PEDOMAN

RUMAH SAKIT
PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF ( PONEK ) 24 JAM BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Seperti kita ketahui bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia masih tertinggi diantara negara ASEAN dan penurunannya sangat lambat. AKI dari 390/100.000 kelahiran hidup (SDKI tahun 1994), menjadi 307/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002 – 2003. Demikian pula AKN 28,2/1000 kelahiran hidup tahun 1987 – 1992 menjadi 21,8/1000 kelahiran hidup pada tahun 1992 1997 . Seharusnya sesuai dengan Rencana Strategis Depkes Tahun 2005 – 2009 telah ditetapkantarget penurunan angka kematian bayi dari 35 menjadi 26/1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu dari 307 menjadi 226/100.000 kelahiran pada tahun 2009. Disamping itu Index Pembangunan Manusia di Indonesia berada pada urutan ke 107 dibandingkan dengan bangsa lain dan selama 5 tahun terakhir ini mengalami perbaikan namun sangat lambat. Pada Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa – Bangsa pada tahun 2000 disepakati bahwa terdapat 8 tujuan Pembangunan Millenium ( Millenium Development Goals) pada tahun 2015. Dua diantara tujuan tersebut mempunyai sasaran dan indikator yang terkait dengan kesehatan ibu, bayi dan anak yaitu : 1. Mengurangi Angka kematian bayi dan balita sebesar dua per tiga dari AKB pada tahun 1990 menjadi 20 dari 25/1000 kelahiran hidup. 2. Menngurangi angka kematian ibu sebesar tiga per empat dari AKI pada tahun 1990 dari 307 menjadi 125/100.000 kelahiran hidup.

Meskipun target tampaknya cukup tinggi, namun tetap dapat dicapai apabila dilakukan upaya terobosan yang inofatif untuk mengatasi penyebab utama kematian tersebut yang didukung kebijakan dan sistem yang efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang timbul selama ini. Kematian bayi baru lahir umumnya dapat dihindari penyebabnya seperti berat badan lahir rendah (40,4%),asfiksia (24,6%) dan infeksi (sekitar 10%). Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh keterlambatan pengambilan keputusan, merujuk dan mengobati. Sedangkan kematian ibu umumnya disebabkan perdarahan (25%), infeksi (15%),pre-eklpsia / eklapsia (15%), persalinan macet dan abortus. Mengingat kematian bayi mempunyai hubungan erat dengan mutu penanganan ibu, maka proses persalinan dan perawatan bayi harus dilakukan dalam sistem terpadu di tingkat nasional dan regional. Pelayanan Obstetri dan Neonatal regional merupakan upaya penyediaan pelayanan bagi ibu dan bayi baru lahir secara terpadu dalam bentuk Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit. Rumah Sakit Ponek 24 jam merupakan bagian dari sistem rujukan dalam pelayanan kedaruratan dalam maternal dan neonatal, yang sangat berperan dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir. Kunci keberhasilan PONEK adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang sesuai kompetensi, prasarana, sarana dan manajemen yang handal. Untuk mencapai kompetensi dalam bidang tertentu, tenaga kesehatan memerlukan pelatihan – pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan ketrampilan dan perubahan perilaku dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Selanjunya diharapkan Pedoman Penyelenggaraan PONEK di Rumah Sakit ini dapat di jadikan panduan bagi tim PONEK Rumah Sakit dalam pelaksanaan program PONEK di Rumah Sakit dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi AKB) .

B. DASAR HUKUM

1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran RI nomor 3495). 2. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek kedokteran (Lembaran Negara RI Tahun 2004 nomor 116,Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4431). 3. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 nomor 125,Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437). 4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.159b/Menkes/SK/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. 5. Keputusan Meteri Kesehatan Republik 1333/menkes/SK/XII/1999 tentang Rumah Sakit. Indonesia Nomor

6. Keputusan Meteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 131/menkes/SK/II/2004 tentang Aistim Kesehatan Nasional,diatur Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan Masyarakat. 7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. 8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di lingkungan Departemen KesehatanRumah Sakit. 9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/Per/IV/2007 tentang Izin Praktek dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran.

C. PENGERTIAN
− Regionalisasi Pelayanan Obstetri dan Neonatal adalah suatu sistem pembagian wilayah kerja rumah sakit dengan cakupan area pelayanan yang dapat dijangkau oleh masyarakat dalam waktu kurang dari 1 jam, agar dapat memberikan tindakan darurat sesuai standar. Regionalisasi menjamin agar sistem rujukan kesehatan berjalan secara optimal. − Rujukan adalah pelimpahan tanggung jawab timbal balik dua arah dari sarana pelayanan primer kepada sarana kesehatan sekunder dan tersier. − Rumah Sakit PONEK 24 Jam adalah Rumah Sakit yang menyelenggarakan pelayanan kedaruratan maternal dan neonatal secara komprehensif dan terintegrasi 24 jam.

D. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Adanya kebijakan Rumah Sakit dan dukungan penuh manajemen dalam pelayanan PONEK. perawat).Mengurangi Angka Kematian Ibu sabesar tiga per empat dari AKI pada tahun 1990 menjadi 125/100. 2. Adanya koordinasi dan sinkronisasi antara penggelola dan penanggung jawab program dalam manajemen program PONEK. Tercapainya kemampuan teknis Tim PONEK sesuai standar. 2. Terbentuknya tim PONEK Rumah Sakit. FUNGSI RUMAH SAKIT. VISI Pada tahun 2015 tercapai Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals) . 1. . bidan.i. Pendidikan . Pelayanan Rumah Sakit harus dapat menangani kasus rujukan yang tidak mampu ditangani oleh petugas kesehatan di tingkat pelayanan primer (dokter. SASARAN Pengelola Program kesehatan ibu dan anak BAB 2 REGIONALISASI PELAYANAN OBSTETRI DAN NEONATOLOGI A. ii. iii.Mengurangi dari Angka Kematian Bayi dan Balita sebesar dua pertiga dari AKB pada tahun 1990 menjadi 20 dari 25/1000 kelahiran hidup. MISI Menyelenggarakan pelayanan Obstetri dan Neonatal yang bermutu melalui stadarisasi Rumah Sakit PONEK 24 jam dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian bayi di Indonesia.TUJUAN 1. 3. iv.000 kelahiran hidup. 4.

LANGKAH – LANGKAH KEBIJAKAN REGIONALLISASI 1. Fasilitas fisik. luar rumah sakit maupun peserta pendidikan tenaga kesehatan sehingga mampu melakukan tindakan sesuai dengan standar dan kewenangannya untuk menyelesaikan kasus darurat. Kinerja kelompok kerja di unit gawat darurat. 2. kamar bersalin. Pembentukan organisasi Tim PONEK Rumah Sakit (Dokter Spog. bidan. 7. 4. B. 3. Untuk wilayah kerja – kabupaten/kota. dan kamar neonatal.Dokter SpA. rasio kematian perinatal (< 20/1000 kelahiran hidup) di rumah sakit.setelah diputuskan) . Angka rasio kematian ibu harus (< 200/100. Pelatihan bagi SDM agar kompeten sesuai standar prosedur. MONITORDAN EVALUASI KINERJA 1. Membuat kebijakan yang mendukung pelayanan regional dan dana dukungan. 2. Persiapkan sumber daya manusia (dokter. dan perawat). angka kematian penyakit yang harus menurun setiap tahun dengan percepatan 20 %. Dokter Umum IGD. 3. kamar operasi (harus mampu dilakukan operasi dalam waktu kurang dari 30 menit. 6. Evaluasi kinerja. Penelitian Rumah sakit harus mempunyai program evaluasi kinerja baik rumah sakit maupun wilayah kerja dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.000 kelahiran hidup). Bidan dan Perawat) melalui SK Direktur Rumah Sakit. Tentukan wilayah rujukan. Meningkatkan fungsi pengawasan oleh direktur Rumah Sakit dengan melibatkan Tim PERISTI untuk melakukan pengawasan dan evaluasi kegiatan PONEK. 4. C. 3. 5. Case fatality rate. target adalah : .Rumah Sakit harus terus menerus meningkatkan kemampuan baik petugas rumah sakit.

Audit Kematian Ibu dan Bayi dilakukan dengan melibatkan : a. transportasi. Selain itu pencegahan kesakitan / kematian ibu harus diupayakan misalnya dengan perluasan cakupan peserta KB mencapai 75%.000 kelahiran hidup. BAB 3 LINGKUP PELAYANAN RUMAH SAKIT . karena hal itu tak bisa dibiarkan. persediaan obat dan lain – lain) yang sebenarnya dapat diselesikan dengan hati nurani. Dinas Kesehatan dan Bappeda. Audit kesehatan juga ditujukan bagi kasus yang NYARIS MATI. Rumah sakit rujukan.a. c. Angka Kematian Ibu (AKI) < 100/100. Angka Kematian Neonatal < 18/1000 kelahiran. Staf pendidikan. insentif. kelambanan petugas. b. Hal ini dapat dilakukan dengan program PKBRS dan pelatihan petugas. Ada banyak unsur medik dan non medik yang dapat dihindarkan (uang muka rumah sakit. b.

Ketuban pecah dini. 4. Penanganan kasus gawat darurat oleh tim PONEK Rumah Sakit di ruang tindakan. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dengan risiko tinggi.Nyeri perut dalam kehamilan muda dan lanjut. Stabilisasi di IGD dan persiapan untuk pengobatan definitif. . Penanganan operatif cepat dan tepat meliputi laparatomi dan seksio saesaria. . tekanan darah tinggi. PONEK RUMAH SAKIT KELAS C.PONEK 24 JAM Upaya Pelayanan PONEK : 1.Immunisasi dan Stimulasi.Kehamilan Ektopik (KE) dan Kehamilan Ektopik Terganggu (KET). Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dengan Fisiologis. kejang. gangguan penglihatan. . 5.Pelayanan terhadap syok.Kehamilan dengan nyeri kepala. . Asuhan Bayi Baru Lahir (level 1). antara lain : A. Pelayanan Asuhan Ante Natal Risiko Tinggi.Gerak janin tidak dirasakan. . Pelayanan Kehamilan. 2. Ruang Lingkup Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal pada PONEK terbagi atas 2 kelas. Pelayanan Nifas.Gawat janin dalan persalinan. Deteksi. Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) 2. .Demam dalam kehamilan dan persalinan. . Masa Antenatal . 1.Perdarahan pada kehamilan muda.Persalinan dengan distensi uterus. Masa Intranatal . 3. - . Pelayanan Perslainan. . . koma. Perawatan intensif Ibu dan Bayi.Persalinan dengan parut uterus. .

Aspirasi vakum manual. .Resusitasi bayi baru lahir. .Aspirasi mekonium.Kejang. . .Prolapsus tali pusat.Sukar bernafas.Reposisi Inserso Uteri. . .Koma.Perdarahan pasca persalinan.Persalinan lama.Perbaikan robekan vagina dan perineum. Pelayanan Kesehatan Neonatal. ( Bila memerlukan pemeriksaan spesialistik. . .Keluarga berencana. . .Perbaikan robekan dinding uterus. . payah jantung bawaan. .Kompresi bimanual dan aorta.Gangguan pernafasan.Plasenta manual.Masa nifas. dirujuk ke RSU ) Masa Postnatal . .Hiperbilirubin.Anestesia spinal.Sepsis neonatal.Blok paraservikal.Gangguan keseimbangan cairan dan elektrlit. .Trauma kelahiran.BBLR ( Berat Badan Lahir Rendah).Bayi baru lahir dengan asfiksia. . .Demam pasca perslinan. .Ligase arteri uterina.Asuhan bayi baru lahir sakit ( level 2 ) 3. .Kraniotomi dan krniosentesis. . . .Malpresentasi dan malposisi. . . . . . .Seksio sesarea. . . .Ektraksi cunan..Induksi dan akselerasi persalinan.Episiotomi . .Distosia bahu. .Hipoglikemi.. PDA).Gangguan perdarahan.Asfiksia.Dilatasi dan kuretase. . . .Perbaikan robekan servik .Nyeri perut pasca persalinan.Kelainan jantung (payah jantung. . . . . Ketamin.Anestesia umum dan lokal untuk seksio sesarea.Histerektomi. . .Renjatan (shock). . .Blok pudendal.

- .Endoskopi. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dengan risiko tinggi.Persalinan dengan parut uterus. . Kangaroo Mother care. HIV – AIDS. Abses pelvik. Masa Intranatal . .Immunisasi dan Stimulasi. Asuhan Bayi Baru Lahir (level 2). Masa Antenatal . .Perdarahan pada kehamilan muda / abortus. Kehamilan Ektopik. Pelayanan Perslainan nomal dan Perslianan dengan tindakan operatif. Kista ovarium akut. Pemberian minum pada bayi risiko tinggi. .NICU. Pelayanan Kehamilan. 4.Kehamilan ektopik (KE) dan Kehamilan Ektopik Terganggu (KET). . Pelayanan Nifas. Infeksi saluran genitalia. Deteksi.Kehamilan Metabolik. Rumah Sakit Darmo adalah Rumah Sakit kelas C B. 5. Radang pelvik akut. Perdarahan menoragia.Perdarahan pada masa kehamilan. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dengan Fisiologis.- Inisiasi dini ASI (BREAST FEEDING ). Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). Perawatan Khusus / High Care Unit dan Transfusi Darah. . .Intensif Care Unit (ICU) .Hipertensi. PONEK RUMAH SAKIT KELAS B. 2. . Pre eklapsia / Eklapsia.Nyeri perut dalam kehamilan muda dan lanjut / kehamilan ektopik. .Gawat janin dalan persalinan.Kelainan Vaskular / Jantung.Persalinan dengan distensi uterus. . 1. . Pelayanan Ginekologis. Penyakit membran hyalin. Resusitasi neonatus. Perdarahan uterus disfungsi.

Nyeri perut pasca persalinan. Malpresentasi dan malposisi.Demam pasca persalinan. Aspirasi vakum manual. . . . Hipoglikemi. Reposisi Insersio Uteri. . Renjatan (shock). Kejang. Kelainan jantung (payah jantung. Anestesia umum dan lokal untuk seksio sesarea. Masa Postnatal . koma. Inisiasi dini ASI (BREAST FEEDING ). payah jantung bawaan. Dilatasi dan kuretase.Keluarga berencana. Plasenta manual. Induksi dan akselerasi persalinan.- Pelayanan terhadap syok. Histerektomi. Seksio sesarea. Perbaikan robekan servik Perbaikan robekan vagina dan perineum.. Prolapsus tali pusat. Ketuban pecah dini. Aspirasi mekonium. Sepsis neonatal. Ligase arteri uterina. Ketamin. Gangguan perdarahan. PDA). Ekstraksi cunan. . Blok pudendal.Masa nifas. Kangaroo Mother care. Asfiksia.Asuhan bayi baru lahir sakit ( level 2 ) 3. Trauma kelahiran. Episiotomi Kraniotomi dan kraniosentesis. Distosia bahu. Hiperbilirubin. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrlit. Pelayanan Kesehatan Neonatal. Sukar bernafas.Perdarahan pasca persalinan. Anestesia spinal. . Persalinan macet. Kompresi bimanual dan aorta. Bayi baru lahir dengan asfiksia. Gangguan pernafasan. Perbaikan robekan dinding uterus.

C. Radang pelvik akut. HIV – AIDS.Jenis Pelayanan. Kista ovarium akut. Penyakit membran hyalin. . . Abses pelvik. . Perdarahan menoragia. Unit Transfusi darah UTD Rumah Sakit. PELAYANAN PENUJANG MEDIK 1. Pemberian minum pada bayi risiko tinggi. Bank darah Rumah SAKIT . c. Perawatan Khusus Intensif Neonatal. 5.Menerima darah dari UTD yang telah memenuhi syarat uji saring (non reaktif) dan telah dikonfimasi golongan darah. Unit Transfusi darah/UTD PMI.Melakukan rujukan kesulitan uji silang serasi dan golongan darah ABO/rhesus ke unit Transfusi darah/UTD secara berjenjang. 4. . Infeksi saluran genitalia. . a. .Memantau persediaan darah harian / mingguan.Merencenakan kebutuhan darah di RS.Melakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus pada darah donor dan darah resipien.Melakukan uji silang serasi antara darah donor dan darah resipien.Menyimpan darah dan memantau suhu simpan darah. Pelayanan Darah. Kehamilan Ektopik. Perdarahan uterus disfungsi. .Tempat Pelayanan. Pemberian cairan Parenteral. .Bagi Rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas unit trasfusi darah / Bank Darah dianjurkan untuk membuat kerjasama dengan penyedia fasilitas tersebut b. Kompetensi.- Resusitasi neonatus. . Pelayanan Ginekologis. Kelainan bawaan.

Fasilitas Peralatan. b.Dokter. Sumber daya Manusia. . e. e. . . . . * Pencatatan. d.pelacakan. * Pemeriksaan uji silang serasi.Perawatan sepsis. . . c.Pekarya. . Sumber Daya Manusia.Para medis Tehnologi Transfusi darah (PTTD). .Tenaga administrator. * Kewaspadaan universal (universal precaution) d.Pengawasan gawat nafas / ventilator.Unit Perwatan Intensif. . Peralatan utama. 2. tunjangan kardio .Ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana. * Penyimpanan darah. pelaporan.. Ruang Pelayanan. . Jenis Pelayanan. a. Ruang Pelayanan Darah.Mempunyai sertifikasi pengetahuan dan ketrampilan tentang : * Transfusi darah.Pelayanan pengelolaan resusitasi segera untuk pasien gawat. . * Pemeriksaan golongan darah.Dokter spesialis Anestesiologi.respirasi jangka pendek danmempunyai peran memantau serta mencegah penyulit pada pasien medik dan bedah yang berisiko.dan dokumentasi. * Pemantapan mutu internal. Kompetensi. − Ruang pelayanan Intensif (ICU) 75 m2 . f. Tempat Pelayanan.Pemantauan terapi cairan.Mempunyai kemampuan manajemen pengelolaan trasfusi darah dan Bank darah Rumah sakit. * Penerimaan darah. Perawatan Intensif. Ukuran minimal 24 m2.Dokter jaga 24 jam dengan kemampuan melakukan resusitasi jantung paru. .

. Laboratorium.Radiologi.USG/Ibu dan Neonatal.3. . pus. Pencitraan. . .Kultur darah. urine. 4. urin. . .Pemeriksaan rutin darah.Kimia.

3. Mempunyai standar respon time di IGD selama 10 menit. Tersedia kamar operasi yang siap (siaga 24 jam) untuk melakukan operasi. 13. pelayanan darah kurang dari 1 jam. 12. 6. Memiliki kru/awak yang siap melakukan operasi atau melaksanakan tugas sewaktu – waktu. dokter spesialis lain serta dokter umum. Mempunyai standar Operating prosedur penerimaan dan penanganan pasien kegawat – daruratan obstetrik dan neonatal. Tersedia Pelayanan penujang lain yang berperan dalam PONEK. Ada dokter jaga yang terlatih di IGD untuk mengatasi kasus emergensi baik secara umum maupun emergensi obstetrik – neonatal. Tersedia kamar bersalin yang mampu menyiapkan operasi dalam waktu kurang dari 30 menit. obat dan alat penujang yang selalu siap sedia. Mempunyai prosedur pedelegasian wewenang tertentu. dll). 9.BAB 4 KRITERIA RUMAH SAKIT PONEK 24 JAM A. dokter / petugas anastesi. 4. antara lain dokter Kebidanan.Semua perlengkapan harus bersih (bebas debu. dokter penyakit dalam. bidan dan perawat telah mengikuti pelatihan tim PONEK di rumah sakit meliputi resusitasi neonatus. KRITERIA UMUM RUMAH SAKIT PONEK 1. Dokter. 5. 8. cairan . . Adanya dukungan semua pihak dalam tim Pelayanan PONEK. Tersedia Pelayanan darah yang siap 24 jam. di kamar bersalin kurang dari 30 menit. kegawat – daruratan obstetrik dan neonatus. 11. 7. 2. Kebijakan tidak ada uang muka bagi pasien kegawat – daruratan obstetrik dan neonatal. Perlengkapan. 10. dokter anak. bidan dan perawat. seperti laboratorim dan radiologi selama 24 jam recovery room 24 jam. bila ada kasus emergensi obstetrik atau umum. kotoran bercak. meskipun on call.

.1 dokter Spesialis Kebidanan Kandungan. Bahan. Dokter spesialis Anak Pelayanan kesehatan perinatal dan anak. Daftar Ketenagaan Rumah Sakit Penyelenggara PONEK No Jenis Tenaga Tugas Jumlah Yang Standar Ada PONEK Saat ini 1-2 Keterangan 1 Dokter spesialis Penanggung jawab pelayanan Obstetri & Ginekologi. Instrumen yang siap digunakan harus disterilisasi. anastesi Perawat anastesia. . B.1 Dokter spesialis anastesi / perawat anastesia. Semua bahan harus berkwalitas tinggi dan jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan unit ini. Roda perlengkapan (jika ada) harus lengkap dan berfungsi baik. . Memiliki Tim PONEK Esensial yang terdiri dari : . SUMBER DAYA MANUSIA. 2 3 4 1-2 1 1-2 Dokter spesialis Pelayanan anastesi. 14.6 Bidan..1 Pekarya kesehatan. -10 Perawat (tiap shif 2 -3 perawat jaga) .1 Petugas administrasi.Permukaan metal harus bebas karat atau bercak. Pelayanan anastesi. . Tim PONEK Ideal di tambah : .3 orang bidan (1 koordinator dan 2 penyelia) .stabil) Permukaan yang di cat harus utuh dan bebas dari goresan besar. . .pelaksana.1 dokter di Unit Gawat Darurat.2 orang perawat.1 Petugas laboratorium. Semua perlengkapan listrik harus berfungsi baik (saklar kabel dan steker menempel kokoh). . KRITERIA KHUSUS 1.1 dokter spesialis anak. .Semua perlengkapan harus kokoh (tidak ada bagian yang longgar atau tidak . kesehatan maternal & neonatal.

.Struktur fisik. . dinding. PRASARAN DAN SARANA. .Spesifikasi ruang tidak kurang dari 15 – 20 m2 . Adminitrasi dan keuangan 2. . sampah atau limbah Rumah Sakit.Ruang harus bersih dan bebas debu. 2). Koordinator Asuhan pelayanan keshatan. mebel. . . instrumen. a. pintu. . 1).Kebersihan. perlengkapan. sarana dan prasarana Pelayanan Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Asuhan Keperawatan 2-4 1-2 2-4 6-8 1-2 1-2 2-4 2-4 10 Perawat pelaksana 11 Petugas Laboratorium Pelayanan pemeriksaan penujang 12 Pekarya kesehatan 13 Petugas adminitrasi Membantu pelaksanaan pelayanan kesehatan.Ruang tindakan gawat darurat dengan instrumen dan bahan yang lengkap.Protokol pelaksanaan dan uraian tugas pelayanan termasuk koordinasi internal. Dalam rangka Program Menjaga Mutu pada penyelengaraan PONEK harus dipenuhi hal – hal sebagai berikut : . .Dinding harus di cat dengan bahan yang bisa di cuci atau di lapisi keramik.Cat dan lantai harus berwarna terang sehingga kotoran dapat terlihat dengan mudah.Ruang pulih / observasi pasca tindakan.Ruang rawat inap yang leluasa dan nyaman.Lantai harus porselin. steker listrik dan langit – langit. jendela.Pencahayaan harus terang dan cahaya alami atau listrik. 3). .Hal tersebut berlaku pula untuk lantai. Kriteri umum Ruangan. kotoran. Koordinasi tugas. .Pencahayaan.5 6 7 8 9 Dokter terlatih Bidan koordinator Bidan Penyelia Bidan Pelaksan Perawat koordinator Penyelenggaraan pelayanan medis.

. asfiksia dan apabila perlu menolong partus darurat serta resusitasi.Pendingin ruang harus dilengkapi Filter (sebaiknya anti bakteri).Wastafel. kabel dan steker tidak membahayakan dan semua lampu berfungsi baik dan kokoh. misalnya: syok. ruangan berukuran 6 meter dan dalam unit Perawatan Khusus. .Suhu ruangan harus dijaga 24 – 26 oC . Pencucian tangan. termasuk jendela. .Pasokan air panas harus cukup dan dilengkapi pemanas air yang dipasang kokoh di dinding. .Tujuan kamar ini ialah : memberikan pelayanan darurat untuk stabilisasi kondisi pasien. Diruang dengan lebih dari satu tempat tidur. 1). .. Area Resusitasi dan Satabilisasi di Ruang Obstetri dan Neonatu / IGD.Paling kecil. henti jantung.Kipas angin atau pendingin ruang harus berfungsi baik.Semua jendela harus diberi kawat nyamuk agar serangga tidak masuk. 5). . jarak tempat tidur adalah 6 meter dengan wastafel. . kran dan dispenser harus dipasang pada ketinggian yang sesuai ( dari lantai dan dinding ) . Area Cuci Tangan di ruang di Ruang Obstetri dan Neonatus.Perlu dilengkapi dengan meja resusitasi bayi. .Tersedia peralatan gawat darurat.Wastafel harus dilengkapi dengan dispenser sabun atau desinfektan yang dikendalikan dengan siku atau kaki. harus cukup jika dibandingkan dengan ukuran ruang.Kamar PONEK di unit gawat darurat harus terpusah dari kamar gawat darurat lain. pipa ledeng sesuai dan tidak ada kawat terbuka. dan inkubator.Harus ada cukup lampu untuk setiap neonatus. Staf privasi ini penting untuk kebutuhan perempuan bersalin dan bayi. . hipotermia. diletakkan di sebelah wastafel b.Tidak boleh ada saluran pembuangan air yang terbuka.Ventilasi. Kriteria Khusus Ruangan. 2). 4). .Listrik harus berfungsi baik. .Kamar PONEK membutuhkan : .Harus ada handuk (kain bersih) atau tisu untuk mengeringkan tangan. . . . . Ventilasi. .

* Idealnya sebuah ruang bersalin merupakan unit – integrasi : kala 1. ruang sterilistor dan jalur ke ruang berslain/kamar operasi terletak saling berdekatan dan merupakan bagian dari unit gawat darurat. ruangan berukuran 12m2 (6m2 untuk masing – masing pasien) * Harus ada tempat untuk isolasi ibu di tempat terpisah. * Bila kamar operasi juga ada dalam lokasi yang sama. * Lampu sorot dan lampu darurat. * Meja. upayakan tidak ada keharusan melintas pada ruang bersalin * Minimal 2 kamar bersalin terdapat pada setiap rumah rumah sakit umum. kamar tunggu keluarga.Ruang Maternal. Kursi * Aliran udara bersih dan sejuk. * Pemancar panas. 1 penunggu dan 2 penolong diperlukan 4 X 4 m2 = 16 m. untuk memudahkan trnspor bayi dengan komplikasi ke ruang rawat. kamar kerja kotor. * Mesin Isap.* Ruang berukuran 15 m2. forcep. * Tiap ibu bersalin harus punya tempat privasi agar keluarga dapat hadir. obat/infus. * Kamar bersalin terletak sangat dekat dengan kamar neonatal. Berarti bagi 1 pasien. kamar persiapan peralatan (LIen dan Instrumen). * Luas minimal : 6m2 per orang. * Berisi : Lemari dan troli darurat * Tempat tidur bersalin serta tiang infus. * Pencahayaan.maka diperlukan dua kamar kala . * Defibrilator. . * USG mobile. * Wastafal dengan air mengalir dan antiseptik. * Incubator Traspor. Kamar bersalin. * Ruangan bersalin tidak boleh merupakan tempat lalu lalang orang. * Paling kecil . kamar jaga. kuret. vacum. Bayi tidak memungkinkan. 3). meliputi : toilet. a). dan kala 3 yang berarti setiap pasien diperlukan utuh sampai kala 4 bagi ibu bersama bayinya secara privasi.Saran pendukung. * Alat komunikasi dan telepon ke kamar bersalin. * Lokasi berdekatan dengan Kamar opersi dan IGD. * Alat resusitasi bayi dan dewasa. * Nurse station dan lemari rekam medik. kala 2. * Oksigen dan tabungmya atau berasal dari sumber dinding (Outlet) * Lemari isi: perlengkapan persalinan.

pasien akan dibawa ke kamar operasi yang berdekatan dengan kamar bersalin. * Ruang tersbut terpisah dari fasilitas : toilet.meja.dan antara dinding 1m. * Jumlah tempat tidur per ruangan maksimum 4. b). incubator.kursi pemeriksa. ruangan berukuran 18 m2 (6 – 8 m2 untuk masing – masing . troli.perlengkapan curet (MVA) dsb. lemari. berisi meja.lemari obat kecil. standar : 8m2 per tempat tidur (bed) dalam kamar dengan standar 1 bed : 10m2. kursi – kursi serta telepon. * Ruang post partum harus cukup luas. mesin anastesi.lampu sorot. lemari berisi perlengkapan darurat/obat. * Ruang tunggu bagi keluarga pasien : minimal 15 m2.kursi. Unit Perawatan Intensif/Eklapsia/Sepsis. Bila ada beberapa tempat tidur maka per pasien memerlukan 7m2. * Harus ada kamar mandi toilet berhubungan kamar bersalin. lampu sorot. * Kamar periksa harus mempunyai luas sekurang – kurangnya 11 m2.1 dan sebuah kamar kala 2 * Kamar bersalin harus dekat dengan ruang jaga perawat (Nurse station)agar memudahkan pengawasan ketat setelah pasien partus sebelum dibawa ke ruang rawat (post partum). * Ruang perawat – nurse station berisi :meja. wastafel cuci tangan opertor. atau setidaknya jauh dari area yang sering dilalui. telepon. * Tiap ruangan harus mempunyai jendela sehingga cahaya dan udara cukup. * Ruang Isolasi bagi kasus infeksi perlu disediakan seperti pada kamar bersalin. * Tiap pasien harus punya akses ke kamar mandi privasi (tanpa ke koridor). * Paling kecil. Perlu disediakan toilet yang dekat dengan ruang periksa. lemari perlengkapan opersi kecil. * Kamar periksa/diagnostik berisi : tempat tidur pasien/obsgyn/ginecologi. * Harus ada fasilitas untuk cuci tangan pada tiap ruangan. * Pada ruang dengan banyak tempat tempat tidur. jarak antara tempat tidur minimum 1m s/d 2m. penjahitan dsb berisi : meja opersi lengkap. * Ruang tindakan opersi/kecil darurat/one day care : Untuk kuret. USG mobile dan troli emergensi.Selanjutnya bila diperlukan operasi. * Unit ini harus berada disamping ruang bersalin. kloset.

Unit Perwatan Khusus. * Unit operasi diperlukan untuk tindakan operasi seksio sesarea dan laparatomi. * Paling sedikit harus ada jarak 1 m2 antara incubator atau tempat tidur bayi. Unit Perawatan Intensif. sedikitnya ada jarak 8 kaki (2. * Minimal ruangan berukuran 12 m2 (4 m2 untuk masing – masing pasien) * Harus ada tempat untuk isolasi bayi di area terpisah.4 m) antara ranjang ibu. 4). atau setidaknya jauh dari area yang sering dilalui. Area Lactasi Minimal ruangan berukuran 6 m2 d). sedikitnya ada jarak 8 kaki (2. * Unit ini harus berada di samping ruang bersalin. * Di ruang dengan beberapa tempat tidur. * Ruang harus dilengkapi paling sedikit enam steker listrik yang dipasang dengan tepat untuk peralatan listrik.pasien ). aman dan berfungsi baik.. * Harus ada tempat untuk isolasi bayi di area terpisah. * Ruang harus dilengkapi paling sedikit enam steker listrik yang dipasang dengan tepat untuk peralatan listrik. a). atau setidaknya jauh dari area yang sering dilalui. b). * Minimal ruangan berukuran 18 m2 (6 -8 m2 untuk masing – masing pasien) * Di ruang dengan beberapa tempat tidur. Area Pencucian Incubator.Ruang Operasi.4 m) antara ranjang bayi. Stiker harus mampu memasok beban listrik yang diperlukan. * Unit ini harus berada di samping ruang bersalin. Minimal ruangan berukuran 6 – 8 m2 5). * Idealnya sebuah kamar operasi mempunyai luas : 25 m2 dengan lebar .Ruangan Neonatal. c).

6. Sekurang kurangnya ada 4 sumber listrik /bed. * Fasilitas pelayanan berikut perlu disediakan untuk unit opersi : 1. Ruang kerja bersih. 4. Ruang ini berisi meja dan lemari berisi linen. Demikian pula agar keluarga dapat melihat melalui kaca. kursi perawat. Nurse station yang berfungsi sebagai tempat pengawasan lalu lintas orang. * Harus di mungkinkan pengawasan langsung dari meja perawat ke tempat pasien. . 8. Saluran pembuangan kotoran/cairan. mejadan tersedia toilet. Perlu disediakan tempat cuci wastafel besar untuk cuci tangan dan fasilitas air panas/dingin. Ada autoklaf besar berguna bila darurat. * Ruang resusitasi ini berukuran : 3 m2. Ada meja kerja dan kursi. Ruang kerja kotor yang terpisah dari ruang ini berfungsi membereskan alat dankain kotor. 9. 3. incubator dan perlengkapan resusitasi dewasa dan bayi. serta telepon. Juga terdapat troli pembawa linen. Kamar pengawas KO : 10 m2. Wastafel itu harus dirancang agar tidak membuat basah lantai. troli darurat.selain itu isi ruangan ialah : meja. lemari obat. tempat rekam medik. Ruang tunggu keluarga : tersedia kursi. di luar fasilitas : lemari dinding. inkubator bayi. 2. * Kamar pulih ialah ruangan bagi pasien pasca bedah dengan standar luas: 8 m2/bed. * Harus disediakan unit komunikasi dengan kamar bersalin. 5. sekurang – kurangnya ada 2 tempat tidur. Didalam kamar operasi harus tersedia : pemancar panas. 7. Air cuci tangan haruslah steril. Ruang cuci tangan untuk scrub sekurangnya untukdua orang. * Perlu disediakan alat komunikasi ke kamar berslin dan kamar operasi. terdapat di depan kamar operasi /kamar bersalin. mesin pemantau tensi/nadi oksigen dsb. baju dan perlengkapan opersi. Kamar obat berisi lemari dan meja untuk distribusi obat. Kamar sterilisasi yang berhubungan dengan kamar operasi.minimum 4 m. troli. Unit ini sekurang kurangnya ada sebuah bagi bagi bagian kebidanan. Harus tersedia 6 sumber listrik.

Ruangan penunjang harus disediakan seperti : * Ruang Bidan/perawat. * Ruang rekam medik. kursi. 18. berisi lemari pendingin. hepatitis. meja. sapu. perlengkapan kebersihan. * Ruang linen bersih. * Gudang peralatan. 11. a.dsb. * Ruang persiapan diperlukan bila ada kegiatan persiapan alat/bahan. 17. 3. 13. kursi dan sofa tempat tidur. * Ruang kotor – peralatan – harus terpisah dari ruang cuci dengan air panas – dingin. Unit ini harus berfungsi untuk melakukan tes kecocoka. 14. * Ruang staf medik.peralatan mesin isap. * Dapur kecil untuk pembagian makan pasien.10. meja kursi. ember. Kamar diskusi bagi staf dan paramedik : 15 m2. lemari. Ruang tempat brankar dan kursi dorong 6). Kamar rumatan rumah tangga (house keeping) : berisi lemari. PRASARANA DAN SARANA PENUNJANG. pengambilan donor dan tes lab : infeksi VDRL. * Ruang loker staf. ada toilet 3 m2. 12. Gudang alat anastesi : Alat/mesin yang sedang direparasi – dibersihkan. meja. . * Ruang keluarga pasien * Ruang cuci. kursi. HIV. Unit Transfusi Darah. * Ruang obat : wastafel. Kamar jaga para medik : 15 m2. meja kerja dsb. meja. Kamar ganti : Pria dan wanita masing – masing 12 m2 berisi loker. 15. * Ruang rapat/konfrensi. Gudang 12 m2 : Tempat alat – alat kamar bersalin dan kamar operasi. Kamar jaga dokter : 15 m2. * Kantor perawat. ada meja untuk kerja. Ruang gas /tabung gas. * Toilet staf. 16. Diperlukan ruang 25 m2.

kamar petugas. Radiologi dan USG. Memiliki peralatan sesuai dengan standar minimal peralatan maternal dan neonatal. Bola lampu laringgoskop berfungsi baik Batree AA (cadangan) untuk bilah laringgoskop. Laboratorium. Plerter. Bola lampu laringoskop cadangan. Peralatan Maternal Essensial No Jenis Peralatan Jumlah Jumlah Standar Yang Ada saat inidi RSD 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kotak resusitasi : Balon yang bisa mengembang sendiri berfungsi baik. Pipa minuman. Gunting. PERALATAN ESSENSIAL. Unit ini harus berfungsi untuk melakukan tes laboratorium dalam penanganan kedaruratan maternal dalam pemeriksaanhemotasis penujang untuk pre – eklapsia dan neonatal. Masker oksigen dewasa.dsb. Bagi Rumah Sakit yamg tidak memiliki fasilitas unit tranfusi darah / bank darah dianjurkan untuk membuat kerjasama dengan penyedia fasilitas tersebut. Kateter penghisap . . 4. a. Pipa Endotrakeal. b. c. Selang reservoar oksigen. Bilah laringgoskop berfungsi baik .telepon. Unit ini harus berfungsi untuk diagnosis Obstetri dan thoraks.

Ampul epineprin / Adrenalin. 3. 5. NaCL 0. lidah kuku ukuran 0.4%. Peralatan Neonatal Essensial : Dapat memberikan perawatan Neonatal level II B No Jenis Peralatan Jumlah Standa r 7 2 Jumlah Yang Ada Di RSD 1 2 5 + 2 Incubator Infant Wamer : 1 (satu) unit di IGD 1 (satu) unit di Kamar Bersalin Pulse Oxymeter Neonatus Therapi sinar Syiring Pump Tabung oksigen Lampu Tindakan Alat – alat Resusitasi Neonatus. Ektraktor Vakum Forcep neagele AVM Pompa vakum listrik Monitor denyut jantung / pernafasan.0. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Set seksio sesarea b.Alat suntik : 1. Sodium Bicarbonat 8.1 Ambu Bag CPAP (Continous Airways Preassure) 3 4 5 6 7 8 1 2 10 2 1 1 9 1 1 10 Inkubator Transpor. 10. MgSO4 40%. 2 3 4 5 6 7 8 9 Incubator Penghangat (Radiant wamer). Kateter vena. Bila Rumah Sakit PONEK akan dikembangkan menjadi Neonatal Intensif .9% / larutan ringer Asetat / RL. Foetal Doppler. Infus set. Laringoskop neonatal. 20 cc.0.

* Lampu darurat. * Harus ada tiga kursi di kamar bersalin. penghisap lendir. 5. rak dan lemari kaca tidak boleh retak (agar tidak luka). * Harus ada meja diarea adminitrasi dan penyuluhan. a. * Paling sedikit ada satu monitor denyut jantung/pernafasan yang berfungsi baik untuk setiap tempat tidur. * Lampu sorot obstetri. * Tempat tidur obstetri/bersalin + Tiang infus (bagian dada/kepala dapat turun naik. * Ada lemari es untuk obat oksitosin. * Pasokan oksigen. Peralatan medis yang harus ada di masing – masing unit 1). selang dan reservoar bersih. * Harus ada pompa vakum listrik yang bisa dipindah. * Harus ada sistem vakum penghisap melalui pipa dengan pengatur hisapan. PERALATAN IDEAL. jika kanister. * Meja Instrumen obstetri 80 X 40. * Oksigen melalui pipa dinding.Care Unit (NICU) perlu dilengkapi dengan: − Infus. Harus ada (tiga – empat). − 5 tempat tidur.dan di cat dengan bahan yang dibersihakan. satu outlet udara bertekanan. Peralatan Medis. dan satu outlet penghisap lendir untuk setiap tempat tidur. outlet (satu ---> dua) outlet oksigen. . * Harus ada lemari dan meja untuk penyimpanan bahan pasokan umum. Unit Perawatan Intensif/Eklampsia/sepsis untuk maternal. sistem udara bertekanan. * Harus ada outlet penghisap dalam jumlah yang cukup. selang dan reservoir atau kanister bersih. bagian kaki untuk litotomi). satu untuk setiap tempat tidur. * Kursi penolong – dapat turun naik. − Ventilator.

* Wadah tertutup dengan kantung plastik. >Paling sedikit harus memiliki : * Satu alat penghangat (Radiant Wamer) yang berfungsi baik. * Pompa infus yang berfungsi baik setiap tempat tidur. Kamar Bersalin. inkubator bayi. a. PERALATAN UMUM. * Ventilator. * Analisa gas darah. * Lemari untuk barang pribadi. * Wastafel. * Rak sepatu. 3). ECG mesin penghisap. lampu sorot. pemancar panas (radiant wamer). * Ada stetoskop yang berfungsi baik setiap tiga tempat tidur. * Satu monitor denyut jantung/ pernafasan yang berfungsi baik untuk setiap 3 incubator. * Stetoskop yang berfungsi baik. Harus disediakan wadah terpisah untuk limbah organik dan non . Area Cuci Tangan . * Satu pompa tabung yang berfungsi baik untuk setiap 3 inkubator. * Generator listrik cadangan yang dapat dioperasikan bila pasokan listrik utama tidak ada. * Satu oxymeter nadi untuk setiap inkubator.* Harus ada pompa vakum listrik yang bisa dipindah. Wastafel cuci tangan ukurannya cukup besar sehingga air tidak terciprat dan dirancang agar air tidak tergenang atau tertahan. * Satu unit therapi sinar yang berfungsi baik untuk setiap inkubator atau tempat tidur bayi * Satu timbangan bayi yang berfungsi baik untuk di setiap ruangan. * Ada satu oxymeter nadi untuk setiap tempat tidur. 6. dengan regulator penghisap. KTG. * Rak/gantungan pakaian. 2). * Wadah gaun bekas. Harus dilengkapi lemari dengan perlengkapan darurat medik termasuk : vakum. oksigen. selang dan reservoir bersih atau kanister sebagai cadangan. Unit Perawatan Intensif Neonatal.

b. − Bagian logam harus bebas karat. > Tabung oksigen cadangan harus selalu terisi penuh. Area Resusitasi dan Stabilisasi di Ruang Neonatus/IGD. lebih disukai sabun cair antiseptik dalam dispenser dengan pompa.Ruang harus dilengkapi paling sedikit tiga steker yang di pasang dengan tepat untuk peralatan listrik. Tersedia sabun dalam jumlah cukup. * Sabun. * Perlengkapan pasokan oksigen. * Meja perlengkapan. . Bisa kain bersih atau tisu. *Handuk. . lihat standar untuk tingkat III/NICU). > Harus ada dua tabung oksigen dengan satu regulator dan pengukur aliran (jika ada oksigen dengan sistem pipa didinding.Meja harus ditutup dengan lapisan kasur busa. aman dan berfungsi baik.Steker harus mampu memasok beban listrik yang diperlukan. Harus menujukan waktu yang tepat dan berfungsi dengan baik.Tingkat III/NICU. * Steker listrik . Harus ada handuk untuk mengeringkan tangan.Tingkat II.prganik. .Harus ada cukup selimut untuk menutupi ibu dalam jumlah yang sesuai dengan perkiraan perslianan. > Harus ada pengatur kadar oksigen. . * Selimut. − * Jam dinding . lembar plastik utuh dan seprei bersih. * Meja pemeriksa untuk ibu. . .

Sealang resevoir oksigen. * Mebel lemari instrumen . . > Harus ada dua tabung oksigen dengan satu regulator dan .Harus ada satu lemari dan meja untuk penyimpanan bahan pasokan umum. Penghangat (Radiant wamer) Harus ada sdikitnya satu penghangat yang berfungsi baik.> Harus ada oksigen dengan sistem pipa dengan jumlah outlet yang sama dengan jumlah penghangat. Stetoskop dewasa. Gunting. > Harus ada dua tabung oksigen dengan satu regulator dan pengatur aliran sebagai cadangan. 20. Harus ada tiga kursi area adminitrasi dan edukasi yang berfungsi baik. Plester. Harus menujukan waktu yang tepat dan berfungsi baik. * Wadah sampah tertutup dengan kantong plastik. 3. Unit Perawatan Khusus. > Tabung oksigen cadangan harus selalu terisi penuh. Masker oksigen (ukuran bayi cukup bulan dan prematur) Pipa endotrakheal. Naso Gastrie tube. 50 cc. Dextrose 5%. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Lampu darurat.Rak dan lemari kaca tidak boleh retak (agar tidak luka) * Kursi. 10. selain dari lemari dan meja untuk menyimpan bahan – bahan untuk ruang isolasi. . 5.9%/larutan Ringer lactat/ RL. Bilah laringoscop.Tingkat II. ukuran dewasa. Batree aa (cadangan) untuk bilah laringoskop. Alat suntik 1. * Steker listrik. * Jam dinding . Bola lampu laringoskop cadangan . Kateter penghisap.4%. Balon yang bisa mengembang sendiri berfungsi baik. Sodium bicarbonat 8. Stiker harus mamapu memasok beban listrik yang diperlukan. * Bahandan Peralatan. c. NaCL ). * Kateter vena. aman dan berfungsi baik. * Ruang harus dilengkapi paling sedikit enam steker yang dipasang dengan tepat untuk peralatan listrik. Ampul Epineprin/adrenalin.

Harus ada ekstraktor vakum yang berfungsi baik.Harus ada pompa vakum listrik yang bisa dibawa dengan penghantar. * Timbangan bayi. * Generator listrik darurat.pengukur aliran (jika ada oksigen dengan sistem pipa didinding. . lihat standar untuk tingkat III/NICU). d.Harus ada generator listrik cadangan yang dioperasikan jika pasokan listrik utama tidak ada.Paling sdkit harus ada 3 inkubator yang berfungsi baik.Hisapan.Paling sedikit harus ada satu penghangat yang berfungsi baik. > Harus ada dua tabung oksigen dengan satu regulator dan pengatur aliran sebagai cadangan. . . Paling sedikit harus ada satu timbangan bayi yang berfungsi baik di setiap ruangan. > Harus ada pengatur kadar oksigen. selang dan resevoir bersih atau kanister sebagai cadangan. . > Tabung oksigen cadangan harus selalu terisi penuh. * Lampu darurat.Ada forcep naegle. . . * Alat / Instrumen. . dan sumber listrik sebanyak 4 pada titik yang berbeda. Harus ada wastafel besar untuk cuci tangan penolong. .Ada AVM. > Tabung oksigen cadangan harus selalu terisi penuh. * Incubator. .Paling sedikit harus ada jarak 1 m2 antara incubator atau tempat tidur bayi.Tingkat III/NICU. . > Harus ada oksigen dengan sistem pipa dengan jumlah outlet yang sama dengan jumlah penghangat. * Penghangat (Radiant wamer) . Kamar Bersalin. asuhan normal. * Oxymeter.

a. 2. 12. Sodium Bikarbonat 8. NaCl 0. 1. OBAT – OBATAN. NaCl 0.7.OBAT – OBATAN NEONATAL KHUSUS PONEK. Dopamin. 17. 3. Dextrose 10%.9% 500 ml 7. KCL. Midazolam. Kalsium Glukonat 10 ml 8. 6. Sodium Bikarbonat 8.9% 25 ml. Dextrose 10%. Dobutamin.Adrenalin / Epineprin. 15. 14. 13.4%. 5. Kortison / Dexametasone.Dobutamin. MgSO4 40%. 19. 16. 13.Ampicilin. Nifedipin. Gentamisin. 18. Kadelek atau ampul KCL. Metronidazole. b. 9. 18.4%.Gentamisin. Phenobarbital Injeksi. 4. Dextran 40%/HES. 6. 14. 7. Morphin. 15. Kalsium Glukonat 10% 10. 5. 1. Ampicilin. 2. 9. Aminophyline. 10. 17. N5. OBAT – OBATAN MATERNAL KHUSUS PONEK. Dopamin. Ringer acetat. Sulfat Atropin. 11. Larutan Ringer Lactat. Saline 0. Transamin. 11. . 4. 12. Adrenalin / Epineprin.9%. 8. Dextran 40% 3.

9. Direktur Rumah Sakit melaksanakan komitmen untuk menyelnggarakan program PONEK menyelaraskan program RS untuk mendukung program PONEK dalam bentuk SK Direktur. Sistem infomasi yang dapat mendukung mekanisme pemantauan dan evaluasi. 5. Sistem infomasi yang dapat mengintegrasikan seluruh data penting dari kamar bersalin dan ruang neonatal yang melaksanakan PONEK yang dapat diakses secara transparan melalui workstation. . 3. Sistem infomasi yang dapat memperdayakan karyawan (empowering). 6. 2. sangat membutuhkan keterpaduan. meningkatkan kecepatan aktifitas Rumah Sakit serta dapat menciptakan titik kontak tunggal atau case manager bagi pasien 7. menyimpan. PONEK merupakan suatu program pelayanan dimana setiap unsur tim yang ada di dalamnya melakukan fungsi yang berbeda. MANAJEMEN. cakupan dan efektifitas layanan kepada masyarakat. Keberadaan sistem infomasi ditujukan untuk mendukung proses pelaksanaan kegiatan pelayanan di Rumah Sakit dalam rangka pencapaian misi yang ditetapkan. Sistem infomasi yang dapat mendukung kegiatan operasional (rutin) serta dapat meminimalkan pekerjaan yang kurang memberikan nilai tambah. 4. SISTEM INFOMASI. yaitu dengan tersedianya data PONEK yang lengkap dan akurat. kecepatan dan ketepatan informasi yang ditujukan kepada peningkatan mutu. Sistem infomasi sehubungan dengan PONEK yang sejalan dengan visi dan misi Rumah Sakit. 8. Sistem Infomasi dimaksud pada PONEK adalah : 1.8. Sistem infomasi yang dapat membantu para pengambil keputusan dengan adanya ketersediaan data yang lengkap. akurat dan tepat waktu. mengolah atau memproses dan menyajikan infomasi dan data baik data internal maupun data ekternal. Sistem infomasi yang mampu memberikan peningkatan mutu pelayanan PONEK bagi pasien. Sistem infomasi yang dapat mengakomodasi aktifitas yang dibutuhkan untuk keperluan penelitian dan pengembangan keilmuannya di bidang obstetri dan gynekologi dengan ketersediaan tehnologi infomasi yang mampu untuk memperoleh. mentransmisikan.

pengertian dan tujuan serta strategi pelaksanaan RSSIB sebagai berikut : A. Diharapkan bahwa diterapkannya Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi maka upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dapat dipercepat melalui peningkatan kesiapan Rumah Sakit dan agar diterapkan Pedoman peningkatan mutu pelayanan ibu dan bayi berupa 10 langkah menuju perlindungan Ibu dan Bayi . Oleh karena itu upaya penurunan Angka kematian Ibu dan bayi merupakan kegiatan yang saling terkait dan tidak terpisahkan sehingga pelaksanananya menjadi satu program yaitu Ruamah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB). KONSEP DASAR RSSIB. Disisi lain agar bayi mendapatkan haknya yaitu ASI maka bayi tersebut harus lahir sehat. Agar ibu dapat melaksanakan kewajibanya memberikan ASI kepada bayi maka kesehatan ibu perlu dijaga sehingga dapat memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayinya. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi merupakan pelayanan yang berkesinambungan dan saling terkait. Disisi lain kesehatan ibu dapat berpengaruh terhadap kesehatan bayi yang di kandungnya. Kesehatan Bayi ditentukan sejak bayi dalam kandungan. Bayi mempunyai hak untuk ASI sedangkan Ibu mempunyai kewajiban untuk memberikan ASI kepada bayi. Seajalan dengan hal tersebut maka maka kesehatan bayi sangatlah diperlukan sehingga hak dan kewajiban dapat dilaksanakan. Adapun konsep.BAB 5 PENERAPAN PROGRAM RUMAH SAKIT SAYANG IBU DAN BAYI DALAM PROGRAM PONEK PONEK Mempunyai keterkaitan dengan program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) dan dalam pelaksanaan di Rumah Sakit perlu penerapan program tersebut untuk mencapai hasil yang optimal.

b. Melaksanakan sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan program RSSIB> D. B. c. SASARAN. g. Ada kebijakan tertulis tentang manajemen yang mendukung pelayanan . umum dan khusus yang telah melaksanakan 10 langkah menuju perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna. 1. TUJUAN RSSIB. Meningkatkan kesiapan Rumah Sakit dalam melaksanakan fungsi pelayanan obstetri dan neonatus termasuk pelayanan kegawatdaruratan (PONEK 24 jam). e. Khusus : a. Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi adalah Rumah Sakit pemerintah atau swasta . Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk kepedulian terhadap ibu dan bayi. * Rumah sakit umum pemerintah dan swasta. f. Umum : Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara terpadu dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Melaksanakan dan mengembangkan stardar pelayanan perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna. Meningkatkan fungsi Rumah Sakit sebagai model dan pembina tehnis dalam pelaksanaan IMD dan pemberian ASI Eksklusif. STRATEGI PELAKSANAAN Melaksanakan Perlindungan Ibu dan Bayi secara terpadu dan paripurna melalui 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai berikut : 1. 2. d. PENGERTIAN. Meningkatkan fungsi Rumah Sakit dalam Perawatan Metode Kangguru (PMK) pada BBLR. C. Meningkatkan fungsi Rumah Sakit sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan ibu dan bayi bagi sarana pelayanan kesehatan lainnya. * Rumah sakit khusus (RS.secara terpadu dan peripurna. E.Bersalin dan Ibu Anak) Pemrintah dan Swasta.

Menyelenggarakan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). maka di pandang perlu agar program Pelayanan Obstetrik dan neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) dijadikan prioritas. 9. Menyelenggarakan Pelayanan rujukan dua arah dan membina jejaring rujukan pelayanan ibu dan bayi dengan sarana kesehatan lain. Menyelenggarakan perslinan bersih dan aman serta penangganan pada bayi baru lahir dengan Inisiasi menyusu dini dan kontak kulit ibu – bayi. 5. Memberdayakan Kelompok pendukung ASI dalam menindak lanjuti pemberian ASI Eksklusif dan PMK. Menyelenggarakan Pelayanan kesehatan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi lainnyan. Menyelenggarakan pelayanan antenatal termasuk konseling kesehatan keselamatan maternal dan neonatal. rawat gabung termasuk membantu ibu menyusui yang benar. Karekteristik kasus kebinanan yang sifatnya akut dan fatal akan menurunkan kondisi kesehatan pada ibu hamil dan bayi di masyarakat dan akan mempengaruhi prestasi dan kinerja generasi mendatang. Menyelenggarakan Pelayanan adekuat untuk nifas. Keadaan ini akan cenderung meningkat bila tidak segera di antisipasi dengan berbagai terobosan yang optimal. dan pelayanan neonatus sakit. 4. Berdasarakn hal tersebut. 7. 10. 2. BAB 6 PENUTUP Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi semakin meningkat dan tidak mengalami perubahan berarti pada 5 tahun terakhir. 8.kesehatan ibu dan bayi termasuk pemberian ASI Eksklusif dan perawatan metode kangguru (PMK) untuk bayi Berat Badan Lahir Rendah. Menyelenggarakan Audit Maternal dan Perinatal Rumah Sakit secara periodik dan tindak lanjut. 6. . 3. Menyelenggarakan pelayanan Immunisasi bayi dan tumbuh kembang.

Pipa Endotrakeal. kebijakan ini amap perlu didukung oleh Dinas Kesehatan Propinsi / Kabupaten daerah sehingga terjadi sinkronisasi antara perencanaan Departemen Kesehatan RI pusat dan Daerah Yang menhasilkan suatu visi yang saling memperkuat dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). sehingga dapat mencapai target yang optimal yait 75% RSU Kabupaten . LAMPIRAN PERALATAN MATERNAL KHUSUS PONEK 24 jam Nama Rumah Sakit : Darmo Surabaya.yang terlihah pada target Upaya Kesehatan Perorangan (UPK) pada Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005 – 2009. Disamping itu pelaksanaan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) hendaknya disesuaikan dengan kondisi spesifik daerah dan keterbatasn sumber daya. Kota menyelenggarakan PONEK. . Bola lampu laringgoskop berfungsi baik Batree AA (cadangan) untuk bilah laringgoskop. Bilah laringgoskop berfungsi baik . Masker oksigen dewasa. Selang reservoar oksigen. Pada saat ini sesuai dengan era desentralisasi. UNIT : No Jenis Peralatan Jumlah Standar PONEK 1 1 1 1 1 1 1 1 YANG DIBUTUHKAN (BERI TANDACHECKLIST) KETERANGAN 1 Kotak Resusitasi : Balon yang bisa mengembang sendiri berfungsi baik. Bola lampu laringoskop cadangan.

Plerter.4%. Larutan Ringer Lactat.9% / larutan ringer Asetat / RL. 5. Alat suntik : 1. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 LAMPIRAN MEKANISME ALUR PASIEN RUJUKAN MATERNAL DAN NEONATAL RS. Infus set. Sodium Bikarbonat 8.9%. Kadelek atau ampul KCL. Foetal Doppler. Kateter vena. OBSGIN / DOKTER/ BIDAN RAWAT INAP / . MgSO4 40%. Aminophyline.Obatan Ringer acetat. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Incubator Penghangat (Radiant wamer). Dextrose 10%. Transamin. 20 cc. Nifedipin. Gentamisin. Sodium Bicarbonat 8. Kalsium Glukonat 10% Ampicilin. Dextran 40%/HES. Sodium Bikarbonat 8.4%. MgSO4 40%. Ampul epineprin / Adrenalin. Kortison / Dexametasone. Kateter penghisap . 3. Ektraktor Vakum Forcep neagele AVM Pompa vakum listrik Monitor denyut jantung / pernafasan. Saline 0. Metronidazole. Adrenalin / Epineprin. Gunting. Dopamin. 10.4%. Set seksio sesarea Obat . DARMO LABORATORIUM DR. NaCL 0. Pipa minuman.

3. Departemen Kesehatan RI – 2007.NIFAS IBU HAMIL NEONATAL INSTALASI / UNIT GAWAT DARURAT BANGSAL PERINATOLOGI ADMINITRASI KEUANGAN INSTALASI FARMASI BANK DARAH KEPUSTAKAAN 1. Tingakat 4. Pedoman Sistem Rujukan Maternal dan Neonatal di Tingkat Kabupaten / Kota. Pedoman Manajemen Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi komprehensif 24 jam di tingkat Kabupaten / Kota. 2.2005. Departemen Kesehatan RI . . Pedoman teknis Audit Maternal – Perinatal di Kabupaten / Kota. Departemen Kesehatan RI – 2006. Pedoman Pelaksanaan dan Penilaian Perlindungan Ibu dan Bayi secara terpadu Paripurna Menuju Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi Departemen Kesehatan RI – 2006.

Kebijakan dan Strategi Nasional Indonesia. 6. Kesehatan Reproduksi di 7.KR-2007. JNPK. Pedoman Pelaksanaan Strategi Program Making Pregnancy Safer (Kehamilan yang lebih Aman). 2007. Jakarta – 2005. Esential Neonatal care. Departemen Kesehatan RI – 2006.5. 8. . Modul on The Job Training Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif. First Edition. Protocols For Physicians.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful