P. 1
Presentasi Kasus VBAC okeee

Presentasi Kasus VBAC okeee

|Views: 115|Likes:
Dipublikasikan oleh Yusuf Ali Quddusi
yessss
yessss

More info:

Published by: Yusuf Ali Quddusi on Jul 11, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2013

pdf

text

original

Vaginal Birth After Previous Caesarian 1 RSU PERSAHABATAN

BAB I ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS Nama Usia Alamat Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Masuk RSCM Nomor Rekam Medik : Ny. K : 22 tahun : Jl. Pisangan Baru No. 5, RT 012/RW 014, Matraman, Jakarta Timur : Betawi : Islam : SMA : Ibu rumah tangga : Selasa, 22 Juni 2010 pukul 04.50 WIB : 123.44.85

ANAMNESIS Keluhan utama Keluar air-air dari kemaluan sejak 17 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS) (Dirujuk dari Puskesmas Matraman Jakarta Timur dengan keterangan G2 P1 H40minggu, anak pertama SC) Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengaku hamil sembilan bulan. Hari pertama haid terakhir (HPHT) tanggal 15 September 2009, Taksiran partus (TP) 22 Juni 2010. Saat ini perkiraan usia kehamilan 40 minggu. Pasien melakukan ante natal care (ANC) di bidan di puskesmas Matraman, sekitar 4-6 kali selama hamil. Saat kontrol dikatakan bahwa kehamilan normal, tidak pernah menderita darah tinggi selama hamil maupun sebelumnya, serta tidak ditemukan sakit kencing manis selama hamil. Tidak pernah dilakukan pemeriksaan USG. Selama hamil pasien tidak pernah mengalami keluhan nyeri saat buang air kecil (BAK), anyang-anyangan, riwayat keputihan, perdarahan, demam maupun trauma di perut.

Vaginal Birth After Previous Caesarian 2 RSU PERSAHABATAN
Sejak dua hari SMRS pasien merasakan perutnya terasa mulas yang semakin kuat dan semakin sering. Satu hari SMRS (siang hari sekitar pukul 11.00) keluar air-air warna jernih, bau amis, tidak bau busuk. Setelah itu keluar lendir disertai darah. Gerakan janin masih dirasakan sampai saat datang ke rumah sakit. Riwayat Penyakit Dahulu Tidak pernah ada riwayat menderita darah tinggi, kencing manis, asma, penyakit jantung dan alergi obat. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak pernah ada riwayat menderita darah tinggi maupun asma. Kakak pasien menderita penyakit jantung. Ibu pasien menderita kencing manis. Riwayat Obstetri dan Ginekologi Menarche 13 tahun, siklus haid teratur, 25– 30 hari, lama 4-6 hari, ganti pembalut 3x / hari, tidak ada dismenore. G2 P1 A0 H40minggu Anak 1 : 2 tahun 2 bulan, BB 3000 gram, sectio cesarea (SC) atas indikasi pembukaan tidak maju, oleh dokter, di RSP Anak 2 : ini Riwayat menggunakan KB pil setelah anak pertama lahir selama 1 tahun. Riwayat Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Biaya pengobatan umum. Tidak ada kebiasaan merokok maupun minum alkohol.

PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran Keadaan umum Tanda vital TD FN FP Suhu : 120/80 mmHg : 92 x/menit, teratur, isi cukup : 12 x/menit, teratur, kedalaman cukup : 36,8 0C : compos mentis : tampak sakit sedang

copyright©2010

JPKTH. kepala H I-II : deformitas -. taksiran berat janin (TBJ) 3000 gram Punggung kiri. di regio suprapubik terdapat skar arah vertikal : edema -/-. air ketuban berkurang : panggul N. perdarahan (-) : portio livid. gallop – : membuncit ~ kehamilan.pembukaan 4 cm. DI > 9. vesikuler +/+. relaksasi baik Denyut jantung janin (DJJ) : 138 dpm Inspeksi Inspekulo VT : vulva/ uretra tenang. rambut hitam. AP > 900 Kesan USG     Janin presentasi kepala tunggal hidup (JPKTH) Diameter biparietal (DBP) 93 mm. tidak mudah rontok : KGB tidak teraba membesar : sklera ikterik -/-. ketuban (-). sakrum konkaf. ostium terbuka 4 cm.3 mm. fluor -.5 cm. sonor +/+. posterior. konjugtiva pucat -/: dalam batas normal : simetris statis dan dinamis : fremitus kanan = kiri. wh -/: BJ I/II N. kepala 3/5 His 3 x/ 10 menit/ 50 detik. fluxus : portio kenyal. murmur -. akral hangat. TBJ 2850 gram Plasenta di korpus depan Indeks cairan amnion (ICA) 7 3 / 1 3/0 Kesan : hamil aterm. imbang fetopelvik baik copyright©2010 .Vaginal Birth After Previous Caesarian 3 RSU PERSAHABATAN Status generalis Kepala Leher Mata THT Thoraks Paru Jantung Abdomen Ekstremitas Status Obstetrikus Tinggi Fundus Uteri (TFU) 32 cm. rh -/-. perfusi perifer cukup Pelvimetri klinis : pelvic inlet sulit dinilai. Femur length (FL) 68. tebal 2 cm. Head circumference (HC) 307 mm Abdomen circumference (AC) 907mm.

S/4jam. fluxus -. tebal 2 cm. Vaginal touche portio kenyal. Riwayat obstetrikus G2P1A0 dengan berat bayi sebelumnya 3000 gram. infeksi intra uterin. posterior. Pemeriksaan fisik status generalis dalam batas normal. kompresi tali pusat Cek DPL. his dan DJJ/30 menit Observasi tanda ruptur uteri. datang ke IGD RSU PERSAHABATAN pada tanggal 22 Juni 2010 dengan keluhan keluar air-air dari kemaluan sejak 17 jam SMRS. HPHT 15 September 2009 dengan TP 22 Juni 2010. 2 tahun 2 bulan yang lalu. Pasien hamil 40 minggu. Diagnosis : G2 P1 A0 H40minggu . pada abdomen didapatkan bekas sayatan horizontal di daerah supra pubik. UL. Dari pemeriksaan penunjang USG didapatkan kesan hamil aterm. Inspekulo portio livid. ostium terbuka 4 cm. 22 tahun. Pelvimetri klinis menunjukkan imbang fetopelvik baik. GDS CTG copyright©2010 . Keluhan disertai dengan mulas yang semakin kuat dan sering serta keluar lendir dan darah. his 3x/10’/30”. ketuban (-). Status obstetrikus menyatakan tinggi fundus uteri 32 cm. JPKTH. dilahirkan secara SC atas indikasi persalinan tidak maju. TBJ 3000 gram. kepala H I-II. janin presentasi kepala tunggal hidup. BSC 1x Tatalaksana Rencana Diagnosis     Observasi TNP/jam. fluor -.pembukaan 4 cm. PK1 aktif . ANC menyatakan kehamilan dalam batas normal. Inspeksi vulva/uretra tenang.Vaginal Birth After Previous Caesarian 4 RSU PERSAHABATAN RESUME Wanita. panjang 10 cm. DJJ 138 dpm. kepala 3/5. air ketuban berkurang dan TBJ 2850 gram.

pemeriksaan yang dilakukan.Vaginal Birth After Previous Caesarian 5 RSU PERSAHABATAN Rencana terapi  Rencana partus pervaginam  Nilai ulang 4 jam lagi Rencana Edukasi  Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi pasien. rencana tatalaksana beserta komplikasi dan risikonya prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : bonam : bonam : bonam copyright©2010 .

Vaginal Birth After Previous Caesarian 6 RSU PERSAHABATAN Hasil PEMERIKSAAN penunjang 18 Maret 2008 Hematologi Hb Ht Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC Nilai 11.030 4.2 / LPB / LPB / LPK / LPK / LPK 96 mg/dL Nilai Satuan Kuning.6 35 12000 84 28 33 Satuan g/dL % /μL fl pg g/dL (12-14) (40-48) (5000-10000) (150000-400000) (82-92) (27-31) (32-36) Normal (70-200) Normal Normal 286000 /μL Kimia darah Nilai Satuan GDS Urinalisis Sedimen Sel epitel Leukosit Eritrosit Silinder Kristal Bakteri Berat jenis pH Protein Glukosa Keton Darah / Hb Bilirubin Urobilinogen Nitrit + 6-8 1.025 5.003-1.5-8 - - copyright©2010 .5 +1 +1 0. jernih 10-14 / LPB 1.

TD 120/80 mmHg. djj observasi tanda rui. kontraksi. srb. FN 90x/m. iiu R th/ : partus per vaginam (nilai ulang 08. gerakan janin (+) Status generalis dBN Status obstetrikus : his 3x/ 10’/ 40”. (BSC 1x) : R dx/ : observasi tanda vital. FN 80x/m. FN 86x/m. UUK kiri depan. BSC 1x O : KU baik.50) O : KU baik. djj observasi tanda rui. FP 26x/m 18 Maret 2008 Pukul 08. djj 142 dpm I : v/u tenang VT : pembukaan lengkap. djj 146 dpm I : v/u tenang VT : tidak dilakukan A P : G2P1 H 40 minggu. gerakan janin (+) Status generalis dBN Status obstetrikus : his 3-4x/ 10’/ 40”. iiu R th/ : partus per vaginam (nilai ulang 08. djj 148 dpm I : v/u tenang VT : tidak dilakukan A P : G2P1 H 40 minggu. FP 20x/m copyright©2010 .50) O : KU baik.00 S : mulas (+). JPKTH. CM.Vaginal Birth After Previous Caesarian 7 RSU PERSAHABATAN Leukosit estrase +1 - Follow up ruang observasi 18 Maret 2008 Pukul 06. TD 110/80 mmHg.15 S : perut mulas dan ingin meneran Status generalis dBN Status obstetrikus : his 3-4x/ 10’/ 50”. JPKTH. (BSC 1x) : R dx/ : observasi tanda vital. srb. srb. PK I aktif. kontraksi. FP 28x/m 18 Maret 2008 Pukul 07. PK I aktif. CM. JPKTH. CM. kepala H3-4 A : PK II pada G2P1 H 40 minggu.00 S : mulas (+).

50 Instruksi post partum      Observasi tanda vital. dengan suboksiput sebagai hipomoklion.Vaginal Birth After Previous Caesarian 8 RSU PERSAHABATAN P : pimpin meneran. PB 47 cm. dilahirkan bahu depan dan belakang kemudian seluruh lengan Dengan pegangan samping badan. kontraksi dan perdarahan Mobilisasi aktif Diet TKTP Higiene vulva dan perineum Motivasi ASI-KB copyright©2010 . dilakukan jahitan hemostasis dan perineorafi dengan chromic catgut 2/0 Perdarahan kala III-IV + 200 cc Jam 08. observasi his/djj/15 menit Laporan partus spontan Tanggal 18 Maret 2008 Jam 08. kepala mengadakan defleksi maksimal. dilahirkan trokhanter depan dan belakang. AS 9/10 Air ketuban jernih. kontraksi baik Pada eksplorasi selanjutnya didapatkan ruptur perineum grade II. tali pusat dijepit dan dipotong Dengan pegangan biparietal. panjang tali pusat 50 cm Insersio sentralis. muka.45           Lahir spontan bayi perempuan dengan BB 3000 gram. 16x15x3 cm. sehingga berturut-turut lahir UUB.15       Kepala turun sesuai sumbu jalan lahir sehingga tampak di vulva Perineum menegang Tampak suboksiput di bawah simfisis. robekan sentralis Dilakukan masase fundus. dahi. kemudian seluruh tungkai Jam 08. tarikan ke belakang dan ke depan. dagu dan seluruh kepala Tampak lilitan tali pusat erat di leher satu kali. jumlah berkurang Tali pusat dijepit dan dipotong Ibu disuntik oksitosin 10 IU IM Dilakukan peregangan tali pusat terkendali Lahir plasenta lengkap + 500 gram.

FN 84x/menit. perdarahan (-). perdarahan Mobilisasi aktif Diet TKTP Higiene vulva dan perineum Motivasi ASI dan KB Rawat gabung di ruangan AB. TD 120/80 mmHg. kontraksi.8°C copyright©2010 . FP 20x/menit. ASI (+) Status obstetrikus : 2 jari bawah pusat. CM. T 36. kontraksi baik I : v/u tenang. co-amoxiclav 3x625 mg Asam mefenamat 3x500 mg Nonemi tab 1x1 Follow up post partuM O : KU baik. lokhia (+) VT tidak dilakukan A P : P2 post partum spontan 2 jam yang lalu : Observasi tanda vital. BAK (-). co-amoxiclav 3x625 mg Asam mefenamat 3x500 mg Nonemi tab 1x1 : Perdarahan (-).Vaginal Birth After Previous Caesarian 9 RSU PERSAHABATAN     S Rawat gabung dengan bayi di ruangan AB.

rawat gabung : Mobilisasi aktif Diet TKTP Higiene vulva dan perineum Motivasi ASI dan KB AB. kontraksi baik I : v/u tenang. vertikal. perdarahan VT : tidak dilakukan A P : NH1. FP 18x/menit. g(-) Paru : vesikuler +/+. menyusui (+) Status generalis : Mata : konjungtiva pucat -/Jantung : BJ I-II N. P2 PP spontan. ASI +/+. hemodinamik stabil. m (-). T afebris copyright©2010 . Rh -/-. BAB (-). co-amoxiclav 3x625 mg Asam mefenamat 3x500 mg Nonemi tab 1x1 Boleh pulang O : KU baik. NT (-) Extremitas : edema -/Status obstetrikus : 2 jari bawah pusat.Vaginal Birth After Previous Caesarian 10 RSU PERSAHABATAN Follow up ruangan 19 Maret 2008 S : BAK (+). wh -/Skar bekas operasi +. FN 84x/menit. CM.

janin presentasi kepala tunggal hidup. DJJ 138 dpm.8        ibu tidak obesitas usia kurang dari 40 tahun pematangan serviks yang baik pembukaan serviks 4 cm TBJ kurang dari 4000 g’ Jenis sayatan SC transversal pada segmen bawah uterus. panjang 10 cm. anak pertama 2 thn 2 bulan. tebal 2 cm. Dari pelvimetri klinis didapatkan kesan bahwa imbang fetopelvik baik. posterior. Pemeriksaan fisik didapatkan bekas sayatan transversal daerah supra pubik. usia kehamilan < 41 minggu (40 minggu) Hal-hal yang memperkecil kemungkinan keberhasilan VBAC pada pasien ini adalah : 1 copyright©2010 . Pada pasien bekas seksio ini direncanakan akan dilakukan partus pervaginam. Riwayat obstetrikus G2P1A0. pemeriksaan fisik. Penentuan cara partus pervaginam pada pasien bekas SC (VBAC) ini ditentukan melalui data dasar anamnesis. ANC menyatakan kehamilan dalam batas normal.pembukaan 4 cm. JPKTH. air ketuban berkurang dan TBJ 2850 gram. kepala 3/5.Vaginal Birth After Previous Caesarian 11 RSU PERSAHABATAN BAB II PEMBAHASAN KASUS Pada kasus dari anamnesis diperoleh bahwa pasien wanita berusia 22 tahun datang dengan keluhan keluar air-air dari kemaluan sejak 17 jam SMRS disertai dengan mulas yang semakin kuat dan sering serta keluar lendir dan darah. SC ai persalinan tidak maju. Berdasarkan HPHT saat datang ke RSU PERSAHABATAN pasien hamil 40 minggu. fluxus -. Status obstetrikus menyatakan TFU 32 cm. ostium terbuka 4 cm. TBJ 3000 gram. Inspeksi vulva/uretra tenang. 3000 gram. Interval kehamilan > 18 bulan (2 tahun 2 bulan) Persalinan timbul spontan (tanpa Induksi). fluor -. Inspekulo portio livid. ketuban (-). PKI aktif. kepala H I-II. VT portio kenyal. serta pemeriksaan penunjang. Atas data-data diatas maka diagnosis yang ditegakkan pada pasien ini adalah: G2P1 H 40 mg. Hal-hal yang mendukung keberhasilan VBAC pada pasien ini adalah : 1. his 3x/10’/30”. Dari pemeriksaan penunjang USG didapatkan kesan hamil aterm. BSC 1x.

gawat janin. Sistem Penilaian untuk memperkirakan Keberhasilan VBAC dari Alamia dkk 10 No. mengingat indikasi SC sebelumnya pada pasien adalah persalinan tidak maju. plasenta previa. dilatasi serviks 4 cm (1).8%. station masih di atas 2 (0). panjang serviks < 1 cm (1) dan kemajuan persalinan timbul spontan (1). Yang digunakan adalah Skor Alamia. Saat pasien datang harus diperhitungkan kemungkinan keberhasilan VBAC pada pasien ini berdasarkan sistem scoring yang ada. Ternyata pada pasien ini kemajuan persalinan dinilai baik. dan dalam waktu kurang dari 4 jam pasien sudah mencapai PK II tanpa induksi ataupun obat-obatan lainnya. Pada pasien dapat dilihat bahwa pasien memiliki tidak memiliki riwayat persalinan pervaginam sebelumnya (0). indikasi SC sebelumnya distosia pada pembukaan <5 (1). Kemajuan persalinan pada pasien ini harus selalu dipantau. saat datang pasien dalam keadaan pembukaan 4. Kemungkinan keberhasilan VBAC pada pasien ini adalah 78. Skor pasien adalah 4. elektif  Distosia pada pembukaan < 5  Distosia pada pembukaan > 5 3 Dilatasi serviks > 4 cm 2-4 cm < 2 cm Station di bawah -2 4 5 Panjang serviks  1 cm 6 Persalinan timbul spontan Nilai 2 2 1 0 2 1 0 1 1 1 copyright©2010 . Variabel 1 Riwayat persalinan pervaginam sebelumnya 2 Indikasi SC sebelumnya  Sungsang gawat janin.Vaginal Birth After Previous Caesarian 12 RSU PERSAHABATAN   indikasi sectio cesarea yang rekuren yaitu persalinan tidak maju pasien belum pernah melahirkan pervaginam sebelumnya.

Insisi uterus yang ada di dalamnya tidak dapat diketahui tanpa melihat laporan operasi SC sebelumnya. apakah merupakan tipe klasik atau bukan. Pada pasien ini didapatkan riwayat SC dengan scar yang terlihat adalah berbentuk transversal. pembukaan saat masuk 4 cm (1). Dulu teknik sayatan uterus masih didominasi oleh sayatan klasik. belum pernah partus pervaginam sebelumnya (0).Vaginal Birth After Previous Caesarian 13 RSU PERSAHABATAN Berdasarkan tabel di atas sistem scoring lain yang cukup baik untuk digunakan adalah sistem scoring Flamm and Geiger. Kemungkinan keberhasilan VBAC pada pasien ini adalah 49%. Resiko terbesar dan paling sering terjadi pada pasien saat melakukan VBAC adalah terjadinya ruptur uterus. Alasan seksio sebelumnya persalinan tidak maju (0). copyright©2010 . Sistem Penilaian menurut Flamm 9 No 1 2 Variabel Usia < 40 tahun Partus pervaginam sebelumnya:  Sebelum dan setelah seksio  Setelah seksio pertama  Sebelum seksio pertama  Tidak pernah Alasan seksio sebelumnya  Selain failure to progress Penipisan serviks saat masuk  > 75%  25-75%  < 25% Pembukaan saat masuk ≥ 4cm Nilai 2 4 2 1 0 1 2 1 0 1 3 4 5 Usia pasien 22 tahun (2). panipisan serviks saat masuk >75% (2). Maka skor pada pasien ini adalah 5. Berikut ini adalah skor pasien berdasarkan sistem tersebut.

yaitu menilai kemungkian keberhasilan VBAC dan risiko ruptur uteri melalui pemeriksaan USG. sehingga kemungkinan ruptur uteri juga menurun mengingat tidak digunakannya agen-agen tersebut.9%. jarak antara dua persalinan yang lebih dari 36 bulan memiliki resiko ruptur uteri sebesar 0. copyright©2010 . Pada evaluasi selanjutnya uterus berkontraksi dengan baik. tidak ada bagian presentasi janin. Kemungkinan terjadinya ruptur uteri pada pasien dengan skar transversal segmen rendah adalah sebesar 0. Hal yang kurang pada pasien ini adalah pada ANC. dan pada ibu terdapat nyeri abdomen. ataupun perdarahan post partum karena sebab lainnya. dan secara sanactionam bonam. karena fungsi reproduksi pasien masih baik. Kemungkinan pasien ini menjalani SC sebelumnya dengan insisi transversal rendah. yaitu 2 tahun 2 bulan. Prognosis vitam pada pasien ini adalah bonam. Dari USG dapat diketahui pemeriksaan tebal segmen bawah uterus.5%. 5 Insisi transversa rendah lebih cenderung ruptur jika pasien menjalani lebih dari satu kali sectio sebelumnya.Vaginal Birth After Previous Caesarian 14 RSU PERSAHABATAN tetapi sekarang ini telah berkembang teknik operasi dengan sayatan transversal yang lebih aman meskipun resiko ruptur masih tetap ada. 4 Jarak antara persalinan saat ini dengan sebelumnya cukup lama. 3000 gram. Pasien ini juga memasuki masa persalinan secara spontan tanpa induksi dengan oksitosin maupun prostaglandin . Walaupun kemungkian keberhasilan VBAC besar. namun syarat VBAC tetap harus dipenuhi. perdarahan vagina dan hipovolemia. karena tidak terdapat kondisi yang mengancam nyawa. dengan Apgar Score yang baik. Dalam waktu kurang dari 4 jam sejak datang ke IGD RSU PERSAHABATAN lahir bayi perempuan. tidak ada ruptur uteri. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka persalinan pervaginam pada pasien dinilai aman untuk dilakukan. Semakin tebal segmen bawah uterus maka kemungkinan terjadinya ruptur uterus pada pasien semakin kecil. Pada VBAC pasien ini yang dilakukan di IGD RSU PERSAHABATAN sudah tersedia fasilitas dan sumber daya manusia yang memungkinkan untuk mengawasi proses VBAC serta melakukan sectio emergensi. Walaupun kemungkinannya kecil namun perlu diobservasi gejala dan tanda yang menunjukkan terjadinya ruptur uteri seperti denyut jantung fetus terjadi deselerasi atau bradikardi. Menurut penelitian. karena pasien sudah berhasil menjalani VBAC sehingga kemungkinan keberhasilan melahirkan pervaginam yang akan datang lebih besar. Secara fungsional juga bonam.

dari 5% pada tahun 1970an menjadi 26% pada tahun 2002. VBAC tampaknya berhasil pada sekitar 60-80% perempuan yang menjalani TOL. karena secara umum bedah sesar menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal serta biaya yang lebih besar dibandingkan persalinan per vaginam. Anggapan bahwa setelah seorang wanita menjalani SC maka pada persalinan berikutnya juga harus dilakukan melalui SC juga ikut berperan dalam meningkatkan angka SC. TOL pasca SC dapat diterima untuk menurunkan kelahiran melalui seksio sesaria. angka bedah sesar di Amerika Serikat meningkat dengan drastis. dengan monitor elektronik untuk mendengar denyut jantung dan kontroksi uterus (carditocography = CTG) meningkatkan angka sesar pada fetal yang lemah dan distosia. Beberapa organisasi profesional menganjurkan trial of labor (TOL) kepada semua perempuan dengan riwayat bedah sesar.2. 6 copyright©2010 .3. vaginall birth after previous cesarean section (VBAC) semakin direkomendasikan.” Pengalaman tersebut ditambah dengan mantra “Once a cesarean. penggunaan forcep. beberapa faktor meningkatkan angka kegagalan TOL yang akan meningkatkan angka kematian ibu dan janin.5 Walaupun VBAC cocok untuk wanita dengan SC transversal rendah.Vaginal Birth After Previous Caesarian 15 RSU PERSAHABATAN BAB III tinjauan pustaka Pendahuluan Insiden kelahiran melalui proses sectio cesarea (SC) meningkat secara dramatis di Amerika. Douglas et al. mencapai hampir 23% pada akhir tahun 1980-an. 4 Hampir 40 tahun lalu. 6 Sesudah itu. 1. Peningkatan ini menarik perhatian.4 Peningkatan jumlah perempuan yang menjalani elective repeated cesarean section (ERCS) telah menjadi salah satu alasan peningkatan angka kelahiran dengan bedah sesar di Amerika Serikat selama 30 tahun terakhir. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang membandingkan VBAC dengan bedah sesar berulang. 1. Mereka menyimpulkan “Keberatan yang paling besar dalam melakukan persalinan per vaginam pada pasien dengan riwayat bedah sesar disebabkan oleh bencana ruptur uterus. melaporkan adanya risiko ruptur uterus selama TOL pada pasien dengan riwayat bedah sesar. Sejalan dengan meningkatnya angka ERCS.2. always a cesarean” menyebabkan tidak dilakukannya persalinan per vaginam pada pasien dengan riwayat bedah sesar selama beberapa dekade. Pertumbuhan yang cepat terjadi karena tekanan yang meningkat yang membuat dokter tidak berani melakukan persalinan spontan pada letak sungsang.4. Pada saat yang bersamaan.

Namun para dokter menyangkal hal tersebut dan tetap lebih menyukai SC dari pada VBAC. Serta adanya guidelines dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) yang menyatakan bahwa dalam melakukan VBAC maka selama pasien berada di fase aktif persalinan harus tersedia personel obstetri. SC secara umum akan memakan waktu paling tidak kurang dari satu jam dan dapat dijadwalkan sesuai waktu yang diinginkan. Hal ini dapat dipenuhi oleh rumah sakit (RS) pendidikan atau center yang besar. 6. siang ataupun malam. Sedangkan pada TOL akan memakan waktu hingga berjam-jam dan persalinan akan terjadi pada jam berapapun. VBAC juga memiliki risiko yang lebih rendah untuk terjadinya perdarahan postpartum. 7 Banyak dokter mengatakan bahwa. Kedua adalah takut dengan masalah peradilan. komplikasi anestesi. 6 Banyak yang mengatakan bahwa SC berulang sering dilakukan para dokter karena alasan para dokter yang melakukan SC dibayar lebih banyak dibandingkan melakukan persalinan pervaginam. Alasan ketiga adalah para wanita tidak menyukai VBAC. 1 Cara yang nyata dapat membatasi peningkatan angka bedah sesar adalah dengan mengevaluasi persalinan per vaginam setelah bedah sesar. walaupun resikonya rendah. 8 copyright©2010 . hal ini terjadi karena para klinisi menemukan beberapa komplikasi saat menatalaksana pasien dengan VBAC. dan staf-staf penunjang lain yang dapat melakukan SC darurat. anestesiologi. Alasan para dokter lebih menyukai melakukan SC berulang yang pertama adalah kenyamanan. infeksi peripartum. Berbagai usaha dilakukan untuk memperbaiki keamanan VBAC difokuskan pada usaha untuk mengidentifikasi faktor risiko ruptur uterus. namun RS yang lebih kecil kesulitan dalam memenuhi persyaratan.Vaginal Birth After Previous Caesarian 16 RSU PERSAHABATAN Terdapat penurunan angka terjadinya VBAC antara tahun 1996 (40-50%) menjadi 20% pada tahun 2002. apabila terjadi ruptur atau beberapa masalah signifikan lainnya pada saat TOL. transfusi darah minimal. 7 Kelebihan dan Kekurangan Dibandingkan dengan perempuan yang menjalani bedah sesar elektif berulang. karena para wanita yang mengalami kesulitan pada persalinan pertama tentunya tidak ingin mengalami semua proses persalinan lagi dari awal. kehilangan darah lebih sedikit. perempuan yang berhasil menjalani VBAC secara umum akan dirawat di rumah sakit untuk waktu yang lebih singkat. nyeri postpartum dan penyakit tromboemboli dibandingkan perempuan yang melahirkan dengan bedah sesar berulang. maka tuntutan hukum akan mengenai para dokter. 4.

plasenta akreta dan histerektomi obstetrik. Tersedia dokter anestesi untuk sesar gawat darurat. Tersedia dokter dan fasilitas untuk memantau persalinan dan melakukan sesar gawat darurat. kehamilan ektopik. 6 Kegagalan VBAC dihubungkan dengan komplikasi maternal seperti rupture uterus.Vaginal Birth After Previous Caesarian 17 RSU PERSAHABATAN Persalinan dengan bedah sesar membatasi masa depan obstetrik seorang perempuan dalam hal menurunkan jumlah total persalinan yang mungkin. Morbiditas neonatal meningkat pada kegagalan VBAC seperti pH darah arteri umbilical dibawah 7. 8 Perempuan yang merencanakan kehamilan berikutnya mungkin memilih tidak menjalani bedah sesar berulang yang akan meningkatkan risiko ruptur uterus. copyright©2010 . histerektomi dan luka operasi. meningkatkan angka infertilitas sekunder. 5       Kelahiran sesar transversal rendah satu kali Pelvis yang adekuat Persetujuan pasien Tidak ada skar uterus dan rupture uterus sebelumnya. Jarak kelahiran juga berpengaruh pada kejadian ruptur uterus. Kejadian ruptur uterus dihubungkan dengan kematian janin dan kerusakan neurologi berat pada neonatal. Jika terjadi ruptur uteri risiko mortalitas perinatal meningkat 10. dan infeksi. di samping alasan sosial budaya. meningkatnya infeksi maternal dan tranfusi. plasenta previa. Kelahiran spontan sebelumnya juga secara signifikan menurunkan kejadian ruptur uterus. plasenta akreta. Beberapa orang menyimpulkan bahwa risiko ini kecil dibandingkan manfaat yang didapatkan jika VBAC sukses dilakukan. Skor apgar setelah 5 menit dibawah 7. Oleh karena itulah maka informed consent sangat penting sehingga setiap pasien dapat memutuskan berdasarkan pertimbangannya masing-masing. 4 Insiden kematian maternal pada VBAC sangat rendah. Angka kejadian ruptur uterus meningkat hingga 3 kali pada jarak kehamilan kurang dari 24 bulan dibandingkan dengan jarak yang lebih dari 24 bulan. 4 Kandidat VBAC Kriteria untuk menentukan calon persalinan spontan setelah sesar adalah : 4. dan morbiditas terkait pembedahan abdomen multipel. 6 Kemajuan persalinan spontan meningkatkan risiko ruptur uteri dan induksi persalinan dengan prostaglandin berhubungan dengan peningkatan risiko ruptur uteri sebanyak 15 kali. Kejadian ruptur uterus berhubungan bermakna dengan insisi pada SC sebelumnya.

dan tidak ada skar yang robek pada wanita tanpa augmentasi. Kehamilan lebih dari 40 minggu 4 Menunggu kehamilan lebih dari 40 minggu akan menurunkan keberhasilan kelahiran melalui vagina setelah sesar. 5    Riwayat insisi T-Shaped atau transfundal ekstensif Contracted pelvis Riwayat ruptur uterus copyright©2010 . Tipe skar uterus yang tidak dapat diidentifikasi 4 Pada penelitian kantrol random (n=97) membandingkan persalinan dengan augmentasi pada wanita dengan tanpa intervensi dengan riwayat sesar yang skarnya tidak diketahui. Apabila terdapat variable potensial lain maka insiden rupture uterus meningkat menjadi 5 kali lebih besar pada wanita dengan dua kali sesar dibandingkan dengan wanita satu kali sesar. Kehamilan kembar 4 Pada penelitian yang melibatkan 45 wanita hamil kembar menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dari keberhasilan kelahiran spontan setelah sesar dan rupture uterus dengan wanita hamil tunggal. wanita dengan insisi vertical rendah sebelumnya dapat berhasil melakukan persalinan melalui vagina setelah sesar sama dengan insisi transversa rendah. tetapi tidak meningkatkan kejadian rupture uterus. 5 uterus mengalami perobekan pada bekas skar. Makrosomia 4 60-90% wanita yang berusaha melahirkan melalui vagina dengan fetus makrosomia berhasil. Kejadian rupture uterus meningkat pada wanita yang belum pernah melahirkan melalui vagina. Insisi vertical rendah sebelumnya 4 Pada satu studi kasus dan 4 studi retrospektif.Vaginal Birth After Previous Caesarian 18 RSU PERSAHABATAN Lebih dari sekali sesar 4 Wanita dengan dua kali sesar transversa rendah dapat dipikirkan untuk melahirkan spontan. Kontraindikasi VBAC Usaha VBAC tidak boleh dilakukan pada keadaan: 4. Tidak ada peningkatan morbiditas maternal dan fetus. Beberapa penelitian mengemukakan resiko rupture uterus antara 1-3 %.

5% (1 dari 200). makrosomia. dan angka histerektomi 20%. Riwayat skar uterus 2 kali tanpa kelahiran melalui vagina. Angka ini turun hingga 50-60-% pada keadaan di mana akhirnya dilakukan bedah sesar karena gagalnya persalinan pada percobaan. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko ruptur uterus antara lain riwayat bedah sesar dua kali atau lebih. dokter anestesi dan dokter obsgin. herpes). plasenta previa. namun insiden “scar rupture” (timbulnya konsekuensi yang serius baik bagi ibu maupun janin) mencapai 0. angka kebutuhan transfuse 7080%. Histerektomi jarang perlu dilakukan.8 Sebenarnya kemungkinan seorang wanita yang telah mengalami SC untuk melahirkan secara normal tergantung pada beberapa faktor. 5 Keberhasilan VBAC Sebagian besar perempuan dengan riwayat satu kali mengalami bedah sesar insisi rendah sesuai untuk mengalami VBAC percobaan pada kehamilan berikutnya. Angka keberhasilannya mencapai 70-80%.Vaginal Birth After Previous Caesarian 19 RSU PERSAHABATAN     Penolakan pasien Komplikasi medis atau obstetrik untuk kelahiran melalui vagina Tidak ada fasilitas operasi sesar gawat darurat. Pada kasus yang lebih jarang. selain persalinan tidak maju pematangan serviks yang baik pembukaan serviks lebih dari 4 cm obesitas ibu makrosomia usia ibu diatas 40 tahun induksi/augmentasi Faktor-faktor yang mempertinggi angka kegagalan VBAC adalah : 1 copyright©2010 .1% (1 dari 1000). “ scar rupture” dihubungkan dengan angka mortalitas perinatal sebesar 5-15%. induksi persalinan. Insiden “scar dehiscence” (terbukanya skar bekas bedah sesar tanpa menyebabkan timbulnya konsekuensi yang serius baik bagi ibu maupun janin) hanya sekitar 0. adanya anomali Müllerian. 1 Faktor-faktor yang diidentifikasi memberikan prognosis yang baik pada VBAC adalah : 1. dan posdatisme. 8           usia kurang dari 40 tahun riwayat melahirkan per vaginam melahirkan per vaginam sejak bedah sesar (vaginal birth since caesarean section) indikasi sectio cesarea tidak rekuren (lintang.

penelitian tersebut hanya memasukkan perempuan yang memenuhi kriteria inklusi yang ketat. kegagalan pada kala II) Pada sebagian besar penelitian. dan mengeksklusi perempuan lain yang merupakan kandidat VBAC pada praktek klinik.9 Sistem Penilaian menurut Flamm 9 No 1 2 Variabel Usia < 40 tahun Partus pervaginam sebelumnya: Nilai 2 4 2 1 0 1 2 1 0 1     3 4 Sebelum dan setelah seksio Setelah seksio pertama Sebelum seksio pertama Tidak pernah Selain failure to progress > 75% 25-75% < 25% Alasan seksio sebelumnya     5 Penipisan serviks saat masuk Pembukaan saat masuk ≥ 4cm : keberhasilan VBAC 49% : keberhasilan VBAC 95% Skor 0-2 Skor 8-10 copyright©2010 . 5 Flamm dkk melakukan penelitian prospektif pada 5.022 pasien selama 2 tahun antara Januari 1990 sampai dengan Desember 1992. Informasi ini amat penting untuk memberikan pertimbangan kepada pasien yang memiliki pilihan keduanya. The admission vaginal birth after cesarean scoring system ini bermanfaat untuk konseling pasien untuk memilih VBAC atau ERCS.Vaginal Birth After Previous Caesarian 20 RSU PERSAHABATAN  indikasi sectio cesarea yang rekuren (CPD. sekitar 60-80% perempuan yang menjalani VBAC berhasil melahirkan per vaginam. Namun. Kekurangan sistem skoring ini ialah peneliti tidak menjelaskan lebih lanjut berapa angka keberhasilan antara skor 3 sampai 8. Namun dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa peningkatan skor berkaitan dengan peningkatan probabilitas keberhasilan VBAC.

8 (October 15.9 Skor 4 – 6 Skor 0 . plasenta previa.8 % : keberhasilan VBAC 60.3 Skor Maksimal 10 copyright©2010 . 2007) Score 0 to 2 3 4 5 6 7 8 to 10 Percentage of women with successful VBAC 49 60 67 77 88 93 95 Sistem skoring lain yang digunakan untuk memprediksi keberhasilan VBAC adalah Skor Alamia. 10 Sistem Penilaian untuk memperkirakan Keberhasilan VBAC dari Alamia dkk 10 No.Vaginal Birth After Previous Caesarian 21 RSU PERSAHABATAN Untuk memperbaiki kekurangan pada interpretasi skor menurut Flamm. 76/No. elektif Distosia pada pembukaan < 5 Distosia pada pembukaan > 5 Dilatasi serviks > 4 cm 2-4 cm < 2 cm 4 5 6 Station di bawah -2 Panjang serviks  1 cm Persalinan timbul spontan : keberhasilan VBAC 94. Kelemahan sistem skoring ini adalah bahwa pasien dengan skor terendah (0-3) masih memiliki kemungkinan 60% untuk keberhasilan persalinan pervaginam dan tidak disebutkan pasien dengan batasan skor berapa yang tidak layak lahir pervaginam. terdapat interpretasi yang lebih sempurna berdasarkan American Academy of Family Physicians Vol.5 % : keberhasilan VBAC 78. Variabel 1 2 Riwayat persalinan pervaginam sebelumnya Indikasi SC sebelumnya Nilai 2 2 1 0 2 1 0 1 1 1    3 Sungsang gawat janin.0 % Skor 7. gawat janin.

namun merupakan tes positif yang buruk.Vaginal Birth After Previous Caesarian 22 RSU PERSAHABATAN Tatalaksana VBAC Riwayat dua kali bedah sesar tidak mempengaruhi angka persalinan per vaginam atau komplikasi skar. pasien diberikan konseling beberapa kali selama kehamilannya. tidak boleh dilarang selama tidak ada kontraindikasi.5 mm. 8 Dengan lebih dari 1000 kasus yang dilaporkan pada literatur. Evaluasi awal mencakup penilaian ada tidaknya kontraindikasi dan penilaian rekam medis pasien jika tidak diketahui jenis insisi pada bedah sebelumnya. ACOG Guidelines for Vaginal Delivery After a Previous Cesarean Birth tahun 1988 merekomendasikan bahwa. namun memiliki nilai prediksi negative yang baik (99.3%). pemeriksaan ini memberikan sensitivitas yang rendah. USG merupakan tes negatif yang baik. dokter perlu menilai kondisi seputar riwayat bedah sesar pasiennya. kecuali jika bedah sesar kedua dilakukan atas indikasi gagalnya persalinan per vaginam. Dengan batas 3. terlihat cukup beralasan untuk dilakukan TOL pada pasien dengan dua kali SC sebelumnya. Perlu diinformasikan pula bahwa wanita yang pernah SC lebih dari dua kali memiliki resiko ruptur uterus lebih besar. 8 Hanya perempuan yang memenuhi kriteria spesifik yang ditawarkan untuk menjalani VBAC. 7 Konseling kandidat yang potensial untuk VBAC Pada pemeriksaan antenatal. Setelah penilaian lengkap. Bersama pasien. dokter perlu mendiskusikan mengenai kemungkinan copyright©2010 . Prediksi integritas skar dengan USG telah digunakan untuk mengukur ketebalan skar pada usia kehamilan 36-38 minggu. Akan tetapi masih sedikit data TOL untuk pasien yang lebih dari tiga kali SC sebelumnya. wanita dengan dua atau lebih riwayat SC sebelumnya dengan insisi low transverse yang ingin melahirkan pervaginam.

8 Asistensi dipertimbangkan jika tidak ada tanda-tanda persalinan spontan terjadi dalam 1 jam setelah ibu mengedan. kejadian yang berhubungan dengan tali pusat. pemantauan denyut jantung janin berkesinambungan secara elektronik. Jika digunakan oksitosin. dokter harus memberikan dukungan. pemeriksaan intrauterine untuk melihat integritas skar tidak rutin dilakukan. pemeriksaan hitung darah.Vaginal Birth After Previous Caesarian 23 RSU PERSAHABATAN keberhasilan VBAC. 5 Penatalaksanaan intrapartum Pelaksanaan TOL pada pasien dengan riwayat bedah sesar sebaiknya dilakukan pada tempat di mana fasilitas anestesi. jika verteks tidak berada rendah dalam rongga panggul. 8 Persalinan diharapkan mengalami kemajuan normal (misalnya pembukaan serviks dari 3 cm maju dengan kecepatan minimal 1 cm/jam) dan jika kemajuan persalinan tidak memuaskan. puasa. obstetri dan neonatal. disarankan segera mengkonsultasikan kepada ahli obstetri yang lebih berpengalaman. retraksi bagian presentasi janin pada pemeriksaan vagina. Hal-hal yang biasanya dilakukan pada pasien yang akan menjalani VBAC antara lain pemasangan akses intravena. 5 Ketika pasien datang dengan rencana TOL. Persalinan yang lambat maju dapat disebabkan oleh hipotonus maupun kelemahan skar. masih diberikan toleransi waktu maksimal 1 jam untuk kepala mengalami penurunan secara pasif. Penggunaan rutin alat pemantau tekanan intrauterus tidak memperbaiki prognosis obstetri maupun menurunkan angka ”scar rupture”. Kelahiran diharapkan terjadi dalam 12 jam setelah mulainya persalinan aktif. 8 Pemantauan denyut jantung janin sepanjang persalinan dianjurkan. perdarahan per vaginam atau hematuria. obstetri. tersedianya personel anestesi. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan risiko terjadinya korioamnionitis. kecuali jika terdapat perdarahan per vaginam persisten setelah persalinan atau jika ada kecurigaan terjadinya kerusakan integritas skar. dan bank darah tersedia dengan segera. Hal ini dapat diketahui dari peningkatan frekuensi nadi ibu maupun abnormalitas denyut jantung janin. Tanda bahaya terjadinya scar dehiscence lain seperti penghentian kontraksi secara mendadak. asalkan ibu dan janin berada dalam kondisi baik. disarankan dosisnya tidak melebihi 32 mU/menit. persalinan disfungsional dan persalinan dengan instrumen karena malposisi. 8 copyright©2010 . Dalam hal ini. Apapun keputusan pasien. 8 Pada kala tiga. dapat dipertimbangkan penggunaan forceps. serta besarnya risiko maternal dan perinatal jika TOL gagal. nyeri skar terus-menerus (tetap nyeri walaupun telah diberikan analgesia epidural). 8 Selama kala dua. perlu dipertimbangkan dilakukan amniotomi ketika pembukaan serviks mencapai 3 cm dengan tujuan untuk mengeksplorasi cairan ketuban dan memungkinan dipasangnya elektroda pada kepala janin untuk pemantauan denyut jantung janin.

Dengan kata lain oksitosin membawa beberapa resiko baik pasien dengan luka scar sebelumnya atau belum. total oksitosin yang diterima dan durasi rata-rata pemberian oksitosin. tidak terlalu berbeda signifikan dengan kasus tanpa menggunakan oksitosin. terutama dengan pemberian prostaglandin sebagai agen pembuka serviks (cervical ripening agent). Pada tahun 1987 dilaporkan penggunaan oksitosin pada 485 pasien dengan persalinan BSC dan didapatkan hasil statistik insiden ruptur uteri yang copyright©2010 . Penelitian yang ada menunjukkan peningkatan angka kegagalan termasuk komplikasi ruptur uterus. persalinan spontan lebih dipilih dibandingkan induksi maupun augmentasi. Pada penelitian yang lain angka kejadian rupture uterus pada pasien dengan augmentasi oksitosin 1 % dibanding 0. 8 Oleh karena itu. Dan tidak ada data yang menyarankan kehamilan selanjutnya lebih baik dibanding dengan perbaikan melalui operasi.1% kasus di mana induksi persalinan dilakukan menggunakan prostaglandin E2 lokal.5%. Kebanyakan skar asimtomatik akan sembuh baik. Pada tahun 1985. pada pasien yang menjalani VBAC yang mendapatkan induksi maupun augmentasi. Penggunaan misoprostol harus pula mendapatkan perhatian.4 % pada yang tidak diberi induksi. Perdarahan vagina ekstensif atau tanda hipovolemi harus segera dievaluasi secara tuntas skar dan jalur genital. 5 Pada VBAC dengan induksi persalinan. Induksi persalinan yang dipilih adalah dengan pemecahan membrane dengan augmentasi oksitosin. tidak ditemukan hubungan antara rupture uterus dengan pemberian dosis interval oksitosin. 4 Induksi dan augmentasi Pada setiap pasien yang akan menjalani VBAC. Dua kasus didapatkan ruptur uteri. risiko ruptur uteri meningkat dibandingkan dengan induksi pada persalinan spontan. 4 Sebelum 1980 hampir tidak ada data yang jelas mengenai penggunaan oksitosin selama TOL pada BSC. induksi persalinan sebaiknya hanya dilakukan atas indikasi obstetri yang valid. 8 Penggunaan Oksitosin pada Percobaan Persalinan Pervaginam pada Bekas SC 7 Oksitosin dapat menyebabkan hiperstimulasi uterin dan sering bersamaan dengan bradikadi pada janin. tidak perduli apakah sebelumnya pasien telah dilakukan SC atau belum.4-8 %. Komplikasi skar terjadi pada 1. Peningkatan ini lebih jelas jika memakai oksitosin dan prostaglandin. kurang dari 0. 21 tulisan yang dipublikasikan pada tahun 1980-1984 didapatkan lebih dari 600 kasus yang menggunakan oksitosin. Penggunaan augmentasi oksitosin pada persalinan spontan tidak meningkatkan risiko “scar dehiscence” maupun “scar rupture”. Pada penelitian case-control.Vaginal Birth After Previous Caesarian 24 RSU PERSAHABATAN Keperluan untuk eksplorasi uterus pada kelahiran yang berhasil masih controversial. Dengan demikian hal yang menjadi kontroversi adalah apakah penggunaan oksitosin aman digunakan pada VBAC? Apakah penggunaan oksitosin meningkatkan resiko terjadinya ruptur pada lesi scar sebelumnya? 7 Pemberian oksitosin dilaporkan angka kejadian rupture uterus 0.

8 Risiko VBAC Ruptur uterus Ruptur uterus. Pada laporan dengan meta analisis. multiparitas. Banyak dari publikasi tersebut. riwayat bedah sesar lebih dari satu kali. histeroskopi. analgesia epidural aman digunakan. 7 Hampir 40 tahun lalu. Dari sekitar 200 perempuan dengan skar akibat bedah sesar sebelumnya. yang lebih kontroversi dibandingkan dengan permasalahan rupture uterin. Douglas et al. Ruptur biasanya melibatkan skar terdahulu dan segmen bawah uterus. Ruptur uterus parsial (incomplete) didefinisikan sebagai terbukanya skar terdahulu. 7 Analgesia VBAC bukan merupakan kontraindikasi untuk dilakukan epidural anestesi dan pengurang rasa sakit yang adekuat. Scar dehiscence (window) merupakan pembukaan skar terdahulu dengan peritoneum viseral yang intak. riwayat perforasi uterus saat tidak hamil (kuretase. tanpa melibatkan peritoneum yang mendasarinya. 6 copyright©2010 . 5 Ruptur uterus intrapartum memerlukan tata laksana darurat pada sekitar 0. Tidak ada aspek yang berkaitan dengan TOL. Faktor yang mempengaruhinya antara lain induksi dengan oksitosin atau prostaglandin.Vaginal Birth After Previous Caesarian 25 RSU PERSAHABATAN tidak signifikan . Nielsen dkk mendapatkan tidak adanya peningkatan resiko ruptur uteri pada 406 pasien. dysfunctional labor. melaporkan adanya risiko ruptur uterus selama trial of labor (TOL) pada pasien dengan riwayat bedah sesar.5 Trial of Labor (TOL) pada bekas SC menjadi subjek yang kontroversi selama beberapa dekade. dan miomektomi). Analgesia epidural jarang menutupi gejala dan tanda ruptur uterus. Ruptur uterus komplet merupakan pemisahan skar terdahulu dengan peritoneum yang mendasarinya. dan hampir sepertiga janin meninggal. termasuk di dalamnya adalah ekstrusi isi intrauterine ke broad ligament. tanpa ekspulsi isi intrauterine. 5 Pada persalinan.5% pasien dengan skar transversal segmen rendah. 7 Resiko terjadinya ruptur pada skar uterus pada penggunaan PGE2 dan oleh sebab itu pemakaiannya perlu mendapat perhatian. 4 Cukupnya penghilang nyeri dapat meningkatkan jumlah perempuan yang memilih TOL dibandingkan bedah sesar berulang. dengan ekstrusi isi intrauterine ke rongga abdomen. pada awalnya menunjukkan bahwa TOL pada BSC tidak membedakan antara thin areas dari segmen bawah uterus yang ditemukan pada RCS dan true uterine ruptures (complete or symptomatic). metroplasti. didapatkan bahwa penggunaan oksitosin pada persalinan BSC didapatkan hasil yang tidak signifikan dan terlihat adanya hubungan dengan meningkatnya mortalitas. sering mengancam nyawa ibu dan bayi. ruptur uterus terjadi pada sekitar 1% pasien. namun dapat pula stelata dan meluas intra atau retroperitoneal. Lebih dari 50 publikasi. komplikasi VBAC yang paling serius.

000 TOL didapatkan insidens keseluruhan rupture uteri adalah 0.5% vs 0. 6 Sekitar 91 perempuan pada penelitian Lydon-Rochelle et al.8%. 7 Pada penelitiannya terhadap 20. 6 Walaupun sebagian besar laporan menyimpulkan bahwa keadaan maternal dan perinatal dapat dikatakan baik walaupun terjadi ruptur uterin.004 lainnya (5.2% rupture uterus (10 dari 5733) selama tahun 1984-1988.7) dan skor Apgar kurang dari 7 pada menit kelima (odds ratio. ketika misoprostol mulai digunakan secara luas. Di RS Kaiser Permanente di California. analog prostaglandin E1 sintetik yang poten untuk menginduksi persalinan. banyak publikasi yang melaporkan rasio kombinasi ruptur-pecah mencapai 1.7 per 1000 pasien.8% pada tahun 1990-1992 (39 dari 5022). yang secara tidak langsung menyatakan bahwa risiko tersebut tidak hanya terkait dengan peggunaan misoprostol. Mereka menyatakan bahwa risiko terkait induksi persalinan dengan prostaglandin sama antara dua periode tersebut.Vaginal Birth After Previous Caesarian 26 RSU PERSAHABATAN Meta analysis yang dipublikasikan pada tahun 1991. Dengan jumlah pasien yang mencapai 10. Angka ruptur uterus pada persalinan spontan mencapai 5. 2. namun dijumpai 4 kematian janin dan 4 kasus kelainan neurologi. 6 Risiko relatif ruptur uterus pada perempuan yang menjalani persalinan spontan sebesar 3. angka kematian neonatusnya 10 kali lebih tinggi dibandingkan 20.melaporkan risiko ruptur uterus terjadi pada 4.5%. mereka melakukan analisis secara spesifik pada kelahiran sebelum dan setelah tahun 1996. tidak memberikan informasi mengenai preparat prostaglandin yang digunakan untuk menginduksi persalinan pada penelitiannya. consisten dengan odds ratio 2. Berikutnya The American College of Obstetricians and Gynecologists memberikan peringatan mengenai penggunaan misoprostol. dapat dikatakan bahwa insidens true uterine pada planned TOL lebih kecil dari 1%.1 pada penelitian metaanalisis dengan total 39000 subjek.5%). Penting untuk ditekankan. Walaupun Lydon-Rochelle et al.000 . namun tidak membedakan antara true uterine rupture dan asymptomatic. bahwa penelitian ini merupakan observational study.5 per 1000 pasien. Dalam sebuah laporan didapatkan tidak adanya kematian maternal.2 per 1000 pasien. Dari laporan 10 tahun terakhir dengan lebih dari 11. Laporan terbaru dari Utah dan Colorado menekankan bahwa ruptur yang terjadi dapat memberikan konsekuensi yang serius.000 perempuan di Washington yang menjalani VBAC. Pada 91 perempuan ini. bukan randomized trial. yang mengalami rupture uterus memiliki angka komplikasi postpartum yang lebih besar.3 pada penelitian ini. kami menemukan 0. dibandingkan dengan pasien yang menjalani bedah sesar elektif berulang. sementara pada penggunaan induksi prostaglandin mencapai 7. Penelitian metaanalisis ini juga menemukan peningkatan bermakna pada risiko kematian janin (odds ratio. namun juga preparat prostaglandin lainnya. dari total 20 copyright©2010 . 6 Laporan sebelumnya menyatakan bahwa 5-10% risiko ruptur uterus berkaitan dengan penggunaan misoprostol. 1. LydonRochelle et al. Insidens meningkat 0. yang menjelaskan bahwa ruptur uterus ini bermakna secara klinis.2) pada TOL dibandingkan dengan bedah sesar elektif berulang.

7 Diagnosis Tanda dan gejala ruptur uterus dapat tidak kentara. dan kematian janin. tidak ada bagian presentasi janin. diharapkan bahwa penggunaan IUPC dpat menilai amplitude pada kontraksi uterus dengan menggunakan monitoring internal sehingga apabila nilainya menjadi turun ke angka nol. dimungkinkan dilakukan perbaikan defek uterus. dan syok. kelemahan.Vaginal Birth After Previous Caesarian 27 RSU PERSAHABATAN ruptur uterin dengan jumlah TOL yang tidak diketahui. Hal ini tentunya dapat menjadi alat diagnostic yang baik akan tetapi tidak semudah itu. Tanda lain adalah nyeri abdomen. Dari semua studi yang dilakukan. biasanya terjadi pada daerah tempat insisi sebelumnya.eharusan. menunjukkan bahwa IUPC. namun tidak diperlukan untuk diagnosis. kerusakan luas pada miometrium. Perdarahan per vaginam maupun perdarahan intraabdomen berhubungan dengan terjadinya ansietas. Histerektomi dilakukan jika terdapat perluasan ke pembuluh darah broad ligament. nyeri abdomen (bervariasi derajatnya. hematuria makroskopik. 4 Pemasangan Kateter tekanan intrauterine (IUPC) : dapatkah mendiagnosis uterin rupture 7 IUPC diletakkan kedalam kavitas uterus. Dari laporan ini dapat disimpulkan bahwa TOL tidaklah bebas resiko dan monitoring janin dengan baik adalah k. Diagnosis akan menjadi jelas setelah kondisi maternal atau janin atau keduanya memburuk. kecil atau tidak memiliki nilai untuk mendeteksi adanya rupture uterin. Kontraksi uterus sering berkurang baik intensitas maupun frekuensinya. 5 Tanda paling sering ruptur uterus adalah denyut jantung fetus terjadi deselerasi atau bradikardi. perdarahan vagina dan hipovolemia. Yang menarik 3 dari 4 kematian janin pada kasus ini terdapat pada ibu yang melahirkan dirumah tanpa monitoring janin. disfungsi organ permanen. sering dideskripsikan sebagai tearing sensation). Didapatkan abnormalitas pola denyut jantung janin (tersering berupa deselerasi yang dengan cepat berkembang menjadi deselerasi lambat. nyeri punggung. Loss of station of presenting part merupakan hal diagnostik. maka terjadi rupture uterin komplit. Setelah bayi lahir. Prognosis perinatal tergantung pada derajat keparahan ruptur dan hubungannya dengan plasenta dan umbilical cord. bradikardi dan akhirnya denyut jantung janin menjadi tidak terdeteksi). Kerusakan plasenta dan umbilical cord dengan cepat menimbulkan hipoksemia. 5 copyright©2010 . 7 Penatalaksanaan Pasien yang dicurigai mengalami ruptur uterus harus segera menjalani laparotomi eksplorasi dan bedah sesar. atau adanya plasenta accreta.

Vaginal Birth After Previous Caesarian 28 RSU PERSAHABATAN Kehamilan setelah ruptur uterus Jika lokasi ruptur terbatas pada segmen bawah. kerusakan janin dapat terjadi bahkan jika kelahiran terjadi dalam 18 menit setelah ruptur uterus. Teorinya. risiko berulangnya ruptur sebesar 6%. Sebagian besar komplikasi terjadi pada perempuan yang gagal pada TOL. terutama pada kasus ruptur uterus. sebelum onset persalinan. terutama jika memerlukan bedah sesar darurat. 4 Beberapa komplikasi minor lebih sering terjadi pada perempuan yang menjalani bedah sesar berulang. 5 Setelah rupture uterus maka kehamilan selanjutnya harus dengan sesar sebelum onset kelahiran. perempuan dengan riwayat ruptur uterus paling baik melahirkan bayi berikutnya dengan bedah sesar segera setelah janin matur atau pada usia kehamilan 36-37 minggu. Oleh karena itu. Namun kenyataannya. penelitian meta-analisis retrospektif dan prospektif terbaru yang membandingkan VBAC dengan bedah sesar berulang menunjukkan bahwa sebagian besar komplikasi mayor lebih cenderung dialami oleh perempuan yang menjalani VBAC. 5 Angka morbiditas dan mortalitas perinatal akibat gagalnya TOL. Bagaimanapun. angka tersebut meningkat menjadi 32%. dinilai rendah (under-appreciated). 5 copyright©2010 . Jika ruptur melibatkan segmen atas uterus. kerusakan janin dapat diminimalisasi jika kelahiran terselesaikan dengan cepat.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->