Anda di halaman 1dari 53

1

SAMBUTAN KETUA UMUM IKPI


Salam sejahtera bagi kita semua. Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas ridho, bimbingan serta petunjuk-Nya sehingga kami dapat menyusun Katalog Pengembangan Profesional Berkelanjutan atau disingkat dengan (PPL) edisi tahun 2012 ini. Modul-modul PPL pada tahun 2012 adalah dengan tema industri tertentu serta standar akuntansi yang baru. Disamping itu penyebarluasan Standar Profesi IKPI bagi seluruh anggota telah dimasukan pula dalam jadwal PPL yang pelaksanaannya akan dilakukan pada tiap Pengurus Daerah IKPI. Semoga PPL yang diselenggarakan oleh IKPI ini dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi masyarakat perpajakan Indonesia. Kami ucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu atas terbitnya katalog ini, khususnya pada Departemen Pendidikan dan Biro PPL atas kepeduliannya kepada organisasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan anggota IKPI pada khususnya dan masyarakat perpajakan Indonesia pada umumnya. Jakarta, 02 Januari 2012 Hormat kami, Pengurus Pusat IKPI Sukiatto Oyong, SE, Ak, MSi Ketua Umum
i

DAFTAR ISI
SAMBUTAN KETUA UMUM IKPI .................................... i DAFTAR ISI................................................................. iii BAB I SEKILAS TENTANG IKPI ................................ 1 1.1 1.2 1.3 1.4 BAB II Visi ............................................................... 1 Misi .............................................................. 1 Maksud dan Tujuan ....................................... 1 Keanggotaan................................................. 1

PENGURUS PUSAT IKPI MASA BAKTI 2009-2014..................................................... 3 2.1 Dewan Pengawas .......................................... 3 2.2 Pengurus Pusat ............................................. 3

BAB III PENGEMBANGAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN ........................................... 5 3.1 3.2 3.3 3.4 Definisi PPL ................................................... 5 Tujuan PPL ................................................... 5 Sekilas PPL IKPI dan Penghitungan SKPPL ...... 6 Program PPL Tahunan ................................. 10

BAB IV KALENDER DAN TOPIK-TOPIK PPL 2012 .... 28 BAB V TOPIK-TOPIK PPL DAN SILABUS ................ 30 5.1 Deskripsi Topik PPL ..................................... 30 5.2 e-Class ....................................................... 85

iii

BAB I SEKILAS TENTANG IKPI


1.1 Visi Menjadi wadah tunggal dari profesi para konsultan pajak Indonesia yang terpercaya dan mempunyai komitmen yang kuat terhadap kemajuan bangsa. 1.2 Misi

keahliannya dan dalam lingkungan pekerjaannya, secara bebas dan profesional memberikan jasa perpajakan kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan perundangundangan perpajakan. Anggota IKPI terdiri dari anggota biasa, anggota luar biasa, dan anggota kehormatan. Masing-masing diuraikan sebagai berikut:

Anggota Biasa.

Mempersatukan seluruh konsultan pajak di Indonesia. Menciptakan organisasi yang kuat, bersih, berwibawa dan ber-etika. Memelihara hubungan yang harmonis dengan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat luas. Berperan serta dalam menciptakan masyarakat yang sadar akan hak dan kewajiban perpajakan mereka.

Anggota Biasa yaitu setiap konsultan pajak yang telah memiliki Izin Praktik Konsultan Pajak dari Menteri Keuangan cq Direktur Jenderal Pajak.

Anggota Luar Biasa.

1.3 Maksud dan Tujuan

Anggota Luar Biasa yaitu setiap orang yang melakukan pekerjaan dibidang perpajakan dan memiliki sertifikat dari Badan Penyelenggara Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak (BPUSKP) atau Piagam Penghargaan Setara Brevet yang diberikan oleh Direktur Jenderal Pajak, tetapi tidak/belum memiliki Izin Praktik Konsultan Pajak.

Meningkatkan peranan IKPI melalui anggotanya dalam membantu setiap program pemerintah berkaitan dengan bidang perpajakan. Meningkatkan mutu pengetahuan anggota IKPI. Memperjuangkan dan melindungi kepentingan anggotanya dalam menjalankan profesinya.

Anggota Kehormatan.

Anggota Kehormatan yaitu setiap orang yang diangkat oleh Pengurus Pusat karena memiliki kemampuan untuk ikut memelihara dan memajukan organisasi IKPI.

1.4 Keanggotaan Anggota IKPI adalah Konsultan Pajak yang dengan


Katalog PPL 2012 1
2 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

BAB II PENGURUS PUSAT IKPI MASA BAKTI 20092014


2.1 Dewan Pengawas
Ketua Ketua I Ketua II Anggota : : : : Drs. A. Prijohandojo Kristanto Nuryadi Mulyodiwarno Drs. Christian B. Marpaung Ishak Tongkodu, SH Sonny Triharsono, SH, MSc Drs. Iskandar Rusli, MSi. Drs. I Gusti Rai Putra Drs. Hariansyah Dr. Agus S. Suryadi, SH,MH.MSi.MKn. Dra. J. Engeline T. Siagian Yudie Prawira Paimanta, SE Melisa Himawan, SE

Anggota Ka. Dep. Luar Negeri Ka. Bidang Anggota Ka. Dep. Litbang & Standar Profesi Ka. Bidang Anggota Ka. Dep. Pendidikan Ka. Bidang Anggota Kepala Biro PPL Wakil Kepala Biro PPL Ka. Dep. Pembinaan Anggota/Organisasi Ka. Bidang Anggota Ka. Dep. Informasi & Teknologi Ka. Bidang Anggota

: : : :

Drs. Achmad Fauzi, MSi. Dra. Sri Wahyuni Sudjono Elly Djoenaidi, SE. Ruston Tambunan, Ak. MSi. Int. Tax. : Suryohadi Djulianto, SH. MM. Lani Dharmasetya, S.Sos. MM. Kumala Kamil, SH. Dra. Lisa Purnamasari Dra. Dwie Areany Kesuma Yoko Hartono, SE. Ak. Suwarta, SE. MH. Ak. Ir. Hary Mulyanto, MM. Prianto Budi S Drs. Suradi Toha, MM.

: : : : : : : : :

: Sistomo, Ak. MM : Henkie Djajadibrata : Peter Anugrah, SE. : Jahja Sulaiman, BAC. : Anton Prawira, SE.

2.2 Pengurus Pusat


: : : : : : : : Bendahara Umum : Wk. Bend. Umum : : Akt & Keuangan Ka. Dep. Dalam Negeri : : Ka. Bidang Ketua Umum Sekretaris Umum Sekretaris I (Ekst) Sekretaris II (Int) Ka.Biro Hukum Ka.Biro Humas Anggota Sukiatto Oyong, SE. Ak. MSi. Drs. Teddy T. Suryoprabowo Budianto Widjaja, SE. MBA. Dra. Lily Eka Noviany, Ak. Fidel, SE. SH. MM. MH. Untung Sudarmo, SH. MM. S. Suyanto Rahardjo, SE. MBA. Susy Suryani S., SE.SH. MH. Rafael K. Abdisa, BA. Dra. Elies Yanti, Ak. Drs. Sugito Wibowo, Ak. MM. Drs. Herman Juwono, CPA. Irma Martani, SE.

Katalog PPL 2012

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

BAB III PENGEMBANGAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN


3.1 Definisi PPL Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) adalah upaya dan kegiatan yang ditempuh setiap anggota untuk memelihara dan mengembangkan kompetensinya. Sesuai dengan pengertiannya, PPL mempunyai beberapa macam bentuk, antara lain :

yang berizin maupun dari klien-kliennya dalam menghadapi kasus yang terkini. Dengan mengikuti PPL IKPI, diharapkan setiap anggota dapat terus mempertahankan pengetahuan perpajakannya. Selain itu, setiap anggota juga bisa mengembangkan diri sesuai dengan peraturan berlaku dan tuntutan bisnis yang semakin hari semakin luas dan bervariasi. 3.3 Sekilas PPL IKPI dan Penghitungan SKPPL 3.3.1 Mengapa Anggota IKPI harus mengikuti PPL?

PPL Terstruktur, yaitu bentuk PPL dengan cara tatap muka dan atau non tatap muka, PPL Tidak Terstruktur, yaitu bentuk PPL berupa upaya atau kegiatan tertentu yang dilakukan anggota dalam lingkungan IKPI atau di luar lingkungan IKPI dengan penunjukan resmi.

Setiap anggota yang sudah mengikuti PPL akan mendapatkan angka kredit berupa SKPPL (Satuan Kredit PPL). Untuk selanjutnya, SKPPL ini diajukan kepada Biro PPL sebagai pertanggungjawaban diri masing-masing anggota dalam melaksanakan PPL selama 1 (satu) tahun takwim. 3.2 Tujuan PPL Tujuan PPL adalah untuk membantu anggota IKPI dalam rangka menjaga kompetensi dalam menghadapi persaingan global. Masing-masing konsultan pajak yang sudah berpraktik akan menghadapi tuntutan dan tantangan. Tantangan tersebut bisa berasal dari dirinya sendiri sebagai konsultan
Katalog PPL 2012 5

IKPI berkeyakinan bahwa PPL yang terprogram merupakan esensi bagi pengembangan diri setiap profesional perpajakan agar mereka tetap memiliki pengetahuan dan wawasan terkini yang memadai dan sekaligus dapat meningkatkan kompetensinya di bidang perpajakan. Melalui peran serta dalam modul PPL yang berkualitas serta terprogram, anggota diharapkan akan memiliki rasa percaya diri yang pada gilirannya dapat memberikan jasa yang semakin berkualitas kepada para kliennya. Penyelenggaraan kegiatan PPL oleh IKPI secara langsung akan meningkatkan kredibilitas para anggota di bawah naungan IKPI. Di samping itu, kegiatan PPL juga ditujukan untuk meningkatkan hubungan silahturahim para anggota, baik dalam kegiatan organisasi maupun kegiatan sosial yang dilaksanakan oleh IKPI. 3.3.2 Kewajiban SKPPL bagi Anggota IKPI

Setiap anggota IKPI wajib mencapai 20 (dua puluh) SKPPL per tahun. Kewajiban SKPPL tersebut terdiri dari sekurang-kurangnya 15 (lima belas) SKPPL untuk kegiatan
6 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

PPL Terstruktur dan sisanya dipenuhi dari kegiatan PPL Tidak Terstruktur. Dalam hal anggota IKPI tidak memenuhi kewajiban pencapaian SKPPL di atas, kekurangan SKPPL harus dilunasi pada tahun berikutnya. 3.3.3 PPL Terstruktur

Tabel 2 PPL Terstruktur Jarak Jauh/Non Tatap Muka

PPL terstruktur terdiri dari enam kategori, yaitu: 1. Tatap Muka (lihat Tabel 1); 2. Jarak Jauh atau Non Tatap Muka (lihat Tabel 2); 3. Tatap Muka PPL non-IKPI (lihat Tabel 3); 4. Narasumber, Juru Bicara Delegasi, Tutor, dan Penguji (lihat Tabel 4); 5. Menulis (lihat Tabel 5); dan 6. Keterlibatan dalam USKP (lihatTabel 6);
Tabel 1 PPL Terstruktur - Tatap Muka

Aktivitas PPL 1. Lokakarya yang diselenggarakan online via internet dan bukan rekaman (e-Class) 2. Pelatihan yang diselenggarakan online via internet dan bukan rekaman (e-Class) 3. Kursus yang diselenggarakan online via internet dan bukan rekaman (e-Class)
Sumber: Pasal 7 ayat (1) Keputusan Kongres IX IKPI No. 10/KONGRES IX/IKPI/2009 Tabel 3 PPL Terstruktur Tatap Muka PPL non-IKPI

SKPPL 4 4 4

Aktivitas PPL 1. Konferensi dengan durasi sehari 2. Konferensi dengan durasi 1 sehari 3. Seminar dengan durasi sehari 4. Seminar dengan durasi 1 sehari 5. Lokakarya dengan durasi sehari 6. Lokakarya dengan durasi 1 sehari 7. Diskusi Panel dengan durasi sehari 8. Diskusi Panel dengan durasi 1 sehari 9. Pelatihan dengan durasi sehari 10. Pelatihan dengan durasi 1 sehari 11. Kursus dengan durasi sehari 12. Kursus dengan durasi 1 sehari
Sumber: Pasal 6 ayat (1) Keputusan Kongres IX IKPI No. 10/Kongres IX/IKPI/2009.

SKPPL 4 8 4 8 4 8 4 8 4 8 4 8

Aktivitas PPL 1. Seminar dengan durasi sehari 2. Seminar dengan durasi 1 sehari 3. Lokakarya dengan durasi sehari 4. Lokakarya dengan durasi 1 sehari 5. Diskusi Panel dengan durasi sehari 6. Diskusi Panel dengan durasi 1 sehari 7. Pelatihan dengan durasi sehari 8. Pelatihan dengan durasi 1 sehari 9. Kursus dengan durasi sehari 10. Kursus dengan durasi 1 sehari

SKPPL 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4

Sumber: Pasal 6 ayat (2) Keputusan Kongres IX IKPI No. 10/KONGRES IX/IKPI/2009 Tabel 4 PPL Terstruktur Narasumber, Juru Bicara Delegasi, Tutor, dan Penguji

Aktivitas PPL 1. Narasumber & Tutor dengan durasi seluruh sesi setara sehari 2. Narasumber & Tutor dengan durasi seluruh sesi setara 1 sehari 3. Penguji dengan durasi seluruh koreksi setara sehari 4. Penguji dengan durasi seluruh koreksi setara 1 sehari 5. Juru Bicara Delegasi dengan acara konferensi setara
8 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

SKPPL 4 6 4 6 4

Katalog PPL 2012

Tabel 4 PPL Terstruktur Narasumber, Juru Bicara Delegasi, Tutor, dan Penguji

Tabel 7 PPL Tidak Terstruktur

Aktivitas PPL sehari 6. Juru Bicara Delegasi dengan acara konferensi setara 1 sehari

SKPPL 6

Aktivitas PPL 10. Mewakili IKPI dalam pertemuan dengan pihak di luar IKPI melalui penunjukan resmi 11. Menjadi anggota Tim/Panitia dalam kegiatan IKPI

SKPPL 4 4

Sumber: Pasal 7 ayat (2) Keputusan Kongres IX IKPI No. 10/KONGRES IX/IKPI/2009. Tabel 5 PPL Terstruktur Narasumber, Juru Bicara Delegasi, Tutor, dan Penguji

3.4 Program PPL Tahunan Setiap awal tahun takwim, Pengurus Pusat IKPI menetapkan modul-modul PPL Terstruktur yang memiliki SKPPL untuk diikuti oleh anggota pada tahun takwim bersangkutan. Hal ini mengacu pada Pasal 6 ayat (1) Keputusan Kongres IX IKPI No. 10/Kongres IX/IKPI/2009. Selain itu, Pengurus Pusat IKPI juga menentukan pula materi-materi modul PPL yang dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga, sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 ayat (2) Keputusan Kongres IX IKPI No. 10/KONGRES IX/IKPI/2009. Hal seperti ini merupakan satu kesatuan pelaksanaan PPL Terstruktur di lingkungan IKPI bagi seluruh anggota IKPI, yang selanjutnya disebut Program PPL Tahunan. Program PPL Tahunan memuat materi yang dipandang perlu oleh Pengurus Pusat IKPI. Tujuannya adalah untuk membekali anggota dalam menyelaraskan atau mengantisipasi perkembangan pengetahuan perpajakan dan segala yang terkait di masyarakat. Untuk itu, Program PPL Tahunan bersifat terjadwal serta memiliki keluwesan waktu untuk jangka waktu 1 (satu) tahun takwim. Karena keluwesan waktu tersebut, setiap awal tahun takwim, Pengurus IKPI Pusat menerbitkan buku Katalog PPL IKPI. Bentuk kegiatan dalam Program PPL Tahunan adalah pelatihan dan kursus agar memenuhi sifat terjadwal. Sementara itu, lokakarya dan diskusi panel diadakan sesuai keperluan, namun memiliki sifat terprogram.
10 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Aktivitas PPL 1. Menulis atikel (satu nama) 2. Menulis makalah (satu nama) 3. Menulis buku satu atau lebih 1 nama
Tabel 6 PPL Terstruktur Keterlibatan dalam USKP

SKPPL 4 4 20

Aktivitas PPL 1. Membuat Soal USKP 2. Korektor USKP

SKPPL 4 4

3.3.4

PPL Tidak Terstruktur

Selain PPL Terstruktur, ada pula PPL Tidak Terstruktur. Rincian dan jenis PPL Tidak Terstruktur terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7 PPL Tidak Terstruktur

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Mengikuti Mengikuti Mengikuti Mengikuti Mengikuti Mengikuti Mengikuti Mengikuti Mengikuti

Aktivitas PPL Kongres Kongres Luar Biasa Musyawarah Kerja Nasional Rapat Koordinasi Rapat Anggota Rapat Pengurus Pusat Rapat Pengurus Daerah Rapat Pengurus Cabang rapat lainya dalam lingkungan IKPI

SKPPL 4 4 4 4 4 4 4 4 4

Katalog PPL 2012

3.4.1

Materi Program PPL Tahunan

Materi dalam modul-modul Program PPL Tahunan meliputi perpajakan dalam arti luas, akuntansi, hukum, dan pengembangan kepribadian. Hal ini diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Keputusan Kongres IX IKPI NO. 10/KONGRES IX/IKPI/2009. 3.4.2 Penyediaan Program PPL Tahunan

Ketentuan presensi merupakan bukti bahwa anggota telah melaksanakan pengembangan profesional, yaitu: a. Saat awal kehadiran, setelah jeda makan siang, dan saat acara berakhir; bilamana acara 1 (satu) hari, atau; b. Saat awal kehadiran dan saat acara berakhir; bilamana acara 1/2 (setengah) hari. Besarnya SKPPL yang diperoleh bagi anggota yang telah mengikuti secara penuh mengacu pada Tabel 1 dan Tabel 2. 1. PPL yang Diselenggarakan oleh Penyelenggara Mitra Bekerjasama dengan IKPI

Agar pelaksanaan Program PPL Tahunan di lingkungan IKPI dapat diikuti oleh seluruh anggota IKPI di seluruh wilayah Indonesia, modul-modul PPL Terstruktur dalam Program PPL Tahunan dilakukan dengan cara: 1. Tatap Muka bagi anggota di wilayah Jakarta dan sekitarnya; dan 2. Jarak Jauh (Non-Tatap Muka), terutama bagi anggota yang berdomisili di daerah (luar Jakarta dan sekitarnya). Namun demikian bagi anggota di Jakarta dan sekitarnya dapat pula mengikuti cara ini bilamana tidak bisa meluangkan waktu untuk cara Tatap Muka. Hal ini diatur dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a Keputusan Kongres IX IKPI NO. 10/KONGRES IX/IKPI/2009. 3.4.3 Keikutsertaan yang Memenuhi SKPPL

Modul-modul PPL Terstruktur yang termuat dalam Program PPL Tahunan dapat dilaksanakan oleh pihak Ketiga melalui ikatan kerjasama dengan Pengurus Pusat IKPI. Ketentuan ini tertuang dalam Pasal 11 ayat (1) Keputusan Kongres IX IKPI NO. 10/KONGRES IX/IKPI/2009. Kerjasama hanya sebatas pada lokakarya, diskusi panel, pelatihan, kursus, dan kegiatan lain sejenis. SKPPL pada modul-modul, sebagaimana dimaksud di atas, diberikan kepada anggota IKPI bilamana penyelenggara telah menyampaikan daftar hadir kepada Biro PPL. Selanjutnya, Biro PPL menerbitkan sertifikat kepada anggota IKPI. Salah satu penandatangan sertifikat tersebut adalah Ketua Bidang Pendidikan IKPI. Sementara itu, bagi peserta tamu, Biro PPL akan memberikan Piagam Partisipasi. 2. SKPPL pada Kegiatan PPL Non IKPI

SKPPL untuk suatu Modul dalam Program PPL Tahunan, baik melalui cara Tatap Muka maupun Jarak Jauh, akan diperoleh anggota IKPI bilamana anggota telah mengikuti secara penuh. Kriteria mengikuti secara penuh adalah bahwa anggota telah dinyatakan hadir berdasarkan 3 (tiga) kali absensi untuk acara 1 (satu) hari, atau 2 (dua) kali absensi untuk acara 1/2 (setengah) hari.
Katalog PPL 2012 11

Dalam rangka pengembangan profesional, anggota dapat pula mengikuti modul-modul yang diselenggarakan oleh pihak manapun sepanjang meliputi perpajakan dalam arti luas, akuntansi, hukum, dan pengembangan kepribadian. Tempat penyelenggaraan dapat pula di Indonesia maupun di
12 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

luar negeri. Kegiatan pengembangan profesional yang demikian tergolong modul PPL Non IKPI.
Tabel 8 PPL Tidak Terstruktur Cara Tatap Muka PPL Non-IKPI

dapat memuat acara seminar dimaksud dalam situs web IKPI. Pemberitahuan ini merupakan prasyarat agar anggota yang mengikuti acara seminar dimaksud memperoleh SKPPL. Karena sertifikat seminar diterbitkan oleh Cabang IKPI sebagai penyelenggara, Cabang IKPI diharuskan menyampaikan laporan hasil seminar kepada Biro PPL paling lambat 28 hari kerja setelah tanggal berakhirnya acara seminar. Laporan hasil seminar tersebut meliputi : a. Tanda terima sertifikat (asli), b. Daftar hadir peserta anggota (asli), dan c. Jadwal acara. Untuk anggota yang menerima sertifikat dengan kriteria seperti di atas, SKPPL yang diperoleh merujuk pada SKPPL dengan Cara Tatap Muka. Apabila Cabang IKPI yang menyelenggarakan seminar tersebut tidak menyampaikan, atau menyampaikan data-data tersebut di atas lebih dari 28 (dua puluh delapan) hari kerja kepada Biro PPL, SKPPL bagi anggota peserta seminar dimaksud disamakan dengan ketentuan kegiatan PPL Non-IKPI. 4. Konferensi yang Dilaksanakan oleh IKPI Pusat

Aktivitas PPL 1. Acara dengan hari 2. Acara dengan durasi 1 hari


Sumber : Pasal 6 ayat (2) Keputusan Kongres IX IKPI NO. 10/KONGRES IX/IKPI/2009.

SKPPL 2 4

Anggota IKPI yang mengikuti modul PPL Non IKPI sebagaimana dimaksud di atas dapat memperoleh SKPPL sebesar 50% dari kegiatan PPL Tatap Muka di lingkungan IKPI. SKPPL yang diperoleh anggota saat anggota mengikuti modul PPL Non IKPI terlihat pada Tabel 8. Untuk mendapatkan SKPPL sesuai dengan Tabel 8, anggota pada saat menyampaikan Pelaporan PPL IKPI harus menyertakan: a. salinan sertifikat atau sejenisnya yang menyatakan keikutsertaan angggota bersangkutan; dan b. jadwal acara kegiatan. 3. PPL Berupa Seminar di Lingkungan IKPI

Seminar yang dilaksanakan oleh Cabang IKPI, termasuk dalam kriteria PPL. Acara seminar dikategorikan sebagai PPL Tatap Muka, namun bukan tergolong Program PPL Tahunan. Pelaksanaannya dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan dengan topik yang terkini (tidak terkait dengan program) dan materinya meliputi bidang perpajakan semata. Karena Seminar termasuk dalam kriteria PPL, Pengurus Cabang harus memberitahukan acara seminar tersebut kepada Biro PPL dalam waktu secepatnya sebelum acara seminar tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, Biro PPL
Katalog PPL 2012 13

Konferensi yang dilakukan oleh IKPI Pusat termasuk dalam kriteria PPL, namun bukan tergolong Program PPL Tahunan. Pelaksanaannya dapat terjadi sewaktu-waktu sesuai kebutuhan. Materinya meliputi bidang perpajakan semata. Konferensi termasuk dalam kriteria PPL. Anggota yang menjadi bagian dari delegasi atau anggota yang menjadi pengamat konferensi tersebut akan memperoleh SKPPL dengan merujuk pada SKPPL dengan Cara Tatap Muka. Sertifikat Konferensi hanya diterbitkan oleh IKPI Pusat.

14

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

5.

Narasumber Seminar, Tutor Modul-modul Program PPL Tahunan, dan Penguji

Anggota IKPI yang menjadi tutor pada modul-modul PPL yang termasuk Program PPL Tahunan serta penguji (bila akhir suatu modul mengharuskan proses uji) akan memperoleh SKPPL, baik modul PPL tersebut diselenggarakan langsung oleh IKPI atau oleh Pihak Ketiga yang telah bekerjasama dengan Pengurus Pusat IKPI. Narasumber seminar atau juru bicara delegasi konferensi yang dilaksanakan oleh IKPI memperoleh SKPPL. Besarnya SKPPL bagi anggota IKPI yang menjadi tutor atau juru bicara delegasi telah diuraikan pada Tabel 4. Ketentuan agar anggota memperoleh SKPPL, maka penyelenggara Program PPL Tahunan, atau Panitia seminar harus menyampaikan daftar hadir tutor atau narasumber, atau penguji kepada Biro PPL paling lambat 28 hari kerja setelah tanggal berakhirnya kegiatan. 6. Penulisan Artikel, Makalah, atau Buku

antara lain pada : Warta IKPI, majalah Berita Pajak, atau media lainnya yang telah mengadakan kerjasama dengan IKPI. Syarat penulisan buku yang memperoleh SKPPL bagi anggota adalah: a. materi relevan dengan profesi konsultan pajak, dan b. buku telah memperoleh ISBN (International Standard Book Number) dan telah disebarluaskan sehingga dapat dibaca khalayak. Nilai SKPPL bagi anggota IKPI yang menjadi penulis artikel, makalah, atau buku sebagaimana dimaksud di atas mengacu pada Tabel 5. Untuk mendapatkan SKPPL, anggota yang menulis artikel dan makalah harus mengirimkan kepada Biro PPL: a. 1 (satu) salinan artikel atau makalah, dan/atau; b. 1 (satu) media terbitan atau bukti yang cukup bahwa makalah telah disampaikan pada suatu acara. Sementara itu, untuk mendapatkan SKPPL, anggota yang menulis buku harus mengirimkan kepada Biro PPL: a. 1 (satu) buku asli; dan atau b. Surat Pernyataan tentang pembagian SKPPL yang ditandatangani oleh anggota-anggota yang terlibat dalam penulisan buku, bilamana penulis buku lebih dari satu anggota 7. Pembuat Soal Ujian atau Menjadi Korektor USKP

Menulis artikel, makalah atau buku termasuk sebagai pelaksanaan pengembangan profesional bagi yang bersangkutan, mengingat dalam proses menuangkan buah pikir dalam bentuk tulisan telah terjadi pengembangan diri. Dengan demikian, anggota yang menulis artikel, makalah atau buku tersebut dapat memperoleh SKPPL dengan kriteria PPL Terstruktur. Syarat memperoleh SKPPL bagi anggota sehubungan dengan penulisan artikel dan/atau makalah yaitu: a. Materi relevan dengan profesi konsultan pajak, b. Penulisnya tunggal, dan c. Materi dipublikasikan sehingga dapat dibaca khalayak,
Katalog PPL 2012 15

Anggota pembuat soal ujian USKP yang telah diujikan pada tahun takwim serta anggota yang menjadi korektor pada kegiatan ujian USKP pada tahun bersangkutan dinyatakan telah melaksanakan pengembangan profesional bagi anggota lainnya. SKPPL bagi anggota yang membuat
16 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

soal serta menjadi korektor ujian USKP adalah 4 (empat) SKPPL untuk setiap 1 (satu) kegiatan USKP. Agar anggota sebagaimana dimaksud di atas memperoleh SKPPL, Ketua Penyelenggara USKP menyampaikan Surat Keterangan atau Pemberitahuan kepada Biro PPL selambat-lambatnya 28 (dua puluh delapan) hari kerja setelah tanggal pengumuman hasil USKP. Surat Keterangan atau Pemberitahuan tersebut memuat: a. Daftar para anggota pembuat soal USKP yang diujikan, b. Daftar para anggota korektor USKP berikut deskripsi penugasannya. Apabila Ketua Penyelenggara USKP tidak menyampaikan, atau menyampaikan Surat Keterangan atau Pemberitahuan sebagaimana dimaksud diatas, lebih dari 28 (dua puluh delapan) hari kerja kepada Biro PPL, maka anggota pembuat soal serta korektor ujian USKP pada tahun takwim bersangkutan tidak dapat memperoleh SKPPL. 3.4.4 PPL Tidak Terstruktur

diberi penghargaan berupa kredit yang tergolong sebagai PPL Tidak Terstruktur. SKPPL yang diberikan kepada anggota yang berpartisipasi adalah sebesar 4 (empat) SKPPL untuk setiap acara. Untuk mendapatkan SKPPL sebagaimana dimaksud pada butir a di atas, Ketua Penyelenggara acara selaku pengundang diharuskan menyampaikan kepada Biro PPL paling lambat 28 (dua puluh delapan) hari kerja setelah tanggal berakhirnya acara, berupa: a. Daftar hadir peserta anggota (asli), b. Jadwal acara, dan; c. Satu salinan undangan acara yang pengundang.

ditandatangani

Apabila Ketua Penyelenggara/pengundang tidak menyampaikan, atau menyampaikan hal tersebut di atas (presensi, jadwal acara, dan salinan undangan) lebih dari 28 (dua puluh delapan) hari kerja kepada Biro PPL, anggota yang berpartisipasi tidak dapat memperoleh SKPPL. Anggota IKPI yang mendapat penugasan dari Pengurus IKPI untuk mewakili IKPI di luar lingkungan IKPI, sebagaimana dimaksud pada butir b di atas, akan memperoleh satuan kredit sebesar 2 (dua) SKPPL dengan ketentuan bahwa a. Pemberi tugas telah menyampaikan tembusan Surat Penugasan kepada Biro PPL, atau b. Anggota yang bersangkutan meminta surat keterangan ke pemberi tugas (Ketua Umum/Ketua Cabang) untuk disampaikan ke Biro PPL dalam hal tugas bersifat verbal.

Setiap anggota IKPI diharapkan berpartisipasi dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh IKPI. Partisipasi anggota pada peristiwa dimaksud secara tidak langsung akan meningkatkan unsur pribadi yang bersifat non-teknis. Untuk itu, anggota yang: a. mengikuti Kongres, Kongres Luar Biasa, Musyawarah Kerja Nasional, Rapat Koordinasi, Rapat Anggota, Rapat Pengurus Pusat, Rapat Pengurus Daerah, Rapat Pengurus Cabang atau rapat lainya dalam lingkungan IKPI, b. mewakili IKPI dalam pertemuan dengan pihak di luar IKPI melalui penunjukan resmi, c. menjadi anggota tim dalam rangka kegiatan IKPI.
Katalog PPL 2012 17

18

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

3.4.5 1.

Penghitungan SKPPL

Klaim SKPPL bagi Anggota IKPI & Pengakuan SKPPL Terhadap Anggota.

Sekalipun Biro PPL melakukan administrasi kegiatan PPL dilingkungan IKPI, baik pada Program PPL Tahunan atau pada seminar dan konferensi yang masuk kriteria Tatap Muka, kekhilafan dapat saja terjadi. Untuk itu, setiap anggota harus melakukan evaluasi diri dalam PPL tanpa mengandalkan catatan administrasi pada Biro PPL. Dengan kata lain, aktivitas PPL diterapkan berdasarkan prinsip self assessment bagi setiap anggota. IKPI akan memberikan pengakuan terhadap SKPPL seorang anggota melalui dokumen Rekaman SKPPL IKPI untuk suatu tahun takwim tertentu setelah anggota menyampaikan aktivitas pengembangan profesionalnya untuk suatu takwim bersangkutan dengan menggunakan formulir Pelaporan PPL IKPI. Penyampaian formulir Pelaporan PPL IKPI untuk mengklaim satuan kredit tahun takwim tertentu dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun takwim. Dokumen Rekaman SKPPL IKPI ditandatangani oleh Ketua Biro PPL dan Ketua Departemen Pendidikan IKPI. 2. Defisit Pengakuan SKPPL

Contoh: Pada bulan Januari tahun 2013, Tn. X menyampaikan formulir Pelaporan PPL IKPI (lihat Tabel 10 dan Tabel 11) tahun 2012 untuk aktivitas PPL selama tahun 2012. Penyampaian formulir ini adalah proses klaim SKPPL tahun 2012 bagi Tn. X.
Tabel 9 Formulir Klaim SKPPL Terstruktur

No. 1 2 3

Bentuk

Penyelenggara

Seminar IKPI Cab Bali Seminar IAI Cab Bali Lokakarya (e-Class) IKPI Pusat

Peserta/ Narasumber Peserta Peserta Peserta Jumlah

Klaim SKPPL 8 4 4 16

Tabel 10 Formulir Klaim SKPPL Tidak Terstruktur

No. Bentuk Penyelenggara 1 Rapat 2 Panitia IKPI Cab Bali IKPI Cab Bali

Tempat & Tanggal

Agenda Rapat Tahunan Panitia Seminar Jumlah

Klaim SKPPL 4 4 8

Mengacu pada penjelasan di subbab 3.3.2 tentang Kewajiban SKPPL bagi Anggota IKPI, dalam hal kewajiban minimum 20 SKPPL tidak terpenuhi dalam satu tahun takwim, kekurangan SKPPL akan diperhitungkan dalam kewajiban pemenuhan SKPPL tahun berjalan.

Berdasarkan administrasi Biro PPL, ternyata persyaratan untuk klaim SKPPL butir 2 Tabel 10, ketua panitia mengirim laporan pada hari kerja ke-30 (sesuai tanggal kirim fax) atau lewat dari batas waktu penyampaian permberitahuan ke Biro PPL. Dengan demikian, Rekaman SKPPL IKPI tahun 2012 yang diterbitkan tahun 2013 bagi Tn. X terlihat pada Tabel 11 dan Tabel 12.

Katalog PPL 2012

19

20

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Tabel 11 Rekaman SKPPL Terstruktur

3.4.6
Klaim SKPPL 8 4 4 16

Keringanan Tertentu

bagi

Anggota

pada

Keadaan

No. 1 2 3

Bentuk

Penyelenggara

Seminar IKPI Cab Bali Seminar IAI Cab Bali Lokakarya (e-Class) IKPI Pusat

Peserta/ Narasumber Peserta Peserta Peserta Jumlah

1.

Anggota IKPI yang Baru Terdaftar

Tabel 12 Rekaman SKPPL Tidak Terstruktur

No. Bentuk Penyelenggara 1 Rapat 2 Panitia IKPI Cab Bali IKPI Cab Bali

Tempat & Tanggal

Agenda Rapat Tahunan Panitia Seminar Jumlah

Klaim SKPPL 4 0 4

Anggota IKPI yang terdaftar bulan Juni hingga Desember tahun takwim tertentu belum diwajibkan untuk melaksanakan PPL untuk takwim bersangkutan dengan anggapan anggota baru tersebut masih memiliki kesegaran dalam kemampuan teknis. Namun demikian, anggota IKPI baru tersebut diperbolehkan mengikuti Program PPL Tahunan bila yang bersangkutan memandang hal tersebut bermanfaat bagi yang bersangkutan. 2. Anggota IKPI yang Berada di Luar Negeri

Total Rekaman PPL adalah 20 SKPPL dan jumlah ini sesuai dengan standar minimum SKPPL IKPI, yaitu 20 SKPPL. Kewajiban memenuhi defisit SKPPL tahun sebelumnya (tahun 2011) di tahun berikutnya (yaitu tahun 2012) Tidak ada. Namun Tn. X memiliki defisit SKPPL Tidak Terstruktur sejum 1 SKPPL oleh karena kewajiban minimum 5 SKPPL sedangkan hasil Tabel 12 adal 4 SKPPL. Merujuk pada Contoh di atas, atas keikutsertaan anggota dalam program e-Class, SKPPL-nya dihitung 50% dari SKPPL normal. Selain itu, SKPPL Tidak Terstruktur pada butir 2 Tabel 12 tidak dihitung karena kelalaian ketua panitia dalam menyampaikan informasi kepada Biro PPL. Dengan demikian, untuk tahun takwim 2013 kewajiban Tn. X untuk PPL Terstruktur adalah 15 (lima belas) SKPPL, dan untuk PPL Tidak Terstruktur menjadi 6 (enam) SKPPL.

Anggota IKPI yang sedang berada di luar negeri selama 12 bulan secara berturut-turut, sekalipun melewati batas tahun takwim, diberi keringanan kewajiban perolehan SKPPL IKPI. Klaim keringanan disampaikan kepada Biro PPL disertai bukti salinan paspor (seluruh halaman) dengan menyebutkan kewajiban PPL tahun takwim yang dimaksud. 3. Anggota IKPI yang Menderita Sakit Permanen

Anggota IKPI yang sedang sakit permanen diberi keringanan kewajiban perolehan SKPPL IKPI. Klaim keringanan disampaikan kepada Biro PPL disertai bukti yang cukup tentang keadaan sakitnya dengan menyebutkan kewajiban PPL tahun takwim yang dimaksud. 3.4.7 Tertib administrasi pada anggota

Agar anggota tidak mengalami kerepotan untuk mengklaim SKPPL pada setiap awal tahun, tertib administrasi berikut ini sangat dianjurkan.
22 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

21

1. Meminta segera sertifikat dan menyimpan sertifikat bersangkutan. 2. Menyimpan undangan seminar atau acara-acara yang diikutinya di lingkungan IKPI. 3. Menyimpan surat penugasan dari lingkungan IKPI atau USKP. 4. Menyimpan salinan laporan penugasan (bila pernah diberi tugas untuk mewakili IKPI). 5. Menyimpan majalah Berita Pajak, Warta IKPI atau, media lainnya (yaitu media yang telah melakukan kerjasama dengan IKPI) yang memuat hasil tulisan anggota bilamana pernah menulis untuk media-media tersebut. 6. Menyimpan asli makalah berikut bukti yang cukup bahwa makalah tersebut telah dipaparkan pada suatu forum (misal berupa jadwal acara dari panitia) bilamana anggota bersangkutan telah menyampaikan suatu makalah. 7. Menyimpan buku yang telah beredar bila anggota bersangkutan telah menulis buku. 3.4.8 Sanksi

termasuk jenis PPL Tidak Terstruktur di lingkungan Cabang IKPI di manapun. 2. Pengurus Cabang membuat presensi atas setiap kegiatan atau aktivitas yang termasuk jenis PPL Tidak Terstruktur di lingkungan Cabang IKPI di manapun dalam rangkap 2 (dua) dan mengirim segera salah satu presensi tersebut kepada Biro PPL dilengkapi pengantar yang memuat jadwal acara atau agenda. 3. Pengurus Cabang membuat tembusan kepada Biro PPL dalam hal Cabang IKPI memberi penugasan khusus kepada salah satu atau lebih anggota untuk mewakili Cabang IKPI pada acara di luar lingkungan IKPI. 4. Pengurus Cabang memberitahukan segera kepada Biro PPL apabila Cabang IKPI memutuskan membentuk kepanitiaan suatu seminar dengan cara memberi tembusan (SK Panitia) kepada Biro PPL. 5. Ketua Panitia Seminar menyampaikan dokumen-dokumen berikut kepada Biro PPL: a. Tanda terima sertifikat (asli), b. Absensi peserta anggota (asli), c. Jadwal acara. 6. Disarankan agar pada setiap undangan memuat SKPPL yang dapat diklaim oleh anggota yang berpartisipasi sehingga peran sertanya lebih meningkat. 3.4.10 Formulir Pelaporan PPL & Dokumen Rekaman SKPPL IKPI Agar dapat mengadopsi berbagai perkembangan dan perbaikan-perbaikan yang dianggap perlu dari tahun ke
24 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Sanksi terhadap anggota yang tidak memenuhi ketentuan SKPPL merujuk pada AD/ART IKPI, yang meliputi: 1. Teguran I, II dan III, 2. Pemberhentian sementara, 3. Pemberhentian tetap. 3.4.9 Pedoman bagi Cabang IKPI

Guna menghindari kerugian bagi anggota yang terdaftar pada Cabang IKPI bersangkutan, berikut ini adalah pedoman yang berkaitan dengan PPL IKPI. 1. Pengurus Cabang memberi tembusan kepada Biro PPL untuk setiap undangan kegiatan atau aktivitas yang
Katalog PPL 2012 23

tahun, Formulir Pelaporan PPL dan Format Rekaman SKPPL dibuat dalam Keputusan tersendiri. Formulir Pelaporan SKPPL akan diberi seri Tahun Takwim yang dapat diunduh (download) dari situs web IKPI www.ikpi.or.id di bagian download center. Dengan demikian, anggota dapat menyiapkan laporan sewaktu-waktu. 3.4.11 Tanya Jawab seputar PPL Terstruktur Tatap Muka Berikut adalah Tanya (T) Jawab (J) terkait dengan PPL Terstruktur Tatap Muka. T: Apakah untuk memperoleh SKPPL yang diakui oleh IKPI, saya harus mengikuti kegiatan PPL Terstruktur Tatap Muka yang diselenggarakan oleh IKPI saja? J: Tidak, Anda dapat mengikuti berbagai modul yang berkaitan dengan perpajakan, akuntansi, hukum, teknologi informasi, dan pengembangan kepribadian oleh penyelenggara manapun. Buktikan keikutsertaan secara penuh Anda pada kegiatan tersebut, namun SKPPL hanya mendapat 50% saja. T: Apabila saya mengikuti suatu modul dari penyelenggara mitra IKPI yang tercantum dalam katalog dengan kategori Non-Program Tahunan, apakah saya dapat memperhitungkan SKPPL? J: Ya, Anda tetap dapat memperhitungkan SKPPL namun hanya sebesar 50%. T: Bagaimana saya dapat melakukan konfirmasi kegiatan PPL
Katalog PPL 2012 25

Terstruktur Tatap Muka yang pernah dilakukan bila catatan saya hilang? J: Anda dapat melakukan konfirmasi status kegiatan PPL Terstruktur Tatap Muka kepada Biro PPL IKPI sebatas pada kegiatan PPL yang diselenggarakan oleh mitra atau oleh IKPI Pusat/Cabang dengan catatan telah menyampaikan administrasinya kepada Biro PPL. 3.4.12 Pendaftaran PPL Anggota mengisi Formulir Pendaftaran dengan lengkap dan menyerahkan formulir tersebut ke Biro PPL disertai dengan bukti pembayaran ke Graha TTH Lt. 3 Jl. Guru Mughni No. 106 Karet Kuningan, Jakarta Selatan, atau dapat juga melalui: Telp. : 021-522-0680 ext. 307 Fax. : 021-5292-1675 Email : biroppl.ikpi@gmail.com : biroppl.ikpi@yahoo.com Pembayaran Bank : BCA Cabang Barito Acc. No. : 5435-667-888 Atas nama : IKPI 3.4.13 Perubahan dan Disklaimer Biro PPL berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan aktivitas modul sebagaimana disebut dalam katalog ini. Akan tetapi, apabila terdapat hal-hal teknis atau keadaan yang berada di luar kemampuan Biro PPL, Biro PPL memiliki hak untuk melakukan perubahan baik waktu, tempat, atau pun menghentikan pelaksanaannya yang disampaikan melalui cara komunikasi yang dipilih peserta.
26 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Karena itu, segala kerugian yang timbul terhadap pihak mana pun dalam bentuk apa pun tidak dapat diklaim.

BAB IV KALENDER DAN TOPIK-TOPIK PPL 2012


Untuk tahun 2012, direncanakan akan ada 26 kegiatan PPL. Topik-topik PPL Terstruktur-Tatap Muka tersebut terlihat pada Tabel 13.
Tabel 13 PPL Terstruktur - Tatap Muka

No 1.

Kode PI-07

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

PB-01 PB-02 PI-05 PI-06 KU-05 KU-06 PJ-13 LP-01

10. LP-02 11. LP-03 12. IF-01 13. PJ-14

Topik Arah dan Perkembangan Terminologi Beneficial Owner dalam Perpajakan Internasional Masalah Perpajakan Transaksi Obligasi pada Pasar Sekunder (Domestik & Lintas Negara); Pemotongan PPh atas Bunga, Capital Gain, Arrangement Fee, dan Penalti Pengendalian Resiko Perpajakan Pada Perusahaan Bank Masalah Perpajakan Warga Indonesia yang berkerja di luar negeri dan Direksi Warga Asing pada Perusahaan Indonesia Perlakuan Perpajakan Jasa dari Luar Negeri dan Transaksi Jasa Lintas Negara Antar Grup Perusahaan Multi Nasional Persiapan Menghadapi Pemeriksaan Pajak Penyelesaian Sengketa Pajak di Kantor Pajak dan Pengadilan Pajak Detail Perpajakan atas Usaha Jasa Konstruksi Bagaimana Membangun Komunikasi Efektif dengan Klien Make A Great Result with Personal Excellence Managing Excellence For Tax Consultants Penerapan IFRS dan Aspek Pajaknya Aspek Pajak Usaha Di Bidang Nirlaba (Yayasan)

Tanggal 22 Feb12

23 Feb12 14 Mar12 11 Apr12 12 Apr12 09 Mei12 10 Mei12 20 Jun12 21 Jun12 11 Jul12 12 Jul12 08 Aug12 19 Sep12

Katalog PPL 2012

27

Katalog PPL 2012 28

Tabel 13 PPL Terstruktur - Tatap Muka

No

Kode

14. GA-01 15. PJ-15 16. LK-03 17. PJ-16 18. PJ-17 19. PJ-18 20. PN-01 21. PJ-19 22. PJ-20 23. TA-03 24. PJ-21 25. LE-02 26 SP-01

Topik Manajemen Grey Area Perpajakan dan Tax Planning Komprehensif Aspek Akuntansi dan Pajak dalam Investasi Memahami Laporan Keuangan Berbasis SAK ETAP bagi Konsultan Pajak Aspek Pajak dan Akuntansi Instrumen Keuangan (PSAK 50 dan PSAK 55) Perlakuan Akuntansi & Pajak untuk Restrukturisasi Perusahaan Aspek Pajak Usaha Real Estate dan Usaha Sampingannya Tips Menghadapi Pemeriksaan PPN dan Faktur Pajak Secara Praktis Aspek Legal, Akuntasi dan Pajak Perusahaan Pertambangan Migas Aspek Legal, Akuntansi dan Pajak Perusahaan Pertambangan Minerba Tax Planning vs Creative Accounting Penyesuaian PSAK 46 terhadap IFRS serta Tinjauan Aspek Pajaknya Menyusun Kontrak bagi Konsultan Pajak Diseminasi Standar Profesi IKPI *)

Tanggal 20 Sep12 17 Okt12 18 Okt12 24 Okt12 14 Nov12 21 Nov12 22 Nov12 29 Nov12 12 Des12 13 Des12 19 Des12 20 Des12 Tentative

TOPIK-TOPIK PPL DAN SILABUS


4.1 Deskripsi Topik PPL 4.1.1 Arah dan Perkembangan Beneficial Owner dalam Internasional : PI-07 : 1 hari : Rabu/22 Februari 2012 Terminologi Perpajakan

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

*) Dilaksanakan pada setiap Pengurus Daerah **) Seluruh modul diselenggarakan juga dengan e-class (kelas jarak jauh).

Terminologi beneficial owner merupakan ketentuan yang penting dalam menentukan apakah suatu subjek pajak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan fasilitas penurunan tarif pajak atas penghasilan royalti, dividen, dan bunga. Terminologi beneficial owner pertama kali dipergunakan di tahun 1966 dalam protokol perjanjian penghindaran pajak berganda antara Inggris dan Amerika Serikat. Sementara itu, dalam OECD Model, terminologi beneficial owner pertama kali dinyatakan dalam OECD Model tahun

SPECIAL PRICE UNTUK ANGGOTA ANGGOTA (Ang.) Rp 500.000/materi/hari REKOMENDASI ANGGOTA Rp 750.000/materi/hari UMUM (Um.) Rp 950.000/materi/hari

1977 terkait dengan Pasal 10 (dividen), Pasal 11 (bunga), dan Pasal 12 (royalti). Akan tetapi, sejak dicantumkan untuk pertama kalinya di tahun 1977 dalam OECD Model, terminologi beneficial owner sampai saat ini masih terus diperdebatkan. Hal tersebut dikarenakan terminologi beneficial owner tidak diberikan definisinya dalam pasal-pasal OECD Model. Penjelasan hanya secara terbatas dalam OECD

Katalog PPL 2012

29

30

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

1986. 2.

Commentary dan OECD Conduit Companies Report di tahun


Topik yang dibahas:

4.1.2

a. Apakah terminologi beneficial owner harus diartikan berdasarkan ketentuan domestik (domestic meaning) dari negara yang mengadakan perjanjian penghindaran pajak? Kalau ya, apakah berdasarkan ketentuan domestik dari negara sumber atau negara domisili? Atau, apakah harus diartikan berdasarkan pengertian internasional (international meaning)? b. Apakah terminologi beneficial owner harus diartikan berdasarkan pendekatan legalitas (legal meaning) atau berdasarkan pendekatan ekonomi (economic meaning)? c. Bagaimana kaitan terminologi beneficial owner dengan ketentuan anti penghindaran pajak dari negara yang mengadakan perjanjian penghindaran pajak berganda? d. Studi Kasus beneficial owner dari beberapa negara. 3. Peserta :

Masalah Perpajakan Transaksi Obligasi pada Pasar Sekunder (Domestik & Lintas Negara); Pemotongan PPh atas Bunga, Capital Gain, Arrangement Fee, dan Penalti : PB-01 : 1 hari : Kamis/23 Februari 2012

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

Saat ini Indonesia telah menyandang predikat layak investasi (investment grade). Peringkat Indonesia telah meningkat dari level BB+ menjadi level BBB-. Hal ini akan mendorong perusahaan dan pemerintah untuk melakukan emisi obligasi baru atau dalam rangka mengganti obligasi yang telah jatuh tempo. Di sisi lain, transaksi sekunder atas obligasi lama yang masih memberikan yield tinggi akan semakin diminati baik di dalam negeri maupun lintas batas negara. Peserta PPL akan diajak memahami berbagai pola transaksi obligasi sekunder di Indonesia maupun lintas negara yang dikaitkan dengan topik objek pemotongan PPh, baik PPh Final, Pasal 23, dan Pasal 26. 2. Peserta :

Umum, Anggota IKPI dan non-Anggota, Akademisi 4. Keterangan: : : : : : : PI-07 1 hari Rabu/22 Februari 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

Konsultan Pajak, Akuntan Publik, Staf Perpajakan Perusahaan Sekuritas, perbankan. 3. Topik yang dibahas :

a. Jenis-jenis obligasi dan ragam transaksi sekunder obligasi


Katalog PPL 2012 31 32 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

b. Komentar Model P3B OECD atas ragam bunga, dan dari ragam surat utang c. Pemotong dan Pemotongan PPh Final, Pasal 26 atas bunga, capital gain surat utang, serta PPh Pasal 23 atas jasa (bila ada) d. Studi kasus transaksi domestik dan lintas negara atas surat utang 4. Keterangan: : : : : : : PB-01 1 hari Kamis/23 Februari 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,Perpajakan Pada

lebih lanjut dari kepercayaan yang semakin tinggi ini adalah frekuensi maupun volume transaksi yang terus semakin besar. Situasi tersebut telah mengakibatkan bank mendapat tugas selaku agen dalam penghimpun pajak, disamping pemenuhan hak dan kewajibannya sendiri selaku badan. Peserta PPL akan diajak untuk memahami berbagai peran suatu perusahaan yang bergerak di bidang perbankan untuk mengendalikan eksposur pajak, baik selaku pemotong, pemungut, pembayar, dan tentunya selaku wajib pajak badan yang memiliki berbagai aturan khusus. 2. Peserta :

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi 4.1.3

Konsultan Pajak, Akuntan Publik, Staf perpajakan bank. 3. Topik yang dibahas :

Pengendalian Resiko Perusahaan Bank

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

: PB-02 : 2 hari : Rabu & Kamis/14 & 15 Maret 2012

Perusahaan di bidang perbankan berada dalam suatu lingkungan yang sangat teregulasi (highly regulated). Akibatnya, banyak sekali informasi harus disampaikan kepada otoritas pengawas. Hal ini disebabkan peran bank yang sangat sensitif selaku intermediary antara pihak pemilik dana dan pihak yang membutuhkannya. Terlebih lagi, pada masyarakat yang telah menaruh kepercayaan semakin besar pada peran tersebut. Dampak
Katalog PPL 2012 33

a. Eksposur Perpajakan Produk Perbankan berbasis bunga (interest base) (promosi, gymmic, iklan bersama, kartu kredit, SKB (Surat Keterangan Bebas), non subjek, rekonsiliasi & ekualisasi) b. Eksposur Perpajakan Produk Perbankan berbasis imbalan (fee base) (custody, agen reksa/bankasurance /asuransi, EDC (Electronic Data Capture), tagihan PLN dsb, top up, pulsa, rekonsiliasi & ekualisasi) c. Eksposur Perpajakan Penyaluran Dana (kredit, chaneling, AYDA, Cadangan) d. Eksposur Perpajakan Portofolio (surat utang, reksadana, cost of fund NDE) e. Eksposur Perpajakan Pengadaan Barang (alokasi cabang barang & aset, rekonsiliasi & ekualisasi) f. Eksposur Perpajakan Pengadaan Jasa (IT, Outsource, rekonsiliasi & ekualisasi) g. Eksposur biaya SDM (pensiun, ESOP, mutasi, skema
34 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

employee tax, rekon & ekualisasi) h. Eksposur PPh Badan & PPN (as user) (TP documentation, profile info, ps 25, ifrs, extra comptable, rekonsiliasi & ekualisasi) 4. Keterangan: : : : : : : PB-02 2 hari Rabu & Kamis/14 & 15 Maret 2012 12 08.30-16.30 WIB A. Rp. 1.000.000,- U. Rp. 1.500.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi 4.1.4

Di sisi lain, banyak para pekerja lokal mengalami kebingungan karena ekspatriat tersebut telah memiliki NPWP, seperti bagaimana dengan SPT PPh Orang Pribadi yang harus dilaporkannya, dan bagaimana dengan pelaporan harta serta berbagai program dari mantan majikan yang masih efektif pada periode pasca tugas. Peserta PPL akan diajak untuk memahami berbagai perkembangan dunia ketenagakerjaan internasional. Selain itu, peserta juga diajak untuk memahami bagaimana penerapan hak pemajakan antar negara bilamana negara yang bersangkutan memiliki P3B dengan negara Indonesia. Pemahaman ini kemudian diaplikasikan terhadap hak dan kewajiban perpajakan sesuai ketentuan perundangan perpajakan Indonesia. 2. Peserta :

Masalah Perpajakan Warga Indonesia yang bekerja di luar negeri dan Direksi Warga Asing pada Perusahaan Indonesia : PI-05 : 1 hari : Rabu/11 April 2012

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

Konsultan Pajak, Akuntan Publik, Staf Perpajakan PMA. 3. Topik yang dibahas :

Peningkatan biaya SDM bagi perusahaan multi nasional, dan penurunan pasokan SDM tingkat menengah di pasar tenaga kerja negara maju telah mendorong pertumbuhan jumlah warga Indonesia yang bekerja di luar negeri. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah direksi warga asing di perusahaan Indonesia juga semakin tinggi. Direksi tersebut hanya secara berkala datang ke Indonsia. Keadaan ini sesungguhnya memiliki permasalahan dalam hak pemajakan antara negara Indonesia dan negara lain.

a. Mengenal modus perekrutan tenaga kerja internasional oleh perusahaan multi nasional, termasuk yang beroperasi di Indonesia b. Mengenal sekilas ketentuan imigrasi, dan aturan ketenagakerjaan di Indonesia dan beberapa negara lain c. Aspek perpajakan internasional, khususnya komentar P3B model OECD tentang personal dependent service dan direktur d. Masalah pelaporan dalam SPT PPh Orang Pribadi di Indonesia.

Katalog PPL 2012

35

36

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.

Keterangan: : : : : : : PI-05 1 hari Rabu/11 April 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

2.

Peserta :

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi 4.1.5

Konsultan Pajak, Akuntan Publik, Staf Perpajakan PMA. 3. Topik yang dibahas :

Perlakuan Perpajakan Jasa dari Luar Negeri dan Transaksi Jasa Lintas Negara Antar Grup Perusahaan Multi Nasional : PI-06 : 1 hari : Kamis/12 April 2012

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

a. Mengenal ragam strategi pengendalian biaya global perusahaan multi nasional b. Aspek perpajakan internasional, khususnya komentar P3B tentang timbulnya BUT, Laba Usaha BUT. c. Aspek perpajakan internasional, khususnya komentar P3B tentang timbulnya BUT, dan hubungan istimewa (topik transfer pricing jasa CSA dll). d. Studi kasus ragam jasa lintas batas. 4. Keterangan: : : : : : : PI-06 1 hari Kamis/12 April 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Dunia bisnis saat ini sudah tidak lagi mengenal batas negara. Kompetisi pada harga akhir dengan tetap dapat memupuk laba secara keseluruhan merupakan fokus utama perusahaan multi nasional. Salah satu strategi adalah pengoperasian unit bisnis khusus untuk melayani kebutuhan seluruh unit lain di berbagai negara, seperti Teknologi Informasi, penilitian dan pengembangan, Citra Global, dan trisuri. Strategi ini tidak luput dari permasalahan hak pemajakan dari berbagai negara yang dicakup oleh kegiatan bisnis perusahaan multi nasional. Peserta PPL akan diajak untuk memahami berbagai strategi perusahaan multi nasional berikut aspek perpajakan secara internasional.

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi 4.1.6

Persiapan Menghadapi Pemeriksaan Pajak : KU-05 : 1 hari : Rabu/09 Mei 2012

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

Konsekuensi dari sistem self assessment adalah uji terhadap ketentuan formal serta material khususnya berkenaan dengan Surat Pemberitahuan yang benar, lengkap
38 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

37

dan jelas. Proses uji ini antara lain berupa tindak pemeriksaan oleh otoritas pajak. Pada saat dimulainya tindak pemeriksaan, setiap Wajib Pajak harus kooperatif dan transparan. Kekeliruan dalam berlaku kooperatif dan transparan dapat mengakibatkan proses pemeriksaan menjadi terasa sulit dan melelahkan. Modul ini mengulas cara untuk berlaku kooperatif dan bagaimana menunjukkan transparansi dalam artian benar, lengkap, dan jelas. Di samping itu, dibahas juga langkah apa saja yang harus dilaksanakan oleh Wajib Pajak atau kuasanya agar proses pemeriksaan berjalan secara efisien dan efektif. Dalam modul ini dikupas pula bagaimana cara menggunakan hak-hak Wajib Pajak yang sedang diperiksa secara tepat, dan bagaimana memberikan tanggapan terhadap hak-hak pemeriksa pajak dan kode etik yang melekat pada mereka. 2. Topik yang dibahas: Direktorat dilakukan dilakukan dilakukan

c.

Anggota Luar Biasa IKPI lulusan USKP yang bekerja pada perusahaan, d. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi 4.1.7 : : : : : : KU-05 1 hari Rabu/09 Mei 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Penyelesaian Sengketa Pajak di Kantor Pajak dan Pengadilan Pajak : KU-06 : 1 hari : Kamis/10 Mei 2012

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

a. Preview Prosedur Pemeriksaan Pajak oleh Jenderal Pajak b. Persiapan dan langkah-langkah sebelum pemeriksaan pajak c. Persiapan dan langkah-langkah pada saat pemeriksaan pajak d. Persiapan dan langkah-langkah pasca pemeriksaan pajak 3. Peserta:

Dalam menjalankan hak dan kewajiban, tidak jarang Wajib Pajak merasa mendapatkan perlakuan yang kurang adil atau tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Baik itu berasal dari produk penelitian, pemeriksaan, maupun keputusan-keputusan perpajakan lainnya. Bagaimana sebaiknya wajib pajak menyikapi hal tersebut serta bagaimana langkah-langkah hukum yang tepat dapat dilakukan untuk menyikapi setiap produk penelitian, pemeriksaan, atau keputusan perpajakan lainnya? Jika WP salah mengambil langkah hukum, sudah dapat dipastikan WP akan kalah meskipun secara materi kemungkinan besar menang.
40 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik, b. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah lulus USKP berniat membuka praktik,
Katalog PPL 2012 39

Persyaratan-persyaratan apa saja yang harus dipenuhi dalam mengambil setiap langkah hukum tersebut? Bagaimana tips-tips melakukan langkah hukum yang efektif? Beberapa pertanyaan ini akan dijawab secara komprehensif dalam modul ini. 2. Topik Yang Dibahas

4.1.8

Detail Perpajakan atas Usaha Jasa Konstruksi : PJ-13 : 1 hari : Rabu/20 Juni 2012

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

a. Sekilas Prosedur Pemeriksaan Pajak b. Produk-produk pemeriksaan dan penelitian pajak c. Jalur-jalur proses hukum dari setiap produk dan keputusan serta karakteristiknya seperti pembetulan, pembatalan, penghapusan/pengurangan sanksi, keberatan, banding, dan gugatan. d. Persyaratan dari masing-masing jalur hukum seperti Pembetulan. e. Tips-tips mengurus sengketa pajak yang efektif. 3. Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik, b. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah lulus USKP berniat membuka praktik, c. Anggota Luar Biasa IKPI lulusan USKP yang bekerja pada perusahaan, d. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi : : : : : : KU-06 1 hari Kamis/10 Mei 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,Katalog PPL 2012 41

Aspek pajak melekat pada hampir seluruh aktivitas sebuah perusahaan jasa konstruksi. Namun dalam praktiknya pajak ini seringkali terabaikan dalam proses pengambilan keputusan, misalnya dalam proses estimasi biaya proyek sebelum mengajukan penawaran tender, pembuatan kontrak dengan sub-kontraktor / pemasok, serta berbagai kegiatan penunjang pelaksanaan konstruksi. Kekurangpahaman akan perlakuan perpajakan yang terkait dengan usaha jasa konstruksi dapat berakibat perusahaan harus menanggung risiko berupa sanksi pajak yang besar di kemudian hari yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan. Kompleksitas dari suatu jenis pekerjaan konstruksi berpengaruh pada aspek pemajakannya baik perlakuan Pajak Penghasilan maupun PPN-nya. Misalnya, perlakuan PPh Final atas proyek yang dilakukan dengan pola Joint Operation serta perlakuan PPN atas impor mesin dalam proyek turnkey perlu pemahaman yang komprehensif. Sayangnya, dalam ketentuan perpajakan terkait dengan usaha jasa konstruksi masih terdapat beberapa grey area yang dapat menimbulkan perbedaan interpretasi baik antara pemilik proyek dengan kontraktor, antara kontraktor utama dengan sub-kontraktor dan juga antara para pihak tersebut dengan fiskus. Tentu saja hal tersebut dapat menimbulkan sengketa.

42

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

2.

Topik yang dibahas : 4. Keterangan : : : : : : : PJ-13 1 hari Rabu/20 Juni 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi 4.1.9

a. Pengertian dan ruang lingkup jasa konstruksi b. Perlakuan PPh Final atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi (PP No. 51 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 40 Tahun 2009) c. Alokasi joint cost atas penghasilan campuran antara yang terkena tarif umum dan final d. Pelaporan PPh Final jasa konstruksi dalam SPT Tahunan PPh Badan e. Beberapa Grey Area dalam kewajiban pemotongan pajak oleh pengusaha jasa konstruksi f. Saat pembuatan Faktur Pajak dalam usaha jasa konstruksi dan perlakuan atas retensi g. Perlakuan perpajakan atas proyek yang dibiayai oleh hibah atau pinjaman luar negeri h. Perlakuan PPh dan PPN atas Joint Operation dan proyek EPC / turnkey project i. Pemajakan penghasilan dari usaha jasa konstruksi (proyek) di luar negeri menurut Tax Treaty dan menurut UU PPh j. Perhitungan branch profit tax atas BUT Konstruksi k. Tips menghindari pre-financing PPN jasa konstruksi l. Pembahasan kasus-kasus perpajakan atas usaha jasa konstruksi dalam praktik 3. Peserta :

Bagaimana Membangun Komunikasi Efektif dengan Klien

Kode Modul : LP-01 Durasi : 1 hari Hari/Tanggal : Kamis/21 Juni 2012 1. Deskripsi

BAHASA adalah satu aspek yang membuat manusia lebih unggul dibanding makhluk lainnya. Bahasa menjadi unsur vital manusia dalam menjalin dan memperkokoh hubungan. Sehingga kemampuan kita dalam berkomunikasi dengan baik mempengaruhi kualitas hubungan, hasil dan pertumbuhan hidup kita. Seorang konsultan akan mempunyai hubungan yang harmonis dengan klien jika mampu berkomunikasi secara cerdas, efektif dan persuasif. Tanpa komunikasi yang baik, sebagus apapun tujuan kita akan terhambat. Dengan komunikasi yang excellent , tujuan dan pelayanan kita akan memuaskan klien ( wajib pajak) Bagaimana agar bisa berkomunikasi secara cerdas, efektif dan persuasif? Berkomunikasilah dengan menggunakan NLP. NLP akan membuat kita (konsultan)

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara.

Katalog PPL 2012

43

44

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

menjadi komunikator efektif yang mempesona dan memenangkan hati klien (wajib pajak) sehingga mereka lebih mudah diajak kerjasama. NLP membuat anda menjadi excellent communicator dalam aspek dan kondisi apapun. Mengapa? Karena NLP mengoptimalkan kedahsyatan potensi diri dan pikiran anda dengan efektif. Neuro Linguistic Programming (NLP) adalah pendekatan paling mutakhir dalam teknologi pemberdayaan diri dan optimalisasi cara kerja pikiran manusia. NLP juga merupakan sebuah tehnik psikologi terapan yang sudah digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. 2. Topik yang dibahas :

3.

Peserta :

Khusus Topik ini hanya untuk konsultan pajak dan staffnya 4. Keterangan : : : : : : : LP-01 1 hari Kamis/21 Juni 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

a. CARA pikiran kita memproses informasi. b. Teknik jitu memahami dan membangun sebuah hubungan baik dengan klien. c. Memahami dan melatih sensitifitas panca indera, yang nantinya menjadi dasar pengembangan komunikasi dua arah. Kemampuan beradaptasi untuk mengadakan perubahan dalam komunikasi ataupun dalam bentuk tindakan. d. Memahami pola 3V (Vocal, Verbal, Visual) guna menaklukkan hati klien. e. Mengembangkan fleksibilitas dan bahasa persuasif yang membuat klien dengan senang hati berbagi informasi dan kerjasama. f. Teknik jitu menggali informasi dengan META QUESTION, seni bertanya yang Efektif, yang mengarahkan klien memaparkan informasi penting dengan lebih jujur. g. Cara membuat klien merindukan layanan anda

Katalog PPL 2012

45

46

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

47

48

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.1.10 Make A Great Result with Personal Excellence Kode Modul : LP-02 Durasi : 1 hari Hari/Tanggal : Rabu/11 Juli 2012 1. Deskripsi

menentukan kita siapa pada hari esok. 2. Topik yang dibahas :

Manusia adalah makhluk paling unggul. Setiap manusia dilahirkan dengan sebuah POTENSI HEBAT yang ada di dalam diri, dan menunggu untuk diberdayakan. Otak kita terdiri dari lebih 1 milyar neuron dan tubuh kita terdiri dari 6o trilliun sel. Pada dasarnya manusia sudah diberi perlengkapan sempurna dalam dirinya. Di bidang apapun pekerjaan seseorang, dia memiliki Sumber Daya yang dapat di-OPTIMALKAN sehingga dapat mencapai hasil terbaik dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Semua berawal dari pikiran. KEBAIKAN, KEBURUKAN dan HASIL YANG KITA CAPAI berawal dari pola pikir. Rasa takut, kecewa dan malas berawal dari pola pikir yang ada dalam pikiran, program yang secara tidak sengaja maupun secara sengaja kita tanamkan sendiri. Sukses dan tidaknya kita tergantung dari kualitas pikiran kita Pelatihan ini menjadikan seorang konsultan mampu memprogram pikiran untuk mengerahkan potensi terbaik dan mempercepat sukses dengan hasil optimal. Juga membuat anda mampu menggunakan teknik yang efektif untuk menggunakan personal power yang sudah anda miliki. Sehingga anda akan menjadi seorang yang efektif, powerful dan mempesona. Hari esok anda sangat ditentukan oleh kesadaran diri, perbaikan pola pikir dan perilaku Anda saat ini. Kita sekarang
Katalog PPL 2012 49

a. Mengenali POTENSI DAN KEKUATAN pikiran b. Menggali dan mengenali hakikat SUKSES dalam diri. c. Mengenali MENTAL BLOCK yang menghambat kesuksesan dan menghancurkannya. d. Cara meningkatkan PEAK PERFORMANCE dalam keseharian. e. Melipat gandakan (amplify) hasil dan prestasi f. Mampu membuat Goal Setting dengan WELL FORMED OUTCOME. g. Bagaimana menjadi pribadi yang menginspirasi dan mempesona. 3. Peserta : seri pelatihan

Semua Peserta yang telah mengikuti Komunikasi Efektif dengan NLP. 4. Keterangan : : : : : : :

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

LP-02 1 hari Rabu/11 Juli 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

4.1.11 Managing Excellence For Tax Consultants Kode Modul : LP-03 Durasi : 1 hari Hari/Tanggal : Kamis/12 Juli 2012
50 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

1.

Deskripsi

Setiap manusia adalah pemimpin. Setiap kita adalah Leader dan manager yang Mengatur atau mendayagunakan sumber daya dan asset. sebuah Team, institusi dan Lembaga hakikatnya adalah manajerial dan leadership. Kepemimpinan dan manajemen yang bagus dan efektif akan mempengaruhi kualitas dan prestasi sebuah team. Bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan mempesona? Pimpinlah pikiran dan potensi diri anda. Semua dimulai dari kemampuan memimpin dan memanajeri diri sendiri. Itulah hukum dasar yang berlaku, dimana kita memulai sebuah pembelajaran dari hal yang paling kecil dan paling personal hingga kita mampu menghadapi hal-hal yang besar dan kompleks. Materi dalam sesi ini, memberikan pemahaman dan teknik cerdas tentang bagaimana me-manage diri kita dan juga me-manage orang lain dalam sebuah Team atau institusi sehingga menghasilkan prestasi yang gemilang. Juga membuat anda (leader) mampu mengoptimalkan personal excellence setiap anggota teamnya guna menjalin komunikasi harmonis dan kinerja yang memberdayakan. 2. Topik yang dibahas :

dalam membangun hubungan baik dan kinerja optimal . d. Mengelola setiap pekerjaan dengan memahami Manajemen Otak. e. Pengenalan system COACHING untuk me-manage performance. f. Bagaimana menjadi leader yang efektif, dihormati dan menginspirasi. 3. Peserta :

Semua peserta yang telah mengikuti seri pelatihan Komunikasi Efektif dengan NLP dan pelatihan Personal Excellence & Development. 4. Keterangan : : : : : : : LP-03 1 hari Kamis/12 Juli 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

4.1.12 Penerapan IFRS dan Aspek Pajaknya. Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : IF-01 : 1 hari : Rabu/08 Agustus 2012

a. Memahami pola berpikir manusia serta kecenderungan modalitas yang dimiliki oleh setiap anggota tema (staff) b. Memahami program dan pola dasar yang berjalan dalam diri manusia yang dikenal dengan nama META PROGRAM. Dengan memahami konsep ini, maka dengan mudah kita me-manage diri kita maupun orang lain. c. Memahami Pacing Leading sebagai sebuah tehnik

Mulai tahun 2012 standar akuntansi di Indonesia memasuki babak baru. Untuk entitas selain pemerintah, ada tiga standar akuntansi keuangan (SAK) yang berlaku, yaitu:
52 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

51

1) SAK Umum (yang konvergen dengan IFRS); 2) SAK ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik), dan 3) SAK Syariah. Khusus untuk SAK UMUM, standar ini secara signifikan telah konvergen dengan IFRS (International Financial Reporting Standards). Istilah konvergensi dipakai untuk SAK Umum di Indonesia, bukan istilah adopsi. Ini memiliki konsekuensi bahwa SAK Umum tidak berbeda secara signifikan dengan IFRS 2009. Masih ada konten lokal yang diterapkan dalam SAK Umum dan itu tidak diatur di dalam IFRS. Begitu pula, masih ada standar akuntansi yang tidak ada IFRS-nya tapi masih dipertahankan. Perubahan standar akuntansi sesuai dengan IFRS akan berdampak pada perpajakan. Ini dikarenakan pada dasarnya pembukuan wajib pajak mengacu pada standar akuntansi keuangan yang ditetapkan oleh IAI, kecuali ada aturan pajak secara khusus. Dengan demikian, jika aturan pajak sudah ada, otomatis dampak konvergensi IFRS tidak akan muncul. Akan tetapi, jika aturan pajak tidak ada, otomatis perubahan standar akuntansi akan berpengaruh pada perlakuan perpajakan. Modul PPL ini akan menguraikan secara komprehensif dampak perpajakan apa saja ketika wajib pajak menerapkan SAK umum hasil konvergensi dengan IFRS. Dengan demikian, para peserta bisa mengidentifikasi secara komprehensif pengaruh pajak akibat penerapan IFRS. 2. a. b. c. d. e. f. g. h. 3. Topik yang dibahas : Latar Belakang PSAK dalam Ketentuan Perpajakan di Indonesia Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia Standar Akuntansi Keuangan Internasional Perbedaan Pokok antara PSAK dan IFRS Pilar Akuntansi di Indonesia Pasca Konvergensi IFRS Dampak Penerapan IFRS Perbandingan PSAK Sebelum & Pasca Konvergensi IFRS. Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : IF-01 1 hari Rabu/08 Agustus 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

Katalog PPL 2012

53

54

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.1.13 Aspek Pajak (Yayasan) Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi

Usaha

di

Bidang

Nirlaba

: PJ-14 : 1 hari : Rabu/19 September 2012

organisasi nirlaba timbul transaksi tertentu yang jarang atau bahkan tidak pernah terjadi dalam organisasi bisnis, misalnya penerimaan sumbangan. Namun demikian, dalam praktik organisasi nirlaba sering tampil dalam berbagai bentuk sehingga seringkali sulit dibedakan dengan organisasi bisnis pada umumnya. Pada beberapa bentuk organisasi nirlaba, meskipun tidak ada kepemilikan, organisasi tersebut mendanai kebutuhan modalnya dari utang dan kebutuhan operasinya dati pendapatan atas jasa yang diberikan kepada publik. Akibatnya, pengukuran jumlah, saat, dan kepastian aliran pemasukan kas menjadi ukuran kinerja penting bagi para pengguna laporan keuangan organisasi tersebut, seperti kreditur dan pemasok dana lainnya. Organisasi semacam ini memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan organisasi bisnis pada umumnya. Para pengguna laporan keuangan organisasi nirlaba memiliki kepentingan bersama yang tidak berbeda dengan organisasi bisnis, yaitu untuk menilai: (1) Jasa yang diberikan oleh organisasi nirlaba dan kemampuannya untuk terus memberikan jasa tersebut; (2) Cara manajer melaksanakan tanggungjawabnya dan aspek kinerja manajer. 2. Topik yang dibahas :

Nirlaba adalah istilah yang biasa digunakan sebagai sesuatu yang bertujuan sosial, kemasyarakatan atau lingkungan yang tidak semata-mata untuk mencari keuntungan materi (uang). Dari situs http://id.wikipedia.org/wiki/, dijelaskan bahwa organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersil, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Organisasi nirlaba meliputi gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik publik, organisasi politis, bantuan masyarakat dalam hal perundang-undangan, organisasi jasa sukarelawan, serikat buruh, asosiasi profesional, institut riset, museum, dan beberapa para petugas pemerintah. Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan organisasi bisnis. Perbedaan utama yang mendasar terletak pada cara organisasi memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya. Organisasi nirlaba memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut. Sebagai akibat dari karakteristik tersebut, dalam

a. Sekilas Organisasi Nirlaba 1) Pengertian Organisasi Nirlaba 2) Karakteristik Organisasi Nirlaba b. Pembukuan Organisasi Nirlaba Menurut Ketentuan Perpajakan VS. PSAK 45 (Revisi 2010) 1) Pengertian Badan 2) Pembukuan Menurut Perpajakan dan PSAK 45
56 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

55

c. Perlakuan PPh untuk Organisasi Nirlaba d. Perlakuan PPN untuk Organisasi Nirlaba 3. Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : PJ-14 1 hari Rabu/19 September 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 600.000,- Um. Rp. 950.000,-

clear law or precedent exists, or where the law has not been applied in a long time thus making it unclear if it is applicable at all; dan 3) A grey area of ethics signifies an ethical dilemma, where the border between right and wrong is blurred. Example: is killing always abominable? Secara empiris grey area yang terjadi di dalam ketentuan perpajakan tercakup di dalam grey area of law, yaitu an

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

area where no clear law or precedent exists, or where the law has not been applied in a long time thus making it unclear if it is applicable at all
Secara umum grey area muncul karena adanya celah di dalam peraturan perpajakan, seperti tak ada aturan yang jelas atau tak didefinisikan secara jelas. Selain itu, sebab lain grey area adalah 1) Pemerintah hanya mementingkan menggenjot penerimaan pajak lewat ekstensifikasi dan intensifikasi pajak sehingga hal tersebut meningkatkan cengkeraman dan otoritas aparat pajaknya secara tidak proporsional; dan 2) Pemerintah hanya fokus pada upaya mengamankan anggaran, bukan memberikan iklim investasi yang kondusif. 2. Topik yang dibahas :

4.1.14 Manajemen Grey Area Perpajakan dan Tax Planning Komprehensif Kode Modul : GA-01 Durasi : 1 hari Hari/Tanggal : Kamis/20 September 2012 1. Deskripsi

Berdasarkan Wikipedia, grey area is a term for a border in-between two or more things that is unclearly defined, a border that is hard to define or even impossible to define, or a definition where the distinction border tends to move. Ada beberapa tipe grey area, yaitu: 1) A grey area of definitions signifies a problem of sorting reality into clearly cut categories. Example: where is the border between erotica and pornography?; 2) A grey area of law is an area where no
Katalog PPL 2012 57

a. Sekilas tentang Grey Area 1) Definisi dan Tipe Grey Area 2) Mengapa Muncul Grey Area? 3) Apa Dampak Grey Area? 4) Bagaimana Menafsirkan Peraturan Pajak; Rechtmatigheid atau Doelmatigheid? b. Grey Area di Pajak Penghasilan (PPh) c. Grey Area di Pajak Pertambahan Nilai (PPN) d. Grey Area di Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (KUP)
58 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

3.

Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : GA-01 1 hari Kamis/20 September 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

seluruhnya, bergantung pada hasil yang dilaporkan mengenai aktivitas ini. Beberapa perusahaan melakukan investasi sebagai cara untuk menempatkan kelebihan dana dan beberapa perusahaan lain melakukan perdagangan investasi untuk mempererat hubungan bisnis atau memperoleh suatu keuntungan perdagangan. Terdapat beberapa jenis investasi yang dapat dibuktikan dengan sertifikat atau dokumen lain yang serupa. Hakikat suatu investasi dapat berupa utang, selain utang jangka pendek atau utang dagang, atau instrumen ekuitas. Pada umumnya investasi memiliki hak finansial, sebagian berwujud seperti investasi tanah, bangunan, emas, berlian atau komoditi lain yang dapat dipasarkan. Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar yang aktif yang dapat membentuk nilai pasar. Untuk jenis investasi tersebut, nilai pasar digunakan sebagai indikator penetapan nilai wajar. Sementara itu, untuk investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif, cara lain digunakan untuk menentukan nilai wajar. Investasi yang dilakukan oleh pengusaha bisa menghasilan entitas hukum terpisah atau tanpa entitas hukum terpisah 2. Topik yang dibahas : a. Aspek akuntansi dan pajak dalam investasi yang menghasilkan entitas hukum terpisah 1) Investasi pada anak perusahaan 2) Investasi pada perusahaan asosiasi b. Aspek akuntansi dan pajak dalam investasi yang tidak menghasilkan entitas hukum terpisah 1) Investasi dalam bentuk Joint Venture 2) Investasi dalam bentuk kerja sama operasi.
60 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

4.1.15 Aspek Akuntansi dan Pajak dalam Investasi Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : PJ-15 : 1 hari : Rabu/17 Oktober 2012

Investasi dalam Standar Akuntansi keuangan adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga, royalti, dividen dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau untuk manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan perdagangan. Perusahaan melakukan investasi dengan alasan yang berbeda-beda. Bagi beberapa perusahaan, aktivitas investasi merupakan unsur penting dari operasi perusahaan, dan penilaian kinerja perusahaan, mungkin sebagian besar atau
Katalog PPL 2012 59

3. Peserta : a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi : : : : : : PJ-15 1 hari Rabu/17 Oktober 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

4.1.16 Memahami Laporan Keuangan Berbasis SAK ETAP bagi Konsultan Pajak Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : LK-03 : 1 hari : Kamis/18 Oktober 2012

Sesuai dengan ruang lingkup SAK-ETAP, Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit. Akan tetapi, entitas yang mempunyai tanggung jawab publik signifikan dapat juga menggunakan SAK ETAP apabila diizinkan oleh regulator. Contohnya Bank Perkreditan Rakyat yang telah diizinkan oleh Bank Indonesia menggunakan SAK ETAP mulai 1 Januari 2010 sesuai dengan SE No. 11/37/DKBU tanggal 31 Desember 2009. Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika (a) entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau (b) entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi. 2. Topik yang dibahas : a. Pengertian Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik b. Unsur-unsur laporan keuangan dalam SAK ETAP c. Metode Pengukuran, Pengakuan, Penyajian, dan Pengungkapan akun-akun di neraca d. Metode Pengukuran, Pengakuan, Penyajian, dan Pengungkapan akun-akun di laporan laba rugi e. Perbedaan metode akuntansi menurut SAK ETAP dan perlakuan perpajakannya
62 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Ikatan Akuntan Indonesia telah menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP). Apabila SAK-ETAP ini telah berlaku efektif (1 Januari 2011), perusahaan kecil seperti UKM tidak perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan PSAK umum yang berlaku. Di dalam beberapa hal, SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang leboh komplek. Perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK-ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 bab.

Katalog PPL 2012

61

3.

Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : LK-03 1 hari Kamis/18 Oktober 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,Instrumen

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

Akuntansi Keuangan) dan para pengguna PSAK di dalam transaksi riil dalam Kata Pengantar DSAK IAI saat penerbitan Panduan Implementasi dan Contoh Ilustrasi PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006) (IAI, 2006). Panduan implementasi dan contoh ilustrasi tersebut terdiri dari: (1) Panduan Implementasi No. 2 tentang PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; (2) Contoh Ilustrasi PSAK 50: Insrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan; dan (3) Contoh Ilustrasi PSAK 55: Insrumen Keuangan: Pengukuran dan Pengakuan 2. Topik yang dibahas :

4.1.17 Aspek Pajak dan Akuntansi Keuangan (PSAK 50 dan PSAK 55) Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : PJ-16 : 1 hari : Rabu/24 Oktober 2012

Instrumen keuangan adalah Setiap kontrak yang menambah nilai aset keuangan entitas dan liabilitas keuangan atau instrumen ekuitas entitas lain. Instrumen keuangan di dalam standar akuntansi keuangan diatur dalam 3 PSAK, yaitu: SAK 50 (Revisi 2010): Instrumen Keuangan: Penyajian; PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; dan PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan PSAK tentang instrumen keuangan ini memang rumit. Kerumitan ini diakui juga oleh DSAK (Dewan Standar
Katalog PPL 2012 63

a. Standar Akuntansi versus Peraturan Pajak 1) Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia 2) Ketentuan Perpajakan 3) Perbedaan Standar Akuntansi dan Peraturan Pajak dalam Laporan Keuangan b. PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuandan Pengukuran 1) Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 55 (Revisi 2006) 2) Konsep Utama 3) Perlakuan Akuntansi c. PSAK 50 (Revisi 2010): InstrumenKeuangan: Penyajian 1) Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 50 (Revisi 2010) 2) Konsep Utama 3) Perlakuan Akuntansi d. Perlakuan Pajak atas Instrumen Keuangan 3. Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara.

64

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.

Keterangan: : : : : : : PJ-16 1 hari Rabu/24 Oktober 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,Pajak untuk

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

Contoh merger adalah Bank Eksim, BDN, BBD, dan Bapindo yang menjadi Bank Mandiri, HP Indonesia yang saat ini merupakan penggabungan HP dan Compaq yang dilakukan sejak Mei 2002, dan ExxonMobil Corporation dan Mobil Corporation yang melakukan merger dan membentuk ExxonMobil Corporation pada tahun 1999 Motif Merger di antaranyan adalah a) Cost Saving; b) Monopoly Power; c) Auditing Bankruptcy; d) Tax Consideration; e) Diversification; f) Increased Debt Capacity; dan g) Manipulating Earnings Per Share. 2. Topik yang dibahas :

4.1.18 Perlakuan Akuntansi & Restrukturisasi Perusahaan Kode Modul : PJ-17 Durasi : 1 hari Hari/Tanggal : Rabu/14 November 2012 1. Deskripsi

Merger didefinisikan antara lain sebagai berikut: Merger is a combination of two or more firm in which one company survives under its own name while any others cease to exit as legal entities. Jadi, pada dasarnya merger adalah suatu keputusan untuk mengkombinasikan/ menggabungkan dua atau lebih perusahaan menjadi satu perusahaan baru. Dalam konteks bisnis, merger adalah suatu transaksi yang menggabungkan beberapa unit ekonomi menjadi satu unit ekonomi yang baru. Bentuk lain dari restrukturisasi adalah pemekaran atau spin-off. Dalam pemekaran usaha, badan usaha yang telah ada (parent company) mengalihkan sebagian harta dan utangnya kepada badan usaha yang baru dibentuk (subsidiary company) sebagai pengganti saham dari badan usaha baru tersebut.

a. Bentuk-Bentuk Restrukturisasi Perusahaan 1) Merger & Akuisisi 2) Konsolidasi 3) Pemekaran (expansion) b. Akuntansi Kombinasi Bisnis 1) Penentuan Jenis Kombinasi Bisnis 2) PSAK 22 tentang Kombinasi Bisnis 3) PSAK 36 tentang Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali c. Perpajakan Untuk Restrukturisasi Perusahaan 1) Ketentuan Umum 2) Perlakuan Perpajakan bagi Penggabungan atau Peleburan Usaha 3) Perlakuan Perpajakan bagi Pemekaran Usaha 3. Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara.
66 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

65

sampingannya setelah modul ini disampaikan. 4. Keterangan: : : : : : : PJ-17 1 hari Rabu/14 November 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,2. Topik yang dibahas : Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

4.1.19 Aspek Pajak Usaha Real Estate dan Usaha Sampingannya Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : PJ-18 : 1 hari : Rabu/21 November 2012

a. Aspek Pajak Penghasilan 1) Aspek PPh Badan 2) Aspek PPh Pasal 21 3) Aspek PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 4(2) b. Aspek PPN 1) Dasar Pengenaan Pajak 2) Kegiatan membangun sendiri di kawasan real estat 3) Fasilitas PPN dibebaskan c. Aspek Pajak Lainnya 1) Aspek PPnBM 2) Aspek PBB 3) Aspek Bea Meterai 3. Peserta :

Aktivitas pengembangan real estat adalah kegiatan perolehan tanah untuk kemudian dibangun perumahan dan atau bangunan komersial dan atau bangunan industri. Bangunan tersebut dimaksudkan untuk dijual atau disewakan, sebagai satu kesatuan atau secara eceran (retail). Aktivitas pengembangan real estat juga mencakup perolehan kapling tanah untuk dijual tanpa bangunan. Penjualan real estat mencakup (a) Penjualan bangunan rumah, ruko dan bangunan sejenis lainnya beserta kapling tanahnya, (b) Penjualan bangunan kondominium, apartemen, perkantoran, pusat perbelanjaan dan bangunan sejenis lainnya serta unit dalam kepemilikan time sharing, dan (c) Penjualan kapling tanah tanpa bangunan. Diharapkan peserta memahami aspek perpajakan secara komprehensif terkait dengan bisnis real estate dan usaha
Katalog PPL 2012 67

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : PJ-18 1 hari Rabu/21 November 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

68

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.1.20 Tips Menghadapi Pemeriksaan PPN dan Faktur Pajak Secara Praktis Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : PN-01 : 1 hari : Kamis/22 November 2012

setelah mengikuti modul ini. Pembahasan lainnya diuraikan di bawah ini. 2. Topik yang dibahas :

Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Di dalam praktik, pemeriksaan seringkali menjadi salah satu momok besar bagi wajib pajak. Ini disebabkan hasil dari pemeriksaan itu adalah utang pajak yang tidak masuk akal dan sangat mengganggu. Terkadang wajib pajak tidak siap memberikan tanggapan yang didukung dengan argumentasi kuat. Akibatnya, koreksi fiskal pemeriksa tidak terbantahkan. Kondisi seperti di atas biasa terjadi pada pemeriksaan PPh dan PPN. Khusus untuk pemeriksaan PPN, permasalahan menjadi lebih kompleks ketika pengusaha kena pajak melakukan kompensasi kelebihan PPN ke masa pajak berikutnya. Jika nilai kompensasi menurut SPT PPN tidak sepenuhnya benar di mata pemeriksa, otomatis sanksi kenaikan 100% akan dikenakan atas kompensasi yang tidak seharusnya tersebut. Ringkasan masalah dalam pemeriksaan PPN di atas menjadi bagian dari hal-hal yang harus peserta kuasai
Katalog PPL 2012 69

a. Kilas Balik Pemeriksaan PPN Dalam Ketentuan Sunset Policy 1) Apa Itu Sunset Policy? 2) Fasilitas Sunset Policy b. Optimalisasi Pemanfaatan Data Perpajakan (OPDP) 1) Modus Penghindaran Pajak 2) Optimalisasi Pemanfaatan Data Perpajakan (OPDP) c. Pemeriksaan Pajak 1) Pengertian Pemeriksaan 2) Tujuan Pemeriksaan 3) Ruang Lingkup Pemeriksaan 4) Kriteria & Jenis Pemeriksaan 5) Jenis & Jangka Waktu Pemeriksaan 6) Penyusunan Kertas Kerja Pemeriksaan 7) Teknik Pemeriksaan PPN 3. Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : PN-01 1 hari Kamis/22 November 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi


70

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.1.21 Aspek Legal, Akuntasi dan Pajak Perusahaan Pertambangan Migas Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : PJ-19 : 1 hari : Kamis/29 November 2012

yang ditentukan, yang terdiri atas pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya. Perlakuan akuntansi dan pajak bersifat khusus sehingga berbeda dengan industri pada umumnya. 2. Topik yang dibahas :

Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Migas) adalah salah satu andalan Indonesia dalam membangun ekonomi, begitu pentingnya kedudukan Migas maka pengaturan diadakan tersendiri, ke-eksklusifannya bukan hanya wilayah pertambangan tetapi juga pengusahanya hanya menjadi kekuasaan negara. Kegiatan pertambangan migas terdiri dari kegiatan usaha hulu dan hilir. Pasal 10 UU 22/2001 menyebutkan bahwa Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melakukan Kegiatan Usaha Hulu dilarang melakukan Kegiatan Usaha Hilir. Badan Usaha yang melakukan Kegiatan Usaha Hilir juga tidak dapat melakukan Kegiatan Usaha Hulu. Aspek legal, akuntansi, dan pajak menjadi menarik ketika pembahasan ketiga aspek tersebut dikaitkan dengan industri migas, khususnya hulu migas yang mencakup (1) Eksplorasi dan (2) eksploitasi Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan Minyak dan Gas Bumi di Wilayah Kerja yang ditentukan Eksploitasi yaitu rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak dan Gas Bumi dari Wilayah Kerja
Katalog PPL 2012 71

a. Sekilas Tentang Pertambangan Migas 1) Latar Belakang 2) Pengertian dan Pembagian Kegiatan Usaha 3) Kegiatan Usaha Hulu 4) Kegiatan Usaha Hilir 5) Ketentuan Peralihan dalam UU No. 22/2001 6) Sejarah Ringkas Kontrak Production Sharing (KPS) 7) Aspek Finansial KPS b. Aspek Akuntansi Pertambangan Migas 1) PSAK 64 tentang Eksplorasi dan Evaluasi Sumber Daya Mineral 2) Klausul Akuntansi dalam Production Sharing Contract 3) Accounting Procedure (Exhibit C) c. Aspek Perpajakan Industri Hulu Migas 1) Ketentuan Umum 2) PPh Badan untuk Industri Migas 3) PPN untuk Industri Migas 3. Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara.

72

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.

Keterangan: : : : : : : PJ-19 1 hari Kamis/29 November 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

4.1.22 Aspek Legal, Akuntansi dan Pajak Perusahaan Pertambangan Minerba Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : PJ-20 : 1 hari : Rabu/12 Desember 2012

Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (UU No. 11/1967) sudah tidak sesuai lagi. Dengan demikian, dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan. Untuk itu, Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 (UU No. 4/2009) tentang Pertambangan Mineral dan Batubara hadir untuk menggantikan UU No. 11/1967. Usaha pertambangan sesuai dengan Pasal 35 UU No. 4/2009 dilaksanakan dalam bentuk: 1) IUP atau Izin Usaha Pertambangan, 2) IPR atau Izin Pertambangan Rakyat, dan 3) IUPK atau Izin Usaha Pertambangan Khusus. Dengan diberlakukannya UU No. 4/2009, sesuai dengan ketentuan penutupnya, UU No. 11/1967 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. Namun demikian, tidak semua ketentuan yang ada pada UU No. 11/1967 tersebut dicabut dan langsung dinyatakan tidak berlaku lagi. Dalam ketentuan peralihan Pasal 169 huruf a UU No. 4/2009 dinyatakan bahwa Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) masih berlaku sampai jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian. Hal ini dikarenakan KK dan PKP2B merupakan suatu kontrak yang sah dan harus dihormati oleh pihak-pihak yang membuat. Dalam kaitan dengan kontrak-kontrak dimaksud biasa diterapkan adanya prinsip the sanctity of contract atau kesucian kontrak yang ada sebelumnya harus dihormati tetap sah dan berlaku, meskipun hukum yg menjadi dasarnya sudah berubah. Selain pembahasan aspek legal seperti kutipan beberapa
74 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak. Karena itu, pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan. Kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
73

Katalog PPL 2012

paragraf di atas, peserta juga akan mendapatkan pembahasan komprehensif terkait dengan aspek akuntansi dan perpajakannya. 2. Topik yang dibahas :

4.1.23 Tax Planning vs Creative Accounting Kode Modul Durasi Hari/Tanggal 1. Deskripsi : TA-03 : 1 hari : Kamis/13 Desember 2012

a. Sekilas Pertambangan-pertambangan Mineral Dan Batubara b. Aspek Akuntansi Pertambangan 1) Akuntansi Pertambangan Umum 2) Psak 64 Tentang Eksplorasi dan Evaluasi Sumber Daya Mineral c. Perlakuan Pajak Untuk Usaha Pertambangan 1) Ketentuan Umum 2) PPh Untuk Pertambangan Mineral Dan Batu Bara 3) Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Untuk Usaha Pertambangan 3. Peserta :

Umumnya perencanaan pajak (tax planning) merujuk kepada proses merekayasa usaha dan transaksi Wajib pajak supaya utang pajak berada dalam jumlah yang minimal tetapi masih dalam bingkai peraturan perpajakan. Namun demikian, perencanaan pajak juga dapat berkonotasi positif sebagai perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap, benar dan tepat waktu sehingga dapat menghindari pemborosan sumber daya secara optimal. Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak (sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar tetapi jumlah pajak yang dibayarkan dapat ditekan serendah mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan). Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan kewajiban perpajakan (tax implementation) dan pengendalian pajak (tax control). Pada tahap perencanaan pajak ini dilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan. Tujuannya agar dapat diseleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan, Pada umumnya penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk meminimumkan kewajiban pajak. Perencanaan pajak akan lebih optimal jika dikaitkan dengan pemahaman yang baik terhadap standar akuntansi. Dari sisi positifnya, pemahaman yang baik ini akan berefek
76 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : PJ-20 1 hari Rabu/12 Desember 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

Katalog PPL 2012

75

pada creative accounting, namun dari sisi negatifnya hal tersebut dapat berakibat pada aggresive accounting. Creative accounting diterapkan oleh perusahaan karena beberapa kondisi, seperti bervariasinya prinsip akuntansi, dalam rangka penerapan prinsip akuntansi yang agresif, dalam rangka earnings management, pelaporan keuangan yang benar-benar menyimpang (outright fraudulent financial reporting). 2. Topik yang dibahas :

3.

Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : TA-03 1 hari Kamis/13 Desember 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

a. Dasar-dasar Tax Planning 1) Aspek-aspek dalam Tax Planning 2) Strategi Umum b. Perencanaan Pajak dalam Pajak Penghasilan 1) Efisiensi dalam Pajak Penghasilan Badan 2) Efisiensi dalam PPh Pasal 21 3) Efisiensi dalam PPh Pasal 22 4) Efisiensi dalam PPh Pasal 23 5) Efisiensi dalam PPh Pasal 26 6) Efisiensi dalam PPh Pasal 4(2) c. Perencanaan Pajak dalam Pajak Pertambahan Nilai 1) Efisiensi Pajak Keluaran 2) Efisiensi Pajak Masukan d. Financial Numbers Game 1) Tujuan Financial Numbers Game 2) Jenis-jenis Financial Numbers Game 3) Apa yang Diharapkan dalam Financial Numbers Game? e. Creative Accounting 1) Mengapa Creative Accounting? 2) Klasifikasi Creative Accounting

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

4.1.24 Penyesuaian PSAK 46 terhadap IFRS serta Tinjauan Aspek Pajaknya Kode Modul : PJ-21 Durasi : 1 hari Hari/Tanggal : Rabu/19 Desember 2012 1. Deskripsi

Sesuai dengan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK), tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pemakai laporan keuangan yang dimaksud dalam KDPPLK tersebut adalah investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah, dan masyarakat. Sementara itu, tugas akuntan adalah untuk melindungi pemakai tersebut dari kesalahan membaca informasi dalam akuntansi keuangan yang
78 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

77

disajikan oleh akuntan. Di dalam praktiknya, perusahaan-perusahaan yang merupakan Wajib Pajak Badan harus menghitung penghasilan dengan dua cara yang berbeda. Di satu sisi, akuntan perusahaan harus menyajikan laporan keuangan kepada pemegang saham sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principle) atau SAK (Standar Akuntansi Keuangan). Sementara itu, di sisi lain akuntan juga harus menyajikan laporan keuangan kepada pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, sesuai dengan ketentuan perpajakan dalam sebuah Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan atau disingkat SPT Tahunan PPh Badan. Karena antara SAK dan ketentuan perpajakan banyak memiliki perbedaan, penentuan laba akuntansi (pretax financial income) dan penghasilan kena pajak atau laba fiskal (taxable income) juga seringkali menghasilkan perbedaan. Dengan modul ini, diharapkan peserta memahami perbedaan apa saja yang diakibatkan oleh standar akuntansi dan peraturan pajak. Dengan demikian, peserta bisa dengan mudah mengidentifikasi pajak tangguhan dan menghitung pajak tangguhan yang muncul. 2. Topik yang dibahas : a. Akuntansi Pajak Penghasilan 1) Latar Belakang 2) Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 46 3) Prinsip Dasar PSAK 46 b. Prinsip Beda Tetap dan Beda Waktu 1) Beda Tetap 2) Beda Waktu
Katalog PPL 2012 79

c.

Pengukuran, Pengakuan, Pengungkapan Tangguhan 1) Pengukuran Pajak Tangguhan 2) Pengakuan Pajak Tangguhan 3) Penyajian Pajak Tangguhan 4) Pengungkapan Pajak Tangguhan Peserta :

Pajak

3.

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : PJ-21 1 hari Rabu/19 Desember 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

80

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.1.25 Menyusun Kontrak bagi Konsultan Pajak


Kode Modul Durasi Hari/Tanggal : LE-02 : 1 hari : Kamis/20 Desember 2012

2.

Topik yang dibahas :

1.

Deskripsi

Sebelum tanda tangan memulai tugasnya mengikat kita dan lawan bisnis kita dalam sehelai hitam di atas putih, proses yang mengiringinya kadang begitu rumit. Akan tetapi, dalam beberapa kasus proses itu bisa begitu mudahnya, semudah pebisnis memberikan kesepakatan bisnisnya melalui pesan singkat BlackBerry Messenger (BBM). Semudah apapun caranya, sebuah kesepakatan hampir tak mungkin menghindari proses penerimaan dan penawaran di antara sibuknya lalu lalang kebutuhankebutuhan. Pada titik tertentu, kebutuhan-kebutuhan yang berlawanan itu bertemu dalam kesamaan kehendak (meeting of the minds) yaitu ketika penawaran ditutup oleh penerimaan. Orang legal akan selalu menasihatkan, Semua fakta harus sesuai dengan aturan mainnya, tapi seorang businessman punya kebebasan untuk tidak mengikuti nasihat sempit itu kalau tak mau kehilangan banyak peluang asal selama ia merekam nasihat itu di kepalanya sebagai penjaga arah langkah bisnis, urat nadi bisnis yang telah tertuang dalam business plan akan lebih mudah dipertahankan. Meski dari segi pandang bisnis hukum terlalu sempit membatasi ruang gerak, usahakanlah agar tetap mencari untung maksimal dari sisi lainnya dengan menentukan denda misalnya, atau apa pun yang minimal bisa mengurangi kerugian kalau tidak menambah untung.
Katalog PPL 2012 81

a. Sekilas Tentang Hukum Perjanjian 1) Membuat Suatu Perjanjian 2) Pengertian Perjanjian 3) Persetujuan, Perikatan, Perjanjian, dan Kontrak 4) Memorandum of Understanding (MoU) & Perjanjian 5) Asas-asas Perjanjian 6) Keabsahan Perjanjian 7) Hapusnya Perikatan 8) Addendum Kontrak/Perjanjian 9) Perjanjian Sebagai Alat Bukti Tertulis dalam Perkara Perdata 10) Sahnya Perjanjian yang Tanpa Dibubuhi Materai 11) Dasar Hukum Persetujuan Diam-diam b. Surat Kuasa 1) Membuat Surat Kuasa 2) Kekuatan Hukum Surat Kuasa 3) Surat Kuasa dan Surat Tugas 4) Keabsahan Surat Kuasa c. Membuat Suatu Perjanjian 1) Negosiasi: Alat Mencapai Kesepakatan Perjanjian 2) Kekuatan Hukum Kata Sepakat 3) Menyusun Kontrak 4) Kewajiban Menggunakan Rupiah Harus Dicantumkan dalam Perjanjian? 5) Penempatan Pihak I dan Pihak II 6) Wajibkah Membuat Kontrak dalam Dua Bahasa Jika Melibatkan Pihak Asing? 7) Bagaimana Kepastian Hukum Pelaksanaan Pekerjaan Jika Kontrak Belum Ditandatangani?
Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

82

8) Perjanjian Sepihak 9) Wanprestasi Perjanjian d. Penyelesaian Perkara Perdata 1) Sengketa Perdata 2) Metode Alternatif Penyelesaian Sengketa (MAPS) e. Kontrak Jasa Perpajakan 1) Mengenal Konsultan Pajak dan Jasa Perpajakan 2) Penentuan Imbalan Jasa Perpajakan 3) Ilustrasi Kontrak Jasa Perpajakan - Proposal Berfungsi juga Sebagai Kontrak 4) Ilustrasi Kontrak Jasa Perpajakan - Kontrak Jasa Perpajakan Terpisah dari Proposal

3.

Peserta :

a. Konsultan Pajak anggota IKPI yang telah berizin praktik. b. Umum dengan syarat memiliki pengetahuan perpajakan yang ditentukan penyelenggara. 4. Keterangan: : : : : : : LE-02 1 hari Kamis/20 Desember 2012 8 08.30-16.30 WIB Ang. Rp. 500.000,- Um. Rp. 950.000,-

Kode Modul Durasi Hari/Tanggal Kredit Poin Waktu Partisipasi

Katalog PPL 2012

83

84

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

4.2 e-Class e-Class adalah sarana belajar-mengajar melalui jaringan internet yang merupakan produk terbaru dari Tax Training House (TTH) IKPI. Penggunaan sarana ini adalah untuk menjawab kebutuhan dalam rangka mendapatkan pengetahuan terbaru saat ini melalui proses belajar dari para penutur secara langsung, khususnya bagi insan perpajakan yang ada di kota-kota besar maupun yang berada di berbagai kota di seluruh pelosok Indonesia sepanjang sinyal internet tersedia. Sarana belajar-mengajar melalui jaringan internet berupa e-Class, dapat pula digunakan oleh mereka yang ingin mencari pengetahuan dari sumber yang kompeten, namun terhalang oleh kemacetan lalu lintas atau terhalang faktor jarak, dan bahkan bila terhalang keadaan karena tidak dapat meninggalkan tempat kerja. Dengan Modul e-Class, berbagai materi pengetahuan pajak dari sumber yang kompeten dapat diperoleh hanya dengan satu klik saja. Penutur dapat dilihat secara live (bukan rekaman), bahkan komunikasi lisan maupun tertulis dapat berlangsung antara peserta dengan penutur secara langsung. Peserta hanya perlu menyediakan komputer dan koneksi internet saja untuk dapat mengikutinya. Sepanjang tersedia kedua sarana tersebut, peserta yang berada di pelosok Indonesia langsung dapat mengikuti pelatihan perpajakan terkini bersama instruktur yang handal dari lokasi Graha TTH.

Keuntungan belajar melalui e-Class antara lain : a. Ekonomis: 1) Peserta tidak mengeluarkan biaya transportasi, dan 2) Peserta menghemat biaya akomodasi di Jakarta bagi peserta dari luar kota, b. Oportunity cost: 1) Peserta masih dapat melakukan kegiatan usaha/pekerjaan rutin secara optimal 2) Peserta e-Class tidak perlu menyisihkan waktu untuk menuju ke bilangan Kuningan Jakarta, c. Narasumber: 1) Peserta mendapatkan pengetahuan dari penutur yang kompeten, baik dari konsultan pajak maupun fiskus, 2) Peserta mendapatkan muatan terbaru dari suatu materi perpajakan yang dibawakan oleh penutur kami,

d. Waktu: 1) Jam belajar yang fleksibel dapat dimungkinkan dengan cara memilih modul yang tersedia pada situs web http://www.tth.ikpi.or.id, 2) Peserta dapat belajar kapan saja dan dimana saja selama ada koneksi internet. Dengan diluncurkannya Modul e-Class ini, diharapkan dapat memenuhi harapan para insan yang selalu haus ilmu perpajakan tetapi terhalang oleh ruang dan waktu. Pada akhirnya, peserta dapat belajar di tempat masing-masing dengan tenang dan optimal.

Katalog PPL 2012

85

86

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Tax Training House (TTH) IKPI adalah pelopor metode pembelajaran jarak jauh melalui infrastruktur internet yang telah teruji di Indonesia dengan nama e-Class. Saat ini belum ada penyelenggara pendidikan di Indonesia, baik universitas negeri maupun swasta, dapat menyediakan fasilitas yang sama ataupun setara. Jadikanlah e-Class sebagai salah satu alternatif baru untuk menambah atau memperkaya pengetahuan disamping cara konvensional yang selama ini dikenal.

KEPUTUSAN KONGRES IX IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA NO. 10/KONGRES IX/IKPI/2009 TENTANG PENGEMBANGAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN (PPL) IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA (IKPI)

Menimbang

: a) Bahwa anggota Ikatan Konsultan Pajak Indonesia adalah Konsultan Pajak yang mendukung terlaksananya ketentuan perundang-undangan perpajakan Indonesia dengan sebaik-baiknya; b) Bahwa ketentuan perpajakan Indonesia bersifat dinamis, sejalan dengan perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya baik di tingkat Nasional maupun Internasional; c) Bahwa untuk dapat mengikuti dan memahami ketentuan perpajakan yang bersifat dinamis tersebut, konsultan pajak perlu memelihara, dan mengembangkan kompetensinya; d) Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 sampai dengan 3, perlu ditetapkan Keputusan tentang Pengembangan Profesional Berkelanjutan. : a) Pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam Musyawarah Kerja Nasional Ikatan Konsultan Pajak Indonesia di Cisarua Bogor tanggal 11 sampai dengan 13 Juni 2008. b) Hasil musyawarah dalam Kongres IX Ikatan Konsultan Pajak Indonesia di Batam tanggal 26 sampai dengan 29 Juli 2009.

Mengingat

Katalog PPL 2012

87

Katalog PPL 2012 88

MEMUTUSKAN Menetapkan : Keputusan Kongres IX IKPI tentang Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Pasal 1 Menyetujui usulan Komisi PPL Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) sebagaimana yang disampaikan dalam sidang paripurna IV dengan penyempurnaan sesuai saran dan masukan dari peserta kongres IX IKPI. Pasal 2 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal dikeluarkannya dan akan diadakan perubahan seperlunya jika terdapat kekeliruan di dalamnya. Ditetapkan di : Batam, Kepulauan Riau Pada Tanggal : 28 Juli 2009 PIMPINAN SIDANG KONGRES IX IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA ttd Hariansyah Ketua ttd Arslan Soekoen Wakil Ketua ttd J.M Harianto Sekretaris

LAMPIRAN KEPUTUSAN KONGRES IX NO. 10/KONGRES IX/IKPI/2009 Tentang PENGEMBANGAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN Menimbang : a) Bahwa anggota Ikatan Konsultan Pajak Indonesia adalah Konsultan Pajak yang turut mendukung terlaksananya ketentuan perundang-undangan perpajakan Indonesia dengan sebaik-baiknya; b) Bahwa ketentuan perpajakan Indonesia bersifat dinamis, sejalan dengan perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya baik di tingkat Nasional maupun Internasional; c) Bahwa untuk dapat mengikuti dan memahami ketentuan perpajakan yang bersifat dinamis tersebut, konsultan pajak perlu memelihara, dan mengembangkan kompetensinya; d) Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan c, perlu ditetapkan Keputusan tentang Pengembangan Profesional Berkelanjutan.

Memperhatikan : a) Pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam Musyawarah Kerja Nasional Ikatan Konsultan Pajak Indonesia di Cisarua Bogor tanggal 11 sampai dengan 13 Juni 2008. b) Hasil musyawarah dalam Kongres IX Ikatan Konsultan Pajak Indonesia di Batam tanggal 26 sampai dengan 29 Juli 2009. Mengingat : Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Kode Etik Ikatan Konsultan Pajak Indonesia.

Katalog PPL 2012

89

90

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN KONGRES IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA TENTANG PENGEMBANGAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN Pasal 1 Dalam keputusan ini, yang dimaksud dengan : 1. Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) adalah suatu organisasi yang beranggotakan para Konsultan Pajak dan dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2. Anggaran Dasar (AD) adalah Anggaran Dasar IKPI 3. Anggaran Rumah Tangga (ART) adalah Anggaran Rumah Tangga IKPI; 4. Kode Etik adalah Kode Etik IKPI; 5. Anggota adalah Anggota Biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) ART; 6. Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) adalah upaya atau kegiatan yang ditempuh setiap anggota untuk memelihara dan mengembangkan kompetensinya; 7. PPL Terstruktur adalah bentuk PPL dengan cara tatap muka dan atau non tatap muka; 8. PPL Tidak Terstruktur adalah bentuk PPL berupa upaya atau kegiatan tertentu yang dilakukan anggota dalam lingkungan IKPI atau di luar lingkungan IKPI dengan penunjukan resmi; 9. Satuan Kredit Pengembangan Profesional Berkelanjutan (SKPPL) adalah angka penilaian yang ditentukan untuk setap jenis PPL Terstruktur dan atau PPL Tidak terstruktur. 10. Biro PPL adalah unit kerja purna waktu di bawah kendali Departemen Pendidikan Internal Pengurus Pusat IKPI yang mengurusi kegiatan PPL bagi anggota. Setiap anggota wajib Berkelanjutan (PPL).

Pasal 2 mengikuti Pasal 3 Kepada anggota yang mengikuti PPL diberi SKPPL. Pasal 4 (1) PPL Terstruktur Tatap Muka adalah bentuk PPL yang dilakukan dengan cara mengikuti: a. Pelatihan; b. Kursus; c. Lokakarya; d. Diskusi Panel; e. Seminar; f. Konferensi; atau g. Kegiatan lainnya yang sejenis: yang materinya meliputi bidang perpajakan dalam arti luas, akuntansi, hukum, teknologi informasi, dan pengembangan kepribadian. PPL Terstruktur Non Tatap Muka adalah bentuk PPL yang dilakukan dengan cara : a. Program PPL jarak jauh yang diselenggarakan oleh IKPI; b. Mengajar, menjadi instruktur, dan menjadi nara sumber di lingkungan IKPI dan institusi yang bekerja sama secara formal dengan IKPI; c. Menulis artikel dalam Warta IKPI dan majalah Berita Pajak, makalah, atau buku dengan materi yang relevan dengan profesi konsultan pajak dan dipublikasikan; PPL Tidak Terstruktur adalah bentuk PPL yang dilakukan dengan cara : a. Mengikuti Kongres, Kongres Luar Biasa, Musyawarah Kerja Nasional, Rapat Koordinasi, Rapat Anggota, Rapat
Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Pengembangan

Profesional

(2)

(3)

Katalog PPL 2012

91

92

b. c.

Pengurus Pusat, Rapat Pengurus Daerah, Rapat Pengurus Cabang, atau rapat lainnya dalam lingkungan IKPI; Mewakili IKPI dalam pertemuan dengan pihak di luar IKPI melalui penunjukan resmi; Menjadi anggota tim atau panitia dalam rangka kegiatan IKPI yang bersifat ad hoc. Pasal 5

Pasal 7 (1) (2) Untuk kegiatan PPL Terstruktur Non Tatap Muka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a dihitung sebanyak 4 (empat) SKPPL; Penilaian kegiatan PPL Terstruktur Non Tatap Muka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf b adalah sebagai berikut : a. Untuk kegiatan yang dilakukan kurang dari 7 (tujuh) jam dalam sehari dihitung sebanyak 4 (empat) SKPPL; b. Untuk kegiatan yang dilakukan 7 (tujuh) jam atau lebih dalam sehari dihitung sebanyak 6 (enam) SKPPL; Penilaian kegiatan PPL Terstruktur Non Tatap Muka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c adalah sebagai berikut : a. Kegiatan menulis artikel secara mandiri dihitung sebanyak 4 (empat) SKPPL per artikel; b. Kegiatan menulis satu judul buku yang memiliki ISBN, baik oleh seorang pengarang atau lebih, dihitung sebanyak 20 (dua puluh) SKPPL per judul buku. Pasal 8 Penilaian setiap kegiatan PPL Tidak Terstruktur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) dihitung sebanyak 4 (empat) SKPPL. Pasal 9 (1) Setiap anggota melaporkan kegiatan PPL yang telah diikuti dalam 1 (satu) tahun takwim kepada Pengurus Pusat IKPI dengan tembusan kepada Pengurus Cabang tempat anggota terdaftar; Pelaporan kegiatan PPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun takwim; Pelaporan kegiatan PPL sebagaimana dimaksud pada ayat (10) dilakukan dengan menggunakan formulir yang ditentukan.

(1) (2)

(3)

(4)

Dalam periode 1 (satu) tahun takwim setiap anggota wajib mencapai 20 (dua puluh) SKPPL. Apabila anggota dalam periode 1 (satu) tahun melakukan kegiatan PPL Terstruktur dan PPL Tidak terstruktur, PPL Terstruktur yang penyelenggaraannya dilakukan oleh IKPI sekurang-kurangnya mencapai 15 (lima belas) SKPPL. Anggota baru, yang terdaftar pada tahun pertama kurang dari 6 (enam) bulan dalam satu tahun takwin, dibebaskan dari pemenuhan kewajiban SKPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Dalam hal anggota tidak mencapai jumlah SKPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau (2), kekurangan SKPPL harus dipenuhi pada tahun berikutnya. Pasal 6

(3)

(1)

(2)

Penilaian kegiatan PPL Terstruktur Tatap muka, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) yang kegiatannya diselenggarakan oleh IKPI, adalah sebagai berikut : a. Untuk kegiatan yang dilakukan kurang 7 (tujuh) jam dalam sehari dihitung sebanyak 4 (empat) SKPPL; b. Untuk kegiatan yang dilakukan 7 (tujuh) jam atau lebih dalam sehari dihitung sebanyak 8 (delapan) SKPPL; Untuk SKPPL Terstruktur Tatap Muka yang kegiatannya diselenggarakan oleh pihak lain selain IKPI, SKPPL dihitung sebesar 50% (lima puluh persen) dari nilai yang diperoleh pada ayat (1).

(2) (3)

Katalog PPL 2012

93

94

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

b. Pasal 10 (1) (2) Biro PPL melakukan penghitungan SKPPL berdasarkan laporan yang disampaikan oleh anggota; Hasil penghitungan SKPPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Ketua Departemen Pendidikan Internal IKPI untuk diterbitkan rekaman SKPPL bagi anggota yang bersangkutan melalui Pengurus Cabang IKPI masing-masing; Rekaman SKPPL bagi anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikirim kepada anggota paling lambat 1 (satu) bulan sejak Biro PPL menerima laporan SKPPL dari anggota. Pasal 11 (1) Pelaksanaan PPL Terstruktur di lingkungan IKPI dapat dilakukan melalui kerja sama formal dengan pihak lain berdasarkan keputusan/persetujuan Ketua Umum IKPI setelah Ketua Umum IKPI mendengar pendapat Rapat Pengurus Pusat; Materi PPL Terstruktur yang dilakukan oleh Pihak Ketiga sebagaimana pada ayat (1) ditentukan oleh Departemen Pendidikan Internal. Pasal 12 (1) (2) Sanksi terhadap anggota yang tidak memenuhi ketentuan SKPPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan berdasarkan AD/ART. Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada anggota yang tidak memenuhi ketentuan SKPPL di atas dalam bentuk: a. Peringatan I; b. Peringatan II; c. Pembekuan Keanggotaan; atau d. Pencabutan Keanggotaan. Penerapan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas dikecualikan dalam hal: a. anggota berada di luar Indonesia untuk jangka waktu 12 bulan secara berturut-turut; atau
Katalog PPL 2012 95 96

sakit permanen. Pasal 13

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam keputusan ini akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Ketua Umum IKPI setelah mendengar pendapat Rapat Pengurus Pusat. Pasal 14 (1) Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2010 dengan periode sosialisasi sejak ditetapkan hingga tanggal 31 Desember 2009 dan akan ditinjau kembali apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan didalamnya. Dengan berlakunya Keputusan ini, Keputusan Pengurus Pusat IKPI Nomor KEP-001/SK-PP.IKPI/II/2009 dinyatakan tidak berlaku.

(3)

(2)

(2)

Ditetapkan tanggal : 28 Juli 2009 di : Batam

(3)

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA Nomor : KEP-003/PP.IKPI/IV/2010 Tentang PERPANJANGAN PERIODE SOSIALISASI PENGEMBANGAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN (PPL) IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA (IKPI) Menimbang : a. Bahwa masih banyak anggota yang belum mengetahui dan/atau memahami tentang kewajiban untuk mengikuti Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) berdasarkan hasil Keputusan Kongres IX di Batam; b. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diatas, perlu menetapkan Keputusan Pengurus Pusat IKPI tentang Perpanjangan Periode Sosialisasi Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI). Saran dan masukan para peserta Rapat Pleno Pengurus Pusat IKPI tanggal 12 Februari 2010. a. Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Kode Etik IKPI; b. Keputusan Kongres IX IKPI No. 10/KongresIX/IKPI/2009 tentang Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (KPI). MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKPI TENTANG PERPANJANGAN PERIODE SOSIALISASI PENGEMBANGAN PROFESIONAL BERKELANJUTAN (PPL) IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA (IKPI). Katalog PPL 2012 97

Pasal 1 Periode sosialisasi tentang kewajiban anggota IKPI untuk mengikuti Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) diperpanjang sampai dengan tanggal 31 Desember 2010. Pasal 2 Dengan berlakunya keputusan ini, maka kewajiban anggota untuk mengikuti Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2011. Pasal 3 Biro Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) agar melakukan koordinasi dengan Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang dalam melakukan Sosialisasi Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL). Pasal 4 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan akan diadakan perubahan seperlunya jika terdapat kekeliruan didalamnya. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 3 Maret 2010 PENGURUS PUSAT IKATAN KONSULTAN PAJAK INDONESIA ttd Sukiatto Oyong, SE., Ak., MSi. Ketua Umum ttd Drs. Teddy T. Suryoprabowo Sekretaris Umum

Memperhatikan : Mengingat :

98

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)

Katalog PPL 2012

99

100 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI)