunan yang saat itu digalakkan Orde Baru. Ormas keagamaan tradisional seperti NU mulai memasukkan perempuan ke dalam
jajaran pengurus Syuriyah NU. Tercatatlah nama-nama seperti Nyai Fatimah, Nyai Mahmudah Mawardi, Nyai Khoiriyah Hasyim
sebagai anggota syuriyah. Namun, tetap harus dicatat bahwa karena pelbagai faktor, perempuan yang masuk dalam ranah publik itu
belum cukup proaktif dalam pengambilan-pengambilan keputusan.

Tahun 1990 hingga sekarang

Diversifikasi dan massifikasi gerakan perempuan hingga level terbawah dengan lahirnya LSM yang concern dengan isu perempuan.
Ini berlangsung antara tahun 1990-an hingga sekarang. Kini keterlibatan tokoh-tokoh pesantren dalam gerakan kesetaraan gender
demikian intensif. Ini hampir tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan pada gelombang yang terakhir ini pula telah terjadi sinergi
dan titik temu antara feminis sekuler dan feminis Muslim. Feminis sekuler yang kerap mendapatkan hambatan teologis terus
mendapatkan sokongan dalil dari para feminis Muslim. Muara yang hendak dituju dari keduanya adalah sama, yaitu terhapuskannya
diskriminasi terhadap perempuan dengan alasan apapun. Tokoh-tokoh seperti Ny Sinta Nuriyah Wahid, Mansour Faqih (alm.), Lies
Marcoes-Natsir, KH. Husein Muhammad, Nasaruddin Umar, Siti Musdah Mulia, Ruhaini Dzuhayatin, dan banyak lagi, patut dicatat atas
kegigihannya dalam memperjuangkan keadilan gender. Di bawahnya kini telah lahir feminis Muslim muda yang relatif tangguh dan
militan seperti Faqihuddin Abdul Kodir, Badriyah Fayumi, Ratna Batara Munti, Marzuki Wahid, dan lain-lain.
Abd. Moqsith Ghazali

14 Suplemen the Wahid Institute Edisi III / Majalah Gatra - Edisi Khusus Januari 2006
Siti Ruhaini Dzuhayatin

Kesetaraan
dalam Pesan Ibu
“WONG wedok kudu duwe duit dhewe. Paling ora kanggo kebutuhane dhewe.
Dadi, yen arep tuku wedak, ora kudu njalok bojo. Ben ora disepeleake mergo
kabeh nggantungake urip nang bojo (Perempuan harus punya uang sendiri,
minimal untuk kebutuhan sendiri. Jadi, jika mau membeli bedak tidak perlu

dok. pribadi
minta suami. Biar tidak disepelekan karena bergantung hidup sepenuhnya pada
suami, red.)”
Siti Ruhaini Dzuhayatin

Siti Ruhaini Dzuhayatin, 42 tahun, masih ingat pesan Kepedulian mahasiswi S3 Jurusan Sosiologi Universitas
sederhana ibunya itu, yang menyiratkan kesetaraan peran Gajah Mada terhadap ketidakadilan jender berawal saat
antara laki-laki dan perempuan. Namun, selama enam tahun masih duduk di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri
menjadi santri di Pesantren Pabelan Magelang, dia merasa (kini UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pada awal 1990-an, dia
banyak perlakuan diskriminatif terhadap santri perempuan. memulai promosi gagasan-gagasannya tentang relasi jender
Mulai dari materi ajaran hingga kebijakan-kebijakan pesantren. dalam Islam, walau isu ini masih menjadi kajian terbatas.
“Ketika menelaah kitab-kitab yang diajarkan, semuanya “Berbagai literatur yang bias jender, termasuk penafsiran-
bermuara pada ketidakberuntungan perempuan. Beragam penafsiran terhadap al-Qur’an dan Hadits, saya kaji,” ungkap
pertanyaan mengusik saya. Pasti ada yang salah dengan tradisi peraih MA dari Monash University Australia.
(pesantren, red.) ini,” ujar Ruhaini yang lahir dari keluarga Maka dalam bukunya berjudul Feminist Theology and
Muhammadiyah yang terpelajar. Islam in Indonesia Ruhaini menawarkan hermeneutika, sebuah
metode interpretasi untuk memahami makna
teks agar ketepatan pemahaman dan
penjabaran pesan-pesan Allah itu
dapat ditelusuri secara komprehensif.
“Berdasar metode ini, tidak ada grand
narrative (cerita besar, red.) laki-laki.
Justru yang dikedepankan adalah
konsep kesetaraan laki-laki dan
perempuan,” jelas pemimpin Pusat
Studi Wanita (PSW) UIN Yogyakarta.
Selain di tataran pemikiran,
Ruhaini juga getol mendorong isu
kesetaraan jender tercermin dalam
program-program Muhammadiyah.
Hingga Perempuan kelahiran
Blora, Jawa Tengah ini pun menjadi
perempuan pertama yang dapat
menembus keanggotaan Majelis
Tarjih dan Pengembangan Pemikiran
Islam Muhammadiyah, lembaga
yang memutuskan hukum dan
doktrin bagi organisasi Islam itu.
Subhi Azhari, Gamal Ferdhi

dok.WI/ Gamal Ferdhi

Suplemen the Wahid Institute Edisi III / Majalah Gatra - Edisi Khusus Januari 2006 15
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Islam, tak ada penindasan terhadap perempuan,” jelas


pengasuh PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon ini.
Karena itu dia berpendapat, ketidakadilan dan
kekerasan terhadap perempuan yang terdapat dalam
kitab klasik harus dihilangkan. Ditambahkannya, Nabi
Muhammad sendiri membawa pesan keadilan jender
di tengah budaya patriarki. “Ketika ada perempuan
yang lahir dibunuh secara diam-diam, al-Qur’an
mengkritiknya dengan nada sinis dan pengingkaran,”
kata Kang Husein seraya mengutip QS. al-Takwir [81]:
8-9. Bahkan perempuan kala itu terus mendapatkan
keadilan. “Ketika masyarakat Jahiliah tak memberikan
hak waris pada perempuan, al-Qur’an memberikan
satu banding dua,” ungkap pendiri Balkis Women‘s
Crisis Center Cirebon ini.
Dari prinsip bahwa Islam berlaku adil kepada
semua manusia, penulis buku Islam Agama Ramah
Perempuan ini berpendapat, “Perempuan dibolehkan
menjadi imam shalat bagi perempuan maupun laki-
dok.WI/ Witjak

laki.”

KH. HusSein Muhammad

‘Memulung’ Kebenaran
Terpinggirkan
KH. HUSSEIN Muhammad adalah sedikit kiai Indonesianis asal Perancis Andree Feillard,
yang gelisah menatap ketidakadilan terhadap mempunyai penilaian tentang Kang Husein. “Dia
perempuan. Menurutnya, sistem budaya dan agama selalu berusaha mencari makna esensial yang
turut memberi kekuatan besar bagi terciptanya tertanam dalam satu ayat atau hadis menyangkut
subordinasi dan ketertindasan kaum perempuan. jender. Dan yang paling berani adalah soal
Dia melanjutkan, keterlibatan agama itu disebabkan kepemimpinan dalam shalat,” tegasnya.
ketidakmampuan agamawan memilah antara teks Kekaguman juga datang dari KH. A. Sahal
agama yang mencerminkan makna universal dengan Mahfudz. “Sebagai seorang yang memiliki latar
yang kontekstual. belakang tradisi kitab kuning, Kiai Hussein mampu
“Terganggu dengan kenyataan itu, saya lalu memetakan berbagai ketimpangan hubungan laki-
mencari jawabannya melalui kajian teks-teks laki dan perempuan secara teliti dan kritis,” katanya.
keagamaan klasik yang kebetulan menjadi basis Itulah Kang Hussein, yang dijuluki Ulil Abshar-
intelektual saya,” ujar Kang Hussein sapaan akrabnya. Abdalla sebagai ‘pemulung’ wacana terpinggirkan.
Hasilnya, penulis buku Fiqh Perempuan ini melihat “Ada yang bilang al-khata’ al-masyhur khairun min al-
apa yang tertera dalam kitab klasik adalah interpretasi shawab al-mahjur (kesalahan yang populer lebih baik,
dan responsi ulama terdahulu terhadap kebudayaan dari kebenaran yang dipinggirkan). Saya memang
setempat. “Menutup peluang penafsiran kembali atas ‘pemulung’ wacana al-shawab al-mahjur itu,” pendiri
teks-teks kitab suci merupakan penghinaan terhadap Fahmina Institute Cirebon ini mengakui.
kitab suci itu sendiri. Padahal jika merujuk esensi dasar Nurul H. Maarif

16 Suplemen the Wahid Institute Edisi III / Majalah Gatra - Edisi Khusus Januari 2006
Memecah Kebekuan Regenerasi Ulama

dok. pribadi

Wisuda Mahasantri Ma’had Aly Darus-Sunnah

Memecah Kebekuan
Regenerasi Ulama
Untuk mengisi stok ulama mumpuni yang semakin menipis, berbagai upaya ditempuh.
Ma’had Aly (pesantren tinggi) jadi salah satu harapan.

R
uang dosen jurusan Aqidah Filsafat Universitas Islam kemampuan terendah.
Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, siang itu ”Mereka harusnya sudah mampu membaca dan
dipadati mahasiswa. Mereka antri untuk mengikuti memahami literatur-literatur klasik Islam, yang lazim disebut
praktikum qira’ah (membaca al-Qur’an, red.). Dua tahun kitab kuning. Ilmu-ilmu penopang seperti nahw, sharf,
terakhir, praktikum qira’ah menjadi kegiatan wajib, terutama balaghah, mantiq dan ma’ani, penting dikuasai,” kata Guru
Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
bagi mahasiswa semester awal. Pasalnya, banyak orang
Jakarta Prof. Dr. Hj. Chuzaimah Tahido Yanggo kepada Subhi
prihatin atas menurunnya kemampuan membaca kitab Azhari dari the WAHID Institute.
suci di kalangan mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam Kenyataan sebaliknya diungkap Kama Rusdiana, dosen
(PTAI). Padahal dalam rangking keahlian agama, itu adalah di universitas yang sama. ”Praktikum qira’ah saja banyak yang

Suplemen the Wahid Institute Edisi IV / Majalah Gatra / 4 Februari 2006 17


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/ Gamal Ferdhi

Calon Ulama di PonPes Ciwaringin , Cirebon

tidak lulus kok,” kata Sekretaris Jurusan Perbandingan Mazhab khusus mempersiapkan lahirnya ahli fikih. Maka pada 1989,
dan Hukum Fakultas Syari’ah ini. Kiai As’ad menggelar halaqah (forum diskusi, red.) dengan
Pandangan senada datang dari Direktur Pendidikan mengundang tak kurang dari 100 kiai.
Keagamaan dan Pondok Pesantren Departemen Agama Mereka di antaranya KH. Ali Yafie, KH. Abdul Muchith
(Pekapontren Depag) Amin Haidari. Bahkan ia menilai, PTAI Muzadi, KH. Sahal Mahfudz, KH. Abdul Wahid Zaini (alm.),
telah mengalami disorientasi. ”Harusnya PTAI dipersiapkan KH. Fahmi Saifuddin (alm.), KH. Tolchah Hasan, KH. Yusuf
untuk melahirkan ulama, tapi dalam kenyataannya tidak,” kata Muhammad (alm.) dan KH. Masdar F. Mas’udi. Selanjutnya
Amin (lihat: Semua Ma’had Aly Bisa Diakui Pemerintah). pada 1990, berdiri Ma’had Aly di Ponpes Sukorejo, Situbondo
Kebekuan regenerasi ulama itu juga pernah meresahkan dengan nama al-Ma’had al-Aly li al-’Ulum al-Islamiyah Qism al-
para tokoh muslim. Untuk mengatasi masalah itu, organisasi Fiqh –biasa disebut Ma’had Aly Situbondo, dengan spesialisasi
massa Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah fikih dan ushul fikih.
pun bergegas mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam Mulai tahun 2000, Ma’had Aly Situbondo membuka kelas
‘alternatif’. perempuan, sehingga membuka kesempatan bagi hadirnya
Seperti upaya KH. As’ad Syamsul Arifin di penghujung sosok perempuan yang ahli di bidang fikih. Sejumlah buku
tahun 80-an. Syahdan, pengasuh Ponpes Sukorejo, Situbondo kreasi santri Ma’had Aly Situbondo telah diterbitkan, seperti
itu gundah melihat banyak kiai sepuh NU meninggal dunia. Fikih Rakyat: Pertautan Fikih dan Kekuasaan (LKiS, 2002) dan
Sedang generasi baru yang mampu mengemban misi lain-lain.
keagamaan dan kemasyarakatan organisasi Islam terbesar itu, Layaknya perguruan tinggi, Ma’had Aly selanjutnya
belum kunjung tampak. disingkat MA, juga memiliki kurikulum, penjenjangan,
Menurut Abdul Moqsith Ghazali dalam penelitiannya masa studi, rekruitmen, proses pembelajaran dan evaluasi
berjudul Proses Pembelajaran di Ma’had Aly Sukorejo, pembelajaran. Tapi sesuai watak pondok pesantren yang
Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, dari kegundahan itu KH. beragam, wujud MA pun berbeda-beda. “Pendidikan di MA
As’ad berencana membentuk lembaga pendidikan yang secara Situbondo ditempuh selama tiga tahun. Sistem SKS juga

18 Suplemen the Wahid Institute Edisi IV / Majalah Gatra / 4 Februari 2006


Memecah Kebekuan Regenerasi Ulama

diterapkan di sana,” ujar Hendra Tirtana, alumni MA Situbondo ulama. Tujuan ini serupa dengan pendirian pesantren tinggi
2002. di lingkungan Muhammadiyah (baca: Candradimuka Kader
Dengan menambah beberapa prasyarat, santri MA Unggulan). MA merupakan institusi pencetak ulama yang
Situbondo setara dengan lulusan Strata 2 (S2). Kendati mampu menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, terutama
fiqh dan ushul fiqh diutamakan, namun pelajaran lain penguasaan kitab-kitab klasik yang menjadi referensi para
tak dikesampingkan. “Malah sekarang ada al-fikr al-hadits ulama. “Dalam beberapa unsur, ia setingkat dengan perguruan
(pemikiran kontemporer),” imbuh Hendra yang kini menempuh tinggi, tapi lebih fokus pada pendidikan tinggi bertradisi
Pascasarjana UIN Jakarta. pesantren,” jelas Dudung.
Lain lagi Ma’had Darus-Sunnah al-‘Aly li ‘Ulum al-Hadits Namun demikian, MA tidak bisa disamakan dengan
Ciputat, Banten. Lembaga pendidikan ini mengedepankan perguruan tinggi Islam lain seperti Institut Agama Islam (IAI)
disiplin hadis dan ilmu hadis. “Bahkan kurikulum hadis dan atau Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) baik negeri maupun
ilmu hadis di sini lebih tinggi ketimbang S2 IIQ (Institut Ilmu swasta. Ijazah formal dan ujian persamaan untuk memperoleh
Qur’an) maupun UIN,” terang Abdullah Syafi’i Damanhuri, ijazah negara, juga tidak pernah dikeluarkan MA kepada santri
musyrif (asisten dosen) MA Darus-Sunnah. yang telah lulus.
Kitab-kitab yang diajarkan, imbuhnya, adalah kitab utama “Tapi hardware dan software pendidikannya seperti
dalam hadis dan ilmu hadis, seperti al-Kutub al-Sittah, Tadrib pondok pesantren, dengan berbagai kultur dan tradisi yang
al-Rawi, al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, juga Taysir Mushthalah melingkupinya. Tapi karena kekhususannya, MA di berbagai
al-Hadits. “Tapi bukan berarti kitab fikih seperti Bidayah al- pesantren diberi fasilitas khusus seperti asrama, ruang kelas,
Mujtahid atau kitab ushul fikih seperti al-Asybah wa al-Nadhair perpustakaan dan sarana aktualisasi seperti penerbitan atau
dilupakan begitu saja. Keduanya turut dikaji di sini,” jelasnya. ceramah di luar ponpes,” jelas Marzuki Wahid.
Sistem SKS juga diterapkan di MA yang didirikan Prof. DR. Hal lainnya, adalah metode pembelajarannya yang
KH. Ali Mustafa Yaqub, MA pada 1997 ini. Pada akhir semester, melibatkan santri sebagai subyek belajar. “Kitab yang dikaji
mahasantri juga diwajibkan membuat risalah (skripsi). “Santri relatif tinggi dan cara mengkaji yang lebih kritis,” imbuh
menempuh pendidikan di sini selama delapan semester,” Marzuki.
terang Abdullah. Kepala Seksi Pendidikan Keagamaan Departemen Agama
Ada juga MA yang diorientasikan mencetak ahli tafsir Imam Syafe’i mengungkap, sebanyak 25 MA telah mendaftar
dan hadis, seperti MA al-Hikmah Sirampog, Brebes yang ke instansinya. Lembaga-lembaga itu antara lain berada di
didirikan oleh KH. Masruri Mughni. Mulanya, sejak 1984 ia Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan,
berbentuk Takhashshush Qira’atil Kutub yang dibangun untuk Lampung, Jawa dan Nusa Tenggara Barat.
mengintensifkan kajian kitab kuning. Pada 1997 lembaga itu “Tapi baru satu MA yang diakui pemerintah yaitu MA
diubah menjadi MA dengan spesialisasi tafsir-hadis. Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo. Sisanya masih mengikuti
Mahasantrinya juga diwajibkan menulis risalah di akhir standarisasi kurikulum,” jelas Imam Syafe’i kepada Rumadi dari
semester. “MA ini bekerja sama dengan STAISA (Sekolah the WAHID Institute.
Tinggi Agama Islam Sholahuddin al-Ayyubi) Jakarta untuk Saat ini sebagian besar MA dan pesantren tinggi yang
memperoleh ijazah S1,” ungkap Marzuki Wahid dalam artikel ada masih dalam perjuangan antara hidup dan mati. Kendala-
berjudul Ma’had Aly: Nestapa Tradisionalisme dan Tradisi kendala teknis seperti persediaan dana yang relatif minim
Akademik yang Hilang (Tashwirul Afkar XI/2001). karena hanya mengandalkan cadangan uang pesantren,
Sedangkan MA Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, menyebabkan MA kurang lincah dalam bergerak.
Tasikmalaya difokuskan pada bidang akidah. Ini seiring de- Menurut Abdul Moqsith Ghazali, sebagian besar MA
ngan keahlian pendirinya KH. Choer Affandi. Mahasantri MA, tak ditunjang oleh fasilitas yang memadai. Buku-buku yang
yang didirikan pada 1980, ini harus menempuh masa studi tiga tersedia dalam rak-rak perpustakaan MA juga sangat terbatas.
tahun. Kitab-kitab yang diajarkan misalnya, Ghayah al-Wushul, “Ini artinya mengelola lembaga pendidikan dengan
Uqud al-Juman, Fath al-Wahhab, dan sebagainya. tuntutan yang demikian tinggi tak cukup hanya dengan
Karena masih menerapkan sistem salaf seperti halaqah bermodal semangat dan niat baik. Ada yang harus dipenuhi
(diskusi), bandongan (kiai membaca kitab dan santri-santri seperti perpustakaan yang lengkap, di samping dosen yang
mencatat keterangannya) dan sorogan (santri satu per-satu bagus dan lingkungan belajar yang kondusif,” kata kandidat
membaca kitab di hadapan kiai), MA ini dinilai masih kental doktor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.
sistem pendidikan tradisionalnya. “Di sana tidak dikenal SKS,” Terlepas dari produk yang belum maksimal itu, apresiasi
jelas Dudung Abdurrahman dalam penelitiannya, Membangun terhadap para pendiri MA dan pesantren tinggi tetap harus
Konsep Pendidikan Ma’had Aly (Istiqro’ vol. 3 No. 1/2004) . diberikan. Komitmen para kiai dan ulama untuk turut
Sedang MA Islam al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, yang memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas santri dan
didirikan pada 1988, menanamkan keahlian dakwah. Lembaga mengatasi kelangkaan ulama yang bermutu di negeri ini patut
dalam naungan Yayasan Pendidikan Islam dan Asuhan Yatim dipuji.
Muslim al-Mukmin ini dibidani Abdullah Sungkar, Abu Bakar Itulah upaya menghindari kedangkalan pemahaman ilmu
Ba’asyir dan Abdullah Baraja’. MA ini memformulasi ilmu-ilmu keislaman, yang menurut KH. Abdurrahman Wahid sebagai
keislaman dan modern. sumber konservatisme, bahkan terorisme.
“Selain mengajarkan tafsir, ilmu tafsir, ilmu hadis, hadis, Kita tak pernah bisa membayangkan, apa jadinya sebuah
akhlak, juga mengajarkan psikologi, sosiologi, hukum, negeri yang hanya dimuati oleh taburan fatwa para ulama
metodologi riset dan sebagainya, dengan sistem SKS,” ungkap ‘karbitan’ yang berkualifikasi rendah. Kata Rasulullah SAW,
Dudung. mereka akan berfatwa tak berdasarkan ilmu, sehingga mereka
Terlepas dari perbedaan-perbedaan format itu, tujuan berada dalam ketersesatan dan akan menyesatkan.
awal didirikannya MA adalah untuk mengantisipasi krisis Gamal Ferdhi, Subhi Azhari, Nurul H. Maarif

19 Suplemen the Wahid Institute Edisi IV / Majalah Gatra / 4 Februari 2006 19


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

H. Amin Haidari, MA.


Direktur Pekapontren Depag RI

Semua Ma’had Aly


bisa Diakui Pemerintah
dok.pribadi

KEBERADAAN Ma’had Aly masih menyisakan banyak masalah. Mulai dari kompetensi alumni,
standarisasi kurikulum hingga pengakuan pemerintah. Pemerintah telah memiliki rencana untuk
mengatasi problem itu. Berikut wawancara Subhi Azhari dari the WAHID Institute dengan Direktur
Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren) Depag RI H. Amin Haidari, MA.

Bisa dijelaskan tentang Ma’had Aly pendidikan keagamaan non-formal. terhadap kualitas MA itu sendiri
(MA)? dilakukan oleh pakar yang bersangkutan
MA merupakan pendidikan Mana yang mendapat pengakuan atau praktisi MA, semacam Dewan
keagamaan yang berfungsi pemerintah? MA yang terdiri dari pakar dan tokoh
mempersiapkan peserta didik untuk Keduanya bisa dapat pengakuan pendidikan, khususnya pendidikan
menjadi ahli agama (tafaqquh fi al- dari pemerintah, seperti ditegaskan keagamaan. Dalam konteks ini, Depag
din). Ini berbeda dengan madrasah dalam SNP (Standar Nasional Pendidikan) hanya berfungsi administratif dalam
yang menampilkan dirinya sebagai No. 19 tahun 2005 pasal 93. Namun pengembangan MA.
lembaga pendidikan umum berciri pengakuan itu disesuaikan dengan MA
khas Islam. MA juga sebagai benteng bersangkutan. Jika MA itu formal, maka Bagaimana cara MA mendapat
terakhir dalam mempertahankan nilai- lulusannya berhak mendapat legalisasi penyetaraan?
nilai kepesantrenan, misalnya nilai formal (ijazah PT, red.), baik untuk S1, Penyetaraan MA dilakukan melalui
kemandirian, tradisi keilmuan, nilai-nilai S2, atau S3. Sedang MA non-formal, usulan dari MA ke Badan Standar Nasional
kesederhanaan, dan ketokohan kiainya. pengakuannya diberikan dalam bentuk Pendidikan (BSNP). Memang, legalitas
Karena MA berfungsi sebagai lembaga sertifikat takhashshush sesuai keilmuan formal hanya dikeluarkan oleh BSNP,
pengkaderan ulama, maka lembaga ini yang dikaji. Nantinya, sebagai lembaga tetapi penentuan itu didasarkan pada
berorientasi pada pendalaman ilmu-ilmu pendidikan keagamaan tinggi, MA harus rumusan yang sebelumnya kita sepakati.
keislaman. mengikuti ketentuan PT. MA yang setara Kami, Direktorat Pekapontren hanya
S1 misalnya, harus menggelar kajian- mengesahkan usulan yang diajukan dari
Bagaiman posisi MA dalam sistem kajian keilmuan dengan bobot minimal setiap MA yang bersangkutan.
pendidikan nasional? 140 SKS.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Selama ini apakah sudah ada MA yang
Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan, Lalu apa bedanya dengan Perguruan disetarakan?
pendidikan keagamaan bisa diselengga- Tinggi Agama Islam (PTAI)? Ini memang sudah dilakukan di MA
rakan dalam jalur pendidikan formal, PTAI telah mengalami disorientasi. Salafiyah Syafi’iyah Situbondo untuk
non-formal, dan informal. Jadi, MA itu ada Harusnya PTAI dipersiapkan untuk setara S2.
dua model. MA formal yang mengikuti melahirkan ulama, tapi dalam
aturan Perguruan Tinggi (PT) dan MA kenyataannya tidak. Karena itu, jangan Saran Anda untuk MA selanjutnya?
takhashshush (bidang kajian khusus, red.) sampai kita terjerumus pada kesalahan MA ke depan harus mampu
yang tidak terikat dengan PT. Posisi MA yang sama. melahirkan ulama yang mampu
formal berbeda dengan MA takhashshush mengintegrasikan tradisi keilmuan
yang ada di pesantren-pesantren. MA Langkahnya bagaimana? pesantren dan tradisi akademik
takhashshush itu masuk dalam kategori Harus ada akreditasi. Kontrol perguruan tinggi.

20 Suplemen the Wahid Institute Edisi IV / Majalah Gatra / 4 Februari 2006


Memecah Kebekuan Regenerasi Ulama

dok.Pondok Shabran
Rangkaian kegiatan Pondok Shabran

PONDOK NURIYAH Shabran

Candradimuka
Kader Unggulan
PONDOK Shabran adalah salah satu pesantren tinggi sistem SKS,” katanya. Pelajaran pokok di pondok ini antara
yang dimiliki Muhammadiyah. Gedung pondok ini berasal lain dakwah dan pemikiran Islam, dan tafsir hadits.
dari wakaf Hajjah Nuriyah Shabran kepada Universitas Tak sebatas teori, pondok ini juga menerjunkan
Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 80-an, santrinya ke masyarakat. ”Dakwah di masyarakat seperti
sehingga nama sang pewakaf diabadikan pondok itu, pada bulan Ramadhan, pembinaan masjid dan majlis
yaitu Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran taklim, juga menjadi program di sini,” jelas Syamsul.
UMS, kerap disebut Pondok Shabran. Menurut Syamsul, pondok yang kini dihuni 40 santri
“Pondok Shabran didirikan sebagai bagian dari putra dan 30 santri putri ini, turut berperan mencairkan
program UMS,” ujar Direktur Pondok Shabran Syamsul kebekuan hubungan antara Muhammadiyah dengan NU.
Hidayat kepada Nurul H. Maarif dari the WAHID Institute. ”Selain mengkaji tradisi Muhammadiyah, santri-santri di
Tak beda dengan Ma’had Aly yang berada di bawah sini juga mengkaji tradisi NU dan ormas-ormas lain,” kata
naungan pesantren-pesantren NU, alasan pendirian alumni UMS ini.
pondok di bilangan Saripan Makamhaji Kartasura, Bahkan pondok ini acap bekerjasama dengan
Surakarta ini juga untuk menanggulangi kian langkanya pesantren mahasiswa yang berada di bawah naungan
ulama di Muhammadiyah. NU, semisal Ponpes Mahasiswa al-Muayyad, Windan,
”Pondok Shabran didirikan untuk mengatasi Surakarta asuhan KH. Dian Nafi’, untuk menggelar
kelangkaan ulama. Karena itu, peserta diseleksi dengan seminar, terutama perihal ke-NU-an dan Ke-
ketat dari pimpinan wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah Muhammadiyah-an.
se-Indonesia,” ujar Syamsul. Dihentikannya seleksi kader santri dari cabang dan
Mahasiswa S3 jurusan Akidah Filsafat UIN Sunan ranting Muhammadiyah di seluruh Indonesia pada 1993,
Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan Pondok Shabran mengakibatkan santri pondok itu semakin sedikit. ”Jadi
adalah candradimuka kader unggulan Muhammadiyah. sekarang tergantung yang minat saja,” jelas Syamsul.
Untuk mewujudkannya dibuat kesepakatan antara PP Namun dia mengakui, kualitas santri yang mendaftar
Muhammadiyah, PW Muhammadiyah seluruh Indonesia kian hari kian menurun. Penyebabnya, tak banyak calon
dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. “Lulusannya santri yang memiliki latar belakang keahlian membaca
diharapkan menjadi ujung tombak penerus perjuangan kitab klasik.
dan cita-cita persyarikatan Muhammadiyah di masa yang Karena itu, untuk mengembalikan masa keemasan,
akan datang,” jelas Syamsul. pondok ini tidak lagi menerima santri sejak dua tahun
Diungkap Syamsul, seluruh santrinya berlatar belakangan. ”Kami mau menata ulang Pondok Shabran,”
belakang mahasiswa. ”Layaknya perguruan tinggi, katanya optimis.
pendidikan di sini ditempuh selama empat tahun dengan Nurul H. Maarif

Suplemen the Wahid Institute Edisi IV / Majalah Gatra / 4 Februari 2006 21


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/Nurul Huda Maarif

22
Menanti Negara Bernyali

Aksi brutal FPI di Monas 1 Juni 2008 dok.AKKBB

Menanti Negara Bernyali


Dalam setiap kesempatan pemerintah kerap berjanji akan melindungi kebebasan warga negaranya
berkeyakinan. Nyatanya, tetap tak berdaya menghadapi kekerasan.

R
atusan massa bersenjata pentungan, tombak, pedang, sebelum akhirnya dievakuasi ke Asrama Transito, Kantor Dinas
dan arit berteriak mengobar amarah. Sedut (bakar, Transmigrasi NTB.
red.)! Seda’ (hancurkan, red.)! Usir! Sesekali terdengar Pengusiran terhadap warga Ahmadiyah berulang terjadi
pekik Allahu Akbar! Mereka seakan punya hajat besar, meng- di NTB. Pada 2001, warga Ahmadiyah di Desa Pemongkong,
usir warga Ahmadiyah di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur diserang warga
Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Sabtu sekitar. Begitu pula pada September 2002, sekitar 300 warga
(4/2/06) siang. harus meninggalkan Ahmadiyah Pancor, Lombok Timur.
Sejurus kemudian batu berhamburan. Kaca-kaca dan gen­ Dilanjutkan Juni 2003, sebanyak 35 Kepala Keluarga (KK)
ting mulai pecah. Molotov dilempar, api membumbung mela­ Ahmadiyah di Sambi Elen diusir warga. Pengusiran warga
lap puluhan rumah milik 31 kepala keluarga pengikut aliran Ahmadiyah juga terjadi di Sumbawa dan sejumlah tempat
Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia pada 1925 itu. lainnya di NTB. Sebanyak 127 warga di Dusun Ketapang yang
Ratusan petugas Brimob dan Sabhara Perintis dari Polres diusir beberapa waktu lalu merupakan warga Ahmadiyah yang
Mataram dan Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) tak mampu terusir dari Lombok Timur.
menghalau massa. Warga Ahmadiyah menggigil ketakutan Asa untuk hidup tenang telah putus. Tidak heran mereka
dan putus asa. “Biar kami mati di sini saja pak. Hanya (rumah, berupaya mencari suaka politik. “Mencari suaka adalah jalan
red.) ini yang kami punya,” tangis seorang ibu anggota Jemaah terakhir kalau memang pemerintah Indonesia sudah benar-
Ahmadiyah sambil menggendong anaknya yang masih benar tidak mau melindungi kami,” ujar Shamsir Ali, penasehat
berumur dua tahun. Mereka tetap bertahan di rumahnya organisasi Ahmadiyah NTB.

Suplemen the Wahid Institute Edisi V / Majalah Gatra / 4 Maret 2006 23


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/ Gamal Ferdhi


Gus Dur dan tokoh lintas agama

Menurut pengasuh Pondok Pesantren al-Madany Lobar, “Jika pemerintah tidak sanggup lagi menjamin keselamatan
Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Subhi As-Sasaki, yang kami, terbangkan kami ke kedutaan asing seperti Kanada atau
mendorong kekerasan atas Ahmadiyah di Lobar adalah Australia yang bisa memberi suaka kepada kami,” demikian
fatwa MUI yang menghukumi Ahmadiyah sebagai sesat dan bunyi petisi yang dibacakan seorang perwakilan warga
Surat Keputusan (SK) Bupati yang melarang mereka hidup di Ahmadiyah Lobar, Zainal Abidin.
Kabupaten itu. Para pemimpin agama daerah itu kemudian Ancaman suaka politik dari warga Ahmadiyah ini menjadi
memprovokasi masyarakat untuk mengusir mereka. “Ini bola panas. Isu ini bisa menjadi citra buruk Pemerintah
sungguh-sungguh pelanggaran kemanusiaan,” ujar TGH Subhi Indonesia yang dianggap tidak mampu melindungi keamanan
prihatin (lihat: Berguru Toleransi di Negeri Wahabi). warganya. “Saya kira ini satu sinyal kalau Pemerintah Indonesia
Namun TGH Mahally Fikri, Wakil Ketua Majelis Ulama tidak mampu lagi atau tidak berkeinginan melindungi hak
Indonesia (MUI) Lobar mempunyai pandangan berbeda. minoritas untuk hidup aman. Sesuatu yang sangat buruk untuk
“Warga sudah lama menolak keberadaan anggota Ahmadiyah. Indonesia,” ujar Indonesianis Martin van Bruinessen kepada
Apalagi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lobar telah menyata­ Radio Netherland (6/2/06).
kan ajaran Ahmadiyah sebagai terlarang dalam SK Bupati Niatan suaka itu dinilai Departemen Luar Negeri meng-
Lobar No. 35/2001,” katanya kepada Liputan6 SCTV. Instruksi ada-ada. Suaka hanya bisa diberikan bila negara tidak mampu
pelarangan tersebut diterbitkan setelah Pemkab Lobar lagi memberi perlindungan dan kekerasan itu dilakukan oleh
berkoordinasi dengan MUI Lobar dan Departemen Agama. negara. ”Kasus Ahmadiyah adalah konflik antar masyarakat dan
Terbitnya SK Bupati itu menunjukkan dengan jelas Ahmadiyah tidak menghadapi pengejaran oleh negara,” kata
kacaunya sistem regulasi di Indonesia. Bagaimana bisa Juru Bicara Departemen Luar Negeri Desra Percaya di Bogor,
SK Bupati dapat bertentangan dengan konstitusi? “Pada Jawa Barat, Minggu (5/2/2006).
praktiknya banyak peraturan yang bertentangan dengan Menurutnya, berdasarkan Konvensi Jenewa 1951 tentang
konstitusi yang menjamin kebebasan beragama. Tidak ber- Pemberian Status Suaka, suaka dapat diberikan kepada mereka
agama saja tidak boleh diusir, apalagi orang beragama,” kata yang ketakutan karena menghadapi ancaman pengejaran oleh
Wakil Ketua Komnas HAM Zumrotin K. Soesilo (lihat: Penye- aparat pemerintahnya karena empat hal yaitu masalah agama,
rangan Terus Terjadi Karena Pemerintah Tidak Tegas). etnis, kelompok dan afiliasi politik.
Padahal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah Namun dalam pandangan Koordinator Kontras Usman
memberi sinyal yang jelas mengenai keharusan negara Hamid, syarat Ahmadiyah mendapat suaka seperti terdapat
memberi perlindungan kepada warganya. “Indonesia tidak dalam Konvensi Jenewa telah terpenuhi. “Cukup alasan bagi
menganut istilah agama yang diakui atau tidak diakui negara. pengikut Ahmadiyah meminta suaka, bila pemerintah benar-
Negara tidak akan pernah mencampuri ajaran agama. Tugas benar tidak dapat menjamin perlindungan politik, hukum dan
negara adalah memberikan perlindungan dan pelayanan,” kata keamanan mereka,” katanya.
Presiden dalam Perayaan Imlek 2557 di Jakarta, pada hari yang Kekerasan fisik dan psikis atas kelompok kepercayaan dan
sama dengan penyerangan di Lombok Barat itu. minoritas tidak hanya dirasakan Jemaah Ahmadiyah. Berbagai
Ucapan presiden itu dapat diartikan, pemerintah tidak agama, kepercayaan dan keyakinan banyak yang hingga kini
mendiskriminasi agama dan kepercayaan warganya. Anehnya, mengalami diskriminasi. Semisal kepercayaan Tolottang di
Menteri Agama, Maftuh Basyuni, justru minta Ahmadiyah Sulawesi Selatan, Parmalim di Sumatera Utara, Kaharingan
keluar dari Islam dan membuat agama baru. “Ahmadiyah di Kalimantan, Wetu Telu di Lombok, dan Sunda Wiwitan di
itu jelas aliran sesat. Permasalahan akan selesai bila mereka Kuningan terus mengalami kekerasan terselubung. Mereka
membuat agama baru dan jangan menggunakan Islam. Kalau diberi dua pilihan, dimasukkan dalam lima agama resmi yang
masih ngaku Islam, maka bisa dituduh melakukan penodaan diakui pemerintah atau dianggap sesat sehingga dipaksa
agama,” ujarnya. meninggalkan keyakinannya.
Pernyataan Menag itu dinilai naif, karena mentang- Kelompok masyarakat yang tidak mau mencantumkan
mentang berkuasa dapat memerintahkan orang untuk agama yang diakui pemerintah juga tidak bisa mendapatkan
membentuk agama baru. “Masak menteri dapat memutuskan pelayanan hak-hak sipilnya, seperti pencatatan perkawinan,
sebuah agama baru. Enak saja nyuruh-nyuruh,” kata Ketua akte kelahiran, KTP dan sebagainya. Kebijakan diskriminatif
Umum PB Ahmadiyah Abdul Basith. seperti ini jelas merupakan kejahatan yang disponsori negara
Pandangan dan perlakuan diskriminatif mengakibatkan, (state-sponsored evil). Karenanya, diskriminasi negara ini tidak
Jemaah Ahmadiyah berniat meminta suaka ke luar negeri. bisa dibiarkan.

24 Suplemen the Wahid Institute Edisi V / Majalah Gatra / 4 Maret 2006


Menanti Negara Bernyali

Status Ahmadiyah yang dianggap ‘barang haram’, yang gusar karena penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah
pernah juga dirasakan Konghucu. Gara-gara rezim Orde Baru terjadi berulang kali tanpa ada tindakan pencegahan dari
berseberangan dengan Republik Rakyat Cina, tempat kelahiran aparat.
agama tersebut, seluruh aktivitas peribadatan Konghucu Gus Dur layak menilai seperti itu. Karena saat menjadi
diberangus lewat Instruksi Presiden (Inpres) No. 14/ 1967 presiden dia berani mengambil kebijakan tidak populer
tentang Agama, Ke­percayaan dan Adat Istiadat Cina. Pe­me­luk untuk menjaga keragaman bangsa ini. Salah satunya adalah
agama itu dapat merayakan kembali Imlek secara terbuka mencabut Keppres No. 264/1962 yang melarang organisasi
setelah Pre­siden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut agama Baha’i melalui Keppres No. 69/2000. “Saya mencabut
Inpres Soeharto itu dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. keputusan itu, karena menurut saya bertentangan dengan
6/ 2000. UUD,” tegas mantan Ketua Umum PBNU tiga periode ini.
Di tengah kian menguatnya arus penyeragaman tafsir Harus diakui, kini sulit menemukan profil pejabat negara
agama, dibutuhkan pemimpin negara yang konsisten men­jaga dan agamawan yang berani ‘pasang badan’ untuk menjaga
keragaman bangsa, tanpa kha­watir popularitasnya menurun. keragaman, walau bukan tidak ada (lihat: Tak Ingin Ada A-
Apalagi negara telah menjamin dalam UUD 1945 dan UU narki). Saat ini pemerintah harus menghentikan diskriminasi
No. 30/1999 yang melindungi hak-hak setiap orang untuk dan kekerasan. Itulah bentuk perlindungan kepada warga
beragama menurut keyakinannya. Jadi tinggal menjalankan negara. Jika tidak, jangan salahkan warga Ahmadiyah dan
amanat konstitusi itu. penganut keyakinan minoritas lainnya minta suaka politik.
“Pemerintah penakut. Isinya orang penakut semua tidak Bagaimana, Pak Presiden?
berani menegakkan UUD 45,” kata mantan Presiden Gus Dur Ahmad Suaedy, Rumadi

Ironi Beragama
di Negeri Pancasila
Oleh: Ahmad Suaedy
Direktur Eksekutif The Wahid Institute

GEMURUH sorak memenuhi ruangan Barat. Menurut Antara, 25 siswa anak beberapa kepala daerah atas pelarangan
yang dipadati ribuan pemeluk agama warga Ahmadiyah tidak berani masuk aliran tertentu dan pembiaran kekerasan,
Khonghucu di Plenary Hall, JCC, Senayan, sekolah karena diancam dan diolok-olok. bahwa SK-SK dan kekerasan itu sungguh
dalam peringatan Imlek 2557, 4 Februari Bahkan sampai hari keempat, tak seorang bertentangan dengan jiwa bangsa yang
lalu. Pasalnya amanat Presiden Susilo pejabat daerah, propinsi maupun pusat ber-Pancasila dan beragama.
Bambang Yudhoyono pada acara itu menjenguk mereka. Ironi lainnya, para penyerang dan
benar-benar memberikan janji sejuk Kepada Elshinta di Jakarta, juru kebijakan kepala daerah yang melarang
bagi sebagian besar etnis Tionghoa yang bicara Pemkab Lombok Barat Basirun keyakinan tertentu itu mendasarkan pada
selama ini didiskriminasi. Anwar menyatakan, tindakan terhadap fatwa MUI, lembaga yang dibiayai dengan
“Di negeri kita tidak dianut istilah pemeluk Ahmadiyah itu adalah uang rakyat yang menyesatkan mereka.
agama yang diakui atau tidak diakui penegakan hukum berdasarkan SK Bupati Karenanya, reformasi dalam
negara. Prinsip yang dianut UUD Lobar No. 35 Tahun 2001 yang melarang kebijakan negara tentang agama tidak
adalah negara menjamin kemerdekaan keberadaan Ahmadiyah. Jika ingin tinggal cukup berhenti pada praktek pelayanan,
tiap-tiap penduduk untuk memeluk di sana, mereka harus pindah agama. tapi juga harus mentransformasi
agamanya masing-masing dan beribadat Kebijakan ini seolah mementahkan paradigma fungsi kelembagaan seperti
sesuai dengan kepercayaannya itu. pidato Presiden di atas. MUI dan Depag sebagai pelayan rakyat
Negara tidak akan pernah mencampuri Peristiwa itu menambah rangkaian Indonesia tanpa kecuali.
ajaran agama. Tugas negara adalah kekerasan terhadap penganut keyakinan Rencana menuntut kursi atau
memberikan perlindungan, pelayanan, minoritas di negeri ini. Sejak lama, direktorat pemeluk Konghucu
serta membantu pembangunan dan kekerasan juga menimpa aliran dan sebagaimana agama lain di Depag
pemeliharaan sarana peribadatan serta keperca­yaan asli daerah tertentu yang sebaiknya ditunda. Bahkan saya berharap
mendorong pemeluk agama yang nota­bene indigenous belief Indonesia. mereka mencoba ikut memperjuangkan
bersangkutan menjadi pemeluk agama Pemerintah harus mengatasi aliran-aliran dan keyakinan lain agar
yang baik,” kata Presiden. masalah ini jika masih berpijak pada diperlakukan sejajar, seperti 6 keyakinan
Ironisnya pada hari yang sama, konstitusi. Kepala Negara wajib yang telah tercantum dalam UU No.
terjadi pengusiran dan kekerasan menyampaikan sikapnya yang eksplisit 5/1969.
terhadap warga Ahmadiyah di Lombok tentang Surat Keputusan (SK) oleh

Suplemen the Wahid Institute Edisi V / Majalah Gatra / 4 Maret 2006 25


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Zumrotin K. Soesilo
Wakil Ketua Komnas HAM

Penyerangan Terus Terjadi


Karena Pemerintah Tidak Tegas
dok.WI/ Witjak

Artinya, masyarakat bisa melakukan karena tidak diakui. Bahkan orang yang
apapun dan bisa bersosialisasi di tempat tidak punya keyakinan juga punya hak
Zumrotin K. Soesilo tinggalnya. Bukan hanya dilindungi saat hidup.
penyerangan seperti evakuasi. Evakuasi
KEKERASAN atas nama agama itu hanya perlindungan dalam arti fisik. Apa konsekuensi pernyataan Menag
terus bermunculan. Ketidaktegasan Jadi masalahnya, pertama, good will itu?
pemerintah tidak ada. Kedua, sikap Menurut saya itu (Menag, red.) bisa
pemerintah adalah salah satu keragu-raguan dan ketidakberanian di-PTUN-kan.
penyebabnya. Berikut pernyataan wakil menghadapi tekanan dari kelompok yang
melakukan penyerangan itu. Kalau Menteri Agama menggunakan
ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia acuan ajaran Islam, bukan UUD 45?
(Komnas HAM) Zumrotin K. Soesilo Apakah negara dapat menjamin? Negara kita kan bukan Negara Islam.
kepada Nurul H. Maarif dan Widhi Cahya Saya tidak yakin negara, dalam hal ini Negara kita negara hukum dan bukan
polisi, bisa melindungi. Ketidakmampuan hukum Islam. Ini yang harus ditegakkan.
dari the WAHID Institute. itu terjadi karena adanya keragu- Dan memang, ada pemeluk Islam yang
raguan. Di satu sisi dia akan melakukan radikal, tapi itu hanya segelintir. Saya
Bagaimana Komnas HAM memandang perlindungan, tapi di sisi lain ada produk yakin di Indonesia ini masih lebih banyak
kekerasan atas nama agama hukum yang belum clear seperti fatwa Islam toleran. Cuma saja tidak terekspos.
belakangan ini, termasuk pada MUI, pernyataan menteri agama, SKB, Islam yang moderat ini tidak terorganisir.
Ahmadiyah? putusan pengadilan di Lombok Barat Saat ini mereka harus berbicara.
Sejak saya masuk Komnas HAM pada yang menyatakan Ahmadiyah dilarang di
2002, kita sudah menurunkan tim untuk daerah itu. Bisakah Jamaah Ahmadiyah meminta
kasus kekerasan terhadap Ahmadiyah suaka politik?
di Selong Lombok. Komnas HAM Bukankah polisi juga selalu Bisa! Kalau negara tidak bisa mem­
menemukan korban jiwa, luka dan harta menggunakan pasal penodaan agama? berikan jaminan keamanaan buat mereka,
benda termasuk rumah. Karena tidak Pasal itu menurut saya masih meskipun itu konflik horizontal. Dan me­
mendapatkan rasa aman, beberapa warga belum clear. Penegak hukum itu nu­rut saya, harusnya pemerintah hati-
Ahmadiyah memindahkan sekolah anak- bertugas memberikan perlindungan hati dalam hal ini. Apabila mereka serius
anaknya ke Tasikmalaya. Kira-kira 2003, kepada masyarakat. Jadi mereka harus meminta suaka, maka dalam per­caturan
giliran Ahmadiyah Jawa Barat diserang. memahami pasal-pasal UUD 45 yang internasional itu sangat jelek bagi Indone-
Sesudah itu sepi lagi. Lalu muncul kasus berkaitan dengan kebebasan beragama sia. Ini menunjukkan negara me­langgar
Parung yang cukup besar akhir 2005. Dan yang dijamin negara. HAM by ommission, karena nega­ra tidak
awal 2006 ini, terjadi lagi di Mataram. memberikan rasa aman pada masyarakat.
Saat Ahmadiyah Parung diserang, Produk hukum apalagi yang membuat
saat itu juga Ahmadiyah Pontianak polisi ragu? Jadi, bagaimana seharusnya negara?
di­serang. Cuma tidak diekspos. Karena Syariatisasi Peraturan Daerah (Per­ Ada beberapa hal. Sekarang saatnya
ingin mendapat kepastian hukum, Ahma­ da) juga salah satu penyebab. Beta­pa perundang-undangan yang tidak cocok
diyah di Pontianak membawa ka­sus runyamnya negara ini jika dae­rah bisa dengan konstitusi harus direvisi atau
pe­nye­rangan itu ke pengadilan. Di peng­ mengeluarkan larangan ter­hadap suatu dikaji ulang Mahkamah Konstitusi.
adilan mereka menang. Tapi yang lainnya agama. Jika tiba-tiba misalnya Jatim Misalnya, pengakuan hanya kepada
tidak ada yang memproses secara hukum. melarang orang Tengger ber­agama enam agama (Islam, Katolik, Kristen,
Menurut pandangan Komnas HAM, seperti agamanya sekarang. Desen­tra­li­ Hindu, Buddha, dan Konghucu) yang
hal ini bisa terus-menerus terjadi karena sasi itu hanya pada hal-hal tertentu. bertentangan dengan UUD 45.
sikap tidak tegas pemerintah, baik itu Karena itu, Menteri Dalam Negeri Ada juga hal yang berkaitan dengan
Depag atau yang lain. harusnya segera menertibkan Perda diskriminasi kewarganegaraan. Misalnya,
Komnas HAM sendiri sangat tegas, seperti itu. Kalau tidak, kasus Lombok Catatan Sipil tidak mau mencatat
kebebasan beragama dan berkeyakinan akan merembet ke tempat lain. Betapa perkawinan pemeluk Konghucu.
itu dilindungi konstitusi yang berarti hancurnya masyarakat minoritas. Berkaitan dengan konstitusi, negara
dijamin negara. Agama dan keyakinan tidak cukup sebatas mengeluarkan
apapun dijamin hak hidupnya di Menteri Agama mengatakan UU Ratifikasi tentang Hak Sipil Politik
Indonesia. Ahmadiyah harus menjadi agama baru? dan Ekonomi Sosial Budaya, tapi
Menurut saya, dia tidak faham UUD harus mensosialisasikan petunjuk
Apa maksud kata ‘menjamin’ dalam 45. Seseorang tidak boleh dipaksa pindah pelaksanaannya kepada semua aparat
konstitusi? keyakinan atau mengganti agama baru dari level pusat hingga desa.

26 Suplemen the Wahid Institute Edisi V / Majalah Gatra / 4 Maret 2006


Menanti Negara Bernyali

TUAN Guru Haji (TGH) Muhammad Subhi As-Sasaky,


dari namanya dapat diterka ia asli suku Sasak di Pulau
Lombok. Di samping mengajar di pesantren miliknya,
al-Madany di bilangan Peluas, Kuripan Utara, Lobar,
sehari-hari pria berkacamata ini aktif berdiskusi, menjadi
narasumber di berbagai forum dan media massa. Bahkan
Selaparang TV di Lombok Timur mendapuknya sebagai
narasumber dalam forum agama mingguan.
TGH Subhi juga membentuk kelompok diskusi
Tafaqquh Fiddin yang anggotanya tuan guru muda,
guru agama, serta aktivis. Selain itu, jika terjadi kasus
kemanusiaan di Lombok, pendapatnya kerap diminta
Komnas HAM di Jakarta.
Pada kasus pengusiran Jemaah Ahmadiyah
di Lombok Timur tahun 2002 lalu, ia bergabung
dengan aktivis mahasiswa dan LSM di Lombok untuk
mengadvokasi korban. Tak hanya itu, kelompok ini juga
mengadvokasi berbagai kasus kekerasan di pulau itu.
“Saya belajar agama berbagai mazhab. Tidak ada
yang membolehkan kekerasan kepada orang lain,” kata
Subhi kepada Ahmad Suaedy dari the WAHID Institute di
pesantrennya.
Saat kasus pengusiran dengan kekerasan muslim
Ahmadiyah dari perumahan BTN Bumi Asri, Lobar, awal
Februari 2006 lalu, Subhi bersama gerakan demokrasi

dok.WI/Suaedy
TGH. Muhammad Subhi As-Sasaky
TGH. Muhammad Subhi As-Sasaky

Berguru Toleransi
di Negeri Wahabi
di Lombok mengeluarkan Petisi Anak Bangsa. Isinya belajar di Ma’had al-Jufry, Madinah. Di samping belajar
mempertanyakan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) berbagai mazhab dan pemikiran Islam di pesantren itu,
yang menolak dialog dengan Ahmadiyah dengan alasan selama 8 tahun ia berguru kepada ulama berbagai aliran
telah sesat, dan pemerintah daerah yang melarang di sekitar Madinah. “Saya mendatangi lebih dari 40 guru
eksistensi organisasi itu di Lombok Barat, serta penyerang dengan mengayuh sepeda,” kenang ayah seorang putra
yang garang. ini.
“Beberapa orang Ahmadiyah stres berat, bahkan gila, Mulai dari guru yang bermazhab Salafiyah, Syi’ah,
dan ada yang keguguran karena serangan itu,” ungkap Khawarij, Mu’tazilah, Wahabiyah, berbagai aliran
Subhi. tasawwuf dan fiqh hingga ilmu manthiq dan falsafah telah
Kekerasan atas Ahmadiyah di Lobar didorong fatwa dijajakinya. “Semua aliran dalam Islam ada di Arab Saudi,
MUI yang menghukumi Ahmadiyah sebagai sesat dan tetapi karena pemerintahannya Wahabi, aliran itu jadi tak
Surat Keputusan (SK) Bupati Lobar yang melarang mereka tampak,” lanjutnya.
hidup di Kabupaten itu. “Ini benar-benar di luar peri Ia juga menulis berbagai makalah dan buku
kemanusiaan,” tegas staf ahli bidang kajian gender dan dalam bahasa Indonesia maupun Arab. Di antaranya
Islam LBH APIK di Mataram. al-Mulakhkhash ‘an-Nathiq fi’ Ilm al-Manthiq, Nadzm
Pandangan toleran Subhi terkait dengan berbagai al-Syajarah, Sirah Nabawiyah, Qa’idah al-Fiqhiyyah dan
ilmu yang ditimbanya. Setelah menamatkan Aliyah di banyak lagi tentang berbagai cabang ilmu dalam Islam
Pesantren Ishlahuddiny, Kediri, Lobar, Subhi langsung dan masalah sosial.
Ahmad Suaedy

Suplemen the Wahid Institute Edisi V / Majalah Gatra / 4 Maret 2006 27


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/ Subhi Azhari


Herril Astapradja (tengah) saat jumpa pers di Teater Utan Kayu

Drs. Herril Astapradja

Tak Ingin Ada Anarki


MARKAS Komunitas Utan Kayu di Jl. Utan Kayu saja! Itu urusan masing-masing. Tapi harus sesuai hukum.
No. 68 H, akan diserbu massa berlabel Islam pada Saya dididik dan ditugaskan demikian,” tegas alumni
Minggu (4/9/2005) malam. Kabar itu sampai ke telinga Institut Ilmu Pemerintahan tahun 1990 ini.
Walikota Jakarta Timur H. Kusnan A. Halim, M.Si. Ia pun Herril menolak sikapnya diartikan sebagai
mengontak Camat Matraman Drs. Herril Astapradja untuk pembelaan kepada JIL. “Saya hanya menjalankan tugas.
mengantisipasi terjadinya aksi kekerasan. Sebagai kepala wilayah, kewajiban saya menjamin setiap
“Sebagai camat, saya segera turun. Saya tidak ingin anggota masyarakat merasa aman dan tenteram.”
ada yang mengganggu warga saya. Itu menjadi tekad Jaminan itu, menurut Herril, diperintahkan
saya selama menjabat,” tutur Herril kepada Subhi Azhari konstitusi, karena anggota JIL juga warga negara. Dengan
dari the WAHID Institute, Selasa (14/2/2006). penuh resiko, Herril memutuskan, JIL tidak dapat dilarang
Herril segera berkoordinasi dengan anggota karena sah berdasarkan hukum. “Saat saya bilang JIL
Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika), yaitu tak melanggar hukum, orang-orang itu (FUI Utan Kayu,
Kapolsek Matraman Kompol Sularno dan Danramil 02 red.) teriak: copot! copot.!’. Emang mereka siapa? Copot-
Matraman Kapten (Inf ) Soedar, untuk megantisipasi mencopot itu kan urusan pimpinan yang di atas,” tutur
tindak anarkisme yang mengganggu wilayahnya. pria kelahiran Pontianak, 25 April 1957 ini.
Benar saja, di lokasi kejadian terlihat puluhan orang Tak hanya di Matraman, ketegasan seperti ini
dari Forum Umat Islam (FUI) Utan Kayu. Dengan dalih dijalankan Herril saat bertugas di wilayah sebelumnya.
mendukung Fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme, “Saya melakukan itu bukan mentang-mentang camat.
pluralisme dan sekularisme, mereka berupaya mengusir Bagi saya, jabatan adalah amanah,” kata ayah tiga anak
Jaringan Islam Liberal (JIL). yang pernah bertugas sebagai Sekretaris Camat Senen
Mereka membawa spanduk bertuliskan, “JIL Haram, Jakarta (1995-1998), Wakil Camat Cempaka Putih Jakarta
Darah Ulil Halal” dan “Kami Mendukung Fatwa MUI dan (1998-2000), Wakil Camat Kemayoran Jakarta (2000-2003)
Mendesak Muspika Matraman untuk Mengusir JIL dan dan Wakil Camat Makasar Jakarta Timur (2003-2004).
Antek-anteknya”. Kita berharap sikap Camat Matraman menjamin hak
Tuntutan itu tak serta-merta dikabulkan Herril. warga negara berpendapat dan berkeyakinan ini menjadi
Alasannya sederhana tapi berarti, ia harus bertindak teladan para kolega dan atasannya.
sesuai hukum. “Soal JIL ada yang tidak berkenan, silahkan Subhi Azhari

28 Suplemen the Wahid Institute Edisi V / Majalah Gatra / 4 Maret 2006


Radikalisme Islam Menghadang Keragaman Indonesia

Aksi Hizbut Tahrir Indonesia di Depok dok.WI/ Gamal Ferdhi

Radikalisme Islam
Menghadang Keragaman Indonesia
Gelombang radikalisme Islam terus menguat. Gerilya syariatisasi Perda menggeliat. Keragaman di
tubir jurang. Gerakan pluralisme dianggap musuh utama yang wajib dienyahkan

M
atahari belum jauh beranjak dari ufuk timur. Na­­mun membentang kokoh sebagai latar panggung seluas 5x7
ratusan massa berbaju dan berikat kepala putih meter itu. Teriakan menghujat Amerika lantang terdengar.
yang tergabung dalam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia diseru untuk
sudah terlihat berkumpul di depan Gedung Kedutaan Besar menghentikan kehidupan sekuler. “Paham sekuler telah
Amerika Serikat Jl. Merdeka Selatan, Jakarta, Minggu (5/3/06). menyebabkan krisis berkepanjangan di negeri ini”, kata
Mereka memperingati 82 tahun keruntuhan Khilafah Islamiyah seorang peserta dengan tangan terkepal.
di Turki, melalui demonstrasi di berbagai wilayah Nusantara Juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto menegaskan,
dengan tuntutan seragam. berbagai krisis dan bencana yang menimpa kehidupan
Spanduk hitam bertulisan putih Lâ ilâha illa Allâh umat manusia tak lain karena ketiadaan khilafah. “Dunia

Suplemen the Wahid Institute Edisi VI / Majalah Gatra / 1 April 2006 29


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Islam yang semula terbentang luas dalam satu kesatuan, kini di Bulukumba.
terpecah belah menjadi 50 lebih negara kecil yang dipimpin “Jangan mengutak-atik Perda. Kami sudah bersusah payah
oleh penguasa yang tidak sepenuhnya mengabdi pada meloloskannya, kemudian Anda mau mengutak-atik. Anda
kepentingan Islam dan umatnya,” kata alumnus S2 STIE Institut perlu tahu, untuk hal-hal seperti itu kami rela masuk penjara,”
Pengembangan Wiraswasta Indonesia ini. ancam Zainal Abidin seperti dituturkan Syamsurijal Ad’han dari
Itulah fenomena Islam radikal yang selalu hadir di negeri LAPAR, Makassar.
ini. Dalam pandangan mereka, ideologi Pancasila plus sistem Kasus-kasus itu seperti meneguhkan asumsi, bahwa
yang ada sama sekali tak menyelesaikan masalah bangsa, ma- kini radikalisme Islam Indonesia sedang menghadang di
lah merontokkan keluhuran moral, karena sistem itu buatan depan mata. Asumsi ini diperkokoh lagi oleh hasil penelitian
manusia. Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menunjukkan masih
Penegakan Syariat Islam (SI), dalam bayangan mereka, tingginya angka penerimaan massa terhadap agenda-agenda
menjadi satu-satunya resep yang bisa menyelamatkan dunia. Islam radikal. “Meskipun tidak mayoritas,” kata Peneliti LSI Anis
“Saatnya khilafah memimpin dunia dengan syari’ah,” demikian Baswedan di Hotel Sari Pan Pacific, Kamis (16/3/2006) saat
salah satu bunyi spanduk HTI. mempublikasikan hasil survei yang dilaksanakan pada 23-27
HTI tak sendirian. Deklarasi penegakan SI bergaung di Januari 2006 itu.
berbagai wilayah lewat berbagai ‘bendera’ dan kepentingan. Walau minoritas, penelitian dengan sampel 1.200 orang
Mereka tak main-main. Gerilya ‘mengepung’ negeri ini dengan dari 33 provinsi itu menunjukkan, 62 persen responden
mendesakkan Peraturan Daerah (Perda) berbasis SI terus menilai kebudayaan Barat lebih banyak membawa keburukan
dilakukan. bagi umat Islam Indonesia. Gagasan pluralisme adalah salah
“Kita ke Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan sekitarnya satu produk kebudayaan Barat yang dituding kelompok Islam
untuk mensosialisasikan tathbiq (penerapan, red.) Syari’ah, radikal berbahaya bagi Islam.
khususnya soal pidana Islam. Wali Kota Padang, Fauzi Bahar, Parahnya mereka menisbatkan pemaknaan pluralisme
telah mengeluarkan peraturan kewajiban untuk menutup pada Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor:
aurat, atau berjilbab bagi siswi SD, SMP dan SMA,” kata Ketua 7/ MUNAS VII/ MUI/ II/ 2005 tentang Pluralisme, Liberalisme
Departemen Data dan Informasi MMI Fauzan al-Anshari dan Sekularisme Agama. Fatwa yang diputuskan dalam
kepada web eramuslim Juli tahun 2005 lalu. Musyawarah Nasional MUI VII, 26-29 Juli 2005 itu antara lain
Daerah seperti Bulukumba Sulawesi Selatan, Cirebon, Ban- menetapkan:
dung dan Tasikmalaya juga tak luput. “Insya Allah road show ini “Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan
akan berjalan terus dengan melihat kesiapan teman-teman di bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran
daerah,” imbuh Fauzan. setiap agama adalah relativ. Oleh sebab itu, setiap pemeluk
Namun Direktur the WAHID Institute Yenny Zannuba agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja
Wahid menghimbau masyarakat agar tidak terlena tawaran yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga
pemberlakuan Perda SI. mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan
“Tim kami menemukan, beberapa daerah membuat hidup berdampingan di surga.”
Perda itu dengan tujuan menutupi pelanggaran moralitas Fatwa yang menunggalkan pemaknaan pluralisme itu
sosial pembuatnya, seperti korupsi anggaran daerah atau memunculkan problem. Sejumlah pegiat pluralisme diburu
untuk mendapat dukungan politik dan lain-lain,” kata Staf ormas Islam radikal. Sudarto, Direktur Pusat Studi Antar
Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik ini di Jakarta, Komunitas (PUSAKA) di Padang, Jumat (19/8/2005) diusir
Rabu (15/3/2006) saat memaparkan hasil pemantauan Tim Forum Tokoh Peduli Syariah Sumatera Barat dari kota itu.
Pluralisme Watch yang dibentuknya . PUSAKA juga diultimatum agar menghentikan kegiatannya
Dari pemantaun yang dilakukan pada November karena mengkampanyekan isu pluralisme.
2005 - Februari 2006, kata peraih master dari Universitas “Saya bisa memahami, jika ada sebagian ulama muslim
Harvard ini, disimpulkan bahwa pemberlakuan Perda SI juga menolak istilah ini. Namun yang perlu dipahami juga, ketika
menafikan rasa kepelbagaian. “Syariatisasi kerap mengundang kita memakai istilah pluralisme maka terdapat beragam
ketegangan di dalam masyarakat dan bahkan kekerasan, serta makna,” kata Guru Besar Studi Agama di Universitas Virginia
mengkhawatirkan terjadinya disintegrasi bangsa,” tegas Yenny. Abdul Aziz Sachedina, saat berkunjung ke Jakarta, September
Kekhawatiran Yenny ini beralasan. Dari data tim tersebut 2005 lalu.
dipaparkan sejumlah peristiwa penutupan rumah ibadah non- Mestinya, kata Sachedina, kaum muslim menggunakan
muslim dan aliran dalam Islam, serta intimidasi dari kelompok istilah yang diambil dari tradisi sendiri bukan dari Barat. “Al-
pengusung SI. Misalnya, Masjid at-Tauhid milik Jemaah Qur’an sendiri mengakui pluralisme sebagai dasar relasi sosial
Ahmadiyah di Dusun Ulu Tedong, Desa Garanta, Kecamatan umat manusia bersama nilai-nilai lain seperti keadilan dan
Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat kesetaraan. Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi hak dasar umat
(17/2/2006) disegel Laskar Jundullah. muslim saja, namun juga seluruh umat agama lain,” imbuhnya.
Belum genap seminggu, kantor perwakilan Lembaga Memang, banyak agamawan muslim yang tak sekedar
Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) di Bulukumba, menghargai perbedaan, bahkan melakukan pembelaan
Rabu (22/2/2006) malam, disatroni puluhan anggota Pemuda keberadaan keyakinan lain, seperti KH. Washil Sarbini di
Penegak Syariat Islam yang dipimpin Ketua Komite Persiapan Jember Jawa Timur (lihat: Risau Moderatisme NU Luntur) dan
Penegakan Syariat Islam, Bulukumba, Zainal Abidin. KH. Abdul Muhaimin di Yogyakarta (lihat: Kerap Shalat di
Alasannya, Zainal tidak puas dengan diskusi publik Katedral).
yang digelar LAPAR siang harinya dengan tema Melihat Ulang Di tengah arus radikalisme Islam ini, sikap dua ulama itu
Formalisasi Agama Lewat Perdaisasi Syariat Islam. Kelompok ini dapat dinilai aneh. Bagaimana tidak, seolah tak hirau fatwa
juga mengancam LAPAR yang mengkritisi penerapan Perda SI MUI, tanpa banyak berdebat mereka menghidupkan nilai

30 Suplemen the Wahid Institute Edisi VI / Majalah Gatra / 1 April 2006


Radikalisme Islam Menghadang Keragaman Indonesia

pluralisme dalam masyarakat. Betawi itu: Islam, Katolik, dan Protestan juga Hindu dan
Selain itu, banyak komunitas muslim yang hidup bahu- Buddha (Lihat: Teladan Dari Kampung Sawah).
membahu dengan non-muslim, misalnya di Kampung Sawah, Mereka seolah lebih sadar akan Indonesia yang sejak awal
Kecamatan Jatisampurna, Bekasi. Tak pernah terjadi persete- dibangun sebagai negara yang menghormati keragaman, se-
ruan diantara tiga agama besar yang eksis di perkampungan perti motto Bhinneka Tunggal Ika dalam Pancasila.
Gamal Fedhi, Rumadi, Nurul H. Maarif

KH. Washil Sarbini

Risau Moderatisme
NU Luntur
DI antara ribuan ulama tanahnya dikuasai negara dari golongan mereka, red.),” Dari kasus itu ia menilai,
di Jember, KH. Washil dengan mendemo DPRD. ujarnya kepada Paring W. iklim moderat NU terhadap
Sarbini (50) adalah figur Menurutnya, tokoh Utomo kontributor the WAHID kelompok minoritas kian
kiai kharismatik yang gigih agama harus peduli pada Institute di Jawa Timur. menurun. “Sekarang sangat
menggawangi Nahdlatul masalah umat terutama di Pengasuh Ponpes sulit menemukan pribadi
Ulama (NU) agar tidak diseret lingkungan sendiri. Apalagi Roudhatul Ulum, Sumber seperti Gus Dur di NU
ke medan politik. Tak heran, di Jember yang agraris ini, Wringin, Jember ini juga yang terbuka menghadapi
jika di tiap acara NU yang kiai harus membantu petani gemar bersilaturahim ke perbedaan,” kata orang
mengusung pengembangan menghadapi problem kelompok dan pemuka non- kepercayaan ulama kharismatik
pemikiran, gerakan kultural, pertanian. Mulai mahalnya muslim. Ia kerap membangun Jawa Timur, KH. Chotib Umar.
dan advokasi, sosok ini selalu pupuk, rendahnya harga dialog lintas iman. Ini Lulusan sebuah pondok
terlibat penuh. gabah, dan sebagainya. membuatnya diterima semua di Arab Saudi ini yakin,
Ra Washil, sapaan Kiai juga harus berani kelompok agama. “Saya ingin kedekatan dengan siapapun,
akrabnya, tak canggung turun tampil bersama umat untuk menunjukkan pada semua, akan membuat hidup tentram.
langsung mengatasi persoalan mengontrol kebijakan bahwa Islam itu agama damai, Karenanya tak heran, ia
umat. Selain mengelola balai pemerintah. “Ini sesuai Hadis mengedepankan dialog dan acap disowani masyarakat
pengobatan murah untuk Nabi, man lam yahtamma silaturahim,” ujarnya. beragam latar belakang untuk
warga Jember, ia tak segan bi amr al-muslimiina falaisa Namun, kini ia risau, konsultasi berbagai masalah.
mengadvokasi min hum (siapa yang tidak karena banyak kelompok Pada pertengahan 2005 lalu
para petani memperhatikan masalah umat muslim yang gampang misalnya, pondoknya dipakai
di sana yang Islam, maka ia tidak termasuk menyesatkan ‘orang lain,’ untuk pertemuan lintas
seperti terhadap Yusman kelompok minoritas, antara
Roy di Malang, Jawa Timur, lain, Komunitas Sedulur Sikep,
yang mengajarkan shalat dua Kajang, Dayak Kayau, Tengger,
bahasa, Arab dan Indonesia. juga eks Tapol PKI.
“Ini masalah ijtihadiyah, Karena selama ini belum
yang biasa terjadi dalam pernah mendapat sambutan
Islam. Nanti kalau kebetulan hangat dari komunitas
pemerintahnya orang pesantren, beberapa eks
Muhammadiyah, apa lantas Tapol PKI itu menilai Ra Washil
mereka akan menangkapi sebagai representasi Islam yang
orang yang shalat pakai qunut damai dan melindungi.
dengan dalih penodaan Gamal Ferdhi
agama? Kan ya enggak,”
tegasnya
dok.Paring WU

Suplemen the Wahid Institute Edisi VI / Majalah Gatra / 1 April 2006 31


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

KH. Abdul Muhaimin

Kerap Shalat
di Katedral

dok.WI/ Witjak

KINI mulai sulit menemukan agamawan seperti KH. Abdul Independen.


Muhaimin. Pengasuh PP Nurul Ummahat, Kota Gede, Saking intensifnya mengikuti dialog lintas iman, tak
Yogyakarta, ini sering memfasilitasi kegiatan antar agama, jarang ritual shalat dijalankan Kiai Muhaimin di tempat
baik Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu, Hindu, peribadatan non-muslim. “Kalau saya nginep di Katedral,
dan sebagainya di Forum Persaudaraan Umat Beriman shalatnya yo di Katedral,” kata mantan aktivis GP Ansor
(FPUB) yang dipimpinnya. ini. “Di Yogya sudah tahu semua, kalau waktu shalat, saya
Apa yang melatari sikap keterbukaannya? “Ini hablun akan shalat di manapun. Karena ju’ilat al-ardhu masjidan.
min al-nas yang intinya moralitas dan humanitas. Pada Bumi seluruhnya dijadikan sebagai tempat shalat,”
aspek ini semua orang bisa ketemu,” ujar alumni PP katanya mengutip sabda Nabi SAW.
Krapyak Yogyakarta ini kepada Nurul Huda Maarif dari the “Tapi saya tidak shalat di altar gereja,” jelas anggota
WAHID Institute. Dewan Kebudayaan DIY ini.
Karenanya, Kiai Muhaimin berpesan, jika bergaul Putera KH. Marzuki ini menyilahkan non-muslim
dengan penganut agama lain jangan sekali-kali untuk menginap di pesantrennya. “Banyak suster nginep
menyinggung masalah teologis. “Ini riskan. Nanti urung- di pesantren saya untuk mengenal Islam. Belum lama
urung (belum apa-apa, red.) dicap kafir. Teologi itu juga ada peneliti dari Universitas Berkeley di AS, India,
masing-masing, lakum dinukum waliya din,” katanya. Amerika, Cina, Korea, Roma dan Jepang,” ujarnya.
“Yang saya lakukan ini lebih ke aspek humanisme,” Karena keterbukaannya, Anggota MUI DIY bidang
imbuh anggota Dewan Pembina Indonesian Conference Kerukunan ini kerap dinilai kontroversial, terutama oleh
on Religion and Peace (ICRP) ini. banyak tokoh NU. “Beda pandangan iku gaweane wong
Ia pernah menjalin kerja sama dengan Yayasan NU. Saya sendiri tidak punya pretensi semua harus
Buddha Suci, sebuah organisasi sosial beranggotakan berpandangan sama dengan saya,” tegas salah satu
penganut Buddha, untuk program penanaman sejuta pemrakarsa perundingan Malino ini.
pohon Mahoni. Bentuk kerja sama itu, imbuhnya, bibit Murid kesayangan pengasuh PP al-Mutaqin Pancasila
disediakan Buddha Suci dan pengelolaan lapangan Sakti, Klaten, KH. Muslim Rifai Imampuro alias Mbah
ditangani dirinya dibantu Lakpesdam NU Yogyakarta. Lim, ini juga menekankan pentingnya mengusung
“Baru 100 ribu pohon akan ditanam di lereng Merapi, isu kebangsaan, karena bisa menyatukan keragaman
Piyungan, dan Bantul,” katanya. masyarakat negeri ini. “Apapun agamanya, mereka iku
Pria kelahiran Kotagede 13 Maret 1953 ini aktif bongso dewe (bangsa kita sendiri, red.),” tandas anggota
ceramah di desa-desa yang mayoritas penduduknya non- komisi dialog antar agama Asian Conference Religion on
muslim. “Saya ceramah ke grass root, tidak ke elit. Tidak Peace (ACRP) ini.
hanya di desa muslim, juga desa non-muslim,” imbuh Nurul H. Maarif
penerima Tasrif Award tahun 2000 dari Aliansi Jurnalis

32 Suplemen the Wahid Institute Edisi VI / Majalah Gatra / 1 April 2006


Radikalisme Islam Menghadang Keragaman Indonesia

Teladan dari
Kampung Sawah
Oleh: Abdul Aziz Ahmad
Ketua PBNU, Peneliti senior pada Badan Penelitian dan
Pengembangan Agama, Departemen Agama

ILMUWAN Emile Durkheim menyebut agama sebagai conscience Kekerabatan dan ketetanggaan berprinsip tidak saling merugikan,
collective, landasan kesadaran kolektif. Dengan itulah identitas jadi hukum tak tertulis. Tolong-menolong dan gotong royong, jadi
sosial dibentuk dan direkat. Lalu, bisakah kebhinekaan agama darah dan daging. Maka setiap masalah sensitif tidak dieksploitasi
menjadi kekuatan integratif? Jawabannya mungkin tidak, jika bagi keuntungan suatu golongan, di atas kerugian golongan lain.
setiap orang menegaskan identitasnya sendiri. Kesediaan berkorban demi harmoni menjadi pilar lain
Merujuk pengalaman, antropolog Clifford Geertz warga kampung. Orang Islam mau menerima, shalat maghrib
mengingatkan, kerukunan hanya terjadi ketika setiap pemeluk mereka sedikit terganggu musik gerejawi. Protes pemuda
agama tidak menonjolkan identitas agamanya. Itulah momen di Kristen atas kedatangan mubaligh luar yang ceramahnya keras,
mana syahwat untuk memaksakan identitas tunduk pada hasrat tidak dimaknai ajakan berseteru. Tapi dihormati sebagai aspirasi
kuat untuk rukun. Jika ingin melihat momen seperti ini terwujud menjaga harmoni. Sebaliknya, umat Kristiani dan umat lain rela
dalam realitas, tak perlu pergi jauh. Lihatlah Kampung Sawah di menerima, waktu istirahat terganggu suara keras ajakan shalat
desa Jatimurni, di pinggir Kota Bekasi. subuh dan shalat lain. Mereka hormati keberatan orang Islam atas
Jatimurni, yang dimekarkan dari desa Jatiranggon, tak ba pembangunan rumah ibadah yang tak prosedural. Dan campur
nyak dikenal. Justeru Kampung Sawah, salah satu kedusunannya, tangan pemerintah diterima positif, karena memang dirasakan
amat legendaris sejak jaman penjajahan Belanda. Di kampung positif.
inilah bersembunyi para buronan VOC. Tapi, Kampung Sawah Di Kampung Sawah, menghormati agama orang lain bukan
juga bersejarah. Karena menjadi salah satu perkampungan orang sekedar pemanis. Warga tahu, doktrin agama tak mungkin
Betawi yang paling awal mengalami kebhinnekaan agama dan disatukan. Tapi mereka juga tahu, aspek sosial agama bisa
etnisitas. Pemeluk Islam, Katolik dan Protestan adalah mayoritas. dijadikan sarana membangun saling hormat dan persatuan umat.
Tapi di sini juga ada warga Hindu dan Budha. Dinamika hubungan Itulah refleksi pengalaman rohaniah warga yang terwariskan
sosial penduduk demikian khas penduduk asli: ramah, siapapun dari satu ke lain generasi. Bahwa pluralitas adalah keniscayaan
dipandang setara dan menghindari penonjolan identitas agama. hidup, tumbuh menjadi keyakinan. Pluralisme lalu menjadi titik
Seperti umumnya orang Betawi, orang Kampung Sawah perjuangan membangun kohesi sosial.
tak mengenal marga. Tapi persentuhan sebagian warga dengan Tapi, ancaman terbesar bagi kerukunan sungguh bukan dari
ke-Kristen-an mendorong mereka membangun marga dengan penduduk asli. Melainkan dari pendatang permanen maupun
nama yang khas Betawi. Maka lahirlah marga Bicin, Napiun, Empi, temporal. Banyak dari mereka seolah tak tahu adat. Padahal orang
Rikin atau Kelip. Mereka lalu menerapkan perkawinan eksogami, luar bisa belajar dari model ini, jika dipahami dalam konteks
antar marga. Meski perkawinan preferensial yang mengutamakan sejarah dan budaya yang melatarinya. Toh, ketahanan orang
satu agama tetap pilihan utama, perkawinan silang antar pemeluk Kampung Sawah menjaga tradisi toleran dan harmonis, amat
agama sering terjadi. Dengan begitu, pertalian keluarga turut tergantung pada kemampuan domestikasi mereka. Yakni, proses
menyuburkan kerukunan, di atas identitas agama. penjinakan aneka pengaruh dari luar. Jika sebaliknya yang terjadi
Tapi tidak berarti di sana sama sekali sepi dari konflik. kelak, maka Kampung Sawah tak lagi relevan.
Ketika sebagian warga membangun rumah ibadah yang tak Di saat pluralisme telah diputus haram dan orang cenderung
prosedural, warga lain protes. Di sini pemerintah desa turun beragama dengan bekal amarah, selayaknya Kampung Sawah
tangan. Sambil prosedur ditaati, kepala desa memfasilitasi diteladani. Di sini tersedia “konstruk teoretik”, bahwa konflik dapat
ibadah warganya dengan memfungsikan balai desa sebagai dikelola dan integrasi dapat terwujud. Dan harmoni tetap bisa
tempat ibadah. Konflikpun teratasi. Di sini nilai-nilai kewajaran dibangun di tengah dinamika kehidupan beragama masyarakat
dibangun: penduduk berlainan agama bisa hidup berdampingan. yang majemuk.

Suplemen the Wahid Institute Edisi VI / Majalah Gatra / 1 April 2006 33


dok.WI/ Witjak

34
Depancasilaisasi Lewat Perda SI

jilbab itu dengan terpaksa,” katanya kepada peneliti dari


Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR),
Subair Umam dan Mukrimin Amin di Makassar.
Maria hanya puncak gunung es ‘korban’ pemberlakuan
Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba No. 5/2003 tentang
Berpakaian Muslim dan Muslimah di Kabupaten Bulukumba.
Meski pasal 13 Perda itu menyebut: “Peraturan Daerah
ini hanya berlaku bagi masyarakat yang beragama Islam
dan berdomisili dan atau bekerja dalam wilayah Kabupaten
Bulukumba.”
Bahkan ayat 2 di pasal dan Perda yang sama menegaskan:
“Bagi Karyawan/ Karyawati, Mahasiswa/ Mahasiswi dan Siswa/
Siswi dan pelajar serta masyarakat yang tidak beragama Islam
busananya menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku
bagi agama masing-masing.”
Selain Perda di atas, Bupati Bulukumba Patabai Pabokori
pada 25 Agustus 2003, juga mengesahkan dua Perda lain
yang bernuansa Islam. Pertama, Perda No. 2/2003 tentang
Pengelolaan Zakat Profesi, Infaq dan Shadaqah dalam
Kabupaten Bulukumba. Kedua, Perda No. 6/2003 tentang
Pandai Baca al-Qur’an bagi Siswa dan Calon Pengantin dalam
Kabupaten Bulukumba.
“Perda Pandai Baca al-Qur‘an berpotensi memicu konflik
sosial,” kata Subair Umam. Kesimpulan itu berdasarkan
penelitiannya, akibat Perda tersebut beberapa perkawinan
sempat tertunda karena calon pengantin tak dapat memenuhi
dok.WI/ Gamal Ferdhi

syarat itu. Padahal pihak keluarga sudah sosialisasi perkawinan


anaknya. Dalam kebudayaan Bugis Makassar, pembatalan
sebuah perkawinan merupakan siri’ (malu, red.).
Tak hanya bagi calon pengantin, Perda Pandai Baca al-
Perempuan berdemo menolak peraturan diskriminatif Qur’an mengharuskan tiap pelajar yang akan naik kelas atau

Depancasilaisasi Lewat Perda SI


Saat pemerintah berupaya mempertahankan melanjutkan sekolah untuk menjalani ujian mengaji. Mereka
dinyatakan lulus bila bisa membaca al-Qur’an dan mendapat
keutuhan NKRI, pemerintah daerah justru sertifikat sebagai tanda kemahiran.
menggerogotinya dengan menelurkan Perda- “Sertifikat sebagaimana disebut pada ayat (1) dikeluarkan
oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk berdasakan
perda syariah. Itulah upaya depancasilaisasi rekomendasi dari sekolah yang bersangkutan dan pengawas
pendidikan agama,” jelas pasal 5 ayat 2 Perda itu.
yang dilakukan elit politik dengan cara Selain Perda itu, Bupati Patabai mengaku menggunakan
membajak syariat Islam. dana taktis daerah untuk mendukung program pakaian
muslim. Juga membentuk 12 desa muslim sebagai
percontohan penerapan syariat Islam. Ternyata proyek-proyek

S
epucuk undangan dari Desa Garuntungan, Kecamatan yang dicanangkan bupati itu menyimpan aneka masalah.
Kindang, Bulukumba untuk menghadiri pertemuan “Penentuan antara desa percontohan muslim dan
kader-kader kesehatan sekecamatan diterima Maria yang bukan, sangat problematik dan bisa menimbulkan
(nama samaran, red.) dengan gembira. Dengan seragam kecemburuan antar warga. Mereka yang desanya tidak
pantalon putih dipadu kemeja putih, bidan desa ini bergegas dianggap sebagai desa muslim juga bisa marah,” tegas
ke balai desa salah satu desa percontohan syariat Islam itu. anggota DPRD Bulukumba dari Partai Kebangkitan Bangsa
Pelataran balai desa telah dipadati warga. Maria bergegas (PKB), Zainal Abidin kepada Muh. Mabrur dari LAPAR Makassar.
menuju kerumunan itu. Namun langkahnya dihentikan panitia. Jejak Bulukumba yang getol menerapkan syariat Islam ini
Pasalnya, perempuan yang rajin kebaktian di gereja ini tak diikuti daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara
memakai jilbab (tutup kepala perempuan muslim). Meskipun Barat, Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Sumatera Barat.
petinggi desa setempat tahu Maria adalah non-muslim, sehelai Para legislator lokal berbondong-bondong studi banding
jilbab tetap saja disodorkan. dengan kas daerah ke tempat-tempat yang telah menerapkan
Maria tak mendebat. “Daripada jadi masalah, saya pakai Perda bernuansa Islam. Padahal banyak diantara mereka yang

Suplemen the Wahid Institute Edisi VII / Majalah Gatra / 29 April 2006 35
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

executive review.
“Keputusan pembatalan Perda itu ditetapkan dengan
Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya
Perda,” imbuh Dosen Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini
mengutip ayat 3 pasal yang sama di UU Otda.
Kenyataannya, Perda-perda Islami itu masih tetap
diberlakukan pemerintah daerah hingga saat ini. “Menurut
data yang kami dapat dari Komite Pemantauan Pelaksanaan
Otonomi Daerah, beberapa daerah memang sengaja tidak
melaporkan keberadaan Perda-perda yang dibuatnya. Hingga
saat ini kami masih mencari data apakah Perda-perda Islami
itu telah sampai ke tangan Departemen Dalam Negeri atau
belum,” ungkap Rumadi.
dok.WI/ Gamal Ferdhi

Seandainya executive review tidak dijalankan pemerintah,


jalan lain yang masih terbuka yaitu mengajukan judicial review
ke MA atau mengajukan gugatan ke MK. “Di luar itu ada proses
sosiologis, politis, bagaimana masyarakat melakukan pressure
di luar konteks hukum agar terjadi legislative review,” jelas
Wajah perempuan Aceh saat ini
Denny Indrayana.
Ironis, saat pemerintah pusat dengan berbagai upaya
hanya menjiplak peraturan-peraturan bersifat Islami itu. mempertahankan keutuhan Indonesia, pemerintah daerah
“Teknik legal drafting Perda-perda itu bermasalah, karena dan elite lokal justru menggerogoti persatuan bangsa dengan
copy paste. Pergi ke satu daerah, balik dengan Perda dari menelurkan Perda-perda dengan membajak syariat Islam.
daerah itu, diganti judulnya, bahkan ada daerah yang lupa “Syariat Islam direduksi menjadi sekedar masalah kulit
nama kabupaten (yang dijiplak, red.) masih belum diganti,” semata yang tidak menyentuh kebutuhan nyata masyara-
ungkap Dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada kat. Mereka gagal mempromosikan susbtansi ajaran Islam
Denny Indrayana (lihat: Ada Unsur Melecehkan al-Qur’an dan (maqashid al-syariah) dalam konteks pelayanan publik,” kata
Hadits). Rais Syuriyah NU Australia-New Zealand Nadirsyah Hosen
Taktik legislator daerah yang diungkap Denny itu kembali (lihat: Reformasi Syariat Birokrasi).
terbukti, ketika Anggota Komisi A DPRD Depok Qurtifa Wijaya Unsur maqâshid al-syarî’ah lainnya yang gagal dipenuhi
mengakui, Rancangan Peraturan Daerah Anti Pelacuran dan adalah hifdh al-dîn (memelihara agama). Unsur ini bisa diberi
Anti Minuman Keras Kota Depok meng-copy paste peraturan konteks jaminan kebebasan beragama bagi seluruh umat
daerah serupa dari Kota Tangerang. manusia seperti yang dijalankan Rasulullah di Madinah.
“Komisi A sudah melakukan kunjungan ke Kota Tangerang Dengan demikian, Perda-perda SI tidak saja bisa dibatal-
yang memiliki Perda No. 7/2005 tentang Antimiras dan No. kan demi hukum, tapi juga batal demi logika kemanusiaan,
8/2005 tentang Pelarangan Pelacuran. Kunjungan termasuk bahkan Islam.
juga ke Bali dan Banjarmasin,” kata anggota FPKS ini seperti Diperlukan ketegasan pemerintah pusat menghentikan
ditulis Indo Pos (18/4/2006). proses depancasilaisasi lewat Perda SI ini, agar bangsa
Di samping bermasalah pada teknik pembuatan, Denny Indonesia yang beragam tidak terpecah-belah.
menilai, Perda bernuansa Islami tidak mematuhi hirarki Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
perundang-undangan yang dimandatkan UU No. 10/2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Berdasar UU ini, Perda berada di bawah UU No. 32/2004
tentang Pemerintahan Daerah, yang lebih dikenal dengan UU
Otonomi Daerah (Otda).
Disebutkan dalam Pasal 10 ayat 3 UU Otda, urusan politik
luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal
nasional, dan agama merupakan wewenang pemerintah pusat.
“Kalau diatur Perda, keagamaan jadi masalah daerah.
Maka bisa diinterpretasikan, ini kewenangan pusat yang
diserobot oleh daerah,” tegas Doktor Hukum Tata Negara
lulusan Universitas Melbourne Australia ini.
Dari situ, Program Officer Pluralisme Watch the WAHID
Institute Rumadi menyimpulkan, “Karena babonnya (tiga Perda
SI Bulukumba, red.) sudah bermasalah, otomatis duplikatnya
dok.WI/Acep Zamzam Noor

juga,” katanya.
Tapi banyak cara menyelesaikan persoalan yang
menumpuk dalam Perda itu. Menurut pasal 145 ayat 2 UU Otda
menyatakan Perda yang bertentangan dengan kepentingan
umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. Langkah ini disebut
Spanduk sindiran bagi Syariatisasi Tasikmalaya

36 Suplemen the Wahid Institute Edisi VII / Majalah Gatra / 29 April 2006
Depancasilaisasi Lewat Perda SI

Reformasi Syariat
Birokrasi
Oleh: Nadirsyah Hosen
dok.pribadi

Ketua Syuriah PCI-NU Australia-New Zealand

BERAKHIRNYA kekuasaan Orde Baru (1966-1998) ditandai atau tidak.


dengan semangat melakukan reformasi. Setelah tuntasnya Contoh lain adalah bagaimana para penggagas
reformasi personal (tahap pertama) yang dicirikan dengan penerapan syariat Islam itu memberikan kontribusi pemikiran
naiknya para pemain baru di gelanggang politik nasional, agar birokrasi kita di daerah lebih ramping dan tepat sasaran
reformasi tahap kedua digelar dengan melakukan amandemen serta membenahi sistem penggajian dan insentif yang adil
UUD 1945. Periode reformasi konstitusional ini kemudian sesuai dengan merit system.
diikuti dengan tahapan berikutnya: reformasi birokrasi. Indikator berikutnya adalah fasilitas publik seperti toilet
Unsur pelayanan publik dan penataan kembali aparat umum, jalan raya, air bersih, lampu penerangan, angkutan
pemerintah baik di pusat maupun di daerah guna menjadikan umum, dan gedung sekolah terpelihara dengan baik dan
birokrasi lebih efisien dan efektif adalah unsur penting dari dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat. Ini semua
reformasi birokrasi. Tersendatnya reformasi pada periode ini termasuk inti atau substansi dari syariat Islam. Dan celakanya,
bukan saja mempersulit amanat gerakan mahasiswa 1998 ini pula yang sulit kita dapati di daerah yang menerapkan atau
untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), tidak menerapkan syariat birokrasi. Lalu apa bedanya bagi
tapi juga membuat masyarakat luas tidak merasakan dampak masyarakat antara menerapkan syariat atau tidak?
positif gerakan reformasi paska Orde Baru. Kedua, sebagian topik yang diatur dalam syariat birokrasi
Dalam konteks ini menarik dicermati respon sejumlah sebenarnya sudah kebablasan. Tidak ada aturan fiqh yang
kelompok Islam untuk turut serta dalam proses reformasi. mengatur pasangan calon pengantin untuk pandai baca-tulis
Mereka memaknai reformasi sebagai cara agar syariat Islam al-Qur‘an. Fiqh juga tidak memberikan sanksi duniawi baik
dapat diterapkan di Indonesia. Setelah gagal mendesakkan administratif ataupun pidana, bagi perempuan yang tidak
usulannya untuk mengamandemen pasal 29 UUD 1945 menutup rambutnya. Kalaupun pemakaian jilbab dianggap
dengan memasukkan kembali tujuh kata dari Piagam Jakarta, kewajiban syar’i, maka ini merupakan urusan individu dengan
sejumlah elemen di tubuh umat mempromosikan ide sang Khalik. Syariat birokrasi telah mencampuradukkan mana
penerapan syariat Islam di beberapa daerah. yang tuntunan moral, mana yang berupa anjuran dan mana
Bukannya turut serta menggagas dan mengisi program yang berupa kewajiban agama.
reformasi birokrasi, sesuai prinsip negara hukum dan Ketiga, syariat birokrasi di sejumlah daerah juga tidak
pemerintahan yang baik, mereka malah asyik mempromosikan memenuhi paradigma birokrasi modern: catalytic government
syariat versi mereka melalui tangan-tangan birokrasi. Ini yang dan community-owned government (David Osborne dan Ted
saya sebut dengan “syariat birokrasi”. Gaebler, 1993). Birokrasi pemerintahan seharusnya lebih
Topik yang diatur mulai dari masalah aturan berpakaian, berfungsi sebagai katalis, yang melepaskan bidang-bidang
pembuatan papan nama Arab Melayu, pemberlakuan “jam yang seharusnya dapat dikerjakan sendiri oleh masyarakat.
malam” bagi perempuan sampai dengan diadakannya Masalah berpakaian dan kemampuan memahami huruf
program baca tulis al-Qur‘an bagi calon pengantin. Bentuk Arab sejatinya merupakan urusan masyarakat bukan urusan
perangkat hukum yang digunakan mulai dari Surat Edaran birokrasi. Birokrasi seharusnya memberdayakan masyarakat
Bupati, Instruksi Walikota, Surat Gubernur sampai dengan agar tidak tergantung sepenuhnya kepada pemerintah. Yang
Peraturan Daerah (Perda). kita saksikan beban birokrasi kita malah menjadi semakin
Syariat birokrasi semacam ini paling tidak mengandung bertambah.
tiga persoalan. Pertama, syariah Islam direduksi menjadi Kegairahan sejumlah daerah menerapkan syariat birokrasi
sekedar masalah kulit semata yang tidak menyentuh justru dapat menjadi bumerang ketika masyarakat lambat laun
kebutuhan nyata masyarakat. Mereka gagal mempromosikan akan menyadari bahwa hidup mereka tidak berubah menjadi
susbtansi ajaran Islam (maqashid al-syariah) dalam konteks lebih baik. Padahal reformasi bukan sekedar mengubah aturan.
pelayanan publik. Bagi masyarakat, syariat Islam dianggap Menurut Justice Kirby, reform is a change for the better.
berhasil diterapkan apabila pegawai di kantor bupati melayani Kita pantas untuk khawatir kalau syariat birokrasi ini dapat
publik dengan baik, efektif, efisien dan tidak ada unsur KKN. melalaikan kita untuk fokus pada tahapan reformasi yang amat
Bukanlah menjadi soal apakah pegawai tersebut berjilbab dan mendesak kita lakukan saat ini: reformasi birokrasi!
apakah papan nama kantor bertuliskan huruf Arab Melayu

Suplemen the Wahid Institute Edisi VII / Majalah Gatra / 29 April 2006 37
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Denny Indrayana, SH, LLM


Ketua PUKAT FH-UGM

Perda SI
Melecehkan al-Qur’an & Hadits
Fenomena maraknya Perda bernuansa Syariat Islam (SI) berkaitan dengan:
pertama, terbukanya peluang lewat otonomi daerah (desentralisasi). Kedua,
memperjuangkan SI melalui koalisi
aspirasi permanen ‘sebagian’ kelompok Islam untuk memasukkan hukum Islam ke dengan partai-partai nasionalis.
dalam hukum nasional. Karena upaya memasukkan tujuh kata Piagam Jakarta Tentu ada yang menjawab secara
tulus ingin ada SI itu. Kalau di DPR
dalam amandemen UUD tidak kunjung berhasil, sekarang kecenderungan itu ada almarhum Hartono Marjono yang
bergeser ke tingkat daerah melalui Peraturan Daerah (Perda). Dalam istilah memang perjuangannya tulus. Tapi
yang lain adalah politisi-politisi free rider
Mao Tse-tung, strategi ini disebut ‘desa mengepung kota’. Jadi kalau Perda-perda yang hanya memanfaatkan SI sebagai
kendaraan politiknya.
sudah ada di berbagai daerah, pada akhirnya SI menjadi bagian yang tidak bisa
dihilangkan lagi dari tengah-tengah masyarakat. Demikian Ketua Pusat Kajian Apa saja permasalahan Perda-perda SI?
Dari segi teknik legal drafting Perda-
Anti Korupsi (PUKAT) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Denny perda itu bermasalah, yaitu copy paste.
Pergi ke satu daerah, balik dengan Perda
Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D kepada Subhi Azhari dan Widhi Cahya dari the WAHID dari daerah itu, diganti judulnya, bahkan
Institute. ada daerah yang lupa nama kabupaten
(yang dijiplak, red.) masih belum diganti.
Dari segi moral juga bermasalah.
Siapa ‘sebagian’ umat Islam Indonesia politik. Pada 2004, PBB melontarkan Mereka hanya jalan-jalan menghabiskan
yang setuju formalisasi SI? gagasan SI, tapi tidak ada konsistensi anggaran. Itu artinya koruptif. Padahal
Mengenai pastinya, agak sulit. memperjuangkannya. Ada dua indikator. di saat yang sama mereka meneriakkan
Tapi dari proses amandemen UUD 45, Pertama, karena disertasi saya tentang Perda SI.
jumlahnya lebih kecil dari 50 persen. perubahan UUD, jadi saya baca risalah Dari segi waktu, menjelang pilkada
Indikatornya, pertama, dua ormas Islam rapat PBB dalam sidang DPR antara 1999- untuk menarik simpati masyarakat.
terbesar NU dan Muhammadiyah tidak 2002. Ada kata-kata, “Sudahlah, kita sama- Dan dari segi substansi: ecek-ecek (ti­dak
lagi getol mendorong, bahkan menolak sama tahu kalau (kita, red.) ini tidak akan signifikan, red.), sangat prosedural, dan di
Piagam Jakarta masuk dalam UUD. kita teruskan perdebatan itu”. Yang lain permukaan. Seperti Kalimantan Selatan
Representasi pendukung SI, biasanya mengatakan, “Tapi jangan sekarang, malu yang membuat Perda Jumat Khusu’,
kelompok-kelompok yang relatif di depan konstituen. Nanti saja di detik- Raperda Larangan Mandi di Sungai, dan
bersemangat untuk tidak mengatakan detik terakhir”. Ini tanda mereka tidak Perda Ramadlan. Kalau Perda hidup
radikal, seperti FPI atau DDII. serius, hanya sandiwara saja di depan sederhana bagi pejabat atau anti korupsi,
Kedua, partai yang mendukung konstituen. itu menurut saya lebih SI.
adalah PPP, PBB dan PDU. Tiga partai itu Kedua, saat pemilu. Dalam rentang Pembuatan Perda SI juga tidak
kalau dijumlahkan, itu minoritas. Sudah waktu 1-2 bulan usai Pemilu Legislatif, sesuai dengan UU No. 10/2004 tentang
minoritas dari konteks keormasan, dari saat Pemilu Presiden, PBB berkoalisi Pembentukan Peraturan Perundang-
organisasi politik lebih minoritas lagi. dengan Partai Demokrat, Golkar dan undangan. Karena dari segi penjaringan
Apalagi tiga partai itu ‘elitis’ aspirasinya. lain-lain yang tidak memperjuangkan aspirasi, tidak maksimal. Biasanya ada
Saya tidak yakin tiga partai ini dipilih SI. Mungkin itu masalah pilihan manipulasi, dengan mendatangkan orang
semata-mata karena SI. Karena kalau politik. Tetapi dari sisi kesetiaan untuk membawa aspirasi. Itu kemudian
ditawarkan SI yang mana, saya yakin tiga memperjuangkan SI, usai mendapatkan diklaim sebagai aspirasi masyarakat.
partai ini akan berdebat. dukungan konstituen mereka Kemudian dari sisi tertib hukum, UU
Saya melihat ada manipulasi- tinggalkan tanpa berfikir panjang. No. 10 itu menyebut hierarki peraturan.
manipulasi untuk kepentingan Dan jangan pernah bermimpi berhasil Berdasar UU itu, Perda ada di bawah

38 Suplemen the Wahid Institute Edisi VII / Majalah Gatra / 29 April 2006
Depancasilaisasi Lewat Perda SI

UU No. 32/ 2004 yang mengatakan bisa diargumentasikan lex specialist dilanggar Perda itu, maka mereka bisa
masalah keagamaan itu adalah masalah terutama kalau ada local content, aspirasi mengajukan keberatan ke MK. Tapi
pusat. Kalau diatur Perda, keagamaan lokal. Tapi dari sisi lain ini melanggar menurut aturan kita, Perda diuji ke MA,
jadi masalah daerah. Maka bisa hak asasi orang yang mau menikah, tapi sedang MK hanya menguji UU hingga
diinterpretasikan, ini kewenangan pusat belum bisa baca tulis al-Qur‘an. Jadi UUD. Ini hanya inovasi, toh Perda itu
yang diserobot oleh daerah. antara local content dengan national adalah undang-undang, hanya dia dibuat
content itu bertentangan atau tidak. Pemerintah Daerah.
Beberapa Perda menyebut Apakah diatur di sana kalau orang Di luar itu ada proses sosiologis,
konsiderannya al-Qur’an dan Hadits. tidak bisa baca tulis al-Qur’an, disediakan politis, bagaimana masyarakat melakukan
Bagaimana posisinya dalam sistem proses belajar baca tulis sehingga pressure di luar konteks hukum agar
hukum kita? tidak menghambat hak dia untuk terjadi legislative review, yaitu mendorong
Barangkali ingin menegaskan bahwa menikah? Kalau tidak maka akan terjadi lagi parlemen dan kepala daerah untuk
ini adalah aturan yang bersumber dari penyelundupan hukum. Orang-orang merubah, mencabut atau memperbaiki
hukum Islam, dan agar lebih menjual yang mau kawin pindah kabupaten. Perda-perda itu.
kepada publik. Karena UUD atau UU
tidak pernah menyebut, berarti al-Qur’an Apa langkah-langkah yang bisa Siapa saja yang bisa melakukan Judicial
dan Hadits tingkatnya hanya di tataran ditempuh untuk memperbaiki Perda- Review?
konsideran Perda. Kalau orang yang perda itu? Kelompok yang merasa Perda itu
mengerti legal drafting, di situ ada unsur Kalau proses hukumnya, ke MA lewat bermasalah. Diajukan ke MA dengan
melecehkan al-Qur’an dan Hadits karena judicial review. Dengan catatan 180 hari permohonan tertulis. Legal standingnya
Perda ada di hierarki peraturan yang setelah Perda itu dikeluarkan, kalau lewat akan dilihat.
paling bawah menurut UU No. 10/2004. maka kadaluarsa permohonannya. Kalau di Bulukumba misalnya para
Begitu interpretasi yang valid. Kemudian ada mekanisme dalam mempelai atau LSM yang mempunyai
Biasanya alasan para elit lokal UU No. 32/ 2004, yaitu executive review. kepentingan langsung dengan masalah
membuat aturan untuk masalah Perda yang dibuat harus dikirim ke pusat. advokasi, masyarakat yang dirugikan,
yang sama dengan pusat memenuhi Jika melanggar, Perda itu bisa dinyatakan atau yang menganggap Perda itu
kebutuhan daerah. tidak berlaku oleh Peraturan Presiden, tidak aspiratif. Bisa kelompok muslim
Kalau aturan itu spesialis (lebih walaupun daerah yang bersangkutan dan non muslim, karena isi peraturan
khusus) karena ada local content, bisa. bisa mengajukan keberatan ke MA. Tapi yang diskriminatif hanya berlaku untuk
Misalnya, ternyata di daerah itu ada sekarang belum kelihatan ada executive kelompok muslim.
hukum adat yang dilestarikan secara review untuk Perda-perda SI. Padahal Kalau Perda Prostitusi kelompok
turun-temurun. Misalnya, ijab kabul itu kalau dikaji, pasti ada pertentangan perempuan yang paling dirugikan, kalau
lebih afdhol dengan Bahasa Arab, silahkan dengan UU No. 32/2004, UU No. 10/2004 Perda baca tulis al-Qur‘an kelompok yang
saja. Tapi tidak menjadi aturan yang wajib, bahkan UUD. ingin menikah yang dirugikan. Tapi saya
hanya fakultatif. Tapi pada saat aturan Juga ke Mahkamah Konstitusi (MK). sendiri merasa dirugikan, karena menurut
itu menjadi wajib, bisa bermasalah kalau Pihak yang merasa hak-hak konstitusinya saya ada manipulasi syariat Islam di situ.
dilihat dari segi hierarki tadi. dilanggar, misalnya di Bulukumba Hanya saja ini ini belum tentu pendapat
Syarat baca tulis al-Qur‘an memang hak dasar menikah yang dijamin UUD orang banyak.

Suplemen the Wahid Institute Edisi VII / Majalah Gatra / 29 April 2006 39
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.Muhammadiyah
Peluncuran program civic education

Asupan Demokrasi
untuk Kebangsaan
Runtuhnya Orde Baru berefek pada pendidikan
W
arung nasi Ceuceu Inggrid di pojok selatan
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati
kewarganegaraan atau civic education di Bandung tak berubah sejak delapan tahun silam.
Makanan lezat dan harga ramah untuk kantong mahasiswa.
berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Tidak Kalaupun ada perubahan, paling fokus obrolan para
hanya yang formal, lembaga non-formal seperti pelanggannya yang mayoritas mahasiswa kampus itu.
Pemilihan Umum (Pemilu) kampus untuk memilih
pesantren dan lembaga swadaya masyarakat presiden mahasiswa, adalah topik paling seru bagi mahasiswa
perguruan tinggi di kawasan Cibiru Bandung itu. Perhelatan
tak ketinggalan. Bagaimana mata ajar itu ini digelar setahun sekali. Layaknya Pemilu dalam skala
dikembangkan? nasional, di sana juga ada undang-undang kepartaian,
parpol, kampanye, azas trias politica, debat kandidat presiden
mahasiswa dan sebagainya.

40 Suplemen the Wahid Institute Edisi VIII / Majalah Gatra / 7 Juni 2006
Asupan Demokrasi Untuk Kebangsaan

Itulah miniatur praktek demokrasi di level perguruan Dengan sokongan pemerintah itu, CE berhasil masuk
tinggi. Tak hanya di UIN Bandung, dinamika politik yang berbagai kampus di negeri ini, kendati dengan nama beragam.
disebut student governance ini juga merebak di hampir seluruh Di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta misalnya, materi
kampus di tanah air. ini bertitel Pendidikan Resolusi Konflik dan Perdamaian, di
Praktek demokrasi dalam bentuk pemilu di berbagai Universitas Trisakti bertitel Pendidikan Kebangsaan, Demokrasi
level memang disambut antusias, baik oleh mahasiswa dan HAM, di Universitas Mercu Buana (UMB) bertitel
maupun masyarakat. Namun terdapat keterputusan antara Pendidikan Etika Berwarganegara, dan di Universitas Bina
semangat itu dan sikap masyarakat saat merespon persoalan Nusantara (Ubinus) bertitel Character Building.
kebangsaan. Perguruan Tinggi Islam Negeri atau Swasta dan Perguruan
“Masyarakat kita sangat semangat berdemokrasi. Tapi Tinggi Muhammadiyah tetap menggunakan nama civic
artikulasi dan ekspresi sebagian mereka memperlihatkan education. “Ini terjadi karena di dalam kurikulum, kita diberi
sikap-sikap yang uncivilized. Dengan dalih demokrasi, mereka keleluasaan oleh pemerintah dalam hal penamaan. Yang
membakar gedung, merusak mobil dan sebagainya,” tegas terpenting substansinya,” jelas Abdul Rozak.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta, Prof. Dr. Ditambahkannya, saat ini tidak kurang dari 213
Dede Rosyada. perguruan tinggi Islam telah mengajarkan CE, yaitu 47
Fenomena menjalani kebebasan yang cenderung anarkis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN), 79 Perguruan Tinggi
dan melanggar HAM, dinilai Dede, sebagai dampak pendidikan Islam Swasta (PTIS) di Jawa Barat dan Jakarta, dan 87 PTIS di
kewarganegaraan model Orde Baru yang menerapkan sistem Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara. Sedang di lingkungan
komando, dari atas ke bawah. “Perlu model pendidikan Muhammadiyah, CE telah diajarkan setidaknya di 20
kewarganegaraan baru yang mengembangkan paradigma Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Malah tak lama lagi CE
pembangunan yang berbasis masyarakat,” lanjut penulis buku akan diajarkan di 509 SMA, 249 SMK, dan 171 MA di bawah
Paradigma Pendidikan Demokratis ini. naungan Muhammadiyah. Tak hanya di jalur formal, CE pun
Dengan alasan itu, Dede bersama kawan-kawannya berkembang di jalur non-formal (lihat: Merajut Islam dan
di UIN Jakarta mereformasi pendidikan kewarganegaraan Demokrasi).
saat pasca kejatuhan rezim Orba. Pembelajaran berorientasi Apakah semua itu mengindikasikan keberhasilan
demokratisasi Indonesia ini pun diberi nama Civic Education pengajaran CE? Ternyata tidak. Dari hasil survei terhadap
(CE). pengajaran CE di UIN Jakarta saja misalnya, terungkap fakta
Secara umum, pembelajaran CE meliputi kajian dan minimnya kreativitas dosen, pembelajaran yang masih
pembahasan mengenai konstitusi, lembaga-lembaga instruktif dan gaya mengajar yang masih berbau Orba,
demokrasi, rule of law, hak dan kewajiban warga negara, sehingga menyebabkan mahasiswa kurang kritis.
partisipasi aktif dan keterlibatan warga negara dalam civil Di luar itu, masih ada kendala terbatasnya buku ajar
society. dan harganya yang mahal. “Ini sering mengganggu proses
Menurut Said Tuhuleley, munculnya kebutuhan atas CE belajar-mengajar, karena dosen akhirnya harus melakukan
didorong oleh tiga alasan utama. Pertama, meningkatnya ceramah lagi untuk menjelaskan isi buku,” tulis LP3 UMY dalam
gejala ‘buta’ politik di kalangan warga negara. Kedua, laporannya.
meningkatnya apatisme politik dengan semakin sedikitnya Karena itu, Dede Rosyada berharap, CE harus terus
keterlibatan warga negara dalam proses politik. Dan ketiga, dikembangkan. “Juga perlu ada standard nasional yang baku
masih terjadinya pelanggaran HAM baik yang dilakukan semacam Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) yang
negara maupun warga negara. membina dosen Kewiraan, dilatih, di-training, dan seterusnya,”
“Di sinilah urgensi civic education, yakni mendorong setiap imbuhnya.
orang agar menjadi warga negara yang partisipatif, kritis, taat Hal yang sama disampaikan Udin S. Winataputra. Bahkan
hukum, menghormati perbedaan dan berani menyatakan Udin menilai, CE yang dikembangkan di Asia baru tahap to
pikiran dan perasaannya,” jelas Said yang juga Ketua Lembaga know democracy (mengetahui demokrasi, red.). “Belum how to
Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas build democracy (bagaimana membangun demokrasi, red.),”
Muhammadiyah Yogyakarta (LP3 UMY). ujarnya.
Alasan lainnya, Pendidikan Kewiraan mesti direformasi Sebab itu pula, jika ada orang yang beranggapan
seiring derasnya arus demokratisasi. “Jadi CE itu kita isi dengan pengajaran CE di negeri ini telah berhasil, Udin
tiga pilar yang saling berkait, yaitu demokrasi, HAM dan civil menyanggahnya. “Itu sering bikin saya malu hati. Saya sendiri
society,” kata Abdul Rozak dari Indonesian Center for Civic merasa, kita belum banyak beranjak secara signifikan, kecuali
Education (ICCE) UIN Jakarta. sebatas knowing (pengetahuan, red.),” akunya.
Pemerintah pun menyambut baik pengembangan CE Karena itu Udin merasa masih banyak yang harus
ini, melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dilakukan para penggagas CE agar demokrasi di Indonesia
(Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional No. 267/DIKTI/ benar-benar terwujud. “Seluruh komponen bangsa yang
KEP/2000 tentang Penyempurnaan Kurikulum Inti Mata Kuliah peduli dalam soal ini harus menyatukan pikiran dan terus
Pengembangan Kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan bekerja,” pesan profesor yang puluhan tahun menggeluti CE
pada Perguruan Tinggi di Indonesia. ini.
Sedang standar nasional pengajaran CE di sekolah dan Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif, Subhi Azhari
perguruan tinggi, kini tengah diperbaiki oleh Badan Standar-
isasi Nasional Pendidikan (BSNP). “Tim inilah yang menyiapkan
standar isi, metode pembelajaran dan pengajarnya,” jelas
Direktur Pascasarjana Universitas Terbuka Jakarta, Prof. Dr. Udin
S. Winataputra (baca: Baru Knowing, Belum Doing).

Suplemen the Wahid Institute Edisi VIII / Majalah Gatra / 7 Juni 2006 41
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Prof. Dr. Udin Saripudin Winataputra Apa lagi tantangan yang dihadapi CE?
Direktur Pascasarjana Universitas Terbuka
Tantangannya termasuk sistem

Baru Knowing, Belum Doing


multipartai dan otonomi daerah. Misalnya
sejarah lahirnya UUD 1945 pasal 33 tentang
bumi, air, dan kekayaan laut dipelihara oleh
negara, itu yang merumuskan Hatta dan
Syahrir. Mereka itu pemuda Sumatera yang
PULUHAN tahun menggeluti Civic tahu di bawah alam Sumatera ada kekayaan.
Education (CE), menjadikan Prof. Dr. Udin Tapi karena Otda, ada kabupaten bertengkar
soal laut. Ini menyebabkan Indonesia
S. Winataputra sangat berkompeten terkavling. Akhirnya yang terbentuk bukan
berbicara soal ini. Menurutnya, CE di orang yang punya jiwa keindonesiaan, tapi
Indonesia baru sebatas knowing belum orang yang lokalis, primordial dan sangat
egosentris. Itu ironis!
doing. Indikatornya, mahasiswa yang

dok.WI/ Gamal Ferdhi


telah dibekali prinsip-prinsip CE, ketika Bagaimana perkembangan CE saat ini?
berunjuk rasa masih ada yang tidak Sekarang ini, standar isi pendidikan
tertib. Malah tak jarang anarkis. Berikut kewarganegaraan untuk SD, SMP, dan SMA
sangat dominan kontennya. Ini berarti anak
penuturannya kepada Gamal Ferdhi dan sekolah hanya diperkuat knowing-nya. Untuk
Nurul H. Maarif dari the WAHID Institute: SMP misalnya, ada bunyi kompetensi, siswa
mampu menganalisis suasana kebatinan
Apa tujuan awal diciptakannya CE? Ini berlangsung sampai tahun 1974. Tahun pembuatan konstitusi. Celaka! Kalau anak
CE itu program kurikuler yang 1975 berubah jadi PMP. Tahun 1994 jadi Pendi­ SMP harus dicekoki untuk menganalisis, apa
dirancang untuk sekolah di AS. Tujuannya dikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). sih suasana kebatinan itu? Padahal itu untuk
membangun warga negara AS yang cerdas Pelajaran-pelajaran itu menjadi alat mahasiswa fakultas hukum jurusan hukum
dan bertanggungjawab. Atau smart dan good pemerintah untuk mengindoktrinasi rakyat. tata negara.
citizens. Warga itu hypothetical citizen kata Lewat mata pelajaran ini kita dicekoki
Aristoteles. Maksudnya, semua orang baru bagaimana seharusnya menjadi warga negara
Evaluasi CE itu sendiri seperti apa?
bisa menjadi warga negara yang baik kalau dengan memahami doktrin politik kenegaraan
ada upaya khusus mendidiknya. Jadi harus ada waktu itu. Padahal seharusnya semua Sekarang, karena knowing, evaluasinya
upaya sistemik yang dilakukan pemerintah pendidikan itu untuk membangun warga hanya testing. Kalau sudah doing, evaluasinya
untuk membangun masa depan bangsanya. yang pro negara, bukan pro pemerintah. Kalau bukan lagi testing, tapi juga doing. Karena itu,
Salah satunya dengan melakukan pendidikan perlu kritis terhadap pemerintah. Barulah Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
kewarganegaraan atau CE. beberapa tahun silam, pasca Orde Baru, sekarang sedang memperbaiki standar isi,
muncul wacana baru tentang pendidikan standar pembelajaran dan standar guru yang
kewarganegaraan sebagai wahana pendidikan nantinya akan diterapkan dari SD sampai PT.
Adakah akar CE untuk konteks Indonesia?
demokrasi.
Kita memang punya tradisi sendiri.
Bukankah banyak orang beranggapan CE
Upaya membangun bangsa itu lahir sejak
Apa kelemahan CE yang ada sekarang? telah berhasil?
awal abad 20. Kita mencatat ada semangat
berbangsa Indonesia yang oleh orang Barat CE di Asia baru teaching about Itu sering bikin saya malu hati. Saya
ditengarai sebagai indikator bangkitnya democracy (pengajaran tentang demokrasi, katakan, itu hanya lips service. Saya sendiri
kesadaran orang-orang Timur. Puncaknya red.) yang lebih ke wacana. Dengan kata lain merasa, kita belum banyak beranjak secara
pada 28 Oktober 1928. Saat itu sejumlah baru how to know democracy (bagaimana signifikan. Dalam pemikiran memang banyak
anak muda berikrar dan bersemangat untuk mengetahui demokrasi, red.) dan belum how berubah.
menjadi banga yang satu, hidup di tanah to build democracy (bagaimana membangun
tumpah yang satu dan berbahasa yang satu demokrasi, red.) seperti di AS, Inggris dan New Lalu capaian apa yang telah diraih CE?
bahasa Indonesia. Ini kian mengkristal ketika Zealand. Jadi di Indonesia kita harus bergerak Yang paling kelihatan hanya knowing
Indonesia merdeka pada 1945. ke tengah dulu. Jangan langsung melompat saja. Orang banyak tahu demokrasi. Itupun
ke building. baru pada tingkat akademis. Doing-nya ada,
Jadi tradisi bernegara bangsa Indonesia ada tapi kalau dipersentase mungkin knowing-nya
sejak dini? Bukankah CE sudah cukup lama diajarkan di 75 persen. Buktinya anak-anak sekolah kalau
Betul! Persoalannya bagaimana Indonesia? berdemo nggak bisa tertib. Indikatornya itu
mewujudkan itu? Salah satu alatnya adalah Memang. Tapi demokrasi itu tumbuh saja. Mereka tahu demokrasi, tapi belum bisa
pendidikan sebagai sarana membangun jika ada kulturnya. Sebagian besar orang mempraktekkannya.
bangsa ini lewat generasi mudanya. Inilah mengatakan, kita tidak punya akar demokrasi. Jadi, banyak pekerjaan yang harus kita
latar historis dan filosofis mengapa kita Karena sejarah kita itu sejarah kerajaan atau lakukan. Seluruh komponen yang konsen
harus punya program pendidikan yang monarki lokal. Budaya kita bukan budaya dalam soal ini harus menyatukan pikiran dan
dirancang khusus untuk membangkitkan Indonesia, tapi budaya komuniter. Saya sering konsisten menyebarkan hal ini lewat media
kesadaran berbangsa. Maka pada era dialog dengan orang DPR. Dalam benak massa, sehingga terbangun kebersamaan
61-an dikembangkanlah mata pelajaran mereka bukan Indonesia nomor satu, tapi sebagai bangsa. Misalnya kesadaran orang
Civic. Tahun 1968, Civic berubah menjadi partai. Apalagi kalau sudah menjelang Pemilu. Aceh, Jawa, Sunda, Manado dan sebagainya.
Pendidikan Kewargaan Negara (PKN). Doktrin Sebenarnya politisi harus diajarin slogan Bangunlah kesamaan itu. Jangan tonjolkan
pemerintahnya mulai dikurangi dan muncul mereka sendiri: “loyalitas pada partai selesai perbedaannya. Simbol-simbol Indonesia harus
doktrin negara yaitu UUD 1945 dan Pancasila. ketika loyalitas pada bangsa dimulai”. selalu dikedepankan.

42 Suplemen the Wahid Institute Edisi VIII / Majalah Gatra / 7 Juni 2006
Asupan Demokrasi Untuk Kebangsaan

Civic Education:
Pengalaman Pendidikan
di Indonesia
dok.pribadi
Oleh: Azyumardi Azra
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

DI KALANGAN dunia pendidikan kewargaan mencakup pengetahuan bergulir, mulai muncul pertanyaan
di Indonesia, Civic Education (CE) tentang lembaga-lembaga dan sistem tentang relevansi mata kuliah Pancasila
termasuk istilah baru yang semakin yang terdapat dalam pemerintahan, dan Kewiraan. Usaha reformasi mata
populer, khususnya pada sewindu sistem politik, proses-proses demokrasi, kuliah ini ternyata tidak semudah yang
reformasi. Walaupun sebenarnya, hak dan kewajiban warga negara, dibayangkan. Di perguruan tinggi,
Indonesia berpengalaman cukup administrasi publik dan sistem hukum. mata kuliah Pancasila akhirnya ‘diubah’
lama dalam bidang ini, yaitu Selain itu, pendidikan kewargaan juga Depdiknas menjadi Filsafat Pancasila.
pengajaran mata pelajaran Civics mencakup keahlian dan pengetahuan Sementara, mata kuliah Kewiraan
dan kemudian Pendidikan Pancasila tentang kewarganegaraan aktif, refleksi cenderung sulit diubah, karena terdapat
dan Kewarganegaraan (PPKn). Tentu kritis terhadap proses-proses politik dan resistensi yang kuat dari dosen-dosen
saja terdapat perbedaan-perbedaan pemerintahan, dan kerjasama di antara Kewiraan yang memiliki privilege berupa
substantif dan metodologis antara CE warganegara. Terakhir sekali, pendidikan sertifikat khusus dari Lemhanas untuk
dan PPKn. kewargaan juga mencakup wilayah mengajarkan mata kuliah ini.
Bagi saya, CE lebih tepat keadilan sosial, pengertian antar-budaya, Inisiatif lebih drastis dilakukan
diterjemahkan sebagai ‘pendidikan dan kelestarian lingkungan hidup. IAIN (kini UIN) Jakarta yang pada 1999
kewargaan’, yang lebih menempatkan Di Indonesia, pendidikan kewargaan menghapus mata kuliah Kewiraan dan
warga negara sebagai subyek daripada merupakan paradigma baru Civics yang memperkenalkan Pendidikan Kewargaan.
sekadar obyek vis-à-vis negara. Istilah sudah diajarkan di SMA sejak 1962. Pilot proyek ini menjadi sebuah kisah
‘pendidikan kewargaan’ mengandung Sejak 1968, mata pelajaran Civics diganti sukses, dengan penyebaran mata kuliah
konsep ‘masyarakat kewargaan’, dengan Pendidikan Kewarganegaraan, ini ke seluruh lembaga pendidikan
‘masyarakat madani’, ‘masyarakat sipil’ yang isinya mencakup sejarah Indonesia, tinggi Islam, baik negeri dan swasta.
atau civil society. Inilah warga yang geografi, ekonomi, politik dan pidato- Dan kisah sukses ini menarik perhatian
memiliki ‘budaya kewargaan’ (civic pidato Presiden Soekarno. Mata pelajaran Malaysian Citizenship Initiative (Proyek
culture) yang kemudian terejawantah ke ini wajib dipelajari murid-murid sejak dari Warga) dan Center for Civic Education,
dalam civility atau keadaban. SD, SMP sampai SMA. Pada 1975, rezim Amerika Serikat untuk juga mengkajinya
Harus diakui, CE yang semakin Soeharto mengubah mata pelajaran dalam loka karya Educating the Young
menemukan momentum sejak 1990-an Pendidikan Kewarganegaraan menjadi for Active Citizenship, di USM Penang
dipahami secara berbeda-beda. Bagi Pendidikan Moral Pancasila (PMP), 11-13 Desember 2004. Melalui forum
sebagian ahli, pendidikan kewargaan yang isinya merupakan indoktrinasi ini berbagai gagasan tentang perluasan
diidentikkan dengan ‘pendidikan Pancasila sesuai penafsiran monolitik pendidikan kewargaan juga menjadi
demokrasi’ (democracy education). Di pemerintahan Orde Baru dalam P4. agenda pokok.
sini pendidikan kewargaan mencakup Kurikulum 1984 bahkan mempertegas Dengan demikian, dilihat dari
kajian dan pembahasan tentang mata pelajaran ini sebagai indoktrinasi segi ini, Indonesia dengan ‘separated
pemerintahan, konstitusi, lembaga- politik, tidak hanya untuk ‘kelestarian’ approach’ melalui mata pelajaran khusus
lembaga demokrasi, rule of law, dan hak Pancasila, tetapi lebih penting lagi Civics, Pendidikan Kewarganegaraan,
dan kewajiban warga negara. Sementara kelanggengan (status quo) rezim PPKn, Pancasila, dan Kewiraan, dan
bagi sebagian ahli lain, pendidikan penguasa. Akhirnya, sesuai dengan Filsafat Pancasila, sebenarnya telah
kewargaan disebut citizenship education UU Sisdiknas 1989, mata pelajaran ini berdiri di depan dalam pengembangan
yang muatannya menekankan pada disesuaikan menjadi PPKn. CE; ditambah lagi dengan mata kuliah
proses-proses demokrasi, partisipasi aktif Sedangkan pada tingkat perguruan CE, yang kini sudah diadopsi banyak
dan keterlibatan warga negara dalam tinggi diwajibkan mata kuliah Pancasila perguruan tinggi. Tetapi, harus diakui,
civil society. dan Kewiraan, yang pada dasarnya terdapat sejumlah masalah dalam mata
Masih ada lagi sebagian ahli yang juga merupakan indoktrinasi politik. pelajaran atau mata kuliah tersebut;
berpendapat, bahwa pendidikan Sejak 1998, ketika reformasi terus kecuali pada Pendidikan Kewargaan

Suplemen the Wahid Institute Edisi VIII / Majalah Gatra / 7 Juni 2006 43
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara Asupan Demokrasi Untuk Kebangsaan

yang dirumuskan setelah forum belajar bersama LKiS


Indonesia berubah dari
otoritarianisme menjadi
demokrasi. Akibatnya, Merajut Islam dan Demokrasi
mereka gagal dalam usaha
sosialisasi dan diseminasi LEMBAGA Kajian Islam dan Sosial (LKiS) di Jogjakarta anak jalanan, para diffable, perbedaan orientasi
demokrasi. adalah salah satu lembaga non-pemerintah yang seksual, perbedaan adat, dan lain-lain.
Kegagalan itu, hemat menggeluti pendidikan kewarganegaraan melalui Karena itu, dalam forum Belajar Bersama, LKiS
saya, bersumber setidaknya forum Belajar Bersama. Forum ini dimulai sejak 1997 memulai dengan identifikasi problem-problem
dari tiga hal. Pertama, secara dan berlangsung setiap tahun. yang dihadapi warga negara selama ini. Kemudian
substantif, Civics, PPKn, Kegiatan yang diselenggarakan di Jogjakarta mengemukakan sebab-sebab struktural dalam
Pancasila, dan Kewiraan ini, pada awalnya dimaksudkan sebagai ruang diskusi lingkup lokal, nasional maupun global, yang
tidak secara terencana bagi para santri, mahasiswa dan aktivis sosial tentang melahirkan problem itu.
dan terarah mencakup persoalan-persoalan mendasar di sekitar agama, “Tidak lupa, kita juga membicarakan secara kritis
kekuasaan, pengetahuan, ideologi dan masyarakat. orientasi pemikiran dan gerakan Islam dalam konteks
materi dan pembahasan
“Dalam perkembangan selanjutnya, Belajar kewarganegaraan,” jelas Jadul.
yang lebih terfokus pada Bersama juga menjadi forum pertukaran pengalaman Seperti LKiS, Perhimpunan Pengembangan
pendidikan demokrasi di antara peserta, yang terdiri dari para community Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, termasuk
dan kewargaan. Materi- organizer, seputar praksis gerakan masyarakat dan NGO yang gencar menanamkan nilai-nilai demokrasi
materi yang ada umumnya kaitan-kaitan struktural yang melingkupinya,” tegas melalui kegiatan pendidikan kewarganegaraan atau
terpusat pada pembahasan Direktur Eksekutif LKiS Jogjakarta M. Jadul Maula. Civic Education (CE) di lingkungan pesantren, baik di
yang bersifat idealistik, Dalam forum, yang diimajinasikan sebagai pesantren Jawa maupun luar Jawa.
legalistik dan normative cikal bakal ‘universitas’ LKiS, ini terdapat tiga fakultas, “Pendidikan kewarganegaraan untuk kalangan
sesuai dengan interpretasi yaitu Fakultas Islam dan Relasi Antar Agama, Islam pesantren, misalnya melalui program Santri
dan hegemoni makna oleh dan Gerakan Perempuan di Indonesia, dan Islam dan Government (SG) pada 2001 dan 2003,” jelas Project
rezim Orde Baru. Kedua, Politik Kewarganegaraan. Officer Santri Government P3M AS Burhan.
kalaupun materi-materi “Di tahun 2005 lalu, Belajar Bersama Kegiatan itu, imbuh Burhan, meliputi
secara khusus mengangkat dua tema. Islam dan pelatihan implementasi nilai-nilai demokrasi
yang ada pada dasarnya
Multikulturalisme dan Islam dan Politik Lokal yang pada lembaga/organisasi santri, pembentukan
potensial bagi pendidikan secara khusus menelaah munculnya Perda-perda pranata kepemimpinan melalui proses rekruitmen
demokrasi dan pendidikan Syariat Islam di berbagai wilayah di Indonesia,” demokratik, dan lain sebagainya.
kewargaan, tapi potensi ujarnya. “Kami berharap dengan kegiatan tersebut,
itu tidak berkembang Menurut Jadul, materi-materi ini penting karena proses demokratisasi di lingkungan pesantren dapat
karena pendekatan dalam dua hal. Pertama, dari sudut kewarganegaraan. semakin diperkuat, bukan saja pada tataran wacana,
pembelajarannya bersifat Banyak kebijakan dan perilaku negara yang justru tetapi sekaligus masuk ke tahap internalisasi,” katanya.
indoktrinatif, regimentatif, melanggar bahkan menindas hak-hak warga
monologis, dan tidak negaranya sendiri.
partisipatif. “Seperti hak menikmati kekayaan alam, hak atas
Ketiga, subyek-subyek lapangan pekerjaan, hak atas keamanan, hak atas
mata pelajaran dan mata kebebasan berkeyakinan, hak atas kepastian hukum,
dan lain-lain,” jelas Jadul.
kuliah tersebut lebih teoritis
Kedua, dari sudut Islam. Jadul mengakui,
daripada praktis. Akibatnya
mainstream pemikiran dan gerakan Islam
terdapat diskrepansi yang Indonesia belum mendukung upaya penguatan
jelas di antara teori dan dan pemenuhan hak-hak warga negara dalam
wacana yang dibahas menghadapi ketidakpedulian dan keangkuhan
dengan realitas sosial-politik negara.
yang ada. Bahkan pada Alasan lainnya, materi CE dalam kurikulum
tingkat sekolah/universitas resmi tidak menjawab masalah yang banyak terjadi di
sekalipun diskrepansi itu negara ini. “Bahkan menambah kekaburan masalah,”
sering terlihat pula dalam kritik Jadul.
Kritik itu didasarkan pengamatannya tentang Forum belajar bersama LKiS dok.LKiS
bentuk otoritarianisme
bahkan feodalisme materi CE yang lebih menekankan kewajiban warga
negara, bukan hak-haknya. “Ini terbalik. Mestinya Kegiatan SG, antara lain, telah dilaksanakan di
orang-orang sekolah dan Ponpes al-Hikmah Sirampog Brebes Jawa Tengah,
penekanannya pada kewajiban negara terhadap
universitas itu sendiri. warganya dan hak warga negara atas negara, lalu Ponpes al-Hamidiyah Jakarta, Ponpes al-Masthuriyah
Akibatnya, bisa dipahami, baru kewajiban warga terhadap negaranya,” tegasnya. Sukabumi Jawa Barat, Ponpes Assidhiqiyah Tangerang
kalau sekolah/universitas Jadul juga melihat adanya persoalan dalam Banten, Ponpes Sukahideng Tasikmalaya Jawa Barat,
gagal membawa peserta konsep kewarganegaraan (citizenship) yang lebih Ponpes al-Ihya’ Ulumuddin Cilacap Jawa Tengah dan
didik untuk ‘mengalami mengutamakan legalitas dan menyeragamkan warga lain sebagainya.
demokrasi’. Wallahu a’lam bi negara, sehingga cenderung diskriminatif. “Kelompok Dikatakan Burhan, program ini bisa diterima
al-shawab. yang mempunyai keyakinan maupun agama ‘tidak dan mendapat sambutan positif dari kalangan
legal’, tidak diakui sebagai warga negara,” paparnya. pesantren. “Demokrasi juga memberikan tempat bagi
Demikian juga, konsep kewarganegaraan yang inspirasi agama, tapi melalui proses konstitusional,”
dominan belum menampung perbedaan-perbedaan pungkasnya.
kultural yang ada di dalam masyarakat, seperti kultur Subhi Azhari, Nurul H. Maarif

44 Suplemen the Wahid Institute Edisi VIII / Majalah Gatra / 7 Juni 2006 44
Mengikis Fundamentalis Dengan Berbisnis

Santri Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman Parung di pabrik roti dok.WI/Nurul H

Mengikis Fundamentalis
dengan Berbisnis
Kemandirian ekonomi diyakini bisa mengikis fundamentalisme. Untuk tujuan itu, banyak pondok
pesantren (ponpes) melakukan pemberdayaan ekonomi seraya terus meniupkan nilai-nilai Islam damai.

L
ara Saade grogi saat Habib Saggaf bin Mahdi bin Syeikh “Makan, tidur, sekolah, juga kesehatan, semua gratis. Yang
Abu Bakar menyurungkan microphone dan memintanya penting kita belajar, bekerja dan berusaha,” ujar pemimpin
memperkenalkan diri. Sebagai spesialis pengembangan ponpes, Habib Saggaf.
masyarakat di Bank Dunia, berorasi di depan massa bukan hal Ponpes yang didirikan 17 Juli 1998 ini memadukan sistem
baru bagi Lara. Tapi yang ini jelas pengalaman pertamanya. salafi, sekolah umum dan peningkatan kualitas keahlian
“Baru kali ini saya berbicara di hadapan ribuan laki-laki santri. Santri mengikuti jenjang pendidikan dari ibtidaiyah,
di dalam masjid. Apalagi baru selesai menunaikan shalat tsanawiyah, ‘aliyah sampai universitas.
Jum’at,” kata Lara dalam Bahasa Arab, di Masjid Agung Pondok “Santri di sini banyak yang miskin dan yatim piatu. Tapi
Pesantren al-’Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, Jum’at kualitas ustadznya cukup baik. Mereka alumni Timur Tengah
(23/6/2006). dan sejumlah universitas dalam negeri lulusan S1, S2, dan S3,”
Bisa diduga, kedatangan Lara ke sana untuk mengemban jelas Habib.
tugas dari bossnya, Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz yang Ponpes yang dibangun di atas lahan seluas 160
juga pernah mengunjungi ponpes itu awal April 2006. Paul hektar ini, mengharuskan santrinya tinggal di asrama. “Kita
kagum pada pengelolaan ponpes itu. Ponpes yang mengasuh tidak menerima murid yang keluar-masuk. Karena nanti
8.231 santri itu mampu menghidupi dirinya sendiri, tanpa tidak terkontrol,” imbuh pria berdarah Yaman yang selalu
memungut bayaran sepeserpun dari para santrinya. mengenakan jubah namun ramah ini.

Suplemen the Wahid Institute Edisi IX / Majalah Gatra / 12 Juli 2006 45


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/ Gamal Ferdhi

Santri Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor

Mengoperasikan ponpes sebesar itu, tentu butuh dana 1 miliar. Koperasi juga menyediakan barang dengan harga
besar. Namun Habib punya cara agar ponpesnya tetap mandiri. 30% lebih murah dari harga di luar,” kata Cece, santri kelas 3
“Alhamdulillah, ponpes ini bisa berjalan dengan pengolahan Tsanawiyah asal Cianjur Jawa Barat.
sampah, perkebunan sawah dan pabrik roti,” katanya. Ponpes tidak hanya memberi kesempatan pada santri
Daur ulang sampah menjadi bisnis pertama yang dirintis. untuk mengembangkan ekonomi di kebun milik ponpes.
Sampah organik dijadikan kompos untuk kebun ponpes Pasangan suami-istri alumni juga diberi kesempatan
dan dijual. Sampah non-organik didaur ulang dan dijual ke mengelola lahan seluas 1 hektar selama dua tahun di daerah
penampung. “Sekali jual insya’allah dapat Rp 1 juta,” ungkap Banten. “Hasilnya, setengah buat mereka, setengah buat
Saiful, santri Fakultas Tarbiyah Universitas Habib Saggaf dari ponpes,” kata Habib.
Sukabumi Jawa Barat, yang Jum’at itu bertugas mensortir Lahan ponpes di Banten seluas 1.272 ha itu, terdiri dari
sampah. sawah, empang dan mata air mineral. “Sisa lahan masih
Bahkan Habib Saggaf berencana mengelola sampah Pasar dikerjakan orang kampung dengan sistem pembagian yang
Parung. “Belum ada kesepakatan. Kabupaten Bogor belum mau sama. Kami juga berniat menjadikan mata air sebagai pabrik
mendrop sampahnya ke sini. Ini aneh. Padahal jika sampahnya air minum kemasan di daerah itu,” obsesinya.
kita olah, Pemda diuntungkan. Mereka bilang masih dalam Kemandirian serupa juga dijalankan Ponpes al-Ittifaq Ba-
proses. Beginilah birokrasi Indonesia,” keluh Habib. bakan Jampang, Ciwidey, Bandung. Ponpes asuhan KH. Fuad
Selain pengolahan sampah, pertanian menjadi usaha lain Affandi yang berdiri pada 1934 dan kini diisi 300 santri salaf
ponpes. Sekarang lahan sudah mencapai 20 hektar. Ada sawah, itu, selain dikenal dengan kajian kitab klasiknya, juga dikenal
kolam, kebun lavender dan bunga matahari. Juga ada kebun aktivitas agribisnisnya. Di samping ditanamkan kesalehan
sayuran dan palawija. Hasilnya dibagi dua, antara santri dan pribadi, para santri juga dibekali kesalehan sosial. “Kegiatan
ponpes. agribisnis dikelola santri untuk pembiayaan mereka di ponpes,”
Dua konsultan pertanian pun disediakannya untuk kata KH. Fuad.
mengembangkan keahlian bertani santri. “Saya rekrut dari IPB Di lahan kering seluas 15 ha itu, para santri diberdayakan
dan Universitas Sriwijaya,” ungkap Habib kelahiran Dompu, untuk bercocok tanam, terutama sayuran, seperti tomat,
Nusa Tenggara Barat, 15 Agustus 1945 itu. wortel, jipang, dan sebagainya. Hasilnya yang sehari mencapai
Misinya meningkatkan keahlian santri. Tak cuma itu, empat ton, disalurkan ke berbagai hipermarket besar di
sebuah pabrik roti pun didirikannya di halaman ponpes. “Kalau Bandung dan Jakarta.
mereka lulus dari ponpes, bisa bikin pabrik roti,” terangnya. “Itu semua bisa terjadi karena saya punya prinsip; jangan
Pabrik roti dengan produksi 8.000 roti per hari itu, dijalankan ada sampah yang ngawur, jangan ada tanah yang tidur dan
kelompok santri secara bergiliran. “Kita belum jual keluar. Baru jangan ada waktu yang nganggur,” ujar alumni Ponpes al-
dimakan oleh santri saja,” katanya. Hidayah, Rembang Jawa Tengah ini. “Jika ada 500 ponpes
Hasil kerja para santri selama di ponpes disimpan di seperti ini, kaum muslim di Indonesia tidak ada yang miskin,”
koperasi santri. “Dana simpanan itu hampir mencapai Rp tambahnya.

46 Suplemen the Wahid Institute Edisi IX / Majalah Gatra / 12 Juli 2006


Mengikis Fundamentalis Dengan Berbisnis

Untuk menjaga kontinuitas pasokan, baik sayuran atau


buah-buahan ke hipermarket-hipermarket, santri petani mene-
rapkan pola tanam. “Kerja sama dengan kelompok tani juga
digalang,” jelas KH. Fuad yang menjadi generasi ketiga keluarga
ponpes tersebut.
Ponpes yang dipimpinnya sejak 1974, itu juga memiliki
usaha perikanan dan peternakan meliputi ternak sapi,
kambing, ayam, dan kelinci untuk pemanfaatan limbah

dok.Nurul H. Maarif
sayuran dan pupuk kandang. “Semua harus dimanfaatkan,
karena tidak ada ciptaan Allah yang tak berguna,” ujarnya.
Hal yang sama disampaikan Dandan, menantu KH. Fuad.
Menurutnya, ponpes juga memberdayakan masyarakat
sekitar di lahan seluas 300 ha. “Kita bina masyarakat baik SDM,
manajemen pemasaran, maupun permodalan. Ponpes hanya KH. Thantowi Jauhari Musaddad
sebagai fasilitator,” imbuhnya.
Pemberdayaan masyarakat itu meliputi budidaya teh,
garmen, pupuk organik, dan sebagainya. “Hasilnya bisa kita
jadikan sumber dana bantuan untuk operasional ponpes,”
Wakafkan Hidup
untuk Umat
ujarnya.
Ponpes al-Ittifaq tak rikuh bekerjasama dengan badan
pemerintah maupun non-pemerintah. Bahkan dengan pihak
asing seperti Kedutaan Besar Belanda melalui horticulture
program untuk membantu petani di sekitar ponpes. “Kita PENGASUH Ponpes al-Wasilah Garut Jawa Barat, KH
mengambil tutornya dari Belanda,” jelas Dandan. Thantowi Jauhari Musaddad, getol menyebarkan konsep
Saat ini, ujar Dandan, pihaknya sedang menjalin kerja Pembangunan Pedesaan Mandiri, Berbasis Amal Shaleh
sama dengan pemerintah Taiwan, guna mengembangkan Sosial, Berwawasan Lingkungan. “Saya mewakafkan hidup
cabe organik. “Ini karena pasar meminta. Jadi kita terus saya untuk umat dan program ini,” tegasnya.
berinovasi,” katanya. Putra kesembilan KH. Prof. Anwar Musaddad yang
Hasil usaha santri itu juga digunakan untuk membantu kini bermukim di lereng gunung Papandayan ini, mencita-
masyarakat miskin. Misalnya, membantu pemukiman warga citakan dapat memberdayakan 420 desa di Garut dalam
yang tidak layak huni atau masyarakat miskin. “Kita juga rutin rentang waktu 4 hingga 6 tahun. “Kalau saya sukses di
mengadakan nikah masal setiap Syawal dan khitanan masal Garut, saya akan mencoba ke kabupaten lain,” tekad Kiai
setiap Rajab. Sejak 2002 kita juga membangun 36 masjid Thantowi.
dengan dana sekitar Rp 6 miliar,” ungkap Dandan. Pemberdayaan yang dilakukan Kiai Thantowi
Para pengasuh ponpes itu memang serius dan para santrinya, adalah menyediakan data detail
mengembangkan kemandirian ekonomi ponpes dan santri- terkait potensi yang dimiliki masyarakat. “Data statistik
santrinya. Mereka beralasan, jika para santri tidak mapan pemerintah hanya mencatat golongan darah dan agama.
secara ekonomi, mereka potensial bertindak di luar etika Kita lebih dari itu. Hobby olah raga, masalah kesehatan,
kesantrian. asset, kekayaan, dan sebagainya, semua kita data,” imbuh
Seperti dikatakan Habib Saggaf, ekonomi rendah bisa kiai yang gemar memakai blangkon khas Sunda ini.
memicu tindak terorisme. “Karena uang tidak ada, seseorang Dicontohkannya, seumpama masyarakat desa
bisa terjerumus dalam terorisme,” jelasnya. tertentu banyak yang memiliki motor, maka merk, tahun
Selain itu, imbuhnya, mereka juga bisa menjadi pelaku keluaran, jumlah yang dimiliki, ke bengkel mana jika
kriminal. “Termasuk jadi dukun bohong-bohongan dan bisa rusak, semua masuk pendataan. “Setelah itu kita analisa,
jadi preman, karena merasa diri punya kekebalan,” terangnya. mereka service ke mana. Ternyata ke kota semua. Lantas
“Menurut saya ini semua terjadi karena mereka kesulitan dengan melihat fakta itu kita rekomendasikan desa itu
secara ekonomi. Sebaliknya, jika agama tidak diajarkan, ya bisa untuk membuka bengkel, tambal ban, toko onderdil, dan
jadi koruptor, pencuri atau penipu,” imbuhnya. sebagainya,” katanya.
Dr. Moeslim Abdurrahman juga meyakini kaitan Proyek percontohan pendataan ini rencananya akan
fundamentalisme dengan kemiskinan. “Orang yang punya dimulai Juli atau Agustus 2007. “Kita akan mematangkan
harta bisa jadi hedonis dan yang tidak punya bisa jadi modulnya dulu. Lalu kita akan bikin pelatihan untuk
fundamentalis,” ujarnya kepada the WAHID Institute. memasukkan data. Cukup sebulan, kemudian harus jalan
Karena itu, pendidikan multidisiplin di ponpes dinilai sendiri,” terangnya.
bisa mengikis semua ekses negatif itu. “Kita harus membuat Ditanya soal dukungan Pemda, alumni S1 dan
sekolah yang selain mengajarkan pengetahuan modern full, S2 Tafsir Hadits Ummul Qura University, Makkah ini
juga agama full,” tegas Habib Saggaf. menjawab, Pemda selalu mendahulukan kepentingan
Sekaranglah waktunya para kiai menyiapkan santrinya politik. “Ketika kita mengajak bersinergi dengan Pemda,
agar mumpuni di bidang agama, teknologi, juga memiliki mereka keberatan. Ini tidak akan jalan, karena bukan
harta cukup. Semua itu dianjurkan Islam, bukan? angka (uang, red.),” ungkapnya.
Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif Nurul H. Maarif

Suplemen the Wahid Institute Edisi IX / Majalah Gatra / 12 Juli 2006 47


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Habib Saggaf bin Mahdi


bin Syeikh Abu Bakar

Habib
Ramah
di Balik
Jubah
“NANTI kamu jadi ulama besar dan
kaya raya. Kamu masuk pondok saja.
Berangkatlah! Tawakkaltu,” demikian
nasihat Habib Soleh bin Ahmad bin
Muhammad al-Muhdhar, ulama besar
dari Bondowoso, Jawa Timur usai
‘menelisik’ kaki Saggaf bin Mahdi yang
masih berusia 14 tahun.
Namun Saggaf muda masih ragu.
Pasalnya sejak kecil ia tak pernah
mondok. “Kepala seperti mau pecah
mendengar perintah itu. Tapi saya
pergi juga ke Pesantren Darul Hadits di
Malang,” kenang Saggaf.
Di depan pintu ponpes, Saggaf
diterima pendiri Darul Hadits, Habib
Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih al-
Alawy. “Kamu musti belajar baca al-
Qur’an,” kata Habib Abdul Qadir seraya
memegang kuping Saggaf. Sontak, sakit
kepala dan keraguan Saggaf hilang. “Hati
saya terbuka. Ini guru saya. Apapun yang
terjadi, saya harus belajar di sini,” tekad
Saggaf muda.
Saggaf pun menempuh pendidikan
di sana dengan cemerlang. “Saya
menjadi santri hanya 2 tahun 7 bulan
dan langsung ngajar fiqh dan nahwu.
Saya di sana 13 tahun,” kenangnya.
Usai dari Malang, Saggaf
berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di
Aljazair selama 5 tahun dan i’tikaf di
Makkah selama 5 tahun. Saggaf juga
memperdalam tarekat di Irak. Namun
ia harus kembali ke tanah air. Guru
tarekatnya yang beraliran Syadziliyah,
merekomendasikannya belajar tarekat di
Santriwati Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman Mranggen, Demak.
dok.WI/ Witjak

48 Suplemen the Wahid Institute Edisi IX / Majalah Gatra / 12 Juli 2006


Mengikis Fundamentalis Dengan Berbisnis

“Karena tarekat Syadziliyah agak


sulit di Indonesia, maka saya disuruh ke
Mranggen yang beraliran Qadiriyyah.
Syekh Muslich Mranggen itu guru tareqat
saya,” ungkap Habib Saggaf kepada Gamal
Ferdhi dan Ahmad Suaedy dari the WAHID
Institute.
Dia pun lantas kembali ke Dompu
mendirikan Ponpes Ar-Rahman. Tak
lama berselang, Habib pindah ke Parung
Bogor mendirikan Ponpes al-‘Ashriyyah
Nurul Iman. Sebelum ke Parung, Habib
mendirikan Ponpes Nurul Ulum di Kalimas
Madya, Surabaya, yang banyak menerima
murid dari Singapura, Malaysia, Brunei

dok.WI/ Gamal Ferdhi


Darussalam dan Afrika.
Mulai dari situ, undangan ceramah
banyak datang dari negara tetangga.
Ratusan ribu massa selalu memadati
majelisnya di Singapura. “Bukan hanya
Habib Saggaf di lokasi daur ulang sampah pesantrennya
orang Melayu dan Islam, orang Cina,
India, Budha, Hindu dan lain-lain, telah
memenuhi stadion Singapura sejak sore,”
ujarnya. daur ulang sampah dan membuat roti. keturunan India di Indonesia, Gandhi
Kepandaian Saggaf menguasai Diakui Saggaf, ikhtiar ekonomi Sevaloka.
Qiraah Sab’ah (bacaan al-Qur’an dengan para santrinya belum cukup untuk Hadirnya beberapa bangunan dari
riwayat tujuh imam, red.) membuatnya menghidupi ponpes terbesar di Bogor sumbangan komunitas non-muslim itu,
ditunggu majelisnya di Singapura. Namun itu. Karena itulah, dia menerima beberapa menurut Saggaf, karena dirinya tak segan
kepandaian itu juga yang mengakibatkan dermawan menyedekahkan hartanya bergaul dengan siapa pun. “Kadang
salah seorang Mufti Singapura me- untuk kepentingan ponpes. beberapa pendeta tidur di sini untuk
nuduhnya mengutak-atik bacaan al-Qur’an. “Dua masjid itu sumbangan dari mempelajari sistem ponpes ini,” akunya.
“Saya dituduh merusak al-Qur’an. orang yang sama,” ungkap Habib Saggaf Ia juga terus menanamkan toleransi
Akibatnya ponpes saya di Surabaya disegel menjelaskan asal-usul dua masjid besar antar pemeluk agama di negeri ini.
Depag dengan alasan takut bentrok di dalam ponpes. Satunya berkapasitas Karenanya, ia menyayangkan aksi
antara Indonesia dengan Singapura. Tanah 5.000 orang untuk santri laki-laki dan kekerasan sekelompok orang dengan
seluas 5 ha di Sekupang Batam yang sebuah lagi berkapasitas 300 orang untuk mencatut Islam. “Akibatnya Islam
diberi pemerintah juga ditarik kembali,” santri perempuan. dipandang salah. Orang Islam dianggap
ungkapnya mengenang peristiwa di awal Tak hanya itu, beberapa tukang makan orang,” katanya lugas.
1980-an itu. perkumpulan agama non-Islam turut Menurut Saggaf, rusaknya citra Islam
Dia pun pindah ke Jakarta. Di ibu kota menyumbang konsumsi, tenaga juga karena ajaran Islam disalahpahami.
Habib Saggaf pun menghidupi majelis di pengajar, gedung olah raga dan asrama. “Itu, orang-orang yang ngaku mujahid.
Masjid Agung Bintaro. Krisis sosial-politik Jadi, jangan heran jika di depan masjid Mujahid apa itu, berontak di negara
pasca jatuhnya Soeharto, tepatnya 19 Juni agung ponpes berdiri dojo Taekwondo orang. Mereka bikin kacau Indonesia.
1998, membuat Habib Saggaf memutuskan seluas 200 m2, sumbangan dari Kalau saya presiden, saya usir mereka.
pindah ke Desa Warujaya, Parung, Bogor pengusaha Korea Selatan, Park Young Saya tangkap dan saya suruh tinggal di
yang lebih tenang dibanding Jakarta. Soo. Arab. Jadi, jika kita ingin memperbaiki,
Ternyata, krisis ekonomi turut “Guru Taekwondonya dari Korea. jangan yang sudah rusak dirusak lagi. Itu
menghancurkan masyarakat Desa Kita juga memadukan seni zafin (tarian baru mujahid,” himbaunya.
Warujaya. Hal itu memicu Habib Saggaf arab, red.) dengan Taekwondo. Sekarang Untuk itu, ia menghimbau kelompok
mengumpulkan anak-anak sekolah di sedang dipatenkan di Korea Selatan,” yang mengusung nama Islam agar
rumahnya. “Sebelum sekolah mereka jelasnya. menyelesaikan segala persoalan melalui
makan nasi ketan di rumah. Tiap anak saya Ponpes itu juga memiliki gedung mekanisme hukum. “Ini Indonesia. Ada
kasih uang jajan Rp 250. Dan tiap keluarga dua lantai, dengan 24 ruang kelas, pemerintah, ada hukum, dan ada polisi.
kita bagi beras 5 kg,” katanya. 2 ruang guru, 32 kamar mandi dan Mereka yang menjaga keamanan. Jika
Pada 1999, datanglah seorang santri 20 toilet. Pendidikan tsanawiyah, tidak melalui jalur hukum, berarti ingin
asal Wonogiri, Solo, bernama Prawoto aliyah dan Universitas Habib Saggaf mendirikan negara dalam negara. Tapi
Suwito. Kedatangannya memberi spirit diselenggarakan di situ. “Ini sumbangan pemerintah juga salah, kok orang-orang
bagi Habib ini untuk mendirikan Ponpes dari Yayasan Buddha Tzu Chi,” katanya. kayak begitu (anarkis, red.) dibiarkan.
al-’Ashriyyah Nurul Iman. Kian lama Puluhan tempat bermukim para Mereka itu bisa merusak Indonesia,”
ponpesnya kian besar, hingga kini memiliki santri, banyak yang berasal dari infaq tandasnya.
8.231 santri. Selain beribadah dan belajar, orang tua santri. Diantaranya sebuah Gamal Ferdhi
ponpes itu juga melatih santrinya bertani, asrama sumbangan dari organisasi

Suplemen the Wahid Institute Edisi IX / Majalah Gatra / 12 Juli 2006 49


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Kita dan Pragmatisme


Kiai Dul
Oleh: Nur Khalik Ridwan
Anak Buruh Tani NU, Tinggal di Jogjakarta.

dok.WI/ Witjak
DUA puluh tahun lalu, Kiai Dul masih jelasnya. seperti ini cepat melupakan umat
menjadi guru kami. Banyak orang Tak beberapa lama, pesantren kami di bawah, yang dulu bersama-sama
berkunjung ke pesantrennya. Dia menjadi ambruk dan pecah. Murid-murid membangun pesantren dari nol, dan
mengajari kami bagaimana membangun yang asalnya ada 600 orang tinggal 30 yang bersama-sama bahu-membahu
pesantren dari nol: gotong-royong orang. Masyarakat di sekitar pesantren membuatnya berkharisma.
mengangkut pasir dari kali, bersama- merasa tak perlu menghormati Kiai Dul. Kecenderungan ini telah menjadikan
sama ro’an memecah batu-batu besar, Akhirnya Kiai Dul menjadi topik obrolan kiai sebagai sosok selebritis dan
dan mengorganisir masyarakat untuk orang-orang kampung, di sawah dan di individualistis, tak mau berbagi, dan
terlibat dalam pendirian pesantren. Sang pasar. Keluarlah kata-kata dari masyarakat dalam hal tertentu menjadi kanibalis
Kiai juga mengajari kami ilmu-ilmu di yang membuat kami menangis: “Dasar sosial, menjadikan umat sebagai sapi
pesantren, mulai dari Safinah al-Najah, Kiai bajingan. Kiai kok ndak beda dengan perah. Selalu saja kalau sudah mendapat
`Awamil al-Jurjani, `Imrithi, Syarh Ibnu preman,” dan banyak lagi. akses dana-dana publik tak mau berbagi
`Aqil, dan banyak lagi. Yang menarik di sini, fenomena dengan umat, dibajak untuk dirinya
Telah dua puluh tahun kami Kiai Dul bukan asing di lingkungan sendiri. Jadilah tabungannya berlipat-
meninggalkan pesantren. Perubahan praksis kekiaian. Ternyata memang ada lipat, tapi umatnya menjadi kelaparan.
telah banyak terjadi. Kiai Dul sedikit- kecenderungan kiai-kiai kita: Pertama, Seorang kawan muda pernah
sedikit terlibat dalam politik dan akses- mereka yang tak memiliki pekerjaan menelpon kiai seperti ini untuk
akses ekonomi di tingkat lokal. Jadilah mapan ketika mengenal dunia politik membantu relawan-relawan gempa di
Kiai Dul sosok yang tak bisa dibayangkan dan akses ekonomi telah menjadikan lapangan. Jawabannya sederhana: “Aku
untuk dua puluh tahun lalu, banyak nilai-nilai kekiaian seperti air yang bangga kalian telah bergerak. Bawa
riyadhah, menyatu dengan masyarakat, menguap. Gantinya adalah praksis- selalu bendera NU.” Mendengar jawaban
dan mengajari kami arti penting sebuah praksis pragmatisme yang luar biasa, jauh kiai besar ini, kawan muda kami ini jadi
keikhlasan berjuang untuk umat. mengalahkan mereka yang selama ini paham bahwa secuil pun kiai besar ini tak
Kiai Dul memang bukan sosok pragmatis dan preman. Kiai-kiai seperti ini mau tahu, apalagi memikirkan umatnya,
terkenal. Tapi pergaulan dengan politik anehnya tak mau menggunakan resources dan sedikit meneteskan pemberdayaan
dan orang-orang politik menjadikannya akses publik untuk pemberdayaan untuk warga di bawah adalah nol.
memiliki akses ke sumber ekonomi lokal. ekonomi umat yang berkesinambungan, Dua kecenderungan kekiaian yang
Suatu ketika Kiai Dul dipercaya oleh tapi malah senang menjadi calo semata. terlibat dalam dunia sosial ini memang
birokrasi lokal untuk menjadi korlap Seorang kawan kami yang punya tak mewakili seluruh pola kekiaian.
pengentasan kemiskinan di daerah kami. cita-cita besar untuk memberdayakan Tapi kalau Anda dengan telisik dalam,
Konsep pengentasan kemiskinan yang masyarakat desa dan NU, dan telah sebetulnya dua pola ini sudah cukup
diberikan adalah memberikan pinjaman kenyang dengan pengalaman besar dan menjadi penyakit kronis
kepada masyarakat untuk bisa kreatif berinteraksi dengan mereka, bahkan kekiaian. Meski begitu, ketika bertemu
dalam membangun ekonomi. mengungkapkan kekecewaan yang dengan Kiai Saleh kami masih memiliki
Seorang kawan kami di satu mendalam. “Pemberdayaan justru sedikit harapan. Katanya: “Dik, kiai itu
gothakan pesantren memberi mentok di kiai, karena ia tak mau berbagi, pewaris sang nabi, bukan hanya yang
keterangan: “Kiai kita sudah beda. Dana- ia menjadi elit lagi dengan baju lain, bisa mendaras kitab suci. Praksis nabi
dana untuk masyarakat dimakan sendiri dan selalu modal sosial pemberdayaan kita adalah berjuang untuk umat,
dan dibagi-bagikan ke keluarganya. dipotong di tingkat kiai, tidak diobsesikan memberdayakan kaum miskin, kaum
Pertanggungjawabannya tak jelas. Ini untuk berkesinambungan bagi umat. Kiai- budak, anak-anak yatim, dan kelompok-
pun belum cukup. Murid-murid masih kiai kita sekarang ini lebih paham tentang kelompok marjinal untuk memiliki hak.”
disuruh untuk mencari uang di jalan-jalan angka dari pada huruf,” katanya. Kiai Saleh menambahkan: “Jadi, kalau
dengan kotak. Alasannya pembangunan Kedua, mereka yang memiliki sang kiai tak seperti itu, ya bukan kiai.
pesantren, tapi lagi-lagi tak pernah jelas. pekerjaan mapan, dan dengan mengenal Dan sekarang ini tampaknya kita sedang
Murid-murid juga dihimbau untuk ikut akses publik ataupun politik, kemudian dipimpin oleh mereka.” Dalam hati kami
partai tertentu. Ini yang membuat murid- menjadi lebih mapan dan kaya, selalu bergelora: “Kaum muda harus tahu apa
murid meninggalkan pesantren kita,” beralih cantolannya ke atas. Kiai-kiai yang mesti dilakukan.”

50 Suplemen the Wahid Institute Edisi IX / Majalah Gatra / 12 Juli 2006


Berebut Massa
Lewat Media
Berbagai kelompok Islam menerbitkan
buletin dengan harapan dapat
mempengaruhi cara berfikir
keberagamaan umat. Ada etika yang
harus dipenuhi dalam menerbitkan
sebuah media massa.

P
rof. Dr. KH. Salim Bajri hadir lebih awal di Masjid banyak kasus serupa di beberapa masjid Cirebon. “DKM-
Pertamina Cirebon, Jawa Barat. Pasalnya, Jum’at itu ia DKM sebetulnya tidak mempermasalahkan. Hanya saja, ada
bertugas sebagai khatib. Di sela waktu sebelum naik kelompok Islam tertentu yang secara serius mengampanyekan
mimbar, Guru Besar Tafsir al-Qur’an Sekolah Tinggi Agama pelarangan membaca Warkah al-Basyar,” keluh Rosidin.
Islam Negeri (STAIN) Sunan Gunung Jati Cirebon itu mendapati Walaupun banyak tentangan dari para ‘pesaing’ nya,
buletin Warkah al-Basyar di masjid itu. buletin tersebut terus beredar tiap dwi-Jum’atan, bahkan kini
Sejurus kemudian, Sekretaris Umum Forum Ulama mencapai oplah 14.000.
Indonesia (FUI) Jawa Barat yang juga penasihat Hizbut Tahrir Kelahiran buletin ini, bermula dari kajian keislaman yang
Indonesia (HTI) itu mendatangi Dewan Kemakmuran Masjid dilakukan Fahmina Institute akhir 2001. ”Supaya kajian itu
(DKM) Pertamina untuk menegurnya. Intinya, ia tidak setuju tidak hilang dan dapat dibaca orang, kita bikin buletin yang
jika Warkah al-Basyar ‘menyusup’ ke masjid-majid di wilayah disebarkan ke masjid-masjid, pesantren-pesantren, majelis
Cirebon, termasuk Masjid Pertamina. taklim, forum lintas agama, dan sebagainya. Pada 2003 kita
“Melihat ada Warkah al-Basyar di Masjid Pertamina itu, sebar ke Kuningan, Indramayu, Majalengka, dan Cirebon
Salim Bajri langsung minta ke DKM agar tidak membagikannya sendiri,” katanya.
ke jamaah,” tutur Pemimpin Redaksi Warkah al-Basyar, Rosidin Melalui buletin ini, Fahmina berambisi mensosialisasikan
kepada Nurul H. Maarif dari the WAHID Institute. ajaran kemanusiaan Islam. “Ajaran itu tidak hanya sampai di
Rosidin menceritakan, ketidaksetujuan Salim Bajri itu ruang diskusi. Kita ingin menyampaikannya langsung pada
lantaran Warkah al-Basyar diterbitkan oleh Fahmina Institute. masyarakat. Dan respon masyarakat bagus. Mereka bilang
Lembaga itu dinilai Salim menyiarkan pikiran-pikiran yang buletin ini sebagai bacaan alternatif,” imbuhnya.
‘bertentangan’ dengan Islam, melecehkan ayat-ayat al-Qur’an Selain Warkah al-Basyar, buletin Ikhtilaf (Lembaga Kajian
dan bahkan didanai Yahudi. “Ketika berkhutbah di atas Islam dan Sosial), al-Tasamuh (Lingkar Studi dan Aksi), al-
mimbar, Salim Bajri menyampaikan semua ini ke jamaah,” Tanwir (Center for Moderate Muslim), Islam Damai (Pengurus
ungkap Rosidin. Besar Nahdhatul Ulama), juga menawarkan keislaman yang
Salim juga mengutip fatwa MUI soal keharaman rahmatan lil ‘alamin.
pluralisme, sekularisme dan liberalisme. Intinya, jamaah Demikian pula dengan Buletin Jum’at al-Nadhar. Buletin
diminta untuk berhati-hati pada keberadaan Warkah al-Basyar. yang diterbitkan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren
Bahkan Sang Profesor menganjurkan, jika menemukan buletin dan Masyarakat (P3M) ini bertujuan mensosialisasikan gagasan
ini supaya dibuang saja ke tempat sampah atau dibakar. Islam emansipatoris di pesantren, masjid, perguruan tinggi dan
Kejadian di Masjid Pertamina itu hanya satu dari majelis taklim.

Suplemen the Wahid Institute Edisi X / Majalah Gatra / 2 Agustus 2006 51


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

“Buletin ini menyajikan


tema-tema yang berkaitan
dengan penguatan
demokrasi, pluralisme,
egalitarianisme, HAM dan
toleransi. Setiap dua minggu
dicetak sebanyak 30.000
eksemplar,” jelas divisi buletin
Ali Sobirin seperti dimuat
situs P3M.
Sedang, Pemimpin
Redaksi buletin Islam Damai,
Ahmad Baso menjelaskan,
buletin ini diniatkan
untuk menawarkan Islam
jalan tengah antara Islam
fundamental dan Islam
liberal. “Kita ingin men-
support kalangan masjid
dengan menengahi dua
dok.WI/ Witjak

kelompok keislaman,
fundamental dan liberal,”
ujarnya.
Dikatakan Baso, Buletin-buletin Jum’at yang berebut umat
sambutan masyarakat sangat
baik terhadap buletin yang Buletin-buletin yang diterbitkan kelompok Islam radikal,
baru beredar di wilayah Jakarta. “Kita menyebarkannya baru diakui Kang Jalal justru lebih diminati masyarakat muslim.
ke 40 masjid di Jakarta. Melalui buletin ini, diharapkan anak- Penyebabnya adalah cara penyajian yang hitam putih, benar
anak muda NU mau kembali ke masjid setelah lama dikuasai salah, dapat petunjuk dan sesat, kafir dan mukmin.
Wahabi,” katanya. “Untuk masyarakat Indonesia yang sedang kelelahan
Buletin yang terbit setiap Jum’at ini berambisi mengusung menghadapi persoalan hidup, mereka ingin mengambil agama
keislaman Nusantara, seperti yang diusung para ulama dulu. secara lebih sederhana,” jelas Direktur Yayasan Muthahari ini.
“Kita tidak mengusung keislaman model AS atau keislaman Kang Jalal berharap, buletin atau media apapun lebih
keras,” terangnya. menampilkan Islam dari sisi universal. “Temanya universal
Buletin-buletin tersebut memang terus ‘berebut’ massa seperti menolong orang dan sebagainya. Buletin itu bukan saja
dengan buletin yang diterbitkan kelompok-kelompok Islam bisa dibaca oleh orang muslim, orang muslim yang Islamnya
dari gerbong berbeda, seperti HTI dengan buletin al-Islam-nya, tidak seberapa mendalam, tapi juga non-muslim akan
juga buletin lain yang serupa antara lain Khilafah, al-Aqsha menerimanya,” sarannya.
atau al-Mukhlisin. “Positifnya, melalui ‘perang’ media seperti ini, Universalisme ini penting ditekankan, imbuhnya, karena
angka kekerasan fisik atas nama agama bisa dikurangi,” kata buletin sektarian tak jarang justru menyebabkan kekerasan.
Rosidin. “Keberadaan buletin ini bagus juga! Tapi bagaimana kalau
Menurut amatan Rosidin, buletin al-Islam terbitan HTI buletin itu juga memprovokasi kekerasan fisik? Itu bisa
yang gencar mengampanyekan penegakan Syariah Islam menjadi pengantar untuk tindakan kekerasan. Apalagi kalau
ini, termasuk yang peredarannya cukup luas di masyarakat. dibina terus-menerus,” Jalal mengingatkan.
“Harus diakui, al-Islam milik HTI banyak berpengaruh terhadap Hal sama diakui pengamat komunikasi dan media dari
perkembangan keagamaan masyarakat. Karenanya, melalui Institut Studi Arus Informasi, Agus Sudibyo. Menurutnya,
Warkah al-Basyar kita berusaha mengimbanginya,” akunya. selain etika jurnalistiknya lemah, media sektarian tak jarang
Hal serupa dinyatakan mantan aktivis HTI yang juga justru menampilkan provokasi yang bisa memicu terjadinya
mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah kekerasan fisik. “Kita bisa mulai dari sisi judul. Biasanya,
Jakarta, Syamsul Fuad. “Buletin al-Islam ini sifatnya nasional judulnya sangat provokatif, tidak etis, dan tak jarang langsung
dan disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia,” ujarnya. menghakimi,” jelasnya.
Terkait pengaruh buletin terhadap keberagamaan Media seperti itu, imbuh Agus, sangat sering tidak
masyarakat, Pakar Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjajaran memperhatikan fakta masyarakat Indonesia yang plural dan
(Unpad) Dr. Jalaluddin Rakhmat tidak begitu saja meyakininya. mudah terprovokasi konflik. “Mestinya, setiap media sensitif
Menurut Kang Jalal, demikian sapaan karib Jalaluddin, Buletin akan fakta itu dan punya tanggung jawab sosial dan moral
tidak cukup efektif membentuk sikap keberagamaan umat untuk menghindarkan terjadinya konflik,” katanya.
Islam (lihat: Media Bisa Memprovokasi Kekerasan Fisik). Untuk itulah, perlu diupayakan media Islam yang menjadi
“Saya kira tidak terlalu efektif. Tapi kalau satu masjid hanya rahmat bagi sekalian alam, bukan media yang justru turut
buletin itu-itu saja yang diterima, dari kelompok tertentu saja, memicu terjadinya aksi anarkisme, apalagi atas nama agama.
mungkin ada dampaknya. Kalau yang mereka terima hanya
buletin-buletin radikal misalnya, mereka bisa jadi radikal,” kata Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
Kang Jalal.

52 Suplemen the Wahid Institute Edisi X / Majalah Gatra / 2 Agustus 2006


Berebut Masa Lewat Media

Dr. Jalaluddin Rakhmat


Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad

“Media Bisa Memprovokasi


Kekerasan Fisik”
dok.WI/ Witjak

SELAIN meredakan kekerasan fisik atas nama agama, ternyata beredarnya buletin juga dapat menjadi pengobar kekerasan.
Pernyataan ini disampaikan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Dr. Jalaluddin Rakhmat kepada M.
Subhi Azhari dari the WAHID Institute.

Bagaiman Anda melihat perkembangan sederhana. Itu kalau pembagian kantor-kantor yang jumlahnya bisa lebih
media Islam? berdasarkan sektarian dan non-sektarian. banyak dari masjid-masjid tradisional.
Menurut saya, media itu ada yang
sektarian dan non-sektarian. Bisa jadi, Cukup efektifkah media seperti buletin Bagaimana seharusnya isi buletin
media dapat meningkatkan spiritualitas Jum’at membangun cara berfikir umat? ditampilkan?
sektarian dan juga nonsektarian. Asal- Tidak saya kira. Tidak terlalu efektif. Karena ciri media massa itu
usul media Islam itu umumnya sektarian. Tapi kalau satu masjid hanya itu-itu saja universalisme, maka media harus
Muhammadiyah menerbitkan Panji yang diterima, dari kelompok tertentu ditujukan kepada massa secara luas. Kalau
Masyarakat. NU menerbitkan Duta saja, mungkin ada dampaknya. Itupun itu media Islam, salah satu syaratnya
Masyarakat. Tapi kemudian berkembang. khusus untuk jamaah masjid itu. Padahal harus nonsektarian. Dia harus berbicara
NU sudah mulai menerbitkan media- jamaah masjid itu sebagian datang tema-tema yang diterima secara universal.
media nonsektarian karena ada Gus karena masalah geografis saja, bukan Bahkan kalau temanya universal seperti
Dur-nya. karena masalah ideologis. menolong orang dan sebagainya. Buletin
Saya lihat, media sektarian itu bukan saja bisa dibaca oleh orang
memperoleh pasar lebih banyak dari non- Berarti, proses radikalisasi juga bisa Islam, orang muslim yang Islamnya tidak
sektarian. Buletin Jum’at yang sektarian muncul dari sana? seberapa mendalam, tapi juga orang
saya kira lebih banyak memperoleh pasar. Mungkin saja! Kalau yang mereka nonmuslim akan menerimanya. Cuma
Buletin Jum’at dari DDII (Dewan Dakwah terima buletin-buletin radikal, mereka belum pernah dicoba saja.
Islamiyah Indonesia, red.) bertahan cukup bisa jadi radikal. Dan dalam penelitian
lama. mutakhir, kelompok radikal ini sekarang Anda setuju, maraknya buletin-buletin
makin banyak pengikutnya. seperti ini lebih bagus sebagai ekspresi
Mengapa begitu? daripada menggunakan kekerasan
Karakteristik dari media yang Ini ada kaitanya dengan perebutan fisik?
fundamentalis, yang sektarian, adalah massa di masjid? Ya bagus juga! Tapi bagaimana kalau
simplifikasi. Mereka memandang agama Mungkin saja! Saya lihat dalam buletin itu juga memprovokasi kekerasan
secara sederhana, hitam putih, benar konteks lips speaking, kelompok- fisik? Mungkin dia bisa menjadi penyebab
salah, dapat petunjuk dan sesat, kafir kelompok PKS (Partai Keadilan Sejahtera, kekerasan fisik yang datang sesudahnya.
dan mukmin. Dan untuk masyarakat red.), yang garis fundamentalis itu, ba- Bahkan itu bisa menjadi pengantar untuk
Indonesia yang sedang kelelahan nyak menguasai masjid di Jakarta. Karena tindakan kekerasan. Apalagi kalau dibina
menghadapi persoalan hidup, mereka di Jakarta yang dijadikan masjid itu kan terus-menerus.
lebih mengambil agama yang lebih bukan hanya yang tradisional, tapi juga

Suplemen the Wahid Institute Edisi X / Majalah Gatra / 2 Agustus 2006 53


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Egosentrisme
Media Islam
Oleh: Agus Sudibyo

dok.pribadi
Deputi Direktur Yayasan SET

umat Islam umumnya? Apakah pilihan


BERANGKAT dari perspektif tindakan jurnalistik : netralitas, imparsialitas, cover
kasus, bahasa dan simbol yang digunakan
komunikasi Habermas, media massa bothside dan etika berbahasa. Namun
cukup familiar bagi kaum awam?
perlu dibayangkan sebagai ruang antara terutama karena para pengelolanya
Para pengelola media Islam harus
politik tempat berlangsungnya praksis menggunakan media sebagai sarana
benar-benar mempertimbangkan untuk
emansipatoris: dialog-dialog interaktif untuk tindakan rasional-bertujuan.
siapa media-media itu didirikan. Hanya
dan tindakan-tindakan komunikasi Tindakan untuk mencapai tujuan yang
untuk internal kelompok mereka sendiri
untuk mencapai pencerahan bersama. telah lebih dahulu ditentukan secara
atau untuk menjangkau kelompok lain?
Sebuah ruang antara di mana berbagai sepihak, sehingga mengondisikan
Egosentrisme media-media Islam garis
unsur sosial saling berinteraksi, obyektifikasi dan manipulasi satu pihak
keras jelas menjadi hambatan untuk
bertukar gagasan dalam suasana bebas kepada pihak lain.
mempengaruhi dan menarik simpati
penguasaan dan paksaan. Ruang antara Tujuan di sini tampaknya adalah
kalangan yang lebih luas. Sebaliknya,
politik ini bukan hanya relevan ketika penyeragaman pandangan umat Islam
hanya karena masalah kemasan dan
saluran komunikasi politik formal macet tentang dirinya sendiri dan orang lain,
pemilihan isu, gagasan-gagasan maju
atau tersendat, namun juga ketika melalui tindakan pemaksaan mazhab,
yang dikembangkan media-media
konsensus bersama dibutuhkan dalam aliran dan ajaran. Dalam egosentrisme
Islam progresif tidak kunjung diserap
relasi-relasi horisontal antar unsur media-media Islam garis keras ini, tak ada
oleh umat, alih-alih dipersepsi sebagai
masyarakat. tempat buat dialog rasional dan interaksi
penyimpangan atas Islam.
Perspektif Habermas ini sangat pemikiran. Proses komunikasi berjalan
Di antara kelompok Islam garis
relevan untuk melihat fenomena media secara monologal. Pada gilirannya,
keras dan Islam progresif-liberal di
Islam yang tumbuh berkembang di menjadi kabur batas antara mencerahkan
Indonesia, sesungguhnya ada kelompok
Indonesia pasca 1998. Melihat fenomena umat lewat pemahaman Islam yang
yang lebih besar. Mereka cenderung
media Islam ini, kita seperti menyaksikan “murni”, dengan menjerumuskan umat ke
apolitis, tidak ideologis, dan acuh tak
pembentukan “ruang antara politik” yang dalam dogmatisme metafisis.
acuh atas perdebatan pemikiran yang
baru mencapai fase “bebas penguasaan Pada sisi lain, kita dihadapkan pada
terjadi. Mereka ini yang seharusnya
dan paksaan”. Hampir tidak ada restriksi media-media Islam bercorak progresif-
disasar media-media Islam. Namun
politik apapun kepada media-media liberal yang mungkin lebih baik dalam
yang cocok bagi mereka adalah media
Islam, seperti yang lazim terjadi di memperlakukan media sebagai sarana
yang membumi, mencerahkan, tidak
masa lalu. Semua kelompok Islam bagi tindakan-tindakan komunikasi. Yakni
menyerang dan tidak berpretensi untuk
bebas mendirikan media sendiri, bebas tindakan-tindakan yang lebih berorientasi
menggurui.
menyampaikan pandangan politiknya. kepada pencapaian pemahaman
Yang tak kalah penting, dibutuhkan
Namun media-media Islam kita bersama, di mana proses sama
kompromi dan moderasi jika media-
belum sampai pada tahap mencerahkan pentingnya dengan hasil. Media-media
media Islam memproyeksikan diri untuk
dan membebaskan masyarakat dari Islam progresif-liberal lebih terbuka
masuk ke dalam bisnis media profesional.
berbagai belenggu yang membatasi terhadap perbedaan pendapat dan lebih
Sikap yang ekstrim, agresif, kontroversial
ekspresi-ekspresi individu atau apresiatif terhadap posisi atau sikap yang
menimbulkan sentimen negatif dari
kelompok. Media-media Islam baru bertentangan dengan mereka.
kalangan pengiklan, sebagaimana
berhasil mengatasi masalah-masalah Namun mereka juga dihadapkan
mereka juga reluctant terhadap media-
freedom from, namun belum menjawab pada “egosentrisme” dalam bentuk yang
media yang sangat oposan terhadap
masalah-masalah freedom for : untuk apa lain. Para pengelola dan simpatisan media
pemerintah. Padahal untuk menjadi
kebebasan media itu digunakan dalam Islam progresif secara tak sadar sering
media yang profesional, hampir tak
konteks kemaslahatan umat. sibuk dengan perbincangan antar mereka
mungkin media hanya menyandarkan
Kita bisa melihatnya dengan terlebih sendiri, tanpa mempertimbangkan
diri pada oplah, tanpa menggarap
dahulu mencermati kiprah media- orang-orang di sekitarnya.
pendapatan dari iklan.
media Islam garis keras yang banyak Mereka kerap mengabaikan
berkembang dewasa ini. Persoalan utama dua unsur penting dalam jurnalisme:
media pada gugus ini bukan sekedar relevance dan proximity. Apakah masalah
tidak menaati kaedah-kaedah baku yang diangkat relevan dengan problem

54 Suplemen the Wahid Institute Edisi X / Majalah Gatra / 2 Agustus 2006


Menggugah Toleransi Lewat Seni

Penggunaan kesenian sebagai media penyebar gagasan


keberagamaan bukanlah hal baru. Strategi ini diyakini
menjadi umat sadar akan keragaman dan toleran
terhadap perbedaan.

Menggugah Toleransi
Lewat Seni

Y
olanda terkejut ketika seorang pendekar berpakaian kekagumannya.
hitam-hitam menunjuknya. Awalnya ia ragu, tapi KH. Maman Imanul Haq Faqih memiliki filosofi mendalam
jabatan tangan si pendekar membuat perempuan itu tentang kesenian yang disuguhkan santrinya. Pertunjukan
tegar melewati pecahan kaca tajam yang menghampar di debus, menurut Kang Maman panggilan akrab kiai muda itu,
tengah arena. bukan bertujuan memamerkan atau menyombongkan kekuat-
Walau telah berlalu, namun Yolanda terus merenungi an si pendekar.
atraksi menegangkan itu. “Kok tidak luka ya?” gumam calon “Kekerasan hanya cukup kita jadikan tontonan menghibur
pendeta itu ketika menjadi bintang tamu pagelaran debus dan sebagai ibrah (teladan, red.) moral, seperti pertunjukan
santri Ponpes al-Mizan. debus itu. Tidak ada korban. Tidak ada yang disakiti. Ini justru
Atraksi yang digelar akhir Juli 2006 silam itu, adalah membuat kita berfikir supaya tidak melakukan kekerasan yang
salah satu mata acara menyambut kedatangan pendeta dan sebenarnya pada orang lain,” kata kiai muda karismatik ini
calon pendeta ke Ponpes al-Mizan Ciborelang, Jatiwangi, (lihat: Ibadah Ritual Tak Cukup Membangkitkan Kemanusiaan).
Majalengka, Jawa Barat. Bekerjasama dengan the WAHID Diakui Kang Maman, ada saja kelompok Islam yang
Institute, Crisis Center Gereja Kristen Indonesia (CC-GKI) menuduh kesenian yang dikembangkannya, seperti tarian
menginapkan dua puluh pendeta dan calon pendetanya kontemporer, sebagai bagian dari proses penyebaran
selama dua hari di ponpes yang diasuh KH. Maman Imanul Haq pornografi atau pornoaksi, sehingga dirinya diminta segera
Faqih itu. bertaubat.
Selain disambut hangat keluarga kiai dan para santri, “Ketika ada yang menuduh tari kontemporer itu
tokoh-tokoh lintas agama, seperti Hindu, Budha, Jemaah mengajarkan pornografi atau pornoaksi, saya tanya para
Ahmadiyah, Aliran Kepercayaan, Konghucu dan sebagainya, santri; kalian melihat tarian atau dadanya? Sembilan puluh
itu juga disuguhi tontonan kesenian, seperti pagelaran musik sembilan persen menjawab, kami melihat daun dan lumpur
modern Qi Buyut, tari Adzab, tari kontemporer, bahkan debus. yang menempel di tubuh manusia, itu ternyata bisa menyatu.
“Sekarang kami punya gambaran berbeda tentang pesan- Mengapa kita hari ini menjauhkan diri dengan alam?”
tren. Sebelumnya kami membayangkan, pesantren itu angker, tanyanya.
serem, dan ngaji terus. Ternyata pesantren ini sangat terbuka. Karena itu, Kang Maman yakin, apa yang dilakukannya
Dan malam ini kami justru disuguhi kesenian yang luar biasa,” selama ini, yakni menyandingkan Islam dengan aspek kesenian
perwakilan CC-GKI, Pendeta David Jonazh menyampaikan atau budaya lokal, itu bukanlah penyimpangan atau bid’ah.

Suplemen the Wahid Institute Edisi XI / Majalah Gatra / 6 September 2006 55


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Performance art di Ponpes API Tegalrejo, Magelang dok.WI/ Witjak

“Ada 700 santri di sini dan ada 10 ribu jamaah yang kan para santrinya itu, karena mereka memang membutuh-
hadir setiap malam Rabu. Kalau saya mencampuradukkan kan hiburan. “Namun efektifitas dakwah lewat kesenian yang
ajaran Islam, mereka semua sudah lari. Dari awal saya sudah kami tampilkan belum bisa diukur, karena masih dalam tahap
bilang, Islam kami adalah Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam rintisan,” akunya.
yang mencintai sesama walau berbeda. Islam kami adalah Masih banyak ponpes lain yang getol mengembangkan
Islam yang selalu mengajak tersenyum pada semua hamba kegiatan budaya. “Ada juga beberapa kiai yang secara personal
Allah. Islam kami adalah Islam yang menyembah Allah Rabb turut mengembangkan dan apresiatif terhadap budaya lokal,”
al-‘alamin.Tuhan yang disembah semua umat manusia. Inilah kata peneliti Desantara Jakarta, Miftahus Surur.
yang diajarkan guru-guru kami, Islam tanpa kebencian,” Model budaya yang dikembangkan oleh ponpes pada
ujarnya. umumnya tidak seragam. Ponpes KH. Masrur di Jogjakarta,
Demikian pula kiprah Acep Zamzam Noor. Putra mengembangkan seni Jathilan. KH. Muharrar di Garut juga
sulung Ajengan M. Ilyas Ruhiat, Pengasuh Ponpes Cipasung, sama. Sedangkan Ponpes Asrama Pendidikan Islam (API) di
Tasikmalaya, ini membangun Komunitas Azan untuk Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah yang dikelola KH. Yusuf
menyebarkan gagasannya melalui seni lukis, sastra, maupun Chudlori, lebih berkonsentrasi pada sastra.
drama. Demikian juga Gurutta Imran Muin Yusuf di Sulawesi
Karya Acep dan komunitasnya menampilkan persoalan Selatan, yang mengembangkan tradisi pembacaan lontar
yang dihadapi masyarakat Ponpes Cipasung dan sekitarnya. La Galigo. KH. Hasnan di Singodimayan, Banyuwangi
Jika tersosialisasikan dengan baik, karya-karya yang berakar mengembangkan Gandrung. “Sedangkan Kiai Humam di
dari pesantren itu tak hanya memperkaya khazanah Guyangan Pati terbuka pada bentuk-bentuk kesenian tradisi di
kesusastraan yang telah ada, bahkan turut membantu Jawa Tengah,” ungkap Surur.
membentuk karakter keberagamaan bangsa. Penghargaan para ulama terhadap kesenian ini berdam-
“Ada semacam ‘kegilaan’ berfikir dari para santri ini yang pak positif pada umat, karena mereka menjadi lebih toleran
justru memberikan wacana baru,” ujarnya suatu ketika pada terhadap perbedaan. Selain itu, menggunakan seni sebagai
pembukaan Silaturahmi Sastrawan Santri bertema Pluralisme media penyebar gagasan bukan tanpa teladan. Wali Songo
Budaya Dalam Sastra, di Hotel Surya, Tasikmalaya Jawa Barat. merintisnya saat menyampaikan Islam di tanah Jawa melalui
“Di tengah moral bangsa yang sudah sangat carut-marut media kesenian yang disukai masyarakat. Dari pendekatan
dan masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah, kebudayaan ini, terbangun kesadaran bahwa perbedaan itu
legislatif, maupun parpol, maka seniman santri seperti inilah patut dihargai sebagai bentuk kehidupan manusia.
yang akan menjadi tumpuan untuk dapat menegakkan Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
kembali karakter bangsa yang berbudaya dan beradab,”
tegasnya (lihat: Kado Liberalisme Bagi Seorang Tradisionalis).
Sebagaimana komunitas seni lainnya, Komunitas Azan
juga sudah dianggap menyimpang. “Padahal di masyarakat
sendiri tidak, karena mereka menyukai hiburan. Resistensi itu
justru datang dari kelompok Islam radikal,” ujarnya.
KH. Adib Masruchan dari Ponpes al-Hikmah, Sirampog,
Brebes, Jawa Tengah, juga berdakwah melalui jalur kesenian,
yakni kesenian Calung. Kiai Adib beralasan, berdakwah dapat
dilakukan melalui peralatan apapun, termasuk kesenian.
“Kita mencoba dengan seni Calung. Kita isi dengan
shalawat, pujian-pujian dan sebagainya. Rasulullah SAW sendiri
dok.WI/ Gamal Ferdhi

berdakwah dengan segala peralatan, termasuk memakai tarian


Arab,” katanya beralasan. “Asal dalam tarian itu tidak buka
aurat,” ujarnya.
Seperti juga Acep, Kiai Adib mengatakan masyarakat
Penampilan penari Topeng Ireng di Ponpes API Tegalrejo, Magelang
setempat tidak mempermasalahkan kesenian yang ditampil-

56 Suplemen the Wahid Institute Edisi XI / Majalah Gatra / 6 September 2006


Menggugah Toleransi Lewat Seni

KH. Maman Imanul Haq Faqih

Ibadah Ritual
Tak Cukup
Membangkitkan
Kemanusiaan
dok.Subhi

banyak kaum muslim di negeri ini. suatu ketika dalam acara Halaqoh Budaya
PENGASUH Ponpes al-Mizan, Ciborelang,
Menurutnya, ibadah ritual seolah tidak Pesantren dan Seni Tradisi: antara Relasi
Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, KH.
cukup untuk membangkitkan rasa dan Hegemoni, di Cipasung Tasikmalaya
Maman Imanul Haq Faqih tak canggung
kemanusiaan. Jawa Barat.
untuk mendakwahkan gagasan
“Kalau tadi dipertontonkan pecahan Tentang group gamelan shalawatnya
keberagamaan melalui kesenian.
beling atau kaca yang dibasuhkan ke yang dinamai Qi Buyut misalnya, alumni
“Padahal ada pesantren yang
muka, itu sebagai peringatan. Bangsa kita Ponpes Bantar Gedang, Tasikmalaya,
memusuhi kesenian. Katanya seniman
kalau wudhu sudah tidak cukup dengan Jawa Barat, Ponpes Raudlotul Mubtadi’in
itu setan, sedangkan pesantren itu surga,”
air, tapi harus dengan beling atau kaca, Pekalongan Jawa Tengah, dan Ponpes
tutur Kang Maman, panggilan akrab kiai
karena hari ini air sudah tidak bisa masuk ar-Raudloh Tambak Beras Jombang Jawa
berusia 34 tahun ini.
ke pori-pori ruhani kita. Banyak orang Timur ini mengungkapkan, nama itu
Oleh sebab itu, di pesantren
yang berwudhu, tapi tidak punya rasa diambilnya dari kosa kata Arab.
yang didirikannya pada 1998 itu,
malu. Banyak orang yang berwudhu, “Qi Buyut itu dari bahasa Arab.
selain mengajarkan kitab kuning dan
tapi wajahnya masih terlihat kelam Qi terambil dari kata waqa- yaqi yang
tradisi khas pesantren lainnya, ia juga
dan karatan. Mari kita berwudhu untuk artinya jaga. Dan buyut artinya rumah.
mengembangkan berbagai kesenian, baik
membersihkan muka-muka kemanusiaan Jadi maksudnya, jagalah rumah hati,
kesenian tradisional maupun modern.
kita, menguatkan tangan-tangan rumah kemanusiaan, rumah agama
Kepada 700-an santrinya, misalnya, ia
kemanusiaan kita, dan itu semua demi dan sebagainya,” katanya. “Qi Buyut
mengajarkan tari kontemporer, musik,
kita,” ajaknya. ini personilnya adalah santri seniman,”
gamelan shalawat bahkan debus.
Bahkan kiai muda kelahiran tambahnya.
Kekerasan hanya cukup kita jadikan
Sumedang, 8 Desember 1972 ini Yang menarik, melalui seni ini, ia
tontonan menghibur dan sebagai ibrah
menyatakan, pesantren harus mampu mampu menghadirkan tokoh-tokoh
(teladan, red.) moral, seperti pertunjukan
mempertemukan tradisi keilmuan lintas agama, baik Islam, Kristen, Hindu,
debus itu. Tidak ada korban. Tidak ada yang
dan transformasi budaya. Kalau bisa, Budha, Penghayat Kepercayaan, Jemaah
disakiti,” ujarnya mengomentari kesenian
imbuhnya, pesantren harus menyusun Ahmadiyah dan sebagainya, tanpa ada
debus.
strategi kebudayaan. sekat apapun. Ini tak lain karena seni atau
“Ini membuat kita berfikir supaya tidak
“Ini sebagai ikhtiar menerobos ide- budaya mampu melembutkan kekakuan
melakukan kekerasan yang sebenarnya
ide untuk mempertemukan sejumlah sikap dan menampilkan penghargaan
pada orang lain,” imbuhnya.
pemikiran yang emansipatif, eksploratif, terhadap perbedaan.
Melalui pertunjukan seni, kata Kang
Maman, dirinya dan para santri ingin dan membumikan nilai keberagamaan Nurul H. Maarif
melakukan kritik terhadap ibadah ritual dalam konteks kemanusiaan,” katanya

Suplemen the Wahid Institute Edisi XI / Majalah Gatra / 6 September 2006 57


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Acep Zamzam Noor

Kado Liberalisme
bagi Seorang Tradisionalis

ACEP Zamzam Noor sejak di pada seni, Acep membentuk itu datang dari kelompok-kelompok
bangku SMP mengikrarkan diri Komunitas Azan. “Di sana ada diskusi tertentu, misalnya kalangan NU
tidak mau menjadi bayang-bayang kebudayaan, agama, politik, dan politik. Mereka agak tersinggung.
ayahnya dan tidak mau menjadi sebagainya. Juga ada pementasan Ada juga kelompok Islam radikal,”
kiai pesantren. Karenanya, sulung teater, puisi, tari, musik dan kesenian ungkapnya.
kelahiran 28 Februari 1960 ini, saat tradisional yang hampir punah. Menurut Iip D. Yahya dalam
kelas 2 SMU hijrah ke Ponpes as- Termasuk juga ada wayang kreasi buku Ajengan Cipasung: Biografi
Syafi’iyyah Jakarta. Di sinilah suami baru,” ujar Acep kepada Subhi Azhari KH Mohammad Ilyas Ruhiat, bagi KH
Euis Nurhayati ini mulai menggeluti dari the WAHID Institute. Ilyas Ruhiat pilihan hidup Acep itu
sastra. Komunitas yang dibentuk pria adalah kado liberalisme buat seorang
Dan saat kuliah, pria yang berkaca mata ini, beranggotakan tradisionalis.
hingga usia empat tahun bernama seniman dari Cipasung dan Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
Abdul Wahid Ramadlan ini, ‘nekad’ simpatisan dari berbagai daerah di
masuk Fakultas Seni Rupa Institut Jawa Barat. “Kita punya relasi dengan
Teknologi Bandung (ITB) yang banyak seniman. Dari Tasikmalaya,
diselesaikannya pada 1988. “Asal Ciamis, Cirebon, Kuningan, dan
kamu yakin bahwa seni yang akan sebagainya. Kita sering tampil
kamu geluti itu bermanfaat bagi bersama,” tuturnya. “Di sini saya
masyarakat,” demikian pesan Apih juga mempertemukan seniman
(Ayah, red.)-nya, pemimpin Ponpes tradisional dengan kiai. Inilah
Cipasung KH. M. Ilyas Ruhiat. kebebasan berekspresi,” imbuhnya.
Kecintaannya pada sastra Ayah empat putera ini juga
berbuah puisi fenomenal berjudul menaruh harapan yang tinggi pada
Cipasung di tahun 1989. Puisi ini sastrawan santri. “Di tengah moral
mengantarkan Cipasung dalam bangsa yang sudah sangat carut-
dunia sastra Indonesia, bahkan marut dan masyarakat kehilangan
internasional. Puisi ini menunjukkan, kepercayaan kepada pemerintah,
Acep bisa membantu Apihnya legislatif, maupun parpol, maka
mengembangkan pesantren dengan sastrawan santrilah yang akan
cara yang tak pernah terpikirkan menjadi tumpuan untuk dapat
oleh orang-orang di kampungnya, menegakkan kembali karakter
Cipasung, Kecamatan Singaparna, bangsa yang berbudaya dan
Tasikmalaya, Jawa Barat. beradab,” katanya pada pembukaan
Apihnya bangga saat Acep Silaturahmi Sastrawan Santri
mendapat penghargaan South East bertema Pluralisme Budaya dalam
Asian Write Award dari kerajaan Sastra, di Hotel Surya, Tasikmalaya
Thailand pada 2005, atas kumpulan Jawa Barat.
dok.pribadi

puisinya Jalan Menuju Rumahmu. Dan tentu saja, pilihan pria yang
Puisi ini dianggap sebagai kreasi dari telah memublikasikan puisinya sejak
kegelisahan dunia santri yang jujur usia 16 tahun ini bukan tanpa resiko.
dalam mencari Tuhannya. “Masyarakat tidak resisten, karena
Sebagai bukti kecintaannya mereka menyukai hiburan. Resistensi

58 Suplemen the Wahid Institute Edisi XI / Majalah Gatra / 6 September 2006


Menggugah Toleransi Lewat Seni

Sastra, Pesantren dan


Radikalisme Islam
Oleh: Jamal D. Rahman
dok.pribadi

Penyair, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison

ANTARA sastra Indonesia dan sosiologi ‘bacalah’), sedangkan perintah menulis membawa serta watak dan cita rasa
Islam Indonesia, di manakah posisi disampaikan dalam bentuk metafor, sastra itu sendiri di dunia pesantren.
pesantren kini? Perhatian terhadap yaitu pena (qalam, ‘pena’). Yang tak kalah Watak atau cita rasa sastra adalah
pesantren sebagai potensi atau bagian menarik adalah rima ayat demi ayat, yang menyentuh sesuatu dengan hati terbuka.
dari khazanah sastra Indonesia modern terdengar merdu dan sangat musikal, Sebagaimana seni pada umumnya,
tampak meningkat belakangan ini. Pada sebagaimana juga terdapat dalam sastra membebaskan manusia dari
saat yang sama, dalam sosiologi Islam pantun kita misalnya. kejumudan dan kecupetan perasaan. Ia
Indonesia, pesantren seringkali dikaitkan Metafor dan rima merupakan dua menghidupkan biru api hati, perasaan,
dengan fenomena munculnya, bahkan unsur sangat penting dalam puisi. Maka, dan jiwa seseorang. Ia menghidupkan
menguatnya radikalisme Islam. Adakah jika wahyu pertama menggunakan keriangan hati, memberikan kepuasan
hubungan antara sastra, pesantren, dan metafor dan rima, pesan wahyu itu menyala-nyala pada perasaan untuk
radikalisme Islam? jelas: hendaklah engkau membaca hal-hal yang sulit diungkapkan melalui
Salah satu khazanah pesantren yang dan menulis dengan cita rasa sastra bahasa formal atau diskursif. Di sisi lain,
sangat hidup hingga sekarang adalah yang tinggi! Dengan kata lain, wahyu sastra mempertajam kepekaan hati dan
sastra, khususnya puisi. Di pesantren, pertama itu tidak hanya mengandung perasaan dalam bersentuhan dengan
santri membaca atau menyanyikan puisi dua hal, yaitu perintah membaca dan hal-hal yang seringkali dipandang
setiap hari. Tak ada hari tanpa santri menulis, melainkan juga perintah untuk sebagai sesuatu yang biasa.
membaca puisi, sendiri-sendiri atau menumbuhkan dan memanfaatkan Semua suasana hati, jiwa, dan
bersama-sama. Mereka membaca atau cita rasa (seni) sastra dalam membaca perasaan seperti itu merupakan
menyanyikan puisi Abu Nuwas, Sayyidina dan menulis itu sendiri. Dan, al-Qur’an prasyarat penting dalam menghayati
Ali R.A., Imam Syafi’i, al-Bushiri, prosa al- memberikan contoh bagaimana cita rasa agama. Dan, semua kondisi kejiwaan
Barzanji, dan lain-lain. Mereka membaca sastra memperindah dirinya di hampir itu akan mengontrol kecenderungan
doa-doa, yang hampir semuanya sepanjang ayat-ayatnya. Inilah kiranya destruktif, yang mungkin muncul dari
berbentuk puisi. Bahkan tauhid dan tata latar historis dan normatif tumbuhnya amarah akibat perasaan tertekan,
bahasa Arab pun mereka pelajari melalui sastra di dunia Islam, yang kemudian psikologi kekalahan dan ketakberdayaan
puisi, sambil menyanyikannya pula. ditransmisi ke Indonesia melalui menghadapi hal-hal yang sangat tak
Untuk beberapa mata pelajaran, pesantren. diinginkan. Radikalisme Islam tampaknya
yang sama sekali bukan pelajaran sastra, Tidaklah mengherankan kalau muncul dari psikologisme tak terkontrol
jam pelajaran seringkali diawali dengan belakangan ini istilah “sastra pesantren” seperti itu. Oleh karenanya, suasana hati,
bersama-sama menyanyikan puisi, kian sering digunakan. Istilah itu jiwa, dan perasaan yang turut dibangun
dan ditutup dengan bersama-sama sendiri menunjuk pada setidaknya tiga oleh watak atau cita rasa sastra, sejatinya
menyanyikan puisi pula. Maka, setiap pengertian: (1) sastra yang hidup di dapat menekan radikalisme Islam.
santri membaca puisi lebih dari sekali pesantren, seperti antara lain disebutkan Melihat sastra demikian mengakar
setiap hari. Pagi membaca puisi Ibnu di atas; (2) sastra yang ditulis oleh orang- di dunia pesantren, maka, jika
Malik, siang puisi Imam Syafi’i, sore puisi orang (kiai, santri, alumni) pesantren; benar radikalisme Islam Indonesia
Abu Nuwas, malam doa-doa anonim (3) sastra yang bertemakan pesantren, berhubungan dengan dunia pesantren,
yang sangat puitis. seperti Umi Kalsum (Djamil Suherman), fenomena itu bagaimanapun merupakan
Tentu saja, hubungan sastra Geni Jora (Abidah El-Khalieqy), dan deviasi belaka. Namun, jika cita rasa
dengan pesantren adalah hubungan Maria & Maryam (Parahdiba). Dengan sastra redup dari dunia pesantren, dan
sastra dengan Islam. Dan itu bisa ditarik tiga pengertian itu, khazanah sastra Islam secara makro terus-menerus
jauh ke wahyu pertama. Kita tahu, pesantren mengalami perluasan dan diperlakukan secara tidak adil, bukan
wahyu pertama adalah perintah untuk pengayaan, baik dalam bentuk, isi, tidak mungkin dalam jangka panjang
membaca dan menulis. Adalah menarik maupun lingkungan pergaulannya. pesantren akan menjadi lahan bagi
bahwa perintah membaca disampaikan Dalam batas tertentu, mengakarnya tumbuhnya radikalisme Islam.
dalam bentuk kalimat perintah (iqra’, sastra di lingkungan pesantren pastilah

Suplemen the Wahid Institute Edisi XI / Majalah Gatra / 6 September 2006 59


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/Witjak

Pentas Komunitas Azan Pesantren Cipasung Tasikmalaya

60
Menjaga Pijar Semangat Nanggroe

Menjaga Pijar

dok.WI/ Gamal Ferdhi


Semangat Nanggroe
Pengelolaan dana bergulir Kelompok Perempuan Aceh

Tsunami yang meluluhlantakkan Nanggroe “Meski dibayang-bayangi penegakan Syariat Islam yang
dianggap bisa membatasi gerak kaum perempuan, kini
Aceh Darussalam seolah rahmat tersembunyi. perempuan Aceh saat ini lebih menikmati kebebasannya
ketimbang di masa konflik,” ujar aktivis perempuan Aceh
Aceh menjadi terbuka. Konflik menahun pupus. yang juga Direktur Mitra Sejati Perempuan Indonesia (MISPI)
Masyarakat sipil berperan membangun Serambi Syarifah Rahmatillah.
Aceh kini lebih kondusif untuk menerima perubahan-
Mekkah. Perubahan besar terus bergulir. perubahan. ”Itu karena datangnya orang luar Aceh dan
bantuannya, atau ini konsekuensi dari perdamaian yang
telah dicapai. Tinggal bagaimana kini masyarakat Aceh
menyikapinya,” ungkap Marini, salah satu Koordinator Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam Jaringan Pendidikan Pemilih untuk

H
ujan terus mengguyur jalan semalaman. Di luar gelap Rakyat (JPPR) (lihat: Generasi Damai dari Masa Konflik).
pekat. Sebuah mobil menyusuri lintas Banda Aceh Denyut keterbukaan Aceh juga bisa dirasakan di desa-
- Idi Rayeuk, Aceh Timur. Di dalamnya, sang sopir desa. Sebelumnya beberapa kampung di desa Idi Tunong,
berdendang riang diiringi lagu rock yang sedang populer. Aceh Timur, adalah daerah yang cukup parah terimbas konflik.
“Dulu tak ada yang berani begini,” ujar Iwan, sang supir, saat Saat melintas daerah itu, masih terlihat rumah-rumah bekas
menembus perbukitan menjelang wilayah Sigli. terbakar di pinggiran desa. “Itu sisa-sisa konflik Aceh,” ujar Iwan.
Usia Iwan hanya dua tahun lebih muda dari usia konflik Kini luka konflik seolah lenyap dari kampung Paya
militer di Aceh yang meletus tahun 1976. Menyebut kata ’dulu’ Awi di Idi Tunong yang subur itu. Jalan ke tempat itu yang
sangat jelas batasnya, yaitu ketika Aceh masih dicekam konflik berubah jadi kubangan lumpur di musim hujan, seakan
dan rakyat tak bisa berkutik. Semua mafhum, keadaan kini tak menghalangi aktivitas warga. Kecemasan telah pupus
telah benar-benar berubah. dari mata mereka. Pun terhadap orang luar yang datang
Bencana tsunami di akhir 2004 dapat dinilai sebagai berkunjung.
awalnya. Ribuan jasad yang terkubur menjadi pondasi yang Bahkan perempuan di desa ini telah mulai mengorgani-
kokoh untuk terbangunnya Aceh yang damai dan terbuka. sasikan diri. Atas dampingan Pusat Pengembangan
Seperti Iwan, kebanyakan rakyat Aceh sedang menikmati Sumberdaya Wanita (PPSW), kelompok-kelompok perempuan
suasana baru itu. Laksana masa Kesultanan Samudera Pasai, ini membentuk dana bergulir untuk modal usaha mereka.
Aceh kini begitu sibuk. ”Di desa ini ada sepuluh kelompok. Sekarang PPSW
Perdagangan antar kota nyaris tak putus. Siang malam bekerja di lebih 70 desa di 7 kabupaten,” ujar Ratih Saparlina,
mobil niaga berlalu lalang dari Medan ke Banda Aceh atau koordinator program PPSW yang berkantor pusat di Jakarta.
sebaliknya. Di tiap-tiap kota kabupaten, lampu terus berpijar. PPSW hanyalah satu dari sejumlah LSM luar Aceh yang
Di kota Banda Aceh lebih terasa lagi. Perempatan jalan tak bekerja jauh sampai ke pedalaman. Seperti banyak organisasi
pernah lengang. Warung-warung kopi khas Aceh terus lain, PPSW kembali meningkatkan intensitas hubungan antara
mengepul. Pelbagai transaksi bisnis terjadi. Tak cuma itu, ibu- masyarakat sipil Aceh dengan yang di luar Aceh. Mereka
ibu dengan anak-anak mereka pun tenang bercengkrama, mengawalinya dengan tukar-menukar gagasan dan ide antar
bahkan hingga larut malam. Kini, lazim menemukan keduanya terhambat konflik yang panjang.
perempuan mengendarai motor melintas di jalan raya luar Agar berjalan lancar, PPSW pun melakukan pendekatan
kota. dengan merekrut masyarakat setempat sebagai staf lapangan.

Suplemen the Wahid Institute Edisi XII / Majalah Gatra / 28 September 2006 61
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

”Selain agar diterima, juga agar bisa memahami kebutuhan setidaknya 18 kasus korupsi telah dilakukan oleh pengelola
masyarakat setempat. Kami juga ingin belajar,” ujar Ratih. negara (lihat: Masa Darurat Bukan Alasan Menilap Uang Rakyat).
Proses saling belajar seperti itu, merupakan penanda dari Kritik yang disampaikan organisasi seperti GeRAK dan
bangkitnya kelompok-kelompok masyarakat sipil di Aceh yang masyarakat Aceh umumnya adalah buah dari keterbukaan di
telah membuka diri atas perubahan-perubahan. Demikian Aceh. Mereka sadar, bila diam maka rakyat Aceh hanya akan
halnya dengan pemerintah lokal dan perguruan tinggi. menjadi obyek pembangunan.
Di sisi lain, dana dan bantuan teknis pun kini tersedia. Dan pada akhir tahun 2006, mereka akan bicara lantang
Program PPSW, seperti juga beberapa program yang tentang siapa pemimpin yang mereka anggap paling layak
dijalankan di NAD, adalah buah kerjasama LSM tingkat diberi kepercayaan. Lewat Pilkada yang rencananya digelar
nasional dan lokal dengan the Asia Foundation yang didukung pada 11 Desember, rakyat Aceh akan menentukan 19 bupati
oleh United States Agency for International Development dan wali kota serta gubernur.
(USAID). “Orang tak lagi acuh dengan apa yang akan mereka
Bahkan organisasi pendidikan masyarakat Aceh, yaitu pilih. Mereka mengerti bahwa keputusan mereka sangat
dayah, juga tak enggan bekerjasama dengan pihak luar Aceh. menentukan masa depan mereka,” demikian pandangan
Lembaga Kajian islam dan Sosial (LKiS) yang bermarkas di Marini atas sikap rakyat Aceh yang begitu antusias menyambut
Yogyakarta, telah lima tahun mendampingi dayah. Pilkada.
”Bedanya, dulu kami hanya bisa bekerja di dayah-dayah di Masalahnya kini, bagaimana keterbukaan bisa membawa
perkotaan. Kini kami bisa sampai ke pelosok,” imbuh Direktur kemaslahatan bagi rakyat Aceh. Masyarakat sipil memang
LKiS, M. Jadul Maula. Untuk kegiatannya, LKiS bekerja dengan sepatutnya mengambil kesempatan untuk berkata lantang,
organisasi santri dayah yang populer disebut Rabithah tapi mesti juga bertanggung jawab. Artinya, semua yang
Thaliban Aceh (RTA). diteriakkan bisa dicari kebenarannya. Dengan kata lain, bekerja
Sebagaimana LKiS, Indonesia Institute for the dengan data.
Empowerment of Society (INSEP) masuk ke pelosok Aceh Di sisi lain, pemerintah harus cepat menanggapi masukan
untuk mendorong mutu pendidikan di dayah. Lebih khusus masyarakat. Di era yang terbuka ini, masyarakat butuh
lagi, program mereka menyasar santri perempuan. Karena pemerintahan yang bisa memenuhi rasa keadilan.
mereka adalah kelompok yang paling rentan dalam situasi Namun, memenuhi kehendak rakyat Aceh bukanlah
krisis maupun damai. perkara gampang. “Rakyat Aceh perlu bukti bahwa para
Banyak orang tua menitipkan anak perempuan mereka pemimpin sungguh-sungguh memperhatikan mereka. Artinya,
ke dayah-dayah, utamanya di masa krisis. Namun fasilitas di pemerintah benar-benar melakukan penegakan hukum,
sebagian besar dayah tak memadai. ”Ada lebih dari 30 dayah membangun kepentingan umum yang terencana, jelas dan
di seluruh NAD yang bekerjasama dengan INSEP berupa transparan,” papar Akhiruddin.
pengembangan perpustakaan, penyediaan komputer dan Ini tak berlebihan. Bagi GeRAK, percuma bicara tentang
permodalan,” jelas Direktur INSEP Fuad Fachruddin. demokrasi di Aceh jika persoalan korupsi tak diurus. ”Sebab
Dengan kerja sama itu, Fuad berharap santri perempuan borok dari pelanggaran HAM di Aceh karena adanya tindakan
lulusan dayah memiliki kepandaian dan keahlian. Hasilnya, korupsi,” kata Akhiruddin.
para santri perempuan itu terhindar dari himpitan ekonomi Memang, pada akhirnya, Aceh yang lebih demokratis
yang kerap bermuara pada bahaya perdagangan manusia. menuntut para pihak untuk cepat tanggap, transparan, dan
Bangkitnya masyarakat sipil di Aceh tak dapat akuntabel. Dalam bahasa yang sering digunakan di Serambi
dipisahkan dari kehendak masyarakat untuk menentukan Mekkah, rakyat Aceh membutuhkan pemimpin yang amanah.
visi pemerintahan Aceh ke depan. Melalui perdebatan yang Insya Allah, mereka akan lahir dari proses Pilkada yang telah
panjang, melelahkan sekaligus menegangkan, rakyat Aceh dan lama tertunda itu.
Jakarta telah mencapai titik kesepakatan yang tertuang dalam Lies Marcoes-Natsir, Gamal Ferdhi
Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU PA).
“Ini memang belum sempurna dan belum memuaskan
semua pihak. Tapi akhirnya, semua yang terlibat mengerti
bahwa produk legislasi adalah hasil negosiasi politik.
Keberhasilan para pihak mencapai kesepakatan menunjukkan
kedewasaan kita berdemokrasi,” ujar Direktur Aceh Program
the Asia Foundation Sandra Hamid, mengomentari lahirnya UU
PA ini.
Kehidupan yang lebih demokratis memang kini terasa di
Aceh. Bagian dari keterbukaan itu bisa dilihat di media massa,
di mana para ahli dan penulis bebas memaparkan pandangan
mereka. Wartawan pun bebas mengutip pandangan
masyarakat; dan tak selamanya pendapat mereka menyanjung
tinggi para pihak yang bekerja di Aceh.
Media massa, baik koran maupun radio, tak pernah
dok.WI/ Gamal Ferdhi

lengang dari kritik masyarakat soal rehabilitasi dan


rekonstruksi pasca tsunami. Salah satunya datang dari
seorang aktivis Gerakan Anti Korupsi (GeRAK), Akhiruddin.
Komentarnya dapat dibaca bukan saja di media lokal, tapi
juga koran nasional, bahkan internasional. GeRAK menengarai, Pagelaran Tari Saman pada malam Dokaim di Banda Aceh

62 Suplemen the Wahid Institute Edisi XII / Majalah Gatra / 28 September 2006
Menjaga Pijar Semangat Nanggroe

“Di kampus saat mengajar, saya harus


fokus pada bidang pangan. Sementara di
luar ngurusin politik warga,” papar Marini,
Koordinator Provinsi Jaringan Pendidikan
Pemilih untuk Rakyat (JPPR).
Namun sejatinya, muara perhatian
perempuan muda yang kini tengah
menyelesaikan jenjang masternya ini
selalu sama. Ia peduli pada masalah sosial
dan politik, khususnya perempuan. Ia
kini tengah mempertimbangkan untuk
mengubah fokus tesisnya ke politik
pangan dan gizi perempuan pasca
tsunami.
Lahir dari keluarga bertradisi

dok.WI/ Gamal Ferdhi


nahdliyin, Rini (panggilan akrab Marini)
telah akrab dengan Nahdlatul Ulama
(NU), utamanya di bidang pendidikan.
Perkenalannya dengan dunia aktivisme
pun tak jauh dari tradisi di keluarganya. Pilkada NAD
“Kakek saya aktivis Persatuan
Tarbiyah Islamiyah (PERTI) di Aceh. Sejak
kuliah saya sudah aktif di Ikatan Pelajar
Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), bahkan
Marini

Generasi Damai
menjadi pengurus sampai tahun ini,”
katanya. Tak hanya di tingkat provinsi,
untuk peride 2006-2009, ia terpilih
sebagai salah satu ketua IPPNU pusat.
Wara-wiri Jakarta-Aceh sejak
sebelum tsunami, membuat Rini semakin
dikenal oleh lingkungan NU di pusat.
dari Masa Konflik
Maka Lembaga Kesejahteraan Keluarga
(LKK) NU pusat pun menunjuknya sebagai
perwakilan lembaga itu di JPPR. akar rumput, jaringan ini secara rutin mereka tahu suara mereka tidak sia-sia,”
JPPR adalah lembaga non- melakukan kegiatan pendidikan pemilih terangnya.
partisan yang beranggotakan NU, dan pemantauan Pemilu sejak Pemilu Rini buru-buru mengingatkan pada
Muhammadiyah, LSM, lembaga pasca Soeharto tahun 1999. para calon yang hendak maju, untuk
pendidikan, lembaga antar iman, Mereka juga melakukan program tidak mengintimidasi pemilih. Ia juga
lembaga kemahasiswaan dan radio. yang sama untuk Pilkada di seluruh menegaskan, percuma saja mengiming-
Mengandalkan relawan di tingkat negeri. Maka, saat jadwal pilkada Aceh imingi masyarakat dengan uang. ”Karena
telah jelas, JPPR juga bersiap menggelar mereka telah punya pilihan sendiri,”
program di Serambi Mekkah itu. katanya.
Kesungguhan Rini mengelola JPPR Sebagai bagian dari masyarakat
telah membawanya menjadi salah satu sipil, Rini akan ambil andil besar dalam
koordinator provinsi. Ia tak canggung perhelatan demokrasi di Aceh, Desember
bekerja dengan Muhammadiyah, tak juga 2006. Kata kunci di hatinya dan JPPR,
kaku berhadapan dengan para pejabat. Ia adalah ketidakberpihakan. ”Benar, saya
cepat beradaptasi dengan berbagai calon dan teman-teman lain datang dari ormas
yang akan berlaga di Pilkada. Islam yang mungkin ada hubungannya
Dari interaksinya dengan berbagai dengan partai atau calon yang maju.
kalangan, Rini optimis menyikapi Pilkada. Tapi netralitas JPPR adalah kekuatan kita.
“Tapi Pilkada NAD ini cukup rawan karena Biarkan rakyat memilih,” himbaunya.
banyaknya calon,” katanya. Itulah yang dijanjikannya untuk
Ditambah lagi ada pasangan calon pemilih di Aceh. Bersama JPPR, Rini akan
yang secara laten saling berlawanan memberi informasi tentang para calon
di masa lalu. ”Ini sangat potensial gubernur dan bupati. Masyarakat pun
memunculkan intimidasi terhadap bisa bebas memilih. Dan gadis yang lahir
masyarakat,” imbuhnya. di masa konflik ini ingin memastikan
Namun Rini yakin, masyarakat bahwa proses pemilihan berjalan damai,
bebas dan adil. Sudah saatnya!
dok.TAF

memiliki kearifannya sendiri. ”Mereka


kini lebih antusias ikut Pilkada, karena Lies Marcoes-Natsir
Marini

63 Suplemen the Wahid Institute Edisi XII / Majalah Gatra / 28 September 2006 63
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GeRAK) :

Masa Darurat Bukan Alasan


Menilap Uang Rakyat
TELEPON genggam Akhiruddin berulang kali berdering. Di kedaruratan tak boleh jadi alasan untuk menilap uang rakyat.
ujung sana beberapa wartawan Ibu Kota mengonfirmasikan Bagimanapun, telunjuk harus berani diarahkan tatkala terjadi
temuan Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GeRAK) soal dugaan penyelewengan,” tegas Akhiruddin.
penguapan dana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Dari Oktober 2005 hingga Agustus 2006, setidaknya
dalam proyek buku Membangun Tanah Harapan. ada 18 kasus yang mereka tengarai sebagai praktik korupsi
Koordinator GeRAK Aceh ini memang piawai mengurai di NAD. Kasusnya beraneka; dari pengadaan kapal ikan fiktif
angka-angka. Tak heran, karena ia memang menggondol bagi nelayan di Sabang, penyimpangan penggunaan dana
ijazah ilmu akuntansi dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Children Center pada Kementrian Pemberdayaan Perempuan,
Dari notes kecilnya, Akhiruddin memaparkan data-data sampai kasus penyimpangan pengelolaan APBD NAD. “Ini
temuan GeRAK. Seperti tak hendak berkesimpulan sendiri, ia menyakitkan,” katanya lirih.
pun mengajak sang Untuk menghindari
wartawan berhitung salah tunjuk dan laporan
selisih biaya produksi fiktif, mereka benar-benar
untuk jenis bahan menjalankan prosedur
baku yang persis penyelidikan dan pencari-
sama. Dari sana GeRAK an bukti. Beberapa kasus
mengindikasikan meraih sukses. Sekelompok
terjadinya korupsi itu. buruh bangunan di desa
Melayani informasi Ruyung menghadiahi
seputar korupsi di mereka Bungong Jaroe
Nanggroe Aceh untuk menunjukkan rasa
Darussalam (NAD), terima kasih mereka pada
mereka maknai sebagai pembelaan GeRAK.
mandat kerja. Namun Karena bekerja dalam
mengajak orang untuk isu korupsi, Akhiruddin
berfikir, berhitung pun menekankan kepada
dan kemudian seluruh stafnya agar
mempertanyakan memahami seluk-beluk
keganjilan dari setiap anggaran serta konteks
sen uang yang berlalu- dan praktik korupsi. “Tentu
lalang, baik di lembaga saja di atas semua itu
negara maupun badan dibutuhkan komitmen
usaha non-negara, Akhiruddin (kiri) saat menerima Bungong Jaroe dok.WI/ TAF kepemimpinan yang benar-
mereka maknai sebagai benar anti berbagai bentuk
jihad. Jihad, karena korupsi,” tegasnya.
pekerjaan itu menyangkut hak hidup rakyat Aceh. Jihad, GeRAK lahir ketika lembaga lain bersikukuh dengan pen-
karena melawan kezaliman ini bukan tanpa resiko. tingnya penegakan HAM. Namun bagi GeRAK, penegakan
Berdiri Agustus 2004, pada mulanya GeRAK hanya HAM bisa berdiri tatkala ada keadilan ekonomi. Dan borok
numpang di kantor Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh. paling parah dari hilangnya keadilan ekonomi adalah praktik
Ketika tsunami menerjang, mereka kehilangan segalanya, korupsi. Terlebih dalam situasi darurat militer yang mereka
termasuk dua orang pendirinya; Koordinator Jaringan curigai sebagai masa merajalelanya praktik korupsi.
Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) H. Keucik Jailani dan Kini masyarakat semakin terbuka. Mereka berkeras
Direktur WALHI Muhammad Ibrahim. untuk memelihara Aceh yang damai. Bagi GeRAK, ini sebuah
Bersama para pendiri seperti Bambang Antariksa dan isyarat untuk pemerintah dan penguasa Aceh supaya tak
Hemma Marlaeny, staf yang tersisa kembali bergerak. Pasca main-main atas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih
tsunami, ketika bantuan untuk rekonstruksi Aceh mengalir dan transparan. Sebab, perdamaian hanya mungkin tergapai
deras dan masyarakat tak lagi bisa dibungkam, GeRAK semakin tatkala korupsi sirna.
menggelegak. Lies Marcoes-Natsir, Gamal Ferdhi
Tak gampang bekerja sebagai pengawas korupsi di
saat serba darurat pasca tsunami. “Namun bagi GeRAK,

64 Suplemen the Wahid Institute Edisi XII / Majalah Gatra / 28 September 2006
Menjaga Pijar Semangat Nanggroe

Hikayat dari Kedai Kopi


Oleh: Reza Idria
Penulis dan Aktivis Liga Kebudayaan Tikar Pandan Aceh

dok.pribadi
Ini zaman buruk bagi pikiran dan imajinasi,
maka kami membangun cerita sendiri.
[Dokarim]

KALI ini saya akan bercerita tentang kawan saya Murtadha. halaman depan koran. Ia meyakini tak ada kebenaran di
Akrab dipanggil Todhak. Yakinlah, ketika saya menulis ini ia sana. Terlebih berita-berita tentang lembaga dana bencana
sedang duduk menyesap kopi di sebuah kedai depan mesjid bentukan pemerintah, yang sibuk membela diri atas kinerja
raya Baiturrahman, Banda Aceh. yang menyedihkan. Mendengar jumlah gaji yang diterima
Seperti kedai-kedai kopi lain yang memenuhi peta Aceh, pegawai lembaga tersebut (sebagai imbalan kelambanan
kedai kopi tersebut ramai. Keramaian yang wajar. Bagi saya kerja mereka) pernah membuat Todhak harus menambah
(saya merasa Todhak juga beranggapan sama) tak banyak bersendok-sendok gula ke gelas kopinya. Pahit. Makanya
yang berubah dengan keriuhan dalam kedai itu, baik sebelum Todhak hanya suka membaca halaman belakang yang berisi
maupun sesudah badai. Mungkin job vacancy, tawaran kerja dari lembaga-
yang berubah adalah banyak orang- lembaga donor, berharap ada peluang kerja
orang yang tak akrab di mata yang kini untuk dia. Kadang-kadang ia membaca
ikut membangun keriuhan. Memang juga berita olah raga. Karena surat kabar
kini orang-orang telah kembali tidak mungkin berbohong tentang skor
memenuhkan kota. Memenuhkan sebuah pertandingan sepakbola.
kedai kopi. Lelaki dan perempuan. Yang Todhak pernah bercerita pada saya
terakhir ini juga sesuatu yang berbeda. bahwa ia menyesal dulu tak punya cukup
Tapi ternyata kopi tetap nikmat seperti biaya hingga tak bersekolah tinggi. Bahasa
biasa. Jadi apa yang ditakutkan selama Inggrisnya yang payah membuat ia belum
ini? diterima kerja di NGO. Ia tak mau bekerja
Percayalah, setelah pembakaran di LSM. Saya sempat mengomentari
oleh oknum terkenal maupun setelah bahwa NGO dan LSM itu sinonim. Tapi saat
hempasan gelombang tsunami itu Todhak membantah, NGO itu untuk
belakangan, tempat yang paling mula menyebut lembaga luar negeri, sedang
berdiri dan paling awal didatangi LSM adalah organisasi lokal. Menurut
orang di sini adalah kedai kopi. Asal dia kerja di NGO, gaji besar dan bisa
tak berhutang, pemilik kedai tak akan menyenangkan ibunya di rumah.
masam walau Anda berdiam dari pagi Tapi entah karena iri belum dapat
hingga petang. Kalau dulu melihat bekerja di NGO, Todhak juga punya
truk-truk tentara lalu lalang dengan pikiran tak menyenangkan. Dia menyoal
dada berdebar kencang, kini kami bagaimana dua tiga tahun ke depan, ketika
mengagumi mobil-mobil mewah yang NGO-NGO itu hengkang dari Aceh, apalagi
dok. Gamal Ferdhi

pajaknya dibayar ke provinsi seberang. yang akan terjadi dengan daerah yang
Ada ragam alasan mengenai lama memiliki banyak pengangguran “kelas
waktu berdiam di kedai kopi. Kadang tinggi”. Yang pernah nyaman menerima
percakapan terlalu menarik untuk Salah satu sudut Banda Aceh fasilitas dan gaji besar. Katanya semoga
dilewatkan. Atau menunggu giliran itu tak jadi bakal “penyakit sosial” baru.
membaca koran. Hampir semua kedai kopi kampung kami Semoga.
menyediakan koran gratis. Mungkin karena orang-orang malas Ketika membicarakan hal-hal seperti ini, kami biasanya
membeli dan membaca sendiri. Membaca koran gratis dan cepat-cepat meneguk kopi.
mengomentari bersama-sama adalah kenikmatan tiada tara Todhak (dan saya juga), mungkin bagian dari orang-orang
di kedai kopi. Bergilir dari meja ke meja. Saking banyak yang yang kesulitan terhadap kecepatan serta jamaknya perubahan
merasa perlu membaca, kadang ketika koran sampai ke tangan di sini. Terlalu lama melewati hidup di tengah waktu yang
kita beberapa judulnya sudah tak terbaca. berhenti. Tak bisa turut merayakan kenduri setelah bencana.
Kenapa saya menyertakan Todhak dalam tulisan ini? Hingga berkali-kali harus menggigil dan mencari ruang-ruang
Karena Todhak tidak seperti lazimnya orang lain dalam membangun cerita sendiri.
membaca koran. Sudah lama Todhak tak sudi membaca

Suplemen the Wahid Institute Edisi XII / Majalah Gatra / 28 September 2006 65
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/ Gamal Ferdhi

66
Berkah Melimpah Bisnis Tausiyah

dok.WI/ Witjak
Kontes Pildacil Best of The Best

BERKAH MELIMPAH
Bisnis Tausiyah
Stasiun televisi berlomba menayangkan program keagamaan. Para dai dan calon dai,
dari cilik hingga dewasa gencar dihadirkan tiap hari. Dakwah pun dikemas menjadi
paket-paket yang mendatangkan uang.

N
urul terisak ketika tahu dirinya tersingkir dari kontes pertama atau minimal lolos dari perangkap eliminasi.
Pemilihan Dai Cilik (Pildacil) Best of the Best di stasiun Kenyataan berkata sebaliknya dalam episode Sabtu
televisi Lativi. Pasalnya, gadis berusia 12 tahun itu (14/10/2006) itu. Walau dewan juri mendaulat Ali Musa Daud
menduduki ranking terendah dalam perolehan pesan singkat di posisi juru kunci dengan nilai 330, tapi dai cilik asal Bandung
(SMS) dibanding lima pesaingnya di kelompok Makkah. itu justru sukses melenggang ke babak selanjutnya, karena
Empat juri penilai kontes calon pendakwah agama itu perolehan SMS-nya lebih tinggi dari kontestan lain.
tak kalah kecewa. Pasalnya Ustadz Syachrulsyah, artis Neno Kualitas isi atau teknik penyampaian dakwah seperti
Warisman, Ustadz Aswan Faisal dan pelawak Akri Patrio diabaikan. Penilaian hanya berdasarkan perolehan SMS. Apalagi
mengganjar Nurul dengan nilai tertinggi, yaitu 350. Para juri satu nomor telepon seluler bisa mengirim hingga ratusan suara.
yakin wakil dari Ngawi, Jawa Timur, itu bakal duduk di peringkat “Kontes ini tak lebih sebuah kontes popularitas, bukan kontes

Suplemen the WAHID Institute Edisi I / Majalah Tempo / 30 Oktober 2006 67


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

yang menampilkan otak,” kata cendekiawan Muhammadiyah,


Moeslim Abdurahman (baca: Semua Tergantung Pemilik Modal).
Pendapat Moeslim dikuatkan pengalaman Yani Hamdani.
Pengetahuan agama memadai dan latar belakang pendidikan di
Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Jakarta, tak jadi jaminan baginya
dapat melenggang ke babak 20 besar kontes Dai-Daiyah di
stasiun televisi TPI. Kembali SMS yang berkuasa.
Padahal saat Yani dan kontestan lain beraudiensi
dengan TPI, mereka mendapat penjelasan bahwa kontes ini
menggunakan sistem penilaian 60 persen dari mualim (juri, red.)
dan 40 persen dari SMS. “Untuk grand final 80 persen mualim
dan 20 persen SMS,” kata Produser Dai-Daiyah TPI Hasan Bisri
kepada Nurul Huda Maarif dari the WAHID Institute.
“Saya heran, dari hasil penilaian mualim saya peringkat
kedua. Tapi karena SMS saya rendah, saya jadi peringkat
keenam. Karena 40 kontestan dibagi dalam empat kelompok
dan masing-masing diambil lima orang untuk masuk 20 besar,
maka saya gagal,” ungkap Yani.
Santri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Jakarta
ini menyadari, kekalahan itu akibat dirinya tidak menggerakkan
keluarga atau kerabatnya untuk mengirim SMS dukungan.
“Waktu di karantina, ada kontestan yang mengeluarkan
uang jutaan rupiah untuk SMS sekali tampil. Jadi biar ilmunya
bagus, tapi uang tidak ada, ya jangan harap menang,” imbuhnya
getir.

dok.WI/Witjak
Diakui Yani, teman-temannya banyak yang termotivasi ikut
kontes itu karena hadiah yang ditawarkan atau karir sebagai dai
yang dapat dijadikan nafkah. “Banyak kawan nanya kepada TPI
soal kontrak kalau mereka lolos,” terangnya. Salah satu kontestan Pildacil
Pertanyaan itu boleh jadi jamak diajukan, karena siapapun
bakal tergiur melihat taburan uang yang akan didapat pihak
Tentu saja sang dai tidak langsung menangani tawar-
televisi, atau dai yang dipekerjakan televisi itu. Pendapatan itu
menawar harga dengan pihak pengundang.
bisa dilihat dari antrian iklan dalam acara-acara keagamaan yang
Biasanya ‘pekerjaan tabu’ itu ditangani khadam atau istilah
menampilkan dai yang sudah jadi pesohor, atau kontes calon
kerennya asisten atau manajemen para dai itu. Namun tetap tak
pesohor dakwah.
mudah mengetahui angka pasti, berapa tarif para dai itu sekali
Menurut sumber the WAHID Institute, iklan acara Pildacil
manggung di luar job televisi.
(Lativi) dan Dai-Daiyah (TPI) tarifnya Rp 10-15 juta per 30 detik.
Seperti besaran honor Ustadz M. Arifin Ilham. “Dengan
Mari kita hitung berapa pemasukan program Pildacil Best of the
surga. Ini dakwah, Mas!” kata Asep Saefullah asisten pemimpin
Best, yang diputar dari pukul 16.00-19.00 WIB. Jika dalam satu
Majelis Azzikra itu saat dihubungi Gamal Ferdhi dari the WAHID
episode minimal menayangkan iklan selama 30 menit, maka
Institute.
pendapatan yang masuk ke kantong pengelola televisi sekitar
Demikian halnya dengan Aa’ Gym. Seorang pengurus
Rp 600 juta.
Management Qolbu (MQ) di Bandung, Yudi Ginanjar,
Selama Ramadhan 2006, acara ini tayang Rabu-Minggu tiap
mengatakan, “Nggak pakai tarif. Aa’ bukan artis.” Tapi layaknya
pekan. Sepekan Rp 3 miliar terbayang di pelupuk mata. Total
manajemen figur publik nan-profesional, Yudi menganjurkan
jenderal Rp 12 miliar didapat dalam empat pekan Ramadhan.
agar menghubungi pengurus MQ cabang di daerah
Itu baru pemasukan iklan, belum lagi SMS atau sponsor yang
pengundang.
produknya terpampang di panggung. Wow! Benar-benar
Di MQ cabang Jakarta, prosedur mengundang Aa’
menguntungkan.
Gym dijelaskan dengan rinci. Yang paling utama, adalah
Stasiun televisi memang tengah berbulan madu dengan
menyesuaikan jadwal kosong Aa’ Gym dan membuat surat
para dai. Para pemilik usaha pun tak segan merogoh kocek lebih
undangan kepada pengurus MQ cabang di daerah pengundang.
untuk beriklan dalam acara yang diisi para dai kondang, seperti
Teknis acara lantas ditentukan. Pengundang juga harus
KH. Abdulah Gymnastiar (Aa Gym), Ustadz Jefry al-Buchory,
menandatangani kontrak kesepakatan yang disebut akad.
Ustadz M. Arifin Ilham dan Ustadz Yusuf Mansur.
Selanjutnya, pengurus MQ meminta agar honor, yang
“Tarif iklannya Rp 20-25 juta per 30 detik,” kata sumber
mereka isitilahkan ‘tali asih’, ditujukan untuk dua pihak. “Untuk
the WAHID Institute yang pernah menangani kontrak acara
Aa’ Gym dan untuk MQ. Besarnya tali asih diserahkan pada
Ramadhan antara stasiun televisi SCTV dengan KH. Zainuddin
kemampuan pengundang,” kata seorang pengurus MQ cabang
MZ.
Jakarta yang enggan disebut namanya.
”Kita simbiosis mutualisme lah. Karena televisi dapat
Sampai di sini, nominal honor tetap terselimuti misteri.
untung atas penampilan mereka, wajar kalau mereka pasang
Namun, seperti ada kesepakatan tak tertulis diantara calon
harga untuk retailnya (per episode) sekitar Rp 20-25 juta. Tapi
pengguna jasa, seberapa sering sang dai tampil di media massa,
biasanya para dai itu dikontrak per paket selama Ramadhan
terutama televisi, menjadi patokan besar honor yang layak
yang kisarannya Rp 2-4 miliar,” ungkapnya.

68 Suplemen the WAHID Institute Edisi I / Majalah Tempo / 30 Oktober 2006


Berkah Melimpah Bisnis Tausiyah

dibayarkan. tausiyah Eno, seorang kontestan Pildacil. “Kamu terbaik saat ini.
“Karena Ustadz M. Arifin Ilham lebih sering tampil di televisi, Ini yang diinginkan juri. Beberapa tahun ke depan, rumah dan
bisyarah (honor, red.) nya Rp 5 juta. Kalau Ustadz Yusuf Mansur mobil kamu akan mewah. Kamu juga akan bisa membangun
Rp 2 juta,” kata seorang pengurus masjid di daerah Pondok masjid,” katanya saat menjadi juri pada Pildacil episode Rabu
Kelapa, Jakarta Timur, Najmuddin, yang pernah mengundang (11/10/2006).
dua dai itu. Bahkan sebelum bergelimang materi, para juara calon dai
Tingginya frekuensi tampil di televisi, jelas mendongkrak cilik itu diganjar sejumlah hadiah yang lumayan. Untuk juara I, II,
popularitas para dai. Hal itu akan mengimbas pada harga III dan IV masing-masing memperoleh Rp 25 juta, Rp 15 juta, Rp
tausiyah. Menurut Gus Dur, honor yang didapat dari sebuah 10 dan Rp 5 juta. Mereka juga akan diumrahkan oleh salah satu
majelis memang bukan barang haram. Tapi berapapun sponsor.
besarnya, honor adalah penghargaan yang terlalu mewah untuk Hadiah melimpah tak hanya diperuntukkan bagi para
sebuah upaya mendidik umat. “Apalagi kalau pakai tarif, itu calon dai. Program Grebek Sahur Ustadz-Ustadzah Favorit di
keterlaluan namanya,” tegas mantan Presiden RI ini (baca: Sering Lativi juga menjanjikan kontestannya dengan gelimang hadiah.
Dibayar “2 M”). Pemenang I, II dan III berhak mengantongi uang sejumlah Rp 50
Uang jelas diperlukan untuk membangun citra seorang juta, Rp 30 juta dan Rp 20 juta. Tapi ada syaratnya, para ustadz
dai. Kini layaknya artis, mereka juga harus membayar gaji para atau ustadzah yang sudah berkhidmat ini diharuskan meraup
manajernya. Belum lagi biaya-biaya perlengkapan pendukung dukungan SMS sebanyak-banyaknya.
agar penampilan mereka tetap necis dan wangi. Dahulu para dai dengan tulus ikhlas mendakwahkan
Atas peran televisi yang terus mengekspose citra agama tanpa pamrih apapun. Namun kini media, dakwah,
pendakwah agama, kini muncul anggapan dai atau daiyah dan kapitalisme menjadi tiga serangkai yang makin tak bisa
adalah profesi yang banyak menghasilkan materi berlimpah di dipisahkan. Siapa yang diuntungkan?
masa depan. Bahkan dalam waktu yang tak terlalu lama. Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
Simaklah komentar Ustadz Syachrulsyah yang takjub atas

Gus Dur

Sering Dibayar “2M”


iklan. pensiun,” kata Gus Dur.
Seorang penceramah yang lagi Gus Dur memang sering tak ambil
kondang baru saja menandatangani pusing soal honor bagi produk-produk
rd
hi kontrak eksklusif di SCTV untuk sebulan intelektualnya. Ambil contoh untuk setiap
Fe
am
al penuh. Berapa dia dibayar? “Kontraknya kolom yang dimuat, redaksi majalah dan
I/ G mencapai milyaran rupiah,” kata sumber surat kabar akan mengirimkan jerih payah
.W
dok
the WAHID Institute. menulisnya itu ke rekening LSM Puan
Lalu, berapa nilai kontrak Amal Hayati yang dipimpin istrinya, Sinta
RAMADHAN 1427 H ini merupakan penceramah agama sekaliber Gus Dur Nuriyah.
kali pertama mantan Ketua Umum PBNU yang juga mantan presiden itu? “Saya “Kalau ceramah Gus Dur sering
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) nggak pernah ngomongin kontrak. Apa dibayar 2 M!” kata asisten Gus Dur,
sebulan penuh berceramah di televisi. itu memang perlu?” kata Gus Dur kepada Sulaiman, seraya tertawa. Orang bakal
Gus Dur hadir di Indosiar dalam program Ahmad Suaedy dari the WAHID Institute. mengira “2 M” itu singkatan dua miliar.
Buka Qalbu yang ditayangkan 30 menit Sebab itu, Ketua Dewan Syura DPP Namun Sulaiman buru-buru meluruskan.
menjelang buka puasa. PKB ini juga tidak tahu berapa honor yang “2 M itu artinya: Makasih Mas!” katanya
“Kang Sobary dan saya akan tampil akan diterimanya dari stasiun televisi terbahak.
30 hari di Indosiar sebelum buka puasa,” berlogo ikan terbang itu. “Ngapain repot Gus Dur menilai, honor yang didapat
ungkap Gus Dur saat rekaman acara mikirin,” katanya santai. dari sebuah majelis memang bukan
televisi itu di Gedung PBNU Jakarta Apakah tampilnya Gus Dur di televisi barang haram. Tapi berapapun jumlah
belum lama ini. untuk mendongkrak tarif agar dapat uangnya, itu merupakan penghargaan
Seluruh stasiun televisi memang menyamai dai-dai muda yang tersohor? yang terlalu mewah untuk sebuah upaya
sedang berlomba menampilkan Gus Dur tertawa. Cucu pendiri Nahdlatul mendidik umat. “Apalagi kalau pakai tarif,
penceramah agama kesohor, guna Ulama ini mengaku tidak ngoyo dalam itu keterlaluan namanya,” kata Gus Dur.
menarik penonton. Tak ketinggalan, soal rejeki. “Kalau buat ninggalin nafkah
tentu saja untuk mendongkrak perolehan di rumah, ada saja lah. Saya punya uang Gamal Ferdhi

Suplemen the WAHID Institute Edisi I / Majalah Tempo / 30 Oktober 2006 69


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Kiat-Kiat
Pemasaran
Dakwah
Oleh: Jalaluddin Rakhmat
Pakar Ilmu Komunikasi, Pendiri Yayasan Muthahari, Bandung

SETIAP kali pulang haji atau umrah, Pertama, product. Rancang pesan
aku singgah di toko kitab al-Ma’mun di dakwah Anda untuk memenuhi keinginan
Jeddah. Seorang haji mendekati aku dan dan kebutuhan konsumen. Apa yang
memperkenalkan dirinya sebagai seorang dibutuhkan oleh bangsa yang tidak henti-
pimpinan pesantren di Banten. Aku yakin hentinya dirundung kemalangan? Apa
ia memang kiai; karena seperti biasa ia yang diinginkan rakyat yang menanggung
dikawal beberapa orang santrinya. Karena beban kehidupan yang makin lama makin dok.WI/Witjak
aku merasa terhormat dikenal kiai, aku berat? Jawabannya: pelipur lara. Karena
hadiahkan kepadanya kitab Washiyat al- itu, jangan mempersiapkan dakwah
Nabi. dengan membaca kitab kuning. Rujuklah untuk dakwah dibenarkan al-Qur’an dan
Sambil tersenyum dan berterima buku-buku humor. Kumpulkan cerita-cerita hadis. Aku kan sudah bilang: rujukan Anda
kasih, ia berkata: “Kitab ini memang yang ringan dan lucu. Kalau tidak sempat, bukan lagi al-Qur’an dan Hadis. Rujukan
penting bagi mubaligh sebagai bahan kreatiflah. Anda ciptakan dongeng- Anda yang utama sekarang ini khusus
utama tablig. Tapi itu dulu. Untuk menjadi dongeng. Jadikanlah imaginasi Anda untuk tarif adalah hasil rating para pemirsa
mubaligh kontemporer buku ini sama sebagai sumber bahan dakwah Anda. televisi. Sebagai catatan tambahan, makin
sekali tidak ada gunanya. Kini kiai tidak Tentu saja Anda juga harus tinggi tarif Anda makin bermutu dakwah
perlu bisa baca kitab kuning. Pesantren memperhatikan packaging (pengemasan). Anda, dan makin banyak penggemar
harus mengganti pelajaran kitab kuning Setelah pesan dakwah yang sederhana Anda. Aneh tapi nyata.
dengan pelajaran akting, termasuk sudah Anda definisikan, rencanakan Ketiga, promotion. Anda harus
pelajaran bernyanyi dan menari” teknik membungkus barang yang menarik mengeluarkan biaya khusus untuk
Kiai Banten itu benar. Advanced perhatian. Yang unik dari pemasaran advertising, sales promotion, personal
capitalism telah membawa ruang tablig dakwah ialah kenyataan bahwa produsen, selling, publicity dan metode-metode
dari masjid dan majlis taklim ke pasar. yakni mubaligh, bisa sekaligus juga lainnya untuk mempopularkan produk
Agama telah berubah dari hubungan produk. Maka mubaligh perlu dibungkus Anda. Yang sangat penting dalam
sakral dengan Yang Mahakasih menjadi dengan sejumlah aksesori. Kostum yang promosi ialah membangun citra, branding.
hubungan produsen dengan konsumen. khas, prop yang istimewa, jingle yang Supaya tidak terbentuk citra bahwa Anda
Agama bukan lagi nilai-nilai agung yang “bergairah”. Ketika berdakwah, Anda mubaligh karbitan yang tidak mengerti
mencerahkan secara ruhaniah. Agama harus memusatkan perhatian pada upaya agama, kisahkan bahwa Anda memperoleh
hanyalah salah satu komoditas yang menyenangkan konsumen, menghibur ilmu laduni karena berjumpa dengan
dijualbelikan di pasar kapitalis. Menurut mereka. Jika dakwah Anda disebut Rasulullah dalam mimpi.
Fredric Jameson, advanced capitalism infotainment, perbesarlah proporsi Keempat, placement. Ini masalah
telah mereduksi semua tindakan manusia hiburan di atas informasi, tainment di atas distribusi produk. Anda harus bisa sampai
menjadi sejenis bentuk konsumsi. Inilah info. kepada sasaran dakwah. Tidak ada tempat
komodifikasi agama. Kedua, pricing. Dalam dakwah penjualan dakwah Anda yang lebih efektif
Sebagai komoditas yang dijual bebas kontemporer, ini namanya memasang dari media massa. Jalin kerjasama yang
di pasar kapitalis, agama harus dikemas tarif. Anda harus punya berbagai manajer; baik dengan media massa, terutama
untuk memenuhi selera pasar. Mubaligh, manajer pemasaran, manajer produksi, dan televisi. Kalau dahulu Anda berkata di
sebagai produsen komoditas Islam, harus manajer keuangan. Tugas manajer yang depan jemaah tidak mau berdakwah di
memenuhi Empat P dalam pemasaran, terakhir tidak boleh mencampuri apalagi televisi, usahakan sekarang agar semua
a.k.a marketing mix. Anda mau menjadi mengaudit penerimaan Anda. Ia terutama dakwah Anda disiarkan televisi.
mubaligh populer? Anda mau menjadi kiai sekali harus melakukan nego dengan pihak Selamat berdakwah.
yang dikejar oleh jutaan umat? Inilah saran pengguna berkenaan dengan tarif Anda. Semoga sukses.
ahli pemasaran. Jangan pikirkan apakah menetapkan tarif

70 Suplemen the WAHID Institute Edisi I / Majalah Tempo / 30 Oktober 2006


Berkah Melimpah Bisnis Tausiyah

Dr. H. Moeslim Abdurrahman


Direktur al-Maun Foundation.

Semua Tergantung
Pemilik Modal

dok.WI/Witjak
TAYANGAN Islami yang marak di televisi, bukan semata-mata kepentingan syiar agama, tapi juga bisnis. Untuk mengetahui
lebih dalam berikut wawancara M. Subhi Azhari dari the WAHID Institute dengan cendekiawan Muhammadiyah Dr. H. Moeslim
Abdurrahman Direktur al-Maun Foundation.

Penilaian Anda mengenai tayangan- episode dakwah Islam yang biasanya motivasi dai di dalam masyarakat Islam
tayangan Islami di televisi? ditampilkan dai-dai kondang. sebenarnya ghirah, bukan karir. Kalau karir
Sedang terjadi pembentukan pop begini, apa bedanya dengan penyanyi? Ini
culture Islam. Bentuknya yang paling Mereka hanya menjadi alat? hanya kontes popularitas, bukan kontes
menarik adalah seperti di TV itu. Ada Kalau dilihat praktiknya, mereka yang menampilkan otak.
sinetron yang sangat simple dalam itu seperti video rekaman atau kaset
pengertian dan ide ceritanya. Misalnya, dari orang lain, atau gurunya. Itu bukan Apa penyebabnya?
hantu, orang mati, dan orang kayak
sesuatu yang dipikirkan atau yang ingin Ini pengaruh perkembangan media.
pelawak jadi ustadz dan sebagainya. Cerita
seperti itu kan tidak baru, tapi sekarang disampaikan anak itu dari pergulatan Media ini mengubah banyak hal. Di media
cerita itu diangkat lagi. Ini semua kerjaan keberagamaannya. Itu lebih performance Barat juga ada evangelis atau pendakwah
media untuk memenuhi selera budaya pop dari pada motivasi dakwahnya. agama yang mengemas agama secara
itu. Performance kan bisa menarik orang. Ini komersial.
yang ditonjolkan.
Bagaimana tanggapan Anda tentang Jadi anak-anak itu dijual kemasannya. Jadi ada unsur komersilnya?
tingginya minat pemirsa televisi akan Mereka itu seperti selebritis. Itu karena Tentu saja! Media itu bagian dari
program kontes dakwah? faktor packaging media. Dari segi kapitalisme. Tidak mungkin media
Di sisi ini juga sedang terjadi kostum, image dan omongan, itu menggunakan seseorang atau sesuatu
pembentukan pop culture Islam. Pesan dipertimbangkan mana yang menarik dan tanpa ada motif komersialisasi.
yang disampaikan bercorak sangat pop. bisa mendongkrak rating.
Sebetulnya, dai-dai kecil itu suguhan tidak Kenapa agama yang dipakai?
serius. Mungkin daripada mendengarkan Dampaknya bagi mereka? Karena permintaan pasar begitu.
ceramah Dr. M. Quraish Shihab yang Menurut saya, anak umur segitu Media melihat, prospek agama ini menarik.
njlimet dalam menggunakan reference. Ini jangan dipaksa menjadi kaset, yang isi Lalu terjadilah capitalizing agama. Mereka
menurut saya wilayah popnya. Wilayah sebetulnya dari orang lain. Anak kan harus mengemas agama menjadi paket-paket
yang disenangi dan gampang dipahami. diberi hak untuk tumbuh sesuai umurnya. yang mendatangkan uang. Zaman kita
Orang mungkin jenuh, sehingga Kecuali kalau anaknya sangat jenius. berubah karena berubahnya media.
senang kalau ada anak kecil menasihati Tapi jenius ini kan pembawaan, bukan Program-program agama seperti ini
audience. Jadi selain mau dengerin dibikin-bikin. Sedang dai-dai kecil ini kan sering disebut siraman ruhani. Sekarang
apa tuntunannya juga tontonan anak kayak pabrik. Sengaja didesain untuk lebih dari siraman ruhani, karena harus ada
kecil ceramah. Mungkin ada yang memproduksi kaset-kaset. Saya nggak tega iklannya.
mengesankan, anak umur segitu kok bisa ndengerin mereka, walaupun kadang agak
begini dan begitu. lucu. Mereka terlalu kecil untuk “diperalat.” Adakah pengaruhnya terhadap
peningkatan spiritualitas masyarakat?
Bagaimana materi yang disampaikan Bagaimana penilaian Anda tentang Mungkin saja ada. Tapi itu tidak akan
para dai kecil? kontes pendakwah agama? mencerahkan, karena semua dikemas
Anak-anak itu kan niruin omongan Sekarang ini, jadinya dai itu bukan tergantung kepentingan pemilik modal.
yang ngajarin. Yang ngajarin juga panggilan jiwa, tapi karir sebagai ladang
mengambil bagian-bagian atau episode- nafkah. Itu yang saya kuatir. Padahal

Suplemen the WAHID Institute Edisi I / Majalah Tempo / 30 Oktober 2006 71


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Teladan
Toleransi
Khazanah
Kitab kuning, sebutan bagi pustaka pemikiran
ulama klasik, banyak menganjurkan toleransi.
Kelompok pengusung kekerasan dalam Islam

Klasik lahir diantaranya karena mengabaikan khazanah


klasik ini.

72 Suplemen the WAHID Institute Edisi II / Majalah Tempo / 27 November 2006


Teladan Toleransi Khazanah Klasik

Sebulan Ramadhan penuh, Gus Dur, begitu cucu pendiri


Nahdlatul Ulama (NU) KH. M. Hasyim Asy’ari ini biasa dipanggil,
ngaji pasanan (mengaji di bulan puasa, red.) kitab kuning
bersama para santrinya di Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan.
Kitab kuning, adalah sebutan khusus untuk karya-karya
ulama abad pertengahan yang biasa dikaji di pesantren-
pesantren NU. Kitab ini membahas berbagai bidang, diantaranya
tafsir, fiqh, aqidah, hadits, akhlak dan tasawuf.
Sebut saja Tafsir al-Jalalain, kitab tafsir paling terkenal
di pesantren. Kitab ini menghargai kebebasan berkeyakinan.
Misalnya, saat mengulas QS. Yunus ayat 99, tafsir yang ditulis
Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H/1459 M) dan Jalaluddin al-Suyuti
(w. 911 H/1505 M) menyebutkan, “Jangan (kau paksa) dengan
apa yang Allah SWT sendiri tidak ingin melakukannya terhadap
mereka!” Begitu juga dengan al-Baidhawi yang menafsirkan,
“Sesungguhnya perbedaan keinginan/kehendak mustahil
disamakan dengan jalan paksa.”
Ketika menafsirkan ayat yang sama, Ibn Katsir (w. 774
H/1373 M) dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim menyatakan,
“(Hidayah) itu bukan urusanmu, melainkan urusan Allah Swt.”
Nawawi al-Bantani dalam al-Tafsir al-Munir menyata-kan, “Kamu
tidak punya kuasa merubah (keyakinan) seseorang. Iman tidak
akan hadir pada jiwa seseorang, kecuali atas iradah (kemauan)
dan qudrah (kekuasaan) Tuhan.”
Contoh lain yaitu QS. al-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia)
kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang
baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa
yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
siapa yang mendapat petunjuk.”
Al-Baidhawi menafsiri ayat ini dengan; “Tugasmu hanya
menyampaikan (al-balagh) dan mendakwahkan (al-da’wah).
Sedang petunjuk (al-hidayah) dan kesesatan (al-dhalal) itu
bukan urusanmu. Allah Swt lebih tahu siapa yang tersesat dan
siapa yang mendapat petunjuk. Allah SWT-lah yang (berhak)
membalas mereka.”
Ibn Katsir sendiri menyatakan, “Kamu jangan berhasrat
mengarahkan orang yang tersesat (dari jalan-Nya). Itu bukan
urusanmu. Tugasmu hanya menyampaikan dan hisab itu urusan
Kami (Allah Swt).”
Kitab-kitab tafsir terlihat banyak mengapresiasi perbedaan
dan toleran pada keyakinan kelompok lain. Bagaiman halnya
dok.WI/ Gamal Ferdhi

dengan kitab fiqh, yang menurut Martin van Bruinessen dalam


Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, sebagai acuan “primadona”
dalam pesantren?
Menurut Pengasuh Ma’had Aly Sukorejo Situbondo
Jawa Timur, KH. Afifuddin Muhajir, kitab fiqh juga sarat ajaran
toleransi. “Berdasarkan bacaan saya, ajaran toleransi sering
dijumpai di dalam fiqh,” paparnya.
Kiai Afif lantas mencontohkan uraian fardhu kifayah dalam

K
alimat demi kalimat kitab Anwar al-Tanzil wa kitab Fath al-Mu’in karya Zain al-Din al-Malibari (w. 975 H/1567
Asrar al-Ta’wil dibacakan para santri yang bersila M) dari Mazhab Syafii. Al-Malibari menguraikan, di antara fardhu
mengelilinginya. Ia menyimak dengan khusyu’. Kadang kifayah adalah kiswatu ‘arin, memberi pakaian pada orang yang
menyela untuk meluruskan bacaan atau memberi penjabaran telanjang, termasuk kafir dzimmi. “Jadi, kalau ada kafir dzimmi
terhadap kitab tafsir Abu Said al-Baidhawi (w. 691 H/1191 M) telanjang, fardhu kifayah bagi umat Islam untuk memberi
tersebut. mereka pakaian,” ungkap ahli fiqh ini.
“Simaklah, karya al-Baidhawi ini. Dalam kitab kuning Dia pun menyontohkan, jika umat muslim dan kafir dzimmi
memang ada penjelasan mengenai batasan pembalasan yang bersama dalam sebuah perahu yang keberatan beban, sehingga
boleh dilakukan apabila kekerasan menimpa seseorang. Saya terancam tenggelam, maka harus ada barang-barang di atas
sendiri menghindari terjadinya kekerasan, apalagi sampai perahu yang dikorbankan. Ini demi keselamatan manusia,
pertumpahan darah,” jelas KH. Abdurrahman Wahid di Masjid al- termasuk keselamatan kafir dzimmi itu. “Kitab fiqh banyak sekali
Munawwarah, Ciganjur, 01 Ramadhan 1427 H lalu. bicara seperti itu,” kata kiai kharismatik ini.

Suplemen the WAHID Institute Edisi II / Majalah Tempo / 27 November 2006 73


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

“Bahkan Umar bin Abd al-Aziz sendiri mengatakan, ma negara yang tidak hanya muslim, tapi terdiri dari berbagai etnis
yasurruni lau anna ummata muhammadin lam yakhtalifu. Aku dan agama,” jelas KH. Imam Ghazali Said.
senang kalau umat Muhammad berbeda. Ada perbedaan, maka Kenyataan di atas seperti menepis temuan Survey Nasional:
ada toleransi,” jelas Kiai Afif. Sikap dan Perilaku Kekerasan Keagamaan di Indonesia, yang
Pengasuh Ponpes Nurul Islam Jember Jawa Timur, dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM),
KH. Muhyiddin Abdus Shomad punya pendapat serupa. Juli 2006 silam. Salah satu pusat penelitian UIN Jakarta itu
Menurutnya, di dalam kitab Tanbigh al-Ghafilin karya Abu al-Laits menemukan, ajaran kitab kuning berpotensi mendorong
al-Samarkandi (w. 373 H/983 M) dijelaskan, umat Islam harus terjadinya kekerasan antar agama.
bersikap santun baik kepada orang muslim, Yahudi, Nashrani, “Dalam kitab kuning ada istilah heretic atau sesat. Itu ada
maupun yang berkeyakinan lain. kan? Itu jelas mendorong kekerasan terhadap pemeluk agama
Dijelaskan Kiai Muhyiddin, saat menafsirkan QS. Thaha lain,” tegas Peneliti PPIM Jajang Jahroni.
ayat 44 yang artinya, “namun begitu, ucapkanlah dengan lemah Tapi Jajang buru-buru menampik anggapan, bahwa
lembut kepadanya (Fir’aun); mudah-mudahan dia mengingati, survey lembaganya itu menyimpulkan mayoritas kitab kuning
atau dia takut”, al-Samarkandi menulis bahwa berkata pada mendorong kekerasan. “Sebetulnya kita tidak sedang meneliti
Fir’aun saja harus santun dan lemah lembut, apalagi pada kitab kuning, melainkan kekerasan atas nama agama,” jelas
selainnya. Jajang.
“Fir’aun itu tidak hanya kafir, tapi zalim. Kepada orang kafir Adanya tema fiqh yang agak kaku dalam merespon
dan zalim kita harus sopan dan santun, apalagi pada orang yang perbedaan keyakinan ini diakui KH. Muhyiddin Abdus Shomad.
tidak sama agama dan mereka berbaikan dengan kita. Tentunya “Karena fiqh itu doktrinnya ke dalam. Jadi prinsipnya agak kaku.
kita salah besar jika bersifat congkak dan tidak menghormati Dalam hal ini toleran, tapi dalam hal lain tidak toleran. Tapi saya
mereka,” imbuh Kiai Muhyiddin. kira tergantung siapa yang memahaminya. Gus Dur dan Gus
Ulama klasik lainnya yang menghargai perbedaan Mus itu berpandangan toleran, karena menguasai kitab kuning.
keyakinan adalah Imam Yahya bin Sharaf al-Dimasyqi (w. 676 Mereka perlu kita teladani,” jelas Ketua PCNU Jember ini.
H/1278 M).” Menurut al-Dimasyqi dalam Raudhah al-Thalibin Masih segudang teladan toleransi dari kalangan ulama
orang kafir tidak boleh diperangi, kecuali kalau mereka tradisional. Menurut Pengasuh Wisma Santri Edi Mancoro
melakukan hirabah (pemberontakan) pada pemerintah Islam,” Gedangan, Salatiga KH. Mahfudz Ridwan hal ini karena pengaruh
jelas Pengasuh Pesantren An-Nur, Surabaya KH. Imam Ghazali kitab kuning yang sering dibaca di pesantren.
Said. “Kitab semisal Fath al-Mu’in, Fath al-Qarib dan yang lain,
Itu dari Mazhab Syafii. Dari Mazhab Hanafi, kata Kiai Imam kebanyakan ajarannya kan tasamuh (toleran, red.)” kata mantan
Ghazali, ada kitab al-Radd al-Mukhtar yang terkenal dengan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta ini (Lihat: Guru
Hasyiyah Ibn Abidin karya Muhammad Amin ibn Abidin (w. 1252 Tasamuh Pengayom Semesta).
H/1836 M). “Ibn Abidin sangat toleran dalam mengapresiasi Dari sebab itu, Kiai Afif menilai kebodohan adalah
hukum-hukum non-muslim, seperti asuransi,” jelas Wakil Syuriah penyebab utama kaum muslim mengumbar kekerasan terhadap
PCNU Surabaya ini. orang yang berbeda keyakinan. “Itu karena ngaji-nya nggak
Karena itu, Kiai Ghazali meyakinkan, kitab kuning secara tuntas. Semakin dalam ilmu agama seseorang, saya kira akan
keseluruhan lebih didominasi ajaran yang toleran. “Yang keras semakin toleran,” tegasnya.
sangat sedikit. Jadi, bisa kita ambil kesimpul-an, pada umumnya Pandangan Kiai Afif itu seperti diamini David Dakake,
fiqh klasik itu sangat toleran,” papar master bidang metodologi Peneliti Islam pada Universitas George Washington, Amerika
pengajaran bahasa Arab dari Khourtoum International Serikat. Dalam buku Islam, Fundamentalism and the Betrayal of
University, Sudan ini. Tradition (2004). Dakake menulis, berkembangnya kekerasan dan
Pandangan-pandangan fiqh itu menjadi tata nilai tawassuth fundamentalisme Islam justru lahir dari modernisme Islam yang
(moderat), i’tidal (keadilan), tawazun (berimbang) dan tasamuh mengabaikan khazanah intelektual klasik dan tradisi.
(toleran) yang kemudian dianut mayoritas ulama Indonesia. Nurul H. Maarif, Abd Moqsith Ghazali
“Tujuan para ulama kita dulu itu untuk melindungi semua warga

74 Suplemen the WAHID Institute Edisi II / Majalah Tempo / 27 November 2006


Teladan Toleransi Khazanah Klasik

Toleransi dalam
Kitab Kuning
dok.pribadi

Oleh: Dr. Abd A’la


Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

SALAH satu karakteristik kitab keilmuan sama sekali bukan hal tabu. Keberkelindanan fiqh dengan tasawuf
Islam klasik, sering disebut kitab kuning, Sedangkan interdependensi antar serta pengembangan suasana dialogis
terletak pada kemampuannya berdialog disiplin keilmuan direpresentasikan dan kontekstualisasinya dengan realitas,
dengan zaman yang sangat panjang dalam bentuk fiqh sufistik yang nyaris berimplikasi pada pengukuhan dan
dan lokal beragam. Literary works ini menjadi satu kesatuan entitas yang sulit komitmen kitab kuning atas signifikansi
hingga sekarang tetap menjadi salah dipisahkan. Fiqh yang bernuansa legal pengembangan toleransi dalam hampir
satu rujukan utama pesantren, bukan formalistik di satu pihak, dan tasawuf aspek kehidupan, termasuk dalam
hanya dalam keilmuan, tapi juga dalam dengan watak inklusif dan toleran pada hubungan antar umat beragama. Konsep
menyelesaikan persoalan kehidupan pihak lain, merupakan dua sisi dari satu dzimmi di tengah zaman dan kondisi
sosial dan lain sebagainya. Kenyataan mata uang yang tidak bisa diambil salah yang saat itu didominasi pandangan
membuktikan, terlepas dari kelemahan satunya, dan ditinggalkan yang lain. prejudistik dan bahkan kekerasan
yang ada, bahtsul masail yang Dalam tataran itu, Ihya’ Ulum al-Din karya dari penganut suatu agama terhadap
dikembangkan pesantren dan lembaga Imam al-Ghazali bisa dijadikan satu penganut agama lain, seutuhnya berada
lain sealiran yang menjadikan kitab contoh keberkelindanan dua disiplin dalam kerangka nilai toleransi dan inklusif
kuning sebagai pijakannya sampai derajat keilmuan dasar Islam tersebut. Karena itu, yang untuk ukuran zamannya benar-
tertentu mampu memberikan tawaran pembacaan kitab kuning perlu didekati benar bervisi pencerahan. Dari waktu ke
cukup mencerahkan bagi kehidupan dan dalam pola dan semangat seperti itu. waktu, pesantren dan lembaga lain yang
kenyataan konkret hingga saat ini. Artinya, membaca kitab-kitab fiqh semata sealiran mengembangkan dunia keilmuan
Kemampuan kitab kuning berdialog tanpa dibarengi pengkayaan bacaan dan praksis konkret untuk merespons
dengan beragam tempat dan rentangan tasawuf, akan membiaskan semangat dan kehidupan dalam kerangka pembacaan
zaman panjang yang dilalui, tidak dapat makna kitab kuning. semacam itu. Pesantren membaca
dilepaskan dari nilai-nilai intrinsik yang Lebih jauh lagi, kesejarahan kitab teks-teks kitab kuning dengan pen-
dikandungnya, yang merepresentasikan kuning menunjukkan, keberadaan dekatan yang jauh dari literalisme, dan
moralitas luhur yang menjadi kebutuhan khazanah intelektual ini merupakan memaknainya secara kontekstual sesuai
perennial kehidupan umat manusia, hasil dialog dengan (dan produk) perkembangan zaman. Pada gilirannya,
termasuk umat Islam, dari zaman ke zamannya. Kitab kuning merupakan upaya toleransi, moderasi, dan inklusivitas
zaman. Di antara nilai-nilai kental yang kontektualisasi nilai dan ajaran Islam ke merupakan watak kental yang bukan
mewarnai kitab kuning adalah toleransi, dalam kehidupan konkret yang prosesnya hanya mewarnai, tapi sekaligus intrinsik
inklusivitas, dan sejenisnya. penuh tawar-menawar dengan realitas dengan keberagamaan dunia pesantren.
Core values tersebut memang tidak yang mengitarinya. Adanya pendapat
eksplisit menggunakan kata toleransi baru Imam al-Syafii yang berbeda dengan
dan sejenisnya. Untuk melacak toleransi pendapatnya yang lama, merupakan
dan moralitas luhur lainnya, kita perlu secuil contoh yang sama sekali tidak dapat
membacanya secara utuh dari berbagai diabaikan. Semua itu muncul
dimensi, dari keragaman yang melingkupi karena nilai-nilai
kesejarahan kitab kuning hingga utama yang terus
interdependensi satu disiplin keilmuan membayanginya
dengan disiplin lain. Aspek pertama dapat adalah toleransi,
dilacak dari pluralitas pandangan ulama, kerendah-hatian
bukan hanya antar mazhab, tapi juga dan nilai-nilai
dalam satu mazhab. Dalam mazhab fiqh luhur lain.
Syafiiyah dan teologi Asy’ariyah sebagai
anutan umumnya pesantren, misalnya,
perbedaan pendapat antara satu ulama
dan ulama lain mengenai satu persoalan
merupakan hal sangat lumrah. Bahkan
bagi ulama kitab kuning (nantinya diikuti
ulama pesantren), perubahan pendapat

Suplemen the WAHID Institute Edisi II / Majalah Tempo / 27 November 2006


75
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

KH. Sholeh Bahruddin dan KH. Mahfudz Ridwan

Guru Tasamuh
Pengayom Semesta
dok.WI/Riyansyah

KH. Sholeh Bahruddin KH. Mahfudz Ridwan

LEKAT dalam ingatan KH. Sholeh Sholeh, melalui dialog dengan pemuka- diciptakan orang Jepang, kalau bisa
Bahruddin ketika gurunya, KH. Munawwir pemuka agama non-muslim. Namun dipakai untuk jamaah manakiban, ya tetep
dari Tegalarum, Kertosono, Nganjuk, itikad baiknya tak luput dari kritik, bahkan mendapatkan manfaat, kan?” seloroh Kiai
menasehatinya. Dia meminta Sholeh muda kecaman yang dilancarkan kelompok Islam Sholeh.
mengalah pada adik-adiknya dengan garis keras. Seperti juga Kiai Sholeh, berkawan
mendirikan pesantren sendiri. “Ngalah Menanggapi hal itu, pria kelahiran dengan non-muslim bagi KH. Mahfudz
iku barokah (mengalah itu dapat barokah, Pasuruan 09 Mei 1953 ini, mengiaskan, Ridwan adalah tuntunan Rasulullah SAW.
red.)!” pesan Kiai Munawwir. “Kiai kok kumpul kiai. Ya sama dengan mur “Itu ada dalam sirah nabawiyyah (sejarah
Istilah ngalah oleh Kiai Sholeh ketemu mur. Yang baik itu kan mur ketemu hidup Nabi Muhammad Saw). Beliau
dijadikan nama pesantren yang baut. Buat apa? Ya, buat mengikat NKRI, hidup di tengah orang Yahudi, Nasrani dan
didirikannya pada 1985 M. Pondok Ngalah, biar tidak coplok (bercerai berai, red.).” sebagainya. Beliau mengemban amanat
pesantren salaf yang terletak di Dusun Murid KH. Muslih, mursyid Tarekat sebagai pelindung,” kata pengasuh Wisma
Pandean, Desa Sengonagung, Purwosari, Naqsabandiyyah dari Pesantren Mranggen, Santri Edi Mancoro Gedangan, Salatiga,
Pasuruan, kini telah berkembang menjadi Jawa Tengah ini punya pandangan Jawa Tengah itu kepada Subhi Azhari dari
Yayasan Daarut Taqwa PP Ngalah yang menarik tentang hukum berkawan dengan the WAHID Institute.
memiliki berbagai lembaga pendidikan. kaum muslim dan non-muslim, termasuk Sebab itu, Kiai Mahfudz mendirikan
Pendidikan non-formal mulai shifr doa bersama. Forum Lintas Iman Gedangan. Forum
(setingkat TK, red.) hingga mu’allimin Padahal yang membolehkan yang didirikan bersama pihak gereja dan
(setingkat sekolah guru, red.). Sedang juga banyak, kata Kiai Sholeh seraya Universitas Satya Wacana Salatiga ini,
pendidikan formal, mulai Ibtidaiyah membacakan QS. al-Mumtahanah ayat adalah crisis center bagi korban tragedi
sampai Perguruan Tinggi, yaitu Universitas 8: “La yanhakum Allah ‘an alladzina lam kekerasan Mei ’98 di Jawa Tengah.
Yudharta yang berdiri pada 2002. Santrinya yuqaatilukum fi al-din wa lam yukhrijukum Kini, untuk mengatasi problem di
lebih dari 10.000 orang. min diyarikum ‘an tabarruhum wa tuqsithu tengah masyarakat yang terkait hubungan
“Banyak non-muslim belajar di ilaihim. Inna Allah yuhibb al-muqsithin.” antar agama, forum itu kerap menggelar
Universitas Yudharta, meski kampus ini di (Allah tiada melarang kamu untuk berlaku dialog lintas iman di pesantrennya. “Ini
bawah naungan pesantren. Bahkan, ada adil terhadap orang-orang yang tiada seperti tugas yang dijalankan Rasulullah
dosen non-muslim masuk dalam naungan memerangimu karena agama dan tidak SAW. Terhadap agama apapun kita harus di
Yayasan Daarut Taqwa,” kata Kiai Sholeh pula mengusir kamu dari negerimu. tengah-tengahnya,” sambungnya.
kepada Riyansyah, kontributor the WAHID Sesungguhnya Allah menyukai orang- Dikatakan Kiai Mahfudz, sikap
Institute di Jawa Timur. orang yang berlaku adil). toleran itu juga terlihat pada ulama-ulama
Mustasyar Nahdlatul Ulama Kiai Sholeh juga memaparkan tradisional di Indonesia. “Salah satu yang
Kabupaten Pasuruan ini berangan-angan, beberapa referensi kitab kuning. Syaikh mendorong sikap ini, karena mereka
kampusnya menjadi pusat pengembangan Zakaria al Anshori (926H/ 1520M) sering membaca kitab kuning. Kitab
komunitas dari latar belakang muslim dan dalam Hasyiyah al-Jamal disebutkan, semisal Fath al-Mu’in, Fath al-Qarib dan
non-muslim. “Ini sesuai dengan ajaran jawaz al-ta’min bal nadabahu idzaa da’a yang lain, semua itu kebanyakan ajarannya
Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” katanya. linafsihi bi al-hidayah walana bi al-nashr kan tasamuh (toleran, red.),” tegas mantan
Kebesaran Kiai Sholeh dan matsalan (diperbolehkan mengamini doa, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (NU)
pesantrennya tak lepas dari teladan ayah bahkan dianjurkan berdoa semisal untuk Surakarta Jawa Tengah ini.
yang juga gurunya, KH. Mohammad memohon hidayah dan pertolongan). Ia Atas dasar itu, ia menolak jika
Bahruddin Kalam, pengasuh PP Darut juga merujuk kepada al-Tafsir al-Munir pesantren dikaitkan dengan terorisme.
Taqwa Carat, Gempol, Pasuruan. Satu kisah karya Muhammad Nawawi al-Bantani “Tidak ada satupun pesantren NU yang
keteladanan yang diajarkan kepadanya, (1314H/ 1879M); berhubungan baik di menjadi sarang teroris. Kalau, di luar NU
adalah bagaimana Kiai Bahruddin dunia sebatas urusan yang nyata, maka hal saya tidak tahu,” terangnya.
melindungi kelompok minoritas. itu tidak dilarang. Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
Sikap ayahnya itu diteruskan Kiai “Istilahnya, walaupun mobil itu

76 Suplemen the WAHID Institute Edisi II / Majalah Tempo / 27 November 2006


Tasawuf Tenda Besar Kedamaian

Tasawuf
Tenda Besar Kedamaian
Konflik dan kekerasan akibat mengutamakan simbol agama makin kerap terjadi.
Ajaran tasawuf diyakini dapat menjadi solusi.

S
yahdan, menjelang pemakaman Jalaluddin Rumi, tampak Oktober 2003.
seorang Kristen menangis tersedu. Dia mencurahkan Kedamaian dan kasih sayang yang diajarkan para pengikut
perihal kesedihannya, “Kami menghormati Rumi seperti tasawuf adalah buah dari ketundukan mereka kepada Allah.
Musa, Daud, dan Yesus zaman ini. Kami semua adalah para “Apa yang setiap manusia sandang sudah dituliskan Allah.
pengikut dan muridnya.” Karenanya kita tidak boleh menyakiti orang lain,” jelas Syeikh
Semasa hidup, Rumi begitu mengasihi banyak orang Hisyam, seperti ditulis lembaga besutan mantan Presiden AS
dari berbagai latar belakang, sehingga siapapun berduka atas Richard Nixon itu dalam laporan berjudul Understanding Sufism
kematiannya pada 1273 M. and its Potential Role in US Policy.
Kehidupan tokoh besar tasawuf ini, kini diteladani banyak Tasawuf laksana tenda besar yang bisa memayungi
pemimpin tarekat. Salah satunya adalah Syeikh Hisyam Kabbani. para musafir yang datang dari berbagai penjuru dunia dan
Wakil mursyid Tarekat Naqsyabandi Haqqani ini, sebagaimana berbagai latar belakang. Karenanya, pengamal tasawuf bisa
Rumi, mengutamakan kedamaian bagi umat manusia. berdampingan mesra dengan siapapun.
“Tasawuf menganjurkan agar antar umat manusia saling “Di sini ada dari Kristen, Katolik, Konghucu, dan sebagainya.
bekerja sama. Kami menjembatani semua kebudayaan. Dan Dengan tasawuf, Tuhan selalu hadir bersama kita,” kata Ketua
kami tidak pernah berjuang untuk kekuasaan,” tegas Syeikh PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, saat memberi
Hisyam di depan peserta Konferensi Program Keamanan sambutan dalam peluncuran bukunya,
Internasional yang dihelat the Nixon Center di Washington akhir Tasawuf sebagai Kritik Sosial;

Syeikh Hisyam Kabbani Membaiat Calon Jamaah Tarekat Naqsyabandi Haqqani Indonesia
dok. Yayasan Haqqani Indonesia

Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006 77
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi, di Jakarta, berteduh dan butuh kenyamanan,” ujar penghafal al-Qur’an ini.
awal Desember 2006 lalu. Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah yang bermarkas di
Melalui tasawuf ini, ajaran Islam sebagai rahmatan lil bilangan Jakarta Timur, KH. Ali Abdurrahman Nabawi, juga
‘alamin tampak nyata. “Islam itu mengajarkan keterbukaan,” kata terbuka menerima murid non-muslim.
Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah-Khalidiyyah dari Pesantren “Yang saya tahu, ada murid Kristen dan Konghucu. Itu no
Giri Kusumo Semarang KH. Munif Muhammad Zuhri, saat problem. Mereka yang datang sendiri kok,” kata AS Damanhuri,
dihubungi the WAHID Institute. salah seorang murid tarekat ini.
Pada perkembangannya, ajaran tasawuf ini terlembagakan Di lain waktu, tambahnya, sang mursyid diminta berdoa di
dalam bentuk tarekat. Makanya tidak aneh jika banyak tarekat rumah seorang non-muslim. “Setelah minta petunjuk Allah SWT,
bisa menerima keanggotaan dari non-muslim. Sebut saja, beliau pun bersedia memenuhi permintaan itu,” imbuhnya.
misalnya, Tarekat al-Ahadiyyah, yang mengajarkan pemikiran- Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Abdul Munir
pemikiran Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Araby. Mulkhan menjelaskan keterbukaan itu karena tarekat yang
“Kita mengajak mereka pada tauhid, pengesaan Tuhan. merupakan alat menyampaikan ajaran tasawuf, banyak
Dan dari awal, tarekat ini tidak bermaksud menjadikan orang bersumber pada pandangan yang haqiqiyyah (substantif, red.).
lain pindah agama, tapi bagaimana mereka mengenal Tuhan “Tarekat yang dikembangkan melalui perspektif substantif
dan mempersilahkan mereka menjalankan agamanya masing- itu toleran. Jadi isi seluruh ajaran tasawuf itu toleran,” ujar
masing,” jelas Mursyid Tarekat al-Ahadiyyah, KH. Shohibul Faroji penulis buku-buku tasawuf yang sedang mengampanyekan
(lihat: Tauhid untuk Perdamaian Dunia). slogan ‘bersufi tanpa tarekat’ ini.
KH. Faroji berharap, tarekat yang dipimpinnya bisa menjadi Sederet nama pengamal tarekat diungkap Munir. “Gus Dur
solusi konflik antar agama dan aliran. “Saya ingin al-Ahadiyyah dan AR Fakhruddin, walaupun saya tidak tahu tarekatnya apa,
menjadi salah satu rumah ruhani, tempat semua umat beragama mereka itu sufi dan toleran. Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad

Tarekat al-Ahadiyyah
Tauhid untuk perdamaian dunia
SALAH satu tarekat yang berkembang di Timur, hingga merambah ke Jawa Barat “Saat ini kita mengalami krisis tauhid
Indonesia adalah Tarekat al-Ahadiyyah. dan Jawa Tengah. Selain di Indonesia, dan akhlak. Maka, peran al-Ahadiyyah
Tarekat yang sanadnya bersambung tarekat ini berkembang di Libya, Mesir, adalah memperbaiki umat ini agar
sampai Rasulullah SAW melalui jalur Turki, Spanyol dan Australia. memiliki tauhid yang benar dan akhlak
Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn Araby ini, Semua aspek tasawuf, yaitu yang mulia,” ujar KH. Faroji.
terbuka bagi murid non-muslim. keilmuan, ritual, dan akhlak dipadukan Tarekat ini memiliki kurikulum
“Kita mengajak mereka pada tauhid, sang mursyid. Tarekat yang namanya sangat rapi. Bahkan ada target yang
pengesaan Tuhan. Dan dari awal, tarekat diambil oleh Shadr al-Din al-Qunawi dari harus dicapai. Misalnya, untuk 2007-2010,
ini tidak bermaksud menjadikan orang muqaddimah kitab Fushush al-Hikam, ini tarekat ini mengusung visi Menebarkan
lain pindah agama, tapi bagaimana juga mengkaji semua kitab suci. “Kami Pencerahan Ruhani Menuju Tauhid dan
mereka mengenal Tuhan dan melihatnya dalam perspektif tauhid, Ridha Allah, Menebarkan Kasih Sayang
mempersilahkan mereka menjalankan bukan untuk mencari kelemahannya,” dan Perdamaian Dunia.
agamanya masing-masing,” jelas Mursyid kata pria yang mendapat ijazah “Tauhid itu universal. Dengan visi
Tarekat al-Ahadiyyah, KH. Shohibul Faroji kemursyidan dari kakeknya, Syeikh tauhid ini, kita ingin mencari benang
saat ditemui Nurul H. Maarif dari the Bahruddin al-Robbani ini. merah berbagai macam agama dan
WAHID Institute di rumah sederhananya. Para muridnya dibebaskan untuk aliran. Karenanya, kita tidak dibenarkan
Dikatakannya, Allah SWT menyuruh belajar di manapun dan beraktifitas membicarakan masalah khilafiyyah
kita untuk toleran pada agama lain. sesuai profesi masing-masing. “Masalah (perbedaan, red.), kecuali sebatas sebagai
“Kafir dalam paradigma Ibn ‘Araby, itu duniawi, kita boleh memilikinya, tapi wacana,” katanya beralasan.
ketika hati seseorang menutup diri dari jangan sampai ada kemelekatan,” Ia berharap, tarekat yang
kebenaran Tuhan,” terang mahasiswa pesannya. dipimpinnya bisa menjadi solusi konflik
program master di ICAS Paramadina ini. Yang juga menarik, pengangkatan antar agama dan aliran. “Saya ingin
Di dalam tarekat ini, ujar KH. Faroji, mursyid tarekat ini melalui perpaduan al-Ahadiyyah menjadi salah satu rumah
para murid memang diajari pemikiran metode imamah (penunjukan, red.) dan ruhani, tempat semua umat beragama
Ibn Araby, melalui karya-karyanya; al- khilafah (musyawarah, red.), dengan berteduh dan butuh kenyamanan.
Futuhat al-Makkiyyah, Fushush al-Hikam, prinsip utama calon mursyid harus Dan untuk jangka panjang, kita ingin
juga Tarjuman al-Asywaq. shiddiq (jujur dan membenarkan Allah), mempersiapkan para pemimpin yang
Kegiatan tarekat ini berpusat amanah (dapat dipercaya), tabligh (bisa bertakwa, punya wawasan luas, dan
di bilangan Kebayoran Jakarta dan menyampaikan kebenaran) dan fathonah menghargai perbedaan,” ujar penghafal
Pesantren Mabdaul Ma’arif Jember Jawa (cerdas ruhani). al-Qur’an ini.
Nurul H. Maarif

78 Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006
Tasawuf Tenda Besar Kedamaian

Dahlan, itu sufi. Itu tolerannya luar biasa. Beliau bekerja di hanya dimiliki oleh agama atau ras tertentu, melainkan oleh
lingkungan pusat kejawen dan bergaul dengan orang Kristen,” semua agama dan ras. “Siapapun yang memperoleh kearifan
imbuh cendekiawan Muhammadiyah ini. adalah seorang sufi, karena tasawuf itu berarti kearifan,” ujarnya.
Penilaian sama dinyatakan Guru Besar UIN Syarif Karenanya benar apa yang dikatakan sufi dari Sri Lanka MR
Hidayatullah Jakarta, Kautsar Azhari Noer, bahwa umumnya Bawa Muhayyaddin. Menurutnya, semua orang yang beriman
tarekat itu toleran pada agama lain. “Tapi kita tidak bisa pada Tuhan harus bersatu. Dan, mereka yang mempunyai
menggeneralisir, karena aliran tarekat itu bermacam-macam. kesadaran, keadilan, kebijakan dan kasih sayang di dalam hati,
Itupun sangat tergantung gurunya. Ada guru yang sangat harus membawa perdamaian dan persamaan untuk masyarakat
toleran dan ada yang kurang,” katanya. (lihat: Isi Lebih Toleran dunia.
Ketimbang Kulit). “Jika kita benar-benar orang yang beriman, maka kita tidak
Tarekat yang toleran, biasanya karena menganut doktrin akan memandang perbedaan orang lain dari diri kita sendiri.
wahdat al-wujud Ibn ‘Araby, yang sangat menekankan aspek Kita akan memandangnya sebagai satu kesatuan. Kita akan
esoterik. “Naqsyabandiyyah, Syatariyyah, atau yang lain memandang Allah, satu ras manusia, dan satu keadilan untuk
penganut paham ini, mereka toleran, sehingga non-muslim pun semua orang,” kata Muhayyaddin dalam buku Islam & World
bisa masuk ke sana,” kata penulis buku Ibn ‘Araby; Wahdat al- Peace; Explanation of A Sufi.
Wujud dalam Perdebatan ini. Atas dasar ini, Abdul Munir Mulkhan yakin, paradigma
“Tarekat Maulawiyyah anggotanya juga banyak dari non- sufistik bisa menjadi solusi konflik, minimal di negeri ini. “Orang
muslim. Malah saya punya kawan dari Jerman. Dia mengaku ikut Islam bisa lebih cair atau lebih toleran, ketika mereka menaruh
Tarekat Naqsyabandiyyah di Eropa. Menariknya, dia agamanya perhatian terhadap pandangan sufistik,” yakinnya.
Katolik dan dia tidak masuk Islam,” imbuh Kautsar. Sisi batiniah ini menjadi titik temu agama-agama, yang
Kearifan seperti ini, ujar sufi India Hazrat Inayat Khan, tidak berujung pada solusi bagi terciptanya perdamaian dunia.
Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif

Habib Muhammad Luthfi bin Ali

Mursyid Musisi
dok. Majalah Al-Kisah

Habib Muhammad Luthfi bin Ali dan alat musiknya


PEngawal Tarekat
TEPAT pukul 02.30 dini hari, sebuah mobil ada 41 tarekat mu’tabarah (diakui, red.). instrumentalia.
memasuki pelataran rumah dua tingkat “Tapi cabangnya banyak,” jelas Habib Luthfi Mursyid Tarekat Syadziliyyah asal
itu. Seorang pria dengan surban, peci dan dalam bukunya Nasihat Spiritual, Mengenal Pekalongan Jawa Tengah ini, memang
kaos oblong serba putih turun dari mobil. Tarekat Ala Habib Luthfi. mencintai musik sejak belia. Dari musik
Melihat kehadirannya, ratusan jamaah dari Penegasan mu’tabarah atau tidaknya klasik hingga kontemporer. Orkestra
berbagai daerah yang telah menunggu sebuah tarekat, jelasnya, pertama, dilihat gambus Umi Kulsum, sang diva Mesir
berjam-jam, sontak berkerubut mencium dari ajarannya. “Semua yang ada di hingga karya instrumentalis kontemporer
tangannya. dalamnya itu, tidak melanggar isi al-Qur’an asal Yunani, Yanni, akrab di telinganya.
Tak lama berselang, santri-santrinya dan Hadits,” kata Habib Luthfi. “Musik adalah musik. Keindahan adalah
terlihat sibuk menurunkan barang bawaan Kedua, dari ketentuan wiridnya. keindahan,” ujarnya suatu ketika.
dari bagasi mobil itu. Empat keyboard “Tergolong ma’tsur (dari Rasulullah, red.) Karenanya, ia fasih berbicara musik,
dan sebuah gitar pun berpindah ke dalam atau tidak,” jelasnya. Ketiga, memiliki jalur bahkan hingga filosofinya. “Bagi saya, apa
rumah. Itulah gambaran kecil kehidupan sanad yang jelas. “Mulai dari ulama, para pun di dunia ini yang menimbulkan bunyi,
Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin wali, sahabat, Nabi SAW, hingga bermuara misalnya desau angin yang menerpa
Hisyam bin Yahya, yang karib disapa Habib pada Allah SWT,” jelas Habib Luthfi. pepohonan atau gemerisik daun-daun
Luthfi. Walau sebagai pemimpin tarekat, ia yang rontok dari rantingnya, adalah suatu
Ketua Umum Jam’iyyah Ahli ath- tak segan mendengarkan dan memainkan keindahan,” katanya.
Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah musik. Ke manapun pergi, ayah lima putera Mungkin dengan musik, ia ingin
- organisasi tarekat-tarekat yang diakui ini selalu menyertakan alat-alat musik. mengajak umatnya kian dekat pada Allah
NU ini, menerangkan saat ini di Indonesia Bahkan ia telah menciptakan puluhan lagu SWT.
Nurul H. Maarif

Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006 79
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer


Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Isi Lebih Toleran


dok.WI/Witjak
Ketimbang Kulit
sendiri. Ibn ‘Araby sendri punya guru sampai
AJARAN yang menekankan isi akan lebih toleran, ketimbang 70 orang lebih. Bahkan gurunya ada yang
yang mengedepankan kulit atau formalitas. Berikut perempuan. Orang yang bisa menjalaninya
tanpa guru itu punya bakat yang luar biasa.
pernyataan Guru Besar UIN Jakarta Prof. Dr. Kautsar Azhari
Noer kepada Nurul H. Maarif dan Widhi Cahya dari the Anda pernah menulis, lembaga spiritual
modern cenderung seperti lembaga bisnis.
WAHID Institute. Memang bisnis itu nggak haram. Itu ter-
hormat. Sufi itu banyak yang pedagang. Tapi
Bagaimana pandangan tarekat di Indonesia tapi toh esensinya sama. Orang bertauhid, itu saya mengritik itu karena ada kecenderungan
terhadap perbedaan agama? tunduk pada Tuhan dan selalu merasakan ke- pembisnisan tasawuf. Tapi saya tidak pernah
Umumnya toleran. Tapi kita tidak bisa hadiran-Nya. Ini esensi yang perlu ditekankan. menuding lembaga atau orang yang membis-
menggeneralisir, karena aliran tarekat itu niskan tasawuf. Itu kritik untuk hati-hati saja.
bermacam-macam. Itupun sangat tergantung Dengan tasawuf Anda yakin konflik antar
gurunya. Ada guru yang sangat toleran dan agama bisa diredam? Anda pernah belajar tasawuf di Beshara,
ada yang kurang. Bisa! Bisa! Cuma tidak semua orang Skotlandia. Bagaimana lembaga ini?
bisa belajar tasawuf. Dan umumnya, orang Beshara ini tidak ada silsilahnya. Ini
Mengapa tarekat bisa toleran? berantem itu karena simbol. Abdul Karim pendidikan esoteric saja. Di situ bentuk tidak
Umumnya yang toleran itu menganut Soroush menyatakan, Islam itu ada dua. Islam diutamakan. Pendidikan spiritual yang tidak
doktrin wahdat al-wujud Ibn ‘Araby. Doktrin ini kebenaran dan Islam identitas. Islam kebe- ada bai’at dan tidak ada mursyid. Ini universal
sangat menekankan aspek esoteric dan tidak naran itu yang didakwahkan para nabi. Itu untuk siapa saja. Yahudi, Islam, Kristen, sekuler,
peduli bentuk. Bukan berarti bentuk itu tidak membawa kebenaran, bukan identitas. Kalau atau apa saja yang penting intinya. Jadi
ada. Bentuk itu otomatis. Naqsyabandiyyah, kita membawa Islam sebagai identitas, itu arahnya man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah.
Syatariyyah atau yang lain, yang menganut akan lebih mudah menyulut konflik antara Di sana, saya punya kawan dari Jerman. Dia
paham ini, mereka toleran. sesama muslim atau dengan non-muslim. mengaku ikut Tarekat Naqsyabandiyyah di
Masing-masing akan menonjolkan identitas. Eropa. Menariknya, dia agamanya Katolik dan
Mereka tidak pernah mempersoalkan agama dia tidak masuk Islam.
formal? Siapa tokoh tarekat di Indonesia yang
Saya tidak berani mengatakan seperti itu. toleran? Amalannya sama dengan yang muslim?
Yang jelas, mereka toleran pada non-muslim. Kalau zaman dulu, itu banyak. Ada Abdus Sama saja!
Sehingga non-muslim pun bisa masuk kesana. Shamad al-Palimbangi, Syamsuddin al-Sumat-
Ini banyak terjadi di Barat, kendati tidak rani, dan banyak lagi. Pokoknya kalau yang Kitab apa yang diajarkan di sana?
semua. Di sana, ada beberapa tarekat yang diutamakan isi, itu lebih toleran ketimbang Fushush al Hikam karya Syeikh al-Akbar
mempersilahkan non-muslim ikut berzikir yang kulit. Hanya saja, biasanya orang lebih se- Muhyiddin Ibn ‘Araby. Disamping itu juga
atau berdoa bersama, tanpa menanyakan tia pada kulit ketimbang isi. Akibatnya, mudah dipelajari karya Jalaluddin Rumi, Tao dan
agamanya. Misalnya tarekat Maulawiyyah. membunuh orang atas nama agama. Bhagavad-Gita. Orang kalau memahami Ibn
Tarekat ini anggotanya banyak dari non- ‘Araby akan mudah memahami Upanishad dan
muslim. Bagaimana dengan banyak munculnya lem- Tao. Itu ketemu!
baga spiritual modern?
Alasannya kenapa? Tasawuf itu tidak harus punya lembaga. Harapan Anda?
Saya kira karena kelompok itu lebih Intinya kan mendekatkan diri sedekatnya pada Yang terpenting menghormati
menekankan esensi atau esoteric. Bentuk apa Allah. Tapi memang, orang akan lebih mudah perbedaan. Kadang kita lupa, bahwa kita harus
saja, Yahudi, Islam, Kristen, dan sebagainya, melalui guru atau organisasi ketimbang belajar menghormati perbedaan.

80 Suplemen the WAHID Institute Edisi III / Majalah Tempo / 25 Desember 2006
Hijrah dari Jalur Kekerasan
dok.WI/ Gamal Ferdhi

Hotel J.W Mariot dibom teroris 05 Agustus 2003

Hijrah Dari Jalur Kekerasan


Kekerasan atas nama agama tak kunjung reda. Namun banyak fakta, pelaku kekerasan itu kini hijrah
menjadi penyeru perdamaian dan Islam toleran. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia Arab.

S
epuluh menit lagi hari memasuki 02 Oktober 1990. Tapi “Saya sudah siap menghadapi kematian,” sambung Asep.
Fauzi, penghuni sel nomor 11 LP Cipinang, masih tak ”Kenapa Anda begitu tegar, Pak?” tanya Fauzi . ”Saya membawa
dapat mengatupkan mata. Gara-gara Maghrib tadi ada ini,” jawab Asep sambil menunjukan buku Surat Yasin kecil di
pengumuman, salah seorang narapidana politik (napol) eks kantongnya.
PKI akan dieksekusi. Fauzi bukan napol PKI. Ia terbelit kasus Fauzi terhenyak. Ia mengaku salah menilai orang-orang ini
Jamaah Warsidi Lampung yang hendak mendirikan Darul Islam sebelumnya. Bagi aktivis DII/ NII, napol eks PKI tidak hanya kafir,
Indonesia (DII) atau Negara Islam Indonesia (NII). Tapi ia merasa bahkan mulhid (atheis). Tapi di penjara itu, Tuhan membukakan
malaikat maut sedang mengintai di bloknya. mata Fauzi. Mereka tidak seperti yang digambarkan oleh
Tepat di tengah malam buta Fauzi terkejut. Sesosok dari kelompoknya selama ini. Ternyata napol-napol eks PKI itu rajin
kegelapan datang menghampiri selnya. Dia, Asep Suryaman shalat. Sejak peristiwa itu, Fauzi mulai menguliti doktrin-doktrin
penghuni sel nomor 4 anggota Biro Chusus (BC) PKI yang akan DII/NII, terutama ideologi pengafiran dan cara kekerasan.
menghadapi regu tembak. Padahal dia sudah mendekam 27 Fauzi mengungkapkan salah satu ayat suci al-Qur’an yang
tahun di penjara. sering didengungkan dalam doktrin jihad kelompok NII atau al-
Sejurus kemudian Asep berpamitan. Diulurkan tangannya Jamaah al-Islamiyah (JI) adalah Surat al-Taubah ayat 23-24.
melalui sela-sela jeruji besi. “Bung, kalau saya ada kesalahan “Mereka juga mengambil pembenaran dari kisah pengkhia-
dalam pergaulan, saya minta maaf,” kata Asep dengan suara natan putera Nabi Nuh, dan istri Nabi Luth,” kata Fauzi kepada
tercekat. Fauzi menyambut dengan perasan tak menentu. M. Guntur Romli, kontributor the WAHID Institute.

Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007 81


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Dalil-dalil itu, kata Fauzi, dijadikan dasar agar aktivis jamaah memiliki kebebasan untuk menyalurkan aspirasinya.
NII dan JI lebih mengutamakan jamaah dan Amir atau Imamnya Dia menilai kekerasan akan menghilangkan simpati orang.
ketimbang orang tua, istri, anak dan kerabatnya. “Bahkan merugikan Islam itu sendiri. Juga, korban dari tindakan
“Kalau kerabatnya itu bukan NII, maka mereka dianggap kekerasan itu orang-orang kecil yang tak berdosa. Lihat itu,
sebagai laisa minna bukan golongan kami. Ringkasnya, orang korban bom Kuningan justru satpam, tukang ojek, sopir taksi,”
tua, isteri, anak dan kerabat juga berpotensi sebagai ‘musuh’ Habib yang selalu lantang menentang kemunkaran ini memberi
sampai mereka bergabung ke dalam jamaah,” ungkapnya. contoh.
Jamaah Warsidi adalah faksi DII/NII yang paling keras dan Bom yang diledakkan di kafe, kata Habib, juga tidak bisa
mampu bertahan. Sementara faksi-faksi lain berguguran akibat dikategorikan tepat sasaran. “Bagaimana dengan orang-orang
represi rejim Orde Baru. Fauzi bertugas menghimpun pengikut yang datang untuk duduk-duduk, makan-makan, dengar lagu,
dan menyiapkan kamp militer. Tanah milik Warsidi di Lampung atau berunding soal bisnis, tiba-tiba diledakin.”
dijadikan Islamic village, cikal-bakal NII. Habib berkesimpulan akar kekerasan kelompok itu
“Saat memutuskan untuk ‘berjihad’ pada ada hubungannya dengan ideologi Salafi
awal tahun 1989, saya membentuk camp Wahabi yang berkembang di Arab Saudi.
militer di Talang Sari Lampung untuk melatih “Mereka mudah mengafirkan kelompok lain
para mujahid yang disiapkan untuk melawan dan mengklaim punya kavling di sorga,”
Pemerintahan Darul Kuffar (negara orang- katanya seraya mengutip pendapat Imam Ali,
orang kafir) Republik Indonesia,” kenang Fauzi. “pengafiran adalah kekafiran itu sendiri.”
Akhirnya perjalanan kelompok ini Ideologi yang disebarkan oleh Osama
diberangus militer. Menurut penuturan Fauzi, bin Laden itu, diakui Nasir Abas, memang
lebih dari 200 orang pengikut jamaah Warsidi mempengaruhi sebagian besar aktivis muslim di
tewas, sisanya ditangkap, dan disiksa di Asia dan anggota Jamaah Islamiyah (JI). “Karena
tahanan. Fauzi diganjar 20 tahun penjara yang ajakan Osama mereka melakukan kekerasan dan
dijalaninya 10 tahun. Dia menyadari, istri, anak pembunuhan atas warga sipil. Yang lebih jelas
dan orang tuanya lah yang paling menderita lagi adalah kasus mutilasi 3 orang siswi di Poso,”
akibat jalan kekerasan yang dipilihnya. kata mantan ketua Mantiqi III JI ini kepada
“Padahal mereka yang paling setia dan Gamal Ferdhi dari the WAHID Institute.
istiqomah mengunjungi dan menunggui saya Para bekas koleganya itu, ungkap Nasir,
yang menjalani hukuman. Sedang teman membunuh orang yang tidak bersenjata dan
satu jamaah entah kemana, meninggalkan bukan di tempat perang. “Saya mempelajari
saya sendirian dalam lembabnya sel penjara,” Sirah Rasulillah, tidak pernah sekalipun
ungkap Fauzi. Fauzi Isman Rasulullah menyerang warga sipil dalam
Namun dia mengambil hikmah dari peperangan. Jadi mereka telah melanggar
hukuman itu. “Penjara seperti padang syariat,” tegas alumnus Akademi Militer
pengembaraan pemikiran saya. Di sana saya banyak bertemu Mujahidin Afghanistan 1987 ini (lihat: Mereka Bukan Mengikuti
dengan para napol kasus lain. Sejak disatukan dengan napol Islam).
yang berbeda agama, ideologi dan aliran, saya tak lagi berpikir Ulama, penceramah, pendakwah atau pun media massa,
hitam-putih.” kata Nasir, harus berperan menjelaskan bahwa pernyataan
Tumbangnya Rejim Soeharto yang represif dan militeristik, Osama bin Laden itu menyalahi syariat Islam dan tidak benar.
juga menjadi penyebab. Reformasi membuat masyarakat berani “Ini yang penting!” tegas perintis Kamp Militer Hudaibiyah bagi
mengekspresikan ideologi dan aspirasi politiknya tanpa takut pejuang Bangsa Moro Filipina ini.
intimidasi, apalagi penjara. Peran yang diusulkan Nasir itu kini mulai digencarkan
“Memang perubahan tersebut masih jauh dari yang di Mesir dan negara-negara Arab. Melalui buku, ceramah,
diharapkan. Tapi menurut saya, saat ini tidak ada lagi alasan kurikulum sekolah maupun keterangan pers, para pelaku
pembenar untuk melakukan teror dan kekerasan dalam terorisme yang insaf, para ulama dan pemerintah menyebarkan
memperjuangkan ideologi politik Islam,” tegas Fauzi. ajaran Islam yang damai. (lihat: Tobat Berjamaah Merambah
Fauzi telah mengubur masa lalunya. Sejak menghirup udara Jazirah).
bebas, dia bekerja sebagai terapis akupuntur dan aktif di Garda “Akibat aksi-aksi teror tersebut citra Islam rusak, dan
Kemerdekaan, organisasi yang membela kebebasan, hak-hak menyulitkan dakwah Islam itu sendiri,” kata tokoh JI Mesir Karam
sipil, dan demokrasi. Zuhdi dalam Nahr al-Dzikriyât (Sungai Memori).
Demikian pula Habib Husein al-Habsyi yang dikenal dalam Kesadaran dan kampanye anti terorisme para tokoh JI Mesir
kasus bom Borobudur tahun 1985. Ia mendekam di penjara itu menginspirasi sejumlah ulama Wahabi negara-negara Arab
selama 9 tahun 4 bulan. Jalan kekerasan yang ditempuhnya tentang kekerasan. Mereka beramai-ramai mencabut fatwa yang
waktu itu, adalah untuk melawan rejim Orde Baru yang dzalim. dapat membakar orang melakukan kekerasan.
Tapi saat ini, Habib Husein menampik aksi-aksi kekerasan. Bagaimana dengan Indonesia? Tampaknya, pemerintah
Layaknya Fauzi, Habib menilai keadaan sosial dan politik perlu melibatkan para agawaman lebih intensif.
Indonesia sudah berubah sejak era Reformasi. Semuanya Gamal Ferdhi, M. Guntur Romli, Ahmad Suaedy

82 Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007


Hijrah dari Jalur Kekerasan

Tobat Berjamaah Merambah Jazirah


“IBARAT melempar batu ke air tenang,” kata Najih Ibrahim Muntasar adalah mantan JI Mesir yang insaf lebih dulu.
mengibaratkan peristiwa Mubâdarah Waqf al-’Unf (Inisiatif Kungkungan penjara selama 3 tahun, membuatnya tercerahkan.
Penghentian Kekerasan) tokoh dan pengikut Jamaah Islamiyah Sejak dibebaskan, selama 10 bulan ia aktif mendekati
(JI) Mesir pada 05 Juli 1997. tokoh-tokoh JI baik di dalam maupun di luar penjara untuk
“Tak diduga, peristiwa tersebut menciptakan gelombang meninggalkan kekerasan.
perubahan yang dahsyat bagi kelompok-kelompok Islam yang Pekerjaan itu tidak mudah. “Baik JI ataupun pemerintah
lain,” tulis Najih dalam pengantar buku yang ditulisnya bersama mencurigai saya ,” ungkap Muntasar dalam buku al-Jamâ’âh
tokoh-tokoh JI yang lain berjudul Nahr al-Dzikriyât (Sungai al-Islamiyah, Ru’yah Min al-Dâkhil (Jamaah Islamiyah, Pandangan
Memori). dari Dalam).
Inisiatif tersebut diumumkan tokoh-tokoh JI Mesir dari Hasilnya pada 2001, para tokoh JI mengeluarkan buku-
dalam penjara setelah 16 tahun pembunuhan Presiden Mesir buku tentang perubahan pandangan dan strategi kelompok
Anwar Sadat pada 06 Oktober 1981. Bersama Tandzim Jihad ini. Salah satunya adalah Mubâdarah Waqf al-‘Unf Ru’yah
pimpinan Abd Salam Farag, JI Syar’iyah wa Nadlrah Wâqi’iyah
Mesir punya andil dalam tragedi (Inisiatif Penghentian Kekerasan,
itu. Dua kelompok ini berniat Pandangan Syariah dan Realitas).
menggulingkan pemeritahan Buku ini berisi argumentasi-
Mesir. Tandzim Jihad sebagai argumentasi syariah bahwa
pencabut nyawa Sadat, sedang JI kekerasan tidak memiliki akarnya
Mesir menyiapkan dana dengan dalam Islam. Selain itu, ada
merampok toko-toko emas milik pertimbangan konteks bahwa
penduduk Kristen Koptik Mesir di kekerasan justru membunuh
Provinsi Qina dan kawasan Subra, saudara mereka sendiri dan
Cairo. Menurut mereka penganut memecah belah umat Islam.
Koptik adalah kafir yang hartanya Pemerintah Mesir merespon
bisa diambil sebagai fai’ (harta perubahan itu. Pada 2003, Karam
rampasan perang). Zuhdi dibebaskan. Dua tahun
Walau berhasil membunuh kemudian giliran Najih Ibrahim.
Sadat, mereka gagal Selepas dari penjara mereka
menggulingkan pemerintah. aktif menulis dan berdakwah
Justru jaringan kelompok ini dok.rontburg.com/islamonline.net menentang kekerasan. Mereka
digulung pemerintah Mesir. Penembakan Presiden Mesir Anwar Sadat. (Insert) Karam Zuhdi menerbitkan buku-buku yang
Tokoh-tokoh Tandzim Jihad menentang pandangan dan
dihukum mati. Sedangkan tokoh- strategi al-Qaedah besutan Bin
tokoh JI Mesir seperti Karam Zuhdi, Najih Ibrahim, Ashim Abd Laden dan Ayman al-Dawahiri. Bahkan mereka kerap melakukan
Majid, Isham Darbalah, bersama ribuan pengikutnya disiksa dan kampanye anti terorisme dalam situs www.egyptianislamicgroup.
dijebloskan ke penjara. Rata-rata mereka divonis seumur hidup. com.
Tapi sisa-sisa pengikut JI Mesir di luar penjara tetap melan- Perubahan serupa juga terjadi di Saudi Arabia. Sebelum
carkan aksi-aksi terorisme menuntut pemimpin-pemimpin peristiwa Bom Riyadh tahun 2003, pemerintah Saudi merestui
mereka dibebaskan. Sejak tahun 1992-1996 Mesir tak sepi dari doktrin Salafi Wahabi yang dianut kelompok-kelompok teroris.
serangan teroris. Target mereka umumnya wisatawan asing dan Namun sejak negara itu diserang 22 aksi teror antara 2003
pemeluk Kristen Koptik Mesir. sampai 2004, pemerintah Saudi tampak mulai berubah.
Berbeda dengan yang di luar, tokoh-tokoh JI yang di “Ada tiga ulama Saudi yang bertobat dari fatwa-fatwa
dalam penjara justru tergugah. “Aksi-aksi terorisme itu menjadi kekerasan dan pengafiran. Mereka itu Syekh Ali bin Khidlir al-
legitimasi bagi rejim pemerintah Mesir untuk terus melakukan Khidlir, Syekh Nasir bin Muhammad al-Fahd, dan Syekh Ahmad
represi,” kata Karam Zuhdi, pimpinan Majelis Syura JI Mesir. bin Fahd al-Khalidi,” tulis www.murajaat.com.
“Lebih dari itu, aksi-aksi teror tersebut merusak citra Islam, dan Mereka mencabut fatwa-fatwa itu dalam dialog di seluruh
menyulitkan dakwah Islam itu sendiri,” tambah Zuhdi. saluran televisi Saudi, yang dipandu oleh ulama Saudi terkenal
Awalnya inisiatif ini disikapi dingin pemerintah Mesir. Ka- Syekh Aidl al-Qarni. Menurut pengakuan tiga ulama itu,
rena pada tahun itu juga, terjadi aksi terorisme terbesar. Teroris pertobatan tersebut terinspirasi oleh buku-buku yang dikarang
menyerang lokasi Piramid, menewaskan 58 wisatawan pada 17 oleh mantan tokoh-tokoh JI Mesir.
November 1997. Kini sejumlah ulama dan pemerintah di Jazirah Arab ber-
Inisiatif itu seakan hilang tertimpa tragedi itu. Namun se- giat meluruskan pandangan ideologi Salafi Wahabi yang acap
orang pengacara bernama Muntasar al-Zayyat berjuang agar dijadikan latar oleh aktor-aktor teror, baik melalui fatwa, khutbah
keinginan baik mereka diliput pers dan didengar oleh dunia ataupun buku-buku.
internasional. M. Guntur Romli, Gamal Ferdhi

Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007 83


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Nasir Abas
Lahir : Singapura, 06 Mei 1969
1987-1990 Kadet Akademi Militer Mujahidin
Nasir Abas Afghanistan.
1990-1993 Instruktur Akademi Militer Muja-
Mantan Ketua Mantiqi III JI hidin Afghanistan.
1994-1996 Perintis dan Instruktur Kamp Hu-

“Mereka Bukan
daybiyah Filipina untuk Bangsa Moro dan JI.
1997 Staff Wakalah Johor JI. Ketua Wakalah
Sabah di bawah Mantiqi III JI.
2001 Ketua Mantiqi III JI.

Mengikuti Islam”

dok.WI/Witjak
2003 Keluar dari JI.
(sumber: Membongkar Jamaah Islamiyah, 2006)

KEKERASAN dan pembunuhan atas warga sipil oleh beberapa Ba’asyir. Ustadz Abu hingga kini menarik
pernyataan saya itu. Saya mengakui RI dan
kelompok Islam bukan berdasarkan syariat, tapi karena termakan Malaysia sebagai NI walaupun belum mampu
ajakan Osama bin Laden. Demikian mantan Ketua Mantiqi III Jamaah melaksanakan SI secara sempurna.

Islamiyah (JI) Nasir Abas kepada Gamal Ferdhi dari the WAHID Apakah pandangan itu telah disadari
sebagian besar eks anggota JI, sehingga
Institute. Berikut petikannya. tahun 2006 serangan teroris ke Indonesia
menurun?
Bagaimana awal Anda ikut Jamaah Islamiyah Apa penyebabnya? Selama ada orang yang masih meyakini
(JI)? Saya menyadari sejak tahun 2000, para statement Osama bin Laden itu benar, selama
Selain saya, ada kerabat yang juga ikut JI. aktivis muslim termasuk JI, banyak yang itu pula ada kemungkinan serangan bom
Pada awalnya, saya dan JI tidak pernah berniat terpengaruh statement Osama bin Laden terjadi lagi. Oleh karena itu, tidak boleh merasa
untuk melakukan kerusakan di muka bumi. Saya yang mengatakan: “AS dan sekutunya telah aman dan meninggalkan kewaspadaan dengan
berfikir bahwa apa yang saya miliki sebagai membunuh warga sipil Islam, maka sekarang tidak adanya serangan bom yang besar pada
umat Islam (UI) khususnya anggota JI, bisa waktunya bagi umat Islam untuk membalas tahun 2006 ini.
bermanfaat untuk membela dan membantu dendam dengan membunuh warga sipil AS dan
UI yang ditindas dan diserang di tanah airnya sekutunya di mana saja!” Karena ajakan Osama, Himbauan Anda?
sendiri. Untuk itulah kami berperang ke mereka melakukan kekerasan dan membunuh Ulama, penceramah, pendakwah ataupun
Afghanistan dan Filipina, beberapa anggota warga sipil. Yang lebih jelas lagi adalah kasus media massa harus tetap terus menjelaskan
JI juga ada yang ke Ambon dan Poso untuk mutilasi 3 orang siswi di Poso. Padahal anak- bahwa statement Osama bin Laden itu
membantu UI di sana. Tapi kemudian terjadi anak perempuan itu tidak ikut berperang. Ini menyalahi syariat Islam dan tidak benar. Ini
hal yang tidak sepatutnya. Beberapa anggota JI jelas dosa besar! yang penting!
dengan niat yang jelas membunuh warga sipil. Saya sendiri heran dengan Abu Bakar
Kasarnya, mereka bukan mengikuti Islam tapi Ba’asyir. Kalau ia tidak setuju dengan aksi
Mengapa mereka melakukan itu? mengikuti Arab! pemboman di Indonesia, mengapa ia tidak
Menurut mereka itu Jihad. Padahal jihad Saya sempat menyampaikan ini kepada menolak statement Osama. Padahal itu adalah
harus dilandaskan dua hal, yaitu niat yang Hasanuddin (pelaku mutilasi 3 siswi di akar permasalahannya. Kelompok muslim yang
ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah. Poso, red.). Dan Alhamdulillah, Hasanuddin melakukan kekerasan, pemboman dan mutilasi
Mereka membunuh orang yang tidak menyadari kekhilafannya. Sekarang dia itu tergerak karena statement Osama.
bersenjata dan bukan di tempat perang. Saya menyesal dan meminta maaf serta menyadari Saya telah bertemu beberapa pelaku
mempelajari Sirah Rasulillah, tidak pernah bahwa aksinya bertentangan dengan syariat. terorisme. Kalau ingin bicara kepada mereka,
sekalipun Rasulullah menyerang warga sipil saya bisa membantu minta izin agar bisa
dalam peperangan. Jadi sebenarnya mereka Bagaimana dengan pendirian Negara Islam? bertemu. Ini terbuka untuk siapa saja, termasuk
telah melanggar syariat. Ada dalam QS. al-Maidah: 44. Dari ayat pendakwah, ustadz yang ingin mengetahui apa
Terhadap non-muslim pun demikian. tersebut, dulu saya memahami bahwa umat yang mendorong dan memotivasi para pelaku
Haram hukumnya menyerang non-muslim. Islam harus menegakkan SI dengan men- terorisme. Mereka bukan korban. Mereka
Selama mereka tidak menyerang kaum dirikan negara Islam (NI). Selain itu, pemerintah melakukan itu dengan keyakinan.
muslimin, maka kita harus bermuamalah bukan NI adalah pemerintahan kafir, begitu Ini agar ulama, aktivis muslim dan para
dengan baik. Itu ditunjukkan Rasulullah. Akhlak juga dengan orang-orang yang terlibat di ustadz tahu, bahwa ini bukan rekayasa atau
Rasulullah ini dipuji oleh banyak non-muslim. dalamnya, termasuk presiden, menteri dan konspirasi. Jadi saya menghimbau kepada para
Banyak buku yang menyatakan beliau adalah aparat-aparatnya. pendakwah, penceramah dan ulama supaya
pemimpin yang baik. Jadi walaupun berniat Ini juga diyakini Kartosuwiryo dengan kita meluruskan dan mengembalikan mereka
untuk menentang kemunkaran tapi tidak DI/TII nya, dilanjutkan oleh JI yang dipimpin bertindak sesuai dengan tuntunan Rasulullah
mencontoh Rasul, itu adalah dosa besar! Abdullah Sungkar, kemudian Abu Bakar SAW.

84 Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007


Hijrah dari Jalur Kekerasan

Penggrebekan markas FPI


dok.AP

Suplemen the WAHID Institute Edisi IV / Majalah Tempo / 29 Januari 2007 85


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Teenlit dari Bilik Pesantren


Novel-novel pop marak diproduksi para santri. Tabir pesantren diungkap dengan gaul.

C
inta kemuliaan, membuat Dahlia rela banting tulang yang berkecukupan ini, kerap menampilkan tokohnya yang
menjadi penari untuk menghidupi keluarganya yang mempunyai mobil pribadi, kerap berlibur ke seantero dunia,
miskin. Cinta kebaikan membuatnya selalu ingin belajar nongkrong di kafe, memuja bintang pop, dan berbelanja di
untuk lebih baik. Dahlia memang perempuan yang dipenuhi pertokoan terkenal.
cinta. Tak heran jika putra dua pengasuh pesantren, Aiman dan Dengan mengadaptasi gaya dan teknik penceritaan seperti
Bilal jatuh hati padanya. itu, sejumlah pengarang muda di Indonesia menulis teenlit ala
Jalinan cerita juga memunculkan konflik. Mbah Jalaluddin Indonesia. Jumlahnya sangat fenomenal. Bahkan, beberapa
Rumi, ayah Aiman, membela Dahlia ketika Kiai Umar dan ormas diantaranya telah diangkat ke layar perak dan layar gelas.
Islam lainnya menyudutkan Dahlia dengan tariannya yang Kini hadir pula novel pop gubahan para santri belia yang
dianggap haram. telah memberi warna tersendiri dalam dunia buku sastra remaja.
Ada kisah lain lagi. Seuntai mawar dan surat berisi puisi Teenlit pesantren berbicara tentang remaja dan ditulis oleh
tanpa nama pengirim tiba-tiba muncul di asrama pesantren remaja. Fina Af’idatussofa, penulis Gus Yahya Bukan Cinta Biasa,
putri tiap akhir pekan. Mawar dan puisi itu ditujukan kepada misalnya tahun 2007 ini baru menjelang 17 tahun. Sementara
Zahra. Pesantren puteri itu pun jadi geger. Maia Rosyida, penulis Tarian Cinta, belum lagi 20 tahun.
Zahra tak tahu siapa pengirimnya. Karena itu ia bungkam “Gaya bahasa yang digunakannya pun sama, yakni bahasa
ketika ditanya oleh petugas keamanan pondok. Gosip pun gaul remaja yang sedang tren: penuh dengan istilah Inggris,
beredar. Ada lesbi di asrama itu yang diam-diam mencintai banyak akronim dan style Jakarta,” jelas Redaktur Majalah Seni
Zahra. Sahna, santriwati senior yang selama ini dikenal dekat Gong Hairus Salim.
dengan Zahra, jadi tertuduh. Tapi jika ditelesik, kata Manajer Divisi Matapena Nur Ismah,
Isu ini khas pesantren, karena memang tak boleh seorang tetap ada sesuatu yang berbeda dalam teenlit pesantren.
lelaki pun memiliki akses ke pesantren puteri, kecuali keluarga “Ada semacam pandangan khas pesantren, yang membuat ia
kiai. tidak sekadar jadi cerita cinta remaja saja,” jelas Ismah (baca:
Dua cerita di atas adalah cuplikan novel Tarian Cinta dan Menelusuri Lokalitas Pesantren).
Gus Yahya Bukan Cinta Biasa, dua dari banyak novel bergaya Ia lalu mencontohkan karyanya, Jerawat Santri. Ada tokoh
teenlit (teen literature) yang lahir dari pesantren, sekolah yang Mahsa yang memberikan semacam kuliah mengenai reproduksi
selama ini dianggap tidak gaul. berdasarkan kaca mata fiqh dan psikologi sosial kepada
Kehadiran teenlit pesantren adalah buah dari maraknya yuniornya, Una. Dalam Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji
novel teenlit impor yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. (2006), ada tokoh Rara yang menolak poligami. Untuk itu, Rara
Teenlit terjemahan itu menampilkan tokoh dan gaya hidup yang berjilbab modis mesti membantah dan berdebat dengan
remaja kota yang relatif liberal. Remaja belasan tahun sudah para seniornya di kampus.
terbiasa berciuman dengan lawan jenis dan pergi ke pesta-pesta. Sedang dalam Tarian Cinta karya Maia Rosyida dikisahkan
Novel remaja karya anak muda yang hidup dalam dunia kearifan dari Kiai Rumi. Sang kiai tak serampangan memberi
fatwa haram tarian Dahlia yang meniru gaya Toxic-nya Britney

86 Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007


Teenlit dari Bilik Pesantren

Pangeran Bersarung yang ditulis Mahbub Jamaluddin, sudah


dibeli sebuah rumah produksi untuk diangkat ke layar sinetron.
Sedangkan Forum Lingkar Pena (FLP) yang juga giat
mengembangkan kemampuan menulis di kalangan remaja
Islam mengakui tidak mempunyai lini khusus yang menangani
sastra pesantren. “Walaupun begitu, ada juga novel dari
komunitas kami yang mengambil latar cerita kehidupan
pesantren,” kata Ketua FLP Yogyakarta I. R. Wulandari.
Menurut Salim, pertumbuhan generasi baru penulis novel
dari pesantren saat ini bagai cendawan di musim hujan. Unik,
memang. Mengingat umumnya pesantren masih melarang
santrinya membaca buku-buku ‘putih’, yaitu buku karya penulis
anyar apalagi yang dianggap pop. “Mereka hanya diwajibkan
untuk membaca dan mempelajari kitab kuning, yakni buku-
montase Witjak
buku keagamaan yang ditulis dalam bahasa Arab,” ungkap Salim.
Pandangan ‘kaku’ seperti itulah yang menyulitkan Ismah
masuk ke pesantren. Tetapi setelah melakukan pendekatan
kepada kalangan pimpinan pondok bahwa gerakan ini untuk
Spears. “Nah, itu kan bukan sekadar cerita cinta remaja toh?” kepentingan santri, barulah kehadiran mereka disambut baik.
tegas Nur Ismah. “Kini bukan lagi kami yang menawarkan, sejumlah
Ciri khas teenlit pesantren juga dipaparkan Hairus Salim. pesantren juga telah meminta para penulis Matapena untuk
“Ada istilah-istilah fiqh, referensi kitab dan buku pesantren, memberikan workshop penulisan di pesantren-pesantren
humor ala pesantren, bahasa prokem pesantren, dan lain-lain,” mereka,” jelas Ismah.
kata Salim yang sering meneliti sastra pesantren. Jika diperkirakan ada sekitar 3 juta santri di seluruh
Tengok polah Hadziq, santri Mbah Jalal dalam Tarian Cinta, Indonesia, maka hadirnya karya-karya remaja pesantren jelas
yang bersemangat membahas kitab Qurratul ‘Uyun. “Sengaja cukup rasional dari segi pasar. Tapi bukan soal pasar yang paling
milih kitab yang agak menghibur. Maksudnya yang agak ‘porno’ penting. Komunitas Matapena, dengan caranya sendiri telah
biar nggak terlalu pusing dengan rumus nahwunya,” tulis Maia mengembangkan kegiatan menulis. Mendorong minat baca, kini
Rosyida dalam Tarian Cinta. mereka jadikan sebagai suatu gerakan. Sebuah tindakan terpuji
Ana FM dalam Cinta Lora menggunakan istilah ilmu yang patut didukung, bukan dipasung.
hadis, serta panggilan khas untuk putera kiai di Madura Gamal Ferdhi
yaitu Lora disingkat dengan Ra juga
ditampilkan. “Menurut cerita yang dapat
dipertanggungjawabkan alias mutawatir, Ra
Faris dikenal sebagai aktivis yang superaktif
dan tidak pernah ada kata cewek dalam kamus
hidupnya.”
Karya Fina, Maia, Ismah, Ana dan banyak
penulis muda lainnya itu dipublikasikan
oleh penerbit Matapena yang berbasis di
Yogyakarta. Lembaga ini memang paling
giat membidani kelahiran teenlit pesantren.
Kehadiran novel-novel itu dimaksudkan
untuk mengisi kekosongan dari novel
remaja yang sudah terbit. “Matapena ingin
memperkenalkan sosok remaja pesantren yang
selama ini luput dari perhatian, bahkan sering
dianggap tidak gaul,” kata Nur Ismah.
Untuk kepentingan ini, dibentuklah
Komunitas Matapena. Ini adalah komunitas
penulis muda pesantren. Mereka berkeliling ke
sejumlah pesantren, menggelar diskusi buku
dan membuat workshop penulisan. Kini sudah
ada 45 rayon yang berbasis di pesantren-
pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan
Jawa Barat. Untuk Jakarta dan Banten sedang
dirintis. “Jumlah penulis yang telah direkrut
sekitar 300-an,” ujar Ismah.
Sejak berdiri pada akhir 2005, Matapena
berhasil meluncurkan 20 buku. Beberapa di
antaranya telah dicetak ulang, bahkan Santri
Semelekete karya Ma’rifatun Baroroh dan Wabah teenlit pesantren

Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007 87


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Nur Ismah

Menelusuri
Lokalitas Pesantren
KIPRAH perempuan mungil itu memang Contoh lain bisa disimak dalam Coz teenlit pada umumnya. Bahkan dituding
tidak bisa dipisahkan dari teenlit (teen Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji (2006). tak punya ciri khas. “Penilaian ini kalau
literature) pesantren atau yang kadang Di sana, ada episode ketika tokoh Rara semata melihat kemasannya,” kata mantan
disebut novel pop pesantren. Nur Ismah, menyatakan tak setuju pada poligami. reporter Majalah perempuan dan anak
nama perempuan kelahiran Pekalongan, Untuk itu, Rara yang berjilbab modis, mesti MITRA YKF-LKPSM Yogyakarta ini.
Jawa Tengah, 23 Desember 1978 ini, membantah dan mendebat para seniornya Tapi jika ditelesik, kata Ismah, ada
adalah manajer Matapena, sebuah divisi di di kampus yang disebutnya sebagai ciri khas dalam teenlit pesantren. “Ada
penerbit Lembaga Kajian islam dan Sosial kalangan ”jilbaber gedombor-dombor”. semacam pandangan khas pesantren,
(LKiS), Yogyakarta. “Nah, itu kan bukan sekadar cerita cinta yang membuat ia tidak sekadar jadi cerita
Matapena khusus menerbitkan remaja toh?” kilah Nur Ismah. cinta remaja saja,” jelasnya.
karya-karya sastra remaja dari kalangan Ismah menambahkan, ada kisah Banyak tradisi pesantren yang belum
pesantren dan bercerita tentang remaja tentang kearifan Kiai Rumi, dalam Tarian diolah jadi cerita. Sebab itu, Ismah yakin
pesantren. Namun Ismah bukan sekadar Cinta karya Maia Rosyida. Pesan pokoknya: bahwa tema-tema pesantren tidak akan
manajer. Penulis dengan nama pena Isma tak serta-merta memfatwa haram tarian pernah habis digali. “Pesantren seperti juga
Kazee ini, telah membesut dua teenlit Dahlia yang mirip Toxic-nya penyanyi tenar etnik, memiliki lokalitasnya sendiri. Nah,
pesantren yaitu Jerawat Santri (2006) dan Britney Spears. “Kalau di novel lain, hal itu lokalitas-lokalitas itulah yang akan terus
Ja’a Jutek (2007). pasti sudah jelas haram,” kata Ismah. kita telusuri.”
Pesantren memang bukan dunia Namun dalam cara berbicara, hobi,
asing bagi Ismah. Pahit manisnya pakaian, selera musik dan film, jelas Ismah,
masih membekas hingga sekarang. teenlit pesantren tetap mengikuti pakem
Maklum, ia menghabiskan tujuh tahun zamannya. “Remaja di mana pun, kini
masa remajanya di Pesantren Putri al- memiliki kultur gaul yang pada dasarnya
Fathimiyyah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, adalah kultur global atau kultur MTV.
Jombang, Jawa Timur. Televisi jelas menjadi ‘imam’ dari kultur ini,”
Selepas dari pesantren, Ismah kata Ismah.
hengkang ke Yogyakarta dan mengambil Karena itu, ujar Ismah, banyak orang
kuliah di Jurusan Sastra Arab, Universitas menilai teenlit pesantren tak beda dengan
Islam Negeri (UIN), Sunan Kalijaga.
Kegiatan menulis yang ia pupuk sejak
nyantri dan keterlibatannya dalam dunia
pers mahasiswa, mengantar Ismah ke
dunianya kini.
Ismah punya alasan kenapa harus
membesarkan teenlit pesantren. “Selain
ingin menandingi gaya hidup remaja
perkotaan yang ditawarkan teenlit pada
umumnya, juga ingin menunjukkan Islam
pesantren yang membumi.”
Hal itu Ia tunjukkan dalam karyanya.
Tengok saja Jerawat Santri. Di situ ada
tokoh Mahsa yang memberikan semacam
kuliah mengenai reproduksi berdasarkan
dok.pribadi

kaca mata fiqh dan psikologi sosial kepada


yuniornya, Una.

88 Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007


Teenlit dari Bilik Pesantren

Sastra Pop
Kaum Sarungan
dok.WI/Witjak

Oleh: Ahmad Suaedy


Direktur Eksekutif the WAHID Institute Jakarta

TEENLIT (teen literature) pesantren atau teenlit umumnya. Bedanya, novel- Di sekolah yang baru empat tahun
sastra pop remaja pesantren boleh novel itu banyak mengambil setting berdiri itu, lahir tiga penulis berbakat,
jadi merupakan kelanjutan perubahan pesantren. Tak sedikit yang memakai yaitu Maia Rosyida, Fina Af’idatussofa
dunia pesantren yang telanjur terbuka term-term kitab kuning, menyinggung dan Upik. Sekolah ini dikelola dengan
atas informasi dan tak bisa lagi kehidupan agama, terkadang berupa pendekatan semacam komunitas riset
menolak perubahan. Namun, dunia kritik dengan sangat tajam. untuk anak-anak seusia pelajar. Mereka
dan bakat alam mereka seperti luput Para santriwati muda nan kreatif diberi fasilitas internet 24 jam sehari
dari pengamatan banyak pihak. Para ini tentu harus terus didorong. Mereka dan perpustakaan, serta dipersilakan
santri remaja itu begitu tekun dengan sedang mencari dunia mereka sendiri untuk memilih topik kajian secara
dunia mereka sendiri, tak peduli hiruk- dengan menggunakan referensi yang orang per orang dan kelompok. Tetapi
pikuk para ‘orang tua’ mereka. mereka pelajari di pesantren. Hal ini setiap dzuhur dan ashar mereka wajib
Meskipun kini pesantren sedang lalu mereka kaitkan dengan realitas berjamaah bersama dan di malam hari
digempur dari berbagai arah dan yang mereka serap dari dunia nyata. harus mengikuti sekolah diniyah di
ditarik kanan kiri, para santriwan dan Dalam konteks pergeseran pesantren desa itu. Dan guru hanya
santriwati belia itu rela berjam-jam peran pesantren, fenomena teenlit berfungsi sebagai pembimbing.
nongkrong di depan komputer. sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Komunitas Azan di desa
Mereka menulis, merefleksi dan Ia merupakan buah dari proses Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat
menggugat lingkungan dan pemikiran perubahan dan terbangunnya sistem lain lagi. Kelompok yang dipimpin
dunia mereka sendiri yang selama baru dari dunia yang pernah dianggap Acep Zamzam Noor, yang bergerak di
ini dianggap menyesakkan. Hasilnya paling kolot itu. Sejak digagas oleh wilayah kajian sastra, telah melahirkan
adalah novel, cerpen, kumpulan puisi Gus Dur dan kawan-kawan atas dunia puluhan seniman dan penulis.
dan karangan lainnya. pesantren dan Nahdlatul Ulama, Bersama seniman di Tasikmalaya
Dahsyatnya arus informasi melalui gerakan pembaharuan itu bergulir lainnya, mereka berhasil meyakinkan
berbagai saluran, tidak mungkin terus hingga kini, melampaui apa yang pemerintah daerah untuk mendirikan
dicegah dengan cara apapun. Internet dipikirkan ketika itu. Gedung Kesenian, sejak 6 tahun lalu.
dengan seluruh situsnya dan TV Di pelbagai daerah, dari Konon, ini adalah Gedung Kesenian
dengan semua kanal yang ada dengan tingkat kecamatan hingga desa, di pertama di kabupaten di Indonesia.
mudah bisa diakses oleh segala kawasan basis pesantren, para santri Lambat laun terbangun pula
umur. Hanya kesadaran pribadi dan umumnya punya komunitas tersendiri. sistem penerbitan, percetakan dan
lingkungan yang bisa membimbing Terbentuklah berbagai kelompok, pemasaran. Penghargaan untuk
mereka. Para penulis remaja itu, seperti kelompok remaja, pelajar dan para penulis, pemantauan bakat dan
adalah di antara mereka yang mampu mahasiswa yang berlatar belakang mobilisasi karya-karya mereka makin
memanfaatkan arus informasi tersebut pesantren. Ada kelompok diskusi, digalakkan. Saya jadi ingat kata-kata
dengan maksimal untuk memproduksi kajian kitab kuning, bahtsul masail Gus Dur suatu saat pada tahun 70-an
gagasan. sampai kelompok advokasi serta tulis- di Institut Teknologi Bandung (ITB),
Dilihat dari bahasa, jalan cerita, menulis hingga pendidikan alternatif. bahwa kebangkitan Islam hanya
istilah yang digunakan, tak ada Tengok saja di ‘sekolah alternatif’ akan terjadi jika telah ada kebebasan
bedanya karya para penulis pesantren SMP dan SMU Qaryah Thayyibah, di berkreasi dan kebebasan berekspresi di
ini dengan sastra pop remaja atau Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. dunia Islam.

Suplemen the WAHID Institute Edisi V / Majalah Tempo / 26 Februari 2007 89


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Nyai Pesantren
Melawan Kekerasan
Makin banyak aktivis perempuan yang lahir dari pesantren. Mereka mengadvokasi, mendampingi,
melakukan konseling sampai membangun rumah singgah untuk menampung korban kekerasan.

S
ebuah klinik kandungan di Bondowoso tiba-tiba gaduh. Pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon. Ia memimpin
Seorang anak perempuan berusia 11 tahun, sebut saja Mawar Balqis Crisis Center yang bekerja mendampingi
Wardah, yang hamil satu bulan akibat ulah bejat kakeknya perempuan di seputar wilayah Cirebon. Sejak berdiri pada 2001,
berteriak histeris saat akan dikuret. Balqis sudah menangani 315 kasus KDRT, perkosaan 88 kasus,
Awalnya tak ada yang tahu. Saat muntah-muntah, Wardah pelecehan seksual 46 kasus, kekerasan terhadap perempuan 20
dikira sakit. Ternyata bidan puskesmas mendiagnosa Wardah kasus, kekerasan dalam pacaran 7 kasus. “Sekarang kita sedang
hamil. Sang nenek pun menceritakan nasib tragis cucunya menangani kasus kekerasan terhadap anak, dan trafficking, “
itu kepada guru mengajinya, Nyai Hj. Siti Ruqayyah Ma’shum. jelas alumni pesantren Darul Muta’allimin Ciwaringin ini.
Pimpinan Pondok Pesantren Putri al-Maksumiyyah, Prajekan, Balqis pun tak segan menempuh jalur hukum dalam
Bondowoso itu segera turun tangan. membela korban. “Kami
Nyai Ruqayyah mendampingi mendampingi litigasi hukum
korban dan keluarganya, termasuk pidana dan perdata,” tambah
turut memutuskan aborsi. Tapi sang Nyai Lilik Nihayah. Lembaga ini,
bidan tak berani. Dia pun menjelaskan misalnya, pernah mendampingi
tujuan tindakan itu kepada sang bidan, korban KDRT yang bersuamikan
ditambah dengan berbagai sandaran warga Brunei Darussalam.
teologis. “Saya memilih aborsi karena si Istrinya berhasil dipulangkan ke
anak adalah muhrim pelaku. Jadi tidak Indonesia. Namun karena si anak
bisa dinikahi,” ujar alumni Pesantren masih disandera sang bapak,
Zainul Ishlah, Probolinggo ini. kasusnya terus diurus Balqis
Alasan lainnya, usia janin hingga kini.
Baiq Elly Mahmudah Nyai Hj. Siti Ruqayyah Ma’shum
Wardah baru satu bulan. “Mazhab Di Tasikmalaya, terdapat
Hanbali membolehkan aborsi jika Pusat Perlindungan Wanita
usia kandungan kurang dari empat (Puspita) di Pesantren Cipasung.
bulan. Juga, jika kehamilannya tidak Puspita itu dikelola oleh Nyai
diinginkan seperti akibat perkosaan,” Enung Nur Saidah Rahayu. “Kami
Nyai Ruqayyah menjelaskan. Selain itu sudah menangani 66 kasus sejak
Ruqayyah menilai masa depan Wardah didirikan 13 September 2004,”
masih panjang, karena ia belum lulus putri mantan Rais ‘Am Syuriyah
SD. Pendampingannya tak berhenti di PBNU Ajengan KH. Ilyas Ruhiat itu
situ. Perkembangan psikis Wardah terus menerangkan.
dipantau olehnya, hingga kini gadis cilik Pendirian Puspita semula
itu menginjak remaja. ditentang banyak orang, apalagi ia
Usaha Nyai Ruqayyah di Bondowoso Nyai Enung Nur Saidah Nyai Lilik Nihayah Fuady merupakan bagian dari pesantren.
itu merupakan salah satu potret “Tapi apih (KH. Ilyas Ruhiat,
advokasinya terhadap korban kekerasan red.) orang yang terbuka. Beliau
dalam rumah tangga (KDRT) dan ketidakadilan yang menimpa menanyakan dulu maksud pendirian lembaga itu,” tambah
perempuan. Ia melakukan pendampingan melalui konseling Nyai Enung. Karena bertujuan menolong perempuan yang
secara sukarela di rumahnya. Majelis Ta’lim al-Ma’shumiy yang membutuhkan bantuan, maka KH. Ilyas memersilahkannya.
dipimpinnya, bukan sekedar menjadi tempat belajar agama, tapi Puspita Cipasung melakukan berbagai layanan, antara
sekaligus menjadi sarana pendampingan bagi korban kekerasan. lain advokasi korban, konsultasi, pendampingan medis, dan
Karena selain dikenal sebagai pemimpin pesantren perempuan, penyediaan shelter atau rumah singgah. “Juga konseling, dengan
pendidik ataupun istri pemilik pesantren, seorang nyai juga tambahan dari sisi spiritual,” tambah perempuan yang lahir dan
harus peduli terhadap setiap permasalahan umatnya. besar di Pesantren Cipasung ini.
Demikian halnya dengan Nyai Lilik Nihayah Fuady dari Bahkan shelter-nya terintegrasi dengan pesantren. “Korban

90 Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007


Nyai Pesantren Melawan Kekerasan

banyak majelis ta’lim yang anggotanya mayoritas perempuan.


“Ini sangat strategis,” kata Baiq Elly.
Dua Puspita tadi memang menginduk kepada Pesantren
Untuk Pemberdayaan Perempuan (PUAN) Amal Hayati di Jakarta,
pimpinan Sinta Nuriyah Abdurrahman. PUAN mendirikan
Puspita di lingkungan kediaman istri mantan Presiden Gus Dur
di komplek Pesantren al-Munawwarah, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Untuk pendirian Puspita itu pula, PUAN giat menjalin kerja
sama dengan pesantren lain. Alasan Sinta, karena pengaruh
kiai sangat besar. “Jadi kalau ngomong pasti dianut,” kata Sinta
Nuriyah kepada Nurun Nisa dari the WAHID Institute.
Pesantren juga tidak perlu lagi membuat penampungan.
Korban yang meninggalkan rumah karena kekerasan dapat di-
tampung di bilik-bilik santri.
Selain itu, di pesantren para korban akan banyak men-
dengar orang dzikir dan membaca al-Qur’an. “Itu bisa meredam
kegelisahan dirinya,” tambah peraih master bidang Kajian Wanita
dok.WI/ Gamal Ferdhi

UI ini.
Bagi korban yang punya anak, kata Sinta, anaknya tidak
perlu putus sekolah karena pesantren menyelenggarakan pen-
didikan usia sekolah. “Kemudian, SDM pesantren amat banyak.
Kantor Puspita Cipasung Santri-santri senior bisa direkrut untuk menjadi relawan-relawan
di Puspita tersebut,” papar Sinta.
Bahkan, Sinta menilai pengaruh pesantren yang cukup be-
dilibatkan dengan kehidupan para santri,” ungkap Nyai Enung. sar di masyarakat membuat instansi-instansi seperti rumah sakit,
Puluhan kasus yang dihadapi Puspita Cipasung pun beragam. poliklinik, pengadilan agama, dan pengadilan negeri mudah
Berkat kerja keras para aktivisnya, seorang pelaku yang diajak kerja sama.
memerkosa anaknya sendiri sudah diganjar 15 tahun penjara. Dulu persoalan KDRT dianggap wilayah pribadi yang
Penghentian KDRT juga giat dilakukan para perempuan di tabu diutak-atik. Kini, banyak kiai sepuh mempersilahkan pe-
Nangroe Aceh Darussalam. Hj. Erma Suryani Faisal, istri ketua santrennya dijadikan Puspita. “Kalau kiai-kiai sepuh umumnya
Rabithah Thaliban Aceh, organisasi santri di Serambi Mekkah itu. mereka tidak akan menentang selama kita bisa memberikan
Atas pendampingan dari Rifka Anissa Yogyakarta, ia mendirikan argumentasi ayat-ayat dan hadits,” ungkap Sinta.
Women Crisis Center (WCC). Inisiatif Erma ini muncul karena Oleh sebab itu, enam pesantren tertarik menjadi mitra kerja
temannya yang menjadi aktivis perempuan ormas Islam PUAN. “Mereka adalah Pesantren Nurul Islam (Jember), Pesantren
mengalami percobaan perkosaan. Aqidah Usymuni (Sumenep, Madura), Pesantren al-Islahiyah
Lain lagi cerita Yayasan Putroe Kandee di Banda Aceh, (Malang), Pesantren Cipasung (Tasikmalaya), Pesantren Syaikh
pimpinan Rosmawardani. Ia menggelar pelatihan sensitivitas Abdul Qadir Jailani (Probolinggo), dan Pesantren As-Sakienah
jender bagi 68 hakim Mahkamah Syariah NAD. Salah seorang (Indramayu),” jelas Sinta.
peserta pelatihan itu, Drs. Zakian seorang hakim dari Takengon Tak hanya di situ. Sinta dan timnya yaitu Forum Kajian Kitab
mengatakan asumsi ketidakadilan jender yaitu lelaki lebih kuat Kuning (FK3) menafsir ulang kitab ‘Uqud al-Lujjayn karya Syeikh
dari perempuan, menyebabkan tingginya angka perceraian Nawawi al-Bantani (1230-1316 H/1813-1898 M). Karena kitab
di daerahnya. “Dari 167 perkara yang masuk, 65 di antaranya ini dinilai banyak mengandung unsur ketidakadilan, utamanya
merupakan gugat cerai yang disebabkan KDRT,” kata Zakian. terkait kedudukan perempuan di hadapan laki-laki. Buku hasil
Demikian pula dengan Baiq Elly Mahmudah di Mataram, telaahan FK3, yang berjudul Wajah Baru Relasi Suami Isteri;
NTB. Ia bersama aktifis alumni pesantren di Pulau Lombok Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn, itu menjadi acuan banyak aktivis
membentuk Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan perempuan dari pesantren (baca: Polemik ‘Uqud al-Lujjayn: Kritik
(LKP2). Wilayah kerjanya di Mataram, Bima, Sumbawa, dan Dijawab Kritik) .
Dompu. Lembaga yang berdiri sejak tahun 2002 ini hanya Penerimaan kalangan pesantren atas isu kesetaraan jender
melakukan pendampingan psikologi bagi perempuan korban ini juga dapat dilihat hasil penelitian Pusat Perdamaian LP3ES
KDRT. Sedangkan urusan hukumnya diserahkan kepada LBH dan Forum Sebangsa tahun 2004. Lembaga ini meneliti sepuluh
APIK Mataram. “Dua puluh dua kasus sudah ditangani. Kami pesantren dari lima wilayah yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa
juga menggelar pelatihan kesetaraan jender bagi para guru Timur, NTB, dan Sulawesi Selatan.
madrasah dan tuan guru serta melibatkan mereka dalam “Hasilnya isu jender tidak ditolak dan sudah menjadi wa-
advokasi,” kata Baiq Elly. cana publik. Dan sering tanpa disadari, para pengasuh pesantren
Berbekal pengalaman tersebut, Baiq Elly dan para tuan guru sebenarnya bahkan telah pula melakukan pemberdayaan pe-
akan membuat rumah singgah untuk para korban kekerasan. rempuan jauh sebelum gagasan tentang jender populer seperti
Namanya serupa dengan lembaga kepunyaan Nyai Enung di sekarang ini,” tulis Taftazani mengenai hasil penelitian itu dalam
Cipasung, yaitu Puspita. “Tempatnya di Pesantren Darun Nadwah Budaya Damai Komunitas Pesantren (2007).
asuhan Tuan Guru Muzhar,” imbuh alumnus Pesantren Salafiyah Tak mudah mengubah tradisi yang turun temurun, tetapi
Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini. tidak ada yang tidak mungkin, bukan?
Puspita Mataram juga menangani korban trafficking. Para
Tuan Guru dilibatkan dalam kerja ini, karena mereka membina Nurun Nisa’ , Lies Marcoes-Natsir

Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007 91


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Djudju Zubaidah
Ketua Nahdina, Tasikmalaya

Pembebasan Itu
Misi Rasulullah

dok
.WI/
Nur
ul H
. Ma
arif
KESETARAAN perempuan di pesantren tidak terbatas pada perdebatan wacana
dalam buku dan pidato, melainkan advokasi dan konseling secara berkesinambungan.
Salah satunya dilakukan Forum Kajian dan Sosialisasi Hak-hak Perempuan Nahdina
yang didirikan 21 April 2002 di Cipasung, Tasikmalaya. Ketua Nahdina Cipasung Djudju
Zubaidah menyampaikan kiprah lembaganya kepada Nurul Huda Maarif dari the
WAHID Institute.

Apa ragam kegiatan Nahdina? korban, kita bikin crisis center di pesantren, Namun kita akan terus mensosialisasikan
Kita mengadakan pelatihan untuk bekerja sama dengan Puan Amal Hayati bahwa perempuan itu bukan ladang
guru-guru yang ada di lingkungan cabang Cipasung. diskriminasi. Kita, melalui Nahdina yang
Pesantren Cipasung, Tasikmalaya berdiri pada 21 April 2002, juga akan
yang diasuh Ajengan KH. Ilyas Ruhiat, Bagaimana respon DPRD? mensosialisasikan buku-buku baru
mantan Rais ‘Am Syuriyah PBNU. Kita Ketika dialog, umumnya yang mengkritisi isi kitab kuning yang
juga menyertakan guru-guru di sekitar mereka paham. Tapi untuk mendeskriditkan perempuan, seperti
pesantren. Ini ajang untuk berkomunikasi, mengimplementasikannya dalam bentuk ‘Uqud al-Lujjayn.
advokasi, dan sosialisasi gagasan kita peraturan daerah yang adil, mereka mikir-
tentang isu Islam dan hak-hak perempuan. mikir. Ada juga yang selama ini merasa Apa rencana Nahdina lainnya?
Kita juga memberikan pengertian telah diuntungkan, sehingga enggan Nampaknya Nahdina harus bekerja
bagaimana membangun paradigma baru untuk berubah. keras. Karena faktor yang mendukung
tentang relasi lelaki dan perempuan, timbulnya kekerasan semakin kuat.
kesehatan reproduksi dan sebagainya. Apa penyebab lainnya? Sedang kerja kita masih sangat minim.
Pada tahap selanjutnya, karena ada Paradigma lama masih tetap dipakai. Keadaan ekonomi yang terpuruk, misalnya,
masalah dan ada korban akibat relasi tidak Apa yang kita sampaikan, tampaknya menjadikan perempuan sebagai korban.
seimbang yang selama ini berjalan, maka hanya untuk konsumsi pemikiran. Karena Kadang harus nanggung biaya hidup
kita mengambil bentuk advokasi. di belakang mereka tetap sama saja. Jadi, sendiri, ada yang ditinggalkan suami
banyak tokoh masyarakat yang terbuka sementara anak sudah ada, dan banyak
Advokasinya seperti apa? pikirannya, tapi tindakan tetap saja. lagi. Jadi, karena masalah ekonomi nasib
Ada dua pola. Pertama, menyoroti perempuan semakin terpuruk.
kebijakan pemerintah daerah. Kedua, Bagaimana dengan keluarga pemimpin
penanganan langsung korban. Jika ada Pesantren Cipasung? Apa dasar Anda dan Nahdina sehingga
peraturan daerah yang tidak berpihak Mereka justru lebih terbuka. Tapi begitu gigih berjuang?
pada perempuan atau diskriminatif, maka kalau di tingkat ustadz kampung, itu masih Islam yang dibawa Rasulullah SAW,
kita mengadakan dialog dan dengar banyak yang memakai paradigma lama. itu agama pembebasan. Karena itu, saya
pendapat dengan DPRD Tasikmalaya. Walau mereka muda, tapi pemikiran tetap harus melakukan pembebasan semampu
Tujuannya supaya mereka melihat lama. saya, apapun resiko yang saya hadapi.
kembali bahwa sebenarnya aturan itu Mengapa? Karena misi Rasulullah SAW
tidak boleh dilaksanakan begitu saja, tapi Respon Nahdina terhadap sikap mereka? diutus ke dunia itu untuk menegakkan
harus menampung aspirasi masyarakat Memang untuk konsisten pada keadilan.
yang akan diatur. Sedang untuk advokasi perjuangan itu banyak tantangannya.

92 Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007


Nyai Pesantren Melawan Kekerasan

Polemik ‘Uqud al-Lujjayn:


Kritik Dijawab Kritik

pada 2001 dengan judul Wajah Baru Relasi memukul istrinya yang nusyuz -(membang­
Suami Isteri; Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn. kang). Menurut FK3, Nabi SAW tidak
Buku itu, kini menjadi acuan banyak aktivis pernah memukul istrinya dan bahkan
perempuan dari pesantren, salah satunya melarang melakukannya.
Djuju Zubaedah dari Pesantren Cipasung “Bagaimanapun juga, pemukulan itu
dok.WI/Witjak

(lihat: Pembebasan Itu Misi Rasulullah). akan menimbulkan dampak psikologis


Terbitnya buku itu menuai kritik dari yang kurang baik. Lebih-lebih bila sampai
sejumlah ‘kiai muda’ dari Pasuruan Jawa diketahui anak-anak, maka dampaknya
Timur yang tergabung dalam Forum akan kian tidak baik lagi. Karena itu,
Kajian Islam Tradisional (FKIT). Mereka pemukulan harus dihindarkan,” tulis FK3
BERAWAL dari realitas kehidupan membuat buku bantahan yang terbit pada (hal. 52).
yang terus berubah, kitab Syarh ‘Uqud 2004. Judulnya, Menguak Kebatilan dan Mengomentari kesimpulan di atas,
al-Lujjayn fi Huquq al-Zaujayn, yang Kebohongan Sekte FK3 dalam Buku Wajah FKIT menyatakan, QS. al-Nisa’ ayat 34
masih menjadi ‘buku wajib’ pesantren Baru Relasi Suami Isteri, Telaah Kitab ‘Uqud dengan jelas menolerir pemukulan untuk
bagi istri dalam membina hubungan al-Lujjayn. tujuan mendidik. “Yang jelas, dalam al-
dengan suami, itu menyisakan banyak Forum ini dibentuk oleh Rabithah Qur’an perintah memukul sebatas pada
pertanyaan. Kitab karya Muhammad bin Ma’ahid Islamiyyah (RMI) Kabupaten hukum mubah, bukan wajib. Bahkan
‘Umar Nawawi al-Bantani (1813-1898 M) Pasuruan. Dalam kata pengantarnya, Ketua yang terbaik menurut para ulama, tidak
banyak mengandung unsur ketidakadilan, RMI Kabupaten Pasuruan, KH. Abdul Halim melakukannya,” balas FKIT (hal. 51).
utamanya terkait kedudukan perempuan Mutamakkin menyatakan, FKIT merasa Inilah ciri khas tradisi pesantren. Kritik
di hadapan laki-laki. Penilaian seperti ini, terpanggil untuk meluruskan hasil telaah selalu dijawab dengan pembelaan atau
antara lain, dinyatakan Forum Kajian Kitab FK3. kritik balik, namun tetap dalam koridor
Kuning (FK3). Di bukunya masing-masing, dua saling menghormati satu sama lain, tanpa
Forum itu diketuai Ny. Sinta Nuriyah kelompok ini selalu berseberangan. mengumbar kekerasan.
Abdurrahman Wahid, dan beranggotakan Misalnya perihal kebolehan suami Nurul H. Maarif
cendekiawan dan feminis muslim. Seperti
KH. Husein Muhammad, Lies Marcoes-
Natsir, Badriyah Fayumi, Syafiq Hasyim,
Farcha Cicik, Faqihuddin Abdul Kodir, dan
Djudju Zubaidah.
Kitab yang menurut KH. Bisri Mustofa,
ayah KH. Mustofa Bisri Rembang, membuat
laki-laki besar kepala, itu ditelaah ulang
FK3 secara kritis dan akademis. Telaah
ini berupa takhrij (penelusuran terhadap
riwayat-riwayat hadis yang menjadi
sandaran buku ini) dan ta’liq (pemberian
komentar atas beberapa pandangan
penulisnya).
“Kitab-kitab kuning kerap menjadi
pegangan hidup kami para santri.
Jadi kitab yang masih bias jender kita
reinterpretasi termasuk ‘Uqud al-Lujjayn,”
kata Sinta Nuriyah kepada Nurun Nisa’ dari
the WAHID Institute.
Setelah bekerja selama tiga tahun,
Witjak

Sinta dan timnya berhasil membuat buku


dok.WI/

telaahan atas kitab klasik ini. Buku itu terbit


‘Uqud al-Lujjayn fi Huquq al-Zaujayn dan berbagai versi tafsirnya

Suplemen the WAHID Institute Edisi VI / Majalah Tempo / 26 Maret 2007 93


Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/QT

Suasana kelas SMP Qaryah Thayyibah

Pendidikan Alternatif
yang Membebaskan
Jaringan SMP Qaryah Thayyibah menyediakan pendidikan murah, membebaskan dan kaya prestasi.
Hakekat pendidikan pesantren ada di sini.

S
ujono Samba (46) tersenyum ketika seorang murid biasa. “Kalau keberatan istilahnya dipakai anak SMP, mestinya
menyodorinya selembar surat dari Dinas Pendidikan perguruan tinggi cari istilah lain,” gurau Mudjab, pendamping
Nasional (Diknas) Kota Salatiga, Jawa Tengah. “Dilarang kelas lainnya.
menggunakan istilah-istilah yang ada di perguruan tinggi,” bunyi Menurut Mudjab, istilah-istilah tersebut adalah bentuk
salah satu butir surat itu. Pengajar Sekolah Menengah Pertama ekspresi dari misi pembebasan dan kemandirian sekolah yang
Qaryah Thayyibah (SMP QT) ini langsung teringat beberapa berdiri sejak Juli 2003 itu. Pembebasan berarti keluar dari be-
istilah yang kerap digunakan murid-muridnya seperti riset, lenggu aturan formal yang membuat murid tidak kritis dan tidak
disertasi, report, dan lainnya. Perkara itu rupanya dianggap para kreatif. Sedang kemandirian berarti belajar tanpa bergantung
pejabat dinas pendidikan setempat menyalahi aturan dan harus apapun dan siapapun.
diberi peringatan. “Selama ini lembaga pendidikan formal membelenggu
Tapi Sujono beserta para pendamping kelas dan seluruh anak dengan sederet aturan yang tidak jelas kepentingannya
siswa di SMP yang terletak di Desa Kalibening Kecamatan buat si anak. Seperti baju dan sepatu seragam, dan masuk harus
Tingkir, sebelah timur Kota Salatiga, ini tak terusik dengan jam tujuh pagi,” tambah Mudjab yang juga salah satu penggagas
surat teguran tersebut. Aktivitas belajar tetap berjalan seperti berdirinya sekolah ini.

94 Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007
Pendidikan Alternatif yang Membebaskan

Pendapat Mudjab ini diamini Ketua Komnas Perlindungan kedua dari seluruh peserta UAN di sekolah itu. Disertasi itu pun
Anak Seto Mulyadi. Kak Seto, panggilan akrab pria berkacamata dijadikan buku dan menerima Indonesian Creative Award 2006
ini, mengakui sistem pendidikan di Indonesia belum membebas- dari Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia pimpinan Seto Mulyadi.
kan. “Sekarang anak-anak lebih banyak diperlakukan seperti Tak sampai di situ, sejumlah novel pop dan kumpulan puisi
robot; harus nurut, anak untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan yang diproduksi murid sekolah ini sudah diterbitkan Penerbit
kadang sekedar mengejar nilai bukan proses, “ kata Kak Seto Matapena, Yogyakarta. Menyusul kemudian kumpulan puisi,
(baca: Karena Sekolah Kita Laksana Penjara). katalog lukisan, serta presentasi tertulis dan vcd berbagai mata
Maka para pengelola SMP QT membebaskan peserta didik- pelajaran. Kini murid-murid sekolah itu, sedang mempersiapkan
nya belajar menurut keinginan. “Sumber pembelajaran telah sebuah album musik dan film hasil ciptaan mereka.
tersedia tanpa batas. Bahkan pada persoalan hidup yang muncul Atas berbagai prestasi itu, Universitas Sanata Dharma (USD)
setiap hari,” kata Kepala Sekolah SMP QT Bahruddin. Yogyakarta mengganjar SMP QT dengan Sanata Dharma Award
Perlengkapan sekolah mahal, SPP sekolah mahal dan 2005. Ini adalah kali pertama USD memberikannya kepada pihak
gedung sekolah mentereng, tidak berlaku bagi murid sekolah luar. “Sekolah ini mencoba menawarkan pendidikan bermutu
yang semula hanya menempati teras dan garasi sang kepala dan murah. Bermutu bukan sekedar peringkat tinggi, tapi yang
sekolah. Bahkan untuk menyiasati kekurangan ruang belajar, lebih penting mereka memberdayakan peserta didik dalam
bilik-bilik milik rumah di sekitar kediaman Bahruddin disulap menghadapi realitas kehidupan sekitar,” kata Dr. Budiawan,
menjadi kelas yang dipakai bergiliran. Sekolah ini bagai koordinator tim award USD.
terinspirasi sistem pesantren klasik yang tidak bergantung pada Budiawan melihat metode pembelajaran SMP QT terfokus
tempat dan aturan formal. “Mestinya seperti beginilah sistem kepada anak didik, bukan guru. Dalam pendekatan seperti ini,
pesantren kita,” ujar Bahruddin. anak-anak diberi kebebasan untuk belajar dari mana saja, belajar
Kebersahajaan itu dirancang sebagai perlawanan terhadap apa saja, tidak harus di kelas, semuanya diserahkan kepada anak.
komersialisasi lembaga pendidikan formal. “Kalau orang berduit Seperti saat berkunjung ke SMP QT, the WAHID Institute
yang dicari adalah kualitas, persoalan biaya tidak masalah. Tapi mendapati sebagian besar tempat belajar kosong pada jam
kalau murah dan berkualitas kan alternatif bagi semua,” jelas pelajaran. Ternyata murid-muridnya sedang asyik belajar di
Bahruddin. sawah, ladang atau sungai.
Pada tahun pertama berdiri sekolah ini diikuti 12 anak. Di dalam kelas maupun di luar, guru yang biasa dipanggil
Kini memasuki tahun keempat, SMP QT telah memiliki delapan pendamping atau fasilitator dilarang mengarahkan proses pem-
pendamping (guru) dan 99 siswa dari kelas I sampai kelas IV. belajaran. Pendamping hanya boleh mendengar dan menjaga
Sebagian besar muridnya adalah anak buruh tani dan pedagang agar kegiatan kelas tetap kondusif.
pasar dengan penghasilan 15 sampai 20 ribu rupiah sehari. “Kita sebagai pendamping hanya berfungsi sebagai teman
“Bisa dibayangkan jika mereka harus membayar uang belajar yang juga harus belajar. Di sini tidak ada istilah guru-
pangkal hingga 700 ribu, untuk SPP perbulan 35 sampai 40 ribu murid, yang ada adalah sekumpulan orang-orang yang ingin
rupiah, belum lagi uang buku, uang saku dan macam-macam, belajar,” kata Mudjab.
tentu bagi mereka sekolah adalah barang yang sangat mahal,” Justru karena fungsi guru yang setara, anak-anak SMP
urai Mudjab. QT terlatih membuat perencanaan kelas, menentukan materi,
Kini peminat sekolah ini membeludak, tidak hanya dari menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan hingga evaluasi belajar.
Salatiga tetapi juga daerah lain, hingga Jakarta. Namun, kata “Semuanya dilakukan sendiri. Kelas I peran pendamping 50
Bahruddin, tidak ada pembedaan terhadap murid. “Kaya miskin persen, kelas II 25 persen, kelas III dan IV sudah nggak ada
akan diperlakukan sama di sini,” ujarnya. campur tangan pendamping , mandiri total,” jelas Ahmad
Jadi semua murid sekolah yang dilengkapi fasilitas internet pendamping kelas IV.
24 jam ini, tidak dikutip uang pangkal, uang seragam, uang buku Jadi jangan heran, kalau anak-anak kelas IV yang menamai
dan sebagainya. Biaya operasional sekolah diambilkan dari APBD kelasnya dengan Creative Kids merancang sendiri metode pem-
yang kecil untuk pendidikan SMP terbuka dan kocek wali murid. belajaran kelasnya setiap hari. Waktu sekolah dari jam 06.00 sam-
“Setiap anak yang mau masuk, wali murid dan pengelola ketemu pai jam 13.30, mereka bagi menjadi lima fase pembelajaran. Fase
untuk menentukan besar kontribusi yang disanggupi. Tidak 1 (6.00 – 07.00) : mendampingi kelas I dalam English Morning.
harus sama satu anak dengan yang lainnya,” jelas Mudjab. Fase 2 (07.00 – 09.30): Knowledge yang berisi penggalian
Sekolah yang terdaftar di Diknas Kota Salatiga sebagai pengetahuan umum yang diambil dari standar kompetensi
Pendidikan Luar Sekolah (PLS), ini juga membebaskan muridnya kurikulum nasional. Fase 3 (10.00-2.00): Forum, waktu berkumpul
untuk mengikuti atau tidak Ujian Akhir Nasional (UAN). Tapi anak-anak yang memiliki minat sama. Fase 4 jam 12.00-3.30:
prestasi kerap diraih sekolah yang lahir dari Serikat Paguyuban Private, di waktu ini biasanya para murid membuat kesepakatan.
Petani (SPP) Qaryah Thayyibah (QT) itu. Murid kelas 3 SMP QT, “Setiap dzuhur shalat berjamaah bersama, dan terkadang
telah melahirkan karya ilmiah yang mereka sebut disertasi. ashar-nya juga. Mereka juga mencari guru agama sendiri untuk
“Disertasi itu sebagai tugas akhir karena dulu kita sepakat belajar agama. Kalau malam sebagian mereka belajar agama di
tidak ikut UAN,” kenang Mariatul Ulfah (15), murid kelas IV SMP pesantren,” ujar Ahmad. Dan terakhir fase ke-5 dari jam 13.30-
QT atau mereka kerap menyebut kelas 1 SMU singkatan dari 15.00: Refleksi Bersama yang berisi evaluasi yang informal.
Sekolah Menengah Universal. Memang belajar dan riset dijalankan menurut rencana
Tengoklah disertasi Amri (15) dan Zulfi (15) yang mencoba masing-masing murid atau kelompok. Keuangan juga diatur
membuat briket dari sampah dan bambu kering. Hilmy (15) mereka sendiri. “Singkatnya dari A sampai Z diatur anak-anak
meneliti bio-urine sebagai pengganti pupuk urea. Fina (15), Izza sendiri,” papar Bahruddin.
(14) dan Kana (15) melahirkan disertasi berjudul “Lebih Asyik Selain mengundang kekaguman, gaya belajar ala
Tanpa UAN”. Untuk membuat karya itu, Fina rela mengikuti Kalibening ini bagai virus yang menulari daerah sekitarnya.
UAN kelas 3 di SMP 1 Salatiga. Hasilnya, dia meraih peringkat Dalam kurun waktu empat tahun telah berdiri 10 sekolah sejenis.

Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007 95
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

di daerahnya. Sehingga ia harus bolak-balik Cilacap-Salatiga.


Kesamaan nilai yang diyakini juga menjadi pencetus
berdirinya sekolah-sekolah itu. “Nilai-nilai universal yang menjadi
landasan bersama, misalnya, kemanusiaan, keadilan, pelestarian
lingkungan dan kesetaraan gender,” kata Mudjab yang juga
merangkap Kepala Sekolah di SMP QT Harapan Makmur, Dusun
Plantungan yang berdiri sejak 2005.
Menurut Mudjab sekolah yang dipimpinnya itu, didirikan
karena alasan yang sama seperti di Kalibening. “Kemiskinan
penyebab banyak anak putus sekolah. Kita ingin anak-anak
petani bisa mendapat pendidikan bermutu tapi terjangkau.
Selain itu, bagaimana menerapkan sistem pendidikan yang
memberdayakan, tidak malah menindas,” jelas alumnus Pasca
Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta ini.
Sekolahnya, kata Mujab, yang menempati ruangan bekas
TPA itu memiliki delapan siswa. Di kelas satu, tiga orang dan
dok.QT

sisanya di kelas II, dengan jumlah pengajar delapan orang. “Jadi


Aktivitas siswa
masing-masing anak didampingi satu orang teman atau guru,”
ujar Lina, salah seorang pengajar.
Murid SMP Alternatif al-Barokah Ketapang lebih banyak.
Berdiri sejak 24 Mei 2005, sekolah ini sekarang menampung 36
siswa yang terbagi dalam dua kelas. Metode pembelajaran dise-
rahkan kepada anak-anak, dengan ditunjang fasilitas internet
dan laboratorium alam.
“Karena sistem yang dipakai adalah kejar paket B, anak-anak
lebih menekankan diri pada life skill di bidang pertanian dan
perikanan,” papar Sumarno pengajar SMP Al Barokah.
Lagi-lagi mahalnya biaya pendidikan menjadi alasan ber-
dirinya sekolah ini. “Alasan lainnya, membangkitkan kembali
budaya lokal yang makin dipinggirkan modernitas,” kata
Sumarno.
Dengan berbekal kemauan dan kerja keras, Sumarno ber-
sama delapan guru dan lima pengelola mampu membuktikan,
dok.QT

bahwa model pendidikan ini justru diterima masyarakat dengan


Membuat film antusias. “Salah satu murid di sini pindahan dari SMP negeri.
Bahkan dia anak kepala sekolah itu,” tutur Sumarno bangga.
“Tidak menutup kemungkinan akan bertambah terus,” kata Kebanggaan juga tampak di wajah pengajar di SMP Candi
Bahruddin. Laras Merbabu Ely Nurhayati. Sekolah yang dirintis oleh SPP QT
Di Kabupaten Boyolali didirikan SMP Terbuka Otek Makmur sejak 2004 itu telah berhasil memenuhi kebutuhan pendidikan
di Dusun Glinggang, Desa Kendel, Kecamatan Kemusu dan SMP masyarakat.
Alternatif Setyo Tunggal di Dusun Tompak, Desa Tarubatang, “Bukan hanya karena sekolah kami mampu menerapkan
Kecamatan Selo. Di Magelang ada SMP Terbuka Mandiri di metode belajar yang disukai murid, juga komitmen para pe-
Dusun Belgi, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan. Sedang ngajar yang tidak kenal lelah,” kata Ely.
di Kota Salatiga yaitu SMP Terbuka Bumi Madania di Dusun Setiap kali mengajar, Ely dan beberapa pengajar harus
Tingkir, Desa Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir. menempuh perjalanan 8 kilometer. “Kami sering menginap di
Di Kabupaten Semarang berdiri tiga sekolah, yaitu Kejar sekolah karena satu-satunya transport yaitu ojek sudah habis,”
Paket B SMP Alternatif al-Barokah di Dusun Ketapang, Desa tambah mahasiswa tingkat akhir STAIN Magelang ini.
Ketapang, Kecamatan Susukan; SMP Candi Laras Merbabu Dua puluh satu anak tercatat sebagai siswa SMP yang
di Dusun Nglelo, Desa Batur, Kecamatan Getasan dan SMP berada di lereng Gunung Merbabu ini. Dengan menempati salah
QT Dusun Plantungan Desa Krandon Lor Kecamatan Suruh satu rumah penduduk, sekolah yang terbagi dalam tiga kelas ini
Kabupaten Semarang. dilengkapi akses internet, bantuan seorang pengusaha internet
Sekolah-sekolah alternatif di atas didirikan oleh cabang dari Salatiga.
Serikat Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT). “Tapi pengelolaan Menurut Ely saat ini anak-anak sedang membuat film
sekolah diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat setempat,” dokumenter tentang sekolah mereka. “Memang belum
jelas Bahruddin yang bersama KH. Mahfudz Ridwan merintis seberapa,” kata Ely, “tapi sebagai anak yang hidup di gunung,
berdirinya SPPQT. Kini organisasi petani itu telah memiliki 80 pencapaian seperti ini luar biasa.”
cabang di Kabupaten Grobogan, Sragen, Magelang, Semarang, Meski dengan fasilitas seadanya orang-orang miskin juga
Salatiga, Surakarta, Boyolali (baca: Pionir Dari Kalibening). mampu mengukir prestasi. Tapi sepatutnya pemerintah tak
Selain aktivis SPPQT, murid SMP QT pun tergugah untuk hanya berpangku tangan.
membangun sekolah sejenis di daerah asalnya. Na’im, murid
Gamal Ferdhi, Subhi Azhari, Ahmad Suaedy
kelas IV, anak seorang penilik sekolah tingkat Propinsi Jateng
yang asal Cilacap, misalnya, sudah mulai merintis sekolah sejenis

96 Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007
Pendidikan Alternatif yang Membebaskan

Bahruddin

Pionir dari Kalibening


dok.pribadi

SEBUAH sepeda dengan sarat beban melanjutkan belajar. “Sekolah boleh Aktivitas semacam ini membentuk bakat
terparkir di depan sebuah warung saja berhenti tetapi belajar harus terus kepemimpinan Bahruddin.
kelontong di Salatiga, Jawa Tengah. berjalan,” kata Pak Din kala itu. Namun kesibukannya di atas
Si empunya sedang menemui pemilik Setamat dari Pendidikan Guru Agama tidak membuat lupa bapak, dari Rasikh
warung guna menitipkan barang Negeri Salatiga pada 1984 dan nyantri Mustagits Hilmy, Teovany Zahra dan Yuda-
dagangan, sekaligus mengambil uang selama dua tahun di Pesantren Hidayatul tama, ini akan nasib petani di desanya.
penjualan dari barang yang dititipkan hari Mubtadi’ien di Tulung Agung, Jawa Timur, Bahruddin berempati dengan nasib para
sebelumnya. Meski letih, pemuda 17 tahun ia melanjutkan pendidikan di Institut petani yang setiap hari dihadapkan pada
itu tetap semangat menjalankan rutinitas Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo persoalan biaya produksi yang semakin
sehari-harinya itu. cabang Salatiga dan tamat tahun 1993. mahal, sementara hasil pertanian semakin
Bahruddin, nama pemuda itu, Latar keluarga yang sangat ketat murah.
adalah salah satu tulang punggung di menerapkan tradisi agama membuat “Kita semua tahu bagaimana nasib
keluarganya. Di tengah beratnya beban anak keempat dari lima bersaudara ini petani yang kerja dari pagi sampai
ekonomi ia harus menyisihkan waktu ikut merasakan pendidikan ala pesantren sore tetapi selalu tak dapat memenuhi
sepulang sekolah untuk menjajakan yang diasuh kebutuhan hidup. Juga perlindungan
makanan dan minuman ke warung- ayahnya. negara terhadap petani yang nyaris tidak
warung. Meskipun ada sama sekali,” keluh Bahruddin.
“Saya hidup bersama ibu dan adik hal itu Dia pun menemukan akar masalahnya
saya, Jadi saya harus belajar bagaimana tidak lama yaitu terpecahnya kekuatan kaum petani.
menjawab persoalan kehidupan ini,” kata Karenanya pada tahun 1989 bersama
Bahruddin, mengenang masa mudanya kelompok-kelompok petani di desanya
dulu. Kini pria yang lahir pada 09 Februari dan atas dukungan pengasuh
1965 itu dipercaya sebagai Kepala Sekolah Pesantren Edy Mancoro KH. Mahfudz
SMP Qaryah Thayyibah Kalibening, Ridwan, Bahruddin mendirikan
Salatiga. Serikat Paguyuban Petani Qaryah
Pak Din, begitu ia akrab disapa Thayyibah (SPPQT) sebagai alat
muridnya, merasa bahagia jika mengenang untuk membangun kekuatan
perjuangan hidup di masa remajanya itu. bersama. “Dengan persoalan-
Diakuinya, masa sekolah membentuk persoalan yang dihadapi petani,
karakter dan kepeduliannya terhadap kita perlu berorganisasi,” ujarnya.
masyarakat miskin di desanya. Pria Meskipun pada awalnya
berambut sepunggung ini kerap terenyuh SPPQT hanya diniatkan sebagai
melihat anak-anak tetangganya yang wadah para petani di Kalibening,
umumnya petani, harus putus sekolah kenyataannya ratusan kelompok
k

karena biaya yang semakin melangit. petani di luar desa itu secara
Witja

“Sementara negara semakin tidak sukarela menjadi bagian dari


.WI/

peduli,” tegas pengagum Ivan Illich, penulis SPPQT di daerahnya.


dok

Masyarakat Tanpa Sekolah. dirasakannya, karena sejak kelas 1 SMP Dalam kurun 17 tahun terakhir,
Pak Din tak bisa tinggal diam. ayahandanya, KH. Abdul Halim pendiri dan SPPQT telah menjadi salah satu jaringan
Terinspirasi Paulo Freire, dalam pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul petani terbesar di Jawa Tengah. Delapan
karyanya Pendidikan Kaum Tertindas, Mubtadi’ien di Kalibening wafat. puluh cabang SPPQT telah berdiri di 11
pada 2003 ia memelopori berdirinya Suami Miskiyah, ini selalu melihat kabupaten yakni Semarang, Magelang,
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di kehidupan yang dilaluinya sebagai proses Salatiga, Purwodadi, Sragen, Boyolali,
Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga, belajar yang terus-menerus. Semasa muda, Jepara, Temanggung, Kendal, Batang dan
tempat ia dilahirkan dan menetap. Bahruddin aktif dalam kegiatan organisasi Wonosobo. Dari sana jugalah SMP Qaryah
Pak Din meyakinkan para tetangganya naungan Nahdlatul Ulama seperti Gerakan Thayyibah digagas.
bahwa keterbatasan ekonomi bukan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Pergerakan Subhi Azhari
alasan menghambat anak-anak mereka Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007 97
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Dr. Seto Mulyadi


Ketua Komnas Perlindungan Anak

“Karena Sekolah Kita


Laksana Penjara”
SISTEM pendidikan di Indonesia belum membebaskan. Peserta didik menjalani
I/W
itja
k
proses belajar laksana dalam penjara. Sekolah alternatif bisa menjadi solusi. Demikian
k.W
do
disampaikan Ketua Komnas Perlindungan Anak Dr. Seto Mulyadi kepada Subhi Azhari
dari the WAHID Institute.

Apa yang dimaksud dengan pendidikan pertanyaan standar kompetensi yang Misalnya ke kantor polisi, pemadam
yang membebaskan? diharuskan. Bahkan kami sedang kebakaran atau apa saja.
Membebaskan anak untuk berkreasi, mendesak mereka tidak saja bisa ikut
mengekspresikan perasaannya, dan ujian kesetaraan, tapi juga ujian nasional Bagaimana pendekatan belajarnya?
sebagainya. Intinya tidak membebani anak sama seperti sekolah formal. Di sini akan Tetap mengedepankan kepentingan
dan tidak menjadikan sekolah itu seperti dilihat anak-anak yang sekolah lewat jalur terbaik bagi anak. Bukan anak untuk
penjara. Ketika anak mendengar “Hari ini formal dan informal itu kualitasnya sama kurikulum, tetapi kurikulum untuk anak.
boleh pulang, kerena ibu guru mau rapat,” apa tidak. Penelitian di AS menunjukkan, Jadi, kurikulum didesain untuk anak dalam
mereka bilang “Horeee, bebas!”. Ini karena mereka yang home schooling, secara kondisi yang berbeda. Misalnya, untuk
sekolah kita laksana penjara. Seharusnya akademik maupun psiko sosial-nya banyak anak-anak di Pasar Induk Kramat Jati, kalau
sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif yang lebih tinggi dari anak-anak yang ditanya kenapa tidak sekolah? Mereka
mereka. sekolah biasa. jawab, “Sekolahnya terlalu ketat, kami tidak
bisa kerja”. Maka pilihannya pendidikan
Sistem pendidikan kita sudah Peran guru dalam model sekolah ini? alternatif. Kita jemput bola. Modelnya
membebaskan? Sebagai fasilitator proses belajar. Guru kelas berjalan; kita datengin dan kita
Belum. Kesadaran bahwa pendidikan juga bisa belajar bersama-sama dengan sediakan fasilitas. Setelah belajar di hari
itu untuk anak, belajar itu hak bukan murid. Sabtu, mereka bisa kembali menjual koran,
kewajiban, itu masih minim. Sekarang menyemir sepatu, mengupas kerang atau
anak-anak lebih banyak diperlakukan Lokasi belajarnya di mana? apapun. Jadinya, mereka belajar sangat
seperti robot; harus nurut, anak untuk Bisa di mana saja. Di tenda, rumah, semangat dan gembira.
kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang atau pasar. Sesekali mereka diajak keluar.
sekedar mengejar nilai bukan proses. Ini
sangat merugikan bagi pengembangan
kreativitas dan kemandirian anak.

Seperti apa sekolah yang membebaskan?


Seperti home schooling, sekolah
alternatif, juga sekolah alam yang
memungkinkan anak belajar dengan cara
masing-masing. Kalau ada delapan standar
pendidikan nasional yang disusun oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP),
maka yang harus diikuti hanya tiga; yaitu
standar isi kurikulum, standar kompetensi
lulusan dan standar evaluasi. Sedangkan
standar proses, standar guru, standar
biaya, standar sarana prasarana, itu bebas.

Bagaimana cara mengevaluasinya?


Sama saja, pakai pertanyaan-

dok.istimewa

98 Suplemen the WAHID Institute Edisi VII / Majalah Tempo / 30 April 2007
Seni Islam
Nuansa Lokal
Karya seni Islam yang bernuansa lokal kian
terdesak. Kiai-kiai lokal kini mengkreasinya
untuk syiar Islam dan reinvensi budaya. Ada

dok.WI/Witjak
yang dibuat dengan ritual khusus.
Kaligrafi “Selalu Baik” karya Jauhari AR

L
ukisan itu menampilkan wayang Batara Krishna. Ia berdiri warisan Wali Songo itu hilang.
gagah diantara dua gunungan dengan latar empat baris “Saya takut dengan syiar Islam yang hampir hilang.
tulisan. Sekilas, tulisan itu seperti aksara Jawa, hanacaraka. Makanya, ini yang saya lakukan,” ujarnya.
Namun jika ditelisik, aksara dalam lukisan berjudul Selalu Di perkotaan, bedug banyak hilang, kata KH. Sobri,
Baik itu ternyata QS. al-Qashash: 77, yang berisi perintah Allah karena ada kelompok yang menganggapnya sebagai bid’ah
untuk menemukan keseimbangan dunia dan akhirat. (menyimpang, red.). “Kalau hal ini dibiarkan, tradisi NU atau Wali
Demikian pula kaligrafi Allah, Muhammad. Penikmat lukisan Songo akan hilang,” imbuhnya (baca: Mengawal Tradisi dengan
yang melihat selintas, akan menyangka itu huruf kanji, aksara Bedug).
dari Jepang. Padahal itu kaligrafi Arab dari QS. al-Ikhlas: 1-4 dan Pelestarian tradisi lokal ke dalam khazanah Islam, juga
QS. al-Ahzab: 40. ditempuh para pembuat al-Qur’an raksasa dari Ponpes Al-
Nuansa lukisan China yang kerap menampilkan alam Asy’ariyyah, Kalibeber, Wonosobo.
sebagai obyek, juga tampak dalam lukisan berjudul Asma’ul Abdul Malik, salah satu anggota tim pembuat al-Qur’an
Husna. Lukisan yang terdiri dari tiga frame ini menampilkan QS. berukuran 1,5 x 2 m itu, menyatakan terjadi perdebatan saat
al-A’raf: 180. menentukan motif ornamen. “Ada yang ingin sama dengan
Itulah keunikan kaligrafi multikultural karya Jauhari Abd. al-Qur’an pada umumnya. Akhirnya, ornamen khas Indonesia
Rosyad. Alumni Ponpes Lirboyo Jawa Timur itu menampilkan dengan motif tumbuh-tumbuhan bertuliskan al-Asy’ariyyah
lukisan dipadu kaligrafi dengan mengadopsi berbagai aksara. yang disetujui. Ini agar nama pesantren kami terukir di sana,”
“Jenis tulisannya dari beragam kultur. Ada kaligrafi Arab, ungkap Malik yang kebagian menggambar ornamen mushaf
Mandarin atau Cina, Jawa, Jepang, bahkan Hirogliph,” ujar ayah besar itu.
dua putera ini. Khath atau tulisan Arab dalam mushaf ini ditulis
Melalui karyanya, Jauhari mendekonstruksi kaligrafi yang Hayatuddin. Ia menggunakan perlatan tradisonal. Karena
selalu diidentikkan dengan aksara Arab. ”Kultur non-Arab juga kertasnya besar, huruf dan ornamennya juga harus lebih lebar.
bisa dijadikan alat memahami al-Qur’an,” jelasnya (baca: Wajah “Jadi bambu wuluh kami raut menjadi mata pena yang besarnya
Islam Damai di Dinding Kanvas). sesuai kebutuhan,” jelas Malik.
Budaya Islam nusantara memang berbeda dari budaya Penggagas al-Qur’an raksasa itu adalah Pengasuh Ponpes
Arab. Dari pemahaman itu, Pengasuh Ponpes al-Falah al-Asy’ariyyah (alm) KH. Muntaha al-Hafidz yang akrab disapa
Tinggarjaya Mangunsari Jatilawang Banyumas, KH. Ahmad Mbah Mun. Mbah Mun ingin al-Qur’an langgeng di seluruh
Sobri membuat bedug-bedug raksasa. Ia khawatir, tradisi luhur Indonesia.

Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007 99
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

tahun 1990, Mbah Mun menemukan al-Qur’an tulisan KH.


Abdurrohim yang terbakar di sebuah lemari tua. “Dari situ
timbul ide menulis al-Qur’an dalam bentuk yang besar,”
ungkap Malik kepada Gamal Ferdhi dari the WAHID Institute.
Awalnya al-Qur’an raksasa itu ditulis di atas kertas beru-
kuran 1 x 1,2 m. Kebetulan saat mereka telah merampungkan
dua juz, Harmoko, Menteri Penerangan kala itu, berkunjung
ke Ponpes al-Asy’ariyyah.
Mbah Mun pun mengungkap proyek besarnya kepada
orang dekat Presiden Soeharto itu. “Lalu dikirimlah 1000
lembar kertas berukuran 1,5 x 2 m,” kenang Malik yang nyantri
kepada Mbah Mun sejak 1988.
Dikatakan Malik, mushaf raksasa yang dikerjakan mulai
Oktober 1991-Desember 1992, itu ditulis dalam kondisi suci.
“Sebelum menulis harus berwudhu. Jika batal, wudhu lagi.
Juga puasa dan tahajud,” kata lelaki asli Sleman, Jogjakarta itu.
Pembuatannya pun dalam ruangan khusus yang
tertutup. Orang yang datang ke ruang kerja mereka tak
diperkenankan menyentuh mushaf. Hasilnya, tercipta al-

dok.WI/GamalFerdhi
Qur’an terbesar pertama buatan Ponpes al-Asy’ariyyah. Karya
adiluhung, berukuran 2 m x 1,5 m, itu lalu diserahkan kepada
Presiden Soeharto dan ditempatkan di Bina Graha.
Sisa kertas besar dari proyek pertama itu, mendorong
KH. Ahmad Faqih & Abdul Malik di depan mushaf raksasa
Mbah Mun mengajak para santrinya berkarya lagi. Lahirlah
mushaf raksasa kedua dan ketiga yang kini disimpan di Masjid
at-Tin TMII dan Islamic Center Jakarta.
Menurut KH. Ahmad Faqih, pesantren yang kini
dipimpinnya tidak lagi membuat mushaf raksasa. Karena
mulai mushaf keempat, pembuatannya ditangani Universitas
Sains al-Qur’an (Unsiq) Kalibeber, Wonosobo. Ini perguruan
tinggi yang berada dalam satu yayasan dengan Ponpes al-
Asy’ariyyah.
“Penulisan mulai keempat hingga keenam, ornamennya
sudah cetak dengan komputer walau khath-nya dengan
tangan,” ungkap KH. Ahmad.
Kini, Unsiq sukses membuat mushaf raksasa yang
ditempatkan di Masjid Agung Jawa Tengah. Mereka sudah
memenuhi pesanan Sultan Brunei Darussalam yang
ditempatkan di Istana Nurul Iman Brunei. Bahkan pesanan
dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan hampir
rampung.
Kreasi unik lainnya adalah mushaf terberat di dunia.
Karya ini digagas oleh Pimpinan Ponpes al-’Ashriyyah Nurul
Iman Parung Bogor Habib Saggaf bin Mahdi bersama
sembilan ulama lainnya. Ketika menulis, mereka harus suci
dok.WI/GamalFerdhi

dan berpuasa.
Mushaf seberat 1,3 ton yang terbuat dari lempengan
alumunium, itu dibuat selama 5 tahun sejak 1985. “Mushaf ini
dibuat sebelum adanya Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman,” ujar
Habib kepada Nurul Huda Maarif dari the WAHID Institute.
Al-Qur’an terberat di dunia karya Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman, Parung Mushaf berukuran 120 cm x 100 cm itu, setiap juznya
membutuhkan 10 lempengan. Total 300 lempengan untuk
30 juz. “Kita membuat al-Qur’an ini, intinya ingin mencontoh
“Biar kita terpacu untuk menghafalnya. Lebih baik lagi kalau Rasullah dengan mengumpulkan naskah al-Qur’an yang
mengamalkannya,” kata Mbah Mun ditirukan putra tertuanya KH. berserakan,” kata Habib .
Ahmad Faqih Muntaha. Walau menggunakan medium berbeda, kreasi-kreasi
Ada alasan lainnya. Mbah Mun bermaksud menjaga warisan unik itu dibuat dengan alasan hampir sama. Para pembuatnya
kakeknya, KH. Abdurrohim, seorang ahli menulis mushaf al- ingin menyebarkan Islam secara kultural, damai dan tanpa
Qur’an. Karya KH. Abdurrohim itu hilang saat al-Asy’ariyyah kekerasan.
diserbu tentara Belanda pada agresi militer II tahun 1948.
Gamal Ferdhi, Nurul H. Maarif
Keberadaan mushaf itu terus ditelusuri. Hingga di

100 Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007
Seni Islam Nuansa Lokal

Jauhari Abdul Rasyad

Wajah Islam
Damai di Dinding

dok.WI/Witjak
Kanvas
MENAMPILKAN wajah Islam yang damai tak mesti lewat orasi isu pluralisme agama, keadilan sosial, juga multikulturalisme,
atau karya ilmiah. Kanvaspun bisa dijadikan media. Itulah yang sebagai tema karyanya.
dilakukan kaligrafer Jauhari Abdul Rasyad. ”Saya prihatin! Sekarang banyak muncul kelompok Islam
”Saya hanya bisa menulis kaligrafi. Ngajar atau pidato nggak radikal yang mengusung isu syariatisasi dan menafikan toleransi
bisa. Yang penting saya memberikan sesuatu untuk perdamaian atau pluralisme,” ujar ayah dua putera ini beralasan.
dunia ini,” ujar alumni 1996 Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Melukis kaligrafi dengan tema-tema tersebut, diakui
Jawa Timur kelahiran Jakarta 1973 ini. Jauhari memakan banyak tenaga dan pikiran. ”Karena menabrak
Peraih juara pertama lomba kaligrafi se-Jawa Timur teks lama, kadang ini membuat pergulatan pikiran dan batin,”
pada 1992 ini adalah pelukis otodidak. Ia sengaja memilih katanya.
Karena itulah, sebagian orang Islam setelah melihat lukis-
annya malah meragukan keislaman Jauhari. ”Pernah dibilang
murtad, bahkan teman baik jadi menjauh. Ini resiko dari kebe-
basan pikiran saya,” imbuhnya.
Melalui lukisan-lukisannya, lulusan Madrasah Aliyah (MA)
Lirboyo ini ingin mengingatkan pentingnya menghargai sesama
manusia, apalagi sesama muslim. ”Kita harus saling menghargai.
Wong kita masih sama-sama sembahyang madep ngulon
(menghadap ke barat, red.) kok,” katanya.
Jauhari mengaku pandangannya banyak dipengaruhi Gus
Dur. ”Saya baca karya-karya Gus Dur dan ngaji bulan puasa pada
beliau di Pesantren Ciganjur,” aku pria yang pernah melukis kali-
grafi di beberapa masjid besar di Jawa ini.
Untuk menyampaikan gagasan multikulturalisme dan tole-
ransinya, Jauhari menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional
Indonesia, Jakarta, pada 26 Mei hingga 03 Juni 2007.
”Untuk mencapai tujuan itu, penikmat lukisan saya harus
melihatnya secara runtun. Makanya, itu saya susun sedemikian
rupa; kita tahu Allah dulu, di mana posisi kita, baru masuk
wilayah itu,” jelasnya.
Pada pameran perdananya yang bertema Kaligrafi
Multikultural ini, ia menampilkan kaligrafi dengan latar tulisan
dari beragam kultur. Ada kaligrafi Arab, Mandarin atau China,
Jawa, Jepang, bahkan Hirogliph. Pameran itu menampilkan 41
buah karyanya, yang dilukis tiga tahun terakhir.
Bukankah kaligrafi Islam itu identik dengan tulisan Arab?
”Itulah masalahnya. Islam diidentikkan dengan Arab. Padahal
Islam ya Islam! Arab ya Arab! Keduanya beda. Karena itu,
kultur non-Arab saya jadikan media memahami al-Qur’an,”
pungkasnya.
Nurul H. Maarif
Kaligrafi “Hati yang Selamat” karya Jauhari Abdul Rasyad

Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007 101
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

KH. Ahmad Sobri


Pengasuh Ponpes al-Falah, Banyumas

Mengawal
Tradisi
dengan

dok.WI/Nurul H Maarif
Bedug
Beduk terbesar buatan saya diameter
BEDUG di masjid-masjid kota besar banyak disingkirkan, lantaran dinilai bid’ah mukanya 315 cm. Ada juga Bedug Wulung
Mangunsari yang diameter muka dan
(menyimpang, red.). Sebagai perlawanan, KH. Ahmad Sobri membuat beberapa bedug belakangnya 203 cm. Namanya khas
berukuran besar. Berikut petikan wawancara Pengasuh Ponpes al-Falah Tinggarjaya Banyumas. Nama yang agak angker. Kalau
Mangunsari itu dari bahasa Arab ma’unatu
Mangunsari Jatilawang Banyumas itu dengan Nurul H. Maarif dari the WAHID Institute: al-sari, yang artinya pemberian Allah SWT
kepada orang yang suka berjalan malam.
Bukan jalan kaki, melainkan banyak
memohon di waktu malam. Karena orang
Apa latar belakang pembuatan bedug- Ada ritual khusus dalam proses Jawa kangelan (kesulitan, red) nyebut
bedug raksasa ini? pembuatannya? Arabnya, jadinya Mangunsari.
Saya melihat, sepertinya bedug di Setiap membuat kita mulai di
masjid-masjid kota besar sudah pada hari Rabu (menurut tradisi Islam, Rabu Berapa bedug yang akan Anda buat?
punah atau hilang. Saya takut sekali adalah hari yang paling baik, red.). Kita Saya merencanakan bikin sembilan
dengan syiar Islam Indonesia yang hampir mengerjakannya malam hari dengan buah. Itu yang besar-besar. Yang kecil-kecil
hilang. Makanya, inilah yang saya lakukan. didahului tahajjud. Yang kerja nggak boleh kita bikin banyak.
batal wudhu’ sebelum pasang welulang
Hilang karena faktor apa? (kulit). Kalau kentut wudhu lagi. Bedug ini dipakai untuk acara apa saja?
Karena ada yang menganggap bedug Hari raya, Jum’at, muktamar, juga MTQ
itu bid’ah. Kalau hal ini dibiarkan, tradisi NU Kenapa? (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Dan sudah
dan Wali Songo akan hilang. Karena ini bukan untuk pameran, dibawa ke banyak tempat, ke Langitan,
melainkan untuk memanggil umat Kediri, dan sebagainya.
Bagaimana dampak dibuatnya bedug ini menghadap Allah SWT. Jadi bukan sekedar
bagi masyarakat? bikin. Kita juga berdoa agar bedug ini Ada pesan untuk generasi NU?
Saya melihat, masyarakat menjadi bermanfaat dan menggugah semangat NU itu juga punya jutaan orang
semangat ke masjid, karena ada suara umat untuk beribadah, karena ini salah ortodok. Juga ada banyak thariqah
bedug sebelum Jum’at misalnya. Orang satu alat memanggil atau syiar untuk (lembaga spiritual Islam, red.). Ini kekayaan
yang sedang bekerja tahu, oh bedugnya mereka. NU yang belum tersentuh. Saya berharap,
sudah berbunyi. Dan kalau nggak ada kita tidak meninggalkan tradisi yang sudah
rumah-rumah, bunyinya bisa terdengar Berapa besar bedug yang pernah Anda digarap sejak zaman Rasulullah SAW.
sampai 5 km. Itu tanpa pengeras suara. buat?

102 Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007
Seni Islam Nuansa Lokal

Kaligrafi “Ulama” karya Jauhari Abdul Rasyad

Suplemen the WAHID Institute Edisi VIII / Majalah Tempo / 28 Mei 2007 103
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Aksi tolak PLTN masyarakat Jepara dok.WI/Nurul H. Maarif

Pewaris Nabi
Pelestari Lingkungan
Kerusakan lingkungan yang kian parah membangkitkan kepedulian para pemimpin agama. Mereka
bersatu dengan aktivis dan rakyat melawan dan memperbaiki kerusakan.

S
emangat ribuan orang yang hadir di Lapangan Ngabul ini minta syafaat Rasulullah SAW. Semoga kita dijauhkan dari
Tahunan, Jepara tak luluh disengat terik matahari. Mereka, bencana PLTN,” ujar Gus Nung, sapaan akrab Nuruddin.
adalah tokoh agama, aktivis parpol, aktivis LSM, petani, Syair shalawat itu digubah Zakariyya el-Anshori pada 1997.
buruh, nelayan, masyarakat, bahkan santri pondok pesantren. “Shalawat ini saya buat dalam tulisan latin maupun Arab pegon
Berbagai poster diacungkan tinggi-tinggi; Nuklir Bikin Kere, (aksara Arab berbahasa Jawa, red.). Asumsi saya, 80 persen rakyat
PLTN Ora Sudi, Ngurus Lapindo Wae Ora Becus Arep Ngurus PLTN. Jepara ‘beragama’ NU. Jadi ini cukup efektif untuk menggerakkan
Satu tekad mereka; menolak pembangunan Pembangkit Listrik massa,” kata Iyank, sapaan akrab Zakariyya (baca: Melawan Nuklir
Tenaga Nuklir (PLTN)! dengan Shalawat).
Itulah suasana Aksi Akbar dan Doa Bareng Tolak PLTN Muria Menurut Iyank, tujuan shalawat itu untuk mengingatkan rak-
yang dihelat Forum Masyarakat Muria (FMM). Aksi ini berlangsung yat akan bahaya PLTN. Bahaya proyek itu juga disampaikan Gus
bertepatan peringatan Hari Lingkungan Hidup, 05 Juni silam. Nung. Menurutnya, manfaat PLTN sebatas pengetahuan tentang
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Jepara KH. teknologi nuklir. Tapi dampak negatifnya lebih besar.
Nuruddin Amin saat didaulat menyampaikan sambutan mengajak “PLTN rentan radiasi. Ini akan menghancurkan kondisi sosial
hadirin membaca Shalawat Anti PLTN. “Kita semua baca shalawat ekonomi masyarakat Kudus dan Jepara,” jelas Gus Nung.

104 Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007
Pewaris Nabi Pelestari Lingkungan

Gus Nung menilai, PLTN lebih banyak mudharat ketimbang ucapan dan tindakan kebaikanlah yang kita lakukan,” kata
manfaatnya. “Apapun yang diharamkan, itu karena mudharatnya Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri Bantul, Yogyakarta ini saat
lebih besar dari manfaatnya,” jelasnya kepada Nurul H. Maarif peringatan Hari Bumi di pesantrennya akhir April silam.
dari the WAHID Institute. Pesan Trend bervisi membebaskan masyarakat setempat
Ketua Jamaah Hubburrasul Habib Abdullah al-Hinduwan dari keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan, juga
punya pandangan unik. Sembari mengutip QS. al-Baqarah ayat melestarikan lingkungan dan memelihara alam. Oleh sebab
219, ia mengiaskan PLTN dengan maysir (judi, red). itu, KH. Nasruddin yang pernah menjadi aktivis LP3ES ini,
“Kita semua yang jadi korban. Yang dapat untung siapa? Ini mencanangkan penanaman ribuan pohon jati dan cendana
namanya maysir (judi, red). Kita harus tolak!,” tegasnya disambut di lahan seluas 200 hektar. Hasilnya dimanfaatkan 400 kepala
persetujuan hadirin. keluarga (KK) yang tinggal di kawasan itu.
Penolakan masyarakat itu dituangkan dalam Petisi 13 Bahkan Ilmu Giri menawarkan konsep baru pelestarian ling-
untuk Penolakan PLTN. Petisi itu ditandatangani 13 organisasi kungan. Ketika seorang remaja hendak menikah, saksinya bukan
terdiri dari aktivis lingkungan, politisi, perkumpulan agama dan hanya manusia, juga pohon. Pada saat akad nikah, pihak lelaki
masyarakat. Dan segera dilayangkan ke DPR. dan perempuan masing-masing menyediakan 20 pohon sebagai
Dua pekan sebelum aksi itu, sekitar 150 tokoh masyarakat saksi.
kawasan Muria menggelar dialog publik. “PLTN itu makhluk. “Setelah akad nikah selesai, ada prosesi kecil menanam
Makhluk pasti rusak. Jika PLTN rusak, yang jadi korban rakyat. 40 pohon itu,” ujar Kiai Nasruddin kepada Subhi Azhari dari the
PLTN itu malapetaka yang tertunda,” tegas mantan Ketua PCNU WAHID Institute.
Jepara H. Muhammady Kosim saat Dialog Penjaringan Aspirasi Kiai Nasruddin punya penilaian sinis kepada para perusak
Warga Jepara terhadap Rencana Pembangunan PLTN di Kawasan lingkungan. “Betapa culas dan tidak bermoralnya manusia jika
Muria, di Jepara. menjadikan bumi hanya sebatas objek eksploitasi, pemuasan
Usulan membangun PLTN di Semenanjung Muria muncul diri, keserakahan dan ketamakan yang tak habis-habis,” katanya.
sejak 1978, ketika Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Para pemegang kekuasaan dan pemodal harus hati-
melakukan kajian awal bersama Pemerintah Italia. Pembangun- hati mengeksplorasi alam. Karena ketika ketamakan yang
annya direncanakan pada 1997. Tapi batal karena krisis moneter. diutamakan, maka rakyat akan bangkit melawan.
Rencana diubah. Pelaksanaan tender dan penetapan Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi, Rumadi
pembangunan PLTN ditargetkan mulai 2007-2008 dan
konstruksinya selesai pada 2010. Rencana inipun tak terwujud.
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK)
mencanangkan pembangunan pada 2010 dan beroperasi pada
2016.
Rencana ini pun tak mudah diwujudkan. Gelombang pe-
nolakan masyarakat kian terbuka. Apalagi banyak tokoh yang
peduli lingkungan turut bersuara. Bahkan mantan Presiden Gus
Dur juga melontarkan penolakan atas rencana ini.
”Keinginan SBY-JK membangun pembangkit nuklir di
wilayah Gunung Muria, Jepara, itu tidak disertai pertimbangan
matang,” kritiknya saat memberi sambutan pada Konferensi
Internasional Antaragama di Bali dua pekan silam.
Penolakan Gus Dur ini bukan baru sekarang. Pada
1995, Gus Dur niat berpuasa di tempat bakal PLTN sebagai
protes. Alasannya sangat NU. Karena di sana ada makam wali.
Pembangunan PLTN akan merusak lingkungan dan makhluk
Tuhan.
Para ulama yang dalam hadis disebut pewaris para nabi ini,
lalu terpanggil. Mereka tak tinggal diam menghadapi problem
umatnya. Gerakan para kiai ini tak hanya terlihat pada penolakan
rencana pembangunan PLTN Muria, tapi juga membantu me-
nangani korban lumpur Lapindo. Gerakan ini digagas Pengasuh
Pesantren al-Islamiyah, Tanggulangin, Sidoarjo KH. Hasyim
Ahmad dan 18 kiai lainnya.
Mereka mendirikan Posko Independen untuk Korban
Lumpur Lapindo Sidoarjo. “Kini banyak rakyat di sini sengsara
akibat lumpur Lapindo,” tegas Kiai Hasyim. (baca: Posko Kiai
untuk Korban Lapindo).
Tragedi ini, kata Kiai Hasyim, karena alam dieksploitasi dan
dirusak. “Mbok, orang yang mau menggali potensi alam yang
sudah diizinkan Allah SWT ini juga menghormati alam, termasuk
manusia,” kata alumni santri Sayyid Alawi al-Maliki di Mekah ini.
“Pandangan senada datang dari KH. Nasruddin Anshori.
Bagi yang masih tinggal di atas bumi, sudah menjadi kewajiban
kita untuk eling (ingat) dan mawas diri, sehingga hanya pikiran, Shalawat Anti Nuklir versi Arab Pegon

Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007 105
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/Witjak
Zakariyya El-Anshori

Melawan Nuklir
dengan Shalawat
keagamaan yang Belum lagi, kata Iyank, PLTN
dilantunkan di masjid memerlukan biaya besar. “Ini pasti dari
atau mushalla menjelang uang rakyat. Karena mengorbankan rakyat,
shalat, red.). Juga di forum diskusi saya yakin 100 persen ini hanya untuk
anti PLTN, acara keagamaan dan pentas kepentingan ekonomi,” tegasnya.
MELAWAN rencana pembangunan PLTN Diapun berkesimpulan, PLTN
budaya, termasuk pada peringatan Hari
di Muria, Jepara, Jawa Tengah tidak mesti lebih banyak mudharat ketimbang
Lingkungan Hidup 05 Juni 2007 lalu.
dengan fisik. Shalawat pun bisa menjadi manfaatnya, baik bagi masyarakat maupun
Selain itu, Iyank juga aktif
kekuatan yang tak kalah ampuh. Cara lingkungan. “Islam kan selalu dar’ al-
menyosialisasikan dampak negatif PLTN
ini ditempuh aktivis muda dari Jepara, mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih
di lembaga-lembaga pelajar NU. “Setelah
Zakariyya el-Anshori. Dia menggubah (mendahulukan menolak kerusakan
ini kan pesantren dipegang kiai-kiai muda.
Shalawat Anti-PLTN pada 1997. ketimbang mengambil kemanfaatan, red.).
Makanya ‘ma’syaral gawagis’ (para anak
“Shalawat ini saya buat dalam Dampak PLTN ini sangat mengerikan.
kiai, red.) ini perlu diberi informasi soal
tulisan latin maupun Arab pegon (aksara Makanya kita lawan,” ujarnya.
dampak PLTN. Kita juga mengorganisir
Arab berbahasa Jawa, red.). Asumsi Iyank mengakui, penolakannya
mereka,” kata pria kelahiran Jepara 1970
saya, 80 persen rakyat Jepara ‘beragama’ diinspirasi oleh Gus Dur. Mantan Presiden
ini.
NU (Nahdhatul Ulama). Jadi ini cukup RI itu, sekitar 1995 menolak rencana ini.
Iyank tidak pernah lelah menolak
efektif untuk menggerakkan massa,” kata Bahkan hendak berpuasa di tapak PLTN
PLTN. Dua pekan sekali aktivis Lakpesdam
Zakariyya kepada Nurul H. Maarif dari the Muria.
NU Jepara, yang kini menetap di Jakarta,
WAHID Institute. “Alasannya sangat NU. Di sana
ini menyempatkan pulang ke kampungnya
Alhasil, pembangunan PLTN yang ada makam wali. Setelah saya cek,
guna memantau perkembangan isu PLTN.
direncanakan sejak masa Orde Baru pada ternyata memang ada. Sikap Gus Dur
Dari hasil pengkajiannya, banyak
1978 itu belum juga terlaksana. Penolakan ini menginspirasi saya menolak PLTN,”
sarana pembangkit listrik ramah
dari berbagai lapisan masyarakat datang ungkapnya.
lingkungan di wilayah Jepara yang
bergelombang. Iyank bertekad menolak PLTN hingga
bisa dimanfaatkan. “Kenapa bukan
Menurut Iyank, sapaan akrab akhir hayat. “Walaupun seluruh masyarakat
mengembangkan pembangkit listrik
Zakariyya, shalawat yang tujuannya Jepara menerima PLTN, bahkan Gus Dur
tenaga bayu, surya, air atau ombak?,” tanya
mengingatkan rakyat akan bahaya PLTN yang saya panuti sekalipun menerimanya,
Iyank.
itu, awalnya untuk ibu-ibu majelis taklim. saya tetap akan menolaknya. Saya tidak
Kekuatirannya kian bertambah.
“Mereka kan sulit memahami istilah-istilah ingin anak cucu saya diberi warisan utang
Ternyata di negeri ini belum tersedia
PLTN. Makanya harus disampaikan dengan dan kerusakan lingkungan. Inilah ideologi
ahli nuklir khusus untuk PLTN. “Sekedar
istilah lokal yang sederhana,” kata ayah saya,” tandasnya.
ahli atau teoritisi nuklir dalam kapasitas
seorang putera ini.
laborat, itu banyak. Tapi bukan dalam skala Nurul H. Maarif
Kini, shalawat itu dibaca berulang-
PLTN,” ungkapnya.
ulang sebagai puji-pujian (syair

106 Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007
Pewaris Nabi Pelestari Lingkungan

KH. Hasyim Ahmad Bagaimana kerja Timnas?


Pengasuh Ponpes al-Islamiyah Sidoarjo Masyarakat agak tenang karena sudah
memiliki payung hukum secara formal.

Posko Kiai
Sejak itu posko-posko membubarkan diri.
Ndak tahunya, payungnya kok kayak gitu
kerjanya. Maka kita membentuk Forum
Peduli, dengan melibatkan komunitas

untuk Korban Lapindo


dok.pribadi

lintas agama. Kita akhirnya menghadap


pemerintah lagi agar mengambil alih
langsung. Waktu itu yang menemui Bu
Yenny Wahid. Dia bertanya, ”Apa Timnas
PENGASUH Ponpes al-Islamiyah Kludan, Tanggulangin, Jawa Timur KH. Hasyim gagal?” Dulu sebelum ada Timnas, areal
lumpur 360-380 hektar. Setelah ditangani
Ahmad, termasuk sosok yang peduli pada lingkungan dan nasib korban Lumpur Timnas jadi 850 hektar. Kami hanya meng-
Lapindo. Bersama 18 kiai di Sidoarjo, pria kelahiran 11 Januari 1951 yang pernah informasikan, agar ibu mengambil sikap
bijaksana.
nyantri pada Sayyid Alawi al-Maliki di Mekah ini mendirikan Posko Independen yang
lebih dikenal sebagai Posko Kiai. Berikut petikan wawancaranya dengan kontributor Apa himbauan Kiai?
the WAHID Institute di Jawa Timur, L. Riansyah. Kita harus berbuat yang bermanfaat.
Mengambil manfaat dari alam, secara
agama itu sah-sah saja. Himbauan saya,
Bagaimana kiai bisa terlibat Bagaimana penanganan bencana mbok orang yang mau menggali potensi
mendampingi korban Lapindo? lumpur selama ini? alam yang sudah diizinkan Allah SWT
Saya baru merintis pembangunan Penanganannya tidak menentu ini juga menghormati alam, termasuk
Pesantren Islamiyah III di Kedung Bendo. dan sangat lambat. Sejak awal mestinya manusia. Allah SWT berfirman, wala tufsidu
Datang bencana. Kini banyak rakyat di dibuang ke sungai. Tapi itu baru dilakukan fi al-ardhi (janganlah kalian melakukan
sini sengsara akibat lumpur Lapindo. setelah Desa Siring tenggelam. Gubernur kerusakan di bumi, red.).
Semua rusak. Tanah ndak mungkin bisa mengijinkan lumpur dibuang ke laut. Juga sosialisasi dululah, terutama
dipakai, ditanami atau dihuni. Sekarang Pemerintah pusat tidak menyetujui. Ini pada ahlinya. Perlu juga ke kiai. Dan prinsip
wassalam. Saya lalu diminta KH. Manaf dan bukti tidak ada koordinasi. Apa harus kiai itu cuma satu; selama bermanfaat
KH. Ghofar untuk membantu menangani nunggu orang Sidoarjo mati semua? kenapa tidak? Yang penting jangan sampai
dampak lumpur. Akhirnya kita fokus Akhirnya, dengan koordinasi KH. Abdi membawa mudarat. Mudarat kepada
terlibat memberikan bantuan pada korban, Manaf, kita mengadu ke pemerintah pusat, lingkungan atau manusia, itu dilarang.
dengan mendirikan Posko Independen. karena gubernur dan bupati tidak berani. Hadis Nabi SAW la dharara wala dhirara
Posko ini didirikan 18 kiai di Sidoarjo. (tidak boleh membahayakan diri dan pihak
Apa yang Kiai sampaikan kepada lain, red.).
Kenapa namanya Posko Independen? pemerintah? Harus ada pengawasan dari
Sesuai namanya, posko ini tidak Masalah sudah seperti ini. Pemerintah pemerintah dan masyarakat. Saya juga
ikut siapa-siapa. Hanya berpihak pada tidak mungkin lepas tangan. Di luar negeri, menghimbau para birokrat supaya mereka
masyarakat korban. Tapi masyarakat lebih kalau swasta tidak mampu menangani, berfungsi sebagai pelindung masyarakat.
senang menyebutnya “posko kiai”. maka harus diambil alih pemerintah. Jadi pemerintah harus bertindak adil dan
Kita desakkan ini pada mereka. Sehingga bijaksana.
Apa aktifitas posko ini? dibentuklah Timnas (Tim Nasional, red.).
Fokus kita melakukan tiga hal.
Pertama, mencarikan bantuan makan.
Alhamdulillah, banyak sekali yang care
memberi bantuan. Termasuk dari Yaman
dan Abu Dhabi. Kedua, membantu di
bidang kesehatan. Kita bekerja sama
dengan RS Siti Hajar, IDI (Ikatan Dokter
Indonesia, red.), dan sebagainya. Kita
melibatkan dokter untuk membuka
pelayanan kesehatan hingga jam 19.00.
Ketiga, memberikan keamanan ruhani.
Karena keamanan fisik telah banyak yang
menangani. Kita sering kumpul dengan
para korban untuk sharing masalah dan
dok.WI/Nurul H Maarif

doa bersama atau istighatsah. Ini rutin


setiap Kamis. Saya yakin, dalam kondisi
’sepanas’ ini, gejolak bisa diredam dengan
istighatsah. Jika ukurannya matematika,
mungkin sudah bacok-bacokan.
Unjuk rasa korban lumpur LAPINDO

Suplemen the WAHID Institute Edisi IX / Majalah Tempo / 25 Juni 2007 107
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

dok.WI/Witjak
Ajaran Universal
Mustofa Bisri (Gus Mus) menyatakan, al-Ibriz tidak hanya dibaca
masyarakat Indonesia. Tapi juga Malaysia, Singapura, bahkan
Suriname.

Penafsiran Lokal
“Suatu hari saya kedatangan tamu dari Johor Malaysia. Dia
penceramah yang biasa ngaji di masjid-masjid. Setiap ngaji, dia
selalu membawa tafsir al-Ibriz. Dia minta tafsir ini di-Indonesia-
kan atau di-Melayu-kan bahasanya,” terang Gus Mus.
Bahkan tafsir ini sudah tersedia di Perpustakaan Widener
Tafsir lokal dibuat agar makna al-Qur’an lebih Universitas Harvard, berkat promosi menantu Gus Mus, Ulil
dipahami umat. Namun ada yang menganggap Abshar Abdalla yang berguru di sana.
“Saya merasa sedikit berjasa pada perpustakaan ini, sebab
sesat. usulan saya agar pihak perpustakaan membeli sebuah tafsir
berbahasa Jawa berjudul al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa, ayah-
anda Gus Mus, dikabulkan,” kata Ulil dalam surat elektroniknya

S
ekitar 15 ribu nahdliyin datang menyemut dari seluruh kepada the WAHID Institute.
penjuru Jawa. Mereka rela duduk berdesakan sejak pukul Itulah al-Ibriz. Tafsir al-Qur’an 30 juz berhuruf pegon (aksara
05.00 pagi hingga tengah hari. Tiga kiai besar dihadirkan. Arab berbahasa Jawa, red.) ini, sangat dikenal, terutama di
KH. Ahmad Mustofa Bisri dari Ponpes Raudhatul Thalibin Rem- pesantren Jawa.
bang, KH. Abdullah Kafabihi dari Ponpes Lirboyo Kediri dan KH. Diakui penulisnya, KH. Bisri, terjemah al-Qur’an telah banyak
Maimun Zubair dari Ponpes al-Anwar Sarang Lasem. beredar dalam ragam bahasa. Bahasa Belanda, Inggris, Jerman,
Begitulah suasana khataman pembacaan kitab al-Ibriz karya pun Indonesia. “Yang menggunakan bahasa daerah, seperti
KH. Bisri Mustofa, Rembang (1915-1977), di Ponpes al-Itqon, Jawa, Sunda, dan yang lain, juga banyak,” tulisnya.
Tlogosari Wetan, Semarang pertengahan 2006 lalu. Dengan cara ini, ujarnya, umat Islam dari seluruh bangsa
Menurut pengasuh Ponpes al-Itqon, KH. Ahmad Kharis dan suku akan memahami makna al-Qur’an. “Untuk membantu
Shodaqoh, Tafsir al-Ibriz bisa dikhatamkan 12 tahun, 10 tahun, 5 mereka, saya suguhkan tafsir al-Qur’an yang ringan dan mudah
tahun, bahkan setahun. “Kami sengaja membacanya ayat demi dipahami,” sambungnya.
ayat selama 12 tahun, supaya jamaah memahami,” katanya. Karena menggunakan bahasa lokal, tafsir ini penuh sopan-
Kiai Kharis punya alasan memilih kitab ini. “Jamaahnya santun atau unggah-ungguh ala adat Jawa. Iblis, misalnya, yang
orang kampung. Mereka butuh tafsir dengan bahasa apa menjadi simbol kejahatan, dalam tafsir ini diposisikan santun
adanya, bukan bahasa yang tidak bisa mereka pahami,” tuturnya. di hadapan Allah. Inilah nuansa lokal yang tidak dimiliki tafsir
Dalam ceramahnya, putera penulis tafsir ini, KH. Ahmad lainnya.

108 Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007
Ajaran Universal Penafsiran Lokal

Berdasarkan aksaranya, tafsir bahasa Jawa pakem penafsiran umumnya.


sebetulnya terdiri dua jenis; Arab pegon dan latin. Mantan Pemimpin Jamaah Islam Qur’ani,
Jenis yang kedua misalnya al-Huda, Tafsir Qur’an yang gemar menggunakan teori ilmiah dalam
Bahasa Jawi, karya Brigadir Jenderal Purnawirawan terjemahnya, ini dinilai memiliki pandangan yang
Drs. H. Bakri Syahid (baca: Tafsir Lokal Beraroma menyempal dari keyakinan umat Islam kebanyakan.
Orba). Tahun 1980-an pun menjadi hari kelabu bagi
Selain berbahasa Jawa-Latin, tafsir bergaya Nazwar. Ia dianggap menolak Sunnah.
militer karya Rektor IAIN Sunan Kalijaga Mantan anggota polisi bagian reserse di Polsek
Yogyakarta (1972-1976), ini berani ‘melampaui’ Talawi, Sawah Lunto, Sijunjung, ini menuturkan,
pakem penafsiran pada umumnya. Di dalamnya, karyanya dirancang hanya untuk membantu
penulisnya banyak memasukkan unsur-unsur pembaca mengetahui informasi sains dan prinsip-
negara: MPR, UUD 45, Demokrasi Pancasila, BAKIN prinsipnya dalam al-Qur’an.
(Badan Koordinasi Intelijen Negara, red.), dan Sebelumnya hal yang sama menimpa Mahmud
sebagainya. Yunus (1899-1982). Upayanya menerjemahkan
“Diharapkan, dengan tafsir ini, pembaca bisa HB Jassin al-Qur’an dengan bahasa Arab-Melayu pada 1922,
lebih mengerti, memahami dan juga prihatin atas dinyatakan haram oleh para ulama waktu itu. Ia
nasib bangsa,” tulis Bakri. dituding menyalahi pakem. Padahal ia hanya ingin
Ada juga tafsir al-Qur’an berbahasa Bugis, karya ulama membantu umat Islam di negeri ini memahami kandungan al-
kharismatik dari Sidrap Sulawesi Selatan Gurutta H. Abdul Muin Qur’an.
Yusuf (1920-2004). Beliau pendiri Ponpes al-Urwatul Wutsqaa Dengan alasan melanjutkan studi di al-Azhar Kairo, Mah-
dan Ketua MUI Sulsel 1985-1995. mud menghentikan penerjemahan yang telah berjalan 3 juz,
“Karya tafsir utuh dalam Bahasa Bugis tergolong langka. Ini pada 1924. Pria kelahiran Batusangkar Sumbar ini, pada 1935
yang menjadi obsesi Gurutta Muin. Pada 1985, beliau didesak melanjutkan kembali upayanya, hingga selesai 30 juz pada 1938.
masyarakat yang membutuhkan referensi tafsir dalam Bahasa Pada 1953, karya berjudul Tafsir Quran Karim ini dicetak Penerbit
Bugis. Tahun berikutnya, penulisan tafsir dimulai,” tutur cucu al-Maarif Bandung. Ia dikenal sebagai “pelopor” karya tafsir di
Gurutta Muin, H. Imran Muin Yusuf kepada the WAHID Institute. Indonesia yang diterpa badai kontroversi.
Dikatakan kandidat doktor UIN Alauddin Makasssar ini, Apa yang diupayakan KH. Bisri Mustofa, Drs. H. Bakri Syahid,
ciri khas tafsir ini menggunakan bahasa dan aksara Lontara Gurutta H. Abdul Muin Yusuf, HB Jassin, Nazwar Syamsu, atau
Bugis. “Ini bahasa utama masyarakat Bugis yang ada di Sulawesi Mahmud Yunus, hanyalah cara mereka membuat al-Qur’an lebih
Selatan. Tafsir ini mendapat dukungan para ulama sepuh di dipahami umat.
Sulawesi Selatan,” jelas Imran. “Tafsir itu kan dalam konteks untuk kepentingan masya-
Lain lagi terjemah al-Qur’an karya Hans Bague (HB) Jassin rakat. Terlalu jauh kalau mau mempermasalahkan tafsir ini,”
(1917-2000). Dengan titel al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia, pria kata penulis buku Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeunetika
kelahiran Gorontalo ini ingin menghadirkan terjemahan al- hingga Ideologi, Islah Gusmian (lihat: Umat Diuntungkan Tafsir
Qur’an bergaya puisi. Lokal).
Selama dua tahun, 1972-1974, terjemahan ini digarap Jadi, siapapun tidak berhak untuk menuding para penafsir
Jassin, di sela kesibukannya menjalin kerja sama kebudayaan itu menyalahi pakem. Kreatifitas lokal perlu digalakkan agar
Indonesia-Belanda. pesan universal Islam bisa lebih dipahami umat.
Belum apa-apa, reaksi bermunculan dari penjuru negeri. Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi, Ahmad Suaedy
Dukungan dan cercaan hadir silih berganti. Kapabilitas Jassin
disoal. Ia dianggap tidak layak menerjemah al-Qur’an.
Jassin dinilai mempuisikan al-Qur’an. Beberapa orang
mengharamkan membacanya. Tapi Jassin berkilah,
hanya baris kalimatnya yang seperti puisi namun
tidak dengan inti terjemahannya. “Tidak baris demi
baris yang pan-jangnya memenuhi lebar halaman.
Akan tetapi baris demi baris yang panjangnya hanya
memenuhi sebagian lebar halaman saja,” katanya waktu
itu.
Empat tahun dalam kontroversi, pada 1978 karya
pengagum Schopenhauer dan Nietzche ini diterbitkan
dengan perbaikan di sana sini.
“Karya Jassin harus diberi penghargaan yang layak.
Kesalahan di dalamnya adalah bagian yang wajar dari
proses ijtihad,” tulis penulis Tafsir al-Azhar H. Abdul Malik
k Witja

Karim Amrullah (Hamka) dalam pengantar terjemahan itu.


dok.WI/

Mengapa berwajah puisi? “Firman Tuhan menjadi nafas


saya, menjadi darah yang beredar dalam tubuh saya, dan
menjadi daging saya,” terang Paus Sastra Indonesia ini.
Tak hanya Jassin, Nazwar Syamsu (1921-1983) pun
dipersoalkan. Melalui al-Qur’an Dasar Tanya Jawab Ilmiah,
al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya HB. Yasin
pria kelahiran Bukittinggi, Sumbar, ini juga dinilai menyalahi

Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007 109
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

TAFSIR utuh 30 juz ini diperiksa ulang oleh penghulu Keraton


Yogyakarta KRTH Wardanipaningrat dan Ustadz Rahmat Qasim
sebelum naik cetak di Bagus Arafah, Yogyakarta 1979.
Bakri Syahid banyak memasukkan penafsiran bernada
mendukung pemerintah Orde Baru Soeharto dan segala
program-programnya.
Umpamanya, ketika menafsirkan QS. al-Nisa’ ayat 83 perihal
Ulu al-Amri. Menurut Bakri, “untuk kontek sekarang, Ulu al-Amri
itu pemerintah yang menjalankan sistem demokrasi, seperti
pemerintah Indonesia yang menerapkan sistem Demokrasi
Pancasila.”
Terkait QS. Yunus ayat 7, dia menilai, “paham sekularisasi
itu berlawanan dengan ajaran Agama Islam dan juga tidak
bisa diterapkan di negeri Pancasila Indonesia. Sebab, falsafah
dan ideologi Pancasila itu menetapkan di Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945, Bab IX Pasal 29, bahwa ‘Negara berdasar atas
Ketuhanan Yang Maha Esa.’”
Artinya, tulis Bakri Syahid, masyarakat atau negara yang
dicita-citakan pemerintah Indonesia adalah sosialis-relijius. Yaitu
masyarakat adil makmur yang mencakup materiil dan spirituil,
lahiriah dan batiniah, dan dunia dan akhirat. Inilah masyarakat
yang diridlai Allah SWT.
“Negara Republik Indonesia itu Negara Kesatuan, Negara
Hukum, serta Negara ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan
dok.WI/Witjak

negara ateis, negara sekuler, atau negara Islam,” kata Bakri di


dalam karya setebal 1411 halaman ini.
“Bangsa Indonesia tidak memiliki cita-cita membangun
masyarakat sekuler (masyarakat tanpo agami), melainkan
masyarakat Pancasila,” tulis rektor pertama Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta ini ketika menafsiri QS. al-Nur ayat
28.
Bakri Syahid juga mengulas Sumpah Pemuda ketika me-
nafsirkan QS. al-Ra’d ayat 21. Menurutnya, Sumpah Pemuda
Tafsir al-Huda: Tafsir al-Qur’an bahasa Jawa
berawal dari perjumpaan atau silaturahim anak-anak muda
waktu itu, yang peduli nasib bangsa.
“Lalu menjadi ikrar: Satu Nusa, Satu Bahasa, dan Satu
Bangsa. Jujur saja, ini syarat mutlak kekuatan Ketahanan
Nasional,” jelas pria kelahiran Yogyakarta, 16 Desember 1918 ini.
Yang menarik, dia menghubungkan QS. al-Hujurat ayat

Tafsir Lokal
6 dan 7 dengan peran intelijen negara. “Di jaman modern ini
disebut Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) dalam Tata
Bina Pemerintahan Republik Indonesia.”
Masih dalam ayat yang sama, Bakri mengatakan dalam

Beraroma Orba
negara Indonesia intelejen negara dan stabilitas keamanan itu
kewajiban pemerintah yang dibantu masyarakat.
“Ini inti kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(kini Tentara Nasional Indonesia, red.). Sebab UUD 1945 Pasal 30
menyebutkan, setiap warga negara wajib dan berhak membela
negara,” tulis Bakri yang pernah menjabat Kepala Staf Batalion
BAGAIMANA jika seorang jenderal menulis tafsir al-Qur’an? STM-Yogyakarta, Kepala Pendidikan Pusat Rawatan Ruhani Islam
Angkatan Darat, Wakil Kepala PUSROH Islam AD, dan Asisten
Tentu semangat patriotisme begitu kental di dalamnya. Itulah Sekretaris Negara RI ini.
tafsir karya Brigadir Jenderal (Pur.) Drs. H. Bakri Syahid dengan Inilah kontektualisasi tafsir karya Bakri Syahid. Melalui gaya
dan caranya, Bakri Syahid ingin masyarakat lebih memikirkan
titel al-Huda: Tafsir Qur’an Bahasa Jawi, berbahasa Jawa nasib bangsa ke depan.
“Diharapkan, dengan tafsir ini, pembaca bisa lebih
berhuruf latin. mengerti, memahami dan juga prihatin atas nasib bangsa,”
demikian harapan Rektor IAIN Sunan Kalijaga masa bakti 1972-
1976 ini dalam pengantar tafsir itu.
Nurul H. Maarif

110 Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007
Ajaran Universal Penafsiran Lokal

Islah Gusmian, MA
Peneliti Tafsir Lokal

“Umat Diuntungkan Tafsir Lokal”

dok.pribadi
DIBANDING tafsir berbahasa dan bertulisan Arab, tafsir lokal bahasa Jawa, misalnya, punya
keunggulan. Pembaca bisa tahu makna perkata dan tahu posisi kalimat. Sayang, tafsir ini kini tak
banyak diproduksi lagi. Berikut wawancara M. Subhi Azhari dari the WAHID Institute dengan dosen dan
peneliti tafsir lokal dari STAIN Surakarta Islah Gusmian.

Dari penelitian Anda, kapan tafsir lokal karya KH. Bisri Mustofa. Ada juga tafsir Adakah resistensi dari kelompok Islam
mulai dibuat? berbahasa Jawa dengan huruf latin. tertentu terhadap tafsir lokal ini?
Di mulai pada abad ke-17. Yaitu Misalnya al-Huda karya Bakri Syahid tahun Belum ada. Sejauh saya melihat, tafsir
Tarjuman al-Mustafid karya Abdurrauf 1972. itu kan dalam konteks untuk kepentingan
al-Sinkili. Tafsir utuh 30 juz ini berbahasa masyarakat. Terlalu jauh kalau mau
Melayu-Arab atau pegon. Para sejarawan Apa keistimewaan tafsir lokal? mempermasalahkan tafsir ini. Kini yang
menyebut karya ini sebagai tafsir lokal Kalau kita bandingkan dengan tafsir terjadi adalah orang memandang bahasa
pertama di Nusantara. Pada abad yang yang menggunakan bahasa dan tulisan Arab itu penting, sehingga membaca
sama ada juga Tafsir Surah al-Kahfi. Tapi Arab, tafsir lokal bahasa Jawa misalnya, tulisan latin menjadi agak phobi. Padahal
karya ini tidak diketahui penulisnya. punya keunggulan. Misalnya, pembaca aksara latin tidak perlu dipermasalahkan,
bisa tahu makna per kata dan tahu posisi karena tidak semua buku yang ditulis
Bagaimana perkembangannya? atau kedudukan kalimat. Ini kelihatan dengan aksara latin itu jelek.
Pada abad ke-18, setelah Imam sekali pada al-Ibriz. Dengan demikian,
Nawawi al-Bantani menulis Tafsir al-Nur umat diuntungkan dengan adanya Bagaimana perkembangan tafsir lokal?
di Makkah, di Jawa dan Sunda mulai tafsir lokal. Berbeda dengan tafsir yang Sekarang ada tafsir berbahasa dan
muncul tafsir-tafsir berbahasa daerah. ditulis bukan dengan bahasa dan cara beraksara Bugis (karya Gurutta Abdul Muin
Ada Tafsir wal Ngasri yang tersimpan di seperti tafsir bahasa Jawa. Taruhlah tafsir Yusuf, red.). Ada lagi Tafsir Pase (karya H.
Museum Sono Budoyo Jogjakarta. Ini tafsir berbahasa latin. Itu nggak bisa. Karena Teuku Hasan Thalhas dkk., red.), tahun
berbahasa Jawa. biasanya, model penafsirannya langsung 2000, menggunakan bahasa Aceh dengan
satu paragraf. aksara latin. Tapi sayang hal ini tidak terjadi
Apa maksud pembuatan tafsir di Jawa. Bukan hanya dalam konteks kajian
berbahasa lokal? keislaman, di dalam tradisi Jawa
Agar bisa diakses sendiri tulisan Jawa telah
dengan mudah oleh kehilangan ruh. Terjadi
para pembaca. Misalnya kematian bahasa, yaitu
di Jawa, kenapa yang bahasa lokal menjadi
dipilih bahasa Jawa? tidak penting digunakan.
Itu karena kepentingan
pembaca. Kalau di Karena apa?
Jawa pedalaman, Bahasa Indonesia
Jogja atau kraton, itu menjadi bahasa yang
menggunakan bahasa umum digunakan,
dan tulisan Jawa. Tapi sehingga bahasa Jawa
kalau di pesantren, itu atau bahasa lokal lainnya
menggunakan tulisan jarang digunakan. Bahkan
Arab berbahasa Jawa majalah yang dulu
atau pegon. Itu karena menggunakan bahasa
segmennya. Kalau di Jawa, kini sudah tidak
pesantren, kan tidak mempunyai penggemar.
ada masalah membaca Bahasa akhirnya mati.
tulisan Arab. Makanya Aksara juga mati.
kita mengenal al-Ibriz

Tafsir al-Quran berbahasa Bugis karya Gurutta H. Abdul Muin Yusuf dok.WI/Witjak

Suplemen the WAHID Institute Edisi X / Majalah Tempo / 30 Juli 2007 111
Ragam Ekspresi ISLAM Nusantara

Sedikit orang yang mumpuni mebaca pustaka


beraksara Arab. Tak cukup hanya prihatin,
beberapa ulama Indonesia merancang metode
cepat memahami jendela keilmuan Islam itu.

J
uara pertama Lomba Baca al-Qur’an tingkat Taman
Pendidikan al-Qur’an se-Kabupaten Batang, akhirnya
digondol Muslihin Rozi. Padahal pada saat mengikuti lomba,
yang digelar dalam rangka Hari Amal Bhakti Departemen Agama
ke-45 pada 15 Desember 1990, itu umur Muslihin belum genap
10 tahun. Dia masih duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah.
Namun kemampuan siswa Taman Pendidikan al-Qur’an
(TPA) Darus-Salam Kemiri Subah, Batang, dalam membaca al-
Qur’an tidak diragukan. Di bawah gemblengan Ustadz Mudha’af
Adam, Muslihin kecil kala itu, begitu lancar dan fasih melafalkan
ayat-ayat al-Qur’an.
“Itu berkat metode Qira’ati yang kita ajarkan,” kenang
pengurus Ponpes Darussalam Syamsul Maarif Syahid, yang kala
itu turut mendampingi Muslihin kecil.
Metode baca al-Qur’an Qira’ati ditemukan KH. Dachlan
Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode
yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anak-
anak mempelajari al-Qur’an secara cepat dan mudah.
Hal ini diakui pengajar metode Qira’ati, yang juga asisten
Ketua Dewan Masjid Indonesia, Abdullah Syafii Damanhuri. Belajar membaca al-Qur’an

Metode Cepat
Menurutnya, ini lantaran Qira’ati menawarkan pengajaran yang
sistematis dan mendetail.
“Misalnya, metode ini mengajarkan bacaan gharib (bacaan
langka, red.) dalam al-Qur’an, yang tidak diajarkan metode lain,”
ujar peraih syahadah (sertifikat) Qira’ati dari Ustadz Abu Bakar
Zarkasyi, putera KH. Dachlan Salim Zarkasyi.
Kiai Dachlan yang mulai mengajar al-Qur’an pada 1963,
merasa metode baca al-Qur’an yang ada belum memadai. Qira’ati. Tapi semua orang boleh diajarkan Qira’ati.
Misalnya metode Qa’idah Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yang “Dalam 100 siswa/santri hanya satu orang yang kurang
dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan pandai. Jika ada lebih dari satu orang yang kurang pandai,
tidak mengenalkan cara baca tartil (jelas dan tepat, red.). maka yang perlu dipertanyakan gurunya,” pesan pendiri TPA
Saat itu juga, terbetik di benak Kiai Dachlan keinginan Roudhatul Mujawwidin Semarang ini.
menyusun metode yang mudah dan digemari anak-anak, Untuk mengajarkan buku jilid 1-2 metode ini, guru
dengan orientasi bacaan tartil. Bertahun-tahun dengan penuh diharuskan telaten mengajari murid seorang demi seorang.
ketekunan dan kesabaran, Kiai Dachlan mengamati dan meneliti Ini supaya guru mengerti kemampuan anak-anak didiknya.
majlis pengajaran al-Qur’an di banyak mushalla, masjid, dan Untuk jilid 3-6 dilakukan secara klasikal, yaitu beberapa murid
majelis tadarus al-Qur’an. membaca dan menyimak bersama dalam satu ruangan.
Ia pun kecewa. Karena dari hasil pengamatannya, murid- Dalam perkembangannya, sasaran metode Qira’ati kian
murid pengajian tidak mengindahkan mad (bacaan panjang diper-luas. Kini ada Qira’ati untuk anak usia 4-6 tahun, untuk 6-12
pendek, red.). Itu membuatnya lebih serius untuk menemukan tahun, dan untuk mahasiswa.
metode yang mujawwad murattal (mengajarkan tajwid dan cara Setelah metode Qira’ati, lahir metode-metode lainnya.
baca tartil, red.). Sebut saja metode Iqra’ temuan KH. As’ad Humam dari
Kiai Dachlan kemudian menerbitkan enam jilid buku Yogyakarta, yang terdiri enam jilid. Dengan hanya belajar 6
Pelajaran Membaca al-Qur’an untuk TK al-Qur’an bagi anak usia bulan, siswa sudah mampu membaca al-Qur’an dengan lancar.
4-6 tahun, pada 01 Juli 1986. Iqra’ menjadi populer, lantaran diwajibkan dalam TK
Usai merampungkan penyusunannya, KH. Dachlan al-Qur’an yang dicanangkan menjadi program nasional pada
berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode Musyawarah Nasional V Badan Komunikasi Pemuda Remaja

112 Suplemen the WAHID Institute Edisi XI / Majalah Tempo / 27 Agustus 2007
Metode Cepat Membaca Kitab

mencukupi, murid yang mahir bisa turut membantu mengajar


murid-murid lainnya.
Keprihatinan akan banyaknya masyarakat yang buta huruf
Arab, menggugah Otong Surasman menemukan metode al-
Bayan. Al-Bayan, yang hanya satu jilid dengan 71 halaman, ini
disusun sejak 1994.
Sarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) akarta ini
mulai menuangkan penelitiannya dalam tulisan tangan pada
1995. Awalnya, penemuan itu dinamai metode Insani. Setelah
dievaluasi, metodenya dipadatkan, dan namanya diubah
menjadi al-Bayan. Dengan belajar enam bulan, murid mampu
melafalkan ayat al-Qur’an secara baik.
Hattaiyyah adalah metode baca al-Qur’an yang paling
fantastis. Dengan metode penemuan Muhammad Hatta Usman,
ini anak didik mampu membaca al-Qur’an dalam waktu 4,5
jam. Metode ini akan lebih mudah diterapkan bagi anak didik
yang telah mampu baca tulis huruf latin, karena metode ini
menggunakan pendekatan Bahasa Indonesia.
Caranya, 28 huruf Arab dicari padanannya dalam aksara
Indonesia. Tanda baca pun diperkenalkan dalam rumus-
rumus bahasa Indonesia. Sehingga, hanya dengan enam kali
pertemuan, masing-masing 45 menit, anak didik bisa membaca
al-Qur’an.
Walau kurang dikenal, metode al-Barqy adalah metode
cepat membaca al-Qur’an yang diperkenalkan paling awal.
Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel
Surabaya, Muhadjir Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Bar