Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN I.

1 LATAR BELAKANG Pada zaman modern ini, tidak sedikit masyarakat yang bersikap anti sosial. Dilihat dari begitu cepatnya perkembangan teknologi yang menyebabkan seseorang tidak perlu bertatap muka langsung untuk melakukan suatu komunikasi. Begitu juga dengan masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan, pendidikan, serta masalah lingkungan yang dianggap perlu ditangani namun masih sedikit mendapat kepedulian dari masyarakat. Seperti yang kita ketahui bersama setelah sekian lama upaya-upaya pembangunan perkotaan dan pedesaan di Indonesia dilakukan, ternyata hasilnya belum seperti yang kita harapkan. Permasalahan pembangunan yang belum terpecahkan dan masih menuntut perhatian kita antara lain adalah masih adanya kesenjangan pembangunan antar daerah(disparitas), relasi atau keterkaitan antara perkotaan dan perdesaan yang kurang sinergis, wilayah-wilayah yang tertinggal dan persoalan kemiskinan. Bahkan tingkat persoalan kemiskinan semakin besar setelah krisis ekonomi terjadi, baik pada tahun 1998, atau pun tahun 2008 lalu. Disparitas (kesenjangan) pembangunan antar daerah dapat dilihat dari kesenjangan dalam: (a) pendapatan perkapita, (b) kualitas sumber daya manusia, (c) ketersediaan sarana dan prasarana seperti transportasi, energi dan telekomunikasi, (d) pelayanan sosial seperti kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya, dan (e) akses ke perbankan. Disparitas pembangunan tersebut diduga merupakan faktor utama yangmenyebabkan masih tingginya angka kemiskinan, terutama di pedesaan, hingga kini. Kemiskinan terus menjadi masalah sosial yang fenomenal sepanjang sejarah Indonesia. Dalam negara ini, nampaknya tidak ada persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan dan tidak adanya investasi, kurangnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan sosial dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas.
1

Pendek kata, kemiskinan merupakan persoalan yang maha kompleks dan kronis. Karena sangat kompleks dan kronis, maka cara penanggulangan kemiskinan pun membutuhkan analisis yang tepat, melibatkan semua komponen permasalahan, dan diperlukan strategi penanganan yang tepat, berkelanjutan dan tidak bersifat temporer. Hal tersebutlah yang pada akhirnya membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) mengeluarkan sebuah program inisiatif yang bertujuan untuk melakukan pembangunan di berbagai aspek, baik ekonomi maupun sosial, di negara-negara berkembang, yang dikenal dengan nama Millennium Development Goals (MDGs), atau Tujuan Pembangunan Millenium. MDGs ini mencakup delapan komponen besar. Tujuh dari delapan tujuan itu, khusus negara berkembang, antara lain mengurangi setengah dari total jumlah orang miskin dan kelaparan, mencukupi kebutuhan pendidikan dasar, menghapuskan ketidaksetaraan gender, mengurangi 2/3 angka kematian balita, mengurangi 3/4 rasiokematian ibu akibat melahirkan, menghentikan penularan HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya, dan menghentikan perusakan lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan. Tujuan kedelapan ialah mengenai peran negara maju untuk membantu negara-negara berkembang melaksanakan ketujuh target MDGs. Pengurangan angka kemiskinan menjadi tujuan utama dari MDGs ini. Hal ini terlihat dari poin pertama komponen besar MDGs yang semuanya ditargetkan pada tahun 2015. Namun, yang perlu diperhatikan saat ini ialah mengenai bagaimana efektivitas MDGs ini dalam menanggulangi permasalahan kemiskinan sebagai permasalahan sosial, serta bagaimana komitmen dan kerjasama yang dilakukan oleh negara berkembang dan negara maju dalam mewujudkan tujuan MDGs dengan sisa waktu yang ditargetkan ini. I.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apa saja yang menjadi ruang lingkup dari MDGs ? 2. Bagaimana pencapaian program MDGs didunia khususnya di Indonesia ?

I.3 TUJUAN PENULISAN


Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kesehatan Maternal dan Perinatal.. Adapun tujuan umum dari penyusunan makalah ini adalah :

1. Mengetahui apa saja yang menjadi ruang lingkup dari program MDGs. 2. Mengetahui bagaimana pencapaian program MDGs di dunia khususnya di Indonesia. I.4 MANFAAT PENULISAN 1. Memberikan analisa mengenai keberadaan MDGs dalam menyelesaikan masalah kemiskinan yang berdampak besar pada masalah sosial khususnya di Indonesia. 2. Memberikan kontribusi sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil kebijakan berikutnya. 3. Sebagai bahan informasi bagi penulis untuk menambah wawasan dan sebagai bahan latihan untuk menganalisis sebuah permasalahan. 4. Sebagai bahan informasi bagi pembaca yang tertarik sebagai bahan pertimbangan dan referensi pada penelitian lanjutan atau penelitian lainnya. I.5 METODE PENULISAN
Sistematika Penulisan di dalam makalah ini terdiri dari empat bab yaitu: 1. Bab I berisi Pendahuluan, 2. Bab II berisi Tinjauan Pustaka, 3. Bab III berisi Pembahasan, 4. Bab IV berisi Penutup.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 KONSEP KEMISKINAN Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok, seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. Bappenas (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat desa antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Untuk mewujudkan hakhak dasar masyarakat miskin ini, Bappenas menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain; pendekatan kebutuhan dasar (basic (incomeapproach), pendekatan dan pendekatan objective and subjective. (Sumber : http://arfandifkmunhas.blogspot.com/2009/05/makalah-mdgs06.html) Dari pendekatan-pendekatan tersebut, indikator utama kemiskinan menurut Bappenas dapat dilihat dari: 1. Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, dilihat dari stok pangan yang terbatas, rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita dan ibu. 2. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan disebabkan oleh kesulitan mendapatkan layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, dan kurangnya layanan kesehatan reproduksi, jarak fasilitas layanan kesehatan yang jauh, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal. Di sisi lain, utilisasi rumah sakit masih
4

needsapproach), pendekatan pendapatan dasar (human capability approach)

kemampuan

didominasi

oleh

golongan dan

mampu,

sedang mutu

masyarakat layanan

miskin

cenderung yang

memanfaatkan pelayanan di Puskesmas. 3. Terbatasnya akses rendahnya pendidikan disebabkan oleh kesenjangan biaya pendidikan, fasilitas pendidikan yang terbatas, biaya pendidikan yang mahal, kesempatan memperoleh pendidikan yang terbatas, tingginya beban biaya pendidikan baik biaya langsung maupun tidak langsung. 4. Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga. 5. Terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi. Masyarakat miskin yang tinggal di kawasan nelayan, pinggiran hutan, dan pertanian lahan kering kesulitan memperoleh perumahan dan lingkungan permukiman yang sehat dan layak. 6. Terbatasnya akses terhadap air bersih. Kesulitan untuk mendapatkan air bersih terutama disebabkan oleh terbatasnya penguasaan sumber air dan menurunnya mutu sumber air. 7. Lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah. Masyarakat miskin menghadapi masalah ketimpangan struktur penguasaan dan pemilikan tanah, serta ketidakpastian dalam penguasaan dan pemilikan lahan pertanian. 8. Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam. Masyarakat miskin yang tinggal di daerah perdesaan, kawasan pesisir, daerah pertambangan dan daerah pinggiran hutan sangat tergantung pada sumberdaya alam sebagai sumber penghasilan. 9. Lemahnya jaminan rasa aman. 10. Lemahnya partisipasi. Berbagai kasus penggusuran perkotaan, pemutusan hubungan kerja secara sepihak, dan pengusiran petani dari wilayah garapan menunjukkan kurangnya dialog dan lemahnya pertisipasi mereka dalam pengambilan keputusan. 11. Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga dan adanya tekanan hidup yang mendorong terjadinya migrasi. (Sumber : www.setneg.go.id/index.php? option=com_content&task=view&id=4044&itemid=29 )
5

II.2 MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS Masalah yang timbul dalam masyarakat seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, bencana alam dan bahkan kelaparan menjadi sulit ditanggulangi oleh pemerintahan yang tidak efisien. Secara global bahkan dunia sudah menyadari bahwa tanpa bekerja sama antar negara mustahil pembanguan berkeadilan terutama bagi negara negara dunia ketiga akan tercapai. Untuk itulah 189 negara anggota PBB pada tahun 2000 mendeklarasikan Millenium Development Goals (MDGs).

Millenium Development Goals (MDGs) pada dasarnya mewujudkan komitmen internasional yang dibuat di Perserikatan Bangsa-Bangsa Dunia pada konferensi Summits dan global sepanjang tahun 1990-an, seperti KTT Dunia untuk Anak, Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua 1990 di Jomtien, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan 1992 di Rio de Janeiro, dan KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial 1995 di Copenhagen. Kemudian, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan September 2000 di New York, sebanyak 189 negara anggota PBB yang sebagian besar diwakili oleh kepala pemerintahan, termasuk presiden Indonesia, sepakat untuk menandatangi Deklarasi Milenium yang diadopsi dari komitmen sebelumnya. Deklarasi Milenium inilah yang berisi Millenium Development Goals (MDGs). (sumber : http://mdgs-dev.bps.go.id/main.php?link=mdgsindonesia) II.2.1 DEFINISI MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs)

Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada
6

saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut. Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah Tujuan Pembangunan dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Milenium) II.2.2 SASARAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs)

Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui agar semua negara:

A. Memberantas Kemiskinan Dan Kelaparan

Pendapatan populasi dunia sehari $1. Menurunkan angka kemiskinan.

Target : Pendapatan UMR diatas 2.3. Dengan pendapatan $1 perhari di indonesia tidak mencukupi sehingga diharapkan dapat melebihi indikator yang ditetapkan.

B. Mencapai Pendidikan Untuk Semua

Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar.

Target : Melek Huruf-anak usia 15-24 tahun, perempuan dan laki-laki. Menurunnya angka but ahuruf pada usia produktif. Pencapaian pendidikan dasar untuk semua masyarakat.

C. Mendorong Kesetaraan Gender Dan Pemberdayaan Perempuan

Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015

Target : Kesetaraan gender dalam bidang tenaga kerja dalam bentuk profesi apapun. Sebagai contohnya saat ini sudah banyak wanita di Indonesia yang menduduki pekerjaan dalam bidang legislatif.

D. Menurunkan Angka Kematian Anak Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun. Target : Pemberian imunisasi untuk anak dibawah 1 tahun. Penyuluhan mengenai pentingnya higiene industri untuk kesehatan anak. Menanggulangi penyakit penyebab kematian anak tertinggi di Indonesia yaitu ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)

E. Meningkatkan Kesehatan Ibu Target untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan. Target :

Ibu melahirkan melakukan persalinan dengan ditolong oleh tenaga ahli. Pemeriksaan kehamilan secara rutin di pelayanan kesehatan. Sosialisasi yang baik mengenai alat kontrasepsi.

F. Memerangi HIV/AIDS, Malaria Dan Penyakit Menular Lainnya Target untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya. Target : Kasus TBC yang terdeteksi dan sembuh di bawah pengobatan yang diawasi secara langsung. Penduduk dengan infeksi HIV lanjut mendapat akses terhadap obat antiretroviral.

G. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan. Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat.

10

Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh.

Target : Kebutuhan lahan oenghijauan yang terpenuhi. Mengurangi emisi gas CO2 di bumi dengan cara go green. Ketersediaan sanitasi yang baik dalam lngkungan rumah tangga. Terpenuhinya kebutuhan air minum dan air bersih.

H. Mengembangkan Kemitraan Global Untuk Pembangunan Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional. Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan. Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang.

11

Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang.

Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda. Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang.

Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Target : komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangunan dan pengentasan kemiskinan baik nasional dan internasional Setiap negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian diharapkan membuat laporan MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah koordinasi Bappenas dibantu dengan Kelompok Kerja PBB dan telah menyelesaikan laporan MDG pertamanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan rasa kepemilikan pemerintah Indonesia atas laporan tersebut. Laporan Sasaran Pembangunan Milenium ini menjabarkan upaya awal pemerintah untuk menginventarisasi situasi pembangunan manusia yang terkait dengan pencapaian sasaran MDGs, mengukur, dan menganalisa kemajuan seiring dengan upaya menjadikan pencapaianpencapaian ini menjadi kenyataan, sekaligus mengidenifikasi dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah yang dibutuhkan untuk memenuhi
12

sasaran-sasaran ini. Dengan tujuan utama mengurangi jumlah orang dengan pendapatan dibawah upah minimum regional antara tahun 1990 dan 2015, Laporan ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam jalur untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, pencapaiannya lintas provinsi tidak seimbang. Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Walaupun mengalamai kendala, namun pemerintah memiliki komitmen untuk mencapai sasaran-sasaran ini dan dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs di Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan implementasinya di masa depan. Hal ini termasuk kampanye untuk perjanjian tukar guling hutang untuk negara berkembang sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai MDGs di daerah Asia dan Pasifik. (Sumber : http://pastipanji.wordpress.com/2010/07/11/millennium-development-goals/)

13

BAB III PEMBAHASAN III.1 PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS DI DUNIA Kemajuan menuju mencapai tujuan telah merata. Beberapa negara, seperti Brazil, telah mencapai banyak tujuan, sementara yang lain, seperti Benin, tidak di jalur untuk menyadari setiap. Negara-negara besar yang telah mencapai tujuan mereka termasuk Cina (yang penduduknya kemiskinan telah mengurangi 452,000,000-278,000,000) dan India karena jelas faktor internal dan eksternal penduduk dan perkembangan ekonomi Bank Dunia memperkirakan. bahwa MDG 1A (mengurangi separuh proporsi penduduk yang hidup dengan kurang dari $ 1 per hari) dicapai pada tahun 2008 terutama disebabkan oleh hasil dari kedua negara dan Asia Timur. Namun, daerah yang membutuhkan penurunan yang paling, seperti sub-Sahara Afrika daerah belum melakukan perubahan drastis dalam meningkatkan kualitas hidup mereka. Selama rentang waktu yang sama seperti Cina, sub-Sahara Afrika mengurangi kemiskinan sebesar satu persen belaka dan berada pada risiko utama tidak memenuhi MDGs pada tahun 2015. Meskipun tingkat kemiskinan di sub-Sahara Afrika menurun dalam kecil persen, ada beberapa keberhasilan mengenai tujuan milenium pembangunan di sub-Sahara Afrika. Dalam kasus MDG 1, sub-Sahara daerah mulai memberantas kemiskinan dengan memperkuat industri produksi padi.
14

III.2 PENCAPAIAN INDONESIA

MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS

(MDGs) DI

MDGs 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, sebagaimana diukur oleh indikator USD 1,00 per kapita per hari, menjadi setengahnya. Kemajuan juga telah dicapai dalam upaya untuk lebih menurunkan lagi tingkat kemiskinan, sebagaimana diukur oleh garis kemiskinan nasional dari tingkat saat ini sebesar 13,33 persen (2010) menuju targetnya sebesar 8 - 10 persen pada tahun 2014. Prevalensi kekurangan gizi pada balita telah menurun dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007, sehingga Indonesia diperkirakan dapat mencapai target MDG sebesar 15,5 persen pada tahun 2015. Pioritas kedepan untuk menurunkan kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan infrastrukur pendukung, dan memperkuat sektor pertanian. Dimana perhatian khusus diberikan pada : A. Perluasan fasilitas kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); B. Pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses dan

penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya; C. Peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan sosial dan D. Perbaikan penyediaan proteksi sosial bagi kelompok termiskin.

MDGs 2: MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA Upaya Indonesia untuk mencapai target MDG tentang pendidikan dasar dan melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (on-track). Bahkan Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar universal. Pada tahun 2008/09 angka par sipasi kasar (APK)

15

SD/MI termasuk Paket A telah mencapai 116,77 persen dan angka par sipasi murni (APM) sekitar 95,23 persen. Pada tingkat sekolah dasar (SD/MI) secara umum disparitas par sipasi pendidikan antarprovinsi semakin menyempit dengan APM di hampir semua provinsi telah mencapai lebih dari 90,0 persen. Tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDG pendidikan adalah meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. Berbagai kebijakan dan program pemerintah untuk menjawab tantangan tersebut adalah: A. Perluasan akses yang merata pada pendidikan dasar khususnya bagi masyarakat miskin;
B. Peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan;

C. Penguatan

tatakelola

dan

akuntabilitas

pelayanan

pendidikan.

Kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen dari jumlah anggaran nasional akan diteruskan untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal pada tahun 2015.

MDGs 3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEREMPUAN

PEMBERDAYAAN

Berbagai kemajuan telah dicapai dalam upaya meningkatkan kesetaraan gender di semua jenjang dan jenis pendidikan. Rasio angka par sipasi murni (APM) perempuan terhadap laki-laki di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturut-turut sebesar 99,73 dan 101,99 pada tahun 2009, dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun telah mencapai 99,85. Oleh sebab itu, Indonesia sudah secara efek f menuju (on-track) pencapaian kesetaraan gender yang terkait dengan pendidikan pada tahun 2015. Di bidang ketenagakerjaan, terlihat adanya peningkatan kontribusi

16

perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor non pertanian. Di samping itu, proporsi kursi yang diduduki oleh perempuan di DPR pada Pe milu terakhir juga mengalami peningkatan, menjadi 17,9 persen. Prioritas ke depan dalam mewujudkan kesetaraan gender melipu : A. Peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan; B. Perlindungan perempuan terhadap berbagai ndak kekerasan; dan C. Peningkatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan.

MDGs 4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signikan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, sehingga target sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan dapat tercapai. Namun demikian, masih terjadi disparitas regional pencapaian target, yang mencerminkan adanya perbedaan akses atas pelayanan kesehatan, terutama di daerah-daerah miskin dan terpencil. Prioritas kedepan adalah memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin dan daerah terpencil.

MDGs 5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBU Dari semua target MDGs, kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. Di Indonesia, angka kematian ibu melahirkan (MMR/Maternal Mortality Rate) menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Target pencapaian MDG pada tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup, sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target tersebut. Walaupun pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih cukup tinggi, beberapa faktor seperti risiko tinggi pada saat kehamilan dan aborsi perlu mendapat perhatian. Upaya menurunkan angka kematian ibu didukung pula dengan meningkatkan angka pemakaian kontrasepsi dan menurunkan unmet need yang dilakukan melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Ke depan, upaya peningkatan kesehatan ibu
17

diprioritaskan pada perluasan pelayanan kesehatan berkualitas, pelayanan obstetrik yang komprehensif, peningkatan pelayanan keluarga berencana dan penyebarluasan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat. MDGs 6: MEMERANGI HIV/AIDS, MALARIA DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA Tingkat prevalensi HIV/AIDS cenderung meningkat di Indonesia, terutama pada kelompok risiko tinggi, yaitu pengguna narkoba suntik dan pekerja seks. Jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Indonesia meningkat dua kali lipat antara tahun 2004 dan 2005. Angka kejadian malaria per 1.000 penduduk menurun dari 4,68 pada tahun 1990 menjadi 1,85 pada tahun 2009. Sementara itu, pengendalian penyakit Tuberkulosis yang melipu penemuan kasus dan pengobatan telah mencapai target. Pendekatan untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini terutama diarahkan pada upaya pencegahan ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Selain itu, pengendalian penyakit harus melibatkan semua pemangku kepentingan dan memperkuat kegiatan promosi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

MDGs 7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP Tingkat emisi gas rumah kaca di Indonesia cukup tinggi, walaupun upaya peningkatan luas hutan, pemberantasan pembalakan hutan, dan komitmen untuk melaksanakan kerangka kebijakan penurunan emisi karbon dioksida dalam 20 tahun kedepan telah dilakukan. Proporsi rumah tangga dengan akses air minum layak meningkat dari 37,73 persen pada tahun 1993 menjadi 47,71 persen pada tahun 2009. Sementara itu, proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi layak meningkat dari 24,81 persen (1993) menjadi 51,19 persen (2009). Upaya untuk mengakselerasi pencapaian target air minum dan sanitasi yang layak terus dilakukan melalui investasi penyediaan air minum dan sanitasi, terutama untuk melayani

18

jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat. Untuk daerah perdesaan, penyediaan air minum dan sanitasi dilakukan melalui upaya pemberdayaan masyarakat agar memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan infrastruktur dan pembangunan sarana. Di samping itu, perlu dilakukan upaya untuk memperjelas peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya air dan pengelolaan sistem air minum dan sanitasi yang layak. Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan menurun dari 20,75 persen pada tahun 1993 menjadi 12,12 persen pada tahun 2009. Upaya untuk penurunan proporsi rumah tangga kumuh dilakukan melalui penanganan pemukiman kumuh.

MDGs 8: MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN Indonesia merupakan partisipan aktif dalam berbagai forum internasional dan mempunyai komitmen untuk terus mengembangkan kemitraan yang bermanfaat dengan berbagai organisasi multi lateral, mitra bilateral dan sektor swasta untuk mencapai pola pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada penurunan ngkat kemiskinan (pro-poor). Indonesia telah mendapat manfaat dari mitra pembangunan internasional. Untuk meningkatkan efektas kerjasama dan pengelolaan bantuan pembangunan di Indonesia, Jakarta Commitment telah ditandatangani bersama 26 mitra pembangunan pada tahun 2009. Bersamaan dengan ini, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya rasio pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB dari 24,6 persen pada tahun 1996 menjadi 10,9 persen pada tahun 2009. Sementara itu, Debt Service Ratio Indonesia juga telah menurun dari 51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen pada tahun 2009. Untuk meningkatkan akses komunikasi dan informasi, sektor swasta telah membuat investasi besar ke dalam teknologi informasi dan komunikasi, dan akses pada telepon genggam, jaringan PSTN, dan

19

komunikasi internet telah meningkat sangat pesat selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2009, sekitar 82,41 persen dari penduduk Indonesia mempunyai akses pada telepon seluler.

BAB IV PENUTUP IV.1 KESIMPULAN Perencanaan yang matang dari suatu organisasi sangatlah menetukan. Pembangunan yang berhasil dapat diukur dari keseimbangan antara pertumbuhan dan juga pemerataan. Pertumbuhan yang tinggi tidak menjamin pemerataan tinggi pula. Dalam hal ini, pemerintah melalui Bappenas seharusnya memegang peranan penting dalam mengatasi kemiskinan dan kelaparan. Millenium development goals hanyalah sebuah acuan untuk pembangunan di Indonesia. Pengentasan kemiskinan di Indonesia sangat bergantung pada adanya kesadaran masyarakatnya untuk mengembangkan diri sendiri. Sedangkan pemerintah hanyalah fasilitator, dan pembuka jalan keluar bagi kemiskinan di Indonesia. Walau begitu peran pemerintah juga sangat menentukan nasib bangsanya, pemerintah yang produktif serta tidak konsumtif dan berlandaskan kepada kepentingan rakyatnya dapat menjadi contoh yang besar

20

bagi rakyat untuk mendukung upaya-upaya pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Karena sumber daya yang melimpah bukanlah suatu indikator kayanya suatu bangsa, namun cara bangsa tersebut mengolah sumber dayanya hingga menjadi sebuah pendapatan negaralah yang menjadi indikator majunya sebuah bangsa. IV.2 SARAN 1. Menuju pencapaian MDGs 2015 dibutuhkan kerja sama lintas sektor tidak hanya satu atau dua pihak namun semuanya ikut bekerja sama. 2. Memberikan sosialisasi secara menyeluruh dengan menggunakan metode komunikasi yang baik dan dapat dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

http://arfandifkmunhas.blogspot.com/2009/05/makalah-mdgs_06.html UNHAS

MDGs

http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Milenium - Wikipedia tujuan pembangunan millenium

http://mdgs-dev.bps.go.id/ - Badan Pusat Statistik BPS http://www.academia.edu/1841758/MILLENNIUM_DEVELOPMENT_GOALS_M DGs_DALAM_PENGENTASAN_KEMISKINAN - MDGs UGM

21

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI i ii

BAB I

PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Rumusan Masalah I.3 Tujuan Penulisan I.4 Kegunaan Penulisan I.5 Metode Penulisan 2 2 3 3 3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Konsep Kemiskinan 4

22

II.2 Millennnium Development Goals II.2.1 Definisi MDGs II.2.2 Sasaran MDGs

6 6 7

BAB III

PEMBAHASAN III.1 Pencapaian MDGs di Dunia III.2 Pencapaian MDGs di Indonesia 14 14

BAB IV

PENUTUP IV.1 Kesimpulan IV.2 Saran 20 20 21

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
ii

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada seorang hamba pilihan, junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, sehingga penulisan makalah mengenai Millennium Development Goals dapat selesai tanpa ada hambatan yang berarti. Makalah ini ditulis dalam rangka menyelesaikan tugas kuliah. Kelompok selaku Penulis menyadari bahwa dengan kemampuan yang penulis miliki, makalah ini mempunyai banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan makalah ini. Kami menyadari, bahwa segala keterbatasan dalam penyusunan makalah ini masih perlu untuk terus dikoreksi agar dapat mencapai kesempurnaan. Makalah ini dibuat dengan harapan untuk menciptakan sebuah makalah yang membuat pembaca semakin mengenal dan memahami tentang materi yang kami tulis. Yang akan dijelaskan lebih rinci di halaman selanjutnya.
23 i

Sekian dari kami semoga apa yang kami sampaikan dapat bermanfaat bagi kehidupan kita untuk para pendengar terutama kami selaku penulis makalah.

Jakarta, Maret 2013

Penulis

MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS

KESEHATAN MATERNAL DAN PERINATAL

OLEH : RAHAYU LILIK SUSILOWATI


24

LALA MARLINA AITA YUNINGSIH DIKA PERMATA SARI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT JAKARTA 2013

25