Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, sesuai dengan yang tertulis dalam

Undang-undang no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan dalam Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) tahun 1948 disepakati antara lain bahwa diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah suatu hak yang fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik yang dianut dan tingkat sosial ekonominya. Masalah kesehatan masyarakat pada dasarnya menyangkut berbagai aspek kehidupan. Masalah kesehatan masyarakat, dapat dipandang sebagai problem akibat dari berbagai kebijakan atau kondisi masyarakat. Sebaliknya masalah kesehatan sebagai salah satu unsur kualitas sumber daya manusia, merupakan penentu berbagai kebijakan pembangunan. Perkembangan zaman saat ini menuntut setiap orang untuk melakukan segala hal secara tepat dan efisien. Hal ini mempengaruhi gaya hidup dan pola kebiasaan sehari-hari. Misalnya kebiasaan minum yang kurang dari kebutuhan tubuh per harinya. Masukan cairan yang tidak adekuat dapat berdampak pada ginjal seperti pembentukan batu buli. Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan zaman Mesir kuno. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada kandung kemih seorang mumi. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. Angka kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan bumi. Di negara-negara berkembang banyak dijumpai pasien batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian atas, hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. Di Amerika Serikat 5-10% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan di seluruh dunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita batu saluran

kemih. Penyakit ini merupakan tiga penyakit terbanyak di bidang urologi disamping infeksi saluran kemih dan pembesaran prostat benigna. Batu saluran kemih merupakan penyakit yang sering di klinik urologi di Indonesia. Angka kejadian batu saluran kemih di Indonesia tahun 2002 berdasarkan data yang dikumpulkan dari rumah sakit di seluruh Indonesia adalah 37.636 kasus baru, dengan jumlah kunjungan 58.959 penderita. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah 19.018 penderita, dengan jumlah kematian 378 penderita. Menurut Departemen Kesehatan RI (2004), jumlah pasien rawat inap penderita Batu Saluran Kemih di rumah sakit seluruh Indonesia yaitu 17.059 penderita, dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,97%. Menurut Depkes RI (2006), jumlah pasien rawat inap penderita BSK di Rumah Sakit seluruh Indonesia yaitu 16.251 penderita dengan CFR 0,94%. Data dari Rumah Sakit Tembakau Deli PTP Nusantara II Medan tahun 2006-2010 diketahui bahwa jumlah pasien rawat inap BSK 111 penderita dengan proporsi 11, 53 dari 963 kasus penyakit dibagian urologi, dengan rincian 24 penderita (2,5%) tahun 2006, 21 (2,2%) penderita pada tahun 2007, 22 penderita (2,3%) pada tahun 2008, 11 penderita (1,1) pada tahun 2009, dan 33 penderita (3,4%) pada tahun 2010. Data rekam medik Rumah Sakit Tembakau Deli PTP Nusantara II Medan, di ketahui bahwa selama 5 tahun dari tahun 2006-2010 penyakit BSK merupakan penyakit ketiga terbanyak kasusnya di bagian urologi yaitu setelah Gagal Ginjal Kronik (GGK) dengan proporsi 39,1% dan Infeksi Saluran Kemih (ISK) dengan proporsi 22,55% . Daerah Kalimantan Timur khususnya di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda jumlah pasien yang dirawat diruang cempaka dengan kasus batu buli pada bulan November dan Desember tahun 2011 sebanyak 20 pasien. Untuk bulan Maret sampai dengan Bulan September 2012 tercatat ada sebanyak 34 pasien yang dirawat dengan kasus batu buli. Jumlah pasien ini diambil dari data rekam medik yang ada di ruang administrasi cempaka. Dari data tersebut, ditemukan penyakit batu buli tidak termasuk dalam kategori penyakit 10 besar yang ada di ruang cempaka. Menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan, perlu hendaknya dilakukan penanganan yang baik. diberikan dengan memperhatikan aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anatomi dan Fisiologi Vesika Urinaria 2.1.1 Anatomi Vesika Urinaria Vesika urinaria merupakan organ muscular berongga yang ukuran dan posisinya tergantung pada jumlah urine di dalamnya. Bila vesika urinaria berisi urine, maka vesika urinaria akan meninggi dan lebih tinggi daripada cavitas pelvis dan akan menonjol dari cavitas pelvis masuk ke dalam cavum abdomen memisahkan peritoneum dari dinding anterior abdomen dan apabila penuh dapat diraba (dipalpasi) di atas simfisis pubis. Vesika urinaria apabila kosong akan berbentuk piramid (kerucut) dan apabila terisi urine bentuknya menjadi globuler. Vesika urinaria dapat menampung kira-kira 300 ml urine sebelum terasa ingin miksi (berkemih). Vesika urinaria dapat menampung urine yang lebih besar lagi jumlahnya. Bagian vesika urinaria terdiri dari: Fundus, yaitu bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostat. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis. Hubungan vesika urinaria: Anterior Superior : symphisis pubis : vesika urinaria ditutupi oleh peritoneum dengan gelungan intestinum tenue dan colon sigmoideum pada bagian yang berlawanan. Pada wanita, corpus uteri tersandar di bagian postero-superiornya. Posterior : rektum; pada pria, ujung vas deferens dan vesikula seminalis; pada wanita, vagina dan portio supravaginalis cervix. 3

Lateral

: musculus levator ani dan muculus obturator internus

Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar (peritoneum), tunika muskularis (lapisan otot), tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). Lapisan otot pada vesika urinaria adalah otot nonstriata (otot polos). Otot ini tersusun dalam tiga lapisan yaitu lapisan media, terdiri atas serabut sirkuler yang terletak antara lamina interna dan lapisan eksterna serabut longitudinal. Walaupun demikian, terdapat saling menyilang antara serabut pada setiap lapisan, dan lapisan-lapisan tersebut tidak dapat dibedakan secara tegas. Otot pada korpus vesika urinaria disebut musculus detrussor. Lembaran mercier adalah otot yang terletak antara kedua ostium ureter. Apabila lembaran otot tersebut berkontraksi saat berkemih, maka otot ini menekan (kompresi) lebih lanjut jaringan yang menonjol pada kedua ostium ureter, dan menutup tonjolan tersebut sehingga urine tidak mengalir balik ke ureter. Otot mercier ini merupakan otot nonstriata (polos). Otot bell juga merupakan otot nonstriata, meluas antara masing-masing ostium ureter dan ostium uretra. Otot ini melanjutkan diri ke dinding otot dinding uretra separo panjangnya. Otot ini ikut berperan dalam membuka ostium uretra apabila sudut uretrovesikal berubah pada saat mulainya berkemih dan otot-otot ini mengarahkan aliran urine ke dalam lumen uretra.

Bagian dalam vesika urinaria dan ketiga orificiumnya (orificium urethra internum dan 2 orificium ureterica membentuk trigonum disebut trigonum Liautaudi) dapat mudah terlihat pada cystoscopi. Kedua orificium ureterica berjarak sekitar 2.5 cm pada saat vesika urinaria kosong, akan tetapi bila vesika urinaria dalam keadaan penuh, maka jarak keduanya akan bertambah menjadi 5 cm. Lapisan mukosa dan submukosa kebanyakan pada semua vesika urinaria tidak terlekat kuat pada lapisan otot di bawahnya sehingga tampak melipat-lipat jika vesika urinaria kosong dan tampak halus jika vesika urinaria penuh. Suplai darah berasal dari rr. vesikalis superior et inferior dari arteria iliaca interna. Vena vesikalis membentuk suatu plexus yang mengalirkan darah menuju ke vena iliaca interna. Aliran limfatik mengalir ke pembuluh darah vesika menuju pembuluh iliaca kemudian menuju nodus limfatikus para aorticus. Persarafan (inervasi) berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis dari plexus LeeFrankenhauser (plexus sacralis). 2.1.2 Fisiologi Vesika Urinaria Fungsi vesika urinaria adalah menampung urine secara temporer sampai kemudian dapat dikosongkan. Kapasitas buli-buli: (Umur (tahun) + 2) x 30 Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi refleks kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spincter internus, diikuti oleh relaksasi spincter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spincter interus dihantarkan melalui serabut-serabut parasimpatis. Kontraksi spincter eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan

miksi. Kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf-saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf-saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus-menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan). Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spincter interna. 2.2 Vesikolithiasis 2.2.1 Defenisi Batu buli-buli disebut juga batu vesika, vesical calculi, vesikal stone, bladder stonr. Batu buli-buli atau vesikolithiasis adalah batu yang terbentuk dari Kristal yang berasal dari material mineral dan protein yang terdapat pada urin dam menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri. Batu saluran kemih pada dasarnya dapat terbentuk pada setiap bagian tetapi lebih banyak pada saluran penampung terakhir. Pada orang dewasa batu saluran kemih banyak mengenai system bagian atas sedang pada anak-anak sering pada sistem bagian bawah. Di negara berkembang batu buli-buli terbanyak ditemukan pada anak laki-laki pre pubertas. Komponen yang terbanyak penyusun batu buli-buli adalah garam kalsium. Pada awalnya merupakan bentuk yang sebesar biji paia tapi kemudian dapat berkembang menjadi ukuran yang lebih besar. Kadang kala juga merupakan batu yang multiple. 2.2.2 Etiologi Menurut Smeltzer bahwa batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).

Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut Soeparman batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah Hiperkalsiuria Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin yang melebihi 250-300 mg/ 24jam, disebabkan karena hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium. Hiperkalsiuria disebabkan oleh resorpsi kalsium yang berlebihan dari tulang karena hiperparatiroidism, absorpsi kalsium yang berlebihan dari usus, dan sebagai akibat gangguan resorpsi kalsium di tubulus ginjal. Hipositraturia Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat. Sitrat berikatan dengan kalsium di dalam urine sehingga kalsium tidak lagi terikat dengan oksalat maupun fosfat, karenanya merupakan penghambat terjadinya batu tersebut. Kalsium sitrat mudah larut sehingga hancur dan dikeluarkan melalui urin. Hipositraturia disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi. Hiperurikosuria Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih melebihi 850mg/ 24jam yang dapat memacu pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih. Penurunan jumlah air kemih Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.

Hiperoksalouria Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh kelainan usus karena post operasi dan diet kaya oksalat, misalnya the, kopi instant, minuman soft drink, kokoa, sayuran yang berwarna hijau terutama bayam.

Batu Asam Urat Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan hiperurikosuria (primer dan sekunder).

Batu Struvit Batu sturvit disebabkan karena infeksi yang sebagian besar karena kuman pemecah urea, sehingga urea menghasilkan suasana basa yang mempermudah mengendapnya magnesium fosfat, ammonium, karbonat. Kuman tersebut diantaranya adalah proteus spp, klebsiellla, enterobacter, pseudomonas dan sthaphylococcus.

Kandungan batu kemih kebanyakan terdiri dari : 75 % kalsium. 15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat). 5 % batu asam urat. Sisanya campuran dari beberapa batu

2.2.3 Faktor Prediposisi a. Riwayat pribadi tentang batu kandung kemih dan saluran kemih b. Usia dan jenis kelamin c. Kelainan morfologi d. Pernah mengalami infeksi saluran kemih e. Makanan yang dapat meningkatkan kalsium dan asam urat f. Adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih

g. Masukan cairan kurang dibanding pengeluaran h. Profesi yang banyak duduk i. Geografi j. Penggunaan obat antasid, aspirin dosis tinggi dan vitamin D terlalu lama.

2.2.4 Patofisiologi Kelainan bawaan atau cedera, keadaan patologis yang disebabkan karena infeksi, pembentukan batu di saluran kemih dan tumor, keadaan tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan yang menyebabkan sumbatan aliran kemih baik itu yang disebabkan karena infeksi, trauma dan tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau striktur uretra sehingga terjadi bendungan dan statis urin. Jika sudah terjadi bendungan dan statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu Batu terdiri atas kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik maupun nonorganic yang terlarut di dalam urine. Kristal-kristal tersbut tetap berada dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu (nukleasi/nidus) yang kemudian akan mengadakan agregasi, dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar. Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum cukup mampu menghambat saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel pada epitel saluran kemih (membentuk retensi kristal), dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran kemih. Kondisi metastable dipengaruhi oleh pH larutan, adanya koloid di dalam urine, konsentrasi solute di dalam urine, laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu. Lebih dari 80% batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupun dengan fosfat membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat. Sedangkan sisanya berasal dari batu

asam urat, batu magnesium fosfat (batu sturvit/batu infeksi), batu xantyn, batu sistein dan batu jenis lainnya. Meskipun patogenesis pembetukan batu di atas hampir sama, tetapi suasana di dalam saluran kemih memungkinkan terbentuknya jenis batu itu tidak sama. Dalam hal ini misalkan batu asam urat mudah terbentuk dalam asam (pH urine < 5,5), sedangkan batu magnesium ammonium fosfat terbentuk karena urine bersifat basa (pH urine > 6,6). Pada penderita yang berusia tua atau dewasa biasanya kompisisi batu merupakan batu asam urat lebih dari 50% dan batu paling banyak berlokasi di vesika urinaria. Batu yang terdiri dari kalsium oksalat biasanya berasal dari ginjal. Pada batu yang ditemukan pada anak umunya ditemukan pada daerah endemik dan terxiri dari asam ammonium material, kalsium oksalat, dan campuran keduanya. Hal itu disebabkan karena susu bayi yang berasal ibu yang banyak mengandung zat-zat tersebut. Makanan yang mengandung rendah fosfor menunjang tingginya ekskresi ammonia. Anak-anak yang sering makan makan yang kaya oksalat seperti sayur akan meninggalkan kristal urin dan protein hewan (diet rendah sitrat).

2.2.5 Manifestasi Klinis Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung. Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, dan lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat (hidronefrosis akut) biasanya akan

menyebabkan kolik ginjal (nyeri yang luar biasa di daerah antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi ginjal yang terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (hidronefrosis kronis), biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang punggung.

10

Selain tanda di atas, tanda hidronefrosis yang lain menurut Samsuridjal adalah: Hematuria Sering ditemukan infeksi di saluran kemih. Demam Rasa nyeri di daerah kandung kemih dan ginjal. Mual dan muntah Nyeri abdomen Disuria Menggigil.

2.2.6 Diagnosis Banding 1. Kelemahan detrusor kandung kemih kelainan medula spinalis neuropatia diabetes mellitus pasca bedah radikal di pelvis Farmakologik

2. Kandung kemih neuropati, disebabkan oleh : kelainan neurologik neuropati perifer diabetes mellitus alkoholismee.farmakologik (obat penenang, penghambat alfa dan parasimpatolitik)

3. Obstruksi fungsional : dis-sinergi detrusor spincter terganggunya koordinasi

antara kontraksi detrusor dengan relaksasi spincter ketidakstabilan detrusor

4. Kekakuan leher kandung kemih : fibrosis

5. Resistensi uretra yang meningkat disebabkan oleh

11

hiperplasia prostat jinak atau ganas kelainan yang menyumbatkan uretra uretritis akut atau kronik uretritis akut atau kronik striktur uretra

6. Pembesaran prostat 2.2.7 Diagnosis 1) Pemeriksaan fisik : Kurang berarti, kecuali jika batu cukup besar 2) Laboratorium a. Darah : ureum/kreatinin, elektrolit, Ca, Phospat anorganik. Alkali Phospate, Asam urat, Protein, Hb b. Urin : rutin (Midstream urin) pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih. Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah terjadi hiperekskresi. 3) Radiologis a. Foto polos Posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau tidak. BNO tampak opak (90%), lebih baik dilanjutkan dengan IVP untuk mengetahui ada atau tidak kerusakan pada ginjal b. IVP Dapat untuk melihat batu di lain tempat, anatomi saluran kencing bagian atas. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau

12

dilanjutkan dengan antegrad pielografi tidak memberikan informasi yang memadai. c. PV (Postvoid) : Mengetahui pengosongan kandung kemih d. USG : Gambaran acustic shadow 4) Sistokopi : Untuk menegakkan diagnosis batu kandung kemih

2.2.8

Penatalaksanaan Penatalaksaan batu harus tuntas sehingga bukan hanya mengeluarkan batu

saja, tetapi harus disertai dengan terapi penyembuhan penyakit batu atau paling sedikit disertai dengan terapi pencegahan. Hal ini karena batu sendiri hanya merupakan gejala penyakit batu sehingga pengeluaran batu dengan cara apapun bukanlah merupakan terapi yang sempurna. Menurut Soeparman pengobatan dapat dilakukan dengan : 1. Pelarutan Jenis batu yang dapat dilarutkan adalah dari jenis batu asam urat. Batu ini hanya terjadi pada keadaan pH air kemih yang asam (pH 6,2) sehingga dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai dengan makanan alkalis, batu asam urat dapat diharapkan larut. Lebih baik bila dibantukan dengan usaha menurunkan kadar asam urat air kemih dan darah dengan bantuan alopurinol. Batu sturvit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah pembesarannya bila diberikan pengobatan dengan pengasaman kemih dan pemberian antiurease. 2. Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal Prosedur noninvasif yang digunakan untuk menghancurkan batu tanpa perlukaan. Batu kandung kemih, batu dipecahkan memakai litotriptor secara mekanis melalui sistokop atau dengan memakai gelombang elektrohidrolik atau ultrasonic Litotriptor adalah alat yang digunakan untuk memecahkan batu tersebut, tetapi alat ini hanya dapat memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm ke bawah. Gelombang kejut dialirkan melalui air ke tubuh dan dipusatkan di batu

13

yang akan dipecahkan.Setelah batu itu pecah menjadi bagian yang terkecil seperti pasir, sisa batu tersebut dikeluarkan secara spontan 3. Vesikolithotomi Suatu tindakan pembedahan untuk mengeluarkan batu dari vesika urinaria dengan membuka vesika urinaria dari anterior. Indikasi operasi batu vesika urinaria yang berukuran 2,5 cm pada orang dewasa dan semua ukuran pada anakanak. Teknik pembedahannya dengan melakukan insisi kulit dimulai dari atas simfisis pubis sampai di bawah umbilicus. Vesika urinaria dibuka secara median batu dikeluarkan. Kemudian vesika urinaria ditutup dengan meninggalkan kateter uretra dari buli-buli.

14

2.2.9

Pencegahan

a. Diuresis yang adekuat untuk mecegah timbulnya kembali batu maka pasien harus minum banyak sehingga urin yang terbentuk tidak kurang dari 1500 ml. Pada pasien dengan batu asam urat dapat digunakan alkalinisasi urin sehingga pH dipertahankan dalam kisaran 6,5-7 mencegah terjadinya hiperkalsemia yang akan menimbulkan hiperkalsiuria pasien dianjurkan untuk mengecek pH urine dengan kertas nitrasin setia pagi b. Diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu. c. Eradikasi infeksi saluran kemih khususnya untuk batu sturvit.

2.2.10 Prognosis Secara umum, prognosis pasien dengan vesikolithiasis adalah baik. Namun, mortalitas dan morbiditas yang signifikan kadang-kadang dapat terjadi. Hal itu tergatung seberapa besar ukuran batu dan komplikasi yang timbul dari batu vesika urinaria tersebut. Perlu dikontrol faktor-faktor yang yang mempengaruhi terjadinya vesikolithiasis, sebab kemungkinan rekurensi tetap ada.

15

BAB III KESIMPULAN a. Vesikolithiasis adalah adanya batu dalam vesika urinaria yang menyebabkan gangguan pada aliran urin b. Vesikolithiasis disebabkan infeksi, stasis urine dan imobilisasi. c. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya vesikolithiasis adalah

hiperkalsiuria, hipositraturia, hiperurikosuria, penurunan volume air kemih, pH air kemih rendah, infeksi saluran kemih dengna organisme yang memproduksi urease d. Proses pembentukan batu terjadi karena adanya hambatan aliran urin yang menyebabkan stasis urin sehingga terjadi pengendapan dan terbentuk batu. e. Gejala klinis pada vesikolithiasis adalah gejala-gejala klinis yang merupakan gangguan berkemih yang terjadi karena penghambatan aliran urin f. Diagnosis banding vesikolithiasis adalah kelemahan otot destrusor kandung kemih, kandung kemih neuropati, obstruksi fungsional pada kandung kemih, kekakuan leher kandung kemih, resistensi uretra yang meningkat. g. Vesikolithiasis didiagnosis dengan anamnese, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, radiologis dan sistokopi. h. Penatalaksaan vesikolithiasis dengan pelarutan batu (terutama untuk batu asam urat), lithotripsy (penghancuran batu), dan vesikolithotomi atau pembedahan pengangkatan batu. i. Prognosis ad functionam adalah dubia ad bonam

16

DAFTAR PUSTAKA Guyton & Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC. Sjamsuhidajat & Wim De Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC. Purnomo, Basuki. 2011. Dasar-dasar Urologi Edisi 2. Jakarta: Segung Seto.

17