Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

B DENGAN ABSES MAMAE SINISTRA DI RUANG NUSA INDAH 2 RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Praktik Klinik Kebutuhan Dasar Manusia II

Disusun Oleh : Vinda Astri Permatasari P07120112080

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2013

LEMBAR PENGESAHAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. B DENGAN ABSES MAMAE SINISTRA DI RUANG NUSA INDAH 2 RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

Diajukan untuk disetujui pada : Hari Tanggal Tempat : : :

Pembimbing Lapangan

Pembimbing Pendidikan

Sukwan Sumono, S.Kep

Sri Arini WR, SKM, M.Kep.

BAB I PENDAHULUAN

A. Definisi Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih inilah yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah didalam, maka infeksi bisa menyabar di dalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung pada lokasi abses. Infeksi pada payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang umum ditemukan pada kulit normal (staphylococcus aureus). Infeksi terjadi khususnya pada saat ibu menyusui. Bakteri masuk ke tubuh melalui kulit yang rusak, biasanya pada puting susu yang rusak pada masa awal menyusui. Area yang terinfeksi akan terisi dengan nanah. B. Perawatan dan pengobatan abses payudara 1. Pecahkan kantung PUS dengan insisi radial dari tengah diikat pinggir areola sejajar dengan jalannnya duktus laktiferus dan gunakan prinsip sterilisasi, bersihkan PUS hingga benar -benar bersih. 2. Dilakukan pengompresan hangat pada payudara selama 15-20 menit, 4 kali/hari 3. Anjurkan ibu untuk tetap mengeluarkan ASI terutama pada payudara

yangmasih mengeluarkan ASI mencegah terjadinya bendungan payudara pada sisi payudara yang lain. 4. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 7 jam sehari danmengkonsumsi makanan dengan pola menu makanan seimbang yang terdiri dari: karbohidrat, protein, lemak, vitamin maupun mineral. 5. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri terutama didaerah sekitar payudaradan ganti balutan 2 kali sehari 6. Mengajarkan pada ibu cara menyusui yang benar : a. Teknik menyusui yang benar. b. Kompres payudara dengan air hangat dan air dingin secara bergantian. c. Meskipun dalam keadaan mastitis, harus sering menyusui bayinya. d. Mulailah menyusui pada payudara yang sehat. e. Hentikan menyusui pada payudara yang mengalami abses, tetapi ASI harus tetap dikeluarkan. 7. Apabila abses bertambah parah dan mengeluarkan nanah, berikan antibiotic per parenteral 8. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri (misalnya acetaminophen atau ibuprofen). Kedua obat tersebut aman untuk ibu menyusui dan bayinya. C. Terapi 1. Evakuasi abses dengan cara dilakukan operasi (insisi abses) dalam anestesi umum. Setelah diinsisi, diberikan drain untuk mengalirkan sisa abses yang mungkin masih tertinggal dalam payudara. 2. Abses / nanah kemudian diperiksa untuk kultur resistensi dan pemeriksaan PA. 3. Jika abses diperkirakan masih banyak tertinggal dalam payudara, selain dipasang drain juga dilakukan bebat payudara dengan elastic

bandage. Setelah 24 jam tindakan, pasien kontrol kembali untuk mengganti kassa. Pasien diberikan obat antibiotika dan obat penghilang rasa sakit.

BAB II PROSES KEPERAWATAN

Tanggal pengkajian Pukul Tempat Oleh Sumber Data Metode

: 27 Juni 2013 : 10.15 WIB : Kamar 1B Bangsal Nusa Indah 2 RSUD Panembahan Senopati Bantul : Vinda Astri Permatasari : Klien, keluarga klien, catatan medis dan keperawatan, tim kesehatan lain : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan studi dokumen

I.

Pengkajian A. Identitas 1. Pasien Nama Tempat/ Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Status Perkawinan Pendidikan Pekerjaan Suku / Kebangsaan Alamat Diagnosa Medis Nomor CM Tanggal masuk RS 2. Keluarga / Penanggung Jawab : Ny. B : Bantul, 25-08-1979 : Perempuan : Islam : Kawin : SMP : Penjahit : Jawa / Indonesia : Silok, Selopantoro, Imogiri : Abses mamae sinistra : 505269 : 25 Juni 2013

Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat Hubungan dengan pasien B. Riwayat Kesehatan 1. Kesehatan pasien

: Bp. S : 38 tahun : SMP : Swasta : Silok, Selopantoro, Imogiri : Suami

a. Riwayat kesehatan sekarang : Pada tanggal 9 Juni 2013 pasien mengeluh pada payudara kirinya terasa panas, bengkak dan sakit disertai demam di seluruh tubuh terutama pada saat malam hari. Pada tanggal 13 Juni 2013 pun keluarga pasien memutuskan untuk membawa Ny. B ke salah satu bidan yang membuka praktik klinik di desanya, pasien menyatakan diberikan obat ibuprofen (obat antiinflamasi) dan amoxicillin (obat antibiotik), demam sempat sembuh tetapi kemerahan pada payudara kirinya tidak sembuh, malahan semakin besar, berwarna hitam, kulit terkelupas dan bahkan pecah dan mengeluarkan nanah. Keluarga pasien pun membawa Ny. B ke RSUD Panembahan Senopati untuk dilakukan tindakan lebih lanjut, pada tanggal 25 Juni 2013. b. Riwayat kesehatan lalu hipertensi maupun alergi. : Pasien menyatakan ini adalah Pasien menyatakan tidak ada riwayat penyakit asma, DM, pengalaman pertamanya masuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan dan pengobatan. Pasien menyatakan dulunya pernah ikut KB suntik.

2. Kesehatan keluarga a. Genogram :

Keterangan : : Laki-laki : Perempuan : klien yang sakit : Garis perkawinan : Garis keturunan : Tinggal serumah b. Riwayat kesehatan :

Pasien menyatakan dulu adiknya juga pernah mengalami penyakit

yang sama. Tetapi adiknya tidak memeriksakannya ke klinik ataupun rumah sakit. Adiknya merawat sendiri lukanya dan meminum berbagai obat-obatan, luka adiknya sembuh dengan sendirinya. Pasien menyatakan bahwa puting payudara miliknya dan adiknya sama, yaitu masuk ke dalam. Pasien menyatakan ibunya dan neneknya tidak memiliki riwayat puting yang masuk ke dalam. Diantara keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit DM, hipertensi, asma maupun alergi. C. Pola Kebiasaan Pasien 1. Aspek Fisik Biologis a. Pola Nutrisi 1) Sebelum sakit : Pasien makan sehari tiga kali, setiap pagi, siang dan malam hari. Pasien suka makan buah-buahan dan sayuran, tidak suka makan daging ayam. Pasien juga tidak suka makan makanan yang terlalu asin maupun manis, sukanya yang pas-pasan saja. Pasien biasanya minum 5 gelas sehari ( 750 ml) 2) Selama sakit : Pasien makan 3x sehari sesuai yang diberikan oleh rumah sakit. Dalam makan, pasien tidak mengalami masalah. Selama sakit, pasien minum hanya 300 mL sehari, dengan alasan pasien malas bolak-balik ke kamar mandi untuk kencing. b. Pola Eliminasi 1) Sebelum sakit : Pasien biasa BAK 5x sehari. Untuk BAB, pasien menyatakan biasanya 2 hari sekali. Klien mengaku tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan pencahar. 2) Selama sakit : Pasien menyatakan BAK sehari 3x. Pasien menyatakan belum BAB sejak masuk rumah sakit, sudah sejak 3 hari yang

lalu. c. Pola aktivitas istirahat tidur 1) Sebelum sakit : Klien menyatakan tidak pernah olahraga selama di rumah. Klien tidur dalam satu hari biasanya 7 jam sehari, yaitu dari jam 11 malam sampai jam 05.30 pagi. Klien menyatakan tidak pernah tidur siang. Klien biasanya tidur dengan menggunakan guling dan dalam keadaan posisi miring. Klien menyatakan kegiatan sehari-harinya hanyalah bekerja, yaitu menjahit baju pesanan dari pelanggannya. 2) Sesudah sakit : Klien bisa melakukan aktifitas sehari-hari dengan mandiri. Tidak ada keluhan gangguan pernapasan. Di rumah sakit, pasien mengeluh tidak bisa tidur, karena posisi yang kurang aman dan nyaman, terutama di rumah sakit tidak disediakan guling sebagai perlengkapan tempat tidur. Klien mengungkapkan perasaanya capek juga merasa bosan dan jenuh, karena kegiatannya di rumah sakit hanyalah tiduran saja. d. Pola kebersihan diri 1) Kebersihan diri : Pasien mandi hanya pada pagi saja, dan hanya diusap dengan 2) Rambut payudaranya, 3) Telinga telinga pasien. 4) Mata pasien 5) Mulut : Pasien menyatakan gosok gigi sehari dua kali, baik itu di rumah maupun selama dirawat di rumah : Tidak ada masalah dan gangguan pada mata waslap, tidak menggunakan sabun. : Satu hari sebelum menjalani operasi pada pasien menyatakan sempat keramas. Tidak rambut pasien. : Tidak ada masalah dan gangguan pada

ada masalah pada kulit rambut dan

sakit. 6) Kuku/ kaki : Kuku kaki dan tangan klien tampak panjang-panjang, tidak terdapat kotoran. e. Aspek Mental - Intelektual Sosial Spiritual 1) Konsep diri Peran klien untuk menjadi sosok ibu bagi anak-anaknya terganggu, apalagi anaknya yang terkecil masih berumur 4 tahun. Klien terlihat tidak sabar untuk segera pulang, sehingga pekerjaanya sebagai penjahit tidak terbengkalai secara berlarut-larut. Pasien menyatakan takut kegemukan. 2) Intelektual Klien mengetahui bahwa di payudaranya terjadi infeksi, tetapi tidak tahu persis penyebabnya. Selama luka di payudaranya pecah dan mengeluarkan nanah, pasien setiap hari selalu rajin untuk membersihkan payudaranya. 3) Hubungan interpersonal Hubungan klien dengan keluarga baik, ditandai dengan suami, anak anak dan ibunya yang datang untuk menemaninya di rumah sakit. 4) Mekanisme koping Pasien terlihat tenang dengan penyakit yang dihadapinya, tetapi pasien terlihat cemas memikirkan pekerjaannya yang sebagai seorang penjahit terbengkalai di rumah. Pasien sempat mengeluh bahwa di satu ruangan tidak ada pasien yang lain sehingga merasa kesepian. 5) Aspek mental - emosional Ketika dilakukan pengkajian, pasien menerimanya dengan baik dan atraktif. Pasien tetap mempertahankan kontak mata dengan pengkaji, apabila suasana mulai sepi dan tidak ada yang berbicara, pasien terlihat memalingkan muka. Kesesuaian afek terhadap situasi tidak ada masalah.

6) Aspek intelegensi Memori pasien masih baik ditandai dengan apabila ditanya tentang riwayat pengobatan dan perawatan yang pernah dijalani, pasien masih mengingatnya. D. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum a. b. Kesadaran Status Gizi 1) TB 2) BB 3) Antropometri c. : 155 cm : 56 kg : 23,3 : Compos Mentis

Tanda tanda vital 1) Tekanan darah : 100/80 mmHg 2) Suhu tubuh 3) Nadi 4) Pernapasan 1) Kepala : 36,3 C : 120 x/menit : 24 x/menit :

2. Pemeriksaan secara sistemik (cepalo kaudal) Rambut warna hitam dan tidak bercabang, tidak ada kutu, tidak ada ketombe, tidak ada lesi, tidak ada benjolan, fungsi pendengaran masih baik, tidak ada secret yang keluar dari hidung. 2) Leher : Tidak ada bekas operasi, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar limfe. 3) Dada : a) Inspeksi : Tidak simetris, terjadi pembengkakan pada payudara kiri, payudara kiri berwarna merah dan terdapat pus. Kedua

puting payudara masuk ke dalam, tidak ada kelainan pada saat bernafas. Ada nyeri tekan, nyeri 5 untuk rentang skala nyeri dari 1-10. Nyeri hilang timbul b) Palpasi c) Perkusi : : Payudara membengkak, disertai adanya nyeri tekan Tidak terkaji d) Auskultasi : Bunyi jantung normal, pernapasan teratur 4) Abdomen : a) Inspeksi : Simetris, tidak ada benjolan ataupun massa, tidak ada luka operasi, tidak ascites b) Palpasi c) Perkusi : : Tidak ada nyeri tekan, tidak ditemukan benjolan Normal, tidak ada gangguan. Suara timpani d) Auskultasi : Bising usus lemah 5) Ekstrimitas : a) Ekstrimitas atas : Simetris, tidak ada oedema, tidak ada penyakit kulit, kuku bersih tapi panjang-panjang, tidak ada cacat b) Ekstrimitas bawah : Simetris, tidak ada oedema, tidak ada penyakit kulit, kuku bersih tapi panjang-panjang, tidak ada cacat II. Pengobatan Yang Didapat Saat Ini A. Infus RL 20 tpm pada tangan kanan pasien, terpasang sejak 25 Juni 2013 B. Infus D5% 20 tpm

C. Injeksi Ceftriaxone 2x1gram perhari D. Injeksi Ratan 2x50mg perhari E. Injeksi Teranol 2x3mg perhari F. Injeksi Kalnex 2x250mg perhari III. Pemeriksaan Penunjang Yang Pernah Dilakukan Beserta Hasilnya A. Rontgen : Thorax Pa Dewasa, dengan hasil pulmo tidak tampak kelainan, besar cor normal (25 Juni 2013) B. Pemeriksaan EKG, dengan hasil, normal sinus rhythm (20 Juni 2013) C. Pemeriksaan Laboratorium (25 Juni 2103) dengan hasil : KOMPONEN HASIL NILAI NORMAL Gr% Ribu/ul Juta/ul Ribu/ul % % % % % % % Mg/dl Mg/dl Mg/dl Mg/dl u/L u/L Mmol/l Mmol/l Mmol/l SATUAN 12-15 4-10 4,0-5,0 150-450 36-46 2-4 0-1 2-5 51-67 20-35 4-8 <200 17-43 0,6-1,1 3,5-5,5 3-45 0-35 135-148 3,5-5,3 98-107 <1 non reaktif 1-50 positif lemah 750 reaktif

DARAH LENGKAP OTOMATIS HB (Hemoglobin) 13,9 AL (Angka Leukosit) 24,4 AE (Angka Eritrosit) 5,05 AT (Angka Trombosit) 39,3 HMT (Hematokrit) 39,2 HITUNG JENIS LEUKOSIT Eosinofil 0 Basofil 0 Batang 4 Segmen 88 Limfosit 7 Monosit 1 Golongan Darah B Glukose Sewaktu 93 Ureum Darah 26 Kreatin Darah 0,86 SGOT 8 SGPT 9 Natrium 138,6 Kalium 4,13 Chlorida 107,8 HBSAG Kuantitatif <0,10 non reaktif

ANALISA DATA Data DO : 1. Tanda-tanda vital : -Nadi : 120 x/menit -Pernapasan: 24 x/menit 2. Terdapat kemerahan dan pembesaran pada payudara sebelah kiri pasien 3. Pasien sering mengubah posisi untuk menghindari nyeri 4. Pasien terlihat meringis menahan sakit 5. Pasien terlihat lemas DS : 1. Pasien menyatakan nyeri pada payudara sebelah kirinya 2. Pasien menyatakan skala nyeri 5 untuk rentang skala nyeri 110 3. Pasien menyatakan tidak bisa tidur karena merasakan nyeri 4. Pasien menyatakan nyeri hilang timbul DO : 1. Terpasang Infus RL 20 tpm pada tangan kanan pasien 2. Set infus terpasang sejak 25 Juni 2013 3. Terdapat peradangan, dan Resiko Infeksi Kerusakan jaringan Masalah Nyeri Akut Etiologi Proses peradangan

kemerahan pada payudara kiri pasien 4. Hasil pemeriksaan lab : -AL (Angka Leukosit) : 24,4 Ribu/ul -Limfosit : 7% -Segmen : 88% DS : DO : 1. Pasien terlihat lemas 2. Penurunan pola tidur dari sehari 7 jam, menjadi tidak bisa tidur nyenyak DS : 1. Pasien menyatakan tidurnya kurang, tidak seperti biasanya 2. Pasien mengeluh tidak bisa tidur karena posisi yang tidak aman dan nyaman 3. Pasien menyatakan tidak bisa tidur nyenyak tanpa guling DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH 1. Nyeri akut berhubungan dengan proses peradangan ditandai dengan 2. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan ditandai dengan 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan tidak familier dengan perabot tidur ditandai dengan PERENCANAAN KEPERAWATAN Gangguan pola tidur Tidak familier dengan perabot tidur

DIAGNOSA KEPERAWATAN Nyeri akut berhubungan dengan proses peradangan ditandai dengan TUJUAN Setelah dilakukan tindakan keperawatn selama 4x24 jam nyeri pasien menjadi berkurang dengan kriteria hasil : 1. Mampu menggunakan teknik nonfarmakolo gi untuk mengurangi nyeri 2. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang 3. Tanda vital dalam batas normal : - Nadi : 90 x/menit -RR : 19 x/menit 4. Tidak

PERENCANAAN RENCANA TINDAKAN Observasi dan catat keluhan lokasi beratnya (skala 0-10) dan efek yang ditimbulkan oleh nyeri Rasional : Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan atau perbaikan penyakit, terjadinyaa komplikasi dan keefektifan intervensi. Pantau tandatanda vital Rasional : Peningkatan nyeri akan meningkatkan tanda-tanda vital Ajarkan untuk menggunakan teknik relaksasi dan nafas dalam atau teknik distraksi seperti

RASIONAL

mengalami gangguan tidur

mendengarkan musik atau membaca buku Rasional : Membantu atau mengontrol mengalihkan rasa nyeri, memusatkan kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping Kolaborasi:Pemberian obat analgetik sesuai indikasi Rasional : Menurunkan nyeri. 1. Pantau pemasangan 1. Mencegah infus dan lakukan dressing infus sesuai prosedur terjadinya infeksi pada pemasangan infus.

Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan ditandai dengan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil : 1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 2. Jumlah pemeriksaan lab dalam rentang normal

Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan

Mengurangi dan mencegah kontaminasi silang antara perawat dengan pasien

Awasi tanda tanda vital

Demam dengan peningkatan

AL (Angka Leukosit) 410 Ribu/ul Segmen 51-67 % Limfosit 2035 % 3. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala juga cara pencegahan infeksi

nadi dan pernapasan adalah tanda peningkatan laju metabolic dari proses inflamasi, meskipun sepsis dapat terjadi tanpa respon demam Pasien dan keluarga mengerti tentang infeksi sehingga bisa mencegahnya . Kelola pemberian antibiotik injeksi ceftriaxone 2x1 mg . Antibiotik dapat mencegah atau membunuh bakteri penyebab infeksi masuk ke tubuh

. Gangguan pola tidur berhubungan dengan tidak familier dengan perabot tidur ditandai dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam gangguan pola tidur pasien teratasi dengan kriteria hasil: 1. Jumlah jam tidur dalam batas normal 2. Mampu mengidentifik asi hal-hal yang meningkatkan tidur Determinasi efek-efek medikasi terhadap pola tidur Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur (membaca) Ciptakan lingkungan yang nyaman Kolaburasi pemberian obat tidur batasi asupan cairan pada malam hari dan anjurkan berkemih sebelum tidur. batasi waktu tidur siang. Fasilitasi

Anda mungkin juga menyukai