Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Manusia membutuhkan berbagai macam informasi untuk mempermudah aktivitas dalam hidupnya. Proses penginderaan merupakan proses mendeteksi adanya fenomena, rangsangan (stimulus) maupun informasi di sekeliling kita. Mata sebagai alat indera penglihatan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Karena dengan menggunakan mata, banyak objek dan kejadian yang dapat kita ketahui. Dengan penglihatan, pekerjaan dapat dilakukan dengan baik, karena seluruh objek dan kejadian dapat diketahui. Dikarenakan peranannya yang sangat penting dalam melaksanakan suatu pekerjaan, khususnya dalam dunia industri. Maka, kemampuan alat penglihatan yang maksimal sangat diperlukan meskipun funsi mata itu sendiri juga dipengaruhi oleh hal-hal lain diluar objek penglihatan. Namun demikian, kemampuan mata untuk melihat pada dasarnya dibatasi oleh sejumlah faktor seperti kemampuan akomodasi, jarak pandang, ukuran objek, kekontrasan waran serta pencahayaannya. Keterbatasan untuk melihat akan memiliki dampak pada perencanaa display sebagai penyampaian informasi. Dalam suatu lingkungan kerja, penyampaian informasi merupakan hal yang sangat penting agar terhindar dari kesalahan. Kondisi lingkungan kerja berpengaruh terhadap lingkuungan kerja.

1.2. Perumusan Masalah Pokok masalah yang diambil dalam pembahasan ini adalah mengenai sistem penginderaan dan kepekaan menangkap informasi yang masih belum baik. Untuk dapat menghindari kesalahan dalam mengerjakan pekerjaan, maka fungsi penginderaan harus dimanfaatkan secara tepat sehingga dapat menghasilkan hasil yang optimal.

1.3. Tujuan Praktikum Tujuan utama dari praktikum pengindraan dan informasi ini adalah untuk: 1. Mengetahui manfaat pengindraan dan informasi yang lebih baik dalam sistem perancangan kerja. 2. Mengetahui masalah penginderaan dan informasi yang lebih baik dalam sistem perencanaan kerja. 3. Mengetahui keterbatasan fungsi alat indera yang dimiliki oleh manusia dalam melakukan pekerjaan. 4. Mengetahui rancangan informasi berupa teks maupun simbol-simbol. 5. Mengetahui manfaat kontras warna dan dimensi objek yang baik dalam perancangan proyek. 6. Dapat memperbaiki sistem penginderaan dan informasi menjadi lebih baik.

1.4. Pembatasan Masalah Agar permasalahan yang akan diangkat tidak melebar, maka perlu adanya pembatasan masalah. Pembatan masalah dalam melakukan prktikum pengindraan dan informasi ini adalah: 1. Kegiatan yang dilakukan adalah membaca semua huruf dengan jarak tertentu dan pada derajat kebisingan serta tingkat pencahayaan yang berbeda. 2. Pada laporan ini proses penginderaan dibatasi dengan menggunakan tabel snellens dan display warna. 3. Jarak pengindraan untuk kegiatan praktikum ini adalah:

a. Tabel snellens b. Display warna

: 5 meter : 5 meter

4. Pembacaan huruf dilakukan di dalam dan di luar ruangan.

BAB II STUDI PUSTAKA

2.1. Display Display merupakan bagian dari lingkungan yang perlu memberi informasi kepada pekerja agar tugas-tugasnya menjadi lancar. Arti informasi ini cukup luas, menyangkut semua rangsangan yang diterima oleh indera manusia baik langsung maupun tidak langsung. Display berfungsi sebagai Sistem Komunikasi yang menghubungkan fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia, contoh dari display diantaranya adalah jarum speedometer, keadaan jalan raya memberikan informasi langsung ke mata, peta yang menggambarkan keadaan suatu kota. Jalan raya merupakan contoh dari display langsung, karena kondisi lingkungan jalan bisa langsung diterima oleh pengemudi. Dalam cahaya tenang, kepekaan yang relatif dari mata digunakan untuk membedakan warna, pengaruh dari terangnya suatu objek tergantung pada keadaan penerimaan dari mata. Sedang penerangan dari suatu objek tergantung pada suasana terang yang ada disekelilingnya, dimana mata dapat menerima keadaan tersebut.

Informasi - informasi yang dibutuhkan dalam membuat suatu display yang tepat dan baik, antara lain: 1. Tipe teknologi yang digunakan untuk menampilkan informasi. 2. Rentang total dari variabel mengenai informasi mana yang akan ditampilkan. 3. Ketepatan dan Sensitivitas maksimal yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi. 4. Kecepatan total dari variabel yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi. 5. Minimasi kesalahan dalam pembacaan display jarak normal dan maksimal antara display dan pengguna display. 6. Lingkungan dimana display tersebut digunakan. Agar suatu display dapat menyajikan informasi-informasi yang diperlukan manusia dalam melaksanakan pekerjaannya, maka display harus dirancang dengan baik. Perancangan display yang baik adalah bila dapat menyampaikan informasi selengkap mungkin tanpa banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya. Suatu display yang baik harus dapat menyampaikan pesan tertentu sesuai dengan tulisan atau gambar yang dimaksud. Ciri-ciri display yang baik adalah: 1. Dapat menyampaikan pesan. 2. Bentuk atau gambar menarik dan menggambarkan kejadian. 3. Menggunakan warna mencolok dan menarik perhatian. 4. Proporsi gambar dan huruf memungkinkan untuk dapat dilihat atau dibaca. 5. Menggunakan kalimat pendek dan huruf yang baik sehingga mudah dibaca. 6. Realistis sesuai dengan permasalahan dan tidak membosankan.
Tabel 2.1 : Hubungan Jarak Visual Jarak visual 0-50 51-90 91-180 181-360 Tinggi huruf/angka 0,25 0,5 0,9 1,8

361-900

3,6

2.2. Tipe-tipe Display 1. Berdasarkan tujuannya, display terbagi menjadi dua bagian, yaitu: a. Display Umum Diantaranya mengenai aturan kepentingan umum. Contoh: Dilarang Parkir. b. Display Khusus Diantaranya mengenai aturan keselamatan kerja khusus (misalnya dalam industri dan pekerjaan konstruksi). Contoh: Utamakan Keselamatan Kerja. 2. Berdasarkan lingkungannya, display terbagi menjadi dua bagian, yaitu: a. Display Statis Display yang memberikan informasi sesuatu yang tidak tergantung terhadap waktu. Contoh: peta (informasi yang menggambarkan suatu kota). b. Display Dinamis Display yang menggambarkan perubahan menurut waktu dengan variabel. Contoh: jarum speedometer dan mikroskop.

3. Berdasarkan informasinya, display terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: a. Display Kualitatif Display yang merupakan penyederhanaan dari informasi yang semula berbentuk data numerik, dan untuk menunjukkan informasi dari kondisi yang berbeda pada suatu sistem, Contoh: informasi atau tanda On Off pada generator.

b. Display Kuantitatif Display yang memperlihatkan informasi numerik, (berupa angka, nilai dari suatu variabel) dan biasanya disajikan dalam bentuk digital ataupun analog untuk suatu visual display. Contoh: digital indicator. c. Display Representatif Display yang biasanya berupa sebuah working model atau mimic diagram dari suatu mesin. Contoh: diagram sinyal lintasan kereta api.

2.3. Prinsip-prinsip Mendesain Visual Display Ada empat prinsip dalam mendesain suatu visual display, yaitu: 1. Proximity Yaitu suatu jarak terhadap susunan display yang disusun secara bersamasama dan dapat membuat suatu perkiraan atau pernyataan. 2. Similarity Menyatakan bahwa item-item yang sama akan dikelompokkan bersama-sama (warna, bentuk, ukuran) dan pada sebuah display tidak boleh menggunakan lebih dari tiga warna. 3. Symmetry Menjelaskan perancangan untuk memaksimalkan display yang lebih baik dalam bentuk simetrikal agar tulisan dan gambar seimbang. 4. Continuity Menjelaskan sistem perseptual mengekstrakan informasi kualitatif menjadi satu elemen yang utuh. Hubungan satu display dengan yang lain saling berkelanjutan membentuk satu kesatuan.

Tabel 2.2 : Standar Tingkat Pencahayaan Jenis pekerjaan Umum Ketelitian biasa Ketelitian sedang Ketelitian sangat telliti Contoh Ruang penyimpanan, gudang Pengepakan, perakitan Membaca, menulis Menggambar, inspeksi Tinggkat cahaya 80-170 200-300 500-700 1000-2000

Anda mungkin juga menyukai