BAB I

I.
Nama Usia Agama Status Alamat Pekerjaan No CM Ruang

STATUS PEMERIKSAAN

Identitas Pasien
: Ny. AN : 40 tahun : Islam : Menikah : Palmerah Barat I No. 38 RT 7/7, Jakarta Barat : Pegawai swasta : 02786 : P. Sibatik

Tanggal masuk : 13 Februari 2012

II.

Subjektif

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis. 1. Keluhan utama 2. Keluhan tambahan : : Benjolan pada payudara kanan sejak 9 tahun yang lalu. Nyeri kepala; Penurunan berat badan kurang lebih 9 kg dalam 3 bulan terakhir. 3. Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengeluhkan adanya benjolan pada payudara kanan tepat di atas puting sejak 9 tahun yang lalu. Benjolan ini dirasakan makin lama makin membesar selama rentang waktu 9 tahun yang lalu walaupun kecepatan tumbuhnya dirasakan tidak terlalu cepat. Tidak dirasakan adanya nyeri ataupun perubahan bentuk dan ukuran baik saat menstruasi maupun dalam hari-hari biasa. Pasien menyangkal pernah keluar cairan dari puting payudara, baik darah maupun cairan berwarna bening. Pasien juga menyangkal adanya perubahan pada kedua puting maupun perubahan kulit di kedua payudara, serta menyangkal adanya benjolan di tempat lainnya. Pasien menyatakan bahwa berat badan mengalami penurunan yang cukup signifikan sebesar 9 kg dalam 3 bulan terakhir.

1

4. Riwayat penyakit dahulu

:

Pasien menyatakan merupakan pengguna kontrasepsi KB suntik selama 10 tahun yaitu sejak tahun 1993-2003, dengan frekuensi penyuntikan 1 bulan sekali. Pasien juga memiliki riwayat hipertensi dan diabetes mellitus. Pasien menyangkal mengenai riwayat pernah dilakukan operasi sebelumnya baik pada payudara maupun bagian tubuh yang lain. 5. Riwayat reproduksi : Pasien menyatakan bahwa menstruasi pertama didapatkan pada usia 15 tahun dengan frekuensi dan lama menstruasi yang tidak teratur sampai pasien berusia 30 tahun. Kemudian frekuensi menstruasi menjadi teratur dengan siklus kurang lebih 28-30 hari dengan lama menstruasi sekitar 7 hari. Pasien juga telah mengalami kehamilan dan melahirkan sebanyak 4 kali dengan tidak adanya riwayat abortus. Usia saat menikah yaitu 30 tahun dengan usia saat kehamilan pertama adalah 31 tahun. Mengenai riwayat menyusui, pasien menyatakan hanya memberikan ASI kepada anak pertama pada usia 32 tahun selama 1 minggu kemudian pasien tidak menyusui lagi dikarenakan ASI dirasa tidak keluar. 6. Riwayat keluarga kanan pada tahun 2002. : Pasien menyatakan bahwa ayah kandung pernah mengalami kanker payudara sebelah

III.

Objektif

A. Pemeriksaan Fisik Status Generalis 1. Tanda Vital Keadaan umum Kesadaran Gizi Tekanan Darah Nadi Suhu Pernafasan 2. Status Generalis Mata Hidung : Konjungtiva anemis -/: Septum ditengah, tidak terdapat secret : tampak sakit ringan : compos mentis : kesan gizi lebih : 140/90 mmHg : 88 x/menit : 360C : 20 x/menit

2

Telinga Tenggorokan Leher Thoraks  Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi  Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi

: Normotia, liang telinga lapang : T1-T1 tenang, tidak hiperemis : Teraba pembesaran KGB axilla kanan, kenyal, 1x1x0.5 cm, mobile : : Thoraks simetris saat statis dan dinamis, retraksi sela iga (-), tidak tampak deformitas : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris : Sonor pada seluruh lapang paru : suara nafas vesikuler, ronkhi basah halus -/-, rhonki basah kasar -/-, wheezing -/: Ictus cordis tidak terlihat di ICS V : Ictus cordis teraba di ICS V, 1cm lateral linea midclavicularis sinistra : : BJ 1-II regular, murmur (-), gallop (-) : : Cembung : Supel, hepar dan lien tidak teraba : Timpani

Auskultas : Bising usus (+) normal Atas Bawah : Akral hangat +/+, odem -/-, sianosis dan petechie tidak ada : Akral hangat +/+, odem -/-, sianosis dan petechie tidak ada

Ekstermitas -

Status Lokalis 1. Mammae dextra et sinistra : Inspeksi Palpasi : kedua mammae tampak simetris dan sama besar, perubahan warna kulit -/-, ulserasi -/-, edema -/-, retraksi papilla -/-, discharge pada papilla -/: - teraba tumor pada mammae dextra di atas papilla mammae, 3x6x1 cm, permukaan tidak rata, konsistensi kenyal, mobile, nyeri tekan (-). - Teraba tumor pada mammae sinistra medial dari papilla mammae, 1x1x0.5 cm, permukaan tidak rata, konsistensi kenyal, mobile, nyeri tekan (-).

3

1 Hasil 8.2 g/dL W: 12 – 16 % 38 – 46 ribu/mm3 150 – 400 Tulang-tulang dan soft tissue baik.Teraba tumor pada KGB axilla dextra sejajar linea axillaris medial. 1x1x0.700 4. pleura.83 13 38 372. Aorta Pulmo : baik.000 – 10.. tidak melebar. nyeri tekan (-).9 u/L W : <31 u/L W : <31 mg/dl 17 – 43 mg/dl W : 0. KESAN : Cor dan pulmo tak tampak kelainan.5cm.6 . Pemeriksaan Penunjang Laboratorium 26 Januari 2012 PEMERIKSAAN Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit Kimia Darah SGOT SGPT Ureum Creatinin Elektrolit Na+ K+ Cl+ Rontgen Thorax 30 Januari 2012 Sinus. dan cor baik.000 juta/mm3 W: 3. konsistensi kenyal. Tak tampak kesuraman di kedua paru.5 mmol/L 96 – 108 19 30 29 0. : corakan bronkovaskuler dan hilus baik.000 Satuan/Nilai Rujukan /mm3 5.6 – 1. 133 3. B. 4 .5 107 mmol/L 134 – 146 mmol/L 3.4 – 4. mobile.5. diafragma.

Papilla tidak retruksi.2x14 mm. 4 cm dari papilla dengan ukuran 13.USG mammae 30 Januari 2012 Kutis dan subkutis baik.4x13. Tak tampak pembesaran KGB di kedua axilla. Jaringan fibriglanduler baik. Tampak lesi hipoekhoik bentuk bulat batas kurang tegas pada mammae dextra arah jam 12. KESAN : Massa padat mammae dextra DD/ FAM 5 .

10. 2. Karsinoma lobular mammae VI. Diambil sebagian jaringan ductal untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. - Diagnosis Banding Mammary displasia Fibroadenoma mammae. 6. Incissi axilla dextra kemudian buat flap. 6 . reseksi limfonodi axilla dextra. 2. ¾ bagian dari musculus pectoralis mayor dengan menyertakan kulit. Cuci dengan NaCl dan bilas kemudian pasang drainage. Diagnosis Kerja 1. 4. 7. Hipertensi 3. 5. eksisi biopsi mammae sinistra. Cuci cekungan dengan NaCl kemudian bilas. 9. Penatalaksanaan A. Pasien tidur telentang dalam ruangan OK kemudian dilakukan general anesthesia. Tehnik operasi : 1. Konservatif Ceftriaxon 1 x 2 gr IV Ketorolac 3 x 1 ampul IV B. Tutup luka operasi. Operatif Breast Conserving Therapy (BCT) dextra. 8. Tumor mammae dextra et sinistra T2N1M0.IV. yaitu kurang lebih 2 cm dari benjolan membentuk cekung ke dalam. Diabetes Mellitus V. Diambil sebagian jaringan untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. Dilakukan pengangkatan ductus dari vena axillaris. Dilakukan incissi di atas bercak kehitaman pada mammae dextra. Pasien dibersihkan pada bagian lapangan operasi kemudian ditutup dengan duk steril. 3.

Diambil sebagian jaringan untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi.3 29 186. VII. 16. Operasi selesai.000 – 10. Tutup luka operasi. Cuci dengan NaCl kemudian bilas. Asam Mefenamat 3 x 500 mg.2 g/dL W: 12 – 16 % 38 – 46 ribu/mm3 150 – 400 mg/L W: < 20 Tanggal 15 Februari 2012 17 Februari 2012 Pasien dipulangkan dengan pengobatan lanjutan Baquinor 2 x 500 mg.6 . 14. Hasil pemeriksaan histopatologi : 7 . 13.000 juta/mm3 W: 3.000 23 Satuan/Nilai Rujukan /mm3 5. 15.21 9.600 3. Incissi mammae sinistra kemudian dilakukan eksisi biopsi. Tutup luka operasi. 12. Follow Up Keterangan Hasil lab post operasi : Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit LED Hitung Jenis Leukosit Eosinofil Basofil Netrofil batang Netrofil segmen Limfosit Monosit 1 2 85 10 2 % 0-1 % 2-4 % 2-6 % 50-75 % 20-40 % 2-8 Hasil 12. Formuno 2 x 1.5.11.

tidak terlihat perdarahan aktif Hasil laboratorium : Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit P : . Status lokalis mammae dextra et sinistra : Tampak jahitan di atas mammae sinistra dengan drain di dalam ketiak.6 . dengan fokus Fibro Adenoma Mammae Lymfadenitis kronik dengan sinus histiocytosis.700 3.000 juta/mm3 W: 3.Jika Hb < 9 transfusi PRC 500 cc.Bebat dengan kassa pada ketiak dan payudara kemudian tekan dengan elastic band. S : Keluar darah cukup banyak pada bekas operasi payudara kanan sejak pukul 14.5.000 Satuan/Nilai Rujukan /mm3 5. KESIMPULAN : Gambaran histopatologik sesuai dengan: 18 Februari 2012 pukul 20. Tidak tampak tanda ganas/khas. Suhu / Nadi = 360C / 88 x/menit Status generalis dalam batas normal.30 O : TD = 140/90 mmHg.Sediaan dari payudara kanan dan kiri memberikan gambaran yang lebih kurang sama yaitu proliferasi luas jaringan ikat padat kolagen dengan kelompokan Asinus/Duktulus tanpa kelainan yang nyata.00 WIB Mammary dysplasia. .33 9.IVFD RL 20 tetes/menit . Pada sebagian tempat tampak kelompokan Asinus/Duktulus dibatasi jaringan ikat miksomatosa yang proliferatif.2 g/dL W: 12 – 16 % 38 – 46 ribu/mm3 150 – 400 A : post operasi mammary displasia dengan bleeding .000 – 10. 8 Hasil 10. Sediaan axilla kanan dengan sebuah KGB dengan folikel limfoid tanpa kelainan yang nyata.8 29 286. dan sinusoid yang mengandung sel epitheloid.

rembesan (+) darah mammae dextra. nyeri (+) Hasil 5. Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.4 A : post operasi mammary displasia dengan bleeding 9 .Ganti Verban 21 Februari 2012 S : perdarahan (++) O : TD = 120/70 mmHg.8 3.8 g/dL 3. Suhu / Nadi = 370C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.6 – 3..5 2.IVFD RL 20 tetes/menit .Baquinor 2 x 500 mg . rembesan (+) darah mammae dextra.Formuno 2 x 1 20 Februari 2012 S : perdarahan (+) O : TD = 120/80 mmHg.6 – 8.Formuno 2 x 1 . rembesan (+).Baquinor 2 x 500 mg . lemas (+) O : TD = 130/80 mmHg. nyeri (+) A : post operasi mammary displasia dengan bleeding P : . nyeri kepala (+).Mefinal 3 x 500 mg .2 g/dL 2.IVFD RL 20 tetes/menit .3 Satuan/Nilai Rujukan g/dL 6. Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.Chanalbumin 1 x 1 .Obat-obat oral post operasi lanjutkan. nyeri (+) Laboratorium kimia darah : Pemeriksaan Protein total Albumin Globulin P : .5 – 5.Aff drain .Mefinal 3 x 500 mg . 19 Februari 2012 S : Sesak (+).

Formuno 2 x 1 22 Februari 2012 S : perdarahan (+) O : TD = 100/70 mmHg.Inj.Baquinor 2 x 500 mg . rembesan (+) darah mammae dextra.9 30 587.500 3. Vit K 3 x 1 ampul .48 9.Mefinal 3 x 500 mg .5.000 Satuan/Nilai Rujukan /mm3 5. Transamin 3 x 1 ampul .6 . Transamin 3 x 1 ampul . Velcrom 3 x 25 mg .Chanalbumin 1 x 1 .000 juta/mm3 W: 3. Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.Mefinal 3 x 500 mg .2 g/dL W: 12 – 16 % 38 – 46 ribu/mm3 150 – 400 A : post operasi mammary displasia dengan bleeding 10 .Bacquinor 3 x 500 mg .Inj.000 – 10.A : post operasi mammary displasia dengan bleeding P : . nyeri (+) Laboratorium darah lengkap : Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit Pemeriksaan Hematologi BT CT APTT P : .Inj.9” Menit 1 – 6 Menit 10 – 16 Detik 24 – 36 Hasil 9.Inj. Vit K 3 x 1 ampul .Formuno 2 x 1 2’30” 10’00” 30.Inj.

Formuno 2 x I .20C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage. Vit K 3 x 1 ampul . rembesan (+) darah pada mammae dextra et sinistra. nyeri (-) A : post operasi mammary displasia dengan bleeding P : .Inj.Inj. rembesan (+) darah pada mammae dextra et sinistra.Bacquinor 3 x 500 mg . Suhu / Nadi = 360C / 84 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.Inj..Mefinal 3 x 500 mg .Postovit 1 x I 25 Februari 2012 S : Perdarahan (+) O : TD = 110/80 mmHg.Inj. Transamin 3 x 1 ampul .Bacquinor 3 x 500 mg . Velcrom 3 x 25 mg .Chanalbumin 1 x I . Suhu / Nadi = 36. Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage. nyeri (+) A : post operasi mammary displasia dengan bleeding P : .Inj.Formuno 2 x I . rembesan (+) darah pada mammae dextra et 11 .Mefinal 3 x 500 mg .Chanalbumin 1 x 1 23 Februari 2012 S : Perdarahan (+) O : TD = 130/80 mmHg. Transamin 3 x 1 ampul . Velcrom 3 x 25 mg . Vit K 3 x 1 ampul .Chanalbumin 1 x I .Inj.Postovit 1 x I 24 Februari 2012 S : Perdarahan (+) O : TD = 110/80 mmHg.

Inj.Inj. Velcrom 3 x 25 mg .Postovit 1 x I 12 Hasil 7.100 3.6 .Mefinal 3 x 500 mg .Inj.Inj.Postovit 1 x I 26 Februari 2012 S : Perdarahan (+) O : TD = 110/80 mmHg.Bacquinor 3 x 500 mg .000 Satuan/Nilai Rujukan /mm3 5. Velcrom 3 x 25 mg .Chanalbumin 1 x I . Vit K 3 x 1 ampul . Vit K 3 x 1 ampul . rembesan (+) darah pada mammae dextra et sinistra.000 – 10.48 9.Inj.Formuno 2 x I .5.000 juta/mm3 W: 3.2 g/dL W: 12 – 16 % 38 – 46 ribu/mm3 150 – 400 A : post operasi mammary displasia dengan bleeding . Transamin 3 x 1 ampul .Mefinal 3 x 500 mg . Transamin 3 x 1 ampul .Inj.7 30 693.sinistra.Chanalbumin 1 x I .Formuno 2 x I . nyeri (-) A : post operasi mammary displasia dengan bleeding P : . nyeri (-) Laboratorium darah lengkap : Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit P : . Suhu / Nadi = 360C / 88 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.Bacquinor 3 x 500 mg .

rembesan (++) darah pada mammae dextra et sinistra. 11. 7. Ketorolac 3 x 1 ampul IV Tehnik Operasi : 1.Inj. Desinfeksi lapangan operasi kemudian tutup dengan duk steril.000 – 10. Cuci dengan H2O2 dan NaCl kemudian pasang drainage. 5. kemarin sore sesak nafas (+) O : TD = 110/70 mmHg.95 Satuan/Nilai Rujukan /mm3 5. 8. 4. 3. nyeri (+) pada kedua luka operasi. Buka jahitan luka. drain mammae sinistra (+) 10 ml warna merah padat Laboratorium darah lengkap : Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hasil 8. 9.100 2. nyeri (-) A : mammary displasia dextra et sinistra dengan wound descent P : . Operasi selesai. Dilanjutkan pada mammae sinistra berupa tindakan eskarektomi. drain mammae dextra (+) minimal warna merah encer.27 Februari 2012 S : Perdarahan (++) O : TD = 110/70 mmHg. 2. rembesan (-). 28 Februari 2012 S : Perdarahan (-). 10. Pasien tidur telentang kemudian dilakukan general anesthesia. Dilakukan eskarektomi sampai dengan perdarahan pada mammae dextra.Inj. Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage. 6. Terfacef 2 x 1 gr IV .Debridement dan rehecting mammae dextra et sinistra .6 . Operasi selesai.000 juta/mm3 W: 3. Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage. Tutup luka operasi. nyeri (+). Tutup luka operasi.5.IVFD RL 20 tetes/menit . Cuci dengan H2O2 dan NaCl kemudian pasang drainage.2 13 .

Inj. Terfacef 2 x 1 gr IV . Sankorbin 1 x 1 gr IV .Inj. Terfacef 2 x 1 gr IV .IVFD NaCl 20 tetes/menit .3 Rhesus (+) 25 649. Ketorolac 3 x 1 ampul IV . rembesan (-).000 g/dL W: 12 – 16 % 38 – 46 ribu/mm3 150 – 400 A : post debridement dan rehecting mammary displasia dengan wound descent P : . nyeri (+) pada kedua luka operasi. Ketorolac 3 x 1 ampul IV . Transamin 3 x 500 mg IV .IVFD NaCl 20 tetes/menit .Nutrican 3 x 1 PO . Velocrome 3 x 25 mg IV . drain mammae dextra (+) 30 cc warna merah encer. Sankorbin 1 x 1 gr IV .Inj.Inj. nyeri (-).Transfusi PRC sampai dengan > 10 29 Februari 2012 S : Menggigil dan sesak (+) saat transfusi kemarin.GV setelah 3 hari post operasi 1 Maret 2012 S : Nyeri (-) pada kedua luka operasi.Inj.Inj. nyeri (+). perdarahan (-) O : TD = 110/80 mmHg. perdarahan (-) O : TD = 120/70 mmHg. Velocrome 3 x 25 mg IV .Inj. Suhu / Nadi = 370C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.Sangobion 1 x 1 tab PO . drain mammae dextra et 14 . drain mammae sinistra (+) minimal warna merah encer A : post debridement dan rehecting mammary displasia dengan wound descent P : . Transamin 3 x 500 mg IV .Inj.Inj. rembesan (-).Hemoglobin Hematokrit Trombosit 8.Inj. Suhu / Nadi = 370C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage.

Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage. rembesan (-). A : post debridement dan rehecting mammary displasia dengan wound descent P : . Tampak kelompok-kelompokan sinus/duktulus dibatasi tegas jaringan ikat padat kolagen. drain mammae dextra et sinistra (+) A : post debridement dan rehecting mammary displasia dengan wound descent P : . Suhu / Nadi = 37.Inj.Sangobion 2 x 1 tab PO . Terfacef 2 x 1 gr IV .70C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : 15 .sinistra (+) minimal warna merah encer Hasil pemeriksaan histopatologi : Sediaan dari payudara tanpa keterangan.Nutrican 3 x 1 PO 2 Maret 2012 S : Nyeri (-) pada kedua luka operasi.IVFD NaCl 20 tetes/menit .Baquinor 2 x 500 mg PO .Asam mefenamat 3 x 1 tab PO . KESIMPULAN : Gambaran histopatologik sesuai dengan mammary dysplasia. perdarahan (-). nyeri (-). Terfacef 2 x 1 gr IV . terdiri atas jaringan massa lemak matur yang intermingled dengan jaringan ikat padat kolagen serta perdarahan luas.Nutrican 3 x 1 PO 3 Maret 2012 S : (-) O : TD = 130/80 mmHg.Rantidine 2 x 15 mg PO . ulu hati penuh (+) O : TD = 110/70 mmHg.Sangobion 2 x I tab PO .Inj.IVFD NaCl 20 tetes/menit .Mefinal 3 x 500 mg PO . Tidak tampak tanda khas/ganas.Postovit 1 x I tab PO .

Nutrican 3 x I. Postovit 1 x I. Suhu / Nadi = 360C / 80 x/menit Status lokalis mammae dextra et sinistra : Terpasang elastic bandage. Ranitidin 2 x 15 mg. rembesan (-). rembesan (-). 16 .Postovit 1 x I tab PO .Nutrican 3 x 1 PO 5 Maret 2012 Pasien dipulangkan dengan pengobatan lanjutan Baquinor 2 x 500 mg.Mefinal 3 x 500 mg PO .Terpasang elastic bandage. Mefinal 3 x 500 mg.Sangobion 2 x I tab PO . nyeri (-).Postovit 1 x I tab PO .Nutrican 3 x 1 PO 4 Maret 2012 S : (-) O : TD = 120/80 mmHg.Rantidine 2 x 15 mg PO . nyeri (-). drain mammae dextra et sinistra (+) A : post debridement dan rehecting mammary displasia dengan wound descent P : .Mefinal 3 x 500 mg PO .Sangobion 2 x I tab PO . drain mammae dextra et sinistra (+) A : post debridement dan rehecting mammary displasia dengan wound descent P : .Baquinor 2 x 500 mg PO .Baquinor 2 x 500 mg PO . Sangobion 2 x 1.Rantidine 2 x 15 mg PO .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Diseksi sepanjang tepi lateral muskulus pektoralis minor membagi fascia aksilaris dan membuka isi dari aksilla. Anatomi dan Fisiologi Mammae A. Anatomi Mammae Payudara dewasa berada pada lindungan jaringan adipose antara lapisan lemak subkutaneus dan fascia pectoralis superficial. payudara dipisahkan dari muskulus pectoralis dan termasuk dalam ruang retromammary dan fascia dalam dari otot. muskulus pektoralis minor terdapat pada fascia clavipectoral sebagai fascia yang membungkusnya dan melebar ke lateral untuk menyatu dengan fascia aksillaris. dengan duktus terbesar tepat di bawah papilla mammae dan berturut-turut duktus semakin mengecil ke arah perifer. duktus-duktus kecil di perifer memasuki lobus-lobus payudara di mana terjadi pembentukan ASI oleh bagian glandula mammae. Payudara berada pada lindungan lemak antara kulit dan muskulus pektoralis mayor. menghubungkan dengan fascia superfisial tepat di bawah dermis. Sejumlah limfonodi ditemukan di aksilla tergantung seberapa 17 . Berlokasi lebih dalam dari muskulus pektoralis mayor. Saat pemisahan payudara. Gambar 1 Gambaran potongan melintang dari payudara dewasa tidak menyusui. Di dalam jaringan ikat longgar lemak areolar dari aksilla terdapat beberapa limfonodi yang berkelompok. Baik kulit dan ruang retromammary yang berada di bawah payudara memiliki banyak saluran-saluran limfe. Cooper’s ligaments. Antara payudara dan muskulus pectoralis mayor terdapat ruang retromammary. Setelah bercabang-cabang. menyatu sebagai fascia interlobular pada parenkim payudara. ligament suspentorius dari payudara. dan kemudian bergabung dengan fascia profunda payudara sepanjang muskulus pektoralis. lapisan tipis dari jaringan ikat longgar areolar yang mengandung limfe dan pembuluhpembuluh darah kecil. Sistem duktus payudara teratur seperti pohon terbalik.

Pengidentifikasian yang terbaik dilakukan oleh Durkin dan Haagensen menggunakan pemeriksaan ethanol. biasanya pada biopsi sentinel moderen. Limfonodi bagian I berada pada mammae externa. 1988. secara fungsional terdapat pada limfonodi pertama dan paling bawah dari rantai limfonodi aksilla dan secara anatomis biasanya ditemukan pada kelompok limfonodi mammae external. Limfonodi sentinel. di mana pada gambar di atas disebut limfonodi interpectoral. Pendekatan tehnik operasi terbaru yang mengurangi prosedur radikal telah menurunkan jumlah limfonodi yang didapatkan. Spratt JS: Cancer of the Breast. Dengan cara tersebut ditemukan sekitar 50 limfonodi dari 100 spesimen yang terkandung dalam radikal mastektomi tipe Halsted. Gambar 2 Isi dari aksilla. Philadelphia. dan juga dinamakan limfonodi Rotter’s. (From Donegan WL. 3rd ed. vena aksilaris.luas dilakukan diseksi dan beberapa ketentuan digunakan untuk mengindentifikasi limfonodi tersebut. Pada gambar di atas. Limfonodi mammae profunda kemungkinan memiliki saluran tersendiri dalam payudara. Diseksi aksilla complete. Bagaimanapun juga.) Untuk standarisasi perluasan diseksi aksilla. dan kelompok aksilla sentral yang terbentang lateral dari tepi lateral muskulus pektoralis 18 . terdapat lima limfonodi yang dinamai dan letaknya berdekatan pada daerah aksilla. limfonodi aksilla dibedakan menjadi tiga bagian seperti ditunjukkan pada gambar 3. p 19. mengangkat keseluruhan dari limfonodi-limfonodi ini. perlu diperhatikan bahwa limfonodi subclavicula di aksilla adalah perpanjangan dari limfonodi supraclavicula di leher dan limfonodi antara muskulus pektoralis mayor dan minor. diikuti dengan riwayat radikal mastektomi. scapula. WB Saunders.

biasanya tampak jelas saat tindakan operatif aksilla. Tidak tampak adalah fascia clavipectoral di mana terdapat musculus pektoralis minor dan menyelubungi limfonodi aksilla. Gambar 3 Pembagian limfonodi aksilla menjadi bagian-bagian. antara tepi lateral dan medial (kemungkinan kelompok aksilla sentral).) Saluran limfe sangat berlimpah-limpah pada parenkim mammae dan dermis. seperti pada gambar 2). mereka tidak akan tereksisi dalam prosedur operasi yang mempertahankan muskulus pektoralis. 1988. WB Saunders. Philadelphia. Terminologi terbaru mendefinisikan limfonodi aksilla bagian I adalah limfonodi yang berada lateral dari tepi lateral muskulus pektoralis minor (kemungkinan membagi kelompok aksilla sentral. Limfonodi bagian III berada di medial dari batas tepi medial muskulus pektoralis minor dan merupakan limfonodi subclavicula seperti pada gambar 2. dan sebagian kecil menuju ke 19 . Aliran limfe berjalan dari kulit menuju ke pleksus subaerolar dan kemudian ke limfonodi interlobular parenkim mammae. Limfonodi bagian II adalah yang berada di bawah muskulus pektoralis minor. Apex dari aksilla merupakan ligamen costaeclavicular ( Halsted’s ligament). Limfonodi bagian II berada pada kelompok aksilla sentral yang terdapat di bawah muskulus pektoralis minor. Terkecuali limfonodi interpectoral ini terbuka. (From Donegan WL. limfonodi di ruang antara muskulus pektoralis mayor dan minor disebut juga kelompok interpectoral atau limfonodi Rotter. Spratt JS: Cancer of the Breast. Saluran limfe spesifik berada di bawah papilla dan aerola mammae.minor. 3rd ed. Akses ke limfonodi aksilla membutuhkan penetrasi dari lapisan fascia clavipectoral. 75% aliran limfe mammae menuju ke limfonodi aksillaris. p 20. Pengetahuan mengenai aliran limfe sangat penting untuk kesuksesan biopsi sentinel limfonodi. pada suatu titik vena aksilaris masuk ke dalam thorak dan berubah menjadi vena subclavicula. Menurut Grossman dan Rotter. Limfonodi bagian III termasuk limfonodi subclavicula yang berada medial dari muskulus pektoralis minor dan sulit ditemukan serta sulit dibuang kecuali muskulus pektoralis minor dikorbankan atau dipisahkan. membentuk pleksus Sappey’s.

prolaktin. refleksi dari posisinya selama operasi. Terbukanya berkas neurovaskuler pectoral adalah penunjuk yang baik. hormon tiroid. nervus thoracic longitudinal dilindungi selama diseksi standar aksilla. B. dan growth hormone. Otot ini penting untuk menfiksasi scapula ke dinding dada selama adduksi bahu dan ekstensi lengan. Berkas neurovaskuler ini harus dilindungi selama diseksi standar aksilla. Kemudian menyebrangi aksilla ke permukaan medial dari muskulus latisimus dorsi. banyak ahli bedah lebih senang menyebutnya nervus pectoralis lateral. Berkas neurovaskuler terbungkus sepanjang tepi lateral muskulus pektoralis minor. progesteron. Estrogen. Nervus sensoris dari brachial intercostals atau nervus cutaneus brachial letaknya hanya sejengkal dari ruang aksilla dan memberikan sensasi ke permukaan terluar dari lengan atas dan kulit dari dinding dada sepanjang linea posterior aksilaris. yang menginervasi muskulus serratus anterior. Rute utama dari metastasis kanker payudara adalah melalui saluran limfe. progesterone. mengindikasikan posisi vena aksillaris tepat di atas dan di dalam (superior dan posterior dari) dari berkas neurovaskuler. Nervus mayor tubuh yang kedua ditemukan saat dilakukan diseksi aksilla adalah nervus thoracodorsal pada muskulus lattisimus dorsi tepi lateral aksilla. atau disebut juga nervus respiratorius externa Bell. termasuk estrogen. dekat dengan tempat masuk nervus thoracic longitudinalis. Terpotongnya nervus ini mengakibatkan hilangnya fungsi muskulus latisimus dorsi dan atrofi otot. terlihat pada gambar 2 dan 3. dan rusaknya nervus tersebut berakibat deformitas scapula yang lepas. Berkas neurovaskuler ini menginervasi muskulus pektoralis mayor. Nervus ini berasal dari korda posterior pleksus brachialis dan memasuki ruang aksilla di bawah vena aksillaris. Terpotongnya nervus ini menyebabkan anestesi kutan pada area-area di atas.muskulus pektoralis dan ke kelompok-kelompok limfonodi medial lainnya. Pengetahuan mengenai struktur nervus-nervus mayor di aksilla dibutuhkan untuk menghindari adanya kerusakan atau terpotongnya nervus-nervus tersebut selama operasi. Dekat dengan dinding dada pada sisi medial aksilla terdapat nervus thoracic longitudinal. dan terutama prolaktin telah memberikan efek tropik yang sangat besar yang sangat 20 . Nervus thoracodorsal biasanya dilindungi selama diseksi limfonodi aksilla. oksitosin. dan anatomi sistem limfe menentukan lokasi favorit dari penyebaran kanker regional. kortisol. Fisiologi Mammae Pembentukan mammae dan fungsinya diinisiasi oleh berbagai stimulus hormon. Denervasi dari area yang diinervasi oleh nervus sensori tersebut dapat menyebabkan sindroma nyeri yang kronik dan tidak nyaman pada sebagian kecil pasien. Untuk kebutuhan ini. Walaupun ahli anatomi menyebutkan bahwa nervus-nervus ini adalah nervus pectoralis medial.

dan gatal. pelepasan LH dan FSH dari sel-sel basofilik hipofisis anterior mengatur sekresi Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) dari hipotalamus. dapat bilateral dan dapat menyerupai keganasan. Pada pasien dengan kecurigaan karsinoma. Gonadotropins Luteinizing Hormon (LH) dan Follicle-Stimulating Hormone (FSH) mengatur pelepasan estrogen dan progesteron dari ovarium. Ketahui usia pasien dan dapatkan riwayat reproduksinya. Efek umpan balik positif dan negatif dari sirkulasi estrogen dan progesteron mengatur sekresi LH. Anamnesa termasuk mencari adanya faktor risiko yang memungkinkan untuk mengevaluasi temuan yang mencurigakan saat pemeriksaan fisik atau dalam mammogram. Tumor mammae benigna lainnya adalah penyakit fibrokistik dan perubahan mammae fibrokistik. Gejala-gejala ini dapat berubah seluruhnya saat siklus menstruasi dan biasanya menghilang setelah menopause. Mammary dysplasia juga dapat dinyatakan sebagai suatu kondisi perubahan pada jaringan mammae yang sifatnya benigna. dan usia 21 . diagnosis yang tepat dan penyediaan drainase merupakan pertolongan yang segera bagi pasien. anamnesa merupakan bagian sangat penting dari keseluruhan pemeriksaan dan biasannya menunjukkan penyebab gejala ataupun pemeriksaan fisik. Prolaktin adalah stimulus hormonal primer untuk laktogenesis pada kehamilan semester akhir dan saat periode post partum. Anamnesa Pada pasien dengan tumor payudara benigna. Biasanya muncul secara mendadak. Penegakan diagnosis dapat melalui aspirasi dan/atau USG. Sekresi dari hormon neurotropik hipotalamus bertanggung jawab untuk regulasi sekresi hormon yang mempengaruhi jaringan mammae. walaupun progesterone bertanggung jawab untuk diferensiasi epithelium dan pembentukan lobulus. ketidaknyaman pada payudara. Prolaktin memberikan umpan balik pada reseptor-reseptor hormon dan menstimulus pembentukan epithelial. dan GnRH.penting bagi perkembangan dan fungsi mammae normal. III. Penegakan Diagnosis A. FSH. Estrogen menginisiasi pembentukan duktus. papilla mammae yang sensitif. Hal ini muncul biasanya pada dekade terakhir dari periode reproduksi diakibatkan involusi stroma dan epitel tidak terintegrasi. II. Sebagai gantinya. Perubahan ini dapat termasuk kista atau benjolan irregular. Bisanya bentuknya multiple. anamnesa membantu pendekatan pada pasien. Usia saat menstruasi pertama. regularitas siklus menstruasi. Mammary Displasia Mammary displasia merupakan salah satu bentuk gangguan mammae benigna.

Pada kasus ini. Gambar 4 Temuan fisik yang sering ditemukan saat pemeriksaan payudara. (the pathologic hallmark of the disease).saat menopause harus ditanyakan. A. papilloma adalah sumber dari gejalanya. Tarikan pada ligamen Cooper oleh tumor serous mengubah permukaan payudara menjadi lekukan. Riwayat operasi sebelumnya juga harus dicatat termasuk biopsi payudara sebelumnya dan hasil pemeriksaan histopatologinya. Riwayat keluarga ditanyakan mengenai keganasan payudara dan ovarium pada keluarga kandung (orang tua. Discharge papilla. Jika didapatkan adanya riwayat histerektomi. D. C. Pada pasien ini. Sel duktus maligna menginvasi epidermis. Discharge dari multiple duktus atau discharge bilateral adalah temuan yang paling sering pada payudara sehat. dan benjolan baru di tempat lain. Riwayat pengobatan juga harus diketahui terutama mengenai pemakaian terapi pengganti hormon atau penggunaan kontrasepsi hormon. tanpa melintasi membran basalis baik pada duktus subaerolar atau epidermis. Penyakit Paget pada papilla. dan keturunan). Peau d’orange (kulit berubah menjadi oranye) atau edema dari kulit payudara. Jika ada benjolan. keluarnya cairan pada papilla. Dalam anamnesa tanyakan juga mengenai adanya nyeri. riwayat kehamilan dan laktasi harus ditanyakan. sangat terlihat pada sudut penyinaran tak langsung dengan lengan abduksi ke depan. tanyakan bagaimana cara menemukannya saat 22 . B. discharge dari satu orifisium duktus dan mungkin menandakan penyakit yang mendasari. Penyakit ini biasanya menunjukkan ruam psoriasis yang dimulai di papilla dan menyebar ke aerola sampai ke kulit payudara. tanyakan apakah termasuk dilakukan pengangkatan ovarium. Pada wanita yang lebih muda. Skin dimpling. Dapat dikarenakan blokade limfonodi atau mastitis atau karsinoma inflamasi. Dikarenakan histerektomi adalah prosedur umum. saudara. akan sulit ditentukan saat menopause secara pasti. Sangat membantu jika ditanyakan juga mengenai gejala-gejala menopause pada pasien.

Palpasi payudara secara lembut dari sisi ipsilateral. Dengan lengan ke arah depan dan dalam keadaan duduk. Payudara mungkin tertangkup tangan saat dilakukan pemeriksaan adanya retraksi. lengan terangkat ke atas. Setelah palpasi payudara lakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap adanya limfadenopati. dan apakah ada perubahan terkait siklus menstruasi. 23 . dan perubahan dari sejak ditemukan sampai saat ini. Palpasi juga KGB supraclavicula dan parasternal. ukuran. yaitu X-ray berampere tinggi (gambar ). adanya retraksi kulit lebih tertonjolkan. bahu dapat terstabilisasi. dan eritema. Mammografi Gambaran radiologi jaringan lunak mammae didapatkan dengan cara menempatkan payudara berkontak langsung dengan film ultrasensitif dan memaparkannya ke voltase rendah. dan lengan pada pahanya dengan atau tanpa kontraksi muskulus pektoralis. Walaupun demikian. Palpasi secara lembut tiga level KGB aksilla untuk mencari adanya limfadenopati. periksa seluruh kuadran payudara dari linea sternalis sampai ke muskulus lattisimus dorsi dan dari clavicula inferior sampai ke bagian atas fascia muskulus rectus abdominis. Kemudian lakukan pemeriksaan palpasi payudara. Palpasi dilakukan dengan sisi palmar jari dan hindari remasan atau gerakan mencubit. Nilai juga adanya kemungkinan edema (peau d’orange). sejak berapa lama. retraksi papilla atau retraksi kulit. Pemeriksaan Fisik Pada inspeksi dilihat payudara pasien dengan lengan berada pada sisi tubuhnya. Sebelumnya dilakukan pemeriksaan palpasi dan dibutuhkan penilaian yang teliti pada pasien baik saat lengan dalam keadaan istirahat dan elevasi untuk mengangkat mammae. C. Nilai mengenai kesimetrisan. B. Pemeriksaan Penunjang Walaupun anamnesa dan pemeriksan fisik yang akurat adalah metode yang penting untuk mendeteksi penyakit pada mammae. dan bentuk dari payudara. Posisikan pasien dalam posisi supinasi dengan bantal menyangga pada hemithorax ipsilateral. Sensitivitas pemeriksaan ini meningkat seiring dengan pertambahan usia dikarenakan payudara semakin berkurang kepadatannya. mammogram normal tidak memastikan ketiadaan dari carcinoma mammae. 5% dari carcinoma mammae tidak terdeteksi dalam menggunakan pemeriksaan mammografi. Secara keseluruhan.pertama kali. terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis. Dengan menyangga lengan atas dan siku.

Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengetahui lokasi patologi payudara pada daerahdaerah yang sulit terpalpasi. USG dari jaringan aksilla dilakukan ketika terdiagnosa carcinoma dan merupakan penunjuk bagi biopsi perkutan untuk glandula-glandula yang mencurigakan. dan untuk membedakan kista dari lesi-lesi padat. Akan tetapi USG tidak berguna sebagai alat pemeriksaan skrining dan menyisakan ketergantungan pada operator. Gambar 6 USG mammae menunjukkan karsinoma (lihat tanda panah) 24 . Secara meningkat.Gambar 5 Mammogram yang menunjukkan carcinoma Ultrasonografi (USG) USG terutama sekali berguna pada wanita-wanita muda yang payudaranya masih padat di mana pemeriksaan dengan mammogram sulit untuk diinterpretasi.

Fine-Needle Aspiration Cytology (FNAC) adalah tehnik yang paling kecil invasinya dan paling akurat. Berguna untuk membedakan bekas luka dari rekurensi pada wanita yang sebelumnya memiliki riwayat Breast Conservation Therapy (BCT) untuk tumor mammae. 4. Hasil aspirasi dioleskan pada kaca objek yang kering atau terfiksasi.Magnetic Resonance Imaging (MRI) Magnetic Resonance Imaging (MRI) menarik perhatian banyak ahli bedah onkologi dikarenakan : 1. (a) pre-kontras. 2. Telah dibuktikan berguna bagi alat pemeriksaan skrining pada wanita dengan risiko tinggi (riwayat keluarga keganasan). negatif palsu dapat muncul. Modalitas pencitraan terbaik bagi wanita yang memiliki implant pada payudaranya. Walaupun tidak begitu akurat setelah 9 bulan radioterapi dikarenakan terjadi peningkatan abnormalitas. Bagaimanapun juga. (b) post-gadolinium kontras. (c) gambar substraksi Biopsi Jarum/Sitologi Histologi dapat diperoleh di bawah anestesi lokal menggunakan alat biopsi springloaded core needle. 25 . 3. terutama pada kegagalan sediaan. dan tumor yang invasif tidak dapat dibedakan dengan tumor in situ. Kurang begitu baik dibandingkan USG dalam tata laksana daerah aksilla baik pada karsinoma mammae primer maupun penyakit rekuren. Sitologi dapat diperoleh menggunakan jarum no 21G atau 23G dan spuit 10 ml dengan beberapa jalan masuk menuju benjolan dengan tekanan negatif pada spuit. Gambar 7 Scan MRI pada payudara menunjukkan karsinoma pada payudara kiri (tanda panah).

Tata Laksana Tumor Mammae A. Konservatif Gambar 9 Algoritma penanganan bagi tumor mammae yang dapat dioperasi Dua prinsip dasar pengobatan adalah mengurangi kemungkinan terjadinya rekuren lokal dan risiko metastasis. Biasanya penanganan awal melibatkan tindakan operatif dengan atau tanpa radioterapi. Gambar di bawah ini menerangkan mengenai algoritma tata laksana tumor mammae : 26 . yang mengindikasikan kemungkinan besar metastasis.Gambar 8 Pemotongan inti pada biopsi mammae IV. Terapi sistemik seperti kemoterapi atau hormonal diberikan jika terdapat faktor-faktor prognosis kronik seperti keterlibatan limfonodi.

Mastektomi radikal modifikasi (Patey) lebih sering dilakukan. kecuali regio ekor aksilla di payudara yang biasanya menempel pada beberapa limfonodi di bawah kelompok limfonodi anterior. tidak lagi dilakukan dikarenakan morbiditas tinggi dengan tidak ada keuntungan dalam survival rate. 27 .B. Keseluruhan lemak. Mastektomi radikal Halsted. Operatif Mastektomi diindikasikan pada tumor-tumor besar. Sebagian besar kulit. Simple mastectomy adalah mengangkat hanya payudara tanpa diikuti diseksi aksilla. Nervus brachialis intercostal biasanya dipisahkan saat operasi dan pasien harus diberi penjelasan mengenai sensasi yang berubah pasca operasi. bagian tengah di mana tumor berada yang biasanya termasuk papilla. rekuren lokal atau atas dasar pilihan pasien. Seluruh payudara. Muskulus pektoralis minor dilakukan baik pemisahan atau ditarik kembali untuk mencapai dua pertiga aksilla. limfonodi aksilla dan muskulus pektoralis mayor dan minor. fascia dan limfonodi aksilla. pendekatan radikal mastektomi termodifikasi meninggalkan muskulus pektoralis mayor yang intak. 2. tumor sentral di bawah atau menyertakan papilla mammae. 3. Mastektomi Patey Payudara dan struktur-struktur penunjangnya didiseksi en bloc dan massa yang dieksisi terdiri dari : 1. Vena dan nervus aksilla yang mengarah ke muskulus serratus anterior dan lattisimus dorsi harus dilindungi. Gambar 10 Mastektomi radikal dengan muskulus pektoralis terbuka. eksisi termasuk payudara. penyakit multifokal.

Lumpektomi sebaiknya dilakukan pada operasi eksisi tumor benigna dan di mana sebagian besar jaringan normal mammae tidak direseksi. Carcinoma di parenkim payudara yang berhubungan dengan penyakit Paget dikategorikan sesuai dengan ukuran dan karakteristik dari penyakit parenkim. terapi radiasi adjuvant. Quadrantektomi meliputi pembuangan seluruh segmen payudara yang terdapat tumor. pengambilan sampel. Biasanya dikatakan juga sebagai eksisi lokal luas. biasanya melalui insisi terpisah. walaupun 28 . Reseksi tumor mammae primer dapaat disebut juga reseksi segmental. Ketika lumpektomi dilakukan. Breast Conserving Therapy (BCT) Terapi ini bertujuan untuk membuang tumor dengan jaringan normal payudara minimal 1 cm.Luka operasi didrainase menggunakan wide-bore suction tube. Kedua tehnik operasi tersebut biasanya dikombinasi dengan operasi aksilla. pengangkatan limfonodi di belakang dan lateral dari muskulus pectoralis minor (bagian II) atau diseksi total aksilla (bagian III). dan tilektomi. BCT adalah tata laksana standar bagi wanita dengan tumor mammae invasif stadium I atau II. BCT merupakan reseksi dari tumor mammae primer dengan mengambil sedikit jaringan mammae normal. Terdapat beberapa variasi yang dapat digunakan termasuk sentinel node biopsy. lumpektomi. Mobilisasi lengan sejak awal dan fisiotetapi dilakukan. V. Kebanyakan pasien dapat kembali beraktifitas dalam beberapa minggu. dan penilaian mengenai limfonodi aksilla. Tabel 1 Klasifikasi TNM untuk Tumor Payudara Tumor primer (T) TX T0 Tis Tumor primer tidak dapat dinilai Tidak adanya bukti adanya tumor primer Carcinoma in situ Tis (DCIS) Ductal carcinoma in situ Tis (LCIS) Lobular carcinoma in situ Tis (Paget) Penyakit Paget pada papilla tidak berhubungan dengan carcinoma invasif dan/atau carcinoma in situ (DCIS and/or LCIS) di dasar parenkim payudara. mastektomi parsial. Staging Tumor Payudara Klasifikasi TNM untuk staging tumor payudara dapat dilihat pada tabel di bawah ini. dibuat insisi kurvelinier melingkari areola mammae.

keberadaan penyakit Paget tetap harus dicatat T1 T1mi T1a T1b T1c T2 T3 T4 T4a T4b Tumor ≤ 20 mm pada ukuran yang paling besar Tumor ≤ 1 mm pada ukuran yang paling besar Tumor > 1 mm tapi ≤ 5 mm pada ukuran yang paling besar Tumor > 5 mm tapi ≤ 10 mm pada ukuran yang paling besar Tumor > 10 mm tapi ≤ 20 mm pada ukuran yang paling besar Tumor > 20 mm tapi ≤ 50 mm pada ukuran yang paling besar Tumor > 50 mm pada ukuran yang paling besar Tumor dengan ukuran berapapun dengan pelebaran ke dinding dada dan/atau kulit (ulserasi atau nodul kulit) Pelebaran ke dinding dada. with or without axillary or internal mammary lymph node involvement Metastasis in ipsilateral infraclavicular lymph node(s) N3 N3a 29 . or in clinically detected * ipsilateral internal mammary lymph node(s) and in the presence of clinically evident level I. II dan dapat digerakkan Metastasis ke limfonodi aksilla ipsilateral level I. II yang secara klinis terfiksir atau terdeteksi secara klinis* Metastases ke limfonodi aksilla ipsilateral level I. or metastasis in ipsilateral supraclavicular lymph node(s). II axillary node involvement. II axillary lymph node metastases Metastases in ipsilateral infraclavicular (level III axillary) lymph node(s). telah diangkat sebelumnya) Tidak ada metastasi ke limfonodi regional Metastasis ke limfonodi aksilla ipsilateral level I. with or without level I. II axillary lymph node metastasis. tapi tidak termasuk invasi muskulus pektoralis Ulserasi dan/atau nodul-nodul satelit ipsilateral dan/atau edema kulit (termasuk peau d’orange) yang tidak termasuk kriteria untuk inflamasi carcinoma Gabungan dari T4a dan T4b Inflamasi carcinoma T4c T4d Limfonodi Regional (N) Klinis NX N0 N1 N2 N2a N2b Limfonodi Regional tidak dapat dinilai (contoh. II terfiksir satu dengan yang lainnya atau ke struktur lainnya Metastases only in clinically detected* ipsilateral internal mammary nodes and in the absence of clinically evident level I.

2 mm.2 mm and/or > 200 cells.N3b N3c Metastasis in ipsilateral internal mammary lymph node(s) and axillary lymph node(s) Metastasis in ipsilateral supraclavicular lymph node(s) *"Clinically detected" is defined as detected by imaging studies (excluding lymphoscintigraphy) or by clinical examination and having characteristics highly suspicious for malignancy or a presumed pathologic macrometastasis on the basis of fineneedle aspiration (FNA) biopsy with cytologic examination. Note: Isolated tumor cell clusters (ITCs) are defined as small clusters of cells ≤ 0. including ITC) No regional lymph node metastases histologically. with micrometastases or macrometastases detected by sentinel lymph node biopsy but not clinically detected† Metastases in 4-9 axillary lymph nodes or in clinically detected‡ internal mammary lymph nodes in the absence of axillary lymph node metastases Metastases in 4-9 axillary lymph nodes (at least 1 tumor deposit > 2. with micrometastases or macrometastases detected by sentinel lymph node biopsy but not clinically detected†.0 mm) Metastases in 1-3 axillary lymph nodes (at least 1 metastasis > 2. or in > 3 axillary lymph nodes and in internal mammary lymph nodes.2 mm (detected by hematoxylin-eosin [H&E] stain or IHC. Patologi (pN)* pNX Regional lymph nodes cannot be assessed (for example. or in infraclavicular (level III axillary) lymph nodes. or a cluster of < 200 cells in a single histologic crosssection. negative IHC Malignant cells in regional lymph node(s) ≤ 0. negative molecular findings (reverse transcriptase polymerase chain reaction [RT-PCR]) pN0 pN0(i-) pN0(i+) pN0(mol-) pN0(mol+) Positive molecular findings (RT-PCR) but no regional lymph node metastases detected by histology or IHC pN1 Micrometastases. with micrometastases or macrometastases detected by sentinel lymph node biopsy but not clinically detected† Metastases in 1-3 axillary lymph nodes and in internal mammary lymph nodes. or in clinically detected‡ ipsilateral internal mammary lymph nodes in the presence of ≥ 1 positive level I. or single tumor cells. with metastases detected by sentinel lymph node biopsy but not clinically detected† Micrometastases (> 0. previously removed. nodes containing only ITCs are excluded from the total positive node count for purposes of N classification but should be included in the total number of nodes evaluated No regional lymph node metastases histologically. II axillary lymph nodes.0 mm) Metastases in internal mammary nodes. but none > 2. or metastases in 1-3 axillary lymph nodes and/or in internal mammary nodes. ITCs may be detected by routine histology or by immunohistochemical (IHC) methods. or in ipsilateral pN1mi pN1a pN1b pN1c pN2 pN2a pN2b pN3 30 .0 mm) Metastases in clinically detected‡ internal mammary lymph nodes in the absence of axillary lymph node metastases Metastases in ≥ 10 axillary lymph nodes. or not removed for pathologic study) No regional lymph node metastasis identified histologically.

or metasta ses to the infraclavicular (level III axillary lymph) nodes Metastases in clinically detected‡ ipsilateral internal mammary lymph nodes in the presence of ≥ 1 positive axillary lymph nodes. Perdarahan dan Hemostasis dalam Pembedahan A. Mekanisme trombosit.0 mm). akibat incisi operatif) mengeluarkan protein-protein matrix dan kolagen. with micrometastases or macrometastases detected by sentinel lymph node biopsy but not clinically detected† Metastases in ipsilateral supraclavicular lymph nodes pN3b pN3c *Classification is based on axillary lymph node dissection. or in > 3 axillary lymph nodes and in internal mammary lymph nodes. with or without sentinel lymph node biopsy. serotonin. dan ADP + thrombin menyebabkan aktivasi trombosit lebih lanjut yang 31 . Classification based solely on sentinel lymph node biopsy without subsequent axillary lymph node dissection is designated (sn) for "sentinel node"—for example. fibrinogen juga berperan serta dalam adhesi atau agregasi trombosit.2 mm M1 VI. Tempat perlekatan dengan fibrinogen kemudian muncul dalam membran trombosit. Kesemua faktor ini mencegah atau mengurangi perdarahan dari pembuluh darah. SSTL. † "Not clinically detected" is defined as not detected by imaging studies (excluding lymphoscintigraphy) or not detected by clinical examination. Mekanisme Hemostasis Hemostasis adalah suatu bentuk mekanisme defensif tubuh yang mengandung tiga faktor utama: 1. tapi deposit molekuler atau mikroskopik mendeteksi sel-sel tumor pada sirkulasi darah. sehingga trombosit-trombosit berkumpul dan saling berlekatan pada jaringan ikat di tempat akhir luka (adhesi). dan 3.2 mm tanpa adanya gejala atau tanda dari metastasis Metastasis jauh terdeteksi dalam gejala klinis dan radiologi yang artinya telah terbukti secara histologi > 0.supraclavicular lymph nodes pN3a Metastases in ≥ 10 axillary lymph nodes (at least 1 tumor deposit > 2. epinefrin. pN0(sn). Pembekuan. ‡ "Clinically detected" is defined as detected by imaging studies (excluding lymphoscintigr aphy) or by clinical examination and having characteristics highly suspicious for malignancy or a presumed pathologic macrometastasis on the basis of FNA biopsy with cytologic examination. Mekanisme vascular (vasokonstriksi). kerusakan endothelial (contoh. atau jaringan limfonodi non regional yang < 0. Trombosit-trombosit ini kemudian melepaskan adenosine diphosphate (ADP). Metastasis jauh(M) M0 cM0(i+) Tidak ada tanda klinis atau radiologis dari metastasis jauh Tidak ada tanda klinis atau radiologis dari metastasis jauh. tromboxan A2. 2. Selama terjadi perlukaan (incisi).

Perdarahan arteri adalah merah terang dan berpulsasi diikuti gangguan pada fungsi jantung.akhirnya menyebabkan thrombus. Pada vena besar hati-hati akan adanya emboli udara. Perdarahan yang menetes atau merembes terus menerus dari luka. perawatan luka primer yang tidak adekuat. 2. primer atau sekunder. atau nekrosisnya dinding pembuluh darah. Macam-macam perdarahan : 1. Perdarahan massif dari pembuluh darah yang terpotong atau terbuka. Gambar di bawah menjelaskan mengenai adhesi trombosit dan agregasinya yang diperkuat oleh fibrin untuk stabilitas jangka panjang. Gambar 12 Mekanisme terjadinya thrombus B. Perdarahan vena seringkali mengalir terus menerus dengan darah berwarna lebih gelap dengan intensitasi lebih rendah dari arteri. Volume yang hilang tergantung dari ukuran arteri yang terkena. Perdarahan yang terus menerus yang berasal dari rembesan dapat menjadi serius jika tidak dapat dikontrol. Perdarahan kapiler: biasanya dilakukan tamponade tekan dengan handuk kering 32 . Perdarahan sekunder dapat diakibatkan luka yang terinfeksi. Keadaan ini dapat bersifat akut atau kronik. trauma pada balutan luka atau tidak adekuatnya balutan. Macam-macam Perdarahan Perdarahan adalah berkurangnya volume sirkulasi dan kapasitas pengangkut oksigen secara keseluruhan.

Tindakan awalan jika sirkulasi darah tidak stabil (terdapat gangguan hemodinamik) : 1. 2. Permasalahan hematologi yang muncul sebagai akibat dari tindakan operatif. Perdarahan parenkim: biasanya dilakukan penjahitan dengan jahitan yang dapat diserap atau gelatin. Perdarahan Post Operasi Perdarahan post tindakan operatif dapat disebabkan hemostasis lokal yang tidak efektif. dan contoh darah harus dikirimkan ke bank darah. Penilaian ulang dari riwayat dan pengobatan yang telah diberikan. sedangkan wanita kurang lebih 65 ml/kgBB. Penyebab perdarahan post operasi yang biasanya langsung menunjukkan gejala setelah operasi : 1. Pembuluh darah yang tidak terligasi. atau fibrinolisis yang biasanya pada operasi prostat. Perdarahan dapat juga diklasifikan menurut volume darah yang hilang. 33 . Transfusi harus dihentikan. 2. Gambar 13 Klasifikasi klinis perdarahan C. Rata-rata volume darah orang dewasa laki-laki kurang lebih 70 ml/kgBB atau 6% dari total berat badan. konsumsi koagulopati. Perarahan minor selama insisi kulit dapat dikontrol dengan kompresi tepi kulit. Pada penyebab-penyebab di atas terapi yang digunakan adalah jika sirkulasi darah tidak stabil. tindakan operasi ulang secepatnya adalah hal yang sangat penting.atau basah (yang telah dicelup air saline hangat). komplikasi transfusi. pankreas atau hepar. gangguan hemostasis sebelumnya yang tidak terdeteksi.

compartment syndrome jika perdarahan pada ruang kompartemen otot. Sesak nafas. j. b. Hipotermia. h.3. c. jika hipotermi. d. b. Gejala-gejala dari hemostasis incomplete : 1. c. Takikardi. Mungkin dapat terjadi insufisiensi miokard jika perdarahan pada perikardium. Akral dingin. tekanan intracranial meningkat jika perdarahan pada kepala. e. Lakukan tes laboratorium untuk menilai koagulan dan fungsi trombosit. Tanda-tanda shok : a. f. Terdapatnya hematom pada kulit. 4. Sianosis. d. Dyspnea. Berkeringat. i. Merasa tercekik. Hipotensi. maka pasien harus dihangatkan. Membran mukosa pucat. g. Temperatur tubuh diperiksa. 34 . f. 2. Tanda-tanda lokal : a. Ekimosis. Gangguan hemodinamik. e. disfungsi dan hiperperistaltik dari usus. Merasa tertekan pada daerah dada dan leher. Penurunan kesadaran.

kulit tampak pucat perabaan hangat. maka dapat disimpulkan perdarahan yang dialami pasien termasuk dalam klasifikasi perdarahan kelas I. Pada pasien ini tidak dilakukan hal tersebut dikarenakan masalah pembiayaan. Tidak diperiksanya faktor-faktor pembekuan dikarenakan pada pre operasi debridement dan rehecting mammae dextra et sinistra. tekanan darah 140/90 mmHg. Selain itu. Hasil yang normal ini menunjukkan tidak adanya gangguan pada fungsi trombosit. Hasil USG menyatakan kesan tidak adanya ke arah maligna akan tetapi hal ini tetap harus dipastikan dengan pemeriksaan histopatologi. Biopsi eksisi sebaiknya diikuti dengan tindakan sediaan potong beku. Berdasarkan hasil follow up.BAB III KESIMPULAN Pada pasien ini ketika dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik sudah terdapat kecurigaan ke arah tumor mammae maligna dikarenakan usia pasien di atas 30 tahun. rasio pernafasan 20 x/menit. hasil laboratorium dari pemeriksaan hematologi bleeding time dan clotting time menunjukkan hasil yang normal. capillary refill <2 detik. Akan tetapi untuk memastikan dilakukan pemeriksaan penunjang berupa USG. Maka dari itu dilakukan tindakan operatif berupa Breast Conserving Therapy (BCT) dikarenakan kecurigaan keganasan berdasarkan usia pasien yang di atas 30 tahun sampai terbukti tidak ada keganasan. dan kesadaran compos mentis. Laboratorium darah rutin yang dilakukan secara rutin selama pasien observasi perdarahan memperlihatkan angka trombosit yang berbanding terbalik dengan hemoglobin. Perdarahan tersebut kemungkinan perdarahan yang disebabkan tidak adekuatnya balutan yaitu terbuka kembali jahitan atau terdapatnya pembuluh darah yang tidak terligasi adekuat sehingga perlu dilakukan tindakan rehecting. Hal ini menunjukkan trombosit dalam darah pasien responsif terhadap adanya perdarahan. Tindakan yang dilakukan setelah ditegakkannya diagnosis tumor mammae dextra et sinistra dengan wound disclosure adalah tindakan operatif secepatnya berupa debridement dan rehecting mammae dextra et sinistra. 35 . pada hari keenam post Breast Conserving Therapy (BCT) pasien mengalami rembesan massif pada perban begitu elastic bandage dibuka. menilai dari keadaan pasien yaitu nadi 88 x/menit. Selain itu dari anamnesa tidak didapatkannya riwayat penyakit-penyakit darah atau gangguan hematologi.

Pg : 867-924 F. Bul.K.medscape. Iglehart and Carolyn M. 2006. Pg : 344-362 Joseph A. 2006. Philadelphia.com/article/2007112-overview. http://emedicine.cancer. Disease of The Breast.ganfyd. Sabiston Textbook of Surgery 17th Pkg Edition .gov/dictionary?cdrid=415874 Dysplasia. Manual of Surgery 8th Edition.elsevierimages. Diunduh dari dari : : Diunduh Norman S. et all. Pennsylvania : Elsevier Saunders.elsevierimages. Szeged : Institute of Surgical Research Faculty of Medicine University of Szeged.elsevierimages. Schwartz’s. Pg : 63-69. Pg : 827-843 Gambar diunduh dari : Gambar 1 Gambar 2 http://www. 2004. Ronan O’connel.com/image/24447. Sparano.org/index.DAFTAR PUSTAKA Boros. Charles Bunicardi. Breast Cancer Staging.htm Gambar 3 Gambar 4 36 .htm http://www.php?title=Axillary_lymph_nodes http://www. Britain : Hodder Education. et all. Short Practice of Surgery 25th Edition.com/image/24448. New York : Mc Graw Hill. Bailey and Love’s. 20 Mei 2011 National Cancer Institute. Surgical Techniques.htm http://www. Mammary http://www. Kaelin.com/image/24450. and P. Christopher J. Mihaly. Williams. Textbook for Medical Students. 76-87 Dirk J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful