Anda di halaman 1dari 13

SINDROM NEFROTIK

Pengkajian Dasar Keperawatan Anak

A. Identitas klien Nama : An. L Usia : 5 tahun Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Pasuruan Nama orang tua : Tn Y Pekerjaan : Petani Pendidikan : SD Agama : Islam Suku : Jawa

No. Register : 1015359 Tanggal Masuk : 16-4-2012 Tanggal Pengkajian : 17-4-2012 Sumber informasi : ibu klien

B. Status kesehatan sekarang 1. Keluhan utama t MRS : mengeluh sesak, muka dan badan bengkak, perut membesar dan tegang, BAK jarang dan sedikit t Pengkajian : mengeluh sesak, muka dan badan bengkak, perut membesar dan tegang, BAK jarang dan sedikit luhan : bengkak pada muka dan badan mulai 3 hari yang lalu dan semakin parah. Sesak dirasakan pada tanggal 16 April 2012 3. Diagnose medis : Nefrotik sindrom C. Riwayat kesehatan saat ini Mulai tanggal 13 April klien mulai mengalami bengkak dan semakin hari bengkaknya semakin parah. Perut semakin hari semakin membesar dan tegang sehingga anak mengeluh sakit perut dan tidak mau makan. Pada tanggal 16 April klien mengeluh sesak dan dibawa ke dokter oleh dokter klien langsung dirujuk ke rumah sakit. D. 1. a. b. c. Riwayat kesehatan terdahulu Penyakit yang pernah dialami Kecelakaan (jenis dan waktu) : Operasi (jenis dan waktu) :Penyakit : Pada Agustus 2011 klien mengalami bengkak pada muka, kaki dan perutnya juga membesar. Oleh keluarga klien dibawa ke praktek dokter dan diberi obat selama satu minggu. Bengkak berangsur-angsur turun dan klien tidak pernah control lagi.

d. Terakhir MRS 2. Alergi

::-

E. Riwayat kehamilan dan persalinan 1. Prenatal Kontrol kebidan satu kali sebulan secara teratur. Menurut ibu makanan yang dikonsumsi yang sama saja dengan anggota keluarga yang lain atau sebelum hamil. Lauk yang sering adalah tempe tahu dan kerupuk. Ibu mengatakan pada saat hamil tidak suka makan sayur. 2. Natal Klien lahir dibantu bidan. BB 3 kg, usia kehamilan 9 bulan, lahir normal dan langsung menangis. 3. Postnatal Klien minum ASI sampai dengan usia 3 tahun. Mulai usia 1 bulan klien sudah menerima makanan tambahan berupa pisang+nasi. 4. Imunisasi BCG 1 kali, DPT 3 kali, polio 3 kali, campak 1 kali, F. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan 1. Pertumbuhan Berat badan 16 kg dan panjang badan 102 cm. 2. Perkembangan Klien dapat menghitung jari 1-10, menyebut warna merah, hijau, kuning dan biru. G. Riwayat keluarga Menurut ibu, keluarga tidak mempunyai penyakit tertentu, penyakit yang sering batuk pilek saja. H. Pola aktifitas Jenis Makan/minum Mandi Berpakaian Toileting Berpindah dan berjalan

Sebelum Sakit Mandiri Mandiri Kadang-kadang mandiri dan dibantu Dibantu Klien aktif bermain

Sesudah Sakit Dibantu Dibantu Dibantu Dibantu Aktifitas anak diatas tempat tidur

I. Pola nutrisi Jenis

Rumah

Rumah Sakit

Jenis makanan Frekuensi makan Porsi yang dihabiskan Pantangan

Nafsu makan Jenis minuman Frekuensi minum J. Pola eliminasi 1. BAB Jenis Frekuensi Konsistensi Warna/bau Kesulitan Upaya menangani 2. BAK Jenis Frekuensi Warna/bau Kesulitan Upaya menangani

Nasi, sayur dan lauk 3-4 kali sehari 1 porsi Ikan, telor, makanan yang mengandung banyak penyedap rasa Normal Air putih dan teh 5-6 kali pakai gelas

Nasi, sayur dan lauk 1-2 sehari Sedikit 3-4 sendok Sesuai makanan dari rumah sakit Menurun Air putih dan sirup 6-7 kali pakai gelas

Rumah BAB 1 kali sehari Normal Normal -

Rumah Sakit 2 hari belum BAB -

Rumah BAK 3-4 kali sehari Normal -

Rumah Sakit Produksi urine 25cc/kgBB/jam pekat -

K. Pemeriksaan fisik 1. Keadaan umum Kesadaran : compos mentis Tanda-tanda vital o Tekanan darah : 100/80 mmHg o Nadi : 100 x/mnt o Suhu : 37,4 derajat celsius o RR : 42x/mnt 2. Kepala & leher a. Kepala Rambut rata, bersih, tidak ada nyeri, benjolan (-), luka (-) b. Mata

c. d. e. f. 3. a. b.

4.

5.

Kedua mata simetris, Konjungtiva tidak anemis, ikterik (-), tanda-tanda peradangan (-), pembengkakan pada palpebra kanan kiri. Hidung Nares simetris, secret (-), pernafasan cuping hidung (-), tanda-tanda peradangan, Mulut dan tenggorokan Mulut bersih, mukosa bibir kering, lesi (-), gigi bersih, secret (-) Telinga Simetris, tidak ada lesi, fungsi pendengaran(+) Leher Distensi vena jugularis (-), deviasi trakea (-), lesi (-), massa (-), kaku kuduk (-) Thorak dan dada Jantung Ictus cordis invisible, teraba di ICS 5 mid klavikula sinistra, s1 s2 tunggal, murmur (-) Paru Bentuk dada normal, retraksi intercoste (+), lesi (-), pergerakan dinding dada simetris, ronki dan wheezing (-) Abdomen Abdomen distensi dan tegang, bising usus normal suara lemah, asites, perkusi dullness. Ekstremitas Kekuatan otot Edema

6. Genetalia Bersih, terpasang Kateter 7. Kulit dan Kuku Kulit Kulit kering, kulit kaki terlihat kering dan pecah-pecah, luka (-) Kuku Normal, CRT 2 detik L. Hasil Pemeriksaan Penunjang Tanggal 16 April 2012 Laboratorium:

WBC 8,2 K/ul; Hb 13,1 g/dl; Hct 38%; albumin 0,87 gr%; BUN 16 mg% dan creatini serum 0.51 mg%; Kalium 3 meq/L; natrium 128 meq/L; kalsium 6.29 meq/L, kolesterol 373 mg/dl Urine lengkap Ph 5; leokosit negative; nitrogen negative; protein 75 mg/dl; eritrosit 25/ul Radiologi/foto thoraks Cor besar dan bentuk normal, pulmo tidak Nampak infiltrate, kesimpulan tidak tampak tanda lung edema. M. Terapi Lasiks 3 X 18 mg Diit TKTPRL Transfuse plasma 200cc

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom nefrotik (SN) merupakan penyakit ginjal yang sering dirujuk ke ahli nefrologi anak, terutama untuk jenis frequent relapses, steroid dependent, dansteroid resistant.1 Secara histopatologik, SN dibagi menjadi dua, yaitu SN kelainan minimal dan SN kelainan nonminimal. Biopsi ginjal merupakan baku emas untuk menentukan diagnosis dan prognosis SN, tetapi karena bersifat invasif maka ahli nefrologi anak sering menglasifikasikan SN berdasarkan respons terhadap pengobatan steroid, yaitu SN sensitif steroid dan SN resisten steroid.2-4 Sindrom nefrotik resisten steroid merupakan SN yang dapat menimbulkan masalah besar pada anak, terutama dalam

tata laksana dan kemungkinan progresivitas menjadi gagal ginjal kronis atau terminal, sehingga harus mendapat perhatian seksama. Menurut International Study of Kidney Disease in Children (ISKDC), faktor utama yang diketahui memiliki kaitan dengan SN resisten steroid hingga saat ini adalah usia awitan dan jenis kelamin. Pada SN lesi nonminimal, yaitu jenis glomerulonefritis membranoproliferatif (GNMP), pasien umumnya berjenis kelamin perempuan (64,1%) dan serangan pertama kali terjadi pada usia lebih dari 6 tahun (97,4%).6 Faktor lain yang diketahui memiliki hubungan dengan SN resisten steroid adalah gangguan pertumbuhan dalam rahim atau intrauterine growth retardation (IUGR). Namun, taksiran usia gestasi yang akurat relatif sulit didapatkan sehingga berat lahir digunakan sebagai metric yang dapat dipercaya untuk perbandingan. Secara umum, istilah bayi berat lahir rendah (BBLR) digunakan untuk menggambarkan bayi yang memiliki gangguan pertumbuhan dalam rahim. Oleh karena peranan berbagai faktor risiko terhadap kejadian SN, maka akan diteliti mengenai faktor risiko bayi berat lahir rendah cukup bulan, usia awitan, dan jenis kelamin sebagai faktor risiko terjadinya SN resisten steroid. Dengan demikian, pengungkapan mengenai peranan berbagai factor risiko terhadap SN resisten steroid menjadi lebih lengkap. B. Tujuan a. Agar mahasiswa mengetahui pengertian (definisi) dari Sidrom Nefrotik b. Agar mahasiswa mengetahui etiologi dan factor resiko dari Sindrom Nefrotik. c. Agar mahasiswa mengetahui patofisiologi dari Sindrom Nefrotik. d. Agar mahasiswa mengetahui menifestasi klinis dari Sindrom Nefrotik. e. Agar mahasiswa mengetahui pemeriksaan diagnostic dari Sindrom Nefrotik. f. Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan dari Sindrom Nefrotik. g. Agar mahasiswa mengetahui komplikasi dari Sindrom Nefrotik. C. Manfaat Bagi penulis Penulis berharap dengan adanya penyusunan laporan individu ini, penulis dapat mengetahui dan lebih memahami tentang Sindrom Nefrotik dan dapat menerapkan aplikasi serta penatalaksanaan Sindrom Nefrotik baik ketika berada di klinik maupun di masyarakat. Bagi mahasiswa PSIK 2010 reguler Semoga dengan adanya penyusunan laporan individu ini, seluruh mahasiswa PSIK 2010 reguler mampu memahami tentang sindrom Nefrotik. Dan dapat mengaplikasikan penatalaksaannya ketika berada di klinik ataupun di masyarakat.

BAB II Tinjauan Pustaka A. Definisi Sindrom Nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan klinis, meliputi hal-hal sebagai berikut : Proteinuria massif > 3,5 gr/hr Hipoalbuminemia Edema Hiperlipidemia Manifestasi dari keempat kondisi tersebut yang sangat merusak membran kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus. Berdasarkan para ahli, definisi Sindrom Nefrotik adalah : Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah, 1997). Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya berupa oliguria dengan urin berwarna gelap, atau urin yang kental akibat proteinuria berat ( Mansjoer Arif, dkk. 1999). Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik : proteinuria, hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema (Suryadi, 2001). B. Etiologi dan Faktor Resiko Etiologi Penyebab sindrom nefrotik dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut : 1) Primer, berkaitan dengan berbagai penyakit ginjal, seperti berikut ini : Glomerulonefritis Sindrom nefrotik perubahan minimal 2) Sekunder, akibat infeksi, penggunaan obat, dan penyakit sistemik lainnya, seperti berikut ini : Diabetes mellitus Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) Amyloidosis Faktor Resiko Faktor resiko dari Sindrom Nefrotik adalah sebagai berikut : Berat badan lahir rendah cukup bulan Usia awitan >/= 6 tahun

Jenis kelamin laki-laki : perempuan = 2 : 1 Epidemiologi Pada anak-anak (< 16 tahun) paling sering ditemukan nefropati lesi minimal (75% 85%) dengan umur rata-rata 2,5 tahun, 80% < 6 tahun saat diagnosis dibuat dan lakilaki dua kali lebih banyak daripada wanita. Pada orang dewasa paling banyak nefropati membranosa (30% - 50%), umur rata-rata 30-50 tahun dan perbandingan laki-laki dan wanita 2 : 1. Kejadian SN idiopatik 2-3 kasus / 100.000 anak / tahun sedangkan pada dewasa 3 / 1000.000 / tahun. Sindrom nefrotik sekunder pada orang dewasa terbanyak disebabkan oleh diabetes mellitus.

C. Patofisiologi (terlampir) D. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis (tanda dan gejala) yang dapat diperoleh dari pemeriksaan fisik pada kasus Sindrom Nefrotik adalah sebagai berikut : Keadaan umum Klien lemah dan terlihat sakit berat dengan tingkat kesadaran biasanya compos mentis. Pada TTV sering tidak didapatkan adanya perubahan. B1 (Breathing) Biasanya tidak didapatkan gangguan pola napas dan jalan napas walau secara frekuensi mengalami peningkatan terutama pada fase akut. Pada fase lanjut sering didapatkan adanya gangguan pola napas dan jalan napas yang merupakan respon terhadap edema pulmoner dan efusi pleura. B2 (Blood) Sering ditemukan penurunan curah jantung respon sekunder dari peningkatan beban volume. B3 (Brain) Didapatkan edema wajah terutama periorbital, sclera tidak ikterik. Status neurologis mengalami perubahan sesuai dengan tingkat parahnya azotemia pada system saraf pusat. B4 (Baldder) Perubahan warna urine output seperti berwarna cola. B5 (Bowel) Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia sehingga sering didapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan. Didapatkan asites pada abdomen. B6 (Bone) Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum, efek sekunder dari edema tungkai dari keletihan fisik secara umum.

E. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic pada Sindrom Nefrotik menurut Betz, Cecily L, 2002 : 1) Uji Urin a. Protein urin > 3,5 g/1,73 m2 luas permukaan tubuh / hari b. Urinalisis didapatkan hematuria secara mikroskopik, proteinuria, terutama albumin. Keadaan ini juga terjadi akibat meningkatnya permeabilitas membrane glomerulus. c. Dipstick urin positif untuk protein dan darah d. Berat jenis urin meningkat (normal : 285 mOsmol) 2) Uji Darah a. Albumin serum < 3 g/dl b. Kolesterol serum meningkat c. Hemoglobin dan hematokrit meningkat (hemokonsentrasi) d. Laju Endap Darah (LED) meningkat e. Elektrolit serum bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan. 3) Uji Diagnostik a. Rontgen dada bisa menunjukkan adanya cairan yang berlebihan. b. USG ginjal, dan CT Scan ginjal atau IVP menunjukkan pengkisutan ginjal. c. Biopsy ginjal bisa menunjukkan salah satu bentuk glomerulonefritis kronis atau pembentukan jaringan parut yang tidak spesifik pada glomeruli. F. Penatalaksanaan Tujuan terapi adalah mencegah terjadinya kerusakan ginjal lebih lanjut dan menurunkan resiko komplikasi. Untuk mencapai tujuan terapi, maka penatalaksanaan tersebut meliputi hal-hal berikut : a. Tirah baring Untuk mengatasi penyulit, pada stadium oedem, ada hipertensi, ada bahaya trombosis, apabila relaps. b. Diuretik Diberikan furosemid 1-2 mg/kgBB/dosis 2-4 kali sehari. c. Adenokortikosteroid, golongan prednisone Induksi : 2 mg/kgBB/24 jam dibagi 3 dosis selama 4 minggu (maksimal 80 mg/24 jam). Bila terjadi remisi : 2 mg/kgBB/24 jam dosis tunggal tiap pagi, tiap 48 jam sekali selama 4 minggu. Tapering off dosis dikurangi 0,5 mg/kgBB setiap 2 minggu, selama 24 bulan. d. Diet rendah natrium tinggi protein Tinggi protein dan rendah garam (pada stadium oedem dan selama pemberian kortikosteroid. Cairan dibatasi. Pemberian kalsium dan vitamin D. e. Terapi cairan

Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan output diukur secara cermat dan dicatat. Cairan diberikan untuk mengatasi kehilangan cairan dan berat badan harian. Tinjauan Farmakologis Farmakologi obat yang digunakan dalam penatalaksanaan sindrom nefrotik yang digunakan pada rawat inap : 1) Furosemid

Farmakodinamik : Loop diuretic yang membantu ekskresi natrium, klorida, dan kalium dengan menghambat system transport gabungan Na +/K+/Cl2- pada ascending limb loop of henle. Farmakokinetik : Absorbsi : kadar puncak plasma jika diberikan peroral +/- 0,5-1 jam dan bertahan 46 jam, intravena dalam beberapa menit dan lamanya 2,5 jam. Absorbsinya diusus hanya lebih kurang 50%. Distribusi : volume distribusi 0,11/kg, ikatan protein 98%. Metabolisme : di hepar 10%. Ekskresi : waktu paruh ( t ) dalam plasma 30-60 menit. Ekskresi melalui urin secara utuh, pada dosis tinggi juga melalui empedu.

Indikasi, Kontraindikasi, dan Efek Samping : Indikasi : hipertensi, edema jantung, paru, ginjal, dan hepar. Kontraindikasi : hamil, laktasi, DM, gout, gangguan keseimbangan elektrolit dan cairan tubuh, gangguan berkemih, gangguan fungsi hati, SLE, BPH, pre koma pada sirosis hepatic, gangguan ginjal. Efek samping : hiponatremi, hipovolemi, hipotensi, resiko tinggi terjadi thrombosis, hipomagnesemi, hipokalsemi, hipokalemi (kadang terjadi alkalosis hipokloremi), peningkatan urea dan asam urat, gangguan GIT, pancreatitis, ikterus, konsentrasi

plasma > 25 ng/ml kesulitan mendengar karena gangguan telinga dalam dan tinnitus (terutama iv cepat). Fotosensibilitas, urtikaria, dermatitis exfoliate, eritema multiforme dosis tinggi pada indufisiensi ginjal. Jarang : trobositopeni, agranulositosis. Pada kehamilan akhir : ototoksik dan alkalosis hipokalemi bagi fetus, penurunan dan hambatan laktasi. Interaksi Obat : Penggunaan bersama kortikosteroid meningkatkan resiko gangguan elektrolit, antibiotic aminoglikosida dan dapat meningkatkan resiko kerusakan ginjal dan telinga, dan kotrimoksazol dapat menurunkan jumlah platelet. Menurunkan ekskresi aspirin. Meningkatkan toksisitas digoxin akibat hipokalemia. Dosis : 1-2 mg/kgBB/dosis 2-4 kali sehari.

2)

Prednison

Farmakodinamik Mekanisme Kerja : Menurunkan konsentrasi limfosit, monosit, eosinofil, basofil serta meningkatkan konsentrasi neutrofil dalam sirkulasi. Menurunkan sintesis prostaglandin, leukotrien, dan platelet activating factor, yang dihasilkan dari aktivasi fosfoliase A2. Mengurangi biosintesis prostaglandin melalui penurunan ekskresi enzim sikolooksigenase (COX 1 dan COX 2) sehingga proses inflamasi dapat dihambat. Menurunkan permeabilitas kapiler dengan menurunkan jumlah histamine yang dirilis oleh basofil dan sel mast. Farmakokinetik : Absorbsi : pemberian peroral di absorbs dengan cepat di GIT, bioavailabilitas 70%. Distribusi : 90% terikat dengan protein kortikosteroid binding globulin dan albumin (terikat lemah). Metabolism : terutama di hati menjadi prednisolon. Ekskresi : ekskresi melalui urin, waktu paruh 1 jam. Indikasi, Kontraindikasi, dan Efek Samping : Indikasi

Penyakit autoimun, penyakit inflamasi, sindrom nefrotik, mencegah dan mengatasi penolakan pada transplantasi organ. Kontraindikasi Seperti pada obat-obatan glukokortikoid lainnya, jangan digunakan pada penderita tukak lambung, osteoporosis, DM, infeksi jamur sistemik, psikosis dan herpes simpleks pada mata. Efek Samping Jangka pendek : peningkatan kadar glukosa plasma, retensi cairan (efeknya minimal), insomnia, euphoria, dan mania. Jangka panjang : sindrom Cushing, peningkatan berat badan, osteoporosis, glaucoma dan katarak, DM tipe II, dan depresi Interaksi Obat : efektivitas berkurang dengan fenitonin, fenobarbital, rifampisin, vitamin A, tetrasiklin, tiazid. Antikoagulan oral, obat hipoglokemik oral dan salisilat. Dosis : induksi : 2 mg/kgBB/24 jam dibagi 3 dosis selama 4 minggu (maksimal 80 mg/24 jam). Bila terjadi remisi : 2 mg/kgBB/24 jam dosis tunggal tiap pagi, tiap 48 jam sekali selama 4 minggu. Tapering off dosis dikurangi 0,5 mg/kgBB setiap 2 minggu selama 2-4 bulan. 3) Cefotaxim

Farmakodinamik :Sefalosporin berasal dari fungus Cephalosporium acremonium yang mengkasilkan tiga macam antibiotic yaitu Sefalosporin P, N, dan C. mekanisme kerjanya dengan menghambat reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Farmakodinamik : Absorbsi : diberikan melalui IM atau IV, tidak ada sediaan oral. Distribusi : dapat menembus sawar darah otak, sawar darah uri, cairan synovial, dan cairan pericardium.

Metabolisme : menjadi metabolit melalui reaksi deasetilasi di hati waktu paruh plasma sekitar 1 jam Ekskresi : diekskresikan secara langsung pada tubulus ginjal. Metabolit juga diekskresi melalui ginjal. Indikasi, Peringatan, dan Efek Samping : Indikasi : infeksi akibat bakteri gram positif maupun gram negative aerobic Peringatan : gagal ginjal dilakukan penyesuaian dosis Efek samping : jarang : depresi sumsum tulang terutama granulositopenia Kontraindikasi : riwayat reaksi alergi terhadap penisilin, derivate penisilin, penisilamin, atau sefalosporin. Efek Samping : reaksi alergi obat Interaksi Obat : penggunaan probenezid bersamaan dengan sefalosporin akan menurunkan sekresi penisilin oleh tubuler renalis. Efek ini menyebabkan peningkatan konsentrasi sefalosporin di serum, eliminasi obat (waktu paruh) bertambah panjang dan menyebabkan resiko toksik. Dosis : dewasa 2-12 mg/hari IM atau IV yang dibagi dalam 3-6 dosis. Dosis anak 100200 mg/kgBB/hari dibagi 3-6 dosis. Sediaan dalam bentuk bubuk injeksi 1,2 dan 10 g . G. Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi pada Sindrom Nefrotik menurut Betz, Cecily L, 2002 dan Rauf, 2002, antara lain : Penurunan volume intravaskuler (syok hipovolemik) Kemampuan koagulasi yang berlebihan (thrombosis vena) Perburukan pernapasan (berhubungan dengan retensi cairan) Kerusakan kulit Infeksi sekunder karena kadar immunoglobulin yang rendah akibat hipoalbuminemia Peritonitis