Anda di halaman 1dari 10

Pertanyaan: Bagaimana pembagian harta peninggalan ayahnya yang murtad dia meninggalkan anak 3 dan istri?

Jawaban: Jika bapaknya seorang murtad dan berarti dia kafir dan jika tiga anaknya dan istrinya dari kaum muslim, maka mereka (tiga anaknya dan istrinya) tidak boleh mewarisi harta bapaknya dan suaminya yang kafir tadi. Hal ini berdasarkan sebuah hadits:

Artinya: Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Seorang kafir tidak mewarisi seorang mukmin dan seorang mukimin tidak mewarisi seorang kafir. HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami, no. 7685. Wallahu aalam.

Nasehat memilih isteri by : Al-ustadz abu zubair al-hawary Sedih aku. Kenapa ada ikhwan yang menolakakhwat hanya gara-gara fisik?! Padahal akhwat itu baik, cerdas, faham agama pula. Pokoknya insya Allah ia sholihah, tapi kenapa ada ikhwan yang menolaknya hanya gara-gara dia tidak cantik?!Mereka, para ikhwan yang mementingkan kecantikan itu, mungkin beralasan dengan berkata bahwa cantik kan termasuk di dalam syarat-syarat wanita untuk dinikahi?! Mereka pun mungkin akan bilang bahwa haditsnya shahih lho! Tapi sayang, mungkin mereka nggak baca sampai akhir kalimat bahwa memilih wanita yang baik agamanya itu lebih selamat!Mereka mungkin terus bilang, kalau mencari istri yang baik agamanya yang kebetulan cantik boleh khaaan?! Ya memang boleh, tapi pas kebetulan nggak cantik langsung di tolak khaaan?! ***

Ah, andai saja mereka tahu bahwa di zaman sekarang ini orang yang kaya itu akan semakin kaya dan yang miskin akan semakinmiskin. Dan istri yang hebat di zaman ini adalah yang sanggup hidup miskin. Dan istri yang bijak di zaman ini adalah yang sangguphidup kaya. Semua kan bisa bilang saya siap hidup susah tapi dia nggak akan sanggup kalau nggak hebat. Semua juga siap hidup enak tapi dia akan bangkrut kalaunggak bijak.

Andai saja mereka tahu bahwa istri yang hebat dan bijak itu hanya ada pada istri yangsholihah. Dia lah yang qanaah, yang sanggup hidup dalam keadaan apapun yang diberikan suaminya kepadanya. Dia akan merasa cukup atas apa yang ada. Dan akan bersyukur atas kehidupan yang menyenangkan seperti dia akan bersabar atas kehidupan yang menyusahkan. ***

Mungkin para ikhwan itu hanya memaknai wanita yang baik agamanya itu sebagai wanita yang pakai jilbab panjang dan manis kalau tersenyum. Yang mungkin dari jilbab wanita tersebut mereka bisa menilai bahwa ia faham agama, dan dari senyumannya mungkin mereka bisa menilai bawa ia baik akhlaknya. Tapi mereka tidak tahu bahwa panjangnya jilbab dan manisnya senyuman hanyalah apa yang tampak di luar, sedangkan yang tidak tampak akan mereka ketahui setelah menikah. Mereka akan tahu istri mereka sebenarnya ketika mereka sudah serumah dengannya, bukan di rumah orang tua ataupun di rumahmertua. Karena di rumah sendiri akan tampaklah seorang istri itu sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai anak orangtuanya yang manja dan selalu diturutkan keinginannya, ataupun sebagai menantu yang rajin dan akan selalu menampakkan kebaikan kepada mertuanya.

Mungkin sebaiknyalah orang-orang yang sudah menikah itu tinggal di rumahnya sendiri, walaupun harus kontrak atau kredit.Karena di rumah itu akan tampaklah sifat asli istri dalam menyikapi hidup yang diberikan suaminya kepadanya. Mereka akantahu apakah jilbab isteri mereka membuktikan kefahamannya dalam agama, dan apakah manis senyuman mereka membuktikan kebaikan akhlaknya. Tetap diapakaikah jilbab yang panjang itu ketika terik matahari panas menghujam?! Tetap adakah senyuman manis itu ketika lebat turunnya hujan?! ***

Isteri yang sholihah, dialah yang qanaah. Yang tahu hari tak selalu cerah tapi dia tak berubah. Istri yang sholihah itu tidak harus kaya, kalau pun kaya Alhamdulillah. Dia juga tidak harus cantik, kalau pun cantik itu hadiah. Isteri yang sholihah itu adalah yang qanaah, senangnya berada di rumah. Keluar rumah hanya untuk belanja atau pergi bersama suaminya. Dia tahu bahan makanan telah mengalami kenaikan harga,

dan tidak menyusahkan suaminya dengan segala tuntutannya. Ada juga memang wanita yang bekerja di luar rumah, tapi yang sholihah, dia mau berhenti kerja kalau suaminya memerintahkannya, dan tetap bekerja kalau suaminya meridhoinya. ***

Kau mungkin bingung bagaimana mungkin mendapatkan wanita shalihah sementara sedari tadi aku terus berkata yang shalihah adalah yang qanaah, sedangkan qanaah itu tidak tampak di mata. Yang jelas, nggak usah muluk-muluk cari yang cantik, karena yang cantik seperti bintang di langit. Mungkin dia mudah ditemukan, bahkan di gelap malam, tetapi sadarilah dia tak mudah dijangkau tangan. Ketika itu pun kau mungkin melihatnya berkilauan, tetapi sadarilah ketika siang dia menghilang. Isteri yang sholihah itu seperti mutiara di dasar laut, tak selalu putih terkadang terbungkus lumut. Di dalam cangkangnya dia senang berada, menjaga diri dan tak mudah digoda. Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya. Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya. ***

Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah. *Hadits Riwayat Ibn Majah+

-Mutiara-

Tiga Perkara Akhir Zaman yang Dikhawatirkan Nabi

Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku di akhir zaman adalah tiga perkara: beriman kepada bintang, mendustakan takdir, dan kezaliman penguasa. (Lihat silsilah shahihah no 1127).

1. Beriman kepada Bintang

Beriman kepada bintang yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah dua perkara:

Pertama: Meyakini bahwa bintang adalah pengatur alam semesta dan bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak bintang. Keyakinan ini adalah keyakinan yang syirik dan menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.

Kedua: Meyakini bahwa bintang berpengaruh terhadap kejadian-kejadian di muka bumi, dimana gerakan bintang dijadikan dalil bahwa akan terjadi suatu kejadian, dan ini disebut dengan ilmu tatsir yang dilakukan oleh para dukun dan bagian dari ilmu sihir yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam:

Barangsiapa yang mempelajari sebagian ilmu bintang, maka ia telah mempelajari sebuah bagian dari ilmu sihir. (HR. Abu Dawud)*1+

Keyakinan ini adalah keyakinan yang haram dengan kesepakatan para ulama, karena tidak ada yang mengetahui ilmu gaib kecuali Allah Subhanahu wa Taala, firman-Nya:

{26}

{27}

(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.(QS. Al-Jin: 26-27).

Di antara jenis perbintangan yang diharamkan adalah meramal nasib seseorang dengan bulan kelahiran lalu dihubungkan dengan salah satu gugusan bintang yang berjumlah 12 yaitu aries, taurus, gemini, cancer, leo, virgo, libra, scorpio, sagittarius, copricorn, aquarius dan pisces. Contohnya orang yang lahir antara 21 april sampai 20 mei bintangnya adalah taurus, kemudian para dukun itu memprediksikan ramalan tahun 2010 katanya, Tahun ini merupakan tahun prihatin dan hendaknya mampu menahan diri agar lebih sabar dan menghindari tindakan spekulasi. Di dalam bisnis dan pekerjaan nampaknya akan tetap terkendali namun di dalam hubungan cinta kasih dan keuangan akan mengalami gangguan dan seterusnya.[2]

Ini adalah perbuatan para dukun, yang mengaku-aku mengetahui yang gaib. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah saja sebagaimana telah kita sebutkan ayat-ayatnya, dan mengaku tahu yang gaib adalah perbuatan syirik dalam rububiyah Allah Taala.

Kedudukan Bintang Dalam Alquran

Di dalam Alquran, Allah Taala menyebutkan tiga fungsi bintang, yaitu:

Pertama: Sebagai penghias langit

Allah Taala berfirman,

Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (Nya). (QS.Al-Hijr: 16).

Allah juga berfirman,

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, Yaitu bintang-bintang. (QS. Ash-Shaffat: 6)

Kedua: Sebagai alat untuk melempar setan

Allah berfirman,

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar seatan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (QS. Al Mulk: 5)

Ketiga: Sebagai kompas penunjuk arah

Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-Anam: 97)

Dan yang ketiga ini disebut oleh para ulama dengan nama ilmu tasyiir yaitu mempelajari tempat-tempat bintang dan pergerakannya untuk mengetahui arah kiblat, mengetahui waktu; waktu-waktu yang tepat untuk bercocok tanam, berhembusnya angin, waktu musim hujan dan sejenisnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan bintang-bintang sebagai alamat (tanda) dalam firman-Nya,

Dan (dia ciptakan) tanda-tanda dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 16)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh berkata*3+:

Bintang itu adalah tanda untuk banyak perkara, contohnya adalah untuk mengetahui bahwa munculnya bintang tertentu sebagai tanda masuknya waktu isya, maka masuknya waktu bukan sebab munculnya bintang, akan tetapi ketika bintang muncul. Kita berdalil untuk masuknya waktu dan bintang bukan sebab adanya musim dingin, atau musim panas, atau sebab turunnya hujan, bukan pula sebab cocoknya bercocok tanam, akan tetapi ia hanya menunjukkan waktu saja. Jika demikian keadaannya, tidak mengapa mempelajarinya, karena Allah menjadikan munculnya bintang-bintang dan tenggelamnya sebagai tanda waktu, dan itu perkara yang diidzinkan.

Bersambung insya Allah

Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam

Perusak-perusak Niat dan Obatnya

1. Kebodohan.

Kebodohan adalah musibah yang besar menimpa kehidupan manusia, dan menjadikannya terjerumus kedalam berbagai macam penyimpangan dan kesesatan, seorang penyair berkata*1+,

Kebodohan sebelum maut adalah kematian untuk pemiliknya.

Dan badan mereka menjadi kuburan sebelum dikuburkan.

Roh mereka tidak tenang di dalam jasad mereka.

Tidak ada tempat kembali walaupun hari nusyur.

Berilmu tentang hukum suatu ibadah adalah syarat sah niat sehingga ketika seorang hamba beribadah ia dapat menentukan (tayin) niatnya dengan benar, maka bila ia tidak mengetahui hukum sebuah ibadah; wajibkah atau sunahkah, tentu ia tidak dapat mentayinnya dengan benar terlebih jika ibadah tersebut disyaratkan padanya mentayin niat sebagaimana telah kita jelaskan di bab yang pertama.

Oleh karena itu kewajiban setiap hamba adalah mempelajari hukum-hukum ibadah yang hendak ia laksanakan, agar ia dapat beribadah kepada Allah dengan benar dan sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Allah melalui lisan Rosul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Ilmu adalah obat penawar penyakit bodoh, maka menuntut ilmu adalah kewajiban bagi orang yang terkena penyakit seperti itu.

2. Waswas setan.

Setan berusaha mengggoda anak Adam dan menjerumuskannya kepada jurang Hawiyah, dengan berbagai macam cara ia menggoda manusia diantaranya adalah dengan waswas. Ibnu Qayim rahimahullah berkata: Tempat niat adalah hati dan tidak hubungan dengan lisan sama sekali, oleh karena itu tidak pernah dinukil dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pula dari para shahabat melafadzkan niat tidak pula kita mendengar mereka menyebutkanya. Bacaan-bacaan yang diada-adakan sebelum bersuci dan shalat ini menjadi makanan empuk setan untuk menggoda ahli waswas, setan menahan mereka dan menyiksanya sehingga engkau lihat salah seorang dari mereka mengulang-ulang niat dan menyusahkan dirinya untuk melafadzkannya, padahal ia bukan bagian dari shalat sama sekali.*2+

Syaikhul islam rahimahullah berkata: Diantara mereka ada yang melakukan sepuluh bidah yang tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah shallallahu alaihi wasallam tidak juga seorangpun dari shahabat, yaitu mengucapkan: Audzubillahi minasyaithanirrajim nawaitu ushalli shalatadzuhri faridlotalwaqti adaan lillahi Taala imaman au mamuman arbaa rakaat mustaqbilal qiblah. Yang artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, aku berniat melakukan shalat dzuhur kewajiban waktu itu karena Allah Taala sebagai imam atau makmum 4 rakaat dengan menghadap kiblat. Lalu ia menguatkan anggota tubuhnya, mengkerutkan dahinya, dan menegangkan urat lehernya, kemudian berteriak bertakbir seakan-akan meneriaki musuh. Padahal bila ia memeriksa sepanjang umur Nabi Nuh Alaihissalam apakah perbuatan tersebut pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam atau seorang saja dari shahabat tentu ia tidak akan mendapatkannya kecuali jika ia mau berani berdusta. Kalaulah hal itu baik tentu mereka telah mendahului dan menunjukkan kita kepadanya.*3+

Untuk menyingkap talbis iblis ini kita katakan kepada orang yang terkena waswas tersebut: Jika engkau ingin menghadirkan niat maka niat itu sebenarnya telah hadir karena engkau telah berdiri untuk melaksanakan kewajiban dan itu adalah niat sedangkan niat tempatnya di hati bukan lafadz[4], maka orang yang duduk untuk berwudlu berarti ia telah berniat wudlu, orang yang berdiri untuk shalat berarti ia telah berniat shalat, dan orang yang berakal akan berfikir bahwa semua perbuatan ibadah tidak mungkin dilakukan dengan tanpa niat, karena niat itu selalu menyertai perbuatan manusia yang bersifat ikhtiyari (dibawah kehendak manusia) tidak perlu bersusah payah untuk menghasilkannya, bahkan bila ia ingin mengosongkan perbuatannya yang bersifat ikhtiyari tentu ia tidak akan mampu, kalaulah Allah memberi beban untuk berwudlu tanpa niat tentu ia adalah beban yang tak akan ada orang yang mampu melakukannya, maka jika keadaannya demikian lalu mengapa harus bersusah payah untuk menghasilkan niat ?! dan jika ia merasa ragu apakah terhasilkan niatnya atau tidak maka ini adalah macam penyakit gila, karena pengetahuan manusia tentang dirinya adalah perkara yang bersifat yakin.[5]

Dihikayatkan dari ibnu Aqil bahwa ada seseorang bertemu dengannya dan bertanya: Aku mencuci anggota tubuhku namun aku merasa belum mencucinya, dan aku bertakbir namun aku merasa belum bertakbir ? ibnu Aqil rahimahullah menjawab: Kalau begitu tinggalkan shalat karena tidak wajib bagimu. Ada orang berkata: Mengapa engkau mengatakan demikian ? beliau menjawab: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Diangkat pena dari orang gila sampai ia waras. Dan orang yang bertakbir namun ia merasa belum bertakbir bukanlah orang yang berakal, sedangkan orang gila tidak wajib sholat.*6+ -bersambung insya AllahPenulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Artikel www.cintasunnah.com

aaa7xxx@gmail.com pswd : kurn14w4n https://accounts.google.com/ServiceLogin?service=reader&passive=1209600&continue=http://www.go ogle.com/reader/view/&followup=http://www.google.com/reader/view/

http://radiorodja.com/live-streaming/ http://insantv.com/ (Ceramah TV gaannn )