Anda di halaman 1dari 23

TUGAS KASUS FARMASI

HIPERTENSI

Oleh: Akram Salihin G0007501

KEPANITERAAN KLINIK ILMU FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular. Diperkirakan telah menyebabkan 4.5% dari beban penyakit secara global, dan prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara maju.1 Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular. Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu, sehingga sering disebut sebagai silent killer. Tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti jantung, otak ataupun ginjal. Di Amerika, menurut National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES III); paling sedikit 30% pasien hipertensi tidak menyadari kondisi mereka, dan hanya 31% pasien yang diobati mencapai target tekanan darah yang diinginkan dibawah 140/90 mmHg. Di Indonesia, dengan tingkat kesadaran akan kesehatan yang lebih rendah, jumlah pasien yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi dan yang tidak mematuhi minum obat kemungkinan lebih besar. Sampai saat ini hipertensi masih tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain meningkatnya prevalensi hipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi yang belum mendapatkan pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Dari kelompok penyakit kardiovaskuler hipertensi paling banyak ditemui. Antara 1015% orang dewasa menderita kelainan ini. Penting sekali untuk dokter mencoba mengenali dan mengobati penderita-penderita hipertensi pada masyarakat. Selama ini dikenal dua jenis hipertensi yaitu : 1) hipertensi primer (esensial), penyebabnya tidak diketahui, dan mencakup 90% dari kasus hipertensi; 2) hipertensi sekunder, penyebabnya diketahui dan ini menyangkut 10% dari kasus-kasus hipertensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Hipertensi adalah penyakit kardiovaskular yang umum yang berarti kenaikan tekanan darah secara persisten. Pasien hipertensi memiliki tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik > 90 mmHg, atau keduanya. Krisis hipertensi (tekanan darah lebih besar dari 180/120 mmHg) dapat dikategorikan ke dalam hypertensive emergency (kenaikan tekanan darah yang ekstrim dengan kerusakan organ akut atau progresif) atau hypertensive urgency (kenaikan tekanan darah yang parah tanpa kerusakan organ akut atau progresif). Menurut American Society of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskular yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan. Berikut tabel klasifikasi tekanan darah : Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Klasifikasi Normal Prehipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Tekanan Sistolik (mmHg) < 120 120 139 140 159 160 Dan Atau Atau Atau Tekanan Diastolik (mmHg) < 80 80 89 90 99 100

B. Patofisiologi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di torak dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bias terjadi.

Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatnkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, saat vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

C. Epidemiologi Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan meningkatnya populasi lanjut usia, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga, dimana hipertensi sistolik maupun hipertensi sistolik diastolik sering timbul pada usia >60 tahun. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000,insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31% yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES III tahun 1989-1991.Hipertensi esensial sendiri merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi. D. Manifestasi Klinis Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang lebih sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang dan pusing E. Diagnosis Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit. Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran. Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk

meyakinkan adanya hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi. Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal. 1. Retina Retina merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil). Dengan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal. Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi. 2. Jantung Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada. Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung). Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah tinggi. 3. Ginjal Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih. Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal. Pemeriksaan pada penderita usia muda bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal, rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu. Untuk menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal sebelumnya. Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang mengalami penyempitan). Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal.

F. Komplikasi a. Retinopati hipertensif

Pemeriksaan funduskopi dapat menolong menilai prognosis dan juga beratnya tekanan darah tinggi. Retinopati hipertensif yang lanjut (golongan III dan IV) ditemukan kurang dari 10% dari semua penderita hipertensi dan merupakan indikasi untuk penelitian diagnostik dan pengobatan yang agresif. b. Penyakit jantung dan pembuluh darah Dua bentuk utama penyakit jantung yang timbul pada penderita hipertensi yaitu penyakit jantung koroner (PJK) dan penyakit jantung hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab paling utama dari hipertrofi ventrikel kiri. Waktu yang lama dan hebatnya kenaikan tekanan darah tidak mutlak sebagai persyaratan untuk timbulnya hipertrofi ventrikel kiri, karena ada faktor-faktor selain peninggian tekanan darah yang penting untuk perkembangannya. Sewaktu-waktu dapat timbul suatu bentuk

kardiomiopati hipertensif. c. Penyakit hipertensi serebrovaskuler Hipertensi adalah faktor risiko paling penting untuk timbulnya stroke karena perdarahan atau ateroemboli. Risiko stroke bertambah dengan setiap kenaikan tingkat tekanan darah. d. Ensefalopati hipertensi Ensefalopati hipertensi yaitu sindroma yang ditandai dengan perubahanperubahan neurologis mendadak atau sub-akut yang timbul sebagai akibat tekanan arteri yang meningkat. Ini biasanya timbul pada keadaan hipertensi maligna yang meningkat cepat (accelerated) walaupun retinopati hipertensi lanjut sering tidak ada. Ensefalopati hipertensi biasanya timbul dengan ditandai oleh sakit kepala hebat, bingung, lamban, dan sering disertai muntah-muntah, mual dan gangguan penglihatan. Gejala ini biasanya tambah berat dalam waktu 1248 jam dan dapat timbul kejang-kejang, mioklonus, kesadaran menurun serta pada beberapa kasus sering terjadi kebutaan. e. Nefrosklerosis karena hipertensi Analisa urin, klirens kreatinin, ukuran ginjal, angiogram, scan ginjal dan renogram biasanya normal pada penderita hipertensi primer. Bila analisa urin, BUN, dan kreatinin normal dapat dianggap bahwa hipertensi tersebut tidak sekunder terhadap penyakit parenkim ginjal primer.

BAB III PENGOBATAN DAN TERAPI

Tujuan pengobatan adalah : 1. Tekanan darah < 140/90 mmHg, untuk individu berisiko tinggi (penderita DM, gagal ginjal, proteinuria) < 130 mmHg; 2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler; 3. Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria.

A. Penanganan Non Farmakologi

a. Edukasi pasien Edukasi kepada pasien memiliki peranan yang sangat penting. Sebelum melakukan terapi, sebaiknya pasien diberi informasi mengenai penyakit hipertensi secara umum. Informasi mengenai prevalensi, faktor resiko, serta terapi hipertensi akan membantu meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi. Dengan pemahaman pasien mengenai hipertensi, diharapkan dapat menunjang proses terapi sehingga terapi yang dilakukan dapat efektif.

b. Modifikasi Gaya Hidup Dasar terapi hipertensi secara nonfarmakologi adalah dengan memodifikasi gaya hidup dan kontrol faktor resiko lain penyebab hipertensi. Pasien hipertensi harus diberi arahan untuk memodifikasi gaya hidup yang dapat menurunkan tekanan darah. Selain untuk menurunkan tekanan darah pada pasien yang telah diketahui menderita hipertensi, modifikasi gaya hidup juga dapat menurunkan perkembangan penyakit hipertensi bagi pasien yang didiagnosis menderita prehipertensi. Modifikasi gaya hidup pada pasien hipertensi dilakukan 3 hingga 6 bulan kemudian diamati perkembangan penyakit hipertensi yang diderita. Bila kemajuan yang terjadi tidak signifikan, maka dapat diberikan terapi secara farmakologi dengan obat antihipertensi. Selama terapi menggunakan obat antihipertensi modifikasi gaya hidup pasien harus tetap dijaga. Modifikasi gaya hidup yang dilakukan untuk menurunkan tekanan darah pasien penderita hipertensi meliputi penurunan bobot badan pada individu yang kelebihan berat badan atau obesitas, pengaturan pola makan, pengurangan konsumsi natrium, aktivitas fisik, dan pengurangan konsumsi alkohol.

Tabel 5. Modifikasi Gaya Hidup untuk Mengatur Hipertensi Modifikasi Penurunan bobot badan Pola diet tipe DASH Rekomendasi Rata-rata SBP (mmHg) penurunan

Memelihara bobot badan normal (BMI 5-20 per 10 kg berat badan 18,5-24,9 kg/m2). Mengkonsumsi diet kaya buah, sayur, dan produk susu rendah lemak serta pengurangan kandungan lemak total dan lemak jenuh. 8-14 yang hilang.

Pengurangan konsumsi natrium

Menurunkan pemasukan natrium harian sebanyak mungkin, idealnya hingga 65 mmol/hari (1,5 g/hari natrium atau 3,8 g/hari natrium klorida) 2-8

Aktivitas fisik

Melakukan

aktivitas

fisik

aerobik 4-9

(minimal 30 menit/hari, hampir setiap hari dalam seminggu) Penurunan alkohol konsumsi Batas konsumsi 2 gelas (1 oz atau 30 mL etanol, seperti 24 oz bir atau 10 oz wine) / hari pada pria dan 1 gelas per hari pada wanita dan yang memiliki bobot badan rendah. Keterangan : DASH SBP : Dietary Approaches to Stop Hypertension : Sistolic Blood Pressure

2-4

c. Modikasi faktor lain : 1. Konsumsi kalium, kalsium dan magnesium yang cukup. 2. Berhenti merokok

B. Penanganan Farmakologi Beberapa ahli merekomendasikan penggunaan obat antihipertensi kepada semua pasien dengan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang gagal merespon terapi non obat. Terapi obat antihipertensi diberikan untuk mencapai nilai target tekanan darah. Target terapi adalah

tekanan darah <140/90 mmHg atau 130/80 mmHg untuk pasien dengan penyakit diabetes mellitus dan penyakit ginjal kronis, penyakit arteri koroner yang diketahui (infark miokardial, angina), penyakit atherosclerosis vascular non koroner (stroke iskemia, penyakit arterial periferal, dll). Selain itu, pasien dengan penyakit disfungsi ventrikular kiri (gagal jantung) target tekanan darahnya ialah kurang dari 120/80 mmHg (Dipiro, 2008). Tekanan arterial merupakan hasil dari kardiak output dan resistensi periveral vaskular. Obat menurunkan tekanan darah dengan mekanismenya lewat resistensi periferal, kardiak output, atau keduanya. Obat dapat menurunkan kardiak output dengan menginhibisi kontraktilitas miokardial atau dengan menurunkan tekanan ventrikular. Obat juga dapat menurunkan resistensi periferal dengan bekerja pada otot polos yang menyebabkan relaksasi pumbuluh atau dengan berinterferensi pada aktivitas sistem yang menghasilkan konstriksi pembuluh (contoh: sistem saraf simpatik). Obat-obat antihipertensi dapat diklasifikasikan menurut tempat mekanisme kerjanya, yaitu meliputi : Agen antihipertensi individual utama a. Diuretik 1. Thiazida dan agen berhubungan lainnya (hydrochlorothiazide, chlorthalidone) 2. Loop diuretik (furosemid, bumetanid, torsemid, asam etakrinat) 3. Diuretik hemat kalium (amiloride, triamterene, spironolactone) 4. Antagonis aldosteron b. Inhibitor Angiotensin Converting Enzyme (ACE Inhibitor) c. Angiotensin Receptor Bloker (ARB) d. Calcium Channel Bloker (CCB) e. -bloker Agen antihipertensi alternatif a. -Bloker b. Aliskiren c. Agonis Sentral -2 d. Reserpin e. Vasodilator Arterial Langsung f. Agen-agen lainnya

Pilihan Terapi Obat Awal

Tanpa compelling indication

Dengan compelling indication

Tingkat 1 (sistol 140-159 atau diastol 90-99)

Tingkat 2 (sistol > 160 atau diastol >100 mmHg)

Diuretik thiazida dapat pula dipertimbangkan, ACE inhibitor, ARB, -bloker, CCB maupun kombinasi

Kombinasi 2 macam obat biasanya diuretik thiazida dan ACE inhibitor/ARB atau bloker atau CCB

Obat pilihan sesuai dengan compelling indication dan anti hipertensi lain jika diperlukan

Algoritma penanganan hipertensi

Terapi Hipertensi Pada Kondisi Compelling Indication

C. Mekanisme obat a. Diuretik Diuretik menurunkan tekanan darah terutama dengan cara mendeplesikan simpanan natrium tubuh. Awalnya, diuretik menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume darah dan curah jantung, tahanan vaskuler perifer. Penurunan tekanan darah dapat terlihat dengan terjadinya diuresis. Diuresis menyebabkan penurunan volume plasma dan stroke volume yang akan menurunkan curah jantung dan akhirnya menurunkan tekanan darah. Obat-obat obat diuretik yang digunakan dalam terapi hipertensi yaitu : diuretik golongan tiazid, diuretik kuat, dan diuretik hemat kalium. kalium Obat-Obat Pilihan: A. Golongan Tiazid 1. Bendroflazid/bendroflumetazid ( Corzide ) Indikasi: : edema, hipertensi

Kontra indikasi: hipokalemia yang refraktur, hiponatremia, hiperkalsemia, , gangguan ginjal dan hati yang berat, hiperurikemia yang simptomatik, penyakit adison.

Bentuk sediaan obat: tablet Dosis: edema dosis awal 5-10 mg sehari atau berselang sehari pada pagi hari; dosis pemeliharaan 5-10 mg 1-3 kali semingguHipertensi, 2,5 mg pada pagi hari

Efek samping:hipotensi postural dan gangguan saluran cerna yang ringan; impotensi (reversibel bila obat dihentikan); hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia, hiperkalsemia, alkalosis hipokloremanik, hiperurisemia, pirai, hiperglikemia, dan peningkatan kadar kolesterol plasma; jarang terjadi ruam kulit, fotosensitivitas, ganggan darah (termasuk neutropenia dan

trombositopenia, bila diberikan pada masa kehamilan akhir); pankreatitis, kolestasis intrahepatik dan reaksi hipersensitivitas. Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia, memperburuk diabetes dan pirai; mungkin memperburuk SLE ( eritema lupus sistemik ); usia lanjut; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal yang berat;porfiria. 2. Chlortalidone ( Hygroton, Tenoret 50, Tenoretic ) Indikasi : edema, hipertensi, diabetes insipidus Peringatan,Kontra indikasi, dan efek samping: lihat pada Bendrofluazid Dosis : edema, dosis awal 50 mg pada pagi hari atau 100-200 mg selang sehari, kurangi untuk pemeliharaan jika mungkin.Hipertensi, 25 mg; jika perlu ditingkatkan sampai 50 mg pada pagi hari Bentuk sediaan obat: tablet

3. hidroklorotiazid Indikasi: edema, hipertensi Peringatan,Kontra indikasi, dan efek samping: lihat pada Bendrofluazid Dosis : edema, dosis awal 12,5-25 mg, kurangi untuk pemeliharaan jika mungkin; untuk pasien dengan edema yang berat dosis awalnya 75 mg sehariHipertensi, dosis awal 12,5 mg sehari; jika perlu ditingkatkan sampai 25 mg pada pagi hari Bentuk sediaan obat: tablet.

B. Diuretik kuat 1. Furosemide ( Lasix, uresix, impugan ) Indikasi: edema pada jantung, hipertensi Kontra indikasi: gangguan ginjal dan hati yang berat. Bentuk sediaan obat: tablet, injeksi, infus Dosis: oral , dewasa 20-40 mg pada pagi hari, anak 1-3 mg/kg bb; Injeksi, dewasa dosis awal 20-50 mg im, anak 0,5-1,5mg/kg sampai dosis maksimal sehari 20 mg; infus IV disesuaikan dengan keadaan pasien Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti ruam kulit Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk diabetes mellitus; perbesaran prostat; porfiria. C. Diuretik hemat kalium 1. Amilorid HCL ( Amiloride, puritrid, lorinid ) Indikasi: edema, hipertensi, konservasi kalium dengan kalium dan tiazid Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia. Bentuk sediaan obat: tablet Dosis: dosis tunggal, dosis awal 10 mg sehari atau 5 mg dua kali sehari maksimal 20 mg sehari. Kombinasi dengan diuretik lain 5-10 mg sehari Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti ruam kulit, bingung, hiponatremia. Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk diabetes mellitus; usia lanjut. 2. Spironolakton ( Spirolactone, Letonal, Sotacor, Carpiaton ) Indikasi: edema, hipertensi Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia, hipernatremia, kehamilan dan menyusui, penyakit adison. Bentuk sediaan obat: tablet Dosis: 100-200 mg sehari, jika perlu tingkatkan sampai 400 mg; anak, dosis awal 3 mg/kg dalam dosis terbagi. Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi s

eperti ruam kulit, sakit kepala, bingung, hiponatremia, hiperkalemia, hepatotoksisita, impotensi.

Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; usia lanjut.

b. ACE Inibitor ACE inhibitor memiliki mekanisme aksi menghambat sistem renin-angiotensinaldosteron dengan menghambat perubahan Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi retensi sodium dengan mengurangi sekresi aldosteron. Oleh karena ACE juga terlibat dalam degradasi bradikinin maka ACE inhibitor menyebabkan peningkatan bradikinin, suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan nitric oxide. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor, tetapi juga bertanggungjawab terhadap efek samping berupa batuk kering. ACE inhibitor mengurangi mortalitas hampir 20% pada pasien dengan gagal jantung yang simtomatik dan telah terbukti mencegah pasien harus dirawat di rumah sakit (hospitalization), meningkatkan ketahanan tubuh dalam beraktivitas, dan mengurangi gejala. ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. Fungsi ginjal dan serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan terutama setelah dilakukan peningkatan dosis. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis. 1. Nama Generik : Captopril 2. Nama Dagang : Acepress : Tab 12,5mg, 25mg Capoten : Tab 12,5mg, 25mg Captensin : Tab 12,5mg, 25mg Captopril Hexpharm : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg Casipril : Tab 12,5mg, 25mg Dexacap : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg Farmoten : Tab 12,5mg, 25mg Forten : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg Locap : Tab 25mg Lotensin : Kapl 12,5mg, 25mg

Metopril : Tab salut selaput 12,5mg, 25mg; Kapl salut selaput 50mg Otoryl : Tab 25mg Praten : Kapl 12,5mg Scantensin : Tab 12,5mg, 25mg Tenofax : Tab 12,5mg, 25mg Tensicap : Tab 12,5mg, 25mg Tensobon : Tab 25mg

3. Indikasi : Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah. Hipertensi berkaitan dengan gangguan ginjal (renal hypertension). Diabetic nephropathy dan albuminuria. Gagal jantung (Congestive Heart Failure). Postmyocardial infarction Terapi pada krisis scleroderma renal. Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap ACE inhibitor. Kehamilan. Wanita menyusui. Angioneurotic edema yang berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor sebelumnya. Penyempitan arteri pada salah satu atau kedua ginjal.

4. Bentuk sediaan : Tablet, Tablet salut selaput, Kaplet, Kaplet salut selaput. 5. Dosis dan aturan pakai captopril pada pasien hipertensi dengan gagal jantung : 6. Dosis inisial : 6,25-12,5mg 2-3 kali/hari dan diberikan dengan pengawasan yang tepat. Dosis ini perlu ditingkatkan secara bertingkat sampai tercapai target dosis. 7. Target dosis : 50mg 3 kali/hari (150mg sehari) 8. Aturan pakai : captopril diberikan 3 kali sehari dan pada saat perut kosong yaitu setengah jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Hal ini dikarenakan absorbsi captopril akan berkurang 30%-40% apabila diberikan bersamaan dengan makanan. 9. Efek samping : Batuk kering Hipotensi Pusing Disfungsi ginjal

Hiperkalemia Angioedema Ruam kulit Takikardi Proteinuria Resiko khusus : Wanita hamil. Captopril tidak disarankan untuk digunakan pada wanita yang sedang hamil karena dapat menembus plasenta dan dapat mengakibatkan teratogenik. Hal ini juga dapat menyebabkan kematian janin. Morbiditas fetal berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor pada seluruh masa trisemester kehamilan. Captopril beresiko pada kehamilan yaitu pada level C (semester pertama) dan D (semester kedua dan ketiga).

Wanita menyusui. Captopril tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang menyusui karena bentuk awal captopril dapat menembus masuk dalam ASI sekitar 1% dari konsentrasi plasma. Akan tetapi tidak diketahui apakah metabolit dari captopril juga dapat menembus masuk dalam ASI.

Penyakit ginjal. Penggunaan captopril (ACE inhibitor) pada pasien dengan gangguan ginjal akan memperparah kerusakan ginjal karena hampir 85% diekskresikan lewat ginjal (hampir 45% dalam bentuk yang tidak berubah) sehingga akan memperparah kerja ginjal dan meningkatkan resiko neutropenia. Apabila captopril digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal maka perlu dilakukan penyesuaian dosis dimana berfungsi untuk menurunkan klirens kreatininnya.

c.

Beta-blocker (Misal : propanolol, bisoprolol) Merupakan obat utama pada penderita hipertensi ringan sampai moderat dengan penyakit jantung koroner atau dengan aritmia. Bekerja dengan menghambat reseptor 1 di otak, ginjal dan neuron adrenergik perifer, di mana 1 merupakan reseptor yang bertanggung jawab untuk menstimulasi produksi katekolamin yang akan menstimulasi produksi renin. Dengan berkurangnya produksi renin, maka cardiac output akan berkurang yang disertai dengan turunnya tekanan darah.

d. Alfa-blocker (Misal : Doxazosin, Prazosin). Bekerja dengan menghambat reseptor 1 di pembuluh darah sehingga terjadi dilatasi arteriol dan vena. Dilatasi arteriol akan menurunkan resistensi perifer.

e.

Calcium channel blocker (Cth: Nifedipin, Amlodipin). Bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah sehingga mengurangi tahanan perifer. Merupakan antihipertensi yang dapat bekerja pula sebagai obat angina dan antiaritmia, sehingga merupakan obat utama bagi penderita hipertensi yang juga penderita angina.

BAB IV ILUSTRASI KASUS I. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis Kelamin Status Perkawinan Agama Pekerjaan Alamat Suku : Tn. S : 45 tahun : Laki-laki : Menikah : Islam : Tukang becak : Karanganyar : Jawa

II. ANAMNESIS A. Keluhan Utama Kepala cekot-cekot B. Riwayat Penyakit Sekarang (Alloanamnesis) Seorang pasien laki-laki datang ke sebuah balai pengobatan. Kurang lebih 3 hari yang lalu pasien sering mengeluh kepala cekot-cekot. Cekot-cekot terutama dirasakan di kepala bagian belakang. Cekot-cekot dirasakan hilang timbul terutama jika malamnya susah tidur. Pasien sering tidak bisa bekerja karena sakit kepalanya itu. Beberapa bulan yang lalu pasien pernah mengalami rasa sakit yang sama.

Kemudian pasien periksa ke puskesmas dan dinyatakan darah tinggi. Dari puskesmas pasien mendapat obat, namun pasien lupa obat yang telah dikonsumsinya. Pasien merasa baikan setelah meminum obat dari puskesmas, dan tidak berobat lagi secara rutin karena merasa sudah sembuh. Saat ini pasien sedang dalam pengobatan diabetes melitus dengan OAD.

C. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat sakit gula Riwayat darah tinggi Riwayat sakit jantung Riwayat alergi obat dan makanan Riwayat sakit ginjal Riwayat mondok Riwayat transfusi

: 2 tahun yang lalu : 2 bulan yang lalu : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

D. Riwayat Kebiasaan Riwayat minum obat-obatan bebas : disangkal Riwayat minum jamu Riwayat minum alkohol Riwayat merokok : disangkal : disangkal : (+) 10 tahun yang lau, 1-3 batang per hari

E. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat sakit jantung Riwayat sakit gula Riwayat asma bronkiale Riwayat alergi obat dan makanan Riwayat sakit kuning Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal : ada : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

F. Riwayat Lingkungan Sosial dan Asupan Gizi Pasien sehari-hari bekerja sebagai tukang becak. Mempunyai satu orang istri dan tiga orang anak. Pasien makan tiga kali sehari, porsi sedang dengan lauk pauk tempe, tahu, kadang-kadang telur, daging ayam atau ikan.

G. Anamnesa Sistem a. Keluhan utama : Kepala cekot-cekot b. Kulit : tidak ada keluhan c. Kepala : nyeri kepala (+), nggliyer (+), kepala terasa berat (-), perasaan berputarputar (-), rambut mudah rontok (-) d. Leher : cengeng (+), kaku (-) e. Mata : tidak ada keluhan f. Hidung : tidak ada keluhan

g. Telinga : pendengaran berkurang (-), keluar cairan atau darah (-), mendengar bunyi berdenging (-) h. Mulut : tidak ada keluhan i. Tenggorokan : tidak ada keluhan j. Sistem respirasi : tidak ada keluhan k. Sistem kardiovaskuler : tidak ada keluhan l. Sistem gastrointestinal : tidak ada keluhan m. Sistem muskuloskeletal : tidak ada keluhan n. Sistem genitourinaria : tidak ada keluhan o. Ekstremitas : tidak ada keluhan p. Sistem neuropsikiatri : tidak ada keluhan

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan Umum Berat badan Tinggi badan B. Tanda vital Tekanan Darah Nadi Laju Pernapasan Suhu C. Kulit : 190/110 mmHg : 100 x/menit, regular, isi dan tegangan cukup , simetris : 20 x/menit, kussmaul (-) : 36,8 0C per axiller : warna sawo matang, lembab, ujud kelainan turniquet (-) D. Kepala E. Mata : bentuk mesocephal, rambut hitam sukar dicabut : conjungtiva anemis (+/+), sclera ikterik (-/-), air mata (+/+), Refleks cahaya (+/+), pupil isokor tengah, mata cekung (-/-) F. Hidung G. Mulut H. Telinga I. Tenggorok J. Leher : nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-) : bibir pucat (-), sianosis (-), mukosa basah (+) : sekret (-), mastoid pain (-), tragus pain (-) : uvula di tengah, mukosa faring hiperemis (-), tonsil T1 T1 : kelenjar getah bening tidak membesar (3 mm/ 3 mm), bulat, di kulit (-), uji : kompos mentis, gizi kesan cukup : 53 kg : 155 cm

K. Thorax Bentuk : normochest

Cor Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis tidak kuat angkat : batas jantung kesan tidak melebar Kanan atas Kiri atas : SIC II linea parasternalis dextra : SIC II linea parasternalis sinistra

Kanan bawah : SIC IV linea parasternalis dextra Kiri bawah Auskultasi Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi : pengembangan dada kanan = kiri, retraksi (-) : fremitus raba dada kanan = kiri : sonor di seluruh lapang paru Batas paru hepar : SIC VI dextra :SIC V linea medioclavicularis sinistra

: bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising (-)

Batas paru lambung :spatium intercosta VII Sinistra Redup relatif Redup absolut Auskultasi : batas paru hepar : hepar

: suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan RBK (-/-), RBH (-/-), wheezing (-/-)

L. Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi M. Ekstremitas Akral dingin : dinding perut sejajar dinding dada : peristaltik (+) normal : timpani : hepar/lien tak teraba, turgor kulit baik : Oedema -

Sianosis ujung jari -

Capilary refill time < 2 detik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Foto Thorax Kesan : cor dan pulmo dalam batas normal B. EKG Irama sinus, denyut jantung 100x/menit C. GDT Dalam batas normal

V.

DIAGNOSIS KERJA Hipertensi Derajat II

VI. TUJUAN PENGOBATAN 1 menurunkan tekanan darah tanpa memperberat penyakit penyerta. 2. menghilangkan rasa sakit yang timbul akibat peningkatan tekanan darah. 3. modifikasi gaya hidup VII. PENATALAKSANAAN Diet rendah garam 5g/hari Captopril tab 3x25 mg Hct tab 25 mg 1-0-0

VIII. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam : baik : baik

Ad fungsionam : baik

Resep R/ Captopril mg 25 tab No. XXI S 3 dd tab I_____________ R/ Hidroklorotiazid mg 25 tab No. VI S 1 dd tab I mane__________ Pro : Tn. S (45th)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1.

KESIMPULAN Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan terapi farmakologis. Adapun terapi nonfarmakologis antara lain: menghentikkan merokok, menurunkan berata badan yang berlebihan, menurunkan konsumsi alkohol yang berlebihan, latihan fisik, menurunkan asupan garam, meningkatkan konsumsi buah dan sayur, dan menurunkan asupan lemak. Sedangkan jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan oelh JNC 7 adalah : golongan diuretika, terutaman jenis thiazid atau aldosterone antagonist; beta bloker (BB); Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist; Angiotensin Converting Enzym Inhibitor (ACE Inhibitor); dan Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB)

2.

SARAN Penyakit hipertensi timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor risiko sehingga pencegahan penyakit hipertensi sangat penting, salah satunya dapat dilakukan dengan menjalankan gaya hidup sehat.

DAFTAR PUSTAKA Arief Mansjoer, Kuspuji Triyanti, Rakhmi Savitri, et al, eds. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, jilid I. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius, 2001; 518-522 Brunton, L.L., et al., 2006, Goodman & Gilmans The Pharmacological Basis of Therapeutics, Mc Graw-Hill, New York DiPiro, J.T., et al., 2009, Pharmacotherapy Handbook, 7th ed., New York: Mc Graw-Hill Ganiswara, G. Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi, edisi 4. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Supandiman, I., Fadjari, H. 2006. Anemia pada Penyakit Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Pp: 651-652 Yogiantoro, M. Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simardibrata K. M., Setiati, S. 2006. Hipertensi Esensial. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Pp: 610-614