Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH PERUBAHAN SOSIAL REVOLUSI CINA Dosen Pembimbing : Rika Vira Zwagery, S.Psi, M.

Psi, Psi

Disusun Oleh : Kelompok 2 Devi Riana Karsa (I11C110214) Norlia Astina (I1C110211) Rima Alifia Rahmi (I1C110018) Rizkie Amalia Sholehah (I1C110035) Fakhrisina Amalia Rovieq (I1C110026) Hafid Mahesa (I1C110010) Khairil Anwar (I1C110220) Dwi Utami Madya P. (I1C110212) Farida Rahmayanti (I1C110003) Ricka O. Tinambunan (I1C110030) Ainun Jariah (I1C110028) Azrina Nurwatie (I1C110207) Dede Yuwanto (I1C110221)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir periode Dinasti Qing, China yang selama dua ribu tahun berada dalam kekuasaan yang berdasar atas system kekaisaran hingga pada akhirnya mengalami perubahan. Perubahan ini dirasakan rakyat pada akhir kekuasaannya Dinasti Qing (16441911) kemudian menyusul kekalahan Dinasti Ming, dan dinasti terakhir Han Cina oleh suku Manchu dari sebelah timur laut Cina pada tahun 1644. Dinasti ini merupakan dinasti feodal terakhir yang memerintah Cina. Diperkirakan sekitar 25 juta penduduk tewas dalam periode penaklukan Manchu atas Dinasti Ming (1616-1644). Bangsa Manchu kemudian mengadopsi nilai-nilai Konfusianisme dalam pemerintahan mereka, sebagaimana tradisi yang dilaksanakan oleh pemerintahan dinasti-dinasti pribumi Cina sebelumnya. Pada Pemberontakan Taiping (18511864), sepertiga wilayah Cina sempat jatuh dalam kekuasaan Taiping Tianguo, suatu gerakan keagamaan kuasi-Kristen yang dipimpin Hong Xiuquan yang menyebut dirinya "Raja Langit". Pada tanggal 12 Februari 1912, kaisar terakhir Qing, Kaisar Xuantong turun tahta, menyusul Revolusi Xinhai. Sebulan setelahnya, pada 12 Maret 1912, Republik Cina didirikan dengan Sun Yat-sen sebagai presiden pertamanya. Perbudakan di Cina dihapuskan pada tahun 1910. Pada tahun 1928, setelah konflik berkepanjangan antara panglima-panglima perang yang terjadi antara 1916-1928, sebagian besar Cina dipersatukan di bawah Kuomintang (KMT) oleh Chiang Kai-shek. Sementara itu, Partai Komunis Cina (PKC) yang berhaluan komunis mulai juga menancapkan pengaruhnya dan menjadi pesaing utama Kuomintang yang menimbulkan Perang Saudara Cina.Kedua partai Cina ini secara nominal sempat bersatu dalam menghadapi pendudukan Jepang yang dimulai tahun 1937, yaitu selama Perang Sino-Jepang (1937-1945) yang merupakan bagian Perang Dunia II. Mengikuti kekalahan Jepang tahun 1945, permusuhan KMT dan PKC berlanjut kembali setelah usaha-usaha rekonsiliasi dan negosiasi gagal mencapai kesepakatan.

Di akhir Perang Dunia II tahun 1945 sebagai bagian dari penyerahan kekuasaan Jepang, pasukan Jepang di Taiwan menyerah kepada pasukan Republik Cina di bawah Chiang Kai-shek yang memegang kendali atas Taiwan. Konflik antara partaipartai Cina yang dimulai sejak 1927 berakhir secara tak resmi dengan pengunduran diri Kuomintang ke Taiwan pada tahun 1949 dan menjadikan Partai Komunis Cina sebagai penguasa tunggal di Cina daratan. Sampai sekarang, pemerintah yang memerintah Taiwan masih menggunakan nama resmi "Republik Cina" walaupun secara umum dikenal dengan nama "Taiwan". Beranjak dari penjabaran mengenai perjalanan Revolusi Xinhai di atas, maka kelompok kami akan membahas perjalanan Revolusi Xinhai oktober 1911 hingga tebentuknya Negara China seperti sekarang ini. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana penjelasan proses terjadinya revolusi Cina? 2. Bagaimana gambaran dinamika revolusi Cina? 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi revolusi tersebut? 4. Dampak positif dan negatif dari sudut pandang psikologi? 5. Hubungan revolusi dengan perubahan sosial? 1.3 Tujuan 1. Memberikan penjelasan mengenai proses terjadinya revolusi Cina? 2. Mengetahui gambaran dinamika revolusi Cina 3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi revolusi tersebut? 4. Mengetahui dampak positif dan negatif dari sudut pandang psikologi? 5. Mengetahui hubungan revolusi dengan perubahan sosial?

BAB II ISI A. 1. Penjelasan Tentang Revolusi Cina Perang Candu Perang dalam negeri (pemberontakan) maupun invasi negara asing yang terjadi nyaris berentetan dalam kurun waktu 100 tahun sebelum kejatuhan Dinasti Qing. Rentetan diawali dengan kekalahan Dinasti Qing pada Perang Candu I (1839-1842) yang sebelumnya didahului trade imbalance antara Kerajaan Inggris dengan Dinasti Qing. Kerajaan Inggris berusaha menyiasati kerugian dengan memperdagangkan candu yang akhirnya menjadi nama militer konflik terbuka antara dua kekuatan ini. Sebagai pihak yang kalah, menurut Perjanjian Nanking, Pemerintah Qing diharuskan membayar total 21 juta dollar dan dikenakan bunga 5% per tahun jika tidak mencicil tepat waktu. Termasuk juga menjadikan Hong Kong sebagai koloni Kerajaan Inggris. Perang Candu I berakhir hanya untuk disambung dengan Pemberontakan Taiping (1851-1864) yang semakin melemahkan Dinasti Qing. Untuk diketahui, ini adalah perang dengan korban terbanyak untuk abad 19. Pemerinatahan Kaisar Xianfeng (1850-1861) bahkan didominasi oleh pemberontakan ini. Sang Kaisar tidak memiliki cukup umur untuk menyaksikan pemberontakan ini ditumpas tuntas. Perang seakan-akan melepas rindu dengan Dinasti Qing. Dalam kurun waktu pemberontakan Taiping, muncul pemberontakan lain seperti : Pemberontakan Panthay (1856-1873) dan Pemberontakan Dungan I (1862-1877). Tak ketinggalan juga Perang Candu II (1856-1860) Walaupun pemberontakan demi pemberontakan bisa ditumpas, tapi kondisi Dinasti makin lemah. Dinasti Qing lagi-lagi harus membayar kerugian perang karena lagi-lagi kalah pada Perang Candu II. Salah satu yang harus dipenuhi pada Perjanjian Tianjin adalah harus membayar 2 juta tael kepada masing-masing Kerajaan Inggris dan Perancis.

Selain itu harus membayar 3 juta tael untuk kerugian Pedagang Inggris. Ganti rugi terbesar diwajibkan Perjanjian Shimonoseki setelah Dinasti Qing kalah dalam Perang Sino Jepang (1894-1895) yaitu sebesar 340,000,000 tael atau sama dengan 13,600 ton batangan perak. Ini senilai dengan 510,000,000 yen, setara dengan 6.4 kali pemasukan Pemerintah Jepang saat itu. Belajar dari kekalahan. Itulah langkah yang diambil Dinasti Qing setelah melihat kenyataan bobroknya kekuatan mereka saat menghadapi Pemberontakan Taiping dan 2 kali Perang Candu. Tak lama setelah Kaisar Tongzhi naik tahta untuk menggantikan Kaisar Xianfeng, pada tahun yang sama 1861, dimulailah gerakan modernisasi dengan mempelajari dan mencontoh kemajuan Negaranegara Eropa yang digagas oleh Paman Raja Gong. (Beliau adalah adik tiri dari Kaisar Xianfeng, yang berarti paman dari kaisar Tongzhi). Sampai tahun 1895, modernisasi yang dilaksanakan meliputi berbagai bidang seperti kemiliteran (pelatihan, persenjataan, struktur, taktik dsb), bidang tarif dagang, komunikasi, perkapalan, perkereta-apian, produksi, pendidikan. Yang perlu ditekankan adalah efek pada modernisasi pendidikan. Di masa inilah untuk pertama kalinya, pihak dinasti mensponsori pengiriman pelajar untuk belajar di luar negeri. Inilah kesempatan untuk belajar langsung pada Negaranegara Barat dan setelah pulang, menerapkannya untuk me-modernisasi Dinasti Qing. Pada prosesnya usaha ini bukan tanpa halangan. Kaum konfusianis konservatif masih menganggap bahwa China tidak perlu jalan ala Barat untuk mencapai kejayaan. Tidak tanggung-tanggung, kaum pro modernisasi harus menghadapi penyokong konfusianis konservatif yaitu Ibu Suri Cixi (Istri dari Kaisar Xianfeng, yang berarti Ibu kandung Kaisar Tongzhi) Ironisnya, yang menyebabkan modernisasi ini gagal bukan perlawanan dari Konfusianis Konservatif tapi KORUPSI dan NEPOTISME yang sudah amat sangat kronis. Gerogotan korupsi dan gangguan nepotisme membantu mewujudkan kekalahan total angkatan laut hasil modernisasi (yang disebut Angkatan Laut Beiyang) pada perang Sino-Jepang. Sentimen anti Manchu muncul kembali. Sejak Dinasti Qing

berkuasa di China, rakyat masih menggangap bahwa orang Han dipimpin oleh orang Manchu. Walaupun ada usaha untuk membaurkan etnis Han dengan etnis Manchu, hasilnya masih tidak menonjol. Malah setelah menyaksikan kekalahan bertubi-tubi, keinginan untuk memimpin diri sendiri bagi etnis Han, makin kuat. Namun setelah menyadari bahwa persoalan bukan pada dari etnis mana yang memerintah melainkan dari efektif tidaknya pemerintahan, sentimen ini beralih menjadi pemicu revolusi untuk menggulingkan sistem dinasti feodal.

2.

Dinamika Kasus Revolusi China Kekalahan Cina dalam Perang Candu, 1839-1842 dan 1856-1860, di

tangan kekuasaan kolonial Inggris, menjadi titik balik dalam sejarah Cina modern. Ini adalah pertama kalinya bahwa kedaulatan teritorial Cina itu dikompromikan oleh para penguasa yang ditandatangani apa yang dikenal sebagai "tidak setara" Perjanjian Nanking (Perjanjian Nanjing). Dalam dekade berikutnya, penurunan Dinasti Qing, setelah setiap kekalahan di tangan kekuasaan kolonial, cina menyerah lebih lanjut wilayah dan kedaulatan. Perkembangan ini menghasilkan tingkat belum pernah terjadi sentimen kebangsaan di antara orang-orang Cina menentang dinasti berabad-abad aturan yang mereka bertanggung jawab atas keterbelakangan Cina serta memalukan kekalahan yang dideritanya melawan penyerbu asing. Sejak saat itu, perasaan nasionalisme telah berkembang berlanjut di Cina dan telah tepat berturut huruf besar oleh para pemimpin Cina untuk kebijakan domestik dan eksternal. Sifat nasionalisme berubah dalam keadaan yang berbeda, tujuan akhir, bagaimanapun, tetap sama: "untuk mencari dan mempertahankan kemerdekaan nasional Cina." Adapun sebelum terjadinya revolusi China pada tahun 1911, pemerintahan di China ini dipegang oleh salah satu dinasti asing yang memerintah di China, yakni dinasti Qing. Dinasti Qing (1644 - 1911), dikenal juga sebagai Dinasti Manchu dan adalah satu dari dua dinasti asing yang memerintah di Cina setelah dinasti Yuan Mongol dan juga adalah dinasti yang terakhir di Cina. Asing dalam arti adalah sebuah dinasti pemerintahan non-Han yang dianggap sebagai entitas

Cina di zaman dulu. Dinasti ini didirikan oleh orang Manchuria dari klan Aisin Gioro (Hanyu Pinyin: Aixinjueluo), kemudian mengadopsi tata cara pemerintahan dinasti sebelumnya serta meleburkan diri ke dalam entitas Cina itu sendiri. Berkaitan dengan hal itu Sun Yat-Sen adalah satu-satuny tokoh di China yang menganggap bahwa :dinasti Qing ini adalah bangsa penjajah dan alangkah lebih baiknya jika tidak memerintah lebih lama lagi di China, dimana kebijakankebijakan yang ada pada masa pemerintahan dinasti Qing ini sangat bersifat feodal dan diktatoris, serta membawa dampak yang buruk bagi kelangsungan bangsa China, sehingga munculah rasa ingin mengubah hal tersebut dan akhirnya Sun Yat-Sen berhasil mengalahkan imperium dinasti Qing dan mulailah terjadi perubahan sistem pemerintahan di China yang lebih dikenal dengan revolusi China yang dimulai pada tahun 1911. Berdirinya Partai Nasional Cina Pada tanggal 24 November 1894 Sun Yatsen mendirikan perkumpulan Cina Bangkit Kembali di Hawaii. Perkumpulan ini merupakan perkumpulan revolusioner Cina pertama, dan para anggotanya terdiri dari orang-orang Cina perantauan. Perkumpulan ini mempunyai tujuan untuk menumbangkan Dinasti Qing dan mendirikan negara Republik Nasional Cina. Saat Sun Yatsen berada di Jepang atas undangan mahasiswa Cina di Jepang, Sun Yatsen yang ingin mengembangkan Xing Zhong Hui mengajak beberapa perkumpulan revolusioner yang mempunyai visi dan misi yang sama untuk bergabung. Sehingga terbentuk suatu perkumpulan yang disebut dengan Tong Meng Hui (Perkumpulan Persatuan) pada tahun 1906. Pada tanggal 25 Agustus 1912 Song Jiaoren dan Sun Yatsen membentuk partai baru, yaitu Partai Nasional Cina (Guomindang) di Guangdong. Partai Nasional Cina (PNC) merupakan gabungan dari beberapa partai, diantaranya adalah Partai Demokrasi (Min Zhu Dang), Partai Persatuan (Tong Yi Dang), Partai Republik (Gong He Dang) dan Perkumpulan Persatuan (Tong Meng Hui). Berdirinya Partai Komunis Cina

Berdirinya Partai Komunis Cina (Gong Chan Dang) dilatarbelakangi oleh Revolusi Bolshevik. Karena setelah revolusi ini berhasil, komunisme mulai membentangkan sayapnya keseluruh dunia, salah satunya adalah negara Cina. Keberhasilan Revolusi Bolshevik sangat menarik perhatian para intelektual Cina, sehingga mereka banyak mempelajari buku-buku ajaran komunisme. Hilangnya kepercayaan intelektual Cina terhadap negara-negara Barat, semakin membuat mereka menyukai paham komunisme. Li Dazhao, seorang profesor di bidang sejarah dan juga seorang kepala perpustakaan pada tahun 1918 mendirikan perkumpulan New Tide Society yang mengkaji ajaran Marxisme. Perpustakaannya terkenal dengan sebutan Kamar Merah (Hong Lou). Salah satu pengikutnya adalah Mao Zedong, seorang asisten perpustakaan Universitas Beijing (Beijing Daxue), Chen Duxiu seorang dekan fakultas sastra, dan beberapa kaum intelektual lainnya. Uni Soviet yang sedang mengembangkan komunisme mulai mencari jalan, salah satunya adalah mengeluarkan manifesto politik yang menguntungkan Cina pada Juli 1919 oleh Deputi Komisaris Urusan Luar Negeri, Leo Karakhan. Berikut adalah beberapa dari manifesto politik tersebut, yaitu: a. Uni Soviet akan mengembalikan semua daerah dan konsesi yang berdasarkan perjanjian tidak seimbang kepada Cina. b. Hak ekstrateritorialitas dan rampasan perang dari peristiwa tinju akan dihapus. c. Uni Soviet akan berhenti ikut serta dalam mengelola bea cukai dan pajak garam di Cina. Manifesto tersebut membuat para intelektual Cina semakin terpikat pada komunis. Kemudian pada tahun 1919 mendirikan cabang komintern di Shanghai di bawah pimpinan Voitinsky. Kemudian atas desakan komintern berdirilah Partai Komunis Cina pada Juli 1921 dan yang menjadi Sekertaris Jenderal PKC pertama adalah Chen Duxiu. Partai Nasional Cina berkoalisi dengan Partai Komunis Cina Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) menganggap bahwa PNC bersifat borjuis, tetapi menentang imprealisme dan juga menganggap bahwa PNC adalah inti dari

revolusi nasional di Cina. Karena hal itulah PKUS mengutus Ir. H.J. Sneevliet alias Maring untuk bertemu dan mengadakan kerjasama dengan Sun Yatsen. Pada saat sidang komite sentral PKC bulan Agustus 1922, Sneevliet menyerukan kepada para pemimpin komintern untuk membujuk PKC bahwa anggota mereka harus masuk ke PNC. PKC kemudian mengirimkan perwakilan untuk merundingkan dengan Sun Yatsen dan mengusulkan pembentukan front persatuan untuk melawan musuhmusuh PNC dan menyatukan Cina. Uni Soviet kemudian mengirim A.A. Yoffe untuk mengadakan perjanjian bersama pada tanggal 26 Januari 1923 yang isinya sebagai berikut (Nio, Joelan, Tiongkok Sepandjang Abad): a. Komunis atau sistem soviet tidak akan cocok diterapkan di Cina, karena di Cina tidak ada keadaan yang memungkinkan tumbuhnya atau sovietisme dengan berhasil, b. Masalah terpenting bagi Cina adalah persatuan bangsa dan kemerdekaan nasional, c. Cina dapat mengandalkan bantuan dari Uni Soviet. Setelah pernyataan tersebut disetujui oleh kedua belah pihak, kemudian pada bulan Januari 1924 PNC mengadakan Konggres Nasional pertama di Guangdong. Menurut Willem G.J Remmelink (penterjemah) dalam buku Sejarah Cina: Ikhtisar Sejarah dan Kebudayaan Cina dari zaman prasejarah sampai masa kini, konggres ini memutuskan bahwa anggota PKC diperbolehkan masuk ke dalam PNC secara perseorangan dengan syarat mereka harus tunduk kepada asas-asas PNC dan memperoleh jumlah kursi yang sebanding dalam organisasi partai pada berbagai tingkat dan bahwa penerapan komunisme di Cina pada saat itu belum memungkinkan. Atas instruksi Sun Yatsen, kemudian Chiang Kaishek (Jiang Zhongzheng) beranggapan bahwa PKUS tidak paham keadaan yang sesungguhnya mengenai revolusi di Cina. dalam laporannya kepada Sun Yatsen, Chiang Kaishek mengatakan bahwa PKUS berusaha membagi masyarakat kedalam perjuangan kelas agar terjadi konflik diantara mereka.

Chiang Kaishek percaya bahwa institusi politik soviet merupakan alat dari tirani dan teror, dan pada dasarnya bertentangan dengan politik ideal PNC. Menurut pengamatannya siasat Soviet dan program dari revolusi dunia yang disebarluaskan oleh Uni Soviet bisa mengancam kemerdekaan nasional. Karena hal itulah ia menentang adanya kerjasama antara PNC dan PKC, tetapi pendapatnya bertentangan dengan Sun Yatsen. Sun Yatsen menganggap Chiang Kaishek terlalu berlebihan dalam menilai Uni Soviet, dan Sun Yatsen berpendapat bahwa selama PNC dan San Min Zhu Yi diakui sebagai pemimpin revolusi nasional, maka kaum komunis dapat dimanfaatkan. Sun Yatsen kemudian memerintahkan Chiang Kaishek untuk mendirikan Akademi Militer di Whampoa. Sementara itu Uni Soviet mengirimkan penasehatnya ke Cina, salah satunya adalah Michael Borodin yang kemudian menjadi penasehat politiknya Sun Yatsen dan Jenderal Vasili Blucher alias Von Gallen diangkat sebagai pembantu teknis kemiliteran. Tragedi Wuhan Pada tahun 1911 Republik Cina berdiri setelah dinasti Qing tidak berhasil mempertahankan kekuasaannya. Sun Yatsen adalah orang yang mempunyai peran penting dalam menumbangkan dinasti Qing, tetapi yang menjadi presiden pertama Cina adalah Yuan Shikai. Hubungan antara Yuan Shikai dengan Sun Yatsen sering terjadi ketegangan. Sun Yatsen berada di daerah Cina Selatan dan Yuan Shikai berada di Cina Utara. Sun Yatsen menginginkan antara Cina Utara dan Selatan bersatu, akan tetapi untuk mewujudkannya sangat sulit karena adanya para warlord (raja perang; junfa). Para warlord itu antara lain adalah: 1. Duan Qirui dari klik Anhui (Wanxi), 2. Zhang Zuolin dari klik Fengtian (Fengtianxi), 3. Feng Guozhang's dari klik Zhili (Zhixi) tetapi telah diambil alih oleh Cao Kun, Wu Peifu , and Sun Chuanfang pada tahun 1919. Dalam upayanya untuk mempersatukan seluruh wilayah Cina, maka Sun Yatsen merencanakan ekspedisi ke utara. Tetapi sebelum ekspedisi itu

dilaksanakan, Sun Yatsen meninggal dunia. Sejak saat itu PNC menjadi terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu: 1. Aliran progresif (sayap kiri) dibawah pimpinan Wang Qingwei 2. Aliran konservatif (sayap kanan) dibawah pimpinan Hu Hanmin 3. Tentara hasil lulusan Akademi Militer Whampoa dibawah pimpinan Chiang Kaishek Chiang Kaishek kemudian berusaha mewujudkan harapan Sun Yatsen dan merencanakan operasi militer dengan membagi pasukan militernya, yaitu: 1. Pasukan pertama bergerak kearah utara dengan tujuan Wuhan dibawah pimpinan Jenderal Blucher yang di dominasi sayap kiri, 2. Pasukan kedua bergerak ke arah timur laut dengan tujuan provinsi Jiangsu. Jenderal Blucher berhasil merebut Wuhan dan ibukota pemerintah nasional sayap kiri dipindah kesana. Sementara itu Chiang Kaishek berusaha menghindari bentrokan dengan pihak asing ketika berusaha merebut Shanghai. Pada bulan Maret 1927 Shanghai berhasil direbut, empat hari kemudian Nanjing juga berhasil direbutnya. Sementara itu pada bulan April 1927 terjadi pemogokan oleh kader komunis di Shanghai, mereka bahkan mengambil alih beberapa industri besar dan membagikan senjata kepada kaum buruh. Chiang Kaishek kemudian menangkap dan membantai kaum komunis, peristiwa ini dinamakan Teror Putih. Karena adanya pembantaian terhadap kaum komunis oleh Chiang Kaishek, Ketua PKUS Joseph Stalin mengirim telegram kepada Michael Borodin yang isinya antara lain: a. Tanah harus disita atas permintaan penguasa lokal saja dan bukan pemerintah nasional b. Partai harus memeriksa pelanggaran terhadap petani c. Semua anggota militer ang tidak dapat dipercaya harus di pecat d. Buruh dan petani yang baru di seleksi harus dapat menggantikan anggota lama di Komite Sentral PNC e. Pengadilan revolusioner untuk pemeriksaan dari anggota militer reaksioner harus segera dibentuk.

Tetapi karena Borodin tidak mampu melaksanakannya, kemudian ia meminta bantuan kepada Mohandas Narayan Roy untuk menyelesaikan masalah tersebut. M.N. Roy memperlihatkan telegram tersebut kepada Wang Qingwei dengan maksud untuk bekerjasama menjalankan instruksi tersebut. Wang Qingwei meskipun termasuk PNC sayap kiri, tetapi dia adalah seorang nasionalis. Sehingga setelah ia membaca telegram tersebut ia berkesimpulan bahwa Uni Soviet ingin merubah revolusi nasional menjadi Cina komunis. Wang Qingwei kemudian bergabung kembali dengan Chiang Kaishek dan memutuskan hubungan kerjasama PNC-PKC dan mengusir para kader komintern yang diperbantukan pada Republik Cina dari Cina. Pada tanggal 15 Juli 1927 PNC sayap kiri di Wuhan mengusir komunis, sehingga Borodin dan Blucher terpaksa kembali ke Uni Soviet. Kaum buruh dan tani mengadakan gerakan revolusioner, kaum petani merampas tanah milik tuan tanah lalu membagikan kepada petani penggarap. Stalin menginstruksikan agar gerakan tersebut tetap dilanjutkan. Tetapi Chiang Kaishek segera mengerahkan pasukannya, menangkap buruh-buruh yang mogok, dan menggeledah rumah-rumah yang dicurigai sebagai pusat pemimpin gerakan pemogokan dan sabotase. Peristiwa ini menyebabkan terputusnya hubungan antara PNC-PKC dan juga menandakan berakhirnya front persatuan. PNC sayap kiri bersatu kembali dengan PNC sayap kanan, bahkan pada bulan februari 1928 pemerintahan di Wuhan dibubarkan, sehingga Nanjing yang dijadikan markas besar Chiang Kaishek kemudian diakui sebagai ibukota. Didalam PKC sendiri Chen Duxiu dianggap orang yang bertanggungjawab atas kegagalan dalam bekerjasama dengan PNC, sehingga dia dihukum atas dasar oportunisme kanan. Kemudian dipilihlah Mao Zedong sebagai Sekertaris Jenderal PKC yang baru.

3.

Faktor-Faktor Timbulnya Revolusi Cina (Nasionalisme)

Cina merupakan negara yang memiliki sejarah cukup tua. Negara ini diperintah oleh berbagai dinasti. Kepala pemerintahannya disebut kaisar. Salah satu dinasti asing yang pernah menguasai Cina adalah dinasti Manchu (dinasti Ching) 1644 1912 yang berasal dari Manchuria. Nasionalisme Cina tersulut setelah rakyat kecewa terhadap penguasa Manchu yang dinilai bukan dinasti keturunan Cina. Kebencian itu semakin memuncak setelah bangsa Inggris mengungguli pasukan kaisar dalam Perang Candu tahun 1842. Kaisar dinilai lemah dan bertanggung jawab atas penderitaan rakyat Cina akibat penjajahan bangsa Eropa, AS dan Jepang. Akhirnya revolusi pun pecah. Kaisar Manchu tahun 1911 digulingkan oleh rakyatnya sendiri dan Cina menjadi republik. Namun republik ini rapuh karena panglima perangnya saling bertikai. Dr. Sun Yat Sen merupakan tokoh nasionalis Cina ternama. Ia mencitacitakan Cina baru yang didasarkan San Min Chu I (Tiga Sendi Kedaulatan Rakyat) yaitu nasionalisme, demokrasi dan sosialisme. Revolusi nasional di bawah pengaruhnya meletus di Wuchang 11 Oktober 1911. Mulanya revolusi ini berperan di Cina Selatan, sementara Cina Utara masih dikuasai orang Manchu (kaisar Pu Yi) dan para Warlord (panglima perang). Demi membentuk Cina bersatu (utara dan selatan) ia rela menjadi presiden jendral Yuan Shih Kai 19111916 (salah satu Warlord yang berpengaruh). Sementara Dr. Sun Yat Sen mengundurkan diri ke Kanton dan mendirikan KuoMinTang (Partai Nasionalis). Antara 1916-1922 di Cina terjadi kekacauan dan akhirnya dapat dipadamkan dan Dr. Sun Yat Sen menjadi preesiden sampai akhir hayatnya 1924. Sebab-sebab timbulnya nasionalisme Cina adalah sebagai berikut: a. Lenyapnya kepercayaan rakyat Cina terhadap Dinasti Manchu. DinastiManchu yang pernah membawa kejayaan Cina, kemudian menjadi pudar setelah kedua kaisar besar (K'ang Hsi dan Ch'ien Lung) meninggal. Akibatnya, lenyap pula kemakmuran Cina. b. Pemerintahan Manchu dianggap kolot dan telah bobrok. c. Adanya korupsi dan pemborosan yang merajalela, terutama di kalangan Istana Manchu.

d. Kekalahan Cina dalam Perang CinaJepang I. e. Munculnya kaum intelektual Cina. Mereka telah mengenal pahampaham Barat, seperti liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi. Dari kaum intelektual inilah kemudian muncul cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan Manchu. Ajaran Sun Yat-Sen sebagai Pelopor Revolusi dan Tokoh Nasionalisme China Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Sun Yat-Sen sebagai salah satu tokoh dan juga pelopor revolusi dan nasionalisme di China ini antara lain adalah: Tiga Prinsip Rakyat (San Min Chu I), adalah sebuah politik filsafat yang dikembangkan oleh Sun Yat-sen sebagai bagian dari filosofi untuk membuat Cina yang bebas, makmur, dan kuat bangsa. Filosofi ini telah diklaim sebagai landasan Republik China pemerintahan seperti dibawa oleh Kuomintang (KMT). Prinsip-prinsip yang juga muncul dalam baris pertama Lagu Kebangsaan Republik Cina. Adapun isi dari ketiga prinsip rakyat tersebut adalah: 1. Prinsip Minzu Prinsip ini biasanya diterjemahkan sebagai nasionalisme, harfiah Rakyat, relasi atau pemerintah rakyat. Dengan ini, Sun meyakini bahwa kebebasan itu dari dominasi imperialis. Untuk mencapai hal ini ia percaya bahwa Cina harus mengembangkan sebuah "civic-nasionalisme", sebagai lawan kepada "nasionalisme etnis", sehingga dapat menyatukan semua perbedaan etnis Cina, terutama terdiri dari lima kelompok utama dari Han , Mongol, Tibet, Manchu, dan Muslim (seperti Uyghurs), yang bersama-sama dilambangkan oleh Lima Warna Bendera Republik Pertama (1911-1928). Rasa nasionalisme ini berbeda dari gagasan "etnosentrisme," yang setara dengan makna yang sama nasionalisme dalam bahasa Cina. 2. Prinsip Minquan Prinsip ini biasanya diterjemahkan sebagai demokrasi (harfiah Rakyat daya atau pemerintah oleh Rakyat). Bagi Sun, ini mewakili pemerintah konstitusional Barat. Pertama, ia membagi kehidupan politik yang ideal untuk Cina dalam dua set kekuasaan atau kekuatan:

a.

Kekuatan Politik Ini adalah kekuatan masyarakat untuk mengekspresikan keinginan politik

mereka, mirip dengan yang diberikan kepada rakyat atau parlemen di negaranegara lain, dan diwakili oleh Majelis Nasional. Ada empat kekuatan ini: pemilu, ingat, inisiatif, dan referendum. Ini dapat disamakan dengan "hak-hak sipil". b. Kekuatan Pemerintahan Ini adalah kekuasaan pemerintahan. Di sini ia memperluas Eropa-Amerika teori konstitusional dari tiga cabang pemerintahan dan sistem check and balance dengan memasukkan tradisi administrasi Cina tradisional untuk menciptakan pemerintahan lima kantor cabang (masing-masing yang disebut yuan atau 'pengadilan'). Legislatif pertama kali dimaksudkan sebagai cabang pemerintahan, tidak sepenuhnya sama dengan parlemen nasional.) 3. Prinsip Minsheng Prinsip ini kadang-kadang diterjemahkan sebagai kesejahteraan rakyat

(mata pencaharian) Pemerintah untuk Rakyat atau bahkan sosialisme, meskipun pemerintah Chiang Kai-shek menjauhi menerjemahkan seperti itu. Konsep dapat dipahami sebagai kesejahteraan sosial atau sebagai populis ( "untuk rakyat", "untuk kesenangan rakyat") langkah-langkah pemerintah. Matahari dipahami sebagai ekonomi industri dan persamaan kepemilikan tanah bagi petani Cina. Di sini ia dipengaruhi oleh pemikir Amerika Henry George (lihat Georgism); yang nilai tanah pajak di Taiwan adalah sebuah warisan daripadanya. Dia mata pencaharian dibagi menjadi empat wilayah: makanan, pakaian, perumahan, dan transportasi; dan merencanakan cara yang ideal (Cina) Pemerintah dapat mengurus ini bagi orang-orang. Tradisi moral yang dianjurkan oleh Dr Sun adalah terdiri dari "jalan kerajaan" dan berarti emas. Mantan berarti "apa yang menjadi," sementara yang kedua berarti "tempat untuk menjadi." Tiga Prinsip Rakyat sesuai akan diundangkan dengan cara berikut: 1. Prinsip Nasionalisme

a. b. c.

Untuk membebaskan orang-orang Cina dari oligarki; Memberikan setiap kelompok etnis di Cina kesempatan yang sama Untuk membantu memberikan orang-orang di dunia dari segala bentuk penindasan.

2. Prinsip Demokrasi a. b. c. The anthentic kesetaraan; equably dari titik awal; kesetaraan kesempatan; layanan untuk mencegah ketidaksetaraan kesetaraan. Cukup hak-hak yang dinikmati oleh seluruh rakyat; langsung suara untuk memilih pejabat dan membuat hukum. Sebuah pemerintah mahakuasa

3. Prinsip Penghidupan a. b. c. Pemerataan kepemilikan tanah "Tanah ke kemudi" program Kontrol modal swasta dan pembangunan modal nasional. Berlakunya Tiga Prinsip Rakyat akan memberikan semua orang-orang Cina dengan kesempatan untuk menjadi sama etnis, politik dan ekonomi-sekutu. Zaman baru dari budaya Cina telah dimulai sejak Dr Sum mendirikan Republik demokratis pertama di Asia. Sudah pasti bahwa orang-orang Cina, sebagai pemegang tradisi moral yang lama, akan mencapai tujuan: untuk membangun yang kuat dan makmur Cina dan untuk mempromosikan persaudaraan bangsabangsa di dunia. 4. Dampak Positif dan Negatif Dampak positif bagi Negara Cina : Peristiwa Xian dan Bersatunya Kembali Partai Nasional Cina dengan Partai Komunis Cina Jepang yang mempunyai hak istimewa di jalur kereta api Manchuria Selatan dan juga telah membangun industri secara besar-besaran merasa khawatir dengan kedudukannya setelah Cina mulai bersatu dibawah PNC. Pada tanggal 18 September 1931 terjadi suatu peristiwa, rel kereta api Manchuria Selatan milik Jepang di bongkar. Jepang menuduh Zhang Xueliang panglima pasukan Cina

yang melakukannya. Dengan alasan tersebut, Jepang kemudian menyerang pasukan Cina dan merampas Mukden. Pada tahun 1932 Jepang juga mendirikan negara boneka Manchuguo dan Puyi sebagai kepala negaranya. Cina sangat marah dan melaporkan kepada Liga Bangsa-Bangsa (LBB), tetapi LBB tidak berhasil menangani masalah kedua negara tersebut. Bahkan Jepang kemudian keluar dari LBB. Sebagai akibatnya, rakyat Cina melakukan boikot ketat terhadap barang-barang Jepang. Jepang sangat tidak menyukai adanya pemboikotan ini terutama yang terjadi di Shanghai, sehingga sempat terjadi peperangan antara pasukan Cina dengan Jepang. Walaupun tentara Jepang telah menyerang Manchuria, tetapi serbuan tersebut kurang mendapat tanggapan dari Chiang Kaishek. Menurut Chiang Kaishek kamunisme sangat berbahaya sehingga harus dimusnahkan terlebih dahulu, sebaliknya bila melawan tentara Jepang merupakan hal yang sia-sia karena tentara Jepang sangat kuat. Bahkan serbuan Jepang ke Manchuria tidak dilawan oleh Chiang Kaishek, dan memerintahkan Panglima Manchuria untuk memindahkan pasukannya ke Xian. Pada tahun 1935 Zhou Enlai utusan PKC secara tidak langsung menemui Chen Lifu utusan PNC untuk mengadakan pendekatan dengan perwakilan pemerintah di Hongkong dan berharap agar pemerintah menunjuk seseorang untuk bernegosiasi. PKC berharap agar perang saudara berhenti dan bersatu melawan Jepang. Ketika Pan Hannian datang bernegosiasi dengan Chen Lifu ke Nanjing, pemerintah Nanjing mengajukan beberapa syarat, yaitu (Chiang, Kaishek, Soviet Russia in China): 1. Berpegangan pada San Min Zhu Yi (Trisila yang dirumuskan oleh Sun Yatsen) 2. Mematuhi perintah Chiang Kaishek 3. Menghapus Tentara Merah dan berintegrasi kedalam tentara nasional 4. Pemerintah Soviet Cina dihapus dan berintegrasi kedalam Pemerintah Nasional. 5. Keseluruhan syarat tersebut telah disepakati bersama, tetapi belum mendapatkan pengesahan dari Chiang Kaishek.

Sementara itu Mao Zedong berusaha menghasut Zhang Xueliang dan Yang Hucheng. Ia mempengaruhi dan mengajak mereka untuk membentuk suatu front persatuan nasional Cina anti Jepang. Mao Zedong juga menyebutkan bahwa PKC bertujuan untuk mendirikan Republik Rakyat Cina, dimana semua kelompok, perseorangan, dan angkatan bersenjata bersatu melawan Jepang. Kedua panglima tersebut berhasil dipengaruhi dan mereka telah bersedia mendukung demonstrasi mahasiswa di Xian yang dipelopori oleh PKC. Demonstrasi itu menuntut Pemerintah Nasional Cina memerangi Jepang. Chiang Kaishek kemudian pegi ke Xian untuk menstabilkan keadaan dan merencanakan mengadakan pertemuan dengan para panglima untuk menjelaskan kebijakan pemerintah terhadap komunis dan Jepang, juga mengenai rencana di balik slogan komunis. Setibanya Chiang Kaishek di Xian, ia diculik oleh Zhang Xueliang dan yang Hucheng di penginapannya. Kedua panglima tersebut mengajukan beberapa tuntutan, tetapi Chiang tidak mau memenuhi tuntutan tersebut walaupun keselamatannya terancam. Tuntutan-tuntutan tersebut diantaranya adalah: a. Menghentikan perang saudara, b. Membebaskan seluruh tahanan politik, c. Terjaminnya kebebasan berpolitik dan berorganisasi, d. Menjalankan amanat Sun Yatsen, e. Segera membentuk konferensi pembebasan rakyat. Setelah Pemerintah Nasional Cina di Nanjing mendengar berita penculikan tersebut segera merencanakan mengadakan penyerbuan ke Xian, tetapi hal tersebut sulit dilaksanakan karena mengancam keselamatan Chiang sendiri. Pihak Jepang menyatakan bahwa tuntutan tersebut harus ditolak, karena bila tidak Jepang akan menyerbu Shanghai dan Nanjing. Keadaan yang kacau ini dimanfaatkan oleh PKC dengan mengutus Zhou Enlai yang bertindak sebagai penengah untuk menyelamatkan Chiang Kaishek dan mengadakan kerjasama antara PNC-PKC.

Akhirnya Zhang Xueliang dan Yang Hucheng menyadari kesalahannya dan membebaskan Chiang Kaishek. Peristiwa Xian membuat PNC-PKC bersatu kembali dan membentuk front persatuan nasional anti Jepang pada tanggal 10 Februari 1937. Keterkaitan China dalam Perang Dunia I Adapun keadaan tentang masuknya Republik Cina ke dalam Perang Dunia I adalah sebagai berikut: Pada 4 Februari 1917, Menteri Amerika, Dr Reinsch, meminta Pemerintah Cina untuk mengikuti Amerika Serikat dalam protes terhadap Jerman yang netral melawan kapal selam. Pada 9 Februari Pekin dibuat seperti protes ke Jerman, dan menyatakan maksud pemutusan hubungan diplomatik jika protes itu tidak efektif. Jawaban langsung dari Jerman adalah torpedo kapal Prancis Atlas di Mediterania yang sudah lebih dari tujuh ratus buruh Cina. Pada 10 Maret Parlemen Cina diberdayakan pemerintah untuk memutuskan hubungan dengan Jerman, jawaban tersebut mengakibatkan kejutan besar di Cina. Seorang negarawan China membuat komentar ini pada perubahan sikap Jerman: "Pasukan di bawah Count Waldersee meninggalkan Jerman untuk meredakan Pekin yang diperintahkan oleh Tuhan Perang tidak memberikan kuartal ke Cina. Di sisi lain, pernyataan yang terakhir itu mengandung kesan bahwa mereka tidak akan pernah berani tampak dalam menghadapi Jerman lagi. Seiring berjalannya waktu akhirnya menumbuhkan rasa balas dendam, 'meratapi bahwa bahkan begitu lemah suatu negara sebagai Republik Timur Jauh muncul keberanian melawan negara Jerman". Putusnya hubungan dengan Jerman menyebabkan masalah antara Presiden Republik dan Premier. Premier menjadi bapak untuk menghentikan hubungan tanpa berkonsultasi dengan Parlemen. Presiden menegaskan bahwa Parlemen harus berkonsultasi. Langkah berikutnya adalah untuk menyatakan perang, tapi di sini negarawan cina ragu-ragu, dan ragu-ragu mereka muncul melalui perasaan mereka ke Jepang. Ada juga alasan lain mengapa mereka ragu-ragu untuk menyatakan perang. Memang pengabdian untuk perdamaian, yang berakar dalam bangsa, akan menjadi alasan yang memadai dalam dirinya sendiri. Selain itu,

Cina, seperti negara-negara netral lainnya, adalah pusat yang kuat untuk propaganda Jerman. Jerman konsul dan pejabat diplomatik, yang dalam bahasa Cina sarjana sastra dan filsafat, dan yang juga memiliki dana yang cukup untuk menghibur para pejabat Cina ketika mereka suka dihibur, sehingga mereka secara aktif berusaha untuk mempengaruhi negarawan cina. Pemerintah Cina, bagaimanapun juga, bertekad untuk menyatakan perang, dan untuk mengamankan support Premier, Cina memanggil seorang dewan gubernur militer untuk mempertimbangkan pertanyaan. Mayoritas konferensi setuju dengan Premier, tapi oposisi yang kuat mulai berkembang. Pada 7 Mei Presiden mengirim permintaan resmi kepada Parlemen untuk menyetujui sebuah deklarasi perang. Parlemen tertunda dan terancam oleh massa. Premier dituduh telah menghasut kerusuhan dan sup-port mulai berkumpul untuk Parlemen, dan serangan dibuat di Premier sebagai bersedia menjual cina. Pada tanggal 14 Agustus China secara resmi bergabung dengan Sekutu dan menyatakan perang terhadap Austria dan Jerman. Dia tidak mengambil bagian besar dalam perang, kecuali untuk menyerang Jerman dan Austria di pemukiman Tientsin dan Hankow, yang diambil alih oleh pihak berwenang China. Para pejabat China juga menyita Asiatische Deutsche Bank, agen di Cina untuk Pemerintah Jerman, dan empat belas kapal-kapal Jerman yang telah magang di pelabuhan-pelabuhan Cina. Ribuan kuli Cina dikirim ke Eropa untuk bekerja di kepentingan Sekutu di belakang garis pertempuran. Proklamasi perang resmi Cina yang ditandatangani oleh Presiden Fengkuo-chang cina dilihat kembali upaya untuk mendorong Jerman untuk mengubah kebijakan kapal selam-nya. Hal ini menyatakan bahwa Cina telah dipaksa untuk memutuskan hubungan dengan Jerman dan dengan Austria-Hongaria untuk melindungi kehidupan dan harta benda warga negara Cina dan berjanji bahwa Cina akan menghormati Konvensi Den Haag, mengenai staff manusiawi dari perang, dan menegaskan bahwa Cina Tujuannya adalah untuk mempercepat perdamaian.

Dampak positif dan Negatif Revolusi China 1911 Dampak positif: Menghasilkan suatu pemerintahan baru dan pertama di Asia yang berbentuk republik. Berhasil menghentikan pemerintahan kekaisaran dinasti Qing yang korupsi dan dinilai lemah dalam membendung intervensi asing (jepang dan barat) Di bawah pemerintahan baru terdapat perkembangan infrastruktur, industri, kesehatan, dan pendidikan, yang telah membantu meningkatkan standar hidup rakyat. Penghapusan sistem perbudakan Semakin bermunculannya kaum-kaum intelektual

Dampak negatif: Adanya konflik bersenjata yang menimbulkan korban jiwa hingga 25 juta penduduk tewas dalam periode penaklukan Manchu atas Dinasti Ming Terjadinya imperialism (penguasaan/ penjajahan oleh kaum yang lebih besar dan berkuasa). Hal ini karena masyarakat terstratifikasi ke dalam tiga kelas, yakni kelas keluarga baik-baik yang terdiri dari kaum intelektual; tuan tanah maupun birokrat, kelas borjuis, dan kelas bawahan. Kelas pertama merupakan kelas yang memiliki pengaruh besar segala aspek kehidupan pada masa itu karena memiliki banyak kekayaan. Pengaruh tersebut dalam bentuk ekonomi, sosial maupun politik. Para tuan tanah menyewakan lahan kepada para petani sekaligus menjadi salah satu cara untuk meningkatkan peran dalam birokrasi serta bagaimana menggunakan kekuatan negara untuk memperoleh bantuan di bidang pengairan dan

pengolahan tanah. Kaum intelektual berperan dalam menyebarkan ilmuilmu kepada setiap generasi elit, agar mereka dapat tetap bertahan dalam kompleksitas struktur birokrasi. Kaum borjuis hanya sebagai peluas imperialisme di Cina. Mereka tidak cukup memiliki kekuatan untuk merebut kelas pemerintahan yang telah mengakar kuat pada kekuatan kaum birokrat yang dikuasai oleh para intelektual dan tuan tanah. Kelas terbawah tidak memiliki hak apapun dalam hal ekonomi maupun politik kecuali hanya sebagai pekerja Di masa Mao, negara memainkan peran utama dalam pembangunan perekonomian. Di sektor industri, misalnya, perusahaan-perusahaan milik pemerintah menghasil-kan lebih dari 60 persen gross value produksi industri. Di sektor urban, pemerintah adalah satu-satunya agen yang berwenang menetapkan harga komoditas utama, menentukan distribusi dana investasi, mengalokasikan sumber-sumber energi, mematok tingkat upah tenaga kerja, serta mengontrol kebijakan finansial dan sistem perbankan. Sistem perdagangan luar negeri juga menjadi monopoli pemerintah sejak awal tahun 1950-an. Terjadinya perang saudara di China Semakin bermunculannya kaum-kaum intelektual.

Dampak Positif Dan Negatif Ditinjau Dari Psikologis Dampak negatif : 1. Kerusakan material dan immaterial (material seperti kerusakan bangunan, lebih banyak pengeluaran Negara yang sia-sia seperti pengobatan akibat perang, sedangan kerusakan immaterial seperti korban jiwa) 2. Trauma pada masyarakat Cina karena terjadi perang berkepanjangan

3. Sistem komunis Negara Cina berdampak pada : menciptakan sikap sewenang-wenang berprikemanusiaan. 4. Program pemerintah yang menekan angka pertumbuhan penduduk yang tidak humanis seperti melarang penduduk memiliki anak lebih dari satu, jika anak lebih dari satu terpaksa harus dibunuh / aborsi / dijual. 5. Rakyat tidak dapat mengutarakan pendapat secara terbuka (tidak demokratis) Dampak positif : 1. Perkembangan ekonomi yang lebih maju dibandingkan Negara lain karena sistem negara yang disiplin, sehingga mempengaruhi kesejahteran hidup dan fasilitas Negara yang memadai. 2. Meningkatnya motivasi rakyat China dalam menghasilkan produkproduk baru dan menguasai pasar perdagangan di dunia. terhadap masyarat, perlakuan yang tidak

5. Hubungan Revolusi Dengan Perubahan Sosial Perubahan sosial terjadi dalam tiga tingkatan, yakni makro, mezo, dan mikro. Pada tingkat makro, keseluruhan masyarakat dunia (kemanusiaan) dapat dibayangkan sebagai sebuah sistem. Pada tingkat menengah atau mezo mencakup negara, bangsa dan kesatuan politik regional atau aliansi militer yang dipandang sebagai sebuah sistem, sedangkan pada tingkat mikro mencakup komunitas lokal, asosiasi, perusahaan, keluarga atau ikatan pertemanan sebagai sistem kecil (Sztompka, 2011). Berdasarkan uraian tersebut maka perubahan sosial yang terjadi pada Negara Cina dengan adanya revolusi merupakan perubahan dalam tingkat menengah atau mezo. Perubahan social adalah transformasi dalam organisasi masyarakat dalam pola berpikir dan dalam perilaku pada waktu tertentu (Macionis, 1987 dalam Sztompka, 2011). Perubahan social adalah perubahan pola perilaku, hubungan social, lembaga dan struktur sosial pada waktu tertentu (Farley, 1990 dalam

Sztompka, 2011). Berkaitan dengan revolusi yang dibahas sebelumnya, maka revolusi merupakan salah satu perubahan sosial yang terjadi pada Negara sebagai struktur sosial yang berakibat pula pada perubahan pola pikir dan hubungan sosal masyarakat. Seperti yang telah diketahui bahwa setelah terjadinya revolusi banyak bermunculan kaum intelektual Cina. Mereka telah mengenal paham-paham Barat, seperti liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi. Dari kaum intelektual inilah kemudian muncul cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan Manchu. Dengan berbagai pemahaman tersebut membuat rakyat Cina tidak lagi diam pada aturan pemerintahan komunis, mereka mulai berani mengutarkan pendapat secara terbuka pada pemerintah dan tumbuh rasa nasionalisme pada diri mereka untuk membangun Negara Cina menjadi negara besar, salah satunya sebagai negara penguasa pasar. Hal ini terbukti pada zaman sekarang, Negara Cina menjadi penguasa dalam perdagangan dunia dengan produk-produk yang selalu baru. Perubahan sosial terbagi menjadi beberapa kompoen dan dimensi utama (Sztompzka, 2011), antara lain : 1. Perubahan komposisi. Jika dikaitkan dengan revolusi, maka gerakan sosial seperti pemberontakan dan peperangan dapat mengurangi jumlah rakyat Cina, selain itu sistem pemerintahan komunis yang tidak manusiawi yang hanya mengizinkan rakyat memiliki satu anak dan apabila lebih akan dibunuh atau dijual juga akan mengurangi jumlah penduduk. Pada zaman sekarang sistem tersebut tidak diberlakukan lagi. 2. Perubahan struktur. Dengan adanya revolusi menciptakan munculnya rasa nasionalisme rakyat Cina. Akibat dari revolusi mereka menjadi lebih akrab satu sama lain karena pada negara yang sama dengan keadaan negara yang mengancam karena terjadinya peperangan dan pemerintahan yang tidak melindungi rakyat melainkan melakukan kekerasan untuk kepentingan pribadi. 3. Perubahan fungsi. Dampak dari peperangan tentunya menyebabkan banyak keluarga yang tidak utuh, misalnya saja anak yang kehilangan orangtuanya saat perang harus berusaha menghidupi dirinya sendiri. Pada zaman

sekarang, Cina sudah menerapkan asas demokratis, sehingga fungsi pemerintahan mengalami perubahan yang pada awalnya hanya untuk kepentingan pejabat pemerintah, kini mulai memperhatikan kesejahteraan rakyatnya untuk membangun dan memperkuat negara. 4. Perubahan batas. Pasca revolusi, pada tahun 1912 beberapa partai menggabungkan diri ke dalam Partai Nasional Cina. Rakyat mulai berani mengutarkan pendapat secara terbuka pada pemerintah dan tumbuh rasa nasionalisme pada diri mereka untuk membangun Negara Cina menjadi negara besar 5. Perubahan hubungan antarsubsistem. Pasca revolusi pada era Mao, negara memainkan peran utama dalam pembangunan perekonomian. Sektor perekonomian banyak dikuasai dan dikontrol oleh pemerintah, termasuk perdagangan luar negeri yang dimonopoli pemerintah. 6. Perubahan lingkungan. Revolusi yang disertai pemberontakan dan peperangan memberi dampak pada lingkungan fisik, seperti rusaknya rumah-rumah rakyat maupun sarana-sarana pemerintah.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Di dalam makalah ini berusaha untuk menjelaskan tentang Revolusi di cina Di dalam perjuangannya Sun Yat-sen sebagai pelopor terjadinya revolusi di China berusaha keras untuk merubah sistem pemerintahan yang sebelumnya dipegang oleh dinasti Qing, dimana dalam menjalankan pemerintahannya sangat tidak berprospek dalam memajukan bangsa China dan sehingga munculah rasa ingin merubah keadaan yang terjadi ini dengan mengganti sistem pemerintahan pada era ini, dengan cara mengalahkan atau mengganti tampuk kepemimpinan yang baru, akhirnya pada tahun 1911 mulailah terjadi sebuah perubahan sistem pemerintahan yang menggantikan dinasti Qing, yang dikenal dengan revolusi China. Rasa frustrasi karena penolakan Dinasti Qing untuk melakukan reformasi serta karena kelemahan Cina terhadap negara-negara lain, membuat timbulnya revolusi yang terinspirasi oleh ide-ide Sun Yat-sen untuk menghapuskan sistem kerajaan dan menerapkan sistem republik di Cina. Pada tanggal 12 Februari 1912, kaisar terakhir Qing, Kaisar Xuantong turun tahta, menyusul Revolusi Xinhai. Sebulan setelahnya, pada 12 Maret 1912, Republik Cina didirikan dengan Sun Yat-sen sebagai presiden pertamanya. Kemudian pada tahun 1919 mendirikan cabang komintern di Shanghai di bawah pimpinan Voitinsky. Kemudian atas desakan komintern berdirilah Partai Komunis Cina pada Juli 1921 dan yang menjadi Sekertaris Jenderal PKC pertama adalah Chen Duxiu. Revolusi yang terjadi di Cina membawa perubahan sosial pada pola pikir, hubungan sosial, lembaga dan struktur negara. Perubahan sosial akibat revolusi tersebut memberi dampak positif dan negatif seperti yang sudah dijabarkan pada pembahasan sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://madehistoryca.blogspot.com/2012/05/sejarah-revolusi-cina.html.
http://sukurris05.blogspot.com/2011/04/pergerakan-nasionalisme-cina-india.html Stompzka, Piotr. 1993. Sosiologi Perubahan Sosial Taniputera, Ivan. 2009. History of China, Jogjakarta; Ar-Ruzz Media Wiriaatmadja,Rochiati,A.Dasuki, Dr.Dadan Wildan, M.Hum.2003.Sejarah dan Peradaban Cina: analisis filosofis-historis dan sosio-antropologis. Bandung;Humaniora Utama Press.