Anda di halaman 1dari 14

Pendidikan Kewarganegaraan PENERAPAN PASAL 28 AYAT 2 UUD 1945

Oleh : Nama Mahasiswa NPM Email Trimester : Arief Perdana : 19310860 : ariefanza@gmail.com : VII

JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GUNADARMA DEPOK 2012

Pendidikan kewarganegaraan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang dimiliki manusia sejak ia dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat dibantah oleh siapapun. Hak ini berisi tentang kesamaan atau keselarasan tanpa membeda bedakan suku, golongan, keturunanan, jabatan dan lain sebagainya antara setiap manusia yang hakikatnya adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Dalam perkembangan perwujudan HAM di Indonesia, masih terdapat pelanggaran HAM yang dapat kita jumpai, terutama yang memprihatinkan adalah kekerasan pada anak, anak yang seharusnya diberikan perlindungan, dan pendidikan yang cukup justru disakati atau dicederai hak haknya sebagai manusia. Untuk menyelesaikan masalah ini perlu adanya keseriusan dari pemerintah menangani pelanggaran pelanggaran yang terjadi dan menghukum individu atau oknum terbukti melakukan pelanggaran HAM. Selain itu masyarakat juga perlu mengerti tentang HAM dan turut menegakkan HAM mulai dari lingkungan sosial tempat mereka tinggal hingga nantinya akan terbentuk penegakan HAM tingkat nasional. 1.2 Rumusan Masalah a) Bagaimanakah pengertian Hak Asasi Manusia? b) Bagaimanakah sejarah Hak Asasi Manusia?
c) Bagaimanakah ImplementasiHak Asasi Manusia di Indonesia?

d) Apakah pengertian kekerasan terhadap anak? e) Apakah saja macam macam kekerasan pada anak? f) Apakah saja faktor penyebab kekerasan terhadap anak? g) Apakah dampak dari kekerasan terhadap anak tersebut?

Pendidikan kewarganegaraan

1.3 Tujuan a) Ingin mengetahui pengertian Hak Asasi Manusia b) Ingin mengetahui sejarah Hak Asasi Manusia
c) Ingin mengetahui Implementasi Hak Asasi Manusia di Indonesia

d) Ingin mengetahui pengertian kekerasan terhadap anak e) Ingin mengetahui saja macam macam kekerasan pada anak f) Ingin mengetahui saja faktor penyebab kekerasan terhadap anak g) Ingin mengetahui dampak dari kekerasan terhadap anak tersebut

Pendidikan kewarganegaraan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM) Secara etimologi, kata hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman perilaku, melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Sedangkan kata asasi berarti yang bersifat paling mendasar yang dimiliki oleh manusia sebagai fitrah, sehingga tak satupun makhluk dapat mengintervensinya apalagi mencabutnya. Misalnya hak hidup sebagai hak paling dasar yang dimiliki manusia, sehingga tak satupun manusia ini memiliki kewenangan untuk mencabut kehidupan manusia yang lain. 2.2 Sejarah Hak Asasi Manusia di Indonesia Di Indonesia HAM sebenarnya telah lama ada. Sebagai contoh, HAM di Sulawesi Selatan telah dikenal sejak lama, kemudian ditulis dalam bukubuku adat (Lontarak). Antara lain dinyatakan dalam buku Lontarak (Tomatindo di Lagana) bahwa apabila raja berselisih paham dengan Dewan Adat, maka Raja harus mengalah. Tetapi apabila para Dewam Adat sendiri berselisih, maka rakyatlah yang memustuskan. Sedangkan Pemikiran HAM dalam periode sebelum kemerdekaan dapat dijumpai dalam organisasi pergerakan sebagai berikut: 1. Budi Utomo, pemikirannya, hak kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat;
Pendidikan kewarganegaraan

2. Perhimpunan Indonesia, pemikirannya, hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination); 3. Sarekat Islam, pemikirannya, hak penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial; 4. Partai Komunis Indonesia, pemikirannya, hak sosial dan berkaitan dengan alat-alat produksi; 5. Indische Party, pemikirannya, hak untuk mendapatkan kemerdekaan dan perlakuan yang sama; 6. Partai Nasional Indonesia, pemikirannya, hak untuk memperoleh kemerdekaan; 7. Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia, pemikirannya meliputi: o Hak untuk menentukan nasib sendiri, o Hak untuk mengeluarkan pendapat, o Hak untuk berserikat dan berkumpul, o Hak persamaan di muka hukum, o Hak untuk turut dalam penyelenggaraan negara Kemudian ditegaskan dalam UU No. 39/1999 tentang hak asasi manusia, yang mendefinisikan hak asasi manusia sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas, diperoleh kesimpulan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat, atau negara.

2.3 Implementasi Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia Pelaksanaan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia baru pada tahap kebijakan belum menjadi bagian dari sendi-sendi dasar kehidupan berbangsa untuk menjadi faktor integrasi atau persatuan. Problem dasar HAM yaitu penghargaan terhadap martabat dan privasi warga negara sebagai pribadi juga belum ditempatkan sebagaimana mestinya.Dalam diskusi dipersoalkan bagaimana sebenarnya posisi pemerintah untuk melaksanakan HAM secara
Pendidikan kewarganegaraan

tulus. Sedangkan di Indonesia, HAM baru merupakan satu kebijakan belum merupakan bagian dari sendi-sendi dasar dari kehidupan berbangsa. Kondisi HAM di Indonesia menghadapi dua hal dinamis yang terjadi yaitu realitas empiris di mana masyarakat semakin sadar HAM serta kondisi politik.Soal hubungan Komnas HAM dengan pemerintah, misalnya seperti Kasus Marsinah atau Kerusuhan 27 Juli. Komnas HAM sebenarnya menganut prinsip HAM universal dengan dasar Piagam PBB, Deklarasi HAM serta Pancasila sebagai falsafah politik dan konsitusi UUD 45. Paham HAM universal itu harus disesuaikan dengan nilai budaya yang berlaku,.Namun kurangnya pemahaman HAM atau karena kepentingan politik seringkali disebut-sebut HAM di Indonesia sebagai HAM yang khas yang berbeda dengan HAM universal.

2.4 Pengertian Kekerasan Terhadap Anak Pada awalnya terminologi tindak kekerasan atau child abuse berasal dari dunia kedokteran.Sekitar tahun 1946, seorang radiologist Caffey (dalam Ibnu Anshori, 2007) melaporkan kasus berupa gejala-gejala klinik seperti patah tulang panjang yang majemuk (multiple fractures) pada anak-anak atau bayi disertai pendarahan tanpa diketahui sebabnya (unrecognized trauma).Dalam dunia kedokteran, kasus ini dikenal dengan istilah Caffey Syndrome (Ranuh dalam Anshori, 2007). Kasus yang ditemukan Caffey diatas semakin menarik perhatian publik ketika Henry Kempe tahun 1962 menulis masalah ini di Journal of the American Medical Assosiation, dan melaporkan bahwa dari 71 Rumah Sakit yang ia teliti, ternyata terjadi 302 kasus tindak kekerasan terhadap anak-anak, dimana 33 anak dilaporkan meninggal akibat penganiayaan yang dialaminya, dan 85 mengalami kerusakan otak yang permanen. Henry (dalam Anshori, 2007) menyebut kasus penelentaran dan penganiayaan yang dialami anak-anak dengan istilah Battered Child Syndrome, yaitu setiap keadaan yang disebabkan kurangnya perawatan dan perlindungan terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain. Selain Battered Child Syndrome, istilah lain untuk menggambarkan kasus
Pendidikan kewarganegaraan

penganiayaan yang dialami anak-anak adalah Maltreatment Syndrome, yang meliputi gangguan fisik seperti diatas, juga gangguan emosi anak dan adanya akibat asuhan yang tidak memadai, ekploitasi seksual dan ekonomi, pemberian makanan yang tidak layak bagi anak atau makanan kurang gizi, pengabaian pendidikan dan kesehatan dan kekerasan yang berkaitan dengan medis (Gelles dalam Anshori, 2007). Hoesin (2006) melihat kekerasan terhadap anak sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak.dan dibanyak negara dikategorikan sebagai kejahatan sehingga mencegahnya dapat dilakukan oleh para petugas penegak hukum. Sedangkan Patilima (2003) menganggap kekerasan merupakan perlakuan yang salah orang tua.Patilima mendefinisikan perlakuan salah pada anak adalah segala perlakuan terhadap anak yang akibat-akibatnya mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial, maupun mental. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. 2.5 Macam-macam kekerasan terhadap anak Penyiksaan terhadap anak dapat digolongkan menjadi: penyiksaan fisik (physical abuse), penyiksaan emosi (psychological/emotional abuse), pelecehan seksual (sexual abuse), dan pengabaian (child neglect). a) Penyiksaan Fisik (Physical Abuse) Segala bentuk penyiksaan secara fisik, dapat berupa cubitan, pukulan, tendangan, menyundut dengan rokok, membakar, dan tindakan-tindakan lain yang dapat membahayakan anak. Banyak orangtua yang menyiksa anaknya mengaku bahwa perilaku yang mereka lakukan adalah sematamata suatu bentuk pendisiplinan anak, suatu cara untuk membuat anak mereka belajar bagaimana berperilaku baik. b) Penyiksaan Emosi (Psychological/ Emotional Abuse)

Pendidikan kewarganegaraan

Penyiksaan emosi adalah semua tindakan merendahkan atau meremehkan anak, selanjutnya konsep diri anak terganggu, anak merasa tidak berharga untuk dicintai dan dikasihi. Jenis-jenis penyiksaan emosi adalah: penolakan, tidakdiperhatikan, ancaman, dan isolasi. c) PelecehanSeksual(Sexual Abuse) Pelecehan seksual pada anak adalah kondisi dimana anak terlibat dalam aktivitas seksual, anak sama sekali tidak menyadari, dan tidak mampu mengkomunikasikannya, atau bahkan tidak tahu arti tindakan yang diterimanya. Jenis-jenis penyiksaan seksual adalah: 1. Pelecehan seksual tanpa sentuhan: anak melihat pornografi, atau exhibisionisme, dsb. 2. Pelecehan seksual dengan sentuhan. Semua tindakan pelecehan orang dewasa terhadap organ seksual anak. Seperti adanya penetrasi ke dalam vagina atau anak dengan benda apapun yang tidak mempunyai tujuan medis. 3. Eksploitasi seksual. Meliputi semua tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan prostitusi, atau menggunakan anak sebagai model foto atau film porno. d) Pengabaian (Child Neglect). Pengabaian terhadap anak termasuk penyiksaan secara pasif, yaitu segala ketiadaan perhatian yang memadai, baik fisik, emosi maupun sosial. Jenis-jenis pengabaian anak: 1. Pengabaian fisik, misalnya keterlambatan mencari bantuan medis, pengawasan yang kurang memadai, serta tidak tersedianya kebutuhan akan rasa aman dalam keluarga. 2. Pengabaian pendidikan misalnya orang tua seringkali tidak memberikan fasilitas pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan anak.
Pendidikan kewarganegaraan

3. Pengabaian secara emosi dapat terjadi misalnya ketika orang tua tidak menyadari kehadiran anak ketika sedang bertengkar. Pembedaan perlakuan dan kasih sayang orang tua terhadap anakanaknya. 4. Pengabaian fasilitas medis, misalnya orang tua tidak menyediakan layanan medis untuk anak meskipun secara finansial memadai. 5. Mempekerjakan anak dibawah umur, hal ini melanggar hak anak untuk memperoleh pendidikan, dapat membahayakan kesehatan, serta melanggar hak mereka sebagai manusia. Anak yang dicurigai telah mengalami penyiksaan fisik perlu di lakukan penyelidikan lebih lanjut yang melibatkan: Pekerja Sosial, Dokter Anak dan Pihak yang berwajib (Polisi). 2.6 Faktor penyebab kekerasan terhadap anak Banyak faktor yang sangat berpengaruh untuk mengarahkan seseorang kepada penyiksaan anak terhadap anak. Faktor-faktor yang paling umum adalah sebagai berikut: a. Lingkaran kekerasan, seseorang yang mengalami kekerasan semasa kecilnya mempunyai kecenderungan untuk melakukan hal yang pernah dilakukan terhadap dirinya pada orang lain. b. Stres dan kurangnya dukungan. Menjadi orangtua maupun pengasuh dapat menjadi sebuah pekerjaan yang menyita waktu dan sulit.Orangtua yang mengasuh anak tanpa dukungan dari keluarga, teman atau masyarakat dapat mengalami stress berat. c. Pecandu alkohol atau narkoba. Para pecandu alkohol dan narkoba seringkali tidak dapat mengontrol emosi dengan baik, sehingga kecenderungan melakukan penyiksaan lebih besar. d. Menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga adalah sebuah bentuk penyiksaan anak secara emosional dan mengakibatkan penyiksaan anak secara fisik.

Pendidikan kewarganegaraan

e. Kemiskinan dan akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis. f. Peningkatan krisis dan jumlah kekerasan di lingkungan sekitar mereka. 2.7 Dampak kekerasan terhadap anak Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse), antara lain; 1) Dampak kekerasan fisik. Anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. 2) Dampak kekerasan psikis.Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri. 3) Dampak kekerasan seksual. Eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi.Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara takut bergaul, menutup diri, dan trauma untuk menjalani pernikahan karena masih dibayangitrauma masa lalu. 4) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada sa yang akan datang. 2.8 Upaya mengurangi kekerasan terhadap anak

Pendidikan kewarganegaraan

10

Untuk mencegah dan menghentikan kekerasan pada anak dibutuhkan beberapa pendekatan diantaranya: 1. Pendekatan individu, yaitu dengan cara menambah pemahaman agama, karena tentunya seorang yang mempunyai pemahaman agama yang kuat akan lebih tegar menghadapi situasi-situasiyang menjadi factor terjadinya kekerasan. 2. Pendekatan sosial, melingkupi pendekatan partisipasi masyarakat dalam melaporkan dan waspada setiap tindakan kejahatan, terutama human trafficking. 3. Pendekatan medis, untuk memberikan pelayanan dan perawatan baik secara fisik atau kejiwaan, juga memberikan penyuluhan terhadap orang tua tentang bagaimana mengasuh anak dengan baik dan benar. 4. Pendekatan hukum, tentunya yang bertanggung jawab masalah ini adalah pemerintah untuk selalu mencari dan menanggapi secara sigap terhadap setiap laporan atau penemuan kasus kekerasan dan kejahatan dan menghukumnya dengan ketentuan hukum yang berlaku. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. Hak Asasi Manusia merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat, atau negara. 2. Pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia masih belum bisa dikatakan berhasil. Di satu sisi terlihat kemajuan, namun di sisi lain juga terjadi kemunduran yang cukup berarti. Kemajuan terlihat dengan adanya regulasi hukum HAM melalui peraturan perundang-undangan serta dibentuknya Pengadilan HAM dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi. Namun masih banyak pelanggaran yaitu masih

Pendidikan kewarganegaraan

11

banyak kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang hingga saat ini para pelakunya tidak dijerat hukum sama sekali. 3. Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak.Macam-macam kekerasan terhadap anak antara lain: penyiksaan fisik, penyiksaan Emosi, pelecehan seksual, dan pengabaian. 4. Faktor penyebab terjadinya kekerasan:Lingkaran kekerasan, Stres dan kurangnya dukungan, Pecandu alkohol atau narkoba, Menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan dan akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat masa-masa krisis, peningkatan krisis dan jumlah kekerasan di lingkungan sekitar mereka. 5. Dampak dari kekerasan terhadap anak antara lain: 1) Kerusakan fisik atau luka fisik; 2) Anak akan menjadi individu yang kurang percaya diri, pendendam dan agresif; 3) Memiliki perilaku menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh diri; 4) Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri. 3.2 Saran 1. Diperlukan sinergi yang baik antara segala pihak untuk

menanggulangi kekerasan ham. 2. Diperlukannya pendidikan karakter sejak dini agar pemahaman ham dapat berkembang sejak awal (sebagai tindakan preventif). 3. Perlunya pendidikan HAM di kalangan masyarakat agar nantinya masyarakat bisa menentukan sikap-sikap yang merupakan pelanggaran HAM dan yang bukan. 4. Semua orang harus mampu menghormati dan menghargai Hak Asasi Manusia karena HAM merupakan anugrah dari Tuhan.

Pendidikan kewarganegaraan

12

DAFTAR PUSTAKA Abu Huraerah. (2006). Kekerasan Terhadap Anak Jakarta :Penerbit Nuansa,Emmy Adnan Buyung Nasution (a), The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia:A Socio-legal Study of the Indonesian Konstituante, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992. Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: StudiSosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1995.

Pendidikan kewarganegaraan

13

Antonio Cassesse, Hak Asasi Manusia di Dunia yang Berubah, Yayasan Obor Indonesia,Jakarta, 1994. Soekresno S. Pd.(2007). Mengenali Dan Mencegah Terjadinya TindakKekerasan Terhadap Anak. UU PA No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak

Pendidikan kewarganegaraan

14