Anda di halaman 1dari 2

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pemakaian lensa kontak adalah salah satu penyebab yang paling tinggi untuk mendapatkan keratitis di seluruh dunia terutamnya pada negara-negara yang

membangun. Keratitis bisa disebabkan bakteri, parasit, jamur, trauma dan lain-lain. Hubungan antara keratitis Acanthamoeba dan pemakaian lensa kontak mencapai angka sebanyak 95% pada kasus yang telah dilaporkan (Ibrahim, 2007). Sebelum munculnya populasi yang memakai lensa, keratitis Acanthamoeba adalah sangat jarang. Pada tahun 2000, dianggarkan bilangan pemakai lensa kontak adalah sebanyak 80 milyar dan 90% darinya adalah jenis hydrogel soft lenses (Ibrahim, 2007). Penggunaan lensa kontak semakin hari semakin meningkat dengan rekaan terbaru dari bahan yang digunakan dan disesuaian mengikut setiap kemahuan pengguna. Di laporkan sebanyak 61.2% mengatakan mereka lebih memilih untuk memakai lensa kontak kerana selesa dan mudah. Antara sebab pemakaian lensa kontak adalah tujuan kosmetik(42.9%), pembetulan refraktif, pemakaian terapeutik pada yang mengalami penyakit kelainan mata.(Quraisy, 2009). Masalah yang timbul dari pemakaian lensa kontak bisa berhubungan dengan jenis lensa yang digunakan (soft, rigid, gas permeable), cara pembersihan dan lain-lain. Antara komplikasi yang timbul bisa dari masalah minor sehingga ke keratitis. Studi selama 7 tahun di Belgia yakni berlangsung dari 1997 sehingga 2003 menunjukkan peningkatan bilangan pasien yang dirawat di rumah sakit akibat ulser kornea yang terkait dengan pemakaian lensa kontak (Verhelst, 2006 dalam Ibrahim, 2007). Keratitis adalah infeksi pada kornea yang parah, progresif, dan dapat menyebabkan kerusakan visual yang permanen. Selain dapat menyebabkan miopia, kompikasi dari keratitis ini bisa menyebabkan kebutaan sekiranya langkah pencegahan awal tidak diambil. Gejala-gejala awal keratitis adalah ringan seperti

Universitas Sumatera Utara

kemerahan dan iritasi sehingga ramai golongan muda contohnya mahasiswa mengabaikan masalah tersebut sehingga tidak berkonsultasi kepada dokter. Lebih ramai mahasiwa yang memilih untuk menggunakan lensa kontak berbanding kaca mata. Walaupun penggunaan lensa kontak semakin populer di kalangan mahasiswa namun sebahagian besar dari mereka tidak tahu dan sadar tentang cara pemakaian dan penjagaan yang betul. Tambahan pula, gaya hidup mahasiswa yang sibuk menyebabkan mereka mengabaikan rutin penjagaan lensa kontak mereka. Selain kebiasaan penjagaan lensa kontak, adakah mahasiswa juga tahu komplikasi yang bisa timbul dari keratitis?

1.2.

Rumusan Masalah: Bagaimanakah gambaran penggunaan lensa kontak pada mahasiswa FK USU

dikaitkan dengan resiko terjadinya keratitis?

1.3.

Tujuan Penelitian:

1.3.1. Tujuan umum: Mengetahui gambaran penggunaan lensa kontak pada mahasiswa FK USU dikaitkan dengan resiko terjadinya keratitis. 1.3.2. Tujuan khusus: i. Mengetahui sebanyak mana mahasiswa yang mengamalkan pemakaian lensa kontak yang benar mahupun tidak benar. ii. Mengetahui gambaran kaitan kebiasaan pemakai lensa kontak dengan keratitis.

1.4.

Manfaat Penelitian Data yang diperoleh dapat dijadikan sebagai panduan oleh pihak universitas

bagaimana untuk mencegah terjadinya komplikasi pemakaian lensa kontak serta memberi edukasi pada mahasiswa langkah-langkah untuk mencegahnya. Selain itu, pengetahuan tentang kebiasaan penggunaan lensa kontak sangat berguna kepada optalmologis dan optometris tentang jenis lensa, perawatan dan cara penggunaan.

Universitas Sumatera Utara