Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung; merupakan suatu keluhan atau tanda, bukan penyakit. Perdarahan yang terjadi di hidung adalah akibat kelainan setempat atau penyakit umum. Penting sekali mencari asal perdarahan dan menghentikannya, di samping perlu juga menemukan dan mengobati sebabnya. Epistaksis sering ditemukan sehari-hari dan mungkin hampir 90% dapat berhenti dengan sendirinya (spontan) atau dengan tindakan sederhana yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan jalan menekan hidungnya. Epistaksis berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal, bila tidak segera ditolong. Pada umumnya terdapat dua sumber perdarahan yaitu dari bagian anterior dan bagian posterior. Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach atau dari arteri ethmoidalis anterior. Sedangkan epistakasis posterior dapat berasal dari arteri sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior. Epistaksis biasanya terjadi tibatiba. Perdarahan mungkin banyak, bisa juga sedikit. Penderita selalu ketakutan sehingga merasa perlu memanggil dokter.Sebagian besar darah keluar atau dimuntahkan kembali.

LAPORAN KASUS

Bapak Napitulu, 45 tahun executive suatu bank, datang ke tempat anda dengan keadaan yang cemas, masih bisa berjalan dan duduk sendiri, dengan handuk kecil menutupi hidungnya yang sudah penuh darah. Sebagai dokter yang belum begitu mengenal pasien tersebut, apa tindakan dan rencana anda selanjutnya. Setelah mendapat kesan bahwa fungsi vital penderita masih baik, anda menghentikan perdarahannya dengan memasang tampon anterior kemudian melanjutkan dengan anamnesis. Perdarahan hidung dialami baru pertama kali, setelah melakukan olahraga senam, kirakira jam yang lalu, jumlahnya gelas minum. Keluar darah intermitten dan tidak berhenti dengan pencet hidung dan kompres es. Sebelumnya penderita sudah sering mengeluh pusing kepala. Tidak pernah sakit berat sampai dirawat, tidak pernah mengalami trauma kepala. Tidak pernah sakit berat sampai dirawat, tidak pernah mengalami trauma kepala / trauma hidung / operasi hidung. Pemeriksaan Fisik Status Generalis KU Kesadaran Suhu Tekanan darah Pernapasan Bunyi jantung Paru-paru : lemah, masih bisa duduk dan berjalan sendiri : CM : 37 C : 160 / 90 mmHg : 20x/menit : murni : sonor, vesikuler
2

Hepar & Lien Ekstremitas Status Lokalis Telinga Hidung

: tidak teraba : hangat

: ADS; LT lapang, MT intak mengkilat : Masih terlihat darah merembes dari tampon anterior. Anda putuskan untuk mencabut kembali tampon anterior dan mengeksplorasi lebih lanjut kavum nasinya. Pada waktu darah di hidung dibersihkan dengan suction terlihat vestibulum dan septum licin, tenang. Tampak asal perdarahan dari bagian belakang hidung di bawah konka media, berdenyut.

Tenggorok

: Tonsil T1/T1 tenang Faring tenang Ada darah yang mengalir di dinding faring belakang

Pemeriksaan Laboratorium 1. Hb 2. Leukosit 3. Erythrocyte 4. Jumlah Thrombocyte 5. Bleeding time 6. Clotting time 7. PTT 8. SGPT 9. SGOT 10. Ureum 11. Creatinin 12. Asam Urat 13. Glucose darah sewaktu : 12 g % : 7000 / ml : 4,5 juta / ml : 260.000 / ml : 2 (Duke) : 6 (Lee&White) : 13 : 28 : 31 /l /l

: 24 mg/dl : 1,0 mg /dl : 5 mg/dl : 135 mg%


3

14. Cholesterol 15. Triglyceride 16. HDL 17. LDL

: 260 mg/dl : 220 mg/dl : 33 mg/dl : 145 mg/dl

PEMBAHASAN

Masalah Keluar darah dari hidung

Dasar masalah Anamnesis dan pemeriksaan fisik

Hipotesis Lokal: trauma, infeksi hidung paranasal, tumor, pengaruh lingkungan, benda asing dan rinolit , dan idiopatik. Sistemik: penyakit kardiovaskuler, kelainan darah, infeksi sistemik, dan gangguan endokrin.

Anamnesis Tambahan Riwayat penyakit sekarang Apakah sebelumnya ada jatuh atau korek hidung? Sejak kapan mulai berdarah dan sudah berapa banyak perdarahannya? Sudah berapa lama berdarahnya? Apa kegiatan sebelum terjadinya perdarahan? Apakah unilateral atau bilateral? Apakah ada hematemesis dan / atau melena?

Riwayat penyakit dahulu Apakah sebelunya pernah terjadi kejadian serupa? Apakah pasien ada riwayat hemofili?

Apakah ada penurunan berat badan dalam beberapa bulan ini? Apakah punya riwayat DM atau hipertensi?

Riwayat kebiasaan Apakah merokok atau mengkonsumsi alkohol? Apakah bekerja ditempat yang dingin atau bekerja di tempat industri?

Riwayat pengobatan Apakah ada mengkonsumsi obat antikoagulan?

INTERPRETASI PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis KU : lemah, masih bisa duduk dan berjalan sendiri walaupun pasien terlihat lemah dikarenakan perdarahan yang dialaminya, namun belum terjadi syok. Sehingga ia masih bisa duduk dan berjalan sendiri. Kesadaran Suhu Tekanan darah : CM pasien masih dalam keadaan sadar penuh. : 37 C masih dalam batas normal yaitu 36,5 - 37,2 C. : 160 / 90 mmHg menunjukkan Hipertensi Stage II menurut Kriteria JNC VII dimana nilai systole 160 mmHg. Pernapasan : 20x/menit nilai normal pernapasan Pria adalah 14-18 x/menit, pasien ini dalam keadaan tachypnoe. Bunyi jantung : murni normal, berarti tidak ditemukan bunyi jantung tambahan. Tidak ada kelainan. Paru-paru : sonor, vesikuler normal, berarti tidak ditemukan kelainan.
6

Hepar & Lien Ekstremitas Status Lokalis Telinga

: tidak teraba normal, tidak terjadi pembesaran. : hangat normal, berarti perfusi masih bagus.

: ADS; LT lapang, MT intak mengkilat normal, tidak ada kelainan.

Hidung

: Masih terlihat darah merembes dari tampon anterior. berarti perdarahan tidak berasal dari bagian anterior. Anda putuskan untuk mencabut kembali tampon anterior dan mengeksplorasi lebih lanjut kavum nasinya. Pada waktu darah di hidung dibersihkan dengan suction terlihat vestibulum dan septum licin, tenang. tampak tidak ada kelainan, semakin mendukung kemungkinan perdarahan yang bukan berasal dari anterior, karena di daerah septum merupakan tempat dari pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan anterior. Tampak asal perdarahan dari bagian belakang hidung di bawah konka media, berdenyut. ditemukan sumber perdarahan berasal dari bagian posterior, dan berdenyut menyatakan bahwa perdarahan berasal dari arteri.

Tenggorok

: Tonsil T1/T1 tenang normal, tidak terjadi pembesaran dan peradangan tonsil. Faring tenang tidak terjadi peradangan. Ada darah yang mengalir di dinding faring belakang darah berasal dari naso faring akibat dari perdarahan yang terjadi pada posterior hidung, sehingga darah akan mengalir sampai ke oro faring.

INTERPRETASI LABORATORIUM Hasil 1. Hb : 12 g % Kadar normal


13.5 17.5 (13 16) (g/dl)

Intrepretasi Agak sedikit menurun karena pasien mengalami perdarahan

2. Leukosit : 7000/ml

4.000 11.000 (5.000 10.000) (/ul)

Pada pasien normal menandakan tidak adanya infeksi pada pasien Pasien berada pada batas bawah namun masih normal, diperkirakan karena perdarahan

3. Eritrosit : 4,5 juta/ml

4.5 5.9 (4.5 5.5) (juta/ul)

4. Jumlah trombosit: 260.000/ml 5. Bleeding time : 2 6. Clotting time : 6 7. PTT : 13

150.000 440.000 (150.000 400.000) (/ul)

Normal

1-8 5 15
25 35

Normal Normal Menurun, merupakan faktor resiko terjadinya thrombus

8. SGPT : 28 /L 9. SGOT : 31 /L 10. Ureum : 24 mg/dl 11. Creatinin : 1,0 mg/dl

5 41 (u/l) 5 40 (u/l) 15 40 (mg/dl) 0.5 1.5 (mg/dl)

Normal Normal Normal Normal

12. Asam urat : 5 mg/dl 13. Glucose darah sewaktu: 135 mg% 14. Cholesterol : 260 mg/dl

3.4 7.0 (mg/dl)

Normal Normal

: < 150 (mg/dl)

< 200 (mg/dl)

Meninggi merupakan faktor bisa terjadinya arteroskelosis

15. Triglyceride : 220 mg/dl

< 150 (mg/dl)

Meninggi merupakan faktor bisa terjadinya arteroskelosis

16. HDL : 33 mg/dl

> 55 (mg/dl)

Menurun menyebabkan perbandingan LDL dan HDL menjadi tidak bagus,merupakan faktor bisa terjadinya arteroskelosis

17. LDL : 145 mg/dl

< 150 (mg/dl)

Normal

Mekanisme terjadinya masalah (Patofisiologi) Pada pemeriksaan fisik pasien ini didapatkan bahwa tekanan darah 160/90 mmHg hipertensi grade 2 secara tidak langsung epikstasis. Pada kasus ini jenisnya epistaksis posterior tingginya tekanan pada pembuluh darah pecahnya pembuluh darah. Selain itu, dari hasil anamnesis diketahui pasien mengalami epistaksis setelah melakukan senam meningkatkan tekanan darah. Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan pula bahwa kadar LDL pasien ini meninggi aterosklerosis penyempitan lumen pembuluh darah sehingga karena sempitnya saluran meningkatkan tekanan aliran darah epistaksis juga atau kemungkinan pasien ini meminum obat pengencer darah darah menjadi encer perdarahan yang hebat
9

DIAGNOSIS PASTI EPISTAKSIS POSTERIOR DENGAN HIPERTENSI GRADE II DAN HIPERLIPIDEMIA DIAGNOSIS BANDING: Epistaksis posterior et causa obat-obat pengencer darah Epistaksis anterior dengan hipertensi grade II dan hiperlipidemia

Penatalaksanaan 1. Pasien harus dalam posisi duduk tegak. 2. Cek keadaan umum dan tanda vital pasien. 3. Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat penghisap untuk menyingkirkan bekuan darah. 4. Sumber perdarahan juga dicari dengan bantuan tampon. Tampon kapas dibasahi dengan adrenalin 1: 10.000 dan lidokain atau pantokain2%. Kapas ini dimasukkan ke dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa sakit pada saat tindakan selanjutnya. Tampon ini dibiarkan selama 3 - 5 menit. Dengan cara ini dapat ditentukan apakah sumber perdarahan letaknya di bagian anterior atau posterior 5. Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan tampon posterior atau tampon Bellocq. Tampon ini dibuat dari kasa dengan ukuran lebih kurang 3x2x2 cm dan mempunyai 3 buah benang, 2 buah pada satu sisi dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya. Tampon harus menutup sumber perdarahan. Kemudian tampon diberikan vaselin agar tidak lengket saat dicabut serta antibiotik untuk mencegah terjadinya otitis media dan sinusitis. Teknik Pemasangan Langkah langkah pemasangan tampon Bellocq dilakukan anestesi local terlebih dahulu lalu dimasukkan kateter karet melalui nares anterior sampai tampak di orofaring (gunanya untuk menarik tampon Belloque ke koana.) kemudian ditarik ke luar melalui mulut. Ujung kateter di mulut kemudian diikat pada dua buah benang yang terdapat pada
10

satu sisi tampon Bellocq kemudian kateter yang ada dihidung, ditarik keluar hidung. Benang yang telah keluar melalui hidung tadi kemudian ditarik, sedangkan jari telunjuk tangan yang lain membantu mendorong tampon ini ke arah nasofaring. Jika masih terjadi perdarahan dapat dibantu dengan pemasangan tampon anterior, kemudian diikat pada sebuah kain kasa yang diletakkan di tempat lubang hidung sehingga tampon posterior terfiksasi. Sehelai benang lagi pada sisi lain tampon Bellocq dikeluarkan melalui mulut dan ditempelkan dipipi, ini digunakan saat pencabutan tampon setelah 2-3 hari pasca tindakan ini. 6. Pasien dengan Belloque tampon harus dirawat. Saat dirawat, sebaiknya pasien melakukan tirah baring dengan kepala lebih tinggi dan humidifikasi kamar harus diperhatikan. 7. Setelah itu, pasien kita berikan edukasi, seperti harus menghindari korekan hidung, dilarang mengeluarkan ingus secara keras, memencet atau menggaruk hidung selama 1 minggu. Pasien juga dilarang kerja berat dan olah raga selama 2 minggu. 8. kita juga konsultasikan ke dokter penyakit dalam untuk mengatasi hipertensinya.

11

Komplikasi Dari perdarahan dapat menyebabkan : o Anemia o Syok Dari pemasangan tampon, dapat menyebabkan : o Infeksi, seperti Sinusitis, Otitis Media, Septikemia o Laserasi palatum mole Prognosis Ad Vitam : Ad Bonam Karena pasien ini belum mengalami Syok dan kemungkinan septikemia dapat dicegah dengen pemberian antibiotika. Ad Fungsionam : Ad Bonam Karena dengan penanganan yang benar dan cepat, tidak akan menimbulkan kerusakan yang dapat mempengaruhi fungsi hidung. Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam Karena pasien ini menderita Hipertensi yang dapat menjadi etiologi dari terjadinya epistaxis, sehingga masih ada kemungkinan unruk terjadi kembali.

12

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Hidung Anatomi dan fisiologi hidung Hidung merupakan organ penting yang seharusnya

mendapat perhatian lebih dari biasanya dan hidung merupakan salah satu organ pelindung tubuh terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung dalam. Hidung luar menonjol pada garis tengah diantara pipi dengan bibir atas, struktur hidung luar dapat dibedakan atas tiga bagian yaitu: paling atas kubah tulang yang tak dapat digerakkan, dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan dan yang paling bawah adalah lobolus hidung yang mudah digerakkan. Bagian puncak hidung biasanya disebut apeks. Agak keatas dan belakang dari apeks disebut batang hidung (dorsum nasi), yang berlanjut sampai kepangkal hidung dan menyatu dengan dahi. Yang disebut kolumela membranosa mulai dari apeks, yaitu diposterior bagian tengah pinggir dan terletak sebelah distal dari kartilago septum. Titik pertemuan kolumela dengan bibir atas dikenal sebagai dasar hidung. Disini bagian bibir atas membentuk cekungan dangkal memanjang dari atas kebawah yang disebut filtrum. Sebelah menyebelah kolumela adalah nares anterior atau nostril (Lubang hidung)kanan dan kiri, sebelah latero-superior dibatasi oleh ala nasi dan sebelah inferior oleh dasar hidung. Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Bahagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os internum disebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan kebelakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.

13

Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai ala nasi, tepat dibelakang nares anterior, disebut dengan vestibulum.Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut dengan vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum nasi ini dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, dinding lateral terdapat konkha superior, konkha media dan konkha inferior. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konkha inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, yang lebih kecil lagi konka superior, sedangkan yang terkecil ialah konka suprema dan konka suprema biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung

dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konkha media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konkha media disebut meatus superior. Meatus medius merupakan salah satu celah yang penting dan merupakan celah yang lebih luas dibandingkan dengan meatus superior. Disini terdapat muara dari sinus maksilla, sinus frontal dan bahagian anterior sinus etmoid. Dibalik bagian anterior konka media yang letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk bulat sabit yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk bulan sabit menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinus maksilla, etmoid, frontalis dan sphenoid. Dan sinus maksilla merupakan sinus paranasal terbesar diantara lainnya, yang berbentuk pyramid iregular dengan dasarnya menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya kearah apek prosesus zigomatikus os maksilla.

14

Perdarahan hidung Secara garis besar perdarahan hidung berasal dari 3 sumber utama yaitu: 1. Arteri Etmoidalis anterior 2. Arteri Etmoidalis posterior cabang dari arteri oftalmika 3. Arteri Sfenopalatina, cabang terminal arteri maksilaris interna yang berasal dari arteri karotis eksterna. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang arteri maksilaris interna, diantaranya ialah ujung arteri palatina mayor dan arteri sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama nervus sfenopalatina dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang arteri sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina mayor, yang disebut pleksus kieesselbach (littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisialis dan mudah cedera oleh truma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena divestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke vena oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernesus. Persarafan hidung Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervus etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, yang berasal dari nervus oftalmikus. Saraf sensoris untuk hidung terutama berasal dari cabang oftalmikus dan cabang maksilaris nervus trigeminus. Cabang pertama nervus trigeminus yaitu nervus oftalmikus memberikan cabang nervus nasosiliaris yang kemudian bercabang lagi menjadi nervus etmoidalis anterior dan etmoidalis posterior dan nervus infratroklearis. Nervus etmoidalis

anterior berjalan melewati lamina kribrosa bagian anterior dan memasuki hidung bersama arteri etmoidalis anterior melalui foramen etmoidalis anterior, dan disini terbagi lagi menjadi cabang

15

nasalis internus medial dan lateral. Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari nervus maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatina, selain memberi persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut serabut sensorid dari nervus maksila.Serabut parasimpatis dari nervus petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak dibelakang dan sedikit diatas ujung posterior konkha media. Nervus Olfaktorius turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. Epistaksis (perdarahan hidung) ETIOLOGI Seringkali epistaksis timbul spontan tanpa dapat diketahui penyebabnya, kadang-kadang jelas disebabkan oleh kelainan local pada hidung atau kelainan sistemik. Kelainan local misalnya trauma, kelainan anatomi, kelainan pembuluh darah, infeksi local, benda asing, tumor, pengaruh udara lingkungan. Kelainan sistemik seperti penyakit kardiovaskuler, kelainan darah, infeksi sistemik, perubahan tekanan atmosfir, kelainan hormonal dan kelainan congenital. 1. Trauma Perdarahan dapat terjadi karena trauma ringan misalnya mengorek hidung, benturan ringan, bersin atau mengeluarkan ingus terlalu keras, atau sebagai akibat trauma yang lebih hebat seperti terkena pukul, jatuh atau kecelakaan lalulintas. Selain itu juga bisa terjadi akibat adanya benda asing tajam atau trauma pembedahan. Epistaksis sering juga terjadi karena adanya spina septum yang tajam. Perdarahan dapat terjadi di tempat spina itu sendiri atau pada mukosa konka yang berhadapan bila konka itu sedang mengalami pembengkakan. 2. Kelainan pembuluh darah (local) Sering congenital, pembuluh darah lebih lebar, tipis, jaringan ikat dan sel-selnya lebih tipis.
16

3. Infeksi local Epistaksis bisa terjadi pada infeksi hidung dan sinus paranasal seperti rhinitis atau sinusitis. Bisa juga pada infeksi spesifik seperti rhinitis jamur, tuberculosis, lupus, sifilis dan lepra. 4. Tumor Epistaksis dapat timbul pada hemangioma dan karsinoma. Yang lebih sering terjadi pada angiofibroma, dapat menyebabkan epistaksis berat. 5. Penyakit kardiovaskular Hipertensi atau kelainan pembuluh darah seperti yang terjadi pada arteriosklerosis, nefritis kronik, sirosis hepatis, atau diabetes mellitus dapat menyebabkan epistaksis. Epistaksis yang terjadi pada penyakit hipertensi seringkali hebat dan berakibat fatal. 6. Kelainan darah Kelainan darah penyebab epistaksis antara lain leukemia, trombositopenia, bermacammacam anemia serta hemophilia. 7. Kelainan congenital Kelainan congenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah telengiektasis hemoragik herediter (Hereditary Hemorrhagic Telengiectasis Osler-Rendu-Weber disease). Juga sering terjadi pada Von Willenbrand disease. 8. Infeksi sistemik Yang sering menyebabkan epistaksis ialah demam berdarah, demam tifoid, influenza, dan morbili juga dapat disertai epistaksis. 9. Perubahan udara atau tekanan atmosfir Epistaksis ringan sering terjadi bila seseorang berada di tempat yang cuacanya sangat dingin atau kering. Hal serupa juga bisa disebabkan adanya zat-zat kimia ditempat industry yang menyebabkan keringnya mukosa hidung.
17

10. Gangguan hormonal Epistaksis juga dapat terjadi pada wanita hamil atau menopause karena pengaruh perubahan hormon. SUMBER PERDARAHAN Melihat asal perdarahan, epistaksis dibagi menjadi epistaksis anterior dan epistaksis posterior. Untuk penatalaksanaannya, penting dicari sumber perdarahan walaupun kadangkadang sulit. Epistaksis Anterior Kebanyakan berasal dari pleksus Kisselbach (anastomosis dari A. Ethmoidalis posterior, A.

Sphenopalatina, A. Palatina mayor, A. Labialis superior) di septum bagian anterior atau dari arteri etmoidalis anterior. Perdarahan pada septum anterior biasanya ringan karena keadaan mukosa yang hiperemis atau kebiasaan mengorek hidung dan kebanyakan terjadi pada anak-anak, seringkali berulang dan dapat berhenti sendiri. Epistaksis Posterior Dapat berasal dari A. Ethmoidalis posterior atau A. Sphenopalatina. Perdarahannya biasanya lebih hebat dan jarang dapat berhenti sendiri. Sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena pecahnya A.Sphenopalatina.

18

KESIMPULAN

Pada kasus ini datang seorang pasien pria dengan keluhan keluarnya darah dari hidung. Perdarahan dari pasien dapat dibedakan dari sifat perdarahannya. Pada pasien tampak perdarahan berasal dari bagian posterior karena darah tampak lebih banyak. Pada pemeriksaan fisik terlihat adanya darah di daerah orofaring yang semakin menguatkan diagnosis perdarahan hidung atau epistaksis yang berasal dari pendarahan bagian posterior. Pada pasien juga terdapat faktor-faktor pendukung terjadinya perdarahan. Seperti adanya hipertensi grade II pada pasien dilihat dari hasil pengukuran tekanan darahnya. Selain itu juga terdapat faktor pendukung lainnya, yaitu adanya hiperlipidemia pada pasien dilihat dari pemeriksaan profil lipidnya. Hal ini menambah berat perdarahan pada pasien karena pembuluh darah menjadi tidak elastis sehingga dapat pula semakin menaikkan tekanan darah pasien. Diberikan tatalaksana seperti pemasangan tampon belloq pada pasien untuk menghentikan perdarahan pada bagian posterior sambil diperhatikan adanya aspirasi pada pasien. Jika perdarahan tidak berhenti maka dapat dirujuk ke dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan untuk ditangani lebih lanjut.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Silbernagl S, Lang Florian. Teks & Atlas Berwarna Patofisologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003. 2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan: telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. In: Mangunkusumo E, Wardani RS. Epistaksis. 6th Ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. p. 155-6. 3. Accessed at http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21283/4/Chapter%20II.pdf 4. Accesed at http://referensiartikelkedokteran.blogspot.com/2010/10/epistaksis-danpenatalaksanaannya.html 5. Health / Encyclopedia of Medicine Available at :http://findarticles.com/p/articles/mi_g2601/is_0002/ai_2601000207/ Accessed 10 November 2011. 6. Clotting time. Available at :http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/clotting+time Accessed 10 November 2011.

7. Schmaier AH. Laboratory evaluation of hemostatic and thrombotic disorders. In:


Hoffman R, Benz EJ Jr, Shattil SJ, et al, eds. Hoffman Hematology: Basic Principles and Practice . 5th ed. Philadelphia, Pa: Churchill Livingstone Elsevier; 2008:chap 122.

20