Anda di halaman 1dari 36

ANALISA YURIDIS PROSES PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM (STUDI KASUS PEMBANGUNAN JALAN TOL

TRANS KOTA SEMARANG-SOLO)

Oleh: Justitia Avila Veda 1106056466

Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dewasa ini, kompleksnya kebutuhan manusia menyebabkan semakin kompleks pula aktivitas yang berkembang di masyarakat. Aktivitas-aktivitas tersebut tentunya membutuhkan tanah sebagai wadah pelaksanaannya. Di atas tanah tersebut akan dibangung gedung-gedung, bangunan, dan segala jenis infrastruktur yang ditujukan sebagai sarana pendukung aktivitas manusia. Dalam konteks ini, fungsi dan peran tanah dalam berbagai sektor kehidupan manusia memiliki tiga aspek yang sangat strategis, yaitu aspek ekonomi, politik dan hukum, dan aspek sosial. 1 Tanah menjadi suatu objek penggerak ekonomi negara yang pengunaannya tidak dapat dipisahkan dari politik dan hukum, sekaligus memiliki fungsi untuk mewujudkan kemanfaatan bersama. Namun yang menjadi masalah, jumlah tanah yang ada tidak seimbang dengan besarnya kebutuhan masyarakat untuk melakukan pembangunan demi terlaksananya aktivitas-aktivitas tadi. Kondisi ini yang menjadi ironi, karena di satu sisi tanah berharga sangat tinggi karena permintaannya ( demand), tapi di lain pihak jumlah tanah tidak sesuai dengan penawarannya (supply).2 Yang lebih buruk, tanah memiliki sifat permanen, yang artinya tidak dapat bertambah. Kondisi ini yang menyebabkan stagnansi jika dihubungkan dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan masalah pembangunan.3 Salah satu masalah kebutuhan tanah yang cukup krusial adalah dalam bidang transportasi. Di masa sekarang, kebutuhan transportasi meningkat pesat seiring dengan berkembang pula aktivitas manusia yang menuntut manusia untuk memiliki mobilitas tinggi. Transportasi menghubungkan satu komponen kegiatan dengan komponen lainnya, sehingga tanpa transportasi, sulit dibayangkan kesulitan yang akan dihadapi manusia. Sehubungan dengan kebutuhan transportasi tersebut, pemerintah banyak mencanangkan program pembangunan jalan tol. Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang
1

Y. Wartaya Winangun, SJ, Tanah Sumber Nilai Hidup, Cetakan I, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hal. 21. Bambang Tri Cahyo, Ekonomi Pertanahan, Yogyakarta: Liberty, 1983, hal. 16 Effendi Perangin, Praktek Permohonan Hak Atas Tanah, Jakarta:Rajawali Press, 1991, hal. 55

2 3

penggunanya diwajibkan membayar tol. 4 Jalan tol ini banyak dikenal sebagai jalan lintas wilayah yang kondisinya baik dan bebas dari macet. Oleh karenanya, dewasa ini kebutuhan atas jalan tol terus meningkat. Di daerah Pulau Jawa saja, kebutuhan tanah untuk jalan tol bertambah 31,7%, yakni 1.510,88 Ha dari sebelmnya 4.761,96 Ha menjadi 6.272,84 Ha. Sedangkan angka tanah yang dapat dimanfaatkan tidak mencapai angka tersebut. Dalam mengatasi permasalahan ini, pemerintah membentuk suatu mekanisme pengadaan tanah bagi kepentingan umum yang selanjutnya diatur dalam UU No. 2 Tahun 2012. Undang-undnag tersebut mengatur bahwa demi kepentingan umum, tanah perlu dibebaskan dari hak perseorangan yang membebaninya melalui serangkaian prosedur dan berujung pada pemberian ganti-rugi bagi pihak pengemban hak atas tanah sebelumnya. Hal ini bersesuaian dengan semangat hukum pertanahan Indonesia yang menyatakan bahwa tanah harus memiliki fungsi sosial. 5 Fungsi sosial ini menuntut adanya keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Adanya keseimbangan natara kedua kepentingan tersebut diharapkan dapat tercapai keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat. 6 Hal tersebut yang kemudian menjadi justifikasi untuk melakukan pengadaan tanah, dalam konteks memprioritaskan kepentingan umum di atas kepentingan perseorangan sehubungan dengan penggunaan tanah. Pada prinsipnya, pengadaan tanah dilakukan dengan cara musyawarah antar pihak yang memerlukan tanah dan pemegang hak atas tanah yang tanahnya diperlukan untuk kegiatan pembangunan. 7 Namun sayangnya UU No. 2 Tahun 2012 tersebut belum dapat berlaku secara efektif karena masih banyak penyelewengan dalam pelaksanaannya. Praktik serupa munculnya calo-calo pembeli tanah masyarakat, penentuan besaran ganti-rugi yang dirasa tidak adil, pembayaran yang tidak tepat waktu, eksekusi pembebasan tanah dengan cara koersif, dan sebagainya, adalah hal-hal yang mudah ditemukan dalam praktik pengadaan tanah. Sehubungan dengan hal tersebut, makalah ini disusun bertujuan untuk mencari tau bagaimana persisnya praktik pengadaan tanah di

Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol. PP No. 15 Tahun 2005 ini telah mengalami perubahan yang diatur dalam PP No. 44 Tahun 2009. Pasal 6 UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria Sudargo Gautama, Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria, Bandung: Alumni, 1984, hal 21 Maria S.W. Sumardjono, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Jakarta: Kompas, 2008, hal. 280.

5 6 7

lapangan serta kesesuaiannya dengan ketentuan perundang-undangan. Dengan mengetahui titik masalah dalam pengadaan tanah, diharapkan dapat ditemukan jalan keluar yang solutif supaya pengadaan tanah yang awalnya bertujuan mulia, tidak berubah menjadi momok bagi masyarakat.

B. Perumusan Masalah 1. Bagaimana kondisi dari proses pengadaan tanah untuk Jalan Tol SemarangSolo? 2. Bagaimanakah kesesuaian praktik pengadaan tanah untuk Jalan Tol SemarangSolo dengan ketentuan perundang-undangan?

C. Konstruksi Gagasan/Ide Pokok Di tengah tingginya kebutuhan atas tanah bagi pembangunan jalan tol, pengadaan tanah adalah suatu hal yang memang harus ditempuh. Hal ini bersesuaian dengan konsep tanah yang memiliki fungsi sosial, sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 1960. Ketentuan tersebut mengatur bahwa hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang tidaklah dapat dibenarkan, bahwa tanahnya akan dipergunakan (atau tidak dipergunakan) semata-mata untuk kepentingan pribadinya. 8 Keberadaan tanah tersebut juga harus memberikan kemanfaatan bagi kepentingan masyarakat dan negara. Namun prinsip tanah berfungsi sosial ini harus diinterpretasikan bahwa tanah harus digunakan sesuai dengan sifat dan tujuan haknya, sehingga bermanfaat bagi si pemegang hak dan bagi masyarakat, serta bahwa kepentingan perseorangan itu diakui dan dihormati
9

dalam

rangka

pelaksanaan

kepentingan

masyarakat

secara

keseluruhan.

Oleh karenanya, pengadaan tanah dengan alasan kepentingan umum tidak boleh secara serta-merta menginjak-injak hak perorangan begitu saja. Meskipun memang perlu diakui, pengadaan tanah yang notabene adalah pembebasan hak atas tanah karena permintaan pemerintah disertai ganti rugi menjadikan hak perorangan lebih inferior daripada kepentingan umum. Namun potensi terinjak-injaknya hak perorangan atas tanah harus diminimalisasi setidak-tidaknya dengan mematuhi
8 9

Penjelasan Umum II angka 4 UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria Maria S.W. Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi, Jakarta: Kompas, 2006. Hal.97.

ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan serta mengkaji kondisi masyarakat yang bersangkutan.

D. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Umum Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji titik permasalahan dalam pengadaan tanah bagi kepentingan umum, khususnya dalam pembangunan jalan tol sehingga nantinya dapat ditemukan penyelesaiannya supaya pengadaan tanah untuk waktu berikutnya dapat sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. 2. Tujuan Khusus Berdasarkan tujuan umum tersebut, dapat dirumuskan dua tujuan khusus dari penelitian ini, yaitu: a. Menunjukkan tidak sinkronnya ketentuan yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan dengan implementasinya dalam dunia praktik b. Menggambarkan kondisi sosiologis dari masyarakat yang tanahnya menjadi objek pengadaan tanah bagi pembangunan jalan tol c. Merumuskan langkah awal dari penyelesaian masalah yang bersangkutan 3. Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan maaklah ini meliputi: a. Memberikan rekomendasi dalam melaksanakan pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat sehingga pengadaan tanah dapat berjalan dengan baik b. Memberikan gambaran penyelesaian proses pengadaan tanah dalam hal mekanisme yang ditetapkan oleh undang-undang kurang dapat berjalan secara efektif

E. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah yuridis normatif, dengan pisau analisa berupa peraturan perundang-undangan tentang pengadaan tanah bagi kepentingan umum, berdasarkan bahan yang berhasil dihimpun dari referensi berupa buku, jurnal, serta hasil penelitian yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Filosofi Hukum Tanah di Indonesia Hukum tanah Indonesia sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria mengandung semangat hukum adat yang telah lama berlaku di Indonesia.10 Hukum tanah yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1960 ini merupakan wujud aktualisasi nilai-nilai yang telah lama berkembang di tengah masyarakat berupa hukum adat yang telah diubah berdasarkan kreasi negara sesuai dengan kepentingan masyarakat dalam negara yang modern. 11 Keberadaan UU No 5 Tahun 1960 sendiri selain menegaskan keberlakuan hukum adat tentang tanah, secara otomatis menyatakan tidak berlakunya ketentuan hukum tanah Barat yang digunakan ada masa penjajahan Belanda. Ketentuan tentang hukum tanah Barat mengandung nilai yang sangat berbeda dengan ketentuan hukum adat. Dalam konsep Barat, yang diperkenalkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, kepemilikan tanah didasarkan pada pembenaran yuridis secara ipso jure melalui kontrak panjang (lange contracten) atau pernyataan pendek (korte verklaringen) antara penguasa dengan masyarakat pribumi. 12 Sebagai kelanjutan dari hukum barat ini, muncul Agrarische Wet (S.1870 No.55) yang menyatakan bahwa tanah-tanah di Jawa dan Madura yang tidak dapat dibuktikan status kepemilikannya secara yuridis, merupakan tanah Negara atau

domeinverklaaring. Selanjutnya, masyarakat yang ingin menggunakan tanah tersebut harus membuat kontra sewa-menyewa dengan pemerintah. Ketentuan yang seperti ini yang membuat banyak masyarakat pribumi menjadi sengsara, karena praktik sewamenyewa itu pun mengharuskan adanya pembayaran dari penyewa. Berlawanan dengan konsep hukum barat, hukum adat tentang pertanahan mengenal adanya hak ulayat, yaitu hak masyarakat sebagai suatu kesatuan hukum. Hak ini memberikan kesempatan bagi masyarakat yang memilikinya untuk menarik manfaat dari tanah terseebut. Selain itu, hukum tanah adat mendasarkan kepemilikan tanah secara ipso facto. Tanah tersebut dipandang sebagai milik seseorang apabila
10 11 12

Hal ini dinyatakan dalam Penjelasan Umum UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria Penjelasan Umum Angka III angka (1) UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria Ade Saptomo, Hukum dan Kearifan Lokal, Revitalisasi Hukum Adat Nusantara, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010, hal 14.

orang yang bersangkutan mengusahakannya secara kasat mata. Penguasaan terusmenerus yang intensif akan melahirkan hak individual atas tanah di tengah hak ulayat, yang akan kembali ke dalam kekuasaan hak ulayat itu sendiri apabila tanah tadi ditelantarkan.13 Pandangan hukum tanah adat yang demikian berangkat dari pemahaman bahwa Tuhan menciptakan bumi, air, dan sumber daya di dalamnya sebagai sarana untuk membantu manusia hidup. Sehingga manusia harus berusaha untuk memanfaatkan dan melestarikan bumi, air, dan sumber daya di dalamnya dengan sebaik-baiknya karena pada dasarnya, manusia memiliki hubungan religius yang tidak dapat dipisahkan dari bumi itu sendiri.14 Pendangan yang demikian berlaku dan melekat dalam rasa hukum masarakat Indonesia semenjak lama dan telah diamalkan secara terus menerus, yang kemudian menjelma sebagai living laws atau hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat.15 Berlakunya UUPA menegaskan bahwa hubungan banga Indonesia dengan tanah adalah hak ulayat yang diangkat pada tingkatan yang mengenai seluruh wilayah negara. 16 Hak ulayat ini mengahruskan adanya penggunaan dan pemanfaatan tanah. Berlandaskan konsep tersebut, dalam UUPA dimunculkan fungsi sosial tanah, yang melarang seseorang menggunakan atau tidak menggunakan tanah sehingga merugikan kepentingan rakyat.17 Hak ulayat pada tingkat seluruh wilayah negara ini selanjutnya disebut sebagai hak bangsa Indoensia yang pelaksanaannya berada di tangan negara sebagai organisasi kekuasaan bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, negara berhak mengatur, menentukan, dan mengawasi penggunaan dari tanah Indonesia dengan tetap mengutamakan kemanfaatan bagi masyarakatnya. Hukum tanah yang demikian dirasa sesuai dengan prinip masyarakat Indonesia yang cenderung bersifat komunalistik. Oleh karenanya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Habermas bahwa validitas hukum ditentukan oleh konsensus yang dibuat oleh elemen-elemen

13

Achmad Sodiki, Penataan Kepemilikan Hak Atas Tanah di Daerah Perkebunan Kabupaten Malang, Disertasi, PPs Universitas Airlangga, 1994, hal. 19. Filosofi ini juga dimuat dalam penjelasan Pasal 1 UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria Freiderich Carl Von Savigny, mengatakan bahwa hukum itu bukan hanya dikeluarkan oleh penguasa public dalambentuk perundang-undangan, namun hukum adalah jiwa bangsa (Volkgeist). Sumber: Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif, Jakarta:PT Kompas Media Nusantara, 2006, hal. 164 Penjelasan Umum Angka II angka (1) UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria Penjelasan Umum Angka II angka (4) UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria

14

15

16 17

masyarakat,18 keberlakuan hukum tanah yang efektif berawal dari nilai-nilai yang tumbuh dan diyakini oleh warga masyarakat serta disepakati masyarakat untuk diamalkan secara bersama-sama.

B. Konsep Negara Kesejahteraan (Welfare State) Indonesia Pengadaan tanah untuk kepentingan umum merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan pemerintah berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya untuk memajukan kesejahteraan umum. 19 Inilah yang menjadikan Indonesia sebagai Negara kesejahteraan atau yang kerap disebut dengan istilah welfare state.20 Welfare state atau verzorgingstaat sering disebut sebagai negara berdasar atas hukum yang material/sosial. Negara ini berkewajiban menyelenggarakan kesejahteraan rakyat, sehingga campur tangan pemerintah dalam mengurusi kepentingan ekonomi rakyat, kepentingan politik dan sosial, kepentingan budaya dan lingkungan hidupnya serta masalah-masalah lainnya tidak dapat dielakkan. 21 Indonesia sebagai negara kesejahteraan dapat diidentifikasi melalui semangat yang terkandung dalam Aline kePembukaan UUD 1945 yang berbunyi, .. membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.. Semangat tersebut selanjutnya diejawentahkan dalam pasal 33 ayat (3) UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa, Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

18

Lihat Reza A.A. Wattimena, Melampaui Negara Hukum Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2007, hal. 16-17.

Klasik, Locke-Rousseau-Habermas,

19

Yanto Sufriadi, Penyebab Sengketa Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum (Studi Kasus Sengketa Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum di Bengkulu), Jurnal Hukum No. 1 Vol. 18 Januari 2011, hal 42-62. Welfare state adalah bentuk perkembangan terkahir dalam negara hukum yang sebelumnya melalui tahapan: 1) Polizeistaat, negara dengan kekuasaan monarki absolut yang menguasai seluruh kehidupan masyarakat; 2) Rechstaat sempit/liberal, negara berfungsi sebagai penjaga malam yang hanya akan bertindak apabila ada gangguan tehadap ketertiban dan ketenangan masyarakat; 3) Rechstaat formal, negara melakukan pengaturan untuk kepentingan masyarakat khususnya dalam hal-hal yang memang tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh rakyat Maria Farida Indrati S., Ilmu Perundang-Undagan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2007, hal 240.

20

21

Dalam konteks pertanahan, negara diberi wewenang untuk menguasai tanah dan menentukan bagaimana penggunaannya. 22 Berkaitan dengan kewenangan ini, untuk menyelenggarakan penyediaan tanah bagi berbagai keperluan masyarakat dan negara, pemerintah dapat mencabut hak-hak atas tanah dengan memberikan ganti kerugian yang layak menurut cara yang diatur dengan undang-undang.23 Hal ini juga tergambarkan pada sila ke-5 Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang memiliki makna bahwa harus ada pemerataan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Tidak boleh ada penyedotan keuntungan dari warga yang stau kepada warga yang lain. 24 Kemanfaatan tersebut harus dibagi sama rata demi keberlangsungan hidup bersama.

C. Proses Pengadaan Tanah untuk kepentingan Umum Pengadaan tanah adalah kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberi ganti kerugian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak 25 karena telah melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang tidak terpisahkan dengan tanah. Pengadaan ini ditujukan bagi terselenggaranya kepentingan umum, yaitu kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan yang memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain menyangkut perlindungan hak-hak individu sebagai

warga negara, dan menyangkut pengadaan serta pemeliharaan sarana publik, dan pelayanan kepada publik. 26 Tujuan dari pengadaan tanah ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, negara, dan masyarakat dengan tetap menjamin kepentingan hukum pihak yang berhak.27

22

Wewenang ini terkandung dalam hak menguasai negara yang diatur dalam Pasal 2 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1960 yang meliputi: a) mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa; b) menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa; c) menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa. Pasal 18 UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria

23 24

Kuntjoro Purbopranoto, Hak-Hak Asasi Manusia dan Pancasila, Jakarta: Pradnya Paramita, 1982, hal 37. 25 Pasal 1 angka 2 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum
26

27

Maria S.W. Sumardjono, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Jakarta: Kompas, 2008, hal. 282. Pasal 3 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum

Mekanisme pengadaan tanah yang diatur dalam UU No. 2 Tahun 2012 menyempurnakan mekanisme yang sebelumnya diatur Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005, juga Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksana Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005. Dalam instrumen hukum sebelumnya, pengadaan tanah dapat dilakukan melalui pencabutan hak atau secara paksa dan melalui musyawarah untuk mencapai persetujuan antara pemegang hak dengan calon penerima hak. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum melalui pencabutan hak merupakan kewenangan Presiden yang diwujudkan melalui Keputusan Presiden. Mekanisme ini cenderung bersifat koersif dan kurang memberikan rasa keadilan bagi pihak pemegang hak atas tanah, meskipun penggunaannya sebagai ultimum remedium atau jalan terakhir. Dalam pengaturan yang baru, pengadaan tanah ini dilakukan oleh pemerintah dengan dana yang juga disediakan oleh pemerintah untuk pembayaran ganti rugi. 28 Pelaksanaannya harus memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pembangunan dan kepentingan masyarakat29, sehingga harus melaui proses perencanaan dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Selain perencanaan, pengadaan tanah harus melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan penyerahan hasil. 30 Perencanaan harus dibuat berdasarkan Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah dengan membuat dokueman perencanaan yang mengandung data terperinci mengenai pengadaan tanah yang akan dilakukan. Setelah melalui tahap perencanaan, dilakukan tahap persiapan yang meliputi pemberitahuan rencana pembangunan, pendataan awal lokasi rencana pembangunan, dan konsultasi publik. 31 Dalam hal tercapai kesepakatan, maka pengadaan tanah berlanjut pada tahap pelaksanaan. Apabila masih ada keberatan, akan dibentuk tim pengkaji yang nantinya akan menghasilkan segala

28

Pasal 4 dan Pasal 6 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum 29 Pasal 10 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum 30 Pasal 13 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum 31 Pasal 16 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum

10

pertimbangan sebagai dasar dikeluarkannya penetapan lokasi untuk pengadaan tanah oleh Gubernur. 32 Tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan yang meliputi kegiatan inventarisasi dan identifikasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, penilaian ganti kerugian, musyawarah penetapan ganti rugi, dan pelepasan tanah instansi. 33 Apabila musyawarah tidak mencapai hasil, pihak-pihak pemangku kepentingan dapat mengajukan keberatan hingga akhrnya muncul penetapan dari pemerintah. Setelahnya, dilakukan pembayaran ganti-rugi kepada pihak yang berhak. Apabila pihak yang berhak tidak mau menerimanya, pembayaran ganti rugi dapat dititipkan kepada pengadilan negeri setempat atau konsinyiasi. 34 Setelahnya, tanah harus dilepaskan dan statusnya berubah menjadi tanah negara. Instansi yang membutuhkan tanah tersebut harus mengajukan permohonan hak terlebih dahulu sebelum dapat menggunakan tanah hasil pengadaan tanah. Pada dasarnya, ketentuan dalam UU No. 2 Tahun 2012 tidak banyak berbeda dengan ketentuan yang dimuat dalam instrumen hukum tentang pengadaan tanah hukum terdahulu yaitu Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005, juga Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksana Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005. Ketentuan-ketentuan tersebut banyak mengalami perkembangan dan penyempurnaan jika dibandingkan dengan ketentuan dalam UU No. 20 Tahun 1961 yang memperbolehkan dilakukannnya pencabutan tanah secara serta-merta dengan Keputusan Presiden meskipun terjadi penolakan di tengah masyarakat pemegang hak. PP No. 65 tahun 2006 mengatur bahwa mekanisme pengadaan tanah dilakukan dengan cara pembebasan disertai dengan pembayraan ganti rugi dalam bentuk uang, tanah pengganti, pemukiman kembali, gabungna dari dua atau lebih

32

Pasal 21 dan 22 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum 33 Pasal 27 UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum 34 Pasal 42 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum

11

pilihan-pilihan tersebut, atau bentuk lain yang disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Ganti rugi besarannya ditentukan berdasarkan35: a. Nilai Jual Objek Pajak atau nilai nyata/sebenarnya dengan

memperhatikan Nilai Jual Objek Pajak tahun berjalan berdasarkan penetapan Lembaga atau Tim Penilai Harga Tanah yang ditunjuk oleh panitia. b. Nilai jual bangunan yang ditaksir oleh perangkat daerah yang bertanggungjawab di bidang bangunan. c. Nilai jual tanaman yang diatur oleh instansi perangkat daerah yang bertanggungjawab dibidang pertanian. Penetapan ganti rugi ini dilakukan setelah dilakukan musyawarah untuk mencapai mufakat. Apabila tidak tercapai mufakat di antara para pihak, Panitia Pengadaan Tanah dapat menitipkan ganti rugi ke pengadilan negeri atau konsinyasi. Meskipun lembaga ini dikenal dalam instrumen hukum pengadaan tanah dari waktu ke waktu, tetapi pada dasarnya konsinyasi agak bertentangan dengan asas-asas yang berlaku mengenai penguasaan tanah. Hukum tanah nasional menyatakan bahwa dalam keadaan biasa, diperlukan oleh siapapun dan untuk keperluan apapun, perolehan tanah yang dibebani hak seseorang harus melalui musyawarah baik mengenai penyerahan tanahnya maupun mengenai imbalan yang merupakan hak pemegang hak atas tanah yang bersangkutan.36 Oleh karenanya, dalam keadaan biasa, penggunaan lembaga konsinyasi sebagaimana diatur dalam pasal 1404 KUHPerdata pun seharusnya dihindari karena tegrolong dalam bentuk pemaksaan kepada peemgang hak atas tanah.

D. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual merupakan kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang ingin atau akan diteliti. 37 Beberapa definisi yang dirumuskan untuk mempermudah penggambaran konsep-konsep dalam penelitian meliputi:

35

Pasal 15 Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 36 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undnag-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2003, hal. 3.
37

Soerjono Soekanto (b), Pengantar Penelitian Hukum, Cet.3, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1986, hal.132.

12

1. Pengadaan Tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda berkaitan dengan tanah.38 2. Kepentingan masyarakat.39 3. Pelepasan atau penyerahan hak atas tanah adalah kegiatan melepaskan hubungan hukum antara pemegang hak atas tanah dengan tanah yang dikuasainya dengan memberikan ganti rugi atas dasar musyawarah. 40 4. Panitia Pengadaan Tanah adalah panitia yang dibentuk untuk membantu pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. 41 5. Musyawarah adalah kegiatan yang mengandung proses saling mendengar, saling memberi dan saling menerima pendapat, serta keinginan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan masalah lain yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah atas dasar kesukarelaan dan kesetaraan antara pihak yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah dengan pihak yang memerlukan tanah.42 6. Ganti rugi adalah penggantian terhadap kerugian baik bersifat fisik dan/atau non fisik sebagai akibat pengadaan tanah kepada yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan/atau bendabenda lain yang berkaitan dengan tanah yang dapat memberikan kelangsungan hidup yang lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah. 43 Umum adalah kepentingan sebagian besar lapisan

38

39

40

41

42

43

Pasal 1 angka 3 Perpres No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Perpres No. 36 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pasal 1 angka 5 Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pasal 1 angka 6 Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pasal 1 angka 9 Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pasal 1 angka 10 Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pasal 1 angka 11 Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Tahun 2005 Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan

13

BAB III PEMBAHASAN

A. Kondisi Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo Jalan tol Semarang-Solo merupakan salah satu program pemerintah dalam bidang pembangunan infrastruktur bagi kepentingan umum. Program ini dilaksanakan oleh PT. Jasa Marga melalui penunjukkan yang dilakukan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dengan memberikan Hak Pengusahaan Jalan Tol Semarang-Solo pada tahun 2005 kepada persero yang bersangkutan. Dalam praktiknya, PT. Jasa Marga bekerja sama dengan PT. Sarana Pembangunan Jawa Tengah (PT. SPJT) yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Propinsi Jawa Tengah untuk membentuk perusahaan gabungan bernama PT. Trans Mega Jawa Tengah yang merupakan perusahaan swasta untuk melaksanakan pengelolaan Jalan Tol SemarangSolo.44 Program pembangunan jalan tol ini merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang dituangkan dalam pasal 20 ayat (6) huruf a Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 6 Tahun 2010 untuk kurun waktu 2009 hingga 2029. Dalam pelaksanaan rencana tersebut, sebanyak 625 bidang tanah di Kecamatan Banyumanik dan Tembalang akan dibebaska. Bidang-bidang tanah tersebut meliputi tanah yang terletak di Kelurahan Sumurboto sbanyak 45 bidang tanah, di daerah Pedalangan sebanyak 162 bidang tanah, di daerah Padangsari sebanyak 76 bidang tanah, di daerah Gedawang sebanyak 185 bidang tanah, di daerah Pudakpayung sebanyak 140 bidang tanah, dan di daerah Kramas sebanyak 17 bidang tanah. Lima kelurahan pertama berada di wilayah Kecamatan Banyumanik, sedangkan Kelurahan Kramas berada dalam wilayah Kecamatan Tembalang.45 Setidak-tidaknya pembangunan jalan tol ini membutuhkan tanah seluas 804,4 Ha. Untuk wilayah Semarang sendiri, luas tanah yang terkena proyek yang bersangkutan adalah 480.340 m2. Sehubungan dengan hal tersebut, telah dipersiapkan kegiatan

44 45

Profil PT. Trans Mega Jawa Tengah, http://transmargajateng.com/index.php/info-perusahaan, Dinyatakan oleh Asisten Tata Praja Setda Kota Semarang, Drs Soemarmo HS dalam suatu kesempatan. Sumber: Budiman, 625 Bidang Tanah Akan Dibebaskan, suaramerdeka.com (23 Agustus 2005), http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/23/kot08.htm, diundug tanggal 4 Juni 2013.

14

pemasangan patok, sosialisasi, inventarisasi tanah, pengukuran, rapat hasil pengukuran, musyawarah, pembayaran, dan administrasi pembayaran. Jalan tol sepanjang 75,70 km ini nantinya akan melintasi wilayah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar yang pembangunannya terbagi menjadi 5 seksi. Kelima seksi tersebut meliputi46: 1. Seksi I, pembangunan dari Tembalang hingga Ungaran dengan panjang jalan tol 16,3 km. Status saat ini adalah operasi terbatas. 2. Seksi II, pembangunan dari Ungaran-Bawen dengan panjang jalan tol 13,33 km. Status saat ini adalah sedang dalam konstruksi. 3. Seksi III, pembangunan dari Bawen hingga Kota Salatiga dengan panjang jalan tol 18,2 km. Status saat ini adalah persiapan konstruksi. 4. Seksi IV, pembangunan dari Kota Salatiga hingga Kabupaten Boyolali dengan panjang jalan tol 22,4 km. Status saat ini adalah sedang dalam tahap pembebasan lahan. 5. Seksi V, pembanguna dari Kabupaten Boyolali hingga Kabupaten Karanganyar dengan panjang jalan tol 11,1 km. Status saat ini adalah sedang dalam tahap pembebasan lahan. Untuk mewujudkan jalan tol yang memang kini dirasa sebagai kebutuhan yang mendesak, dilakukanlah pengadaan tanah dengan cara pembebasan hak aats tanah disertai dengan pembayaran ganti rugi. Hal ini juga banyak diterapkan di wilayahwilayah lain untuk pembangunan berbagai jenis infrastruktur. Hamper di semua wilayah pula, pengadaan tanah selalu menimbulkan masalah dan ketidakadilan yang berakibat seperti: pertama, munculnya calo-calo tanah; kedua, pemilik tanah tergusur dan dirugikan karena harus pindah; ketiga, pemilik tanah yang semula di belakang menjadi di pinggir jalan dan dapat keuntungan tanpa berkeringat karena harga tanah meningkat signifikan; keempat, sisa tanah di pinggir jalan tidak teratur bentuknya; kelima, pembebasan tanah membebani anggara pemerintah. 47

46

Departemen Pekerjaan Umum, Pembangunan Jalan Tol di Indonesia: Perkembangan, Hambatan, dan Kendala. http://www1.pu.go.id/uploads/berita/ppw240311din.htm, diunduh 4 Juni 2013. Yudhi Setiawan, Instrumen Hukum Campuran (gemeenschapelijkerecht) dalam Konsolidasi Tanah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007, hal 3.

47

15

Seperti ulasan di atas, pembangunan jalan tol Semarang-Solo melalui pengadaan tanah ini juga menemui beberapa masalah. Beberapa konflik dan hambatan tersebut meliputi48: 1. Biaya yang sangat tinggi 2. Masalah pengadaan tanah/pembebasan tanah 3. Sosialisasi yang memakan waktu lama 4. Sikap masyarakat yang kurang medukung 5. Spekulan (calo) tanah yang ikut bermain Dari beberapa masalah tersebut, yang berkenaan langsung dengan tema penulisan kali ini adalah proses pengadaan tanah yang didalamnya mencakup

tahapan-tahapan pelaksanaan sesuai ketentuan yang berlaku. Pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo ini di bagi ke dalam 9 tahapan: 1. Sosialisasi 2. Pematokan ROW 3. Pengukuran ricikan 4. Inventarisasi bangunan dan tanaman 5. Pengumuman hasil ukur 6. Musyawarah harga 7. Pembayaran ganti rugi Tahapan-tahapan tersebut dilaksanakan oleh Tim Pengadaan Tanah yang memang dibentuk untuk membuat dan menyusun pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan dengan melakukan berbagai kegiatan pendahuluan dalam pelepasan/penyerahan hak atas tanah. 49 Proses pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo ini asih menggunakan ketentuan hukum yang diatur dalam Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005, juga Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksana Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005. Sehubungan dengan pelaksanaan tahapan-tahapan tersebut, masalah-masalah yang berhasil ditemukan

48

Bahan Seminar, Perkembangan Pengadaan Tanah Untuk Jalan Tol Semarang-Solo, Tahap I Semarang-Bawen, disajikan oleh Panitia Pengadaan Tanah Kota Semarang, 3 Mei 2007. Abdurrahman, Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994, hal 79.

49

16

banyak berkaitan dengan proses penentuan dan pembayaran ganti rugi kepada pihak yang berhak. Banyak artikel di media yang memberitakan bahwa musyawarah penentuan ganti-rugi bagi Warga Terkena Proyek (WTP) tidak berjalan dengan baik sehingga tak jarang ditempuh jalan konsinyasi50. Sebelunya terdapat 47 WTP yang pemenuhan ganti rugi-nya dilakukan secara konsinyasi, 10 orang di antaranya telah mengambil uang yang dititipkan pada Bank yang telah ditunjuk oleh Pengadilan Negeri setempat.51 Total nilai konsinyasi kesepuluh WTP tersbeut mencapai Rp 1.046.433.000. Namun 37 WTP lainnya masih solid untuk melanjutkan upaya hukum di PN Kabupaten Semarang yang sampai sekarang masih berjalan. 52 Sebelum dipilih jalan konsinyasi, pihak Tim Pengadaan Tanah telah berusaha melakukan musyawarah dengan pihak setempat, khususnya melalui media negosiator dan tokoh masyarakat. Namun hal itu tidak membuahkan hasil. Bahkan pada hari Senin, Tanggal 29 Oktober 2012 masyarakat merencanakan aksi protes atas proyek pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol tersebut. 53 Masalah perbedaan besaran ganti rugi yang diberikan pemerintah dengan besaran yang diterima oleh masyarakat adalah salah satu hal yang cukup memprihatinkan. Setidak-tidaknya terdapat 99 warga pemilik tanah di daerah wilayah Pringapus, Kabupaten Semarang, yang hanya memperoleh ganti rugi sebesar Rp 20.000,00/m tanah. Padahal besaran yang ditentukan oleh pemerintah mencapai Rp50.000,00/m. Total hanya Rp 13,2 milyar untuk 27,8 Ha tanah yang diperoleh warga. Belakangan baru diketahui bahwa sisa uang ganti rugi yang diberikan pemerintah justru dikorupsi oleh Tim Pengadaan Tanah. 54

50

Ketentuan mengenai konsinyasi diatur dalam Pasal 42 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Konsinyasi ini pada dasarnya merupakan suatu bentuk pemenuhan prestasi melalu cara koersif karena prestasi tersebut pada dasarnya tidak diinginkan pemenuhannya oleh masyarakat. Ranin Agung, WTP Jalan Tol Semarang-Solo Tersisa 37 Orang, suaramerdeka.com (06 Mei 2013), http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/05/06/155846/WTP-Jalan-TolSemarang-Solo-Tersisa-37-Orang, diunduh 3 Juni 2013. Diungkapkan dalam suatu kesempatan oleh Heri Sulistyono, SH, sebagai kuasa hukum dari WTP wilayah Lemah Ireng, ibid. Ranin Agung, Sesi II Tol Ungaran-Bawen, Poleres Semarang Siap Amankan Eksekusi Lahan, suaramerdeka.com (28 Oktober 2012) http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012 /10/28/133961/Sesi-II-Tol-Ungaran-Bawen-Polres-Semarang-Siap-Amankan-Eksekusi-Lahan-, diunduh 4 Juni 2013 Dalam suatu kesempatan, Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang kala itu menjabat menyatakan bahwa terdapat indikasi korupsi yang dilakukan oleh panita pengadaan tanah pada proyek pembangunan jalan tol Semarang-Solo. Panitia ini sebelumnya diduga keras melakukan korupsi dana ganti-rugi pada proyek pembebasan hutan Jatirunggo. Sumber: Budi Purwanto, Gubernur

51

52

53

54

17

Masalah pembayaran ganti rugi tak hanya berhenti pada adanya calo-calo tanah seperti yang dikemukakan di atas, namun juga muncul dari Panitia Pengadaan Tanah itu sendiri. Panitia yang bersangkutan mengutarakan adanya pemotongan uang ganti rugi tanah sebesar 10%55. Namun ironisnya, tindakan tersebut tidak disertai surat atau pemberitahuan resmi dari bagian pusat. Kepada masyarakat, Tim Pengadaan Tanah menyatakan bahwa sebenarnya tanah warga tersebut merupakan tanah negara dan pemotongan uang ganti rugi digunakan untuk biaya sertifikasi tanah yang tidak terkena pengadaan proyek jalan tol. Masyarakat yang kurang memahami aturan hukum, menerima saja alasan tersebut. Mereka menyerahkan kembali uang sebesar Rp 100.000 hingga Rp 24.000.000 kepada pihak panitia. Tak hanya itu, penelitian56 menemukan bahwa pelaksanaan pembayaran ganti kerugian dalam pelaksanaan pengadaan tanah sempat tertunda di tiga kelurahan yaitu Kelurahan Pedalangan, Kelurahan Pudak Payung, dan Kelurahan Kramas. Warga kelurahan tersebut mengalami keterlambatan pemberitahuan keputusan besaran ganti rugi ketika tahapan pengadaan tanahnya tetap berjalan. Hal-hal tersebut terjadi karena prosedur pengadaan tanah bagi kepentingan umum pada tahap musyawarah tidak berjalan dengan lancar. Pihak Tim Pengadaan Tanah tidak menjelaskan secara komperhensif komponen-komponen dari pembayaran ganti rugi. Selain itu, musyawarah antara panitia disinyalir banyak direkayasa, dimana dalam pembicaraan hal-hal tertentu sebenarnya masyarakat tidak dilibatkan57. Namun seolah-olah masyarakat dan pihak Tim Pengadaan Tanah telah mencapai kesepakatan. Berkaitan dengan hal ini, banyak ditemukan pula sertifikat jual beli palsu dan kembar, yang menyebabkan ketidakpastian atas pelaksanaan transaksi.

Jateng Minta Tim Pembebasan Tanah Tol Semarang-Solo Diganti, Tempo (26 Agustus 2010), http://www.tempo.co/read/news/2010/08/26/177274208/Gubernur-Jateng-Minta-Tim-PembebasanTanah-Tol-Semarang-Solo-Diganti, diunduh 4 Juni 2013.
55

Hal ini dikemukakan dalam suatu kesempatan oleh Suyoto (Ketua Panitia Pengadaan Tanah) dengan didampingi Tata Pemerintahan Pemkab Semarang. Sumber: Puthut Ami Luhur, Kasus Pemotongan Yang Ganti Rugi Pengadaan Tanah Proyek Jalan Tol Semarang-Solo, tribunjateng.com (11 Oktober 2011), http://jateng.tribunnews.com/2011/10/11/kasus-pemotongan-uang-ganti-rugipengadaan-tanah-proyek-jalan-tol-semarang-solo, diunduh 4 Juni 2013. Penelitian dilakukan oleh Rahmania Fitria, Sumber: Pelaksanaan Pemberian Ganti Kerugian Tahap I-III Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, Thesis, Universitas Diponegoro, 2009. Den Gal, Ada Rekayasa Musyawarah Harga, kompas.com (26 Agustus 2010), http://nasional.kompas.com/read /2010/08/26/11115285/ diunduh pada 4 Juni 2013.

56

57

18

B. Kesesuaian Praktik Pengadaan Tanah Untuk Jalan Tol Semarang-Solo Dengan Ketentuan Perundang-Undangan Sebelum melakukan analisa terhadap pengadaan tanah bagi pembangunan jalan tol Semarang-Solo, perlu ditentukan terlebih dahulu instrumen hukum yang akan digunakan sebagai pisau analisa. Proyek pengadaan tanah untuk pembanguan jalan tol ini telah dimulai semenjak tahun 2005, yang mana pada saat itu instrumen hukum tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umu adalah Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005, juga Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksana Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005. Sedangkan, pada masa sekarang ini, pengadaan tanah untuk kepentingan umum diatur dengan UU No.2 Tahun 2012. Untuk menentukan instrumen hukum mana yang harus dijadikan dasar, perlu dilihat ketentuan dalam pasal 58 UU No. 2 Tahun 2012 tentang ketentuan peralihan. Pada huruf a dinyatakan bahwa, proses pengadaan tanah yang sedang dilaksanakan sebelum berlakunya Undang-Undang ini diselesaikan berdasarkan ketentuan sebelum berlakunya Undang-Undang ini. Kemudian pada huruf b dinyatakan bahwa, sisa tanah yang belum selesai pengadaannya dalam proses pengadaan tanah sebagaimana dimaksud dalam huruf a, pengadaannya diselesaikan berdasarkan ketentan yang diatur dalam undang-undang ini. Dari uraian tersebut, baik instrumen hukum yang lama ataupun yang baru sehubungan dengan pengadaan tanah tetaplah berlaku, disesuaikan dengan kurun waktu pelaksanaannya. Saat ini, jalan tol Seksi I telah beroperasi dengan baik. Jalan tol Seksi II sedang menjalani proses penyempurnaan dan bersiap untuk beroperasi. Sedangkan jalan tol Seksi III, IV, dan V sedang dalam proses pembebasan lahan proyek yang direncanakan akan selesai pada Bulan Maret 2013. 58 Namun terdapat sedikit kendala dalam Seksi IV yang pelaksanaanya tidak selancar pelaksanaan pada seksi lain. Seksi IV masih terus melakukan sosialisasi dan melakukan pengecekan sertifikat-sertifikat tanah milik masyarakat sebelum dilakukan pembayaran ganti rugi. Dalam kondisi ini, maka instrumen hukum yang digunakan sebagai pisau analisa adalah ketentuan dalam Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan
58

Royce Wijaya, Salatiga Hampir Rampung, Boyolali 70 Persen suaramerdeka.com (26 Januari 2013), http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/01/26/143055/SalatigaHampir-Rampung-Boyolali-70-Persen, diunduh 4 Juni 2013.

19

Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005, juga Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksana Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005. Untuk mengetahui apakah pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo ini telah sesuai dengan instrumen hukum yang berlaku, maka perlu dilakukan analisa terhadap setiap komponen pelaksanaan dari kegiatan yang

bersangkutan. Menurut pasal 1 angka 3 PP No. 65 Tahun 2006, pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Definisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari tujuan proses pengadaan tanah, yaitu untuk mewujudkan pelaksanaan kepentingan umum yang diberikan oleh Pasal 1 angka 5 Perpres No. 36 Tahun 2005 yaitu kepentingan sebagian besar lapisan masyarakat. Dalam kasus di atas, pengadaan tanah dilakukan dalam rangka mewujudkan kepentingan umum berupa pembangunan jalan tol trans-nasional sebagai sarana dan pra sarana transportasi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat secara luas. Tanpa jalan tol, niscaya kegiatan masyarakat akan terganggu dan dampat berdampak pada terhambatnya kegiatan pembangunan di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Kemungkinan tersbeut dapat terjadi mengingat transportasi adalah hal yang tak dapat dipisahkan dari setiap kegiatan manusia. Hal ini juga bersesuaian dengan pedoman umum penentuan kepentingan umum yang diatur dalam Instruksi Presiden No. 9 Tahun 1973 tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan Benda-benda yang Ada di Atasnya. Pasal 1 ayat (1) Inpres yang bersangkutan menyatakan bahwa suatu kegaiatn dalam rangka pelaksanaan pembangunan mempunyai sifat kepentingan umum apabila kegiatan tersebut menyangkut: a. Kepentingan Bangsa dan Negara, dan/atau b. Kepentingan masyarakat luas, dan/atau c. Kepentingan rakyat banyak/bersama, dan/atau d. Kepentingan pembangunan Dalam konteks ini, pembangunan jalan tol Semarang-Solo tergolong dalam jenis kepentingan umum sebagaimana dinyatakan dalam pasal 5 ayat (2) Perpres No. 36 tahun 2005 hruuf a, yang berbunyi, Pembangunan untuk kepentingan umum yang
20

dilaksanakan Pemerintah atau Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, yang selanjutnya dimiliki atau akan dimiliki oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah, meliputi : a. jalan umum dan jalan tol, rel kereta api (di atas tanah, di ruang atas tanah, ataupun di ruang bawah tanah), saluran air minum/air bersih, saluran pembuangan air dan sanitasi;.. Selanjutnya, pengadaan tanah tersebut dilakukan dengan cara pelepasan hak atau penyerahan hak 59 dengan memperoleh ganti rugi. Mekanisme pelepasan atau penyerahan hak ini dilakukan apabila tanah yang dibutuhkan adalah tanah yang dibebani hak, sedangkan subjek calon pemakai tanah tersebut tidak memenuhi syarat sebagai pemegang hak.60 Dalam kasus tersebut, tanah yang akan digunakan untuk membangun sebelumnya adalah tanah milik masyarakat sebagaimana dibuktikan dengan sertifikat hak milik. Di samping itu, ada pula tanah negara yang sebelumnya tidak dipergunakan untuk kegiatan apapun, lalu dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk dijadikan tempat tinggal tanpa didahui dengan permohonan hak atas tanah yang bersangkutan. Pada dasarnya, untuk kondisi yang demikian, tanahnya perlu dimohonkan terlebih dahulu untuk selanjutnya dilakukan pendaftaran tanah. Hal ini penting, mengingat perolehan hak atas tanah di Indonesia menggunakan sistem pendaftaran hak atau registration of titles61, yang artinya hak tersebut tidak akan lahir apabila belum didaftarkan sesuai dengan ketentuan PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Namun, pada proses pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo, tanah yang demikian dipersamakan dengan tanah hak milik bersertifikat lainnya karena kepada pihak-pihak pengguna tanah tersebut nantinya juga akan dibayarkan ganti rugi. Dalam kondisi ini, untuk pembangunan jalan tol, tanah yang dapat digunakan adalah tanah berstatus hak pengelolaan yang berada di bawah yurisdiksi negara. Hak pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya.62 Dalam kasus ini, tanah untuk
59 60

Pasal 2 ayat (1) Perpres No. 65 Tahun 2006 Ny. Arie S. Hutagalung, Asas-Asas Hukum Agraria, Buku Ajar, percetakan FHUI, Depok, 2012, hal 140. Dari hasil pendaftaran hak, pemegang hak akan memperoleh bukti berupa: 1) Buku tanah dan surat ukur; 2) sertipikat sebagai tanda bukti hak. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 29 dan Pasal 31 PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendafataran Hak. Ibid, hal 123. Pasal 1 angka 2 PP No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai.

61

62

21

pembangunan jalan tol di atas tanah hak pengelolaan dilakukan oleh PT. Trans Mega Jawa Tengah berdasarkan pelimpahan wewenang pemerintah. Untuk mendapatkan hak pengelolaan ini, maka tanah harus bebas dari segala hak individu yang membebaninya. Baru setelahnya, kepada tanah tersebut dibebankan hak pengelolaan. Tanah yang demikian tidak dapat diperoleh dengan cara pemindahan hak melalu tindakan jual-beli, hibah, tukar-menukar, dan sebagainya. Hal ini disebabkan pemindahan hak akan menjadikan tanah tersebut tetap berstatus hak milik. Hanya saja pemegang haknya berbeda. Padahal telah dinyatakan sebelumnya, tanah untuk pembangunan jalan tol tersebut haruslah tanah hak pengelolaan. Rencana pengadaan tanah tersebut sebelumnya telah diatur dalam Rencana Tata Ruang Tata Wilayah63. Dalam kasus di atas, rencana pembangunan jalan tol Semarang-Solo telah diatur dalam Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang dituangkan dalam pasal 20 ayat (6) huruf a Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 6 Tahun 2010 untuk kurun waktu 2009 hingga 2029. Pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo, lebih lanjutnya, dilakukan melalui tahapan-tahapan berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007. 1. Tahap I adalah tahap perencanaan dan tahap penetapan lokasi: a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini, instansi pemerintah harus menyusun rencana pembangunan yang di dalamnya tercantum data-data penting meliputi maksud dan tujuan; letak dan lokasi; luasan tanah; sumber dana dan analisis kelayakan lingkungan. b. Tahap Penetapan Lokasi Setelah rencana pembangunan disusun, instansi terkait mengajukan permohonan penetapan lokasi yang akan ditelaah lebih lanjut oleh Bupati/ Walikota/ Gubernur DKI berdasarkan pertimbangan tata ruang,

penatagunaan tanah, sosial-ekonomi, lingkungan, penguasaan, pemilikan dan pemanfaatan tanah. Dalam kasus pembangunan jalan tol SemarangSolo, Surat Permohonan Penetapan Lokasi Pembangunan (SP2LP) Jalan Tol Semarang Solo diajukan oleh Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum melalui Surat Nomor UM.0103-DB/457,
63

Pasal 4 ayat (1) Perpres No. 35 Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

22

tanggal 29 Juli 2005 kepada Gubernur Jawa Tengah. Dalam konteks ini, permohonan diajukan kepada gubernur karena pembangunan yang akan dilakukan bersifat lintas kota/kabupaten dalam provinsi yang sama. Dalam permohonan tersebut, dicantumkan bahwa lokasi

pembangunan jalan tol sepanjang 75,6 Km meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Sukoharjo dengan luas tanah total kurang lebih 804,4 Ha. Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007, untuk permohonan dengan luas tanah lebih dari 50 Ha, dapat dikeluarkan keputusan penetapan lokasi yang sekaligus berlaku sebagai izin perolehan tanah untuk jangka waktu 3 tahun. Untuk menindaklanjuti permohonan melalui Surat Nomor UM.0103-DB/457, Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan Keputusan Gubernur Nomor 620/13/2005, tanggal 9 Agustus 2005 tentang Persetujuan Penetapan Lokasi Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo. Pada praktiknya, ditemukan kesalahan dalam melakukan pemetaan tanah sehingga terdapat beberapa bidang tanah yang turut menjaid objek pengadaan tanah namun tidak tercakup dalam Surat Persetujuan penetapan Lokasi Pembangunan (SP2LP) Jalan Tol Semarang-Solo. Bidang-bidang tanah ini berada dalam wilayah Kelurahan Jabangan. Oleh karenanya, pihak Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan SP2LP susulan terkait dengan bidang tanah tersebut.64 2. Tahap II Setelah tahap I terselesaikan, proses pengadaan tanah dilanjutkan dengan tahap II yang meliputi: a. Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah Pembentukan panitia pengadaan tanah bertujuan untuk membantu pelaksanaan proses pengadaan tanah. Dalam kasus pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo, dibentuklah Panitia Pengadaan Tanah (P2T) beranggotakan 9 orang berdasarkan Surat Keputusan Walikota Semarang Nomor 593.05/241,
64

Dinyatakan dalam suatu kesempatan oleh Yuwantoro, Staff Sub Seksi Pengaturan Tanah Pemerintah pada Kantor Pertanahan Kota Semarang yang juga merangkap sebagai anggota Satuan Tugas (SATGAS) Jalan Tol Semarang-Solo Ruas Semarang-Bawen, Kota Semarang.

23

tertanggal 24 Agustus 2007 tentang Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Kota Semarang. Pembentukan P2T ini telah sesuai dengan Peraturan Kepala BPN No.3 Tahun 2007. Selain P2T, dibentuk pula Satuan Tugas untuk membantuk tugas P2T berdasarkan Surat Keputusan Panitia Pengadaan tanah Nomor 593.05/293. b. Penyuluhan P2T yang telah dibentuk harus melakukan sosialisasi

sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007 tentang rencana pembangunan jalan tol Semarang-Solo yang akan menggunakan tanah hasil pembebasan hak dari warga setempat. Dalam penyuluhan ini dijelaskan pula manfaat, maksud dan tujuan

pembangunan jalan tol Solo-Semarang. Pada pelaksanaannya, muncul banyak penolakan dari warga masyarakat. Oleh karenanya, sosialisasi tetap digalakkan sampai memperoleh persetujuan dari warga setempat. Ketentuan mengatur bahwa pengadaan tanah harus dipindahkan apabila 75% pemegang hak atas tanah menolak. Namun dalam proses pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo, jumlah masyarakat yang menolak pengadaan tanah tidaklah mencapai batas yang ditetapkan, sehingga pengadaan tanah dilanjutkan. c. Identifikasi dan Inventarisasi Setelah melakukan penyuluhan dan memperoleh persetujuan dari sebagian besar anggota masyarakat, proses pengadaan tanah masuk ke dalam tahap identifikasi dan inventarisasi sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 24 Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007. Tahapan ini meliputi: 1. Penunjukan batas; 2. Pengukuran bidang tanah dan/atau bangunan; 3. Pemetaan bidang tanah dan/atau bangunan dan keliling batas bidang tanah; 4. Penetapan batas-batas bidang tanah dan/atau bangunan; 5. Pendataan penggunaan dan pemanfaatan tanah; 6. Pendataan status tanah dan/atau bangunan;

24

7. Pendataan penguasaan dan pemilikian tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman; 8. Pendataan bukti-bukti penguasaan dan pemilikan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman. Dalam pengadaan taanh untuk jalan tol Semarang-Solo, dilakukan pengukuran yang dilanjutkan dengan pematokan Right of Way (ROW) atau ruang milik jalan yang akan digunakan untuk melaksanakan proyek. Pengukuran tanah cukup terganggu karena adanya penolakan dari sebagian warga khsusunya di wilayah Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik. Masalah tersebut diselesaikan dengan cara musyawarah dengan warga setempat, hingg akhirnya pengukuran dapat dilanjutkan. Selain itu, dalam tahap ini juga ditemukan beberapa bidang tanah tempat tinggal warga yang tidak dilekati oleh hak individu. Tanah tersebut masih merupakan tanah negara. Setelahnya, dilakukan inventarisasi terhadap bangunan dan tanaman untuk mengetahui pemiliknya, jenis, kondisi, supaya dapat dicocokkan dnegan sertifikat kepemilikan (untuk bangunan). Hasil inventarisasi dan pengukuran dituangkan dalam bentuk Peta Bidang Tanah dan daftar objek ganti rugi masyarakat. d. Penunjukan Lembaga/ Tim Penilai Harga tanah Selanjutnya, P2T harus menunjuk lembaga/tim penilai harga tanah. P2T untuk proyek pembangunan jalan tol Semarang-Solo menunjuk PT. Wadantara Nilaitama, Lembaga Penilai Harga Tanah 65 untuk menaksir harga tanah yang tercantum dalam Peta Bidang Tanah. e. Penilaian Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 30 Peraturan Kepala BPN No. 3 tahun 2007, PT. Wadantara Nilaitama melakukan penilaian harga tanah berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) NJOP dengan

memerhatikan NJOP tahun berjalan. f. Musyawarah

65

Lembaga ini telah ditetapkan oleh pemerintah dan telah memperoleh lisensi dari BPN RI. Ketentuan mengenai penunjukkan lembaga penilai harga tanah diatur dalam Pasal 25, 26, 27, dan 28 Perka BPN No. 3 Tahun 2007.

25

Setelah segala keperluan administrasi pengadaan tanah selesai, dilakukan musyawarah membicarakan rencana pembangunan untuk kepentingan umum pada tanah yang masih dibebani hak warga, bentuk serta besaran pemberian ganti rugi kepada masyarakat pemegang hak. Pelaksanaan musyawarah harus dilakukan dengan berpedoman pada kesepakatan para pihak, hasil penialian, dan tenggat waktu penyelesaian proyek pembangunan. Musyawarah ini diatur dalam Pasal 31 sampai dengan Pasal 38 Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007. Dalam pelaksanaannya, musyawarah dipimpin oleh Ketua P2T kota Semarang dengan memperttemukan instansi pemerintah yang memerlukan tanah dan masyarakat secara langsung. Karena cakupan area yang akan digunakan untuk membangun jalan tol Semaran-Solo terhitung luas, musyawarah dilakukan dalam beberapa tahap. Dalam praktiknya, P2T dan warga saling mengajukan penawaran besaran ganti rugi dalam bentuk uang. Pada beberapa kecamatan ditemukan bahwa harga yang ditawarkan oleh P2T kurang lebih Rp 1.000.000-1.800.000/m2 sedangkan penawaran harga dari masyarakat berkisar antara Rp. 3.000.000-7.500.00/m2 disesuaikan dengan jenis tanahnya. Selanjutnya, P2T akan mengajukan harga tanah maksimal yang akan dibayarkan oleh pihak pemerintah. Setelah diberitahukan dan dilakukan pengarahan atas besaran maksimal tersebut, tidak terdapat pembicaraan lebih lanjut tentang tawar-menawar harga tanah dan masyarakat diberikan blangko untuk pemberkasan pengadaan tanah. Dalam kondisi tersebut, dengan diisinya blangko oleh warga masyarakat, maka telah tercapailah suatu kesepakatan, yaitu persesuaian kehendak dari kedua belah pihak 66. Meskipun akhirnya harga yang disepakati jauh dari harga penawaran yang diajukan warga masyarakat, namun masyarakat tetap melakukan penerimaan67 dengan mengisi blangko yang telah diberikan. Pada tahap musyawarah ini, P2T

66 67

Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta: Intermasa, 2005, hal 26. Perjanjian lahir pada pada detik diterimanya suatu penawaran (offerte). Apabila seseorang melakukan penawaran (offferte), dan penawaran itu diterima oleh orang lain secara tertulis, dapat diasumsikan bahwa orang tersebut menulis bahwa ia menerima penawarn tersebut. Lebih lengkapnya lihat Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta: Intermasa, 2005, hal 28.

26

tidak pernah menjelaskan adanya rencana pemotongan ganti rugi yang telah diberikan kepada masyarakat untuk keperluan pendaftaran tanah yang masih berstatus sebagai tanah negara. Selain itu, baik dalam Perpres No. 36 Tahun 2005, Perpres No. 65 Tahun 2006, dan Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007, tidak pernah diatur adanya ketentuan pemotongan besaran ganti rugi untuk keperluan pendaftaran tanah. Selain itu, yang perlu diperhatikan, pembangunan jalan tol ini merupakan program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat atas sarana dan pra sarana transportasi yang baik, karena hal ini memang merupakan kewajiban negara Indonesia sebagai negara kesejahteraan atau welfare state. Pihak penyelenggara adalah

pemerintah, maka sulit diterima logika pemikiran bahwa terhadap tanah negara yang akan dibangun jalan tol ini, negara memungut lagi biaya untuk mengurus keperluan administrasinya. Dengan demikian,

pemotongan ganti rugi yang dilakukan P2T jelas tidak berdasar dan tidak beralasan. Selain itu, melalui investigasi yang dilakukan oleh DPRD Jawa Tengah, ditemukan bahwa terdapat oknum yang melakukan jual beli dengan setempat. Oknum ini telah mengetahui adanya rencana pembangunan jalan tol sebelumnya. Ketika pengadaan tanah akan dilakukan, oknum yang biasa disebut sebagai spekulan atau calo tanah ini akan meminta ganti rugi kepada pemerintah lebih tinggi daripada besaran harga tanah yang dibelinya dari masyarakat. Hal ini sangat merugikan, karena selisih harga dasar yang berasal dari masyarakat tadinya hanya sebesar Rp 20.000/m2, namun dengan adanya spekulan, angka tersebut naik menjadi Rp50.000/m2. Hal ini juga yang menyebabkan musyawarah tersendat karena spekulan tersebut tetap bersikukuh dengan besaran uang yang diajukannya. Secara umum, nilai ganti kerugian yang telah disepakati pemerintah dan warga masyarakat sudah layak karena jauh di atas harga pasaran disesuaikan dengan jenis tanah masing-masing. P2T sendiri dalam menawarkan harga tersebut telah mengacu pada NJOP berjalan. Namun dalam musyawarah di beberapa daerah, masih terdapat warga masyarakat yang belum menyepakati harga yang telah diajukan oleh
27

P2T. Beberapa warga menuturkan bahwa nilai dalam NJOP itu tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya dan memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan perkembangan harga di pasar. Hal ini disebabkan pula oleh temuan bahw tidak ada transparansi antara P2T dengan masyarakat. Tidak seluruh laporan penaksiran harga tanah diberitahukan kepada masyarakat. Hal seperti ini yang menyebabkan adanya selisih paham antara kedua belah pihak. Sehingga masih terdapat beberapa warga yang bersikeras untuk tidak menyepakati harga yang ditetapkan berdasarkan NJOP. Dalam hal warga yang masih belum bersepakat ini berjumlah lebih dari 25% dari total pemegang hak aatas tanah, maka P2T melakukan musyawarah kembali. Mengacu pada ketentuan tersebut, P2T Kota Semarang menjadwalkan musyawarah maksimal 9 kali untuk warga yang belum bersepakat. P2T terus melakukan pendekatan dan pengarahan menegnai betapa pentingnya pembangunan jalan tol yang bersangkutan. Dalam hal masih belum tecapai kesepakatan mengenai besaran ganti rugi namun jangka waktu musyawarah telah berkahir, P2T dapat tetap menyerahkan ganti rugi dan dibuatkan Berita Acara Penyerahan Ganti Rugi. Apabila pemegang hak masih menolaknya, maka

berdasarkan Berita Acara tersebut, P2T dapat menitipkan uang ganti rugi ke pengadilan setempat atau konsinyasi dan proses pengadaan tanah dapat dilanjutkan. P2T dapat mengeluarkan Putusan Panitia Pengadaan Tanah berisi tentang besaran dan penyerahan ganti rugi yang bersangkutan. Kondisi ini ditemukan dalam proses pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo, dimana terhadap 47 warga yang tanahnya terkena proyek pengadaan tanah, ganti rugi dilakukan secara konsinyasi. Berita terkahir menyatakan bahwa akhirnya, 10 dari 47 warag tersbeut mengambil pemenuhan ganti rugi yang dititipkan di Pengadilan Negeri setempat. Di sisi lain, beberapa warga masyarakat di wilayah Lemah Ireng yang masih tidak bersepakat dengan pemberian ganti rugi tersebut mengajukan gugatan PTUN atas SK Gubernur Jawa Tengah No. 590/36/2012 tentang Pengukuhan Putusan P2T yang berisi penetapan

28

bentuk dan besraan ganti rugi parsial tanah, bangunan, dan tanaman untuk pembangunan ruas jalan tol Semarang-Solo. Jika dikaji lebih lanjut, konsinyasi ini dirasa kurang tepat jika diterapkan dalam pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo. Dalam keadaan biasa, untuk memperoleh tanah tidak dibenarkan adanya paksaan dalam bentuk apapun oleh siapapun. Termasuk juga dengan menggunakan lembaga konsinyasi. Konsinyasi ini dapat dipandang sebagai suatu bentuk pemaksaan pula, karena pada dasarnya pemegang hak atas tanah belum bersedia untuk melepaskan tanahnya. Namun karena terdapat ganti rugi yang telah dititipkan kepada pihak Pengadilan Negeri, tanah dianggap telah dibebaskan oleh pemegang haknya dan pengadaan tanah tetap dilanjutkan. Kecuali, jika instrumen hukum yang digunakan dalam pengadaan tanah ini adalah UU No 20 tahun 1961 yang memperbolehkan mekanisme pencabutan tanah secara paksa apabila sudah tidak terdapat jalan lain untuk meperoleh tanah tersebut dan pembangunan tidak dapat dipindahkan ke tempat lain. Yang lebih janggal lagi, terhadap pengukuhan putusan P2T tentang penetapan besaran ganti rugi oleh Gubernur Jawa Tengah dapat diajukan keberatan kepada Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri sesuai dengan kewenangannya, sebagaimana diatur dalam pasal 17 Perpres No. 65 Tahun 2006. Putusan P2T tersebut juga masih dapat dimohonkan banding ke Pengadilan Tinggi. Namun, ketika upaya hukum tersebut dilaksanakan, pengadaan tanah tetap berjalan dan tidak ditangguhkan. Hal ini akan menjadikan output dari upaya hukum tersebut tidak berjalan dengan efektif, karena pada akhirnya pembangunan tetap dijalankan. Pun pihak yang mengajukan keberatan dimenangkan, pembatalan terhadap pembangunan akan snagat sulit dilaksanakan serta cenderung membuang-buang biaya. Konsinyasi adalah cara yang kurang tepat, mengingat bahwa masyarakat harus merelakan tanahnya untuk suatu kegiatan

pembangunan, maka harus dijamin bahwa kesejahteraan sosial ekonomimya tidak akan menjadi lebih buruk dari keadaaan semula. Ketika konsinyasi ini dilaksanakan, kesejahteraan masyarakat justru
29

menjadi

dipertanyakan.

Mekanisme

ini

telah

melanggar

asas

kesepakatan, yaitu seluruh kegiatan pengadaan tanah dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pihak yang memerlukan tanah dan

pemegang hak atas tanah. Kegiatan fisik pembangunan baru dapat dilaksanakan bila telah terjadi kesepakatan antara para pihak dan ganti kerugian telah diserahkan.68 Lebih jauh, konsinyasi justru menyebabkan tidak terpenuhinya asas kemanfaatan, yaitu pengadaan tanah diharapkan mendatangkan dampak positif bagi pihak yang memerlukan tanah, masyarakat yang terkena dampak dan masyarakat luas. Manfaat dari hasil kegiatan pembangunan itu harus dapat dirasakan oleh masyarakat sebagai keseluruhan. 69 Namun hal ini akan sangat sulit diwujudkan apabila masyarakat sendiri masih menolak rencana pembangunan. Ke depannya, disintegrasi antara pihak pemerintah dan masyarakat bukanlah hal yang mungkin terjadi. Konsinyasi ini juga menunjukka adanya kekuasaan dominan Negara. Menurut Pluto, kepentingan negara selalu melebihi kepentingan pribadi termasuk pula milik Negara. Individu memiliki kecenderungan untuk bertindak atas dasar kepentingannya sendiri tetapi negara harus mencegahnya.70 Demikianlah gambaran yang terjadi dalam lembaga konsinyasi. Seolah-olah, P2T sebagai waki negara berusaha

memengerdilkan kekuasaan pribadi pemegang tanah atas tanahnya dengan alas an bahwa tanah tersebut digunakan untuk melaksanakan tugas negara dalam mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat umum. g. Pembayaran ganti rugi Perihal pembayaran ganti rugi diatur dalam Pasal 43 sampai dengan Pasal 47 Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007. Ganti rugi yang telah disepakati dalam bentuk uang diberikan dalam waktu paling lambat 60 hari sejak tanggal keputusan. Namun pelaksanaan pembayaran ganti kerugian dalam pelaksanaan pengadaan tanah sempat tertunda di tiga kelurahan yaitu Kelurahan Pedalangan, Kelurahan Pudak Payung, dan Kelurahan Kramas. Masyarakat juga tidak
68 69 70

Maria S. W, Sumardjono, Loc.cit., hal 272 Ibid. Soerojo Wignjodipoero, Pengantar Azas-Azas Hukum Adat, Bandung: Alumni, 1973, hal 237

30

diberitahu dengan pasti sampai kapan penundaan akan dilakukan, sehingga hal ini menyebabkan keresahan di tengah masyarakat. Pada tahap ini, masih terdapat warga masyarakat yang menolak pembayaran ganti rugi sehingga ditempuhlah jalan konsinyasi sebagaimana telah diulas sebelumnya. h. Pelepasan Hak Pelepasan hak diatur dalam Pasal 49 sampai dengan Pasal 52 Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007. Ketentuan tersebut mengatur bahwa setelah dilakukan pembayaran ganti rugi, akan dibuat surat pelepasan hak yang diikuti dengan pembuatan Berita Acara Pembayaran Ganti Rugi dan Pelepasan Hak atas Tanah atau Penyerahan Tanah oleh P2T. Setelahnya, akan dilakukan prosedur administrasi sesuai

kewenangan yang dimiliki oleh Kantor Pertanahan setempat. Saat ini, proses pembangunan jalan tol sedang berjalan. Beberapa ruas jalan tol sudah mulai beroperasi dengan baik. Beberapa ruas jalan tol lainnya sedang dalam tahap pembangunan, dan beberapa lainnya masih emngalami masalah dalam proses pemebebasan tanahnya.

31

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa: 1. Kondisi pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo banyak mengalami masalah. Masalah ini dimulai dari hal-hal yang bersifat administratif seperti ketidakjelasan batas ukur tanah, pemberitahuan keputusan ganti rugi kepada masyarakat, hingga musyawarah yang tidak mencapai kata sepakat, adanya pemotongan besaran ganti rugi tanpa didahului pemberitahuan, munculnya spekulan tanah, hingga pelaksanaan konsinyasi yang dirasa tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. 2. Pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo secara umum dapat dikatakan telah sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Hanya ditemukan satu dua saja praktik yang kurang sesuai dengan apa yang telah diatur. Permasalahan yang muncul dalam proses pengadaan tanah cenderung disebabkan karena faktor di luar penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan seperti kebuntuan dalam musyawarah, ketidaksesuaian nilai NJOP dengan harga pasar dan sebagainya, adanya spekulan, dan sebagainya.

B. Rekomendasi Atas kajian terhadap masalah-masalah yang banyak ditemukan dalam proses pengadaan, dapat diajukan rekomendasi. Untuk masalah banyaknya spekulan atau calo tanah, sekiranya pemerintah perlu melakukan pengawasan, penyidikan, dan penertiban kepada oknum-oknum yang bersangkutan mengingat keberadaan calo tanah ini justru menghambat pelaksanaan pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo. Calo tanah cenderung membeli tanah dengan harga murah dari masyarakat dan meminta ganti rugi dengan harga tinggi kepada pemerintah. Alhasil, baik masyarakat ataupun pemerintah sama-sama mengalami kerugian karena adanya sekelompok orang yang ingin menguruk keuntungan pribadi dari proyek yang bersangkutan. Pada tahap musyawarah, masalah yang bertendensi paling menghambat pelaksanaannya adalah tidak dicapainya kata sepakat antara masyarakat dengan
32

P2T mengenai harga tanah, meskipun penawaran harga yang diajukan oleh P2T didasarkan pada NJOP berjalan. Kiranya perlu dilakukan pengecakan terhadap NJOP berjalan apakah benar-benar sesuai dengan harga tanah yang beredar di pasaran. Karena sebagian pihak menyatakan bahwa harga tanah pada NJOP tidak mencerminkan harga riil. Mendiskusikan besaran harga tanah yang akan dibayarkan memanglah bukan hal yang mudah, karena masyarakat pasti mengajukan tawaran yang tinggi. Sedangkan pemerintah berusaha mengajukan harga yang rendah mengingat masih ada banyak hal yang perlu dibiayai pula. Namun bagaimana pun pula jalan musyawarah harus ditempuh supaya pihak masyarakat pun tidak merasa dirugikan. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari konsinyasi yang pada dasarnya mengandung semangat pemaksaan supaya masyarakat mau melepaskan tanahnya. Selian itu, dalam musyawarah harus dijamin transparansi antara kedua belah pihak. P2T harus memaparkan segala temuan yang diperoleh saat melakukan inventarisasi, juga tentang penaksiran harga tanah yang dilakukan oleh Tim Penaksir. P2T juga harus menjelaskan hal-hal sehubungan dengan ganti rugi yang tidak pernah disebutkan dalam peraturan perundang-undangan, seperti rencana pemotongan ganti rugi untuk biaya pendaftaran tanah. Hal ini bertujuan untuk menciptakan jepastian di tengah masyarakat dan supaya masyarakat tidak merasa dihobongi. Penting halnya untuk menjaga kepercayaan dan dukungan dari rakyat untuk memperlancar proyek yang sedang dikerjakan.

33

DAFTAR PUSTAKA Buku Abdurrahman. Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti), 1994. Cahyo, Bambang Tri. Ekonomi Pertanahan, (Yogyakarta: Liberty), 1983. Gautama, Sudargo. Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria, (Bandung: Alumni), 1984. Harsono, Boedi. Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, (Jakarta: Djambatan), 2003. Hutagalung, Ny. Arie S. Asas-Asas Hukum Agraria, Buku Ajar, (Depok: percetakan FHUI), 2012. Kartosapoetra, G. Hukum Tanah Jaminan UUPA bagi Keberhasilan Pendayagunaan Tanah, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991. Perangin, Effendi. Praktek Permohonan Hak Atas Tana, (Jakarta: Rajawali Press), 1991. Purbopranoto, Kuntjoro. Hak-Hak Azasi Manusia dan Pancasila, (Jakarta: Pradnya Paramita), 1982. Rahardjo, Satjipto. Membedah Hukum Progresif, (Jakarta:PT Kompas Media Nusantara), 2006. S., Maria Farida Indrati. Ilmu Perundang-Undangan, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius), 2007. S.J, Y. Wartaya Winangun. Tanah Sumber Nilai Hidup, Cetakan I, (Yogyakarta: Kanisius), 2004. Saptomo, Ade. Hukum dan Kearifan Lokal, Revitalisasi Hukum Adat Nusantara, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indoensia), 2010. Soekanto, Soerjono.Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia (UI-Press), 1986. Cet.3, (Jakarta: Penerbit

Sumardjono, Maria S.W. Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, (Jakarta: Kompas), 2008. __________. Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi, (Jakarta: Kompas), 2006. Subekti. Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa), 2005. Wattimena, Reza A.A. Melampaui Negara Hukum Klasik, Locke-RousseauHabermas, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius), 2007. Wignjodipoero, Soerojo. Pengantar Azas-Azas Hukum Adat, (Bandung: Alumni), 1973.

34

Jurnal Sufriadi, Yanto. Penyebab Sengketa Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum (Studi Kasus Sengketa Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum di Bengkulu), Jurnal Hukum No. 1 Vol. 18 Januari 2011.

Thesis dan Disertasi Rahmania Fitria, Pelaksanaan Pemberian Ganti Kerugian Tahap I-III Dalam Pengadaan Taah Untuk Pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, Thesis, Universitas Diponegoro, Juli 2008. Sodiki, Achmad. Penataan Kepemilikan Hak Atas Tanah di Daerah Perkebunan Kabupaten Malang, Disertasi, PPs Universitas Airlangga, 1994. Artikel, Media Massa, dan Sumber Lainnya Agung, Ranin. WTP Jalan Tol Semarang-Solo Tersisa 37 Orang, suaramerdeka.com (06 Mei 2013), http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/05/06/155846/W TP-Jalan-Tol-Semarang-Solo-Tersisa-37-Orang, diunduh 3 Juni 2013.
_________________

. Sesi II Tol Ungaran-Bawen, Poleres Semarang Siap Amankan Eksekusi Lahan, suaramerdeka.com (28 Oktober 2012) http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012 /10/28/133961/Sesi-II-Tol-Ungaran-Bawen-Polres-Semarang-Siap-AmankanEksekusi-Lahan-, diunduh 4 Juni 2013

Budiman, 625 Bidang Tanah Akan Dibebaskan, suaramerdeka.com (23 Agustus 2005), http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/23/kot08.htm, diundug tanggal 4 Juni 2013. Gal, Den. Ada Rekayasa Musyawarah Harga, kompas.com (26 Agustus 2010), http://nasional.kompas.com/read/2010/08/26/11115285/ diunduh pada 4 Juni 2013. Luhur, Puthut Ami. Kasus Pemotongan Yang Ganti Rugi Pengadaan Tanah Proyek Jalan Tol Semarang-Solo, tribunjateng.com (11 Oktober 2011), http://jateng.tribunnews.com/2011/10/11/kasus-pemotongan-uang-ganti-rugipengadaan-tanah-proyek-jalan-tol-semarang-solo, diunduh 4 Juni 2013. Purwanto, Budi. Gubernur Jateng Minta Tim Pembebasan Tanah Tol SemaranG Solo Diganti, Tempo (26 Agustus 2010), http://www.tempo.co/read/news/2010/08/26/177274208/Gubernur-JatengMinta-Tim-Pembebasan-Tanah-Tol-Semarang-Solo-Diganti, diunduh 4 Juni 2013. Wijaya, Royce. Salatiga Hampir Rampung, Boyolali 70 Persen suaramerdeka.com (26 Januari 2013)
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/01/26/143055/SalatigaHampir-Rampung-Boyolali-70-Persen, diunduh 4 Juni 2013.

35

Peraturan Perundang-Undangan

Indonesia. Undang-Undang tentang Pokok-Pokok Agraria. UU No. 5 Tahun 1960. Indonesia. Undang-Undang tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. UU No. 2 Tahun 2012. Indonesia. Peraturan Pemerintah tentang Jalan Tol. PP No. 15 Tahun 2005. Indonesia. Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol. PP No. 44 Tahun 2009. Indonesia. Peraturan Presiden tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. PP No. 36 Tahun 2005. Indonesia. Peraturan Presiden tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005. PP No. 65 Tahun 2006. Indonesia. Peraturan Kepala BPN tentang Ketentuan Pelaksana Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005. Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007.

36