Anda di halaman 1dari 28

ETIKA POFESI AKUNTANSI

PRESENTED BY: HIMMAH BANDARI PRECILIA PRIMA QUEENA

IFAC CODE OF ETHICS


Standar yang dikeluarkan IFAC ini merupakan panduan global untuk membentuk kode etik lokal yang relevan yang seharusnya sesuai dengan kode etik IFAC International Federation of Accountants (IFAC) pada bulan Oktober 2003 yang lalu telah mengeluarkan 7 (tujuh) standar pendidikan internasional (International Education Standards/IES) yang seharusnya berlaku efektif mulai 1 Januari 2005. Standar yang dikeluarkan IFAC ini merupakan panduan global untuk membentuk akuntan yang profesional. Apa saja standar yang diatur oleh IFAC tersebut?

IES 1, Entry Requirement to a Program of Professional Accounting Education Dalam IES 1, diuraikan persyaratan awal untuk memasuki pendidikan profesional akuntansi sebaiknya paling tidak setara dengan persyaratan untuk memasuki program tingkat universitas atau ekuivalennya. Starting point program professional akuntansi ini dapat bermacam-macam. Beberapa program dimulai pada post graduate level, program yang lain dimulai pada immediate post-secondary level, atau sebagian lagi pada higher education level dibawah undergraduate degree. IES 2, Content Of Professional Accounting Education Programs Tujuan IES 2 ini adalah untuk meyakinkan bahwa calon akuntan profesional memiliki pengetahuan profesional akuntansi yang cukup untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai Akuntan yang kompeten dalam menghadapi lingkungan yang kompleks dan berubah. muatan pengetahuan yang dipersyaratkan, yang terdiri dari 3 bidang pengetahuan utama, yaitu: accounting, finance and related knowledge; organizational and business knowledge; dan information technology knowledge and competences.

IES 3, Professional Skills Contents


IES 3 mengatur tentang keahlian profesional serta pendidikan umum bagi Akuntan profesional. Seseorang yang berminat menjadi Akuntan yang profesional sebaiknya memperoleh keahlian

IES 4, Professional Values, Ethics and Attitudes


IES 4 menentukan nilai profesional, etika dan sikap akuntan profesional yang seharusnya diperoleh selama pendidikan supaya memenuhi kualifikasi sebagai akuntan profesional. Program pendidikan akuntansi sebaiknya memberikan kerangka nilai, etika, dan sikap profesional untuk melatih judgment profesional calon Akuntan sehingga dapat bertindak secara etis ditengah kepentingan profesi dan masyarakat

IES 5, Practical Experience Requirements


IES 5 mempersyaratkan suatu periode pengalaman praktis dalam melaksanakan pekerjaan sebagai bagian dari program pre kualifikasi Akuntan profesional. Periode ini sebaiknya cukup panjang dan intensif sehingga calon Akuntan dapat menunjukkan bahwa mereka telah mendapat pengetahuan, keahlian, nilai, etika dan sikap profesional yang dipersyaratkan dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai seorang Akuntan yang kompeten. Sebaiknya pengalaman praktis ini diperoleh minimal 3 tahun.

IES 6, Assessment of Professional Capabilities and Competence


IES 6 menjelaskan persyaratan penilaian akhir kapabilitas dan kompetensi calon Akuntan sebelum dinyatakan sebagai Akuntan yang memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan.Kapabilitas dan kompetensi calon Akuntan seharusnya secara formal dinilai oleh asosiasi profesi atau regulator (dengan masukan dari profesi).

IES 7, Continuing Professional Development: A Program of Lifelong Learning and Continuing Development of Professional Competence
IES 7 dipublikasi pada bulan Mei 2004. Standar ini berlaku efektif mulai 1 Januari 2006. diharuskan untuk mempromosikan pentingnya pengembangan berkelanjutan kompetensi akuntan dan komitmen untuk belajar seumur hidup bagi seluruh akuntan profesional. Seluruh akuntan profesional, yang bekerja disektor apapun, diwajibkan untuk mengembangkan dan menjaga kompetensi profesional mereka sesuai dengan pekerjaan dan tanggungjawab profesionalnya.

IES 8, Competence Requirements for Audit Professionals


Pada bulan April 2005, IFAC telah mengeluarkan Exposure Draft IES 8 khusus ditujukan bagi audit professional. Adapun jabatan audit professionals yang diatur dalam draft standar ini meliputi: (a) Audit Seniors, (b) Audit Supervisors, (c) Audit Managers (biasanya terbagi atas Assistant Manager, Manager dan Senior Manager), (d) Audit Partners, Directors and Principals, dan (e) Engagement Partners.

KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA


Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggungjawab profesionalnya.
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian: Prinsip Etika, Aturan Etika, dan Interpretasi Aturan Etika.

PRINSIP ETlKA PROFESI


Prinsip Pertama - Tanggung Jawab Profesi
Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

Prinsip Kedua - Kepentingan Publik


Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

Prinsip Ketiga Integritas


Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

Prinsip Keempat Obyektivitas


Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

Prinsip kelimaKompetensi dan kehati-hatianProfesional


Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya tkngan kehatihatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir

Prinsip Keenam - Kerahasiaan


Setiap anggota harus, menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya

Prinsip Ketujuh - Perilaku Profesional


Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendekreditkan profesi.

Prinsip Kedelapan - Standar Teknis


Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

KODE ETIK IAPI


Kode Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik) ini terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian A dan Bagian B. Bagian A dari Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar etika profesi dan memberikan kerangka konseptual untuk penerapan prinsip tersebut. Bagian B dari Kode Etik ini memberikan ilustrasi mengenai penerapan kerangka konseptual tersebut pada situasi tertentu. Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang harus diterapkan oleh setiap individu dalam kantor akuntan publik (KAP) atau Jaringan KAP, baik yang merupakan anggota IAPI maupun yang bukan merupakan anggota IAPI, yang memberikan jasa profesional yang meliputi jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum dalam standar profesi dan kode etik profesi.

Setiap Praktisi wajib mematuhi prinsip dasar etika profesi di bawah ini:

a. Prinsip integritas. b. Prinsip objektivitas. c. Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional (professional competence and due care). d. Prinsip kerahasiaan. e. Prinsip perilaku profesional.

KODE ETIK IAMI


KodeEtik IAMI adalah perilaku etika Anggota dalam memenuhi tang gung jawab profesionalnya. Kode Etik IAMI dirumuskan oleh Komite Etika dan disampaikan oleh Dewan Pengurus Pusat yang disingkat DPP untuk selanjutnya disahkan oleh Rapat Anggota. Standar perilaku etis akuntan manajemen 1. Kompetensi 2. Kerahasiaan 3. Integritas 4. Obyektifitas 5. Resolusi konflik etika

KODE ETIK IAI KASP


Aturan etika IAI-KASP memuat prinsip-prinsip dasar perilaku etis auditor, yaitu: 1. integritas 2. obyektivitas 3. kompetensi dan kehati-hatian 4. kerahasiaan 5. ketepatan bertindak 6. standar teknis dan profesional

SARBANES-OXLEY
Sarbanes-Oxley (Sarbanes-Oxley Act of 2002, Public Company Accounting Reform and Investor Protection Act of 2002) atau kadang disingkat SOx atau Sarbox adalah hukum federal Amerika serikat yang ditetapkan pada 30 Juli 2002 sebagai tanggapan terhadap sejumlah skandal akuntansi perusahaan besar yang termasuk di antaranya melibatkan Enron, Tyco International, adelphia, Peregrine systems, dan worldcom. Perundang-undangan ini menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan manajemen perusahaan publik serta KAP walaupun tidak berlaku bagi perusahaan tertutup. Akta ini terdiri dari 11 judul atau bagian yang menetapkan hal-hal mulai dari tanggung jawab tambahan Dewan Perusahaan hingga hukuman pidana.

PELAPORAN Memperbaiki Pengungkapan (Disclosure) Section 302 : Manajemen menjamin bahwa : 1. Pelaporan telah merefleksikan, secara wajar dan benar, semua aspek material sehubungan dengan posisi keuangan perusahaan dan Section 204 :

PERAN Memperkuat tata kelola

PERILAKU Mengembangkan Akuntabilitas Orang Dalam (Insider)

Perusahaan (Corporate
Governance)

Meningkatkan komunikasi auditor

Section 303 :

dan koinite Audit atas kebijakan dan Melarang dewan Direksi/ karyawan praktik akuntansi yang penting, altenatif perlakuan akuntansi, dan komunikasi dengan manajemen secara curang mempengaruhi, memaksa, atau memanipulasi atau menyesatkan auditor independen

2. Efektivitas pengendalian internal lainnya yang diwajibkan telah dievaluasi

PELAPORAN Memperbaiki Pengungkapan (Disclosure)

PERAN

PERILAKU

Memperkuat tata kelola


Perusahaan (Corporate Governance)

Mengembangkan Akuntabilitas Orang


Dalam (Insider)

Section 301 : Section 306 : Section 401 : Menugaskan SEC menerbitkan peraturan untuk meningkatkan pengungkapan atas transaksi off-balance sheet dan informasi 2. Mengharuskan keanggotaan Komite Audit diisi oleh pihak yang independen (independen directors) Section 404 : 3. Mengharuskan adanya prosedur Menugaskan SEC menerbitkan peraturan penanganan keluhan dari whistleblowers yang mengharuskan adanya laporan tahunan dan lainnya manajemen dan atestasi auditor, atas efektivitas pengendalian internal dan prosedur pelaporan keuangan. 4. Mengharuskan perusahaan untuk menyediakan dana untuk auditor dan Mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan adanya kode etik maupun Section 403 : Mewajibkan percepatan pelaporan atas transaksi yang dilakukan orang dalam (insider trading) Section 406 : 1. Komite Audit bertanggung jawab secara

langsung atas pemilihan dan pengawasan


auditor

Melarang orang dalam untuk bertransaksi selama periode penghentian dan apensiun

(pensiun fund blackout period)

laporan keuangan proforma.

penasehat lainnya apabila oleh audit komite perusabahan atau pengabdian kode terkait dipandang perlu

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008


Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Akuntan adalah seseorang yang berhak menyandang gelar atau sebutan akuntan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. 3. Kantor Akuntan Publik yang selanjutnya disebut KAP, adalah badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri sebagai wadah bagi Akuntan Publik dalam memberikan jasanya. 4. Cabang Kantor Akuntan Publik yang selanjutnya disebut Cabang KAP adalah kantor yang dibuka oleh KAP untuk memberikan jasa Akuntan Publik yang dipimpin oleh salah satu Rekan KAP yang bersangkutan.

5. Kantor Akuntan Publik Asing atau disingkat KAPA adalah badan usaha jasa profesi di luar negeri yang memiliki izin dari otoritas di negara yang bersangkutan untuk melakukan kegiatan usaha paling sedikit di bidang audit umum atas laporan keuangan. 6. Organisasi Audit Asing atau disingkat OAA adalah organisasi di luar negeri, yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan di negara yang bersangkutan, yang anggotanya terdiri dari badan usaha jasa profesi yang melakukan kegiatan usaha paling sedikit di bidang audit umum atas laporan keuangan. 7. Atestasi adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan seseorang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan. 8. Laporan Auditor Independen adalah laporan yang ditandatangani oleh Akuntan Publik yang memuat pernyataan pendapat atau pertimbangan Akuntan Publik tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang ditetapkan.

Menurut PMK No.17 Pasal 2 Bidang Jasa Akuntan meliputi :


1. Bidang jasa Akuntan Publik dan KAP adalah atestasi, yang meliputi:
Jasa audit umum atas laporan keuangan; Jasa pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif; Jjasa pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma; Jasa review atas laporan keuangan; dan Jasa atestasi lainnya sebagaimana tercantum dalam SPAP

2. Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan oleh Akuntan Publik. 3. Selain jasa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), Akuntan Publik dan KAP dapat memberikan jasa audit lainnya dan jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultansi sesuai dengan kompetensi Akuntan Publik dan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Menurut PMK No.17 Pasal 3 Pembatasan Masa Pemberian Jasa meliputi :


1. Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut. Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menerima kembali penugasan audit umum untuk klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut. Jasa audit umum atas laporan keuangan dapat diberikan kembali kepada klien yang sama melalui KAP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak diberikan melalui KAP tersebut. Dalam hal KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas melakukan perubahan komposisi Akuntan Publiknya, maka terhadap KAP tersebut tetap diberlakukan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

2.

3. 4.

Lanjutan
5. KAP yang melakukan perubahan komposisi Akuntan Publik yang mengakibatkan jumlah Akuntan Publiknya 50% (lima puluh per seratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 6. Pendirian atau perubahan nama KAP yang komposisi Akuntan Publiknya 50% (lima puluh per seratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Menurut PMK No.17 Pasal 5 Syarat Mendapatkan izin menjadi seorang akuntan diatur sebagai berikut :
1. 2. 3. 4. memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan; memiliki Sertifikat Tanda Lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) yang diselenggarakan oleh IAPI; dalam hal tanggal kelulusan USAP sebagaimana dimaksud pada huruf b telah melewati masa 2 (dua) tahun, maka wajib menyerahkan bukti telah mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) paling sedikit 60 (enam puluh) Satuan Kredit PPL (SKP) dalam 2 (dua) tahun terakhir; berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan paling sedikit 1000 (seribu) jam dalam 5 (lima) tahun terakhir dan paling sedikit 500 (lima ratus) jam diantaranya memimpin dan/atau mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP;

5. 6.

Lanjutan
7. berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan 8. Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 9. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 10. tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin Akuntan Publik; dan 11. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin Akuntan Publik, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran I sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.

CONTOH KASUS
Kasus PT KAI, berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan. terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar Komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik. Setelah hasil audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 :

Lanjutan. . .
1. Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. 2. Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standart Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.

Lanjutan. . .
3. Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005. 4. Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai komulatif sebesar Rp 674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi menurut Hekinus bantuan pemerintah dan penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari modal perseroan. 5. Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.

Kesimpulan. . .
Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 telah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Adanya perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor akuntan publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Pihak auditor menyatakan Laporan Keuangan secara wajar bahwa tidak ada penyimpangan dari standar akuntansi keuangan.