Anda di halaman 1dari 3

Menurut Pandangan Sosiologi Dilihat dari segi pandang sosiologi kasus HIV/AIDS yang banyak menjangkit ibu rumah

taangga, hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor globalisasi. Seperti yang kita ketahui, globalisasi sangatlah cepat mempengaruhi masyarakat di negara berkembang umunya. Di negara lain, seks bebas merupakan hal yang legal dan tidak dilarang, namun di Indonesia hal tersebut tentu saja menentang hukum dan norma-norma dasar. Apabila seseorang telah terjangkit virus HIV, beberapa solusi dapat dilakukan engan metode sosiologi. Dan juga, hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah, penderita HIV/AIDS tiak boleh dikucilkan, karena kita semua adalah makhluk sosial. Apabila penderita dikucilkan, harapan hidup penderita akan menurun, ia merasa diasingkan dan dibedakan dengan orang lainnya. Padahal, virus HIV masih bisa disembuhkan agar tidak samapai ke tahap AIDS (mematikan). Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini adalah, dengan mensosialisasikan akan pentingnya menjaga kesehatan masyarakat serta kebersihan agar terhindar dari virus HIV. Penyuluhan dapat dilakukan mulai dari sekolah-sekolah dasar. Dengan pengetahuan yang cukup akan bahaya virus HIV, kewaspadaan masyarakat akan virus tersebut akan meningkat.

Menurut Pandangan Antropologi Bila dilihat dari sudut pandang antropologi, suku-suku, budaya dan masyarakat, pasti akan memandang HIV sebagai suatu hal yang negatif. Namun, selain sisi negatif pasrti ada sisi positif yang dapat diambil dari kasus HIV, sebagai contoh para korban HIV/AIDS dapat membantu tenaga medis untuk menemukan obat HIV/AIDS melalui hasil penelitian dengan objek si penderita. Tapi dengan adanya pandangan positif mengenai HIV/AIDS, seharusnya orang tidak menyalahgunakannya dengan tidak peduli pada kesehatan mereka dalam arti sempit, yaiuty terjangkit HIV/AIDS (dengan cara melakukan seks bebas, menggunakan jarum tatto bersama-sama). Contohnya saja dengan penemuan obat ARV yang bisa membuat penderita HIV tetap bisa aktif dalam kegiatan sehari-hari, dan mencegah untuk tiak terjangkit penyakit AIDS. Walaupun ARV tidak bersifat menyembuhkan dan bersifat ketergantungan dengan obat ini, penemuan ARV sudah sangat membantu dalam dunia medis. Mungkin saja, dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan, ketika teknologi semakin canggih, tenaga medis bisa menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS secara total, tanpa ketergantungan dan membuat si penderita tidak memliki status sebagai penderita HIV/AIDS melainkan berganti status sebagai mantan penderita HIV/AIDS. Menurut Pandangan Pancasila Menurut sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, kita sebagai masyarakat dari negara yang beragama sangat dilarang untuk melakukan seks bebas karena itu merupakan perzinahan yang dianggap berdosa yang menjadi salah satu penyebab penularan infeksi HIV/AIDS dan apabila orang yang terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) kita tidak boleh mengucilkan dan menjahuinya. Karena manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan harus saling menghargai dan menghormati sesama manusia karena derajat manusia di mata Tuhan itu semuanya sama, tidak ada yang lebih tinggi. Menurut sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Kita telah mengetahui bahwa setiap orang memiliki HAM, karena HAM merupakan hak dasar seseorang sejak lahir dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun baik oleh orang lain, negara, maupun hukum. Oleh karena itu, kita tidak boleh engisolasikan orang yang terinfeksi HIV/AIDS karena setiap manusia harus menghargai

sesama manusia yang kemanusiaanya bukan karena agama, suku, bangsa, profesi, status sosial, ekonomi, dll. Menurut sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia selalu membutuhkan manusia lain dan harus berinteraksi dengan sesama, maka morel masyarakat harus ditingkatkan agar tidak terjadi diskriminasi sehingga kita harus bersikap adil kepada sesama manusia dengan cara tidak memberikan stigma negatif dan menjauhi orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Menurut Pandangan Kadeham Sakit adalah sebagian hak asasi yang dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia, tetapi jika dilihat dari segi kebangsaan HIV/AIDS sungguh merugikan bagi seluruh lapisan masyarakat karena cara penularannya yang tidak terduga dan dapat membahayakan masa depan bangsa. Indonesia mempunyai paham demokrasi, sehinga setiap masyarakat mempunyai hak bicara untuk memberikan solusi terhadap penderita HIV/AIDS.

Guiding Question: a. Jelaskan tiga pendekatan untuk mengatasi masalah HIV/AIDS yaitu moral, hukum dan kesehatan masyarakat? Pendekatan Moral Pendekatan untuk mengatasi masalah HIV/AIDS dapat dilakukan dari beberapa cara. Salah satunya yang paling sederhana namun berpengaruh banyak ialah dengan pendekatan moral. Moral disini yaitu kesadaran orang atau masyarakat itu sendiri untuk menghindari hal-hal yang berhubungan langsung dengan HIV/AIDS, seperti narkoba atau seks bebas. Untuk mencapai kesadaran tersebut, patutlah lembaga seperti BNN memberikan penyuluhan atau mempromosikan kampanye anti narkoba, misalnya, agar orang dapat mengetahui bahaya narkoba, sehingga dari situ timbulnya rasa kesadaran yang tinggi untuk menjauhi narkoba. Tak hanya BNN, kita pun dapat melakukan kampanye anti narkoba atau seks bebas dengan cara sederhana, misalnya, untuk mengingatkan temannya dan memberitahu akan bahaya-bahaya yang dapat timbul dari penyakit tersebut. Pendekatan moral juga pautlah dilakukan kepada orang-orang yang sudah terinfeksi HIV/AIDS, sebagaimana yang kita tahu, pasti ada satu titik dimana mereka menyerah dan berputus asa karena penyakitnya. Untuk itu, pendekatan moral disini bisa dengan cara obrolan singkat dari hati ke hati, misalnya, kita mendukungnya atau memberi semangat mereka bersama-sama serta bahu-membahu melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat sehingga mereka tetap bisa berkarya. Kesehatan Masyarakat Dalam bidang kesehatan masyarakat hal ini bukanlah kesalahan pihak medis, namun adanya pihak-pihak yang menyalahgunakan penjualan obat-obatan terlarang seperti zat adiktif. Seharusnya pemerintah memperketat penjagaan keluar masuknya obat-obatan ke Indonesia. Karena narkotika merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi HIV/AIDS. Selain obat-obatan, seharusnya penjualan kondom juga perlu pengawasan yang ketat, seperti diadakannya ketentuan saat menjual kondom yaitu tidak diperbolehkannya anak dibawah umur untuk membeli kondom. Karena seks bebas merupakan faktor yang paling mempengaruhi perkembangan HIV/AIDS.