Anda di halaman 1dari 1

Pengaruh Eritropoietin dalam Pembentukan Sel-sel Darah Merah Stimulus utama yang dapat merangsang produksi sel darah

merah dalam keadaan oksigen yang rendah adalah hormon dalam sirkulasi yang disebut eritropoietin, yaitu suatu glikoprotein dengan berat molekul kira-kira 34.000. Tanpa adanya eritropoietin, keadaan hipoksia tidak akan berpengaruh atau pengaruhnya sedikit sekali dalam perangsangan produksi sel darah merah. Akan tetapi, bila sistem eritropoietin ini berfungsi, maka hipoksia akan menimbulkan peningkatan produksi eritropoietin yang nyata, dan eritropoietin selanjutnya akan memperkuat produksi sel darah merah sampai hipoksia mereda. Bila kita menempatkan seekor binatang atau seseorang dalam atmosfer yang kadar oksigennya rendah, eritropoietin akan mulai dibentuk dalam beberapa menit sampai beberapa jam, dan produksinya mencapai maksimum dalam waktu 24 jam. Namun, hampir tidak dijumpai adanya sel darah merah baru dalam sirkulasi darah sampai 5 hari kemudian. Berdasarkan fakta ini, dan penelitian lain, sudah dapat ditentukan bahwa pengaruh utama eritropoietin adalah merangsang produksi proeritroblas dari sel stem hematopoietik di sumsum tulang. Selain itu, begitu proeritroblas terbentuk, maka eritropoietin juga menyebabkan sel-sel ini dengan cepat melalui berbagai tahap eritroblastik ketimbang pada keadaan normal. Hal tersebut akan lebih mempercepat produksi sel darah merah yang baru. Cepatnya produksi sel ini terus berlangsung selama orang tersebut tetap dalam keadaan oksigen rendah, atau sampai jumlah sel darah merah yang telah terbentuk cukup untuk mengangkut oksigen dalam jumlah yang memadai ke jaringan walaupun kadar oksigennya rendah; pada saat ini, kecepatan produksi eritropoietin menurun sampai kadar tertentu yang akan mempertahankan jumlah sel darah merah yang dibutuhkan, namun tidak sampai berlebihan. Bila tidak ada eritropoietin, sumsum tulang hanya membentuk sedikit sel darah merah. Pada keadaan yang ekstrem, bila jumlah eritropoietin yang terbentuk sangat banyak, dan jika tersedia sejumlah besar zat besi dan nutrisi lainnya yang diperlukan, maka kecepatan produksi sel darah merah dapat meningkat sampai sepuluh kali lipat atau lebih dibandingkan keadaan normal. Oleh karena itu, mekanisme eritropoietin dalam pengaturan produksi sel darah merah merupakan suatu mekanisme yang kuat. Sumber: Guyton, C. Arthur and John E. Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta: EGC.