Anda di halaman 1dari 4

Ancylostoma sp

Oct 18 ilmanLaporan Ancylostoma, cacingan No Comments PENDAHULUAN Di Indonesia penyakit cacingan merupakan salah satu penyakit yang belum sepenuhnya bisa ditanggulangi. Meskipun penyakit cacingan tidak mematikan, namun cacingan bisa menurunkan kualitas hidup penderitanya, bahkan mengakibatkan anemia dan kebodohan. Sekitar 40 hingga 60 persen penduduk Indonesia menderita cacingan dan data WHO menyebutkan lebih dari satu miliar penduduk dunia juga menderita cacingan. Hal ini juga tidak terlepas dari meningkatnya minat masyarakat untuk memelihara hewan kesayangan (Fadillah, 2006). Pemeliharaan hewan kesayangan seperti anjing dan kucing jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik tentang penyebaran penyakit dapat meningkatkan resiko penularan penyakit dari hewan ke hewan lain atau ke manusia lain. Ditambah lagi dengan banyak nya hewan yang hidup liar dan tidak mempunyai majikan, sehingga angka penularan penyakit akan meningkat (Anonimus, 2008) Salah satu jenis penyakit cacing yang sering menyerang anjing peliharaan adalah Ancylostomiasis. Penyebab penyakit ini adalah Ancylostoma sp atau cacing kait (hooks worm) yang merupakan jenis parasit yang dapat bertransmisi melalui kulit. Walaupun penyakit cacingan yang disebabkan oleh cacing kait lainnya, penyakit yang ditimbulkan tetap dinamakan Ancylostomiasis (Subronto, 2006). Menurut Levine (1994). Penyebaran Ancylostoma sp hampir terdapat diseluruh dunia dan pada banyak hewan-hewan liar seperti rubah, serigala, anjing hutan dan karnivora liar lainnya. Umumnya cacing ini menyenangi tempat yang lembab (Anonimus, 2009). PEMBAHASAN Cacing Ancylostoma Ancylostoma sp. merupakan cacing kait klas Nematoda yang umum ditemukan pada anjing dan kucing. Ada lima species Ancylostoma yang umum menyerang pada saluran pencernaan, yaitu antara lain : Ancylostoma caninum, Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, Ancylostoma tubaeformae dan Ancylostoma duodenale. Ancylostoma caninum yang umumnya terdapat pada usus halus anjing, rubah, srigala, anjing hutan dan karnivora liar lainnya diseluruh dunia. Ancylostoma braziliense terdapat pada usus halus anjing, kucing dan berbagai karnivora liar lainnya. Ancylostoma ceylanicum terdapat pada usus halus anjing, kucing, dan karnivora lain bahkan pada manusia. Ancylostoma tubaeformae merupakan cacing kait pada kucing. Ancylostoma duodenale ditemukan pada usus halus manusia, primata tingkat rendah dan kadang-kadang pada babi.

Phylum Class

: Nemathelmintes : Nematoda

Orde : Strongylidae Family : Ancylostoma Species : Ancylostoma caninum, Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum, Ancylostoma tubaeformae dan Ancylostoma duodenale

Ancylostoma caninum Patogenesis Perjalanan penyakit cacingan dengan perubahan patologi yang teramati sangat ditentukan oleh proses infeksi cacing (larva) ke dalam tubuh dan perkembangannya terkait dengan daur hidupnya.penetrasi larva perkutan. Gambaran radang kulit sebagai akibat penetrasi larva cacing A duodenale melalui kulit pada manusia, yang dikenal sebagai creeping eruption oleh larva migrns, gambaran patologinya pada anjing dan kucing tidak sejelas pada manusia. Dilaporkan bahwa radang kulit pada anjing terdapat di rongga antar jari-jari, kaki dan kadang-kadang pada kulit perut. Meskipun gejal klinisnya kurang jelas dari yang terlihat pada manusia, gejala pada anjing dapat berupa rasa gatal, kemerahan, dan terjadinya papulae di daerah yang menderita. Dalam keadan tertentu lesi kulit mirip radang kulit oleh tungau demodex (terbatas) atau mirip dermatitis atopik. Rasa gatal terlihat dari usaha menjilati sebagai ganti menggaruk daerah yang gatal. Membesarnya kaki ataupun terjadinya deformitas pangkal kuku dan kukunya juga mungkin diamati. Infeksi yang meluas juga dapat mencapai sendi-sendi pada jari-jari kaki. Larva migrans Apabila jumlah larva yang bermigrasi melalui paru-paru cukup banyak dapat terjadi iritasi jaringan paru-paru termasuk saluran nafas hingga terjadi batuk yang sifatnya ringan sampai dengan sedang. Dalam pemeriksaan pasca mati, maupun pemeriksaan histopatologi sering ditemukan larva cacing dalam jumlah besar. Infeksi cacing dalam usus halus Oleh adanya cacing dalam mukosa usus halus beberapa perubahan patologi dan faali dapat terjadi. Perubahan-perubaha patologik dan faali tersebut meliputi anemia, radang usus ringan sampai berat, hipoproteinemia, terjadinya gangguan penyerapan makanan dan terjadinya penekanan terhadap respon imunitas dari anjing. Oleh gigitan cacing, yang sekaligus melekat pada mukosa, segera terjadi perdarahan yang tidak segera membeku karena toksin yang dihasilkan oleh cacing. Cacing dewasa biasa berpindah-pindah tempat gigitannya hingga terjadilah luka-luka yang mengucurkan darah segar. Tiap ekor cacing dewasa A. caninum dapat menyebabkan kehilangan darah 0,05-0,2 ml/hari, A braziliense 0,001 ml, dan Ustenocephala 0,0003 ml. darah yang mengucur ke dalam luen akan keluar bersama tinja dank karena adanya darah tersebut tinja menjadi berwarna hitam. Pengeluaran tinja bercampur darah tersebut biasa disebut melena. Cacing A tubaeforme termasuk dalam kategori pengisap darah sedang yang akibat akhirnya berupa anemia berat. Anemia yang timbul pada awalnya bersifat normositik normokromik, yang kemudian oleh hilangnya zat besi anemianya akan berubah menjadi hipokromik mikrositik.

Siklus hidup Ancylostomiasis Anak anjing muda maupun anak kucing sangat rentan terhadap infeksi oleh cacing tambang karena pada umur 2-4 minggu persediaan Fe akan merosot yang disebabkan makanan utama anak anjing adalah air susu yang memang sangat kecil kandungan Fe nya. Anak anjing yang terinfeksi berat, segera mengalami anemia akut. Perdarahan usus terjadi pada hari ke 8 pasca infeksi dan pada akhir minggu ke 3 pasca infeksi penderita kehilangan darah setiap harinya setara dengan 20 % dari total volume eritrositnya. Pada anjing dan kucing dewasa hilangnya darah sebagian terkompensasi oleh kegiatan eritropoesis. Infeksi anjing oleh A braziliense dan U stenocephala tidak megakibatkan perdarahan ebat seperti pada infeksi oleh A caninum. Infeksi kedua spesies tersebut cenderung lebih banyak ditandai oleh hipoproteinemia, radang usus, dan atrofi parsial villi intestinales. Hilangnya vili usus halus juga dialami oleh anjing yang terinfeksi A caninum dan mengakbatkan gangguan absorbsi makanan. Siklus hidup Ancylostoma sp Adanya parasit dewasa dalam jumlah kecil sampai sedang mampu menimbulkan kekebalan (imunitas terbatas) hingga penderita tahan terhadap infeksi larva selanjutnya. Infeksi larva dalam jumlah besar akan melampaui ketahanan tubuh dan hewan akan mengalami parasitosis. Oleh adanya self cure, penderita sembuh dengan sendirinya dan tidak menimbulkan gejala anemia. Pada umur tertentu, sekitr 8 bulan, terbukti bahwa anjing mampu mengatasi tantangan infeksi larva infektif. Di daerah endemic, penggunaan obat cacing sebagai pengobatan rutin, misalnya setiap 3-6 bulan sekali sangat dianjurkan. Siklus hidup Ancylostoma sp Gejala Cacing tambang ini mampu menyebabkan hilangnya darah dalam waktu pendek, terutama pada individu muda. Darah yang mengucur segera tercampur tinja dan menyebabkan melena. Tinja bersifat lunak, berwarna gelap. Gejala anemia dapat dilihat dari pucatnya selaput lendir mulut, mata, vagina, maupun dari kulit, terutama didaerah perut. Radang yang ditimbulkan dapat menyebabkan menyempitnya muara saluran empedu. Bila empedu tertahan dapat menyebabkan bilirubinemia (ikhterus). Diagnosa Untuk diagnose berdasarkan hasil pemeriksaan feses dan darah melena anemia sedangkan Prognosis ditegakkan dengan memperhatikan status cairan tubuh, tingkat anemia, serta berat infeksi yang diperoleh dari pemeriksaan patologis klinis, baik terhadap tinja maupun darah penderita. Terapi Pengobatan dengan Canex atau Telmin biasanya dilakukan pada umur 6-12 minggu, diulang setiap 2-4 bulan. Anjing betina dewasa diobati 2 kali, dengan antara 2 minggu, pada saat bunting dan menyusui masing-masing dilakukan satu kali. Pyrantel pamoat, citrat emboat, 5-

12 mg/kg. Dihlorphos, 27-33mg/kg(dewasa)11mg/kg (anak). Mebendazole, 22mg/kg selama 5 hari. Disophenol, 10mg/kg sub kutan. Fenbendasol, 5mg/kg selama 3 hari Pencegahan Berdasarkan periode prepaten cacing yang berlangsung sekitar 3 minggu : pengobatan pertama baiknya dilakukan umur 2-4 minggu, diulang 2-3 bulan selanjutnya diobati secara teratur tiap 3-6 bulan sekali. KESIMPULAN Necatoriasis atau Ancylostomiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Penyebaran cacing terutama di daerah perdesaan. Diagnosa klinik penyakit cacing ini tidak dapat diketahui dengan tepat sebab cacing tambang tidak memberikan gambaran klinik yang jelas dengan demikian untuk membantu menegakkan diagnosa perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pada infeksi yang berat dengan pemeriksaan langsung mudah dilakukan, sedangkan infeksi yang ringan dapat dilakukan pemeriksaan dengan pengendapan atau biakan.

Anda mungkin juga menyukai