Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PSIKIATRI SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun oleh: Nur Agami 111.0221.129

Dokter Pembimbing : Dr. Mardi Susanto, Sp.KJ (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN KEPNITERAAN KILNIK ILMU KEDOKTERAN JIWA RSUP PERSAHABATAN JAKARTA 2013
1

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. A : 39 tahun : laki-laki : Islam : tidak tamat SMP : tidak bekerja : Cakung

I.

Riwayat Psikiatri Anamesis dilakaukan secara autoanamnesis dan alloanamesis pada tanggal 1 Juli 2013, pukul 10.00 WIB di Poliklinik Psikiatri RS Persahabatan.

A. Keluhan Utama Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri untuk kontrol dan obat habis sebelumnya pasien berobat di RSJ Bogor.

B. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien, laki-laki usia 39 tahun datang ke Poliklinik Psikiatri RS Persahabatan. diantar oleh ayahnya untuk kontrol dan obat telah habis. Pasien mengaku obat yang dikonsumsinya sudah habis sejak 2 hari yang lalu. Sejak obat habis, pasien menjadi sedikit emosional menjadi cepat marah, tetapi tidak ada gangguan dalam pola tidur.

Pasien pernah mendengar suara atau bisikan-bisikan seperti orang mengobrol, pasien tidak pernah mengenal suara itu. Entah suara laki-laki atau perempuan ataupun dari orang-orang yang pernah pasien kenal. Suara atau bisikan-bisikan itu hampir setiap hari di dengar pasien dan perasaan pasien menjadi cemas karena bisikanbisikan itu terus ada terdengar ditelingga pasien. Namun seiring perjalanan waktu, pasien mulai menghiraukan bisikan-bisikan yang terdengar dari dalam dirinya.

Pasien mengaku melihat adanya bayangan atau penampakan menyerupai kuntilanak yang sering, berada didekatnya tetapi sosok penampakan itu tidak sampai menganggu pasien. Pasien juga mengaku pernah merasakan menghidu bau-bauan busuk yang hanya dihidu oleh dirinya sendiri, sedangkan lingkungan sekitar tidak menghidu bau busuk yang dikeluhkan pasien. Selain itu pasien juga mengungkapkan bahwa pasien pernah merasakan ada yang mencolek anggota badannya, pasien juga merasa seperti sedang mengecap rasa asin padahal pasien tidak sedang makan sesuatu. Saat menonton TV juga pasien megungkapkan bahwa pembawa acara mengejek, menertawakan serta mengajak pasien mengobrola, dan pasien juga merasa pikirannya bisa dibaca ataupun dikendalikan oleh orang lain. Selama ini, pasien merasakan seperti ada seseorang yang mengikuti atau bahkan seperti mengancam ingin membunuh pasien. Selain itu, pasien merasa seperti ada seseorang yang mengontrolnya. Ini terungkap ketika pasien sedang berada di luar rumah dan ingin kembali pulang, ketika separuh jalan pulang pasien kembali ke tempat semula karena seperti ada yang mengontrol dan menyuruhnya kembali ke tempat awal. Sebenarnya, keluhan pasien sudah bermula di tahun 2001 saat pasien masih berusia 27 tahun (sudah 12 tahun). Pasien merasa sering emosional tanpa sebab jelas,dan suka tertawa sendiri. Dengan adanya keluhan tersebut, keluarga pasien membawa pasien berobat ke RS Jiwa Grogol namun karena pasien disarankan untuk rawat inap, oleh keluarga pasien dibawa pulang kembali. Setelah itu, pasien sempat dibawa ke RS Jiwa Bogor atas saran teman dari keluarga pasien. Di RS Jiwa Bogor, pasien hanya dilakukan rawat jalan biasa dan kontrol setiap bulannya serta diberikan 3 macam obat-obatan antara lain: Chlorpromazin 100 mg 1x1, Haloperinol 5mg 3x1 dan Trihexilphrenidil 2mg 3x1. Pasien merasa cocok diberi obat-obatan tersebut. Setelah meminum obat yang diberikan dokter pasien mengaku keluhan seperti sulit
3

tidur atau mendengar suara-suara berkurang. Keluarga juga menyatakan dengan obatobatan tersebut, emosi pasien jauh lebih terkontrol sehingga tidak marah-marah. Pasien tidak pernah mengalami riwayat trauma kepala, seperti terbentur sehingga mengakibatkan gegar otak, maka kemungkinan besar tidak ada gangguan mental organik pada pasien. Pasien mengungkapkan bahwa keluarganya ada yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien yaitu sepupu kandung pasien. Dahulu pasien mengaku pernah mengkonsumsi atau riwayat menggunakan zatpsikotropik NAPZA yaitu cimeng dan alkohol , tetapi sudah berhenti sebelum keluhan penyakit sekarang dikeluhkan oleh pasien. Pasien juga mengaku sampai sekarang sehariharinya masih mengkonsumsi rokok . Pasien dari dulu hingga sekarang belum pernah menikah, padahal dahulu pasien mengaku mempunyai banyak teman wanita yang dekat dengannya. Sampai saat ini pasien ingin sekali menikah, menjadi orang kaya dan naik haji. Saat ini suasana perasaan pasien sedang dalam keadaan sedih. Pasien dapat melakukan kegiatan sehari-hari sendiri tanpa perlu dibantu oleh pihak keluarga seperti mandi ataupun makan. Sehari-hari pasien tidak banyak berakifitas, pasien dapat mengurus dirinya sendiri,seperti mandi, makan, membersihkan kamar, menonton TV dan lain-lain. Tetapi harus diberikan perintah terlebih dahulu. Pasien memiliki hobi berorasi dan bernyanyi, sehingga pasien mengakui dia sering ditawari untuk bernyanyi lagu dangdut saat acara-acara pernikahan. Pada saat ini pasien tinggal di rumah pribadi milik orang tuanya. Ayah dan ibu kandung pasien sudah bercerai sejak pasien berusia 6 tahun.Pasien tinggal bersama ayah kandung, ibu tiri, serta saudaranya. Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara, pasien juga memiliki tiga orang saudara tiri. Hubungan antara pasien dengan anggota keluarga pasien yang berada dalam satu rumah cukup baik, begitu pula hubungan dengan ibu kandung dan keluarga tiri dari pihak ibu. Walaupun tidak taat setiap waktu, dalam kesehariannya pasien melaksanakan ibadah solat lima waktu. Keluarga pasien sangat mendukung kesembuhan pasien hal ini bisa dilihat dari kepedulian ayahnya mengantar kan kerumah sakit. Serta biaya untuk keseharian, kesehatan dan pengobatan pasien mengandalkan uang pensiun ayah. Saat ini pasien tidak memiliki pekerjaan, dahulu pasien pernah bekerja sebagai buruh SKU ( Standar

kerja Umum ) tetapi karena ada pengurangan pegawai karena perusahaan bangkrut pasien harus berhenti bekerja Pasien lahir secara normal. Tidak ada penyulit sejak masa kandungan hingga proses kelahiran. Pasien tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Pasien menjalani pendidikan hingga SMP kelas 2, tetapi tidak tamat, hal ini disebabkan karena tidak ada anggota keluarga yang mengawasi pasien. Saat SD dan SMP pasien mengakui tidak pernah ada masalah baik secara akademik maupun sosial. Masa kecil pasien hingga remaja berjalan baik tanpa ada masalah interaksi sosial dan pasien dikenal sebagai kriteria yang ceria dalam keluarga. Setelah sakit pun pasien juga tidak pernah merasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain. Pasien dapet bersosialisasi dengan baik terhadap tertangga-tetangga rumah dan lingkungan sekitar. A. Riwayat Gangguan Sebelumnya 1. Riwayat Gangguan Psikiatri Tidak ada gangguan psikiatri sebelumnya. 2. Riwayat Gangguan Medik Tidak ada riwayat gangguan medik. 3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol Riwayat memakai NAPZA, mengkonsumsi alkohol, dan rokok. B. Riwayat Kehidupan Pribadi a. Riwayat pranatal: Pasien dilahirkan dalam proses persalinan normal. b. Riwayat masa kanak-kanak dan remaja: Pasien tumbuh dan berkembang sesuai umur sebagaimana anak seumurnya sehingga pasien tidak ada gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. c. Riwayat masa akhir kanak-kanak: Pasien tumbuh dengan baik, tidak ada masalah dalam berkehidupan sosial. d. Riwayat pendidikan Pasien menjalani pendidikan sampai SMP kelas 2 tetapi tidak tamat, dikarenakan tidak ada yang mengawasinya. Saat SD dan SMP kelas 2 diakui pasien tidak pernah ada masalah baik secara akademik maupun sosial. e. Riwayat pekerjaan

Saat ini pasien tidak memiliki pekerjaan. Awalnya pasien sempat bekerja sebagai buruh SKU (Standar Kerja Umum) , namun karena ada pengurangan pegawai yang disebabkan perusahaan bangkrut jadi pasien harus berhenti bekerja. f. Riwayat agama Pasien beragama Islam tetapi pasien tidak taat dalam menjalankan ibadahnya. g. Hubungan dengan keluarga Pasien memiliki hubungan yang baik dengan ayah kandung,ibu tiri dan saudaranya. Keluarga pasien juga mendukung pasien untuk sembuh. Pada saat ini pasien tinggal di rumah milik orang tuanya. Sepupu pasien ada yang memiliki penyakit yang sama dengan pasien. h. Aktivitas sosial Pasien dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. C. Riwayat Keluarga Di keluarga ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien yaitu sepupunya. D. Situasi Sekarang Pasien laki laki umur 39 tahun, belum menikah saat ini pasien tidak memiliki pekerjaan. Pasien saat ini tinggal di rumah orang tuanya. Pasien dalam memenuhi biaya pengobatannya mengadalkan dari ayahnya. Hubungan pasien dengan ayah kandung, ibu tiri, serta saudaranya baik baik saja. Tidak ada masalah dalam bersosialisasi dengan orang lain, dan terdapat keluarga yang memiliki gangguan jiwa yaitu sepupunya. Saat ini pasien memiliki keinginan kuat untuk menjadi kaya, naik haji, serta menikah. E. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya Saat ini pasien memiliki keinginan kuat untuk menjadi kaya, naik haji, serta menikah. III. STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM 1. Penampilan Laki - laki usia 39 tahun, tampak sesuai dengan usia, berpakaian rapi, ekspresi tenang, perawatan diri baik, warna kulit sawo matang.
6

2. Kesadaran Kesadaran umum Kontak Psikis : Compos mentis : Tidak wajar

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor Cara berjalan Aktifitas psikomotor 4. Pembicaraan Kuantitas : Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan dokter dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas. Kualitas : Bicara spontan, volume bicara normal, artikulasi jelas dan pembicaraan dapat dimengerti. Tidak ada hendaya berbahasa : Baik : Pasien kooperatif, tenang, kontak mata baik,

tidak ada gerakan involunter dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik.

5. Sikap Terhadap Pemeriksa Pasien kooperatif. B. KEADAAN AFEKTIF 1. Mood Pasien mengatakan alam perasaannya saat ini sedih 2. Afek Ekspresi afektif luas 3. Keserasian Mood dan afektif tidak serasi 4. Empati Pemeriksa tidak dapat merabarasakan perasaan pasien saat ini. C. FUNGSI INTELEKTUAL / KOGNITIF 1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan Taraf pendidikan Pasien menjalani pendidikan hingga SMP kelas 2 tetapi tidak tamat karena tidak ada yang mengawasi pasien. Saat SD dan SMP pasien tidak pernah ada masalah baik secara akademik maupun sosial. Pengetahuan Umum

Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat ketika diberi pertanyaan pribahasa ungkapan air susu dibalas air tuba. 2. Daya kosentrasi Baik, pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal sampai dengan selesai. Pasien juga dapat menjawab dengan benar pertanyaan penjumlahan angka yang diberikan oleh dokter (100-7=93). 3. Orientasi Waktu Tempat Orang Situasi : Baik, pasien mengetahui waktu saat berobat siang hari :Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di RS.Persahabatan : Baik, pasien mengetahui pemeriksa adalah dokter. : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan

wawancara.

4. Daya Ingat Daya ingat jangka panjang Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah SD di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Daya ingat jangka pendek Baik, pasien dapat mengingat bahwa pasien dapat menuju ke RS Persahabatan dengan menggunakan angkutan kota bersama ayahnya. Daya ingat segera Baik, pasien dapat mengingat 5 nama kota yang disebutkan oleh dokter. Akibat hendaya daya ingat pasien Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini. 5. Pikiran abstrak Baik, pasien mengerti makna dari pribahasa ungkapan air susu dibalas air tuba. 6. Bakat kreatif Pasien memiliki kegemaran berorasi dan bernyanyi. 7. Kemampuan menolong diri sendiri
8

Cukup, karena pasien harus diberi perintah oleh pihak keluarga terlebih dahulu dalam mengerjakan sesuatu, termasuk dalam mengurus dirinya sendiri. D. GANGGUAN PERSEPSI 1. Halusinasi dan ilusi Halusinasi : Terdapat riwayat halusinasi Halusinasi auditorik : mendengar suara orang berbicara,tetapi tidak tampak orangnya. Halusinasi visual : melihat kuntilanak yang orang lain tidak dapat melihatnya. Halusinasi olfaktorik : mencium bau busuk. Halusinasi taktil : merasa ada yang mencolek bagian tertentu dari anggota badannya. Halusinasi gustatorik : merasakan mengecap rasa asin padahal tidak sedang makan. Ilusi Depersonalisasi Derealisasi E. PROSES PIKIR 1. Arus pikir a. Produktivitas : Baik, pasien dapat menjawab spontan bila diajukan pertanyaan. b. Kontinuitas pertanyaan. c. Hendaya berbahasa : tidak terdapat hendaya berbahasa 2. Isi pikiran a. Preokupasi Tidak terdapat preokupasi. b. Gangguan pikiran, terdapat : waham kejar delution of reference
9

: Tidak terdapat ilusi : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

2. Depersonalisasi dan derealisasi

: Koheren, mampu memberikan jawaban sesuai

delution of control thought broadcasting tought withdrawal

F. PENGENDALIAN IMPULS Cukup, karena pasien belum bisa mengendalikan dirinya untuk tidak tertawa lepas. G. DAYA NILAI Norma Sosial : Pasien mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Uji Daya Nilai : Baik, ketika ditanya apa yang akan pasien lakukan jika melihat anak kecil menanggis terpisah dari ibunya di keramaian, pasien menjawab akan membantu anak tersebut mencari ibunya, dan jika dia tidak bisa menemukan ibu anak tersebut, dia akan meminta bantuan orang lain juga untuk membantu menemukan ibu si anak. Penilaian realitas : Pada pasien saat ini terdapat gangguan penilaian realitas yaitu terdapat halusinasi auditorik,visual, olfaktorik, taktil,gustatorik visual, delusion of reference , delusion of control, thought broadcasting, thought withdrawal serta ada waham kejar. H. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN KEHIDUPANNYA Menurut penilaian pemeriksa sebagai dokter terhadap pasien yaitu pasien saat ini tidak menyadari dirinya dalam keadaan sakit. I. TILIKAN / INSIGHT Tilikan derajat I, pasien merasa dirinya sehat. J. TARAF DAPAT DIPERCAYA Pemeriksa memperoleh kesan bahwa jawaban pasien dapat dipercaya karena pasien konsisten dalam menjawab pertanyaan serta dipertegas oleh pernyataan ayah pasien yang mendampingi. I. PEMERIKSAAN FISIK
10

A. Status Generalis i. Keadaan umum: baik, compos mentis ii. Tanda vital: Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu iii. Sistem kardiovaskuler iv. Sistem muskuloskeletal v. Sistem gastrointestinal vi. Sistem urogenital vii. Gangguan khusus : 130/80 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit : Afebris : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : tidak ditemukan kelainan

B. Status Neurologis i. Saraf kranial ii. Saraf motorik iii. Sensibilitas iv. Susunan saraf vegetatif v. Fungsi luhur vi. Gangguan khusus II. : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal : kesan dalam batas normal

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Pasien laki-laki 39 tahun datang untuk kontrol dan obatnya sudah habis. pasien merasa berubah menjadi sedikit emosional mudah marah dan suka tertawa sendiri.

Pasien merasa cocok dengan obat-obatan yang diberikan, bila tidak meminum obat

Pasien pernah mendengar suara-suara orang mengobrol tetapi tidak mengetahui siapa orang yang mengobrol tersebut. Pasien juga mengaku melihat kuntilanak yang berada didekatnya. Pasien terkadang merasa mencium bau busuk
11

Pasien merasa ada yang mencolek anggota badannya Pasien juga merasa seperti mengecap rasa asin padahal pasien tidak sedang makan. pasien merasa ada orang yang mau membunuhnya tetapi pasien tidak tau siapa orangnya Saat menonton TV juga pasien mengakui bahwa penyiar Televisi bicara atau mengobrol dengannya, Pasien juga merasa pikirannya bisa dibaca ataupun dikendalikan oleh orang lain. Gejala ini sudah berlangsung 12 tahun. Fungsi kognitif pada pasien masih baik, begitu pula dengan pengendalian impuls masih baik. Selama ini pasien tidak pernah mengalami trauma atau gangguan fungsi otak. Orientasi waktu, tempat, orang dan situasi baik. Terdapat riwayat gangguan serupa pada keluarga, yaitu sepupunya. Pasien pernah riwayat mengkonsumsi NAPZA yaitu cimeng pasien juga mengaku mengkonsumsi rokok. Pasien lahir secara normal. Tidak ada penyulit sejak masa kandungan hingga proses kelahiran. Masa kecil pasien hingga remaja berjalan baik tanpa ada masalah interaksi sosial dan memang sebelum sakit seperti sekarang, pasien dikenal sebagai kriteria yang ceria dalam keluarga. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Pasien menjalani pendidikan hingga SMP kelas 2. Hal ini dikarenakan tidak ada yang mengawasi pasien. Saat SD dan SMP diakui pasien tidak pernah ada masalah baik secara akademik maupun sosial. Keadaan umum baik dan tidak ditemukan gangguan medis pada pemeriksaan fisik. Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara, hubungan dengan ayah kandung, ibu tiri, dan saudaranya baik. Pada saat ini pasien tinggal di rumah pribadi milik orang tuanya. Pasien tinggal bersama ayah kandung, ibu tiri, serta saudaranya. Pasien memiliki kendala dalam bidang ekonomi dan pasien tidak bekerja. Pasien masih mengandalkan ayahnya untuk biaya pengobatannya. Pasien ini didapatkan gejala sedang dan disabilitas sedang. dan alkohol, tetapi sudah berhenti sebelum keluhan penyakit sekarang dikeluhkan oleh pasien. Serta

12

III.

Formulasi Diagnosis Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan pada pasien terdapat kelainan pola perilaku dan psikologis yang secara klinis bermakna yang dapat menyebabkan timbulnya distress dan disabilitas dalam fungsi sehari-hari maka pasien dikatakan menderita gangguan jiwa. Diagnosis Aksis I Pada pasien ini tidak terdapat kelainan fisik yang menyebabkan disfungsi otak, sehingga pasien ini bukan gangguan mental organik(F.0). Dari anamnesis didapatkan riwayat penggunaan zat psikoaktif dan minuman beralkohol, tetapi sekarang sudah berhenti.Maka pasien ini bukan gangguan mental dan perilaku akibat NAPZA(F.1). Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita, yang ditandai dengan adanya riwayat halusinasi visual, auditorik, olfaktorik, taktil, gustatorik, delusion of reference , delusion of control, thought broadcasting, thought withdrawal.Maka pasien termasuk gangguan psikotik (F.20). Gangguan berupa halusinasi tersebut berlangsung lebih dari 1 bulan yaitu 12 tahun yang lalu, sehingga dikatakan menderita skizofrenia (F.2) Pada pasien ini ditemukan adanya riwayat halusinasi merasa ada yang mengejarnya dan ingin membunuhnya. Maka pasien ini dikatakan menderita gangguan skizofrenia paranoid (F20.0). Diagnosis Aksis II Tumbuh kembang pada masa anak-anak baik, dapat bersosialisai maka dari itu pasien tidak terdapat gangguan kepribadian. Pasien dapat menyelesaikan pendidikan sampai kelas 2 SMP. Fungsi kognitif baik, tidak terdapat retardasi mental, oleh karena itu tidak ditemukan gangguan kepribadian dan gangguan retardasi mental. Maka pada aksis II tidak ada diagnosis. Diagnosis Aksis III Pada anamnesis pemeriksaan fisik dan neurologis pada pasien ini ditemukan riwayat. Maka pada aksis III tidak ada diagnosis.
13

tidak

Diagnosis Aksis IV Pasien merupakan anak ke-1 dari 2 bersaudara. Pasien tinggal bersama ayah kandung, ibu tiri dan saudara nya, biaya pengobatan berasal ayahnya karena pasien tidak bekerja karena di PHK. Maka diagnosis Aksis IV pada pasien ini adalah terdapatnya gangguan dalam perekonomian, pekerjaan. Diagnosis Aksis V Pada pasien didapatkan gejala sedang (moderate), disabilitas sedang. Maka pada aksis V didapatkan GAF Scale 60-51. IV. Evaluasi multiaksial Aksis I : Gangguan skizofrenia paranoid Aksis II : Tidak ada diagnosis Aksis III : Tidak ada diagnosis Aksis IV : Gangguan perekonomian, dan pekerjaan Aksis V : GAF Scale 60 - 51.

V.

Daftar Problem Organobiologik Psikologis : sepupu pasien mempunyai keluhan yang sama. :

1. Terdapat riwayat gangguan menilai realita berupa Halusinasi auditorik Halusinasi visual Halusinasi olfaktorik Halusinasi takti Halusinasi gustatorik

2. Terdapat pula gangguan isi pikir berupa Waham kejar, delusion of reference, delusion of control, thought broadcasting, thought withdrawal 3. Terdapat perubahan emosi (menjadi cepat marah) saat obat habis
14

VI.

Prognosis Prognosis Ke Arah Baik Pasien patuh minum obat dan rutin kontrol ke poliklinik. Keluarga mendukung pasien untuk sembuh. Tidak ditemukan tanda dan gejala efek samping pemakaian obat-obatan antipsikotik. Pasien masih memiliki keinginan untuk menjadi kaya, naik haji, menikah. Prognosis Ke Arah Buruk Bila tidak minum obat, pasien masih merasa lebih emosional. Perjalanan penyakit sudah berlangsung cukup lama (12 tahun). Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut : Ad Vitam Ad Fungtionam Ad Sanationam : Ad bonam : Dubia Ad bonam : Dubia Ad malam

X. Terapi Psikofarmaka : Haloperinol 5mg 3x1 Chlorpromazin 100 mg 1x1 malam hari Trihexilphrenidil 2mg 3x1 Psikoterapi : Pada pasien o Edukasi pentingnya minum obat secara teratur dan kontrol rutin setiap bulan. o Jika ada suara-suara jangan dipedulikan. o Bila pada saat keluhan datang dan pasien merasa ketakutan, pasien dapat mencari perlindungan dari anggota keluarganya atau jika masih mengganggu juga segera kontrol ke dokter.
15

o Mencoba mengalihkan pikiran-pikiran negatif dengan mengisinya dengan kegiatan positif yang bermanfaat. o Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA 1. Elvira D, Sylvia, Hadisukanto, Giyanti. Buku Ajar Psikiatri. FKUI. Jakarta. 2003. 2. Maslim, Rusdi. D, SpKJ. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Cetakan Pertama. PT Nuh Jaya. Jakarta. 2001. 3. Maslim, Rusdi. Dr, SpKJ. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. PT Nuh Jaya, Jakarta. 2007.

16