Anda di halaman 1dari 23

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL PSIKIATRI

Sebenarnya pemeriksaan psikiatri sudah kita mulai dari anamnesa terlebih dahulu. Kemudian dari hasil anamnesa tersebut, sebaiknya kita sudah harus membuat sebuah kerangka tentang apa saja yang akan kita perhatikan dan apa saja yang akan kita cari dari pasien ini pada pemeriksaan selanjutnya (pemeriksaan psikiatri). Hal yang paling pertama dilakukan adalah sebuah observasi. Observasi sudah dilakukan sejak pertama kali pasien datang kepada dokter. Observasi ini meliputi, observasi terhadap pasien, terhadap pengantar pasien dan terhadap interaksi antara pasien dan pengantarnya. Gambaran Umum Adalah gambaran tentang penampilan pasien dan kesan fisik secara keseluruhan yang dicerminkan oleh sikap, postur perawakan, pakaian, perawatan diri dan dandanan. Hal lain yang perlu dinilai adalah apakah tampak sesuai usia, tampak sehat atau sakit, tenang, bingung, tidak ramah, kekanak-kanakan, sikap saat berbicara, kesadarannya baik secara neurologis (compos mentis sampai koma), psikologis (menciut atau berubah) ataupun kesadaran secara sosial (baik atau tidak) dan tingkah laku saat wawancara (terdapatnya tik, stereotipi, mannerisme, agitasi, melawan, hiper/hipoaktivitas, stupor, dsb.). Semua hal diatas haruslah diperhatikan saat wawancara dengan melakukan observasi terhadap pasien secara teliti. PENAMPILAN Penampilan dilihat dari gambaran fisik, postur, cara berjalan, ketenangan, cara berpakaian, sikap tubuh, lebih tua/muda dari umur, kerapian (termasuk kerapian rambut dan kuku juga). Ciri khas berpakaian bisanya ditujunkkan pada pasien manic, pasien ini sring menggunakan baju dengan warna kontras dan banyak memakai perhiasan.

Amati tanda kecemasan, bisa dilihat dari telapak tangan lembab (bisa diobservasi saat kita berjabat tangan dengan pasien) atau berkeringat di dahi, dll. Kalau pasien tampak sedih, jangan tanyakan pertanyaan yang menjuruskan pada kesedihan Kamu tampak sedih ya?. Tapi bisa digantikan dengan pertanyaan, Bagaimana perasaannya hari ini?. Gambaran penampilan bisa berupa sehat, sakit, keracunan, terlihat tua, terlihat muda, seperti anak, aneh.

Tanda (sign) adalah temuan objektif yang diobservasi oleh dokter sedangkan gejala (symptom) adalah pengalaman subjektif yang digambarkan oleh pasien. Suatu sindrom adalah kelompok tanda dan atau gejala yang terjadi bersama-sama sebagai suatu kondisi yang dapat dikenali yang mungkin kurang spesifik dibandingkan gangguan atau penyakit yang jelas. Dalam kenyataannya, sebagian besar kondisi psikiatrik adalah sindrom.

Kemampuan mengenali tanda dan gejala spesifik memungkinkan dokter dapat mengerti dalam berkomunikasi dengan dokter lain, membuat diagnosis secara akurat, menangani pengobatan dengan berhasil, memperkirakan prognosis dengan dapat dipercaya, dan menggali masalah psikopatologi, penyebab dan

psikodinamika secara menyeluruh.

Secara garis besar tanda dan gejala psikiatrik mempunyai akar dalam perilaku normal dan mewakili berbagai titik dalam spektrum perilaku dari normal sampai patologis. Tanda dan gejala psikiatri tersebut adalah sebagai berikut :

KRITERIA DIAGNOSTIK DSM-IV-TR A. KESADARAN Gangguan Kesadaran: 1. Disorientasi: gangguan orientasi waktu, tempat atau orang. 2. Kesadaran yang berkabut: kejernihan ingatan yang tidak lengkap dengan gangguan persepsi dan sikap. 3. Stupor: hilangnya reaksi dan ketidaksadaran terhadap lingkungan sekeliling.

4. Delirium: kebingungan, gelisah, konfusi, reaksi disorientasi yang disertai dengan rasa takut dan halusinasi. 5. Koma: derajat ketidaksadaran yang berat. 6. Koma vigil: koma di mana pasien tampak tertidur tetapi segera dapat dibangunkan (juga dikenal sebagai mutisme akinetik). 7. Keadaan temaram (twilight state): seringkali digunakan secara sinonim dengan kejang parsial kompleks atau epilepsi psikomotor. 8. Somnolensi: mengantuk abnormal yang paling sering ditemukan pada proses organik.

B. PERHATIAN Perhatian adalah jumlah usaha yang dilakukan untuk memusatkan pada bagian tertentu dari pengalaman; kemampuan untuk mempertahankan perhatian pada satu aktivitas, kemampuan untuk berkonsentrasi.

Gangguan Perhatian: 1. Distraktibilitas: ketidakmampuan untuk memusatkan atensi; penarikan atensi kepada stimulasi eksternal yang tidak penting atau tidak relevan. 2. Inatensi selektif: hambatan hanya pada hal-hal yang menimbulkan kecemasan. 3. Hipervigilensi: pemusatan perhatian yang berlebihan pada semua stimulasi internal dan eksternal, biasanya merupakan akibat sekunder dari keadaan delusional atau paranoid. 4. Trance: perhatian yang terpusat dan kesadaran yang berubah, biasanya terlihat pada hipnosis, gangguan disosiatif, dan pengalaman religius yang luar biasa.

Gangguan Sugestibilitas: Gangguan sugestibilitas adalah kepatuhan dan respon yang tidak kritis terhadap gagasan atau pengaruh 1. Folie a deux (atau folie a trois): penyakit emosional yang berhubungan antara dua (atau tiga) orang.

2. Hipnosis: modifikasi kesadaran yang diinduksi secara buatan yang ditandai dengan peningkatan sugestibilitas.

C. EMOSI (AFEK DAN MOOD) Suatu kompleks keadaan perasaan dengan komponen psikis, somatik dan perilaku yang berhubungan dengan afek dan mood.

Afek adalah ekspresi emosi yang terlihat; mungkin tidak konsisten dengan emosi yang dikatakan pasien. 1. Afek yang sesuai (appropriate affect): kondisi irama emosional yang harmonis (sesuai, sinkron) dengan gagasan, pikiran atau pembicaraan yang menyertai; digambarkan lebih lanjut sebagai yang afek yang luas atau penuh, di mana rentang emosional yang lengkap diekspresikan secara sesuai. 2. Afek yang tidak sesuai (inappropriate affect): ketidakharmonisan antara irama perasaan emosional dengan gagasan, pikiran atau pembicaraan. 3. Afek yang tumpul (blunted affect): gangguan pada afek yang dimanifestasikan oleh penurunan yang berat pada intensitas irama perasaan yang diungkapkan keluar. 4. Afek yang terbatas (restricted or constricted affect): penurunan intensitas irama perasaan yang kurang parah dari pada efek yang tumpul tetapi jelas menurun. 5. Afek yang datar (fIat affect): tidak adanya atau hampir tidak adanya tanda ekspresi afek; suara yang monoton, wajah yang tidak bergerak. 6. Afek yang labil (labile affect): perubahan irama perasaan yang cepat dan tiba-tiba, yang tidak berhubungan dengan stimulasi ekstemal.

Mood adalah suatu emosi yang meresap yang dipertahankan, yang dialami secara subjektif dan dilaporkan oleh pasien dan terlihat oleh orang lain. Contohnya adalah depresi, elasi, kemarahan. 1. Mood disforik: mood yang tidak menyenangkan

2. Mood eutimik: mood dalam rentang normal, menyatakan tidak adanya mood yang tertekan atau melambung. 3. Mood yang meluap-luap (expansive mood): ekspresi perasaan seseorang tanpa pembatasan, seringkali dengan penilaian yang berlebihan terhadap kepentingan atau makna seseorang. 4. Mood yang iritabel (irritable mood): ekspresi perasaan akibat mudah diganggu atau dibuat marah. 5. Pergeseran mood (labile mood): osilasi antara euforia dan depresi atau dibuat marah. 6. Mood yang meninggi (elevated mood): suasana keyakinan dan kesenangan; suatu mood yang lebih ceria dari biasanya. 7. Euforia: elasi yang kuat dengan perasaan kebesaran. 8. Kegembiraan yang luar biasa (ecstasy): perasaan kegairahan yang kuat. 9. Depresi: perasaan kesedihan yang psikopatologis. 10. Anhedonia: hilangnya minat terhadap dan menarik diri dari semua aktivitas rutin dan menyenangkan, seringkali disertai dengan depresi. 11. Duka cita (berkabung): kesedihan yang sesuai dengan kehilangan yang nyata. 12. Aleksitimia: ketidakmampuan atau kesulitan dalam menggambarkan atau menyadari emosi atau mood seseorang.

Emosi Yang Lain: 1. Kecemasan: perasaan kekhawatiran yang disebabkan oleh dugaan bahaya, yang mungkin berasal dari dalarn atau luar. 2. Kecemasan yang mengambang bebas (free floating anxiety): rasa takut yang meresap dan tidak terpusatkan dan tidak terikat pada suatu gagasan tertentu. 3. Ketakutan: kecemasan yang disebabkan oleh bahaya yang dikenali secara sadar dan realistik. 4. Agitasi: kecemasan berat yang disertai dengan kegelisahan rnotorik 5. Ketegangan (tension): peningkatan aktifitas motorik dan psikologis yang tidak menyenangkan.

6. Panik: Serangan kecemasan yang akut, episodik, yang kuat disertai dengan perasaan ketakutan yang rnelanda dan pelepasan otonomik. 7. Apati: irama emosi yang turnpul yang disertai dengan pelepasan (detachment) atau ketidakacuhan (indifference). 8. Ambivalensi: terdapat secara bersama-sama dua impuls yang berlawanan terhadap hal yang sarna pada satu orang yang sama pada waktu yang sama. 9. Abreaksional (abreaction): pelepasan atau pelimpahan emosional setelah mengingat pengalarnan yang menakutkan. 10. Rasa malu: kegagalan membangun pengharapan diri. 11. Rasa bersalah: emosi sekunder karena melakukan sesuatu yang dianggap salah.

Gangguan Psikologis Yang Berhubungan Dengan Mood: Tanda disfungsi somatik (biasanya otonomik) pada seseorang, paling sering berhubungan dengan depresi (juga disebut tanda vegetatif). 1. Anoreksia: hilangnya atau menurunnya nafsu makan. 2. Hiperfagia: meningkatnya nafsu makan dan asupan makanan. 3. Insomnia: hilangnya atau menurunnya kemarnpuan untuk tidur. Awal : kesulitan jatuh tertidur. Pertengahan: kesulitan tidur sepanjang malam tanpa terbangun dan kesulitan kembali tidur. Terminal: terbangun pada dini hari. 4. Hipersomnia: tidur yang berlebihan. 5. Variasi diurnal: mood yang secara teratur terburuk pada pagi hari, segera setelah terbangun, dan membaik dengan semakin siangnya hari. 6. Penurunan libido: penurunan minat, dorongan dan daya seksual (peningkatan libido sering disertai keadaan manik). 7. Konstipasi: ketidakmampuan atau kesulitan defekasi.

D. PERILAKU MOTORIK (KONASI) Aspek jiwa yang termasuk impuls, motivasi, harapan, dorongan, instink dan idaman, seperti yang diekspresikan oleh perilaku atau aktivitas motorik seseorang. 1. Ekopraksia: peniruan pergerakan yang patologis seseorang pada orang lain. 2. Katatonia: kelainan motorik dalam gangguan nonorganik (sebagai lawan dari gangguan kesadaran dan aktivitas motorik sekunder dari patologi organik). Katalepsi: istilah umum untuk suatu posisi yang tidak bergerak yang dipertahankan terus menerus. Luapan katatonik (catatonic furor): aktivitas motorik yang teragitasi, tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulasi eksternal Stupor katatonik: penurunan aktivitas motorik yang nyata, seringkali sampai titik imobilitas dan tampaknya tidak menyadari sekeliling. Rigiditas katatonik: penerimaan postur yang kaku yang disadari, menentang usaha untuk digerakkan. Posturing katatonik: penerimaan postur yang tidak sesuai atau kaku yang disadari, biasanya dipertahankan dalam waktu yang lama. Cerea flexibilitas (fleksibilitas lilin): seseorang dapat diatur dalam suatu posisi yang kemudian dipertahankannya; jika pemeriksa menggerakkan anggota tubuh pasien, anggota tubuh terasa seakanakan terbuat dari lilin. 3. Negativisme: tahanan tanpa motivasi terhadap semua usaha untuk menggerakkan atau terhadap semua instruksi. 4. Katapleksi: hilangnya tonus otot dan kelemahan secara sementara yang dicetuskan oleh berbagai keadaan emosional. 5. Stereotipik: pola tindakan fisik atau bicara yang terfiksasi dan berulang. 6. Mannerisme: pergerakan tidak disadari, dan bersifat habitual. 7. Otomatisme: tindakan atau tindakan-tindakan yang otomatis yang biasanya mewakili suatu aktivitas simbolik yang tidak disadari.

8. Otomatisme perintah: otomatisme mengikuti sugesti (juga disebut kepatuhan otomatik). 9. Mutisme: tidak bersuara tanpa kelainan struktural. 10. Overaktivitas: Agitasi psikomotor: overaktivitas motorik dan kognitif yang

berlebihan, biasanya tidak produktif dan sebagai akibat respons atas ketegangan dari dalam (inner tension). Hiperaktivitas/hiperkinesis: kegelisahan dan aktivitas destruktif, seringkali disertai dengan dasar patologi pada otak. Tik: pergerakan motorik yang spasmodik dan tidak disadari. Tidur berjalan (somnambulisme): aktivitas motorik saat tertidur. Akathisia: perasaan subjektif terhadap ketegangan motorik sebagai akibat sekunder dari medikasi antipsikotik atau medikasi lain yang dapat menyebabkan kegelisahan; duduk dan berdiri berulang secara berganti -ganti dan berulang; dapat disalahartikan sebagai agitasi psikotik. Kompulsi: impuls tidak terkontrol untuk melakukan tindakan berulang. Ataksia: kegagalan koordinasi otot, iregularitas gerakan otot. Polifagia: makan berlebihan yang patologis.

11. Hipoaktifitas/hipokinesis: penurunan aktivitas motorik dan kognitif, seperti pada retardasi psikomotor; perlambatan pikiran, bicara dan pergerakan yang dapat terlihat. 12. Mimikri: aktivitas motorik tiruan dan sederhana pada anak-anak. 13. Agresi: tindakan yang kuat dan diarahkan tujuan yang mungkin verbal atau fisik; bagian motorik dari afek kekerasan, kemarahan atau permusuhan. 14. Memerankan (acting out): ekspresi langsung dari suatu harapan atau impuls yang tidak disadari dalam bentuk gerakan; fantasi yang tidak disadari dihidupkan secara impulsif dalam perilaku. 15. Abulia: penurunan impuls untuk bertindak dan berpikir, disertai dengan ketidakacuhan tentang akibat tindakan; disertai dengan defisit neurologis.

16. Vagaboundage : jalan-jalan seperti berkelana tanpa tujuan.

E. PROSES PIKIR (BERPIKIR) Aliran gagasan, simbol dan asosiasi yang diarahkan oleh tujuan dimulai oleh suatu masalah atau suatu tugas dan mengarah pada kesimpulan yang berorientasi kenyataan; jika terjadi urutan yang logis, berpikir adalah normal; parapraksis (tergelincir dari logis yang termotivasi secara tidak disadari juga disebut pelesetan menurut Freud) dianggap sebagai bagian dari berpikir yang normal.

Gangguan Umum dalam Bentuk atau Proses Berpikir: 1. Gangguan mental: sindroma perilaku atau psikologis yang bermakna secara klinis, disertai dengan penderitaan atau ketidakmampuan, tidak hanya suatu respon yang diperkirakan dari peristiwa tertentu atau terbatas pada hubungan antara seseorang dan masyarakat. 2. Psikosis: ketidakmampuan untuk membedakan kenyataan dari fantasi; gangguan dalam kemampuan menilai kenyataan, dengan menciptakan realitas baru (berlawanan dengan neurosis: gangguan mental di mana kemampuan menilai kenyataan yang masih utuh, perilaku tidak jelas melanggar norma-norma sosial, serta relatif masih dapat bertahan lama atau rekuren tanpa pengobatan). 3. Tes kenyataan atau realitas: pemeriksaan dan pertimbangan objektif tentang dunia di luar diri. 4. Gangguan pikiran formal: gangguan dalam bentuk pikiran, malahan isi pikiran; berpikir ditandai dengan kekenduran asosiasi, neologisme dan konstruksi yang tidak logis; proses berpikir mengalami gangguan, dan lazimnya dianggap sebagai orang yang psikotik. 5. Berpikir tidak logis: berpikir mengandung kesimpulan yang salah atau kontradiksi internal; hal ini adalah patologis jika nyata dan tidak disebabkan oleh nilai kultural atau defisit intelektual. 6. Dereisme: aktivitas mental yang tidak sesuai dengan logika atau pengalaman.

7. Berpikir autistik: preokupasi dengan dunia dalam dan pribadi; istilah digunakan agak sama dengan dereisme. 8. Berpikir magis: suatu bentuk pikiran dereistik; berpikir adalah serupa dengan fase praoperasional pada masa anak-anak (Jean Piaget), di mana pikiran, kata-kata atau tindakan mempunyai kekuatan (sebagai contohnya, mereka dapat menyebabkan atau mencegah suatu peristiwa). 9. Proses berpikir primer: istilah umum untuk berpikir yang dereistik, tidak logis, magis; normalnya ditemukan pada mimpi, abnormal pada psikosis.

Gangguan Spesifik pada Bentuk Pikiran: 1. Neologisme: kata baru yang diciptakan oleh pasien, seringkali dengan mengkombinasikan suku kata dari kata-kata lain, untuk alasan psikologis yang aneh (idiosinkratik) Contoh : AASSDFHIOOOOO. 2. Word salad (gado-gado kata): carnpuran kata dan frasa yang membingungkan. Contoh : kemarin jatuh ada kuda polisi durian tiba-tiba bagaimana ee

3. Sirkumstansialitas: bicara yang tidak langsung yang lambat dalam mencapai tujuan tetapi pada akhirnya mulai lagi dari titik awal untuk mencapai tujuan yang diharapkan; ditandai dengan pemasukan detaildetail yang tidak bermakna. Contoh : apa pekerjaan nona? dijawab tahun 2000 kita kan baru lulus SMU kong ta pe tanta pangge ka Manado,waktu itu musim rok mini di toko-toko kong dia tawarkan jadi SPG di Matahari,ada stou 2 taun kita disitu.Disana no atik baku dapa deng doI kong paitua pangge pi jo pa de pe Om pecaffe.Taon 2003,20042007 Juli kita schwangger des brenti no...(penanya sudah tertidur)

4. Tangensialitas: ketidakmarnpuan untuk mempunyai asosiasi pikiran yang diarahkan oleh tujuan; pasien tidak pemah berangkat dari titik awal dari tujuan yang diinginkan.

5. lnkoherensi: pikiran yang, biasanya, tidak dapat dimengerti; berjalan bersama pikiran atau atau katakata dengan hubungan yang tidak logis atau tanpa tata bahasa, yang menyebabkan disorganisasi; terputusnya asosiasi antar ide-ide yang ekstrim sehingga tidak dapat dimengerti sama sekali. Contoh : ada tiga durian kemarin mandi sudah ke pasar saya Agnes Monica tidak lupa menggosok sepatu Hypermart low price low hipssssst. 6. Perseverasi: respon terhadap stimulus sebelumnya yang menetap setelah stimulus baru diberikan, sering disertai dengan gangguan kognitif. 7. Verbigerasi: pengulangan kata-kata atau frasa-frasa spesifik yang tidak mempunyai arti. 8. Ekolalia: pengulangan kata-kata atau frasa-frasa seseorang oleh seseorang lain secara psikopatologis; cenderung berulang dan menetap, dapat diucapkan dengan mengejek atau intonasi yang terputusputus. 9. Kondensasi: penggabungan berbagai konsep menjadi satu konsep. 10. Jawaban yang tidak relevan: jawaban yang tidak harmonis dengan pertanyaan yang ditanyakan (pasien tampaknya mengabaikan pertanyaan). Contoh : Ada dimana sayang? jawaban diujung Hp yang lain Ooooh iiiyo kakanda segera kesana! 11. Pengenduran asosiasi: aliran pikiran di mana gagasan-gagasan bergeser dari satu subjek ke subjek lain dalam cara yang sama sekali tidak berhubungan; jika berat, bicara mungkin membingungkan (inkoheren). 12. Keluar dari jalur (derailment): penyimpangan yang mendadak dalarn urutan pikiran tanpa penghambatan; seringkali digunakan secara sama dengan pengenduran asosiasi. 13. Lompat gagasan (flight of ideas): verbalisasi atau permainan kata-kata yang cepat dan terus menerus yang menghasilkan terus pergeseran terus menerus dari satu ide ke ide lain; ide-ide cenderung dihubungkan, dan dalam bentuk yang kurang parah pendengar mungkin mampu untuk mengikutinya.

Contoh : tadi ada supervisor yang masuk Cuma sebentar,ya saya akan jadi pedagang grosir menjual pasir di pasar hati-hati kesasar di Makasar- ombak besar pernah menyambar Sumbar..

14. Asosiasi bunyi (clang assosiation): asosiasi kata-kata yang mirip bunyinya tetapi berbeda artinya; kata tidak mempunyai hubungan logis, dapat termasuk permainan sajak dan permainan kata. 15. Penghambatan (blocking): terputusnya aliran berpikir secara tiba-tiba sebelum pikiran atau gagasan diselesaikan; setelah suatu periode terhenti singkat; orang tampak tidak teringat pada apa yang telah dikatakan atau apa yang akan dikatakan (juga dikenal sebagai pencabutan pikiran). Contoh : sering terjadi pada saat Co-Ass ujian. 16. Glossolalia: ekspresi pesan-pesan yang relevan melalui kata-kata yang tidak dipahami (juga dikenal sebagai "berbahasa lidah"); tidak dianggap sebagai gangguan pikiran jika terjadi pada praktek keagamaan tertentu.

Gangguan Spesifik Pada Isi Pikiran: 1. Kemiskinan isi pikiran: pikiran yang memberikan sedikit informasi karena tidak ada pengertian, pengulangan kosong atau frasa yang tidak jelas. 2. Gagasan yang berlebihan: keyakinan palsu yang dipertahankan dan tidak beralasan yang dipertahankan secara kurang kuat dibandingkan dengan suatu waham. 3. Waham: keyakinan palsu, didasarkan pada kesimpulan yang salah tentang kenyataan eksternal tidak sejalan dengan inteligensia pasien dan latar belakang kultural, yang tidak dapat dikoreksi dengan suatu alasan apapun. Waham yang kacau dan aneh (bizzare delusion): keyakinan palsu yang aneh, mustahil dan sama sekali tidak masuk akal (sebagai contohnya: orang dari angkasa luar telah menanamkan suatu elektroda pada otak pasien).

Waham tersistematisasi: keyakinan yang palsu yang digabungkan oleh suatu tema atau peristiwa tunggal (sebagai contohnya: pasien dimata- matai oleh agen rahasia, mafia atau bos).

Waham yang sejalan dengan mood (mood congruent delusion): waham yang sesuai dengan mood (sebagai contoh: seorang pasien depresi percaya bahwa ia bertanggungjawab untuk penghancuran dunia).

Waham yang tidak sejalan dengan mood (mood incongruent delusion): waham dengan isi yang tidak mempunyai hubungan dengan mood atau merupakan mood netral (sebagai contohnya, pasien depresi mempunyai waham kontrol pikiran atau siar pikiran).

Waham nihilistik: perasaan palsu bahwa dirinya dan orang lain dan dunia adalah tidak ada atau berakhir. Waham kemiskinan: keyakinan palsu bahwa pasien kehilangan atau akan terampas semua harta miliknya. Waham somatik: keyakinan yang palsu menyangkut fungsi tubuh pasien (sebagai contohnya, keyakinan bahwa otak pasien adalah berakar atau mencair).

Waham paranoid: termasuk waham persekutorik dan waham referensi, kontrol dan kebesaran (dibedakan dari ide paranoid, dimana kecurigaan adalah lebih kecil dari bagian waham).

Waham persekutorik: keyakinan palsu bahwa pasien sedang diganggu, ditipu atau disiksa; sering ditemukan pada seorang pasien yang senang menuntut yang mempunyai kecenderungan patologis untuk mengambil tindakan hukum karena penganiayaan yang dibayangkan.

Waham kebesaran: gambaran kepentingan, kekuatan atau identitas seseorang yang berlebihan. (sebagai contoh, seorang laki-laki yang ditinggal lari istrinya mengaku memiliki penis khusus yang hanya boleh dipakai untuk senggama dengan Zulaika Rivera.Seorang wanita mengaku jauh lebih cantik dari Nadine Chandrawinata padahal dia labiopalatoschizis.)

Waham referensi: keyakinan palsu bahwa perilaku orang lain ditujukan pada dirinya; bahwa peritiwa, benda-benda atau orang lain, mempunyai kepentingan tertentu dan tidak biasanya, umumnya dalam bentuk negatif, diturunkan dari idea referensi, di mana seseorang secara salah merasa bahwa ia sedang dibicarakan oleh orang lain (sebagai contohnya, percaya bahwa orang di televisi atau di radio berbicara padanya atau membicarakan dirinya).

Waham menyalahkan diri sendiri: keyakinan yang palsu tentang penyesalan yang dalam dan bersalah. (sebagai contoh, seorang pemuda di Aceh karena ulahnya merasa sebagai penyebab Tsunami.)

Waham pengendalian: perasaan palsu bahwa kemauan, pikiran atau perasaan pasien dikendalikan oleh tenaga dari luar. Contoh : sasasaya dokter ada yang suruh suruh masuk ke tempat hiburan sex yang tidak bisa saya tolaaaak. Penarikan pikiran (thought withdrawal): waham bahwa pikiran pasien dihilangkan dari ingatanya oleh orang lain atau tenaga lain. Penanaman pikiran (thought insertion): waham bahwa pikiran ditanam dalam pikiran pasien oleh orang atau tenaga lain. Siar pikiran (thought broadcasting): waham bahwa pikiran pasien dapat didengar oleh orang lain, seperti pikiran mereka sedang disiarkan di udara. Pengendalian pikiran (thought control): waham bahwa pikiran pasien dikendalikan oleh orang atau tenaga lain. Contoh : Seorang laki-laki mengatakan bahwa ada microchips didalam kepalanya yang berisi program kegiatan sehari-hari.

Waham ketidaksetiaan (waham cemburu): keyakinan palsu yang didapatkan dari kecemburuan patologis bahwa kekasih pasien adalah tidak jujur.

Erotomania: waham bahwa seseorang sangat mencintai dirinya; lebih sering pada perempuan; juga dikenal dengan Kompleks Cleramnault -

Kandinsky). Contoh : Seorang wanita tidak mau kawin-kawin karena menunggu Prince Charming datang menjemput. Pseudologia phantastica: suatu jenis kebohongan, di mana seseorang tampaknya percaya terhadap kenyataan fantasinya dan bertindak atas kenyataan; disertai dengan sindroma Munchausen, berpura-pura sakit yang berulang.

4. Kecenderungan atau preokupasi pikiran: pemusatan isi pikiran pada ide tertentu, disertai dengan irama efektif yang kuat, seperti kecenderungan paranoid atau preokupasi tentang bunuh diri atau membunuh. 5. Egomania: preokupasi dengan diri sendiri yang patologis. 6. Monomania: preokupasi dengan suatu objek tunggal. 7. Hipokondria: keprihatinan yang berlebihan tentang kesehatan pasien yang didasarkan bukan pada patologi organik yang nyata, tetapi pada interpretasi yang tidak realistik terhadap tanda atau sensasi fisik sebagai suatu yang tak normal. Contoh : Seorang pasien merasa yakin bahwa isi perutnya berdarah-darah karena terasa tidak enak. 8. Obsesi: pikiran kukuh (persisten) yang patologis, sekalipun tidak dikehendaki pasien, pikiran mana yang tidak dapat ditentang dan tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika; biasanya disertai dengan kecemasan. 9. Kompulsi: kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu tindakan yang jika ditahan, menyebabkan kecemasan; perilaku berulang sebagai respon suatu obsesi atau dilakukan menurut aturan tertentu, tanpa akhir yang sebenarnya. Contoh : Seseorang merasa belum mengunci pintu dan berulang kali mengeceknya bahkan sampai tidak tertidur sepanjang malam. 10. Koprolalia: pengungkapan kompulsif dari kata kata yang cabul/kotor. 11. Fobia: rasa takut patologis yang persisten, irasional, berlebihan, dan selalu terjadi terhadap suatu jenis stimulasi atau situasi tertentu; menyebabkan keinginan yang memaksa untuk menghindari stimulasi yang ditakuti.

12. Noesis: suatu wahyu di mana terjadi pencerahan yang besar sekali disertai dengan perasaan bahwa pasien telah dipilih untuk memimpin dan memerintah. 13. Unio mystica: suatu perasaan yang meluap, pasien secara mistik bersatu dengan kekuatan yang tidak terbatas; tidak dianggap suatu gangguan dalam isi pikiran jika sejalan dengan keyakinan pasien atau lingkungan kultural.

F. BICARA Gagasan, pikiran, perasaan yang diekspresikan melalui bahasa; komunikasi verbal.

Gangguan Bicara: 1. Tekanan bicara (pressure of speech): bicara cepat yaitu peningkatan jumlah dan kesulitan untuk memutus pembicaraan. Dapat terjadi pada orang cerewet,lagi marah atau jatuh cinta. 2. Kesukaan/banyak bicara (logorrhea): bicara yang banyak sekali, bisa koheren, bisa inkoheren. 3. Kemiskinan bicara (poverty of speech): pembatasan jumlah bicara yang digunakan; jawaban mungkin hanya satu suku kata (monosyllabic). 4. Bicara yang tidak spontan: respon verbal yang diberikan hanya jika ditanya atau dibicarakan langsung; tidak ada bicara yang dimulai dari diri sendiri. 5. Kemiskinan isi bicara: bicara yang adekuat dalam jumlah tetapi memberikan sedikit informasi karena ketidakjelasan, kekosongan, atau frasa yang stereotipik. 6. Disprosodi: hilangnya irama bicara yang normal. 7. Disartria: kesulitan artikulasi, bukan dalam penemuan kata atau tata bahasa. 8. Bicara yang keras atau lemah secara berlebihan: hilangnya modulasi volume bicara normal; dapat mencerminkan berbagai keadaan patologis mulai dari psikosis sampai depresi sampai ketulian.

9. Gagap (stuttering): pengulangan atau perpanjangan suara atau suku kata yang sering, menyebabkan gangguan kefasihan bicara yang jelas. 10. Cluttering: bicara yang aneh dan disritmik, yang mengandung semburan kata-kata yang cepat dan menyentak. Orang mabuk alkohol.

Gangguan Afasik: Gangguan dalam pengeluaran bahasa (neurologis) 1. Afasia motorik: gangguan bicara yang disebabkan oleh gangguan kognitif di mana pengertian adalah tetap tetapi kemampuan untuk bicara adalah sangat terganggu; bicara terhenti-henti, susah payah dan tidak akurat (juga dikenal sebagai afasia Broca, tidak fasih dan ekspresif). 2. Afasia sensoris: kehilangan kemampuan organik untuk mengerti arti kata; bicara adalah lancar dan spontan, tetapi membingungkan dan yang bukanbukan (juga dikenal sebagai afasia Wernicke, fasih dan reseptif). 3. Afasia nominal: kesulitan untuk menemukan nama yang tepat untuk suatu benda (juga dikenal sebagai afasia anomia dan amnestik). 4. Afasia sintatikal: ketidakmampuan untuk menyusun kata-kata dalam urutan yang tepat. 5. Afasia Jargon: kata-kata yang dihasilkan seluruhnya neologistik; katakata yang tidak masuk akal yang diulang-ulang dengan berbagai intonasi dan nada suara. 6. Afasia global: kombinasi afasia yang sangat tidak fasih dan afasia fasih yang berat.

G. PERSEPSI Proses pemindahan stimulasi fisik menjadi informasi psikologis; proses mental di mana stimulasi sensoris dibawa ke kesadaran.

Gangguan Persepsi: 1. Halusinasi: persepsi sensoris yang palsu yang terjadi tanpa stimulasi eksternal yang nyata; mungkin terdapat atau tidak terdapat interpretasi waham sehubungan dengan pengalaman halusinasi tersebut.

a. Halusinasi hipnagogik: persepsi sensoris yang palsu yang terjadi saat akan tertidur biasanya dianggap sebagai fenomena yang nonpatologis. b. Halusinasi hipnopompik: persepsi palsu yang terjadi saat terbangun dari tidur; biasanya dianggap tidak patologis. c. Halusinasi dengar (auditoris): persepsi bunyi yang palsu, biasanya suara tetapi juga bunyi-bunyi lain, seperti musik; merupakan halusinasi yang paling sering pada gangguan psikiatrik. Contoh : Dokter ada orang yang ja basuruh pakita tiap pagi keliling kampung,kemanapun pergi selalu tu suara-suara itu iko. d. Halusinasi visual: persepsi palsu tentang penglihatan yang berupa citra yang berbentuk (sebagai contohnya, orang) dan citra yang tidak berbentuk (sebagai contohnya, kilatan cahaya); paling sering pada gangguan organik. e. Halusinasi penciuman (olfaktoris): persepsi membau yang palsu; paling sering pada gangguan organik. f. Halusinasi pengecapan (gustatoris): persepsi tentang rasa kecap yang palsu, seperti rasa kecap yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh kejang; paling sering pada gangguan organik. Contoh : Makanan yang berubah rasa padahal itu makanan favoritnya. g. Halusinasi perabaan (taktil; haptic): persepsi palsu tentang perabaan atau sensasi permukaan, seperti dari tungkai yang teramputasi (phantom limb); sensasi adanya gerakan pada atau di bawah kulit (kesemutan). h. Halusinasi somatik: sensasi palsu tentang sesuatu hal yang terjadi di dalam atau terhadap tubuh; paling sering berasal dari bagian viseral tubuh (juga dikenal sebagai halusinasi kenestetik). i. Halusinasi liliput: persepsi yang palsu di mana benda-benda tampak lebih kecil ukuranya (juga dikenal sebagai mikropsia). j. Halusinasi yang sejalan dengan mood (mood-congruent

hallucination): halusinasi di mana isi halusinasi adalah konsisten dengan mood yang tertekan atau manik (sebagai contohnya, pasien

yang mengalami depresi mendengar suara yang mengatakan bahwa pasien adalah orang yang jahat; seorang pasien manik mendengar suara yang mengatakan bahwa pasien memiliki harga diri, kekuatan dan pengetahuan yang tinggi). k. Halusinasi yang tidak sejalan dengan mood (mood-incongruent hallucination): halusinasi di mana isinya tidak konsisten dengan mood yang tertekan atau manik (sebagai contohnya, pada depresi, halusinasi tidak melibatkan tema -tema tersebut seperti rasa bersalah, penghukuman yang layak, atau ketidakmampuan; pada mania, halusinasi tidak mengandung tema-tema tersebut seperti harga diri atau kekuasaan yang tinggi). l. Halusinosis: halusinasi, paling sering adalah halusinasi dengar, yang berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol kronis yang terjadi dalam sensorium yang jernih, berbeda dengan delirium tremens (DTs), yaitu halusinasi yang terjadi dalam konteks sensorium yang berkabut. m. Sinestesia: sensasi atau halusinasi yang disebabkan oleh sensasi lain, (sebagai contohnya, suatu sensasi auditoris yang disertai atau dicetuskan oleh suatu sensasi visual; suatu bunyi dialami sebagai dilihat, atau suatu penglihatan dialami sebagai didengar). n. Trailing phenonemon: kelainan persepsi yang berhubungan dengan obat-obat halusinogenik di mana benda yang bergerak dilihat sebagai sederetan citra yang terpisah dan tidak kontinu.

2. Ilusi: mispersepsi atau misinterpretasi terhadap stimulasi eksternal yang nyata.

Gangguan yang Berhubungan dengan Gangguan Kognitif dan Kondisi Medik: Agnosia, ketidakmampuan untuk mengenali dan menginterpretasikan

kepentingan kesan sensoris. 1. Anosognosia (ketidaktahuan tentang penyakit): adanya ketidakmampuan untuk mengenali suatu defisit neurologis yang terjadi pada pasien.

2. Somatopagnosia (ketidaktahuan tentang tubuh): adanya ketidakmampuan untuk mengenali suatu bagian tubuh sebagai milik tubuhnya sendiri (juga disebut sebagai autopagnosia). 3. Agnosia visual: ketidakmampuan untuk mengenali benda-benda atau orang. 4. Astereognosis: ketidakmampuan untuk mengenali benda melalui sentuhan. 5. Prosopagnosia: ketidakmampuan mengenali wajah. 6. Apraksia: ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu. 7. Simultagnosia: ketidakmampuan untuk mengerti lebih dari satu elemen pandangan visual pada suatu waktu atau untuk mengintegrasikan bagian bagian menjadi keseluruhan. 8. Adiadokokinesis: adanya ketidakmampuan untuk melakukan pergerakan yang berubah dengan cepat.

Gangguan yang Berhubungan dengan Fenomena Konversi dan Disosiatif: Terjadinya somatisasi materi-materi yang direpresi atau berkembangnya gejala dan distorsi fisik yang melibatkan otot-otot volunter atau organ sensorik tertentu bukan di bawah kontrol volunter dan tidak dapat dijelaskan oleh karena gangguan fisik. 1. Anestesia histerikal: hilangnya modalitas sensoris yang disebabkan oleh konflik emosional. 2. Makropsia: pasien menyatakan bahwa benda-benda tampak lebih besar dari sesungguhnya; bisa berhubungan dengan kondisi organik, seperti epilepsi kejang parsial kompleks. 3. Mikropsia: pasien menyatakan bahwa benda-benda adalah lebih kecil dari sesungguhnya; bisa berhubungan dengan kondisi organik, seperti epilepsi kejang parsial kompleks. 4. Depersonalisasi: suatu perasaan subjektif merasa tidak nyata, aneh atau tidak mengenali diri sendiri. 5. Derealisasi: suatu perasaan subjektif bahwa lingkungan adalah aneh atau tidak nyata; suatu perasaan tentang perubahan realistik.

6. Fugue: mengambil identitas baru pada amnesia identitas yang lama; seringkali termasuk berjalan-jalan atau berkelana ke lingkungan yang baru. 7. Kepribadian ganda (multiple personality): satu orang yang tampak pada waktu yang berbeda menjadi dua atau lebih kepribadian dan karakter yang sama sekali berbeda. (disebut disosiatif identitas yang terdapat dalam edisi revisi dari Diagnostic and statistical Manual of Mental

H. DAYA INGAT Daya ingat merupakan fungsi di mana informasi disimpan di otak dan selanjutnya diingat kembali ke kesadaran.

Ganggguan Daya Ingat: 1. Amnesia: ketidakmampuan sebagian atau keseluruhan untuk mengingat pengalaman masa lalu; mungkin berasal dari organik atau emosional. a. Anterograd: amnesia untuk peristiwa yang terjadi setelah suatu titik waktu. b. Retrograd: amnesia sebelum suatu titik waktu.

2. Paramnesia: pemalsuan ingatan oleh distorsi pengingatan a. Fausse reconnaissance: pengenalan yang palsu.

b. Pemalsuan retrospektif: ingatan secara tidak diharapkan (tidak disadari) menjadi terdistorsi saat disaring melalui keadaan emosional, kognitif, dan pengalaman pasien sekarang. c. Konfabulasi: pengisian kekosongan ingatan secara tidak disadari oleh pengalaman yang dibayangkan atau tidak nyata yang dipercayai pasien tetapi tidak mempunyai dasar kenyataan; paling sering berhubungan dengan patologi organik. d. Deja vu: ilusi pengenalan visual di mana situasi yang baru secara keliru dianggap sebagai suatu pengulangan ingatan sebelumnya. e. Deja entendu: ilusi pengenalan auditoris. f. Deja pense: ilusi bahwa suatu pikiran baru dikenali sebagai pikiran yang sebelumnya telah dirasakan atau diekspresikan.

g. Jamais vu: perasaan palsu tentang ketidakkenalan terhadap situasi nyata yang telah dialami oleh seseorang.

3. Hipermnesia (daya ingat yang meninggi): peningkatan derajat penyimpanan dan pengingatan. 4. Eidetic image: ingatan visual tentang kejelasan halusinasi. 5. Screen memory: ingatan yang dapat ditoleransi secara sadar menutup ingatan yang menyakitkan. 6. Represi: suatu mekanisme pertahanan yang ditandai oleh pelupaan secara tidak disadari terhadap gagasan atau impuls yang tidak dapat diterima. 7. Letologika: ketidakmampuan sementara untuk mengingat suatu nama atau suatu kata benda yang tepat. 8. Photographic memory : ingatan yang kuat sejelas dan sepasti sebuah gambar.

I. Tingkat Daya Ingat 1. Daya ingat yang segera (immediate memory): reproduksi atau pengingatan hal- hal yang dirasakan dalam beberapa detik sampai menit. 2. Daya ingat yang baru saja (recent memory): pengingatan peristiwa yang telah lewat beberapa hari. 3. Daya ingat yang agak lama (recent past memory): pengingat peristiwa yang telah lewat selama beberapa bulan. 4. Daya ingat yang jauh (remote memory): pengingatan peristiwa yang telah lama terjadi.

J. TILIKAN (INSIGHT)\ Kemampuan pasien untuk mengerti penyebab sebenarnya dan arti dari suatu situasi (seperti sekumpulan gejala). 1. Tilikan Intelektual: Kemampuan untuk mengerti kenyataan objektif tentang suatu keadaan tanpa kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam cara yang berguna untuk mengatasi situasi.

2. Tilikan Sejati: Kemampuan untuk mengerti kenyataan objektif tentang suatu situasi, disertai dengan daya pendorong motivasi dan emosional untuk mengatasi situasi. 3. Tilikan yang Terganggu: Kehilangan kemampuan untuk mengerti kenyataan objektif dari suatu situasi. Suatu ringkasan tentang tingkat tilikan menurut PPDGJ III adalah sebagai berikut: 1. Penyangkalan penyakit sama sekali. 2. Agak menyadari bahwa mereka sakit dan membutuhkan bantuan tetapi dalam waktu yang bersamaan menyangkal penyakitnya. 3. Sadar bahwa mereka adalah sakit tetapi melemparkan kesalahan pada orang lain, pada faktor eksternal, atau pada faktor organik. 4. Sadar bahwa penyakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak diketahui pada diri pasien. 5. Tilikan intelektual: menerima bahwa pasien sakit dan bahwa gejala atau kegagalan dalam penyesuaian sosial adalah disebabkan oleh perasaan irasional atau gangguan tertentu dalam diri pasien sendiri tanpa menerapkan pengetahuan untuk pengalaman di masa depan. 6. Tilikan emosional sejati: kesadaran emosional tentang motif dan perasaan di dalam diri pasien dan orang yang penting dalam kehidupannya, yang dapat menyebabkan perubahan dasar dalam perilaku pasien.