Anda di halaman 1dari 18

EFEKTIFITAS PENYULUHAN GIZI OLEH KADER KESEHATAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU MENUJU SEHAT (KMS) DI POSYANDU PUSKESMAS JAGIR

KOTA SURABAYA JANUARI-FEBRUARI 2011

Oleh: DEWI SUSANTI NIM. 06020023

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Seiring dengan bertambahnya umur, asupan zat gizi yang lebih rendah dibandingkan kebutuhan, serta tingginya beban penyakit infeksi pada awal kehidupan, maka sebagian besar bayi Indonesia terus mengalami penurunan status gizi dengan puncak penurunan pada umur kurang lebih 18-24 bulan. Pada kelompok umur inilah prevalensi balita kurus (wasting) dan balita pendek (stunting) mencapai titik tertinggi. Setelah melewati umur 24 bulan, status gizi balita umumnya mengalami perbaikan meskipun tidak sempurna ( Hadi,2012). Sejalan dengan perkembangan paradigma pembangunan telah ditetapkan arah kebijakan pembangunan kesehatan, yang tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) 2010-2014 bidang kesehatan, dalam upaya ,mencapai target Milenium Development Goals(MDGs) di bidang kesehatan ditingkatan intensitasnya dengan tetap memberikan perhatian khusus pada penyelenggara pelayanan kesehatan ibu dan anak,pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, penanggulangan penyakit dan gizi buruk, penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana, dan pelayanan kesehatan di daerah terpencil,daerah tertinggal dan perbatasan (Depkes RI,2004). Dan pada rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJK) tahun 2005-2025 pada bidang kesehatan memiliki sasaran untuk menurunkan prevalensi Gizi kurang balita dari 26% pada tahun 2005 menjadi 9,5% pada tahun 2025 (Depkes RI,2009) Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat

penurunan angka kematian ibu dan bayi (Depkes RI, 2006). Di Indonesia alat yang digunakan untuk memantau tumbuh kembang balita adalah Kartu Menuju Sehat (KMS). Melalui KMS dilakukan pengukuran pertumbuhan balita dengan cara menuliskan umur dan berat badan balita berupa titiktitik yang mengikuti garis kurva pertumbuhan. Garis kurva pertumbuhan pada KMS mempunyai fungsi sebagai monitoring pertumbuhan dan perkembangan balita yang harus dicapai oleh grafik berat badan sesuai standar kelompok balita sehat. Salah satu faktor penyebab pertumbuhan dan perkembangan balita adalah gizi balita. Intervensi kesehatan dan gizi harus diberikan secara optimal pada masa balita ini untuk menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Salah satu indikator gizi yang paling sensitif adalah kenaikan berat badan (Sedyaningsih, 2011). Salah satu layanan kesehatan yang terdapat di posyandu adalah layanan kegiatan kartu menuju sehat (KMS) untuk balita . Kartu Menuju (KMS-Balita) adalah alat sederhana yang di gunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan balita. KMS tersebut berupa buku catatan yang di gunakan sebagai alat untuk pencatatan pertumbuhan dan perkembangan anak. Di dalam KMS terdapat agen-agenda yang harus di ikuti anak usia tersebut , sebagai contoh agenda jadwal yang terdapat di dalam KMS yaitu imunisasi dan pengukuran lengan kepala (Ardhitya Widya Irawan,2008). Dan data yang di peroleh atas angka gizi kurang dan gizi buruk pada balita di indonesia,Jawa Timur menempati peringkat pertama dari 3 propinsi yang ada di pulau jawa jawa yaitu yaitu sebesar 72.427 kasus balita dengan berat badan di Bawah Garis Merah (BGM) dan 13.312 kasus balita menderita gizi buruk (Dinas kesehatan propinsi jawa timur,2009). Berdasarkan permasalahan dari latar belakang di atas, maka penulis mencoba untuk menganalisis dan mengkaji Efektifitas Penyuluhan Gizi oleh Kader Kesehatan Menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Karena di latar belakangi oleh keputusan walikota surabaya No 188.45/323/432.1.2/2010 yang menjadikan Puskesmas Jagir sebagai Puskesmas percontohan di wilayah Surabaya. 1.2 Rumusan masalh

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah seberapa efektif penyuluhan Gizi oleh kader kesehatan menggunakna Media Kartu menuju sehat (KMS) di Posyandu Puskesmas Jagir kota surabaya. 1.3 Tujuan penelitian 1.3.1 Tujuan umum Menganalisa tingkat efektifitas penyuluhan Gizi oleh kader kesehatan balita menggunakan media KMS sebagai sarana peningkatan status Gizi di posyandu. 1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengindetifikasi pengetahuan kader posyandu tentang bagaimana tata cara pemakaian KMS balita. 1.3.2.2 Mengetahui peran kader posyandu dalam usaha peningkatan gizi balita. 1.3.2.3 Mengetahui kader kesehatan yang akan tahu peran KMS terhadap status gizi balita. 1.3.2.4 Mengetahui status gizi balita di puskesmas jagir kota surabaya.

1.4 Manfaat penelitian Hasil penelitian ini diharaokan dapat memberikan manfaat: 1.4.1 Bagi profesi Tenaga kesehatan akan lebih profesional dan dapat menjalankan programnya dengan lebih baik dalam memberikan wawasan tentang pentingnya pemenuhan gizi pada balita. 1.4.2 Bagi pengambilan kebijakan Memberikan masukan dengan meningkatkan peran serta masyarakat khususnya kader kesehatan agar dapat membantu program pemerintah dalam upaya menurunkan angka kurang gizi pada balita dan juga menurunkan angka kematian pada balita akibat kurang gizi. 1.4.3 Bagi pengembang ilmu Pengetahuan dan Teknologi Menambah kajian baru ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatankhususnya di bidang kesehatan ibu dan anak sehingga bisa dijadikan penelitian lanjutan. 1.4.4 Bagi Masyarakat Dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya ibu balita tentang pentingnya menggunakan KMS untuk memamtau pertumbuhan dan perkembangan anak serta memantau status gizi,sehingga dapat menekan angka mortalitas akibat gizi buruk dengan keteraturan ibu mengikuti penyuluhan di posyandu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Penyuluhan 2.1.1 Pengertian Penyuluhan Gizi

Istilah penyuluhan sering kali dibedakan dari penerangan, walaupun keduanya merupakan upaya edukatif. Secara umum penyuluhan lebih menekankan bagaimana, sedangkan penerangan lebih menitikberatkan pada apa. Penyuluhan memiliki arti lebih luas dan menyeluruh. Penyuluhan merupakan upaya perubahan perilaku manusia yang dilakukan melalui pendekatan edukatif. Pendekatan edukatif diartikan sebagai rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematik, terencana, dan terarah dengan peran serta aktif individu maupun kelompok atau masyarakat, untuk memecahkan masalah masyarakat dengan memperhitungkan faktor sosial-ekonomibudaya setempat. Dalam hal penyuluhan di masyarakat sebagai pendekatan edukatif untuk menghasilkan perilaku, maka terjadi proses komunikasi antar penyuluh dan masyarakat. Dari proses komunikasi ini ingin diciptakan masyarakat yang mempunyai sikap mental dan kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Sesuai dengan pengertian yang dijelaskan tersebut, maka penyuluhan gizi adalah suatu pendekatan edukatif untuk menghasilkan perilaku individu atau masyarakat yang diperlukan dalam peningkatan dan mempertahankan gizi yang baik (Suhardjo, 2003).
2.1.2 Proses Adopsi dalam Penyuluhan

Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Menurut Rogers yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu, interest (tertarik), yakni orang tersebut mulai tertarik kepada stimulus, evaluation (evaluasi), yakni orang tersebut mulai menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi, trial (mencoba), yakni orang tersebut telah mulai mencoba perilaku baru, adoption (adopsi), yakni orang tersebut telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
2.1.3 Metode dan Media Penyuluhan 2.1.3.1 Metode Penyuluhan

Menurut Van deb Ban dan Hawkins yang dikutip oleh Lucie (2005), pilihan seorang agen penyuluhan terhadap suatu metode atau teknik penyuluhan sangat tergantung kepada tujuan khusus yang ingin dicapai. Berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai, penggolongan metode penyuluhan ada tiga, yaitu: 1. Metode Berdasarkan Pendekatan Perorangan Dalam metode ini, penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan sasarannya secara perorangan. Metode ini sangat efektif karena sasaran dapat secara langsung memecahkan masalahnya dengan bimbingan khusus dari penyuluh. 2. Metode Berdasarkan Pendekatan Kelompok Dalam metode ini, penyuluh berhubungan dengan sasaran penyuluhan secara kelompok. Metode ini cukup efektif karena sasaran dibimbing dan diarahkan untuk melakukan suatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerjasama. Dalam pendekatan kelompok ini dapat terjadi pertukaran informasi dan pertukaran pendapat serta pengalaman antara sasaran penyuluhan dalam kelompok yang bersangkutan. Selain itu, memungkinkan adanya umpan balik dan interaksi kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap perilaku dan norma anggotanya. 3. Metode Berdasarkan Pendekatan Massa Metode ini dapat menjangkau sasaran dengan jumlah banyak. Dipandang dari segi penyampaian informasi, metode ini cukup baik, namun terbatas hanya dapat menimbulkan kesadaran atau keingintahuan semata. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa metode pendekatan massa dapat mempercepat proses perubahan, tetapi jarang dapat mewujudkan perubahan dalam perilaku. Adapun yang termasuk dalam metode ini. 2.1.3.2 Media Penyuluhan Media sebagai alat bantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan sangat bervariasi, antara lain: 1. Leaflet Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Adapun keuntungan menggunakan leaflet antara lain sasaran dapat menyesuaikan dan belajar mandiri serta praktis karena mengurangi kebutuhan mencatat. Sasaran dapat melihat isinya di saat santai dan sangat ekonomis. Berbagai informasi dapat diberikan atau dibaca oleh anggota kelompok sasaran sehingga bisa didiskusikan dan dapat memberikan informasi yang detail yang mana tidak dapat diberikan secara lisan, mudah dibuat, diperbanyak, dan diperbaiki serta mudah disesuaikan dengan kelompok sasaran. 2. Flip Chart (Lembar Balik) Lembar balik merupakan media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk buku dimana tiap lembar berisi gambar peragaan dan lembaran baliknya berisi kalimat sebagai pesan kesehatan yang berkaitan dengan gambar.

3. Film dan Video Keuntungan penyuluhan dengan media ini adalah dapat memberikan realita yang mungkin sulit direkam kembali oleh mata dan pikiran sasaran, dapat memacu diskusi mengenai sikap dan perilaku, efektif untuk sasaran yang jumlahnya relatif kecil dansedang, dapat dipakai untuk belajar mandiri dan penyesuaian oleh sasaran, dapat dihentikan ataupun dihidupkan kembali, serta setiap episode yang dianggap penting dapat diulang kembali, mudah digunakan dan tidak memerlukan ruangan yang gelap. 4. Slide Keuntungan media ini antara lain dapat memberikan berbagai realita walaupun terbatas, cocok untuk sasaran yang jumlahnya relatif besar, dan pembuatannya relatif murah, serta peralatannya mudah digunakan. 5. Transparansi OHP Transparansi OHP sebagai media penyuluhan adalah dapat dipakai untuk mencatat point-point penting saat diskusi sedang berjalan, murah dan efisien karena alatnya mudah didapat dan dibuat, serta tidak memerlukan ruangan yang gelap, dapat digunakan untuk sasaran yang kecil maupun besar, peralatannya mudah digunakan dan dipelihara. 6. Papan Tulis Keunggulan menggunakan papan tulis antara lain murah dan efisien, baik untuk menjelaskan sesuatu, mudah dibersihkan dan digunakan kembali, tidak perlu ruangan yang gelap.
2.1.3.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi keberhasilan Penyuluhan. Menurut septia (2010) faktor-faktor yang perlu di perhatikan terhadap sasaran dalam keberhasilan penyuluhan kesehatan adalah :

a. Paritas Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita. Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun si anak (Notoatmodjo, 2003). Hasil penelitian Junaidi dalam Soeryoto (2000) menyatakan bahwa penggunaan posyandu dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga. b. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan dalam Notoatmodjo (2007) adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior). Pengetahuan ibu balita yang baik mengenai posyandu tentunya akan terkait dengan cakupan penimbangan balita.

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yakni : 1. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 2. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. 7. Sikap (Attitude) Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Notoatmodjo, 2003). Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni : a. Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). 2. Merespons (Responding)

mau

dan

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. 3. Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4. Bertanggung jawab (Responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko yang paling tinggi.

Hasil studi kuantitatif yang dilakukan Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes RI dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang dikutip oleh Soeryoto (2000), menyatakan faktor pendidikan ibu balita yang baik akan mendorong ibu-ibu balita untuk membawa anaknya ke posyandu. 2.2.1 Posyandu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Depkes RI, 2006)
Tujuan posyandu adalah menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat. Sasaran pelayanan kesehatan di posyandu adalah seluruh masyarakat utamanya bayi, anak balita, ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas dan ibu menyusui, serta Pasangan Usia Subur (PUS). Kegiatan posyandu terdiri dari Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), imunisasi, gizi dan pencegahan dan penanggulangan diare. Pada hakikatnya posyandu dilaksanakan dalam 1 (satu) bulan kegiatan, baik pada hari buka posyandu maupun di luar hari buka posyandu. Hari buka posyandu sekurang-kurangnya satu hari dalam sebulan. Hari dan waktu yang dipilih sesuai dengan kesepakatan. Hari buka posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan apabila

diperlukan. Kegiatan rutin posyandu diselenggarakan dan dimotori oleh kader posyandu dengan bimbingan teknis dari puskesmas dan sektor terkait. Jumlah minimal kader untuk setiap posyandu adalah 5 (lima) orang. Jumlah ini sesuai dengan jumlah kegiatan utama yang dilaksanakan oleh posyandu, yakni yang mengacu pada sistem 5 meja (Depkes RI, 2006). Kegiatan yang dilaksanakan pada setiap langkah serta para penanggung jawab pelaksanaannya secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut : Tabel 1.1. Mekanisme Kegiatan Posyandu Langkah Pertama Kedua Ketiga Keempat Kelima Kegiatan Pendaftaran Penimbangan bayi, anak balita dan ibu hamil Pengisian KMS Penyuluhan per orangan berdasarkan KMS Pelayanan kesehatan (pemberian pelayanan imunisasi KB, pengobatan, gizi, KIA) Pelaksana Kader Kader Kader Kader Kader atau kader bersama petugas kesehatan dan sector terkait

Indikator yang digunakan dalam pengukuran pelaksanaan posyandu ini antara lain frekuensi kunjungan (penimbangan) setiap bulan yang bila teratur akan ada 12 kali penimbangan setiap tahun. Dalam kenyataan tidak semua posyandu dapat berfungsi setiap bulan sehingga frekuensinya kurang dari 12 kali setahun. Untuk ini diambil batasan 8 kali penimbangan setahun di mana bila frekuensi penimbangan di atas 8 kali setahun, maka pemanfaatan posyandu dianggap sudah baik ( Zulkifli, 2003). 2.2.2.Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyuluhan di-posyandu. a.Pendidikan Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, jasmani dan rohani yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luar sekolah dalam rangka pembangunan persatuan Indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Hasibuan, 2005). b. Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan atau aktivitas utama yang dilakukan secara rutin sebagai upaya untuk membiayai keluarga serta menunjang kebutuhan rumah tangga. Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan bila ibu tidak membawa balitanya ke posyandu adalah karena mereka harus bekerja. Hasil penelitian Sihotang yang dikutip oleh Soeryoto (2000) menyatakan bahwa penggunaan posyandu terkait dengan status pekerjaan ibu. Ibu balita yang mempunyai pekerjaan tetap akan memengaruhi kesempatan untuk menimbangkan anaknya ke posyandu. c. Pendapatan Faktor pendapatan atau penghasilan sangat berhubungan erat dengan kesehatan. Soetjiningsih dalam Khalimah (2007) menyatakan bahwa pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder.

2.2.3. Pemantauan Pertumbuhan Balita Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/Per/I/2010 Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita, perubahan berat badan merupakan indikator yang sangat sensitif untuk memantau pertumbuhan anak. Bila kenaikan berat badan anak lebih rendah dari yang seharusnya, pertumbuhan anak terganggu dan anak berisiko akan mengalami kekurangan gizi, sebaliknya bila kenaikan berat badan lebih besar dari yang seharusnya merupakan indikasi risiko kelebihan gizi. Menurut Departemen Kesehatan RI yang dikutip oleh Siahaan (2005), pemantauan pertumbuhan balita di Indonesia telah dilaksanakan sejak Tahun 1975 melalui penimbangan bulanan di posyandu dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Dengan penimbangan setiap bulannya diharapkan gangguan pertumbuhan setiap anak dapat diketahui lebih awal sehingga dapat ditanggulangi secara cepat dan tepat. Pembinaan perkembangan anak yang dilaksanakan secara tepat dan terarah menjaminanak tumbuh kembang secara optimal sehingga menjadi manusia yang berkualitas, sehat cerdas, kreatif, produktif, bertanggung jawab dan berguna bagi bangsa dan negara.
Pemantauan pertumbuhan adalah serangkaian kegiatan yang terdiri dari : (1) Penilaian pertumbuhan anak secara teratur melalui penimbangan berat badan setiap bulan, pengisian KMS, menentukan status pertumbuhan berdasarkan hasil penimbangan berat badan; dan (2) Menindaklanjuti setiap kasus gangguan pertumbuhan. Pada saat ini pemantauan pertumbuhan merupakan kegiatan utama posyandu yang jumlahnya mencapai lebih dari 260 ribu yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 yang dikutip dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/Per/I/2010 Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita menunjukkan bahwa sebanyak 74,5% (sekitar 15 juta) balita pernah ditimbang minimal 1 kali selama 6 bulan terakhir, 60,9% di antaranya ditimbang lebih dari 4 kali, dan sebanyak 65% (sekitar 12 juta) balita memiliki KMS. Tindak lanjut

hasil pemantauan pertumbuhan biasanya berupa konseling, pemberian makanan tambahan, pemberian suplementasi gizi dan rujukan. 2.2.4. Cakupan Penimbangan Balita

Menurut Supariasa dalam Sagala (2005), penimbangan adalah pengukuran anthropometri (pengukuran bagian-bagian tubuh) yang umum digunakan dan merupakan kunci yang memberikan petunjuk nyata dari perkembangan tubuh yang baik maupun yang buruk. Pengukuran anthtropometri merupakan salah satu metode penentuan status gizi secara langsung. Berat badan merupakan ukuran suatu pencerminan dari kondisi yang sedang berlaku. Berat badan anak ditimbang sebulan sekali mulai umur 1 bulan hingga 5 tahun di posyandu (Depkes RI, 2008). Supariasa dalam Sagala (2005) menyatakan cakupan penimbangan balita (D/S) di posyandu adalah jumlah anak balita yang datang ke posyandu dan baru pertama sekali ditimbang pada periode waktu tertentu yang dibandingkan dengan jumlah anak balita yang berada di wilayah posyandu pada periode waktu yang sama. Hasil cakupan penimbangan merupakan salah satu alat untuk memantau gizi balita yang dapat dimonitor dari berat badan hasil penimbangan yang tercatat di dalam KMS. 2.3.1 Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita
2.3.1.1. Pengertian KMS Balita

KMS adalah kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balita setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. KMS juga dapat diartikan sebagai rapor kesehatan dan gizi (Catatan riwayat kesehatan dan gizi ) balita ( Depkes RI, 1996 ). Di Indonesia dan negara - negara lain, pemantauan berat badan balita dilakukan dengan timbangan bersahaja ( dacin ) yang dicatat dalam suatu sistem kartu yang disebut Kartu Menuju Sehat (KMS). Hambatan kemajuan pertumbuhan berat badan anak yang dipantau dapat segera terlihat pada grafik pertumbuhan hasil pengukuran periodik yang dicatat dan tertera pada KMS tersebut. Naik turunnya jumlah anak balita yang menderita hambatan pertumbuhan di suatu daerah dapat segera terlihat dalam jangka waktu periodik ( bulan ) dan dapat segera diteliti lebih jauh apa sebabnya dan dibuat rancangan untuk diambil tindakan penanggulangannya secepat mungkin. Kondisi kesehatan masyarakat secara umum dapat dipantau melalui KMS, yang pertimbangannya dilakukan di Posyandu ( Pos Pelayanan terpadu ), ( Sediaoetama, 1999 ). Indikator BB / U dipakai di dalam Kartu Menuju Sehat ( KMS ) di Posyandu untuk memantau pertumbuhan anak secara perorangan. Pengertian tentang Penilaian status Gizi dan Pemantauan pertumbuhan sering dianggap sama sehingga mengakibatkan kerancuan. KMS tidak untuk memantau gizi, tetapi alat pendidikan kepada masyarakat terutama orang tua agar dapat memantau pertumbuhan anak, dengan pesan Anak sehat tambah umur tambah berat ( Soekirman, 2000 ).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/ Menkes/Per/I/2010 Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita, KMS Bagi Balita merupakan kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin. KMS adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak, oleh karena itu KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan termasuk bidan dan dokter. Dengan KMS, gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat. Keberhasilan posyandu tergambar melalui cakupan SKDN, yaitu: S : Jumlah seluruh balita di wilayah kerja posyandu K : Jumlah balita yang memiliki KMS di wilayah kerja posyandu D : Jumlah balita yang ditimbang di wilayah kerja posyandu N : Balita yang ditimbang 2 bulan berturut-turut dan garis pertumbuhan pada KMS naik. Keberhasilan posyandu berdasarkan : 1. D , yaitu baik/kurangnya peran serta (partisipasi) masyarakat S 2. N , yaitu berhasil/tidak program posyandu D Adapun tindak lanjut penimbangan berdasarkan hasil penilaian pertumbuhan balita yang terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/Per/I/2010 Tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi Balita adalah sebagai berikut: 1. Berat badan naik (N) a. Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke posyandu b. Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan anaknya yangtertera pada KMS secara sederhana c. Anjurkan kepada ibu untuk mempertahankan kondisi anak dan berikan nasihat tentang pemberian makan anak sesuai golongan umurnya. d. Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya. 2. Berat badan tidak naik 1 kali : a. Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke posyandu. b. Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan anaknya yang tertera pada KMS secara sederhana.

c. Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan (batuk, diare, panas, rewel dan lain-lain) dan kebiasaan makan anak. d. Berikan penjelasan tentang kemungkinan penyebab berat badan tidak naik tanpa menyalahkan ibu. e. Berikan nasehat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak sesuai golongan umurnya f. Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya. 3. Berat badan tidak naik 2 kali atau berada di Bawah Garis Merah (BGM) a. Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balita ke posyandu dan anjurkan untuk datang kembali bulan berikutnya. c. Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan anaknya yang tertera pada KMS secara sederhana d. Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan (batuk, diare, panas, rewel dan lain-lain) dan kebiasaan makan anak d. Berikan penjelasan tentang kemungkinan penyebab berat badan tidak naik tanpa menyalahkan ibu. e. Berikan nasehat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak sesuai golongan umurnya e. Rujuk anak ke puskesmas/pustu/poskesdes.
2.3.2. Tujuan Penggunaan KMS Balita ( Depkes RI, 1996 ) Umum : a. Mewujudkan tingkat tumbuh kembang dan status kesehatan anak balita secara optimal. a. b. c. Khusus : Sebagai alat bantu bagi ibu atau orang tua dalam memantau tingkat pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal. Sebagai alat bantu dalam memantau dan menentukan tindakan- tindakan untuk mewujudkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal. Sebagai alat bantu bagi petugas untuk menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi kepada balita.

2.3.3. Fungsi KMS Balita 1. Sebagai media untuk mencatat / memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap. 2. Sebagai media penyuluhan bagi orang tua balita tentang kesehatan balita 3. Sebagai sarana pemantauan yang dapat digunakan bagi petugas untuk menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik bagi balita. 4. Sebagai kartu analisa tumbuh kembang balita ( Depkes RI, 1996 )

Fungsi KMS ditetapkan hanya untuk memantau pertumbuhan bukan untuk penilaian status gizi. Artinya penting untuk memantau apakah berat badan anak naik atau turun, tidak untuk menentukan apakah status gizinya kurang atau baik( Soekirman,2000 ). 4.3.4.Grafik pertumbuhan pada KMS 1. Dasar pembuatan Grafik pertumbuhan KMS dibuat berdasarkan baku WHO NCHS yang disesuaikan dengan situasi Indonesia. Gambar grafik pertumbuhan dibagi dalam 5 blok sesuai dengan golongan umur balita. Setiap blok dibentuk oleh garis tegak / skala berat dalam kg dan garis datar skala umur menurut bulan. Blok 1 untuk bayi berumur 0 12 bulan, blok 2 untuk anak golongan umur 13 24 bulan, blok 3 untuk anak golongan umur 25 36 bulan. Grafik pertumbuhan untuk bayi dan anak sampai dengan umur 36 bulan terdapat pada halaman dalam KMS. Sedangkan untuk anak umur 37 60 bulan terdapat pada halaman berikutnya yang dibagi menjadi 2 blok yaitu blok ke 4 untuk anak umur 37 48 bulan dan blok ke 5 untuk anak golongan yang umur 49 60 bulan. Dalam setiap blok, grafik pertumbuhan dibentuk dengan garis merah (agak melengkung) dan pita warna kuning, hijau dan hijau tua. Dasar pembuatannya sebagai berikut : a. Garis merah (agar melengkung) dibentuk dengan menghubungkan angka angka yang dihitung dari 70 % median baku WHO NCHS. b. Dua pita warna kuning di atas garis merah berturut- turut terbentuk masing - masing dengan batas atas 75 % dan 80 % median baku WHO NCHS. c. Dua pita warna hijau muda di atas pita kuning dibentuk masing masing dengan batas atas 85% dan 90 % median baku WHO NCHS. d. Dua pita warna hijau tua di atasnya dibentuk msing - masing dengan batas atas 95 % dan 100 % median baku WHO NCHS. e. Dua pita warna hijau muda dan kuning masing masing pita bernilai 5 % dari baku median adalah daerah di mana anak anak sudah mempunyai kelebihan berat badan.

Grafik Pertumbuhan Anak a. Pengisian grafik pertumbuhan anak dimulai dengan menuliskan nama bulan dan tahun kelahiran anak tersebut pada kolom bulan yang berada di bawah angka 0. Contoh :
Budi lahir bulan Agustus 1994, maka cantumkan bulan Agustus 1994 di kolom bergaris merah tebal di bawah angka 0. b. Untuk kolom kolom selanjutnya yang berada di bawah angka 1, 2, 3, 4 s/d 60 diisi dengan nama bulan berikutnya. Contoh :

Sumber (Depkes: RI,1996). c.Setelah anak ditimbang dan diketahui berat badannya, kemudian tentukan titik berat badannya pada titik temu garis tegak ( sesuai dengan bulan penimbangan ) dengan garis datar sesuai dengan berat badan hasil penimbangan dalam kilogram Contoh: Anak umur 9 bulan dengan berat badan 7,4 kg digambar sebagai berikut :

Sumber: (Depkes,RI 1996)


e. Pada penimbangan penimbangan selanjutnya, apabila dilakukan setiap bulan berturut turut maka titik titik yang menggambarkan berat badan itu masing

masing dihubungkan satu sama lain, sehingga nantinya akan membentuk suatu grafik sesuai dengan arah pertumbuhan yang terjadi. f. Jika pada bulan ini balita tidak ditimbangdan bulan berikutnya balita tersebut ditimbang lagi, maka titik berat badannya tersebut jangan dihubungkan ( biarkan terputus ). Baru kemudian bulan berikutnya jika ditimbang lahi titik berat badannya bisa dihubungkan kembali. Alasan mengapa tidak dihubungkan dengan garis, karena kita tidak taahu berat badan anak saat tidak ditimbang ( naik, tetap atau turun ). Contoh :

g. Pada umur 10 bulan yaitu bulan Juni anak ditimbang dengan beratbadan 8,0 kg, sedang bulan Juli tidak ditimbang, tapi pada bulan agustus ditimbang berat badannya 8,4 kg. Digambar sebagai berikut :

Sumber:(Depkes RI,1996)
2.3.5 Pesan Pesan Penyuluhan 1. Pedoman Pemberian Makanan Yang Sehat a. Sampai umur 4 bulan, bayi dijamin tetap sehat apabila mendapat ASI saja, tanpa perlu ditambah makanan dan minuman lain (ASI Eksklusif).

b. Pemberian ASI tetap dilanjutkan sampai bayi berumur 24 bulan ( 2 tahun) untuk membantu tumbuh kembang, memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi serta menjalin kasih sayang ibu dan bayi. c. Setelah bayi berumur 4 bulan, ASI saja tidak memenuhi kebutuhan gizi bayi, sehingga perlu mendapat makanan pendamping ( MP ASI ). d. MP ASI diberikan secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan umur, pertumbuhan dan perkembangan bayi : - Umur 4 6 tahun : Selain ASI bayi perlu mulai diberikan makanan lumat - Umur 6 12 bulan : Selain ASI bayi mulai diberikanmakanan lembek - Umut 12 24 bulan : Selain ASI bayi mulai dapat diberikan makanan keluarga (makanan orang dewasa).

Daftar pustaka http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdl-wiwinkurni-5255-3bab2.pdf http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28145/4/Chapter%20II.pdf http : // eprints-undip. Ac. id/23900/1/yesie aprilia.pdf Yon ferizal,2007 pelaksanaan menegement pelayanan posyandu terhadap intensitas posyandu,viewed 28 oktober 2010 (http://www.scrieb.com/doc/2685135/working-paper-series-no-12-juli-2007) Depkes RI,2009,rencana pembangunan jangka panjang bidang kesehatan 20052025 jakarta,viewed 28 0ktober 2010.(http ://Depkes go.id/downloads/newdownloads/RPJPK 2005-2025.pdf) Depkes RI, 2010. Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi balita,viewed 15 desember 2010 (http://www.tiukor.depkes.go.id/up prod-permenkes/PMK no.155 tentang pemggunaan Kartu Menuju Sehat(KMS) bagi balita.pdf