Anda di halaman 1dari 12

Guntur Prayogo G14100109

TUGAS EKONOMI REGIONAL


ANALISIS SHIFT SHARE Indikator kegiatan ekonomi yang digunakan adalah data pendapatan yang dicerminkan oleh nilai PDRB Kabupaten Belu dan PDRB Provinsi NTT. Data PDRB yang disajikan adalah data PDRB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha tahun 2001 2010. Dengan demikian, tahun dasar analisisnya (Yij) adalah tahun 2001, sedangkan tahun akhir analisisnya (Yij) adalah tahun 2010. 1. Menentukan perubahan PDRB di Kabupaten dan Provinsi Perubahan indicator kegiatan ekonomi dirumuskan sebagai berikut :

Presentase perubahan indicator kegiatan ekonomi :

Tabel 1. Perubahan PDRB di Kabupaten Belu Selama Tahun 2001 sampai 2010 PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha PDRB Lapangan Usaha 2001 Pertanian Pertambangan dan galian industri pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan,persewaan, dan jasa perusahaan 457,972 .64 8,715.3 2 8,661.3 3 1,394.0 6 33,481. 25 89,606. 03 33,864. 23 21,642. 45 2010 823,589.2 7 25,334.14 30,466.42 3,305.25 106,328.8 8 246,537.5 6 111,258.1 6 81,779.76 Perubahan PDRB (juta rupiah) 365,616.63 16,618.82 21,805.09 1,911.19 72,847.63 156,931.53 77,393.93 60,137.31 Perse n 79.83 190.69 251.75 137.10 217.58 175.14 228.54 277.87

Jasa-jasa Total

103,117 .16 758,454 .47

435,431.5 1 1,864,030 .95

332,314.35 1,105,576.4 8

322.27 1,880. 76

Tabel 2. Perubahan PDRB di Provinsi NTT Selama Tahun 2001 sampai 2010 PDRB Atas Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan galian industri pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan,persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa Total PDRB 2001 3,984,258 .11 141,080.4 0 145,125.6 8 37,315.05 712,678.2 2 1,501,366 .07 542,189.7 9 263,248.2 5 1,861,599 .04 9,188,860 .62 2010 9,553,184. 31 316,373.78 374,738.62 100,832.42 1,676,728. 72 3,891,232. 98 1,469,397. 19 964,617.51 5,832,306. 63 24,179,412 .16 Perubahan PDRB (juta rupiah) 5,568,926.19 175,293.38 229,612.94 63,517.37 964,050.49 2,389,866.92 927,207.40 701,369.26 3,970,707.58 14,990,551.5 5 Perse n 139.77 124.25 158.22 170.22 135.27 159.18 171.01 266.43 213.30 1,537. 65

2. Menentukan rasio indicator kegiatan ekonomi a. Rasio produksi/kesempatan kerja (provinsi)

Keterangan: Y.. : produksi/kesempatan kerja(provinsi) pada tahun akhir analisis Y.. : produksi kesempatan kerja (provinsi) pada tahun dasar analisis 1.63138306 b. Rasio produksi/kesempatan kerja (provinsi) dari sektor i

Keterangan: Yi. : produksi/kesempatan kerja(provinsi) dari sektor i pada tahun akhir analisis Yi. : produksi kesempatan kerja (provinsi) dari sektor i pada tahun dasar analisis Sektor pertanian: 1.397732 Tabel 3. Tabel Rasio Produksi Kesempatan Kerja (Provinsi) dari Sektor i Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan galian Industri Pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa Ri 1.3977 32 1.2425 07 1.5821 66 1.7021 92 1.3527 15 1.5917 95 1.7101 16 2.6642 88 2.1329 55

c. Rasio produksi/kesempatan kerja sektor i pada wilayah j

Keterangan: Yij : produksi/kesempatan kerja(provinsi) dari sektor i pada wilayah j pada tahun akhir analisis Yij : produksi kesempatan kerja (provinsi) dari sektor i pada wilayah j pada tahun dasar analisis Sektor pertanian: 823,589.27

Tabel 4. Tabel Rasio Produksi Kesempatan Kerja (Provinsi) dari Sektor i pada wilayah j Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan galian Industri Pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa ri 0.7983 37 1.9068 53 2.5175 21 1.3709 55 2.1757 74 1.7513 5 2.2854 18 2.7786 74 3.2226 87

3. Komponen Pertumbuhan Nasional PNij = (Ra) Yij Keterangan: PNij : komponen pertumbuhan nasional sektor i untuk wilayah j

Yij : produksi/kesempatan kerja dari sektor i pada wilayah j pada tahun dasar analisis Maka, untuk sektor pertanian: PN1j = (Ra) Y1j PN1j = * 457,972.64

Persentase PNij: %PNij = (PNij/Yij)*100% Tabel 5. Nilai Komponen Pertumbuhan Nasional (PN) di Kabupaten Belu Tahun 2001-2010 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan galian Industri Pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa PNij 747,128. 81 14,218.0 2 14,129.9 5 2,274.24 54,620.7 4 146,181. 76 55,245.5 3 35,307.1 3 168,223. 59 Perse n 163.13 83 163.13 83 163.13 83 163.13 83 163.13 83 163.13 83 163.13 83 163.13 83 163.13 83

Analisis: a. Sektor ekonomi dengan peningkatan kontribusi PN terbesar adalah pertanian. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian sangat berpengaruh terhadap perubahan kebijakan nasional, yang berarti bahwa apabila terjadi perubahan kebijakan nasional maka kontribusi sektor pertanian beserta subsektornya akan mengalami perubahan. b. Sektor ekonomi dengan peningkatan kontribusi PN terkecil adalah sektor listrik, gas, dan air bersih. Hal ini berrati bahwa sektor listrik, air, dan gas air bersih tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan kebijakan nasional. 4. Komponen Pertumbuhan Proporsional PPij = (Ri-Ra) Yij Keterangan: PPij : komponen pertumbuhan proporsional sektor i untuk wilayah j Yij : produksi/kesempatan kerja dari sektor i pada wilayah j pada tahun dasar analisis

Maka, untuk sektor pertanian: PP1j = (R1-Ra) Y1j PP1j = (1.397732) * 457,972.64= -107,005.66

Persentase PPij: %PPij = (PPij/Yij)*100% Tabel 6. Nilai Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP) di Kabupaten Belu Tahun 2001-2010 Perse Lapangan Usaha PPij n 107,005. 23.365 Pertanian 66 1 38.887 Pertambangan dan galian -3,389.18 6 4.9216 Industri Pengolahan -426.28 9 7.0808 Listrik, gas, dan air bersih 98.71 92 27.866 Bangunan -9,330.16 8 Perdagangan, hotel, dan 3.9588 restoran -3,547.33 1 7.8732 Pengangkutan dan komunikasi 2,666.23 87 Keuangan, persewaan, dan jasa 22,354.6 103.29 perusahaan 0 05 51,720.7 50.157 Jasa-jasa 1 23 Analisis: a. Sektor yang memiliki pertumbuhan yang cepat (PP ij > 0) adalah sektor listrik, gas, dan air bersih; sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; dan sektor jasa-jasa. b. Sektor yang memiliki pertumbuhan yang lambat (PP ij < 0) adalah sektor pertanian; sektor pertambangan dan galian; sektor industry pengolahan; sektor bangunan; dan sektor pengangkutan dan komunikasi. 5. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah PPWij = (ri-Ri) Yij Keterangan: PPWij : komponen pertumbuhan pangsa wilayah sektor i untuk wilayah j Yij : produksi/kesempatan kerja dari sektor i pada wilayah j pada tahun dasar analisis Maka, untuk sektor pertanian: PPW1j = (r1-R1) Y1j PPW1j = (0.798337-1.397732) * 457,972.64= -274,506.52

Persentase PPWij: %PPWij = (PPWij/Yij)*100% Tabel 7. Nilai Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW) di Kabupaten Belu Tahun 2001-2010 Lapangan Usaha PPWij 274,506.5 2 5,789.98 8,101.42 -461.76 27,557.05 14,297.11 19,482.17 2,475.58 112,370.0 5 Perse n 59.939 5 66.434 6 93.535 46 33.123 7 82.305 91 15.955 52 57.530 23 11.438 52 108.97 32

Pertanian Pertambangan dan galian Industri Pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa

Analisis: a. Sektor ekonomi yang dapat bersaing dengan baik dengan sektor ekonomi pada wilayah lainnya adalah sektor pertambangan dan galian; industri pengolahan; bangunan; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keungan, persewaan, dan jasa perusahaan; dan jasa-jasa. b. Sektor ekonomi yang tidak dapat bersaing dengan baik dengan sektor ekonomi pada wilayah lainnya adalah sektor pertanian; sektor pertanian; listrik, gas, dan air bersih. 6. Kelompok Sektor Ekonomi Ditentukan Berdasarkan Pergeseran Bersih (PB) PBij = PPij + PPWij Maka, untuk sektor pertanian: PB1j = PP1j + PPW1j PB1j = -107,005.66+ -274,506.52 =-381,512.19 Persentase PBij: %PBij = (PBij/Yij)*100% Tabel 8. Nilai Pertumbuhan Bersih (PB) di Kabupaten Belu Tahun 2001-2010 Perse Lapangan Usaha PBij n Pertanian 381,512. 83.304

Pertambangan dan galian Industri Pengolahan Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa

19 2,400.81 7,675.13 -363.05 18,226.8 9 10,749.7 8 22,148.4 0 24,830.1 8 164,090. 76

6 27.547 88.613 78 26.042 8 54.439 1 11.996 71 65.403 52 114.72 91 159.13 04

Analisis: c. Sektor ekonomi yang termasuk kelompok progresif (maju) adalah sektor pertambangan dan galian; industri pengolahan; bangunan; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keungan, persewaan, dan jasa perusahaan; dan jasa-jasa. d. Sektor ekonomi yang termasuk kelompok pertumbuhannya lamban adalah sektor pertanian; sektor pertanian; listrik, gas, dan air bersih. 7. Total indikator kegiatan ekonomi terhadap ketiga komponen pertumbuhan wilayah. PN.j = PP.j = PPW.j = = 1,237,329.77 = -46,858.36 = -84,894.92

Dengan demikian, 1. Berdasarkan pengaruh pertumbuhan Provinsi NTT, PDRB Kabupaten Belu meningkat sebesar 1,237,329.77 juta rupiah. 2. Berdasarkan pengaruh pertumbuhan proporsional, PDRB Kabupaten Belu menurun sebesar 46,858.36 juta rupiah. 3. Berdasarkan pengaruh pertumbuhan pangsa wilayah, PDRB Kabupaten Belu menurun 84,894.92 juta rupiah. 8. Profil Pertumbuhan Sektor-Sektor Perekonomian di Kabupaten Belu Tahun 2001-2010. Tabel 9. Nilai PP dan PPW di Kabupaten Belu Tahun 2001-2010 Perse Perse Lapangan Usaha n n 23.365 59.939 Pertanian 1 5 38.887 66.434 Pertambangan dan galian 6 6 Industri Pengolahan - 93.535

4.9216 9 Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Jasa-jasa 7.0808 92 27.866 8 3.9588 1 7.8732 87 103.29 05 50.157 23

46 33.123 7 82.305 91 15.955 52 57.530 23 11.438 52 108.97 32

Keterangan: Kuadran I : sektor jasa-jasa; pengangkutan persewaan, dan jasa perusahaan. Kuadran II: sektor listrik, gas, dan air bersih. Kuadran III : sektor pertanian.

dan

komunikasi;

keuangan,

Kuadran IV : pengolahan.

sektor

pertambangan

dan

galian;

bangunan;

industry

Guntur Prayogo G14100109 Statistika ANALISIS KLASSEN Analisis Klassen digunakan untuk mengetahui laju dan tipologi Kabupaten/Kota, selain itu digunakan untuk menganalisis struktur pertumbuhan Kabupaten/Kota, terhadap Provinsi NTT. Analisis ini menggunakan data pendapatan regional perkapita dan laju pertumbuhan Kabupaten/Kota maupun Provinsi NTT, seperti tabel yang tersaji di bawah. Tabel 1. Pendapatan regional perkapita di Kabupaten/Kota menurut Harga Berlaku tahun 2001 dan 2010 (rupiah) Lapangan Usaha Belu Sumba Barat Rote Ndao Pendapatan regional perkapita 2001 2010
2,908,184 2,339,255 2,314,681 5,291,093 6,494,417 4,982,387

Tabel 2. Pendapatan regional perkapita di Provinsi Nusa Tenggara Timur menurut Harga Berlaku tahun 2001 dan 2010 (rupiah) Pendapatan regional perkapita 2001 NTT 2,327,118.6 3 2010 5,162,319.6 5

Provinsi

Tabel 3. Laju pertumbuhan perkapita di Kabupaten/Kota menurut Harga Berlaku tahun 2001 dan 2010 (persen)

Daerah Belu sumba barat Rote Ndao

Laju pertumbuhan PDRB 2001 20.07 24.93 10.92 2010 11.54 14.57 14.43

Tabel 4. Laju pertumbuhan perkapita di Provinsi Nusa Tenggara Timur menurut Harga Berlaku tahun 2001 dan 2010 (persen) Provinsi Nusa Tenggara Timur Laju pertumbuhan PDRB 2001 2010 16.71 14.72

Berdasarkan tabel di atas dapat di lakukan analisis klassen yaitu dengan membandingkan PDRB perkapita setiap Kabupaten/Kota dan Provinsi NTT, kemudian membandingkan laju pertumbuhan setiap Kabupaten/Kota terhadap Provinsi NTT. Jika PDRB perkapita dan laju pertumbuhan Kabupaten/Kota lebih besar dari Provinsi NTT, maka Kabupaten/Kota tersebut termasuk cepat maju dan cepat tumbuh. Jika laju pertumbuhan Kabupaten/Kota lebih besar daripada Provinsi NTT tetapi PDRB perkapita provinsi NTT lebih besar daripada PDRB perkapita di Kabupaten/Kota maka termasuk berkembang cepat. Jika laju pertumbuhan Kabupaten Belu lebih kecil dan PDRB lebih besar dibanding Provinsi NTT maka termasuk daerah maju tetapi tertekan. Jika laju petumbuhan Daerah dan PDRB perkapita di Kabupaten/Kota lebih kecil, maka daerah tersebut termasuk daerah relatif tertinggal. Tabel 5. Klasifikasi daerah di Kabupaten/Kota menurut Tipologi Klassen, 2001 dan 2010 PDRB perkapita (y) Y1 > y Y1 < y Laju Pertumbuhan (r) Daerah Daerah Cepat Maju Berkembang dan Cepat Tumbuh cepat r1 > r Belu tahun 2001 Sumba Barat tahun 2001 Daerah Maju tapi Tertekan r1 < r Belu tahun 2010 Sumba Barat tahun 2010 Daerah Relatif Tertinggal Rote Ndao tahun 2001 Rote Ndao tahun 2010

Berkemba ng Cepat

Cepat maju cepat tumbuh

tertingg al

Maju tapi tertekan

Berdasarkan Plot di atas daerah Belu dan Sumba Barat masuk dalam daerah cepat maju cepat tumbuh pada tahun 2001, sedangkan Rote Ndao masuk dalam daerah tertinggal. Hal ini sesuai dengan tabel 5 di atas.

Berkemba ng Cepat

Cepat maju cepat tumbuh

tertingga l

Maju tapi tertekan

Berdasarkan Plot di atas daerah Belu dan Sumba Barat masuk dalam daerah maju tapi tertekan pada tahun 2010, sedangkan Rote Ndao masuk dalam daerah tertinggal. Hal ini sesuai dengan tabel 5 di atas.