Anda di halaman 1dari 3

pompa tambang bawah tanah

Pemakaian Pompa Tambang Dalam Dengan perluasan penambangan pada Tambang Bawah Tanah yang meliputi lubang utama, lubang maju (develoment) dan lokasi penambangan (face/front), maka beberapa peralatan yang dibutuhkan seperti peralatan pembuatan lubang maju seperti Dosco, Eimco Loader dan peralatan Long Wall ( Shearer Long Wall Mechaniced). Pada umumnya peralatan-peralatan tersebut di atas baik yang beroperasi di develoment maupun long wall selalu menggunakan air dalam pengoperasiannya. Dimana air yang digunakan berfungsi sebagai pendingin (Cooling System) dan untuk menyemprot debu (Water Spray). Selain air yang ditimbulkan oleh pengoperasian unit juga terdapat air resapan pada lapisan batubara itu sendiri yang berbeda antara musim hujan dan musim kemarau, air akan membawa pengaruh cukup serius dalam pekerjaan penambangan, misalnya menggenangi lokasi-lokasi tertentu pada lokasi yang terendah. Jika air ambang tidak diatur dengan baik akan mempersulit jalannya operasi penambangan dan peralatan yang dipasang di lokasi tersebut, sehingga akan mengganggu kelancaran operasi penambangan. Untuk mengatasi permasalahan air ini maka dipergunakan pompa untuk membuang atau memindahkan air yang ada pada lubang tertentu ke luar mulut tambang. Pompa merupakan alat penunjang tambang yang terpenting untuk membantu kelancaran produksi. Beberapa pompa biasanya digunakan di tambang dalam seperti (pompa benam), turbine, air pump, mono pump. Bak penampungan air dan letak pompa di tambang dalam diperlukan pemikiran awal bagi perluasan penambangan dan disesuaikan dengan kondisi lapangan yang ada. Pompa berfungsi sebagai alat untuk mengalirkan fluida dari suatu tempat ke tempat yang lain. Biasanya dilakukan untuk memindahkan fluida dari lokasi yang rendah ke lokasi yang lebih tinggi. Hal-hal utama yang menentukan letak pompa adalah: a. Kemampuan Head Pompa. b. Instalasi pemipaan Pemilihan pompa di Tambang Dalam disesuaikan dengan : a. Debit/Volume air yang akan dipindahkan. b. Jenis air/Lumpur yang akan dihisap. c. Lokasi pemindahan air. Di tambang dalam secara umum, sistem penirisan yang ada dengan cara kombinasi sebagai berikut ; a. Memompakan air yang ada di dalam tambang daerah penambangan. b. Pembuatan saluran (paritan/ditch) dengan memanfaatkan kemiringan (elevasi) menurun. Sesuai pengamatan biasanya sumber air di dalam tambang dalam berasal dari beberapa tempat seperti : a. Rembesan air permukaan. b.Pemakaian alat gali mekanis (Road Header, Dosco, Shearer). c. Kebocoran-kebocoran pada pipa-pipa distribusi air. d. Pemakaian unit penghisap debu dengan menggunakan water Spray. Sumber air yang ada di tambang dalam khususnya air yang berasal dari air rembesan memiliki tingkat keasaman rata-rata cukup tinggi antara tingkat keasaman (PH) antara 5 7, sehingga air tambang dalam bersifat korosi terhadap logam. Dengan karakteristik sifat air tambang yang bersifat asam akan menyebabkan mudahnya kerusakan (korosi) pada pipa pipa air dalam unit Pompa.

2. Hubungan Aliran Fluida dengan Bidang Industri Perminyakan


Ini adalah penjelasan mengenai hubungan pola aliran lumpur di Annulus dan kondisi formasi. Pada kondisi pemboran normal, luban g bor yang belum dipasang selubung pada lapisan batuan berpori, mempunyai selaput tipis yang disebut dengan ampas lumpur (mud cake).

Agar mud -cake tersebut tidak terkikis oleh aliran lumpur , harus diusahakan aliran lumpur di annulus tetap laminer. Pola aliran lumpur di annulus juga harus laminer pada formasi rapuh, misalnya batu -pasir yang rapuh. Jika pada aliran laminer dapat mengangkat sebuk bor dengan baik, maka digunakan pola aliran laminer. Tetapi apabila pola aliran laminer tidak dapat mengangkat serbuk bor dengan baik, maka digunakan pola aliran turbulen, dalam hal ini kita harus mengusahakan pengikisan dinding lubang bor oleh aliran lumpur pemboran sekecil mungkin, dengan memperbaiki sifat fisik lumpur. Sedangkan baik tidaknya kemampuan lumpur untuk mengangkat serbuk bor, dapat dilihat dari besarnya kapasitas pengangkatannya. Pola aliran turbulen lebih baik dari pola aliran laminer untuk pengangkatan serbuk bor, hal ini karena pola aliran turbulen bentuk distribusi kecepatannya lebih datar. Jadi vektor kecepatan di dalam lumpur pemboran yang alirannya turbulen lebih merata, dan akan ada efek torsi terhadap serbuk bor. Sedangkan aliran laminer bentuk distribusi kecepatannya parabolik dan meruncing, sehingga akan menghasilkan efek torsi terhadap serbuk bor. Serbuk bor akan terbalik pada posisi tipisnya dan akan terjatuh ke bawah. Pola aliran laminer tidak mengikis dinding lubang bor, karena kecepatan fluida pada bagian tepi kecil. Pola aliran sumbat biasanya dihasilkan oleh lumpur dengan viscositas tingg i. Pola aliran ini baik untuk pengangkatan serbuk bor tetapi hilang tekanannya tinggi. Pada kondisi pemboran yang normal, aliran di anulus laminer sepertiyang diperlihatkan pada Gambar 1 .

Gambar 1 Tipe Aliran Fluida Selama Pemboran

Pada kondisi seperti itu dinding lubang yang belum tercasing mempunyaiselaput tipis sebagai pelindung yang disebut mud-cake, agar selaput yangberguna tersebut tidak terkikis oleh aliran lumpur, harus diusahakan aliran tetaplaminer. Untuk mencegah terjadinya aliran turbulen, dapat diindikasikan denganbilangan Reynold . Dengan bilangan reynold yang tidak lebih dari 2000 aliranakan tetap laminer, sehingga batas tersebut dijadikan pegangan untukmenentukan kecepatan maksimum di anulus yang disebut kecepatan kritik.

Jadi kecepatan lumpur di anulus harus diantara kecepatan slip dankecepatan kritik. Bentuk aliran di dalam pipa dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Bentuk Aliran di Dalam Pipa

Posted 20th November 2012 by Zefano Valery Lomarga