Anda di halaman 1dari 29

PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIKA SISWA MTS

CIBOGO

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh : AHMAD IRVAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SUBANG 2013

LEMBAR PERSETUJUAN

PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIKA SISWA MTS CIBOGO

PROPOSAL PENELITIAN Oleh: AHMAD IRVAN

Disetujui dan disahkan Pembimbing Akademik

MILAWATY MULIASARI, M.Pd

Mengetahui Ketua Program Studi Pendidikan Matematika

Dr.Drs.H. Heryana, M.Pd

PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR MATEMATIKA SISWA MTS CIBOGO

A.

Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa, guru mempunyai peranan yang penting. Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang luas. Selain sebagai pengajar, guru dituntut berlaku sebagai pembimbing dan pendidik siswa. Proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan berpusat pada siswa di mana siswa terlibat langsung untuk menggali pengetahuan baru. Untuk itu diperlukan suatu variasi model pembelajaran yang sesuai agar siswa merasa nyaman untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada saat wawancara dengan guru matematika di MTS CIBOGO, pembelajaran untuk materi probabilitas

menggunakan metode ceramah. Siswa tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan materi dan ketika dilakukan evaluasi, banyak siswa yang tidak berhasil mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan persentase siswa yang mendapatkan nilai ulangan matematika nilai diatas 70 hanya 46,7%. Hasil penelitian Wahyudin (2000) menemukan bahwa rata-rata tingkat penguasaan matematika siswa dalam pelajaran matematika adalah 19,4% dengan simpangan baku 9,8. Juga diketahui bahwa model kurva berkaitan dengan tingkat

penguasaan para siswa adalah positif (miring ke kiri) yang berarti tingkat penguasaan siswa tersebut cenderung rendah. Secara rinci Wahyudin (2000) menemukan bahwa salah satu kecendrungan yang menyebabkan sejumlah siswa gagal menguasai dengan baik pokok-pokok bahasab dalam matematika yaitu siswa kuang memahami dan menggunakan nalar yang baik dalam menyelesaikan soal atau persoalan yang diberikan. Peneliti memperkirakan bahwa model pembelajaran RECIPROCAL

TEACHING mampu mendukung upaya peningkatan kemampuan berfikir kreatif siswa. Sebaiknya dalam menggunakan srategi ini, setiap siswa dapat merasakan semua peran sebagai predictor, clarifier, questioner dan summarizer sehingga siswa dapat memiliki keterampilan dari masing-masing peran. Menurut Ann Brown (Suyitno,UNNES 2001) , model pembelajaran berbalik (Reciprocal Teaching Model) kepada para siswa ditanamkan empat strategi pemahaman mandiri secara spesifik yaitu merangkum atau meringkas, membuat pertanyaan, mampu menjelaskan dan dapat memprediksi. Menurut Trianto (Nur dan Wikandari kencana 2010), Reciprocal Teaching Model adalah pendekatan konstruktivis yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan pertanyaan, di mana ketrampilan-ketrampilan metakognitif diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk memperbaiki kinerja berfikir kreatif siswa yang pemahaman matematikanya rendah. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh metode

pembelajaran tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kreatif siswa. Siswa

yang kreatif dalam proses belajar mengajar dimungkinkan memiliki prestasi belajar yang tinggi karena lebih mudah mengikuti pembelajaran, sedangkan siswa yang pasif cenderung lebih sulit mengikuti pembelajaran. Pada kenyataannya tidak sedikit dijumpai siswa berprestasi tinggi namun memiliki kemampuan berpikir kreatif rendah. Ini dikarenakan banyak siswa mencapai keberhasilan akademis tetapi hanya sedikit menunjukkan kemampuan kreativitas dalam proses belajar mengajar. Melalui tindakan tersebut diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah kemampuan berfikir kreatif siswa dengan model RECIPROCAL TEACHING lebih baik dari pada yang menggunakan metode kenvensional? 2. Bagaimanakah respon siswa tehadap penerapan pembelajaran matematika dengan menggunakan model RECIPROCAL TEACHING?

C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematik siswa MTS yang memperoleh pembelajaran matematika menggunakan model RECIPROCAL TEACHING lebih baik daripada yang menggunakan model KONVENSIONAL 2. Untuk mengetahui respon siswa tehadap penerapan pembelajaran matematika dengan menggunakan model RECIPROCAL TEACHING.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Secara umum peneliti memberikan sumbangan kepada dunia pendidikan untuk dapat meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa dan memberikan

gambaran yang jelas pada guru tentang model pembelajaran Reciprocal Teaching dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. 2. Manfaat praktis a. Bagi siswa Dapat memberikan pengalaman langsung mengenai adanya kebebasan berpikir kreatif dalam belajar matematika secara aktif, kreatif dan menyenangkan melalui kegiatan yang sesuai dengan perkembangan berpikirnya. b. Bagi guru Dapat memberikan sumbangan dalam upaya peningkatan kualitas

pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. c. Bagi peneliti Dapat dipergunakan untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam memahami peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui model pembelajaran Reciprocal Teaching.

d. Bagi peneliti lainnya Dapat digunakan sebagai bahan acuan dan pertimbangan pengembangan penelitian yang sejenis.

E. Definisi Operasional Definisi Reciprocal teaching (Palincsar, 1986) mengacu pada kegiatan pembelajaran yang terjadi dalam bentuk dialog antara guru dan siswa mengenai segmen teks dialog ini disusun dengan menggunakan empat strategi: Meringkas, menghasilkan pertanyaan, menjelaskan, dan memprediksi. Guru dan siswa bergiliran mengasumsikan peran guru dalam memimpin dialog ini. Tujuan pengajaran timbal balik adalah untuk memfasilitasi upaya kelompok antara guru dan siswa serta antara siswa dalam tugas membawa makna teks. Setiap strategi yang dipilih untuk tujuan berikut: Meringkas memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dan

mengintegrasikan informasi yang paling penting dalam teks. Menghasilkan Pertanyaan memperkuat strategi merangkum dan membawa pelajar satu langkah lebih panjang dalam kegiatan pemahaman. Menjelaskan merupakan aktivitas yang sangat penting ketika bekerja dengan siswa yang memiliki riwayat kesulitan pemahaman. Memprediksi terjadi ketika siswa berhipotesis apa yang penulis akan membahas berikutnya dalam teks.

Secara ringkas, setiap strategi dipilih sebagai alat membantu siswa untuk membangun makna dari teks dan juga sebagai alat pemantauan membaca mereka untuk memastikan bahwa mereka sebenarnya memahami apa yang mereka baca. Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Johnson (2000), mengemukakan keterampilan berpikir dapat dibedakan menjadi berpikir kritis dan berpikir kreatif. Kedua jenis berpikir ini disebut juga sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi (Liliasari, 2002). Berpikir kreatif adalah proses berpikir yang menghasilkan gagasan asli atau orisinal, konstruktif, dan menekankan pada aspek intuitif dan rasional (Johnson, 2000). Pemahaman umum mengenai berpikir kritis, sebenarnya adalah pencerminan dari apa yang digagas oleh John Dewey sejak tahun 1916 sebagai inkuiri ilmiah dan merupakan suatu cara untuk membangun pengetahuan.

F. Hipotesis Tindakan Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Pengaruh model pembelajaran RECIPROCAL TEACHING terhadap kemampuan berfikir kreatif matematik siswa lebih baik dari pada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional.

G. DASAR TEORI 1. Pembelajaran matematik a. Hakikat pembelajaran matematika Baharudin dan Esa Nur Wahyuni (2007: 12) mengungkapkan bahwa belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalamanpengalaman. Sedangkan menurut Hamalik (2008: 28) bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui pelatihan atau pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Menurut Sagala (2006: 9) mengajar adalah suatu proses yaitu mengatur, menggorganisasikan lingkungan disekitar anak didik melakukan proses belajar mengajar. Selain itu menurut Sudjana (dalam Djamarah dan Zain 2006:45) mengajar adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Hal ini juga diperkuat oleh Hamalik (2008: 58) mengajar adalah seni yang melibatkan intuisi, imajinasi, ekspresi, dan improvisasi pada proses belajar mengajar. Beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah memberikan sesuatu dengan bimbingan dan membantu anak didik (siswa) dengan seni yang melibatkan intuisi, imajinasi, ekspresi, dan

improvisasi dalam mengembangkan potensi anak didik yang dimiliki, sehingga potensi tersebut dapat berkembang secara maksimal. Jadi proses belajar mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar dan mengajar. Belajar mengacu pada apa yang dilakukan oleh siswa, sedangkan mengajar mengacu kepada apa yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin belajar. Pada proses belajar mengajar, siswa bukan dipandang sebagai objek tetapi dipandang sebagai subjek. Konsep matematika tidak dipandang sebagai barang jadi yang sebagai bahan informasi untuk siswa. Namun, guru diharapkan merancang pembelajaran matematika sehingga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada siswa untuk berperan aktif dalam membangun konsep secara sendiri atau bersama-sama. Sagala ( 2006: 61 ) pebelajaran adalah proses komunikasi dua arah ,mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik , sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Sejalan dengan itu menurut Tim MKPBM (2001: 9) pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Menurut UUSPN no. 20 tahun 2003 (dalam Sagala 2006:62) menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah proses komunikasi antara guru dengan siswa melalui interaksi belajar mengajar sehingga terjadi perubahan sikap dan pola pikir siswa. Matematika itu sendiri mengandung banyak pengertian seperti yang diungkapkan oleh Soedjadi (2000:11) sebagai berikut: 1. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematis 2. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulus. 3. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logika dan

berhubungan dengan bilangan 4. Matematika adalah pengetahuan tentang faktor-faktor kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. 5. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat. Evawati Alisah (dalam http://mellyirzal.blogspot.com/2008/12

/komunikasi-matematika.html) matematika adalah sebuah bahasa, ini artinya matematika merupakan sebuah cara mengungkapkan atau menerangkan dengan cara tertentu. Dalam hal ini yang dipakai oleh bahasa matematika ialah dengan menggunakan simbol-simbol. Sejalan dengan itu Jujun S. Suriasumantri (dalam http://mellyirzal. logspot.com/2008/12/komunikasimatematika.html) mengatakan, matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita

sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya, tanpa itu matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Cockroft dalam Wardhani (2008: 19) menyatakan bahwa matematika merupakan alat komunikasi yang sangat kuat, teliti, dan tidak membingungkan. Komunikasi ide-ide, gagasan pada operasi atau pembuktian matematika banyak melibatkan kata-kata, lambang matematis, dan bilangan. Belajar matematika pada hakikatnya adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dari struktur-struktur, hubungan-hubungan, simbolsimbol, dan manipulasikan konsep-konsep yang dihasilkaan kesituasi yang nyata ,sehingga menyebabkan perubahan. Melalui pembelajaran matematika siswa diharapkan siswa dapat menata nalarnya, membentuk kepribadiannya serta dapat menerapkan matematika dalam kehidupannya sehari-hari atau dapat digunakan sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing (Soedjadi, 2000:45). Menurut Depdiknas (dalam Yulistina: 2010) mengemukakan tujuan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut : 1. Matematika sebagai cara komunikasi yaitu matematika memiliki lambang-lambang, nama-nama, istilah-istilah yang dapat dijadikan unsur bahasa, yang dapat diterjemahkan suatu ungkapan bahasa Indonesia menjadi ungkapan matematika.

2. Matematika

sebagai

cara

berfikir

nalar

yaitu,

berfikir

nalar

dikembangkan dalam matematika dengan metode deduktif dan induktif dimana berfikir nalar ini memungkinkan siswa selalu bersikap kritis terhadap suatu pernyataan. 3. Matematika sebagai alat memecahkan masalah yaitu karena matematika memiliki model pembahasan, baik dengan gambar, diagram atau grafik, maka masalah kehidupan sehari-hari atau masalah keilmuan dapat diterjemahkan kedalam bahasa matematika, selanjutnya karena

matematika memilki operasi dan prosedur maka model matematika itu dapat diolah untuk mencari pemecahan daari suaatu masalah. Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika tersebut, siswa harus balajar secara aktif untuk memaksimalkan kemampuan yang dimilkinya. b. Pembelajaran Reciprocal Teaching Reciprocal Teaching adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu menyimpulkan bahan ajar, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa. Menurut Palincsar dan Brown seperti yang dikutip oleh Slavin (1997) bahwa strategi reciprocal teaching adalah pendekatan konstruktivis yang didasarkan pada prinsip-prinsip membuat pertanyaan, mengajarkan

keterampilan metakognitif melalui pengajaran, dan pemodelan oleh guru untuk meningkatkan keterampilan membaca pada siswa yang berkemampuan rendah. Reciprocal teaching adalah prosedur pengajaran atau pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa tentang strategi-strategi kognitif serta untuk membantu siswa memahami bacaan dengan baik Dengan menggunakan pendekatan reciprocal teaching siswa diajarkan empat strategi pemahaman dan pengaturan diri spesifik, yaitu merangkum bacaan, mengajukan pertanyaan, memprediksi materi lanjutan, dan mengklarifikasi istilah-istilah yang sulit dipahami. Untuk mempelajari strategi-strategi tersebut guru dan siswa membaca bahan pelajaran yang ditugaskan di dalam kelompok kecil, guru memodelkan empat keterampilan tersebut di atas (Nur, 2004). Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan Reciprocal Teaching merupakan strategi dalam pembelajaran yang menekankan pada pemahaman mandiri siswa, sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep matematika. Langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran berbalik adalah sebagai berikut : 1. Siswa mempelajari materi pelajaran yang diberikan secara mandiri. Selanjutnya merangkum atau meringkas materi tersebut dan membuat

pertanyaan soal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari beserta jawabannya. 2. Siswa diberikan umpan balik, dukungan dan rangsangan ketika mempelajari tersebut secara mandiri. 3. Setelah dikoreksi, beberapa siswa diminta (sebagai wakil yang mantap dalam mengembangkan soalnya) untuk menjelaskan/menyajikan hasil temuannya di depan kelas. 4. Mengungkapkan kembali pengembangan soal tersebut untuk melihat pemahaman siswa yang lain melalui metode tanya jawab. 5. 6. Siswa diberi tugas soal latihan secara individual. Segera melakukan refleksi/evaluasi diri untuk mengamati keberhasilan penerapan model pembelajaran berbalik dilakukannya. c. Kemampuan Berfikir Matematik Salah satu masalah dalam pembelajaran matematika di MTS CIBOGO adalah rendahnya kemampuan berfikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang dikemas dalam bentuk soal yang lebih menekankan pada pemahaman dan penguasaan konsep suatu pokok bahasan tertentu. Sebagaimana mengacu pada pedoman penilaian PuskurPLP (2004), penilaian hasil belajar matematika siswa meliputi 3 aspek yaitu: pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, dan pemecahan masalah. Kemampuan berfikir kreatif siswa yang rendah dalam aspek penguasaan konsep merupakan hal penting yang harus ditindaklanjuti.

Kemampuan penguasaan konsep matematika dapat dilihat pada hasil belajar yang ditunjukkan siswa baik selama maupun setelah proses pembelajaran berlangsung. Kemudian meningkatkan kemampuan ini, maka lebih ditekankan pada perlakuan yang diberikan kepada siswa dengan menerapkan strategi pemahaman mandiri dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, guru harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang tepat yaitu pendekatan Reciprocal Teaching. Pembelajaran matematika dengan pendekatan Reciprocal Teaching dilakukan dengan menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu menyimpulkan bahan ajar, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa. Pembelajaran dengan pendekatan Reciprocal Teaching dapat

meningkatkan motivasi dan kemandirian siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Pendekatan Reciprocal Teaching dapat meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa dalam pembelajaran matematika. Adapun indicator dari berfikir kreatif sebagai beriku: Indikator Berpikir Kreatif Menurut Guilford dalam Jill E. F & R. Schirrmacher mengemukakan bahwa indikator berpikir kreatif yaitu fluency, flexibility, originality dan elaborate. Terakhir yaitu menurut Balka yaitu fluency, flexibility, originality.

Sehingga berdasarkan pemaparan definisi menurut para ahli dapat disimpulkan kemampuan berpikir kreatif seseorang dapat ditinjau

berdasarkan empat indikator, yaitu fluency, flexibility, originality dan elaborate. Fluency atau berpikir lancar memiliki ciri-ciri diantaranya: (1) Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau jawaban. (2) Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal. (3) Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban. Flexibiliti atau berpikir luwes memiliki ciri-ciri diantaranya: (1) Menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi. (2) Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. (3) Mencari banyak alternative atau arah yang berbeda-beda. (4) Mampu mengubah cara pendekatan atau pemikiran. Originality atau orisinil memiliki ciri-ciri diantaranya: (1) Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik. (2) Memikirkan cara-cara yang tak lazim untuk mengungkapkan diri. (3) Mampu membuat kombinasi yang tak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur. Elaborate (Elaboration) atau elaboratif memiliki ciri-ciri diantaranya: (1) Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk.

(2) Menambah atau merinci detail-detail dari suatu objek, gagasan atau dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.

d. Pembelajaran konvensional Pembelajaran konvensional mempunyai beberapa pengertian menurut para ahli, diantaranya menurut Ujang Sukandi (Kholik, 2011) mendefenisikan bahwa pembelajaran konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak mengajarkan tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Disini terlihat bahwa pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah

pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai pentransfer ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai penerima ilmu. Depdiknas (Yasa, 2008) mengutarakan bahwa pembelajaran

konvensional cenderung pada belajar hapalan yang mentolerir respon-respon yang bersifat konvergen, menekankan informasi konsep, latihan soal dalam teks, serta penilaian masih bersifat tradisional dengan paper dan pencil test yang hanya menuntut pada satu jawaban benar. Belajar hapalan mengacu pada penghapalan fakta-fakta, hubungan-hubungan, prinsip, dan konsep. Burrowes (Juliantara, 2009) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang

dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. pembelajaran berpusat pada guru, terjadi passive learning, interaksi di antara siswa kurang, tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan penilaian bersifat sporadis. Menurut Brooks & Brooks (Juliantara, 2009), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses meniru dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar. Institute of Computer Technology (Astuti, 2010) menyebutnya dengan istilah Pengajaran Tradisional. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Metode mengajar yang lebih banyak digunakan guru dalam pendekatan pembelajaran konvensional adalah metode ekspositori. Menurut Suherman (2008:33), metode ekspositori adalah ceramah sebagai metode dominan, tapi divariasikan dengan penggunaan metode lain dan disertai

dengan ilustrasi gambar atau tulisan tentang pokok-pokok materi untuk diekspos sehingga lebih menjelaskan sajian. Sunarto (2009) menjelaskan bahwa metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru secara cermat. Penggunaan metode ekspositori merupakan metode pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung. Selanjutnya Sunarto (2009) menjelaskan, kegiatan guru berbicara pada metode ekspositori hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja, seperti pada awal pembelajaran, menerangkan materi, memberikan contoh soal. Kegiatan siswa tidak hanya mendengarkan, membuat catatan, atau memperhatikan saja, tetapi mengerjakan soal-soal latihan, mungkin dalam kegiatan ini siswa saling bertanya. Mengerjakan soal latihan bersama dengan temannya, dan seorang siswa diminta mengerjakan di papan tulis. Saat kegiatan siswa mengerjakan latihan, kegiatan guru memeriksa pekerjaan siswa secara individual dan menjelaskan kembali secara individual. Apabila dipandang masih banyak pekerjaan siswa belum sempurna, kegiatan tersebut diikuti penjelasan secara klasikal.

Roy Killen (Sanjaya, 2008:299) menamakan metode ekspositori dengan dengan istilah strategi pembelajaran langsung (direct insruction), karena dalam strategi ini materi pembelajaran disampaikan langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut menemukan materi itu. Materi seakan-akan telah jadi. Oleh karena itu, Sanjaya (2008:299) mengatakan bahwa metode ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan dengan istilah metode chalk and talk. Dari beberapa pendapat di atas, maka pembelajaran konvensional yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan metode ekspositori dimana metode ini mengombinasikan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Pemberian tugas diberikan guru berupa soal-soal (pekerjaan rumah) yang dikerjakan secara individual atau kelompok. Adapun untuk hasil belajar, alat evaluasi yang digunakan adalah tes yang telah dibuat oleh guru. Astuti (2010) menjelaskan bahwa pembelajaran konvensional ini dipandang efektif atau mempunyai keunggulan, terutama: 1. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. 2. Menyampaikan informasi dengan cepat. 3. Membangkitkan minat akan informasi. 4. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan. 5. Mudah digunakan dalam proses belajar mengajar.

Namun demikian, Astuti (2010) pun menjelaskan bahwa pembelajaran konvensional mempunyai lebih banyak kelemahan sebagai berikut: 1. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan. 2. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari. 3. Pembelajaran tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis. 4. Pembelajaran tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi. 5. Kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities). 6. Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung. 7. Para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu. 8. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas. 9. Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat menghafal.

H. METODOLOGI PENELITIAN 1. Metode Penilitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dalam pembelajaran RECIPROCAL TEACING untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa. Penelitian ii dilakukan atas dasar observasi terhadap proses pembelajaran matematika di SMP. Rencana pembelajaran yang telah disusun

berupa

penerapan

pembelajaran

RECIPROCAL

TEACING.

kajian

difokuskan pada aktifitas siswa selama pembelajaran, perubahan pemahaman konsep pada siswa dan sikap siswa dalam penbelajaran RECIPROCAL TEACING 1) Desain Penelitian Desain merupakan kerangka, pola, atau rancangan yang

menggambarkan arah penelitian. Penelitian ini merupakan studi eksperiman dengan desain penelitian berbentuk Pre-test Post-test Control Group Design. Didalamnya terdapat langkah langkah atau tahap-tahap yang menunjukan suatu urutan kegiatan penelitian yaitu pretes, perlkuan dan postes. Kelas yang pertama adalah kelas eksperimen (X) dankelas yang kedua adalah kelas kontrol. Menurut RESUFFENDI (1994:45) desain penelitian ini digambarkan sebagai berikut: A : A : O O X O O

Keterangan : A = pemilihan sampel secara acak O = tes awal, tes akhir pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol X = perlakuan pembelajaran RECIPROCALTEACING 2) Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini dilakukan disalah satu MTS Negeri di Kabupatn Subang. Siswa yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VII sesuai dengan alokasi pemberian konsep pelajaran matematika

I. INSTRUMEN PENELITIAN Untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, instrumenyang digunakan adalah instrumen tes dan non tes.Instrumen tes berupa tes kemampuan komunikasi matematis, sedangkan instrumen non tes berupa lembar observasi, dan angket. Uraian lebih rinci instrumen penelitian tersebut adalah sebagai berikut :

Instrumen Tes Kemampuan Instrumen tes ini adalah tes kemampuan berfikir matematika siswa yang akan dilakukan pada tes tertulis yang berbentuk soal-soal uraian, yang disusun untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan berfikir matematika. Tes uraian ini akan diberikan pada saat Pre-test dan post-test .tujuan nya diberikan pre-test adalah untuk mengetahui kemampuan berfikir matematika siswa sebelum mendapat pembelajaran Reciprocal Teaching, sedangkan Post-test diberikan untuk mengetahui kemampuan berfikir matematika siswa setelah mendapatkan pembelajaran Reciprocal Teaching .

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik, maka soal tes diujicobakan kemudian diadakan revisi terhadap item yang kurang baik atas dasar analisis uji coba. Selain itu dalam menyusun tes mengikuti ketentuanketentuan yang berlaku, juga memperhatikan saran-saran dan pertimbangan yang diajukan Guru, dan Kepala Ahli (Pembimbing) .

Lembar Observasi Lembar Observasi merupakan lembar pengamatan siswa, guru, dan proses pembelajaran berlangsung. Dengan lembar Observasi ini peneliti dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh peneliti dalam melakukan pelaksanaan evaluasi.

Angket Angket yakni instrument yang digunakan untuk memperoleh data sikap dan minat terhadap pembelajaran Reciprocal teacing .

J. ANALISIS DATA Agar mendapatkan instrument yang memadai, maka sebelum instrument tersebut digunakan terlebih dahulu dilakukan uji coba dan kemudian dianalisis dengan metode analisis sebagai berikut :

1. Validitas Validitas tes merupakan ukuran kesahihan tes yaitu kemampuan soal tersebut untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menentukan validitas item tes objektif digunakan rumus korelasi produk-moment dengan angka kasar. Rumus ini digunakan karena skor tiap item sama yaitu jika betul diberi skor 1 dan jika salah diberi skor 0 (Suharsismi Arikunto, 1996; 72). Adapun rumus validitas tes uraian adalah sebagai berikut : * ( ) ( ) ( ) +* ( ) +

Keterangan : r_xy = koefisien korelasi nilai x dengan nilai y n = banyak siswa . x = skor butir soal yang dicari validitasnya . y = skor total . 2. Reliabilitas Untuk menentukan reliabilitas item digunakan uji Spearman-Brown metode belah dua ganjil genap. Rumus reliabilitas tes pilihan ganda yang digunakan adalah : ( Dengan : r_11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan . n = banyak butir soal. s_i^2 = varians skor setiap item . )( )

s_t^2 = varians skor total yang diperoleh siswa . (Suherman,2003 ;153-154) 3. Daya Pembeda Untuk menganalisis daya pembeda (D), yaitu mengkaji soal-soal tes dari segi kesanggupan tes tersebut dapat membedakan siswa termasuk kedalam kategori sangat jelek, agak baik, baik, sangat baik. DP Dengan : DP = daya pembeda . S_A = jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah . S_B = jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah . I_A = jumlah skor ideal salah satu kelompok pada butir soal pilihan. 4. Tingkat Kesukaran Menghitung indek kesukaran item (P), pada dasarnya digunakan untuk memperoleh soal-soal yang termasuk dalam kategori sangat mudah, mudah, sedang, dan sangat sukar. Dengan rumus berikut :

Dengan : TK = tingkat kesukaran . Sr = jumlah skor yang diperoleh seluruh siswa pada satu butir soal yang diolah . Ir = jumlah skor ideal maksimum yang diperoleh pada satu butir soal yang tersebut .

( To,1996 ;16 )

DAFTAR PUSTAKA

Pratt, Dave and Ramesh Kapadia. 2009. Shaping The Experience of Young and Nave Probabilists. International Electronic Journal of Mathematics Education / Vol. 4 No. 3, 323-338 Kapadia, Ramesh. 2009. Chance Encounters-20 Years Later Fundamental Ideas in Teaching Probability at School Level. International Electronic Journal of Mathematics Education / Vol. 4 No. 3, 371-386

Supraptojiel. 2008. Meningkatkan Ketrampilan Berfikir untuk Meningkatkan Mutu Pembekajaran. http://ipotes.wordpress.com/2008/meningkatkan-

ketrampilan-berfikir/. diakses tanggal 20 April 2011 Sutama. 2010. Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Semarang: CV Citra Mandiri Utama. Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara. Hamzah. 2000. Pembelajaran Matematika I. Jakarta: Bumi Aksara. Palincar, A&Brown,A. 1984. Model Reciprocal Teaching of Comprehention forestering and Comprehention.