Anda di halaman 1dari 21

BAB IV SISTEM PELUMASAN TURBIN GAS

4.1 Prinsip Pelumasan 4.1.1 Gesekan dan Keausan Gesekan adalah suatu gaya yang bekerja pada bidang kontak diantara dua permukaan benda yang secara relatif sesamanya dan gaya ini cenderung menghambat. Secara umum, gesekan ada 2 macam yaitu : Gesekan statik adalah gesekan yang terjadi pada bidang kontak diantara dua benda yang cukup besar untuk mencegah terjadinya gerakan. Contoh gesekan statik adalah gesekan antara mur dan baut. Gesekan kinetik adalah gesekan yang terjadi pada bidang kontak diantara dua benda yang saling bergerak secara relatif sesamanya. Contoh gesekan kinetik adalah gesekan antara permukaan bantalan dengan permukaan poros turbin. Akibat adanya gesekan ini, terjadi pengikisan material pada bidang kontak antara dua permukaan tersebut, pengikisan ini disebut keausan.

4.1.2 Fungsi Pelumasan

Keausan akibat gesekan dapat dikurangi dengan cara mencegah terjadinya kontak langsung antara dua permukaan benda yang saling bersinggungan seperti poros dengan bantalan. Untuk mengurangi singgungan langsung ini, dapat dilakukan dengan memberikan pelumasan. Pelumas akan menjadi media pemisah antara dua permukaan, sehingga tidak terjadi kontak langsung. Secara umum, prinsip pelumasan dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu : Pelumasan Batas adalah pelumas dimana kedua permukaan benda hanya dipisahkan oleh selapis pelumas yang sangat tipis sehingga pada beberapa lokasi masih terjadi kontak langsung antara kedua permukaan tersebut. Pelumasan Film adalah pelumasan dimana kedua permukaan benda dipisahkan oleh lapisan yang cukup (film) sehingga tidak terjadi kontak langsung antara kedua permukaan. Prinsip pelumasan yang baik adalah pelumasan film. Jadi fungsi utama pelumasan adalah untuk mengurangi gesekan. Selain fungsi utama tersebut, pelumasan juga mempunyai fungsi lain seperti : Sebagai pendingin Gesekan akan menimbulkan panas. Panas yang berlebihan dapat merusak komponen. Pelumas akan menyerap sebagian panas yang timbul sehingga panas yang berlebihan dapat dihindari. Apabila panas yang timbul diperkirakan cukup besar, biasanya pelumas disirkulasikan melalui pendingin minyak. Untuk Mencegah dan Mengurangi Korosi Pelumas dapat mengurangi laju korosi dengan cara membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam. Lapisan pelindung ini akan mencegah kontak langsung

antara permukaan logam dengan zat penyebab korosi seperti asam dan sebagainya. Sebagai Perapat Pelumas dapat membentuk perapat sehingga kotoran dari luar dapat dicegah agar tidak masuk ke dalam bidang kontak. Sebagai Peredam Beban Kejut Beban kejut dapat terjadi pada banyak komponen mesin dimana dua permukaan kontak langsung seperti roda-roda gigi yang saling berhubungan dan berputar pada kecepatan tinggi. Pelumas akan memperkecil kejutan/benturan yang terjadi sehingga dapat meredam getaran dan mengurangi kebisingan. Pemilihan dan penggunaan pelumas banyak ditentukan oleh fungsi khusus yang diharapkan untuk dibutuhkan dan diperhatikan. Didalam penggunaannya, seperti melumasi bantalan, kendali terhadap gesekan merupakan hal yang sangat diharapkan. Pelumas memiliki beraneka ragam jenis yang tergantung kepada kemampuan bekerja pada berbagai fungsi yang telah dirancang untuk pelumas itu sendiri. Fungsi-fungsi tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi saling tergantung satu sama lain. Jika pelumas memberikan kinerja yang buruk dalam mengendalikan gesekan, maka akan memberikan gesekan yang akan menimbulkan panas yang tinggi. 4.1.3 Karakteristik Minyak Pelumas Karakteristik minyak pelumas merupakan gambaran dari sifat-sifat pelumas serta kemampuannya untuk melumasi. Di pasaran tersedia cukup banyak jenis minyak pelumas. Diantara sifat-sifat minyak pelumas yang penting adalah : Kadar Viskositas (Viscosity)

Viskositas atau kekentalan merupakan suatu ukuran yang menyatakan besarnya tahanan cairan terhadap aliran. Dengan kata lain juga disebut sebagai kemampuan suatu cairan untuk mengalir. Viskositas cairan merupakan fungsi dari temperatur. Menurut SAE (Society of Automotive Engineers), kekentalan minyak pelumas dibedakan menurut nomor. Makin tinggi nomornya makin kental minyak pelumas tersebut. Contoh : Minyak pelumas SAE 30 lebih kental dari minyak pelumas SAE 10. Indeks Viskositas (Viscosity Index / VI) Merupakan ukuran dari laju perubahan viskositas minyak pelumas terhadap perubahan temperatur. Minyak pelumas yang viskositasnya berubah cukup banyak terhadap perubahan temperatur dikatakan memiliki indeks viskositas rendah dan sebaliknya. Indeks viskositas dinyatakan dengan angka dari 0 sampai 100. Titik Tuang (Pour Point) Merupakan temperatur dimana minyak pelumas mulai menjadi kental dan tidak dapat mengalir. Minyak pelumas yang akan digunakan pada temperatur rendah harus memiliki titik tuang yang rendah. Titik Nyala (Flash Point) Merupakan temperatur terendah dimana uap minyak pelumas akan disambar api bila diberikan sumber panas tetapi pembakaran berhenti bila sumber panas dihilangkan. Titik Bakar (Fire Point)

Merupakan temperatur dimana uap minyak/pelumas yang timbul akan terbakar dan akan terus menyala meskipun tidak diberikan sumber panas.

4.1.4 Bahan Tambah (Additive) Bahan tambah (Additive) adalah bahan lain yang dicampurkan minyak pelumas dengan maksud untuk memperbaiki sifat minyak pelumas. Jenis-jenis bahan tambah yang banyak dipakai adalah : Penurun titik tuang Bahan ini berfungsi untuk menurunkan titik tuang minyak pelumas. Dengan penambahan bahan ini minyak pelumas masih dapat mengalir pada temperatur yang lebih rendah. Anti Oksidasi (Oxidation Inhibitor) Bahan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya oksidasi pada minyak pelumas. Oksidasi dapat mengakibatkan minyak pelumas menjadi asam.

Anti Busa (Anti Foam Agent) Bahan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya busa dalam minyak pelumas. Pembentukan busa dapat mengakibatkan rusaknya lapisan film sehingga mengurangi fungsi pelumas. Pembersih (Detergent) Bahan ini berfungsi untuk mencegah terbentuknya endapan (deposit) atau kerak pada komponen-komponen mesin yang dilumasi. Perubahan Indeks Viskositas (Viscosity Index Improver)

Bahan ini berfungsi merubah sensitivitas perubahan temperatur. Anti Karat dan Korosi (Rust and Corrosion Inhibitor) Bahan ini berfungsi membantu mencegah karat (korosi). Extreme Pressure Additive Bahan ini berfungsi untuk meningkatkan kemampuan minyak pelumas terhadap beban dan tekanan tinggi. Bahan Pengemulsi (Emulsifying Agent) Bahan ini berfungsi untuk menyelimuti air (emulsi) dalam minyak pelumas sehingga air tidak kontak langsung dengan logam yang dilumasi. Bahan Pencegah Emulsi (Emulsion Breaker) Bahan ini berfungsi untuk mempermudah memisahkan air dengan minyak pelumas agar air dapat dibuang/dikeluarkan dari minyak.

4.2 Komponen Utama Sistem Pelumasan Sistem pelumasan turbin berfungsi sebagai pelumas dan juga sebagai media pendingin bearing-bearing seperti bearing turbin, kompresor dan generator, memberikan suplai minyak pelumas untuk power oil system dan suplai minyak pelumas untuk jacking oil system. Sistem pelumas didinginkan oleh air pendingin dari CWP (Cooling Water Pump), airnya diambil dari make-up water Komponen-komponen utama dari sistem pelumasan turbin adalah sebagai berikut : Tangki penyimpan (Lube oil tank) Vapor extractor fans (2)

Main Lube oil pumps (2) DC Emergency oil pump Rotor Barring oil pump Lube oil filter Pressure Accumulator Lube oil cooler Alat ukur (level, pressure, temperature)

4.3 Deskripsi Fungsional Main Lube dan Emergency Oil System Lube Oil Tank dan Peralatannya Ventilasi lube oil tank dilengkapi dengan filter dan orifice yang didesain agar pada saat proses pembuangan udara panas melalui vapor extractor dapat menghasilkan tekanan vacum tidak hanya di lube oil tank tetapi juga di return piping dari bearing ke tangki, sehingga dapat menjaga terjadinya kebocoran lube oil melalui bearing.

Gambar 4.1 Lube Oil Tank Fan

Heater Heater berfungsi untuk mempertahankan temperatur lube oil 15-22 0C pada saat GT tidak beroperasi. Selama periode standby, kekentalan minyak pelumas dipertahankan pada viskositas yang layak untuk start turbin oleh heater (pemanas) yang dipasang dalam bak minyak, dan mengontrol heater untuk mempertahankan suhu minyak tersebut. Exhaust Fan Oil Vapor 1. Fungsi utama : membuang gas-gas yang tidak terpakai yang dibawa oleh minyak pelumas setelah melumasi bearing-bearing turbin, kompresor dan generator 2. Fungsi lain : membuat vacum di lube oil tank yang tujuannya agar proses minyak kembali lebih cepat dan juga untuk menjaga kerapatan minyak pelumas di bearingbearing (seal oil) sehingga tidak terjadi kebocoran minyak pelumas di sisi bearing. Main Lube Oil Pump dan Pressure Accumulator Ada 2 buah Main lube oil pump (motor AC) yang berfungsi untuk menjaga ketersediaan suplai minyak pelumas di lube oil system, dan dilengkapi dengan non return valve (check valve) untuk mengindari terjadinya aliran balik ke tangki melalui salah satu pompa stand by. Jika salah satu pompa gagal beroperasi maka pompa yang stand by akan otomatis beroperasi. Sistem ini dilengkapi pula dengan accumulator yang berfungsi untuk mempertahankan tekanan operasi lube oil system (menghindari denyutan tekanan pada saat change over pompa) Emergency Lube Oil Pump (DC) Jika terjadi kegagalan operasi pada main lube oil pump atau power system AC, maka tekanan lube oil akan drop dan GT trip, emergency pump akan otomatis beroperasi untuk menjamin tetap adanya pelumasan pada bearing pada saat rundown. Lube Oil Cooler dan Temperatur Control Valve

Lube Oil cooler berfungsi untuk menjaga agar temperatur lube oil tetap pada temperatur operasinya, dengan bantuan temperatur control valve. Minyak pelumas didinginkan oleh air dari sistem air pendingin yang disirkulasikan melalui pipa-pipa penukar panas. Twin Filter Main lube oil dilengkapi dengan 2 buah filter yang berfungsi untuk melakukan penyaringan kotoran yang terbawa pada saat proses pelumasan.

Gambar 4.2 Diagram Skematik Lube Oil System

4.3.1 Aspek Operasi Persiapan Pengoperasian 1. Cooling water system sudah beroperasi (ada aliran air pendingin di lube oil cooler) 2. Level lube oil tank normal, temperatur >20 0C 3. Breaker (AC/DC) lube oil pump siap (energize)

4. Emergency (DC) pump dalam kondisi stand by. Start Up Pada saat Start up (FG Lube Oil On), main lube oil pump 1 (tergantung pre-select pompa yang dipilih) akan beroperasi dan mensuplai minyak pelumas untuk main lube oil system. Vapor extractor fan segera beroperasi setelah FG Lube Oil Pump On. Pada saat tekanan operasi main lube oil system sudah tercapai maka Jacking Oil system (2 pompa) akan otomatis beroperasi untuk mengangkat shaft dan membuat lapisan oil film di sisi bearing, sehingga shaft dapat berputar dengan lancar. Jacking oil system akan off pada saat putaran turbin sudah mencapai 2700 rpm. Normal Operasi Pada saat normal operasi, lube oil system tetap akan disuplai oleh 1 main lube oil pump. Dan jika gagal beroperasi dengan normal, maka pompa yang stand by akan otomatis beroperasi. Kestabilan tekanan lube oil juga dibantu oleh pressure accumulator. Normal Shutdown Pada saat normal shutdown, FG lube oil tetap pada posisi on untuk menjamin ketersediaan minyak pelumas bagi jacking oil system dan rotor barring system. FG Lube oil akan off jika TAT/Temperatur Rotor Front Face sudah mencapai <60 0C. Kondisi Emergency Jika kedua main lube oil pump gagal beroperasi atau power supply AC hilang maka emergency DC pump akan otomatis beroperasi dan menggantikan fungsi dari main lube oil pump.

4.3.2 Alarm, Proteksi dan Trouble Shooting Sederhana

Lube oil temperature in lube oil distribution too low Alarm : <45 0C Kemungkinan penyebab : - Viskositas lube oil tidak sesuai spesifikasi - Pendinginan yang berlebihan di lube oil cooler - Temperatur control bermasalah Lube oil temperature in lube oil distribution too high Alarm : >65 0C Kemungkinan penyebab: - Viskositas lube oil tidak sesuai spesifikasi - Pendinginan yang kurang di lube oil cooler - Temperatur control bermasalah - Temperatur cooling water terlalu tinggi Pressure after main lube oil pump too low Alarm : <5,2 bar (pompa stand by otomatis beroperasi) Trip : Jika pressure kedua pompa <5,2 bar selama 3 detik.

Kemungkinan penyebab : - Kerusakan pada pompa - Viskositas lube oil tidak sesuai spesifikasi - Level lube oil tank terlalu rendah (<600 mm diukur dari atas tangki) - Pressure switch bermasalah Pressure distribution lube oil system too low Alarm : <1,2 bar

PLS

: <0,8 bar

PLST : <0,7 bar (emergency pump auto start dengan tekanan 1,8 bar) <0,6 bar (jacking oil dan rotor barring system auto off) Kemungkinan penyebab: - Kerusakan pada pompa - Level lube oil tank terlalu rendah (<600 mm diukur dari atas tangki) - Pressure switch bermasalah - Kebocoran pada piping system - Accumulator bermasalah Lube oil pressure differential too high Alarm : <0,8 bar Kemungkinan penyebab : - Filter lube oil kotor - Viskositas lube oil tidak sesuai spesifikasi - Temperatur lube oil terlalu dingin

4.3.3 Pengamatan dan Inspeksi Periodik Hal-hal yang perlu diamati setiap shift : 1. Adanya perbedaan hasil pengukuran alat ukur (temperatur, pressure, level) di lokal terhadap nilai normalnya. 2. Adanya segala kebocoran pada peralatan. 3. Suara abnormal. 4. Vibrasi abnormal pada pompa dan perpipaan.

Penjadwalan rutin (sebulan sekali) untuk menganalisa minyak pelumas (sample) secara kimiawi di laboratorium terhadap beberapa karakteristik/sifat-sifat minyak pelumas.

Gambar 4.3 Komponen Utama Sistem Pelumasan GT

Keterangan gambar : 1. Oil Vapor Extractor Fan 2. Pressure Limit Valve 3. Rotor Barring Oil Pump 4. Lube Oil Filter 5. Main Lube Oil Pump 6. Pressure Accumulator 7. Lube Oil Cooler 8. Power Oil Pump 9. Jacking Oil Pump

10. Lube Oil Tank

4.4 Deskripsi Fungsional Jacking Oil System Jacking Oil Pump (2 buah) Untuk menjamin adanya pelumasan yang baik pada saat unit pertama kali start atau proses turning dengan rotor barring system dengan membuat lapisan oil film pada bearing, dan juga untuk mengangkat rotor pertama kali sehingga rotor dapat berputar dengan lancar. Jacking oil pump terdiri dari 6 silinder piston yang menghasilkan aliran minyak tekanan tinggi dan digerakkan oleh motor DC. Piping line supply - 2 line supply ke jurnal bearing turbin - 2 line supply ke jurnal bearing compressor - 1 line supply ke jurnal bearing generator (DE) - 1 line supply ke jurnal bearing generator (NDE)

4.4.1 Aspek Operasi Start up Pada saat GT start, jacking oil system akan beroperasi secara otomatis jika main

lube/emergency pump sudah beroperasi normal (tekanan lube oil distribution dalam kondisi normal). Jika putaran turbin sudah mencapai 2700 rpm maka jacking oil sistem akan otomatis off. Dalam hal ini rotor sudah dalam kondisi floating.

Normal Operasi Pada saat GT normal operasi Jacking oil system tidak beroperasi

Normal Shutdown Jacking oil system kembali beroperasi pada saat GT shutdown dan putaran sudah mencapai 2700 rpm, dan tetap beroperasi pada saat rotor barring system beroperasi (<1 rpm). Jacking oil system otomatis off jika TAT <60 0C

4.5 Deskripsi Fungsional Rotor Barring System Rotor barring pump berfungsi untuk mensuplai oli ke rotor barring system yang digerakkan oleh motor DC Manual (hand) pump mempunyai fungsi yang sama dengan DC rotor barring pump. Digunakan pada saat terjadi kegagalan di sistem auto rotor barring system. Constant pressure valve berfungsi untuk menjaga tekanan minyak agar tetap stabil dan menghindari terjadinya over pressure pada sistem. Pilot valve berfungsi mengatur aliran minyak yang menuju hydraulic jack. Digerakkan oleh solenoid atau bisa juga dioperasikan manual melalui push button pada valve, jika push button ditekan maka aliran akan menuju ke hydraulic jack, jika push button dilepas maka aliran menuju tangki. Hydraulic rotor barring device terdiri dari hydraulic jack, pressure spring, piston, stroke chamber, tappet dan rachet gear (terpasang di rotor)

4.5.1 Siklus Rotor Barring Solenoid energize sehingga menggerakkan piston valve dan mengalirkan oli dari rotor barring pump menuju hydraulic jack. Oli mengisi stroke chamber pada hydraulic jack, mendorong piston dan tappet ke atas, hingga tappet engage dengan rachet gear, dan memutar rotor sampai pada akhirnya piston menyentuh stopper. Pada posisi ini spring dalam kondisi tertekan. Kemudian (berdasarkan time relay) solenoid valve de-energize sehingga menyebabkan piston valve kembali ke posisi semula dan mengalirkan oli dari menuju tangki, kondisi ini menyebabkan rotor barring pump

hilangnya tekanan di chamber.

Hilangnya tekanan chamber menyebabkan spring mendorong piston ke posisi awal dan otomatis tappet pun dis-engage dengan ratchet gear. Siklus ini berlangsung sekitar 10 detik.

4.5.2 Aspek Operasi Rotor barring system berfungsi untuk memutar rotor setelah GT rundown (<1 rpm). Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan adanya pendinginan yang merata pada rotor dan menghindari terjadinya bending pada saat proses pendinginan. Rotor barring system otomatis off jika TAT/Temperatur Rotor Front Face <60 0C Pada kondisi normal, Rotor barring system beroperasi secara otomatis dengan yang digerakkan oleh motor DC Pada saat rotor barring gagal beroperasi setelah GT rundown maka akan terjadi bending pada rotor, dan kemungkinan terjadi rubbing antara blade turbin dengan casing cukup besar. Tergantung lama waktu kegagalan rotor barring beroperasi. pompa

Jika lama waktu gagal <10 menit, maka rotor barring boleh start kembali. Tetapi jika ada alarm muncul (FG Rotor Barring Failed) dan dari pengamatan di lokal ditemukan kondisi abnormal, maka harus segera dihentikan kembali. Jika lama waktu gagal >10 menit, atau ada alarm yang muncul atau ada indikasi terjadinya rubbing, maka rotor barring system harus dimatikan, tetapi jacking oil system dan main lube oil system harus tetap beroperasi sampai TAT/ Temperature Rotor Front Face <60 0C. Pengoperasian dengan menggunakan hand pump dilakukan jika rotor barring system gagal beroperasi secara auto. Prosedur dalam menjalankan hand pump dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Rotor dalam kondisi standstill dan jacking oil system beroperasi normal. 2. Tekan piston pada solenoid pilot valve dan putar putaran berlawanan jarum jam dengan menggunakan obeng. 3. Operasikan hand pump hingga poros berputar 1800. 4. Kemudian release tekanan oli dengan mengembalikan piston pada solenoid pilot valve ke posisi semula. 5. Tunggu 10 menit, kemudian putar kembali 1800. 6. Ulangi prosedur diatas hingga rotor barring dapat beroperasi secara auto.

4.5.3 Alarm dan Trouble Shooting Sederhana FG Rotor Barring disturbed kemungkinan penyebab: - Piston rusak - Spring rusak

- Control valve abnormal - Rotor barring pump abnormal - Limit switch abnormal

Gambar 4.4 GT13E2 Lube Oil System

4.6 Pengujian Minyak Pelumas

Kualitas dari minyak pelumas sangat penting untuk mendapatkan pelumasan yang baik. Untuk itu diperlukan adanya pengujuan minyak pelumas di laboratorium agar minyak pelumas yang dipakai dapat diketahui kualitasnya. Pengujian minyak pelumas di laboratorium antara lain meliputi pengujian : Berat jenis (specific gravity) 60/60 0F Viskositas kinematis pada 100 0F Viskositas kinematis pada 210 0F Viskositas indeks Tegangan permukaan (interfacial tension) Titik nyala (flash point) Titik tuang (pour point) Kadar air (water content) Kadar abu (ash content) Kadar abu sulfat (sulfated ash content) Kadar karbon residu (contradson carbon residu) Kadar logam (metal content) Korosi (cooper strip corrosion) Angka kenetralan (netralization number)

Minyak pelumas yang dipakai untuk pelumas turbin gas pada Unit Pembangkitan Muara Tawar adalah Shell Turbo Oil T46. Untuk dapat mengetahui minyak pelumas yang dipakai masih bisa digunakan atau tidak, maka dilakukan pemeriksaan di laboratorium guna melihat hasil analisa pelumas turbin.

No 1 2 3 4

Item Analisa Viscositas 40 0C Viscositas 100 0C Viscositas Indeks Sp Gr (Reduction to 15 0C) Acid Number Water Content Appearance

Satuan Cst Cst Cst Kg/dm3

Metode ASTM D-445-79 D-445-80

Hasil Analisa 45.95 6.99 118.45

Karakteristik Teknis Turbomachine ISO VG 46 46 6.9 Min, 98 Max, 0.90

Karakteristik Shell Turbo Oil T46 46 6.9 > 104 0.874

D-1298

0.8731

5 6

Mg KOH/g S Visual Inspection Visual Inspection

D-974 D-95

0.1680 Coklat tua bening Coklat tua bening 5.0

Max, 0.4 Max. Intense Cloudiness Max. Cloudiness, dark discoloration

< 0.15

Color, ASTM

D-1500

L 1.5

Tabel 4.1 Hasil Analisa Pelumas Turbin

4.7 Pemeliharaan Minyak Pelumas Untuk menjaga kualitas minyak pelumas, diperlukan penanganan yang baik agar tidak terkotori oleh debu dan kotoran lainnya. Biasanya minyak pelumas baru dikemas di dalam drum yang tertutup rapat. Untuk minyak pelumas pakai diperlukan adanya pengujian minyak pelumas secara berkala agar minyak pelumas yang dipakai dapat diketahui kualitasnya. Petunjuk-petunjuk yang bisa dipakai untuk mengidentifikasi masalah yang ditimbulkan oleh minyak pelumas, Korosi

Dapat diidentifikasi bila berat jenis dan hasil uji korosi (cooper strip corrosion) dari minyak pelumas tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Gesekan dan keausan Gesekan yang terus-menerus akan menimbulkan keausan, ini dapat diidentifikasi bila viskositas kinematis dan viskositas indeks atau kadar logam (metal content) dari minyak pelumas tersebut tidak memenuhi spesifikasi atau juga disebabkan adanya logam dalam minyak pelumas pada penambahan aditif. Bahaya kebakaran Dapat terjadi bila titik nyala dari minyak pelumas tidak memenuhi spesifikasi dari minyak pelumas yang telah ditentukan. Kotoran atau lumpur Adanya kotoran atau lumpur dalam minyak pelumas dapat diidentifikasi bila tegangan permukaan, kadar abu dan angka kenetralan dari minyak pelumas tersebut tidak memenuhi spesifikasi yang sudah ditentukan.