Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN DIARE AKUT DAN DEHIDRASI RINGAN/ SEDANG DI POLI ANAK RSIA BANDA

ACEH

D I S U S U N OLEH: FICA MAYRICA SULISTYO

DOSEN PEMBIMBING : ANITA, SST, MPH PRESEPTOR : RAHMI MAYA SARI, SST

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN NAD PRODI D-IV BIDAN KLINIK JURUSAN KEBIDANAN BANDA ACEH 2011-2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hidayat dan rahmat-Nya lah penulis telah dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN DIARE AKUT DAN DEHIDRASI RINGAN/ SEDANG DI POLI ANAK RSIA BANDA ACEH yang merupakan salah satu tugas pada praktek klinik kebidanan. Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak menerima bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil. Penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembimbing Ibu Anita, SST,MPH dan Ibu Rahmi Maya Sari, S.SiT selaku preseptor yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu dengan kerendahan hati dan keterbukaan penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun guna penyempurnaan makalah ini dimasa mendatang. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini serta penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin ya rabbal alamin.

Banda Aceh, Januari 2012

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Diare merupakan keluhan yang sering ditemukan pada balita atau anak-anak. Diperkirakan pada anak setiap tahunnya mengalami diare akut atau gastroenteritis akut sebanyak 99.000.000 kasus. Di Amerika Serikat, diperkirakan 8.000.000 pasien berobat ke dokter dan lebih dari 250.000 pasien dirawat di rumah sakit tiap tahun (1,5% merupakan pasien dewasa) yang disebabkan karena diare atau gastroenteritis. Kematian yang terjadi, kebanyakan berhubungan dengan kejadian diare pada anak-anak atau usia lanjut, di mana kesehatan pada usia pasien tersebut rentan terhadap dehidrasi sedang sampai berat. Frekuensi kejadian diare pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak 2-3 kali dibandingkan negara maju. Sampai saat ini penyakit diare atau juga sering disebut gastroenteritis, masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan puskesmas atau balai pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 penyebab utama bagi masyarakat yang berkunjung ke puskesmas. Angka kesakitannya adalah sekitar 200 400 kejadian diare dapat ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah anak dibawah lima tahun ( 40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami kejadian lebih dari satu kejadian diare. Sebagian dari penderita (1-2%) akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60% diantaranya dapat meninggal. Hal inilah yang menyebabkan sejumlah 350.000 500.000 anak dibawah lima tahun meninggal setiap tahunnya.

Dari pencatatan dan pelaporan yang ada, baru sekitar 1,5 2 juta penderita penyakit diare yang berobat rawat jalan ke sarana kesehatan pemerintah. Jumlah ini adalah sekitar 10% dari jumlah penderita yang datang berobat untuk seluruh penyakit, sedangkan jika ditinjau dari hasil survei rumah tangga di antara 8 penyakit utama, ternyata penyakit diare mempunyai presentase berobat yang sangat tinggi, yaitu 72% dibandingkan untuk rata-rata penderita seluruh penyakit yang memperoleh pengobatan. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Indonesia, pada 2001 penyakit diare menempati urutan kedua penyakit mematikan yang berasal dari penyakit infeksi. Jumlah penderita diare di Indonesia pada tahun itu mencapai 4% dan angka kematiannya mencapai 3,8%. Pada bayi, diare menempati urutan tertinggi sebagai penyebab kematian dengan angka mencapai 9,4% dari seluruh kematian bayi. Angka kejadian diare, disebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut, utamanya disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat. Menurut Murad, sekitar 3,3 juta kematian akibat diare terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia. Dan angka ini paling tinggi terjadi pada anak-anak di bawah satu tahun dengan perkiraan 20 kematian per 1.000 anak. Pada anak usia 15 tahun, angka kematiannya menurun atau hanya sekitar lima dari 1.000 anak. Di negara berkembang, angka kejadian diare sangat bervariasi sesuai umur penderita. Tapi umumnya angka kejadiannya pada usia dua tahun pertama

dan akan menurun seiring dengan bertambahnya usia anak. Namun, puncak angka kejadian adalah pada anak usia antara enam sampai tujuh bulan. Di samping itu diare juga merupakan merupakan penyebab kematian yang penting di negara berkembang. Keputusan Menkes RI No.1216/Menkes/SK/XI/2001 tentang

pedoman pemberantasan penyakit diare dinyatakan bahwa penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia, baik ditinjau dari angka kesakitan dan angka kematian serta kejadian luar biasa (KLB) yang ditimbulkan. Penyebab utama kematian pada penyakit diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolitnya melalui tinjanya. Di negara berkembang prevalensi yang tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber air Indonesia salah satu Negara berkembang, penyakit yang banyak diderita masyarakat terutama balita atau anak-anak adalah diare. Masyarakat sering menyepelekan penyakit diare. Diare dianggap sebagai penyakit biasa yang tidak membutuhkan penanganan khusus, padahal apabila mereka tahu betapa bahayanya diare apabila dibiarkan dan tidak segera diobati. Diare dapat disebabkan oleh beberapa factor, antara lain: karena adanya ketidak seimbangan pengangkutan air dan electrolit, terjadi absorbsi, secresi cairan dan elektrolit, terjadi kerusakan mukosa usus yang berkepanjangan dan masih lagi factor penyebab lainnya. Gejala yang mungkin timbul dapat berupa BAB cair, kembung, panas, nyeri perut dan muntah. Apabila diare ini dibiarkan dapat menyebabkan dehidrasi, untuk itu penyakit diare tidak bisa dianggap penyakit biasa, diharapkan apabila menderita diare langsung datang kepelayanan kesehatan agar tidak terjadi komplikasi.

B. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengimplementasikan asuhan kebidanan pada balita dengan diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang serta mampu mendokumentasikan asuhan dengan menggunakan metode SOAP. 2. Tujuan Khusus a. Mampu melakukan pengkajian data subjektif atau pengkajian data dasar pada balita yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. b. Mampu melakukan pengumpulan data objektif pada balita yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. c. Mampu menegakkan diagnosa pada data assesment pada balita yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. d. Mampu melaksanakan perencanaan atau planning, asuhan, dan evaluasi pada balita yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang.

C. Manfaat 1. Institusi Pendidikan Sebagai tambahan literatur perpustakaan mengenai asuhan kebidanan pada balita yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. 2. Tenaga Kesehatan Sebagai masukan untuk acuan pemberian asuhan kebidanan pada balita yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. 3. Penulis Sebagai salah satu pedoman untuk memberikan asuhan kebidanan pada balita yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999). Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam atau hari. Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200ml/24jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali/hari. Buang air besar encer tersebut dapat disertai lendir dan darah. Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari namun tidak terus menerus dan dapat disertai penyakit lain. Diare persisten merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari dan berlangsung terus menerus.

B. Jenis-Jenis Diare Jenis diare ada dua, yaitu : 1. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari

2. Diare persisten atau diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

C. Derajat Dehidrasi dalam Diare Ada tiga derajat dehidrasi dalam diare, yaitu : 1. Diare tanpa dehidrasi 2. Diare dengan dehidrasi ringan/ sedang 3. Diare dengan dehidrasi berat

D. Etiologi Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi (bakteri, parasit, virus), malabsorpsi, alergi. Berikut di bawah ini penjelasan lebih lanjut. 1. Faktor infeksi Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, ini meliputi infeksi bakteri (E. coli, Salmonella, Vibrio cholera), virus (enterovirus, adenovirus, rotavirus), parasit (cacing, protozoa). Infeksi parenteral yaitu infeksi yang berasal dari bagian tubuh yang lain diluar alat pencernaan, seperti otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia. Keadaan ini terutama pada bayi berumur dibawah 2 tahun.

2. Faktor malabsorbsi Gangguan penyerapan makanan akibat malabsorbsi karbohidrat, pada bayi dan anak tersering karena intoleransi laktosa, malabsorbsi lemak dan protein.

3. Faktor alergi makanan Faktor makanan misalnya makanan basi, beracun, atau alergi terhadap makanan. Penularan melalui kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti : a. Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor. b. Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar. c. Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar. E. Patofisiologi Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah : a. Gangguan osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. b. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. c. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

Patogenesis diare akut yaitu masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah melewati rintangan asam lambung. Jasad renik itu berkembang biak di dalam usus halus. Kemudian jasad renik mengeluarkan toksin. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. Patogenesis diare kronik lebih kompleks dan faktor-faktor yang

menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lainlain. Sebagai akibat diare akut maupun kronis akan terjadi kehilangan air dan elektronik (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemi, dan sebagainya), gangguan gizi akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah),

hipoglikemia, gangguan sirkulasi darah. F. Gejala Klinik Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin mengandung darah dan atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat, yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi ubun-ubun cekung, tonus dan turgor kulit berkurang selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering. Cara menilai anak mengalami dehidrasi yaitu dengan cara bertanya dan melihat tanda-tanda dehidrasi pada anak.

Tanya : 1. Berapa lama anak sudah mengalami diare? 2. Berapa kali anak buang air besar dalam satu hari? 3. Apakah tinjanya ada darah? 4. Apakah dia muntah? 5. Apakah ada penyakit lainnya? Lihat : 1. Bagaimana keadaan umum anak? 2. Sadar atau tidak? 3. Lemas atau terlihat sangat mengantuk? 4. Apakah anak gelisah? 5. Berikan minum, apakah dia mau minum? Jika iya, apakah ketika minum ia tampak sangat haus atau malas minum? 6. Apakah matanya cekung atau tidak cekung? 7. Lakukan cubitan kulit perut (turgor). Apakah kulitnya kembali segera, lambat atau sangat lambat ( lebih dari 2 detik)? Klasifikasi tanda-tanda tersebut sesuai dengan tabel derajat dehidrasi di bawah ini : Tabel 2f.1 Derajat Dehidrasi
Diare dan Derajat Dehidrasi Tanda Dehidrasi pada anak (Tanya) Keadaan Umum Diare tanpa dehidrasi Diare dehidrasi Ringan/ Sedang Diare dehidrasi Berat

Bila terdapat dua Bila terdapat dua Bila terdapat dua tanda atau lebih tanda atau lebih tanda atau lebih Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, lunglai/ tidak sadar

Mata Keinginan untuk minum Turgor

Tidak cekung

Cekung

Cekung

Normal, tidak ada Ingin minum terus, Malas minum rasa haus ada rasa haus Kembali segera Kembali lambat Kembali sangat lambat

G. Penatalaksanaan dan Terapi Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak. Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal. Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease).

Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi kuman. Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi sudah membaik. 1. Terapi A : Terapi Diare Tanpa Dehidrasi Menerangkan 5 langkah terapi diare di rumah, yaitu : a. Beri cairan lebih banyak dari biasanya. Beri Oralit sampai diare berhenti, bila muntah tunggu 10 menit dan dilanjutkan sedikit demi sedikit. Umur < 1 tahun diberi 50-100 ml setiap kali BAB Umur > 1 tahun diberi 100-200 ml setiap kali BAB

b. Beri obat Zinc Beri Zinc 10 hari berturut-turut walaupun diare sudah berhenti. Dapat diberi dengan cara dikunyah atau dilarutkan dalam 1 sendok air matang atau ASI. Umur < 6 bulan diberi 10 mg (1/2 tablet) per hari Umur > 6 bulan diberi 20 mg ( 1 tablet) per hari

c. Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi d. Antibiotik hanya diberikan sesuai indikasi. Misalnya : kolera, disentri, dan lain-lain. e. Nasihati ibu Untuk membawa anak kembali ke petugas kesehatan bila : BAB cair lebih sering Muntah berulang

Sangat haus Makan dan minum sangat sedikit Timbul demam BAB berdarah Tidak membaik dalam 3 hari

2. Terapi B : Terapi Diare Dehidrasi Ringan/ Sedang a. Jumlah oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama di sarana kesehatan Oralit yang diberikan = 75 ml x Berat Badan (BB) anak Bila BB tidak diketahui, berikan oralit sesuai dengan tabel di bawah ini : Umur Sampai Berat Badan Jumlah Cairan 4 bulan < 6 kg 200-400 4-12 bulan 6-10 kg 400-700 12-24 bulan 10-12 kg 700-900 2-5 tahun 12-19 kg 900-1400

Bila anak menginginkan lebih banyak oralit, berikanlah Bujuk ibu untuk meneruskan ASI Untuk < 6 bulan yang tidak mendapatkan ASI berikan juga 100-200 ml air masak selama masa ini

Untuk > 6 bulan, tunda pemberian makan selama 3 jam kecuali ASI dan oralit

Beri obat Zinc selama 10 hari berturut-turut

b. Amati anak dengan seksama dan bantu ibu memberikan oralit: Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan Berikan sedikit demi sedikit tapi sering dari gelas Periksa dari waktu ke waktu bila ada masalah

Bila kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian oralit dan berikan air masak atau ASI. Beri oralit sesuai Rencana Terapi A bila pembengkakan telah hilang.

c. Setelah 3-4 jam, nilai kembali anak menggunakan bagan penilaian, kemudian pilih rencana terapi A, B atau C untuk melanjutkan terapi Bila tidak ada dehidrasi, ganti ke Rencana Terapi A. Bila dehidrasi telah, anak biasanya kencing kemudian mengantuk dan tidur Bila tanda menunjukkan dehidrasi ringan/ sedang, ulangi Rencana Terapi B Anak mulai diberi makanan, susu, dan sari buah Bila tanda menunjukkan dehidrasi berat, ganti dengan Rencana Terapi C d. Bila ibu harus pulang sebelum selesai Rencana Terapi B Tunjukkan jumlah oralit yang harus di habiskan dalam Terapi 3 jam di rumah Berikan oralit 6 bungkus untuk persediaan di rumah Jelaskan 5 langkah Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah

3. Terapi C : Terapi Diare Dehidrasi Berat di Sarana Kesehatan a. Beri cairan intravena segera Ringer Laktat atau NaCl 0,9% (bila RL tidak tersedia) 100 ml/ kg BB, dibagi sebagai berikut : Umur Bayi < 1 tahun Anak 1 tahun Pemberian 30 ml/ kg BB 1 jam 30 menit Kemudian 70 ml/ kg BB 5 jam 2 jam

b. Diulangi lagi bila denyut nadi masih lemah atau tidak teraba

c. Nilai kembali tiap 15-30 menit. Bila nadi belum teraba, beri tetesan lebih cepat d. Juga beri oralit (5 ml/ kg/ jam) bila penderita bisa minum, biasanya setelahh 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) e. Berikan Zinc selama 10 hari berturut-turut. f. Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak), nilai lagi derajat dehidrasi. Kemudian pilihlah rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C) untuk melanjutkan terapi.

H. Pencegahan Upaya pencegahan diare yang sudah terbukti, efektif, yang berupa : a. Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang. b. Menjaga kebersihan dengan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan kebersihan dari makanan yang kita makan. c. Penggunaan jamban yang benar. d. Imunisasi campak. I. Faktor Resiko Terjadinya Diare 1. Umur Kebanyakan episode diare terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi pada golongan umur 6-11 bulan, pada masa diberikan makanan pendamping. Hal ini karena belum terbentuknya kekebalan alami dari anak pada umur di bawah 24 bulan. 2. Jenis Kelamin Resiko kesakitan diare pada golongan perempuan lebih rendah daripada lakilaki karena aktivitas anak laki-laki dengan lingkungan lebih tinggi.

3.

Musim Variasi pola musim di daerah tropik memperlihatkan bahwa diare terjadi sepanjang tahun, frekuensinya meningkat pada peralihan musim kemarau ke musim penghujan.

4.

Status Gizi Status gizi berpengaruh sekali pada diare. Pada anak yang kurang gizi karena pemberian makanan yang kurang, episode diare akut lebih berat, berakhir lebih lama dan lebih sering. Kemungkinan terjadinya diare persisten juga lebih sering dan disentri lebih berat. Resiko meninggal akibat diare persisten atau disentri sangat meningkat bila anak sudah kurang gizi.

5. Lingkungan Di daerah kumuh yang padat penduduk, kurang air bersih dengan sanitasi yang jelek penyakit mudah menular. Pada beberapa tempat shigellosis yaitu salah satu penyebab diare merupakan penyakit endemik, infeksi berlangsung sepanjang tahun, terutama pada bayi dan anak-anak yang berumur antara 6 bulan sampai 3 tahun. 6. Status Sosial Ekonomi Status sosial ekonomi yang rendah akan mempengaruhi status gizi anggota keluarga. Hal ini nampak dari ketidakmampuan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga khususnya pada anak balita sehingga mereka cenderung memiliki status gizi kurang bahkan status gizi buruk yang memudahkan balita tersebut terkena diare. Mereka yang berstatus ekonomi rendah biasanya tinggal di daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga memudahkan seseorang untuk terkena.

H. Dokumentasi Kebidanan Secara umum, dokumentasi merupakan suatu catatan otentik atau dokumen asli yang dapat dijadikan bukti dalam persoalan hukum.Sedangkan dokumentasi kebidanan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan berdasarkan komunikasi tertulis yang akurat dan lengkap yang dimiliki oleh bidan dalam melakukan asuhan kebidanan dan berguna untuk kepentingan klien, tim kesehatan, serta kalangan bidan sendiri. Dokumentasi kebidanan sangat penting bagi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan. Hal ini karena asuhan kebidanan yang diberikan kepada klien membutuhkan pencatatan dan pelaporan yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menuntut tanggtmg jawab dan tanggung gugat dari berbagai permasalahan yang mungkin dialami oleh klien berkaitan dengan pelayanan yang diberikan. Selain sebagai sistem pencatatan dan pelaporan, dokumentasi kebidanan juga digunakan sebagai informasi tentang status kesehatan pasien pada semua kegiatan asuhan kebidanan yang dilakukan oleh bidan. Di samping itu, dokumentasi berperan sebagai pengumpul, penyimpan, dan desiminasi informasi guna mempertahankan sejumlah fakta yang penting secara terus-menerus pada suatu waktu terhadap sejumlah kejadian (Fischbach, 1991). Dengan kata lain, sebagai suatu keterangan, baik tertulis maupun terekam, mengenai identitas, anamnesis, penentuan fisik laboratorium, segala diagnosis pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien, serta pengobatan rawat inap dan rawat jalan maupun pelayanan gawat darurat (Wiyono, 1999).

I. Metode Pendokumentasian SOAP SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis dan tertulis. Pencatatan ini dipakai untuk mendokumentasikan asuhan kebidanan. 4 (empat) langkah dalam metode ini adalah ini secara rinci adalah sebagai berikut: S, yaitu data subjektif : Merupakan informasi yang diperoleh langsung dari klien. Informasi tersebut dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan dengan diagnosa. O, yaitu data objektif : Data yang diperoleh dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh bidan pada waktu pemeriksaan termasuk juga hasil pemeriksaan laboratorium, USG, dan lain-lain. Apa yang dapat diobservasi oleh bidan akan menjadi komponen yang berarti dari diagnosa yang akan ditegakkan. A, yaitu analisa atau assessment : Merupakan kesimpulan yang dibuat berdasarkan data subjektif dan data objektif yang didapatkan. Merupakan suatu proses yang dinamik, meliputi: Diagnosa Antisipasi diagnosa/masalah potensial Perlunya tindakan segera

P, yaitu planning atau perencanaan : Merupakan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi sesuai dengan asuhan kebidanan yang dilakukan. Alasan pemakaian SOAP dalam pendokumentaian Asuhan kebidanan, yaitu: SOAP merupakan pencatatan yang memuat kemajuan informasi yang sistematis, mengorganisasikan penemuam kesimpulan sehingga terbentuk suatu rencana asuhan. SOAP merupakan intisari dari manajemen kebidanan untuk penyediaan pendokumentasian. SOAP merupakan urutan-urutan yang dapat embantu bidan mengorganisasikan pikiran dalam pemberian asuhan yang bersifat komprehensif.

BAB III TINJAUAN KASUS

Tanggal

: 24-1-2012

Pukul

: 15.00 WIB

A. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Agama Alamat : Anak SN : 3 tahun 2 bulan : Laki-laki : Islam : Keutapang

Identitas Penanggung Jawab Nama Umur : Ny. T : 30 tahun

Hubungan dengan Pasien : Ibu kandung Agama Alamat : Islam : Keutapang

B. SOAP

S:

Ibu mengeluh bahwa anaknya mencret sedikit-sedikit > 8x/hari, muntah tiap kali minum atau makan sejak 2 hari yang lalu dan badannya panas sejak 1 hari yang lalu. Ibu juga mengatakan anaknya kurang nafsu makan, semenjak sakit anaknya hanya minum air putih hangat dan sedikit makan nasi, ibu mengatakan anaknya tidak ada riwayat penyakit keluarga, tidak ada riwayat penyakit sistemik dan tidak ada riwayat alergi. Selama dilingkungan sekitar dan lingkungan keluarga anaknya termasuk anak yang aktif.

O:

Pemeriksaan Umum K/U Suhu RR : Gelisah : 37,9 0C : 21 x/menit Kesadaran Nadi BB BAB : composmentis : 97 x/menit : 11 kg :sering >10x cair.

BAK : ada

Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi Kepala: bentuk simetris, kulit kepala bersih, rambut lurus warna hitam. Muka: Mata: tidak pucat, kulit lembab. simetris, tidak ikterus, sclera putih, konjungtiva merah muda, mata agak cekung. Telinga: Hidung: Mulut: simetris, bersih, tidak ada lesi maupun serumen. simetris, bersih tidak ada secret. bibir simetris, tidak ada labioskisis, tidak ada stomatitis. Leher: bentuk simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe. Dada: Abdomen: simetris, tidak ada retraksi dinding dada bentuk simetris, perut terlihat cembung

Ekstremitas atas: jari lengkap, normal Ekstremitas bawah: jari lengkap, normal b. Palpasi Leher: Dada: Abdomen: Turgor kulit: c. Auskultasi Dada: Abdomen: d. Perkusi Reflek patella: Abdomen: +/+ kembung nafas normal, tidak terdengar wezhing dan ronchi terdapat bising usus, frekuensi sering tidak ada benjolan kelenjar tyroid tidak ada benjolan dan nyeri tekan perut kembung kembali lambat

A:

Anak umur 3 tahun 2 bulan dengan diare akut dan dehidrasi ringan/sedang K/U: gelisah, rewel

P: 1. Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu/ keluarga bahwa anaknya mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/sedang. 2. Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik anak. 3. Menganjurkan ibu untuk : a. mengompres hangat jika anak demam. b. untuk tetap memberikan makan pada anaknya dengan diit lunak, memberikan minum air yang matang dan menggunakan air bersih. Memberikan makanan bergizi dengan menu seimbang. c. mencuci tangan ibu dan anaknya dengan air dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar d. menjaga personal hygiene anak, seperti menyeka tiap pagi dan sore, membersihkan anak tiap habis BAB. e. pengertian pada anak untuk istirahat cukup. 4. Kolaborasi dokter umum tentang keadaan pasien, dokter memberikan terapi : Paracetamol sirup 3 x cth Domperidone sirup 3 x 1 cth Dialac 2 x 1 sachet Oralit Zinc 1 x 20 mg

5. Menjelaskan pada ibu tentang : a. tanda-tanda dehidrasi pada anak dengan diare

b. pemberian oralit, dimana harus diberikan segera bila anak diare untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi c. pemberian Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut, mengurangi lama dan beratnya diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan, dan juga dapat mengembalikan nafsu makan anak. d. segera kembali ke petugas kesehatan jika ada demam tinggi, tinja berdarah, muntah terus-menerus, makan minum kurang, sangat haus, diare makin sering atau belum membaik dalam 3 hari. 6. Ibu mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh bidan dan akan melaksanakan apa yang dianjurkan oleh bidan.

BAB IV PEMBAHASAN KASUS Dari hasil asuhan kebidanan pada anak SN umur 3 tahun 2 bulan dengan diagnosa diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang di poli anak RSIA Banda Aceh, yang dialami sejak 2 hari yang lalu terhitung tanggal 22-1-2012 s/d 24-1-2012. Berdasarkan kalaborasi dan pemeriksaan dokter umum pasien mendapatkan rawat jalan dan tidak perlu rawat inap dimana dari hasil pemeriksaan anak tersebut masih dalam keadaan baik, meskipun agak rewel dan gelisah. Dokter telah memberikan terapi paracetamol sirup (obat demam), domperidone sirup (obat anti muntah), dialac sachet (obat anti diare), oralit ddan zinc. Pada ibu/ keluarga pasien (anak SN) telah diberikan penjelasan dan pendidikan kesehatan (penkes) mengenai hal-hal yang harus diperhatikan pada anaknya yang sedang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/sedang, seperti: pemberian cairan oral (baik air minum atau cairan oralit) sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses; Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti;

Pertahankan tirah baring/ istirahat cukup dan pembatasan aktivitas pada anak selama fase akut dapat menurunkan kebutuhan metabolik; Konseling pada ibu tentang pemberian obat zinc selama 10 hari berturut-turut dan manfaat jangka pendek dan jangka panjang, dimana termasuk mengurangi lamanya diare, menurunkan keparahan diare, membantu anak melawan episode diare dalam 2-3 bulan selanjutnya setelah perawatan, dapat membantu memperbaiki mucosa usus yang rusak dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh secara keseluruhan, dapat membantu perumbuhan anak lebih baik dan meningkatkan nafsu makan anak.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali/hari. Buang air besar encer tersebut dapat disertai lendir dan darah. Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari namun tidak terus menerus dan dapat disertai penyakit lain. Diare persisten merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari dan berlangsung terus menerus. Ada tiga derajat dehidrasi dalam diare, yaitu : 1. Diare tanpa dehidrasi 2. Diare dengan dehidrasi ringan/ sedang 3. Diare dengan dehidrasi berat Gejala klinis BAB cair, berlendir/berdarah Kembung Panas Nyeri perut Muntah Anak SN umur 3 tahun 2 bulan mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang yang ditandai dengan mencret sedikit-sedikit > 8x/hari, muntah tiap kali minum atau makan sejak 2 hari yang lalu dan badannya panas sejak 1 hari, kemudian anak dibawa ke Poli Anak RSIA Banda Aceh. Anak SN diperiksa dengan baik oleh petugas kesehatan dan kolaborasi dengan dokter, dipantau tanda-tanda vitalnya, diberi terapi untuk mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Sehingga didapat kondisi anak cukup baik dan hanya rawat jalan.

1. 2. 3. 4. 5.

B. Saran 1. Mampu melakukan pengkajian data subjektif pada anak yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. 2. Mampu melakukan pengumpulan data objektif pada anak yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. 3. Mampu menegakkan diagnosa pada data assesment pada anak yang mengalami diare akut dan dehidrasi ringan/ sedang. 4. Mampu melaksanakan perencanaan atau planning, asuhan, dan evaluasi pada anak yang mengalami diare dan dehidrasi ringan/ sedang.

Bagi petugas kesehatan diharapkan : 1. Mempertinggi kerjasama dan lebih komunikatif dengan pasien dan keluarga 2. Memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan P.I. 1982. Serbi Perawatan Kesehatan Anak, Jakarta. 2. http://astaqauliyah.com/2010/06/artikel-kedokteran-patofisiologi-gejalaklinik-dan-penatalaksanaan-diare 3. Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran 1, Jakarta : Media Aeculapius 4. Stace, Jhon-Jhon Biddulph, 1999. Kesehatan Anak, Yogyakarta : Gajah Mada University Press (Anggota IKAPI) 5.