Anda di halaman 1dari 13

Ekologi Laut Tropis

Aktivitas Manusia dan Dampak Terhadap Ekosistem Laut Dalam

Disusun Oleh : Dyah Retno Saylia Soffyranti Vebry Ardiansih Resti Ayu Intan Safura Aprilia 230210110055 230210110057 230210110060 230210110065 230210110066

Universitas Padjadjaran Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Pogram Studi Ilmu Kelautan 2013

Aktivitas Manusia dan Dampak Terhadap Ekosistem Laut Dalam


Resti Ayu Intan1*, Dyah Retno1, Saylia Soffyranti1, Vebry Ardiansih1, and Safura Aprilia1
1

Mahasiswa Program Sarjana Ilmu Kelautan, FPIK-UNPAD, Bandung-Indonesia

Kata Kunci Deep-sea ecosystem, aktivitas manusia, dampak langsung, dampak tidak langsung

ABSTRAK Makalah yang berjudulkan aktivitas manusia dan dampak bagi ekosistem laut dalam ini dibuat agar masyarakat khususnya para pelajar maupun mahasiswa atau mahasiswi mengetahui bahwa aktivitas manusia sebenarnya berpengaruh terhadap ekosistem laut dalam. Laut dalam merupakan area kolam air dan dasar laut yang berada dibawah 200 meter, dimana tembusan cahaya matahari sangat rendah atau bahkan tidak terdapat cahaya sama sekali untuk mendukung terjadinya proses fotosintesis. Aktivitas manusia dalam hal ini dapat didefinisikan sebagai segala tindakan atau kegiatan yang tidak disengaja maupun yang disengaja ataupun secara langsung maupun tidak langsung yang berdampak atau berpengaruh terhadap ekosistem laut dalam. Aktivitas manusia yang dapat berdampak bagi ekosistem laut dalam seperti penangkapan ikan di laut dalam, operasi minyak dan gas lepas pantai, pembuangan limbah dan polusi, dan pertambangan di laut dalam.

PENDAHULUAN Manusia sebagai makhluk sosial tentunya memiliki hubungan yang sangat erat dengan manusia lainnya dan tidak menutup kemungkinan untuk berhubungan pula dengan ekosistem disekitarnya. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia baik itu kegiatan yang komersial maupun nonkomersial pasti memiliki dampak positif dan juga negatif bagi lingkungan sekitarnya. Laut dalam yang biasa dikenal dengan nama deepsea merupakan salah satu lingkungan atau ekosistem yang memiliki kaitan erat dengan beragam kegiatan manusia. Kegiatan manusia yang berhubungan langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan (ekosistem) salah satunya yaitu kegiatan eksploitasi laut dalam yang tidak ramah lingkungan. Laut dalam merupakan semua zona yang terletak di bawah zona eufotik (zona bercahaya) mencakup zona batipelagis, abilsal dan hadal (Nontji,2002). Bagian dari lingkungan bahari yang terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka dan lebih dalam dari paparan benua. Sebagaimana kita ketahui bahwa organisme laut dalam memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitar. Sedikit saja perubahan yang terjadi didasar laut dapat menyebabkan kerusakan bagi ekosistem tersebut yang bahkan dapat menyebabkan kepunahan bagi beberapa spesies. Ditambah lagi dengan tingkat pertumbuhan dan produktivitasnya yang rendah. Eksploitasi perikanan adalah kasus eksploitasi berlebihan pada skala industry yang sudah sudah sangat hancur dimana beberapa stok ikan laut dalam, bahkan mungkin di luar titik pemulihan. Pukat dasar, khususnya, menghancurkan sebagian besar dari dasar laut yang dalam pada waktu (Gianni, 2004). Kemajuan teknologi dalam dekade terakhir telah membuka akses ke laut dalam untuk usaha industri dan ilmiah (Gianni, 2004) kedua bidang kegiatan tersebut tidak sepenuhnya independen satu sama lain. Riset kelautan baik yang terapan maupun yang bertujuan sebagai ilmiah murni, sangat penting untuk pemahaman kita tentang lingkungan laut dan perannya dalam siklus biogeofisik.

ISI Ekosistem Laut Dalam Ekosistem laut dalam didefinisikan sebagai area kolam air dan dasar laut yang berada dibawah 200 meter, dimana tembusan cahaya matahari sangat rendah untuk mendukung terjadinya proses fotosintesis. Secara pandangan biologi, daerah laut dalam dibagi menjadi beberapa zona, yaitu : Zona Mesopelagik (200 1000 meter), dimana sinar matahari semakin dalam sudah mulai tidak terlihat; Zona Bathypelagik (1000 2000 meter); Zona Abysalpelagik (6000 - 10000 meter); dan Hadal pelagik (dibawah 10000 meter). Struktur dan topografi dasar laut dalam (deep-seafloor) sangat kompleks dan bervariasi.

Dampak Terhadap Ekosistem Laut Dalam Perkembangan teknologi yang terjadi saat ini memungkinkan terjadinya eksploitasi sumber daya perikanan, hidrokarbon dan mineral dasar laut bahkan di bawah kedalaman 2000 m. Peningkatan CO2 di atmosfer dan konsekuensi perubahan iklim akan berdampak paling besar pada habitat laut dalam dan faunanya. Dipredisikan bahwa terdapat ekosistem laut dalam dapat beresiko tinggi terhadap dampak aktivitas manusia di masa yang akan datang yaitu komunitas bentik di sedimen lereng atas, karang air dingin, komunitas bentik pelagis dan bentik gunung bawah laut. Dampak manusia terhadap pengaruh kimia logam dapat di lihat melalui pembuangan logam ballast, sementara itu akan tinggi di daerah di mana tidak ada logam yang terbentuk secara alami. Keanekaragaman hayati tinggi di laut dalam dapat membuat ekosistem ini menjadi sumber daya berharga untuk biologi dan genetika bahan potensi yang memiliki nilai komersial yang tinggi, dimana yang sering dikenal sebagai bioproses. Di laut dalam, bioproses yang terjadi masih dalam tahap awal. Sampai saat ini, penelitian dan pengembangan produk telah berpusat terutama pada pengembangan enzim baru untuk digunakan dalam berbagai industri dan proses manufaktur, dan DNA polimerase untuk digunakan dalam penelitian dan diagnosis. Baru-baru ini, beberapa penelitian telah menguntung bagi bidang

farmasi dan terapi aplikasi seperti antijamur, produk anti-kanker dan kulit produk perlindungan. Tingkat dampak aktivitas manusia terhadap laut dalam

diklasifikasikan sebagai berikut ; Aktifitas yang berdampak langsung dan yang tidak berdampak langsung. Pada tabel 2.1 ringkasan kegiatan apa saja yang berpotensial mempengaruhi ekosistem laut dalam secara langsung.

Penangkapan Ikan di Laut Dalam Perikanan laut menjadi layak secara komersial dan menarik karena dua alasan utama: (i) penurunan dan meningkatkan kontrol / regulasi dari stok ikan tradisional dangkal, daerah pesisir di bawah yurisdiksi nasional dan (ii) perkembangan teknologi yang menyediakan perangkat dan peralatan yang diperlukan untuk mengambil ikan di perairan yang lebih efektif. Karakteristik dan sifat hidup yang paling penting dari organisme laut seperti pertumbuhan lambat, reproduksi lambat, umur panjang yang luar biasa dan produktivitas yang rendah berlaku juga untuk jenis ikan laut dalam. Hal ini memiliki implikasi besar bagi pendekatan yang akan diambil dalam konservasi, perlindungan dan pengelolaan / penggunaan stok ikan laut yang berkelanjutan. Secara umum, alat yang basanya digunakan untuk

mengambil ikan di dasar perairan adalah trawl. trawl membutuhkan kapal laut yang besar dan kuat, sering dimiliki / dioperasikan oleh perusahaan komersial besar dengan subsidi pemerintah (misalnya, untuk

membangun kapal baru atau pajak bahan bakar). Meskipun stok ikan laut telah dimanfaatkan sejak akhir 1960-an, beberapa spesies telah menurun sehingga mereka dapat dikategorikan sebagai "terancam punah", beberapa dari mereka praktis tidak dikenal kelautan dan biologi ilmu. Sementara sebagian besar ekosistem laut terancam oleh demersal trawl, resikonya sangat besar bagi seamounts dan komunitas terumbu karang air dingin. Pengumpan suspensi seperti karang air dingin dan bidang spons laut dalam sangat beresiko dari dampak fisik dan dibekap oleh sedimen. Bukti dampak pada karang air dingin dari bawah trawl termasuk gambar terumbu hancur dan sejumlah besar karang bycatch (baik karang pembentuk dan spesies soliter). Tiga puluh hingga lima puluh persen dari karang air dingin di perairan Norwegia rusak parah atau mati, dan pertumbuhan sangat lambat mereka teracam untuk mudah dipulihan.

Operasi minyak dan gas lepas pantai Survei seismik sistematis oleh perusahaan minyak dan gas,

dikombinasikan dengan "ground-truthing" data dari pengeboran program (misalnya, Deep Sea Drilling Project, Ocean Drilling Program, Program Pengeboran Lautan Terintegrasi dan usaha swasta lainnya) telah menghasilkan informasi yang cukup besar pada tepi benua dan sifat lapisan tanah laut.

Ancaman lingkungan dan dampak yang dihasilkan dari kegiatan tersebut di perairan yang lebih dapat diperkirakan berdasarkan pengalaman dan analisis operasi minyak dan gas air dangkal. Dampak fisik langsung relatif rendah. Dampak potensial lainnya adanya polusi kimia (misalnya, dari rilis operasional bahan kimia dan lumpur pengeboran dan / atau disengaja, tumpahan mendadak) yang mungkin terjadi selama proses pengeboran. Bocornya, dan paparan kronis, kontaminan ini dapat memiliki dampak serius pada ekosistem sekitar, terutama organisme sessile. Perairan yang lebih dalam di bagian utara North Sea, Norwegia, dari barat laut Skotlandia dan di Atlantik "segitiga emas" adalah semua wilayah di mana minyak laut dan eksplorasi serta ekstraksi gas mungkin terjadi dekat dengan ekosistem laut yang rentan, seperti bidang spons laut atau karang air dingin. Tapi implikasi mengenai sensitivitas lingkungan karang air dingin, seperti Lophelia pertusa, dekat minyak lepas pantai dan platform pengeboran gas tidak jelas sebagai jumlah eksposur untuk mengebor debit seringkali tidak diketahui. Selain itu, karang dapat menggunakan platform untuk penyelesaian karena mereka memberikan substrat keras di daerah yang mengalami ocurring substrat keras.

Kehadiran, atau pembentukan, terumbu karang di sekitar instalasi di mana trawl dilarang, mungkin menunjukkan bahwa dampak lingkungan dari operasi minyak dan gas dalam air kurang merusak dalam jangka pendek dibandingkan dengan pukat dasar. Namun demikian, penelitian lebih rinci dari (shortand jangka panjang) efek fisik dan kimia pengeboran pembuangan limbah pada ekosistem yang diperlukan untuk memiliki penilaian yang lebih tepat dari dampak lingkungan. Dampak lain potensi kegiatan minyak dan gas di laut dalam adalah penyebaran spesies invasif sebagai bergerak lambat dan sering tertambat kapal, seperti platform pengeboran berfungsi sebagai terumbu buatan yang besar dan karena itu menimbulkan risiko penularan spesies asing ketika (dan jika) mereka dibawa ke pantai untuk pemeliharaan.

Pembuangan Limbah dan Polusi Polusi, limbah dan sampah yang berasal dari daratan, yang sengaja di buang ke laut (seperti bahan kimia beracun, minyak, dan bahan radioaktif), hilang (seperti minyak dan alat tangkap), dan atau dibuang (seperti kantong plastic, jarring ikan yang rusak). Sekitar 80 persen pencemaran di lautan

berasal dari aktivitas di daratan. Seperti limbah kota, limbah

industry dan pertanian. Limbah industry nuklir dan militer

merupakan sumber dari beberapa limbah yang paling berbahaya yang terbuang ke laut.

Tipe lain dari pencemaran yang berdampak pada laut dalam adalah polusi akustik. Transportasi maritime di seluruh dunia semakin meningkat, begitu pula dengan jumlah perahu dan kapal di laut. Dampak akustik dari suara frekuensi rendah yang dihasilkan oleh kapal, tidak terbatas pada perairan pesisir, tetapi menembus ke bagian dalam dari lautan. Banyak ditimbulkan limbah dan dampak dari yang

pembuangan terhadap

polusi

ekosistem laut dalam. Bioakumulasi bahan kimia beracun semakin

mempengaruhi

keanekaragaman

hayati laut. Bahan yang paling beracun adalah senyawa senyawa Tribultin (TBT) (Galil, 2006). Zat zat ini biasa digunakan sebagai antifouling dalam cat kapal (Santillo et al., 2011). Limbah zat TBT berdampak pada system kekebalan mamalia laut dan pada system produksi moluska. Senyawa TBT dapat mencapai kedalaman laut yang dalam, dari penelitian zat ini sudah di temukan di krustasea laut dalam, cephalopoda, enchinodermata, gastropoda dan ikan di laut dalam (Takahashiet al, 1997; Borghi dan Porte, 2002). Di dasar laut, plastik menjadi penghalang untuk gas dan pertukaran nutrisi dan organism bentik. Plastik juga menimbulkan ancaman besar bagi mamalia laut, kura-kura dan burung laut melalui konsumsi, keterikatan, dan selanjutnya mati.

Pertambangan di Laut Dalam Kegiatan penambangan di laut dalam sebagian besar masih prospektif. Sejak tahun 1987, Otoritas Dasar Laut Internasional (ISA) telah menandatangani delapan kontrak eksplorasi, yang memungkinkan kontraktor untuk prospek dan mengeksplorasi nodul di daerah tertentu di luar yurisdiksi nasional. Banyak Industri baru-baru ini menginvestasikan beberapa juta dolar di bidang pertambangan laut. Terpisah dari pertimbangan lingkungan, beberapa faktor ekonomi mempengaruhi kelayakan penambangan laut. Mereka termasuk harga

logam, ketersediaan dan biaya dari pilihan teknologi yang berbeda, serta biaya energi. Sebagai teknologi regards, kedalaman bukanlah satu-satunya kendala. Semakin kompleks geometri deposit dan struktur dasar laut, yang lebih canggih (dan karena itu berpotensi kurang dapat diandalkan) perangkat mengumpulkan perlu. Deposito yang berbeda dapat diklasifikasikan dari relatif mudah (nodul) untuk cukup sulit (Cobalt-remah) dan lebih sulit (sulfida) untuk menambang. Potensi dampak lingkungan dari penambangan laut masih perlu diteliti lebih lanjut, termasuk pemulihan ekosistem laut setelah penambangan telah terjadi. Studi dampak sebelumnya oleh para ilmuwan Jerman dan AS, dan studi keanekaragaman hayati oleh para ilmuwan Perancis telah menunjukkan fauna unik yang terkait dengan bidang nodul, yang akan terancam dalam kasus pertambangan skala besar. Demikian pula, sulfida masif pertambangan kemungkinan akan mempengaruhi fauna yang unik sekitar ventilasi hidrotermal, baik dengan pembunuhan langsung dari organisme oleh mesin pertambangan atau dengan mengubah aliran fluida yang organisme ini. Individu hidup yang

mengalami gangguan ini akan tunduk pada perubahan radikal dalam kondisi habitat. Ventilasi beberapa dasar laut polimetalik deposito sulfida dapat menjadi aktif dan berhenti menyediakan habitat bagi fauna ventilasi kemosintetik khusus. Setelah ini terjadi, daerah-daerah aktif dapat dijajah oleh tetangga organisme laut. Sebelum menyimpulkan bahwa pertambangan di daerah aktif tersebut akan menimbulkan sedikit ancaman terhadap keanekaragaman hayati, pengambilan sampel lebih luas adalah diminta untuk menetapkan sifat fauna mereka, seperti pertambangan akan menghilangkan habitat ekosistem laut dalam.

PENELITIAN LEBIH LANJUT Selama ini penelitian tentang dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem laut dalam sudah merangkum dampak aktivitas manusia secara langsung maupun tidak langsung terhadap habitat perairan dalam dan ekosistemnya, seperti pada table 3.1. Harus diperhatikan bahwa dampak-dampak ini dapat terjadi secara sinergis dengan dampak kumulatif, dan dampak tidak langsung akan

menimbulkan tingkat stress yang tinggi terhadap sistem. Akan tetapi, masih harus adanya penelitian lebih lanjut untuk mengkualifikasi dan kuantifikasi dampak secara total.

Dengan rendahnya ilmu pengetetahuan terhadap lingkungan perairan dalam, sangat penting untuk mengutamakan analisis dampak lingkungan terhadap aktifitas manusia yang dapat berdampak terhadap perairan dalam. Selain itu juga, dibutuhkan juga untuk memulai memonitor aktifitas. Ini membutuhkan adaptasi metodologi yang sudah ada, atau membuat dan menguji teknik baru yang sesuai utnuk melihat kondisi perairan dalam dan lingkugannya. ICES mengdefinisikan sensitive habitats adalah habitat ya ng dengan mudahnya terkena dampak dari aktifitas manusia, dan/atau daerah yang sudah terkena dampak dapat kemungkinan pulih tapi perlu waktu yang lama, atau tidak sama sekali (ICES, 2005). Untuk dapat mengidentifikasi dan mengdefinisikan habitat sensitif perairan dalam, kita harus lebih memahami inti dari aktifitasaktifitas dan scenario untuk pembangunan di masa depan. Kunci penelitian terhadap aktifitas manusia untuk meneliti hubungannya dengan laut dalam adalah map aktifitas, dampka, stakeholders, dan konflik yang potensial antar aktivitas dan pembangunan kedepannya dalam aktifitas ekonomi.

Penelitian ini juga harus meneliti mengenai variasi dampak langsung maupun tidak langsung bisa jadi saling berhubungan dan menyatu. Dari sini, dengan mempelajari dampak-dampak sebelumnya mengenai potensi ekosistem dan layanan yang ada dari ekosistem perairan daram, termasuk nilai sosio-ekonomik, dapat mempermudah penilaian sehingga dapat memprioritaskan area untuk tindakan kebijakan, tergantung dengan kerentanan dan kerapuhan dampaknya.

KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu adanya aktivitas manusia dapat berdampak secara langsung terhadap ekosistem laut dalam. Aktivitas manusia yang dapat berdampak bagi ekosistem laut dalam seperti penangkapan ikan di laut dalam, operasi minyak dan gas lepas pantai, pembuangan limbah dan polusi, dan pertambangan di laut dalam. Penggunaan trawl pada penangkapan ikan di laut dalam akan merusak habitat maupun ekosistem yang ada dilaut dalam. Dampak potensial yang dapat terjadi akibat dari operasi minyak dan gas lepas pantai yaitu adanya polusi kimia mungkin terjadi selama proses pengeboran yang dapat mengganggu kehidupan ekosistem dilaut dalam. Dampak yang ditimbulkan dari pembuangan limbah dan polusi terhadap ekosistem laut dalam seperti terjadinya bioakumulasi bahan kimia beracun dan plastic dapat menjadi penghalang untuk gas dan pertukaran nutrisi dan organisme bentik. Sedangkan dampak lingkungan dari penambangan laut masih perlu diteliti lebih lanjut, termasuk pemulihan ekosistem laut setelah penambangan terjadi.

DAFTAR PUSTAKA Armstrong Claire W., Foley Naomi, Tinch Rob, Van den Hove Sybille. 2010. Ecosistem Goods and Services of the Deep Sea. Hotspot Ecosystem Research and Mans impact on European Seas (HERMIONE).

Danovarto R, Company Joan B, Corinaldesi C, DOnghia G, Galil B. 2010. DeepSea Biodiversity in the Mediterranean Sea: The Known, the Unknown, and the Unknowable. Journal Plus One. Gjerde Kristina M. 2006. Ecosystem s and Biodiversity in Deep Waters and High Seas. UNEP Regional Seas Report and Studies. Switzerland. Ramirez-Liodra Eva, Tyler Paul A., Baker Maria C., Bergstad Odd Aksel, Clark Malcolm R., Escobar Elva. 2011. Man and the Last Great Wilderness: Human Impact on the Deep Sea. Journal Plus One. Sanchez-Vidal Anna, Canals Miquel, Calafat Antoni M., Lastras Galderic, Pedrosa-Pamies Rut, Menendez Melisa. 2010. Impacts on the Deep-Sea Ecosystem by a Severe Coastal Strom. Journal Plus One. Van den Hove Sybille, Moreau Vincent. 2007. Deep-sea Biodiversyti and Ecosystem. UNEP World Conservation Monitoring Center.