Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Persoalan tentang keberadaan pengadilan supranasional sampai saat ini banyak diperdebatkan sehubungan dengan Doktrin Kedaulatan Negara dan Immunitas Negara (Doctrine of State Sovereignity or State Immunity) yang membentengi suatu perbuatan negara terhadap langkah hukum dari negara lain. Pada satu sisi wilayah atau teritori negara merupakan landasan utama untuk menentukan jurisdiksi kriminal ini. Akan tetapi, pada sisi lain alasan primer masyarakat internasional untuk memaksakan rezim hukum pidana internasional untuk menuntut dan memidanakan pelaku kekejaman yang dilakukan dalam teritori suatu negara berdaulat adalah karena kekejaman tersebut seringkali diperintahkan dan bahkan diampuni oleh orang-orang yang berkuasa yang kebal secara de jure dan/atau de facto dari tuntutan pidanadi bawah sistem hukum domestik. Keberadaan pelbagai pengadilan supranasional harus diakui mempunyai tujuan yang bersifat luas. Tujuan-tujuan tersebut antara lain adalah usaha untuk mengakhiri praktek impunitas (secara harfiah berarti bebas hukuman); menciptakan efek penggertak', menciptakan mekanisme untuk mengakhiri konflik di suatu bangsa; mengambil alih atas dasar prinsip subtitutif (seperti yang dilakukan ICTY dan ICTR) atau prinsip komplementer (seperti yang dilakukan ICC) seandainya pengadilan nasional tidak mau atau tidak mampu atau tidak berdaya; berusaha untuk memberikan perlindungan dan restorasi terhadap korban melalui restitusi, kompensasi dan rehabilitasi; serta pemeliharan perdamaian. Pada tanggal 17 Juli 1998, Statuta Roma ICC (Rome Statute of International Criminal Court) disahkan. Statuta Roma tersebut membentuk lembaga ICC guna mengadili orang-orang yang dituduh telah melakukan kejahatan terberat bagi kemanusiaan: genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pelanggaran HAM berat lainnya disamping kejahatan perang. Statuta Roma ICC mengajak semua negara di dunia untuk menerapkan sistem keadilan internasional yang baru dengan meratifikasinya agar individu-individu yang bertanggung-jawab dapat diadili tanpa terhalangi faktor-faktor nonyuridis seperti faktor politis karena yang bersangkutan adalah petinggi negara di mana pelanggaran HAM berat itu terjadi. Pembentukan lembaga Pengadilan HAM lintasnegara ini disambut gembira banyak pihak. Sampai saat ini, sebanyak 102 negara telah meratifikasi Statuta. Sedang yang lainnya, termasuk Myanmar, Korea Utara, dan China masih berdiam diri. Menyikapi meluasnya dukungan membuat Amnesty International menyatakan optimismis bahwa dengan dukungan yang kuat, ICC akan sanggup mengatasi kejahatan di

masa depan sehingga orang-orang tidak lagi dapat berencana ataupun melakukan kejahatan tanpa dimintai pertanggungjawaban. Di samping itu, para korban akan tetap dapat menuntut keadilan terhadap kejahatan yang telah mereka alami dan mendapatkan pemulihan penuh untuk membangun kembali kehidupan mereka. Optimisme itu terbukti. Sejak berlaku efektif pada tanggal 1 Juli 2002, statuta ini telah menunjukkan kemajuan yang besar dalam menegakkan supremasi hukum. Saat baru setahun diberlakukan, ICC yang juga berkedudukan di Den Haag ini segera melakukan investigasi dalam tiga kasus pelanggaran HAM berat yaitu Repulik Demokrasi Kongo, Sudan, dan Uganda di mana kejahatan terjadi dalam skala sangat luas. Khusus mengenai keberadaan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dimensi tujuan tambahannya adalah melengkapi 'the missing link' dalam sistem hukum internasional yang sampai terbentuknya ICC didominasi oleh Mahkamah Internasional (ICJ) dengan Negara sebagai pihak yang berperkara, sedangkan ICC menerapkan 'individual responsibility', sebagai pengadilan permanen ICC juga berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan dari tribunal ad hoc yang sering dituduh menerapkan keadilan selektif dengan 'tempos' dan 'locus delicti' tertentu, sekaligus mengakhiri 'tribunal fatigue' setelah Tribunal Rwanda (ICTR) dari Yugoslavia (ICTY) memakan waktu dan energi yang cukup banyak; ICC diharapkan menjadi warisan moral (moral legacy) bagi masyarakat beradab yang mendambakan sistem peradilan pidana internasional yang permanen, efektif dan secara politik tidak mengenal kompromi dan sekaligus merupakan 'landmark' dalam hubungan internasional. Mantan sekjen PBB Koffi Annan menyatakannya sebagai 'anugerah harapan bagi generasi mendatang, dan sebuah langkah besar dalam penegakan HAM universal dan rule of law.1 B. Tujuan Penulisan 1) Menambah wawasan dan pengetahuan penulis di bidang Hukum HAM dan Hukum HAM Internasional, khususnya mengkaji pertimbangan penerapan hukum

internasional dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM di suatu negara berdaulat; 2) Untuk menyelesaikan kewajiban tugas terstruktur dalam mata kuliah Perjanjian Internasional. C. Manfaat Penulisan Kertas kerja ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan dalam makalah ini, bagi masyarakat pada umumnya, para pemerhati hukum, para praktisi hukum dan mahasiswa, khususnya dalam rangka mengkaji landasan yuridis penerapan hukum HAM internasional.

BAB II BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH A. Batasan Masalah Namun, patut disayangkan, komitmen pemerintah Indonesia meratifikasi Statuta Roma yang jadi landasan pembentukan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) ini masih

mengkhawatirkan. Padahal, seharusnya ratifikasi Statuta Roma penting adanya karena akan mempertajam fokus penegakan hak asasi manusia di Indonesia, terutama terkait aparat pemerintah yang telah melakukan pelanggaran HAM berat. Lagipula Indonesia sempat menegaskan komitmen ratifikasi tersebut melalui Rancangan Aksi Nasional tentang HAM. Bahkan pada tahun pertama masa pemerintahannya (2004), presiden SBY langsung mengesahkan Rancangan Aksi Nasional tersebut serta menyatakan bahwa Indonesia meratifikasi Statuta Roma ICC paling lambat tahun 2008. Namun, setelah dua tahun berlalu, tetap saja tidak ada tanda tanda menuju ratifikasi yang dijanjikan presiden. Para aktivis HAM baik dalam maupun luar negeri pun geram. Muncul sinyalemen bahwa pemerintahan SBY sama saja dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya yang terbukti tak berkomitmen pada penegakan HAM. Hingga saat ini tercatat sudah ada 2500 organisasi kemasyarakatan di Indonesia menagih janji ratifikasi yang pernah disampaikan pemerintah di tahun 2004 silam. Suatu jumlah yang tak dapat dikatakan sedikit untuk ukuran dukungan bagi sebuah naskah perjanjian internasional. Kontroversi inilah yang menjadi dasar ketertarikan penulis untuk mengangkat sebuah makalah dengan ruang lingkup ratifikasi statuta roma di Indonesia dalam hubungannya dengan HAM berjudul: RATIFIKASI STATUTA ROMA SEBAGAI IMPLEMENTASI PENEGAKAN HAM DI INDONESIA B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada pembatasan ruang lingkup permasalahan diatas, penulis akan melakukan kupasan pembahasan melalui dua pertanyaan pokok:

1) Apa kaitan Statuta Roma ICC dengan penegakan Hukum HAM? 2) Apa arti penting ratifikasi Statuta Roma ICC bagi Indonesia?

BAB III ANALISIS MASALAH A. Kaitan Statuta Roma ICC dengan Penegakan Hukum HAM Statuta Roma ICC merupakan buah dari usaha yang panjang dan sarat dengan kendala, bahkan tragedi-tragedi kemusiaan di dunia. Usaha tersebut dimulai sejak tiga perempat abad yang perlu, yaitu pada tahun 1919 di Versailles saat berakhirnya Perang Dunia I, yang sebenarnya diharapkan sebagai 'the war to end all wars'. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu meledaknya dari Perang Dunia II yang menimbulkan akibat lebih dahsyat dan mengerikan dari sisi kemanusiaan. Sejak saat itu boleh dikatakan telah terjadi kurang lebih 250 konflik dalam segala bentuknya dan proses viktimisasi yang dilakukan oleh rezimrezim tiranis telah mengorbankan lebih kurang 170 juta orang. Yang teramat mengejutkan adalah bahwa sebagian besar pelaku genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang diuntungkan melalui praktek 'impunity'. Terbentuknya Statuta Roma ICC merupakan buah perjuangan panjang baik individual, NGO's, pemerintah negara-negara maupun lembaga-lembaga lainnya yang semuanya mengharapkan terciptanya 'the rule of law' di level internasional. Tahun 1989-1998 merupakan saat-saat yang paling dramatis. Harapan yang sudah tipis untuk membentuk suatu pengadilan HAM internasional permanen antara tahun 1989-1992 (kurun berakhirnya Perang Dingin, digalakkan kembali dengan terjadinya peristiwa di Yugoslavia dan Rwanda yang memaksa PBB untuk membentuk Tribunal ad hoc internasional. Dalam suasana dan iklim dukungan publik internasional yang kuat, berlandaskan pada statuta Roma terbentuklah pengadilan permanen Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada tanggal 17 Juli 1998 yang kini berkedudukan di Den Haague. Yurisdiksi 'ratione materiae' ICC berkaitan dengan empat pelanggaran HAM berat yaitu genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang and agresi. Ada pun mengenai yurisdiksi tempo ditegaskan bahwa ICC berlaku setelah Statuta ICC berlaku (entry into force)

yang berarti konsisten menegakkan Asas Legalitas. Mengenai yurisdiksi wilayah, ICC mempunyai jurisdiksi terhadap kejahatan yang dilakukan di dalam wilayah negara peserta Statuta Roma2, tanpa mempertimbangkan kewarganegaraan pelaku, termasuk kejahatan di wilayah Negara yang menerima jurisdiksi atas dasar pernyataan ad hoc dan atau wilayah yang ditentukan oleh Dewan Keamanan PBB. Sedangkan sepanjang mengenai

'pertanggungjawaban individu', ditentukan bahwa ICC mempunyai jurisdiksi terhadap warga negara Negara peserta yang dituntut atas suatu kejahatan. Prinsip 'equally to all persons', 'irrelevance of official capacity' diterapkan termasuk mereka yang berkedudukan sebagai kepala pemerintahan atau kepala Negara. Apalagi imunitas atas dasar hukum internasional tidak menghalangi jurisdiksi ICC. Namun bukan berarti ICC bukan panacea bagi setiap persoalan. Sejauh ini ICC paling tidak menghadapi tiga tantangan signifikan, yakni : 1) Eksepsionalitas (exceptionality), seperti yang dilakukan Amerika Serikat; 2) Keamanan (security) sehubungan dengan berkembangnya ancaman berupa terorisme global yang belum dimasukkan dalam jurisdiksi ICC 3) Penguatan (enforceability), yang memerlukan kerjasama dan bantuan seluruh Negara terutama dalam mengejar pelaku dan menjamin keadilan bagi para korban. Terlepas dari besarnya tantangan yang dihadapi, harus diakui Statuta Roma ICC telah memberi arti penting dalam hukum HAM melalui pelbagai hal seperti beberapa hal sebagai berikut, yaitu : 1) Kepastian (certainity), berupa pendefinisian pelbagai gagasan yang sebelumnya masih kabur, misalnya definisi tentang kejahatan perang, genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. 2) Kekhususan (specifity), dalam bentuk pemisahan yang jelas antara jurisdiksi ICC dengan hukum humaniter dan memisahkan antara Konvensi Jenewa 1949 dengan dua Protokol 1997, yang tidak secara khusus disebut mengingat beberapa negara sampai saat ini belum ikut serta. 3) Pelengkap (complementarity), sebab apabila hukum HAM nasional yang benar-benar diprioritaskan terhadap pelaku telah gagal, maka ICC dapat menggunakan jurisdiksinya. 4) Universalitas, mengingat sebagai lembaga permanen yang bersifat global, ICC harus mengadopsi pendekatan universal terhadap kejahatan internasional, yang mengundang partisipasi dari masyarakat global, baik pemerintah maupun nonpemerintah.

5) Keterwakilan (representativity), sebab sejarah terbentuknya Statuta Roma ICC merupakan hasil dari kerja sama orang-orang yang mewakili baik, negara maju maupun negara berkembang, baik dari pemerintahan maupun non pemerintahan. 6) Berpihak kepada korban (victim-sensibility), karena baik Statuta Roma ICC maupun Hukum Acaranya rnenggambarkan perhatian yang lebih besar terhadap korban. Adapun karakteristik Statuta Roma ICC yang membuatnya lebih mawas HAM dan lebih bersahabat dengan hukum nasional meliputi : 1) Menerapkan prinsip komplementer yang lebih santun. Berbeda dengan pengadilan HAM ad hoc seperti ICTY dan ICTR, yang menentukan prinsip keunggulan (primacy) terhadap pengadilan nasional; 2) Menghormati Asas legalitas; 3) Asas ne bis in idem diberlakukan dengan perkecualian tertentu; 4) Menggunakan 'pertanggungjawaban individual' tanpa mengecualikan

'pertanggungjawaban negara'. Termasuk kategori ini siapa saja yang dengan sengaja: memfasilitasi pelaksanaan kejahatan, mendukung, menghasut, mendorong, berkolusi, membantu pelaksanaan kejahatan atau percobaannya, termasuk sarana pelaksanaan kejahatan; 5) Khusus untuk kasus genosida terdapat pengaturan 'pertanggungjawaban penguasa sipil dan/atau militer; 6) Larangan mengadili secara in absentia; 7) Pengaturan jelas tentang reparasi korban, termasuk restitusi, kompensasi dan rehabilitasi; 8) Statuta Roma tidak mengizinkan pidana mati, sehingga dapat diterima negara negara yang ingin melalukan penghapusan pidana mati;

B. Makna ratifikasi Statuta Roma bagi Penegakan HAM Indonesia Ratifikasi Indonesia akan mengakhiri praktik impunitas di pengadilan HAM Nasional. Terobosan ini akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pendukung utama keadilan internasional.4 Indonesia akan bergabung dengan lebih dari setengah masyarakat dunia untuk meyakinkan bahwa sistem keadilan yang efektif akan mencegah kejahatan terburuk yang pernah terjadi terhadap kemanusiaan dan memastikan adanya perlindungan bagi seluruh bangsa di dunia, termasuk Indonesia sendiri.

Sebagai salah satu bangsa yang besar dan berpenduduk paling padat di dunia, sikap Indonesia akan menjadi langkah penting menuju ratifikasi universal. Terlebih lagi, hal itu akan menjadi preseden penting bagi negara-negara lain di yang belum meratifikasi. Ratifikasi ini penting mengingat tujuan utamanya adalah agar ICC dapat menerapkan jurisdiksi universal mengadili pelanggaran HAM yang terjadi dimanapun di dunia. Terlebih melalui ratifikasi ini berarti Indonesia akan mendapatkan dukungan dan kerjasama dari masyarakat internasional untuk melakukan investigasi dan menghukum para pelaku pelanggaran HAM berat. Sebagai negara anggota Statuta Roma, Indonesia akan berperan penting dalam badan pengatur ICCMajelis Negara-negara Anggota (Assembly of States Parties) yang dibentuk oleh seluruh pemerintah negara-negara yang telah meratifikasi. Indonesia juga akan dapat menominasikan calonnya untuk menjadi hakim Pengadilan. Ratifikasi juga memberi kesempatan bagi Indonesia untuk memperbaiki hukum nasionalnya dalam upaya pemberantasan impunitas melalui penyelidikan dan penuntutan yang lebih efektif terhadap pelanggaran HAM berat seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang di pengadilan HAM nasional. Hukum nasional harus mampu memberi jaminan bagi kerjasama penuh dengan ICC. Harus diakui selama ini pemerintah Indonesia tidak seratus persen pasif walaupun juga tidak seratus persen aktif dalam Statuta Roma ICC. Secara khusus pemerintah telah mengirimkan delegasi untuk mengikuti Konferansi Diplomatik di Roma pada bulan Juli 1998 di mana Statuta Roma disahkan. Pada saat itu, Indonesia menyatakan dukungannya atas pengesahan Statuta Roma dan pembentukan ICC. Dalam kesempatan tersebut, delegasi Indonesia juga menyatakan niatnya untuk meratifikasi Statuta Roma ICC. Setahun kemudian, Indonesia kembali menyampaikan pernyataan positif kepada Komite Ke-6 Majelis Umum PBB dalam pandangannya terhadap hal tersebut. Indonesia menyatakan bahwa partisipasi universal harus menjadi ujung tombak Statuta Roma ICC dan bahwa Mahkamah Pidana Internasional menjadi bentuk hasil kerjasama seluruh bangsa tanpa memandang perbedaan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam kesempatan yang sama, Indonesia menyatakan bahwa Statuta Roma menambah arti penting pada nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam PBB yang meliputi persepakatan, imparsialitas, nondiskriminasi, kedaulatan negara dan kesatuan wilayah. Dalam hal ini, Indonesia tegas menerima peran ICC untuk MELENGKAPI bukannya MENGGANTIKAN mekanisme hukum nasional. Namun, belakangan pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pertimbangan mendalam mengenai Statuta Roma ICC masih dalam proses sambil mencari mekanisme efektif.

Terutama untuk mensosialisasikan isinya ke lebih dari 200 juta penduduk Indonesia yang tersebar di 13,000 pulau lebih. Padahal pada tahun 2004, Presiden SBY mengesahkan Rancangan Aksi Nasional tentang HAM. Rancangan tersebut menyatakan bahwa Indonesia bermaksud meratifikasi Statuta Roma pada tahun 2008.5 Untuk melaksanakan Rancangan tersebut, Presiden membentuk sebuah Komite Nasional. Dalam beberapa kesempatan, pemerintah juga menyatakan bahwa Statuta Roma sedang dipelajari dan bahwa legislasi nasional perlu dibuat demi keperluan kerjasama dengan Pengadilan sebelum ratifikasi dilaksanakan.

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Komitmen pemerintah Republik Indonesia meratifikasi Statuta Roma yang menjadi landasan pembentukan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) ini masih mengkhawatirkan. Padahal, seharusnya ratifikasi Statuta Roma penting adanya karena akan mempertajam fokus penegakan hak asasi manusia di Indonesia, terutama terkait aparat pemerintah yang telah melakukan pelanggaran HAM berat. Lagipula Indonesia sempat menegaskan komitmen ratifikasi tersebut melalui Rancangan Aksi Nasional tentang HAM. Bahkan pada tahun pertama masa pemerintahannya (2004), presiden SBY langsung mengesahkan Rancangan Aksi Nasional HAM tersebut serta menyatakan bahwa Indonesia meratifikasi Statuta Roma ICC paling lambat tahun 2008. Padahal Indonesia mengakui secara tegas bahwa Statuta Roma menambah arti penting pada nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam PBB yang meliputi persepakatan, imparsialitas, nondiskriminasi, kedaulatan negara dan kesatuan wilayah. Tentu saja sikap Indonesia dalam mengakui keberadaan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) adalah sebagai PELENGKAP, bukannya sebagai PENGGANTI pengadilan HAM nasional. Karena Indonesia telah lama memiliki mekanisme tersendiri berdasarkan UU nomor 39 tahun 1999 dan UU nomor 26 tahun 2000.

B. SARAN-SARAN Pemerintah Indonesia harus menjalankan komitmennya sebagaimana tertuang dalam RANHAM untuk meratifikasi ICC tahun 2008 ini karena akan sangat berpengaruh dalam proses penegakan HAM dan menghentikan praktek impunitas. Penundaan hanya akan menjauhkan Indonesia dari semangat mewujudkan keadilan dan melawan impunitas. Pemerintah, dalam hal ini Depkumham serta Deplu sebagai titik sentral ratifikasi ICC untuk bersama-sama merancang draft naskah akademik dan RUU untuk ratifikasi ICC.

DAFTAR PUSTAKA

Bilder, Richard, Tinjauan Umum Hukum Hak Asasi Manusia, Jakarta, ELSAM, 2005 Billah, M, Tipologi dan Praktek Pelanggaran HAM di Indonesia, Denpasar, Badan Pembinaan Hukum Nasional, 2003 Fitriah, Nikmah, Hukum Internasional, Banjarmasin, STIH Sultan Adam, 2010 Kusumaatmaja, Mohtar, Pengantar Hukum Internasional, Binacipta Bandung, 1982 Muladi, Peradilan Hak Asasi Manusia dalam Konteks Nasional dan Internasional, Jakarta, 2003 Thontowi, Jawahir, Pranoto Iskandar, Hukum Internasional Kontemporer, Bandung, Refika Aditama, 2006