Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Mengingat sempitnya lahan yang dimiliki petani, maka usaha peningkatan produksi ternak disarankan agar dititik beratkan pada usahatani intensifikasi. Sejalan dengan ini para petani juga dituntut untuk memanfaatkan lahan yang sempit seoptimal mungkin agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk meningkatkan produktivitas lahan, BEETS menganjurkan menanam bermacam - macam tanaman dalam satu tahun pada lahan yang sama. Sumberdaya lahan yang potensial untuk penanaman hijauan pakan adalah lahan baku yang meliputi padang rumput, lahan garapan berupa sawah, tegalan, ladang, lahan perkebunan, hutan baik sekunder maupun sejenisnya, areal di sepanjang jalan pedesaan, kecamatan serta kabupaten dan daerah aliran sungai, semuanya sangat potensial sebagai sumber hijauan pakan. Beberapa hal tersebut di atas menunjukkan bahwa masih perIu dilakukan penelitian integrasi tanaman pakan ternak unggul dengan tanaman pangan yang tidak berpengaruh negatif pada usahatani sehingga ketersedian pakan ternak secara berkesinambungan sepanjang tahun dengan kualitas yang lebih tinggi dapat terpenuhi. Pertanian terintegrasi bukan hanya melakukan berbagai usaha pertanian (dua atau lebih usahatani) tetapi menekankan adanya simpul-simpul yang menyatukan atau menghubungkan diantara aktivitas usahatani yang satu dengan sistem usahatani yang lain.

1.2 RUMUSAN MASALAH Dari makalah kelompok kami didapati rumusan masalah : 1. Bagaimana penerapan system usaha tani campuran, sistem produksi tanaman ternak, model pertanian tekno ekologis, dan model pertanian tekno ekologis ?
MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU 1

2. Apa keuntungan dari penerapan system usaha tani campuran, sistem produksi tanaman ternak, model pertanian tekno ekologis, dan model pertanian tekno ekologis ? 3. Bagaimana analisis ekonomi dari penerapan system usaha tani campuran, sistem produksi tanaman ternak, model pertanian tekno ekologis, dan model pertanian tekno ekologis

1.3 TUJUAN Tujuan dari makalah kelompok ini adalah 1. Untuk mengetahui proses penerapan system usaha tani campuran, sistem produksi tanaman ternak, model pertanian tekno ekologis, dan model pertanian tekno ekologis. 2. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dari penerapan system usaha tani campuran, sistem produksi tanaman ternak, model pertanian tekno ekologis, dan model pertanian tekno ekologis. 3. Untuk mengetahui bagaimana analisis ekonomi dari penerapan system usaha tani campuran, sistem produksi tanaman ternak, model pertanian tekno ekologis, dan model pertanian tekno ekologis.

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dengan pertanian terpadu ada pengikatan bahan organik didalam tanah dan penyerapan karbon lebih rendah dibanding pertanian konvensional yang menggunakan pupuk nitrogen dan sebagainya. Agar proses pemanfaatan tersebut dapat terjadi secara efektif dan efisien maka sebaiknya produksi pertanian terpadu berada dalam suatu kawasan. Pada kawasanan tersebut sebaiknya terdapat sektor produksi tanaman, peternakan maupun perikanan. Keberadaan sektor-sektor ini akan mengakibatkan kawasan tersebut memiliki ekosistem yang lengkap dan seluruh komponen produksi tidak akan menjadi limbah karena pasti akan dimanfaatkan oleh komponen lainnya. Disamping akan terjadi peningkatan hasil produksi dan penekanan biaya produksi tidak akan menjadi limbah karena pasti akan dimanfaatkan oleh komponen lainnya. Selanjutnya akan terjadi peningkatan hasil produksi dan penekanan biaya produksi sehingga efektivitas dan efisiensi produksi akan tercapai. Selain hemat energi, keunggulan lain dari pertanian terpadu adalah petani akan memiliki beragam sumber penghasilan. Disamping akan terjadi peningkatan hasil produksi dan penekanan biaya produksi sehingga efektivitas dan efisiensi produksiakan tercapai. Seorang petani bisa menanam padi dan bisa juga beternak kambing atau ayam dan menanam sayuran. Kotoran yang dihasilkan oleh ternak dapat digunakan sebagai pupuk sehingga petani tidak perlu
MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU 3

memebeli pupuk lagi. Jika panen gagal petani masih bisa mengandalkan daging atau telur ayam untuk mendapatkan penghasilan. Pertanian terpadu merupakan pilar kebangkitan bangsa Indonesia dengan cara menyediakan pangan yang aktual bagi rakyat Indonesia dengan cara menyediakan pangan yang aktual bagi rakyat Indonesia. Subsektor peternakan sebagai bagian integral pembangunan pertanian memiliki peran strategis dalam penyediaan bahan pangan dan pemberdayaan masyarakat dengan berupaya meningkatkan produksi peternakan melalui penanganan seluruh potensi yang ada secara terpadu dan seimbang. Salah satunya dengan pengembangan usaha peternakan sapi potong sebagai penghasil daging untuk memenuhi permintaan daging. Strategi pembangunan peternakan mempunyai prospek yang baik dimasa depan, karena permintaan akan bahan-bahan yang berasal dari ternak akan terus meningkat seiring dengan perningkatan jumlah penduduk, pendapatan dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi pangan bergisi tinggi sebagai pengaruh dari naiknya tingkat pendidikan masyarakat. Pembangunan dan pengembangan tersebut salah satunya adalah pembangnan di bidang pertanian yang meliputi pembangunan di bidang peternakan, peternakan merupakan salah satu usaha yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat di pedesaan adalah beternak sapi potong, yang berbentuk usaha peternakan rakyat. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, perlu diintensifkan alternatif pola pengembangan peternakan rakyat yang mempunyai skala usaha yang ekonomis, dan mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga yang cukup memadai. Dalam perspektif ke depan, usaha peternakan rakyat harus mengarah menopang dalam pengembangan agribisnis peternakan, sehingga tidak hanya sebagai usaha sampingan, namun sudah mengarah pada usaha pokok dalam perekonomian keluarga. Salah satu bentuk teknologi peroduksi pertanian yang terkait kekayaan sumber daya hayati di lingkungan kita dikenal sebagai Sistem Pertanian Terpadu atau Sistem Pertanian Campuran (MIXED FARMING) yang berusaha memadukan komoditas tanaman pangan, tanaman perkebunan, hortikultura, peternakan dan perikanan. Diversifikasi komoditas yang sinergis dalam suatu luasan lahan tertentu merupakan salah satu upaya untuk memacu peningkatan

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

produktivitas lahan yang berkelanjutan dan pada gilirannya akan meningkatkan kualitas hidup petani. Usaha tani campuran (mixed farming system) adalah merupakan usaha pertanian yang dilakukan yang pada satu lahan ditanami lebih dari satu jenis tanamana/komoditas pada waktu yang sama,yang mana masih melihat segi keuntungan dan kerugiannya. Sistem produksi tanaman-ternak (Corp livestock production system) merupakan system usaha tani yang melibatkan lebih dari satu komoditas dan terdapat interaksi yang saling menguntungkan antara system tanaman pangan, ternak dan tanaman pakan ternak.tanaman pangan produksinya untuk kebutuhan pangan dan juga dapat dugunakan untuk pakan bagi ternak dan jeraminya dapat digunakan sebagai mulsa (penutup tanam) bagi tanaman ternak. Ternak menghasilkan pupuk kandang, bagi tanaman pangan dan tanaman pakan ternak, serta tenaganya dapat digunakan sebagai tenaga penarik dalam system tanaman pangan. Tanaman pakan ternak menghasilakan pakan untuk ternak, selain mengahsilkan pupuk hijau untuk tanaman pangan serta mencegah erosi. Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (SITT) adalah intensifikasi sistem usahatani melalui pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara terpadu dengan komponen ternak sebagai bagian kegiatan usaha. Tujuan pengembangan SITT adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian untuk mewujudkan suksesnya revitalisasi pembangunan pertanian. Komponen usahatani SITT meliputi usaha ternak sapi potong, tanaman pangan (padi & palawija), hortikultura (sayuran), perkebunan, (tebu) dan perikanan (lele, gurami, nila). Limbah ternak (kotoran sapi) diproses menjadi kompos & pupuk organik granuler serta biogas; limbah pertanian (jerami padi, batang & daun jagung, pucuk tebu, jerami kedelai dan kacang tanah) diproses menjadi pakan. Gas-bio dimanfaatkan untuk keperluan memasak, sedangkan limbah biogas (sludge) yang berupa padatan dimanfaatkan menjadi kompos dan bahan campuran pakan sapi & ikan, dan yang berupa cairan dimanfaatkan menjadi pupuk cair untuk tanaman sayuran dan ikan. Pertanian tekno ekologis merupakan model pertanian yang dikembangkan model pertanian ekologis dengan pertanian berteknologi maju. Pertanian ekologis merupakan model pertanian yang dikembangkan selaras dengan kondisi

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

alam atau ekosistem setempat. Kekuatan utama system pertanian ini terletak pada integrasi fungsional dari beragam sumber daya, termasuk fungsi lahan dan komponen biologis, sehingga stabilitas dan produktivitas system usaha tani dapat ditingkat akan dan basis-basis sumber daya alam bisa dilestarikan. Jika keanekaragaman fungsional bisa dicapai dengan mengombinasikan spesies tanaman dan hewan yang memiliki ciri saling melengkapi dan memiliki interaksi sinergetik, bukan hanya kestabilan ekosistem yang bisa diperbaiki, tetapi juga produktivitas system pertanian akan memerlukan input yang lebih rendah. Di samping tetap memelihara keragaman spesies, model pertanian ekologis juga menekankan system produksi siklus. Walaupun dari aspek lingkungan pertanian ekologis sangat menjanjikan, tetapi bila diterapkan secara ekstrem, yakni hanya dengan teknologi tradisional, akan sulit untuk mencapai produktivitas yang optimal. Sebaliknya, pertanian berteknologi maju atau pertanian padat teknologi merupakan model pertanian yang lebih menekankan pada aplikasi teknologi maju guna mengejar produktivitas secara maksimal. Karena itu, model pertanian ini cenderung berorientasi pada dominasi satu komoditas.

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Usaha Tani Campuran (Mixed Farming Systems)

Gambar 1. Usaha Tani Campuran (Mixed Farming Systems) Berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan petani dan juga sebagai peternak, yang bernama bapak Tumiran 62 tahun yang bertempat di desa Ngajum kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, Gunung Kawi. Dalam rumah beliau tinggal bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Bapak Tumiran memiliki luas areal pertanian sekitar 2.500 M2.Seluruh tanah yang dimiliki oleh bapak Tumiran merupakan warisan dari orang tuanya yang dulunya juga sebagai petani. Komoditi pertanian yang diproduksi oleh bapak Tumiran adalah jagung untuk dijual dan jika yang masih tebon dapat juga digunakan sebagai pakan

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

ternak. Selain itu pak Tumiran juga menanam tanaman cabai sebagai pagar/ pembatas antara tanaman jagung. Lokasi pertanian milik Bapak Tumiran berada di timur sekitar 200 meter dari rumahnya sedangkan lokasi peternakan milik beliau berada tepat disamping rumahnya. Jagung yang ditanam oleh Bapak Tumiran seluas 2100 M2 dan disekitarnya untuk pembatas antara jagung ditanami tanaman cabai, yaitu di setiap pinggir sampai memutari areal ladang jagung tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat (M.Zain 2000) yang menyatakan bahwa Sistem penanaman tumpang sari dapat meningkatkan produksi kedua tanaman tersebut jenis tanaman sayur yang bisa digunakan diantaranya adalah jagung, ketela pohon, kol, kentang, bawang-daun, dan seledri. Selain itu pendapat dari Basuki juga didukung dengan pendapat Pribadi dan Kusnadi. (2008) yang mengatakan berbagai pola penanaman tumpangsari sudah terbukti bagus pada lahan yang kering. Disamping sebagai usaha diversifikasi komoditas, pola tumpang sari dilihat dapat memanfaatkan lahan dan energi dengan baik. Analisis usaha dari sistem tumpang sari/ 3 strata Tanaman yang ditanam antara lain jagung dan cabe sebagai pagar. Setiap kali panen tanaman jangung bisa menghasilkan 700kg jagung, Bapak Tumiran melakukan pemupukan untuk tanaman jagung 3 kali pada setiap masa tanam yaitu pupuk Urea dan pupuk kandang. Untuk jagung tidak memakai pupuk kandang karena jika menggunakan pupuk kandang dari hasil limbah ternak akan mengakibatkan tumbuhnya tanaman lain seperti gulma. Tapi sebaliknya untuk cabe, Bapak Tumiran menggunakan pupuk kandang dari hasil limbah ternak miliknya untuk meningkatkan pertumbuhan dari cabe untuk menghemat biaya produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat (Suretno. 2002) Pemanfaatan limbah tanaman sebagai pakan, serta limbah ternak menjadi pupuk dan sumber energi alternatif merupakan potensi yang perlu dikembangkan. Teknik penanaman tanaman

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

a) Penentuan Pola Tanam Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia (tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan. Pola tanam yang digunakan oleh pak Tumiran yaitu Tumpang sari (Intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, rumput gajah. (T. Soedjono.2007) b) Cara Penanaman Pada jarak tanam 75 x 25 cm setiap lubang ditanam satu tanaman. Dapat juga digunakan jarak tanam 75 x 50 cm, setiap lubang ditanam dua tanaman. Tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang atau saat air berlebihan. Pada waktu musim penghujan atau waktu musim hujan hampir berakhir, benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya cukup tersedia selama pertumbuhan tanaman jagung. Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan turun. Pembuatan lubang tanaman dan penanaman biasanya memerlukan 4 orang (2 orang membuat lubang, 1 orang memasukkan benih, 1 orang lagi memasukkan pupuk dasar dan menutup lubang). Jumlah benih yang dimasukkan per lubang tergantung yang dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji per lubang, bila dikehendaki 1 tanaman per lubang, maka benih yang dimasukkan 2 butir benih per lubang. c) PemeliharaanTanaman 1. Penjarangan dan Penyulaman. Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai dengan yang dikehendaki. Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman,

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

sedangkan yang dikehendaki hanya 2 atau 1, maka tanaman tersebut harus dikurangi. Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati. Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam. Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. Penyulaman hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama. Waktu penyulaman paling lambat dua minggu setelah tanam. 2. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma). Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran berumur 15 hari. 3. Pembubunan Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenaga biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu setelah tanaman berumur 1 bulan.
4.

tanaman yang pada umur tersebut masih belum

cukup kuat mencengkeram tanah. Hal ini biasanya dilakukan setelah tanaman

Pemupukan Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 200-300 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap :

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

10

Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu tanam. Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah mulai keluar.

5. Pengairan dan Penyiraman Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab. Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung. 6. Waktu Penyemprotan Pestisida Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien. 7. Panen Ciri jagung yang siap dipanen adalah: a) Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam (3bulan) b) Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang ditandai dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga. c) Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh. Saat itu diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk direbus dan dibakar, dipanen ketika matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih berwarna hijau, dan bila biji dipijit tidak terlalu keras serta akan mengeluarkan cairan putih. Jagung untuk makanan pokok (beras jagung), Pakan ternak, benih, tepung dan berbagai keperluan lainnya dipanen jika

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

11

sudah matang fisiologis. Tanda-tandanya: sebagian besar daun dan kelobot telah menguning. Apabila bijinya dilepaskan akan ada warna coklat kehitaman pada tangkainya (tempat menempelnya biji pada tongkol). Bila biji dipijit dengan kuku, tidak meninggalkan bekas. Analisis Usaha Biaya produksi Pengolahan tanah : Rp 250.000,Bibit: benih jagung (1250 m2) 1,5 kg @ Rp. 50.000,- Rp. 75.000,Pupuk - Urea : 100 kg Rp. 275.000,

Pestisida - Insektisida: 2 botol @ Rp. 50.000, Rp. 100.000,Tenaga kerja - Pengolahan lahan 4 orang @ Rp. 50.000,- Rp. 400.000,- (2 hari) - Penyiangan dan pembubunan 3 orang @ Rp. 50.000,-Rp. 150.000,- (3 hari) - Pemeliharaan lain Rp. 100.000,-

Panen Rp. 100.000,Biaya lain-lain Rp. 100.000,Total : Rp. 1.550.000,Pendapatan jagung 700 Kg @ Rp. 2.200,cabai 35 kg @ 30000 Rp. 1.540.000,- (per 3 bulan) Rp 1.050.000,- (per bulan) x 3 = Rp 3.150.000,-

Keuntungan Bersih

Rp.3.140.000,- (setiap panen)

3.2 Model Pertanian Tanaman Pangan Pakan Ternak

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

12

Gambar 2. Model Pertanian Tanaman Pangan Pakan Ternak Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering disebut dengan pertanian terpadu, adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan pertanian. Pola ini sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang di lahan pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian digunakan untuk pakan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya. Sesuai dengan pendapat Kusnadi (2008) sebagai contoh sederhana pertanian terpadu adalah apabila dalam suatu kawasan ditanam jagung, maka ketika jagung tersebut panen, hasil sisa tanaman merupakan limbah yang harus dibuang oleh petani. Tidak demikian halnya apabila di kawasaan tersebut tersedia ternak ruminansia, limbah tersebut akan menjadi makanan bagi hewan ruminansia tersebut. Hubungan timbal balik akan terjadi ketika ternak mengeluarkan kotoran yang digunakan untuk pupuk bagi tanaman yang ditanam di kawasan tersebut. Pada sistem peretanian yang seperti ini kami melakukan wawancara kepada seorang petani di Dsn. Sembon Sumberjo Desa Ngajum Kec. Ngajum Kab. Malang yang bernama bapak Garnam. Beliau memiliki lahan garapan seluas 5000 m2 dengan rincian panjang x lebar adalah 100 m x 50 m. Dengan lahan tersebut, beliau menanam beberapa macam tanaman berupa tanamam pangan

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

13

adalah padi dan pisang, dan di sekeliling tanaman utama juga di tanami rumput gajah untuk memenuhi kebutuhan tanaman pakan bagi ternak. Sehingga terjadi keterpaduan antara tanaman pangan dan tanaman pakan ternak. Untuk ternak sendiri, beliau memelihara sapi perah. Untuk penanaman padi sendiri di lakukan pada seperti umumnya para petani melakukan penanaman padi. Teknik penanaman padi adalah sbb: Pembibitan Ada beberapa tahapan untuk menanam padi maupun budidaya padi, langkahlangkanh tersebut perlu kita lakukan untuk mendapat hasil yang maksimal. Sebelum ditanam, tanaman padi harus disemaikan lebih dahulu. Pesemaian itu harus disiapkan dan dikerjakan dengan baik, maksudnya agar diperoleh bibit yang baik, sehingga pertumbuhannya akan baik pula. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan persemaian sebagai berikut: a.

Memilih tempat penyemaian Tanahnya harus yang subur, banyak mengandung humus, dan gembur. Tanah itu harus tanah yang terbuka, tidak terlindung oleh pepohonan, sehingga sinar matahari dapat diterima dan dipergunakan sepenuhnya.

Dekat dengan sumber air terutama untuk pesemaian basah, sebab pesemaian banyak membutuhkan air. Sedanggkan pesemaian kering dimaksudkan mudah mendapatkan air untuk menyirami apabila persemaian itu mengalami kekeringan.

Apabila areal yang akan ditanami cukup luas sebaiknya tempat pembuatan pesemaian tidak berkumpul menjadi satu tempat tetapi dibuat memencar. Hal itu untuk menghemat biaya atau tenaga pengangkutannya.

b. Mengerjakan Tanah Untuk Pesemaian Tanah pesemaian harus mulai dikerjakan kurang lebih 50 hari sebelum penanaman. Karena adanya dua jenis padi, yaitu padi basah dan ppadi kering, maka tanah pesemaian juga dapat dibedakan atas pesemaian basah dan pesemaian kering.

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

14

Pesemaian Basah Dalam membuat pesemaian basah harus dipilih tanah sawah yang

betul-betul subur. Rumput-rumput dan jerami yang masih tertinggal harus dibeersihkan lebih dulu. Kemudian sawah digenangi air, maksud digenagi air ini agar tanag menjadi lunak, rumput-rumputan yang akan tumbuh menjadi mati, dan bermacam-macam serngga yang dapat merusak bibit menjadi mati pula. Selanjutnya, apabila tanah sudah cukup lunak lalu dibajak/digaru dua kali atau tanah menjadi halus. Pada saat itu juga sekaligus dibuat petakan-petakan dan memperbaiki pematang. Sebagai ukuran dasar luas pesemaian yang harus dibuat kurang lebih 1/20 dari areal sawah yang akan ditanamai. Jadi apabila sawah yang akan ditanami seluas 1 Ha, maka luas pesemaian yang harus dibuat adalah 1/20 x 10.000 m = 500 m. Adapun biji yang dibutuhkan adalah kurang lebih 75 gram biji setiap 1 m, atau sebanyak kurang lebih 40 kg. Pesemaian Kering Prinsip pembuatan pesemaian kering sama dengan pesemaian basah. Rumpu-rumput dan sisa-sisa jerami yang ada harus dibersihkan terlebih dahulu. Tanah dibolak-balik dengan bajak dan digaru, atau bisa dan halus. juga memakai cangkul yang terpenting tanah menjadi gembur. Setelah tanaha menjadi halus, diratakan dan dibuat bedengan-bedengan. Adapun ukuran bedengan sebagai berikut : Tinggi 20 cm, lebar 120 cm, panjang 500-600 cm. Antara bedengan yang satu dengan yang lain diberi jarak 30 cm sebagai selokan yang dapat digunakan untuk memudahkan : Penaburan biji, pengairan, pemupukan, penyemprotan hama, penyiangan, dan pencabutan bibit. c. Penaburan Biji Untuk memilih biji-biji yang bernas dan tidak, biji harus direndam dalam air. Biji-biji yang bernas akan tenggelam sedangkan yang biji-biji yang hampa akan terapung. Dan biji-biji yang terapaung bisa dibuang. Maksud perendaman selain memilih biji yang bernas, biji juga agar cepat

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

15

berkecambah. Lama perendaman cukup 24 jam, kemudian bijhi diambil dari rendaman lalu di peram dibungkus memakai daun pisang dan karung. Pemeraman dibiarkan selama 8 jam. Apabila biji sudah berkecambah dengan panjang 1 mm, maka biji disebar ditempat pesemaian. Diusahakan agar penyebaran biji merata, tidak terlalu rapat dan tidak terlalu jarang. Apabila penyebarannya terlalu rapat akan mengakibatkan benih yang tumbuh kecil-kecil dan lemah, tetapi penyebaran yang terlalu jarang biasanya menyebabkan tumbuh benih tidak merata.raan d. Pemeliharaan Pesemaian Pengairan Pada pesemaian basah, begitu biji ditaburkan terus digenangi air selama 24 jam, baru dikeringkan. Genangan air dimaksudkan agar biji yang disebar tidak berkelompok-kelompok sehingga dapat merata. Adapun pengeringan setelah penggenangan selama 24 jam itu dimaksudkan pertumbuhaan. Pada pesemaian kering, pengairan dilakukan dengan air rembesan. Air dimasukan dalam selokan antara bedengan-bedengan, sehingga bedengan akan terus-menerus mendapatkan air dan benih akan tumbuh tanpa mengalami kekeringan. Apabila benih sudah cukup besar, penggenangan dilakukan dengan melihat keadaan. Pada bedengan pesemaian bila banyak ditumbuhi rumput, perlu digenagi aiar. Apabila pada pesemaian tidak ditumbuhi rumput, maka penggenangan air hanya kalau memerlukan saja. Pengobatan Untuk menjaga kemungkinan serangan penyakit, pesemaian perlu disemprot dengan Insektisida 2 kali, yaitu 10 hari setelah penaburan dan sesudah pesemaian berumur 17 Pengolahan Tanah a) Cara Mengolah Tanah agar biji tidak membusuk dan mempercepat

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

16

Pengolahan tanah untuk penanaman padi harus sudah disiapkan sejak dua bulan penanaman. Pelaksanaanya dapat dilakukan dengan dua macam cara yaitu dengan cara tradisional dan cara modern. o Pengolahan tanah sawah dengan cara tradisional, yaitu pengolahan tanah sawa dengan alat-alat sederhana seperti sabit, cangkul, bajak dan garu yang semuaya dilakukan oleh nusia atau dibantu ooleh binatang misalnya, kerbau dan sapi. o Pengolahan tanah sawah dengan cara modern yaitu pengolahaan tanah sawa yang dilaukan dengan mesin. Dengan traktor dan alat-alat pengolahan tanah yang serba dapat kerja sendiri. 1) Pembersihan Sebelum tanah sawa dicangkul harus dibersihkan lebih dahulu dari jerami-jerami atau rumput-rumput yang ada. Dikumpulkan di satu tempat atau dijadikan kompos. Sebaiknya jangan dibakar, sebab pembakaran jerami itu akan menghilangkan zat nitrogen yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. 2) Pencangkulan Sawah yang akan dicangkul harus digenagi air terlebih dahulu agar tanah menjjadi lunak dan rumput-rumputnya cepat membusuk. Pekerjaan pencangkulan ini dilanjutkan pula dengan perbaikan pematang-pematang yang bocor. 3) Pembajakan Sebelum pembajakan, sawah sawah harus digenangi air lebih dahulu. Pembajakan dimulai dari tepi atau dari tengah petakan sawah yang dalamnya antara 12-20 cm. tujuan pembajakan adalah mematikan dan membenamkan rumput, dan membenamkan bahan-bahan organis seperti : pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos sehingga bercampur dengan tanah. Selesai pembajakan sawah digenagi air lagi selama 5-7 hari untuk mempercepat

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

17

pembusukan sisa-sisa tanaman dan melunakan bongkahanbongkahan tanah. 4) Penggaruan Pada waktu sawah akan digaru genangan air dikurangi. Sehingga cukup hanyya untuk membasahi bongkahan-bongkahan tanah saja. Penggaruan dilakukan berrulang-ulang sehingga sisasisa rumput terbenam dan mengurangi perembesan air ke bawah. Setelah penggaruan pertama selesai, sawah digenagi air lagi selama 7-10 hari, selang beberapa hari diadakan pembajakan yyang kedua. Tujusnnya yaitu: meratakan tanah, meratakan pupuk dasar yang dibenamkan, dan pelumpuran agar menjadi lebih sempurna. Penanaman Pemilihan Bibit Pekerjaan penanaman didahului dengan pekerjaan pencabutan bibit di pesemaian. Bibit yang akan dicabut adalah bibit yang sudah berumur 25-40 hari (tergantung jenisnya), berdaun 5-7 helai. Sebelum pesemaian 2 atau 3 hari tanah digenangi air agar tanah menjadi lunak dan memudahkan pencabutan. Caranya, 5 sampai 10 batang bibit kita pegang menjadi satu kemudian ditarik ke arah badan kita, usahakan batangnya jangan sampai putus. Ciri-ciri bibit yang baik antara lain: Umurnya tidak lebih dari 40 hari Tingginya kurang lebih dari 40 hari Tingginya kurang lebih 25 cm Berdaun 5-7 helai Batangnya besar dan kuat Bebas dari hama dan penyakit Bibit yang telah dicabut lalu diikat dalam satu ikatan besar untuk memudahkan pengangkutan. Bibit yang sudah dicabut harus segera ditanam, jangan sampai bermalam. Penanaman padi yang baik harus menggunakan larikan ke kanan dank e kiri dengan jjarak 20 x 20 cm, hal

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

18

ini untuk memudahkan pemeliharaan, baik penyiangan atau pemupukan dan memungkinkan setiap tanaman memperoleh sinar matahari yang cukup dan zat-zat makanan secara merata. Dengan berjalan mundur tangan kiri memegang bibit, tangan kanan menanam, tiap lubang 2 atau 3 batang bibit, dalamnya kira-kira3 atau 4 cm. usahakan penanaman tegak lurus jangan sampai miring. Usahakan penanaman bibit tidak terlalu dalam ataupun terlalu dangkal. Bibit yang ditanam terlalu dalam akan menghambat pertumbuhan akar dan anakannya sedikit. Bibit yang ditanam terlalu dangkal akan menyebabkan mudah reba atau hanyut oleh aliran air. Dengan demiikian jelas bahwa penanaman bibit yang terlalu dalam maupun terlalu dangkal akan berpengaruh pada hasil produksi. 4 Pemeliharaan A. Pengairan Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah. Masalah pengairan bagi tanaman padi sawah merupakan salah satu factor penting yang harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen yang akan datang. Air yang dipergunakan untuk pengairan padi di sawah adalah air yang berasal dari sungai, sebab air sungai banyak mengandung lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna untuk menambah kesuburan tanah dan tanaman. Air yang berasal dari mata air kurang baik untuk pengairan sawah, sebab air itu jernih, tidak mengandung lumpur dan kotoran. Memasukan air kedalam sawahdapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: Air yang dimasukan ke petakan-petakan sawah adalah air yang berasal dari saluran sekunder. Air dimasukan ke petakan sawah melalui saluran pemasukan, dengan menghentikan lebih dahulu air pada saluran sekunder. Untuk menjaga agar genangan air didalam petakan sawah itu tetap, jangan lupa dibuat pula lubang pembuangan. Lubang pemasukan dan lubang pembuangan tidak boleh dibuat lurus. Hal ini dimaksudkan agar ada pengendapan lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna bagi

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

19

pertumbuhan tanaman. Apabila lubang pemasukan dan lubang pembuangan itu dibuat luru, maka air akan terus mengalir tanpa adanya pengendapan. Pada waktu mengairi tanaman padi di sawah, dalamnya air harus diperhatikan dan disesuaikan dengan umur tanaman tersebut. Kedalaman air hendaknya diatur dengan cara sebagai berikut:

Tanaman yang berumur 0-8 hari dalamnya air cukup 5 cm.

Tanaman yang berumur 8-45 hari dalamnya air dapat ditambah hingga 10-20 cm.

Tanaman padi yang sudah membentuk bulir dan mulai menguning dalamnya air dapat ditambah hingga 25 cm. setelah itu dikurangi sedikit demi sedikit.

Sepuluh hari sebelum panen sawah dikeringkan sama sekali. Agar padi dapat masak bersama-sama.

B. Penyiangan dan Penyulaman Setelah penanaman, Apabila tanaman padi ada yang mati harus segera diganti (disulam). Tanaman sulam itu dapat menyamai yang lain, apabila penggantian bibit baru jangan sampai lewat 10 hhari sesudah tanam. Selain penyulaman yang perlu dilakukan adalah penyiangan agar rumputrumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman padi tidak bertumbuh banyak dan mengambil zat-zat makanan yang dibutuhkan ttanaman padi. Penyiangan dilakukan dua kali yang pertama setelah padi berumur 3 minggu dan yang kedua setelah padi berumur 6 minggu. Analisis ekonomi Biaya produksi padi Pengolahan tanah : Rp 400.000,Bibit: benih padi 20 kg @ Rp. 9750,Pupuk - Urea: 75 kg @ Rp. 1.800, Rp. 135.000, Rp. 195.000,-

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

20

- TSP 36: 50 kg @ Rp.2.000,- phonska: 200 kg @ Rp. 2300, ZA: 175 kg @ Rp 1400,organik : 400 kg @ Rp. 500,Pestisida

Rp. 100.000, Rp. 460.000, Rp. 245.000, Rp. 200.000,-

Insektisida: 2 liter @ Rp. 100.000,Herbisida: 1 liter @ Rp. 225.000,-

Rp. 200.000, Rp. 225.000,-

Tenaga kerja Pengolahan lahan 4 orang @ Rp. 40.000,(3 hari) Penanaman: 7 orang (borongan) (1 hari) Penyiangan dan pembumbunan (borongan) Pemupukan: 2 orang @ Rp. 40.000,(1 hari ) Pemeliharaan lain Rp. 200.000, Rp. 200.000, Rp. 80.000, Rp. 540.000, Rp. 480.000,-

Panen Rp. 100.000,Biaya lain-lain Rp. 100.000,Total : Rp. 3.460 .000, Pendapatan padi 4 ton @ Rp. 3.500,Keuntungan Bersih Rp. 14.000.000,-

Rp.10.540.000,- (setiap panen)

Biaya Produksi Rumput gajah Bibit 50 kg @ Rp. 300,Pupuk


-

Rp.15.000,-

Urea 50 kg @ Rp. 1800,-

Rp. 90.000,-

Tenaga kerja -

Penanaman: 2 orang @ Rp. 40.000,Pemupukan: 1 orang @ Rp. 40.000,Pemeliharaan lain Rp. 275.000,-

Rp. 80.000,- ( 1hari) Rp. 40.000,- ( 1 Hari) Rp. 50.000,-

Total

Panen 1,2 ton per panen ( 50 hari)


MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU 21

Diberikan ternak sapi 1 ekor sebanyak 20 kg per hari Di berikan ke kambing 4 ekor sebanyak 12 kg

Biaya Produksi Pisang 40 tandan pisang @ Rp 50.000,- = Rp 2.000.000,-

Produksi Ternak 1. Biaya Produksi ternak sapi a. b. c. e Bibit 1 ekor konsentrat sebanyak 800 kg @ 2300 Keuntungan bersih a. Bibit 4 ekor @ Rp.400.000, c. Konsentrat 240 kg d. Penjualan kambing @ Rp 1.800.000, e. Keuntungan Rp. 4.000.000, Rp. 1.840.000,Rp. 4.160.000, Rp 1.600.000, Rp 552.000, Rp 7.200.000, Rp 5.048.000,Pakan Hijauan 600 kg didapat dari rumput gajah miliknya sendiri.

d. Harga jual @ Rp. 10.000.000,2. biaya produksi kambing b. Pakan Hijauan didapat dari rumput gajah miliknya sendiri.

Untuk praktikum pertama, yakni pada lahan tumpangsari, dari data padi dan rumput gajah didapatkan R/C Ratio sebesar sebagai berikut: R/C Ratio = total penerimaan/total biaya = Rp 21.748.000 / Rp = 2,821.402.000 = 1,02 Jadi, karena R/C > 1, maka usaha dengan sistem tumpangsari tersebut bersifat menguntungkan.

3.3 Model Pertanian Tekno-Ekologis ( Ekologis Lahan Sawah )

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

22

Gambar 3. Model Pertanian Tekno-Ekologis ( Ekologis Lahan Sawah ) Tekno-ekologis yaitu model pertanian yang selaras dengan ekosistem (alam), yang disertai dengan sentuhan teknologi maju, merupakan perpaduan antara Ecofarming dengan Tecnofarming. Pertanian Integratif (salah satu ciri pertanian tekno-ekologis) Sebuah pola pertanian diversifikasi yang didalamnya terdapat 2 atau lebih komoditas yang mempunyai hubungan fungsional dalam pemanfaatan zat-zat makanan / biomassa. Dari aspek ekologi, model pertanian tekno-ekologis berorientasi pada optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal melalui siklus produksi tertutup guna menekan penggunaan bahan-bahan anorganik (kimiawi). Implikasinya, model tekno-ekologis ini akan dapat mendukung kelestarian ekosistem. Jika penerapannya didukung oleh aplikasi teknologi yang bersifat adaptasi dan mitigasi secara terencana dan terarah, model pertanian tekno-ekologis dapat membantu petani dalam menyikapi fenomena global perubahan iklim yang semakin ekstrem. Pada pratikum yang di lakukan di lahan milik pak Sutrisno menggunakan sistem pertanian ekologis, yaitu dengan memadukan suatu pertanian alami dengan adanya sentuhan teknologi . hal ini dapat di lihat dengan penerapanya, pak Sutrisno memiliki sawah 7000 M2 yang di tanami dengan tanaman padi ( varietas Cibogo dan IR 64 ) dan jenis ternak yang di pelihara sapi perah dan kambing

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

23

Keunggulan Pertanian Tekno-Ekologis : - Lebih efisien - Peluang memproduksi produk organik - Menekan resiko usahatani (serangan hama, bencana alam, jatuh harga, dsb.) - Mencipta peluang / relung / produk baru - Mencipta lapangan kerja baru - Peluang peningkatan kesejahteraan nyata - Integrasi adaptasi dan mitigasi dalam antisipasi perubahan iklim. Untuk pelaksanaan praktikum ketiga, dilakukan pada petani atau peternak yang memiliki lahan sawah beserta peralatan teknologis untuk mengolah hasil sawah tersebut, dan dari hasil sampingnya bisa diberikan kepada ternak yang dipeliharanya. Praktikum ini dilaksanakan didesa Ngajum Kabupaten Malang. Bapak Sutrisno ini, memiliki alat teknologis, diantaranya adalah alat pemecah gabah, yang berfungsi untuk memecah padi atau mengupas kulitnya. Hasil samping dari penggunaan alat ini adalah sekam padi yang kosong. Mesin ini berkekuatan 6-12 pk. Kemudian ada polesor yang berfungsi untuk memutihkan gabah, mesin ini berkekuatan 10 pk. Cara kerjanya adalah dengan memasukkan padi alat, untuk menghidupkan alat, dapat dilakukan dengan memutar karetnya. Masa pakai alat-alat tersebut kurang lebih sekitar 5 tahun. Hal diatas mengenai peralatan pertanian, sesuai dengan yang diungkapkan pada literature, yakni oleh (Widowati Sri. 2001), bahwa dalam proses penggilingan padi menjadi beras giling, diperoleh hasil samping berupa sekam (15-20%), (2) dedak/bekatul (8-12%) yang merupakan kulit ari, di-hasilkan dari proses penyosohan, dan (3) menir (5%) merupakan bagian beras yang hancur. Umumnya PPS terdiri dari dua unit mesin pemecah kulit dan dua unit mesin penyosoh. PPS ini menggunakan sistem semi kontinu, yaitu mesin pecah kulitnya kontinu, sedangkan mesin sosoh-nya masih manual. Di pedesaan masih terdapat Huller, yaitu peng-gilingan padi yang menggunakan tenaga penggerak kurang dari 20 HP. Karena sesuai data yang didapat, pak Sutrisno hanya memiliki alat penggilingan padi berkekuatan dibawah 20, yakni masih 6-12 pk. Analisis Ekonomi
MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU 24

Pengolahan tanah : Rp 600.000,Bibit: benih padi Pupuk - Urea: 300 kg @ Rp. 2.750,Pestisida Insektisida: 3 liter @ Rp. 100.000,Herbisida: 1,5 liter @ Rp. 225.000, Rp. 300.000, Rp. 337.500, Rp. 825.000, Rp. 100.000,-

Tenaga kerja Pengolahan lahan 5 orang @ Rp. 40.000,(3 hari) Penanaman: 8 orang (borongan) Penyiangan dan pembubunan (borongan) Pemupukan: 3 orang @ Rp. 40.000,(1 hari ) Pemeliharaan lain Rp. 200.000, Rp. 200.000, Rp 600.000, Rp. 640.000, Rp. 200.000, Rp. 120.000,-

Panen Rp. 150.000,Biaya lain-lain Rp. 100.000,Total : Rp. 4.392.500,Pendapatan padi 6 ton @ Rp. 3.500, Rp. 21.000.000,-

Keuntungan Bersih

Rp.16.607.500,- (setiap panen)

3.4 Model Pertanian Tekno-Ekologis ( Ekologis Lahan perkebunan )

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

25

Gambar 4. Model Pertanian Tekno-Ekologis ( Ekologis Lahan perkebunan ) Untuk sistem perkebunan, jadi pemilik perkebunan tidak hanya mengolah perkebunannya, jadi beliau juga memiliki ternak yang dapat memanfaatkan hasil samping dari perkebunan. Selain itu, beliau juga memilki alat teknologis, yang dapat digunakan untuk mengolah hasil perkebunan. Dari hasil observasi, jenis tanaman yang ditanaman dilahan perkebunan milik Bapak Sutrisno adalah pohon tebu yang diselingi dengan lamtoro,gamal dan rumput gajah sebagai pagar. Tanaman dipupuk dengan pupuk urea, dan NPK yang masing-masing berjumlah kg. terkadang juga ditambah dengan pupuk kandang sebagai hasil limbah dari ternak yang dipelihara, yakni 2 sapi perah dan 9 kambing. Untuk lamtoro di panen 300 kg/bulan, gamal 500kg/panen dan rumput gajah 1,5 ton/panen. Sesuai dengan pernyataan pada literature (Aak. 2001), bahwa disela-sela tumbuhan perkebunan bisa ditanami dengan tanaman lain. Sementara sesuai dengan observasi kami, sela-selanya ditanami dengan lamtoro/gamal/rumput gajah yang sekaligus berfungsi sebagai pagar.

Biaya produksi kebun kopi

Bibit tebu Pupuk - Urea: 10 kg @ Rp. 1.800

Rp. 120.000,-

Rp. 90.000,26

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

- NPK: 15 kg @ Rp. 8.000 - Herbisida: 2 liter @ Rp. 50.000, Tenaga kerja

Rp. 120.000, Rp. 200.000 Rp. 80.000, Rp. 200.000, Rp. 40.000, Rp. 100.000,-

- Pengolahan lahan 2 orang @ Rp. 40.000,- Penanaman: 3 orang (borongan) - Pemupukan: 1 orang @ Rp. 40.000,- Pemeliharaan lain

Panen Rp. 150.000,Biaya lain-lain Rp. 100.000,Total : Rp. 2.530 .000,Pendapatan 50 ton @ Rp. 650,Keuntungan Bersih (per tahun) Rp. 32.500.000,Rp.31.300.000,-

BAB IV
MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU 27

PENUTUP 4.1 Kesimpulan Usaha tani campuran adalah suatu system dimana dalam satu lahan bisa ditanami dengan lebih dari satu jenis tanaman dalam waktu yang bersamaan. System produksi tanaman-ternak adalah dimana ada lebih dari satu komoditi yang saling berinteraksi dan member keuntungan, baik antara tanaman pangan, pakan dan ternak itu sendiri. 4.2 Saran Untuk penghitungan analisa keuangan, ada baiknya bila diberi bimbingan terlebih dahulu, agar hasil yang didapatkan sesuai dengan kemauan yang diinginkan oleh asisten.

MAKALAH PRAKTIKUM SISTEM PERTANIAN TERPADU

28