Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan adalah salah satu kebutuhan manusia.

dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari makanan. Sebagai kebutuhan dasar , makanan tersebut harus mengandung zat gizi untuk dapat memenuhi fungsinya dan aman dikonsumsi karena makanan yang tidak aman dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan keracunan (Moehji, 1992). Aneka produk makanan dan minuman yang berwarna-warni tampil semakin menarik. Warna-warni pewarna membuat aneka produk makanan mampu mengundang selera. Meski begitu, konsumen harus berhati-hati. Pasalnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kerap menemukan produk makanan yang menggunakan pewarna tekstil. Bahan pewarna yang sering digunakan dalam makanan olahan terdiri dari pewarna sintetis (buatan) dan pewarna natural (alami). Pewarna sintetis terbuat dari bahan-bahan kimia, seperti tartrazin untuk warna kuning atau allura red untuk warna merah. Kadang-kadang pengusaha yang nakal menggunakan pewarna bukan makanan (non food grade) untuk memberikan warna pada makanan. Demi mengeruk keuntungan, mereka menggunakan pewarna tekstil untuk makanan. Ada yang menggunakan Rhodamin B pewarna tekstil untuk mewarnai terasi, kerupuk dan minuman sirup. Padahal, penggunaan pewarna jenis itu dilarang keras, karena bisa menimbulkan kanker dan penyakit-penyakit lainnya. Pewarna sintetis yang boleh digunakan untuk makanan (food grade) pun harus dibatasi penggunaannya. Karena pada dasarnya, setiap benda sintetis yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan efek. Beberapa negara maju, seperti Eropa dan Jepang telah melarang penggunaan pewarna sintetis seperti pewarna tartrazine.Mereka lebih merekomendasikan pewarna alami, seperti beta karoten. Meski begitu, pewarna sintetis masih sangat diminati oleh para produsen makanan. Alasannya, harga pewarna sintetis jauh lebih murah dibandingkan dengan pewarna alami. Selain itu, pewarna sintetis memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik, sehingga warnanya tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan. Berbeda dengan pewarna sintetis, pewarna alami malah mudah mengalami pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Sebenarnya, pewarna alami tidak bebas dari masalah. Menurut Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), dari segi kehalalan, pewarna alami justru memiliki titik kritis yang lebih tinggi. Lantaran pewarna natural tidak stabil selama penyimpanan, maka untuk mempertahankan warna agar tetap cerah, sering digunakan bahan pelapis untuk melindunginya dari pengaruh suhu, cahaya, dan kondisi lingkungan. Bahan pewarna yang memberikan warna merah diekstrak dari sejenis tanaman. Supaya pewarna tersebut stabil maka digunakan gelatin sebagai bahan pelapis melalui sistem mikroenkapsulasi. Pewarna ini sering digunakan pada industri daging dan ikan kaleng. LPPOM MUI menyatakan penggunaan pewarna sintetis yang tidak proporsional dapat menimbulkan masalah kesehatan. Namun penggunaan bahan pewarna alami pun jika tidak dilakukan secara hati-hati dapat menjurus kepada bahan yang haram atau subhat (tak jelas kehalalannya).

B.

1. 2. 3. 4. C.

1. 2. 3. 4. D.

1. 2. E.

Meski demikian, pilihan terbaik tentu saja tetap pewarna alami, karena tidak menimbulkan efek negatif pada tubuh. Perlu diingat kalau penggunaan bahan tambahan seperti pelapis pada pewarna harus dipilih dari bahan-bahan yang halal. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut. Apa yang dimaksud dengan pewarna makanan? Apa saja jenis-jenis pewarna makanan? Apa yang dimaksud dengan rhodamin-B? Apa bahaya pemakaian rhodamin-B pada makanan? Tujuan makalah Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: Pengertian pewarna makanan; Jenis-jenis pewarna makanan; Pengertian rhodamin-B; Bahaya pemakaian rhodamin-B pada makanan; Kegunaan Makalah Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengembangan konsep ilmu pengetahuan. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi: Penulis, sebagai alat penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang konsep ilmu pengetahuan. Pembaca/guru, sebagai media informasi tentang konsep ilmu pengetahuan baik secara teoritis maupun secara praktis. Prosedur Makalah Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriftif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang akan dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoritis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan baik dari buku maupun internet. Data tersebut diolah dengan teknis analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikannya dalam konsep ilmu pengetahuan.

BAB II PEMBAHASAN F. Tinjauan Pustaka 1.1 Pengertian Pewarna Makanan Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki tampilan makanan. Secara garis besar, pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetis. Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade).

Ironisnya, di Indonesia terutama industri kecil dan industri rumah tangga makanan masih banyak menggunakan pewarna nonmakanan-pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil. Menurut Winarno (1995), yang dimaksud dengan zat pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki warna makanan yang berubah atau menjadi pucat selama proses pengolahan atau untuk memberi warna pada makanan yang tidak berwarna agar kelihatan lebih menarik. Menurut PERMENKES RI No.722/Menkes/Per/IX/1988, zat pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau member warna pada makanan. Berdasarkan sumbernya zat pewarna dibagi dalam dua golongan utama yaitu pewarna alami dan pewarna buatan. 1.2 Pewarna alami Pada pewarna alami zat warna yang diperoleh berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan seperti : caramel, coklat, daun suji, daun pandan, dan kunyit. Jenis-jenis pewarna alami tersebut antara lain : 1. Klorofil, yaitu zat warna alami hijau yang umumnya terdapat pada daun, sehingga sering disebut zat warna hijau daun. 2. Mioglobulin dan hemoglobin, yaitu zat warna merah pada daging. 3. Karotenoid, yaitu kelompok pigmen yang berwarna kuning, orange, merah orange, yang terlarut dalam lipid, berasal dari hewan maupun tanaman antara lain, tomat, cabe merah, wortel. 4. Anthosiamin dan anthoxanthim. Warna pigmen anthosianin merah, biru violet biasanya terdapat pada bunga, buah-buahan dan sayur-sayuran. 1.3 Pewarna Buatan Di Negara maju, suatu zat pewarna buatan harus melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa dulu yang kadang-kadang berbahaya dan seringkali tertinggal dalam hal akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya (Cahyadi, 2006). Namun sering sekali terjadi penyalahgunaan pemakaian pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat pewarna tekstil dan kulit untuk mewarnai bahan pangan. Bahan tambahan pangan yang ditemukan adalah pewarna yang berbahaya terhadap kesehatan seperti Amaran, Auramin, Methanyl Yellow, dan Rhodamin B. Jenis-jenis makanan jajanan yang ditemukan mengandung bahan-bahan berbahaya ini antara lain sirup, saus, bakpau, kue basah, pisang goring, tahu, kerupuk, es cendol, mie dan manisan (Yuliarti,2007). Timbulnya penyalahgunaan bahan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan, dan juga disebabkan karena harga zat pewarna untuk industri lebih murah dibanding dengan harga zat pewarna untuk pangan (Seto,2001). Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Beberapa contoh pewarna buatan yaitu : Warna kuning : tartrazin, sunset yellow Warna merah : allura, eritrosin, amaranth. Warna biru : biru berlian

Kelarutan pewarna sintetik ada dua macam yaitu dyes dan lakes. Dyes adalah zat warna yang larut air dan diperjual belikan dalam bentuk granula, cairan, campuran warna dan pasta. Digunakan untuk mewarnai minuman berkarbonat, minuman ringan, roti, kue-kue produk susu, pembungkus sosis, dan lain-lain. Lakes adalah pigmen yang dibuat melalui pengendapan dari penyerapan dye pada bahan dasar, biasa digunakan pada pelapisan tablet, campuran adonan kue, cake dan donat. Tabel 1.3.1 Pembagian pewarna sintetis berdasarkan kemudahannya larut dalam air. Pewarna Sintesis Warna Mudah larut di air Nomor Rhodamin B Merah Tidak 2. Methanil Yellow Kuning Tidak 3. Malachite Green Hijau Tidak 4. Sunset Yelow Kuning Ya 5. Tatrazine Kuning Ya 6. Brilliant Blue Biru Ya 7. Carmoisine Merah Ya 8. Erythrosine Merah Ya 9. Fast Red E Merah Ya 10. Amaranth Merah Ya 11. Indigo Carmine Biru Ya 12. Ponceau 4R Merah Ya Kelebihan pewarna buatan dibanding pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami, maka warna tersebut akan segera pudar ketika mengalami proses penggorengan (Anonim, 2008). Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organic sebelum mencapai produk akhir,harus melalui suatu senyawa antara dulu yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hal akhir, atau berbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya. Untuk zat pewarna yang tidak boleh ada. Zat warna yang akan digunakan harus menjalani pengujian dan prosedur penggunaannya, yang disebut proses sertifikasi. Proses sertifikasi ini meliputi pengujian kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media terhadap zat warna tersebut. Tabel 1.3.2 perbedaan antara zat pewarna sintetis dan alami Nomor Pembeda Zat pewarna sintesis Zat Pewarna Alami

1. Warna yang dihasilkan 2. 3. 4. 5. Variasi warna Harga Ketersediaan Kestabilan Lebih cerah Lebih homogeny Banyak Lebih murah Tidak terbatas Stabil Lebih pudar Tidak homogen Sedikit Lebih mahal Terbatas Kurang stabil

B. Pembahasan Dewasa ini keamanan penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan masih dipertanyakan di kalangan konsumen. Sebenarnya konsumen tidak perlu khawatir karena semua badan pengawas obat dan makanan di dunia secara kontinyu memantau dan mengatur zat pewarna agar tetap aman dikonsumsi. Jika ditemukan adanya potensi risiko terhadap kesehatan, badan pengawas obat dan makanan akan mengevaluasi pewarna tersebut dan menyebarkan informasinya ke seluruh dunia. Pewarna yang terbukti mengganggu kesehatan, misalnya mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker, akan dilarang digunakan. Di Indonesia tugas ini diemban oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Baik zat pewarna sintetis maupun alami yang digunakan dalam industri makanan harus memenuhi standar nasional dan internasional. Penyalahgunaan zat pewarna melebihi ambang batas maksimum atau penggunaan secara ilegal zat pewarna yang dilarang digunakan dapat mempengaruhi kesehatan konsumen, seperti timbulnya keracunan akut dan bahkan kematian. Pada tahap keracunan kronis, dapat terjadi gangguan fisiologis tubuh seperti kerusakan syaraf, gangguan organ tubuh dan kanker (Lee 2005).

2.1 Rhodamin B Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat dan dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah. Rhodamin B sering diselahgunakan untuk pewarna pangan (kerupuk,makanan ringan,es-es dan minuman yang sering dijual di sekolahan) serta kosmetik dengan tujuan menarik perhatian konsumen.
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamine B termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan (Syah et al. 2005). Namun demikian, penyalahgunaan rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan diberitakan di beberapa media massa. Sebagai contoh, rhodamine B ditemukan pada makanan dan minuman seperti kerupuk, sambal botol dan sirup di Makassar pada saat

BPOM Makassar melakukan pemeriksaan sejumlah sampel makanan dan minuman ringan (Anonimus 2006). Zat pewarna ini mempunyai banyak sinonim, antara lain D and C Red no 19, Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine dan Brilliant Pink B. Rhodamine biasa digunakan dalam industri tekstil. Pada awalnya zat ini digunakan sebagai pewarna bahan kain atau pakaian. Campuran zat pewarna tersebut akan menghasilkan warna-warna yang menarik. Bukan hanya di industri tekstil, rhodamine B juga sangat diperlukan oleh pabrik kertas. Fungsinya sama yaitu sebagai bahan pewarna kertas sehingga dihasilkan warna-warna kertas yang menarik. Sayangnya zat yang seharusnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan kertas tersebut digunakan pula sebagai pewarna makanan. Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamine B termasuk karsinogen yang kuat. Efek negatif lainnya adalah menyebabkan gangguan fungsi hati atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati (Syah et al. 2005). Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang berbahaya bila digunakan pada makanan. Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit, rhodamine B menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan di sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma (Anonimus 2006). Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian diikuti dengan analisis metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun rhodamine B tidak hanya disebabkan oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh kontaminasi senyawa anorganik terutama timbal dan arsen (Subandi 1999). Keberadaan kedua unsur tersebut menyebabkan rhodamine B berbahaya jika digunakan sebagai pewarna pada makanan, obat maupun kosmetik sekalipun. Hal ini didukung oleh Winarno (2004) yang menyatakan bahwa timbal memang banyak digunakan sebagai pigmen atau zat pewarna dalam industri kosmetik dan kontaminasi dalam makanan dapat terjadi salah satu diantaranya oleh zat pewarna untuk tekstil.

Tanda-tanda Makanan yang Mengandung Rhodamine B adalah sebagai berikut: Berwarna merah menyala, bila produk pangan dalam bentuk larutan / minuman merah berpendar atau berfotoluminesensi. Warna tidak pudar akibat pemanasan (akibat digoreng atau direbus). Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk, es puter). Kita dapat mengenali ciri makanan yang menggunakan Rhodamin B, yaitu biasanya makanan yang diberi zat pewarna ini lebih terang atau mencolok warnanya dan memiliki rasa agak pahit. Disamping itu, apabila kita ingin melakukan pewarnaan makanan yang murah namun dengan tidak melibatkan zat-zat kimia yang dapat merusak kesehatan, kita dapat menggunakan daun suji (untuk pewarna hijau), daun jambu atau daun jati (warna merah), dan kunyit (untuk pewarna kuning).

Namun pada kenyataannya,kewaspadaan dari diri individu masimg-masing dalam memilih makanan tidaklah cukup. Pengawasan dari pemerintah setempat untuk mengawasi perdagangan serta keluar-masuknya bahan kimia juga sangat diperlukan. Untuk mengantisipasi dampak keracunan dan meningkatkan keamanan pangan, rencana badan POM kedepan,akan membentuk Pusat Kewaspadaan dan Penanggulangan Keamanan Makanan di Indonesia (National Center Food Safety Alert and Respons). Tak kalah penting, badan POM perlu meningktkan koordinasi lintas sektor tentang pengelolaan dan pengamanan bahan kimia.Sampurno-Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan. 2.2 Bahaya Rhodamin B Pada Makanan Menurut Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri makanan yang diberi Rhodamin B adalah warna makanan merah terang mencolok. Biasanya makanan yang diberi pewarna untuk makanan warnanya tidak begitu merah terang mencolok. a. Tanda-tanda dan gejala akut bila terpapar Rhodamin B : 1. Jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan. 2. Jika terkena kulit dapat menimbulkan iritasi pada kulit. 3. Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, udem pada kelopak mata. 4. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda dan dapat terjadi pada saluran pencernaan. b. Tanda-tanda dan gejala kronis yang terpapar pada rhodamin B 1. Dapat terjadi gangguan fisiologis tubuh seperti kerusakan syaraf 2. Mempunyai efek racun yang berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu organ kanker serta mengakibatkan gangguan fungsi hati.

BAB III SIMPULAN DAN SARAN 3.1 Simpulan Bahan pewarna yang sering digunakan dalam makanan olahan terdiri dari pewarna sintetis (buatan) dan pewarna natural (alami). Pewarna sintetis terbuat dari bahan-bahan kimia, seperti tartrazin untuk warna kuning atau allura red untuk warna merah. Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat dan dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah. Tanda-tanda Makanan yang Mengandung Rhodamine B adalah sebagai berikut: Berwarna merah menyala, bila produk pangan dalam bentuk larutan / minuman merah berpendar atau berfotoluminesensi. Warna tidak pudar akibat pemanasan (akibat digoreng atau direbus). Banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk, es puter). 3.2 Saran

Hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung zat pewarna Rhodamin-B, karena dapat menyebabkan kanker, fungsi hati, kulit, mata, dan saluran pencernaan.

DAFTAR PUSTAKA
Moehji. 1992. Pengertian makanan. Jakarta. Cahyadi.2006. Pewarna sintesis atau pewarna buatan. Yuliarti. 2007. Penyalahgunaan pemakaian pewarna untuk sembarang bahan pangan. Seto.2001. ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan.

Anonimus. 2008. Kelebihan zat pewarna sintesis dibandingkan dengan pewarna alami . Republika Kamis 26 Januari 2008. http://www.republika.co.id/online_detail.asp?=229881&kat_id=23. Winarno FG. 1995. Zat pewarna. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Anonimus. 2006. Rhodamine B ditemukan pada makanan dan minuman di Makassar. Republika Kamis 5 Januari 2006. http://www.republika.co.id/online_detail.asp?=229881&kat_id=23. [30 September 2006]. Lee TA, Sci BH, Counsel. 2005. The food from hell: food colouring. The Internet Journal of Toxicology. Vol 2 no 2. China: Queers Network Research. Syah et al. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Subandi. 1999. Penelitian kadar arsen dan timbal dalam pewarna rhodamine B dan auramine secara spektrofotometri: Suatu penelitian pendahuluan. http://www.malang.ac.id/jurnal/fmipa/mipa/1999a.htm. [30 September 2006 ] Winarno FG. 2004. Keamanan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Diposkan oleh nizz G sukarya di 21.36 Kirimkan Ini lewat Email http://www.scribd.com/doc/24416508/Zat-Warna-Rhodamin-B http://www.scribd.com/doc/96256633/Rhodamin-B

Teknik analisa canggih Telah diketahui bahwa berbagai jenis makanan dan minuman yang beredar di Indonesia, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, telah diwarnai dengan pewarna tekstil atau yang bukan zat pewarna food grade, yaitu yang tidak diizinkan digunakan dalam makanan. Pewarna -pewarna tersebut memang lebih banyak digunakan untuk tekstil, kertas atau kulit. Seperti telah diketahui, berdasarkan beberapa penelitian telah dibuktikan bahwa beberapa zat pewarna tekstil yang tidak diizinkan tersebut bersifat racun bagi manusia sehingga dapat membahayakan kesehatan konsumen, dan senyawa tersebut memiliki peluang dapat menyebabkan kanker pada hewan-hewan percobaan. Di laboratorium yang maju, analisis pewarna makanan sudah secara rutin dilakukan, dengan berbagai metoda, teknik dan cara. Sebagian besar dari cara analisa tersebut masih berdasarkan suatu prinsip kromatografi atau pun menggunakan alat spektrophotometer. Cara tersebut digunakan untuk mendeteksi zat pewarna tersebut secara teliti, karena itu minimal diperlukan fasilitas yang cukup canggih serta dituntut tersedianya berbagai pelarut organik, yang biasanya cukup mahal harganya. Di samping itu teknik tersebut juga memerlukan tenaga terampil yang profesional. Molar extinction coefficient Rhodamin B adalah 106,000 M-1cm-1 pada panjang gelombang 542,75 nm. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari beberapa metoda yang praktis tetapi teliti untuk mengidentifikasi adanya pewarna sintetik dan bila perlu dapat membedakan jenis pewarna sintetik dalam makanan. Hal tersebut penting sekali bagi laboratorium pangan, pembuat kebijaksanaan dan organisasi pelindung konsumen agar mempunyai suatu teknik atau metoda analisis yang cepat cara kerjanya dan dapat membedakan antara zat pewarna makanan dengan pewarna tekstil. Teknik analisis tersebut seyogyanya yang cukup sederhana sehingga mudah dilakukan di tingkat rumah tangga dan di lapangan bagi penjual zat pewarna atau penjual makanan. Adanya kebutuhan yang mendesak tersebut juga ditegaskan oleh JECFA. Teknik analisa sederhana Babu & Indushekhar S (1990) dari NIN Hyderabad India, telah melaporkan hasil penelitiannya, bahwa deteksi zat pewarna sintetik dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan peralatan yang sederhana, seperti gelas, air dan kertas saring. Sehingga tidak diperlukan adanya pelarut ataupun memerlukan tersedianya peralatan khusus. Metoda ini dapat dikerjakan di rumah maupun di lapangan. Keistimewaan atau keuntungan penting dari metoda tersebut adalah karena cara analisisnya tidak membutuhkan ketersediaan zat pewarna-pewarna standar apapun. Ide dari metoda sederhana ini didasarkan pada kemampuan zat pewarna tekstil yang berbeda dengan zat pewarna makanan sintetis, di antaranya karena daya kelarutannya dalam air yang berbeda. Zat pewarna tekstil seperti misalnya Rhodamin B (merah), Methanil Yellow (kuning), dan Malachite Green (hijau), bersifat tidak mudah larut dalam air. Pada Tabel 1, dapat dilihat daftar beberapa pewarna sintetik yang mudah larut dan tidak mudah larut dalam air.

Kromatografi Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase tetap ( stationary) dan yang lain fase bergerak (mobile); pemisahan-pemisahan tergantung pada gerakan relative dari dua fase ini (Sastrohamidjojo,1991). Kromatografi kertas Prinsip kerjanya adalah kromatography kertas dengan pelarut air (PAM, destilata, atau air sumur). Setelah zat pewarna diteteskan di ujung kertas rembesan (elusi), air dari bawah akan mampu menyeret zat-zat pewrna yang larut dalam air (zat pewarn makanan) lebih jauh dibandingkan dengan zat pewarna tekstil. Sejumlah cuplikan 30-50 g ditimbang dalam gelas kimia 100 ml, ditambahkan asam asetat encer kemudian dimasukan benang wool bebas lemak secukupnya, lalu dipanaskan di atas nyala api kecil selama 30 menit sambil diaduk. Benangwool dipanaskan dari larutan dan dicuci dengan air dingin berulang-ulang hingga bersih. Pewarna dilarutkan dari benang wool dengan penambahan ammonia 10% di atas penangas air hingga bebas ammonia. Totolkan pada kertas kromatografi, juga totolkan zat warna pembanding yang cocok (larutan pekatan yang berwarna merah gunakan pewarna zat warna merah). Jarak rambatan elusi 12 cm dari tepi bawah kertas. Elusi dengan eluen 1 (etilmetalketon : aseton : air = 70 : 30 : 30) dan eluen II (2 gr NaCl dalam 100 ml etanol 50%) Keringkan kertas kromatografi di udara pada suhu kamar. Amati bercak-bercak yang timbul Perhitungan / penentuan zat warna dengan cara mengukur nilai Rf dari masing-masing bercak tersebut, dengan cara membagi jarak gerak zat terlarut oleh jarak zat pelarut. Kromatrogafi lapis tipis Diantara berbagai jenis teknik kromatrografi, kromatografi lapis tipis (KLT) adalah yang paling cocok untukk analisis obat di laboratorium farmasi (Stahl,1985). Kromatografi Lapis Tipis dapat digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion-ion organik, kompleks senyawa-senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa-senyawa organik baik yang terdapat di alam dan senyawa-senyawa organik sintetik. KLT merupakan kromatografi adsorbs dan adsorben bertindak sebagai fase stasioner. Empat macam adsorbs dan adsorben bertindak sebagai fase stasioner. Empat macam adsorben yang umum dipakai ialah silica gel ( asam silikat ), alumina ( aluminum oxydae ) , kieselguhr ( diatomeus earth ) dan selulosa. Dari keempat jenis adsorben tersebut yang paling bnayak dipakai adalah silica gel karena hampir semua zat dapat dipisahkan oleh jenis adsorban ini. Sifat sifat umum dari penyerapan-penyerap untuk kromatografi lapis tipis ini adalah mirip dengan

sifat-sifat penyerap untuk kromatografi kolom. Dua sifat yang penting dari penyerap adalah besar partikel dan homogenitasnya, karena adhesi terhadap penyokong sangat bergantung pada mereka. Fase gerak ialah medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut. Ia bergerak dalam di dalam fase diam, yaitu suatu lapisan berpori , karena ada gaya kapiler. Jika fase gerak dan fase diam telah dipilih dengan tepat, bercak cuplikan awal dipisahkan menjadi sederet bercak, masing-masing bercak diharapkan merupakan komponen tunggal dari campuran. Perbedaan migrasi merupakan dasar pemisahan kromatografi, tanpa perbedaan dalam kecepatan migrasi dari senyawa,tidak mungkin terjadi pemisahan. Reaksi kimia Cara reaksi kimia dilakukan dengan cara menambahkan pereaksi-pereaksi berikut : HCL pekat H2SO4 pekat NaOH 10% NH4OH 10% Matriks Keunggulan teknik analisa sederhana ini adalah : 1. Cara ini praktis untuk mengecek atau mengidentifikasi zat warna dalam kemasan yang akan digunakan untuk mengolah makanan secara spesifik. Bila akan menganalisis zat warna yang terdapat dalam makanan, harus diekstraksi dulu sehingga mendapatkan larutan dengan konsentrasi 1 g/l zat pewarna. 2. Para teknisi laboratorium dan lembaga konsumen, bahkan siswa SMA serta konsumen awam, kini dapat dengan mudah, cepat dan sederhana mendeteksi zat warna tekstil tersebut, bila diinginkan. 3. Keunggulan lain dari metoda sederhana ini adalah tidak diperlukannya standar pembanding (kecuali ingin mendeteksi zat pewarna apa). Akan tetapi hasil uji dengan metoda tersebut perlu pula dikonfirmasi lebih lanjut dengan uji yang dikerjakan di laboratorium dengan menggunakan metoda konvensional. Sehingga dapat benar-benar diyakini bahwa bahan pewarna tersebut tidak mengandung dyes tekstil. Hal ini penting karena terkadang hasil penelitian terbaru dapat mencabut ijin pemakaian bahan pewarna tertentu yang sebelumnya tercantum di dalam daftar pewarna yang diijinkan, seperti yang terjadi di India mengenai pemakaian Fast Red E. disusun oleh : Devianti ; Sri Eli Lestari ; Iin Indrayani ; Vina Nur Syaidah Farmasi UNISBA

HOME MAKALAH OBAT HERBAL PENGERTIAN OBAT HERBAL ABOUT SITEMAP

Artikel Herbal Site


Pusat Artikel Dan Informasi Herbal Terlengkap
Search

HOME HERBAL REVIEW HOT NEWS!! KHASIAT SPESIFIK HERBAL

Kenali 4 Zat Yang Terkandung Dalam Kosmetik Berbahaya


(2 votes, average: 4.00 out of 5)

23,786 views
admin Posted in HOT NEWS!! 9 Comments Tags: artikel herbal, bahaya kosmetik, daftar kosmetik berbahaya, info

herbal,kosmetik berbahaya

Kosmetik Berbahaya | Banyak wanita yang menginginkan dan mendambakan kulit putih mulus dan wajah cerah, meskipun mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menggunkan kosmetik berbahaya. Hal tersebut didorong dengan maraknya iklan di media yang mengusung kesan cantik identik dengan putih dan mulus. Akibat tayangan tersebut diulang-ulang dalam jangka waktu yang lama, menyebabkan banyak wanita yang sangat terpengaruh terhadap pesan yang dibawa iklan-iklan tersebut dan secara tidak langsung, dalam bawah sadar mereka, membenarkan iklan-iklan tersebut, meskipun jadan produk tersebut tidak bermanfaat bahkan kadang masuk kategori kosmetik berbahaya. Sehingga, segala cara dilakukan untuk mendapatkan kulit yang didambakannya tanpa memperhatikan dan memikirkan keamanan penggunaan produk kosmetik yang mereka pakai. Inilah mengapa banyak orang terjerumus memakai kosmetik berbahaya.

Toxic Kosmetik

Beberapa waktu terakhir ini banyak produk-produk kosmetik terutama cream pemutih, yang menawarkan efek putih dan mengkilat secara instant,meskipun tidak semua, namun kadang bila dicermati di dalamnya adakosmetik berbahaya. Dan kecendurangan masyrakat terutama wanita, sangat menggemari produk-produk ini, sehingga menyebabkan penjualan mereka laku keras dipasaran, sayangnya mereka tidak mengetahui bahwa ada produk-produk itu masuk kategori kosmetik berbahaya. Meskipun ada bahan-bahan alami yang dipakai pada kosmetik tersebut semisal : guanine yang diperoleh dari sisik ikan laut, merupakan kristal yang transparan, reflektif dan mengkilat seperti mutiara, nyatanya banyak juga bahan bahan kimia berbahaya yang dipakai pada produk-produk kosmetik berbahaya tersebut seperti: merkuri, rhodamin B, hidrokinon dan Retin-A. Rata-rata bahan-bahan dalamkosmetik berbahaya tersebut mempunyai sifat yang tidak dapat larut dalam air (non polar). Sehingga bahan-bahan tersebut akan tetap menempel pada kulit serta menumpuk dikulit dalam pemakaian jangka panjang. Sehingga inilah mengapa kosmetik berbahaya bisa menyebabkan kerusakan permanent pada kulit. Dr Retno I. Tranggono, SpKK, pendiri Ristra Institute of Skin and Health menjelaskan, Namun, kosmetika tersebut akan menyebabkan ketergantungan jika kita tidak lagi memakainya. Dari kebanyakan pasien yang datang, wajah mereka jadi menghitam dan timbul jerawat parah. Padahal awalnya wajah mereka tidak berjerawat. Hal tersebut memang wajar mengingat karen a pada dasarnya kandungan zat-zat itu dalam kosmetik berbahaya tidak cocok untuk kulit manusia. Jika tetap digunakan efeknya bukan hanya merusak kulit, tetapi juga mengakibatkan kanker kulit dan kanker sistemik. Sekali lagi, produk kosmetik berbahaya biasanya mengembel-embeli hasil yang cepat dalam penawaranya, sehingga banyak yang harus mewaspadai produk kosmetik berbahaya di pasaran.

Kandungan kimia dalam kosmetik berbahaya 1. Kosmetik berbahaya jika : mengandung Merkury

Mercury

Merkuri atau Hg /air raksa banyak terdapat di kosmetik berbahaya untuk pencerah wajah. Merkury adalah zat yang sangat beracun bersifat zat karsinogenik. Penggunaan zat ini menjadikan sebuah produk menjadi kosmetik berbahaya, meskipun awalnya memakai bahan alami. Akibat yang ditimbulkan merkuri dalam kosmetik berbahaya antara lain : Alergi perubahan warna kulit bintik-bintik hitam pada kulit iritasi kulit kerusakan permanen pada susunan syaraf, otak, ginjal gangguan perkembangan janin paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan ginjaldan inilah mengapa pemakaian merkuri dalam konsentrasi kecilpun dapat bersifat racun dan menjadikan sebuah produk masuk daftar kosmetik berbahaya, dan menjadikan sebuah produk kosmetik berbahaya untuk digunakan jangka pendek ataupun panjang.

2. Kosmetik berbahaya jika: mengandung Hidrokinon


Hidrokuinon (Hydroquinone) termasuk golongan obat keras dan masuk golongan senyawa kimia yang bersifat larut air, dan banyak sekali dipakai pada kosmetik berbahaya. Hidrokinon banyak digunakan pada produk kosmetik, karena sifatnya sebagai antioksidan, berperan dalam proses penghambatan melanogenesis (proses pembentukan melanin) sehingga mengurangi warna gelap pada kulit. Namun demikian tetap tidak bisa merubah kosmetik berbahaya menjadi layak digunakan dengan pengaruh positifnya tersebut. Bahaya kosmetik berbahan kimia kadang lebh buruk dari yang dibayangkan. Dalam dunia industri hidrokinon digunakan untuk pewarna rambut, cat kuku, senyawa untuk produksi cat, bahan bakar minyak serta pernis, dan banyak sekali pada produk kosmetik berbahaya. Dampak minimal dari hidrokinon adalah iritasi dan kulit terbakar. Namun yang paling mengerikan pada pemakain kosmetik berbahaya adalah munculnya sejumlah penyakit, seperti Vitiligo (pigmen kulit hilang sehingga terbentuk area putih seperti panu) hingga Okronosis atau kulit yang berubah hitam atau biru. Banyak sekali forum female ataupun artikel herbal yang membahas masalah ini.

3. Kosmetik berbahaya jika: mengandung Rhodamin B


Rhodamin B adalah zat pewarna sintetis yang biasa digunakan pada industri kertas dan tekstil. Seperti air dan alkohol terutama metanol serta etanol, rhodamin B juga bersifat polar dan sangat banyak digunkan pada jenis produk yg masuk kategori kosmetik berbahaya. Adanya gugus COOH dan lonepair pada atom O serta N membuat kepolarannya tidak diragukan lagi. Zat ini sering disalahgunakan sebagai zat pewarna kosmetik dan makanan. Itulah mengapa, jika terdapat zat ini, sudah pasti masuk golongan kosmetik berbahaya. Rhodamin B sangat berbahaya jika mengenai kulit, terhirup, mengenai mata dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa: iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan, dan bahaya kanker hati. Itu hanya sebagian hal yang buruk akibat penggunaankosmetik berbahaya.

4. Kosmetik berbahaya jika : mengandung Asam Retinoat / Tretinoin / Retinoic Acid (Retin A)
Asam retinoat atau tretinoin adalah bentuk asam dan bentuk aktif dari vitamin A (retinol) yang sering didapati pada kosmetik berbahaya. Bahan ini sering dipakai antara lain : pengobatan jerawat, untuk pemutih kulit, dan mengatasi kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari (sundamage. Asam retinoat juga sering dimasukkan dalam komposisi krim pemutih pada kosmetik berbahaya karena dipercaya memiliki efek pemutih. Efek asam retinoat ini adalah melalui penghambatan pigmen melanin seperti beberapa senyawa pemutih lainnya Pada penggunaan topical asam retinoat dalam kosmetik berbahaya, dapat menyebabkan iritasi kulit terutama buat yang berkulit sensitif. Sedangkan pada penggunaan sistemik (misalnya peroral) asam retinoat memiliki efek teratogenik, yaitu menyebabkan abnormalitas perkembangan janin dalam kandungan. Serta dapat menyebabkan berbagai bentuk malformasi/kecacatan pada janin.

Tips mengenali kosmetik berbahaya berbahan kimia


Ciri-ciri itu sebagai berikut :

Kulit hasil pemakaian kosmetik berbahaya dapat berubah putih dalam waktu singkat (kurang 1 minggu, tergantung kadar kandungan merkuri, makin tinggi makin lebih cepat memberikan warna putih) Krim Pada umumnya lengket. Krim pada umumnya tidak HOMOGEN (tidak menyatu & kasar), bila didiamkan minyak akan terpisah dengan bagian padat. Warna putih pada kulit umumnya pucat dan tidak lazim, Warna kosmetik berbahaya umumnya sangat mencolok, karena tidak menggunakan bahan pewarna utk kosmetik, umumnya menggunakan bahan pewarna tekstil Bila diusapkan pada kulit lengan terasa panas dan gatal. Pada pemakaian awal meyebabkan Iritasi pada kulit dan kemerahan bila terkena sinar matahari.

Saat pemakaian kosmetik berbahaya dihentikan, akan timbul jerawat kecil-kecil disertai rasa gatal, timbul bintik-bintik hitam di bawah kulit sebagian ataupun merata diwajah Warna Putih pada kulit wajah lama-kelamaan akan berubah menjadi abu-abu lalu selanjutnya kehitaman Akibat pemakaian kosmetik berbahaya yang mengandung merkuri, pori-pori tampak mengecil & halus, ini sebenarnya disebabkan lapisan kulit terluar wajah kita telah tipis & tergerus oleh logam merkuri, tampak sepintas terlihat mengecil & halus. Untuk mengujinya anda bisa merasakan dengan mencobanya pada sinar matahari, kulit terasa terbakar, gatal disertai kemerahan, hal ini dikarenakan kulit wajah sdh tidak mendapat perlindungan dari melanin yang berfungsi melindungi wajah kita dari radiasi matahari. Kadang pemakaian kosmetik berbahaya hasilnya tidak timbul jerawat sama sekali, hal ini disebabkan lapisan kulit epidermis kita telah rusak, kulit sudah tidak mengandung protein & melanin yang berfungsi untuk melindungi radiasi paparan matahar juga sudah tidak berfungsi akibat kosmetik berbahaya ini, sehingga jasad renik ataupun kuman tidak akan menyukai kulit yang telah tercemar merkuri darikosmetik berbahaya tersebut, termasuk nyamuk sekalipun. Jerawat dalam keadaan normal adalah berfungsi sebagai indikator tingkat kandungan protein di dalam kulit, hal ini juga untuk mengontrol perawatan kulit wajah, bila anda lupa untuk melakukan kebersihan wajah, umumnya jerawat akan timbul, pada paparan merkuri dan lainya pada kosmetik berbahaya, hal ini tidak terjadi lagi, karena struktur protein kulitnya telah berubah & menjadi rusak.

Berikut ini daftar 27 merk kosmetik yang dilarang peredarannya oleh BPOM :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

DOCTOR KAYAMA Whitening Day Cream, CV. Estetika Karya Pratama, Jakarta, mengandung Merkuri. DOCTOR KAYAMA Whitening Night Cream, CV. Estetika Karya Pratama, Jakarta, mengandung Merkuri. MRC Putri Salju Cream, CV. Ngongoh Kosmetik, Bekasi, mengandung Retinoic Acid. MRC PS Crystal Cream, CV. Ngongoh Kosmetik, Bekasi, mengandung Retinoic Acid. BLOSSOM Day Cream, mengandung Merkuri BLOSSOM Night Cream, mengandung Merkuri Cream Malam, Distributor Lily Cosmetics Yogyakarta, mengandung Merkuri. Day Cream Vitamin E Herbal PT. Locos Bandung, mengandung Merkuri. LOCOS Anti Fleck Vit E & Herbal, PT LOCOS bandung, mengandung Merkuri. Night Cream Vit E Herbal, PT Locos Bandung, mengandung Merkuri KOSMETIK IBU SARI Cream Siang, mengandung Merkuri. Krim Malam, mengandung Merkuri. MEEI YUNG (putih), Ghuang Zhou, mengandung Merkuri. MEEI YUNG (kuning), Ghuang Zhou, mengandung Merkuri. NEW RODY Special (putih), Shenzen China, mengandung Merkuri. NEW RODY Special (kuning), Shenzen China, mengandung Merkuri. SHEE NA Whitening Pearl Cream, Atlie Cosmetic, Mengandung Merkuri. AILY CAKE 2 in 1 EYE Shadow 01, mengandung Merah K.3. BAOLISI Eye Shadow, Baolishi Group Hongkong, mengandung Rhodamin B.

20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27.

CAMEO Make Up Kit 3 in 1 Two Way Cake & Multi Eye Shadow & Blush, Tailamei CosmeticIndustrial Company, mengandung Rhodamin B. CRESSIDA Eye Shadow, mengandung Rhodamin B. KAI Eye Shadow & Blush On, mengandung Rhodamin B. MEIXUE YIZU Eye Shadow, Meixue Cosmetic Co. Ltd, mengandung Merah K.10. NUOBEIER Blusher, Taizhou Zhongcun Tianyuan, mengandung merah K.3. NUOBEIER Blush On, mengandung merah K.3 NUOBEIER Pro-Make Up Blusher No.5, Taizhou Zhongcun Tianyuan Daily Use Chemical Co.Ltd, mengandung Merah K.3 SUTSYU Eye Shadow, Sutsyu Corp Tokyo, mengandung Merah K.3