Anda di halaman 1dari 78

Infeksi Respiratory Akut (IRA)

Akut (infeksi trac. respirasi akut) : 1. Infeksi Tract. Respirasi Akut Atas (IRA A) 1.1. Rhinotonsilopharyngitis Viral; common colds 1.2. Rhinitis Bacterial, tonsilopharyngitis, abses retropharyngeal 1.3. Stadium prodromal infeksi sistemik (influenza, campak, typhoid, varicella, dll)

2. Infeksi Tract. Respirasi Akut Bawah (IRA B) 2.1. Laryngitis (Croup syndrome) 2.2. Bronchitis 2.3. Bronchiolitis 2.4. Pneumonia (bronchopneumonia, lobar pneumonia, interstitial pneumonia) 2.5. Abses Paru 2.6. Pleuritis & empyema 2.7. .

3. Kronik : 3.1. Tuberculosis 3.2. Fungi 3.3. 4. Lain-lain : 4.1. Batuk Kronis Berulang (Rekuren) 4.2. Bronchiectasis 4.3. Immobile cilia syndrome 4.4. Atelectasis 4.5. Emphysema 4.6. Gagal Nafas (Respiratory failure)

Infeksi Trac. Respirasi Atas


Infeksi Respiratory Akut Atas (IRA-A)

I. COMMON COLD (CORYZA)


Akut, penyakit virus yang sangat menular ditandai dengan :
Hidung tersumbat Bersin-bersin Coryza Iritasi Tenggorokan + Demam

Etiology :
Rhinovirus Virus Parainfluenza RSV Corona virus

Patogenesis Penyakit
Inhalasi atau inokulasi virus ke mukosa hidung

Sel epitel pernapasan lokal terinfeksi Penyebaran lokal

Sekresi nasal

Transpor mukosiliar hidung <

Sekret Mukopurulen

Manifestasi Klinik :
Bayi : gejala dan tanda bervariasi Anak : dewasa

Timbulnya gejala: Progres

- Kering & iritasi pada hidung - Gatal tenggorokan

- hidung tersumbat - bersin-bersin - hidung berair (watery nasal discharge) - batuk-batuk - muscular aches - malaise - anorexia - subfebris (low grade fever) Bayi : irritable, muntah, mengganggu makan dan tidur

Penatalaksanaan :
Tidak diperlukan terapi spesifik Banyak pasien mencari pengobatan (OTC) Terapi simptomatik : Banyak minum Antipiretik untuk demam Tetes hidung isotonik untuk hidung tersumbat Dekongestan oral untuk hidung terrsumbat

Jangan menggunakan
Nasal spray / tetes dengan obat vasokonstriksi rebound obstruksi RHEBOUND

PHENOMENON

memperpanjang penyakit

II. PHARINGITIS & TONSILLITIS


Penyakit radang selaput mukosa & struktur dasar tenggorokan Termasuk : tonsillitis, tonsillopharyngitis, nasopharyngitis Pharyngitis + nasal symptoms nasopharyngitis (virus) Pharyngitis - nasal symptoms berbagai macam agen infeksius

Etiologi :
Penyebab virus tersering: Adenovirus, virus influenza (tipe A & B), virus parainfluenza, enterovirus (coxsachievirus, echovirus), dll.

Penyebab bakteri tersering : Streptococcus pyogenes

Manifestasi Klinis:
Onset : Demam, sakit tenggorokan, anorexia, sakit kepala, mual Pembesaran nodus lymph cervical Pharyngeal erythemia Ulcer, ptechiae, eksudat
jika terdapat eksudat S. pyogenes C. diphteriae Arcanobacterium Haemolyticum Candida species

Komplikasi : Abses retropharyngeal & parapharyngeal

Tonsillitis

www.nhsdirect.nhs.uk/.../conditions/ tonsillitis/_im025.stm

www.nlm.nih.gov/medlineplus/ ency/article/000655.htm

III. LARINGOTRACHEO BRONCHITIS = VIRAL CROUP Virus Induced Subglottic Disease Gejala :
Didahului IRA A ringan Batuk menggonggong (barking cough), serak, inspiratory stridor (+/- demam) Puncak pada hari ke 3 4, sembuh lebih dari 1 minggu Jika obstruksi parah terjadi tachypnea, retraksi suprasternal & supraclavicular

Pemeriksaan Laringoskop :
Laryngeal mukosa merah + pembengkakan jaringan subglottic

Diagnosis :
Anamnesa & pemeriksaan fisik Foto leher : Lateral penyempitan subglottic, distensi hipofaring AP Steeple sign

Penatalaksanaan (pendekatan secara tenang)


Oksigen yang dilembabkan Nebulasi rasemik epinefrin oksigen ( 0,25 ml larutan 2,25 % untuk setiap 5 kg BB ( maks 1,5 ml) )

rasemik epinefrin tidak tersedia di seluruh dunia

Bentuk natural levorotatory epinefrin dosis 5 ml larutan 1:1000 sama hasilnya dengan 0,5 ml 2,25% rasemik epinefrin dalam normal saline 4,5 ml.

Kortikosteroid :
Masih kontroversi Rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) dexametason Dosis : 0,15 0,6 mg/kg dexametason oral, intravaskular, atau IV setidaknya dosis tunggal Steroid nebulasi: Dosis : 2 mg (memperbaiki stridor, batuk, keparahan secara umum 2 jam setelah pengobatan)

Differential Diagnosis :
Spasmodic croup Rentang usia Etiologi 6 bulan 3 tahun ? Virus ? Reaktivitas saluran nafas Tiba-tiba LTB 0-5 th (puncak 1-2) Parainfluenza Influenza Adenovirus RSV Perlahan Bacterial tracheitis 1 bulan 6 tahun S.Aureus H.influenzae Epiglotitis 2-6 tahun H.Influenzae Group A streptococcus M.catarrhalis Tiba-tiba

Onset

Lambat / kerusakan mendadak Demam tinggi Toxic Batuk menggonggong Stridor Serak

Manifestasi Klinik

Afebrile Non toxic Batuk menggonggong Stridor Serak

Subfebris Non toxic Batuk menggonggong Stridor Serak

Demam tinggi Toxic Tidak batuk menggonggong Meredam suara Drooling Dysphagia Duduk Cherry-red epiglotitis Pembengkakan arytenoepiglottik

Pemeriksaan Endoskopik

Mukosa pucat Pembengkakan subglottic

Mukosa sangat merah Pembengkakan subglottic

Mukosa sangat merah Sekresi trakea berlebihan

Spasmodic croup Hitung darah lengkap, jenis Pemeriksaan Radiografi Normal

LTB Leukositosis ringan Lymphocytosis Penyempitan subglottik

Bacterial tracheitis Normal-ringan Ditandai bandemia Penyempitan subglottik Batas trakeal Ireguler Intubasi Antibiotik

Epiglotitis Ditandai leukositosis Bandemia Epiglotitis lebar Lipatan arytenoepiglottic tebal Intubasi Antibiotik

Penyempitan subglottik

Terapi

Mist Tenang (kadang-kadang) Resemik epinephrine (kadang-kadang) steroid Cepat

Mist Tenang Resemik epinephrine ? Steroid Intubasi (jika memungkinkan) Transient

Respon

Lambat (1-2 mgg)

Cepat (40 jam)

Intubasi

Jarang

Kadang-kadang

Selalu

Selalu

EPIGLOTTITIS
Darurat medis progresif cepat obstruksi saluran nafas atas Paling sering pada usia 2 6 tahun

Etiologi : H. influenzae Manifestasi :


Tiba-tiba mulai dengan demam tinggi, sakit tenggorokan, batuk menggonggong, berkembang dalam waktu 12 jam menjadi stridor, dysphagia, air hunger, tampak toxic Tidak ada riwayat IRA-A sebelumnya

Karakteristik :
Cemas, drooling, duduk dengan leher hiperekstensi

Diagnosis :
Presentasi klasik

Dicurigai secara klinis

http://otolaryngologie.cz/pictures/otoskopie/otoskopie.html

Epiglottitis

Foto lateral leher "normal

www.trauma.med.miami.edu/ rtccom.htm

Management :
Prioritas pertama : napas buatan stabil (pemeriksaan fisik & tes diagnostik menyakitkan harus dibedakan) Trakeostomi Intensive care unit (ICU) Foto leher & laringoskopi dilakukan di ICU Pemeriksaan Laringoskopi : Epiglotis merah (Cherry red epiglottic) Edema lipatan arytenoepiglottic

Antibiotik : Harus meliputi : penghasil penicillinase H.influenzae, group A -hemolytic streptococcus


Cephalosporin : Cefotaxime 100 200 mg/kg/hari Ceftriaxone 50 75 mg/kg/hari Cefuroxime 75 150 mg/kg/hari 10 hari Tidak ada manfaat rasemik epinephrine

SPASMODIC CROUP

Onset : tiba-tiba Tiba-tiba terbangun di malam hari Rentang usia 6 bulan 3 tahun Gejala :
Mirip dengan LTB viral

IV. BRONKITIS Bronkitis akut :


Proses inflamasi transien melibatkan trakea & bronki mayor, dimanifestasikan sebagai batuk. Hal ini biasanya akibat infeksi virus & sembuh dalam 3 minggu tanpa terapi.

Bronkitis kronik :
Pengertian pada anak-anak tidak begitu jelas Gejala persisten > 3 minggu Harus mengidentifikasi tanda-tanda gangguan yang mendasari Interaksi antara intrinsik (host) & faktor ekstrinsik peradangan kronis & kerusakan pada saluran napas (Asma, cystic fibrosis, dll)

Anak - anak : Masalah dengan definisi & tumpang tindih dengan penyakit lainnya

V. BRONKIOLITIS
Peradangan bronkiolus Paling sering : 2 6 bulan Etilogi : RSV (paling sering), influenzae, parainfluenza Presentasi klinis: Rhinorrhea, batuk, subfebris 1-2 hari takipneu retraksi dada wheezing feed poorly irritable

Pemeriksaan Fisik :
takipneu Nadi Demam Konjunctivitis ringan Retraksi dada Ekspirasi memanjang Ronki

www.nlm.nih.gov/medlineplus/ ency/imagepages/17098.htm

Gambaran Radiografi :
Tidak spesifik

Temuan :
Hiperinflasi difus paru Diafragma mendatar Ruang retrosternal menonjol Infiltrat peribronchial Atelectasis Normal

Foto thoraks seorang anak dengan bronkiolitis akut oleh infeksi RSV

www.info.gov.hk/dh/diseases/ CD/RSV.htm

www.info.gov.hk/dh/diseases/ CD/RSV.htm

Faktor resiko :
1. 2. 3. 4. Prematuritas Displasia bronkopulmoner Penyakit jantung kongenital Sindrom Trisomy-21

Diagnosis :
Presentasi klinis Usia anak Epidemi RSV di masyarakat

Diagnosis pasti :
RSV (identifikasi atau virus lainnya) a. Teknik Imunofluoresensi sekret hidung b. Kultur Virus

Diagnosis cepat infeksi RSV melalui immunofluoresensi sekresi saluran respirasi


www.info.gov.hk/dh/diseases/ CD/RSV.htm

Manajemen :
Perawatan di rumah sakit untuk bronkiolitis sedang sampai berat Intake cairan yang adekuat atau jika retensi cairan terjadi restriksi cairan - Bronchodilator kontroversi - Kortikosteroid + bronchodilator perbaikan klinis - Antiviral RIBAVIRIN

VI. Pneumonia

DEFINISI PENUMONIA
Textbook/kuliah di FK:

Inflamasi parenkim paru (karena virus, bakteri, jamur, zat kimia)

WHO/ Program Nasional RI: Batuk Nafas cepat Retraksi epigastrik

Napas cepat :
Usia 0 2 bulan
2 24 bulan 25 60 bulan

Frekuensi napas/menit > 60


> 50 > 40

Klasifikasi Pneumonia
WHO/program nasional penatalaksanaan ispa pada balita :
Ispa
0 2 bulan Bukan pneumoni Napas cepat ( - ) Retraksi ( - ) 2 - 60 bulan Bukan pneumoni

pneumoni
Napas cepat (+ ) Retraksi ( - )

Pneumoni berat Napas cepat (+) Retraksi ()

Pneumoni berat Napas cepat (+) Retraksi (+ )

ISPA Infeksi Saluran Nafas Akut


Textbook: Rhinitis Tonsilofaringitis Epiglottitis LTB Trakeitis Bronkitis Bronkiolitis Pneumonia Pleuritis Empyema Abses paru Klasifikasi Dokter Program Nasional:
Bukan pneumonia Pneumonia

Pneumonia berat
Pneumonia sangat berat (Penyakit dengan tanda bahaya

Klasifikasi Masyarakat

Kenapa WHO tidak mengacu ke textbook?


ISPA atas di negara maju = negara berkembang. Pneumonia di negara maju << negara berkembang. Pneumonia di negara berkembang dapat diturunkan dengan deteksi dan terapi dini. Pneumonia harus terdeteksi orang tua/kader:
Telinga : batuk Mata : sesak nafas Tangan : panas badan.

Pneumonia berdasarkan WHO untuk awam:


Supaya pneumonia terdeteksi dini:
Orang tua/kader merujuk ke dokter Dokter mengkritisi dan mengkoreksi. Diagnosis sesuai textbook.

Pneumonia
Community acquired pneumonia (CAP) Hospital acquired pneumonia (HAP)

Neonatus
Imunodefisiensi Balita

Usia sekolah

Lobularis Bronkopneumonia

Lobaris

Interstitialis

Virus

H. influenza

Staphylococcus
Gram negatif

Pneumococcus

Mycoplasma

Patogenesis
Komplikasi dari ISPA atas. Aspirasi. Hematogen.

Patogenesis
Ispa A ( Virus ) Pilek, batuk, anget Ispa B ( Virus bakteri ) sesak, panas

Hipersekresi hidung nyumbat banjir sekret gangguan minum

aspirasi sekret virus, bakteri, komensal

Manifestasi Klinis
Pneumonia viral dan bakterial: biasanya didahului rhinofaringitis. Tanda awal: nafas cepat dan demam tinggi. Tanda lain:
pernafasan cuping hidung. Retraksi: supraternal, intercostal, epigastrium. Crackles, bronchial breath sound, dullness dengan VBS menurun.

Phys. Diagnostik
P. Lob INSP
PALP PERK AUS

BR.P Crack VBS

P.Interst Crack VBS

Gerak
V.Fren Dull Crackle bronkial

X-RAY-Torak
PN. LOB : 1 2 lobus (i) berawan rata; air bronchogram (+) DD dgn atelektasis (AB-) permukaan cekung; trakea tertarik : infiltrat berback (parakardial) : infiltrat radier dari sentral ke perifer

BR.PN PN. INT

Laboratorium
Darah rutin:
Virus : leukosit < 20.000, limfositosis Bakteri: 15.000 40.000, PMN >>

Kultur:
Virus : apus tenggorok/hidung .Bakteri: darah, cairan pleura.

Reaksi antigen-antibodi:
Darah : virus, bakteri, mycoplasma.

Terapi
Kecuali dapat dibuktikan peran bakteri (-), semua pneumonia diberi antibiotik. Antibiotika: drug of choice untuk bakteri tersangka. Bila bakteri tidak diketahui, berikan terapi empirik.

Antibiotika Empirik
Neonatus/ Imunodefisiensi Balita Usia Sekolah

Amoxicillin/ Cefuroxime + Gentamisin

Amoxicillin/ Cefuroxime

Amoxicillin/ Cefuroxime + Macrolide

Antibiotika Untuk Pneumonia


Hari I:
Drug of choice untuk bakteri tersangka atau antibiotika empirik

Hari II:
Lihat respons: Membaik/tetap Memburuk : empirik diteruskan. : terapi diganti dgn drug of choice kuman tersangka.

Hari III:
Lihat respons: Membaik Tetap/memburuk
: empirik diteruskan. : diganti dgn drug of choice untuk kuman tersangka.

Komplikasi
Sepsis. Empyema. Gagal nafas. HIE (hypoxic ischemic encephalopathy). Meningitis purulenta.

VII. BRONKIEKTASIS
Gangguan dari bronkus segmental dan subsegmental berhubungan dengan dilatasi abnormal saluran udara yang terkena infeksi berulang

Etologi :
Kongenital (formasi abnormal dari kartilago tracheobronchial) Didapat :
Pneumonia bacterial Pertusis Campak M. tuberculosis Cystic fibrosis Ciliary diskynesia syndrome

Presentasi klinis :
Batuk kronis, sputum purulen, demam, penurunan berat badan, sesak napas, dyspnea, hemoptysis jarang pada anakanak Dahak berbau busuk

Pemeriksaan fisik:
Tidak spesifik Ronki, wheezing Clubbing finger

BRONCHIECTASIS

www.physicaltherapy.ca/cardio/ Bronchiectasis1.html

Diagnosis :
- Anamnesa (infeksi saluran nafas berulang & batuk produktif persisten) - Pemeriksaan fisik

TRIAD :
Sinusitis kronik, bronchiectasis, sinus inversus (dekstrokardia atau sinus inversus vicerum) Kartageners

syndrome

Gambaran Radiogafi:
- Peningkatan corakan bronchopulmonary Karakteristik, tetapi tidak spesifik : Linear radiolusen & paralel dari hilum ( Tram tracks or toothpaste lines) atau Multiple cysts (honey comb appearance) Untuk menentukan kelainan & distribusi anatomi yang tepat Kontras bronchography

Peningkatan ekstensif opasitas linier (Lobus bawah) suggestive of ectatic bronch

www. sprojects.mmi.mcgill.ca/.../bronchiect/ radio.htm

CT of Bronchiectasis

www.xray2000.f9.co.uk/ibase3/ chest1/ALBUM2.HTML

Penatalaksanaan :
Fisioterapi dada Postural drainase Antibiotik Terapi penyebab yang mendasari kelainan saluran napas Bedah reseksi Indikasi : Gejala pasien tidak terkontrol oleh antibiotik & postural drainase Progresif & penyakit terlokalisasi Benda asing, berulang & haemorrhagie berat

VIII. Penyakit Pleura


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pleuro pneumonia Pleuritis sicca Pleuritis exudativa ( TBC ) Empyema Hydrothorax Haemothorax Chylethorax Schwarte Pneumothorax

EMPYEMA Akumulasi pus dalam rongga pleura Etiologi :


Bakteri aerob :
S. aereus H. influenza E.coli

Bakteri anaerob :
Micraerophillic streptococcus Bacteroides fragili Peptostreptococcus

Diagnosis :
Manisfestasi klinis
Toxic, demam tinggi

Pemeriksaan fisik Punksi pleura Exudat / pus

EMPYEMA

http://www.surgical-tutor.org.uk

EFUSI PLEURA

Pemeriksaan Fisik
INSP : asimetris, bulgingics PALP : V. premitus , widerics, tracheal PERC : flat mediastinal ship centralat AUSC : vbs

Penatalaksanaan :
Drainase pus (drainase tube tertutup) Antibiotik :
Staphylococcus : Cloxacillin 100 -200 mg iv dibagi 3- 6 dosis ( 23 minggu ) Methicillin 200 - 400 mg iv dibagi 3- 4 dosis ( 23 minggu)

H. influenzae :
Cefotaxime, 150 225 mg/kg dibagi 3 dosis Ceftriaxone, 80 100 mg/kg dibagi 1-2 dosis Chloramfenicol, 50 100 mg/kg dibagi 4 dosis

Bakteri anaerob :
Clindamycin, 24 40 mg/kg dibagi 3 - 4 dosis

Suggested Readings
1. Kendigs disorders of the respiratory tract in children. Sixth edition, 1998 2. Nelson text book of pediatrics, 16th edition, 2000. 3. Pediatric respiratory medicine, Taussig & Landau, 1999.