Anda di halaman 1dari 22

Kelompok I

PFA 2011

Seleksi dan Perencanaan Obat di Rumah Sakit

I. Pendahuluan Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Pelayanan farmasi juga merupakan revenue center rumah sakit, maka masalah perbekalan farmasi sebaiknya dikelola secara cermat dan penuh tanggung jawab sehingga pendapatan rumah sakit dapat terkontrol dengan baik (Maimun, 2008). Pengelolaan obat di rumah sakit merupakan aspek manajemen yang penting, karena ketidakefisiensinya akan memberikan dampak negatif bagi rumah sakit baik secara medis maupun ekonomis. Untuk menghindari terjadinya permasalahan yang berkaitan dengan ketersediaan obat-obatan maka unit pelayanan kesehatan dituntut untuk membuat manajemen obat yang sistematis sebagaimana dijelaskan dalam drug management cycle.Langkah awal dalam pengelolaan obat sebelum dilakukan pengadaan ialah tahapan seleksi, dan perencanaan obat. Kedua tahapan tersebut dilakukan untuk mendukung pengadaan obat yang tepat bagi rumah sakit.

II. Tinjauan Pustaka Menurut Hassan (1981) farmasi rumah sakit merupakan bagian atau pelayanan di rumah sakit yang dipimpin oleh seorang profesional apoteker dengan suatu kualifikasi tertentu secara resmi. Mengingat peran, tugas dan nilai barang, serta akibat yang akan timbul pada pasien, maka farmasi rumah sakit harus dikelola oleh orang yang mempunyai kemampuan tinggi dalam hal manajerial dan profesional di profesinya. Pada kesempatan ini yang akan dibahas adalah khusus mengenai manajemen dan dasar utama yang digunakan dalam hal manajemen obat adalah Drug Management Cycle (Pudjaningsing, 2006). Drug management cycle merupakan suatu

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 1

Kelompok I

PFA 2011

siklus yang tidak berputus pada suatu rumah sakit. Dimulai dari pemilihat obat, kemudian perencanaan jumlah obat yang akan diadakan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, dan penggunaan, sampai kembali lagi ke seleksi obat. Pengelolaan obat di RS meliputi tahap-tahap perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian serta penggunaan yang saling terkait satu sama lainnya, sehingga harus terkoordinasi dengan baik agar masing-masing dapat berfungsi secara optimal. Ketidakterkaitan antara masing-masing tahap akan mengakibatkan tidak efisiennya sistem suplai dan penggunaan obat yang ada (Maimun, 2008).

Selection

Use

Management Support

Procurement

Distribution

Gambar 1. Drug management cycle

Management support yang terdiri dari manajemen organisasi, finansial, sumber daya manusia dan sistem informasi merupakan hal yang sangat penting diperhatikan karena akan mendukung pelaksanaan tahapan pengelolaan obat yang meliputi tahap-tahap selection, procurement, distribution dan use. Selection adalah tahapan pemilihan obat yang akan dipakai di rumah sakit yang nanti akan berakhir dengan dibuatnya formularium (Pudjaningsing, 2006). Berdasarkan Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, formularium adalah himpunan obat yang

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 2

Kelompok I

PFA 2011

diterima/disetujui oleh Panitia Farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap batas waktu yang ditentukan. Penyusunan formularium rumah sakit merupakan tugas PFT. Adanya formularium diharapkan dapat menjadi pegangan para dokter staf medis fungsional dalam memberi pelayanan kepada pasien sehingga tercapai penggunaan obat yang efektif dan efisien serta mempermudah upaya menata manajemen kefarmasian di rumah sakit. 1. Seleksi Obat Seleksi obat dilakukan oleh oleh panitia farmasi dan terapi (PFT) dengan menyusun suatu daftar obat dan alat kesehatan yang akan digunakan di rumah sakit sebagai bagian dari pelayanan rumah sakit. Setelah dilakukan seleksi, maka pengadaan obat dimulai dengan perencanaan obat (Maimun, 2008). Seleksi obat adalah suatu proses untuk menetukan jenis obat yang benar-benar diperlukan yang sesuai dengan pola penyakit. Dasar seleksi kebutuhan obat meliputi : a. Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medis, dan statistik yang memberikan efek terapi jauh lebih baik disbanding resiko efek samping yang ditimbulkan. b. Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin untuk menghindari duplikasi dan kesamaan jenis. Apabila jumlah obat dengan indikasi sama dalam jumlah banyak, maka kita memilih berdasarkan drug of choice dari penyakit yang prevalensinya tinggi. c. Jika ada obat baru, harus ada bukti yang spesifik untuk terapi yang lebih baik. d. Menghindari penggunaan obat kombinasi, kecuali jika obat kombinasi tersebut mempunyai efek yang lebih baik daripada apabila digunakan secara tunggal. Seleksi obat-obat yang akan dimasukan ke dalam formularium digambarkan pada Gambar 2.

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 3

Kelompok I

PFA 2011

Gambar 2. Seleksi Obat dalam Penyusunan Formularium

Proses pemilihan obat untuk formularium dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Penetapan masalah kesehatan Panitia farmasi dan terapi mencari informasi mengenai pola prevalensi penyakit di daerah RS didirikan. Prevalensi 10-20 penyakit tertinggi di daerah tersebut akan diprioritaskan dalam memilih obat. Selain pola penyakit, perlu juga data mengenai keluhan umum yang menyebabkan seseorang datang ke rumah sakit dan memerlukan terapi. b. Pemilihan jenis terapi dan penyusunan Obat-obat (dan alat kesehatan) yang dapat digunakan dalam terapi didaftar, lalu dipilih obat pilihan utama dan sekunder (lalu tersier) untuk pengobatan. Pemilihan obat ini didasarkan pada guideline terapi pengobatan yang terbaru dan yang berbasis bukti. Kemudian, ditentukan juga obat-obatan yang akan digunakan di RS, dan disusun daftar merk dagang yang tersedia untuk setiap obat. Daftar tersebut disusun menurut bentuk sediaan dan dosis setiap sediaan dengan mempertimbangkan bioavailabilitas-bioequivalency, harga obat, ketersediaan dana, kemampuan supplier menyediakan obat tepat waktu. Daftar tersebut disusun dalam formularium, yang merupakan output dari proses seleksi obat. Formularium menjadi dasar pengadaan obat di RS dan dasar dokter untuk memilih obat. Untuk penjaminan mutu RS, formularium perlu diperbaharui berkala.

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 4

Kelompok I

PFA 2011

2.

Perencanaan Obat Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan

harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat. Metode yang dapat digunakan yaitu: metode konsumsi dan metode epidemiologi. Pedoman perencanaan obat untuk rumah sakit yaitu DOEN, Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi Rumah Sakit, ketentuan setempat yang berlaku, data catatan medis, anggaran yang tersedia, penetapan prioritas, siklus penyakit, sisa persediaan, data pemakaian periode yang lalu, atau dari rencana pengembangan. Perencanaan dilakukan untuk menetapkan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar. Tahap-tahap yang dilalui dalam proses perencanaan obat adalah: a. Tahap pemilihan obat, dimana pemilihan obat didasarkan pada Obat Generik terutama yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), dengan harga berpedoman pada penetapan Menteri. b. Tahap kompilasi pemakaian obat, untuk memperoleh informasi: 1) Pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing unit pelayanan

kesehatan/puskesmas pertahun. 2) Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun seluruh unit pelayanan kesehatan/puskesmas. 3) Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kab/Kota secara periodik. c. Tahap perhitungan kebutuhan obat, dilakukan dengan: 1) Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengumpulan dan pengolahan data, analisa data untuk informasi dan evaluasi, perhitungan perkiraan kebutuhan obat dan penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana. Rumus yang digunakan adalah:

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 5

Kelompok I

PFA 2011

A = (B+C+D) - E A = Rencana pengadaan B = Pemakaian rata-rata x 12 bulan C = Stok Pengaman 10% - 20% D = Waktu tunggu 3 6 bulan E = Sisa stok Keunggulan metode konsumsi adalah data yang diperoleh akurat, metode paling mudah, tidak memerlukan data penyakit maupun standar pengobatan. jika data konsumsi lengkap pola penulisan tidak berubah dan kebutuhan relatif konstan maka kemungkinan kekurangan atau kelebihan obat sangat kecil. Kekurangannya antara lain tidak dapat untuk mengkaji penggunaan obat dalam perbaikan penulisan resep, kekurangan dan kelebihan obat sulit diandalkan, tidak memerlukan pencatatan data morbiditas yang baik. 2) Metode Morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Langkah-langkah perhitungan metode morbiditas adalah: a) Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok umur penyakit. b) Menyiapkan data populasi penduduk. c) Menyediakan data masing-masing penyakit/tahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada. d) Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit/tahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada. e) Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat menggunakan pedoman pengobatan yang ada. f) Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang akan datang.

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 6

Kelompok I

PFA 2011

Keunggulan metode epidemiologi adalah perkiraan kebutuhan mendekati kebenaran, standar pengobatan mendukung usaha memperbaiki pola penggunaan obat. Sedangkan kekurangannya antara lain membutuhkan waktu dan tenaga yang terampil, data penyakit sulit diperoleh secara pasti, diperlukan pencatatan dan pelaporan yang baik. d. Tahap proyeksi kebutuhan obat, dengan kegiatan-kegiatan: 1) Menetapkan perkiraan stok akhir periode yang akan datang, dengan mengalikan waktu tunggu dengan estimasi pemakaian rata-rata/bulan ditambah stok pengaman. 2) Menghitung perkiraan kebutuhan pengadaan obat periode tahun yang akan datang, dengan rumus: a=b+c+d-e-f a = perkiraan kebutuhan pengadaan obat tahun yang akan datang. b = kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan untuk sisa periode berjalan (sesuai tahun anggaran yang bersangkutan). c = kebutuhan obat untuk tahun yang akan datang. d = perkiraan stok akhir tahun (waktu tunggu dan stok pengaman). e = stok awal periode berjalan atau sisa stok per 31 Desember tahun sebelumnya di unit pengelola obat. f = rencana penerimaan obat pada periode berjalan (Jan s.d Des). 3) Menghitung perkiraan anggaran untuk total kebutuhan obat dengan melakukan analisis ABC-VEN, menyusun prioritas kebutuhan dan

penyesuaian kebutuhan dengan anggaran yang tersedia. 4) Pengalokasian kebutuhan obat berdasarkan sumber anggaran dengan melakukan kegiatan: menetapkan kebutuhan anggaran untuk masing-masing obat berdasarkan sumber anggaran; menghitung persentase anggaran masingmasing obat terhadap total anggaran dan semua sumber.

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 7

Kelompok I

PFA 2011

5) Mengisi lembar kerja perencanaan pengadaan obat, dengan menggunakan formulir lembar kerja perencanaan pengadaan obat.

e.

Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat Dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai jumlah rencana pengadaan, skala prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah kemasan, untuk rencana pengadaan obat tahun yang akan datang. Beberapa teknik manajemen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan dana dalam perencanaan kebutuhan obat adalah dengan cara: 1) Analisa ABC dilakukan dengan mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan dananya yaitu: a) Kelompok A: kelompok obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruhan. b) Kelompok B: kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana

pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20%. c) Kelompok C: kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana

pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan. Langkah-langkah menentukan kelompok A, B dan C: a) Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing-masing obat dengan cara kuantum obat x harga obat. b) Tentukan rankingnya mulai dari dana terbesar sampai terkecil. c) Hitung persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan. d) Hitung kumulasi persennya. e) Obat kelompok A termasuk dalam kumulasi 70%. f) Obat kelompok B termasuk dalam kumulasi > 70% s/d 90%. g) Obat kelompok C termasuk dalam kumulasi > 90% s.d 100%. 2) Analisa VEN dilakukan dengan mengelompokkan obat yang didasarkan kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan, yaitu:

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 8

Kelompok I

PFA 2011

a) Kelompok V: kelompok obat yang vital antara lain: obat penyelamat, obat untuk pelayanaan kesehatan pokok, obat untuk mengatasi penyakitpenyakit penyebab kematian terbesar. b) Kelompok E: kelompok obat yang bekerja kausal yaitu obat yang bekerja pada sumber penyebab penyakit. c) Kelompok N: kelompok obat penunjang yaitu obat yang kerjanya ringan dan biasa dipergunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan. Langkah-langkah menentukan VEN: menyusun kriteria menentukan VEN, menyediakan data pola penyakit, dan merujuk pada pedoman pengobatan (Dhendianto, 2010). Jenis-jenis metode perencanaan dalam pengadaaan obat: a. Metode Konsumsi Merupakan suatu metode perencanaan obat berdasarkan pada kebutuhan riil obat pada periode lalu dengan penyesuaian dan koreksi berdasarkan pada penggunaan obat tahun sebelumnya. Cara perhitungannya : 1) Hitung pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu 2) Koreksi hasil pemakaian tiap obat periode lalu terhadap kecelakaan dan kehilangan obat 3) Koreksi langkah sebelumnya (koreksi hasil pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu terhadap kecelakaan dan kehilangan obat) terhadap stock out 4) Lakukan penyesuaian terhadap kesepakatan langkah a dan b 5) Hitung periode yang akan datang untuk tiap jenis obat atau :
Rencana kebutuhan obat tahun ini = jumlah pemakaian tahun lalu + stok kosong + kebutuhan lead time + safety stock sisa stok tahun lalu

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 9

Kelompok I

PFA 2011

Tabel 1. Keunggulaan dan Kelemahan Metode Konsumsi Keunggulan Mudah dilakukan, data akurat Tidak butuh data penyakit, standar terapi Kelemahan - Memakan waktu lebih banyak - Aspek medik pemakaian obat tidak dapat dipantau

b. Metode Epidemiologi Merupakan metode berdasarkan pada pola penyakit yang ada dan didasarkan pada penyakit yang ada di rumah sakit atau yang paling sering muncul di masyarakat. Metode ini paling banyak digunakan di rumah sakit. Tahap-tahap yang diperlukan antara lain menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani, menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit, menyediakan standar pengobatan yang digunakan untuk

perencanaan dan menghitung perkiraan kebutuhan obat dan penyesuaian kebutuhan obat dengan alokasi dana. Perencanaan dengan metode epidemiologi ini lebih ideal, namun prasyaratnya lebih sulit untuk dipenuhi. Tabel 2. Keunggulaan dan Kelemahan Metode Epidemiologi Keunggulan - Perkiraan kebutuhan mendekati kebenaran - standar pengobatan mendukung usaha memperbaiki pola penggunaan obat c. Metode kombinasi Merupakan suatu metode perencanaan obat berdasarkan kombinasi antara metode konsumsi dan metode epidemiologi. Kelemahan - membutuhkan waktu dan tenaga terampil - data penyakit sulit diperoleh secara pasti - perlu pencatatan dan pelaporan yang baik

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 10

Kelompok I
III. 1. Kasus 1 STUDI KASUS

PFA 2011

Skripsi oleh Arvianti pada tahun 2008, dengan judul Analisis Perencanaan Obat Berdasarkan ABC-Indeks Kritis Serta Evaluasi Pengadaan Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Wates Tahun 2004-2006. Didapatkan data selama 3 tahun berturut selama periode 2004-2006. Kemudian data yang didapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perencanaan pengadaan obat pada tahun 2007. a. Analisa Kasus 1) Seleksi Data pemakaian obat pada periode 2004-2006 dianalisis menggunakan metode ABC (Nilai pakai dan Nilai investasi) : a) Nilai Pakai ABC Diambil seluruh populasi item obat yang digunakan pada tahun 20042006. Pada penelitian ini, yang diteliti adalah item obat sebanyak 711 item, sedangkan alat kesehatan tidak dihitung. Pemakaian obat dihitung per tahun, kemudian dikalikan dengan harga satuan masing-masing obat, lalu diurutkan dari pemakaian tertinggi sampai terendah. Kemudian dikelompokkan menjaid klasifikasi ANP, BNP, dan CNP. Klasifikasi ANP meliputi item obat dengan pemakaian sebesar 70%, BNP meliputi 20% pemakaian dan klasifikasi CNP menunjukkan item obat dengan nilai pemakaian sebesar 10%.

Tabel 3. Pengelompokan obat berdasarkan analisis ABC nilai pakai tahun 2004 Kelompok Jumlah Item Persentase Jumlah Pemakaian Persentase obat (%) (Rp) (%) ANP 65 11,78 2. 796.398.186,00 69,97 BNP 121 21,92 817.572.122,00 20,46 CNP 366 66,30 382.553.027,00 9,57 Total 552 100 3.996.523.335,00 100

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 11

Kelompok I

PFA 2011

Tabel 4. Pengelompokan obat berdasarkan analisi ABC nilai pakai tahun 2005 Kelompok Jumlah Item Persentase Jumlah Persentase obat (%) Pemakaian (Rp) (%) ANP 72 11,75 3.659.241.423,00 70,27 BNP 137 22,35 1.102.559.246,00 21,17 CNP 404 65,90 445.724.757,00 8,56 Total 613 100 5.207.525.426,00 100 Tabel 5. Pengelompokan obat berdasarkan analisi ABC nilai pakai tahun 2006 Kelompok Jumlah Item Persentase Jumlah Persentase obat (%) Pemakaian (Rp) (%) ANP 74 10,96 3.993.940.564,00 70,44 BNP 121 17,93 1.136.018.875,00 20,04 CNP 480 71,11 539.928.718,00 9,52 Total 675 100 5.669.888.157,00 100 b) Nilai Investasi ABC Diambil seluruh populasi item obat yang digunakan pada tahun 2004-2006. Pada penelitian ini, yang diteliti adalah item obat sebanyak 711 item, sedangkan alat kesehatan tidak dihitung. Menghitung jumlah penggunaan obat dan stok akhir, dikalikan dengan harga satuan obat, kemudian disusun urutan tertinggi sampai terendah. Kemudian dikelompokkan menjaid klasifikasi ANI, BNI, dan CNI. Klasifikasi ANI meliputi item obat dengan pemakaian sebesar 70%, BNI meliputi 20% pemakaian dan klasifikasi CNI menunjukkan item obat dengan nilai pemakaian sebesar 10%.

Tabel 6. Pengelompokan obat berdasarkan analisi ABC nilai investasi tahun 2004 Kelompok Jumlah Persentase Jumlah Persentase Item obat (%) Pemakaian (Rp) (%) ANI 70 12,68 3.225.708.205 70,35 BNI 128 23,19 921.329.958 20,09 CNI 354 64,13 437.874.199 9,56 Total 552 100 4.584.912.362 100
{Manajemen Farmasi Rumah Sakit} Page 12

Kelompok I

PFA 2011

Tabel 7. Pengelompokan obat berdasarkan analisi ABC nilai investasi tahun 2005 Kelompok Jumlah Persentase Jumlah Persentase Item obat (%) Pemakaian (Rp) (%) ANI 81 13,21 4.143.342.096 70,32 BNI 135 22,02 1.186.000.350 20,13 CNI 397 64,76 561.075.001 9,55 Total 613 100 5.892.417.457 100

Tabel 8. Pengelompokan obat berdasarkan analisi ABC nilai investasi tahun 2006 Kelompok Jumlah Item Persentase Jumlah Persentase obat (%) Pemakaian (Rp) (%) ANI 80 11,85 4.584.188.671 70,47 BNI 136 20,15 1.298.291.609 19,96 CNI 459 68,00 621.827.064 9,57 Total 675 100 6.504.807.244 100 c) Nilai Kritis Sampel yang diambil adalah obat-obat yang masuk dalam kelas A nilai pakai dan nilai investasi (ANP dan ANI). Karena jumlah obat yang masuk dalam kelas ANP dan ANI cukup banyak, dan adanya beberapa perbedaan obat yang masuk ke dalam kelas tersebut selama tauhn 2004-2006, maka digunakan kriteria inklusi berikut, sampel adalah item obat yang masuk ke dalam kelas ANP dan ANI peling tidak selama 2 tahun pada periode 20042006. Berdasarkan kriteria tersebut, maka sampel yang diambil sebanyak 81 item obat. Obat yang termabil sebanyak 81 item obat disusun membentuk kuesioner untuk menetapkan obat masuk ke dalam kategori vital, esensial, dan non esensial. Hasilnya dari 81 item obat, 15 obat termasuk kelas vital (18,52%), 60 obat merupakan obat esensial (74,07%), dan obat merupakan nonesensial (7,41%).

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 13

Kelompok I

PFA 2011

Analis VEN
Non-esensial 7% Vital 19%

Esensial 74%

d) Nilai Indeks Kritis (NIK) Setelah mengklasifikasikan obat-obat kedalam kelas A,B dan C berdasarkan nilai pakai dan nilai investasi, dan mengelompokkan obat ke dalam klasifikasi vital, esensial, dan nonesensial, maka selanjutnya dapat ditentukan nilai indeks kritis obat dengan menggunakan rumus : NIK = nilai pakai + nilai investasi + (2x nilai kritis) Adapun penilaian sebagai berikut : 1) Nilai Pakai (NP) dan Nilai Investasi (NI) A = 3, B = 2, C= 1 2) Nilai Kritis (NK) V = 3, E = 2, N = 1

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 14

Kelompok I
Tabel 9. Pengelompokan Obat Dengan Analisis ABC Indeks Kritis tahun 2004-2006

PFA 2011

No

Nama Obat 1 Actrapid HM Penfil 2 Adalat OROS 3 Amicillin 1 gram inj 4 Amoxan 1 gram inj 5 Amoxicillin 6 Asam Askorbat 7 Asam Folat 8 Aspilet 9 Assering 500 cc

Nilai Pakai Nilai investasi Nilai Kritis NIK 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2,75 2,25 2,25 2,25 1 1,7 2,17 2 2,5 3 2,8 2,8 2,5 1,6 2,2 2,2 2,4 2,57 2,57 2,57 2,38 2,38 2 2,14 2,2 2,25 1,5 2,75 1,75 2,25 2,25 2,25 2 2 2,2 2,67 1,25 3 2,75 2,67

Kategori 12 A IK 11,5 A IK 10,5 A IK 10,5 A IK 10,5 A IK 8 BIK 9,4 BIK 10,34 A IK 10 A IK 11 A IK 12 A IK 11,6 A IK 11,6 A IK 11 A IK 9,2 BIK 10 A IK 10 A IK 10,8 A IK 11,14 A IK 11,14 A IK 11,14 A IK 10,76 A IK 10,76 A IK 10 A IK 10,28 A IK 10,4 A IK 10,5 A IK 9 BIK 11,5 A IK 9,5 A IK 10,5 A IK 10,5 A IK 10,5 A IK 10 A IK 10 A IK 20,4 A IK 11,34 A IK 8,5 BIK 12 A IK 11,5 A IK Page 15 11,34 A IK

10 Bactesyn 1,5 gram inj 11 Berotec 200 mcg 12 Brainact 250 mg inj 13 Brainact 500 mg 14 Broadced 1 gram inj 15 Ca Laktat 16 Captropil 12,5 mg 17 Captropil 25 mg 18 Catapres inj 19 Cefotaxim 20 Ceftazidim inj 21 Ceftriaxon inj 22 Ciprodloxacin 500 mg 23 Ciprofloxacin inj 24 D 5% OTSU 25 Deksametason 26 Dexacap 12,5 mg 27 Dumozol 0,25 gram 28 Ferofort 29 Fimalbulin 50 ml 30 Frego 10 mg 31 Furosemid 40 mg 32 Glibenklamid 5 mg 33 Glucodex 34 HCT 25 mg 35 Hexer 36 Hexilon 1 gram 37 Humulin N 38 Imunos 39 Insulatard Hm Penfil 40 ISDN 5 mg {Manajemen Farmasi Rumah Sakit} 41 Isoprinosin

Kelompok I

PFA 2011

42 KA EN 3 A 500 ml 43 KA EN 3 B 500 ml 44 Kalchef 0,75 gram 45 Kalmethason 46 Kalmoxilin 500 mg 47 Kalmoxilin 48 Kaltrofen 49 Ketalar 100 mg 50 KSR 600 mg 51 Lovenox inj 52 Madopar 53 Mertigo 54 Metformin 55 Metil Pretnisolon 4 mg 56 Metronidazole 100 cc 57 Miloz inj 58 Mocileps 59 NaCl OTSU 60 Neurocet 3 gram inj 61 Neurochol 62 Neurodex 63 Paracetamol 500 mg 64 Piracetam 3 gram inj 65 Pyridoksin 10 mg 66 Radin 67 Radin 68 Ranitidin 69 Rantin 70 Recofol 71 Remopain 3% inj 72 Renadinac 50 mg 73 RL OTSU 500 cc 74 Salbutamol 2 mg 75 Syntosinon 76 Thiamin 77 Thidim inj 1 gram 78 THP 79 Unalium 5 mg 80 Voltadex 50 mg 81 Zegase

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

1,75 2 2,2 2 2,14 2,14 2,17 2 2,2 1 2 1,71 2 2 2,2 1,75 1,75 1,6 2 1,5 1,38 1,71 2,14 1,5 2,33 2,33 2,33 2,33 2 2 2 1,8 1,8 2,6 1,8 1,67 1,6 2 1,8 1,17

9,5 A IK 10 A IK 10,4 A IK 10 A IK 10,28 A IK 10,28 A IK 10,34 A IK 10 A IK 10,4 A IK 8 BIK 10 A IK 9,42 BIK 10 A IK 10 A IK 10,4 A IK 9,5 A IK 9,5 A IK 9,2 BIK 10 A IK 9 BIK 8,76 BIK 9,42 BIK 10,28 A IK 9 BIK 10,66 A IK 10,66 A IK 10,66 A IK 10,66 A IK 10 A IK 10 A IK 10 A IK 9,6 A IK 9,6 A IK 11,2 A IK 9,6 A IK 9,34 BIK 9,2 BIK 10 A IK 9,6 A IK 8,34 BIK

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 16

Kelompok I

PFA 2011

Pada kasus 1 tidak dilakukan rencana pengadaan karena tidak diketahui total anggaran yang dibutuhkan serta pemakaian tiap bulan untuk setiap item obat. 2. Kasus 2 Dari data diketahui penggunaan obat pada bulan Januari-Maret 2010, kemudian dilakukan analisis kebutuhan obat untuk bulan November 2010 di Rumah Sakit MP. a. Seleksi
Seleksi obat dilakukan oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) dengan menyusun suatu daftar obat dan alat kesehatan yang akan digunakan di rumah sakit sebagai bagian pelayanan rumah sakit. Pada studi kasus ini kelompok 1 tidak melakukan seleksi obat karena keterbatasan yang ada. Data yang digunakan pada kasus ini merupakan data dari Rumah Sakit MP, dari data didapatkan pola pengggunaan obat pada bulan Januari-Maret 2010 (Tabel 10). Data ini selanjutnya digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan obatobatan pada bulan November 2010.
Tabel 10. Penggunaan Obat Tahun 2007

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Nama Obat KETOROLAC 3% METHYLPREDNISOLON INJ 125MG RANITIDIN INJ BROAD CED INJ 1 GRM CEFTRIAXONE 1GR INJ CEFTAZIDIM INJ 1GR Metronidazol INFUS TAXEGRAM INJ 1 GRM MEROPENEM 1GR INJ ONDANCETRON 4MG INJ LANSOPRAZOLE CEFOTAXIME 1GR INJ AZITROMYCIN 500MG FUROSEMIDE INJ MEROPENEM 0,5GR INJ RANITIDIN TAB METHYLPREDNISOLON OPINACEA TAB LEVOFLOXACIN INFUS 100ML CERNEVIT INJ

Jumlah Pemakaian Jan 1114 1813 80 392 174 1020 80 5 180 539 500 25 167 35 23 97 300 20 Feb 297 414 328 70 510 67 70 30 110 333 250 42 90 44 148 75 320 32 22 Mar 128 444 389 60 3012 145 910 60 60 100 135 25 64 176 80 340 80 24

Rata-rata

142 657 843 70 1305 129 643 70 32 130 291 295 31 107 26 186 84 320 37 22

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 17

Kelompok I
21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Ciprofloxacin Infus AMINOPHYLLIN INJ AMOXYCYLLIN 500MG CEFADROXIL 500MG ISDN 5 MG AMLODIPIN 10MG AMLODIPIN 5MG DEXAMETHASONE INJ ASAM TRANEKSAMAT 500MG INJ KETOROLAC 1% NJ ASAM MEFENAMAT 500MG PHYTOMENADION INJ CLINDAMISIN 300MG ATROPIN 1ML INJ ALKOHOL 70% 100ML AVITER ASAM TRANEKSAMAT 500MG TRAMADOL 50MG PARACETAMOL 500MG PROPILTIOURASIL Antasida Doen SYR METFORMIN 500MG ALPRAZOLAM 0.5MG GENTAMISIN INJ CIPROFLOXACIN 500 MG KETOKONAZOL CEFADROXIL SYR 125MG SIMVASTATIN 10MG MELOXICAM 7,5MG ZEGAVIT DIGOKSIN 0,25MG RIFAMPICIN 450MG Miconazole cream CAPTOPRIL 25MG NIFEDIPIN 10MG GLISODIN CAP CARBAMAZEPIN 200MG DILTIAZEM KETOKONAZOL CREAM 2% CAPTOPRIL 12.5MG MELOXICAM 15MG HYDROCORTISON CR 2,5% GLIMEPIRIDE 1MG PARACETAMOL SYR 176 17 68 130 293 75 18 25 122 41 36 5 708 40 5 75 18 30 300 100 40 20 59 77 140 4 150 55 10 65 3 70 23 23 176 50 2 96 15 180 18 180 57 8 200 38 27 100 13 26 50 26 5 192 155

PFA 2011

12 32 96 203 53 80 12 21 107 39 34

18 36 45 207 34 100 10 50 46 64 18 24 6 56 5 46 5 10 160 32 10 59 20 37 8 14 200 20 4 120 27 34 80 13 15 42 45 25 96 50 90

60 10 50 13 8 180 15 100 86 25 45 11

59 16 45 90 234 29 85 13 25 22 98 33 31 4 236 52 7 57 12 16 213 49 13 37 55 35 53 53 27 177 44 7 107 43 33 83 16 21 89 40 11 128 22 142

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 18

Kelompok I
65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 CALSIUM LAKTAT ACYCLOVIR 400MG POVIDON IODIN 60ML ALPRZOLAM 1MG INH 300mg DEKSTROMETORFAN 60ML FUROSEMIDE TAB Omeprazole Phytomenadion VERAPAMIL AMITRIPTILIN 25MG ERITROMICIN 250MG LEVOFLOXACIN 500MG DOKSISIKLIN 100 MG ALOPURINOL 100MG PREDNISONE ANTIHEMOROID SUPP PYRAZINAMIDE 500MG VITAMIN-B COMPLEX CTM NATRIUM DICLOFENAC 50MG DIPHENHYDRAMINE INJ GLIBENCLAMIDE SPIRAMYCIN 500MG OBH 100ML DEXAMETHASONE TAB KETOPROFEN INJ HALOPERIDOL 5 MG ALLOPURINOL 300MG GEMFIBROZIL 300MG FERO SULFAT Salbutamol 2mg VITAMIN B1 TAB 50MG IBUPROPEN 400MG DEKSTROMETORFAN 15MG TRIHEKSIFENIDIL 2MG OFLOXACIN 400MG KETOROLAC 10MG PIRIDOXIN 10MG GENTAMYCIN EYE DROP Piroksikam 10mg Antasida Doen PARACETAMOL DROP HALOPERIDOL 1.5MG 8 15 169 8 3 260 40 8 8 18 3 8 15 10 5 2 19 11 10 44 6 14 4 148 1 2 14 3 1 8 25 5 11 1 8 2 3 4 5

PFA 2011

3 20 45 4 5 19 4 3 7 23 5 22 6 10 5 20 5 95 8 12 5 3 5 20 8 5 3 10 6 2 19 11 1 10 6

2 40 20 40 4 12 5 10 4 42 4 2 7 10 4 10 5 2

5 3 2 24 15 30 2

50 11 1 20 8

3 4 5 8

5 8 56 3 3 107 35 13 5 4 16 4 7 9 25 5 9 9 6 10 15 5 15 5 81 4 5 6 4 3 3 23 4 10 1 16 2 1 6 17 8 2 12 7

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 19

Kelompok I
109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 AMOXILLIN SYR ACYCLOVIR CREAM 5GR BETAMETASON CREAM HALOPERIDOL 0.5MG KETOPROFEN 100MG SALBUTAMOL 4MG CLONIDINE Propanolol 40mg Vit. C 50MG TAB Metronidazol 500MG CLINDAMISIN 150MG PHENOBARBITAL 30MG PIROKSIKAM 20MG 5 37 50 9 5 5 20 23 10 6 5 6 3 5 2 3

PFA 2011

3 3 3 2 5 1 2 1

2 2

16 16 17 6 1 4 2 4 1 2 1 1 2

b. Perencanaan Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat. Pada kasus ini metode yang digunakan untuk perencaaan obat adalah metode konsumsi karena perencanaan ini berdasarkan kebutuhan riil obat pada periode lalu. Metode epidemiologi tidak dapat diaplikasikan karena keterbatasan data yang dimiliki. Cara perhitungan kebutuhan untuk bulan November adalah sebagai berikut ; 1) Hitung pemakaian obat pada bulan Januari-Maret kemudian diambil rerata (CA) 2) Menentukan Lead Time (T) 3) Menghitung Safety Stock (SS) setiap item obat (T/Bulan x CA) 4) Menghitung sisa stock pada periode lalu 5) Menghitung total kebutuhan (CT) sebagai berikut : CT = (CaxT)+SS-Sisa Stock Hasil perhitungan total kebutuhan obat pada bulan November dapat dilihat pada Lampiran 1. Sebagai contoh adalah perencaaan kebutuhan obat Ketorolac 3%. Dari data didapatkan rata-rata pemakaian adalah sebanyak 142.
Data yang ada kemudian dianalisis menggunakan metode ABC dan VEN untuk mengetahui prioritas pengadaan obat pada bulan November 2010.

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 20

Kelompok I

PFA 2011

Analisis dengan metode Pareto bertujuan untuk mengetahui penyerapan anggaran oleh setiap item obat. Langkah metode ini adalah dengan menghitung pemakaian rata-rata obat selama 3 bulan, kemudian dikalikan dengan harga satuan masing-masing obat, lalu diurutkan dari pemakaian tertinggi sampai terendah. Kemudian dikelompokkan menjadi klasifikasi A, B, dan C. Klasifikasi A meliputi item obat dengan pemakaian sebesar 70%, B meliputi 20% pemakaian dan klasifikasi C menunjukkan item obat dengan nilai pemakaian sebesar 10%. Selain analisis Pareto, juga dilakukan analisis VEN untuk setiap item obat.

Analisis VEN tidak dilakukan karena dari pihak Rumah Sakit telah menetapkan nilai kekritisan dari tiap item obat. Setelah dilakukan analisis tersebut maka kita dapat mengetahui jenis item obat mana yang menjadi prioritas pengadaan ((Lampiran 2).

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 21

Kelompok I

PFA 2011

DAFTAR PUSTAKA Dhendianto. 2010. Pengadaan Alat Kesehatan. Ditama Binbangkum. Jakarta. Lidya, A., 2009, Perencanaan Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Tembakau Deli Medan Tahun 2008, Skripsi, Universitas Sumatra Utara, Medan. MENKES. 2006. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Quick,J, 1997, The Selection, Distribution and use of pharmaceuticals. In Managing Drug Supply. Second Edition. Kumarian Press Book on International Development. Pudjaningsih, D. & B. Santoso. 2006. Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat Di Farmasi Rumah Sakit. Logika, Vol. 3, No. 1. Yogyakarta.

Nama Anggota Kelompok 1 : Aditya Maulana Amelia Rumi Freeda Jauharotun Nafisah Noormatika Rahmawati Roymundus Chalik Syahri Apriyanto Testiana Truly Dian Anggraini Qory Addien

{Manajemen Farmasi Rumah Sakit}

Page 22