P. 1
Laporan fisiologi Jantung

Laporan fisiologi Jantung

|Views: 162|Likes:
Dipublikasikan oleh Letta Kusuma Samudra
semoga bermanfaat
semoga bermanfaat

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Letta Kusuma Samudra on Jul 09, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

I.

PENDAHULUAN

Jantung adalah organ dengan rongga rongga yang berotot dan berfungsi untuk memompa darah melalui pembuluh darah oleh kontraksi otot berirama dan berulang terus menerus. Jantung terdiri atas dua pompa yang terpisah, yaitu bagian jantung kanan, yang berfungsi untuk memompakan darah ke paru-paru, dan bagian jantung kiri yang memompakan darah ke organ-organ perifer. Setiap bagian jantung yang terpisah ini merupakan dua ruang pompa yang selalu berdenyut selama manusia masih hidup, kedua ruang ini terdiri atas satu atrium dan satu ventrikel. Setiap atrium dari masing-masing bagian jantung berfungsi sebagai pompa pendahulu yang lemah bagi ventrikel, untuk membantu mengalirkan darah masuk ke dalam ventrikel. Setiap ventrikel dari masing-masing bagian jantung berfungsi sebagai penyedia tenaga pemompa utama yang memompakan darah ke jaringan yang berbeda. Ventrikel kanan berfungsi untuk memompakan darah ke paru-paru melalui arteri pulmonal, dan ventrikel kiri yang memiliki otot yang lebih tebal berfungsi untuk memompakan darah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi sistemik. Di dalam jantung terdapat mekanisme khusus yang menyebabkan kontraksi jantung secara terus menerus, yang kita kenal sebagai irama jantung, menjalarkan potensial aksi ke seluruh otot jantung untuk menimbulkan denyut jantung yang berirama. Sifat utama otot jantung adalah membangkitkan sendiri impuls untuk merangsang irama denyut jantung. Jantung terdiri atas tiga tipe otot jantung yang utama, yang menjadikan jantung sebagai organ istimewa yang memiliki mekanisme khusus.Yaitu otot atrium dan otot ventrikel, dan serabut otot eksitatorik, serta konduksi khusus. Tipe otot atrium dan ventrikel berkontraksi dengan cara yang sama seperti otot rangka, namun, durasi untuk kontraksi otot atrium dan ventrikel lebih lama. Serabut-serabut otot eksitatorik dan konduksi khusus berkontraksi dengan sangat lemah sebab serabut-serabut ini hanya mengandung sedikit sekali serabut kontraktil. Sebaliknya, serabut-serabut ini memiliki peranan dalam pelepasan muatan listrik berirama dan otomatis dalam bentuk potensial aksi atau konduksi yang melalui jantung, dan bekerja sebagai suatu sistem yang mengatur denyut jantung yang berirama.

1

Adrenalin 4. Cairan ringer 3. Asetilkolin atau pilokarpin 5. Dengan pinset mengangkat episternum. Termometer 6. Mengangkat epikardium dengan ujung pinset. ALAT DAN BAHAN Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah 1.II. 4. Stopwatch 9. Merusak otak dan sumsum tulang belakang katak menggunakan sonde. dan mempelajari otomasi jantung. Alat diseksi / anatomi set 7. 2. 5. pengaruh suhu dan zat kimia terhadap denyut jantung. 3. Cara melakukan diseksi pada katak 1. 6. III. Papan fiksasi katak 8. Katak ( Bufo melanosticus ) 2. Membuat sayaan di garis median perut dan dada katak. CARA KERJA A. TUJUAN Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah mempelajari beberapa sifat fisiologis dari otot jantung. Memotong tulang rawan sternum dengan gunting. Es batu 10. Memfiksasi katak pada papan fiksasi dengan bagian ventral tubuh ke atas. Cawan petri IV. 2 .

2. D. atau teteskan pilokarpin sebanyak 2-3 tetes pada jantung katak. Mengisi terlebih dahulu cawan petri yang tersedia dengan larutan ringer. meneteskan larutan adrenalin 1 : 1000 sebanyak 2-3 tetes pada jantung dan menghitung frekuensi denyut jantungnya. Cara melakukan percobaan morfologi dan denyut jantung 1. C. Kemudian menghitung frekuensi denyutnya selama 1 menit. 5. 3. Larutan ringer bersuhu kamar tadi kemudian diganti dengan larutan ringer bersuhu 40°C-50°C. Membebaskan jantung dari tenunan jaringan di sekitarnya. 4. Membasahi jantung dengan larutan ringer. Dengan sebuah pipet. Cara melakukan percobaan otomasi jantung 1. Mengamati denyut jantung. kemudian membilas kembali dengan ringer sebanyak 2-3 kali. Mengganti larutan ringer dingin dengan larutan ringer bersuhu kamar. Setelah itu mengganti larutan ringer panas tadi dengan larutan ringer bersuhu kamar. kontraksi otot jantung sistole ditandai warna pucat. Menggambar jantung yang terlihat dari katak yang sudah diseksi. Cara melakukan percobaan pengaruh suhu dan zat kimia pada otot jantung 1. Kemudian mencatat frekuensi denyut jantungnya selama 1 menit. 2. B. Dengan sebuah pipet. 3. meneteskan larutan asetilkolin 1 : 10. 6. Menuangkan sebagian larutan ringer ke sekitar jantung hingga suhunya menurun.000. Kontraksi diastole ditandai dengan warna merah kecoklatan. 3 . dan memotong pembuluh pembuluh darah yang berhubungan dengan jantung sejauh mungkin dari jantung. Membuka perikardium hingga jantung ke luar. Mendinginkan larutan ringer sehingga suhunya menjadi 4°C-10°C. kemudian menghitung frekuensi denyutnya selama 1 menit. 3.7. 2. lalu menghitung frekuensinya selama 1 menit. tunggu sebentar lalu menghitung frekuensi denyut jantung selama 1 menit. Menjepit ujung ventrikel jantung katak dengan pinset dan menariknya ke atas.

Angkat jantung yang sudah bebas dari jaringan jaringan di sekitarnya. PEMBAHASAN 4 . HASIL PERCOBAAN Nomor Macam Percobaan Suhu dingin Suhu panas Asetilkolin Adrenalin Otomasi 1 2 3 4 5 Frekuensi denyut jantung per menit Sebelum Sesudah 60x/min 22x/min 22x/min 26x/min 26x/min 17x/min 17x/min 10x/min 35x/min 20x/min VI.4. V. Mengamati sifat otomasi jantung dan menghitung frekuensi denyutnya. dan letakkan dalam cawan petri yang telah diisi dengan larutan ringer tadi. 5. susunan saraf otonom dan tidak dialiri darah. jantung akan tetap berdenyut walaupun sudah terlepas dari susunan saraf pusat.

digunakan larutan asetilkolin atau pilokarpin 1 : 10. menurunkan frekuensi irama nodus sinus. Dalam percobaan terhadap jantung katak. Curah jantung dapat ditingkatkan hingga lebih dari 100 persen untuk sejumlah nilai masuknya tekanan atrium. hal ini menjelaskan mengapa peningkatan rangsang parasimpatis dapat menurunkan frekuensi denyut jantung daripada menurukan kekuatan kontraksi jantung. penghambatan rangsang saraf simpatis akan menurunkan curah jantung. Namun hasil percobaan menunjukan hasil yang berbeda dengan teori. asetilkolin ini sangat meningkatkan permeabilitas serabut saraf tersebut terhadap ion kalium. digunakan larutan adrenalin 1 : 1000. dan menurunkan eksitabilitas serabut penghubung A-V sehingga penjalaran impuls ke ventrikel akan terhambat. hal ini disebabkan karena perangsangan simpatis pada jantung akan meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung hingga dua kali melebihi batas normal. curah jantung juga dapat diturunkan hingga serendah nol atau mendekati nol melalui perangsangan parasimpatis (vagus). Perangsangan parasimpatis yang kuat juga dapat menurunkan kekuatan kontraksi ventrikel hingga 20 sampai 30 persen. maka keadaan ini menurunkan denyut jantung dan kekuatan ventrikel hingga akhirnya menurunkan curah jantung hingga 30 persen dibawah normal. yang secara teori akan meningkatkan kecepatan pelepasan impuls dari nodus sinus dan meningkatkan kecepatan konduksi serta meningkatkan eksitabilitas di semua bagian jantung.Kerja jantung pada makhluk hidup dipengaruhi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. Dan akan menyebabkan peningkatan volume darah yang dipompa serta meningkatkan tekanan ejeksi. Hal ini dapat berlangsung karena peran perangsangan simpatis. Dalam percobaan mengenai pengaruh zat kimia terhadap kerja jantung. dan memeiliki dua peranan utama yaitu. meningkatkan kekuatan kontraksi otot otot jantung. Sebaliknya. Jadi. sehingga mempermudah kebocoran 5 . Penurunan curah jantung ini terjadi karena dalam keadaan normal. sehingga menimbulkan potensial membran istirahat menjadi lebih positif dan mempercepat self excitation. Namun jantung dapat mengatasinya dengan berdenyut dengan kecepatan 20 kali hingga 40 kali per menit. Perangsangan simpatis pada jantung dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung dari 70 menjadi 180 atau bahkan hingga 200 kali per menit. apabila rangsangan saraf simpatis ini ditekan hingga dibawah normal. Hal ini kemungkinan disebabkan larutan adrenalin terlalu pekat sehingga menghentikan kerja jantung. saraf simpatis melepaskan sinyal dengan kecepatan rendah untuk mempertahankan pemompaan hingga 30 persen. Perangsangan ini akan membebaskan asetilkolin ke ujung saraf parasimpatis. Saraf saraf vagus didistribusikan terutama ke otot atrium dan tidak banyak ke ventrikel. Seharusnya jantung berdetak lebih cepat namun ternyata jantung katak berdetak lebih lambat. perangsangan saraf simpatis akan membebaskan norepinefrin yang akan meningkatkan permeabilitas terhadap ion natrium dan kalsium di dalam nodus sinus. Perangsangan serabut saraf parasimpatis oleh nervus vagus pada jantung yang kuat dapat menghentikan denyut jantung hingga beberapa saat.000. Sebaliknya.

hal ini sesuai dengan teori mengenai pengaruh suhu terhadap kerja jantung. yang membuat jaringan ini jadi kurang peka. Pengaruh peningkatan suhu terhadap peningkatan frekuensi denyut ini kemungkinan disebabkan karena panas akan meningkatkan permeabilitas membran otot jantung terhadap ion yang merngatur frekuensi denyut jantung. yaitu perangsangan parasimpatis menurunkan frekuensi denyut jantung dari 26x per menit menjadi 17x per menit. Namun. Di nodus A-V menyebabkan perangsangan saraf vagus yang akan menyulitkan serabut atrium kecil memasuki nouds sinus untuk mencetuskan aliran listrik dalam jumlah yang cukup untuk merangsang serabut nodus. sifat pembocoran terhadap ion ion natrium dan kalsium menyebabkan timbulnya self excitation. Dalam percobaan mengenai otomasi jantung. jantung katak dilepaskan dari jaringan jaringan disekitarnya dan dipotong pembuluh darah bagian distalnya hingga jantung katak sama sekali terpisah dari tubuh katak. Hasil percobaan menunjukan hasil 6 . maka kanal natrium kalsium akan menjadi aktif dan menimbulkan potensial aksi. Karena tingginya konsentrasi ion natrium dalam cairan ektrasel diluar serabut nodus. potensial aksi akan menutup kanal tersebut dan menjadi tidak aktif. yaitu pemberian larutan ringer dengan suhu panas meningkatkan denyut jantung dari 22x per menit menjadi 26 kali per menit karena peningkatan permeabilitas terhadap suhu panas. Asetilkolin atau pilokarpin menurunkan denyut jantung dengan meningkatkan permeabilitas otot jantung terhadap ion kalium. didapatkan hasil yang sesuai dengan teori. Hal ini menyebabkan peningkatan potensial membran istirahat ke arah positif secara lambat. peningkatan suhu yang lama dapat melemahkan sistem metabolik jantung dan akhirnya menyebabkan kelemahan. ion natrium yang bermuatan positif akan masuk ke dalam serabut. Saat potensial mencapai ambang batas kira kira sebesar -40mV. Meningkatkan kenegatifan. Peningkatan suhu dapat menyebabkan peningkatan frekuensi denyut jantung. Hal ini disebut self excitation. Dan pemberian larutan ringer suhu rendah menurunkan frekuensi denyut jantung katak.kalium dari sistem konduksi. namun penurunan yang besar akan menghambat konduksi secara total. hal ini menyebabkan kebocoran kembali ion ion natrium ke dalam serabut dan sekali lagi menimbulkan potensial aksi. Karenanya. Pada percobaan pada jantung katak. Penurunan yang derajatnya sedang akan memperlambat konduksi impuls. sejumlah besar ion kalium yang bermuatan positif akan keluar dari serabut dan mengurangi potensial intrasel sehingga kembali ke potensial istirahat yang lebih negatif dan mengakhiri potensial aksi. didapatkan hasil yang sesuai dengan teori. akan banyak kanal kalium yang tertutup kembali setelah berakhirnya potensial istirahat yang negatif. Jantung adalah organ istimewa yang dapat berkontraksi dengan rangsangan impuls yang dihasilkannya sendiri dari nodus sinus melalui mekanisme kanal natrium kalium dan kanal kalsium. Peristiwa ini akan terus berlanjut selama kehidupan. hal ini bertujuan untuk membuktikan bahwa jantung memiliki keistimewaan untuk melakukan self excitation. Pada percobaan terhadap jantung katak. Dalam waktu sekitar 100-150 milidetik setelah kanal natrium kalsium terbuka. dan pada waktu yang bersamaan. Secara bertahap. dan disebut sebagai hiperpolarisasi. Sebaliknya penurunan suhu terhadap jantung akan mengakibatkan penurunan frekuensi denyut jantung. Perubahan suhu ternyata juga berpengaruh terhadap kerja otot jantung.

sehingga denyut jantung sudah melemah terlebih dahulu. dengan frekuensi denyut awal 35x per menit. Percobaan ini dilakukan dengan katak yang berbeda dengan katak yang digunakan untuk percobaan pengaruh zat kimia terhadap jantung. Hal ini dapat terjadi karena jantung adalah organ yang memiliki sel sel khusus yang dinamakan sel sel pacemaker. secara teori jantung masih dapat berdenyut dan hasil percobaan menunjukan hasil yang sesuai. jadi meskipun jantung katak dilepaskan dari pembuluh darah dan jaringan disekitarnya. setelah otomasi menurun hingga 20x per menit. yaitu jantung katak tetap berdenyut setelah dipisahkan dari tubuh katak. Sel ini dapat menimbulkan sendiri konduksi listrik untuk mengatur kelistrikan jantung.yang sesuai dengan teori mengenai otomasi jantung. KEPUSTAKAAN 7 . VII. kemungkinan terjadi kesalahan pada waktu melakukan diseksi dan terlalu lama dalam melakukan percobaan otomasi jantung.

.. 8 .D. Penuntun praktikum fisiologi jantung. Textbook of Medical Physiology. Edisi sebelas. Ph. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. M. Hall. Jakarta: Bagian Fisiologi FKUKI. 2011.1. Jackson. 2.D. missisipi. Arthur C. Guyton. John E.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->