Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER REKTUM

OLEH :

MADE WIDANJAYA NIM. 1102115019

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2013


A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian Kanker merupakan suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat, dan tidak terkendali. Kanker terjadi karena adanya perubahan genetik atau mutasi Deoxyribonucleic Acid (DNA) yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan pemulihan sel (LeMone, 2008). Karsinoma Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian Recti yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali (Kurniadi, 2012). Ca Rekti adalah kanker yang terjadi pada rektum. Rektum terletak di anterior sakrum and coccyx panjangnya kira kira 15 cm. rectosigmoid junction terletak pada bagian akhir mesocolon sigmoid. Bagian sepertiga atasnya hampir seluruhnya dibungkus oleh peritoneum. Di setengah bagian bawah rektum keseluruhannya adalah ektraperitoneral (Samsuhidayat, 2004).

Gambar 1. Anatomi usus besar termasuk rectum

Gambar 2. Rektum dengan proliferasi abnormal dan tahapan perkembangan stadium kanker rektum

2. Epidemiologi Di USA Ca kolorektal merupakan kanker gastrointestinal yang paling sering terjadi dan nomor dua sebagai penyebab kematian di negara berkembang. Tahun 2005, diperkirakan ada 145,290 kasus baru kanker kolorektal di USA, 104,950 kasus terjadi di kolon dan 40,340 kasus di rektal. Pada 56,300 kasus dilaporkan berhubungan dengan kematian, 47.700 kasus Ca kolon dan 8,600 kasus Ca rectal. Ca kolorektal merupakan 11 % dari kejadian kematian dari semua jenis kanker (American Cancer Sosiety, 2006). Di seluruh dunia dilaporkan lebih dari 940,000 kasus baru dan terjadi kematian pada hampir 500,000 kasus tiap tahunnya (World Health Organization, 2003). Menurut data di RS Kanker Dharmais pada tahun 1995-2002, kanker rektal menempati urutan keenam dari 10 jenis kanker dari pasien yang dirawat disana. Kanker rektal tercatat sebagai penyakit yang paling mematikan di dunia selain jenis kanker lainnya. Namun, perkembangan teknologi dan juga adanya pendeteksian dini memungkinkan untuk disembuhkan sebesar 50 persen, bahkan bisa dicegah (American Cancer Sosiety, 2006). Dari selutruh pasien kanker rektal, 90% berumur lebih dari 50 tahun. Hanya 5% pasien berusia kurang dari 40 tahun. Di negara barat, laki-laki

memiliki insidensi terbanyak mengidap kanker rektal dibanding wanita dengan rasio bervariasi dari 8:7 - 9:5 (Samsuhidayat, 2004).

3. Etiologi dan Faktor Predisposisi Beberapa faktor risiko/faktor predisposisi terjadinya kanker rectum menurut Brunner & Suddarth (2002) telah diidentifikasi sebagai berikut: 1) Diet rendah serat Kebiasaan diet rendah serat adalah faktor penyebab utama, Bukitt (1971) dalam Prince & Wilson (1995) mengemukakan bahwa diet rendah serat dan kaya karbohidrat refined mengakibatkan perubahan pada flora feses dan perubahan degradasi garam-garam empedu atau hasil pemecahan protein dan lemak, dimana sebagian dari zat-zat ini bersifat karsinogenik. Diet rendah serat juga menyebabkan pemekatan zat yang berpotensi karsinogenik dalam feses yang bervolume lebih kecil. Selain itu masa transisi feses meningkat, akibat kontak zat yang berpotensi karsinogenik dengan mukosa usus bertambah lama.

2) Lemak Kelebihan lemak diyakini mengubah flora bakteri dan mengubah steroid menjadi senyawa yang mempunyai sifat karsinogen. 3) Polip di usus (colorectal polyps) Polip adalah pertumbuhan sel pada dinding dalam kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker. 4) Inflamatory Bowel Disease Orang dengan kondisi yang menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar. 5) Riwayat kanker pribadi Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat kanker

di indung telur, uterus (endometrium), atau payudara mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal. 6) Riwayat kanker colorectal pada keluarga Jika mempunyai riwayat kanker colorectal pada keluarga, maka kemungkinan terkena penyakit ini lebih besar, khususnya jika terkena kanker pada usia muda. 7) Faktor gaya hidup Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi lemak dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker colorectal serta kebiasaan sering menahan tinja/defekasi yang sering. 8) Usia di atas 50 Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia lebih tua. Lebih dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas.

4. Patofisiologi Karsinogenesis dan onkogenesis merupakan nama lain dari perkembangan kanker. Proses perubahan sel normal menjadi sel kanker disebut transformasi maligna (Ignatavicius et al, 2006). Karsinogen adalah substansi yang mengakibatkan perubahan pada struktur dan fungsi sel menjadi sel yang bersifat otonom dan maligna. Trasformasi maligna diduga mempunyai sedikitnya tiga tahapan proses selular yaitu inisiasi, promosi, dan progresi (Basavanthappa, 2007; Smeltzer & Bare, 2002), yaitu : a. Inisiasi (Carcinogen) Pada tahap ini terjadi perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan ini disebabkan oleh status karsinogen berupa bahan kimia, virus, radiasi atau sinar matahari yang berperan sebagai inisiator dan bereaksi dengan DNA yang menyebabkan DNA pecah dan mengalami hambatan perbaikan DNA. Perubahan ini mungkin dipulihkan melalui mekanisme perbaikan DNA atau dapat

mengakibatkan mutasi selular permanen. Mutasi ini biasanya tidak signifikan bagi sel-sel sampai terjadi karsinogenesis tahap kedua. b. Promosi (Co-carcinogen) Pemajanan berulang terhadap agen menyebabkan ekspresi informasi abnormal. Pada tahap ini suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Tahap promosi merupakan hasil interaksi antara faktor kedua dengan sel yang terinisiasi pada tahap sebelumnya. Faktor kedua sebagai agen penyebabnya disebut complete carcinogen karena melengkapi tahap inisiasi dengan tahap promosi. Agen promosi bekerja dengan mengubah informasi genetik dalam sel, meningkatkan sintesis DNA, meningkatkan salinan pasangan gen dan merubah pola komunikasi antarsel. Pada masa antara inisiasi dan promosi merupakan kunci konsep dalam pencegahan kanker, karena bila pada tahap ini dilakukan pencegahan pemaparan karsinogen ulang seperti makanan berlemak, obesitas, rokok, dan alkohol akan dapat menurunkan risiko terbentuknya formasi neoplastik. c. Progresi (Complete Carcinogen ) Pada tahapan ini merupakan tahap akhir dari terbentuknya sel kanker atau karsinogenesis. Sel-sel yang mengalami perubahan bentuk selama inisiasi dan promosi kini melakukan perilaku maligna. Sel-sel ini sekarang menampakkan suatu kecenderungan untuk menginvasi jaringan yang berdekatan (bermetastasis).

Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. Asam empedu dapat berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Hipotesa penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa menyebabkan kanker kolorektal. Diet rendah serat dan kaya karbohidrat refined mengakibatkan perubahan pada flora feses dan perubahan degradasi garam-garam empedu atau hasil pemecahan protein dan lemak, dimana sebagian dari zat-zat ini bersifat karsinogenik. Diet rendah serat juga

menyebabkan pemekatan zat yang berpotensi karsinogenik dalam feses yang bervolume lebih kecil. Selain itu masa transisi feses meningkat, akibat kontak zat yang berpotensi karsinogenik dengan mukosa usus bertambah lama. Kelebihan lemak diyakini mengubah flora bakteri dan mengubah steroid menjadi senyawa yang mempunyai sifat karsinogen. Menurut Physicians Committee for Responsible Medicine, bakteri juga memiliki peranan dalam timbulnya kanker usus. Bakteri dapat mengubah asam empedu, yang dikeluarkan oleh tubuh untuk membantu pencernaan lemak, menjadi suatu senyawa-senyawa yang dapat memicu kanker. Senyawasenyawa tersebut disebut sebagai asam empedu sekunder. Asam empedu secara normal dikeluarkan oleh tubuh untuk mencerna lemak. Semakin banyak lemak yang dikonsumsi, maka asam empedu yang dikeluarkan oleh tubuh akan semakin banyak pula. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika beberapa bahan makanan yang banyak mengandung lemak seperti daging merah, serta daging dan makanan olahan lain yang berkadar lemak tinggi seperti keju, dapat meningkatkan risiko kanker usus. Konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker usus seperti halnya makanan yang kaya akan gula, menurut World Cancer Research Fund. Patologi Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan mudah. Tetapi, seringkali pada stadium awal adenoma tidak menampakkan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar (Davey, 2006 : 335). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain (paling sering ke hati). Kanker kolorektal dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu: secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih; melalui pembuluh limfe

ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon; melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke sistem portal; penyebaran secara transperitoneal; penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi

penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain (Gale, 2000). Pada keluarga tertentu yang memiliki kecenderungan terhadap kanker, diduga bahwa satu atau lebih gen kanker sudah bermutasi dalam genom yang diwarisi. Pertumbuhan kanker akan meningkat pada usia lebih dari 55 tahun. Banyak kanker terjadi di usia tua seperti kanker prostat, kanker kolon, dan leukemia. Peningkatan masa hidup memungkinkan memanjangnya paparan terhadap karsinogen dan terakumulasinya berbagai perubahan genetik serta penurunan berbagai fungsi tubuh (Basavanthappa, 2007). Menurut P. Deyle (2005), perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan, proses ini berjalan lama sampai puluhan tahun. Fase kedua adalah fase pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimptomatis) yang berlangsung bertahun-tahun juga. Kemudian fase ketiga dengan timbulnya keluhan dan gejala yang nyata. (Pathway terlampir)

5. Klasifikasi Metode pentahapan yang dapat digunakan secara luas adalah klasifikasi Duke: (Brunner & Suddarth, 2002) T Stage 0 Stage I Tis T1 T2 Stage II T3 N N0 N0 N0 N0 M M0 M0 M0 M0 B A Dukes Keteranagan: Kelas A : Tumor dibatasi pada mukosa dan submukosa Kelas B : Penetrasi melalui dinding usus Kelas C : invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional Kelas D : metastase regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas

T4 Stage III Any T Any T Stage IV Any T

N0 N1 N2, N3 Any N

M0 M0 M0 M1 D C

TNM staging digunakan berdasarkan perjalanan penyakit kanker melalui tiga parameter yaitu tumor size (T) atau ukuran tumor, lymph node (N) atau kelenjar getah bening regional dan absence of metastasis (M) atau penyebaran jauh (Otto, 2003).
a)

T (Tumor Primer : ukuran, luas dan kedalaman) TX T0 Tis T1, T2, T3, T4 : tumor primer tidak dapat dikaji : tidak ada bukti tumor primer : karsinoma in-situ : dari T1 sampai T4 tumor primer semakin besar

dan semakin jauh infiltrasi di jaringan dan alat yang berdekatan.


b)

N (Metastasis Nodus : luas, dan lokasi kelenjar getah bening regional yang terkena) NX N0 : kelenjar getah bening regional tidak dapat dikaji : tidak ada metastasis kelenjar getah bening regional

N1,N2,N3 : menunjukkan banyaknya kelenjar getah bening yang terlibat, dan ada atau tidaknya infiltrasi di alat dan struktur yang berdekatan.
c)

M (Metastasis : tidak ada atau ada penyebaran jauh penyakit) MX M0 M1 : penyakit jauh tidak dapat dikaji : tidak ada penyebaran jauh dari penyakit : penyebaran penyakit jauh

Pada perkembangan selanjutnya, The American Joint Committee on Cancer (AJCC) memperkenalkan TNM staging system, yang

menempatkan kanker menjadi satu dalam 4 stadium (Stadium I-IV) (Anderson, 2006). 1. Stadium 0 Pada stadium 0, kanker ditemukan hanya pada bagian paling dalam rectum, yaitu pada mukosa saja. Disebut juga carcinoma in situ. 2. Stadium I Pada stadium I, kanker telah menyebar menembus mukosa sampai lapisan muskularis dan melibatkan bagian dalam dinding rektum tapi tidak menyebar ke bagian terluar dinding rektum ataupun keluar dari rektum. Disebut juga Dukes A rectal cancer. 3. Stadium II Pada stadium II, kanker telah menyebar keluar rektum kejaringan terdekat namun tidak menyebar ke limfonodi. Disebut juga Dukes B rectal cancer.

4. Stadium III Pada stadium III, kanker telah menyebar ke limfonodi terdekat, tapi tidak menyebar kebagian tubuh lainnya. Disebut juga Dukes C rectal cancer. 5. Stadium IV Pada stadium IV, kanker telah menyebar kebagian lain tubuh seperti hati, paru, atau ovarium. Disebut juga Dukes D rectal cancer

6. Gambaran Klinis Kebanyakan orang asimtomatis dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan kesehatan hanya bila mereka menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahan rectal (Brunner & Suddarth, 2002). Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Gejala yang paling menonjol adalah (Brunner & Suddarth, 2002): 1) Perubahan kebiasaan defekasi 2) Pasase darah dalam feses adalah gejala paling umum kedua

3) Gejala anemi tanpa diketahui penyebabnya 4) Anoreksia 5) Penurunan berat badan tanpa alasan 6) Keletihan 7) Mual dan muntah-muntah 8) Usus besar terasa tidak kososng seluruhnya setelah BAB 9) Feses menjadi lebih sempit (seperti pita) 10) Perut sering terasa kembung atau keram perut 11) Gejala yang dihubungkan dengan lesi rectal adalah: evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian (umumnya konstipasi), serta feses berdarah. Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh limfe, atau vena menimbulkan gejala gejala pada tungkai atau perineum, hemoroid, nyeri pinggang bagian bawah, keinginan defekasi, atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat-alat tersebut. Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi,

perdarahan, obstruksi bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional. Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum. Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor.

Tumor pada Recti dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar. Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. Bila karsinoma Recti menembus ke daerah ileum akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau vomitus. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat menimbulkan obstruksi sehingga terjadi obstipasi. Pertimbangan gerontologi, insiden karsinoma kolon dan rectum meningkat sesuai usia. Kanker ini biasanya ganas pada lansia, gejala sering tersembunyi yaitu: keletihan hampir selalu ada akibat anemia defisiensi besi primer, nyeri abdomen, obstruksi, tenesmus, dan perdarahan rectal.

7. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang dan Pemeriksaan Fisik Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan (Sudjatmiko, 2010): 1) Anamnesis yang teliti, meliputi: a) Perubahan pola/kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change of bowel habit) b) Frekuensi, konsistensi tinja c) Perdarahan per anus d) Tenesmus e) Nyeri perut : kolik, menetap f) Penurunan berat badan g) Faktor predisposisi: Riwayat kanker dalam keluarga Riwayat polip usus Riwayat kolitis ulserosa Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium) Uretero-sigmoidostomi Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat)

2) Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada: a) Status gizi b) Anemia c) Benjolan/massa di abdomen d) Nyeri tekan e) Pembesaran kelenjar limfe f) Pembesaran hati/limpa g) Colok rectum (rectal toucher) ditemukan darah dan lendir, tonus sfingter ani keras/lembek, mukosa kasar, kaku biasanya dapat digeser, ampula rectum kolaps/kembung terisi feses atau tumor yang dapat teraba atau tidak. 3) Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium a) Test darah samar: terkadang kanker atau polip mengeluarkan darah, dan FOBT dapat mendeteksi jumlah darah yang sangat sedikit dalam kotoran. Karena tes ini hanya mendeteksi darah, tes-tes lain dibutuhkan untuk menemukan sumber darah tersebut. Kondisi jinak (seperti hemoroid) juga bisa menyebabkan darah dalam kototran. b) Carcino embryonic antigen (CEA): pada eksisi tumor komplet kadar CEA yang meningkat harus kembali ke normal dalam 48 jam, peningkatan CEA pada tanggal selanjutnya menunjukan kekambuhan b. Digital rectal examination (DRE) Dapat digunakan sebagai pemeriksaan skrining awal. Kurang lebih 75% karsinoma rektum dapat dipalpasi pada pemeriksaan rectal. Pemeriksaan digital akan mengenali tumor yang terletak sekitar 10 cm dari rektum, tumor akan teraba keras dan menggaung. c. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan yang dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin sebelum dilakukan pemeriksaan lain. Pada pemeriksaan ini akan tampak

filling defect biasanya sepanjang 5-6cm berbentuk anular atau apple core. Dinding usus tampak rigid dan gambaran mukosa rusak. a) Foto Kolorektal: dengan barium enema dan kontras ganda b) Ultra Sonografi: identifikasi metastase dan menilai reseklabilitas c) Intra venous pyelograply (IVP) : menilai infiltrate ke system urinary d) Thoraks foto: menilai adanya metastase paru d. Endoskopi dan biopsy a) Protoskopi: deteksi kelainan 8-10 cm dari anus (polip rekti, hemorrhoid, karsinoma rectum) b) Sigmoidoskopi: mencapai 20-25 cm dari anus, untuk diagnistik dan kauterisasi. c) Kolonoskopi: dapat mencapai sakrum. e. Ultrasonografi Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian keperawatan.

8. Diagnosis Banding 1) Kolitis ulserosa 2) Penyakit Chron 3) Kolitis karena amuba atau shigella 4) Kolitis iskemik pada lansia 5) Divertikel kolon

9. Terapi/Tindakan Penanganan Berbagai jenis terapi tersedia untuk pasien kanker rektal. Beberapa adalah terapi standar dan beberapa lagi masih diuji dalam penelitian klinis. Tiga terapi standar untuk kanker rektal yang sering digunakan antara lain: a. Pembedahan Pembedahan merupakan terapi yang paling lazim digunakan terutama untuk stadium I dan II kanker rektal, bahkan pada pasien suspek dalam stadium III juga dilakukan pembedahan. Meskipun begitu, karena

kemajuan ilmu dalam metode penentuan stadium kanker, banyak pasien kanker rektal dilakukan pre-surgical treatment dengan radiasi dan kemoterapi. Penggunaan kemoterapi sebelum pembedahan dikenal sebagai neoadjuvant chemotherapy, dan pada kanker rektal, neoadjuvant chemotherapy digunakan terutama pada stadium II dan III. Pada pasien lainnya yang hanya dilakukan pembedahan, meskipun sebagian besar jaringan kanker sudah diangkat saat operasi, beberapa pasien masih membutuhkan kemoterapi atau radiasi setelah pembedahan untuk membunuh sel kanker yang tertinggal (Anderson, 2006). Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut (Doughty & Jackson, 1993 dalam Brunner & Suddarth, 2002): a) Reseksi segmental dengan anastomosis (pengangkatan tumor dan porsi usus pada sisi pertumbuhan pembuluh darah, dan nodus limfatik) b) Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen (pengangkatan tumor dan prosi sigmoid dan semua rectum serta sfingkter anal) c) Kolostomi sementara diikuti reanastomosis reseksi segmental dan anastomisis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi

(memungkinkan dekompresi usus awal dan persiapan usus sebelum reseksi) d) Kolostomi permanen atau ileostomi (untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak dapat direseksi) Berkenaan dengan teknik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi sebagai diversi sementara atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi ini kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan penempatan kolostomi, yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi jaringan sekitar (Brunner & Suddarth, 2002).

Prosedur pelaksanaan reseksi dan kolostomi (Brunner & Suddarth, 2002):


Jahitan oeritoneum

Kolostomi

Tumor rektum

1. sebelum pembedahan

2. Selama pembedahan, sigmoid diangkat dan dibuatkan kolostomi. Usus distal telah didiseksi bebas pada titik dibawah peritoneum pelvis bawah, yang djahit diatas ujung tertututp dari sigmoid distal dan rektum

Kolostomi

Drein perineal

Luka perineal yang sembuh

3. Reseksi perineal mencakup pengangkatan rectum dan porsi bebas dari sigmoid bawah, drein perineal diinsersi.

4. Hasil akhir setelah penyembuhan dengan kolostomi permanen.

b. Radiasi Sebagai mana telah disebutkan, untuk banyak kasus stadium II dan III lanjut, radiasi dapat menyusutkan ukuran tumor sebelum dilakukan pembedahan. Peran lain radioterapi adalah sebagai sebagai terapi tambahan untuk pembedahan pada kasus tumor lokal yang sudah diangkat melaui pembedahan, dan untuk penanganan kasus metastasis jauh tertentu. Terutama ketika digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi, radiasi yang digunakan setelah pembedahan menunjukkan telah menurunkan risiko kekambuhan lokal di pelvis sebesar 46% dan angka kematian sebesar 29%. Pada penanganan metastasis jauh, radiasi telah berguna mengurangi efek lokal dari metastasis tersebut, misalnya pada otak. Radioterapi umumnya digunakan sebagai terapi paliatif pada pasien yang memiliki tumor lokal yang unresectable (Mansjoer, 2000).

c. Kemoterapi

Adjuvant chemotherapy (menangani pasien yang tidak terbukti memiliki penyakit residual tapi beresiko tinggi mengalami kekambuhan), dipertimbangkan pada pasien dimana tumornya menembus sangat dalam atau tumor lokal yang bergerombol (Stadium II lanjut dan Stadium III). Terapi standarnya ialah dengan fluorouracil, (5-FU) dikombinasikan dengan leucovorin dalam jangka waktu enam sampai dua belas bulan. 5FU merupakan anti metabolit dan leucovorin memperbaiki respon. Agen lainnya, levamisole (meningkatkan sistem imun, dapat menjadi substitusi bagi leucovorin). Protokol ini menurunkan angka kekambuhan kira-kira 15% dan menurunkan angka kematian kira-kira sebesar 10% (Mansjoer, 2000).

11. Komplikasi Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap. Pertumbuhan dan ulserasi juga dapat menyerang pembuluh darah sekitar rectum yang menyebabkan hemoragi. Perforasi dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses. Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok (Brunner & Suddarth, 2002).

12. Prognosis Lebih dari 156.000 orang terdiagnosis setiap tahunnya, kira-kira setengah dari jumlah tersebut meninggal setiap tahunnya, meskipun tiga dari empat pasien dapat diselamatkan dengan diagnosis dini dan tindakan segera. Angka kelangsungan hidup di bawah 5 tahun adalah 40% sampai 50%, terutama karena terlambat dalam diagnosis dan adanya metastase (Brunner & Suddarth, 2002). Jumlah kematian akibat operasi sekitar 2-6 %. Persentasi jangka hidup 5 tahun. Sesudah reseksi tergantung dari stadium lesi. Berikut persentase kesembuhan menurut klasifikasi Duke: Duke A (terbatas pada dinding usus) 80%, Duke B (melalui seluruh dinding) 65%, Duke C (metastase ke kelenjar getah bening) 30%, Duke D (metastase ke tempat yang jauh/penyebaran lokal tidak di reseksi lagi) 5%. Secara

keseluruhan 5-year survival rates untuk kanker rektal adalah sebagai berikut: Stadium I - 72%, Stadium II - 54%, Stadium III - 39%, Stadium IV - 7% (Samsuhidayat, 2004). B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1) PENGKAJIAN Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk memperoleh informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien. Data Fokus Pre operasi Data subjektif: Klien mengatakan mengalami berak darah Klien mengeluh nyeri pada perut Klien mengaku sering mengonsumsi daging, makanan berlemak dan tidak suka mengonsumsi makanan berserat dan sayuran Klien mengeluh ada perubahan pola defekasi (konstipasi) Klien mengeluh mual muntah Klien mengeluh nafsu makannya menurun Klien mengeluh berat badannya turun tanpa sebab Klien mengeluh keletihan Klien mengeluh merasa sensasi seperti belum selesai BAB (masih ingin tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses menjadi lebih sempit). Data objektif: Klien tampak pucat Klien tampak meringis Klien tampak lemas Bising usus dapat menurun (<3x/menit) Teraba masa di rektum Klien tampak kurus

Post operasi Data subjektif: Klien mengatakan nyeri pada area post operasi

Data objektif: Klien tampak meringis Klien tampak gelisah Tampak bekas luka post operasi Tampak stoma kolostomi

Pengkajian

menggunakan

11

Pola

Fungsional

Gordon

dan

pemeriksaan fisik. Adapun hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kanker rektum mulai dari sebelum masuk rumah sakit sampai dengan saat sudah dirawat di rumah sakit adalah sebagai berikut: 1. Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan a) Deskripsi pasien tentang status kesehatan secara umum dan perubahan status kesehatan dalam kurun waktu tertentu: riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang perasaan lelah, adanya nyeri abdomen atau rectal dan karakternya (lokasi, frekuensi, durasi berhubungan dengan makan atau defekasi). b) Riwayat sakit pasien sebelumnya: apakah pasien pernah mengalami penyakit usus inflamasi kronis atau polip kororektal, operasi dan riwayat dirawat di rumah sakit sebelumnya. c) Aktivitas yang dilakukan pasien dalam pencegahan penyakit. d) Obat-obatan dan vitamin yang diminum sekarang dan persepsi pasien terhadap pengobatan dan perawatan yang dijalani. e) Alergi makanan atau obat-obatan. f) Persepsi pasien terhadap penyebab sakit saat ini dan upaya yang dilakukan serta apakah upaya tersebut telah dapat membantu mengatasi permasalahan pasien. g) Penggunaan alkohol, tembakau dan obat-obatan. h) Riwayat penyakit keluarga: apakah salah satu keluarga ada yang menderita penyakit kolorektal.

i) Dikaji

pula

pengetahuan

pasien

tentang

penyakit

termasuk

penatalaksanaannya.

2. Nutrisi-Metabolik Makan a) Kaji tipe intake makanan sehari-hari (pada waktu pasien belum masuk rumah sakit), meliputi jenis makanan yang dikonsumsi, frekuensi, porsi makanan yang habis dikonsumsi, waktu makan dan snack. b) Nafsu makan saat ini apakah mengalami penurunan atau tidak. Pada beberapa kasus dapat ditemukan pasien mengalami penurunan nafsu makan. c) Adakah perubahan pada sensasi kecap. d) Intake makanan terakhir yang dikonsumsi sebelum masuk rumah sakit. e) Pembatasan diet atau tipe makanan yang diresepkan di rumah sakit. f) Porsi makanan yang habis dikonsumsi di rumah sakit. g) Kesulitan dalam mengunyah atau menelan makanan. h) Kehilangan BB yang terjadi saat ini. i) Ada atau tidaknya penggunaan alat bantu nutrisi seperti NGT j) Penggunaan suplemen, atau vitamin tertentu. k) Mual atau muntah (berapa kali muntah). Note: pengkajian riwayat makanan yang sering dimakan oleh pasien sangat penting untuk dikaji terkait dengan kanker rectum yang dialami oleh pasien, pengkajian ditekankan pada kebiasaan pasien dalam mengonsumsi lemak dan makanan kurang serat dan riwayat adanya penurunan berat badan yang tanpa alas an. Minum a) Kaji intake minum sehari-hari. b) Adakah rasa haus yang berlebih. c) Minuman yang telah dikonsumsi, jumlahnya berapa ml atau gelas. d) Kaji jumlah cairan melalui IV yang telah masuk sehingga diketahui cairan masuk pada pasien.

3. Eliminasi BAB a. Frekuensi BAB perhari, konsistensi feses, warna feses, ada tidaknya darah atau lendir. b. BAB pasien yang terakhir. c. Adanya konstipasi atau tidak. d. Adanya penggunaan alat bantu ekskratory seperti kolostomi. e. Adanya penggunaan laksatif atau tidak. f. Adanya perubahan pada defekasi. BAK a. Frekuensi BAK, warna, jernih/tidak, ada darah/tidak, jumlah urine (ml) b. Nyeri saat berkemih c. Penggunaan kateter d. Penggunaan obat diuretik 4. Aktivitas-latihan Kemampuan Perawatan Diri Makan/Minum Mandi Toileting Berpakaian Mobilisasi Berpindah Ambulasi Rom 0 : Mandiri 1 : Alat bantu 2 : Dibantu orang lain Hal-hal yang perlu dikaji lainnya: a) Persepsi respon terhadap aktivitas seperti pusing, lemah. b) Aktivitas pada waktu luang dan rekreasi 3 : Dibantu orang lain dan alat 4 : Tergantung total 0 1 2 3 4

5. Istirahat dan Tidur a) Kebiasaan tidur (berapa jam)

b) Kebiasaan tidur siang c) Perubahan tidur yang terjadi d) Perasaan setelah bangun tidur e) Permasalahan tidur yang dialami seperti kesulitan tertidur kembali setelah bangun, insomnia. f) Penggunaan obat tidur g) Ritual khusus sebelum tidur h) Kondisi lingkungan seperti kebisingan, kondisi tempat tidur atau hospitalisasi yang mempengaruhi tidur pasien.

6. Kognitif-Perseptual a) Status pendengaran seperti gangguan pendengaran, ataupun

penggunaan alat bantu dengar. b) Status penglihatan seperti gangguan penglihatan dan penggunaan kaca mata. c) Pengecap dan pembau. d) Sensasi perabaan seperti masalah dengan sensasi perabaan seperti baal atau kesemutan. e) Nyeri yang meliputi PQRST (pencetus, kualitas nyeri, lokasi, skala dan waktu munculnya nyeri). Pasien biasanya akan mengeluhkan mengalami nyeri pada abdomen dan tenesmus. f) Fungsi kognisi dalam memori istilah, ingatan jangka pendek, ingatan jangka panjang g) Riwayat setiap perubahan dalam level kesadaran atau periode kebingungan h) Komunikasi yang meliputi bahasa utama, bahasa lain,

tingkatpendidikan, kemampuan membaca dan menulis i) Derajat kemampuan memecahkan masalah, dan derajat kemampuan pengambilan keputusan. j) Perasaan berputar, riwayat pingsan, kejang atau sakit kepala. k) Kemampuan memahami dan manajemen nyeri yang dilakukan.

7. Persepsi diri dan Konsep diri a) Perasaan pasien berhubungan dengan keadaan/penyakitnya harga diri, ideal, identitas, gambaran diri. b) Deskripsi pasien tentang diri sendiri. c) Adanya ketakutan, kecemasan dan depresi atau merasa kehilangan kontrol. d) Pengalaman yang berhubungan dengan perasaan keputusasaan.

8. Peran dan Hubungan a) Bentuk struktur keluarga b) Cara hidup seperti sendirian, dengan keluarga c) Peran dalam keluarga (pemberi perawatan di rumah, pencari nafkah) d) Persepsi dari efek masalah kesehatan saat ini atau situasi saat ini terhadap peran. e) Kepuasan/ketidakpuasan terhadap peran f) Kecukupan keuangan untuk memenuhi kebutuhan saat ini g) Kecukupan dukungan atau hubungan keluarga untuk memenuhi kebutuhan saat ini h) Pekerjaan dan status pekerjaan i) Masalah keluarga berhubungan dengan perawatan j) Komunikasi antar anggota keluarga.

9. Seksual dan Reproduksi a) Jenis kelamin. b) Jumlah anak. c) Masalah dengan menstruasi. d) Masalah seksual yang berhubungan dengan penyakit. e) Riwayat reproduksi, hamil terakhir, riwayat melahirkan. f) Kontrasepsi yang digunakan.

10. Koping-Stres a) Perubahan, masalah saat ini, kejadian yang menyebabkan stress.

b) Krisis saat ini misalhnya hospitalisasi, sakit. c) Level stress saat ini. d) Penggunaan obat atau alkohol untuk koping. e) Metode koping yang digunakan. f) Penggunaan koping tersebut untuk mengatasi masalah. g) Kehilangan atau perubahan besar yang dialami di masa lalu. h) Orang terdekat dengan pasien.

11. Nilai dan Kepercayaan a) Agama yang dianut. b) Aktivitas sembahyang pasien. c) Pantangan agama atau keyakinan tertentu. d) Permintaan kunjungan rohaniwan. e) Kepercayaan spiritual yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan praktek kesehatan. f) Kepercayaan kultural yang berhubungan dengan kesehatan dan nilai. g) Persepsi terhadap kepuasan hidup.

Selain 11 Pola Fungsional Gordon, pemeriksaan fisik yang perlu dikaji pada pasien dengan kanker rectum antara lain: 1. Kulit, Rambut dan Kuku Inspeksi: warna kulit, kondisi kuku, warna kuku, kebersihan kulit kepala, kaji warna rambut, kebersihan kulit, turgor, oedem. 2. Kepala dan Leher Inspeksi: bentuk kepala. Palpasi: nyeri tekan, distensi vena jugularis, ada/tidak benjolan pada kepala. 3. Mata dan Telinga a) Mata

Inspeksi: bentuk bola mata, pergerakan bola mata, ptosis ada/tidak, nistagmus ada/tidak, refleks cahaya pada kedua mata,

sklera/konjungtiva. Palpasi: nyeri tekan bola mata, benjolan pada mata. b) Telinga Inspeksi: bentuk daun telinga, kebersihan liang telinga, ada/tidaknya lesi pada telinga, bengkak atau peradangan pada mastoid ada/tidak, adanya serumen atau tidak, adanya otitis media atau tidak. Palpasi: nyeri tekan ada/tidak. 4. Sistem Pernafasan: Inspeksi: bentuk dada, saat inspirasi apakah ada bagian yang tertinggal, ada tidaknya retraksi otot bantu pernapasan, pernapasan cuping hidung, RR = x/menit, apakah ada batuk. Palpasi: taktil fremitus pada kedua lapang paru, kondisi kulit dinding dada, nyeri tekan, massa, pembengkakan atau benjolan, kesimetrisan ekspansi Perkusi: pada daerah yang terdapat udara terdengar hipersonor dan pada daerah yang terdapat cairan terdengar suara pekak. Auskultasi:suara napas apakah vesikuler atau ronchi. (Pada umumnya, area paru yang terdapat infiltratnya akan terdengar ronchi). 5. Sistem Kardiovaskular : Nyeri dada Palpitasi CRT Ya Ya < 3 dtk Tidak Tidak > 3 dtk

Inspeksi: kaji letak ictus cordis (letak ictus cordis normal berada pada ICS 5 pada linea medio claviculas kiri selebar 1 cm). Palpasi: denyut jantung teraba/tidak, HR = x/menit, irama dan kedalaman denyut jantung. Perkusi: pergeseran letak jantung. Auskultasi: Bunyi jantung S1 S2, ada gallop atau tidak, adanya murmur atau tidak ada.

(pada umumnya, pasien mengalami nyeri dada dan dapat diikuti dengan peningkatan tanda-tanda vital. Selain itu, nilai analisa gas darah juga mungkin abnormal yang dapat ditandai dengan gejala sesak nafas, CRT > 3 detik). 6. Payudara Pria dan Wanita Inspeksi:bentuk payudara, apakah adanya luka atau tidak, warna kulit di sekitar payudara. Palpasi:apakah ada nyeri tekan atau tidak, apakah teraba massa atau tidak. 7. Sistem Gastrointestinal Inspeksi: bentuk abdomen, asites ada/tidak ada, mukosa

(lembab/kering/stomatitis). Palpasi: nyeri tekan ada/tidak ada, ada/tidak teraba benjolan. Perkusi: terdengar suara timpani pada lambung (regio kiri atas) dan pekak pada regio yang lain. Auskultasi: peristaltik: ... x/mnt 8. Sistem Urinarius Penggunaan alat bantu/ kateter, adanya nyeri tekan kandung kencing, gangguan eliminasi urin (anuria/oliguria/retensi/inkontinensia/nokturia) Lain-lain: Palpasi: nyeri tekan, ada tidaknya benjolan, ada tidaknya distensi. Perkusi:terdengar suara timpani pada pelvis. 9. Sistem Reproduksi Wanita/Pria Inspeksi: kaji kondisi alat kelamin, kebersihan, ada peradangan atau benjolan. 10. Sistem Saraf GCS (Eye, Verbal, Motorik) Gerakan involunter: ada/tidak ada tremor pada lidah, tangan. 11. Sistem Muskuloskeletal Hal-hal yang perlu dikaji: kemampuan pergerakan sendi (bebas/terbatas), ada tidaknya deformitas, kekakuan, nyeri sendi/otot, sianosis atau edema pada ektremitas, akral.

12. Sistem Imun Hal-hal yang perlu dikaji: perdarahan gusi, perdarahan lama,

pembengkakan keletihan/kelemahan. Pada umumnya, dapat ditemukan pasien mengalami keletihan dan kelemahan akibat penurunan suplai oksigen ke jaringan perifer. 13. Sistem Endokrin: Hal-hal yang perlu dikaji: kadar glukosa.

2) DIAGNOSA KEPERAWATAN Pre-operasi 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis sekunder akibat obstruksi rectal, ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada perut bawah, skala nyeri 1-10, tekanan darah klien meningkat (>120/80 mmHg), denyut nadi klien meningkat (>100 x/menit), klien tampak meringis kesakitan dan memegangi daerah yang nyeri. 2. PK: Anemia 3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis progresifitas penyakit kanker rectum serta akibat mual dan muntah, ditandai dengan klien mengatakan mengalami mual muntah, klien tidak nafsu makan, BB menurun 20% atau lebih di bawah BB ideal, klien tampak lemah, adanya penurunan albumin serum (<3,4 g/dL), lingkar lengan kurang dari 60% standar pengukuran. 4. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi akibat tumor, ditandai dengan feses keras, defekasi kurang dari tiga kali seminggu, defekasi lama dan sulit, penurunan bising usus (<3x/menit), klien mengeluh rectal terasa penuh, pengosongan terasa tidak adekuat. 5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit dan prosedur pembedahan, berhubungan dengan kurang paparan informasi, ditandai dengan klien bertanya-tanya tentang penyakit, prosedur pembedahan.

Post-operasi

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik akibat pembedahan ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada luka bekas operasi, skala nyeri 1-10, tekanan darah klien meningkat (>120/80 mmHg), denyut nadi klien meningkat (>100 x/menit), klien tampak meringis kesakitan dan memegangi daerah yang nyeri. 2. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat akibat luka post operasi. 3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan (kolostomi) dan adanya stoma, ditandai dengan klien mengatakan merasa malu dengan kondisi dirinya. 4. Kurang pengetahuan mengenai cara perawatan di rumah setelah pulang berhubungan dengan kurang paparan informasi, ditandai dengan klien bertanya-tanya tentang cara perawatan di rumah setelah pulang, klien mengatakan tidak tahu cara perawatan stoma.

3) INTERVENSI Pre-operasi 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis sekunder akibat obstruksi rectal, ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada perut bawah, skala nyeri 1-10, tekanan darah klien meningkat (>120/80 mmHg), denyut nadi klien meningkat (>100 x/menit), klien tampak meringis kesakitan dan memegangi daerah yang nyeri. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama..x jam diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol, dengan kriteria hasil: a. Pain level (level nyeri): Klien tidak melaporkan adanya nyeri (skala 5 = none) Klien tidak merintih ataupun menangis (skala 5 = none) Klien tidak menunjukkan ekspresi wajah terhadap nyeri (skala 5 = none) Klien tidak tampak berkeringat dingin (skala 5 = none) RR dalam batas normal (16-20 x/mnt) (skala 5 = normal)

Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt) (skala 5 = normal) Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg) (skala 5 = normal)

b. Pain control (kontrol nyeri): Klien dapat mengontrol nyerinya dengan menggunakan teknik manajemen nyeri non farmakologis (skala 5 = consistently demonstrated) Klien dapat menggunakan analgesik sesuai indikasi (skala 5 = consistently demonstrated) Klien melaporkan nyeri terkontrol (skala 5 = consistently demonstrated)

Intervensi: Pain management (manajemen nyeri): 1. Lakukan pengkajian yang komprehensif terhadap nyeri, meliputi lokasi, karasteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, serta faktor-faktor yang dapat memicu nyeri. Rasional: pengkajian berguna untuk mengidentifikasi nyeri yang dialami klien meliputi lokasi, karasteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri serta faktor-faktor yang dapat memicu nyeri klien sehinggga dapat menentukan intervensi yang tepat. 2. Observasi tanda-tanda non verbal atau isyarat dari ketidaknyamanan. Rasional: dengan mengetahui rasa tidak nyaman klien secara non verbal maka dapat membantu mengetahui tingkat dan perkembangan nyeri klien. 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik dalam mengkaji pengalaman nyeri dan menyampaikan penerimaan terhadap respon klien terhadap nyeri. Rasional: membantu klien dalam menginterpretasikan nyerinya. 4. Kaji tanda-tanda vital klien.

Rasional: peningakatan tekanan darah, respirasi rate, dan denyut nadi umumnya menandakan adanya peningkatan nyeri yang dirasakan. 5. Kontrol faktor lingkungan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan, seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan. Rasional: membantu memodifikasi dan menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan klien. 6. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri non farmakologi, (mis: teknik terapi musik, distraksi, guided imagery, masase dll). Rasional: membantu mengurangi nyeri yang dirasakan klien, serta membantu klien untuk mengontrol nyerinya. 7. Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi. Rasional: membantu mengurangi nyeri yang dirasakan klien.

2. PK: Anemia Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selamax jam, perawat dapat meminimalkan komplikasi anemia yang terjadi, dengan kriteria hasil: Vital Signs: Tekanan darah dalam batas normal (110/70-130/90 mmHg) atau terkontrol. Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt) RR dalam batas normal (16-20 x/mnt) Suhu tubuh dalam batas normal (36-37,5C)

Tissue Perfussion: Peripheral CRT < 3 detik Akral hangat Klien tidak pucat

Konjungtiva berwarna merah muda.

Blood Loss Severity Hb klien dalam batas normal (12-16 g/dL). HCT dalam batas normal (45-55%) Mukosa bibir lembab. Klien tidak mengalami lemas dan lesu.

Intervensi: 1. Pantau tanda dan gejala anemia yang terjadi. Rasional: memantau gejala anemia klien penting dilakukan agar tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut. 2. Pantau tanda-tanda vital klien. Rasional: perubahan tanda vital menunujukkan perubahan pada kondisi klien. 3. Anjurkan klien mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak zat besi dan vit B12. Rasional: konsumsi makanan yang mengandung vitamin B12 dan asam volat dapat menstimulasi pemebntukan Hemoglobin. 4. Minimalkan prosedur yang bisa menyebabkan perdarahan. Rasional: prosedur yang menyebabkan perdarahan dapat

memperparah kondisi klien yang mengalami anemia. 5. Pantau nilai PT dan PTT Rasional: Pemantauan nilai PT dan PTT untuk mengkaji apakah terjadi perpanjangan waktu pembekuan darah 6. Pantau hasil lab Hb dan HCT Rasional: Penurunan Hb dan perubahan nilai HCT menunjukkan terjadi anemia pada klien Blood Products Administration: 7. Kolaborasi pemberian tranfusi darah sesuai indikasi. Rasional: transfusi darah diperlukan jika kondisi anemia klien buruk untuk menambah jumlah darah dalam tubuh.

3. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan faktor biologis progresifitas penyakit kanker rectum serta akibat mual dan muntah, ditandai dengan klien mengatakan mengalami mual muntah, klien tidak nafsu makan, BB menurun 20% atau lebih di bawah BB ideal, klien tampak lemah, adanya penurunan albumin serum (<3,4 g/dL), lingkar lengan kurang dari 60% standar pengukuran. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan x jam diharapkan pemenuhan nutrisi adekuat, dengan kriteria hasil: a. Status nutrisi: Masukan nutrisi adekuat (skala 5 = No deviation from normal range) Masukan makanan dalam batas normal (skala 5 = No deviation from normal range) Berat badan meningkat atau tetap (skala 5 = No deviation from normal range) b. Status nutrisi : masukan nutrisi: Masukan kalori dalam batas normal (skala 5= Totally adequate) Nutrisi dalam makanan cukup mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin, mineral, ion, kalsium, sodium (skala 5= Totally adequate) c. Status nutrisi : hitung biokimia Serum albumin dalam batas normal (3,4-4,8 gr/dl) (skala 5= No deviation from normal range) d. Nausea and vomiting severity (keparahan mual muntah) Klien mengatakan tidak ada mual (skala 5 = none) Klien mengatakan tidak muntah (skala 5 = none) Tidak ada peningkatan sekresi saliva (skala 5 = none)

e. Appetite (nafsu makan) Keinginan klien untuk makan meningkat (skala 5 = not compromised)

Intake makanan adekuat (porsi makan yang disediakan habis) (skala 5 = not compromised)

Intervensi: Nutrition Therapy: 1. Kaji status nutrisi klien Rasional: pengkajian penting untuk mengetahui status nutrisi klien dapat menentukan intervensi yang tepat. 2. Monitor masukan makanan atau cairan dan hitung kebutuhan kalori harian. Rasional: dengan mengetahui masukan makanan atau cairan dapat mengetahui apakah kebutuhan kalori harian sudah terpenuhi atau belum. 3. Tentukan jenis makanan yang cocok dengan tetap mempertimbangkan aspek agama dan budaya klien. Rasional: memenuhi kebutuhan nutrisi klien dengan tetap

memperhatikan aspek agama dan budaya klien sehingga klien bersedia mengikuti diet yang ditentukan. 4. Anjurkan untuk menggunakan suplemen nutrisi sesuai indikasi. Rasional: dapat membantu meningkatkan status nutrisi selain dari diet yang ditentukan.. 5. Jaga kebersihan mulut, ajarkan oral higiene pada klien/keluarga. Rasional: menjaga kebersihan mulut dapat meningkatkan nafsu makan. 6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Rasional: untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan klien. Weight management: 1. Timbang berat badan klien secara teratur. Rasional: dengan memantau berat badan klien dengan teratur dapat mengetahui kenaikan ataupun penurunan status gizi.

2. Diskusikan dengan keluarga klien hal-hal yang menyebabkan penurunan berat badan. Rasional: membantu memilih alternative pemenuhan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan penyebab penurunan berat badan. 3. Pantau konsumsi kalori harian. Rasional: membantu mengetahui masukan kalori harian klien disesuaikan dengan kebutuhan kalori sesuai usia. 4. Pantau hasil laboratorium, seperti kadar serum albumin, dan elektrolit. Rasional: kadar albumin dan elektrolit yang normal menunjukkan status nutrisi baik. Sajikan makanan dengan menarik. 5. Tentukan makanan kesukaan, rasa, dan temperatur makanan. Rasional: meningkatkan nafsu makan dengan intake dan kualitas yang maksimal. 6. Anjurkan penggunaan suplemen penambah nafsu makan. Rasional: dapat membantu meningkatkan nafsu makan klien sehingga dapat meningkatkan masukan nutrisi. Nausea management: 1. Dorong klien untuk mempelajari strategi untuk memanajemen mual Rasional: Dengan mendorong klien untuk mempelajari strategi manajemen mual, akan membantu klien untuk melakukan manajemen mual secara mandiri. 2. Kaji frekuensi mual, durasi, tingkat keparahan, factor frekuensi, presipitasi yang menyebabkan mual. Rasional: Penting untuk mengetahui karakteristik mual dan faktorfaktor yang dapat menyebabkan atau meningkatkan mual muntah pada klien dan membantu dalam memberikan intervensi yang tepat. 3. Kaji riwayat diet meliputi makanan yang tidak disukai, disukai, dan budaya makan. Rasional: Untuk mengetahui makanan yang dapat menurunkan dan meningkatkan nafsu makan klien selama tidak ada kontra indikasi. 4. Kontrol lingkungan sekitar yang menyebabkan mual.

Rasional: Faktor-faktor seperti pemandangan dan bau yang tidak sedap saat makan dapat meningkatkan perasaan mual pada klien. 5. Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi mual (relaksasi, guide imagery, distraksi). Rasional: Teknik manajemen mual nonfarmakologi dapat membantu mengurangi mual secara nonfarmakologi dan tanpa efek samping. 6. Dukung istirahat dan tidur yang adekuat untuk meringankan nausea. Rasional: Tidur dan istirahat dapat membantu klien lebih relaks sehingga mengurangi mual yang dirasakan. 7. Ajarkan untuk melakukan oral hygine untuk mendukung kenyaman dan mengurangi rasa mual. Rasional: Mulut yang tidak bersih dapat mempengaruhi rasa makanan dan menimbulkan mual. 8. Anjurkan untuk makan sedikit demi sedikit. Rasional: Pemberian makan secara sedikit demi sedikit baik untuk mengurangi rasa penuh dan enek di perut. 9. Pantau masukan nutrisi sesuai kebutuhan kalori. Rasional: Kebutuhan kalori perlu dipertimbangkan untuk tetap mempertahankan asupan nutrisi adekuat.

4. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi akibat tumor, ditandai dengan feses keras, defekasi kurang dari tiga kali seminggu, defekasi lama dan sulit, penurunan bising usus (<3x/menit), klien mengeluh rectal terasa penuh, pengosongan terasa tidak adekuat. Tujuan: Setelah diberikan askep selama . x jam diharapkan eliminasi fekal klien normal, dengan kriteria hasil : Bowel elimination: Frekuensi BAB kembali sesuai kebiasaan pasien (skala 5 = not compromised) Feses klien lembek dan berbentuk (skala 5 = not compromised) Tidak ada kesulitan defekasi (skala 5 = none)

Tidak ada konstipasi (skala 5 = none) Tidak ada darah dalam feses (skala 5 = none) Tidak ada lemak dalam feses (skala 5 = none) Tidak ada nyeri saat BAB (skala 5 = none)

Intervensi : Bowel Management 1. Catat waktu terakhir pasien BAB, konsistensi, warna, jumlah Rasional: mengakaji lebih dalam mengenai konstipasi yang dialami klien. 2. Ajarkan pasien untuk mengonsumsi makanan yang mengandung serat seperi pepaya Rasional: makanan yang mengandung serat memperlancar dalam mengeluarkan feses 3. Kolaborasi pemberian obat suposituria sesuai indikasi Rasional: merangsang klien untuk BAB 4. Anjurkan pasien untuk tidak menahan-nahan keinginan untuk BAB Rasional: menahan keinginan BAB dapat memperberat terjadinya konstipasi 5. Anjurkan pasien untuk meningkatkan hidrasi, terutama air hangat Rasional : tingkat hidrasi yang adekuat dapat merangsang proses defekasi. 6. Anjurkan klien untuk tidak mengejan Rasional : mengejan dapat meningkatkan TIK dan memperburuk kondisi klien

5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit dan prosedur pembedahan, berhubungan dengan kurang paparan informasi, ditandai dengan klien bertanya-tanya tentang penyakit, prosedur pembedahan. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x jam diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan klien dan keluarga, dengan kriteria hasil: Knowledge: Disease Process

Klien dan keluarga memahami tentang proses penyakit, penyebab penyakit, komplikasi penyakit dan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi penyakit (Skala 5 = extensive knowledge)

Knowledge: Diet Klien dan keluarga memahami tentang diet pada penyakit kanker, meliputi makanan yang dianjurkan dan dihindari, dan makanan pemicu kanker (Skala 5 = extensive knowledge) Knowledge: Treatment Procedure Klien dan keluarga memahami tentang prosedur pembedahan, tujuan, lama tindakan, dan efek tindakan (Skala 5 = extensive knowledge) Intervensi: Teaching: Disease Proses 1. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga yang berhubungan dengan perkembangan penyakit. Rasional: mengetahui tingkat pengetahuan keluarga klien akan membantu dalam proses pemberian informasi dan jenis paparan yang harus diberikan. 2. Jelaskan patofisiologi perjalanan penyakit, penyebab, komplikasi penyakit, usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi penyakit dan kondisi penyakit klien saat ini. Rasional: memberikan paparan pengetahuan kepada keluarga klien sehingga klien memahami kondisi penyakitnya dan membantu keluarga klien dalam menentukan pengobatan yang dilakukan. 3. Diskusikan terapi pengobatan yang perlu dilakukan klien Rasional: Membantu klien dalam memilih treatment yang sesuai dengan tingkat perkembangan penyakit dan tingkat ekonomi klien. 4. Informasikan pasien tentang efek samping pengobatan dan upaya yang dilakukan dalam mengurangi/meminimalisir efek samping dari pengobatan tersebut. Rasional: Membantu klien mempersiapkan diri terhadap efek samping dari pengobatan. Teaching: Procedure

1. Jelaskan tentang prosedur pembedahan yang akan dijalani klien, meliputi prosedur, tujuan, lama tindakan, komplikasi). Rasional: memberikan paparan pengetahuan kepada keluarga dan klien sehingga klien memahami prosedur pembedahan yang akan dilakukan dan mempersiapkan diri terhadap proses pembedahan. 2. Berikan kesempatan bagi klien/keluarga untuk menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti. Rasional: memberikan paparan pengetahuan sesuai yang dibutuhkan klien dan keluarga. Teaching: Prescribed diet 1. Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai diet saat ini Rasional: mengetahui tingkat pengetahuan klien dan keluarga yang berhubungan dengan diet saat ini. 2. Jelaskan tujuan diet, meliputi makanan yang dianjurkan dan dihindari, serta makanan pemicu kanker. Rasional: memberikan paparan pengetahuan kepada klien dan keluarga sehingga memahami diet yang tepat untuk klien sesuai dengan kondisi penyakit klien. 3. Berikan contoh-contoh menu makanan harian yang bisa diaplikasikan oleh klien dan keluarga. Rasional: membantu klien dalam menu makanan yang sesuai dengan tingkat perkembangan penyakit dan tingkat ekonomi klien. 4. Bantu klien untuk menyesuaikan makanan pilihan dengan diet yang dianjurkan Rasional: klien dapat mengikuti diet dengan tepat dan tetap disukai oleh klien 5. Libatkan keluarga dalam pemberian informasi. Rasional: keluarga sangat berperan penting dalam membantu proses penyembuhan klien.

Post-operasi

1. Nyeri

akut

berhubungan

dengan

agen

cedera

fisik

akibat

pembedahan ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada luka bekas operasi, skala nyeri 1-10, tekanan darah klien meningkat (>120/80 mmHg), denyut nadi klien meningkat (>100 x/menit), klien tampak meringis kesakitan dan memegangi daerah yang nyeri. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama..x jam diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol, dengan kriteria hasil: a. Pain level (level nyeri): Klien tidak melaporkan adanya nyeri (skala 5 = none) Klien tidak merintih ataupun menangis (skala 5 = none) Klien tidak menunjukkan ekspresi wajah terhadap nyeri (skala 5 = none) Klien tidak tampak berkeringat dingin (skala 5 = none) RR dalam batas normal (16-20 x/mnt) (skala 5 = normal) Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt) (skala 5 = normal) Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg) (skala 5 = normal) b. Pain control (kontrol nyeri): Klien dapat mengontrol nyerinya dengan menggunakan teknik manajemen nyeri non farmakologis (skala 5 = consistently demonstrated) Klien dapat menggunakan analgesik sesuai indikasi (skala 5 = consistently demonstrated) Klien melaporkan nyeri terkontrol (skala 5 = consistently demonstrated)

Intervensi: Pain management (manajemen nyeri):

1. Lakukan pengkajian yang komprehensif terhadap nyeri, meliputi lokasi, karasteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, serta faktor-faktor yang dapat memicu nyeri. Rasional: pengkajian berguna untuk mengidentifikasi nyeri yang dialami klien meliputi lokasi, karasteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri serta faktor-faktor yang dapat memicu nyeri klien sehinggga dapat menentukan intervensi yang tepat. 2. Observasi tanda-tanda non verbal atau isyarat dari ketidaknyamanan. Rasional: dengan mengetahui rasa tidak nyaman klien secara non verbal maka dapat membantu mengetahui tingkat dan perkembangan nyeri klien. 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik dalam mengkaji pengalaman nyeri dan menyampaikan penerimaan terhadap respon klien terhadap nyeri. Rasional: membantu klien dalam menginterpretasikan nyerinya. 4. Kaji tanda-tanda vital klien. Rasional: peningakatan tekanan darah, respirasi rate, dan denyut nadi umumnya menandakan adanya peningkatan nyeri yang dirasakan. 5. Kontrol faktor lingkungan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan, seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan. Rasional: membantu memodifikasi dan menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan klien. 6. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri non farmakologi, (mis: teknik terapi musik, distraksi, guided imagery, masase dll). Rasional: membantu mengurangi nyeri yang dirasakan klien, serta membantu klien untuk mengontrol nyerinya. 7. Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi. Rasional: membantu mengurangi nyeri yang dirasakan klien.

2. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat akibat luka post operasi. Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .....x jam diharapkan tidak terjadi infeksi, dengan kriteria hasil : a. Infection Severity Tidak ada kemerahan (Skala 5 = None) Tidak terjadi hipertermia (Skala 5 = None) Tidak ada nyeri (Skala 5 = None) Tidak ada pembengkakan (Skala 5 = None) Tidak ada drainase purulen (Skala 5 = None) WBC dalam batas normal (4,6 10,2 k/ul) (skala 5 = no deviation from normal range) b. Vital Signs Suhu dalam batas normal (36,5o 37oC) (skala 5 = no deviation from normal range) Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg) (skala 5 = no deviation from normal range) Nadi dalam batas normal (60-100 x/mnt) (skala 5 = no deviation from normal range) RR dalam batas normal (12-20 x/mnt) (skala 5 = no deviation from normal range) c. Risk Control (Kontrol resiko) Klien mampu menyebutkan factor-faktor resiko penyebab infeksi (Skala 5 = Consistenly demonstrated) Klien mampu memonitor lingkungan penyebab infeksi (Skala 5 = Consistenly demonstrated) Klien mampu memonitor tingkah laku penyebab infeksi (Skala 5 = Consistenly demonstrated) Tidak terjadi paparan saat tindakan keperawatan (Skala 5 = Consistenly demonstrated)

Intervensi: Infection control (kontrol infeksi) 1. Bersihkan lingkungan setelah digunakan oleh klien. Rasional: Agar bakteri dan penyakit tidak menyebar dari lingkungan dan orang lain. 2. Jaga agar barier kulit yang terbuka tidak terpapar lingkungan dengan cara menutup dengan kasa streril. Rasional: Mengurangi paparan dari lingkungan. 3. Batasi jumlah pengunjung. Rasional: Mengurangi organism patogen masuk ke tubuh klien. 4. Ajarkan klien dan keluarga tekhnik mencuci tangan yang benar. Rasional: Mencegah terjadinya infeksi dari mikroorganisme yang ada di tangan. 5. Gunakan sabun anti mikrobial untuk mencuci tangan. Rasional: Mencuci tangan menggunakan sabun lebih efektif untuk membunuh bakteri. 6. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan. Rasional: Mencegah infeksi nosokomial. 7. Terapkan Universal precaution. Rasional: Mencegah infeksi nosokomial. 8. Pertahankan lingkungan aseptik selama perawatan. Rasional: untuk meminimalkan terkontaminasi mikroba atau bakteri. 9. Anjurkan klien untuk memenuhan asupan nutrisi dan cairan adekuat. Rasional: Menjaga ketahanan sistem imun. 10. Ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari infeksi. Rasional: infeksi lebih lanjut dapat memperburuk resiko infeksi pada klien. 11. Ajarkan pada klien dan keluarga tanda-tanda infeksi. Rasional: agar dapat melaporkan kepada petugas lebih cepat, sehingga penangan lebih efisien.

12. Kolaborasi pemberian antibiotik bila perlu. Rasional: untuk mempercepat perbaikan kondisi klien Infection protection (proteksi terhadap infeksi) 1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal Rasional: agar memudahkan pengambilan intervensi 2. Monitor hitung granulosit, WBC Rasional: sebagai monitor adanya reaksi infeksi. 3. Berikan perawatan kulit. Rasional: kulit merupakan pertahanan pertama dari bakteri. 4. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas dan drainase Rasional: merupakan tanda-tanda terjadinya infeksi. 5. Inspeksi kondisi luka Rasional: untuk mempermudah pengambilan intervensi selanjutnya Wound care 1. Monitor karakteristik luka, meliputi warna, ukuran, bau dan pengeluaran pada luka Rasional : memonitor karakteristik luka dapat membantu perawat dalam menentukan perawatan luka dan penangan yang sesuai untuk pasien 2. Bersihkan luka dengan normal salin Rasional : normal salin adalah cairan fisologis yang mirip dengan cairan tubuh sehingga aman digunakan untuk membersihkan dan merawat luka. 3. Lakukan pembalutan pada luka sesuai dengan kondisi luka Rasional : permbalutan luka dilakukan untuk mempercepat proses penutupan luka. Pemilihan bahan dan cara balutan disesuaikan dengan jenis luka pasien. 4. Pertahankan teknik steril dalam perawatan luka pasien Rasional : perawatan luka dengan tetap menjaga kesterilan dapat menghindarkan pasien dari infeksi.

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan (kolostomi) dan adanya stoma, ditandai dengan klien merasa malu dengan kondisi dirinya. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x jam diharapkan gangguan citra tubuh klien dapat teratasi dengan kriteria hasil: Adaptation to physical disability: Klien mampu mengungkapkan kemampuan untuk mengatasi

keterbatasan (skala 5=Consistenly demonstrated) Klien mampu beradaptasi dengan keterbatasan fungsi dan struktur tubuhnya (skala 5=Consistenly demonstrated) Klien menerapkan strategi untuk mengurangi keterbatasan (skala 5=Consistenly demonstrated) Intervensi: Body Image Enhancement: 1. Kaji penilaian dasar klien tentang citra tubuhnya Rasional: memberikan kesempatan klien untuk mengidentifiksai citra tubuhnya dan ketakutannya akan terjadinya perubahan bentuk dan fungsi 2. Identifikasi efek perubahan bentuk tubuh pasien terhadap budaya, agama, perilaku seksual, dll Rasional: membantu klien dalam beradaptasi di lingkungan hidupnya 3. Diskusikan tentang perubahan yang dapat terjadi pada klien akibat dari proses penyakitnya Rasional: mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi

persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/konseling lebih lanjut 4. Perhatikan frekuensi pasien dalam mengkritik dirinya Rasional: dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptif, membutuhkan intervensi lebih lanjut/dukungan psikologis 5. Diskusikan tentang bagaimana orang terdekat dapat menerima keterbatasnnya

Rasional: isyarat verbal/nonverbal orang terdekat dapat memberikan pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri. 6. Berikan bantuan positif bila diperlukan Rasional: memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri, menguatkan perilaku positif, dan meningkatkan rasa percaya diri

4. Kurang pengetahuan mengenai cara perawatan di rumah setelah pulang berhubungan dengan kurang paparan informasi, ditandai dengan klien bertanya-tanya tentang cara perawatan di rumah setelah pulang, klien mengatakan tidak tahu cara perawatan stoma. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x jam diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan klien dan keluarga, dengan kriteria hasil: Knowledge: Ostomy care Klien dan keluarga memahami tentang tujuan dan fungsi stoma, cara perawatan stoma, penggantian kantong stoma, perawatan kulit sekitar stoma (Skala 5 = extensive knowledge) Intervensi: Teaching: Treatment 1. Jelaskan cara perawatan di rumah setelah pulang (perawatan luka post operasi, tujuan dan fungsi stoma, cara perawatan stoma, penggantian kantong stoma, perawatan kulit sekitar stoma). Rasional: memberikan paparan pengetahuan kepada klien sehingga klien memahami cara perawatan dirinya. 2. Berikan kesempatan bagi klien/keluarga untuk menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti. Rasional: memberikan paparan pengetahuan sesuai yang dibutuhkan klien dan keluarga. 3. Libatkan keluarga dalam pemberian informasi. Rasional: keluarga sangat berperan penting dalam membantu proses penyembuhan klien.

4) IMPLEMENTASI Implementasi merupakan pelaksanaan dari perencanaan yang dibuat.

5) EVALUASI Pre-operasi No. Diagnosa Keperawatan 1 Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis sekunder akibat obstruksi rectal Nyeri berkurang atau terkontrol, dengan kriteria hasil: Klien tidak melaporkan adanya nyeri Klien tidak merintih ataupun menangis Klien tidak menunjukkan ekspresi wajah terhadap nyeri Klien tidak tampak berkeringat dingin RR dalam batas normal (16-20 x/mnt) Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt) Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg) Klien dapat mengontrol nyerinya dengan menggunakan teknik manajemen nyeri non farmakologis 2 PK: Anemia Klien dapat menggunakan analgesik sesuai indikasi Klien melaporkan nyeri terkontrol Evaluasi

Perawat dapat meminimalkan komplikasi anemia yang terjadi, dengan kriteria hasil: Tekanan darah dalam batas normal (110/70-130/90 mmHg) atau terkontrol. Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt) RR dalam batas normal (16-20 x/mnt) Suhu tubuh dalam batas normal (36-37,5C) CRT < 3 detik Akral hangat Klien tidak pucat Konjungtiva berwarna merah muda. Hb klien dalam batas normal (12-16 g/dL).

3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis progresifitas penyakit kanker rectum serta akibat mual dan muntah. 4 Konstipasi berhubungan dengan obstruksi akibat tumor -

HCT dalam batas normal (45-55%) Mukosa bibir lembab. Klien tidak mengalami lemas dan lesu.

Pemenuhan nutrisi adekuat, dengan kriteria hasil: Masukan nutrisi adekuat Masukan makanan dalam batas normal Berat badan meningkat atau tetap Masukan kalori dalam batas normal Nutrisi dalam makanan cukup mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin, mineral, ion, kalsium, sodium Serum albumin dalam batas normal (3,4-4,8 gr/dl) Klien mengatakan tidak ada mual Klien mengatakan tidak muntah Tidak ada peningkatan sekresi saliva Keinginan klien untuk makan meningkat Intake makanan adekuat (porsi makan yang disediakan habis)

Eliminasi fekal klien normal, dengan kriteria hasil : Frekuensi BAB kembali sesuai kebiasaan pasien Feses klien lembek dan berbentuk Tidak ada kesulitan defekasi Tidak ada konstipasi Tidak ada darah dalam feses Tidak ada lemak dalam feses Tidak ada nyeri saat BAB

Kurang pengetahuan mengenai penyakit dan prosedur pembedahan, berhubungan dengan kurang

Terjadi peningkatan pengetahuan klien dan keluarga, dengan kriteria hasil: Klien dan keluarga memahami tentang proses penyakit, penyebab penyakit, komplikasi penyakit dan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi penyakit
-

Klien dan keluarga memahami tentang diet pada penyakit kanker, meliputi makanan yang dianjurkan dan dihindari, dan makanan pemicu kanker

paparan informasi

Klien dan keluarga memahami tentang prosedur pembedahan, tujuan, lama tindakan, dan efek tindakan

Post-operasi No. Diagnosa Keperawatan 1 Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik akibat pembedahan. Nyeri berkurang atau terkontrol, dengan kriteria hasil: Klien tidak melaporkan adanya nyeri Klien tidak merintih ataupun menangis Klien tidak menunjukkan ekspresi wajah terhadap nyeri Klien tidak tampak berkeringat dingin RR dalam batas normal (16-20 x/mnt) Nadi dalam batas normal (60-100x/mnt) Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg) Klien dapat mengontrol nyerinya dengan menggunakan teknik manajemen nyeri non farmakologis 2 Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat akibat luka post operasi Klien dapat menggunakan analgesik sesuai indikasi Klien melaporkan nyeri terkontrol Evaluasi

Tidak terjadi infeksi, dengan kriteria hasil : Tidak ada kemerahan Tidak terjadi hipertermia Tidak ada nyeri Tidak ada pembengkakan Tidak ada drainase purulen WBC dalam batas normal (4,6 10,2 k/ul) Suhu dalam batas normal (36,5o 37oC) Tekanan darah dalam batas normal (120/80 mmHg) Nadi dalam batas normal (60-100 x/mnt) RR dalam batas normal (12-20 x/mnt) Klien mampu menyebutkan factor-faktor resiko penyebab infeksi Klien mampu memonitor lingkungan penyebab infeksi Klien mampu memonitor tingkah laku penyebab infeksi

3 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan (kolostomi) dan adanya stoma. 4 Kurang pengetahuan mengenai cara perawatan di rumah setelah pulang berhubungan dengan kurang paparan informasi.
-

Tidak terjadi paparan saat tindakan keperawatan

Gangguan citra tubuh klien dapat teratasi, dengan kriteria hasil: Klien mampu mengungkapkan kemampuan untuk mengatasi keterbatasan Klien mampu beradaptasi dengan keterbatasan fungsi dan struktur tubuhnya Klien menerapkan strategi untuk mengurangi keterbatasan

Terjadi peningkatan pengetahuan klien dan keluarga, dengan kriteria hasil: Klien dan keluarga memahami tentang tujuan dan fungsi stoma, cara perawatan stoma, penggantian kantong stoma, perawatan kulit sekitar stoma

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2006. Cancer Facts and Figures 2006. Atlanta: American Cancer Society Inc. Anderson. 2006. A Patients Guide to Rectal Cancer. MD Anderson Cancer Center. University of Texas. Basavanthappa, B.T. 2003. Medical Surgical Nursing. New Delhi : Jaypee. 111134. Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah.Vol. 2. Jakarta: EGC

Dochtermen, J. et al. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC). Fourth Edition. USA:Mosby Elsevier. Doenges at al. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3. Jakarta: EGC. Herdman, T.H. 2012. Nanda International : Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.Jakarta: EGC. Ignatavicius, D.D. et al. 2006, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, 2nd edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia. LeMone, P. et al. 2008. Medical-Surgical Nursing: Critical Thinking in Client Care. Volume 2 Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Media Aesculapius. Otto, S. E. 2003. Buku Saku Keperawatan Oncologi. Jakarta : EGC. 1-123 Price & Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta: EGC. Samsuhidajat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, Jakarta: BP FKUI. Sudjatmiko. 2012. Kolon-Rektum dan Anus. Laboratorium Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. University IOWA. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). Fourth Edition. Mosby Elsevier.