Anda di halaman 1dari 24

B Konsep Keluarga 1.

Pengertian

Menurut Wahit Iqbal Mubarak (2009 : 13), banyak definisi diuraikan tantang keluarga sesuai dengan perkembangan social masyarakat. Pengertian keluarga sebagai berikut : a. Keluarga adalah kumpulan dua atau lebih individu yang di ikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu sama lain. b. Menurut Duval keluarga adalah sekumpulan orang yang di hubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan

perkembangan fisik, mental, emosional, dan social dalam tiap anggota. c. Menurut WHO (1969), keluarga adalah anggota rumah tangga yang yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan. d. Menurut Bergess (1969), keluarga terdiri atas kelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan mempunyai ikatan perkawinan,

keturunan atau hubungan sedarah atau hasil adopsi, anggota tinggal bersama dalam satu rumah, anggota tinggal bersama dalam satu rumah, anggota berinteraksi dan berkomunisasi dalam peran social, serta mempunyai kebiasaan atau kebudayaan yang berasal dari masyarakat, tetapi mempunyai keunikan tersendiri.

e. Menurut Helvie (1981), keluarga adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam satu rumah tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat. f. Menurut Selvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1989), keluarga adalah dua atau lebih dari dua ndividu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan sama lain, dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan

kebudayaan. g. Menurut Departemen Kesehatan RI (1998), keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Sesuai dalam pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah: 1) Terdiri atas dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. 2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap mempertahankan satu sama lain. 3) Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran social suami, istri, anak, kakak, dan adik. 4) Mempunyai tujuan menciptakan, mempertahankan budaya,

meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan social anggota.

2. Tipe keluarga Menurut H. Zainal Ali (2002 : 6-7), menurut tipe keluarga seperti berikut ini: a. Nuclear family (keluarga inti). Terdiri dari orang tua dan anak yang masih menjadi tanggungannya dan tinggal dalam satu rumah, terpisah dari sanak keluarga lainnya. b. Extended family (keluarga besar). Satu keluarga yang terdiri dari satu atau dua keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah dan saling menunjang satu sama lain. c. Single parent family. Satu keluarga yang dikepalai oleh satu kepala keluarga dan hidup bersama dengan anak-anak yang masih bergantung kepadanya. d. Nuclear dyed. Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri tanpa anak, tinggal dalam satu rumah yang sama. e. Blended family. Suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan pasangan, yang masing-masing pernah menikah dan membawa anak hasil perkawinan terdahulu. f. Three generation family. Keluarga yang terdiri dari tiga generasi, yaitu kakek, nenek, bapak, ibu, dan anak dalam satu rumah. g. Single adult living alone. Bentuk keluarga yang hanya terdiri dari satu orang dewasa yang hidup dalam rumahnya. h. Middle age atau elderly couple. Keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri paruh baya.

3. Struktur Keluarga Struktur keluarga menurut Santun Setiawan (2008 : 14-15) a. Elemen Struktur Keluarga menurut Friedman 1) Struktur peran keluarga Menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga baik didalam keluarganya sendiri maupun peran dilingkungan

masyarakat. 2) Nilai atau norma keluarga Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini dalam keluarga. 3) Pola komunikasi keluarga Menggambarkan bagaimana cara dan pola komunikasi diantara orang tua, orang tua dan anak, diantara anggota keluarga ataupun dalam keluarga besar. 4) Struktur kekuatan keluarga Menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk mengendalikan atau mempengaruhi orang lain dalam perubahan perilaku kearah positif. b. Ciri-ciri Struktur Keluarga Ciri-ciri Struktur Keluarga menurut Santun Santun Setiawati (2008 : 14-115)

1) Terorganisasi Keluarga adalah cerminan organisasi, dimana masing-masing anggota keluarga memiliki peran dan fungsi masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat tercapai. Organisasi yang baik ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara anggota sebagai bentuk saling ketergantungan dalam mencapai tujuan 2) Keterbatasan Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap anggota tidak bias semena-mena, tetapi mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh tanggung jawab masing-masing anggota keluarga. 3) Perbedaan dan kekhususan Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-masing anggota keluarga mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dank has seperti halnya peran ayah sebagai pencari nafkah utama, peran ibu yang merawat anak-anak. 4. Fungsi keluarga Fungsi keluarga menurut Santun Setiawati (2008 : 17-18), adalah : a. Fungsi Afektif

Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga sebagai dasar kekuatan keluarga. Didalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung dan saling menghargai antar anggota keluarga. b. Fungsi Sosialisasi Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan proses interaksi dalam keluarga. Sosialisasi dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. c. Fungsi Reproduksi Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. d. Fungsi Ekonomi Fungsi ekonomi adalah fungsi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarganya yaitu: sandang, pangan dan papan. e. Fungsi Perawatan Kesehatan Fungsi perawatan kesehatan adalah fungsi keluarga mencegah terjadinya masalah kesehatan dan merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan. 5. Tahap Perkembangan Keluarga

Menurut Wahit Iqbal Mubarak (2009 : 86-91), daur atau siklus kehidupan keluarga terdiri dari delapan tahap perkembangan yang mempunyai tugas dan risiko tertentu pada tiap tahap perkembangannya. a. Tahap I : pasangan baru nikah (keluarga baru) Tugas perkembangan keluarga pada hubungan harmonis dengan saudara dan kerabat, dan merencanakan keluarga (termasuk

merencanakan jumlah anak diinginkan). b. Tahap 2 : menanti kelahiran (child bearing family), anak tertua adalah bayi berusia kurang dari 1 bulan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah menyiapkan anggota keluarga baru (bayi dalam keluarga), membagi waktu untuk individu, pasangan, dan keluarga. c. Tahap 3 : keluarga dengan anak prasekolah, anak tertua 2,5 tahun sampai dengan 6 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah menyatukan kebutuhan masing-masing anggota keluarga, antara lain ruang atau kamar pribadi dan keamanan, mensosialisasikan yang anak-anak, dan

menyatukan

keinginan

anak-anak

berbeda,

mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga. d. Tahap 4 : keluarga dengan anak sekolah atau anak tertua berusia 7 tahun sampai 12 tahun.

Tugas

perkembangan

keluarga

pada

tahap

ini

adalah

mensosialisasikan

anak-anak

termasuk

membantu

anak-anak

mencapai prestasi yang baik di sekolah, membantu anak-anak membina hubungan dengan teman sebaya, mempertahankan

hubungan perkawinan yang memuaskan, dan memenuhi kebutuhab kesehatan masing-masing anggota keluarga. e. Tahap 5 : keluarga dengan remaja atau dengan anak tertua berusia 13 sampai 20 tahun. Tugas perkembangan pada tahap ini adalah mengimbangi kebebasan remaja dengan tanggung jawab yang sejalan dengan maturitas remaja, memfokuskan kembali hubungan perkawinan, dan melakukan komukasi yang terbuka di antara orang tua dengan anakanak remaja. f. Tahap 6 : keluarga dengan anak dewasa (pelepasan). Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah menambah anggota keluarga dengan kehadiran anggota keluarga yang baru melalui pernikahan anak-anak yang telah dewasa, menata kembali hubungan perkawinan, menyiapkan datangnya proses penuaan, termasuk timbulnya masalah-masalah kesehatan. g. Tahap 7 : keluarga usia pertengahan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah

mempertahan kontak dengan anak dan cucu, memperkuat hubungan perkawinan, dan meningkatkan usaha promosi kesehatan.

h. Tahap 8 : keluarga usia lanjut. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah menata kembali kehidupan yang memuaskan, menyesuaikan kehidupan dengan penghasilan yang berkurang, mempertahankan hubungan perkawinan, menerima kehidupan pasangan, mempertahankan

kontak dengan masyarakat, dan menemukan arti kehidupan. 6. Proses Keperawatan Keluarga Menurut Wahit Iqbal Mubarak (2009 : 102-106), proses keperawatan keluarga adalah a. Tipologi Diagnosa Keperawatan Keluarga 1) Diagnosa actual (terjadi deficit atau gangguan kesehatan) Dari hasil pengkajian didapatkan data mengenai tanda dan gejala dari gangguan kesehatan, dimana masalah kesehatan yang dialami aleh keluarga memerlukan bantuan untuk segera ditangani dengan cepat. Pada diagnosos keperawatan actual, factor yang berhubungan merupakan etiologi, atau factor penunjang lain yang telah mempengaruhi perubahan status kesehatan, sedangkan factor tersebut dapat dikelompokkan kedalam empat kategori, yaitu: a) Patofisiologi (biologi atau psikologi) b) Tindakan yang berhubungan c) Situasional (lingkungan, personal)

d) Maturasional Secara umum factor-faktor yang berhubungan atau etiologi dari diagnosis keperawatan keluarga adalah adanya: (1) Ketidaktahuan (kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan kesalahan persepsi). (2) Ketidakmampuan (sikap dan motivasi). (3) Ketidakmampuan (kurangnya keterampilan terhadap suatu prosedur atau tindakan, kurangnya sumber daya keluarga, baik finansial, fsilitas, system pendukung, lingkungan fisik, dan psikologis) 2) Diagnosis resiko tinggi (ancaman kesehatan) Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan, tetapi tanda tersebut dapat menjadi masalah actual apabila tidak segera mendapat bantuan pemecahan dari tim kesehatan atau keperawatan. Factor-faktor resiko untuk diagnosis resikondan resiko tinggi memperlihatkan keadaan dimana

kerentanan meningkatkan terhadap klien atau kelompok. Factor ini membedakan klien atau kelompok resiko tinggi dari yang lainnya pada populasi yang sama mempunyai resiko. 3) Diagnosis potensial (keadaan sejahtera atau wellness) Suatu keadaan jika keluarga dalam keadaan sejahtera, kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Diagnosis keperawatan

sejahtera tidak mencangkup factor-faktor yang berhubungan. Perawatan dapat memperkirakan kemampuan atau potensi

keluarga dapat ditingkatkan kearah yang lebih baik. b. Penentuan Prioritas Masalah dan Skoring
No. 1. Kriteria Sifat Masalah Tidak/ kurang sehat Ancaman kesehatan 2. Krisis atau keadaan sejahtera Kemungkinan masalah dapat diubah Dengan mudah Hanya sebagian 3. Tidak dapat Potensial masalah dapat dicegah Tinggi Cukup 4. Rendah Menonjolnya masalah Masalah berat, harus segera ditangani Ada masalah, tetapi tidak perlu segera ditangani Masalah tidak dirasakan Skor 3 2 1 2 2 1 0 1 3 2 1 1 2 1 0 Bobot 1

Proses skoring dilakukan untuk setiap diagnosis keperawatan dengan cara berikut ini : 1) Tentukan skor untuk setiap kriteria yang telah dibuat. 2) Selanjutnya skor dibagi dengan angka tertinggi yang dikalikan dengan bobot.

3) Jumlahkan skor untuk semua kriteria, skor tertinggi adalah 5, sama dengan seluruh bobot. Empat kriteria yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas

masalah. 1. Sifat masalah Sifat masalah kesehatan dapat dikelompokkan ke dalam tidak atau kurang sehat diberikan bobot yabg lebih tinggi karena masalah tersebut memerlukan tindakan yang segera dan biasanya masalahnya dirasakan atau disadari oleh keluarga. Krisis atau keadaan sejahtera diberikan bobot yang paling sedikit atau rendah karena factor kebudayaan biasanya dapat memberikan dukungan bagi keluarga untuk mengatasi masalahnya dengan baik. 2. Kemungkinan masalah dapat diubah Keberhasilan mengurangi atau mencegah masalah jika ada tindakan (intervensi). Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan skor kemungkinan masalah dapat diperbaiki adalah: a) Pengetahuan dan teknologi serta tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani masalah. b) Sumber-sumber yang ada pada keluarga, baik dalam bentuk fisik, keuangan, atau tenaga. c) Sumber-sumber dari keperawatan, misalnya dalam bentuk

pengetahuan, keterampilan, dan waktu.

d) Sumber-sumber di masyarakat, misalnya dalam bentuk fasilitas kesehatan, masyarakat. 3. Potensi masalah bila dicegah Menyangkut sifat dan beratnya masalah yang akan timbul dapat dikurangi atau dicegah. Faktor-faktor yang perlu organisasi masyarakat, dan dukungan social

diperhatikan dalam menentukan skor criteria potensi masalah bias dicegah adalah sebagai berikut.

a)

Kepelikan dari masalah Berkaitan dengan beratnya penyakit atau masalah. Umumnya

makin berat masalah tersebut makin sedikit kemungkinan untuk mengubah atau mencegah sehingga makin kecil potensi masalah yang timbul. b) Lamanya masalah Hal ini bekaitan dengan jangka waktu terjadinya masalah tersebut. Biasanya lamanya masalah mempunyai dukungan langsung dengan potensi masalah bila dicegah. c) Adanya kelompok resiko tinggi atau kelompok yang peka atau rawan Adanya kelompok tersebut pada keluarga akan menambah potensi masalah bila dicegah.

4. Menonjolnya masalah Merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah mengenai beratnya masalah serta mendesaknya masalah untuk diatasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan skor pada kriteria ini, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga tersebut

menilai masalah dan merasa perlu untuk menangani segera, maka harus diberi skor yang tinggi. Asuhan keperawat 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien, tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien (Nursalam, 2008 : 29). Menurut Arif Muttaqin (2008 : 242-248) pengkajian keperawatan Stroke meliputi : a. Anamnesis Identitas klien meliputi nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, agama, suku/bangsa, pekerjaan, alamat, tanggal masuk RS,

tanggal pengkajian, nomor register, dan diagnosis medis. b. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan utama Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat berkomunikasi dan penurunan tingkat kesadaran.

2)

Riwayat penyakit sekarang Serangan stroke non haemoragik sekali berlangsung sangat mendadak pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain.

3)

Riwayat penyakit dahulu Adanya riwayat penyakit hipertensi, riwayat stroke sebelumnya diabetes mellitus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama.

Penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obatobat adiktif, kegemukan. Pengkajian pemakaian, obatobat yang sering digunakan klien seperti pemakaian obat antihipertensi, antilipidemia, panghambat beta, dan lainnya. Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol, dan penggunaan obat kontrasepsi. 4) Riwayat penyakit keluarga Mempunyai peyakit keturunan seperti hipertensi dan diabetes mellitus atau dari keluarga klien pernah mengalami stroke juga. c. Pengkajian Psiko,sosio,spritual Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien

mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri yang didapatkan, klien merasa tidak

berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif. Pola tata nilai dan kepercayaan, klien jarang melakukan ibadah spritual karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan dan kelumpuhan tubuh. d. Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum Pada klien Stroke Haemoragik umumnya mengalami penurunan kesadaran, suara bicara kadang tidak bisa bicara dan tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi. 2) B1 (Breathing) Inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan pada klien stroke denganpenurunan tingkat kesadaran koma. Pada pasien dengan kesadaran

composmentis pada pengkajian inspeksi pernapasan tidak ada kelainan, taktil premitus seimbang kiri dan kanan, auskultasi tidak didapatkan bunyi napas tambahan. 3) B2 (Blood) Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan renjatan (syok) hipovolemik yang sering terjadi pada pasien

stroke. Tekanan darah biasanya terjadi peningkatan dan biasanya terdapat hipertensi masif TD > 200 mmHg.

4)

B3 (Brain) Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologis bergantung kepada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan aliran darah kolateral (Sekunder atau aksesori). Lesi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya. Pengkajian B3 merupakan pemeriksaan terfokus dan lebih lengkap

dibandingkan pada pengkajian sistem lainnya. 5) B4 (Bladder) Setelah stroke klien mungkin mengalami inkotenensia urine sementara karena konfusi, dan ketidakmampuan ketidakmampuan

mengkomunikasikan

kebutuhan,

menggunakan urinal kerena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang-kadang kontrol sfingter urinarius eksternal hilang, atau berkurang. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intermitten dengan tekhnik steril. Inkotenensia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas. 6) B5 (Bowel) Didapatkan adanya kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual, dan muntah pada fase akut. Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan asam lambung

sehingga menimbulkan

masalah pemenuhan kebutuhan

nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya inkotenensia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas. 7) B6 (Bone) Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. Karena neuron motor atas melintang, gangguan kontrol volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukkan kerusakan pada neuron motor atas pada sisi yang berlawanan dari otak. Disfungsi paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada otak yang berlawanan. Pada stroke mengalami masalah mobilitas fisik, perlu dikaji adanya tanda-tanda dekubitus. Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensorik, atau paralisis/hemiplegia, mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.

e.

Data Khusus 1) Fungsi serebral Pada klien stroke haemoragik kualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar. Pada klien stroke haemoragik tingkat kesadaran berkisar pada tingkat latergi, stupor, dan semikomotosa. Apabila klien sudah mengalami koma

maka penilaian GCS kesadaran.

sangat penting untuk menilai tingkat

Tabel 2.1 menggunakan GCS


Respon motorik yang terbaik Dengan perintah Melokalisasi nyeri Menarik diri dari rangsangan 6 5

Tingkat

kesadaran

dengan

Respon verbal yang terbaik Berorientasi Bicara membingungka n Kata tidak tepat 5 4

Membuka mata Spontan Terhadap panggilan Dengan nyeri 4 3

Fleksi abnormal Ekstensi Tidak ada respon

3 2 1

Suara tidak dimengerti Tidak ada respon

2 1

Tidak ada respon

Sumber : (Tarwoto, dkk, 2007 : 24)

2) Fungsi motorik Pemeriksaan fungsi motorik dapat dilakukan dengan : a) Inspeksi umum, didapatkan hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada otak yang berlawanan

b) c)

Tonus otot didapatkan meningkat. Kekuatan otot, pada penilaian dengan kekuatan otot pada sisi yang sakit didapatkan nilai 0.

d)

Keseimbangan dan koordinasi, mengalami gangguan karena hemiparase dan hemiplegia.

3) Pemeriksaan saraf kranial a) Saraf I. Biasanya pada klien stroke tidak ada kelainan pada fungsi penciuman. b) Saraf II. Disfungsi persepsi visual karena gangguan sensorik primer diantara mata dan kortek visual. c) Saraf III, IV, dan VI. Apabila akibat stroke mengakibatkan paralisis sesisi otot-otot okularis didapatkan penurunan kemampuan gerakan konjugat unilateral di sisi yang sakit. d) Saraf V. Pada beberapa keadaan stroke menyebabkan paralisis saraf trigeminus, dapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah. Penyimpangan rahang bawah ke sisi ipsilateral dan kelumpuhan sesisi otot-otot pterigoideus interna dan eksterna. e) Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, otot wajah tertarik kebagian yang sehat. f) Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.

g)

Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik, kesukaran membuka mulut.

h)

Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleimastoiddeus dan trafezius.

i)

Saraf XII. Lidah simetris, terdapat deviasi pada satu sisi dan vesikulasi, indra pengecapan normal.

4) Fungsi sensorik Pemeriksaan fungsi sensorik dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa area/jenis sensasi yaitu sensasi nyeri, sentuhan, temperatur, rasa getar dan tekanan.

5) Fungsi refleks Pemeriksaan refleks dalam, pengetukan pada

tendon,ligamentum,atau periosteum derajarat refleks pada respons normal,pemeriksaan refleks patlogis, pada fase akut refkeks fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang, setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahului dengan refleks patologis.

2.

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk

menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah,dan mengubah (Nursalam, 2008: 59). Diagnosa keperawatan: a. Perfusi jaringan serebral tidak efektif b / d menurunnya curah jantung hipoksemia jaringan,asidosis dan kemugkinan thrombus atau emboli b. Pola napas tidak efektif c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan kelemahan otot dalam menelan. d. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neurologist secara mendadak. Masalah keperawatan sampai saat ini masih menggunakan daftar masalah keperawatan yang di buat oleh asosiasi perawat Amerika (NANDA),yang meliputi masalah aktual, risiko atau risiko tinggi, dan pontensial ( untuk keadaan wellness/ sejahtera). Penyebab merujuk kepada tugas keluarga di bidang kesehatan, yaitu mengenal masalah kkesehatan,mengambil keputusan utuk tindakan, merawat anggota keluarga, medifikasi lingkungan, atau memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan sesuai data yang telah di kumpulkan dalam deficit

pengkajian.sedang tanda dapat di tuliskan atau tidak karena telah diidentifikasi pada langkah awal.(Suprajiitno.s.kp.2004:44)