Anda di halaman 1dari 3

PENANGANAN FRAKTUR MANDIBULLA

Teknologi pembedahan dari tahun ke tahun terus berkembang. Sebelum tahun 1968, operasi pada fraktur maksilofasial hanya dilakukan fiksasi menggunakan wiring saja, dengan segala kerugian akibat imobilisasi intermaksiler dengan kawat. Tapi setelah 1968, dimulai prosedur operasi yang berbeda dengan berbagai cara untuk mencapai osteosintesis yang lebih stabil, dengan memperhatikan reposisi seanatomis mungkin, pengembalian fungsi yang baik, fiksasi komplet dan stabil, tidak menimbulkan nyeri pada waktu mobilisasi tulang yang patah, tidak merusak struktur saraf, serta menggunakan pendekatan intraoral agar kosmetik baik. Di bagian Bedah Kepala Leher RSU Dr. Soetomo, seperti dijelaskan oleh dr. Urip Murtedjo, SpB, prosedur terapi fraktur maxilofacial masih menggunakan metode wire (suspensi kawat) yang diperkenalkan oleh Lesney sejak tahun 1953 melalui pendekatan ekstra oral. Akan tetapi kini mulai diperkenalkan metode miniplate champy yang salah satu keuntungannya adalah tidak memerlukan pemasangan arch bar (interdental wiring) karena sudah cukup stabil dan pendekatannya selalu intraoral sehingga dari segi kosmetik tetap baik. Hanya saja metode miniplate ini harganya masih relatif mahal. Menurut dr. Urip, penggunaan miniplate untuk fiksasi fraktur maxilofacial secara teknis lebih mudah dikerjakan karena kemampuan plate untuk mengikuti kelengkungan tulang maupun garis fraktur (malleable). Dengan pemasangan plate yang baik dapat dihindari terjadinya maloklusi seperti yang banyak terjadi pada penggunaan wire (kawat). Penelitian Cawood menunjukkan bahwa kemampuan membuka mulut lebih baik pada pasien fraktur mandibula yang dilakukan platting daripada pasien yang menggunakan wire (kawat), sehingga pasien tersebut tidak terlalu banyak mengalami penurunan berat badan. Perkembangan plate yang tebalnya 2,7 mm dan 2 mm telah dikembangkan menjadi miniplate yang tebalnya 1 mm dan 0,8 mm sampai akhirnya lebih tipis yakni microplate (0,5 mm). Bahan plate juga mengalami perkembangan dari semula stainless stell selanjutnya dibuat dari vitalium dan akhirnya titanium yang memiliki bioviability paling tinggi sehingga tidak perlu dilakukan pengangkatan. Dikembangkan pula suatu bahan yang dapat diabsorbsi yaitu asam poliglikolat. Microplate ini sangat baik untuk tulang dengan perlindungan jaringan yang tipis, dan untuk fiksasi bone graft. Dengan menggunakan metode miniplate ini hasil pembedahan lebih stabil, penyembuhan tulang secara primer terjadi lebih cepat karena miniplate merupakan rigid internal fixation sehingga memiliki efek kompresi, menurunkan angka komplikasi, dan dari segi kosmetik cukup baik. Satu lagi yang ditambahkan oleh dr. Urip bahwa meskipun metode platting ini memiliki banyak sekali keunggulan, namun ada beberapa kondisi dimana metode ini kontraindikasi untuk dilakukan, yaitu pada fraktur dengan luka kontaminasi, fraktur yang sangat komunitif, bila jaringan lunak di sekitarnya tidak dapat menutup fraktur, dan fraktur patologis, juga ada beberapa daerah di wajah yang

memang sebaiknya menggunakan wire.

Pasien mengalami kecelakaan motor, tabrakan dengan motor lain, pasien tidak menggunakan helm, riwayat mekanis jatuh tidak diketahui, pingsan (+), perdarahan mulut (+), perdarahan telinga (+), mual muntah (-).

dari informasi diatas, tindakan yg pertama dilakukan adalah memantau VITAL SIGN atau tanda vital, yaitu Tensi, Nadi, Suhu, dan Respirasi. Hal ini bertujuan agar pasien kesadarannya tetap terjaga. Selanjutnya, bisa dilakukan pembersihan lukaluka yang ada disekitar wajah dan daerah trauma dengan kasa steril dan larutan NaCl 0,9%. Bila memang ada gangguan respirasi, bisa digunakan pemasangan oksigen dengan bantuan Naso canul (selang hidung). Hal lain yang penting dilakukan dalam pemeriksaan emergensi adalah, kondisi status gigi geligi pasien, untuk dapat menunjang penegakan diagnosa kasus trauma tersebut. Termasuk didalamnya adalah kondisi luka-luka baik ekstra oral maupun intra oral. Dalam tulisan ini saya tidak akan menjelaskan isi diagnosa pasien tersebut, saya akan coba memaparkan apa dan bagaimana kasus ini ditangani. Selanjutnya, biasanya dalam UGD suatu Rumah Sakit, biasanya kasus-kasus trauma yang melibatkan leher dan kepala dan daerah wajah, akan melibatkan kerjasama tim dari bagian bedah lain, umumnya adalah bedah umum, dan bedah saraf, juga bedah orthopedi. Bila memang sudah ada tindakan khusus yang dilimpahkan dari bagian lain yang disebutkan diatas, dokter gigi berhak dan wajib melakukan tindakan emergensi yang sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan. Pada kasus ini, pasien diberi obat-obatan antibiotik Bioxon 1g inj. IM/IV, dan juga antiinflamasi ketorolac 1 amp. inj., juga ranitidine 1 amp. Pasien juga dilakukan ATS/TT untuk menghindari terjadinya tetanus karena mekanisme jatuh yang langsung mengenai tanah atau aspal, akibat bakteri clostrodium tetanii

yang bisa saja terkontaminasi ke tubuh pasien. Selanjutnya pasien dilakukan penjahitan luka-luka sobek dan tembus untuk menekan perdarahan (hecting). Setelah perdarahan bisa ditekan dan dihentikan, pasien dilakukan pemasangan IDW (Interdental Wiring) merupakan suatu alat untuk memfiksasi dan imobilisasi bagian daerah gigi geligi yang mengalami trauma dan fraktur juga diharapakan agar pasien tidak kehilangan oklusi gigi geliginya antara rahang atas dan rahang bawah. Perawatan ini adalah jenis perawatan antara tindakan emergensi dan tindakan elektif, bila ditemukan adanya fraktur pada rahang baik rahang atas maupun bawah, sebaiknya dikonsul kan untuk dilakukan pemotretan foto panoramic, selanjutnya terapi dilakukan dengan rencana perawatan orif untuk menyatukan bagian dari tulang yang trauma atau fraktur dengan narkose umum (bius total). Tindakan ini akan dilakukan bila kondisi pasien sudah lebih baik dan stabil tingkat kesadarannya, juga pemeriksaan lab dan hasil pemeriksaan konsul dari bagian anestesi juga sudah didapatkan.

dari kasus ini didapatkan kalo pasien mengalami : Mild HI (Head Injury) + susp. # lefort II + # parasimfisis sinistra + # subcondylus sinistra + # segmental dentoalveolar regio 31-42 + # segmental dentoalveolar regio 33-34 dari diagnosa tersebut didapatkan ada sekitar 5 bagian tulang rahang dan wajah yang patah.... pasien ini akhirnya di acc untuk dilakukan rawat jalan oleh bidang bedah Neurocranial, dan dalam follow up bedah mulut... post tindakan