Anda di halaman 1dari 9

KHUSUS UMAT HINDU DHARMA SELEBARAN INI SIFATNYA HANYA PEMBANDING UNTUK MEMPERTEBAL KEIMANAN KITA KEPADA TUHAN

DITENGAH DERASNYA PENGARUH MODERNISASI SOSIAL BG. 9.25. nryad brahm jyate nryad indro jyate nryad dvdadity rudr sarva-devat sarva ya sarvi bhutni nryaad eva samutpadyate nryae pratyante Barangsiapa yang memuja para dewa pergi ke dewa-dewa, yang memuja leluhur pergi ke leluhur, yang memuja jiwa-jiwa (roh-roh) yang rendah sifatnya (bhuta) pergi ke para bhuta ini, tetapi pemujaKu datang kepadaKu. OM SUASTIASTU : Apabila kita menyembah selain TUHAN apakah itu deva, bhatara/leluhur dan roh/bhuta, akan sia-sia semua usaha dan pengorbanannya selama hidup di dunia. MOKSA DAN JAGADHITA Tujuan tertinggi dari kehidupan manusia menurut ajaran Weda adalah menyatu dengan Sang Maha Pencipta (Aham Brahman Asmi). Dalam masyarakat hindu lebih dikenal dengan istilah moksa. Moksartham Jagadhitaya ca iti dharma artinya bebaskanlah keterikatan pikiranmu dari ilusi duniawi, sehingga kamu bisa mencapai kebahagiaan didunia (dunia nyata dan dunia kasunyatan) dengan cara menghayati dan mengamalkan ajaran dharma. Sangat perlu untuk menjadi perhatian kita adalah mengenai kebahagiaan di dunia, apakah yang sesungguhnya dimaksud ? Dalam sudut pandang manusia normal, bahwa harta benda, istri dan anak serta pangkat ataupun kedudukan merupakan sesuatu yang sangat didambakan dan bahkan diagungkan, karena dengan itu semua mereka merasakan sejahtera dan bahagia. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa apa yang dia miliki adalah miliknya, sehingga dia sangat terikat oleh miliknya tersebut. Ada yang sampai tidak pernah merasa puas dan selalu merasa kekurangan (loba) atau juga ada yang dengki dan iri hati terhadap harta orang lain, sehingga diapun berusaha untuk mengejar meskipun harus menempuh jalan yang keliru. Bagaimanakah pandangan manusia yang tidak normal terhadap fenomena duniawi ? Orang-orang seperti ini akan menganggap bahwa semua itu hanyalah tipuan belaka dari Sang Maha Penipu. Mereka beranggapan bahwa kesejahteraan dan kedamaian hidup di dunia bukanlah semata-mata karena harta kekayaan, istri dan anak serta kedudukan seseorang. Akan tetapi yang lebih penting adalah dimana manusia mengerti akan hakekat dari semuanya itu, bahwa tak satupun dari semua itu merupakan hak atau miliknya. Karena pemilik yang sejati adalah Yang Maha Pencipta dan Maha Karya.

Manusia tidak pernah menciptakan, dia hanya mengubah bentuk dari yang asli menjadi bermacammacam bentuk baru. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan bumi, antara bumi dan langit, serta langit berikut segala isinya untuk kepentingan umat manusia yang juga ciptaan Nya. Bagaimana menjadi seorang yang kaya raya tetapi ia merasa tidak kaya raya, sebaliknya seorang yang miskin tetapi ia tidak merasa miskin, ia seimbang dalam panas dan dingin, dalam suka dan duka, dalam puji dan caci, bebas dari nafsu (ego). Bila seseorang sudah sanggup seperti itu, maka dia sudah dapat merasakan kebahagiaan yang sejati. Jadi pengertian jagadhita sesungguhnya, adalah terbebasnya seseorang dari keterikatan ilusi duniawi walaupun dia berada di dalamnya. Sebab orang yang berlimpah ruah harta kekayaan, jabatan, anak, istri, belumlah tentu mereka bahagia dan bahkan mungkin sebaliknya, karena keterikatannya akan menyebabkan penderitaan apabila semuanya itu diambil oleh Yang Maha Kuasa. Jagadhita yang sejati tidaklah dapat diukur oleh banyaknya harta kekayaan, besarnya kekuasaan, atau sebaliknya. Ukuran Jagadhita adalah apakah seseorang sudah bisa mencapai tingkatan yogi yang hakikinya sudah sanggup membunuh dan selanjutnya mengendalikan nafsu (musuh) yang berada dalam dirinya. Bhagavad Gita Bab VI sloka (5), (6),(7) dan (8) mengatakan: uddhared atmana tmanam na tmanam avasadayet atmai va hy atmano bandhur atmai va ripur atmanah Artinya: biarlah dia mengangkat jiwanya dengan Jiwa, janganlah jiwanya menjerumuskan dirinya, sebab hanya Jiwa adalah teman jiwanya, dan hanya jiwa adalah musuh jiwanya. bandhur atma tmanas tasya yena tmai va tmana jitah anatmanas tu satrutve varteta tmai va satrutve Artinya: Jiwa menjadi teman jiwa orang yang bisa menguasai jiwanya dengan Jiwa, tetapi bagi yang jiwanya tidak ditaklukkan Jiwa, seperti musuh, menjadi lawan, jitatmanah prasantasya paramatma samahitah sitoshna sukha duhkheshu tatha manapamanayoh Artinya: yang dapat menguasai jiwanya dengan Jiwa Tertinggi dan mencapai ketentraman sempurna, ia seimbang tenang dalam panas dan dingin, dalam suka dan duka, dalam puji dan caci.

jnana vijnana triptatma kustastho vijitendriyah yukta ity uchyate yogi sama loshta sma kanchanah Artinya: yang jiwanya penuh ilmu dan budi pekerti, teguh iman, panca indrianya dikuasai, memandang segumpal tanah, batu dan emas sama, maka ia-lah disebut seorang yogi. Makna yang tersirat dalam beberapa sloka di atas adalah sangat dalam kaitannya dengan konsep manunggaling kaula dengan Gusti. Jiwa ditulis dengan huruf j kecil (jiwa), adalah bermakna kaula (Atman/jiwa pribadi) yang sangat terikat oleh pancaindria dan senang dengan hal-hal duniawi yang semu dan menjebak manusia. Jiwa ditulis dengan huruf J kapital (Jiwa), adalah bermakna sebagai Gusti (Antaratman) dalam diri manusia yang merupakan bagian dari Gusti Yang Agung, Gusti Kang Akaryo Jagad. Apabila jiwa (kaula) sudah tunduk kepada Jiwa (Gusti) dan berteman, ini artinya sang kaula sudah menyatu dengan Gustinya. Karena kaula sudah lebur dan menyatu dengan sang Gusti, maka disaat kondisi seperti ini, dalam badan manusia hanya ada sang Gusti yang berkuasa dan mengendalikan pikiran, perkataan dan tingkah laku manusia. Kontradiksi dan pertentangan dua sifat (dualisme) sudah tidak ada (data sewala sudah tidak ada), maka berdasarkan tuntunan dari Gusti barulah kaula (ceraka) bisa ketemu dengan aksara A (Ho, Tuhan Sang Maha Pencipta). Bhagavadgita Bab VIII sloka (28) mengatakan: vedeshu yajneshu tapahsu chai va daneshu yat punyaphalam pradishtam atyeti tat sarwam idam viditva yogi param sthanam upaiti cha dyam Artinya: pahala kebajikan tersirat dalam kitab-kitab suci Weda, bakti persembahan, tapa brata dan sedekah-sumbangan, semuanya itu dilampaui oleh yogi yang mengetahui sesuatu ini dan mencapai tempat utama tertinggi. Moksa dan jagadhita adalah dua kata yang sangat dekat maknanya. Keduanya mengandung makna bebas dari keterikatan duniawi. Seseorang yang sudah mencapai tingkatan jagadhita yang sejati dalam hidupnya (Jiwan Mukti), maka ia bisa mencapai moksa (alam kebebasan). Apabila pikiran masih terikat dengan duniawi walaupun sedikit, dia tidak bisa mencapai kebebasan (kelepasan) yang sejati dan masuk ke alam Brahman (sorga tingkat tujuh), karena itu, ia masih terkena hukum reinkarnasi. Bhagavadgita Bab VI sloka (46) mengatakan : tapasvibhyo dhiko yogi jnanibhyo pi mato dhikah karmibhyas cha dhiko yogi tasmad yogi bhava rjuna Artinya: seorang yogi lebih besar dari pertapa, ia lebih mulia daripada sarjana, lebih utama dari yang melakukan upacara, karenanya, menjadilah yogi, oh Arjuna.

Bab VI sloka (47) mengatakan : yogiman api sarvesham madgatena ntaratmana sraddhavan bhajate yo mam sa me yuktatamo matah Artinya: dan juga diantara semua yogi, dengan penuh kepercayaan menyembah Aku dengan inti-jiwa bersatu pada-Ku, ia adalah yogi terbaik bagi-Ku. Jadi lebih jelas lagi, bahwa hanya yogi yang sudah sanggup menyatukan inti-jiwanya dengan Jiwa Yang Agung lah yang bisa masuk ke alam kelanggengan (singgasananya Tuhan). Moksa tidak dapat dicapai dengan ilmu apapun yang dimiliki manusia. Moksa dapat dicapai hanya dengan penyerahan diri secara ikhlas total (Isvara prani dhana) kepada Sang Maha Pencipta (Gusti Kang Murbeng Dumadi). Karena Yang Maha Sakti tidak dapat didekati dengan kesaktian manusia. Kalaupun ada orang yang sanggup menghilang dangan raganya masuk ke dimensi lain itu bukanlah moksa yang dimaksudkan dalam ajaran Weda. Karena menghilang dari kasat mata manusia belumlah tentu dapat mencapai alam kerajaan Yang Maha Agung di langit yang tertinggi. Karena ilmu orang dapat menghilang, akan tetapi belum tentu arahnya benar, karena bisa saja ia masuk ke alam siluman, atau baru bisa sampai ke alam sorga. Sedangkan bila kita hayati lebih dalam, hal tersebut dapat disebut menentang kodrat alam. Karena wadah (badan manusia) yang asalnya dari tidak ada dijadikan ada (dengan unsur-unsur Panca Mahabhuta) oleh Yang Maha Pencipta, pada waktu manusia kembali kepada penciptanya, yang kembali adalah atma (jiwa perorangan) yang sudah bersatu bersama roh kudus (Antaratma), sedangkan badan kasarnya dilebur kembali menjadi panca mahabhuta. Coba renungkan secara mendalam makna dari sloka 5 Bab VIII dari Bhagavadgita di bawah ini: Bhagavadgita Bab VIII sloka (5) mengatakan : antakale cha mam eva smaran muktva kalevaram yah prayati sa madbhavam yati na sty atra samsayah Artinya: barang siapa pada waktu ajal tiba berpulang, meninggalkan badan jasmani ini, dengan mnegenang Aku selalu, datang kepada-Ku ini tidak dapat diragu-ragukan lagi. Sloka ini jelas menjelaskan bagaimana orang meninggal yang sebenarnya menurut kehendak Gusti Kang Murbeng Dumadi. Lebih jauh lagi mari kita simak secara mendalam Bhagavadgita Bab XI Sloka (52), (53) dan (54) mengatakan : sudurdarsam idam rupam drishtavan asi yan mama deva apy asya rupasya niyam darsanakankshinah Artinya: sungguh sukar dilihat rupa-Ku ini, yang engkau telah dapat saksikan, sedang para dewatapun selalu mengharapkan untuk dapat menyaksikan wujud rupa ini.

na ham vedair na tapasa na danena na che jyaya, sakya evamvidho drashtum drishtavan asi mam yatha. Artinya: Aku tidak bisa dilihat dalam rupa seperti yang engkau telah saksikan biarpun dengan kitab suci Weda, tapabrata, maupun dengan sedekah atau upacara-upacara. Bhaktya tv ananyaya sakya aham evamvidho rjuna jnatum drashtum cha tattvena praveshtum cha paramtapa. Artinya: tetapi dengan pengabdian jua yang hanya terpusatkan oh Arjuna, Aku dapat diketahui juga sesungguhnya dapat dilihat, Parantapa. ...Ring angambeki yogi kiteng sakala, hanya kepada orang yang sudah mencapai tingkatan yogi yang sempurnalah Tuhan akan menampakkan wujud-Nya. Maka sekali lagi saya tegaskan, bahwa pengertian moksa (kelepasan/kebebasan) menurut ajaran Weda adalah bila manusia dapat mencapai alam kelanggengan (alam Brahman), bertemu Tuhan dan tidak terkena hukum kelahiran kembali. Untuk mencapai moksa, manusia harus mencapai moksartham (lepas dari keterikatan dengan duniawi/harta benda), lepas dari pengaruh dualisme (bersikap netral/nol). Apabila seseorang walaupun dia masih berada dan hidup di dunia nyata ini sudah bisa mencapai tingkat kesadaran tertinggi (jiwan mukti) seperti apa yang telah dialami oleh Kresna, maka itulah yang disebut dengan Jagadhita (kedamaian di dunia) yang sejati. Orang yang sudah mencapai Jagadhita yang sejati secara alamiah akan mencapai tingkat kesempurnaan hidup yang sejati ya sejatinya sempurna dan mencapai kelepasan (kebebasan) menuju alam Brahman. Jadi saya tegaskan pengertian moksa (kelepasan) adalah bersatunya Atman(kaula) dengan Antaratman(Gusti) yang ada dalam diri, setelah tingkatan ini dicapai manusia, dia harus berjuang lagi sampai bisa mencapai alam brahman (Swah loka), duduk ngobrol dengan beliau yang agung. Kalau kita pakai istilah Ang Ung dan Mang, Ang adalah atman, Ung adalah antar atman, dan Mang adalah paramatman, maka pakemnya adalah Ang harus bersatu dulu dengan Ung, barulah dia bisa bertemu dengan Mang. supaya tidak bingung, bersatu dengan Brahman Yang Agung maksudnya mencapai alam Brahman dan tidak terkena lagi hukum reinkarnasi. jadi identitas sang Atman tidak hilang, tetap ada di alam kelanggengan sambil menunggu waktu kiamat dimana segalanya akan musnah. lihat BG.VIII.16.

GAYATRI MANTRAM FUNGSI DAN BERKAHNYA BAGI YANG MENGUCAPKAN OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDDHAM Sudah banyak diantara umat Hindu yang mengenal dan hafal mantra Gayatri, namun belum semua diantara yang hafal dan mengenal mantra Gayatri mengetahui apa saja kegunaan dari mantra yang sangat universal ini dan dianggap sebagai ibunya mantra. Untuk itu saya mencoba menyampaikan sedikit pengalaman mempergunakan mantra Gayatri dalam kehidupan sehari-hari dan dampak sampingan bagi kita untuk meningkatkan tingkat spiritual masingmasing. Sebelumnya, perlu diketahui yang lebih penting dari pada itu adalah pemahaman tentang keberadaan diri kita sendiri yaitu bahwa kita lahir ke dunia bukanlah seorang diri. Secara kodrat sudah ditentukan bahwa manusia itu lahir ke dunia bersama dengan delapan saudara kembarnya sehingga menjadi sembilan dengan dirinya. Empat berada di luar diri manusia dan lima berada di dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan sedulur papat kelima pancer. Sedulur papat kelima pancer ini adalah merupakan kunci utama dari berhasil atau tidaknya seseorang mengarungi kehidupan di dunia ini dan di dunia kelanggengan. Ketika kita mau makan, berangkat kerja, sembahyang dan sebagainya kita harus mengajak mereka bersamasama, agar kita dijaga dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

1. BUNYI MANTRA GAYATRI OM BHUR BUWAH SWAH (Ya Tuhan, Engkau penguasa alam nyata, alam gaib, alam maha gaib) TAT SAWITUR WARENYAM (Engkaulah satu-satunya yang patut hamba sembah) BHARGO DEWASYA DHIMAHI (Engkaulah tujuan hamba dalam semadhi) DHIYO YO NAH PRACODAYAT (Terangilah jiwa hamba agar hamba berada dijalan yang lurus menuju Engkau) 2. MANTRA GAYATRI UNTUK MENGAGUNGKAN DAN MENYEMBAH TUHAN Dengan mengucapkan mantra Gayatri secara berulang-ulang minimal 108 kali sesering mungkin untuk mengagungkan, menyembah Dia, maka kita akan memperolah ketenangan jiwa dan pikiran, caranya : Ucapkan pertama Om Awignham Astu Namo Siddham sebelum kita memulai suatu pekerjaan.lalu Ucapkan OM TAT SAT EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN, selanjutnya japa gayatri dengan khusuk.

3. MANTRA GAYATRI UNTUK MEMBUKA TUJUH CAKRA UTAMA YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA, DIBANTU PRANAYAMA DAN DAGDI KARANA Dengan melakukan pranayama adi pada waktu pagi atau malam hari dengan cara : Duduk bersila, pakaian agak longgar, alas duduk yang empuk lakukan: a. Tarik nafas yang dalam dengan cepat langsung ditaruh diperut bagian bawah/puser, tahan sebentar sambil baca mantra dalam hati OM Ang Atmaya Brahma murtyayai namah. b. Nafas dinaikkan ke dada ditahan sebentar sambil baca mantra dalam hati: OM Ung Antaratmaya Wisnu Murtyayai namah c. Nafas dinaikkan ke kepala dan ditahan semampunya dan jangan memaksakan, sambil ucapkan mantra dalam hati: OM Mang Paramaatmaya Iswara murtyayai namah d. Nafas dibuang perlahan dengan mengucapkan mantra dalam hati: Om Ung Rah Pat astraya namah sarwa winasaya swaha. e. Lakukan dengan sabar dan ulangi beberapa kali semampunya. Kalau capek bisa istirahat sebentar. f. Setelah melakukan pranayama adi, lakukan dagdi karana yaitu posisi tetap duduk bersila lalu ucapkan mantra : OM Sariram kundam ityuktan (Ya Tuhan, semoga engkau jadikan tubuh ini bagaikan tungku api) Triyantah karanam indhanam (yang sanggup membakar ketiga dunia dalam tubuh ini) Sapta Ongkara mayo bahnir (menjadikan tujuh Ongkara/cakra yang ada dalam tubuh hamba menjadi terbuka) Bojananta udindhitah (sehingga dapat menyimpan kekuatan prana) OM Ang astra Kala Agni Rudra ya namah swaha (Ya Tuhan, atas restumu semoga Api Rudra yang rahasia hadir dalam tubuh hamba) Bayangkan diri kita seakan-akan berada di tengah-tengah gungungan api. Setelah beberapa saat, ucapkan Amerta Mantra ; OM Hram hrim sah Paramaciwa Raditya ya nama swaha OM Ung Rah Phat astra ya namah. Bayangkan ada tirta amerta yang mengguyur kepala kita terus mengalir keseluruh tubuh melalui tulang belakang. g. Teruskan japa Gayatri Mantram 108 kali. Lebih banyak akan lebih bagus hasilnya.

4. MANTRA GAYATRI UNTUK MENDOAKAN PARA BHETARE DAN LELUHUR KITA Betare yang duduk di sebuah pure, dulunya adalah manusia sama seperti kita. Bedanya, beliau pada waktu hidupnya sudah mempelajari, mengamalkan weda sehingga mencapai tingkat kesucian tertentu menurut kaca mata Tuhan dan diijinkan untuk menjadi Bhetare (pelindung).

Terhadap beliau kita tidak perlu menyembah, akan tetapi mendoakan beliau, karena beliau belum mencapai tahapan puncak yaitu Aham Brahman Asmi (artinya masih bertugas/beryadnya sebagai pelindung). Caranya : Ya Tuhan yang Maha Sempurna, semoga Engkau menganugrahkan kesempurnaan yang sejati ya sejatinya sampurna kepada Bhetare yang duduk di pure ini (atau sebut nama purenya). Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 kepada beliau. Lakukan japa. Bagi yang frekwensinya sudah nyambung, Bhetare akan hadir melalui penglihatan mata bathin. Kepada para leluhur, orang tua (almarhum) dapat dilakukan sebagai berikut : Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, semoga engkau mengampuni segala dosa dari para leluhur hamba, atau almarhum kedua orang tua hamba (sebut namanya), berikanlah tempat yang layak kepada mereka. Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 untuk beliau. Leluhur yang kita doakan biasanya akan hadir dalam mimpi.

5. GAYATRI MANTRAM DIUCAPKAN PADA SAAT KITA MAU BERANGKAT KERJA, MELEWATI TEMPAT-TEMPAT YANG ANGKER DAN MENAKUTKAN Ketika kita mau berangkat kerja atau berniat pergi kesuatu tempat, sebelum melangkah keluar dari pintu rumah ada tata krama yang perlu dilakukan demi keselamatan kita di jalan, apalagi ketika pada malam hari kita melewati tempat yang angker. Caranya : Sebelum keluar dari pintu utama rumah, kita berdiri dibawah pintu, tarik nafas dalam, jari telunjuk melintang di depan kedua lobang hidung, hembuskan nafas lalu rasakan, lobang mana yang terasa lebih kencang keluarnya udara. Kalau lobang sebelah kanan yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kanan. Kalau lobang sebelah kiri yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kiri. Kalau kedua-duanya sama, maka kaki yang duluan melangkah terserah kita. Sebelum kita melangkahkan kaki, maka sebaiknya kita harus mengajak saudara kita : Sedulurku papat kelima pancer, kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina, tunggal dalam kadangku, tuwo lan sinom podo, mari kita sama-sama berangkat ke .(tempat tujuan) Jagalah aku dalam perjalanan. Ucapkan Gayatri Mantram 7 kali. Baru melangkahkan kaki sesuai dengan hasil yang diperolah tadi. Apabila kita merasa ketakutan ketika melewati suatu tempat, kita tinggal mengucapkan Gayatri Mantram saja. Didalam kita mengucapkan Gayatri Mantram, jumlah bait yang diucapkan tergantung untuk apa kita bergayatri mantram, Bila kita memohon pertolongan dari Tuhan, kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 7 kali (pitulungan), 70 kali atau 700 kali dan lebih bagus lagi kalau 7000 kali. Bila kita memohon kesempurnaan kepada Tuhan, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 9 kali (sempurna), 99 kali atau 999 kali dan lebih bagus lagi 9999 kali. Bila kita memohon jalan yang sukses atas suatu kegiatan/upacara, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 11 kali (pintu gerbang), 111 kali atau 1111 kali. Catatan : lakukanlah dengan penuh keyakinan jagalah pikiran dan biarkan hati yang bekerja.

6. GAYATRI MANTRAM UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG SEDANG SAKIT.

Kepada orang yang sedang dicoba oleh Tuhan dengan memberikan penyakit, maka dengan mantra Gayatri kita bisa membantu untuk memohon kesembuhan dari Yang Maha Menyembuhkan. Caranya : Ya Tuhan Yang Maha Menyembuhkan, semoga Engkau anugrahkan kesembuhan kepada (sebutkan namanya) lalu panggil saudaranya yang sakit; sedulur papat kelima pancer si jabang bayi .(sebut namanya yang sakit), bantulah saudaramu yang sedang sakit supaya sehat. Barulah berjapa Gayatri sebanyak 77 kali atau 777 kali. Bila perlu, lebih bagus lagi dibantu dengan sarana air putih. Setelah selesai air putih diminumkan dn dibalurkan kebadan yang sakit. Dalam hal ini, pemohon harus dalam konsentrai penuh. Bagi yang sudah bisa menerima sinyal/petunjuk dari gaib, maka gambar yang terlihat oleh mata bhatin; bias orang yang sakit tersenyum sehat, bias sinar terang, ini artinya orang yang sedang sakit akan dianugrahkan kesembuhan. Kalau gambar yang diterima dari gaib berupa kuburan atau kobaran api yang membakar sesuatu, ini petunjuk bahwa memang sakit ini adalah jalannya untuk meninggal. Namun tanda apapun yang diterima itu hanya untuk sendiri, jangan dulu disampaikan kepada orang lain, tidak boleh mendahului kehendak Tuhan.

7. GAYATRI MANTRAM KITA UCAPKAN PADA SAAT KITA AKAN TIDUR Ketika kita berniat untuk tidur, maka sebelumnya kita sebut sadulur kita: sadulurku papat kelime pancer kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina tunggal jalan, aku mau tidur, tolong jaga aku dari orang orang yang jahat dan sirik. Om tat sat ekam eva adwitym Brahman, selanjutnya baca Gayatri mantram 7 kali. PENUTUP GAYATRI MANTRAM adalah sebuah mantra yang khadamnya adalah kekuatan IDA SANG HYANG WIDHI WASA, sangat tergantung dari tingkat kesucian pikiran dan hati dari yang mengucapkannya. Walaupun sepuluh orang sama-sama mengucapkan mantra Gayatri, tapi hasil tidak akan sama tergantung kesucian hati dan pikiran masing-masing.Namun demikian, dengan lebih sering berjapa Gayatri Mantram kita akan sedikit demi sedikit dapat mencapai kesucian itu. Teruslah berjapa dan jangan pernah bosan. Lambat tapi pasti, ketenangan jiwa akan mulai terasa. Sering-seringlah belajar menempati diri pada SUNIA (kesendirian) karena itulah sejatinya SANG DIRI/ATMAN. Sabar, sabar, dan sabar, karena sabar itulah kunci dari kesuksesan kita.

SAYA MOHON PEMBAHASAN INI TIDAK UNTUK MERUBAH APA YANG SUDAH PEMBACA YAKINI HANYA SEBAGAI PEMBANDING UNTUK MEMPERTEBAL KEIMANAN AKAN PENTINGNYA GAYATRI MANTRA DALAM MENJALANI KEHIDUPAN OM SANTIH SANTIH SANTIH OM GOES WIDHY