Anda di halaman 1dari 26

Presentasi Kasus Observasi Sefalgia Kronis By: Citra Ananta Avis

I. Anamnesis Kasus Penderita dirawat dibagian syaraf RSMH dikarenakan sakit kepala yang bertambah hebat. Sejak 1 tahun yang lalu penderita sering mengeluh sakit kepala, hilang timbul, dipengaruhi aktifitas berat, sakit kepala hilang dengan diminumkan obat nyeri dari warung. Sejak 4 hari yang lalu sakit kepala dirasakan terus menerus, rasa sakit berdenyutdenyut pada bagian kanan atas kepala dan menjalar ke dahi, sakit kepala dirasakan tidak hilang meskipun sudah minum obat nyeri dari mantri, bertambah sakit apabila melakukan aktifitas rutin, mual dan muntah ada, rasa tegang pada leher tidak ada, pandangan kabur tidak ada, pandangan gelap tidak ada, pandangan ganda tidak ada, telinga berdengung tidak ada, kejang tidak ada, kelemahan separuh badan tidak ada, mulut mengot tidak ada, bicara pelo tidak ada. Riwayat hipertensi tidak ada, riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat infeksi telinga tidak ada, riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada. Penyakit ini diderita sejak 1 tahun yang lalu.

II. Klarifikasi Istilah 1. Sakit kepala : rasa nyeri atau rasa tidak enak pada bagian atas kepala dari orbita sampai daerah oksiput 2. Berdenyut-denyut : nyeri pegal atau perasaan tidak enak seperti berdenyit atau kencang mengikat kepala. 3. Obat nyeri : obat yang di gunakan untuk menghilangkan rasa nyeri atau obat analgesik 4. Muntah : keluarnya isi lambung melewati tenggorokan ke mulut 5. Trauma kepala : Cedera pada kepala baik ekstrakranial maupun intrakranial yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fungsi otak

III. Identifikasi Masalah 1. Penderita dirawat dibagian syaraf RSMH dikarenakan sakit kepala yang bertambah hebat. 2. 1 tahun yang lalu penderita sering mengeluh sakit kepala, hilang timbul, dipengaruhi aktifitas berat, sakit kepala hilang dengan diminumkan obat nyeri dari warung. 3. 4 hari yang lalu sakit kepala dirasakan terus menerus, rasa sakit berdenyutdenyut pada bagian atas kepala dan menjalar ke dahi, sakit kepala dirasakan tidak hilang meskipun sudah minum obat nyeri dari mantri. IV. Analisis Masalah

1. Struktur kranium nyeri kepala ?

2. Nyeri kepala atau sefalgia Apakah etiologi atau penyebab nyeri kepala ? Bagaimana menilai penderita dengan nyeri kepala ? Bagaimana klasifikasi nyeri kepala ? Bagaimana patofisiologi atau mekanisme nyeri kepala ? Apakah differensial diagnosis dari nyeri kepala ? Bagaimana menegakkan diagnosis nyeri kepala pada pasien? Bagaimana penatalaksanaan pasien tersebut ? Pemeriksaan penunjuang apa saja yang diperlukan pada pasien ? Bagaimana prognosis tersebut ?

V. Hipotesis
2

Tuan T, 39 tahun menderita sakit kepala atau sefalgia yang kemungkinan disebabkan oleh gangguan vaskularisasi kepala.

STATUS PENDERITA NEUROLOGI IDENTIFIKASI Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama MRS Tanggal : Tn.T : 39 tahun : Laki-laki : Banyuasin : Islam : 12 Agustus 2010

ANAMNESA (Autoanamnesa) Penderita dirawat dibagian syaraf RSMH dikarenakan sakit kepala yang bertambah hebat. Sejak 1 tahun yang lalu penderita sering mengeluh sakit kepala, hilang timbul, dipengaruhi aktifitas berat, sakit kepala hilang dengan diminumkan obat nyeri dari warung. Sejak 4 hari yang lalu sakit kepala dirasakan terus menerus, rasa sakit berdenyutdenyut pada bagian kanan atas kepala dan menjalar ke dahi, sakit kepala dirasakan tidak hilang meskipun sudah minum obat nyeri dari mantri, bertambah sakit apabila melakukan aktifitas rutin, mual dan muntah ada, rasa tegang pada leher tidak ada, pandangan kabur tidak ada, pandangan gelap tidak ada, pandangan ganda tidak ada, telinga berdengung tidak ada, kejang tidak ada, kelemahan separuh badan tidak ada, mulut mengot tidak ada, bicara pelo tidak ada.

Riwayat hipertensi tidak ada, riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat infeksi telinga tidak ada, riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada. Penyakit ini diderita sejak 1 tahun yang lalu. PEMERIKSAAN STATUS PRESENS Status Internus Kesadaran:GCS = 15 (E:4, M:6, V:5) Gizi: cukup Suhu Badan: 36,7 C Nadi: 84 x/m Pernapasan: 20 x/m Tekanan Darah: 120/ 80 mmHg Jantung: HR = 84 x/m, murmur (-), gallop (-) Paru-paru: vesikuler(+)N, ronkhi (-),wheezing (-) Hepar: tidak teraba Lien: tidak teraba Anggota Gerak: lihat status neurologikus Genitalia: tidak diperiksa Status Psikiatrikus Sikap Perhatian Status Neurologikus KEPALA Bentuk Ukuran Simetris Hematom Tumor LEHER Sikap Torticolis Kaku kuduk : lurus : (-) : (-) Deformitas Tumor Pembuluh darah : (-) : (-) : tidak ada kelainan
4

: kooperatif : ada

Ekspresi Muka Kontak Psikis

: wajar : ada

: Normocephali : normal : simetris : (-) : (-)

Deformitas Fraktur Nyeri fraktur Pembuluh darah Pulsasi

: (-) : (-) : (-) : tidak ada kelainan : (-)

SYARAF-SYARAF OTAK N. Olfaktorius Penciuman Anosmia Hyposmia Parosmia N.Opticus Visus Kanan tidak ada kelainan (-) (-) (-) Kanan 6/6 Kiri tidak ada kelainan (-) (-) (-) Kiri 6/6

Campus visi

V.O.D

V.O.S

Kanan Anopsia Hemianopsia Papil edema Papil atrofi Perdarahan retina (-) (-) tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa

Kiri (-) (-) tidak diperiksa tidak diperiksa tidak diperiksa

Fundus Oculi

Nn. Occulomotorius, Trochlearis dan Abducens Kanan Diplopia Celah mata Ptosis Sikap bola mata Strabismus (-) (-)
5

Kiri (-) (-) (-)

(-) (-) (-)

Pupil -

Exophtalmus Enophtalmus Deviation conjugae

(-) (-) (-) baik ke segala arah bulat 3 mm isokor (-) (+) (+) (+) (-)

(-) (-) (-) baik ke segala arah bulat 3 mm (-) (+) (+) (+) (-)

Gerakan bola mata Bentuknya Besarnya Isokori/anisokor Midriasis/miosis Refleks cahaya - Langsung - Konsensuil - Akomodasi Argyl Robertson

N.Trigeminus Kanan Motorik Menggigit Trismus Refleks kornea Dahi Pipi Dagu Kanan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan
6

Kiri tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan Kiri

Sensorik

N.Facialis Motorik Mengerutkan dahi Menutup mata Menunjukkan gigi

Lipatan nasolabialis Bentuk Muka - Istirahat - Berbicara/bersiul Sensorik 2/3 depan lidah Otonom - Salivasi - Lakrimasi - Chovsteks sign N. Statoacusticus N. Cochlearis Suara bisikan Detik arloji Tes Weber Tes Rinne N. Vestibularis Nistagmus Vertigo N. Glossopharingeus dan N. Vagus Kanan Arcus pharingeus Uvula Gangguan menelan Suara serak/sengau Denyut jantung Refleks Muntah Batuk (-) (-) Kanan (-)

tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan (-)

Kiri tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan (-) (-)

Kiri simetris tengah (-) tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan
7

Okulokardiak Sinus karotikus

tidak ada kelainan tidak ada kelainan

Sensorik 1/3 belakang lidah Kanan simetris tidak ada kelainan Kanan deviasi ke kanan (-) (-) (-) Kiri tidak ada kelainan Kiri N. Accessorius Mengangkat bahu Memutar kepala N. Hypoglossus Menjulurkan lidah Fasikulasi Atrofi papil Disartria

MOTORIK LENGAN Gerakan Kekuatan Tonus Refleks fisiologis Biceps Triceps Radius Ulna Hoffman Ttromner Leri Meyer Normal Normal Normal Normal (-) (-) (-) Normal Normal Normal Normal (-) (-). (-)
8

Kanan Cukup 5 Normal

Kiri Cukup 5 Normal

Refleks patologis

Trofik

(-) Kanan Cukup 5 Normal Kiri

(-) Cukup 5 Normal (-) (-) Normal Normal (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan tidak ada kelainan

TUNGKAI Gerakan Kekuatan Tonus Klonus Trofik Paha Kaki KPR APR Babinsky Chaddock Oppenheim Gordon Schaeffer Rossolimo Mendel Bechterew Atas Tengah Bawah

(-) (-) Normal Normal (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

Refleks fisiologis

Refleks patologis

Refleks kulit perut

Refleks cremaster

SENSORIK GAMBAR

FUNGSI VEGETATIF Miksi Defekasi Ereksi : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

KOLUMNA VERTEBRALIS Kyphosis Lordosis Gibbus Deformitas Tumor Meningocele : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)
10

Hematoma Nyeri ketok

: (-) : (-) Kanan Kiri (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

GEJALA RANGSANG MENINGEAL Kaku kuduk Kerniq Lasseque Brudzinsky Neck Cheek Symphisis Leg I Leg II

GAIT DAN KESEIMBANGAN Gait Ataxia Hemiplegic Scissor Propulsion Histeric Limping Steppage Astasia-Abasia : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) Keseimbangan dan Koordinasi -Romberg -Dysmetri - jari-jari - jari hidung - tumit-tumit : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

- Rebound phenomen : (-) -Dysdiadochokinesis : (-) -Trunk Ataxia : (-)

GERAKAN ABNORMAL Tremor Chorea Athetosis Ballismus Dystoni : (-) : (-) : (-) : (-)
11

: (-)

Myocloni FUNGSI LUHUR Afasia motorik Afasia sensorik Apraksia Agrafia Alexia Afasia nominal

: (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

LABORATORIUM DARAH Hb Leukosit Diff count Eritrosit Trombosit Hematokrit Hematokrit BSS : 12,3 13,9 gr/dl
33 : 10.000 12000/mm mm

Kolesterol total: 154 mg/dL Trigliserida Urid acid Ureum Kreatinin : 118 mg/dL : 3,6 mg/dL : 17 mg/dL : 1,0 mg/dL

: 4.360.000 0/2/2/70/20/6 juta : 40 164.000/mm vol % 3 : 95 40 mg/ vol % dl

Na : 140 mmol/L K :3,3 mmol/L

URINE Warna Reaksi Protein Reduksi Urobilin Bilirubin : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa Sedimen : - Eritrosit - Leukosit - Thorak - Sel Epitel - Bakteri : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa

12

FAECES Konsistensi Lendir Darah Amuba coli/ Histolitika : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa Eritrosit Leukosit Telur cacing : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa

LIQUOR CEREBROSPINALIS Warna Kejernihan Tekanan Sel Nonne Pandy : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa Protein Glukosa NaCl Queckensted Celloidal Culture : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa

13

PEMBAHASAN

Struktur-Struktur Kranium Yang Peka Nyeri

Struktur-struktur kranium yang peka nyeri dan terlibat dalam nyeri kepala adalah semua jaringan ekstrakranium, termasuk kulit kepala, otot, arteri, dan periosteum tengkorak; sinus kranialis; sinus vena intrakranium dan vena-vena cabangnya; bagian dari dura di dasar otak dan arteri di dalam dura; dan nervus cranialis trigeminus, fasialis, vagus, dan glosofaringeus serta nervus servikalis (C2 dan C3). Parenkim otak, sebagian jaringan meningen, dan tengkorak (kecuali periosteum) tidak peka terhadap nyeri. Peregangan peristoneum dapat menimbulakan nyeri lokak.

Tentorium adalah suatu lembaran dura yang berfungsi sebagai garis pembatas dan titik referensi di dalam kranium lembaran ini memisahkan fossa anterior (batang otak dan serebelum) dan serebrum anterior. Daerah posterior (sekitar sepertiga rongga kranium) disebut sebagai infratentorium, dan daerah anterior ( dua pertiga rongga kranium) disebut supratentorium.

Apabila nyeri kepala melibatkan struktur di daerah infratentorium, nyeri tersebut dirujuk ke daerah oksipitalis kepala dan leher oleh akar saraf servikal atas. Nyeri supratentorium dirasakan di bagian anterior kepala ( daerah frontalis, temporalis, dan parietalis) dan terutama diperantarai oleh nervus trigeminus.

14

Beberapa mekanisme umum yang tampaknya bertanggung jawab memicu nyeri kepala adalah sebagai berikut (Lance, 2000): Peregangan atau pergeseran pembuluh darah: intrakranium atau ekstrakranium Traksi pembuluh darah Kontraksi otot kepala dan leher (kerja berlebihan otot) Peregangan periosteum (nyeri lokal) Degenerasi spina servikalis atas disertai kompresi pada akar nervus servikalis (misalnya, artritis vertebra servikalis) Defisiensi enkefalin (peptida otak mirip-opiat, bahan aktif pada endorfin)

Sistem saraf simpatis pada dasarnya bertanggung jawab atas pengendalian neural pembuluh darah kranium dan ekstrakranium.

Nyeri Kepala (Sefalgia)

Klasifikasi the Internatioanal Headache Society (IHS) pada tahun 1988 membagi nyeri kepala menjadi dua kategori utama yaitu primer dan sekunder.

1. Nyeri kepala primer a. Vascular Headache (Migren) b. Tension Headache ( sakit kepala karena ketegangan ) c. Cluster Headache

2. Nyeri kepala sekunder


15

a. Terjadi karena gangguan organik lain : Infeksi Tumor

Nyeri Kepala Primer

Migren Nyeri kepala migren adalah suatu sindrom nyeri rekuren episodik yang sekarang diklasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu migren biasa, migren klasik, dan varian migren (migren retina,migren oftalmoplegik,migren hemiplegik familial, dan confusional migren pada anak). Nyeri kepala migren diperkirakan dua sampai tiga kali lebih sering pada perempuan daripada laki-laki, cenderung dijumpai dalam satu keluarga, diperkirakan memiliki dasar genetik dan biasanya dijumpai pada perempuan muda yang sehat. Sekitar 75% sampai 80% pengidap migren memiliki anggota keluarga dekat yang mengidap nyeri kepala (Russell, Olosen, 1995 )

a. Migren biasa Adalah tipe yang jauh lebih sering dijumpai, ditemukan pada sekitar 80% dari semua pengidap migren (Headeche Classification Committee of the IHS,1988). Migren tanpa aura mungkin dimulai di neuron-neuron nosiseptif di pembuluh darah . Sinyal nyeri berjalan dari pembuluh darah ke aferen primer dan kemudian ke ganglion trigeminus, dan akhirnya mencapai nukleus kaudalis trigeminus, suatu daerah pengolah nyeri batang otak. Neuron-neuron aktif di SSP kemudian mengekspresikan gen c-fos, yang ditekan oleh butabarbital dalam nukleus kaudatus.

16

IHS mendefinisikan migren sebagai paling sedikit lima kali serangan nyeri kepala seumur hidup yang memenuhi kriteria berikut (Headache Classification Committee, 1988) : 1. Durasi 4 sampai 72 jam apabila tidak diobati 2. Nyeri kepala dengan paling sedikit dua dari empat gambaran berikut: lokasi unilateral, kualitas berdenyut (pulsating), intensitas nyeri sedang sampai berat, atau nyeri yang diperparah aktivitas rutin. 3. Selama nyeri kepala, paling sedikit satu dari dua hal berikut: mual dan muntah atau keduanya, fotofobia dan fonofobia. Selama serangan migren, banyak fungsi fisiologik terganggu: Gangguan pemrosesan sensorik menyebabkan disfungsi penglihatan dan pendengaran (fotofobia dan fonofobia) Gangguan motilitas GI dapat menyebabkan mual dan muntah serta kesulitan mengkonsumsi obat antimigren oral. Gangguan autonom dapat menimbulkan berbagai gejala sperti diare; dan Gangguan serebrum dapat menyebabakan perubahan kognitif dan suasana hati

b. Migren Klasik Manifestasi migren klasik yaitu sakit kepala sesisi dan adanya gejala neurologik, yaitu : - Skotoma, fotofobia atau halusinasi visula (akibat vasokontriksi di sekitar girus kalkarina). Paraestesia disfasia ( akibat vasokontriksi di korteks sensorik ) Hemiparesis (akibat vasokontriksi di daerah motorik )

- Diplopia, vertigo atau syncope, ataksia, disatria, tinitus, nistagmus (akibat vasokontriksi di batang otak dan serebelum) - Gejala gejala psikomotorik seperti bengong, bingung, gelisah (akibat vasokontriksi di lobus temporalis)

17

Gejala tersebut muncul dalam beberapa menit.

c. Migren Varian (Komplikata) Gejala sakit kepala satu sisi disertai adanya gejala berupa : Hemiparesis Afasia Ataksia Disatria Oftalmoplegia

Tension Headache

Nyeri kepala kontraksi otot atau karena tegang menimbulkan nyeri akibat kontraksi menetap otot-otot kulit kepala, dahi, dan leher yang disertai dengan vasokontriksi ekstrakranium. Nyeri ditandai dengan : Rasa kencang seperti pita di sekitar kepala Nyeri tekan di daerah oksipitoservikalis

- Nyeri bilateral, terus menerus (terjadi baik siang maupun malam dan berlangsung beberapa bulan sampai tahun) Nyeri tumpul Tidak berdenyut Sering disertai rasa cemas, depresi, kelelahan dan perasaan tertekan.

Cluster Headache

Suatu sindroma nyeri kepala neurovaskuler yang khas dan dapat disembuhkan walaupun insidennya jauh lebih jarang daripada migren. Tipe episodik adalah tipe tersering dan ditandai dengan satu sampai tiga serangan singkat nyeri periorbita per hari selama
18

periode 4-8 minggu (cluster) diikuti oleh interval bebas nyeri yang lamanya rata-rata 1 tahun. Nyeri kepala cluster memiliki karakteristik : Konstan, parah Tidak berdenyut Unilateral serta sering terbatas pada mata atau sisi wajah.

- Awitan nyeri biasanya 2 sampai 3 jam setelah tidur dan tampaknya berkaitan dengan tidur rapid eye movement. - Nyeri sering dirasakan di wajah yaitu pipi disertai kemerahan, lubang hidung. - Faktor pencetus : stres, perubahan cuaca.

Pada puncaknya, nyeri kepala sngat hebat dan tidak tertahankan. Berbeda dengan pengidap migren, pengidap nyeri kepala cluster berjalan bolak balik dengan gelisah dan tidak mampu berbaring atau duduk diam.

Patogenesis : Belum diketahui pasti, tetapi pada salah satu teori yaitu sistem vaskuler trigeminus, jalur akhir bersama, dengan nyeri dipicu secara siklis oleh suatu pemacu sentral yang mengganggu.

Nyeri Kepala Sekunder

Nyeri kepala inflamatorik traksi (traction and inflammatory headache)

Nyeri kepala inflamatorik traksi biasanya disebabkan oleh penyakit organik. Massa yang berasal dari manapun (misalnya, tumor, bekuan darah, abses) dapat menyebabkan traksi pada dan pergeseran struktur-struktur peka nyeri. Nyeri kepala adalah gejala utama pada
19

tumor otak (primer atau metastase), dan seiring dengan pertumbuhan tumor, nyeri menjadi lebih sering dan lebih parah. Massa intrakranium yang cepat membesar dan menyebabkan peningkatan TIK mungkin menggeser struktur-struktur otak sehingga timbul nyeri kepala.

Nyeri kepala juga berkaitan dengan proses peradangan. Meningitis, ensefalitis, dan infeksi sinus, gigi, hidung, atau mata sering disertai oleh gejala nyeri kepala. Traksi di bagian otak yang melekat, terutama nervus trigeminus dan hipoglosus, besar kemungkinanya menyebabkan nyeri kepala.

Nyeri kepala pascapungsi lumbal

Nyeri kepala setelah pungsi lumbal biasanya terjadi dalam beberapa jam setelah tindakan. Nyeri kepala biasanya jelas posisional, nyeri dimulai pada saat pasien duduk atau berbaring. Goyangnya kepala memperparah nyeri kepala. Nyeri biasanya mereda dalam beberapa hari tetapi mungkin menetap berminggu-minggu. Mekanisme pasti belum diketahui, diduga karena kebocoran CSS melalui robekan di dura akibat LP menyebabkan berkurangnya bantalan suportif batang otak. Dengan demikian saat pasien dalam posisi berdiri terjadi dilatasi dan tegangan pada struktur yang mengikat otak, sinus-sinus dura yang peka nyeri, sehingga timbul nyeri.

Differensial diagnosis

Diagnosis Banding topik

Asal Nyeri Infratentorium (1/3 posterior kraniu)

Gejala Proyeksi nyeri ke belakang kepala dan kuduk atau leher melalui saraf servilakis atas IX, X.

Pada penderita Nyeri di bagian atas kepala dan menjalar ke dahi

Jadi kemungkinan asal nyeri di struktur-struktur infratentorium dapat disingkirkan.


20

Asal nyeri

Gejala

Pada penderita

Supratentorium (2/3 bagian Nyeri diproyeksikan pada Nyeri di bagian atas kepala depan cranium) daerah frontal, parietal dan dan menjalar ke dahi temporal melalui nervus V Jadi kemungkinan asal nyeri di struktur-struktur supratentorium dapat disingkirkan.

Kesimpulan : Diagnosis Topik : Supratentorium

Diagnosis Banding etiologi 1. Cluster Headache 2. Tension Headache 3. Traction and inflammatory headache 4. Vascular Headache

Cluster Headache Gejala Pada penderita Berdenyut

- Tidak berdenyut -

Unilateral serta sering terbatas pada mata Tidak ada atau sisi wajah.

- Awitan nyeri biasanya 2 sampai 3 jam setelah tidur dan tampaknya berkaitan dengan tidur Tidak ada rapid eye movement. - Nyeri sering dirasakan di wajah yaitu pipi Tidak ada disertai kemerahan, lubang hidung. - Faktor pencetus : stres, perubahan cuaca. Tidak ada
21

Jadi kemungkinan etiologi cluster headache dapat disingkirkan.

Tension Headache Gejala Pada penderita Tidak ada Tidak ada Tidak ada

- Rasa kencang seperti pita di sekitar kepala - Nyeri tekan di daerah oksipitoservikalis - - Nyeri bilateral, terus menerus (terjadi baik siang maupun malam dan berlangsung beberapa bulan sampai tahun) - Nyeri tumpul, tidak berdenyut

Nyeri kepala berdenyut

- Sering disertai rasa cemas, depresi, kelelahan dan perasaan tertekan. Tidak ada

Jadi kemungkinan etiologi tension headache dapat disingkirkan.

Gejala

Traction and inflammatory headache Pada penderita

Massa : tumor, edema. Abses, hematom -Nyeri kepala semakin berat (kronis) -Nyeri berdenyut-denyut Ada Berdenyut

22

-Tuli satu sisi -Vertigo -Oftalmoplegia -Mual, muntah Infeksi :Mneingitis, ensefalitis, infeksi sinus, hidung, gigi dan mata

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada

(diawali infeksi sebelum manifestasi nyeri Tidak ada kepala muncul) Jadi kemungkinan etiologi Traction and inflammatory headache belum dapat disingkirkan. Gejala Migren 1. 2. Nyeri kepala dengan paling sedikit dua dari empat gambaran berikut: lokasi unilateral kualitas berdenyut intensitas nyeri sedang sampai berat, nyeri yang diperparah aktivitas rutin. Selama nyeri kepala, paling sedikit satu dari dua hal berikut: mual dan muntah atau keduanya, fotofobia dan fonofobia. Ada Ada Berdenyut Ada Vascular Headache Pada penderita

Mual muntah ada

Jadi kemungkinan etiologi Vascular Headache belum dapat disingkirkan.

23

Kesimpulan : Diagnosis etiologi : Vascular headache

RINGKASAN ANAMNESIS Penderita dirawat dibagian syaraf RSMH dikarenakan sakit kepala yang bertambah hebat. Sejak 1 tahun yang lalu penderita sering mengeluh sakit kepala, hilang timbul, dipengaruhi aktifitas berat, sakit kepala hilang dengan diminumkan obat nyeri dari warung. Sejak 4 hari yang lalu sakit kepala dirasakan terus menerus, rasa sakit berdenyutdenyut pada bagian kanan atas kepala dan menjalar ke dahi, sakit kepala dirasakan tidak hilang meskipun sudah minum obat nyeri dari mantri, bertambah sakit apabila melakukan aktifitas rutin, mual dan muntah ada, rasa tegang pada leher tidak ada, pandangan kabur tidak ada, pandangan gelap tidak ada, pandangan ganda tidak ada, telinga berdengung tidak ada, kejang tidak ada, kelemahan separuh badan tidak ada, mulut mengot tidak ada, bicara pelo tidak ada. Riwayat hipertensi tidak ada, riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat infeksi telinga tidak ada, riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada. Penyakit ini diderita sejak 1 tahun yang lalu. PEMERIKSAAN Status Generalis Kesadaran:GCS = 15 (E:4, M:6, V:5)
24

Gizi: cukup Suhu Badan: 36,7 C Nadi: 84 x/m Pernapasan: 20 x/m Tekanan Darah: 120/ 80 mmHg

Status Neurologicus Nn. Cranialis Fungsi Motorik Gerakan Kekuatan Tonus Klonus R. Fisiologis R. Patologis Fungsi Sensorik Fungsi Luhur Fungsi Vegetatif GRM Gerakan abnormal Gait dan Keseimbangan DIAGNOSA DIAGNOSA KLINIK DIAGNOSA TOPIK DIAGNOSA ETIOLOGI : Observasi Cephalgia kronis : Supratentorium : Vascular headache. : Susp. SOL
25

: tidak ada kelainan : Lka C 5 n n Lki C 5 n n Tka C 5 n n Tki C 5 n n -

: tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

PENGOBATAN

Bed rest IVFD RL gtt xx/m Tramadol.tab 2 x 50 mg Injeksi Ranitidin 2 x1 iv Vit B1,B6,B12 3 x 1 tab

Rencana pemeriksaan penunjang : EEG CT-scan kepala

PROGNOSA Quo ad Vitam Quo ad Functionam : dubia ad bonam : bonam

26