Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH NEOPLASMA OSTEOSARCOMA

Disusun oleh : Bunga Nurmalita 112080009

Febrianto Dwilaksono112080018 Novi Sagita R Yayuk Catur 112080029 112080048

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2009/2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Alla SWT. Karena dengan rahmat-Nya makalah yang berjudul Osteosarcoma dapat diselesaikan. Osteosarcoma adalah neoplasma ganas yang umum dijumpai pada tulang-tulang panjang dan lokasi terbanyak pada daerah metafisis di daerah perkembangan tulang. Osteosarcoma bertendensi kuat untuk bermetastasis di paru-paru (1,2) Osteosarkoma bisa juga ditemukan pada daerah maksillofasialis. Kira-kira 5 % dapat ditemukan pada tulang mandibula dan maksilla serta lebih sering ditemukan pada mandibula dibanding maksilla. Osteosarcoma sering terjadi pada laki-laki, paling sering pada usia muda (10-20 tahun). Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu dalam penyelesaian makalah ini. Kami sangat mengharapkan kritikan dan saran membangun untuk masukan dan perbaikan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khusus dan bagi pembaca umumnya.

Semarang,

Desember 2009

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. Kata Pengantar ......................................................................................................... Daftar Isi .................................................................................................................. Daftar Gambar ......................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... A. Latar Belakang ......................................................................................... B. Rumusan Masalah .................................................................................... C. Tujuan ....................................................................................................... D. Manfaat .................................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. BAB III LAPORAN KASUS .............................................................................. BAB IV PEMBAHASAN ....................................................................................... BAB V KESIMPULAN ......................................................................................... Daftar Pustaka

i ii iii iv 1 1 2 2 2 3 13 14 17

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Osteosarcoma pada mandibula ............................................................. Gambar 2.3 Osteosarcoma ........................................................................................ Gambar 2.4.1 Hasil X-ray ......................................................................................... Gambar 2.4.2 Hasil MRI-scan .................................................................................. Gambar 2.4.3 Mikoskropik ....................................................................................... Gambar 6.1 Tindakan pembedahan ..........................................................................

3 5 6 6 6 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Neoplasma atau sering disebut dengan kanker saat ini penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Dari banyaknya penyakit kanker yang sering ditemukan di masyarakat, salah satunya kanker tulang atau osteosarcoma. Kanker ini menempati urutan kedelapan setelah kanker otot lurik atau rabdomiosarcoma sebagai pembawa kematian pada anak. Biasanya menyerang anak usia remaja, yaitu antara 10 hingga 20 tahun. Penyakit ini diawali gejala-gejala seperti pembengkakan progresif disertai rasa nyeri dan demam. Kadang disertai trauma, misalnya jatuh, yang berakibat pada patah tulang yang terjadi di daerah tumbuhnya kanker. Patah tulang atau fraktur patologis itu seringkali terjadi karena adanya gerakan rutin. Osteosarkoma umumnya cenderung tumbuh di tulang paha, tulang lengan atas (ujung atas), ujung atas tulang kering atau lutut. Ujung-ujung tulang tersebut merupakan daerah terjadinya perubahan dan kecepatan pertumbuhan terbesar. Kanker atau tumor ganas di daerah lutut paling banyak dijumpai. Osteosarcoma adalah penyakit yang jarang dijumpai, di Amerika Serikat dilaporkan 400 kasus baru setiap tahunnya dan hanya 5% mengenai tulang maksillofasial. Inggris dilaporkan 14 kasus osteosarcoma mandibula selama 32 tahun. Sedangkan di Indonesia belum didapatkan data yang pasti. Penyakit ini terbanyak ditemukan pada dewasa muda berumur antara 20 30 tahun dan frekwensinya semakin menurun seiring dengan peningkatan usia. Kelainan lebih banyak ditemukan pada laki-laki dengan ratio laki-laki dan wanita 3 : 2.

Meski jumlahnya relatif kecil, dampak yang ditimbulkannya sangatlah besar. Bagi seseorang yang menderita akan berdampak pada kehidupan selanjutnya akibat operasi atau amputasi pada organ tubuh yang terkena kanker ini. Sebab itulah kanker tulang perlu mendapat perhatian serius.

B. Rumusan Masalah 1. Apa etiologi Osteosarcoma? 2. Bagaimana gambaran klinis dari Osteosarcoma? 3. Pemeriksaan apa yang bisa dilakukan untuk mengetahui adanya Osteosarcoma? 4. Pentalaksanaan yang harus dilakukan pada kasus Osteosarcoma?

C. Tujuan Makalah ini disusun untuk membantu pembaca untuk lebih mengetahui tentang salah satu Neoplasma maligna yaitu Osteosarcoma meliputi etiologi, gambaran klinis, pemeriksaan dan penatalaksanaan.

D. Manfaat 1. Agar dapat lebih mengetahui tentang salah satu neoplasma maligna yaitu Osteosarcoma 2. Untuk memenuhi tugas Skiil Lab Blok Oral Pathology pada LBM Neoplasma

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Neoplasma atau lazim disebut kanker adalah suatu penyakit pertumbuhan sel; oleh karena di dalam organ tubuh timbul dan berkembang biak sel-sel baru yang tumbuh abnormal, cepat, dan tidak terkendali; dengan bentuk, sifat, dan gerakan yang berbeda dari sel asalnya (Dorland, 2006). Osteosarkoma adalah neoplasma ganas yang umum dijumpai pada tulang-tulang panjang, jarang ditemukan pada tulang pipih (spt : mandibula) dan lokasi terbanyak pada daerah metafisis di daerah perkembangan tulang.

Gambar 2.1 Osteosarcoma pada mandibula

2. Etiologi Penyebab yang pasti terhadap kanker belum di ketahui secara jelas tetapi faktor-faktor predisposisi yang membantu terbetuknya kanker sudah banyak di ketahui yang disebut bahan-bahan karsinogen, sinar ultraviolet, sinar radioaktif parasif dan virus. Beberapa bukti menunjukkan osteosarcoma dapat disebabkan pula oleh faktor keturunan (genital).

3. Gambaran klinis Osteosarkoma lebih sering ditemukan pada lakilaki, timbul pada dekade kedua, yaitu antara umur 5 sampai 30 tahun, terbanyak pada umur 10 - 20 tahun. Akan tetapi bisa juga pada akhir usia dewasa yang berhubungan dengan penyakit Paget (Pagets disease). Gejala klinis yang umumnya ditemukan adalah nyeri pada jaringan yang membengkak. Gejala ini dapat ditemukan pada berbagai jenis tumor pada tulang karena peregangan pada periosteum karena pembesaran massa. Ulserasi, kehilangan gigi, penurunan berat badan, muka pucat, febris, anoreksia juga kadang ditemukan walaupun jarang. Kadang-kadang juga ditemukan defisit neurologi, seperti parastesia. Secara umum osteosarkoma timbul pada metafisis tulang panjang yang pertumbuhannya pesat, yaitu lokasi tersering pada distal femur, proksimal tibia dan fibula, dan proksimal humerus. Osteosarkoma jarang pada tulang pipih Gambaran radiologi pada daerah korteks dan medulla yang mengalami destruksi osteoblastik atau osteolisis sehingga terlihat area radiopaque dan radiolusens yang secara histopatologi menggambarkan trabekulasi tulangtulang matur yang terpisah sebagai suatu

stroma yang secara histologi tersusun dari grade rendah ke grade tinggi. Pada beberapa area dapat diamati tanda atipia dan aktifitas mitosis

Gambar 2.3 Osteosarcoma

4. Pemeriksaan Pemeriksaan klinik Inspeksi Palpasi

Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan ini dilakukan secara cermat bila ada keluhan dari penderita untuk menentukan apakah gangguan diakibatkan penekanan tumor pada saraf tertentu.

Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan radiologis (foto polos, scanning radionuklida, CT-Scan, MRI-scan, PET-scan) penting untuk menegaskan diagnosis. rontgen (x-ray) tulang yang terkena, CT-scan tulang yang terkena, MRI-scan untuk mengetahui struktur dalam tulang yang terkena, PET-scan bagian tulang yang terkena, CT-scan dada untuk melihat apakah ada indikasi penyebaran ke paru-paru, scanning tulang untuk melihat penyebaran tumor.

Gambar 2.4.1 Hasil X-ray

Gambar 2.4.2 Hasil MRI-scan

Gambar 2.4.3 Mikoskropik Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan atau penunjang guna menegaskan diagnosis. Pemeriksaan laboratorium ini meliputi pemeriksaan level LED, Hb, serum enzim alkali fosfatase, serum elektroforesis protein, serum asam fosfatase. Pemeriksaan biopsi Biopsi adalah pengambilan sebagian cell tubuh untuk diperiksa melalui mikroskop, untuk mengetahui apakah cell tersebut adalah kanker (malignant) atau non kanker(benign). Biopsi yang dimaksud merupakan proses pengambilan contoh tissue tulang yang akan digunakan untuk serangkaian tes.

5. Differensial Diagnosis Beberapa kelainan yang menimbulkan bentukan massa pada tulang sering sulit dibedakan dengan osteosarkoma, baik secara klinis maupun dengan pemeriksaan pencitraan. Adapun kelainan-kelainan tersebut adalah: 1. Ewings sarcoma

2. Osteomyelitis 3. Osteoblastoma 4. Giant cell tumor 5. Aneurysmal bone cyst 6. Fibrous dysplasia 6. Perawatan Beberapa jenis penanganan/pengobatan dapat dilakukan pada kasus osteosarcoma meliputi :

Pembedahan Pembedahan yang dilakukan di sini adalah untuk membersihkan tumor dan tissue

terdekat dari lokasi tumor, serta titik-titik kelenjar getah bening terdekat yang mungkin ditemui di sekitar lokasi tumor. Sebisanya dokter akan mengupayakan tidak perlu terjadi amputasi, cukup dengan pengangkatan tumor saja. Namun, untuk beberapa kasus, amputasi ini diperlukan sebagai tindakan pencegahan penyebaran tumor lebih lanjut.

Radioterapi (terapi radiasi) Pada jenis pengobatan ini yang dilakukan adalah memanfaatkan sinar radiasi untuk

membunuh sel-sel tumor dan menyusutkan tumor. Ada dua jenis terapi berdasarkan lokasi penyinaran, yaitu: o Terapi radiasi eksternal Penyinaran dilakukan langsung pada tumor dari luar tubuh penderita. o Terapi radiasi internal

Bahan radio-aktif ditempatkan di dalam tubuh, berdekatan dengan sel-sel tumor.

Kemoterapi Jenis terapi ini menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel tumor. Medianya

beragam, antara lain: pil, injeksi, dan melalui pipa/selang yang dimasukkan ke dalam tubuh. Obat-obatan (bentuk padat/cair) yang masuk ke dalam tubuh memanfaatkan aliran peredaran darah untuk membunuh sel-sel tumor, meski tidak jarang sel-sel sehat juga ikut terbunuh. Regimen standar kemoterapi yang dipergunakan dalam pengobatan osteosarkoma adalah kemoterapi preoperatif (preoperative chemotherapy) yang disebut juga dengan induction chemotherapy atau neoadjuvant chemotherapy dan kemoterapi postoperatif (postoperative chemotherapy) yang disebut juga dengan adjuvant chemotherapy. Kemoterapi preoperatif merangsang terjadinya nekrosis pada tumor primernya, sehingga tumor akan mengecil. Selain itu akan memberikan pengobatan secara dini terhadap terjadinya mikro-metastase. Keadaan ini akan membantu mempermudah melakukan operasi reseksi secara luas dari tumor dan sekaligus masih dapat mempertahankan ekstremitasnya. Pemberian kemoterapi postoperatif paling baik dilakukan secepat mungkin sebelum 3 minggu setelah operasi. Obat-obat kemoterapi yang mempunyai hasil cukup efektif untuk osteosarkoma adalah: doxorubicin (Adriamycin), cisplatin (Platinol), ifosfamide (Ifex), mesna (Mesnex), dan methotrexate dosis tinggi (Rheumatrex). Protokol standar yang digunakan adalah doxorubicin dan cisplatin dengan atau tanpa methotrexate dosis tinggi, baik sebagai terapi induksi (neoadjuvant) atau terapi adjuvant. Kadang-kadang dapat ditambah dengan ifosfamide. Dengan menggunakan pengobatan multi-agent ini, dengan dosis yang intensif, terbukti memberikan perbaikan terhadap survival rate sampai 60 - 80%.

Terapi Myeloablative (dengan dukungan sel batang) Untuk jenis tumor ganas yang sudah menyebar diperlukan kemoterapi yang jauh lebih

kuat untuk membunuh sel kanker. Terapi ini juga akan menghancurkan sumsum tulang. Selsel batang (yang memiliki kemampuan untuk membuat sel jenis baru) diberikan kemudian untuk penggantian sumsum tulang yang hilang.

Operasi Operasi bisa berupa amputasi atau operasi penyelamatan anggota badan yaitu

pengambilan tulang dan otot yang terkena osteosarcoma dan mengisinyanya dengan bone bank (istilahnya cangkok tulang) atau dengan special metal prosthesis. Saat ini prosedur Limb Salvage merupakan tujuan yang diharapkan dalam operasi suatu osteosarkoma. Maka dari itu melakukan reseksi tumor dan melakukan rekonstrusinya kembali dan mendapatkan fungsi yang memuaskan dari ektermitas merupakan salah satu keberhasilan dalam melakukan operasi. Dengan memberikan kemoterapi preoperatif (induction = neoadjuvant chemotherpy) melakukan operasi mempertahankan ekstremitas (limb-sparing resection) dan sekaligus melakukan rekonstruksi akan lebih aman dan mudah, sehingga amputasi tidak perlu dilakukan pada 90 sampai 95% dari penderita osteosarkoma. Dalam penelitian terbukti tidak terdapat perbedaan survival rate antara operasi amputasi dengan limb-sparing resection.17 Amputasi terpaksa dikerjakan apabila prosedur limbsalvage tidak dapat atau tidak memungkinkan lagi dikerjakan. Setelah melakukan reseksi tumor, terjadi kehilangan cukup banyak dari tulang dan jaringan lunaknya, sehingga memerlukan kecakapan untuk merekonstruksi kembali dari ekstremitas tersebut. Biasanya untuk rekonstruksi digunakan endo-prostesis dari methal.1820 Prostesis ini memberikan stabilitas fiksasi yang baik sehingga penderita dapat menginjak

(weight-bearing) dan mobilisasi secara cepat, memberikan stabilitas sendi yang baik, dan fungsi dari ekstremitas yang baik dan memuaskan. Begitu juga endoprostesis methal meminimalisasi komplikasi postoperasinya dibanding dengan menggunakan bone graft.

Gambar 6.1 Tindakan pembedahan

7. Prognosis Prognosis osteosarcoma dibagi dalam tiga grup, yaitu: Stage-I

Osteosarcoma jarang ditemukan, termasuk parosteal osteosarcoma atau central osteosarcoma tingkat rendah. Prognosis grup ini baik sekali (lebih besar dari 90%) dengan resection yang lebar. Stage-IIb

Prognosis bergantung pada lokasi tumor (proximal tibia, femur, pelvis, dll), ukuran massa tumor (dalam satuan sentimeter), derajat necrosis dari kemoterapi yang dilakukan sebelum operasi, dan faktor patologis (seperti derajat p-glycoprotein, apakah tumor yang diderita CXCR4 positif, apakah ditemukan indikasi penyebaran ke paru-paru). Untuk sampai ke tahap metastasis (menyebar ke bagian lain) dibutuhkan waktu sekitar 12 sampai 24 bulan, juga dibutuhkan sejumlah metastasis untuk sampai ke indikasi prognosis osteosarcoma metastatik. Stage-III

Keberadaan osteosarcoma yang termasuk grup ini dengan metastasis paru bergantung pada resectability tumor primer dan nodule paru, derajat necrosis tumor primer, dan mungkin juga jumlah metastasis yang terdeteksi. Keseluruhan prognosis berada dalam kisaran 30 % atau lebih besar dari nilai tersebut.

BAB III LAPORAN KASUS

Dilaporkan satu kasus, laki-laki 47 tahun dengan tumor pada rahang bawah sebelah kanan sejak 5 bulan lalu yang membesar secara progresif. Benjolan pada rahang bawah kanan bagian korpus sampai angulus mandibula berukuran 4 x 3 cm dengan konsistensi padat keras, terfiksir tetapi tidak nyeri tekan, warna kulit sama dengan sekitarnya, tidak ada pelebaran vena-vena superfisialis dan tidak terdapat ulkus. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar limfe pada regio kolli. Tidak ada parastesi dan gigi pada daerah molar sudah tidak ada. Pada foto xray terdapat lesi osteolitik pada korteks korpus mandibula, foto thorak tidak ada kelainan dan tak tampak tanda-tanda metastasis pada paru-paru, pada CT Scan mandibula terlihat tanda keganasan dengan terdapatnya daerah litik pada tulang mandibula. Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal kecuali alkali phosphatase : 631 U/L. Pemeriksaan sitologi memperlihatkan proses jinak dapat dipertimbangkan suatu adenoma kelenjar liur. Dilakukan operasi hemimandibulektomi dekstra dengan pemasangan protesa. Hasil pemeriksaan histopatologi high grade sarcoma suspek osteosarkoma. Pengobatan dilanjutkan dengan

pemberian terapi adjuvant dengan kemoterapi ( siklofosfamida 800 mg, vinkristin 2 mg, doksorubisin 80 mg selama 6 siklus).

BAB IV PEMBAHASAN

Berdasarkan laporan kasus diatas, penatalaksanaan dilakukan dengan operasi yang dilanjutkan dengan pemberian terapi adjuvant dengan kemoterapi. Keganasan ini jarang sekali ditemukan pada bagian tulang lain selain tulang panjang. Pada beberapa kepustakaan dikemukakan hanya sekitar 5 7 % dapat menyerang tulang mandibula. Biasanya keganasan ini merupakan metastasis dari keganasan di tulang panjang, tapi harus dibuktikan oleh pemeriksaan histopatologi dan juga lesi sekundernya secara histologipatologi harus sama dengan lesi ditempat primer. Pada umumnya penyebarannya melibatkan organ paru, tapi pada pasien ini belum ditemukan adanya metastasis pada paru karena menurut literatur OS yang mengenai tulang pipih kurang agresif dibandingkan bila mengenai tulang panjang karena jarang mengadakan metastasis dan kasus ini lebih sedikit ditemukan pada kelompok usia tua. OS pada tulang rahang ini sangat jarang ditemukan, bahkan di Indonesia sangat jarang dilaporkan kasus yang menyerang mandibula.

Insiden OS biasanya ditemukan pada umur dewasa muda antara umur 20 30 tahun dan lebih banyak ditemukan pada pria, tetapi yang berlokasi pada tulang rahang khususnya mandibula dan sangat jarang. Menurut kepustakaan insiden terbanyak pada dewasa muda khususnya dekade III dan IV. Mardinger et al (2001) melaporkan 14 kasus pada OS pada mandibula dengan umur penderita ratarata 33 tahun. Patel et al juga melaporkan 44 kasus OS pada kepala dan leher dengan rata-rata umur penderita 31 tahun. Etiologi OS belum jelas diketahui tetapi pengaruh radioterapi, pagets disease, fibrous displasia dan riwayat trauma dilibatkan pada patogenesis penyakit ini. Daw et al melaporkan 8 dari 18 kasus yang sebelumnya mengalami paparan radiasi dan 6 dari 8 penderita yang sebelumnya diterapi dengan retinoblastoma bilateral. Kasus ini pada mulanya dicurigai sebagai ameloblastoma oleh karena gejala dan tanda mirip dengan ameloblastoma seperti tanda asimetris pada wajah, ditemukan pada umur dewasa, tidak ada keluhan nyeri pada pemeriksaan awal. Pada penderita ini gejala awalnya penonjolan dan deformitas pada rahang kanan yang mulai dirasakan 3 bulan tetapi tidak ditemukan adanya ulkus dan juga tidak disertai nyeri. Gigi molar sebelah kanan juga sudah tidak ada. Keluhan parastesia juga tidak didapatkan. Gambaran foto panoramik bulan Mei 2006 memperlihatkan destuksi ringan pada korpus mandibula di bagian korteks. Gambaran CT Scan yang dilakukan bulan November 2006 memperlihatkan destruksi yang sangat cepat pada tulang mandibula dan penderita sudah mengeluh kadang merasa nyeri daerah mandibula kanan. OS sangat cepat berkembang dan pada tempat itu tetapi kecenderungannya terbatas untuk mengadakan metastasis. Tanda dan keluhan yang umum didapatkan adalah pembesaran massa tumor dengan atau tidak disertai nyeri atau parastesia, kehilangan gigi dan pembengkakan. Lee et al melaporkan 13 penderita OS dan 4 kasus menunjukkan gambaran osteolitik, 6 kasus osteoblastik dan 3 kasus memperlihatkan gambaran keduanya.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan alkali phosphatase sampai 631 U/L. Biasanya peningkatan alkali phosphatase mengindikasikan adanya metastasis di paru, tetapi pada kasus ini tidak didapatkan adanya metastasis yang diperlihatkan pada foto thoraks tidak ada tanda-tanda metastasis.

Hasil pemeriksaan histologi yang didapatkan 4(empat) tipe yaitu kondroblastik, osteoblastik, fibroblastik dan ada 1(satu) yang mirip dengan malignant fibrous histiocytoma. Grading patologi tinggi (3 atau 4) ditemukan pada 13 kasus dan hanya 1 yang grade rendah. Pendekatan terapi yang dilakukan adalah reseksi mandibula dekstra yang dilanjutkan segera dengan rekonstruksi dengan mempergunakan plate. Penderita selain dilakukan pembedahan juga diberikan kemoterapi post operasi atau radiasi pre atau post operasi. Secara histologi OS mengandung stroma undifferensiasi yang malignant dan bentuk osteoid neoplasma dengan peningkatan jumlah mitosis sel-sel stroma yang berproliferasi. Komponen stroma khas dense sellulariti dan pleomorphisme.10 Setelah didapatkan hasil pemeriksaan histopatologi dengan high grade sarcoma suspek osteosarkoma, lalu pengobatan dilanjutkan dengan kemoterapi adjuvant yang mempe-rgunakan regimen siklofosfamid 800 mg, vinkristin 2 mg, doksorubisin 80 mg selama 6 siklus. Setelah 20 bulan follow up tidak ditemukan tanda lokal rekuren dan matastasis jauh. Angka rata-rata harapan hidup dalam 5 tahun adalah 30 40 % dan bila dikombinasi dengan modalitas terapi lain dapat meningkat sampai lebih 80%. Penelitian oleh Patel et al di Memorial Sloan Kettering Cancer Center melakukan reseksi tumor pada 44 penderita dan dilanjutkan dengan pemberian kemoterapi sisplatin 120 mg/m2, metotreksat 12 mg/m dan doksorubisin 75 mg/m2, menunjukkan 5 year survival rate 81%. Dilaporkan juga oleh Jaffe et al pada 31 penderita dilakukan pembedahan dan pemberian kemoterapi dengan 5 year survival rate 70%.

BAB V KESIMPULAN

Osteosarkoma adalah neoplasma ganas yang umum dijumpai pada tulangtulang panjang, jarang ditemukan pada tulang pipih (spt : mandibula) dan lokasi terbanyak pada daerah metafisis di daerah perkembangan tulang. Osteosarkoma merupakan tumor ganas ke dua dari tulang. Didapatkan pada umur antara 5-30 tahun, dan terbanyak pada umur 10 20 tahun. Terdapat pada metafise tulang panjang yang pertumbuhannya cepat, terbanyak pada daerah lutut. Gejala klinis yang umumnya ditemukan nyeri pada jaringan yang membengkak, ulserasi, kehilangan gigi, penurunan berat badan, muka pucat, febris, anoreksia juga kadang ditemukan walaupun jarang. Kadang-kadang juga ditemukan defisit neurologi, seperti parastesia. Gambaran radiografi osteosarcoma tampak radiopak.

Diagnose ditegakkan dengan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiografi seperti plain foto, CT scan, MRI, bone scan, angiografi dan dengan pemeriksaan histopatologis melalui biopsi. Prognosis osteosarkoma tergantung pada staging dari tumor dan efektif-tidaknya penanganan. Penanganan osteosarkoma saat ini dilakukan dengan memberikan kemoterapi, baik pada preoperasi (induction=neoadjuvant chemotherapy, dan pascaoperasi (adjuvant chemotherapy). Pengobatan secara operasi, prosedur Limb Salvage merupakan tujuan yang diharapkan dalam operasi suatu osteosarkoma. Follow-up postoperasi pada penderita osteosarkoma merupakan langkah tindakan yang sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

Regezi

and

Sciuba.Oral

Pathology.Clinical-pathologic

corelation.2nd.ed,

Philadelphia.2003 Sudiono, Janti dkk.Ilmu Patologi.Jakarta : EGC.2003 Sudiono, Janti.Pemeriksaan Patologi untuk Diagnosis Neoplasma Mulut.Jakarta : EGC.2008 Syafriadi, Mei.Patologi Mulut, Tumor Neoplastik dan Non Neoplastik Rongga Mulut.Ed.1.Yogyakarta : ANDI.2008 http://rahyussalim.multiply.com/journal/item/25/Osteosarcoma_Apaan_sih http://health.detik.com/read/2009/11/24/090109/1247508/770/osteosarcoma

http://irmanthea.blogspot.com/2008/12/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html http://askepdankesehatan.blogspot.com/2009/03/patofisiologi-moskuloskletal.html